Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEBIDANAN

PADA NY “H” P1 01 PP HARI KE-3 DENGAN ABSESPAYUDARA DI


BPS BIDAN “A” SUKORAME

Di susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliyah Kegawatdaruratan Kebidanan

Dosen Pembimbing : Endang Wartini, SST.,S.pd.,M.M.Kes

DI SUSUN OLEH :

HELMY FITRIATI ( 13613419)

PROGRAM STUDI KEBIDANAN D IV

FAKULITAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KADIRI

2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hakikat pembangunan nasional adalah menciptakan manusia

Indonesia seutuhnya serta pembangunan seluruh masyarakat Indonesia

menuju masyarakat adil dan makmur berdasasarkan pancasila. Oleh karena

itu, pembangunan di bidang kesehatan harus dilaksanakan sebagai bagian

integral dari pembangunan nasional. Salah satu indikator untuk menentukan

derajad kesehatan suatu bangsa ditandai dengan tinggi rendahnya angka

kematian ibu dan bayi.

Menurut WHO (World Health Organization), di seluruh dunia

setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait

dengan kehamilan, persalinan,dan nifas. Dengan kata lain, 1.400 perempuan

meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap

tahun karena kehamilan, persalinan, dan nifas ( Riswandi, 2005 ). AKI di

Indonesia masih tertinggi di Negara ASEAN. Sehingga target Millenium

Development Goalds (MDGs) AKI di Indonesia tahun 2015 harus mencapai

125 per 100.000 kelahiran hidup (Barata, 2008).

Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna

menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia Pada masa ini terjadi

beberapa perubahan, salah satunya perubahan pada payudara untuk

mempersiapkan masa laktasi atau menyusui. Menyusui bayi adalah salah satu

ekspresi cinta seorang ibu, tetapi banyak kesulitan yang dialami seorang ibu

dalam pelaksanaannya. Kesulitan yang terjadi antara lain puting datar


atau terbenam, puting lecet, payudara bengkak, saluran susu

tersumbat, mastitis dan abses pada payudara. Abses payudara merupakan

lanjutan dari mastitis. Mastitis yaitu infeksi parenkmal kelenjar mammae pada

masa nifas dan menyusui. Insidennya sekitar 2 %, gejala-gejala mastitis

supuratif jarang muncul sebelum sampai akhir minggu ketiga atau keempat.

Infeksi hampir selalu unilateral dan pembengkakan bermakna biasanya

mendahului inflamasi. Payudara menjadi keras dan memerah, dan sang ibu

mengeluhkan nyeri, sekitar 10 % mastitis dengan abses mammae.

Masalah payudara yang sering terjadi pada masa nifas sebenarnya

dapat dicegah dengan dilakukannya asuhan pada ibu nifas secara dini salah

satunya adalah dengan perawatan payudara dan KIE tentang cara menyusui

yang benar. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk

melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ny. ”H” P1001 post partum hari ke 3

dengan abses payudara.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memberikan asuhan kebidanan menurut 7

langkah Varney secara komprehensif pada pasien dengan Abses payudara

1.2.2 Tujuan khusus


Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu dengan “Abses Payudara”

diharapkan mahasiswa mampu :

1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data

2. Mahasiswa mampu melakukan intepretasi data dasar

3. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi diagnosa dan masalah

potensial

4. Mahasiswa mampu melakukan identifikasi kebutuhan segera


5. Mahasiswa mampu melakukan intervensi

6. Mahasiswa mampu melakukan implementasi

7. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi

1.3 Manfaat

1.4 Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data


1. Wawancara

Suatu metode yang dilakukan untuk mengumpulkan data dengan

cara melakukan tanya jawab secara langsung pada klien atau keluarga

2. Observasi

Suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan

pemeriksaan secara langsung baik itu pemeriksaan umum, khusus, maupun

penunjang pada klien.

3. Studi Dokumentasi

Suatu teknik pengumpulan data dengan melihat data yang sudah

ada dalam status klien dan data penunjang lainnya.

4. Studi Pustaka

Penulis menggabungkan teori yang berkaitan dengan kasus yang

dibahas sebagai suatu penunjang untuk memberikan asuhan pada klien.

1.5 Sistematika Penulisan


BAB 1 Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang, tujuan, teknik pengumpulan data dan sitematika

penulisan.

