Anda di halaman 1dari 26

PELUANG DAN TANTANGAN PEMBERDAYAAN

WILAYAH LAUT UNTUK KESEJAHTERAAN


MASYARAKAT
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun oleh :

Kelompok 2 Kelas : EK-1D

1. Dewi Aji Pertiwi (3.32.16.3.04)


2. Esa Firmansyah (3.32.16.3.06)
3. M. Bachtiar Rifa’i (3.32.16.3.0)
4. M. Gagas Surya S. (3.32.16.3.04)
5. Novia Nilam A. (3.32.16.3.04)
6. Reganandi Anang D. (3.32.16.3.04)

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

2017

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat
kemurahan-Nya lah makalah ini dapat saya selesaikan tepat pada waktunya. Makalah

1
ini membahas tentang “Peluang dan Tantangan dalam Pemberdayaan Laut”, suatu
bahasan yang sudah banyak diperbincangkan di masyarakat, namun terkadang masih
banyak yang belum memahami secara mendasar apakah Hak Asasi Manusia (HAM) iu
sendiri ?
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang Hak Asasi
Manusia dan sekaligus menjadi tugas mahasiswa dalam mata kuliah “Pendidikan
Pancasila”
Dalam proses penyelesaian makalah ini saya berterimakasih kepada orang-orang
yang telah membantu saya yaitu :
1. Bpk Taufiq Yulianto, selaku dosen mata kuliah “Pendidikan Pancasila”
2. Rekan - rekan mahasiwa, karena telah banyak memberikan masukan untuk
makalah ini.
3. Orang tua yang selalu mendoakan yang terbaik untuk semua yang kami kerjakan.
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat.

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2

2
Dalam upaya mewujudkan negara yang maju dan mandiri serta masyarakat
adil dan makmur, Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan dan sekaligus
peluang memasuki millenium ke-3 yang dicirikan oleh proses transformasi global
yang bertumpu pada perdagangan bebas dan kemajuan IPTEK ( Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi ).
Sementara itu, di sisi lain tantangan yang paling mendasar adalah
bagaimana untuk keluar dari krisis ekonomi yang menghantam bangsa Indonesia
sejak tahun 1997 dan mempersiapkan perekonomian nasional yang lebih sejahtera.
Dalam rangka, menjawab tantangan dan pemanfaatan peluang tersebut, diperlukan
peningkatan efisiensi ekonomi, pengembangan teknologi, produktivitas tenaga
kerja dalam peningkatan kontribusi yang signifikan dari setiap sektor
pembangunan.
Bidang kelautan yang didefinisikan sebagai sektor perikanan, pariwisata
bahari, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan,
dan jasa kelautan, merupakan andalan dalam menjawab tantangan dan peluang
tersebut mengingat bahwasanya Indonesia merupakan negara maritim yakni 75%
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah laut dan selama ini
telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi keberhasilan pembangunan
nasional.
Sumbangan yang sangat berarti dari sumberdaya kelautan tersebut, antara
lain berupa penyediaan bahan kebutuhan dasar, peningkatan pendapatan
masyarakat, kesempatan kerja, perolehan devisa dan pembangunan daerah. Dengan
potensi wilayah laut yang sangat luas dan sumberdaya alam serta sumberdaya
manusia yang dimiliki Indonesia, kelautan sungguh menjadi peluang bagi
Indonesia untuk menaikan kesejahteraan masyarakat. Mengingat kembali bahwa
hampir 75 % wilayah Indonesia merupakan lautan dengan potensi ekonomi yang
sangat besar serta berada pada posisi geo-politis yang penting yakni Lautan Pasifik
dan Lautan Hindia, yang merupakan kawasan paling dinamis dalam percaturan
dunia baik secara ekonomi dan potitik.
Sehingga secara ekonomis-politis sangat logis jika kelautan dijadikan
tumpuan dalam perekonomian nasional akan tetapi pemberdayaan laut banyak
menemui tantangan dalam menciptakan peluang dalam pembedayaan untuk
kesejateraan masyarakat.

3
Selama ini potensi laut tersebut belum termanfaatkan dengan baik dalam
meningkatkan kesejahteraan bangsa pada umumnya, dan pemasukan devisa negara
khususnya. Bahkan, sebagian besar hasil pemanfaatan laut selama ini justru “lari”
atau “tercuri” ke luar negeri oleh para nelayan asing yang memiliki perlengkapan
modern dan beroperasi hingga perairan Indonesia secara ilegal.
Dalam hal inilah upaya pemanfaatan laut Indonesia secara maksimal tidak
saja tepat tetapi juga merupakan suatu keharusan. Pemanfaatan laut yang
seharusnya dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat secara
lestari.
Maka diperlukan kerjasama dalam pengelolaan potensi sumberdaya
tersebut. Hal ini sangat diperlukan, karena yang diinginkan bukan saja peningkatan
hasil pemanfaatan laut, tetapi juga pemerataan hasil pemanfaatan yang dinikmati
seluas-luasnya oleh masyarakat. Karena itulah penulis tertarik untuk membahas
tentang Peluang dan Tantangan Pemberdayaan Wilayah Laut untuk Kesejahteraan
Masyarakat.

.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana wilayah perairan laut Indonesia ?
2. Apa sajakah jenis – jenis laut ?
3. Apa manfaat laut Indonesia ?

4
4. Bagaimanakan potensi laut Indonesia ?
5. Apa sajakah masalah dalam pemberdayaan sumber daya laut di Indonesia ?
6. Bagaimanakah upaya pemanfaat laut ?

1.3 Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan
tujuan untuk mengetahui:
1. Sejarah wilayah perairan laut Indonesia.
2. Jenis – jenis laut.
3. Manfaat laut Indonesia.
4. Potensi laut Indonesia.
5. Masalah – masalah dalam pemberdayaan sumber daya laut di
Indonesia.
6. Upaya pemanfaat laut.

