Anda di halaman 1dari 28

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. CAKRATUNGGAL STEEL MILLS


8 MARET 2018

KESEHATAN KERJA DAN ERGONOMI

Kelompok II

Chairina Azkya Noor 030.12.053


David Mikhael 030.12.065
Devi Aprilliani 030.12.071
Dewa Ayu Narha S 030.12.072
Dicky Ardian 030.12.078
Dinar Yudistira 030.12.083
Fadia Mutiaratu 030.12.095
Felly 030.12.266
Harum Melati 030.12.122
Irani Vianza 030.12.190
Ishary Eka Saputri M 030.12.133
Jesika Merlin 030.12.136

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN
REPUBLIK INDONESIA
PERIODE 5– 12 MARET 2018
JAKARTA
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah semua kondisi dan factor yang dapat
berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga kerja maupun orang
lain di tempat kerja, Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja suatu perusahaan
menentukan baik tidaknya suatu performa kerja dalam perusahaan tersebut,
pengembangan dan peningkatan K3 di sektor kesehatan perlu dilakukan guna
menekan serendah mungkin risiko penyakit yang timbul akibat hubungan kerja yang
dapat mempengaruhi produktivitas dan efisiensi kerja.
Kecelakaan di tempat kerja merupakan penyebab utama penderita perorangan dan
penurunan produktivitas. Menurut ILO, setiap tahun ada lebih dari 250 juta kecelajaan
di tempat kerja dan lebih dari 160 juta pekerja menjadi sakit karena bahaya di tempat
kerja, terlebih lagi, 1,2 juta pekerja meninggal akibat kecelakaan dan sakit di tempat
kerja, dalam istilah ekonomi, diperkirakan bahwa kerugian tahunan akibat kecelakaan
kerja dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan di beberapa Negara dapat
mencapai 4 persen dari produk nasional bruto (PNB).
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia masih
tergolong rendah. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan
Indonesia di dunia Internasional masih sangat rendah. Motivasi utama dalam
melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk mencegah kecelakaan
kerja dan penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan, Selain membutuhkan perhatian
yang terus menerus, tindakan efektif pada keselamatan dan kesehatan kerja menuntut
komitmen bersama dari pekerja dan pengusaha, pekerja dan pengusaha harus siap
untuk menghormati prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja yang diakui
dengan baik. Oleh karena itu disamping perhatiaan perusahaan, pemerintah juga perlu
memfasilitasi pekerja dengan peraturan perlindungan keselamatan dan kesehatan
kerja seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 1/1970
tentang keselamatan kerja.

2
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
- Melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatannya dalam melakukan
pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan produktivitas

1.2.2 Tujuan Khusus


- Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja
- Mengetahui fasilitas pelayanan kesehatan dan program kesehatan pada
perusahaan sebagai bagian dari K3

1.3 Ruang Lingkup


1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja.
- Sarana dan Prasarana.
- Tenaga (dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja, dokter Perusahaan dan
paramedis Perusahaan).
- Organisasi (pimpinan Unit Pelayanan Kesehatan Kerja, pengesahan
penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja).
2. Pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja.
- Awal (Sebelum Tenaga Kerja diterima untuk melakukan pekerjaan).
- Berkala (sekali dalam setahun atau lebih).
- Khusus (secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu berdasarkan tingkat
resiko yang diterima).
- Purna Bakti (dilakukan tiga bulan sebelum memasuki masa pensiun).
3. Pelaksanan P3K (petugas, kotak P3K dan Isi Kotak P3K).
4. Pelaksanaan Gizi Kerja.
- Kantin / ruang makan
- Katering pengelola makanan bagi Tenaga Kerja.
- Pemeriksaan gizi dan makanan bagi Tenaga Kerja.
- Pengelola dan Petugas Katering.
5. Pelaksanaan Pemeriksaan Syarat-Syarat Ergonomi.
Prinsip Ergonomi:
- Antropometri dan sikap tubuh dalam bekerja.
- Efisiensi Kerja.
- Organisasi Kerja dan Desain Tempat Kerja
3
- Faktor Manusia dalam Ergonomi.
Beban Kerja :
- Mengangkat dan Mengangkut.
- Kelelahan.
- Pengendalian Lingkungan Kerja.
6. Pelaksanaan Pelaporan (Pelayanan Kesehatan Kerja, Pemeriksaan Kesehatan
Tenaga Kerja dan Penyakit Akibat Kerja)

