Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Kepemimpinan di sekolah atau lembaga atau organisasi yang membutuhkan


perubahan secara reguler dalam mencapai pertumbuhan yang menyehatkan bagi lembaganya,
saya melihat perlunya melahirkan pemimpin yang memiliki kompetensi utuh dalam
melahirkan hasil kerja optimal lembaga dan sekaligus mampu juga memberikan inspirasi bagi
lahirnya pemimpin baru di lembaga yang dipimpinnya. Model pemimpin ideal, yang mampu
mewujudkan apa yang menjadi visi lembaganya. Gambarkan model pemimpin seperti itu,
menurut saya, adalah model kepemimpinan yang menitik beratkan pada bagian operasional
dan bukan hanya kepemimpinan yang berkutat pada persoalan administratif.

Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok &
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik &
sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar
masalah dapat terselesaikan dengan baik.

I.2 RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang penulis
dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :

Apa arti Kepemimpinan operasional ?

Apa saja Ruang lingkup kepemimpinan ?

Apa & bagaimana konsep kepemimpinan?

1
I.3 TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah

Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan
kreatifitas mahasiswa.

Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang
kepemimpinan operasional.

I.4 METODE PENULISAN

Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode kepustakaan. Pada
zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat
pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Penulis menggunakan metode ini
karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data –
data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.

I.5 RUANG LINGKUP

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup
karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai kepemimpinan operasional

2
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 KEPEMIMPINAN OPERASIONAL

Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai
dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan.
Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.

Beberapa ahli berpandapat tentang Kepemimpinan, beberapa diantaranya :

1. William G. Scott (1962)Kepemimpinan ialah proses mempengaruhi aktifitas yang


diorganisir dalam suatu kelompok dalam usahanya untuk mencapai suatu tujuan yang
telah ditetapkan.
2. F. A. Nigro (1965)Inti dari kepemimpinan ialah mempengaruhi aktifitas orang lain.
3. F. I. Munson “The Management of Man”.Kepemimpinan sebagai kesanggupan atau
kemampuan untuk mengatasi orang-orang yang sedemikian rupa agar mencapai hasil
yang sebesar-besarnya dengan kemungkinan pergesekan yang sekecil-kecilnya dan
sebesar mungkin terjalinnya kerja sama.
4. Ordway Tead (1929)Kepemimpinan sebagai penggabungan perangai yang membuat
seseorang mungkin dapat mendorong beberapa pihak lain untuk menyelesaikan
pekerjaannya.

Beberapa ahli berpandapat tentang Kepemimpinan, beberapa diantaranya :


1. Asep Hermawan: Menurut Asep Hermawan, pengertian operasional adalah
penjelasan bagaimana kita dapat mengukur variable. Pengukuran tersebut dapat
dilakukan dengan angka-angka maupun atribut-atribut tertentu.
2. Hoover: Pengertian operasional menurut Hoover adalah memuat identifikasi sesuatu
hal yang bersifat (variabel) sehingga dapat digunakan untuk penelitian (observasi)
3. Rhonda Abrams & Alice Laplante: Menurut Rhonda Abrams & Alice Laplante
bahwa pengertian operasional adalah aspek yang penting karena tanpanya, maka tidak
ada yang dapat dikerjakan.
4. Nani Darmayanti: Pengertian operasional menurut Nani Darmayaanti adalah
rumusan tentang ruang lingkup serta ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok
pembahasan dan penelitian suatu karya ilmiah.

Berdasarkan Pendapat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa Kepemimpinan operasional


adalah Rumusan tentang ruang lingkup serta ciri ciri suatu konsep yang menjadi pokok
pembahasan dan penelitian suatu karya ilmiah tentang Kepemimpinan.

3
II.2 RUANG LINGKUP KEPEMIMPINAN

Pengkajian tentang ruang lingkup kepemimpinan akan meliputi dua masalah pokok,
diantaranya:

A. SEJARAH TIMBULNYA KEPEMIMPINAN

Latar Belakang Sejarah Timbulnya Kepemimpinan Sejak nenek moyang dahulu kala,
kerjasama dan saling melindungi telahmuncul bersama-sama dengan peradapan manusia.
Kerjasama tersebut munculpada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok
manusia dalamrangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang
danmenghadapi alam sekitarnya.Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi
kerjasama antarmanusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan.

