Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH CAIR

Lumpur Aktif
Dosen Pembimbing : Ir. Endang Kusumawati, M.T

Kelompok/Kelas : I / 3A-TKPB
Anggota : 1. Abdul Faza M (151424001)
2. Afifah Nur Aiman (151424002)
3. Agus Hermawan (151424003)

Tanggal Praktikum : 14 Maret 2018


Tanggal Pengumpulan Praktikum : 23 Maret 2018

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode
Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif dibandingkan dengan metode
Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah dengan metode Biologi adalah metode yang
memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan material yang
terkandung di dalam air limbah. Mikroorganisme sendiri selain menguraikan dan
menghilangkan kandungan material, juga menjadikan material yang terurai tadi sebagai
tempat berkembang biaknya. Dalam pengolahan air limbah secara aerobik
mikroorganisme mengoksidasi dan mendekomposisi bahan-bahan organik dalam limbah
airlimbah dengan menggunakan oksigen yang disuplai oleh aerasi dengan bantuan enzim
dalam mikroorganisme.
Pada waktu yang sama mikroorganisme mendapatkan energi sehingga
mikroorganisme baru dapat bertumbuh. Proses pengolahan secara biologi yang paling
sering digunakan adalah proses pengolahan dengan menggunakan metode lumpur aktif.
Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba tersuspensi. Proses
ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang mengoksidasi material organik
menjadi CO2 dan H2O, NH4 dan sel biomassa baru. Proses ini menggunakan udara yang
disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba
membentuk flok yang akan mengendap di tangki penjernihan.
Kemampuan bakteri dalam membentuk flok menentukan keberhasilan pengolahan
limbah secara biologi, karena akan memudahkan pemisahan partikel dan air limbah.
Dengan menerapkan sistem ini didapatkan air bersih yang tidak lagi mengandung
senyawa organik beracun dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Air tersebut dapat
dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk kegiatan industri selanjutnya.
Diharapkan pemanfaatan sistem daur ulang air limbah akan dapat mengatasi
permasalahan persediaan cadangan air tanahdemi kelangsungan kegiatan industri dan
kebutuhan masyarakat akan air.
Metode pengolahan lumpur aktif (activated sludge) adalah merupakan proses
pengolahan air limbah yang memanfaatkan proses mikroorganisme tersebut. Air tersebut
dapat dipergunakan kembali sebagai sumber air untuk kegiatan industri selanjutnya. Air
daur ulang tersebut dapat dimanfaatkan dengan aman untuk kebutuhan konsumsi air
seperti cooling tower, boilerlaundry, toilet flusher, penyiraman tanaman, general
cleaning, fish pond carwash dan kebutuhan air yang lainnya. Dalam hal ini metode
lumpur aktif merupakan metode pengolahan air limbah yang paling banyak
dipergunakan, termasuk di Indonesia, hal ini mengingat metode lumpur aktif dapat
dipergunakan untuk mengolah air limbah dari berbagai jenis industri seperti industri
pangan, pulp, kertas, tekstil, bahan kimia dan obat-obatan.
Teknik Pengolahan air limbah banyak ragamnya. Salah satu dari teknik pengolahan
air limbah adalah proses lumpur aktif dengan aerasi oksigen murni. Pengolahan ini
termasuk pengolahan biologi, karena menggunakan bantuan mikroorganisma pada proses
pengolahannya. Proses lumpur aktif merupakan proses pengolahan secara
biologisaerobic dengan mempertahankan jumlah massa mikroba dalam suatu reaktor dan
dalam keadaan tercampur sempurna. Suplai oksigen adalah mutlak dariperalatan
mekanis, yaitu aerator dan blower, karena selain berfungsi untuk suplai oksigen juga
dibutuhkan pengadukan yang sempurna. Perlakuan untuk memperoleh massa mikroba
yang tetap adalah dengan melakukan resirkulasi lumpur dan pembuangan lumpur dalam
jumlah tertentu.