1.4 Dasar Hukum

Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan usaha demi
tercapainya tidak adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka ada beberapa
landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :

 UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja


 UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang ketenagakerjaan
 UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan
 UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
 Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja
 Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan
atau lingkungan kerja
 Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS di tempat kerja
 Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang pencegahan penyalahgunaan
narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja
 Permenakertrans No.01/Men/1976 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi
dokter perusahaan
 Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi
paramedik perusahaan
 Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan tenaga
kerja dalam penyelanggaraan keselamatan kerja
 Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan kesehatan kerja.

4
 SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang
makan
 SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang
mengelola makanan bagi tenaga kerja
 Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama
pada kecelakaan di tempat kerja.
 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No 609 tahun 2012
tentang pedoman penyelesaian kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
 PP No. 44 tahun 2005 tentang penyelenggaraan program jaminan kecelakaan
kerja dan jaminan kecelakaan.

1.5 Gambaran Umum Perusahaan


 Sejarah Perusahaan
PT. Jakarta Cakratunggal Steel Mills adalah salah satu perusahaan pengolahan
baja nasional yang memproduksi baja tulangan beton atau yang lebih dikenal
masyarakat dengan istilah Besi Beton. Perusahaan ini didirikan pada tahun
1989 di atas lahan seluas 14.8 ha , berlokasi di Jl. Raya Bekasi Km. 21-22
Pulogadung Jakarta, dan mulai beroperasi pada Juni 1992. Sejak memulai
kegiatan operasi sampai sekarang, PT. JCSM telah berhasil menembus pasar
domestic dan internasional. PT. JCSM memiliki komitmen untuk menciptakan
produk besi beton berkualitas tinggi ber inisial “CS” sesuai dengan spesifikasi
yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Indonesia dan juga standar
internasional seperti ASTM, JIS dan BS. Dalam mendukung komitmen
tersebut, PT. JCSM telah menerapkan Sistim Manajemen Mutu ISO 9001
yang disertifikasi sejak 1995, dan dalam kontribusinya terhadap penyusunan
Standar SNI untuk produk Besi Beton dan keikut sertaan secara konsisten
melakukan edukasi bagi masyarakat konsumen untuk ikut peduli terhadap
pemilihan bahan-bahan berkualitas dan memenuhi standar, PT. JCSM
mendapatkan penghargaan “SNI Award” pada tahun 2008. Menyusul pada
saat ini PT. JCSM sedang menggarap untuk pencapaian “Green Steel
Manufacturer” dengan menerapkan Sistim Quality, Health, Safety and
Environment secara ter integrasi. Melalui pengembangan-pengembangan

5
terakhir yang dilakukan oleh PT. JCSM, inovasi-inovasi terkait perkembangan
tehnologi terus diaplikasikan guna mendukung kebutuhan serta kepuasan
pelanggan.

 Visi dan Misi perusahaan


Visi:
- Menjadikan PT Jakarta Cakratunggal Steel Mills sebagai salah satu
produsen baja yang terkemuka di Indonesia.
Misi:
- Menjadikan CS sebagai Quality Leader untuk produk Besi Beton.
- Menjadikan CS sebagai Price Leader untuk produk Besi Beton di
Indonesia.
- Menjadikan CS sebagai Supplier Besi Beton yang terlengkap dalam
memenuhi kebutuhan pasar
 Alamat Perusahaan : di Jl. Raya Bekasi Km. 21-22 Pulogadung Jakarta
 Jumlah Pegawai Perusahaan : Jumlah total pegawai perusahaan adalah 800-
1000 pekerja
 Jam Kerja: 8.00 – 4.30 PM
 Asuransi Pegawai : Asuransi perusahaan, BPJS Ketenagakerjaan &
Kesehatan
 Kelembagaan P2K3 : Perusahaan ini memiliki kelembagaan P2K3
 Dokter Perusahaan : Perusahaan ini tidak memiliki dokter perusahaan
maupun paramedis.
 Alur Produksi
- Proses Electric Arc Furnace
- Proses Ladle Furnace
- Proses Continuous Casting Machine
- Uji Tarik dan Tekuk
- Uji Spektro