BAB II
PEMBAHASAN

5
2.1 Wilayah Perairan Laut Indonesia
Indonesia adalah negara yang lebih tiga setengah abad berada di bawah
pemerintahan kolonialisme Belanda. Sebagai negara yang berada di bawah penjajahan
maka semua bidang kehidupan diatur oleh penjajah. Begitu juga mengenai wilayah
perairan Indonesia berada di bawah pengaturan pemerintah Hindia Belanda. Peraturan
wilayah laut Indonesia dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939
yang dituangkan dalam Territoriale Zee En Maritieme Kringen Ordonnatie (TZMKO)
dan dicantumkan dalam Staadblad 1939 Nomor 442 yang jika diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dikenal sebagai ordonasi laut teritorial dan lingkungan maritim.
Ordonasi ini mengatur aspek pertahanan dan keamanan serta segi ekonomi di bidang
perikanan. Dalam menetapkan lebar laut teritorial ordonasi ini menganut teori tembakan
meriam yang dikeluarkan oleh seorang ahli hukum Belanda yang bernama Cornelius
Van Bijnkershoek pada tahun 1702 yang menyatakan : “Kedaulatan negara dapat
diperluas keluar sampai kepada kapal-kapal di laut sejauh jangkauan tembakan
meriam”

Pada abad ke-18 jangkauan rata-rata dari tembakan meriam adalah sejauh tiga
mil. Teori ini diterapkan bagi laut teritorial Indonesia yang diatur dalam Pasal 1 ayat 1
angka 1 – 4 TZMKO sehingga laut teritorial Indonesia membentang ke arah laut sampai
jarak tiga mil equivalent 4,5 km yang diukur dari pantai tiap-tiap pulau saat air surut.
Hal ini sangat merugikan bagi wilayah Indonesia mengingat Indonesia adalah negara
kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau. Dengan diterapkannya teori tembakan meriam
ini , maka wilayah perairan Indonesia menjadi terpecah- belah karena setiap pulau
terdiri dari bagian lautnya masing-masing yang membentang ke arah laut selebar 3 mil,
sehingga terdapat bagian-bagian laut bebas di luar 3 mil tersebut. Hal ini sangat
membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa serta pertahanan dan keamanan
negara.

Berdasarkan sejarah yang telah diuraikan di atas maka pemerintah Indonesia


mengeluarkan ketentuan lebar laut teritorial selebar 12 mil laut. Ketentuan ini
dituangkan dalam pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 13 Desember 1954 dan
dikenal dengan Deklarasi Juanda yang menyatakan :

6
“ Bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-
pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan negara Republik Indonesia
dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian yang wajar daripada wilayah
daratan negara Republik Indonesia dan demikian merupakan bagian pada perairan
nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak dari negara Republik Indonesia”
Deklarasi Juanda merupakan konsepsi kewilayahan yang dikenal dengan “Konsepsi
Negara Kepulauan” (Archipelagic State Concept).
Dalam perkembangan selanjutnya, pernyataan tersebut dituangkan dalam bentuk
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) agar secepatnya mendapatkan
pengakuan serta kekuatan hukum yang pasti. Kemudian pada tahun 1960 ditingkatkan
dalam bentuk Undang-undang Nomor 4/ PRP/1960 tentang Perairan Indonesia.
Dalam konvensi hukum laut PBB yang ke-111 7 Oktober 1982, Indonesia
berhasil memperjuangkan konsep negara kepulauan (Archipelagic States) untuk
dicantumkan dalam pasal-pasal khusus, yaitu Pasal 46 – 54 UNCLOS (United Nations
Convention on the Law of the Sea) tahun 1982. Konvensi hukum laut internasional
menetapkan batas-batas lautan sebagai berikut :
1. Laut Teritorial
Laut teritorial adalah lautan yang merupakan batas wilayah perairan
suatu negara. Luas lautan teritorial setiap negara adalah 12 mil laut diukur
berdasarkan garis lurus yang ditarik dari garis dasar atau garis pantai ketika
air surut.
2. Zona Tambahan
Zona tambahan menyatakan bahwa batas lautan selebar 12 mil laut yang
dihitung atau diukur dari garis atau batas luar lautan teritorial. Dengan kata
lain, lebar zona tambahan adalah 24 mil laut diukur berdasarkan garis lurus
yang ditarik dari garis dasar atau garis pantai ketika air surut. Dengan
demikian, zona tambahan terletak di luar berbatasan dengan laut teritorial.
Dalam daerah tersebut, negara pantai dapat mengambil tindakan bagi pihak
asing yang melanggar ketentuan undang – undang, bea cukai, dan ketertiban
negara yang bersangkutan.
3. Zona Ekonomi Eksekutif ( ZEE )
Pada 21 Maret 1980, Indonesia lebarnya 200 mil diukur dari garis
pangkal laut wilayah Indonesia. Di dalam Zona Ekonomi Eksklusif

7
Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta
kebebasan pemasangan kabel dan pipa di bawah permukaan laut dijamin
sesuai dengan hukum internasional. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983.
4. Landasan Benua
Landas benua adalah wilayah daratan negara pantai yang berada di
bawah lautan di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Lebar landas benua
adalah 200 mil laut di lautan bebas. Dalam landas benua tersebut, negara
pantai boleh mengeksploitasi dan mengolah sumber daya alam di dalamnya
dengan persyaratan harus membagikankeuntunga kepada masyarakt
internasional.
5. Landasan Kontinen ( Contimental Self )
Landas kontinen adalah daratan yang berada di bawah permukaan air, di
luar lautan teritorial sedalam 200 meter atau lebih. Bagi negara pantai,
landas kontinen dinyatakan sebagai bagian tidak terpisahkan dari wilayah
daratan sehingga negara itu mempunyai hak untuk mengali kekayaan alam
yang terkandung di dalamanya
6. Laut Pedalaman
Laut pedalaman adalah lautan dan selat yang berada pada bagian garis
dasar yang menghubungkan pulau-pulau dalam wilayah suatu negara. Dalam
wilayah tersebut, negara yang bersangkutan dapat menentukan segala
peraturan yang berlaku di wilayahnya, tanpa terikat hukum internasional.
Laut pedalaman hanya dimiliki oleh negara kepulauan, seperti Indonesia.
Dengan adanya ketentuan batas wilayah lautan berdasarkan Traktat Montego
Bay (Jamaika) 1982 itu, luas wilayah Indonesia yang sebelumnya kira-kira
2.027.087 km2 bertambah menjadi 5.193.252 km2.

