Anda di halaman 1dari 21

NAMA : NUR AKILA

NIM : 04011181621036

KELAS : BETA 2016

KELOMPOK : B2

HASIL BELAJAR MANDIRI

LEARNING ISSUE

1. DM tipe 1
a. macam insulin
Jenis Insulin

Pada dugaan DM tipe-1 penderita harus segera rawat inap.


 Insulin Dosis total insulin adalah 0,5 -1 UI/kg BB/hari.
Selama pemberian perlu dilakukan pemantauan glukosa darah atau reduksi air
kemih.

Terdapat lima tipe insulin yang tersedia: Fast insulin, Short acting,
Intermediate acting, Long acting dan Premixed insulin, yang tersedia dengan
teknologi rekombinan atau semi rekombinan sebagai insulin “human”.
Insulin analog yang dihasilkan melalui teknologi rekombinan DNA memiliki
profil kerja yang lebih fisiologik dibandingkan human insulin semisintetik yang
sebelumnya digunakan.
Insulin manusia yang bekerja singkat (short-acting/regular human insulin)
yang bekerja sebagai prandial insulin masih memiliki berbagai kelemahan, antara
lain mula kerja yang lambat (perlu di berikan 30-45 menit sebelum makan), risiko
keamanan bila batal makan, masa kerja yang panjang, hipoglikemia post-prandial
4-6 jam setelah makan, risiko hiperinsulinemia.
Dikembakangkannya insulin analog yang bekerja cepat (rapid – acting).
Seperti insulin lispro, insulin aspart serta insulin glusine menghasilkan insulin
yang memiliki penyerapan di subkutan yang lebih cepat, puncak kerja yang lebih
singkat dan tinggi serta masa kerja yang juga lebih singkat. Akibatnya waktu
pemberian menjadi lebih dekat dengan waktu makan, bahkan dapat diberikan saat
makan, serta risiko hipoglikemia pots-prandial menjadi lebih kecil.
Insulin lispro dan insulin aspart merupakan insulin analog kerja-cepat yang
telah beredar saat ini, dan kerja kedua insulin ini pada metabolisme karbohidrat
dan lipid tampaknya serupa. Insulin lispro memiliki asam amino B28 (lisin) dan
B29 (prolin), yang berkebalikan dengan insulin manusia (B28 – prolin dan B29
lisin). Perbedaan ini menyebabkan disolusi yang lebih cepat menjadi dimer
kemudian monomer yang akan diserap dengan cepat (pada pemberian subkutan).
Insulin glulisine (B3 lisin mengggantikan asparagin dan B29 glulisin
menggantikan lisin) merupakan insulin analog kerja cepat yang sedang menjalani
evaluasi di USA dan Eropa, dan pada beberapa penelitian menunjukkan anset,
puncak dan masa kerja yang mirip dengan kedua pandahulunya.
Kombinasi insulin kerja sedang yang diberikan malam hari sebelum tidur dengan
sulfonylurea tampaknya memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan
insulin saja, baik satu kali ataupun dengan insulin campuran. Keuntungannya
pasien tidak harus dirawat dan kepatuhan pasien tentu lebih besar.
Insulin dapat diberikan pada keadaan:
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketoasidosis
Ketoasidosis diabetic
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Gagal dengan kombinasi OHO dosis hamper maksimal
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
Kehamilan dengan DM/diabetes mellitus gestasional yang tidak dapat
dikendalikan dengan perencanaan makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Bila jumlah insulin yang dibutuhkan sehari masih kurang dari 30 unit, maka dapat
diberikan insulin kerja menengah satu kali sehari pada pagi hari, tetapi bila
diperlukan dosis yang lebih tinggi, maka dapat dilakukan pemberian insulin
sebanyak 2 kali (2/3 pagi dan 1/3 malam).