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Kerja


Pengertian kesehatan kerja adalah adanya jaminan kesehatan pada saat melakukan
pekerjaan. Menurut WHO/ILO (1995), kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan
dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya
bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan
pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam
pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan
serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan
kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan
kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya.
Kesehatan kerja menurut Suma’mur didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu
kesehatan/kedokteran beserta prakteknya, agar masyarakat pekerja memperoleh
derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial dengan
usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan
kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta
terhadap penyakit-penyakit umum. Aplikasi kesehatan kerja berupa upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan kerja
ataupun penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan
pekerjaan yang diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk
menunjang kesehatan optimal pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan
perusahaan sehingga menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi
upaya preventif diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi
makanan bagi pekerja.
Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan bagi
pekerja. Upaya penatalaksanaan penyakit yang timbul pada saat bekerja merupakan
langkah untuk meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus memberi
motivasi untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal. Penyakit yang
sering timbul dalam suatu lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam

7
mengambil langkah promosi dan pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan kerja optimal dilaksanakan.
Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam kesehatan kerja adalah adanya
pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja, baik sejak awal sebelum bekerja, selama
bekerja, maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan kesehatan ini ditujukan
agar selain tenaga kerja yang diterima di awal berada dalam kondisi kesehatan
setinggi-tingginya, juga untuk memantau status kesehatan pekerja dan juga
meminimalisir dan mendeteksi dini apakah ada penyakit akibat kerja yang
ditimbulkan akibat proses produksi.
Sarana P3K di tempat kerja diatur dalam Permenakertrans RI No. 15/MEN/VIII/2008.
Dalam Permenakertrans tersebut, dijabarkan bahwa Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan di tempat kerja (P3K) adalah upaya memberikan pertolongan pertama
secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh/dan/atau orang lain yang berada di
tempat kerja, yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.
Fasilitas P3K yang dimaksud dalam Permenakertrans ini meliputi ruang P3K, kotak
P3K dan isinya sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi, fasilitas tambahan
berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki
potensi bahaya yang bersifat khusus. Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K dalam
hal proses produksi mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih atau kurang
dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi.
Ruang P3K juga diatur standarnya, salah satunya meliputi lokasi yang harus dekat
dengan toilet/kamar mandi, jalan keluar, mudah dijangkau, dan dekat dengan tempat
parkir kendaraan. Kotak P3K juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu
terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan
lambang P3K berwarna putih dengan lambang P3K berwarna hijau dengan isi kotak
sesuai dengan Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K juga harus
pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau dengan diberi tanda arah yang jelas
dan cukup cahaya serta mudah diangkat apabila digunakan dan disesuaikan dengan
jumlah tenaga kerja yang ada, dan dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak
500 meter atau lebih masing-masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai
jumlah pekerja/buruh.

8
2.2 Ergonomi

Ergonomi berasal dari kata Yunani ergon (kerja) dan nomos (aturan), secara
keseluruhan ergonomi berarti aturan yang berkaitan dengan kerja. Ergonomi menurut
Badan Buruh Internasional (International Labor Organization/ILO) adalah penerapan
ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian
bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum agar bermanfaat demi
efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya dibutuhkan kerjasama antara lingkungan

9
kerja (ahli hiperkes), manusia (dokter dan paramedik), serta mesin perusahaan (ahli
tehnik). Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi.

Ruang lingkup ergonomi

Ergonomi adalah ilmu dari pembelajaran multidisiplin ilmu lain yang menjembatani
beberapa disiplin ilmu dan professional, serta merangkum informasi, temuan, dan
prinsip dari masing-masing keilmuan tersebut. Keilmuan yang dimaksud antara lain
ilmu faal, anatomi, psikologi faal, fisika, dan teknik.

Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia, kemampuan
tubuh atau anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap suatu gaya yang
diterimanya. Ilmu psikologi faal memberikan gambaran terhadap fungsi otak dan
sistem persyarafan dalam kaitannya dengan tingkah laku, sementara eksperimental
mencoba memahami suatu cara bagaimana mengambil sikap, memahami,
mempelajari, mengingat, serta mengendalikan proses motorik. Sedangkan ilmu fisika
dan teknik memberikan informasi yang sama untuk desain lingkungan kerja dimana
pekerja terlibat.

Kesatuan data dari beberapa bidang keilmuan tersebut, dalam ergonomi dipergunakan
untuk memaksimalkan keselamatan kerja, efisiensi, dan kepercayaan diri pekerja
sehingga dapat mempermudah pengenalan dan pemahaman terhadap tugas yang
diberikan serta untuk meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pekerja (Oborne,
1955).

Tujuan dari ergonomi


adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat dengan produktivitas dan
kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah seluruh tenaga kerja baik sektor
formal, informal, maupun tradisional. Pendekatan ergonomi mengacu pada konsep
total manusia, mesin, dan lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam industri
dapat berjalan secara efisien, selamat, dan nyaman. Dengan demikian, dalam
penerapannya harus memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat kerja, posisi kerja, dan
proses kerja.

10
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan
beban kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat
kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja;
- Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan
kualitas kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik
dan menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja;
- Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek
teknik, ekonomi, antropologi, dan budaya dari sistem manusia-mesin
untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan akibat
kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi berkurang,
stress akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja bertambah baik, rasa
aman karena bebas dari gangguan cidera, kepuasan kerja meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi: (1) tekhnik; (2)
fisik; (3) pengalaman psikis; (4) anatomi, utamanya yang berhubungan dengan
kekuatan dan gerakan otot dan persendian; (5) anthropometri; (6) sosiologi; (7)
fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, oxygen up take dan
aktivitas otot; (8) disain; dan sebagainya.

Aplikasi Ergonomi pada Tenaga Kerja


1. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan
posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu
secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu
bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran
anthropometri barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan
simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada
kata-kata.
11
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu,
tangan, punggung, dan lain-lain. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan
cedera tulang punggung, jaringan otot, dan persendian akibat gerakan yang
berlebihan.

2.3 Penyakit Akibat Kerja

Menurut International Labour Organization (ILO) tahun 1998, penyakit akibat kerja
adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi kuat dengan
pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
Beberapa faktor penyebab penyakit akibat kerja, antara lain:
1. Faktor fisik
- Suara bising mengakibatkan ketulian
- Radiasi sinar rontgen atau sinar radioaktif menyebabkan penyakit kelainan
darah dan kulit.
- Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke, heat cramps,
hiperpireksia. Sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan frosbite.
- Tekanan udara yang tinggi menyebabkan Caison Disease
- Pencahayaan yang buruk menyebabkan kelainan pada mata.
- Getaran dapat menyebabkan Raynaud’s disease.

2. Faktor kimia
- Debu dapat menyebabkan pneumoconiosis, diantaranya: silikosis, asbestosis
dan lainnya.
- Uap dapat menyebabkan demam uap logam (metal fume fever), dermatosis.
- Gas dapat menyebabkan keracunan, misalkan CO, H2S, Pb dan lainnya.
- Larutan zat kimia dapat menyebabkan iritasi pada kulit
- Awan atau kabut

3. Faktor biologi
- Misalkan bibit penyakit antraks atau brusella yang menyebabkan penyakit
akibat kerja pada tenaga kerja penyamak kulit

12
4. Faktor fisiologi/ergonomi antara lain kesalahan konstruksi mesin, sikap badan
yang tidak benar dalam melakukan pekerjaan dan lain-lain yang dapat
menimbulkan kelelelahan fisik dan gangguan kesehatan bahkan lambat laun
dapat menyebakan terjadi perubahan fisik.

5. Faktor mental-psikologis
- Hubungan kerja atau hubungan industrial yang tidak baik dapat menyebabkan
depresi atau penyakit psikosomatis.

