Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan
jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran
api di tubuh (flame), jilatan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh
benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat bahan kimia, serta
sengatan matahari (sunburn). Luka bakar berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan
yang terjadi dibedakan menjadi luka bakar derajat satu (superficial burns), luka bakar
derajat dua (partial thickness burns), luka bakar derajat tiga (full thickness burns).
Luka bakar merupakan jenis trauma urutan ke empat di dunia yang paling sering
terjadi setelah kecelakaan lalu lintas, jatuh, dan kekerasan interpersonal. Sekitar 90%
luka bakar terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan pendapatan menengah. Di
negara dengan pendapatan tinggi, insidensi luka bakar, derajat keparahan luka bakar,
lama perawatan di rumah sakit, dan angka kematian akibat luka bakar mengalami
penurunan. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein, atau
ionisasi sel. Kulit dan mukosa saluran nafas atas merupakan lokasi destruksi
jaringan.9 Akibat pertama luka bakar adalah syok. Pembuluh kapiler yang terpajan
suhu tinggi rusak dan permeabilitasnya meningkat. Sel darah di dalam pembuluh
darah dapat menjadi rusak sehingga terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas
kapiler menyebabkan edema dan timbul bula. Hal itu menyebabkan berkurangnya
volume cairan intravaskular. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan
kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang
terbentuk pada luka bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari keropeng luka
bakar derajat tiga. Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme
kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi
syok hipovolemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat,
nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurang.
Pembengkakan terjadi secara perlahan, maksimal terjadi setelah delapan jam. 10
Luka bakar merupakan jenis trauma dengan angka morbiditas dan angka
mortalitas yang cukup tinggi. Di Indonesia, luka bakar masih menjadi suatu masalah
kesehatan yang penting. Perawatan dan rehabilitasi pasien luka bakar masih sukar dan
memerlukan ketekunan, biaya mahal, serta tenaga yang terlatih dan terampil. Pada
1
kasus luka bakar, terdapat resiko terjadinya infeksi sampai dengan terjadinya sepsis
dan trauma inhalasi yang dapat menyebabkan kematian.
Tatalaksana luka bakar memerlukan tim yang terdiri dari spesialis bedah (bedah
anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam,
ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi. Tatalaksana pasien luka bakar
berbeda-beda berdasarkan luas luka bakar, etiologi, dan anatomi luka bakar. Di
samping itu, selama proses penyembuhan, pasien mengalami rasa sakit yang
menyebabkan perasaan tidak nyaman yang sangat mengganggu bahkan dalam
keadaan tirah baring sekalipun. Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah
jaringan parut yang dapat berkembang menjadi suatu kecacatan. Oleh karena itu,
penting bagi dokter umum untuk mengetahui bagaimana penanganan awal pasien
dengan kasus luka bakar agar morbiditas dan mortalitas kasus luka bakar dapat
dicegah hungga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang sudah sembuh dari
luka bakar.

2
BAB II
STATUS PASIEN

2.1 IDENTIFIKASI
Nama : An. II
Umur : 1 tahun 4 bulan/ 12 Mei 2017
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Rantau Durian, Kab OKI, Sumatra Selatan
Bangsa : Sumatera
MRS : 24 Febuari 2018, pukul 22.45 WIB
Dikirim oleh : Pasien dirujuk dari Puskesmas Rantau Durian
Nama Ibu Kandung : Ny. TI
Usia Ibu Kandung : 33 tahun
Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
Nama Ayah Kandung : Tn. IP
Usia Ayah Kandung : 41 tahun
Pekerjaan Ayah : Swasta

2.2 ANAMNESA
(Alloanamnesis dari Ibu Kandung dan Ayah Kandung penderita tanggal 25
Febuari 2018)
Keluhan Utama : Tubuh anak tersiram air panas sekitar 4 jam SMRS
Keluhan Tambahan : -

Riwayat Perjalanan Penyakit


Kurang lebih 4 jam SMRS, pasien tersiram air panas pada bagian
perutnya ketika sang ibu sedang membuat kopi. Air panas yang digunakan ibu
pasien untuk membuat kopi tumpah dan mengenai bagian perut dan dada pasien.
Segera setelah tubuh pasien tersiram kulit bagian perut dan dada seketika
memerah dan beberapa saat kemudian timbul seperti gelembung yang berisi
cairan. Orang tua pasien lantas segera membawa pasien ke Puskesmas terdekat
dan pasien segera dirujuk ke IGD RSUD Kayu Agung.

3
Riwayat Penyakit Dahulu
- Tidak Ada.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


- Tidak Ada

Riwayat Imunisasi
IMUNISASI DASAR
Umur Umur Umur
BCG √
Usia 1
bulan
DPT 1 √ DPT 2 √ DPT 3 √
Usia 2 Usia 3 Usia 4
bulan bulan bulan
HEPATITIS B 1 √ HEPATITIS √ HEPATITIS √
Usia 2 B2 Usia 3 B3 Usia 4
bulan bulan bulan
Hib 1 √ Hib 2 √ Hib 3 √
Usia 2 Usia 3 Usia 4
bulan bulan bulan
POLIO 1 √ POLIO 2 √ POLIO 3 √
Usia 1 Usia 2 Usia 3
bulan bulan bulan
CAMPAK √ POLIO 4 √
Usia 9 Usia 4
bulan bulan
Kesan : Imunisasi dasar lengkap
Iminusasi non PPI : Tidak ada
Imunisasi booster : Belum dilakukan

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Primary Survey
1. Airway with Cervical Spine Control
 Jalan napas paten, anak menangis dengan keras. Stridor (-).
Gurgling (-). Snoring (-).

4
 Tanda-tanda trauma inhalasi tidak ditemukan, seperti adanya black
sputum (-), alis dan bulu hidung yang terbakar (-), suara yang serak
(-).
2. Breathing : Ventilation and Oxygenation
 Laju pernafasan 28 x/menit, irama regular.
 Pada inspeksi dalam keadaan statis dinding dada simetris, dalam
keadaan dinamis tidak ditemukan pergerakan hemithorax yang
tertinggal.
 Pemasangan aliran oksigen via non rebreather mask dengan aliran
oksigen 10l/menit.
3. Circulation with Hemorrhage Control
 Tidak terdapat sumber perdarahan aktif.
 Warna kulit masih normal, tidak ditemukan tanda-tanda sianosis
baik sentral maupun perifer.
 Temperature tubuh 36,8OC.
 Nadi 110x/menit, irama regular, isi dan tegangan cukup.
 Pemasangan IV Fluid Kristalloid KAEN IB dengan kecepatan 30
tetes per menit 1 jalur.
4. Disability and Neurologic Examination
 Kesadaran Alert. GCS 15 = E4M6V5
 Pupil bulat, isokoria, reflex cahaya +/+, diameter 3 mm.
5. Enviromental Control
 Menyingkirkan sumber konduksi panas yang melekat ditubuh
seperti pakaian yang juga terkena air panas, dan mencegah
hypothermia

Tatalaksana Awal
1. Oksigen 10 l/menit via non rebreather mask
2. IVFD RL 120 ml habis 4 jam pertama. Dilanjutkan 120 ml habis dalam 16 jam
selanjutnya.
3. Inj. Ketorolac 8 ml/6 jam bolus IV
4. Cek Lab DR dan Elektrolit

5
Secondary Survey and Management
A. AMPLE History
Allergies : Tidak Ada
Medication : Belum ada
Past illness : Disangkal
Last meal : Nasi biasa
Events : Tersiram tumpahan air panas dibagian dada dan perut ketika
ibu membuat kopi

B. Head to Toe Examination


BB : 8 kg
TB : 73 cm
BB/U : (-3) SD - (-2) SD kesan: Underweight
TB(PB)/U : < (-3) SD kesan: Severely Stunted
BB/TB(PB) : (-1) SD kesan : Status gizi baik

Keadaan Spesifik
Kepala : Normocephali
Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut.
Muka : Simetris, deformitas tidak ada, tanda-tanda dismorfik tidak
ada, edema tidak ada.
Mata : Konjungtiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada, RC
(+/+), pupil isokoria, diameter pupil 2 mm/2mm, edema
palpebra tidak ada,mata cekung tidak ada.
Hidung : Napas cuping hidung tidak ada, rhinorrhea (-), sekret
minimal.
Telinga : Lubang lapang. Serumen minimal. Membran timpani
intak, tidak hiperemis, bulging (-).
Mulut : Mukosa mulut basah dan bibir tidak kering, tidak terlihat

tanda-tanda sianosis, bercak keputihan di mukosa mulut


tidak ada.
Gigi : Gigi susu belum seluruhnya tumbuh . Caries dentis minimal.

6
Lidah : Lidah tidak pucat, atrofi papil tidak ada, coated tongue
tidak ada, geographic tongue tidak ada
Faring/ Tonsil : Faring tidak hiperemis, arcus faring simetris uvula
terletak ditengah, tonsil T1-T1 stabil.