Short acting insulin: Insulin yang kerjanya cepat, namun hanya memberi efek untuk waktu
terbatas

Intermediate-acting insulin: Insulin kerja intermediet , bekerja sesaat lebih lambat dari sort-
acting insulin, dan mempunyai efek yang agak lama
Long-acting insulin: Membutuhkan beberapa jam untuk bekerja, namun durasi aksi
puncaknya lebih baik dari insulin bentuk lain

Pemberian Insulin Pada Keadaan Khusus


A.Diabetes Melitus Tipe 1
Sekitar tiga perempat kasus Diabetes melitus tipe 1 ditegakkan pada usia
kurang dari 18 tahun. Penyebab utama kelainan ini karena pankreas tidak mampu
membuat insulin akibat infeksi virus atau otoimun. Oleh sebab itu, perhatian
dokter maupun keluarga harus menitikberatkan untuk tetap mengupayakan
pertumbuhan tubuh penderita normal atau mendekati normal, dengan memberikan
suntikan insulin seumur hidup. Penanganan penderita ini memerlukan kerjaama
team yang erat antara diabetes edukator, keluarga, dokter, dan ahli gizi.
Kontrolglukoma darah harus terus diupayakan dipertahankan mencapai A1c di
bawah 7%, tujuannya supaya komplikasi kronik diabetes baik makroangiopati
maupun mikroangipati tidak akan terjadi dikemudian hari. Monitor glukosa
dilakukan sekurang-kurangnya sebulan sekali, monitor A1c setiap bulan, monitor
mikroalbuminuria dilakukan setelah usia 10 tahun dan sudah menderita DM tipe 1
lebih dari 5 tahun.
Berikut ini tabel pengendalian glukosa darah masing-masing kelompok umur
penderita diabetes melitus tipe 1.

Usia Glukosa darah sebelum Glukosa darah A1c


makan setelah makan
Kurang 6 tahun 100 – 180 mg% 110 – 200 mg% < 8,5 %
6 – 12 tahun 90 – 180 mg% 100 – 180 mg% <8 %
13 – 19 tahun 90 – 130 mg % 90 – 150 mg % <7,5 %

d. Edukasi
Gejala klinis DM yang klasik : mula-mula polifagi, poliuri, dan polidipsi.
Apabila keadaan ini tidak segera diobati, maka akan timbul gejala Dekompensasi
Pankreas, yang disebut gejala klasik DM, yaitu poliuria, polidipsi, dan polifagi.
Ketiga gejala klasik tersebut diatas disebut pula “TRIAS SINDROM DIABETES
AKUT” bahkan apabila tidak segera diobati dapat disusul dengan mual-muntah
dan ketoasidosis diabetik.
Aktivitas fisik untuk pengendalian dan pencegahan diabetes melitus yang
direkomendasikan adalah sesi 30 menit minimal 3-4x seminggu (atau idealnya
setiap hari) bagi orang dewasa dan 60 menit bagi anak-anak dan remaja.
Aktivitas dapat dibagi menjadi beberapa sesi, setiap sesi 10-15 menit.
Kegiatan yang direkomendasikan adalah kegiatan yang meningkatkan pernapasan
dan denyut jantung dan menyebabkan sedikit berkeringat, misalnya berjalan,
berkebun, berenang, atau membersihkan rumah. Lakukan peningkatan intensitas
dan lama latihan secara bertahap.
Sebagai alternatif, Anda juga dapat memilih sesi olah raga 3 kali seminggu
masing-masing selama 20 menit dengan kegiatan yang lebih berat, misalnya
jogging, berlari, kelas aerobik, dan sebagainya. Jangan lupa untuk tetap
melakukan pemasanan dan pendinginan untuk mencegah cedera otot.

Olahraga untuk penderita DM


Olahraga adalah kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang agar tetap sehat. Bagi
penderita diabetes melitus, baik yang terkontrol maupun belum terkontrol, manfaat yang
didapat dari berolah raga bahkan lebih banyak lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa olah
raga atau aktivitas fisik dapat:

 Meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin sehingga membantu


menurunkan kadar gula dan kadar lemak darah.
 Menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol jahat darah (LDL), meningkatkan
kolesterol baik (HDL) sehingga menurunkan risiko penyakit jantung.
 Mengontrol berat badan.
 Menurunkan risiko komplikasi penyakit DM.
 Menguatkan jantung, otot dan tulang.
 Menurunkan tingkat stress.