1.2 Tujuan Praktikum


- Menenukan konsentrasi awal kandungan organic dalam lumpur aktif dan konsentrasi
kandungan organic setelah percobaan selama seminggu
- Menentukan kandungan MLVSS yang mewakili kandungan pendegradasi air limbah
dalam lumpur aktif
- Menentukan konsentrasi nutrisi bagi mikrorganisme pendegradasi air limbah dalam
lumpur aktif
- Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan % kandungan bahan
organic yang didekomposisi selama seminggu oleh mikroorgnanisme dalam lumpur
aktif terhadap kandungan bahan organic mula-mula
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Proses Pengolahan


Terdapat empat proses utama yang terjadi pada sistem lumpur aktif, diantaranya
adalah tangki aerasi, tangki pengendapan, resirkulasi lumpur, serta penghilangan lumpur
sisa. Reaksi biokimia dengan komponen organik lumpur berada di biological reactor
(aeration tank). Biomassa terbentuk karena adanya substrat dalam lumpur. Pengendapan
biomassa terjadi dalam tangki pengendapan sekunder. Bagian solid dalam tangki tersebut
kemudian disirkulasi ke dalam tangki aerasi untuk mempertahankan konsentrasi biomassa
dalam reaktor sehingga berpengaruh tehadap efisiensi sistem.

Lumpur sisa dari pengolahan ini kemudian diarahkan menuju tempat pengolahan
lumpur. Sehingga dapat diketahui bahwa terdapat tiga jenis lumpur yang terlibat dalam
proses ini, yaitu lumpur sisa, lumpur biomassa yang berada pada bak aerasi, serta lumpur
sekunder yang berada pada tangki pengendapan. Ilustrasi sederhana proses lumpur aktif
dapat dilihat pada gambar

Ilustrasi sederhana pengolahan limbah degan metode lumpur aktif

Sebelum memasuki proses tersebut air limbah dapat diendapkan terlebih dahulu
dalam bak pengendap awal. Bak pengendap awal berfungsi untuk menurunkan padatan
tersuspensi sekitar 30-40 % serta BOD sekitar 25%. Air limpasan dari bak pengendap awal
dialirkan menuju bak aerasi secara gravitasi. Di dalam bak aerasi ini air limbah
dihembuskan dengan udara sehingga mikroorganisme menguraikan zat organik yang ada
dalam air limbah. Energi yang diperoleh mikroorganisme tersebut digunakan oleh mikroba
untuk Air kemudian dialirkan ke tangki pengendapan sekunder.

Di dalam tangki ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme


diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi
lumpur. Air limpasan dari tangki pengendapan sekunder dialirkan menuju bak klorinasi.
Disini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme
patogen. Air dari proses klorinasi tersebut dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran
umum. Dengan proses ini air limbah dengan konsentrasi BOD 250-300 mg/L dapat
diturunkan kadar BOD-nya menjadi 20-30 mg/L. Surplus lumpur dari keseluruhan proses
ditampung dalam bak pengering lumpur sedangkan air resapannya ditampung kembali di
bak penampung air limbah.

Mikroorganisme yang ditemukan pada bak aerasi diantaranya adalah bakteri,


protozoa, metazoa, bakteri berfilamen, dan fungi. Sedangkan mikroorganisme yang paling
berperan pada proses lumpur aktif adalah bakteri aerob. Mikroorganisme memanfaatkan
polutan organik terlarut dan partikel organik sebagai sumber makanan. Polutan organik
terlarut dapat masuk ke dalam sel dengan cara absorpsi. Sedangkan partikel organik tidak
dapat masuk ke dalam sel sebagai sumber makanan. Partikel organik pada limbah hanya
menempel pada dinding sel (adsorpsi).

Selanjutnya sel menghasilkan enzim agar dapat melarutkan partikel. Dengan cara
ini, bakteri dapat menghilangkan polutan organik baik yang terlarut maupun berupa
partikel yang terdapat dalam limbah. Nilai pH pada bak aerasi harus dikontrol agar sesuai
dengan pertumbuhan mikroba. Untuk mengatur nilai pH maka dilakukan penambahan
asam atau basa pada mixed liquor. Selain itu, terdapat penambahan urea dan asam posfat
sebagai sumber N dan P untuk mibroba.