B.TEORI KEPEMIMPINAN

Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang
pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya.
Di antara berbagai teori mengenai lahirnya paling pemimpin ada tiga di antaranya yang
paling menonjol yaitu sebagai berikut :

1. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made". bahwa
penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan
dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu
waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah
menetapkan ia menjadi pemimpin.

2. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make penganut-
penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :
"Leaders are made and not born".
Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin
apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.

3. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-
ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik
apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana
kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang
memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah
dimilikinya itu.

4
C.GAYA KEPEMIMPINAN MENURUT WHITE DAN LIPPIT

1.Gaya Kepemimpinan Otokratis


Gaya ini kadang-kadang dikatakan kepemimpinan terpusat pada diri pemimpin atau
gaya direktif. Gaya ini ditandai dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya dari
pemimpin dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran serta anak buah
dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
Pemimpin secara sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana
berbagai tugas harus dikerjakan. Yang menonjol dalam gaya ini adalah pemberian perintah.
Pemimpin otokratis adalah seseorang yang memerintah dan menghendaki kepatuhan. Ia
memerintah berdasarkan kemampuannya untuk memberikan hadiah serta menjatuhkan
hukuman.
Gaya kepemimpinan otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar
bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala
kegiatan yang akan dilakukan semata-mata diputuskan oleh pimpinan.
Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis adalah sebagai berikut:
• Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin
• Keputusan selalu dibuat oleh pemimpin;
• Kebijakan selalu dibuat oleh pemimpin;
• Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan;
• Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya
dilakukan secara ketat;
• Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran pertimbangan atau pendapat;
• Lebih banyak kritik dari pada pujian, menuntut prestasi dan kesetiaan sempurna dari
bawahan tanpa syarat, dan cenderung adanya paksaan, ancaman, dan hukuman.

2. Gaya Kepemimpinan Birokratis


Gaya ini dapat dilukiskan dengan kalimat “memimpin berdasarkan peraturan”.
Perilaku pemimpin ditandai dengan keketatan pelaksanaan prosedur yang berlaku bagi
pemipin dan anak buahnya.
Pemimpin yang birokratis pada umumnya membuat keputusan-keputusan berdasarkan
aturan yang ada secara kaku tanpa adanya fleksibilitas. Semua kegiatan hampir terpusat pada
pimpinan dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak, itupun tidak
boleh lepas dari ketentuan yang ada.

5
Adapun karakteristik dari gaya kepemimpinan birokratis adalah sebagai berikut:
• Pimpinan menentukan semua keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan dan
memerintahkan semua bawahan untuk melaksanakannya;
• Pemimpin menentukan semua standar bagaimana bawahan melakukan tugas;
• Adanya sanksi yang jelas jika seorang bawahan tidak menjalankan tugas sesuai dengan
standar kinerja yang telah ditentukan.

3. Gaya Kepemimpinan Demokratis


Gaya kepemimpinan demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar
bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai
kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.
Gaya ini kadang-kadang disebut juga gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah,
kepemimpinan dengan kesederajatan, kepemimpinan konsultatif atau partisipatif. Pemimpin
kerkonsultasi dengan anak buah untuk merumuskan tindakan keputusan bersama.
Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
• Wewenang pemimpin tidak mutlak;
• Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan;
• Keputusan dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan;
• Komunikasi berlangsung secara timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan
bawahan maupun sesama bawahan;
• Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahan dilakukan
secara wajar;
• Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan;
• Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan atau
pendapat; Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan dari pada
intruksi;
• Pimpinan memperhatikan dalam bersikap dan bertindak, adanya saling percaya, saling
menghormati.

4. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire


Gaya ini mendorong kemampuan anggota untuk mengambil inisiatif. Kurang interaksi
dan kontrol yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila
bawahan memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan
sasaran cukup tinggi.
6
Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya
atau sama sekali membiarkan anak buahnya untuk berbuat sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri
gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah sebagai berikut:
• Bawahan diberikan kelonggaran atau fleksibel dalam melaksanakan tugas-tugas, tetapi
dengan hati-hati diberi batasan serta berbagai produser;
• Bawahan yang telah berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya diberikan hadiah atau
penghargaan, di samping adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai
dorongan;
• Hubungan antara atasan dan bawahan dalam suasana yang baik secara umum manajer
bertindak cukup baik;
• Manajer menyampaikan berbagai peraturan yang berkaitan dengan tugas-tugas atau
perintah, dan sebaliknya para bawahan diberikan kebebasan untuk memberikan
pendapatannya.