Aerobik
Latihan aerobik membuat jantung dan tulang kuat, mengurangi stress dan
meningkatan aliran darah. Aerobik juga menurunkan risiko DM tipe 2, penyakit jantung dan
stroke dengan menjaga kadar gula, kolesterol dan tekanan darah dalam rentang normal.
Lakukan latihan aerobik selama 30 menit minimal 5 kali seminggu. Jika Anda belum terbiasa
berolah raga, lakukan 5- 10 menit sehari, lalu tingkatkan secara bertahap setiap minggu.
Contoh latihan aerobik yang dapat dilakukan adalah berjalan cepat, berdansa atau mengikuti
kelas aerobik. Jika Anda memiliki masalah pada saraf kaki atau sendi lutut, sebaiknya Anda
mengurangi beban pada kaki dengan memilih berenang, bersepeda atau mendayung.

Daftar IGM
Seperti dijelaskan pada artikel tentang indeks glikemik, peningkatan kadar gula
darah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: JUMLAH dan JENIS karbohidrat yang dikonsumsi.
Semakin banyak JUMLAH karbohidrat yang dikonsumsi (dengan kata lain: semakin banyak
Anda mengkonsumsi suatu jenis makanan), maka kadar glukosa darah akan semakin
meningkat.
Sedangkan JENIS karbohidrat suatu makanan dapat diketahui berdasarkan indeks
glikemik makanan tersebut. Makanan dengan indeks glikemik yang tinggi akan
meningkatkan gula darah secara cepat. Jadi, bagi penderita diabetes disarankan untuk
memilih makanan dengan indeks glikemik yang rendah.
Di bawah ini adalah tabel indeks glikemik yang dapat Anda gunakan untuk mengatur
pola makan diet. Selain indeks glikemik, ditampilkan juga takaran saji dan beban glikemik
yang dihasilkan jika suatu makanan dikonsumsi sebesar takaran sajinya:

Indeks Takaran Saji Beban


Jenis makanan Nama
Glikemik (gram) Glikemik

Tortila gandum 30 50 8

Sponge cake 46 63 17

Cake pisang dengan gula 47 60 14

Tortila jagung 52 50 12

Cake pisang tanpa gula 55 60 12

BAKERY Roti hamburger 61 30 9

Pita bread 68 30 10

Roti putih 71 30 10

Roti gandum utuh (whole wheat) 71 30 9

Bagel putih 72 70 25

Baguette putih 95 30 15

Nasi merah 50 150 14

Oatmeal 55 250 13

Jagung rebus 60 150 20

SEREAL Muesli 66 30 16

Oatmeal instan 83 250 30

Nasi putih 89 150 43

Cornflakes™ 93 30 23
Jus apel tanpa pemanis 44 250 ml 30

MINUMAN Jus jeruk tanpa pemanis 50 250 ml 12

Soft drink 68 250 ml 23

Susu skim 32 250 ml 4

Yoghurt rendah lemak dengan 33 200 11


Dairy Product buah
Susu penuh lemak 41 250 ml 5

Es Krim 57 50 6

Jeruk Bali 25 120 3

Pear 38 120 4

Apel 39 120 6

Jeruk 40 120 4

Peach kalengan 40 120 5


BUAH
Peach 42 120 5
BUAHAN
Pear kalengan 43 120 5

Anggur 59 120 11

Pisang 62 120 16

Kismis 64 60 28

Semangka 72 120 4

Kacang tanah 7 50 0
KACANG
Kacang kedelai 15 150 1
KACANGAN
Kacang mede asin 27 50 3
Kacang merah 29 150 7

Kacang hitam 30 150 7

Kacang panggang 40 150 6

Fettucini 32 180 15

PASTA Makaroni 47 180 23

Spaghetti direbus 20 menit 58 180 26

Keripik jagung asin 42 50 11

MAKANAN Keripik kentang 51 50 12

RINGAN Berondong jagung tawar 55 20 6

Pretzel 83 30 16

Wortel 35 80 2

Green peas 51 80 4

SAYURAN Talas 54 150 20

Ubi 70 150 22

Mashed potato instan 87 150 17

Chicken nuggets dipanaskan di 46 100 7


LAIN LAIN microwave

Madu 61 25 12

Sebagai catatan: jika indeks glikemik glukosa adalah 100, maka:

 indeks glikemik rendah adalah ≤ 55


 indeks glikemik sedang adalah 56 -69
 indeks glikemik tinggi adalah ≥ 70
2. Keton asidosis