2.2 Reaksi Dekomposisi


Reaksi dekomposisi bahan organic secara aerobic dan reaksi pertumbuhan mikroba
yang terjadi dalam system pengolahan air limbah sebagai berikut :

[Bahan Organik] + O2 + Nutrisi → CO2 + NH3 + m.o baru + produk akhir lain

[Mikroba] + 5O2 → 5CO2 + 2H2O + NH3 + energi

2.3 MLVSS
Untuk mengetahui kuantitas mikroba pendegradasi air limbah ditentukan dengan
mengukur kandungan padatan tersuspensi yang mudah menguap (MLVSS). Rasio
kuantitas nutrisi yang ditambahkan kedalam mixer liquor terhadap kuantitas mikroba
tersuspensi digunakan sebagai ukuran sehat atau tidaknya pertumbuhan mikroba tersebut.
Rasio F/M yang ideal untuk lumpur aktif 0,2-0,5 kg BOD/hari/kg MLVSS.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat Bahan
Labu Erlenmeyer 250 ml (2) Glukosa
Corong Gelas (2) KNO3
Cawan Porselen (2) KH2PO4
Desikator (1) HgSO4
Furnace (1) H2SO4
Hach COD digester (1) K2Cr2O7
Tabung Hach (2) FAS
Buret (1) Indikator Ferroin
Klem (1) Kertas Saring
Statip (1)

3.2 Prosedur Kerja


A. Penentuan COD sebelum proses pendekomposisian oleh mikroba
- Standarisasi Larutan FAS

Memipet 25 ml K2Cr2O7 kedalam erlenmeyer

Menambahkan 10 ml H2SO4 kedalam erlenmeyer

Menambahkan indikator feroin 3 tetes

Menitrasi dengan larutan FAS dari hujay menjadi coklat


- Penentuan COD

Sampel limbah

Mengencerkan sampel 25 kali (pencampuran 1 ml sampel dengan 24 ml


aquadest)

Mengambil sampel 2,5 ml kedalam tabung hach dan menambahkan 3,5 ml


K2Cr2O7

Menambahkan 1,5 ml H2SO4 pekat

Memindahkan tabung Hach pada Hach COD digester serta pemanasan 1500C
selama 2 jam

Mengeluarkan tabung hach dari digester hingga larutan sama dengan suhu
ruangan

Menambahkan indikator feroin 3 tetes dan menitrasi dengan larutan FAS dari
hijau menjadi coklat

B. Penentuan MLVS sebelum proses pendekomposisian oleh mikroba

Memanaskan cawan pijar selama 1 jam didalam furnace 6000C dan kertas
saring pada oven 1050C

Menimbang kertas saring dan cawan pijar hingga konstan

Menyaring 40 ml air limbah dengan kertas saring yang diketahui beratnya

Memindahkan kertas saring kedalam cawan pijar dan memanaskan pada oven
1050C 1 jam
Menimbang cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan hingga
konstan

Memindahkan cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan kedalam
furnace dengan pemanasan 6000C 2 jam

Menimbang cawan pijar yang berisi kertas saring dan endapan hingga
konstan

C. Proses pendekomposisian oleh mikroba

Menambahkan nutrisi yaitu glukosa sebagai sumber C 7,03125 gram, KNO3


sebagai sumber N 2,70536 gram, dan KH2PO4 sebagai sumber P 0,329 gram

Menunggu selama 5 hari


BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


A. Pengamatan Kondisi Awal Limbah
- Disolved Oxygen (DO) = 7,5
- pH = 7,8
- Temperature = 26,5 ℃
B. Tabel Data Pengamatan