2.2 Jenis – jenis Laut


Laut sebagai salah satu bentangan hidrosfer memperlihatkan adanya
perbedaan yang dapat di kelompokan berdasarkan karakteristiknya. Ada 3
klasifikasi laut yaitu :
A. Berdasarkan Proses Terjadinya

8
Berdasarkan cara terjadinya laut dibedakan sebagai berikut :
1. Laut trangresi adalah laut yang terjadi karena naiknya permukaan
air laut yang disebabkan oleh pencairan es di kutub pada akhir
zaman es atau glasial; misalnya Laut Jawa.
2. Laut ingresi adalah laut yang terjadi karena adanya penurunan
dasar laut oleh tenaga tektonik; misal Laut Tengah, Laut Karibia,
dan Laut Banda.

3. Laut regresi adalah laut yang menyempit, terjadi karena


permukaan air laut turun pada awal zaman es. Suhu di
permukaan bumi turun sehingga banyak terjadi pembekuan air,
terutama di daerah kutub. Akhirnya permukaan air laut turun atau
menyempit.

B. Berdasarkan Letaknya

1. Laut pedalaman adalah laut yang terletak di tengah benua;


contoh : Laut Kaspia, Laut Hitam, dan Laut Baltik.

2. Laut tengah adalah laut yang terletak di antara dua benua, atau
memisahkan dua benua. Contoh : Laut Mediteran yang
menghubungkan Benua Afrika dan Benua Eropa.

3. Laut tepi adalah laut yang terletak di tepi benua dan dipisahkan
dari samudra yang luas oleh gugusan pulau. Contoh : laut Tepi
antara lain Laut Cina Selatan dan Laut Jepang.

C. Berdasarkan Kedalamannya
1. Zona Laut Pasang-Surut (Zona Litoral)
Zona litoral adalah zona yang berupa daratan saat air
surutdan menjadi lautan saat air pasang. Karena itu, luas zona
9
inisangat dipengaruhi oleh ketinggian air pasang. Zona ini
seringdisebut sebagai pesisir pantai yang terdiri dari pasir
pantaidan pecahan rumah-rumah karang. Pada zona ini
jugabanyak ditemukan binatang laut yang dapat
dikonsumsiseperti kerang dan kepiting.
2. Zona Laut Dangkal (Zona Neritik)
Zona laut dangkal atau zona neritik adalah zona
yangmemiliki kedalaman antara 0–200 m. Zona ini biasanya
padalandas benua. Landas benua adalah kelandaian benua
yangmenjorok ke laut. Di zona ini banyak terdapat jenis ikan dan
hewan laut lainnya yang biasa ditangkap oleh nelayan.
Faktor-faktor yang memengaruhi zona ini banyak dijumpai ikan
adalah: perairannya banyak mengandung oksigen, banyak
dijumpai plankton yang mengapung dipermukaan air, dan banyak
mendapat sinar matahari.
3. Zona Laut Dalam (Zona Batial)
Zona laut dalam atau zona batial memiliki kedalaman
antara200–1.000 m. Pada zona ini, biasanya sinar matahari
sudahtidak dapat lagi menembus kedalaman air. Di zona ini
masihbanyak terdapat jenis ikan dan hewan laut lainnya, namun
sudah jarang ditemukan tanaman-tanaman laut.
4. Zona Laut Sangat Dalam (Zona Abisal)
Zona laut sangat dalam atau zona abisal memiliki
kedalamanlebih dari 1.000 m. Pada zona ini, tekanan air sangat
tinggidengan suhu yang sangat rendah. Di zona ini hanya
sedikitjenis ikan dan hewan laut, dan tidak ditemukan tanaman -
tanaman laut. Pada bagian laut ini binatang laut memilikisistem
tubuh yang mampu beradaptasi dengan lingkungan.
2.3 Manfaat Laut Indonesia
Laut memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan bangsa Indonesia. Berikut
ini adalah manfaat laut bagi kehidupan manusia :
1. Laut Menyerap Karbon Dioksida

10
Adanya laut memungkinkan terserapnya sekitar 30 hingga 50 persen
karbon dioksida dari hasil pembakaran. Karbon dioksida sendiri dihasilkan
oleh bahan bakar fosil yang digunakan sebagai sumber energi bagi industri
bahkan bagi kendaraan seperti sepeda motor. Namun seiring meningkatnya
suhu permukaan laut, berpengaruh pula pada plankton sebagai penyerap
karbon dioksida.

2. Sumber Kehidupan Nelayan

Laut adalah penyedia sumber protein tersebar di dunia. Setiap tahunnya,


ada sekitar 70 hingga 75 juta ton ikan yang ditangkap oleh para nelayan di
seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 29 persen di antara adalah untuk
konsumsi manusia. Saat ini, sudah terjadi penangkapan ikan yang semakin
tidak terkendali sehingga mengakibatkan langkanya beberapa jenis ikan
seperti tuna dan salmon.

3. Jalur Transportasi

Selain darat dan udara, jalur laut adalah salah satu jalur alternative
lainnya untuk membantu mobilisasi masyarakat. Bahkan di Indonesia yang
tidak lain adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan – lautan,
menggunakan jalur transportasi laut sangat membantu.

4. Untuk Tempat Rekreasi

Laut dapat menjadi salah satu alternative tempat untuk rekreasi.