a. Tatalaksana
Pasien anak dan remaja (<20 tahun)
Terapi cairan awal ditujukan kepada ekspansi cairan intravskular dan
ekstravaskular serta perbaikan perfusi ginjal. Namun kebutuhan ekspansi volume
vaskular harus diimbangkan dengan risiko edema serebral yang dikaitkan terhadap
pemberian cairan cepat. Cairan dalam satu jam pertama harus salin isotonik
(0,9%) dengan laju 10 sampai 20 ml/kgBB/jam. Pada pasien dengan dehidrasi
berat, protokol ini dapat diulang, namun re-ekspansi awal tidak boleh melebihi 50
ml/kgBB dalam 4 jam pertama terapi. Terapi cairan lanjutan dihitung untuk
menggantikan defisit cairan secara seimbang dalam waktu 48 jam. Secara umum,
NaCl 0,45 - 0,9% (tergant
ung kadar natrium serum) dapat diberikan dengan laju 1,5 kali kebutuhan
maintenance 24 jam (kurang lebih 5 ml/kgBB/jam) dan akan memberikan
rehidrasi yang mulus dengan penurunan osmolalitas tidak melebihi 3 mOsm/kg
H2O/jam. Setelah fungsi ginjal terjaga dan kalium serum diketahui kadarnya,
maka cairan infus harus ditambahkan 20 –30 mEq/L kalium (2/3 KCl atau kalium
- asetat dan 1/3 KPO4). Segera setelah kadar glukosa serum mencapai 250
mg/dL, cairan harus digantikan dengan dekstrosa 5% dan 0,45 –0,75% NaCl
dengan kalium sebagaimana digambarkan di atas. Terapi harus disertai dengan
pemantauan 22 status mental untuk mendektsi secara cepat perubahan - perubahan
yang dapat mengindikasikan kelebihan cairan, dengan potensi menyebabkan
edema serebral simptomatik.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Interpretasi

PEMFIS NILAI NORMAL INTERPRETASI

S: 95-135
TD 100/70 mmHg normal
D: 60-85

F.Nadi 108 kali/menit 55-90 kali/menit takikardi

Suhu 37,0°C 36,5-37,5°C normal

F.Napas 54 kali/menit
20-30 kali/menit kusmaul
Cepat dan dalam

IMT= 35/1,52=16  kurus

4. Pemeriksaan Lab

Evaluasi laboratorium awal pada pasien dengan kecurigaan KAD atau KHH
harus melibatkan penentuan segera analisa gas darah, glukosa darah dan urea nitrogen
darah; penentuan elektrolit serum,osmolalitas, kreatinin dan keton; dilanjutkan
pengukuran darah lengkap dengan hitung jenis. Kultur bakterial urin, darah dan
jaringan lain harus diperoleh dan antibiotika yang sesuai harus diberikan apabila
terdapat kecurigaan infeksi. Pada kanak-kanak tanpa penyakit jantung, paru dan ginjal
maka evaluasi awal dapat dimodifikasi, sesuai penilaian klinisi, dengan pemeriksaan
pH vena untuk mewakili pH arteri. Pemeriksaan rutin untuk sepsis dapat dilewatkan
pada kanak-kanak, kecuali diindikasikan oleh penilaian awal, oleh karena pencetus
utama KAD pada kelompok usia ini adalah penghentian insulin.

dan klasifikasi empirik KAD dan KHH. Kriteria diagnosis KAD yang paling luas
digunakan adalah kombinasi dari glukosa darah >250 mg/dL, pH arteri <7,3, bikarbonat
serum <15 mEq/L dan ketonemia dan atau ketonuria. Akumulasi asam keton biasanya
menyebabkan asidosis metabolik dengan peningkatan gap anion (tabel 8). Oleh karena
konsentrasi kalium dapat dipengaruhi oleh gangguan asam basa dan cadangan kalium
total tubuh, maka biasanya tidak disertakan dalam perhitungan gap anion. Gap anion
normal telah dilaporkan berkisar diantara nilai 12 mEq/L dan nilai di atas 14-15 mEq/L
telah dianggap sebagai indikasi asidosis metabolik dengan peningkatan gap anion.
Namun, kebanyakan laboratorium saat ini menghitung natrium dan klorida
menggunakan elektroda spesifik ion,sehingga konsentrasi klorida plasma terhitung
lebih tinggi 2-6 mEq/L dibandingkan metoda sebelumnya; sehingga gap anion normal
terkini dilaporkan berkisar antara 7-9 mEq/L. Dengan menggunakan nilai-nilai ini,
maka gap anion >10-12 mEq/L telah mengindikasikan adanya asidosis dengan
peningkatan gap anion.