D. SYARAT–SYARAT YANG PERLU DIMILIKI ATAU DIPERHATIKAN OLEH


PEMIMPIN.

1. Kamu sebagai pemimpin harus bisa membimbing mereka supaya bisa melakukan
tugas-tugas yang kamu delegasikan. Ketika ada batu sandungan di tengah perjalanan,
kamu harus bisa membuat mereka belajar sampai benar-benar mahir. Sehingga bukan
hanya sukses tapi mereka juga bisa berkembang. Ini yang paling penting!
2. Seorang pemimpin harus optimis dalam melihat segala persoalan termasuk masa
depan organisasi atau perusahaan. Sehingga orang-orang yang dipimpin tersebut juga
bisa bekerja dengan baik dan benar. Untuk bisa meningkatkan kinerja mereka, kamu
harus memberika motivasi yang kuat sehingga ada semangat untuk mencapai target
dan ketentuan.
3. Seorang pemimpin juga harus terbuka dengan pendapat orang-orang yang kamu
pimpin. kamu harus bisa menerima perubahan yang memang diperlukan. Kamu
memang pemimpin, tapi ide dan kreatifitas bisa datang dari mana saja. Tugasmulah
membuat mereka menjadi aktiv dan produktif.
4. Orang-orang yang kamu pimpin sering kali terbentur dengan berbagai kemungkinan
yang mereka ramalkan atau perhitungkan. Tugasmu bukannya menjadi bingung
dengan pertanyaan mereka yang menuntut jawaban tegas darimu. Tugasmu adalah
memutuskan dan menyusun rencana A, B, C, dan D yang disesuaikan dengan segala
kemungkinan tersebut.
7
5. Kepercayaan dari orang-orang yang kamu pimpin sangat penting. Apa jadinya kalau
mereka sudah enggak percaya dengan kinerjamu, bahkan pribadimu. Perlakukan
mereka secara adil dan buat mereka nyaman untuk menyatakan pendapatnya.
6. Pemimpin juga harus memiliki keinginan yang besar. Tugasmu merancang target
yang besar tapi tetap realistis. Namun tanpa bantuan dari mereka keinginan yang luar
biasa hebat tersebut enggak akan terlaksana.
7. Menjadi seorang pemimpin artinya kamu berada di posisi setahap lebih tinggin dari
orang yang kamu pimpin. Kamu punya otoritas. Keputusanmu sulit untuk dibatalkan.
Tapi bukan berarti kamu tertutup dengan hal-hal baru. Kamu harus terus belajar dan
belajar lagi. Perkaya pengetahuan melalui diskusi, buku dan seminar.

E.TUGAS POKOK/FUNGSI PEMIMPIN


Secara umum, tugas-tugas pokok pemimpin antara lain :
a. Melaksanaan Fungsi Managerial, yaitu berupa kegiatan pokok meliputi pelaksanaan
:
- Penyusunan Rencana
- Penyusunan Organisasi Pengarahan Organisasi Pengendalian Penilaian
- Pelaporan
b. Mendorong (memotivasi) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun
c. Membina bawahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing
secara
baik
d. Membina bawahan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien
e. Menciptakan iklim kerja yang baik dan harmonis
f. Menyusun fungsi manajemen secara baik
g. Menjadi penggerak yang baik dan dapat menjadi sumber kreatifitas
h. Menjadi wakil dalam membina hubungan dengan pihak luar

Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu:


1) Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam
tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang
dipimpinya.
2) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang

8
yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang
dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan
pemimpin.

Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara


operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:
1. Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah),
bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan
dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan
dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah
melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal
tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang
memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang
dipimpinnya.
3. Fungsi Partisipasi.
Dalam menjaiankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang
yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam
melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas
pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.
4. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang
membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah
kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk
pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi
pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok
tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.
5. Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu
mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif,
sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam
9
melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan
bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