BAB 2 Tinjauan Pustaka

Terdiri dari konsep dasar masa nifas, konsep abses payudara, konsep

manajemen asuhan kebidanan pada klien post partum dengan abses payudara.
BAB 3 Tinjauan Kasus

Terdiri dari pengkajian, interpretasi dasar, identifikasi diagnose dan masalah

potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan

evaluasi.

BAB 4 Pembahasan

BAB 5 Penutup

Terdiri dari kesimpulan dan saran


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Masa Nifas

2.1.1 Definisi

Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir dan

berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil (Yetti anggraini,2010).

Masa nifas adalah masa waktu antara kelahiran plaseta dan

membran yang menandai berakhirnya periode intrapartum sampai waktu

menuju kembalinya sistem reproduksi wanita tersebut kekondisi tidak hamil

(Vervney H,2007).

Masa nifas adalah dimulai setelah partus dan berakhir kira – kira

setelah 6 minggu, akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali

sebelum waktu 3 bulan (Sarwono,2005).

Masa nifas adalah periode selama dan tepat setelah kelahiran

dan 6 minggu berikutnya saat terjadi involusi kehamilan normal

(Cunningham,2004).

2.1.2 Tahapan Masa Nifas menurut Yetti anggraini (2010)

1. Peurperium Dini (immediate puerperium) : waktu 0 – 24 jam post

partum. Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan

berjalan – jalan. Dalam agama islam telah bersih dan boleh bekerja

setelah 40 hari.
2. Peurperium Intermedial (early puerperium) : waktu 1 – 7 hari post

partum, kepulihan menyeluruh alat –alat genetalia yang lamanya 6 – 8

minggu.

3. Remote Peurperium (later Peurperium) : waktu 1 – 6 minggu post

partum. Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna,

terutama bila selama hamil dan waktu persalinan mempunyai

komplikasi. Waktu untuk sehat bisa berminggu – minggu, bulan atau

tahun.

2.1.3 Perubahan Fisiologis dan Anatomis Puerperium


1. Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi

posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara

umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari

kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga

dalam dua minggu telah turun masuk ke dalam rongga pelvis dan

tidak dapat diraba lagi dari luar.

Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi TFU Berat Uterus


Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
1 minggu Pertengahan pusat simfisis 750 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simfisis 500 gram
6 minggu Normal 50 gram
8 minggu Normal seperti sebelum hamil 30 gram

Tabel 1. Involusi Uterus


2. Lokea
Lokea Waktu Warna Ciri – ciri
Rubra 1-3 hari Merah Terdiri dari darah segar,
kehitaman jaringan sisa – sisa plasenta,
dinding rahim, lemak bayi,
lanugo, dan sisa mekoneum
Sanginolenta 4-7 hari Merah Sisa darah bercampur lendir
kecoklatan
&
berlendir
Serosa 7 – 14 Kuning Lebih sedikit darah dan lebih
hari kecoklatan banyak serum, juga terdiri dari
leukosit dan robekan/laserasi
plasenta
Alba > 14 hari Putih Mengandung leukosit sel
desidua dan sel epitel, selaput
lendir servik dan serabut
jaringan mati
Lochia Terjadi infeksi, keluar cairan
purulenta seperti nanah berbau busuk
lochiastasis Lochia tidak lancar keuarnya
Tabel 2. Perubahan Lokea (Yetti A, 2010)

3. Vagina dan Perineum

Segera setelah pelahiran, vagina tetap terbuka lebar, mungkin

mengalami bebrapa derajat edema dan memar, dan celah pada

introitus.Setelah satu hingga dua hari pertama pascapartum, tonus otot

vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagian tidak lagi

edema.Ukurannya menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar

minggu ketiga pascapartum.Ruang vagina selalu sedikit lebih besar

daripada sebelum kelahiran pertama. Akan tetapi, latihan pengencangan

otot perineum akan mengembalikan tonusnya dan memungkinkan

wanita secara perlahan mengencangkan vaginanya. Pengencangan ini

sempurna pada akhir puerperium dengan latihan setiap hari.


4. Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara

alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis yakni

produksi ASI dan sekresi ASI (let down reflec). Selama smbilan bulan

kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk

menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika

hormon yang dihasilkan plasenta tidak lagi menghambat kerja kelenjar

pituitari akan mengeluarkan prolaktin. Sampai hari ketiga efek prolaktin

bisa dirasakan.Pembulu darah payudara menjadi bengkak terisi darah,

sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan sakit.

5. Sistem pencernaan

Kerapkali diperlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kebali normal.

Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun

asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari,

gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika

sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa sakit didaerah perineum

dapat menghalangi keinginan kebelakang.

6. Sistem perkemihan

Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan

terdapat spasine sfingter dan edema leher buli – buli sesuddah bagian

ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulag pubis selama

persalinan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu

12-36 jam sesuah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar

hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan


yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang

berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

7. Sistem muskuloskeletal

Ligamen-ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang sewaktu

kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali seperti sedia

kala.Tidak jarang ligamentum rotundum mengendur, sehingga uterus

jatuh ke belakang.Fasia jaringan penunjang alat genetalia yang

mengendur dapat diatasi dengan latihan tertentu.Mobilitas sendi

berkurang dan posisi lordosis kembali secara perslahan-lahan.

8. Sistem endokrin

Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada

sistem endokrin terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam

proses tersebut. Oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta,

mempertahankan kontraksi sehingga mencegah perdaarahan.Pada masa

nifas, isapan bayi saat menyusu merangsang produksi ASI dan sekresi

oksitosin. Hal tersebut membantu dalam proses involusi uterus.

Menurunnya kadar estrogen merangsang kelenjar pituitari bagian

belakang untuk mengeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalam

pembesaran payudara untuk merangsang produksi ASI. Diperkirakan

bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik

yang meningkatkan volume darah.Disamping itu, progesteron

mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan

peningkatan pembuluh darah.


9. Perubahan tanda tanda vital

a. Suhu

Suhu tubuh wanita postpartum tidak lebih dari 37,2o C. Setelah

partus dapat naik kurang lebih 0,5o C dari keadaan normal. Setelah 2

jam pertama postpartum umumnya suhu akan kembali normal. Jika

suhu lebih dari 38o C kemungkinan terjadi infeksi.

b. Nadi dan Pernapasan

Nadi berkisar 60-80 kali permenit setelah partus dan dapat terjadi

brakikardi. Bila terjadi takikardi dan suhu tidak panas kemungkinan

terjadi perdarahan. Pernapasan akan meningkat setelah persalinan

dan akan normal kembali.

c. Tekanan Darah

Pada beberapa kasus akan ditemukan keadaan hipertensi postpartum

dan akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat

penyakit penyerta dalam ½ bulan tanpa pengobatan.

10. Sistem hematologi dan kardiovaskular

Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sampai

sebanyak 15.000 selama persalinan. Leukosit akan tetap tinggi

jumlahnya selama beberapa hari pascapersalinan. Jumlah

hemoglobion dan hematokrit serta eritrosit akan sangat bervariasi pada

awal masa nifas sebagai akibat dari volume darah, plasma, dan sel

darah yang berubah. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua

lebih rendah dari titik 2% atau lebih tinggi dari pada saat persalinan
awal, maka klien dianggap kehilangan darah yang cukup banyak. 2 %

tersebut sama dengan 500 ml darah.

2.1.4 Proses Adaptasi psikologis


periode adaptasi psikologis masa nifas yang dikemukakan oleh Reva

Rubin dalam varney (2007) terjadi pada tiga tahap, sebagai berikut:

1. Taking in period

Timbul pada hari 1 sampai 2 hari post partum ibu masih sangat pasif dan

bergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih

mengingat pengalaman persalinan yang dialaminya, serta kebutuhan tidur

dan nafsu makan meningkat.

2. Taking Hold period

Berlangsung 3-4 hari post partum. Ibu lebih berkonsentrasi pada

kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap

perawatan bayi.Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitive sehingga

membutuhkan bimbingan dan dukungann perawat untuk mengatasi kritkan

yang dialami ibu.

3. Letting go period

Dialami setelah ibu dan bayi tiba di rumah.Ibu mulai secara penuh

menerima tanggung jawab dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi

sangat bergantung pada dirinya serta ibu sudah bisa percaya diri.

2.1.5 Peran Bidan, Program dan Kebijaksanaan Teknis Pada Masa Nifas

1) Mendukung dan memantau kesehatan fisik ibu dan bayi

2) Mendukung dan memantau kesehatan psikologis, emosi, sosial serta

memberikan semangat kepada ibu.