Pemeriksaan analisa gas darah


Ketosis dan asidosis tidak dapat disamakan, oleh karena peningkatan
konsentrasi H+ sebagai akibat dari produksi asam keton awalnya didapar oleh
bikarbonat. Seiring dengan peningkatan H+ yang melebihi kemampuan dapar
bikarbonat, cadangan bikarbonat menjadi menurun dan tidak mampu lagi
mengkompensasi peningkatan ion H+ dan terjadilah asidosis. Selama fase kompensasi
awal asidosis metabolik, gambaran klinis yang sering dijumpai adalah kadar bikarbonat
rendah dan pH normal, yang dikompensasi dengan kehilangan bikarbonat. Oleh karena
itu pada KAD penting untuk dilakukan pemeriksaan pH darah, dan sampel vena sudah
mencukupi untuk keperluan ini.
Pemeriksaan pH darah dengan sampel vena telah menunjukkan hasil yang baik
dan berkorelasi cukup tinggi dengan gas darah arterial, sebagaimana ditunjukkan oleh
beberapa penelitian klinis terhadap 44 episode KAD pada satu studi dan 246 pasien
dengan berbagai diagnosis pada studi yang lainnya (pH darah vena vs. pH darah
arterial, r=0,92, mean difference -0,4, 95% CI -0,11 sampai +0,04). Hambatan yang
dapat dijumpai pada pengukuran pH sampel vena adalah kesulitan dalam mendeteksi
gangguan asam basa campuran (karena tidak ada ukuran hipoksia) dan masih
memerlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar untuk memastikan kegunaan
klinis dari pengukuran ini.

HbA1C

Hemoglobin A1c atau HbA1c adalah komponen minor dari hemoglobin yang
berikatan dengan glukosa. HbA1c juga kadang-kadang disebut sebagai glikosilasi atau
hemoglobin glikosilasi atau glycohemoglobin. Hemoglobin adalah pigmen pembawa
oksigen yang memberikan warna merah pada sel darah merah dan juga merupakan
protein dominan dalam sel darah merah. Sekitar 90% dari hemoglobin merupakan
hemoglobin A (“A” adalah singkatan dari tipe dewasa/Adult). Meskipun satu
komponen kimia menyumbang 92% dari hemoglobin A, sekitar 8% dari hemoglobin A
terdiri dari komponen kecil (minor) yang secara kimiawi sedikit berbeda. Komponen-
komponen kecil ini termasuk hemoglobin A1c, A1b, A1a1, dan A1a2.
Korelasi:

 HbA1c % Mean Blood Glucose Average Plasma Glucose Interpretation


 (mg/dL) (mg/dL)
 4 61 65 Non-Diabetic Range
 5 92 100
 6 124 135
 7 156 170 Target for Diabetes in Control
Action Suggested according ADA guideline
 8 188 205
 9 219 240
 10 251 275
 11 283 310
 12 314 345
ANALISIS MASALAH

a. Adakah hubungan menarche dengan keluhan yang di alami?


Tidak ada hubungan, karena pernyataan menarche disitu hanya memberitahu
bahwa tidak terjadi gangguan pada hormon perkembangan dalam artian
normal.
b. Pada pemeriksaan cito di IRD kadar gula darah acak 680mg%, urin
menunjkan reduksi +4 dan keton urine +3

Darah rutin Hb 13,8 mg%, leukosit 20.100mm3, trombosit 230.000/mm3

Hasil analisa gas darah PH 7.05 dengan HCO3 12 mmol/L

HbA1C 12% dengan C peptide <0,5

c. Bagaimana nilai normal yang di dapatkan pada kasus?


Gula darah sewaktu  < 200 mg%

Glukosa

Nilai normal: negatif

Di Indonesia, glukosa urin biasanya diuji secara semikuantitatif dengan


uji reduktor (Benedict).