Pemandangan di laut yang didominasi warna biru dengan angina semilir bisa
menjadi solusi terbaik untuk menghilangkan penat dari aktifitas keseharian.
Apalagi kita di Indonesia, banyak sekali wilayah laut Indonesia yang banyak
dijadikan sebagai spot favorit untuk rekreasi.

5. Menjadi Sumber Bahan Makanan Sehat

Selain menjadi sumber protein terbesar di dunia, laut juga memiliki


berbagai bahan pangan lainnya. Laut menjadi tempat hidup tanaman seperti
rumput laut, kerang, ikan dan masih banyak hewan maupun tumbuhan di
11
dalam laut lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang
lezat dan kaya nutrisi.

6. Laut Sebagai Pengendali Iklim Dunia

Adanya laut memungkinkan suhu bumi tidak terlalu dingin juga tidak
terlau panas bagi kehidupan berbagai jenis mahluk hidup di bumi. Laut
berperan penghantar suhu panas dari daerah katulistiwa menuju wilayah
yang lebih dingin yakni wilayah kutub. Sehingga pada daerah katulistiwa
yang beriklim tropis tidak terlalu panas, dan pada wilayah kutub yang
beriklim dingin tidak terlalu dingin yang artinya masih memungkinkan bagi
mahluk hidup untuk tinggal di wilayah tersebut.

7. Objek untuk penelitan

Ada berbagai biota yang hidup dan berkembang di laut. Hal tersebut juga
lah yang pastinya mengundang keingintahuan dari berbagai pihak. Tak
jarang, laut juga digunakan sebagai objek riset sebuah penelitian. Selain
biota laut, hal lainnya yang biasa diteliti adalah aliran air, ombak, hingga
tingkat salinitas air laut.

8. Sebagai Sumber Mineral

Laut adalah penyedia atau sumber mineral terbesar di dunia. Beragam


jenis mineral terkandung di dalam laut. Bahkan salah satu mineral yang
sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia yaitu iodium, dapat didapat dari laut.
Garam adalah produk dari air laut yang dapat menjadi sumber iodium bagi
manusia. Kekurangan iodium dapat berdampak buruk bagi kesehatan
manusia.

9. Sumber Minyak Bumi

Banyak perusahaan minyak yang membangun kilang minyak di lautan


lepas. Ini karena di dalam laut terdapat banyak sumber minyak bumi,
maupun gas alam yang sangat berguna bagi kehidupan dan kemaslahatan
umat manusia. Para ahli juga memperkirakan jika kandungan minyak bumi
12
dan gas alam di bawah laut jauh lebih besar dibandingkan yang ada di
daratan.

2.4 Potensi laut Indonesia


Laut Indonesia banyak memiliki potensi diantaranya adalah potensi fisik,
potensi pembangunan, Potensi Sumberdaya Pulih (Renewable Resource),
Potensi Sumberdaya Tidak Pulih (Non Renewable Resource), Potensi Geopolitis,
Potensi Sumberdaya Manusia berikut ini adalah penjelasan dari potensi laut
Indonesia.
1. Potensi Fisik
Potensi wilayah pesisir dan lautan Indonesia dipandang dari segi fisik, terdiri
dari :
a. Perairan Nusantara seluas 2.8 juta km2, Laut Teritorial seluas 0.3 juta
km2.
b. Perairan Nasional seluas 3,1 juta km2, Luas Daratan sekitar 1,9 juta
km2, Luas Wilayah Nasional 5,0 juta km2, luas ZEE (Exlusive
Economic Zone) sekitar 3,0 juta km2,Panjang garis pantai lebih dari
81.000 km dan jumlah pulau lebih dari 18.000 pulau.
2. Potensi Pembangunan
Potensi Wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi
Pembangunan adalah sebagai berikut:
a. Sumberdaya yang dapat diperbaharui seperti; Perikanan (Tangkap,
Budidaya dan Pascapanen), Hutan mangrove, Terumbu karang,
Industri Bioteknologi Kelautan dan Pulau-pulau kecil.
b. Sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui seperti; Minyak bumi dan
Gas, Bahan tambang dan mineral lainnya serta Harta Karun.
c. Energi Kelautan seperti; Pasang-surut, Gelombang, Angin, OTEC
(Ocean Thermal Energy Conversion).
d. Jasa-jasa Lingkungan seperti; Pariwisata, Perhubungan dan
Kepelabuhanan serta Penampung (Penetralisir) limbah.
3. Potensi Sumberdaya Pulih (Renewable Resource)
Potensi wilayah pesisir dan lautan lndonesia dipandang dari segi Perikanan
meliputi :

13
a. Perikanan Laut (Tuna/Cakalang, Udang, Demersal, Pelagis Kecil,
dan lainnya) sekitar 4.948.824 ton/tahun, dengan taksiran nilai US$
15.105.011.400, Mariculture(rumput laut, ikan, dan kerang-kerangan
serta Mutiara sebanyak 528.403 ton/tahun,dengan taksiran nilai US$
567.080.000,
b. Perairan Umum 356.020 ton/tahun, dengan taksiran nilai US$
1.068.060.000,
c. Budidaya Tambak 1.000.000 ton/tahun, dengantaksiran nilai US$
10.000.000.000,
d. Budidaya Air Tawar 1.039,100 ton/tahun, dengantaksiran nilai US$
5.195.500.000
e. Potensi Bioteknologi Kelautan tiap tahun sebesar US$
40.000.000.000.
Secara total potensi Sumberdaya Perikanan Indonesia senilai US$
71.935.651.400 dan yang baru sempat digali sekitar US$17.620.302.800 atau 24,5
%. Potensi tersebut belum termasuk hutan mangrove,terumbu karang serta energi
terbarukan serta jasa seperti transportasi, pariwisatabahari yang memiliki peluang
besar untuk dikembangkan.
4. Potensi Sumberdaya Tidak Pulih (Non Renewable Resource)
Pesisir dari Laut Indonesia memiliki cadangan minyak dan gas, mineral
dan bahantambang yang besar. Dari hasil penelitian BPPT (1998) dari 60
cekungan minyak yang terkandung dalam alam Indonesia, sekitar 70 persen atau
sekitar 40 cekungan terdapat di laut. Dari 40 cekungan itu 10 cekungan telah
diteliti secara intensif, 11 baru diteliti sebagian, sedangkan 29 belum terjamah.
Diperkirakan ke-40 cekungan itu berpotensi menghasilkan 106,2 miliar
barel setara minyak, namun baru 16,7 miliar barel yang diketahui dengan pasti,
7,5 miliar barel di antaranya sudah dieksploitasi.
Sedangkan sisanya sebesar 89,5 miliar barel berupa kekayaan yang
belum terjamah. Cadangan minyak yang belum terjamah itu diperkirakan 57,3
miliar barel terkandung di lepas pantai, yang lebih dari separuhnya atau sekitar
32,8 miliar barel terdapat di laut dalam. Sementara itu untuk sumberdaya gas
bumi, cadangan yang dimiliki Indonesia sampai dengan tahun 1998 mencapai
136,5 Triliun Kaki Kubik (TKK).

