Anda di halaman 1dari 10

PENGUKURAN LAJU ABSORPSI GLUKOSA PADA MENCIT

Oleh :
Nama : A. Dimas Cahyaning Furqon
NIM : B1A015143
Kelompok :4
Rombongan : II
Asisten : Rizky Fajar Azkia

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kata karbohidrat berasal dari kata karbon dan air. Secara sederhana
karbohidrat didefinisikan sebagai polimer gula. Karbohidrat adalah karbon yang
mengandung sejumlah besar gugus hidroksil. Karbohidrat paling sederhana bisa
berupa aldehid (disebut polihidroksi aldehid atau aldosa) atau berupa keton (disebut
polihidroksiketon atau ketosa). Berdasarkan pengertian diatas berarti diketahui
bahwa karbohidrat terdiri atas atom C, H dan O. Adapun rumus umum dari
karbohidrat adalah Cn(H2O)n atau CnH2nOn (Wiratmaja, 2011).
Ada 3 jenis karbohidrat berdasarkan penggolongan ini, yaitu Monosakarida,
Disakarida (oligosakarida) dan Polosakarida. Baik pada hewan maupun manusia,
energi disimpan sebagai glikogen dan pada tanaman sebagai pati. Kedua jenis
karbohidrat tersebut merupakan polisakarida (Sumarlin, 2006).
Dalam proses untuk menghasilkan energi, semua jenis karbohidrat yang
dikonsumsi akan masuk ke dalam sistem pencernaan dan juga usus halus, terkonversi
menjadi glukosa untuk kemudian diabsorbsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke
berbagai organ dan jaringan tubuh. Molekul glukosa hasil konversi berbagai macam
jenis karbohidrat inilah yang kemudian akan berfungsi sebagai dasar pembentukan
energi di dalam tubuh. Melalui berbagai tahapan dalam proses metabolisme, sel-sel
yang terdapat di dalam tubuh dapat mengoksidasi glukosa menjadi CO 2 & H2O
dimana proses ini juga akan disertai dengan produksi energi (Guyton & Hall, 2007).

I.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengevaluasi kecepatan absorbsi gula
pada mencit setelah mengkonsumsi karbohidrat.
II. MATERI DAN CARA KERJA
II.1 Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah mencit (Mus musculus),
pati, glukosa, sukrosa, CMC, maltosa, dan alkohol.
Alat yang digunakan adalah alat sonde, spuit injeksi, glucoDR dan kitnya,
kandang mencit, dan tissue.

II.2 Cara Kerja


1. Mencit yang telah dipuasakan sebelumnya disiapkan.
2. Larutan glukosa, maltosa, sukrosa, pati dan CMC dibuat dengan konsentrasi
yang rendah.
3. Mencit diberi larutan karbohidrat menggunakan spuit yang berkanula/sonde
sebanyak 1 mL, setiap satu mencit satu perlakuan.
4. Kadar glukosa darah mencit diukur dengan menggunakan GlukoDR pada
menit ke 5, 15 dan 45 setelah pemberian larutan karbohidrat.
5. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan menusukkan jarum pada
bagian ekor mencit, tampung darah yang keluar pada GlucoStrip dan ukur
kadar glukosa darah mencit menggunakan GlucoDR.
6. Hasil pengukuran kadar glukosa darah mencit dicatat.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1 Hasil

3.1.1 Hasil Pengamatan Pengukuran Kadar Gula Darah Mencit

Kelompok Larutan Kadar glukosa (mg/dl)