F. ETIKA PROFESI YANG PERLU DIPERHATIKAN OLEH SETIAP PEMIMPIN.

1. Harus bertanggung jawab


2. Mempercayai Bawahan
3. Transparan
4. Adil
5. Tidak asal menyalahkan anggota
6. Tidak Tempramental
7. Mampu menegur dan mengevaluasi jika terjadi kesalahan
8. Memberi contoh dalam moral maupun dalam menjalankan aturan
9. Bersikap Jujur
10. Menepati Janji
11. Disiplin dan Tepat waktu
12. Tidak pelit dan juga tidak terlalu Royal
13. Bijak dalam mengambil keputusan
14. Mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat
15. Mampu Menjamin kesejahterahan anggota
16. Perduli terhadap permasalahan anggota
17. Ramah dan santun
18. Memberi perintah yang jelas
19. Perintah hanya untuk kepentingan tugas bukan untuk kepentingan pribadi
20. Tidak memberikan perintah yang bertentangan
21. Konsisten

10
II.3. TEKNIK KEPEMIMPINAN

Penekanan pada bagaimana pemimpin harus mewujudkan teori kepemimpinan yang


telah dimilikinya dalam kehidupan praktek organisasi, baik melalui tingkah laku maupun
konsep – konsep pemikiran.

Teknik kepemimpinan meliputi :

A. ETIKA KEPEMIMPINAN

Etiket dan Kepemimpinan

Etiket kepemimpinan adalah cara-cara yang dianggap benar secara umum oleh sekelompok
atau suatu komunitas masyarakat dalam upaya untuk mempengaruhi orang lain untuk
mencapai suatu tujuan bersama yang dimiliki oleh suatu organisasi.

Nilai-Nilai Umum Etiket

Walaupun etiket di setiap masyarakat bisa berbeda, prinsip-prinsip umum dalam etiket selalu
tetap, tidak berubah, bersifat universal, dan tak terbatas waktu dan tempat. Terdapat tiga
prinsip dalam etiket, yaitu respek, empati dan kejujuran

 Respek, Respek berarti menghargai orang lain, peduli pada orang lain dan memahami
orang lain apa adanya. Tidak peduli mereka berbeda, berasal dari kultur berbeda, atau
keyakinan berbeda. Karena dengan bersikap respek kepada orang lain maka orang lain
juga akan bersikap respek kepada kita
 Empati, berarti meletakkan diri di pihak orang lain. Sebelum bertindak atau
berucap,dipikirkan terlebih dahulu, apa pengaruhnya bagi orang lain. Kata-kata dan
sikap yang penuh pertimbangan dan empati, akan membuat seseorang terlihat
bijaksana, dewasa dan manusiawi
 Kejujuran, adalah sebuah bahasa yang universal, setiap orang bahkan mafia seklipun
membutuhkan kejujuran dari bawahannya. Kejujuran akan diterima dimanapun kita
berada.

B. MOTIVASI

Kepemimpinan dan motivasi merupakan 2 hal yang berbeda, meski memiliki tautan
dalam konteks kerja dan interaksi antar manusia organisasional. Keith Davis
mengemukakan bahwa tanpa kepemimpinan organisasi hanya merupakan kelompok
manusia yang kacau, tidak teratur dan tidak dapat melahirkan perilaku bertujuan.
Kepemimpinan adalah faktor manusiawi yang mengikat suatu kelompok bersama dan
11
memberinya motivasi menuju tujuan tertentu, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, berarti kepemimpinan dengan motivasi memiliki ikatan yang kuat. Keterkaitan
antara kepemimpinan dengan motivasi dapat dianalisis sebagai berikut:

Tanpa kepemimpinan organisasi tidak lain adalah sekelompok manusia yang kacau
Manusia organisasional, baik dalam kapasitas masing-masing dan terutama sebagai anggota
kelompok, dituntut dapat memacu upaya pencapaian tujuan organisasi yang sekaligus bagian
dari tujuan dirinya. Kehadiran pemimpin memungkinkan manusia organisasional dimotivasi
untuk dapat bekerja secara efektif dan efisien. Manusia organisasi perlu diarahkan dan
dimotivasi oleh pemimpinnya agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan
akuntabilitas tertentu.

Kepemimpinan berkaitan dengan kepengikutan

Pada hakekatnya kepemimpinan adalah kepengikutan, diartikan dengan makna yang


luas pemimpin yang baik dihasilkan dari pengikut yang baik. Manusia pengikut tidak
dipersepsi sebagai robot, melainkan manusia biasa yang memiliki perasaan, kebutuhan,
harapan, dan aspek manusiawi lainnya. Tanpa pemahaman terhadap aspek-aspek manusiawi
yang dipimpin, kepemimpinan akan gagal.

c.Kepemimpinan mengandung arti kemampuan memotivasi

Kompetensi bawahan antara lain tercermin dari motivasi kerjanya. Dia bekerja
disebabkan oleh dua kemungkinan, yaitu benar-benar terpanggil untuk berbuat atau karena
diharuskan untuk melakukan tugas-tugas itu. Banyak faktor yang mempengaruhi manusia
dalam bekerja, antara lain bahwa manusia mempunyai seperangkat kebutuhan, mulai dari
kebutuhan yang paling dasar biological needsampai kepada taraf kebutuhan yang paling
tinggi, aktualisasi diri self actualization need Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi
kerja seseorang adalah gaya kepemimpinan. Dengan demikian, kepemimpinan dapat pula
berarti kemampuan memberi motivasi kepada bawahan.