Warna Hasil
Biru Negatif
Hijau Sangat sedikit
Hijau kekuningan +1
Kuning kehijauan +2
Coklat +3
Merah bata +4

Pemeriksaan Benedict ini sebenarnya ditujukan untuk mendeteksi


adanya glukosa, asam homogentisat, dan substansi reduktor lainnya (misalnya
vitamin C) dalam urin; sesuai dengan mekanisme reaksi yaitu reduksi tembaga
sulfat. Asam homogentisat bisa ada dalam urin dalam jumlah besar pada
individu dengan gangguan metabolisme asam amino alkohol (fenilalanin dan
tirosin). Karena faktor ini pemeriksaan glukosuria di negara maju telah diganti
dengan Clinistix.

Glukosa urin positif tidak selalu berarti diabetes melitus, walaupun


memang penyakit ini yang paling sering memberi hasil positif pada uji
glukosa urin. Makna lain yang mungkin:

 Penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefritis tubular, sindroma Fanconi).


 Penyakit hepar dan keracunan logam berat.
 Faktor farmakologis (indometasin, isoniazid, asam nikotinat, diuretik
tiazid, karbamazepin).
 Nutrisi parenteral total yang berlebihan (hiperalimentasi) dengan infus
glukosa.
 normal untuk tes C-peptida adalah 0,51-2,72 nanogram per mililiter
(ng/mL)

d. Bagaimana interprtasinya
Gula darah acak  tinggi (diabetes mellitus)
Reduksi urin  +4 merah bata  sudah sangat tinggi
Keton urin  +3 valid mengandung keton yg tinggi ketonuria
Hb  normal
Leukosit  tinggi
Trombosit  normal
PH  asam
HCO3 
HbA1C  tinggi
C-peptide  rendah
e. Bagaimana hubungan hasil dari interpretasi dengan keluhan yang di derita

Deskripsi:

Konsentrasi C-peptide proporsional terhadap produksi insulin endogen.


Penentuan C-peptide sangat penting dalam diagnosis dari kondisi
hipoglisemia. Beberapa penggunaan lain adalah dalam kondisi pankreatektomi
dan pasien setelah transplantasi pankreas. Untuk pemeriksaan ini, sebaiknya
pasien puasa sebelum pengambilan spesimen.

Manfaat Pemeriksaan:

Kegunaan penentuan C-peptide :

 Diagnosis differensial dari hipoglisemia


 Membantu dalam klasifikasi DM : pasien T2DM biasanya memiliki
konsentrasi C-peptide dan insulin yang normal atau meningkat dan tidak
memiliki autoantibody terhadap sel beta. Pasien T1DM memiliki
konsentrasi C-peptide yang rendah atau tidak terdeteksi, dan hampir 85-
90% pasien T1DM memiliki autoantibody terhadap sel beta.
 Penentuan fungsi sel beta dalam kondisi DM : C-peptide berguna dalam
evaluasi fungsi sel beta residual pada individu diabetik yang tergantung
insulin.
 Untuk memperkirakan survival transplan pankreas.

f. Bagaimana tata laksana farmakologi untuk penyakit tersebut

Tujuan terapi

1. Untuk mendapatkan level glukosa darah antara 80 -120 mg/dl pada siang
hari
2. Mendapatkan kadar glukosa darah antara 100-140 mg/dl saat malam hari
3. Mengontrol HbA1C kurang < 7%

Insulin dibutuhkan pada semua pasien dengan DM tipe 1 jika


terdapat ketoasidosis sebelum penyuntikanya. Pergantian insulin harus
secara ideal meniru fungsi sel β menggunakan 2 tipe insulin untuk
memenuhi kebutuhan basal dan prandial; pendektan ini membutuhkan
perhatian pada diet dan olahraga serta waktu penyuntikan insulin dan
dosisnya. Kebanyakan persiapan insulin pada saat ini banyak menggunakan
rekombinan dari manusia, yang dapat megeliminasi reaksi alergi yang
pernah terjadi ketika insulin tersebut diekstrak dari hewan. Kecuali untuk
penggunakan insulin regular intravena pada pasien di rumah sakit insulin
biasanya diberikan dengan injeksi subkutan.