1 2 3
karbohidrat
1 Glukosa 161 (5 menit) 87 (15 menit) 121 (45 menit)
CMC 74 (5 menit) 97 (15 menit) 79 (45 menit)
2 Fruktosa 107 (5 menit) 119 (15 menit) 91 (45 menit)
Sukrosa 182 (13 menit) 77 (34 menit) 55 (64 menit)
4 Laktosa 121 (10 menit) 176 (20 menit) 123 (45 menit)
Glukosa 199 (13 menit) 114 (24 menit) 135 (45 menit)
3.2 Pembahasan
Hasil praktikum pengukuran kadar gula darah (tabel 3.1.1) terlihat perlakuan
pemberian larutan karbohidrat jenis monosakarida (glukosa dan fruktosa) memiliki
hasil kadar gula darah yang paling tinggi, diikuti jenis disakarida (sukrosa dan
laktosa), dan jenis polisakarida (CMC). Kadar gula darah terendah terdapat pada
menit ke-13 perlakuan glukosa mencit kelompok 4, sedangkan kadar gula darah
terendah terdapat pada menit ke-64 menit fruktosa mencit kelompok 2. Secara
umum, kadar glukosa dari semua perlakuan setiap menit masih mengalami fluktuasi.
Menurut Rahmayati & Rifqiyati (2014), dalam keadaan normal, glukosa dari
makanan ditransportasikan menuju vena porta oleh transporter glukosa yang terdapat
pada usus. Hormon yang berpengaruh dalam mengatur kadar glukosa darah adalah
insulin dan glukagon. Dalam keadaan normal, produksi insulin oleh sel meningkat
sebanding dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Adapun hormon
glukagon akan banyak diproduksi pada saat kadar glukosa dalam darah rendah.
Regulasi dari produksi hormon insulin dan glukagon akan menjaga kadar glukosa
darah dalam keadaan normal
Karbohidrat didefinisikan secara umum sebagai senyawa dengan rumus
molekul Cn(H2O)n. Karbohidrat adalah turunan aldehid atau ketondari alkohol
polihidroksi atau senyawa turunan sebagai hasil hidrolisis senyawa kompleks
(Girinda 1986). Karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan merupakan cadangan
makanan yang disimpan dalam akar, batang, dan biji sebagai pati (amilum).
Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asamamino,
gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan. Karbohidrat ditemukan pada setiap sel makhluk hidup yang berperan
antara lain sebagai alat komunikasi sel (Winarno, 2008). Ada 3 jenis karbohidrat
berdasarkan penggolongan ini, yaitu Monosakarida, Disakarida (oligosakarida) dan
Polosakarida. Baik pada hewan maupun manusia, energi disimpan sebagai glikogen
dan pada tanaman sebagai pati. Kedua jenis karbohidrat tersebut merupakan
polisakarida (Sumarlin, 2006).
Glukosa diserap dalam usus kecil melalui transelular yang dan jalur
paracellular. enyerapan transelular dimediasi oleh protein membran transporter
terikat seperti sebagai transporter glukosa tergantung natrium (SGLT-1), ditemukan
pada membran apikal enterosit, yang secara aktif menyerap glukosa dari lumen usus.
GLUT-2, glukosa transporter ditemukan pada membran basolateral dari enterosit
memfasilitasi difusi glukosa keluar dari enterosit dan ke dalam darah. Penyerapan
paracellular melibatkan pergerakan glukosa melalui persimpangan ketat (TJs) sel
dengan difusi atau dengan drag pelarut (Skopec et al., 2010).
Glukosa darah berasal dari absorpsi pencernaan makanan dan pembebasan
glukosa dari persediaan glikogen sel. Tingkat glukosa darah akan turun apabila laju
penyerapan oleh jaringan untuk metabolisme atau disimpan lebih tinggi daripada laju
penambahan. Penyerapan glukosa oleh sel-sel distimulus oleh insulin, yang
disekresikan oleh sel beta dari pulau-pulau Langerhans. Glukosa berpindah dari
plasma ke sel-sel karena konsentrasi glukosa dalam plasma lebih tinggi daripada
dalam sel. Glukosa di dalam sel dikonversi menjadi glukosa 6 fosfat yang ditahan
dalam sel sebagai hasil daripada pengurangan permeabilitas membran oleh pengaruh
kelompok fosfat. Insulin meningkatkan masuknya glukosa ke dalam sel dengan
meningkatkan laju transport terbantu dari glukosa melintasi membran sel. Begitu
glukosa telah masuk sel, segera difosforilasi untuk menjaganya tanpa control
(Soewolo, 2000).
Laju penyerapan glukosa berdasarkan jumlah kompleksitas molekulnya, dari
yang paling cepat diserap, hingga yang lambat diserap antara lain: Mono sakarida,
disakarida, dan polisakarida.glukosa dan fruktosa merupakan kelompok
monosakarida. Glukosa dijumpai di dalam aliran darah (disebut kadar gula darah)
dan berfungsi sebagai penyedia energi bagi seluruh sel-sel dan jaringan tubuh. Pada
keadaan fisiologis kadar gula darah sekitar 80-120 mg %. Kadar gula darah dapat
meningkat melebihi normal disebut hiperglikemia, keadaan ini dijumpai pada
penderita Diabetes Mellitus. Fruktosa, disebut juga gula buah ataupun levulosa.
Merupakan jenis sakarida yang paling manis, banyak dijumpai pada mahkota bunga,
madu dan hasil hidrolisa dari gula tebu. Di dalam tubuh fruktosa didapat dari hasil
pemecahan sukrosa. Sukrosa dan laktosa termasuk dalam kelompok disakarida.
Sukrosa, mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu molekul
glukosa dan satu molekul fruktosa. Sumber dari tebu (100% mengandung sukrosa),
bit, gula nira (50%), jam, jelly. Laktosa, mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida
yang terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa kurang
larut di dalam air. Laktosa hanya terdapat pada susu. Polisakarida merupakan
senyawa karbohidrat kompleks, dapat mengandung lebih dari 60.000 molekul
monosakarida yang tersusun membentuk rantai lurus ataupun bercabang.
Polisakarida rasanya tawar (tidak manis), tidak seperti monosakarida dan disakarida.
Jenis polisakarida yaitu amilum, dekstrin, glikogen dan selulosa. (Sediaoetama,
1989).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju penyerapan gula di dalam tubuh
antara lain:
a. Kompleksitas zat
Karbohidrat adalah salah satu bahan makanan utama yang diperlukan oleh
tubuh. Sebagian besar karbohidrat yang dikonsumsi terdapat dalam bentuk
polisakarida yang tidak dapat diserap secara langsung. Sehingga, karbohidrat
harus dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana untuk dapat diserap melalui
mukosa saluran pencernaan. Monosakarida akan lebih cepat diserap tubuh
dibandingkan disakarida dan polisakarida (Sherwood, 2012).
b. Stres dan hormon
Stres fisik maupun neurogenik, akan merangsang pelepasan ACTH
(adrenocorticotropic hormone) dari kelenjar hipofisis anterior. Selanjutnya,
ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon
adrenokortikoid, yaitu kortisol. Hormon kortisol ini kemudian akan
menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah (Guyton dan Hall, 2008).
Hormon ini meningkatkan katabolisme asam amino di hati dan merangsang
enzim-enzim kunci pada proses glukoneogenesis. Akibatnya, proses
glukoneogenesis meningkat. Selain itu, stres juga merangsang kelenjar adrenal
untuk menyekresikan epinefrin. Epinefrin menyebabkan glikogenolisis di hati
dan otot dengan menstimulasi enzim fosforilase (Murray et al., 2009).
c. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Ketika aktivitas
tubuh tinggi, penggunaan glukosa oleh otot akan ikut meningkat. Sintesis glukosa
endogen akan ditingkatkan untuk menjaga agar kadar glukosa dalam darah tetap
seimbang. Pada keadaan normal, keadaan homeostasis ini dapat dicapai oleh
berbagai mekanisme dari sistem hormonal, saraf, dan regulasi glukosa (Murray et
al., 2009).
IV. KESIMPULAN