3) Membantu ibu dalam menyusui bayinya


4) Membangun kepercayaan diri ibu dalam perannya sebagai ibu

5) Mendukung pendidikan kesehatan termasuk pendidikan dalam

perannya sebagai orang tua

6) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga

7) Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa

nyaman

8) Membuat kebijakkan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan

dengan ibu dan anak serta mampu melakukan kegiatan administrasi

9) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan

10) Memberikan konnseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara

pencegahan perdarahan, mengenali tanda – tanda bahaya, menjaga

gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman

11) Melakukan menejemen asuhan dengan cara mengumpukan data,

menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya

untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dan

memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas

12) Memberikan asuhan secara profesional.

2.1.6 Kebutuhan Dasar

Menurut Sitti (2009), ada beberapa kebutuhan dasar pada masa nifas

antara lain nutrisi dan cairan, ambulasi, eliminasi, personal higiene,

istirahat dan tidur, aktivitas seksual, dan latihan dan senam nifas.
1) Nutrisi dan cairan

Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius

karena nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembahan ibu dan

mempengaruhi ASI. Ibu menyusui harus memenuhi kebutuhan akan

gizi sebagai berikut :

a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori/hari

b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral,

dan vitamin yang cukup.

c. Minum sedikitnya 3 liter air/hari

d. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya

selama 40 hari.

e. Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan

vitamin A kepada bayi melalui ASI.

2) Ambulasi (early ambulation)

Ambulasi dini ialah kebijakan agar secepat mungkin bidan

membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan

membimbing ibu secara cepat untuk dapat berjalan dan secara

berangsur-angsur. Ambulasi dini tidak dibenarkan pada ibu dengan

penyulit. Keuntungan ambulasi dini ialah: Ibu merasa lebih kuat dan

sehat, Faal usus dan kandung kemih lebih baik. Early ambulataion

memungkinkan pelayan kesehatan mengajarkan ibu untuk merawat

bayi selama di rumah sakit.

3) Eliminasi

a. Buang Air Kecil (BAK)


Ibu diminta untuk BAB 6jam pasca persalinan. Jika dalam 8 jam

ibu belum berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc,

maka lakukan katerisasi. Tetapi apabila kandung kemih penuh,

tidak perlu menunggu hingga 8 jam untuk melakukan katerisasi.

Penyebab retensio urin antara lain berkurangnya tekanan

intraabdominal, otot perut masih lemag, edema, dan dinding

kandung kemih kurang sensitif.

b. Buang Air Besar (BAB)

Ibu post partum diharapkan dapat berdefekasi setelah 2 hari pasca

melahirkan. Jika ibi belum BAB, berikan obat pencahar peroral

atau perrektal.Jika setelah diberikan obat pencahar, tetapi ibu

belum bisa BAB, maka lakukan huknah.

4) Personal hygiene

Pada masa postpartum ibu mudah terinfeksi.Oleh karena itu,

kebersihan diri sangat penting untuk mencegah infeksi. Anjurkan ibu

untuk menjaga kebersihan tubuh terutama perineum, mengajarkan ibu

cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun, anjurkan ibu

mengganti pembalut minimal 2 kali sehari, sarankan ibu mencuci

tangan denga sabun dan air, sarankan ibu untuk tidak menyentuh

daerah kelamin apabila terdapat jahitan.

5) Istirahat dan tidur

Hal-hal yang dapat dilakukan ibu untuk memenuhi kebutuhan

istirahat dan tidur, antara lain anjurkan ibu untuk istirahat secukupnya

mencegah kelelahan, sarankan ibu tidur saat bayi tidur, menjelaskan


pada ibu akibat kurang istirahan misalnya mengurangi produksi ASI,

memperlambat proses involusi uterus,, dapat menyebabkan depresi

dan ketidakmampuan merawat bayi.

6) Aktivitas seksual

Aktivitas seksual ibu harus memenuhi syarat antara lain secara fisik

aman untuk memulai hubungan seks saat darah merah berhenti dan

ibu dapat memasukan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa

sakit.

7) Latihan dan senam nifas

Setelah persalinan terjadi involusi uterus pada hampir seluruh organ

tubuh terutama organ reproduksi.

2.1.7 Patologi Masa Nifas

Masa nifas merupakan masa rawan yang rawan bagi ibu. Menurut Sitti

(2009) Patologi yang sering terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut:

1. Infeksi masa nifas

Adalah infeksi pada traktus genetalia setelah persalinan, biasanya dari

endometrium bekas insersi plasenta.