Penegakan diagnosis penyakit akibat kerja dapat dilakukan melalui 7 langkah,


antara lain:
1.Tentukan Diagnosis klinisnya
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan
fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk
mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat
dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau
tidak.
2.Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah
esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini
perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti,
yang mencakup:
- Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita
secara khronologis
- Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
- Bahan yang diproduksi
- Materi (bahan baku) yang digunakan
- Jumlah pajanannya
- Pemakaian alat perlindungan diri (masker)
- Pola waktu terjadinya gejala
- Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala
serupa)
- Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan
(MSDS, label, dan sebagainya)
13
3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut,
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat
bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam
kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di
atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam
kepustakaan ada yang mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus
mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi,
jumlah, lama, dan sebagainya).

4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut. Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada
keadaan pajanan tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi
penting untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengan kepustakaan yang
ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja.

5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi.


Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang
dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya
pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat. Apakah pasien
mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan penderita lebih
rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.

6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit


Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit.
Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk
menyingkirkan penyebab di tempat kerja.

7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya


Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu
penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada
14
sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu
pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa
melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita
penyakit tersebut pada saat ini. edangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu
keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa
tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat
timbulnya penyakit.

2.4 Gizi Kerja

Gizi kerja adalah gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi
kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan. Gizi kerja
menjadi masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan makan pagi,
kurangnya perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja tentang gizi,
tidak mendapat uang makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan tidak diketahui.
Efek dari gizi kerja yang kurang bagi pekerja adalah:
- Pekerja tidak bekerja dengan maksimal
- Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang
- Kemampuan fisik pekerja yang berkurang
- Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan
- Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,
- Pekerja tidak teliti
- Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang
Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkan timbulnya berbagai
penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit degenerative,
arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan mudah terserang infeksi akut seperti
gangguan saluran nafas. Ketersediaan makanan bergizi dan peran perusahaan untuk
memberikan informasi gizi makanan atau pelaksanaan pemberian gizi kerja yang
optimal akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang setinggi-tingginya.

2.5 Pemeriksaan Kesehatan

Dalam pelaksanaan program kesehatan kerja, di dalamnya terkandung kewajiban


pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja. Pemeriksaan kesehatan
dilakukan oleh dokter perusahaan yang ditunjuk oleh pengusaha dan telah memenuhi

15
syarat sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Koperasi
No. Per. 01/MEN/1976. Tujuan dari dilakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja
secara umum adalah memperoleh dan mempertahankan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya selama bekerja maupun setelah bekerja.
Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja terbagi atas tiga ,antara lain:
Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja
Ditujukan agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan yang
setinggi-tingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai tenaga
kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukan sehingga keselamatan
dan kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan dan tenaga kerja lainnya terjamin.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain, pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran
jasmani, rontgen paru, laboratorium rutin dan pemeriksaan lain yang berkaitan
dengan pekerjaan tertentu.
Pemeriksaan kesehatan berkala
Merupakan pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu terhadap tenaga kerja
yang dilakukan oleh dokter perusahaan. Pemeriksaan dimaksudkan untuk menilai
kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari pekerjaan sedini mungkin (deteksi dini)
yang kemudian perlu dikendalikan dengan usaha pencegahan. Semua perusahaan
harus melakukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja sekurang-
kurangnya 1 tahun sekali.
Pemeriksaan kesehatan khusus
Merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter perusahan secara khusus
terhadap tenaga kerja tertentu. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai adanya pengaruh
dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau kelompok tenaga kerja tertentu.
Pemeriksaan kesehatan khusus dapat dilakukan terhadap:
- Tenaga kerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang
memerlukan perawatan lebih dari 2 minggu.
- Tenaga kerja usia lebih dari 40 tahun atau tenaga kerja wanita dan tenaga
kerja cacat, serta tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan tertentu.
- Tenaga kerja yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai gangguan
kesehatannya. Perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai kebutuhan.