Leher
Inspeksi : Lurus, tidak terlihat perbesaran massa
Palpasi : Pembesaran KGB tidak teraba

Thorak
Inspeksi : Statis simetris, dinamis tidak ada hemithorax yang tertinggal
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri
a. Paru-paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, Ronkhi (-), Wheezing (-)
- Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
b. Jantung
-Auskultasi : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-)
-Perkusi : batas jantung dalam batas normal

Abdomen
Inspeksi : Cembung
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : lemas, nyeri tekan abdomen (-), hepar dan lien
tidak teraba
Perkusi : Timpani, shifting dullness(-) balotement ginjal(-)

Ekstremitas : akral tidak pucat, akral hangat, CRT <3”, edema


pretibial tidak ada
Inguinal : pembesaran KGB tidak teraba
Genitalia : dalam batas normal

7
C. Status Lokalis Regio Thorax Anterior dan Abdomen
Look : Tampak luka bakar memenuhi hampir seluruh regio thorax
anterior dan abdomen, bentuk tidak beraturan, dasar luka
berupa jaringan dermis yang masih berwarna kemerahan, bula
(+), tampak sebagian bula sudah pecah dengan sisa berupa
jaringan epidermis yang telah mati, kulit disekitar luka tampak
kemerahan.
Listen : Stridor (-), gurgling (-), snoring (-). Bunyi nafas vesicular (+)
pada seluruh lapangan paru, ronkhi dan wheezing tidak ada.
Bunyi Jantung I dan II normal, regular, murmur hingga gallop
tidak ditemukan (-). Bising usus normal.
Feel : Edema (+)

Luka Bakar
Kepala : 0%
Dada dan Perut : 10%
Punggung dan Pantat : 0%
Ekstremitas : 0%
Genital : 0%

8
Hasil Pemeriksaan Laboratorium (Tgl 24/02/2018)

Hematologi
Jenis Kovensional Interpretasi
Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan
Hemoglobin (Hb) 11.5 11.40-15.00 g/dL Normal
Nilai Kritis :
<7->20
Leukosit (WBC) 13.2 6.00-17.5 103/mm3 Meningkat
Nilai Kritis :
<2.0 - >30
Hematokrit 35 35-45 % Normal
Nilai Kritis :
<20 - >55
Trombosit (PLT) 264 217-497 103/mm3 Normal
Nilai kritis :
<40.0 - >1000
Diff. Count 0/0/65/30/5 0-1/2-4/50-70/20 % Normal
-40/2-8
Bleeding Time 3’00” 2-6’ menit Normal
Clotting Time 6’00” 2-8’ menit Normal
BSS 87 <180 mg/dL Normal

2.4 EVALUASI ULANG


Vital Sign Stabil

2.5 DEFINITIVE CARE


Diagnosis : Luka Bakar Grade II 10% Regio Trunkus Anterior
Terapi
1. Non Farmakologis
- Pemasangan O2 via nasal canule 1 liter/menit
- IVFD KAEN 1B 240 cc, 120 cc awal habis dalam 8 jam pertama sejak
onset injury, 120 cc berikutnya habis dalam 16 jam kedua ditambah

9
dengan maintenance fluid 80cc/jam. 110 cc/jam untuk 4 jam awal
perawatan untuk 16 jam kedua total cairan yang dibutuhkan sekitar 87.5
cc/jam.
- Melapisi luka bakar dengan sufratulle untuk menjaga kondisi moist dan
support reepitelisasi
- Penghitungan balance cairan per 6 jam
- Monitoring vital sign dan output urin

2. Farmakologis
- Inj. Ceftriaxone 200 mg/12 jam IV
- Inj. Ketorolac 8 mg/ 6 jam bolus IV
- Tunda injeksi tetagam atau anti tetanus karena riwayat imunisasi telah
lengkap
- Pro op debridement

Edukasi
1. Menjelaskan kepada keluarga mengenai kondisi yang terjadi, dimana luka
bakar yang terjadi tergolong dalam grade II, dimana kerusakan jaringan
hanya mencapai superfisial dermis. Pada luka bakar grade IIA jaringan
adnexa kulit dan proses reepitelisasi masing sangat mungkin terjadi yang
menjadikan prognosis kasus luka bakar grade IIA sangat baik.
2. Menjelaskan mengenai pemberian terapi, yaitu pada pasien diberikan
antibiotic untuk mencegah infeksi kuman sekunder (profilaksis) yaitu
dengan antibiotic ceftriaxon. Dan diberikan juga antinyeri untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan pasien. Juga dijelaskan mengenai
rencana operasi yang akan dilakukan untuk membuang jaringan epidermis
yang telah mati untuk membersihkan kontaminasi yang terdapat disekitar
luka, karena jaringan mati merupakan sumber perkembangbiakan kuman
pathogen.
3. Menjelaskan mengenai prognosis dan komplikasi dari penyakit.
4. Menjelaskan perlunya nutrisi yang adekuat, dan asupan gizi yang cukup.

10
Prognosis
- Qua ad vitam : dubia ad bonam
- Qua ad functionam : dubia ad bonam
- Qua ad sanationam : dubia

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Luka Bakar


Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan
jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran
api di tubuh (flame), jilitan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh
benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta
sengatan matahari (sunburn). Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem
yang berat. Perawatan dan rehabilitasi pasien luka bakar rumit dan memerlukan
ketekunan, biaya mahal, serta tenaga kesehatan yang terlatih dan terampil. Oleh
karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat dikelola oleh suatu tim trauma yang
terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum),
intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik, psikiatri, dan ahli
psikologi (1,2,3,4).

3.2 Epidemiologi Luka Bakar


Luka bakar merupakan jenis trauma urutan ke empat di dunia yang paling sering
terjadi setelah kecelakaan lalu lintas, jatuh, dan kekerasan interpersonal. 5 Sekitar 90%
luka bakar terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan pendapatan menengah. Di
negara dengan pendapatan tinggi, insidensi luka bakar, derajat keparahan luka bakar,
lama perawatan di rumah sakit, dan angka kematian akibat luka bakar mengalami
penurunan.6
Menurut World Fire Statistics Centre pada tahun 2003 hingga 2005 tercatat
negara yang memiliki prevalensi terendah terjadinya luka bakar adalah Singapura
sebesar 0,12% per 100.000 orang dan yang tertinggi adalah Hongaria sebesar 1,98%.
Di Indonesia, belum ada data statistik yang menunjukkan insidensi kasus luka bakar
secara nasional. Menurut Riset Kesehatan Dasar Depkes RI 2007 prevalensi luka
bakar di Indonesia tertinggi terdapat di provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan
Kepulauan Riau sebesar 3,8%. Data dari Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo
Makassar, dalam jangka waktu 5 tahun (2006-2009) menunjukkan jumlah penderita
luka bakar yang dirawat di perawatan luka bakar adalah 102 kasus, dengan angka
kematian sebanyak 9,2% dan selama tahun 2010 jumlah kasus yang dirawat sebanyak
12
88 kasus dengan angka kematian 17,2%. Derajat luka bakar yang paling banyak
ditemukan yaitu derajat II-b dengan 36 kasus atau 46,7% dari seluruh kasus luka
bakar yang didapatkan. Persentase luka bakar yaitu luas luka bakar 1-10% sebanyak
37 kasus atau 36,3% dan penyebab yang paling banyak adalah akibat air panas
didapatkan 30 kasus dan terbanyak pada kelompok umur 1-10 tahun dengan 19
kasus.5
Dari laporan American Burn Association pada tahun 2012 dikatakan bahwa
angka morbiditas 96,1% lebih banyak terjadi pada wanita (69%). Berdasarkan tempat
kejadian, 69 % kasus luka bakar terjadi di rumah tangga, 9% kasus lainnya di tempat
kerja, 7% di jalan raya, 5% di area rekreasi, pada area olahraga terdapat setidaknya
10% kasus luka bakar, dan sisanya teradi di tempat lainnya.(5)
Menurut surat kabar Tribun pada tanggal 8 Februari 2012, pada Simposium
Indonesia Burn and Wound Care Meeting yang diselengarakan Universitas
Padjadjaran di Bandung dilaporkan data terakhir yang dikeluarkan unit luka bakar
RSCM Januari 1998 - Mei 2001 menunjukkan bahwa 60% karena kecelakaan rumah
tangga, 20% karena kecelakaan kerja, dan 20% sisanya karena sebab-sebab lain.
Angka kematian akibat luka bakar pun di Indonesia masih tinggi, sekitar 40%,
terutama diakibatkan luka bakar berat.(6)

3.3 Anatomi dan Fisiologi Kulit


Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai peranan
dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh
kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7–3,6 kg dan
luasnya sekitar 1,5–1,9 m2. Tebal kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm
tergantung dari letak, umur, dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata,
penis, labium minora, dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal
terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara
embriologis kulit berasal dari dua lapisan yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis
yang merupakan lapisan epitel dan berasal dari ectoderm, sedangkan lapisan dalam
yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan
jaringan ikat. Kulit sangat kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi pada keadaan
iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh.7-10