2. Perdarahan dalam masa nifas

Penyebab perdarahan dalam masa nifas adalah sebagai berikut:

a) Sisa plasenta dan polip plasenta

b) Endometritis puerperalis

c) Sebab-sebab fungsional

d) Perdarahan luka

3. Infeksi saluran kemih


Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal

ini dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma

kandung kemih waktu persalinan, pemeriksaan dalam yang terlalu

sering, kontaminasi kuman dari perineum, atau kateterisasi yang

sering.

4. Patologi menyusui

Masalah menyusui pada umumnya terjadi dalam dua minggu pertama

masa nifas. Berikut adalah masalah-masalah yang biasanya terjadi

dalam pemberian ASI:

a) Putting susu lecet

b) Payudara bengkak

c) Saluran susu tersumbat

d) Mastitis

e) Abses payudara

2.2 Konsep Abses Payudara

2.2.1 Definisi

Abses merupakan kelanjutan/komplikasi dari mastitis

(Soetjiningsih, 2003).

Harus dibedakan antara mastitis dan abses.Abses payudara

merupakan kelanjutan atau komplikasi dari mastitis.Hal ini disebabkan

karena meluasnya peradangan dalam payudara tersebut (Sitti, 2009).

Abses payudara adalah akumulasi nanah pada jaringan payudara

(Sulistyawati,2009).

2.2.2 Etiologi
Infeksi pada payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang

umum ditemukan pada kulit normal (staphylococcus aureus).Infeksi terjadi

khususnya pada saat ibu menyusui. Bakteri masuk ke tubuh melalui kulit

yang rusak, biasanya pada puting susu yang rusak pada masa awal

menyusui. Area yang terinfeksi akan terisi dengan nanah.

Infeksi pada payudara tidak berhubungan dengan menyusui harus

dibedakan dengan kanker payudara. Pada kasus yang langka, wanita muda

sampai usia pertengahan yang tidak menyusui mengalami subareolar

abscesses (terjadi dibawah areola, area gelap sekitar puting susu).

Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa

cara yaitu sebagai berikut :

1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka

2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain.

3. Bakteri yang dalam keadaan normal, hidup di dalam tubuh manusia dan

tidak menimbulkan gangguan, kadang bias menyebabkan abses.

4. Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

a) Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi.

b) Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang.

c) Terdapat gangguan system kekebalan tubuh

2.2.3 Patofisiologi
Adapun patogenesis dari abses payudara ini adalah luka atau lesi

pada puting sehingga terjadi peradangan kumudian organisme berupa

bakteri (staphylococcus aureus)atau kuman masuk kedalam payudara

sehingga pengeluaran susu terhambat akibat penyumbatan duktus


kemudian terjadi infeksi yang tidak tertangani yang mengakibatkan

terjadinya abses.

2.2.4 Gejala
Gejala dari abses tergantung pada lokasi dan pengaruhnya terhadap

fungsi suatu organ atau syaraf. Gejala dan tanda yang sering ditimbulkan

oleh abses payudara diantaranya :

1. Tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah mengkilap, panas jika

disentuh, membengkak dan adanya nyeri tekan).

2. Teraba massa, suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya

tampak sebagai suatu benjolan. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat

benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis.

3. Gejala sistematik berupa demam tinggi, menggigil, malaise

4. Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung

nanah.

5. Gatal- gatal

6. Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan

payudara yang terkena.

Sedangkan menurut (Siti,2009) gejala yang dirasakan oleh ibu

dengan abses payudara adalah sebagai berikut:

a) Ibu tampak lebih parah sakitnya

b) Payudara lebih merah mengkilap

c) Benjolan lebih lunak karena berisi nanah, Sehinnga perlu insisi untuk

mengeluarkan nanah tersebut (Sitti,2009)

2.2.5 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada klien dengan abses payudara adalah sebagai berikut:


1. Teknik menyusui yang benar

2. Kompres air hangat dan dingin

3. Terus menyusui pada mastitis

4. Susukan dari yang sehat

5. Senam laktasi

6. Rujuk

7. Pengeluaran nanah dan pemberian antibiotic bila abses bertambah.

Jika Ibu akan dilakukan pembedahan maka dukunglah Ibu untuk tetap

menyusui. Untuk menjamin agar menyusui yang baik terus berlansung,

penatalaksanannya sebaiknya harus dilakukan sebagai berikut:

1) Bayi sebaiknya tetap bersama ibu sebelum dan sesudah pembedahan

2) Bayi terus dapat menyusui pada payudar yang sehat

3) Saat ibu menjalani pembedahan, bila sekiranya ibu tidak dapat

menyusui selama lebih dari 3 jam, bayi harus diberi makanan lain.