14
Cadangan ini mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 1955 yang
hanya sebesar 123,6 Triliun Kaki Kubik. Sedangkan Potensi kekayaan tambang
dasar laut seperti aluminium, mangan, tembaga, zirconium, nikel, kobalt, biji
besi non titanium,vanadium, dan lain sebagainya yang sampai sekarang belum
teridentifikasi dengan baik sehingga diperlukan teknologi yang maju untuk
mengembangkan potensi tersebut.
5. Potensi Geopolitis
Indonesia memiliki posisi strategis, antar benua yang menghubungkan
negaranegara ekonomi maju, posisi geopolitis strategis tersebut memberikan
peluang Indonesia sebagai jalur ekonomi, misalnya beberapa selat strategis jalur
perekonomian dunia berada di wilayah NKRI yakni Selat Malaka, Selat Sunda,
Selat Lombok, Selat Makasar dan Selat Ombai-Wetar. Potensi geopolitis ini
dapatdigunakan Indonesia sebagai kekuatan Indonesia dalam percaturan politik
dan ekonomi antar bangsa.
6. Potensi Sumberdaya Manusia
Potensi wilayah pesisir dan lautan Indonesia dipandang dari segi SDM
adalah sekitar 60 % penduduk Indonesia bermukim di wilayah pesisir, sehingga
pusat kegiatan perekonomian seperti: Perdagangan, Perikanan tangkap,
Perikanan Budidaya, Pertambangan, Transportasi laut, dan Pariwisata bahari.
Potensi penduduk yang berada menyebar di pulau-pulau merupakan aset
yang strategis untuk peningkatan aktivitas ekonomi antar pulau sekaligus
pertahanan keamanan negara.

2.5 Masalah – masalah dalam Pemberdayaan Laut Indonesia


Dengan kekayaan laut yang melimpah ini, sayangnya belum termanfaatkan
secara optimal. Sumber daya kelautan yang begitu melimpah ini hanya dipandang
“sebelah mata” artinya tidak begitu di manfaatkan secara efisien. Berikut ini adalah
masalah – masalah dalam pemberdayaan laut indonesia :
1. Pemanfaat sumber daya laut yang kurang profesional dan ekstraktif,
kurang mengindahakan aspek kelestariannya. Semisal sering merusak
laut ketika menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak hal ini
akan merusak terumbu karang.

15
2. Budidaya Ikan yang tidak bertanggungjawab. Budidaya ikan, atau
budidaya, adalah respon untuk stok ikan di lautan menipis dengan cepat.
Sementara hal ini terdengar seperti ide yang baik, sayangnya memiliki
banyak konsekuensi negatif akibat operasial yang dikelola dengan buruk.
Pencemaran nutrisi dan kimia dapat terjadi dengan mudah di laut terbuka
operasi pada saat pakan ikan, kotoran, dan obat-obatan yang dilepaskan
ke lingkungan. Budidaya ikan sengaja dilepaskan ke populasi asli di
lautan juga dapat memiliki efek merusak, seperti hilangnya spesies asli,
penularan penyakit, dan perubahan merusak habitat.

3. Keadaan alut sista (alat utama sistem senjata) seperti kapal perang yang
dimiliki TNI AL jauh dari mencukupi. Untuk mengamankan seluruh
wilayah perairan Indonesia yang mencapai 5,8 km2, TNI AL setidaknya
harus memiliki 500 unit kapal perang berbagai jenis.
4. Para nelayan Indonesia masih miskin dan tertinggal dalam
perkembangan teknologi kelautan.
5. Penangkapan Berlebihan (Overfishing). Organisasi Pangan dan Pertanian
memperkirakan bahwa lebih dari 70% dari spesies ikan dunia telah
sepenuhnya dieksploitasi atau habis. Overfishing memiliki beberapa
dampak serius pada lautan yaitu berisiko memusnahkan suatu spesies,

6. Banyak nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah perairan kita, tiap
tahunnya jutaan ton ikan di perairan kita dicuri oleh nelayan asing yang
rata-rata peralatan tangkapan ikan mereka jauh lebih canggih
dibandingkan para nelayan tradisional kita. Kerugian yang diderita
negara kita mencapai Rp 18 trilyun-Rp36 trilyun tiap tahunnya.
2.6 Upaya Pemanfaatan kekayaan Laut Indonesia
Pemerintah hendaknya harus bekerja lebih keras dalam mencari penyelesaian
masalah ini agar eksplorasi serta pemanfaatan kekayaan laut kita dapat dilaksanakan
secara optimal dan terarah. Negara kita perlu mempunyai kebijakan kelautan yang jelas
dan bervisi ke depan karena menyangkut geopolitik dan kebijakan-kebijakan dasar
tentang pengelolaan sumber daya kelautan. Kebijakan mengenai berbagai terobosan
untuk mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal dan lestari sebagai
keunggulan kompetitif bangsa.