C. DINAMIKA KELOMPOK

Pertumbuhan dan Perkembangan Kelompok

Indikator yang dijadikan pedoman untuk mengukur tingkat perkembangan kelompok adalah
sebagai berikut:

1. Adaptasi Proses adaptasi berjalan dengan baik bila:

a) Setiap individu terbuka untuk memberi dan menerima informasi yang baru

12
b) Setiap kelompok selalu terbuka untuk menerima peran baru sesuai dengan dinamika
kelompok tersebut

c) Setiap anggota memiliki kelenturan untuk menerima ide, pandangan, norma dan
kepercayaan anggota lain tanpa merasa integritasnya terganggu.

2. Pencapaian tujuan Dalam hal ini setiap anggota mampu untuk

a) menunda kepuasan dan melepaskan ikatan dalam rangka mencapai tujuan bersama

b) membina dan memperluas pola

c) terlibat secara emosional untuk mengungkapkan pengalaman, pengetahuan dan


kemampuannya.

Selain hal diatas, perkembangan kelompok dapat ditunjang oleh bagaimana komunikasi yang
terjadi dalam kelompok. Dengan demikian perkembangan kelompok dapat dibagi menjadi
tiga tahap, antara lain:

1. Tahap pra afiliasi Merupakan tahap permulaan, diawali dengan adanya perkenalan semua
individu akan saling mengenal satu sama lain Kemudian hubungan berkembang menjadi
kelompok yang sangat akrab dengan saling mengenal sifat dan nilai masing-masing anggota

2. Tahap fungsional Ditandai dengan adanya perasaan senang antara satu dengan yang lain,
tercipta homogenitas, kecocokan, dan kekompakan dalam kelompok. Pada akhirnya akan
terjadi pembagian dalam menjalankan fungsi kelompok.

3. Tahap disolusi Tahap ini terjadi apabila keanggotaan kelompok sudah mempunyai rasa
tidak membutuhkan lagi dalam kelompok. Tidak ada kekompakan maupun keharmonisan
yang akhirnya diikuti dengan pembubaran kelompok.

13
BAB II

PEMBAHASAN

A. KESIMPULAN

Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat
dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama
lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa
kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu
kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki
yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang
akan diterapkan.

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari
kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin
sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.

Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan
sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir
dari proses internal (leadership from the inside out).

B. SARAN

Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa
kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin
diri sendiri.

Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar
biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin,
pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya
adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung
kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang
dipimpin.

C. IMPLIKASI

Hal yang penting dalam pengimplikasian Kepemimpinan operasional adalah


bagaimana kita memilih dan menerapkan Teknik teknik Kepemimpinan dalam diri
kita.Point point penting dalam pemimpin juga perlu kita perharikan dan kita
terapkan.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.co.id/2009/03/ruang-lingkup-kepemimpinan.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Dinamika_kelompok

http://referensi-kepemimpinan.blogspot.co.id/2009/03/tugas-dan-fungsi-pemimpin.html

http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.co.id/2009/03/ruang-lingkup-kepemimpinan.html

http://antoncharlianetika.blogspot.co.id/2014/04/etika-sebagai-pimpinan.html

Arep, Ishak dan Tanjung, Hendri, 2003. [I]Manajemen Motivasi[/I]. PT Gramedia Widiasarana
Indonesia: Jakarta.

Danim, Sudarwan, 2004. [I]Motivasi, Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok[/I],

PT Rineka Cipta: Jakarta

Gibson, James, 1994. [I]Organisasi dan Managemen[/I], Erlangga: Jakarta.

Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu, 2000. [I]Manajemen Sumber Daya Manusia,[/I] Rosdakarya:
Bandung.

Sedarmayanti, 2001. [I]Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja[/I], Ilham Jaya: Bandung

15

Anda mungkin juga menyukai