4) Sebagai persiapan bagian dari persiapan bedah, ibu dapat memeras

ASI-nya dari payudara yang sehat, dan ASI tersebut diberikan pada

bayi dengan cangkir saat ibu dalam pengobatan.

5) Segera setelah ibu sadar kembali ( bila ibu tersebut diberi anastesi

umum ), atau segera setelah pembedahan selesai ( bila digunakan

anatesi lokal ), ibu dapat menyusui kembali pada payudar yang sehat.

6) Segera setelah nyeri pada luka memungkinkan, ibu dapat kembali

menyusui dari payudara yang terkena. Hal ini biasanya mungkin

dilakukan dalam beberapa jam, kecuali pembedahan dekatpada puting


susu. Ibu harus diberi analgesikyang diperlukan untuk mengontrol

nyeri dan memungkinkan menyusui kembali lebih dini.

7) Biasanya ibu membutuhkan bantuan terlatih untuk membantu bayi

mengenyut payudara yang terkena kembali, dan hal ini dapat

membutuhkan beberapa usaha sebelum bayi dapat menghisap dengan

baik. dorongan ibu u ntuk tetap menyusui, dan bantu ibu untuk

menjamin kenyutan yang baik.

8) Bila payudara yang terken tetap memproduksi ASI, penting agar bayi

dapat mengisap dan mengeluarkan ASI dari payudar tersebut, untuk

mencegah statis ASI dan terulangnya infeksi.

9) Bila pada mulanya bayi tidak mau mengenyut atau mengisap payudra

yang terkena, penting untuk memeras ASI sampai bayi mulai

mengisap kembali.

10) Bila produksi ASI pada payudara berhenti, pengisapan yang sering

merupakan jalan yang efektif untuk merangsang peningkatan

produksi.

11) Untuk sementara waktu bayi dapat terus menyusu pada payudara

yang sehat. Biasanya bayi dapat menyusu cukup hanya dari satu

payudar, sehingga ia cukup mendapatakan makanan sementara

produksi ASI dari payudara yang terkena pulih kembali.

12) Hindari pakaian yang menyebabkan iritasi pada payudara.

2.2.6 Pencegahan

1. Jagalah agar payudara selalu bersih. Jika timbul retak-retak atau sakit

putting, susui bayi dengan waktu yang lebih singkat tetapi lebih sering.
2. Oleskan sedikit minyak sayur atau minyak bayi (baby oil) pada putting

setiap kali selesai menyusui (werner, 2010).

2.3 Tinjauan manajemen

1. Pengkajian
Mengumpulkan semua informasi dan data yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien. Langkah ini
menentukan pengambilan keputusan yang akan dibuat pada langkah
berikutnya, sehingga pengkajian harus komprehensif, yang meliputi :
a) Data subyektif
Hasil anamnesa dnegan px, suami/keluarga px
b) Data obyektif
Hasil dari pemeriksaan, baik pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik
serta pemeriksaan penunjang

2. Identifikasi Diagnosa dan Masalah


Diagnosa maupun kesimpulan dari kondisi px yang dirumuskan dengan
menggunakan nomenklatur kebidanan (diagnosa yang telah disepakati oleh
profesi) sedang masalah dirumuskan jika tenaga kesehatan menentukan
kesenjangan yang terjadi pada respon px terhadap keadaan/kondisinya.
3. Antisipasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Yaitu mengantisipasi permasalah / diagnosa potensial yang akan timbul dari
kondisi yang sudah terjadi, pada langkah ini perlu dirumuskan tindakan
yang perlu diberikan untuk mencegah/menghindari masalah/ diagnosa yang
akan terjadi.
4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, baik tindakan interumsi,
konsultasi, kolaborasi dengan dokter atau rujukan berdasarkan kondisi px,
langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan
kebidanan dalam kondisi emergensi. Jika mungkin diperlukan data baru
yang lebih spesifik sehingga bisa dapat diketahui penyebab masalah yang
ada.
5. Intervensi
Menyusun rencana asuahn secara menyeluruh dengan tepat, nasional dan
benar-benar nyata berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta
telah dibuktikan bahwa tindakan tersebut bermanfaat / efektif berdasarkan
penelitian. Langkah ini merupakan kelanjutan pelaksanaan terhadap
masalah/diagnosa yang telah diidentifikasi yang sifatnya segera atau rutin.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi antisipasi
(penyuluhan konseling) tindakan rujukan/kolaborasi mungkin dibuktikan
bila ada masalah yang berkaitan dengan gizi, psikololgi dan lain-lain.
6. Implementasi
Langkah keenam ini merupakan rencana asuhan menyeluruh seperti yang
telah diuraikan pada langkah kelima yang dilaksanakan secara efisien,
efektif dan aman. Pelaksanaan dapat dilakukan oleh bidan, perawat atau tim
kesehatan lain.
7. Evaluasi
Langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan. Proses penatalaksanaan ini merupakan suatu kegiatan yang
berkesinambunagan,maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan
yang tidak efektif melalui pengkajian ulang (Christina, I, 1984:84).
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. “H” P1001POST PARTUM HARI KE