13
Epidermis merupakan lapisan paling luar kulit dan terdiri atas epitel berlapis
gepeng dengan lapisan tanduk. Epidermis hanya terdiri dari jaringan epitel, tidak
mempunyai pembuluh darah maupun limfe, oleh karena itu semua nutrien dan
oksigen diperoleh dari kapiler pada lapisan dermis. Epitel berlapis gepeng pada
epidermis ini tersusun oleh banyak lapis sel yang disebut keratinosit. Sel-sel ini secara
tetap diperbarui melalui mitosis sel-sel dalam lapis basal yang secara
berangsur-angsur bergeser ke permukaan epitel. Selama perjalanan-nya, sel-sel ini
berdiferensiasi, membesar, dan mengumpulkan filamen keratin dalam sitoplasmanya.
Mendekati permukaan, sel-sel ini mati dan secara tetap dilepaskan (terkelupas).
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai permukaan adalah 20 sampai 30 hari.
Modifikasi struktur selama perjalanan ini disebut sitomorfosis dari sel-sel epidermis.
Bentuknya yang berubah pada tingkat berbeda dalam epitel memungkinkan
pembagian dalam potongan histologik tegak lurus terhadap permukaan kulit.
Epidermis terdiri dari lima lapisan yang paling dalam yaitu stratum basale, stratum
spinosum, stratum granulosum, stratum lucidum dan stratum corneum. 7-10
Dermis merupakan lapisan yang kaya akan serabut saraf, pembuluh darah dan
pembuluh darah limfe. Selain itu, dermis juga tersusun atas kelenjar keringat, kelenjar
sebasea, dan folikel rambut. Dermis terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan papillaris
dan lapisan retikularis, sekitar 80% dari dermis adalah lapisan retikularis. Lapisan
papillaris tersusun lebih longgar, ditandai oleh adanya papilla dermis yang jumlahnya
bervariasi antara 50–250/mm2. Sebagian besar papila mengandung pembuluh-
pembuluh kapiler yang memberi nutrisi pada epitel di atasnya. Papila lainnya
mengandung badan akhir saraf sensoris yaitu badan Meissner. Lapisan retikularis
lebih tebal dan dalam. Berkas-berkas kolagen kasar dan sejumlah kecil serat elastin
membentuk jalinan yang padat ireguler. Pada bagian lebih dalam, jalinan lebih
terbuka, rongga-rongga di antaranya terisi jaringan lemak, kelenjar keringat dan
sebasea, serta folikel rambut. Serat otot polos juga ditemukan pada tempat-tempat
tertentu, seperti folikel rambut, skrotum, preputium, dan puting payudara. Pada kulit
wajah dan leher, serat otot skeletal menyusupi jaringan ikat pada dermis. Otot-otot ini
berperan untuk ekspresi wajah. Lapisan retikular menyatu dengan hipodermis/fasia
superfisialis di bawahnya yaitu jaringan ikat longgar yang banyak mengandung sel
lemak.7

14
Gambar 3: Anatomi kulit
(Dikutip dari : Benjamin C. Wedro. First Aid for Burns. http://www.medicinenet.com)

Kulit merupakan organ yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga
kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh terhadap bahan kimia, sinar ultraviolet
matahari, dan mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap
lingkungan. Perubahan yang terjadi pada kulit dapat menunjukkan adanya gangguan
kesehatan. Misalnya menjadi pucat, kekuning–kuningan, kemerah–merahan atau suhu
kulit meningkat, memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh ataupun
gangguan kulit karena penyakit tertentu. Gangguan psikis juga dapat menyebabkan
kelainan atau perubahan pada kulit. Misalnya karena stress, ketakutan atau dalam
keadaaan marah, akan terjadi perubahan pada kulit wajah. Perubahan struktur kulit
dapat menentukan apakah seseorang telah lanjut usia atau masih muda. Wanita atau
pria juga dapat membedakan penampilan kulit. Warna kulit juga dapat menentukan
ras atau suku bangsa misalnya kulit hitam suku bangsa negro, kulit kuning bangsa
mongol, kulit putih dari eropa dan lain-lain.8
Pada organ sensorik kulit terdapat 4 perasaan yaitu rasa raba/tekan, dingin,
panas, dan sakit. Kulit mengandung berbagai jenis ujung sensorik termasuk ujung
saraf telanjang atau tidak bermielin. Pelebaran ujung saraf sensorik terminal dan
ujung yang berselubung ditemukan pada jaringan ikat fibrosa dalam. Saraf sensorik
berakhir sekitar folikel rambut, tetapi tidak ada ujung yang melebar atau berselubung
untuk persarafan kulit. Penyebaran kulit pada berbagai bagian tubuh berbeda-beda
dan dapat dilihat dari keempat jenis perasaan yang dapat ditimbulkan dari
daerah-daerah tersebut. Pada pemeriksaan histologi, kulit hanya mengandung saraf
15
telanjang yang berfungsi sebagai mekanoreseptor yang memberikan respon terhadap
rangsangan raba. Ujung saraf sekitar folikel rambut menerima rasa raba dan gerakan
rambut menimbulkan perasaan (raba taktil). Walaupun reseptor sensorik kulit kurang
menunjukkan ciri khas, tetapi secara fisiologis fungsinya spesifik. Satu jenis
rangsangan dilayani oleh ujung saraf tertentu dan hanya satu jenis perasaan kulit yang
disadari. Kulit pada manusia mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu:
1. Fungsi proteksi, kulit menjaga bagian dalam terhadap gangguan fisis atau
mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi, misalnya
zat-zat kimiawi terutama yang bersifat iritan, misalnya lisol, karbol, asam, dan
alkali. Gangguan yang bersifat panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultra
violet; gangguan infeksi luar terutama kuman/bakteri maupun jamur.
2. Fungsi absorpsi, kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda
padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang
larut lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan
kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Penyerapan dapat
berlangsung melalui celah antar sel menembus sel-sel epidermis atau melalui
muara saluran kelenjar.
3. Fungsi ekskresi, kelenjar kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna lagi atau
sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia.
Sebum yang diproduksi melindungi kulit karena lapisan ini selalu meminyaki
kulit jua menahan evaporasi air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi
kering.
4. Fungsi persepsi, kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan
subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan–badan
ruffinidermis dan sukutis.
5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), kulit melakukan peranan ini
dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan pembuluh darah kulit.
6. Fungsi pembentukan pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di
lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Pigmen disebar ke epidermis
melalui tangan-tangan dendrit. Sedangkan ke lapisan kulit di bawahnya dibawa
oleh sel melanofag.
7. Fungsi Keratinisasi, lapisan epidermis dewasa mempunyai sel utama yaitu
keratinosit, sel langerhans, melanosis.

16
8. Fungsi pembentukan vitamin D, dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi
kolesterol dengan pertolongan sinar matahari.(2,7)

3.4 Etiologi
Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin, ataupun zat kimia.
Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka dipengaruhi oleh derajat panas,
durasi kontak panas pada kulit dan ketebalan kulit 1,4,11,14.
1. Luka Bakar Termal (Thermal Burns)
Luka bakar termal disebabkan oleh air panas(scald), jilitan api ke tubuh (flash),
koboran api ke tubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak dengan objek-objek
panas lainnya (misalnya plastik logam panas dan lain-lain).

2. Luka Bakar Zat Kimia (Chemical Burns)


Luka bakar kimia biasanya disebabaka oleh asam kuat atau alkali yang biasa
digunakan bidang industri, militer, ataupun bahan pembersih yang sering digunakan
untuk keperluan rumah tangga.

3. Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)


Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling
rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya
tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali
kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun
ground.

4. Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)


Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe
luka bakar ini sering disebabkan oleh penggunaaan radioaktif untuk keperluan
terapeutik dalam kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar matahari yang terlalu
lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi.

17
Gambar 4: Tipe luka bakar
(Dikutip dari : Mayo clinic staff. Burns First Aids. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus)

3.5 Patofisiologi
Akibat pertama yang ditimbulkan luka bakar adalah syok karena sensitisasi
syaraf nyeri yang menimbulkan sensari sangat nyeri terlebih jika luka bakar
merupakan jenis superficial thickness burn. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu
tinggi dapat rusak dan permeabilitas vaskular akan meningkat. Sel darah yang ada di
dalamnya ikut mengalami destruksi, sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya
permeabilitas menyebabkan oedem dan menimbulkan bula yang banyak mengandung
elektrolit, hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. Kerusakan
kulit akibat luka bakar menyebabkan hilangnya cairan akibat evaporasi yang
berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan
pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.
Bila luas luka bakar kurang dari 20%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh
masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipovolemik
dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil, dan
cepat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurrang. Pembengkakkan terjadi
pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat
terjadi pula kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang

18
terhisap. Oedem laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan
napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak bewarna
gelap akibat jelaga.
Keracunan gas CO dan gas beracun lainnya juga dapat terjadi pada kasus luka
bakar. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga
hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas,
bingung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bisa
lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal. Setelah 12-24 jam,
permeabilitas kapiler mulai membaik dan mobilisasi serta penyerapan kembali cairan
edema ke pembuluh darah. Ini di tandai dengan meningkatnya diuresis.3

Respon Lokal
Terdapat 3 zona luka bakar menurut Jackson 1947 yaitu: 1
 Zona Koagulasi
Merupakan daerah yang langsung mengalami kontak dengan sumber panas dan
terjadi nekrosis dan kerusakan jaringan yang irevisibel disebabkan oleh koagulasi
constituent proteins.
 Zona Stasis
Zona stasis berada sekitar zona koagulasi, di mana zona ini mengalami
kerusakan endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit sehingga penurunan perfusi
jaringan diikuti perubahan permeabilitas kapiler (kebocoran vaskuler) dan respon
inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selam 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin
berakhir dengan nekrosis jaringan.
 Zona Hiperemia
Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi, jaringannya masih
viable. Proses penyembuhan berawal dari zona ini kecuali jika terjadi sepsi berat dan
hipoperfusi yang berkepanjangan.