16
Mengingat potensi sumber daya laut yang kita miliki sangat besar, maka
kekayaan laut ini harus menjadi keunggualan kompetitif Indonesia, yang dapat
menjadikan bangsa kita menuju bangsa yang adil, makmur, dan mandiri. Memang
untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu adanya koordinasi berbagai pihak dan
dukungan dari masyarakat. Seharusnya ada perubahan paradigma pembangunan
nasional di masyarakat kita dari land-based development menjadi ocen-based
development. Pembangunan di darat harus disinergikan dan diintegrasikan secara
proporsional dengan pembangunan sosial-ekonomi di laut. Perlu adanya peningkatan
produksi kelautan kita dengan cara sebagai berikut :
1. Memberikan penyuluhan kepada para nelayan.
2. Memberian kredit ringan guna membeli perlengkapan untuk menangkap
ikan yang lebih memadai.
3. Pembangunan pelabuhan laut yang besar guna bersandarnya kapal-kapal
ikan yang lebih besar.
4. Peningkatan produksi juga meliputi sektor bioteknologi perairan, mulai dari
proses produksi (penangkapan ikan dan budidaya), penanganan dan
pengolahan hasil, serta pemasarannya.
5. Pengembangan Industri Maritim. Industri maritim merupakan salah satu
industri strategis yang dipilih sebagai suatu bagian dari berbagai ujung
tombak industri berbasis teknologi dan strategi globalisasi demi
melancarkan pembangunan dalam negeri dan kemajuan peranan Indonesia
dalam persaingan internasional. Industri maritim Indonesia sangat berpotensi
dalam menjawab tantangan-tantangan masa depan dan memberi nilai tambah
yang cukup tinggi untuk produk–produk transportasi laut yang dapat
menghasilkan tambahan devisa ekspor.
Selain itu, harus ada perhatian terhadap sektor wisata bahari dengan adanya
perbaikan mencakup penguatan dan pengembangan obyek wisata bahari dan pantai,
pelayanan, pengemasan serta promosi yang gencar dan efektif.
Dengan berbagai kebijakan kelautan yang ditempuh ini, diharapkan adanya
pembangunan kelautan yang sinergis dan terarah serta menyeluruh, sehingga tidak
mustahil dengan pemanfaatan kekayan laut yang optimal akan menumbuhkan
pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat
Indonesia menuju Indonesia yang adil, makmur, dan mandiri.

17
Dibutuhkan kesinergisan dari banyak pihak (institusi) yang memiliki kewajiban
dan tanggung jawab dalam pengembangan kelautan. Baik secara langsung maupun
tidak langsung, agar manajemen pengelolaan laut ini dapat berhasil dengan optimal.
Institusi tersebut di antaranya DKP, Departemen Perhubungan khususnya Dirjen
Perhubungan Laut, Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), Departemen
Tenaga Kerja, Departemen Kehutanan, Departemen Pariwisata dan Budaya,
Departemen Perdagangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Ditjen Bea
Cukai, Pelindo, TNI AL, Kepolisian RepublikIndonesia, Kejaksaaan, dan sebagainya.

BAB III
STUDI KASUS
3.1 Studi Kasus
Studi Kasus : “Illegal Fishing”
Anak Buah Menteri Susi Tangkap 17 Kapal Asing Maling Ikan
21 Mar 2017, 17:15 WIB

Kapal Pengawas Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya


Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tanggal 12 –
18
17 Maret 2017, berhasil menangkap 17 kapal menangkap sebanyak 17 kapal
perikanan asing (KIA) ilegal dari Vietnam dan Filipina yang beroperasi di
kawasan perairan Indonesia. Kapal-kapal tersebut diringkus karena terbukti
yang sedang melakukan pencurian ikan /Illegal Fishing di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Republik Indonesia Perairan Zona Ekonomi Eksekutif Indonesia
(ZEEI) Selat Malaka.

Sebanyak 17 kapal tersebut ditangkap di perairan Natuna, Kepulauan


Riau, dan perairan Sulawesi Utara oleh 4 armada kapal pengawas yang berbeda,
yaitu KP Hiu 12, KP Orca 01, KP Hiu Macan Tutul 02, dan KP Hiu Macan 03.

Penangkapan pertama dilakukan oleh KP Hiu 12 pada 12 Maret 2017 di


perairan Natuna. Kapal yang ditangkap antara lain KM. BV. 3240 (119,7 GT),
KM. KG 90487 TS (102,47 GT), KM. KG 90486 TS (63,99 GT), KM BV
93199 TS (60 GT), dan KM BV 93198 TS (45 GT). Dan berhasil pula
diamankan 44 orang berkewarganegaraan Vietnam yang merupakan Anak Buah
Kapal (ABK).

Berikutnya pada 14 Maret 2017, KP. Hiu Macan Tutul 02 juga berhasil
menangkap 6 kapal asing ilegal berbendera Vietnam, yaitu: KM. ABADI 01
alias BV 97769 TS (107 GT), KM ABADI 02 alias BV 9982 TS (62 GT), KM
ABADI 03 alias BV 96698 TS (83 GT), KM ABADI 04 alias BV 5760 TS (120
GT), KM ABADI 05 alias BV 99994 TS (109 GT), dan KM ABADI 06 alias BV
98887 TS (55 GT). Sebanyak 11 kapal berbendera Vietnam hasil tangkapan KP
Hiu 12 dan KP Hiu Macan Tutul 02 dikawal dan telah tiba di Pangkalan PSDKP
Batam pada tanggal 19 Maret 2017. Sedangkan dua kapal Vietnam hasil
tangkapan KP Orca 01 di kawal ke Satuan Pengawasan Anambas.

Sementara di lokasi perairan yang berbeda, KP Hiu Macan 03 berhasil


menangkap 4 kapal perikanan asing ilegal asal Filipina di perairan laut Sulawesi
pada 17 Maret 2017. Kapal-kapal dengan nama lambung FB QUMAY, FB
ALEXANDREA, FB BRAVE HEART, dan FB JEFEAH. Kapal ditangkap
karena :

1. Tidak mempunyai Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP).

19
2. Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) dari pemerintah RI .
3. Serta penggunaan alat tangkap terlarang Trawl .