No Data Percobaan Hasil Percobaan Satuan


1 MLVSS 4360 mg/l
2 COD Awal Pengenceran 7980 mg O2/liter
3 COD Akhir 1596 mg O2/liter
4 Efisiensi 80 %

4.2 Pembahasan
A. Pembahasan Oleh Abdul Faza
Pada praktikum kali ini dilakukan pengolahan air limbah dengan metode
lumpur aktif untuk mendegradasi limbah anorganik yang terdapat dalam air dengan
menggunakan oksigen sehingga limbah terdegradasi.Terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai efisiensi pada pengolahan air limbah dengan metode lumpur
aktif yaitu sebagai berikut.
1) Aerasi
Menurut Kusumawati (2011), Lumpur aktif merupakan salah satu metode
pengolahan limbah secara aerob. Dalam sistem ini, limbah cair dan biomassa
(mikroorganisme) dicampur dalam suatu reaktor dan diaerasi. Aerasi ini berfungsi
memberikan oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk proses
penguraian limbah secara aerob. Apabila kekurang oksigen terlarut maka proses
oksidasi tidak akan optimal atau bahkan proses menjadi anaerobik, namun apabila
oksigen terlarut atau aerasi terlalu besar maka lumpur akan terangkat ke atas yang
menyebabkan proses tidak optimal. Berdasarkan percobaan, DO awal sampel
adalah 7.5 mg/L. Setelah proses berlangsung selama 5 hari, efisiensi pengolahan
metoda lumpur aktif ini sebesar 80 %. Efisiensi yang dihasilkan cukup besar yang
menunjukkan bahwa proses pengolahan air limbah dengan lumpur aktif
berlangsung dengan baik
2) Suhu & pH
Suhu berpengaruh terhadap proses pengolahan air limbah. Berdasarkan teori,
pengolahan air limbah dengan metode ini akan efektif pada suhu 25-35℃.
Percobaan dilakukan pada suhu 26.5 ℃ (sesuai dengan rentang optimal suhu).
Sedangkan untuk pH yang paling efektif adalah pada pH netral 6,5-8 dan pada
percobaan pH berada pada 7.8 ( sesuai dengan rentang optimal pH) sehingga
didapatkan efisiensi lumpur yang cukup besar yaitu 80 %
3) Nutrisi
Nutrisi yang diberikan memiliki perbandingan BOD:N:P = 100:5:1
perbandingan tersebut dilakukan karena disesuaikan dengan kebutuhan.
Perbandingan massa glukosa diperbanyak karena merupakan nutrisi pokok atau
sebagai sumber karbon bagi mikroba untuk mendegradasi senyawa-senyawa
organik. Sedangkan nitrogen sebagai penyusun protein, karena komponen utama
penyusun sel mikroba adalah protein. Sedangkan fosfor ditambahkan untuk
metabolisme mikroba. Menurut Joseph H. Sherrard dan Edward D. Schroeder,
perbandingan ini dipercaya sebagai perbandingan stoikiometri yang baik untuk
mengurangi kandungan bahan-bahan organik secara signifikan. Jumlah nutrisi yang
diberikan harus pas. Jika nutrisi diberikan secara berlebihan, maka akan
mengakibatkan terjadinya dominasi mixed liquor suspended solid oleh bakteri
filamen. Kelebihan nitrogen dan fosfor dalam effluent air limbah juga akan
berdampak buruk terhadap keseimbangan ekologi dan kesehatan manusia.
Sedangkan jika nutrisi yang diberikan kurang, maka dekomposisi bahan-bahan
organik yang terdapat di dalam air limbah tidak akan efisien
Pada percobaan tersebut diperoleh nilai diperoleh nilai MLVSS sebesar 4360
mg/L, FSS = 1015 mg/L. Kandungan MLVSS yang diperoleh ternyata
menunjukkan nilai di atas batas optimum, yang menunjukkan bahwa nilai zat yang
teruapkan tidak terlalu banyak.Selain itu pada percobaan menunjukkan bahwa
dalam reaktor lumpur aktif jumlah mikroorganisme tersuspensi tidak terlalu besar.
B. Pembahasan Oleh Afifah Nur Aiman
Pada percobaan ini terdapat beberapa variabel yang dapat mempengaruhi
proses degradasi yang perlu diukur yaitu suhu, oksigen terlarut (DO) dan pH awal.
Suhu sampel lumpur aktif awal yang terukur adalah 26,5oC, oksigen terlarut awal
7,5 mg/L dan pH awal 7,8. Ketiga variable tersebut dapat mendukung
keberlangsungan proses degradasi yang dilakukan oleh mikroba lumpur aktif.
Menurut literature pH optimum untuk mikroorganisme tumbuh dan dapat
mendekomposisi bahan organik adalah pada rentan 6,5 – 8 dan suhu pada rentan 20
– 35OC. Jika temperature dan pH melebihi/kurang dari kondisi normal maka proses
tidak efektif dan kurang optimal. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) optimum
untuk proses degradasi adalah 1-4 mg/L akan tetapi DO yang terukur pada
percobaan ini sebesar 7,5 mg/L. Nilai DO yang besar dapat mengakibatkan
terbentuknya mikroba filamentous yang dapat menghambat proses degradasi
limbah. Variabel ketiga, yaitu pH dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
metabolisme dari mikroorganisme. pH efektif untuk proses pertumbuhan atau
proses pembelahan diri mikroorganisme adalah 6,5 – 8
Pada penentuan nilai MLVSS dilakukan dengan menggunakan metode
gravimeti. MLVSS yang didapatkan adalah 4360 mg/L Parameter nilai MLVSS
yang optimal yaitu 1500-4500 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa reactor yang
digunakan ada pada kondisi optimal. Akan tetapi akan lebih baik jika tangki/reaktor
yang digunakan dilengkapi dengan resirkulasi yang berfungsi untuk membuang
sebagian lumpur yang di dalamnya terdapat mikroorganisme mati, sehingga nilai
MLVSS yang terukur tidak terlalu tinggi, karena hanya terdapat mikroorganisme
yang hidup di dalam lumpur aktif.
Untuk mengetahui nilai COD sampel ditambah K2Cr2O7 sebagai
pengoksidasinya dan pereaksi asam sulfat pekat (H2SO4) sebagai pemberi suasana
asam yang bertujuan agar proses oksidasi terjadi secara optimal, karena pada
suasana asam banyak mengandung ion H+. Nilai COD awal yang didapatkan adalah
7980 mg O2/liter dan COD akhir setelah diberi nutrisi dan proses degradasi adalah
1596 mg O2/liter. Efisiensi proses oksidasi menggunakan lumpur aktif yang optimal
berdasarkan referensi adalah ≥85% akan tetapi efisiensi yang didapatkan pada
percobaan ini 80%. Hal ini menunjukkan proses degradasi air limbah oleh mikroba
cukup optimal. Namun, hasil akhir dari proses ini masih memiliki nilai kandungan
organik yang tinggi bila dibandingkan dengan standar kualitas air bersih yang dapat
dibuang ke lingkungan yaitu COD ≤ 100 mg O2/L (Peraturan Menteri Kesehatan
RI.416/Menkes/PER/IX/1900).
Berdasarkan perhitungan, nilai F/M ialah 0,172 kg BOD/hari/kg MLVSS.
Berdasarkan data tersebut, media lumpur aktif dalam keadaan kekurangan makanan
karena batas minimum F/M ialah 0,2. Hal ini merupakan salah satu yang
menyebabkan efisiensi tidak mendekati efisiensi optimum (≥85%)
Pada proses degradasi ini, mikroba perlu diberi nutrisi yaitu C, N, dan P.
Karbon (C) didapatkan dari senyawa glukosa, nitrogen (N) didapatkan dari senyawa
KNO3 dan Phospor didapatkan dari senyawa KH2PO4. Berdasarkan hasil
perhitungan, nutrisi yang perlu ditambahkan sebanyak 7,03125 gram glukosa,
2,70536 gram KNO3 dan 0,329 gram KH2PO4 .