19
Gambar 5: Zona luka bakar Jackson 1947 dan efeknya terhadap
resusitasi adekuat dan inadekuat.
(Dikutip dari : Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2)

Respon Sistemik
Terjadi perubahan pada hampir semua sistem organ dalam tubuh setelah luka
bakar. Penyebabnya adalah pelepasan mediator inflamasi dan stimulasi saraf yang
berakibat terjadinya perubahan besar dalam pengendalian fungsi tubuh sertareaksi
langsung pada beberapa organ tubuhuntuk mensirkulasikan mediator. Saat
terbakarkurang dari 20% TBSA efeknya mungkin tidak signifikan.
 Efek langsung pada luka bakar adalah gangguan sirkulasi. Hipovolemia
disebabkan oleh kehilangan protein dan cairan ke dalam ruang
interstisial.Kehilangan albumin mengubah pertukaran kapilerdi lokasi yang jauh
dari luka bakar. Jika luka bakar lebih dari 20% TBSA menyebabkan
peningkatan permeabilitas kapiler akibat mediator inflamasi. Koreksi
hipovolemia merupakan tatalaksana untuk menyelamatkan nyawa pada satu
jam pertama setelah cedera termal besar.
 Keadaan hipermetabolik akibat cedera dikarenakan sekresi hormon stres
kortisol, katekolamin dan glukagon. Selain itu penolakan terhadaphormon
anabolik (hormon pertumbuhan, insulin dan steroid anabolik) danmekanisme
saraf mengakibatkan kerusakan protein otot.Secara klinis perubahan dinyatakan
sebagai takikardia, hipertermia dan pembuangan protein.

20
 Imunosupresi disebabkan oleh penurunan mekanisme kekebalan tubuh seluler
dan humoral sehingga infeksi masih menjadi penyebabutama kematian.
 Fungsi penghalang usus terganggu sehingga menyebabkan peningkatan
translokasi bakteri. Hal ini dapat diminimalkan dengan memulai nutrisi enteral.
 Paru-paru sering mengalami perubahan respons inflamasi sistemik pasca bakar
(Acute Respiratory Distress Syndrome [ARDS]) meskipun tidak ada cedera
inhalasi.
 Perubahan seluruh tubuh yang meluas dalam pertumbuhan juga terjadi dan
bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah penyembuhan luka
bakar. Ada peningkatan deposisi sentral lemak, penurunan pertumbuhan otot,
penurunan mineralisasi tulang, dan penurunan pertumbuhan tubuh secara
longitudinal. Meski kecepatan pertumbuhan bisa kembali normal setelah 1-3
tahun itu tidak melebihi pertumbuhan normal sehingga catch-up tidak terjadi.

Gambar 6:Respon sistemik terjadi setelah luka bakar


(Dikutip dari : Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2)

Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan endotel dan epitel akibat
dan cedera termis yang melepaskan mediator-mediator proinflamasi dan berkembang
menjadi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), kondisi ini hampir selalu
berlanjut dengan Mutli-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS). MODS
terjadi karena gangguan perfusi jaringan yang berkepanjangan akibat gangguan

21
sirkulasi makro menjadi berubah orientasi pada proses perbaikan perfusi (sirkulasi
mikro) sebagai end-point dari prosedur resusitasi 1.

3.6 Klasifikasi Luka Bakar


Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan
berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar. 1,4,11
1. Berdasarkan Kedalamannya
a) Luka bakar derajat I (superficial burns)
Luka bakar derajat ini terbatas hanya sampai lapisan epidermis. Gejalanya
berupa kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis, nyeri, hangat pada
perabaan dan pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini, fungsi kulit masih utuh.
Contoh luka bakar derajat I adalah bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama,
atau tersiram air panas. Proses penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar
derajat ini tidak menghasilkan jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar
pasien merasa nayaman dengan mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa gel
lidah buaya. .(1,2,4)
b) Luka bakar derajat II (partial thickness burns)
Luka bakar derajat II merupakan luka bakar yang kedalamanya mencapai
dermis. Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan dermis, luka bakar ini
dikenali sebagai superficial partial thickeness burns atau luka bakar derajat II. Luka
bakar derajat II ini tampak eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan ditandai adanya
bulla berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas
dindingya meningkat. Luka ini mereepitelisasi dari struktur epidermis yang tersisa
pada rete ridge, folikel rambut dan kelenjar keringat dalam 7-14 hari secara spontan.
Setelah penyembuhan, luka bakar ini dapat memiliki sedikit perubahan warna kulit
dalam jangka waltu yang lama. 1,2, 4,11,14
Luka bakar derajat II yang mengenai sebagian bagian reticular dermis (deep
partial thickeness) , luka bakar ini dikenali sebagai deep partial thickeness burns atau
luka bakar derajat II B. Luka bakar derajat II B ini tampak lebih pucat, tetapi
masih nyeri jika ditusuk degan jarum (pin prick test). Luka ini sembuh dalam 14-35
hari dengan reepitelisasi dari folikel rambut, keratinosit dan kelenjar keringat,
seringkali parut muncul sebagai akibat dari hilangnya dermis. 1,2, 4,11,14

22
c) Luka bakar derajat III (full-thickess burns)
Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis sampai ke
lemak subkutan. Luka bakar ini ditandai dengan eskar yang keras, tidak nyeri, dan
warnanya hitam, putih, atau merah ceri. Tidak ada sisa epidermis maupun dermis
sehingga luka harus sembuh dengan reepitelisasi dari tepi luka. Full-thickness burns
memerlukan eksisi dengan skin grafting. (1,2, 4,7,10)
d) Luka bakar derjat IV
Luka bakar derajat ini bisa meluas hingga mencapai organ dibawah kulit seperti
otot dan tulang. (1,2, 4,7,10)

Gambar 7: Derajat luka bakar berdasarkan kedalaman


(Dikutip dari : 2.David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Dalam)

2. Berdasarkan Luas Permukaan Luka Bakar


Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan tubuh
atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat dipakai Rules
of Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan
pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Pada
anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and Browder, yaitu
ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. (1,2, 4,7,10)

23
Gambar 8: Wallence Rule of Nines
(Dikutip dari : Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2)

Gambar 9: Lund and Browder


(Dikutip dari : Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2)

3. Berdasarkan derajat luka bakar menurut American Burn Association: (1,4,7,10)


a) Luka Bakar Ringan
1) Luka bakar derajat II < 15%
2) Luka bakar derajat II <10% pada anak
3) Luka bakar derajat III < 1% (1,3.6, 8)
b) Luka Bakar Sedang
1) Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa

24
2) Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
3) Luka bakar derajat III < 10%(1,3.6, 8)
c) Luka Bakar Berat
1) Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
2) Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak
3) Luka bakar derajat III 10% atau lebih
4) Luka bakar mengenai tangan, telinga, mata, kaki, dan genitalia/perineum.
5) Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain 1,4,11,14.

3.7 Kriteria Rawat Luka Bakar


Kriteria perawatan luka bakar menurut American Burn Association yang
digunakan untuk pasien yang harus diadministrasi dan dirawat khusus di unit luka
bakar adalah seperti berikut: 1,4,11,14
 Partial- thickness burns (luka bakar derajat II) dan full-thickness burns (luka
bakar derajat III) dengan >10 % dari TBSA pada pasien berumur kurang dari 10
tahun atau lebih dari 50 tahun.
 Partial- thickness burns (luka bakar derajat II) dan full-thickness burns (luka
bakar derajat III) dengan >20 % dari TBSA pada kelompok usia lainnya.
 Partial- thickness burns (luka bakar derajat II) dan full-thickness burns (luka
bakar derajat III) yang melibatkan wajah, tangan, kaki, alat kelamin, perineum,
atau sendi utama.
 Full-thickness burns (luka bakar derajat III) lebih >5 persen TBSA pada semua
kelompok usia.
 Luka bakar listrik, termasuk cedera petir.
 Luka bakar pada pasien dengan riwayat gangguan medis sebelumnya yang bisa
mempersulit manajemen, memperpanjang periode pemulihan, atau
mempengaruhi kematian.
 Luka bakar kimia.
 Trauma inhalasi
 Setiap luka bakar dengan trauma lain (misalnya, patah tulang) di mana luka
bakar tersebut menimbulkan risiko terbesar dari morbiditas dan mortalitas.
 Luka bakar pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit tanpa unit perawatan
anak yang berkualitas maupun peralatannya.
25
 Luka bakar pada pasien yang membutuhkan rehabilitasi khusus seperti sosial,
emosional, termasuk kasus yang melibatkan keganasan pada anak. (1,4,7,10)

3.8 Penatalaksanaan Luka Bakar


1. Tatalaksana Pasien Luka Bakar di Ruang Emergensi
Evaluasi awal terhadap pasien luka bakar sebaiknya dilakukan menggunakan
pendekatan yang sistematik seperti yang dilakukan Advanced Burn Life Supports
(ABLS) dan Emergency Management of Severe Burns (EMSB). Pendekatan ini terdiri
dari primary survey dan secondary survey pada pasien luka bakar, dan rencana
tatalaksana lanjutan berupa konsultasi dan melakukan rujukan pasien luka bakar 15.