14 DENGAN ABSES PAYUDARA DI BPS NY. “I” SUKORAME TAHUN

2014

Tanggal pengkajian :12 Juni 2014 Jam: 08.30 WIB

No register :-

I. PENGKAJIAN
A. Data Subjektif
1. Biodata
Nama klien : Ny. “H”
Umur : 22 tahun Nama suami : Tn. “S”
Agama : Islam Umur : 25 tahun
Pendidikan : SMP Agama : Islam
Pekerjaan : IRT Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Penghasilan :- Penghasilan : ±Rp800.000
Alamat : Kediri, Jawa Alamat : Kediri, Jawa
Timur Timur

2. Keluhan utama
Ibu mengatakan melahirkan bayinya 3 hari yang lalu dan sekarang
payudaranya terasa sangat sakit dan nyeri, berwarna merah dan seperti ada
benjolan, ibu juga merasakan demam.
3. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit Sekarang
Ibu mengatakan saat ini payudaranya sedang sakit tapi tidak sedang
menderita penyakit tertentu seperti penyakit menahun (hipertensi, DM,
TBC, anemia), penyakit menurun (hipertensi, DM, gangguan pembekuan
darah), dan penyakit menular (TBC, IMS termasuk HIV/AIDS).
b. Pemyakit Dahulu
Ibu tidak pernah menderita penyakit tertentu seperti penyakit menahun
(darah tinggi, penyakit gula darah, TBC, anemia), penyakit menurun
(hipertensi, penyakit gula darah), dan penyakit menular (TBC, penyakit
kelamin termasuk HIV/AIDS).
c. Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit tertentu
seperti penyakit menahun (darah tinggi, penyakit gula darah, TBC, anemia),
penyakit menurun (hipertensi, penyakit gula darah), dan penyakit menular
(TBC, penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS).
4. Riwayat Obstetri
a) Riwayat Menstruasi

Amenorhoe : tidak HPHT :


Menarche : 12 tahun HPL :
Siklus : teratur 30 hari Dismenorhea :
Lama : 6-7 hari Flour albus :
Banyaknya :2-3x ganti
pembalut
b) Riwayat Kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
N Tgl/bln/t Uk Tmpt Jenis Penol kom Anak Nifa Usi
o hn Persalin persali ong p J BB PB s a
persalin an nan K an
an ak
1 9/6/2014 9 BPS Ny. Normal Bidan - P 2900 51 3
bln Indah r gra cm har
m i