Tipe-tipe insulin

Table 99-3. onset, peak, and duration of action of human insulin preparation

Insulin Onset Peak Duration


Preparation Action action Of action
Rapid-action 5-15 min 45-75 min 3-5 h
lispro, aspart,glulisine
Short-action regular 30-60 min 2-4 h 6-8 h

Intermediate-acting About 2 h 4-12 h 18-26 h


NPH
Loang-acting
Glargine 1-2 h No peak 24 h
detemir 1-2 h No peak 14-24 h
Premixed
70% NPH/30% 30-60 min Dual (NPH 7 R) 10-16 h
regular 30-60 min Dual (NPH & R) 10-16 h
50% NPH/50% 5-15 min Dual (NPL & lispro) 10-16 h
regular 5-15 min Dual (NPA & aspart) 10-16 h
75% NPH/25% lispro
70% NPH/30% aspart

Tipe insulin yang berbeda dapat ditarik kedalam jarum suntik yang sama
untuk injeksi tapi tidak boleh dicampur didalam botol kecuali oleh pabrik. Pada
beberapa kasus pencampuran insulin dapat berefek pada daya penyerapan insulin,
menghasilkan efek-efek yang berfariasi dan membuat control glikemik sulit
diprediksi, terutama jika telah dicampur lebih dari 1 jam sebelum digunakan. Insulin
glargine tidak boleh dicampur dengan insulin jenis apapun

Banyak alat pena yang telah di isi insulin tersedia sebagai alternative dari
metode vial dan jarum konvensional. Pena insulin dapat lebih nyaman digunakan saat
jauh dari rumah dan lebih sering di pilih pada pasien yang pengelihatan terbatas.
Sprin-loaded self-injection (untuk penggunaan dengan jarum dapat berguna pada
beberapa pasien yang takut injeksi, dan pembesar jarum tesedia untuk pasien dengan
pengelihatan rendah.

Lispro, aspart atau insulin regular juga dapat diberika secara kontinyu
menggunakan pompa insulin. pompa Infusi insulin subkutaneus kontinus dapat
mengeliminasi kebutuhan untuk injeksi perhari secara multi pel .

Kerugian termasuk biaya yang mahal kegagalan mekanis yang dapat


mengakibatkan interupsi pada suplai insulin dan ketidaknyamanan dalam pemakaian
alat eksternal.
Self-monitrong yang serig dan sangat diperhatikan untuk fungsi pompa sangat
diperlukan untuk penggunaan pompa insulin yang aman dan efektif.

Komplikasi terapi insulin

Hipoglikemia adalah komplikasi yang paling umum dari pengobatan insulin,


tejadi sesering pasien yang mencoba untuk mencapai control glukosa yang ketat dan
mendekati normoglikemia. Gejala dari hipoglikemia ringan atau moderat termasuk
sakit kepala, diaphoresis, palpitasi, pengelihatan kabur, agitasi dan kebingungan.
Gejala dan hipoglikemia yang lebih parah termasuk kejang dan kehilangan kesadaran.
Namun pada pasien yang lebih tua, hipoglikemia dapat menyebabkan gejala mirip
strok seperti afasia atau hemiparesis dan lebih mungkin menjadi strok, miokard infark
dan kematian tiba-tiba. Pasien DM tipe 1 dengan durasi sakit yang lama mungkin
tidak menyadari episode hipoglikemi karena mereka sudah tidak lagi mengalami
gejala otonomik (hypoglycemia unwareness).

Pasien harus di ajarkan untuk mengenali gejala hipoglikemia, yang mana


biasanya direspon secara cepat dengan ingesti glukosa (gula), termasuk permen, jus
dam tablet glukosa. 15 gr glukosa atau sukrosa harus ingesti dan pasien harus
memakan tambahan 15 gr jika level glukosa mereka > 80 mg/dL untuk pasien yang
tidak sadar atau tidak bias menelan, hipoglikemia dapat diobati secara cepat dengan
glukoagon 1 mg atau intramuskular atau memakai 50% larutan dekstrosa 50 ml
intravena (25 g jika diperlukan, dengan infus intravena dari larutan dektrosa 5% atau
10% untuk menjaga level glukosa plasma yang adekuat.

Hiperglikemia dapat memngikuti hipoglikemia baik karena terlalu banyak gula


yang di ingesti atau karena hipoglikemia menyebabkan perangsangan hormon-hormon
tertentu (glikagon, epinefrin, kortisol, dan hormon pertumbuhan).