Pemberian larutan karbohidrat jenis monosakarida (glukosa dan fruktosa)


memiliki hasil kadar gula darah yang paling tinggi, diikuti jenis disakarida (sukrosa
dan laktosa), dan jenis polisakarida (CMC).
DAFTAR REFERENSI

Girinda, Aisyah. 1986. Biokimia. Jakarta: Gramedia.

Guyton, A. C., & Hall, J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi kedokteran Edisi 11 (Irawati,
Dian Ramadhani, Fara Indriyani, Frans Dany, Imam Nuryanto, Srie Sisca
Prima Rianti, Titiek Resmisari & Y. Joko Suyono, Penerjemah). Jakarta: EGC.

Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. 2009. Biokimia Harper. 27 ed.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Rahmawati, S., & Rifqiyati, N. 2014. Efektivitas ekstrak kulit batang, akar, dan daun
sirsak (Annona muricata L) terhadap kadar glukosa darah. Jurnal
Kaunia, 10(2): 81-91.

Sediaoetama, A.D., 1989. Ilmu Gizi, Jakarta: Dian Rakyat.

Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta.
EGC.

Skopec, M.M., Green, A.K., & Karasov, W.H. 2010. Flavonoids Have Differential
Effects on Glucose Absorption in Rats (Rattus norvegicus) and American
Robins (Turdis migratorius). J Chem Ecol, 36: 236-243.

Soewolo. 2000. Fisiologi Hewan. Jakarta: Pengembangan Guru Sekolah Menengah.


Sumarlin L. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia. Sukabumi: Program Studi Kimia
Universitas Muhammadiyah Sukabumi.

Winarno, F. G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi. Bogor: M-BRIO PRESS.

Wiratmaja, I. G., 2011. Pembuatan Etanol Generasi Kedua dengan Memanfaatkan


Limbah Rumput Laut Eucheuma cattonii sebagai Bahan Baku. Jurnal ilmiah
teknik mesin, 5(1): 75-84.