C. Pembahasan Oleh Agus Hermawan

Berdasarkan hasil praktikum, nilai COD sebelum proses degradasi yaitu


7980 mg O2/liter sudah pasti nilai tersebut sangat tinggi. Lalu setelah proses
degradasi semala 5 hari nilai COD yang terdapat didalam sampel turun menjadi
1596 mg O2/liter. Hal ini terjadi karena kandungan zat organik didalam sampel
menurun, yang disebabkan oleh mikroorgnisme mendekomposisi zat organic
tersebut menjadi senyawa CO2, H2O, dan NH4. Besarnya penurunan nilai COD
saat praktikum adalah sebesar 80%. Pada literatur pengolahan air dengan
menggunakan lumpur aktif dapat menurunkan nilai COD ≥80%. Dapat dilihat
penurunan COD hasil praktikum sudah mencapai dengan literature yang ada.
Efisiensi yang dihasilkan sebesar 80% artinya lupur aktif masih baik dapat
mendegradasi senyawa organik dengan baik. Tetapi walaupun menghasilkan
efisiensi yang dapat dikatakan cukup tinggi (80%) air tersebut masih belum layak
untuk dikatakan air bersih karena nilai COD setelah proses degradasi selama 5 hari
masih sangat terlalu tinggi yaitu 1596 mg O2/liter. Sedangkan pada Peraturan
Mentri Kesehatan RI. 416/Menkes/Per/IX/1990 dikatakan bahwa nilai maksimal
COD yang terkandung didalam air bersih adalah 100 mg O2/liter, sehingga hasil
hasil praktikum masih jauh dibawah standar yang telah ditetapkan.

