Anda di halaman 1dari 6

GAMBARAN KARAKTERISTIK RUMAH PADA ANAK BALITA

DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) DI DESA


CISEMPUR KECAMATAN JATINANGOR

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana keperawatan
Pada Fakultas keperawatan
Universitas Padjadjaran

MUHAMMAD SANDI NIZAR


NPM : 220110100037

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
BANDUNG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Millennium Development Goals (MDGs) adalah komitmen negara

terhadap rakyat Indonesia dan komitmen Indonesia yang merupakan suatu

kesepakatan dan kemitraan global untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat,

yang memiliki tujuan dan batas waktu serta target yang terukur. Indikator proses

dari setiap program pencapaian target MDGs secara lintas sektor dilakukan oleh

instansi-instasi. Tujuan pembangunan kesehatan yang telah tercantum pada sistem

kesehatan (SKN) nasional adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang

dilaksanakan oleh bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemampuan hidup sehat

bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal,

yang dopengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan, pelayanan kesehatan,

perilaku serta bawaan ( Notoatmodjo, 2007).

Badan penelitian kesehatan World Health Organitation (WHO) tahun

2012 menyatakan bahwa insiden Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di

negara berkembang dengan angka kematian balita diatas 40 per 1000 kelahiran

hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. ISPA lebih banyak di

negara berkembang dibandingkan di negara maju dengan persentase masing-

masing sebesar 25%-30% dan 10%-15%. Kematian balita di Asia Tenggara

sebanyak 2,1 juta balita. Di India, Bangladesh, Indonesia, dan Myanmar


merupakan negara dengan kasus kematian balita akibat ISPA terbanyak (Usman,

2012)

Kematian balita akibat ISPA di Indonesia mengalami peningkatan sebesar

20.6% dari tahun 2010 hingga tahun 2011 yaitu 18.2% menjadi 38.8% . Data yang

didapatkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang didapatkan data bahwa

balita yang menderita ISPA pada tahun 2012-2013 menempati urutan pertama

dari 10 penyakit terbanyak di Kabupaten Sumedang dengan angka kejadian

sebanyak 38.462 kasus (tahun 2012). Pada tahun 2013 kejadian ISPA di

sumedang sebanyak 29.725 kasus. Daerah Puskesmas Jatinangor termasuk urutan

tertinggi, puskesma jatinangor merupakan puskesmas yang menempati kejadian

ISPA tertinggi di Kabupaten Sumedang (Dinas Kota Sumedang, 2013).

Upaya pemerintah dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal

dilakukan melalui pos terdepan pelayanan kesehatan yang disebut Puskesmas,

yang merupakan suatu kesatuan organisasi fungsional, pusat pengembangan

kesehatan yang juga membina peran masyarakat di samping memberikan

pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya

dalam bentuk kegiatan pokok (Widja, 2009).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit tertinggi

yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung

(saluran atas) hingga alveoli) (saluran bawah) yang ditandai dengan gejala batuk,

sesak nafas, dan bisa juga mengakibatkan demam. Secara anatomik, ISPA

dikelompokkan menjadi ISPA atas misalnya batuk pilek, faringitis, tonsilitis dan

ISPA bawah seperti bronchitis, bronkiolitis, pneumonia.


ISPA dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi perumahan,

karakteristik balita (umur, jenis kelamin, status gizi, berat badan lahir, ASI

Ekslusif, status imunisasi), kepadatan hunian, polusi udara luar, sumber

pencemaran udara dalam ruang (penggunaan anti nyamuk bakar, bahan bakar

untuk memasak dan keberadaan perokok) (Depkes, 2009)

Di Cisempur anak balita di imunisasi, gizi bagus, vitamin-A bagus dan

diberikan ASI ekslusif. Faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian

ISPA pertama adalah pencemaran udara dalam rumah, dimana asap rokok dan

asap hasil pembakaran untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak

mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini

dapat terjadi pada rumah dalam keadaan ventilasinya kurang, dan dapur terletak

didalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan balita

bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama

berada didalam rumah bersama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan

lebih tinggi.

Tingginya angka kejadian ISPA bisa disebabkan oleh tingginya

pencemaran udara diluar rumah balita yang bersumber dari hasil pembakaran,

pabrik, dan transportasi yang dapat menghasilkan debu.

Namun bila dilihat dari aktivitas balita yang lebih sering melakukan

kegiatan didalam rumah bersama orang tua/anggota keluarga, ISPA yang terjadi

pada balita bisa disebabkan oleh lingkungan dalam rumah balita yang tidak

memenuhi syarat(Lindawaty,2010). Faktor-faktor lingkungan rumah yang dapat

mempengaruhi ISPA yaitu lingkungan fisik rumah (Depkes, 2004). Faktor

lingkungan fisik rumah salah satunya yaitu ventilasi rumah. Berdasarkan


peraturan No. 1077/MENKES/PER/V/2011, setiap rumah wajib memiliki

ventilasi minimum 10% dari luas rumah untuk memenuhi persyaratan rumah

sehat. Pada penelitian Lindawaty (2010) ventilasi rumah yang tidak memenuhi

syarat akan menyebabkan ISPA pada balita dengan resiko 3,07 kali lebih besar

dibanding dengan ventilasi rumah yang memenuhi syarat.

Variabel dari faktor perilaku seperti kebiasaan merokok anggota keluarga

menjadikan balita sebagai perokok pasif yang selalu terpapar asap rokok. Menurut

penelitian Citra(2012) mengemukakan bahwa perokok pasiflah yang mengalami

resiko kesakitan lebih besar dari perokok aktif. Rumah yang penghuninya

mempunyai kebiasaan merokok berpeluang meningkatkan kejadian ISPA sebesar

7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita yang penghuninya tidak merokok di

dalam rumah.

Berdasarkan uraian diatas, penyebab terjadinya ISPA bukan hanya berasal

dari lingkungan luar rumah saja. Namun harus diperhatikan apakah ada penyebab

dari lingkungan dalam rumah yang meliputi faktor lingkungan fisik

rumah(ventilasi, kepadatan penghuni, kelembaban, pencahayaan, paparan asap

rumah). dalam lingkup kecil yang paling dekat dengan balita setiap hari yang

berpotensi menyebabkan balita terkena ISPA. Hal ini supaya program pencegahan

yang ingin dilakukan diawali dari lingkup kecil menuju pencegahan yang bersifat

lebih luas terhadap penyebab munculnya ISPA. Oleh karena itu, dalam studi ini

peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara pengaruh lingkungan

dalam rumah terhadap ISPA pada balita di Desa Cisempur Kecamatan Jatinagor.
1.2 RumusanMasalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, peneliti ingin

mengetahui Gambaran Karakteristik Rumah pada anak balita dengan ISPA di

Desa Cisempur Kecamatan Jatinagor.

1.3 Tujuan Penelitian

Mengetahui Gambaran Karakteristik Rumah pada anak balita dengan ISPA

di Desa Cisempur Kecamatan Jatinagor

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Menjadi bahan proses belajar bagi peneliti, menambah pengalaman serta

dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai gambaran karakteristik

rumah pada anak balita dengan ISPA di Desa Cisempur Kecamatan Jatinangor

1.4.2 Bagi Puskesmas

Bahan masukan dalam perencanaan program pengendalian ISPA pada

balita

1.4.3 Bagi pengelola program ISPA

Memberikan informasi kepada keluarga tentang hubungan lingkungan

dalam rumah sebagai faktor resiko gangguan saluran pernafasan pada balita,

sehingga setiap keluarga bisa berpartisipasi dalam pencegahan ISPA pada balita.