Dosis insulin untuk waktu tidur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kadar
glukosa menurun dan menyebabkan stimulasi hormon-hormon diatas yang pada
akhirnya menyebabkan hiperglikemia pada pagi hari (fenomena Somogyi). Penyebab
yang lebih sering dari hiperglikemia pagi hari yang tidak dapat dijelakskan adalah
peningkatan hormon pertumbuhan pada waktu subuh (dawn phenomenon). Dalam
kasus ini dosis insulin malam hari harus ditingkatkan.
Hipokalemia dapat disebabkan oleh pergeseran intraseluler dari kalium akibat
stimulasi terinduksi insulin dari pompa Na-K tapi ini merupakan kejadian yang
jarang. Hipokalemi lebih sering terjadi pada pengaturan perawatan akut dimana
insulin intravena digunakan .

Reaksi alergi 20ulti pada tempat penyuntikan insulin sangat jarang terjadi,
khususnya dengan penggunaan insulin manusia, tapi masi dapat terjadi pada dengan
alergi latex karena kandungan latex pada penutup fial. Reaksi ini dapat menyebabkan
rasa terbakar atau nyeri secra cepat diikuti dengan eritema, pruritus dan indurasi ang
dapat berahan selama berhari-hari.

Resimen pemberian insulin untuk DM tipe 1

Range resimen mulai dari 2x sehari split-mixed (misalnya dosis terpisah dari rapid
dan intermediate-Acting insulin) sampai resimen basal fisiologis yang menggunakan injeksi
multipel setiap hari (misalnya dosis tunggal[basal] dari long-ackting dan fariasi prandial
[bolus]) dari rapid acting insulin atau dengan pompa insulin. Pengobatan intensif definisikan
ketika monitoring glukosa ≥ 4x / hari dan ≥ 3 injeksi /hari atau infus insulin continu, lebih
efektif dari pengobatan komfensional (satu sampai dua injeksi insulin /hari dengan atau
tampa monitoring) untuk mencegah diabetik retinopathy, nephrophty dan neurophty.
Bagaimana pun juga terapi intensif dapat meghasilkan episode yang lebih sering dari
hipoglikemia dan peningkatan berat badan serta secara umum hanya efektif pada pasien yang
mamapu dan bersedia untuk mengambil peran aktif dalam perawatan diri mereka sendiri.

Secara umum kenbanyakan paien dengan DM tipe 1 dapat memulai terapi dengan
dosis ttol 0,2-0,8 unit insulin /kg/hari pasien dengan obesitas mungkin membutuhkan dosis
yang lebih tinggi. Terlibatnya pengantian fisiologis memberikan 40-60% dari dosis insulin /
hari sebagai intermediet atau long-acting preparasi untuk menutupi kebutuhan basal, dengan
sisisnya diberikan sebagai rapid atau preparasi short-acting untuk menutupi peningkatan post
prandial. Pendekatan in lebih efektif ketika dosis dari rapid atau insulin short-acting
ditentukan dengan menggeser timbanagan yang menghitung glukosa darah preprandial dan
mengatisipasi kandungan makanan. Dosis dapat disesuaikan satu-dua unit untuk setiap 50
mg/dL diatas atau dibawah level glukosa target. Resimen fisologis inoi menginjinkan
kebebasan gaya hidup yang lebih besar karena pasien dapat melewatkan atau mengganti
waktu makan dan mempertaghankan normoglikemi. Bagaimanapun juga, tidak ada resimen
insulin spesifik yang telah dibuktikan lebih efektif dari nilainya, dan rekomendasi ini
diperlukan untuk inisiasi terapi; karena itu pemilihan resimen secara umum terletak pada
respon fisiologis dan pasien serta pilihan dan pengetahuan dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Netty EP. Diabetes Mellitus Tipe I dan Penerapan Terapi Insulin Flexibel pada Anak dan
Remaja. Diajukan pada Forum Komunikasi Ilmiah (FKI) Lab./SMF Ilmu Kesehatan
Anak FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. February 13, 2002.

Soegondo S; Advances In Insulin Treatment, dalam: Kumpulan Makalah Kongres


Nasional VI Persadia dan Konferensi Kerja Perkeni dan PEDI; Meningkatkan
Perawatan Mandiri Para Diabetesi di Indonesia; 2005; 3-5

Treatment of diabetic ketoacidosis with subcutaneous insulin aspart. Umpierrez, GE, et al. 2004,
Diabetes Care, Vol. 27, pp. 1873-1878.