Nilai COD setelah dilakukannya proses degradasi yang masih sangat tinggi
dikarenakan kurangnya pengecekan kondisi lingkungan secara rutin, seperti pH
yang harus dalam keadaan netral, suhu yang tidak boleh terlalu tinggi dan terlalu
rendah. Lalu O2 yang ditambahkan menggunakan aerator, pada bak lumpur aktif
yang terdapat di Lab PLI proses menambahan oksigen tidak merata dapat dilihat
dari selang aerator terletak disalah satu sudut bak, seharusnya secara berkala selang
aerator tersebut dipindahkan kesudut bak lumpur aktif yang lain.

Pengukuran nilai MLVSS pada saat sebelum dilakukan proses degradasi


senyawa organik. Nilai MLVSS sama dengan nilai VSS. Adapun VSS adalah bahan
organik (seperti protein, karbohidrat, glukosa, dll) yang mudah menguap, jumlah
nilai VSS mewakili jumlah mikroorganisme. Nilai VSS yang didapat pada saat
praktikum adalah 4360 mg/liter

Nilai TSS hasil praktikum adalah 5375 mg/l, sedangkan menurut literatur
yang dikeluarkan oleh Pergub Bali No. 8 Tahun 2007 nilai maksimal TSS yang
diperbolehkan adalah 50 mg/L. Nilai FSS adalah padatan yang tidak mudah
menguap, dari hasil praktikum nilai FSS adalah 1015 mg/liter, adapun nilai FSS
didapat dari nilai TSS – nilai VSS. Ketiga parameter tersebut masih tinggi karena
pengukuran dilakukan sebelum proses pendegredasian senyawa organic dengan
menambahkan nutrisi. Apabila pengukuran juga dilakukan setelah proses
pendegredasian makan nilai ketiga parameter tersebut pun akan turun.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telag dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
- Nilai konsentrasi kandungan organic atau COD awal adalah 7980 mg O2/liter dan COD
akhir setelah proses adalah 1596 mg O2/liter .
- Nilai MLVSS yang terdapat pada sampel adalah sebesar 4360 mg/L .
- Nutrisi yang perlu ditambahkan pada sampel sebanyak 7,03125 gram glukosa, 2,70536
gram KNO3 dan 0,329 gram KH2PO4 .
- Nilai efisiensi pada percobaan ini 80%.

5.2 Saran
Pada praktikum ini disarankan untuk memperhatikan keselamatan kerja karena
menggunakan larutan pekat yang berbahaya. Selain itu, dalam menggunakan cawan pijar
perlu diperhatikan bahwa cawan tidak boleh terkena tangan.
DAFTAR PUSTAKA

Jemal. 1999. Pengetahuan Dasar pada Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Air. 2nd ed.
pp 188-206. JETRO

Ningtyas, Rahayu. 2015. Pengolahan Air Limbah dengan Proses Lumpur Aktif. Bandung:
Institut Teknologi Bandung

Widyawati, Yudith Rizkia. dkk. 2011. Efektivitas Lumpur Aktif Dalam Menurunkan Nilai BOD
(Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Ocygen Demand) Pada Limbah Cair
UPT Lab. Analitik Universitas Udayana. Jurusan Kimia FMIPA. Bali : Universitas
Udayana

Vs. 2016. Activated Sludge. E-journal.uajy.ac.id/6966/3/BL201146.pdf (Diakses pada 21


Maret 2018)
LAMPIRAN

I. Penentuan Nutrisi Mikroorganisme Pendegradasi


Volume bak aerasi = 10 Liter
Nilai BOD lumpur = 750 mg/L
Perb. BOD : N : P = 100 : 5 : 1
BM Glukosa = 180 gram/mol
BM KNO3 = 101 gram/mol
BM KH2PO4 = 136 gram/mol