.
16
2.6 HIV/AIDS

HIV/AIDS saat ini di bukan hanya menjadi masalah kesehatan akan tetapi juga
menjadi masalah di bidang dunia kerja yang berdampak pada produktivitas dan
profitabilitas perusahaan. Kementrian Ketenagakerjaan RI telah mengeluarkan
Keputusan Menteri No. 68/Men/IV/2004 mengenai pencegahan dan Penaggulangan
HIV/AIDS di tempat kerja, di mana dalam Keputusan Menteru Tenaga Kerja dan
Transmigrasi terdapat kewajiban pengusaha untuk melakukan upaya pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja melalui:
- Pengembangan kebijakan tentang upaya pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS di tempat kerja yang dapat dituangkan dalam Peraturan Perusahaan
(PP) atau Perjajian Kerja Bersama (PKB)
- Pengkomunikasian kebijakan dengan cara menyebarluaskan informasi dan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
- Pemberian perlindungan kepada pekerja/buruh dengan HIV/AIDS dari tindak
dan perlakuan diskriminatif.
- Penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja khusus untuk
pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan peraturan
perundan-undangan yang berlaku.

Menurut ILO terdapat beberapa prinsip kunci dan kaidah tentang HIV/AIDS di dunia
kerja yang berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua tempat kerja, termasuk
sektor kesehatan, antara lain:
- Isu tempat kerja . HIV/ AIDS adalah isu tempat kerja, karena dia
mempengaruhi angkatan kerja, dan karena tempat kerja dapat memainkan
peran vital dalam membatasi penularan dan dampak epideminya.
- Nondiskriminasi. Tidak ada diskriminasi terhadap pekerja berdasarkan status
HIV yang nyata atau dicurigai.
- Kesetaraan gender. Hubungan gender yang lebih setara dan pemberdayaan
wanita adalah penting untuk mencegah penularan HIV dan membantu
masyarakat mengelola dampaknya.
- Lingkungan kerja yang sehat. Tempat kerja harus meminimalkan risiko
pekerjaan, dan disesuaikan dengan kesehatan dan kemampuan pekerja.

17
- Dialog Sosial . Kebijakan dan program HIV/AIDS yang sukses membutuhkan
kerjasama dan saling percaya antara pengusaha, pekerja dan pemerintah
- Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrutmen . Tes HIV di tempat
kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan rahasia, tidak boleh digunakan
untuk menskrining pelamar atau pekerja.
- Kerahasiaan . Akses kepada data perseorangan, termasuk status HIV pekerja,
harus dibatasi oleh aturan dan kerahasiaan.
- Melanjutkan hubungan pekerjaan. Pekerja dengan penyakit yang berkaitan
dengan HIV harus dibolehkan bekerja dalam kondisi yang sesuai selama dia
mampu secara medik.
- Pencegahan. Mitra sosial mempunyai posisi yang unik untuk mempromosikan
upaya pencegahan melalui informasi, pendidikan dan dukungan bagi
perubahan perilaku.
- Kepedulian dan dukungan Pekerja berhak mendapat pelayanan kesehatan yang
terjangkau.

18
BAB III
Hasil Pengamatan
3.1 Hasil Pengamatan Positif
 Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia hanya memiliki kotak P3K.
Terdapat 2 dokter perusahaan yang bekerja ditempat ini, namun dokter tidak
menetap sesuai jam kerja. Para karyawan diberikan asuransi ketenagakerjaan.
Setahun sekali pihak dari PT. CAKRA STEEL melakukan evaluasi tahunan
MCU untuk para karyawannya dan setiap hari diadakan briefing pagi guna
memberikan edukasi tentang penyakit dan bahaya kerja ke karyawan dengan
petugas HSE sebagai edukator.
 Program Kesehatan
Program kesehatan promotif 1 kali/ tahun yang dilakukan yaitu kegiatan
penyuluhan APAR (Alat Pemadam Kebakaran Ringan), penyuluhan risiko
bahaya pekerjaan dan penyuluhan dengan mendatangkan dokter perusahaan
dan diikuti semua tenaga kerja mengenai tentang penyakit umum seperti
penyakit paru, heat stress. Terdapat beberapa poster edukatif mengenai
kesehatan kerja.
Upaya preventif pada pekerja di sektor produksi, dilakukan vaksinasi Tetanus.
Setiap bulannya karyawan diberikan makanan tambahan berupa susu dan
telur.
Program kesehatan rehabilitasi tidak dilakukan oleh perusahaan ini dalam
bentuk rujukan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit
yang mengadakan kerja sama dengan perusahaan ini.
Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba
Pencegahan HIV AIDS tidak dilakukan dan tidak dilakukan penyuluhan. Pada
saat penerimaan calon tenaga kerja juga tidak ada persyaratan untuk dilakukan
tes narkoba.