Gambar 10. Struktur EMSB

1) Primary Survey
Pada kondisi yang mengancam kehidupan lakukan identifikasi dan manajemen
darurat. Jangan terganggu oleh luka bakar.
1. Airway maintenance dengan Pengendalian Cervical Spine
a) Periksa apakah jalan napas paten, paling mudah dengan berbicara kepada
pasien. Jika jalan nafas tidak paten, bersihkan saluran napas dari bahan
asing dan buka saluran napas dengan chin lift atau jaw thrust. Hindari
gerakan tulang belakang servikal seminimal mungkin dan jangan
diposisikan hiperfleks atau hiperekstensi kepala dan leher.

26
b) Kontrol cervical spine (paling baik denganrigid collar). Cedera di atas
klavikula, seperti cedera pada wajah atau pasien tidaksadar, sering
dikaitkan dengan fraktur servikal.
Pada luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi
dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi.
Sebelum dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan dengan menggunakan face
mask. Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas, fasilitas
pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan broncoalveolar lavage.
Krikotiroidotomi masih menjadi perdebatan karena dianggap terlalu agresif dan
morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan
pada kasus yang diperkirakan akan lama menggunakan ETT yaitu lebih dari 2
minggu pada luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi. Kemudian dilakukan
pemberian oksigen 2-4 liter/menit melalui pipa endotracheal. Terapi inhalasi
mengupayakan suasana udara yang lebih baik disaluran napas dengan cara uap
air menurunkan suhu yang meningkat pada proses inflamasi dan mencairkan
sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pada cedera inhalasi perlu
dilakukan pemantauan gejala dan distres pernapasan. Gejala dan tanda berupa
sesak, gelisah,takipneu, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu
pernapasan dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah
analisa gas darah serial dan foto thorax.

2. Breathing dan Ventilasi


a) Periksa dada dan pastikan ekspansi dada cukup dan sama.
b) Selalu berikan oksigen tambahan 100% aliran tinggi (15 l/ menit) melalui
NRM.
c) Jika diperlukan ventilasi melalui bag and mask atau intubasi pasien jika
perlu.
d) Keracunan karbon monoksida dapat memberi warna cherry pink, dan
pasien tidak bernafas.
e) Hati-hati dengan laju pernafasan <10 atau>30 per menit.
f) Waspadai luka bakar melingkar - apakah escharotomy dibutuhkan.

27
3. Circulation dengan Haemorrhage Control
a) Berikan tekanan pada titik perdarahan
Pucat terjadi akibat kehilangan 30% volume darah. Terganggunya mental
terjadi saat kehilangan 50% volume darah.
b) Periksa denyut nadi sentral, nilai isi dan tegangan.
c) Periksa tekanan darah.
d) Capillary refill time, nilai normal ≤2 detik. Jika CRT lebih lama
menunjukkan hipovolemia atau kebutuhan akan escharotomy pada anggota
badan tersebut; periksa anggota badan yang lain
e) Pasang 2 jalur IV besar, jalur IV sebaiknya melalui jaringan yang tidak
terbakar
f) Ambil darah untuk FBC/U&E/LFT/ Coags / β-hCG / Cross Match /
Carboxyhaemoglobin
g) Jika pasien syok lakukan resusitasi cairan dengan bolus Hartmann untuk
mencapai denyut radial.

4. Disability: Status Neurologis


a) Menentukan tingkat kesadaran:
A - Alert
V- Respon terhadap rangsangan vokal (Vocal)
P - Merespon rangsangan nyeri (Pain)
U- tidak responsif (Unresponsive)
b) Periksa respon pupil terhadap cahaya.
c) Ingatlah bahwa hipoksemia dan syok dapat menyebabkan kegelisahan dan
penurunan tingkat kesadaran.

5. Exposure with Environmental Control


a) Lepas semua pakaian dan aksesoris termasuk cincin dan arloji
b) Log roll pasien untuk memvisualisasikan permukaan posterior
c) Jaga agar pasien tetap hangat
d) Area yang terbakar diperkirakan dengan menggunakan metode Rule of
Nines atau palmar (Rule of One's)

28
2) Fluids, Analgesia, Test dan Tabung
'FATT’ diakukan antara survey primer dan sekunder
1. Fluid atau Resusitasi Cairan
a) Kristaloid (larutan Hartmann) merupakan cairan yang dianjurkan sesuai
dengan rumus Modified Parkland:
b) Waktu cedera menandai dimulainya resusitasi cairan
c) Jika hemorrhage atau non-burn shock, tatalaksana sesuai dengan pedoman
trauma.
d) Pantau adekuasi resusitasi dengan:
e) Kateter urin, hitung output per jam
f) EKG, denyut nadi, tekanan darah, laju pernafasan, oksimetri dan analisis
gas darah arterial yang sesuai
g) Sesuaikan cairan resusitasi seperti indikasi.

Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik
dan koloid: 11-14
1) Larutan kristaloid
Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah
Ringer Laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya
dalam plasma atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada
keadaan normal, cairan ini tidak hanya dipertahankan di ruang intravaskular
karena cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial. Pemberian 1 L Ringer
Laktat (RL) akan meningkatkan volume intravaskuer 300 ml.
2) Larutan hipertonik
Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan
penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan garam
hiperonik tersedia dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5 %, 7,5%
dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga cairan
akan berpindah dari intraseluler ke ekstraseluler. Larutan garam hipertonik
meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari
intraseluler.
3) Larutan koloid

29
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl Starch (HES) dan Dextran.
Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler,
oleh karena itu sebagian akan tetap dipertahankan didalam ruang intravaskuler.
Pada luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga
molekul akan berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk
edema interstisium yang ada. HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued
amilopectin sintetik, HES berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan
fisiologik. T ½ dalam plasma selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek
samping koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah klinis. HES
dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah
interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan,
elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa HES memiliki
efek antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan
oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek anti
inflamasi diharapkan dapat mencegah terjadinya SIRS.

Dasar Pemilihan Cairan


Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah
efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler,
oksigen, PH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor
keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis cairan terbaik untuk resusitasi
dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian
orang berpendapat bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan
untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat
koloid bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan
karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan.
Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan ciran di kompartemen interstisial
secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi dilakukan
dengan pemberian cairan kristaloid. (1,4,7,10)

Penentuan Jumlah Cairan


Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga
sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan

30
meningkatkan volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya sedikit
meningkatkan cardiac output dan memperbaiki transpor oksigen

2. Analgesia
a) Burn hurt (nyeri luka bakar) - berikan morfin intravena 0,05-0,1 mg / kg
b) Titrate to effect - dosis yang lebih kecil sering lebih aman.
3. Test
a) X-Ray (lateral cervical spine, thorak, pelvis)
b) Pencitraan lainnya sebagai indikasi klinis
4. Tube/Tabung
Nasogastric tube
NGT diindikasikan pada luka bakar yang lebih besar (> 10% pada
anak-anak;> 20% pada orang dewasa), jikaterdapat cedera, atau dekompresi perut
untuk perpindahan udara. Gastroparesis biasa terjadi.

3) Secondary Survey
Secondary survey merupakan pemeriksaan menyeluruh, pemeriksaan darikepala
hingga kaki setelah kondisi yang mengancam jiwa telah ditata laksana.Riwayat:
A – Alergi
M – Medication (Pengobatan)
P – Past illness(penyakit masa lalu)
L – Last meal(makan terakhir)
E – Events/Environment yang berkaitan dengan cedera

4) Re-evaluate
Evaluasi ulang primary survey – khususnya
- Pernafasan
- Insufisiensi sirkulasi perifer
- Penurunan neurologis
- Resusitasi cairan yang adekuat
- Meninjau hasil radiologi
- Perhatikan warna urin untuk hemochromogens
Investigasi laboratorium:

31
- Hematologi (hemoglobin, hematokrit, gas darah arterial, dan
karboksihemoglobin bila tersedia), elektrolit, fungsi ginjal (urea dan
kreatinin, urinalisis), gula darah sewaktu
- Rincian obat (mungkin diminta oleh Polisi)
- X-ray dada
- Elektrokardiogram