Reaksi yang terjadi : C6H12O6 + 6O2  6CO2 + 6 H2O

 Kebutuhan Glukosa sebagai C


1 𝑀𝑟 𝐺𝑙𝑢𝑘𝑜𝑠𝑎
Kebutuhan C = 6 × 𝐴𝑟 𝑂𝑘𝑠𝑖𝑔𝑒𝑛 × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 × 𝐵𝑂𝐷
1 180
=6× × 10 × 750
32

= 7031,25 mg
= 7,03125 g
 Kebutuhan KNO3 sebagai N
5 𝑀𝑟 KNO3
Kebutuhan N = 100 × × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 × 𝐵𝑂𝐷
𝐴𝑟 𝑁
5 101
= 100 × × 10 × 750
14

= 2705,36 mg
= 2,70536 g
 Kebutuhan KH2PO4 sebagai P
1 𝑀𝑟 KH2PO4
Kebutuhan P = 100 × × 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 × 𝐵𝑂𝐷
𝐴𝑟 𝑃
1 136
= 100 × × 10 × 750
31

=329 mg
= 0,329 g
II. Data Titrasi Awal dan Penentuan COD Awal

Larutan Volume FAS (ml) Volume Rata-rata (ml)


Blanko 1 3,90
3,75
Blanko 2 3,60
Sampel 1 3,20
3,00
Sampel 2 2,80

Dari hasil titrasi diatas diperoleh data sebagai berikut.


Volume FAS untuk blanko (a) = 3,75 ml
Volume FAS untuk sampel (b) = 3,00 ml
Normalitas FAS (c) = 0,133 N
Berat equivalen oksigen (d) =8
Pengenceran (p) = 25 kali
(𝑎−𝑏) × 𝑐 × 1000 × 𝑑 × 𝑝
COD sampel awal (mg O2/liter) = 𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
(3,75−3,00) × 0,133 × 1000 × 8 × 25
= 2,5

= 7980 mg O2/liter

III. Data Titrasi dan Penentuan COD Akhir (Setelah 5 Hari)

Larutan Volume FAS (ml) Volume Rata-rata (ml)


Blanko 1 4,70
6,25
Blanko 2 7,80
Sampel 1 5,50
6,1
Sampel 2 6,70

Dari hasil titrasi diatas diperoleh data sebagai berikut.


Volume FAS untuk blanko (a) = 6,25 ml
Volume FAS untuk sampel (b) = 6,1 ml
Normalitas FAS (c) = 0,133 N
Berat equivalen oksigen (d) =8
Pengenceran (p) = 25 kali
(6,25−6,1) × 0,133 × 1000 × 8 × 25
COD sampel (mg O2/liter) = 2,5

= 1596 mg O2/liter

IV. Efisiensi Pengolahan Metode Lumpur Aktif


COD awal−COD akhir
η = × 100%
COD awal
7980−1596
= × 100%
7980

= 80 %

V. Penentuan MLVSS
Berat Cawan Pijar Konstan (a) = 36,7969 gram
Berat Kertas Saring Konstan (b) = 0,8933 gram
Berat Cawan Pijar + Kertas Saring + Endapan Sampel setelah di oven (c) = 37,0119 gram
Berat Cawan Pijar + Kertas Saring + Endapan Sampel setelah di furnace (d) = 36,8375 gram
Volume sampel = 40 mL
(𝑐−𝑎)
TSS = x 106
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
(37,0119−36,7969)
= x 106
40

= 5375 mg/L
(𝑐−𝑑)
VSS = x 106
𝑚𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
(37,0119−36,8375)
= x 106
40

= 4360 mg/L
FSS = TSS – VSS
= 5375 – 4360
= 1015 mg/L

VI. Rasio F/M


mg BOD
750
Rasio F/M = 4360 mgLMLVSS/L
hari
= 0,172
VII. Gambar Pengamatan

Pemanasan di COD Reactor Sampel dan Blanko sebelum titrasi

Sampel dan Blanko setelah titrasi Penentuan MLVSS