 Pemeriksaan Kesehatan
PT. CAKRA STEEL selalu mengadakan Pemeriksaan Kesehatan Awal kepada
calon tenaga kerja dengan cara karyawan pergi ke MCU diluar perusahaan
kemudian melakukan beberapa wawancara dan pemeriksaan fisik kepada

19
calon tenaga kerja, lalu dokumen hasil MCU diberikan ke perusahaan lalu
dinilai apakah pekerja “FIT” atau “UNFIT” untuk bekerja.
Setahun sekali pihak dari PT. CAKRA STEEL melakukan evaluasi tahunan
MCU untuk para karyawannya oleh dokter perusahaan dan memeriksakan
kesehatan pekerja melalui wawancara dan pemeriksaan fisik.
 Kesesuaian Pekerja dengan Alat
Pada beberapa bagian, para pekerja melakukan pekerjaannya dalam posisi
statis seperti posisi kerja di depan komputer, bagian peleburan, percetakan
billet, dan rolling mills yang sudah menggunakan APD standar barupa helm,
ear puff, masker, baju khusus tahan api, sepatu, sarung tangan, yang
disediakan oleh perusahaan.
 Program Pemenuhan Gizi Pekerja, Kantin atau Ruang Makan
Dalam pemenuhan gizi pekerjanya PT. CAKRA STEEL memberikan makan
catering kepada tenaga kerja dan diberikan 1 kali setiap shift kerja. Namun
tidak didapatkan data pemenuhan nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak
dikarenakan tidak adanya bagian gizi di tempat ini. Berdasarkan Surat Edaran
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 01/Men/1979 tentang pengadaan
kantin dan ruang makan, seharusnya perusahaan dengan jumlah tenaga kerja
lebih dari 200 orang wajib memiilki kantin sendiri. PT CAKRA STEEL hanya
memiliki pantry sebagai ruang makan untuk tenaga kerja.
 Penyakit Akibat Kerja
Belum ada data yang pasti untuk jenis penyakit yang dikarenakan akibat kerja
di PT. CAKRA STEEL ini, namun pada bagian K3 PT. CAKRA STEEL
mengaku ISPA merupakan penyakit tersering terjadi pada karyawannya,
namun tidak bisa dipastikan sebagai penyakit yang diakibatkan pekerjaan.
 Sarana P3K
Perusahaan menyediakan kotak P3K hampir di setiap devisi atau bagian
produksi. Perusahaan membentuk tim tanggap darurat untuk memberikan
pertolongan pertama kepada tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja.
Sehingga jika terjadi kecelakaan atau penyakit akibat kerja, maka yang
melakukan pertolongan pertama yaitu teman-teman atau tenaga kerja yang
lainnya. Secara pengetahuan dan perlengkapan P3K cukup sempurna

20
dikarenakan tenaga kerja dibekali mengenai pengobatan atau tindakan
pertolongan pada saat kecelakaan terjadi.
 Petugas Kesehatan
Pada peninjauan terhadap perusahaan ini, tidak didapatkan petugas kesehatan
berupa dokter, namun paramedis yang ada di jam operasional kerja yang
teteap bekerja pada perusahaan tersebut.