2. Perawatan Emergensi Luka Bakar


Umumnya, luka bakar steril saat luka bakar terjadi. Perawatan luka bakar
berlebihan menggunakan balutan modern tidak diperlukan. Tindakan yang tepat untuk
penatalaksanaan luka adalah menutupnya dengan plastik atau kain bersih dan
mengatur prosedur evakuasi. Bila rujukan pasien tertunda lebih dari 8 jam, atau pada
luka yang telah terkontaminasi air tercemar atau limbah industri, maka antimikroba
topikal harus digunakan. Bersihkan luka dan gunakan balutan yang mengandung
silver atau krim silver sulfadiazin.
Jangan menggunakan balut tekan yang memperberat gangguan sirkulasi pada
tungkai yang sebelumnya memang sudah terganggu. Balutan harus sesering mungkin
dibuka untuk menghilangkan konstriksi.
a. Terapi Cairan pada Pasien Luka Bakar
Terapi cairan pada pasien luka bakar dilakukan apabila luas luka bakar adalah
>10% TBSA (pada anak-anak) dan >20% (pada dewasa). Pada pasien luka bakar
dengan luas luka bakar >20% TBSA akan terjadi peningkatan permeabilitas kapiler
yang menyebabkan penurunan volume intravaskular, terutama dalam 24 jam pertama.
Tindakan resursitasi cairan bertujuan untuk menyediakan perfusi yang adekuat
dengan cara memberikan cairan dalam jumlah sedikit untuk mencegah terjadinya
over-resurcitation. Over-resurcitation dapat menyebabkan terjadinya kompartemen
syndrome pada extremitas dan abdomen serta distress pernapasan. Sementara
under-resurcitation dapat menyebabkan syok akibat trauma bakar dan kegagalan
organ.2,17
Resusitasi cairan dapat diberikan secara oral atau melalui cairan intravena.
Pasien luka bakar dengan luas luka bakar <30% TBSA dapat diberikan terapi cairan
secara oral. Resursitasi cairan pada primary survey dilakukan dengan memberikan
cairan RL atau NS sebanyak 125ml/jam (anak usia <5 tahun), 250 ml/jam (usia 6-13

32
tahun), dan 500 ml/jam (usia >14 tahun). Selanjutnya, setelah dilakukan penentuan
luas luka bakar, maka pemberian terapi cairan pada pasien luka bakar adalah dengan
menggunakan Parkland and Modified Brooke’S Formulas (dewasa) dan Galveston’s
Formula pada pasien anak. Rekomendasi pemberian Ringer Laktat menurut Parkland
Formula adalah 4 mL/kgBB/%luas luka bakar dan berdasarkan Modified Brooke’s
Formula yaitu 2 mL/kgBB/%luas luka bakar (dalam 24 jam pertama). Sementara itu,
berdasarkan rumus Galveston’s formula, terapi cairan yang diberikan adalah RL
sebanyak 2000 mL/m2 luas permukaan tubuh + 5000 mmL/m2 luas TBSA yang
terbakar. Pemberian terapi cairan tersebut dibagi dalam dua tahapan yaitu, setengah
dari total cairan yang diperlukan berdasarkan rumus di atas diberikan dalam 8 jam
pertama dan sisa cairan yang lainnya diberikan dalam 16 jam selanjutnya. Target
resursitasi adalah dengan melihat volume urin output, yaitu 30-50 mL/jam pada orang
dewasa dan 1-2 mL/kgBB/jam pada anak-anak.2,17
Penggunaan formula terapi cairan adalah untuk memenuhi kebutuhan fisiologis
tubuh. Anak-anak memerlukan volume cairan yang lebih banyak dibandingkan orang
dewasa. Terdapat beberapa kondisi dimana pasien luka bakar memerlukan terapi
cairan yang lebih banyak seperti pada kasus trauma inhalasi, luka bakar listrik,
peminum alkohol, pasien yang terlambat mendapat terapi cairan. Pemberian terapi
cairan maintenance, termasuk laruta glukosa perlu diberikan pada pasien anak, karena
cadangan glikogen di hati akan berkurang setelah 12-14 jam puasa. Pada beberapa
pasien dengan trauma inhalasi, trauma elektrik, dan tindakan resursitasi yang
terlambat memerlukan terapi cairan tambahan. Luka bakar yang luas memerlukan
katerisasi sentral pada vena subclavian. Apabila pemasangan kateter sentral pada
pasien anak-anak (usia <6 tahun) tidak mungkin dilakukan, dapat dilakukan
pemasangan jarum ukuran 16-18 gauge melalui distal femur atau proksimal tibia
(menggunakan anestesi lokal) dan dapat diberikan cairan 100ml/jam dan suhu cairan
yang diberikan harus mendekati suhu tubuh untuk mencegah terjadinya hipotermia
sistemik. 2,17

b. Penilaian Status Imunisasi Tetanus dan Pemberian Anti-Tetanus


Pasien-pasien trauma luka bakar dengan status imunisasi yang tidak jelas atau
tidak lengkap harus mendapatkan TT, Tetanus Immune Globulin (TIG), dan
Intravenous Immune Globulin (apabila tidak tersedia TIG). 2,17

33
c. Tatalaksana Luka Bakar Kimia
Luka bakar kimia dibedakan menjadi luka bakar akibat asam dan luka bakar
akibat basa. Luka bakar basa menyebabkan nekrosis liquefacting dan bisa
menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih dalam. Adapun tatalaksana emergensi
yang dapat dilakukan yaitu: 2,17
 Semua pakaian dilepaskan dari tubuh korban.
 Araea yang terkontaminasi dicuci air yang mengalir. Untuk mencegah
terjadinya hipotermi, irigasi dilakukan dengan menggunakan air yang
suhunya mendekati suhu tubuh.
 Jangan pernah memberikan neutralizing agent pada kulit yang mengalami
luka bakar.
 Pada luka bakar akibat zat kimia yang bersifat bubuk, irigasi mungkin tidak
memberikan efek yang menguntungkan karena air dapat mengaktivasi zat
kimia tersebut. Pada kasus ini zat kimia dibersihkan terlebih dahulu dengan
menggunakan sikat, pakaian kering, atau vacum, lalu diirigasi
menggunakan copious water.
 Apabila zat kimia mengenai mata, maka mata harus dibersihkan dengan
copius water dan dilakukan konsultasi dengan dokter mata.

d. Tatalaksana Luka Bakar Radiasi


Luka bakar radiasi disebabkan oleh radiasi dosis tinggi dan bisa berlangsung
selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Nyeri yang bersifat progresif
merupakan gejala khas dan masih menjadi masalah dalam penatalaksanaan pasien luka
bakar radiasi. Pada luka bakar radiasi pasien segera dirujuk segera setelah pasien dalam
keadaan stabil.2,17

e. Tatalaksana Luka Bakar Listrik


Luka bakar listrik dibedakan menjadi Low Voltage Electrical Burn (<1000 V)
dan High Voltage Electrical Burn (>1000 V) akan tetapi pada kasus luka bakar listrik
(250–1000 V) pasien dapat mengalami penururunan kesadaran, kompartemen sindrom,
mioglobinuria, dan hemoglobinuria. Oleh karena itu pada pasien tersebut, tatalaksana

34
yang diberikan sama seperti tatalaksana pada High Voltage Electrical Burn adapun
tatalaksana yang diberikan yaitu: 2,17
 Evaluasi airway, breathing, circulation.
 Pada Low Voltage Electrical Burn dapat terjadi atrial fibrilasi dan bisa
menyebabkan kematian. Oleh karena itu, setiap pasien luka bakar listrik harus
diperiksa EKG dan jika memungkinkan dilakukan pmeriksaan serum CPK-MD
dan Troponin I.
 Mioglobinuria atau hemoglobinuria dapat terjadi dan untuk mencegah gagal
ginjal akut diberikan resusitai cairan dan dilakukan monitoring urin output.
 Jika urin berwarna hitam atau merah jumlah cairan yang diberikan harus
ditingkatkan. Pada kasus ini, target urin output adalah 100 mL/jam pada orang
dewasa dan 3-4 mL/KgBB/Jam pada anak-anak.
 Untuk membuat pH urin menjadi basa, berikan NaHCO3 secara intravena
sebanyak 2 ampul pada orang dewasa, 1 ampul pada anak-anak dengan BB lebih
dari 10 KG, dan 1 mL/kgBB pada anak dengan BB kurang 10 Kg.
 Pemberian diuretika merupakan kontraindikasi pada fase akut.

f. Kriteria Pasien Luka Bakar yang dapat Diberikan Perawatan Rawat Jalan 2,17
 Pasien luka bakar yang tidak memerlukan terapi cairan secara intravena.
 Tidak terjadi komplikasi.
 Tidak terjadi sepsis.
 Nutrisi secara oral harus tercukupi.
 Manajemen nyeri dilakukan dengan memberi analgesik (diminum secara oral).

g. Pemberian Analgetik pada Kasus Luka Bakar2,17


 Air.
 Nyeri ringan-sedang : pemberian oral (acetaminophen 650-1000 mg, ibuprofen
600-800 mg, naproxen 50-100 mg, tramadol 50-100 mg, acetaminophen+kodein
30/300 1-2 tablet) dan pemberian secara iv (acetaminophen 1000 mg, ketorolac
15-60 mg, fentanyl 25-50 mcg, morfin 0,5-2 mg).
 Nyeri sedang-nyeri hebat: pemberian oral (hidrokodein+acetaminophen 7,5/500
1-2 tablet, oxycodone+acetaminophen 10/325 1-2 tablet, oxycodone 5-15 mg,
morfin 15-45 mg, dan hydromorphone 2-6 mg) dan pemberian secara intravena
35
(fentanyl 25-100 mcg, morfin 2-4 mg, hydromorphone 0,5-2 mg, ketamine
0,3mg/kg).
 Tramadol dan kentamin diberikan pada saat dilakukan tindakan eskaratomi untuk
kasus Full Thicknes Burn.

h. Kriteria Pasien Luka Bakar yang Harus Dirawat 15


 Pasien luka bakar semua usia yang mengalami luka bakar derajat dua dan derajat
tiga dengan luas luka >20% TBSA.
 Pasien luka bakar semua usia yang mengalami luka bakar derajat tiga dengan luas
luka 5-10% TBSA.
 Pasien luka bakar usia <10 tahun atau >50 tahun yang mengalami luka bakar
derajat dua dan derajat tiga dengan luas luka >10% TBSA.
 Luka bakar pada daerah wajah, telinga, tangan, dan kaki.
 Luka bakar yang melibatkan sendi-sendi besar.
 Luka bakar pada daerah genitalia dan perineum.
 Luka bakar kimia.
 Luka bakar listrik.
 Trauma inhalasi.
 Luka bakar disertai fraktur multipel.
 Pasien hamil yang mengalami luka bakar.
 Curiga terjadinya kekerasan pada anak.
 Komorbid kronik yaitu diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, gangguan
neurologis, defisiensi imun.