Dengan demikian, 17 kapal tersebut melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf


(b) Jo pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2) Jo pasal 86 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009
tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Usai
ditangkap, kedua kapal langsung dibawa ke dermaga Lantamal I Belawan dan
langsung dilakukan pembongkaran ikan sebagai barang bukti untuk disimpan di
suatu tempat agar tidak rusak, dengan disaksikan Kepala Stasiun Pengawas
Belawan. Apabila fakta-fakta tersebut di atas dipandang sebagai benar (yang
tergantung dari bagaimana pembuktiannya), telah dapat cukup dibuktikan unsur
kesalahan dari kedua kapal Vietnam tersebut, akan tetapi perlu juga diperhatikan
faktor-faktor lain yang juga terlibat di dalamnya.

Selain itu dinyatakan pula dalam pasal 62 ayat 4 Konvensi Hukum Laut
tahun 1982/UNCLOS bahwa orang-orang asing yang melakukan penangkapan
ikan di ZEE harus mengindahkan upaya-upaya konservasi sesuai peraturan
perundang-undangan negara pantai.

Tindakan Kapal Pengawas milik Direktorat Jenderal Pengawasan


Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan telah
sesuai dengan UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun
2004 tentang Perikanan Pasal 69 ayat (1) dan (3). Penangkapan tersebut
didasarkan kerena kedua kapal berbendera Vietnam melakukan pelanggaran
pelanggaran antara lain : Kapal ditangkap karena melakukan pencurian ikan /
illegal fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia
Berdasarkan UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31
Tahun 2004 tentang Perikanan, Pasal 27 ayat 2 dan ayat 3 yang berbunyi :

1. Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal


penangkap ikan berbendera asing yang digunakan untuk melakukan
penangkapan ikan di ZEEI wajib memiliki SIPI.
2. Setiap orang yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera
Indonesia di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia

20
atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing di ZEEI
wajib membawa SIPI asli.
Dari hasil pemeriksaan ternyata kedua kapal tersebut tidak
memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan
(SIPI) ini jelas telah melanggar ketentuan Pasal 26 ayat (1) dan pasal 27 ayat (2)
dan ayat (3) tersebut diatas sehingga dapat dikenakan pidana sesuai dengan Pasal
92 dan Pasal 93 UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun
2004 tentang Perikanan
Pelanggaran diperberat dengan digunakannya alat tangkap terlarang
Trawl, hal ini juga melanggar Pasal 9 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009 tentang
perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang berbunyi:
“Setiap orang dilarang memiliki, menguasai,membawa, dan/atau
menggunakan alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang
mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap
ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik.”

Dimana dalam penjelasan pasal 9 ayat satu disebutkan : Alat


penangkapan ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan
merusak keberlanjutan sumber daya ikan termasuk diantaranya jaring trawl atau
pukat harimau, dan/atau kompressor.

3.2 Analisis Studi Kasus

3.2.1 Penyebab Maraknya illegal Fishing

Maraknya illegal fishing di sebabkan berbagai macam hal berikut ini


penyebab maraknya illegal fishing :

1. Minimnya sarana, prasarana dan biaya operasional penyidik


perikanan dalam menangani kasus-kasus illegal fishing.
2. Masih kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak keamanan
yang berwajib mengawasi perairan di indonesia, seperti : TNI-AL,
Bakorkamla, Polair.
21
3. Belum jelasnya hukum yang mengatur tentang illegal fishing,
sehingga mengakibatkan illegal fishing masih marak dilakukan.

4. Masih belum terbukanya hubungan antar negara, sehingga


penyelesaian kasus illegal fishing sering terabaikan.

5. Hukuman yang berlaku bagi pelaku illegal fishing hanya sebatas


dideportasi, sehingga mengakibatkan tidak adanya efek jera bagi
para pelaku illegal fishing.

3.2.2 Dampak illegal Fishing

Akibat seringnya illegal fishing di Indonesia, hal ini dapat


menimbulkan dampak bagi laut Indonesia. Berikut ini adalah dampak dari
illegal fishing :

1. Perikanan ilegal di perairan Indonesia akan mengancam kelestarian


stok ikan nasional bahkan dunia.
2. Perikanan ilegal di perairan Indonesia akan mengurangi kontribusi
perikanan tangkap di wilayah ZEEI atau laut lepas kepada ekonomi
nasional.

3. Perikanan ilegal mendorong ke arah penurunan tenaga kerja pada


sektor perikanan nasional.

4. Perikanan ilegal akan mengurangi pendapatan dari jasa dan pajak


dari operasi yang sah.

5. Perikanan ilegal akan berdampak pada kerusakan ekosistem, akibat


hilangnya nilai dari kawasan pantai.

6. Perikanan ilegal akan meningkatkan konflik dengan armada


nelayan tradisional.

7. Perikanan ilegal berdampak negatif pada stok ikan dan


ketersediaan ikan.

22
3.3.3 Upaya pemerintah dalam mengatasi illegal Fishing Upaya
pemerintah dalam mengatasi illegal Fishing

Untuk mencegah adanya illegal fishing maka harus ada upaya –


upaya dari pemerinyah dalam mengatasi illegal fishing. Berikut ini upaya
pemerintah dalam mengatasi illegal fishing :

1. Menerapkan teknologi VMS (Vessel Monitoring System), yaitu


sistem pengawasan kapal yang berbasis satelit.
2. Pengawasan perikanan dilaksanakan oleh Pengawas Perikanan
yang bertugas untuk mengawasi tertib pelaksanaan peraturan
perundang-undangan di bidang perikanan.

3. Pengawasan langsung di lapangan terhadap kapal-kapal yang


melakukan kegiatan penangkapan ikan dilakukan dengan
menggunakan kapal-kapal patroli.