3.2 Hasil Pengamatan Negatif


 Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Walaupun terdapat 2 dokter perusahaan yang bekerja ditempat ini, namun
dokter tersebut tidak menetap di perusahaan sesuai jam kerja. Sehingga
kesehatan pekerja tidak terpantau dengan baik. Klinik di perusahaan
disarankan untuk aktif setiap harinya dan kotak P3K yang ada di tiap divisi
secara berkala di cek obat yang ada didalamnya agar menghindarkan dari
obat-obat yang kadaluarsa.
 Program Kesehatan
Program kesehatan promotif 1 kali/ tahun yang dilakukan yaitu kegiatan
penyuluhan APAR (Alat Pemadam Kebakaran Ringan), penyuluhan risiko
bahaya pekerjaan dan penyuluhan dengan mendatangkan dokter perusahaan
dan diikuti semua tenaga kerja mengenai tentang penyakit umum seperti
penyakit paru, heat stress. Terdapat beberapa poster edukatif mengenai
kesehatan kerja. Namun program-program ini dirasa kurang terlaksana dengan
baik dimana pelaksanaannya dilakukan di tempat yang bising sehingga kurang
kondusif. Selain itu, frekuensi promosi kesehatan yang dilakukan masih
kurang seperti poster edukasi yang hanya terdapat dibeberapa tempat dan
pelaksanaannya kurang inovatif. Pihak HSE dapat memberikan poster edukatif
dalam bentuk digital yang dapat di sebarkan dengan grup pesan instan seperti
WhatApp.
Upaya preventif pada pekerja di sektor produksi, dilakukan vaksinasi Tetanus.
Setiap bulannya karyawan diberikan makanan tambahan berupa susu dan
telur. Namun pekerja terkadang merasa bosan dengan makanan tambahan
yang diberikan tersebut sehingga tidak dikonsumsi secara rutin.

21
Program kesehatan rehabilitasi tidak dilakukan oleh perusahaan ini dalam
bentuk rujukan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit
yang mengadakan kerja sama dengan perusahaan ini. Saran agar klinik di
perusahaan setiap hari di aktifkan sehingga jika ada dari tenaga kerja yang
mengalami kecelakaan kerja ataupun sakit lainnya dapat diberikan tindakan
medis ataupun rujukan ke fasilitas kesehatan lanjut.
.
 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba
Pencegahan HIV AIDS tidak dilakukan dan tidak dilakukan penyuluhan. Pada
saat penerimaan calon tenaga kerja juga tidak ada persyaratan untuk dilakukan
tes narkoba. Saran untuk perusahaan dapat bekerja sama dengan Puskesmas
setempat untuk dilakukan edukasi dan pemeriksaan HIV dan Narkoba gratis di
lingkungan kerja.

 Kesesuaian Pekerja dengan Alat


Pada beberapa bagian, para pekerja melakukan pekerjaannya dalam posisi
statis seperti posisi kerja di depan komputer, bagian peleburan, percetakan
billet, dan rolling mills yang sudah menggunakan APD standar barupa helm,
ear puff, masker, baju khusus tahan api, sepatu, sarung tangan, yang
disediakan oleh perusahaan.Namun beberapa pekerja tidak menggunakan
APD standar yang disediakan karena dirasa mengganggu mereka dalam
bekerja. Sehingga para pekerja banyak terpapar pajanan-pajanan panas, bising,
dan kimia di perusahaan.
 Program Pemenuhan Gizi Pekerja, Kantin atau Ruang Makan
Dalam pemenuhan gizi pekerjanya PT. CAKRA STEEL memberikan makan
catering kepada tenaga kerja dan diberikan 1 kali setiap shift kerja. Namun
tidak didapatkan data pemenuhan nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak
dikarenakan tidak adanya bagian gizi di tempat ini. Berdasarkan Surat Edaran
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 01/Men/1979 tentang pengadaan
kantin dan ruang makan, seharusnya perusahaan dengan jumlah tenaga kerja
lebih dari 200 orang wajib memiilki kantin sendiri. PT CAKRA STEEL hanya
memiliki pantry sebagai ruang makan untuk tenaga kerja.

22
 Penyakit Akibat Kerja
Belum ada data yang pasti untuk jenis penyakit yang dikarenakan akibat kerja
di PT. CAKRA STEEL. Namun bagian K3 PT. CAKRA STEEL mengatakan
bahwa ISPA merupakan penyakit tersering yang terjadi pada karyawannya,
namun tidak dapat dipastikan sebagai penyakit yang diakibatkan pekerjaan.
 Petugas Kesehatan
Pada peninjauan terhadap perusahaan ini, tidak didapatkan petugas kesehatan
berupa dokter, namun paramedis yang ada di jam operasional kerja yang tetap
bekerja pada perusahaan tersebut.

23
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
4.1

24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

25
BAB VII
PENUTUP

26
LAMPIRAN

27
28