3. Perawatan Lokal pada Luka Bakar


Apabila pasien luka bakar datang ke fasilitas kesehatan tanpa diberikan first aid,
hal yang harus kita lakukan adalah membersihkan luka di bawah air mengalir selama
30 menit atau menggunakan larutan normal saline untuk membersihkan luka dan
debris. Kecuali penggunaan sabun cair dengan pH netral, cairan antiseptik tidak boleh
diberikan. Lepaskan semua pakaian dan perhiasan yang menempel pada tubuh korban.
Apabila terjadi luka bakar luas, setelah dibersihkan di bawah air mengalir, luka bakar
dibalut dengan wrap (tetapi jangan terlalu ketat). Dalam 6 jam pertama, lakukan
tindakan transfer pada kasus luka bakar berat.15
36
Apabila terdapat bulla, lakukan debridement bulla dan oleskan chlorhexidine
solution 0,25% atau cetrimide solution 0,1%. Jangan berikan alcohol-based solution.
Jaringan yang mengalami nekrosis dibersihkan dan diolesi krim antimikrobial (silver
sulphadiazine). Krim antimikrobial topikal dan pomade tidak diperlukan pada luka
bakar yang ringan. Kemudian, kompres luka menggunakan paraffin dan ointment
(pomade nitrofurazone 0,2%). Bahan-bahan yang digunakan sebagai kompress adalah
berbeda-beda untuk setiap individu dan hanya digunakan sekali. Apabila terdapat
infeksi atau eskar dan luka bakar yang luas dapat digunakan 1% silver sulphadiazine.
Kompres luka diganti setiap harinya. Amati apabila terdapat diskolorasi atau
perdarahan pada luka, artinya telah terjadi infeksi pada luka tersebut. 15
a. Luka Bakar Derajat Satu15
 Tidak perlu kompres atau dressing ataupun antibakterial topikal.
 Dapat diberikan krim ataupun ointment (hal ini dapat mengurangi proses
inflamasi dan rasa nyeri).
 Pasien luka bakar derajat I dengan luka bakar yang luas perlu untuk dirawat inap
untuk manajemen nyeri dan hidrasi.

b. Luka Bakar Derajat Dua15


 Luka bakar superfisial: kompress menggunakan paraffin impregnated woven
fabric, polyurethane film sheet, atau menggunakan 0,2% nitrofurazone.
 Luka bakar dalam: krim yang mengandung antibiotik (silver sulfadiazine,
mupirocin, nitrofurazone) dapat dioleskan secara langsung atau menggunakan
parrafin impregnated gauze. Apabila terjadi penyembuhan luka yang terlambat
dan melebihi 3 minggu, pasien perlu dirujuk ke pusat luka bakar (biasanya akan
disertai diskolorasi, luka hipertropik, keloid, atau kontraktur).

c. Luka Bakar Derajat Tiga dan Empat


Pelepasan eskar dapat terjadi secara spontan oleh enzim yang dihasilkan oleh
bakteri. Pada luka bakar yang steril, tidak terjadi pelepasan eskar. Pelepasan eskar
merupakan tanda bahwa luka bakar telah terinfeksi. Pada luka bakar derajat III dan
IV, perlu dilakukan tindakan operasi dan dirujuk ke pusat luka bakar. 15

37
4. Transfer Pasien Luka Bakar
Sebelum menuju ke fasilitas rujukan, kita perlu menginformasikan ke fasilitas
rujukan tersebut mengenai usia pasien, jenis kelamin, burning agent, waktu kejadian,
kedalaman dan luas luka bakar, berat badan, tinggi badan, tanda vital, kondisi
neurologis, hasil laboratorium, trauma lainnya, faktor komorbid, rekam medik pasien
dan terapi yang telah diberikan kepada pasien. Pasien harus berada dalam keadaan
stabil. Pada saat merujuk pasien, luka bakar dibungkus dengan pakaian bersih atau
medical coolant. Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum kita melakukan
transfer pasien, yaitu: 15
 Pemasangan kateter pada vena besar, jika memungkinkan menggunakan 2
kateter, yang dipasang pada ekstremitas atas.
 Apabila pasien memiliki napas spontan, dilakukan pemasangan nasal canul,
sedangkan pada kasus obstruksi jalan napas harus dilakukan tindakan intubasi.
 Pemasangan urin kateter diperlukan untuk memantau urin output (30 mL/jam
pada orang dewasa, dan 1 mL/kgBB/jam pada anak-anak). Pada luka bakar listrik
dan trauma inhalasi, target urin output adalah dua kali lipat dari target urin output
pada umumnya.
 Asupan melalui oral sebaiknya dihentikan dan diganti dengan pemberian
makanan melalui NGT.
 Semua pemberian obat bius dihentikan.
 Pada pasien yang akan dirujuk dalam 24 jam pertama, hanya RL yang diberikan.
 Pemasangan EKG dan pernapasan harus selalu dievaluasi selama melakukan
transfer pasien.
 Pakaian basah sebaiknya dihindari selama melakukan transfer pasien untuk
mencegah hipotermia.
 Pasien harus tetap dalam keaadan hangat.

5. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme
bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi debridement secara
alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah (eksisi), pencucian luka, wound
dressing dan pemberian antibiotik topikal . Tujuan perawatan luka adalah untuk
menutup luka dengan mengupaya proses reepiteliasasi, mencegah infeksi, mengurangi
38
jaringan parut dan kontraktur dan untuk menyamankan pasien. Debridement
diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi
tangensial. Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil, karena
merupakan tindakan yang cukup berat. Untuk bullae ukuran kecil tindakannya
konservatif sedangkan untuk ukuran besar (>5cm) dipecahkan tanpa membuang
lapisan epidermis diatasnya. 11-14
Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka bakar
derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan keropeng
(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan
(compartment syndrome) yang membahayakan sirkulasi sehingga bahgian distal
iskemik dan nekrosis (mati). Tanda dini penjepitan (compartment syndrome) berupa
nyeri kemudian kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi kebas pada ujung-ujung
distal. Keaadan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang
membuka keropeng sampai penjepitan bebas. (1,4,7,10)
Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan pasien atau
dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa
lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap. Perawatan luka tertutup dengan
occlusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle
(antibiotik dalam bentuk sediaan kasa) berfungsi sebagai penutup luka yang
memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk
mengatasi infeksi pada luka. (1,4,7,10)

6. Eksisi dan graft


Luka bakar derajat IIB dan III tidak dapat mengalami penyembuhan spontan
tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang sudah mati ini akan menjadi fokus
inflamasi dan infeksi. Eksisi dini dan grafting saat ini dilakukan sebagian besar ahli
bedah karena memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan debridement serial.
Setelah dilakukan eksisi, luka harus ditutup melalui skin graft (pencakokan kulit)
dengan menggunakan biological dressing. Terdapat 3 bahan biological dressing yaitu
homografts (kulit mayat dan penutup luka sementara), xenografts/heterografts (kulit
binatang seperti babi dan penutup luka sementara) dan autografts (kulit pasien sendiri
dan penutup luka permanen). Idealnya luka ditutup dengan kulit pasien sendiri
(autograft). Terdapat 2 tipe primer autografts kulit yaitu split-thickness skin grafts

39
(STSG) dan full-thickness skin grafts (FTSG). Pada luka bakar 20-30% biasanya
dapat dilakukan dalam satu kali operasi dengan penutupan oleh STSG diambil dari
bagian tubuh pasien. (1,4,7,10)

7. Lain-lain
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis infeksi
dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Dalam3-5 hari pertana populasi kuman yang
sering dijumpai adalah bakteri Gram positif non-patogen. Sedangkan hari 5-10 adalah
bakteri Gram negative patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih
dalam keadaan steril sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal
yang dapat digunakan adalah silver sulfadiazine 1%, silver nitrate dan mafenide
(sulfamylon) dan xerofom/bacitracin. Antasida diberikan untuk pencegahan tukak
beban (tukak stress/stress ulcer), antipiretik bila suhu tinggi dan analgetik bila nyeri.
(1,4,7,10)

Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan


keseimbnagan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak
2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu makanan diberikan
melalui enteral atau ditambah dengan nutrisi parenteral. Pemberian nutrisi enteral dini
melalui nasaogastik dalam 24 jam pertama pasca cedera bertujuan untuk mencegah
terjadinya atrofi mukosa usus. Pemberian enteral dilakukan dengan aman bila Gastric
Residual Volume (GRV) <150 ml/jam yang menandakan pasase saluran cerna baik.
(1,4,7,10)

Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya perlu fisioterapi untuk


memperlancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu sendi
diistirahatkan dalam posisi fungsional degan bidai.Penderita luka bakar luas harus
dipantau terus menerus. Keberhasilan pemberian cairan dapat dilihat dari diuresis
normal yaitu 1ml/kgBB/jam. Yang penting juga adalah sirkulasi normal atau tidak
dengan menilai produksi urin,analisa gas darah, elektrolit, hemoglobin dan
hematokrit. (1,4,7,10)

3.9 Komplikasi
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat
perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan

40
grafting.Kompilkasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis, dan
MODS. Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu atrofi
mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa, motilitas usus menurun dan ileus. Pada
ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal menurun. Skin graft
loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh hematoma,
infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar, dapat terjadi jaringan
parut pada kulit berupa jaringan parut hipertrofik, keloid dan kontraktur. Kontraktur
kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabkan kekeauan sendi. Kekakuan sendi
memerlukan program fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan tindakan
bedah. (1,4,7,10)

3.10 Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan
badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan
pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10 hari tanpa
adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan
mugkin dapat menimbulkan luka parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan
fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan dapat diperlukan untuk membuang
jaringan parut. (1,4,7,10)

41
BAB IV
ANALISIS KASUS

Pasien an. II, Laki-laki, 1 tahun 4 bulan datang dengan riwayat 4 jam yang lalu
tubuhnya terkena air panas ketika ibunya sedang membuat kopi, pasien datang dengan
luka bakar luas pada daerah dada dan perutnya berupa bula, dan pada beberapa bagian
bula sudah pecah dengan dasar tampak dermis yang masih tampak kemerahan. Anak
tampak gelisah dan menangis keras kesakitan.
Pasien dengan luka bakar termasuk dalam golongan pasien dengan trauma,
dimana luka bakar merupakan jenis trauma thermal. Tatalaksana awal pada kasus luka
bakar mengacu pada stuktur tatalaksana yang dikeluarkan oleh Australian & New
Zealand Burn Association yaitu Emergency Management of Severe Burn dimana
tatalaksana awal yang direkomendasikan terdiri dari suvey primer, FATT, dan survey
sekuder.
Ketika datang survey primer harus segera dilakukan pada pasien, dimana jalan
nafas paten yang ditandai pasien dapat menangis dengan lantang, dan
mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau berkata, pernafasan pasien
regular dengan laju 26x/menit, yang menandakan tidak ada gangguan breathing, dan
segera dilakukan pemasangan oksigen via non rebreather mask dengan kecepatan
aliran 10 l/menit. Penilaian sirkulasi pasien, dilakukan secara sekilar dengan menilai
nadi, Capillary Refill Time, dan tidak adanya sumber perdarahan aktif
mengindikasikan sirkulasi masih terkontrol dengan baik. Dilakukan pemasangan jalur
intravena satu jalur menggunakan cairan KAEN 1B. Pasien datang dengan kondisi
kesadaran Alert dan GCS 15, E4M6V5, pupil isokoria. Untuk Event dilakuakn control
lingkungan dimana baju pasien segera ditanggalkan agar tidak ada lagi aliran
konduksi panas menuju badan pasien.
FATT merupakan kepanjangan dari Fluid, Analgesia, Test, dan Tubes, dimana
peran resusitasi cairan, dan obat-obatan analgesic sangat penting dalam tatalaksana
awal pasien luka bakar. Selain itu juga dapat dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti
hematologic dan radiologi untuk mencari penyakit penyerta maupun komplikasi
lanjutan lainnya. Sedangkan tubes, menjelaskan bahwa pada kasus-kasus luka bakar
yang berat input dan outpun cairan maupun nutrisi harus diperhatikan dimana

42
terkadarng pemasangan NGT dan Kateter urin diindikasi pada pasien-pasien luka
bakar derajat berat.
Kemudian dari pemeriksaan fisik menyeluruh, pasien tampak sakit sedang, gizi
baik, compos mentis. Nadi 104 x/menit, pernapasan 26x/menit, suhu 36.8°C (axilla).
Dari pemeriksaan tempat luka, didapatkan pada daerah thorax anterior dan abdomen
tampak luka bakar bakar grade II total 10%, tampak bulla, dan di beberapa tempat
tampak bulla pecah dengan dasar luka berupa jaringan dermis yang masih kemerahan,
ketika ditekan terasa nyeri. Tidak terdapat luka bakar lainnya pada region tubuh
lainnya.
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, terdapat peningkatan dari jumlah
leukosit (sel darah putih) yaitu 13.200 yang dalam keadaan normal berjumlah
4.000-10.000 yang mengindikasikan terjadinya keadaan leukositosis. Hasil lab
hematologi lainnya dalam batas normal. Resusitasi cairan dalam rangka mengatasi
resiko terjadinya syok harus dilakukan sejak dari awal masuk rumah sakit dengan
pemberian cairan berupa Campuran NaCl dan D5% yaitu D5 ¼ NS khusus untuk
anak-anak dengan luka bakar mengikuti Rumus Modified Parkland dan 4:2:1 rule,
dimana total cairan yang diberikan yaitu :
Modified Parkland Formula = 3 mL x kgBB x % TBSA Luka Bakar
= 3 mL x 8 kg x 10
= 240 mL/24 jam pertama
Dibagi 2 kali waktu pemberian, dimana 4 jam awal (8 jam dikurangi waktu
sebelum pasien masuk kerumah sakit) cairan yang diberikan berjumlah 120 ml. untuk
16 jam berikutnya 120 ml cairan sisanya baru diberikan.
Untuk cairan maintenance, jumlahnya sebanyak 4 ml/kgBB/jam x 8 kg = 32
ml/jam
Jumlah total cairan per jam pada 4 jam pertama sebanyak :
120 mL/4 jam +32 ml/jam = 62 ml/jam ~ 60 ml/jam = gtt 20 makro/menit
Sedangkan jumlah total cairan per jam pada 16 jam berikutnya sebanyak :
120 mL/16 jam + 32 mL/jam = sekitar 40 ml/jam = gtt 13-14 makro/menit
Untuk tatalaksana lainnya yang diberikan adalah penutupan luka bakar dengan
suffratulle, sebagai moist dressing terhadap luka. Selain itu diberikan injeksi
antibiotik intravena, pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai
profilaksis infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Juga diberikan injeksi

43
antinyeri dari golongan NSAID, ketorolac dengan dosis bolus sebesar 1 mg/kgBB per
6 jam. Juga direncanakan operasi debridement untuk membuang jaringan mati yang
tersisa dari pecahnya bulla di beberapa titik luka bakar di dada da perut pasien.
Monitoring vital sign serta balance cairan terutama komponen urine output
merupakan indicator penting keberhasilan resusitasi dan baiknya prognosis kedepan.

44
DAFTAR PUSTAKA

1) Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
EGC. Jakarta. p 66-88
2) David, S. 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Dalam :
Surabaya Plastic Surgery.
3) James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier.
Philadelphia. p 118-129
4) Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12.
McGraw-Hill Companies. New York. p 245-259
5) Murray, C.J.L dan A.D.Lopez. 2006. The Global Burden of Disease: a
Comprehensive Assessment of Mortality and Disability from Disease, Injuries,
and Risk Factors in 1990 and Projected to 2020. World Health Organization,
Switzerland.
6) Sarimin, S. 2009. Evaluasi Kasus Luka Bakar di RS Wahidin Sudirohusodo
Periode Januari 2006-Maret 2009. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makassar.
7) Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem Edisi 2.
Jakarta:EGC. Hal. 152-157.
8) Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. Jakarta:EGC.
Hal. 115-124.
9) Jerome FX Naradzay. http: // www. emedicine. com/ med/ Burns, Thermal.
November 2006
10) Mayo clinic staff. Burns First Aids. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus.
Januari 2008
11) Benjamin C. Wedro. First Aid for Burns. http://www.medicinenet.com.
Agustus 2008
12) James H. Holmes., David M. heimbach. 2005. Burns, in : Schwartz’s Principles
of Surgery. 18th ed. McGraw-Hill. New York. p.189-216
13) St. John Ambulance. First aid: First on the Scene: Activity Book, Chapter 19.
http://en.wikipedia.org/wiki/Burn_%28injury%29. Agustus 2007Mayo clinic
staff. Burns First Aids. http: // www.mayo.clinic.com. Januari 2006
14) Grace, P.A dan N.R. Borley. 2007. Surgery at a Glance 3rd Edition. Terjemahan
Oleh: Umami, V. Erlangga, Indonesia.

45