4. Dengan membentuk Pokmawas (Kelompok Masyarakat


Pengawas), yaitu pelaksana pengawas di tingkat lapangan yang
terdiri dari unsur tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat,
LSM, nelayan-nelayan ikan, serta masyarakat kelautan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Dalam konvensi hukum laut PBB yang ke-111 7 Oktober 1982,
Indonesia berhasil memperjuangkan konsep negara kepulauan
(Archipelagic States) untuk dicantumkan dalam pasal-pasal khusus,

23
yaitu Pasal 46 – 54 UNCLOS (United Nations Convention on the Law
of the Sea) tahun 1982. Konvensi hukum laut internasional
menetapkan batas-batas lautan sebagai berikut : laut teritorial, zona
tambahan, zona ekonomi eksekutif ( ZEE ), landasan benua, dan
landasan kontinen.
2. Laut sebagai salah satu bentangan hidrosfer memperlihatkan adanya
perbedaan yang dapat di kelompokan berdasarkan karakteristiknya.
Ada 3 klasifikasi laut yaitu : Berdasarkan Proses Terjadinya adalah
Laut trangresi , Laut ingresi ,dan Laut regresi . Berdasarkan Letaknya
yaitu Laut pedalaman, Laut tengah, dan Laut tepi. Berdasarkan
Kedalamannya yaitu Zona Laut Pasang-Surut (Zona Litoral),Zona
litoral, Zona Laut Dangkal (Zona Neritik), Zona Laut Dalam (Zona
Batial), dan Zona Laut Sangat Dalam (Zona Abisal).
3. Laut memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan bangsa Indonesia.
Berikut ini adalah manfaat laut bagi kehidupan manusia : Laut
Menyerap Karbon Dioksida, Sumber Kehidupan Nelayan, Jalur
Transportasi, Untuk Tempat Rekreasi, Menjadi Sumber Bahan
Makanan Sehat, Laut Sebagai Pengendali Iklim Dunia, Objek untuk
penelitan, Sebagai Sumber Mineral, dan Sumber Minyak Bumi.
4. Laut Indonesia banyak memiliki potensi diantaranya adalah potensi
fisik, potensi pembangunan, Potensi Sumberdaya Pulih (Renewable
Resource), Potensi Sumberdaya Tidak Pulih (Non Renewable
Resource), Potensi Geopolitis, Potensi Sumberdaya Manusia.
5. Masalah – masalah dalam pemberdayaan laut indonesia : Pemanfaat
sumber daya laut yang kurang profesional dan ekstraktif, kurang
mengindahakan aspek kelestariannya, Budidaya Ikan yang tidak
bertanggungjawab, Keadaan alut sista (alat utama sistem senjata)
seperti kapal perang yang dimiliki TNI AL jauh dari mencukupi, Para
nelayan Indonesia masih miskin dan tertinggal dalam perkembangan
teknologi kelautan, Penangkapan Berlebihan (Overfishing), dan illegal
fishing.
6. Upaya Pemanfaatan kekayaan Laut Indonesia guna meningkatakan
produksi kelautan sebagai berikut : Memberikan penyuluhan kepada

24
para nelayan, Memberian kredit ringan guna membeli perlengkapan
untuk menangkap ikan yang lebih memadai, Pembangunan pelabuhan
laut yang besar guna bersandarnya kapal-kapal ikan yang lebih besar,
Peningkatan produksi juga meliputi sektor bioteknologi perairan,
mulai dari proses produksi (penangkapan ikan dan budidaya),
penanganan dan pengolahan hasil, serta pemasarannya,
Pengembangan Industri Maritim, dan Pengembangan obyek wisata
bahari dan pantai, pelayanan, pengemasan serta promosi yang gencar
dan efektif.
4.2 Saran
1. Pemanfaat sumber daya laut yang harus profesional dan ekstraktif,
dan mengindahakan aspek kelestariannya.
2. Pemerintah dan masyarakat harus selalu bekerjasama agar dapat
memanfaatkan kekayaan laut secara optimal dan terarah. Sehingga
dapat meningkatkan ekonomi kelautan, yang juga akan
meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
3. Semakin mempertegas aturan yang telah dibuat mengenai kelautan.
4. Memperketat pengawasan yang dilakukan oleh pihak keamanan yang
berwajib mengawasi perairan di indonesia, seperti : TNI-AL,
Bakorkamla, Polair.

DAFTAR PUSTAKA

Kusumastanto Tridoyo. 2000. Pemberdayaan Sumber daya Kelautan, Perikanan dan


Perhubungan Laut dalam Abad XXI.
---------. Masalah Kelautan. http://www.merdeka.com/uang/ini-masalah-besar-sektor-
kelautan . (Diakses pada 23 Maret 2017)
Sitompul Pribadi. Masalah Pemberdayaan Laut. http://pribadisitompul.blogspot.com.
(Diakses pada 23 Maret 2017 )

25
--------. Peluang dan Tantangan dalam Pemberdayaan Laut. http://slideshare.com.( Diakses
pada 19 Maret 2017 )
Renhoran Maimunah. 2012. Analisa Studi Kasus Penangkapan Kapal Nelayan Asing.
http://maimunarenhoran.blogspot.co.id/2012/01/analisa-kasus-penangkapan-kapal-
nelayan.html. (Diakses pada 24 Maret 2017 )
Kusumastanto, T. 1998. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Berbasis
Masyarakat. PKSPL-IPB - Ditjen Bangda Depdagri.
Liputan6. 2017. Anak Buah Menteri Susi Tangkap 17 Kapal Asing Maling Ikan - Bisnis
Liputan6.com.http://bisnis.liputan6.com/read/2894296/anak-buah-menteri-susi-
tangkap-17-kapal-asing-maling-ikan. (Diakses pada 24 Maret 2017 )
Jatu Cecilia. 2012. Jenis – jenis Laut. http://cecilia90.wordpress.com/. Diakses pada 23
Maret 2017)
Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan

26