c) Riwayat Kehamilan sekarang, persalinan dan nifas sekarang


Ibu mengatakan bayinya ini kehamilan pertama.Dengan usia kehamilan 9
bulan. Periksa hamil 6 kali , di bidan.
Keluhan selama hamil: awal kehamilannya mual muntah.
Penyuluhan yang pernah didapat: gizi untuk ibu hamil, periksa kehamilan
harus rutin,dan tanda-tanda persalinan.
Riwayat persalinan :
Melahirkan tanggal 9 Juli 2014 jam 16:00 WIB secara normal ditolong oleh
bidan di BPS. Penyulit tidak ada.
JK : perempuan,BBL: 2,9 kg, PBL: 51 cm, bayi langsung menangis,
dilakukan IMD.
Riwayat nifas :
pemberian ASI: Hari pertama setelah bayi lahir, bayi juga diberi susu
formula, sekitar hari ke-2 puting susu ibu lecet dan ibu tidak memberikan
ASI lagi pada bayinya sampai sekarang.
5. Riwayat KB
Ibu belum pernah menggunakan KB apapun, dan rencananya ibu akan
menggunakan KB pil
6. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1 kali
Lama : ± 1 th
Usia pertama menikah : 21 thn
7. Riwayat Psikososial
Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan masyarakat baik. Ibu senang
dengan kelahiran bayinya, tapi saat ini ibu sangat cemas dengan keadaanya.
8. Riwayat Budaya
Ibu mengatakan 3 hari kelahiran bayinya ibu dilarang keluar rumah, dan ibu
juga dilarang untuk memakan makanan seperti ayam dan ikan asin.
9. Perilaku kesehatan
Jamu : ibu terkadang minum jamu
Merokok : ibu tidak merokok
MiRas : ibu tidak minum minuman keras/beralkohol
10. Pola kebiasaan sehari-hari
No Pola Kebiasaan Selama Nifas
1 Nutris Makan : 3 kali/hari (porsi sedang, nasi, sayur, tempe,
tahu dan terkadang buah
Minum : air putih 6-7 gelas/hari, terkadang minum
teh dan susu
2 Eliminasi BAB : 1-2 kali/hari (konsistenti:lunak)
BAK : 3-4 kali/hari (konsistensi cair, warna khas)
3 Istirahat Ibu mengatakan sejak 2 hari yang lalu tidak dapat
bersitirahat dengan nyaman karena payudara terasa
sakit dan panas
4 Personal higiene Mandi : 2x sehari sekaligus gosok gigi, ganti pakaian
2x/hari
5 Aktifitas Sejak 2 hari yang lalu aktifitas ibu terganggu akibat
payudara ibu sakit dan terasa panas.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : composmetis
Keadaan emosional : kooperatif
TTV : TD : 110/60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR: 22 x/menit
Suhu : 37,8 0 C
2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Rambut : warna hitam, bersih, tidak ada ketombe
Wajah : simetris, tidak oedema, tidak ada chloasma ekspresi
wajah meringis, ibu tampak cemas dan tidak tenang.
Mata : simetris kanan/kiri, sclera putih, conjungtiva merah
muda, tidak ada strabismus.
Hidung : tidak ada polip dan secret
Telinga : tidak ada serumen
Mulut : bibir kering, lidah bersih, tidak ada pembesaran tonsil,
tidak ada caries
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe
maupun viva jugularis
Dada : tidak ada tarikan intercosta, payudara tidak simetris, pada
payudara sebelah kanan, terdapat pembengkakan,
berwarna merah mengkilat dan puting menonjol.
Abdomen : tampak linea nigra, striae livida, tidak ada luka bekas
operasi
Genitalia : bersih, tidak ada varices maupun odema, bekas jahitan
perineum sudah kering .
Ekstremitas :simetris kiri/kanan, tidak ada oedema, tidak ada kekakuan
sendi
b. Palpasi
Dada : Benjolan pada payudara sebelah kanan lebih lunak karena
berisi nanah
TFU :

3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan.

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Tanggal pengkajian : 24 Januari 2013 Jam: 08.55 WIB
Diagnosa : P1001 post partum hari ke-14 dengan abses payudara
Data Subyektif : Ibu mengatakan melahirkan bayinya 10 januari lalu dan
sekarang payudaranya terasa sangat sakit dan nyeri, berwarna merah dan seperti
berisi nanah.
Data Obyektif:
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : composmetis
Keadaan emosional : stabil
TTV : TD : 110 / 60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 37,8 0 C

2. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
Wajah : simetris, tidak oedema, tidak ada chloasma ekspresi wajah
meringis, ibu tampak cemas dan tidak tenang,
Dada : tidak ada tarikan intercosta, payudara tidak simetris, pada
payudara sebelah kanan, terdapat pembengkakan, berwarna
merah mengkilat dan putting menonjol
Abdomen :tampak linea nigra, striae livida, tidak ada luka bekas operasi
Genitalia :bersih, tidak ada varices maupun odema, bekas jahitan
perineum sudah kering .
c. Palpasi
Dada : Benjolan pada payudara sebelah kanan lebih lunak karena
berisi nanah
TFU : tidak terba
II. INTERPRETASI DATA DASAR
Diagnosa : Ny. “H” P1oo1 post partum hari ke 3 dengan Abses payudara
di BPS Ny. Indah
Masalah 1: Nyeri
Ds : ibu mengatakan payudaranya terasa sangat sakit dan nyeri
Do : - ekspresi wajah meringis
- Payudara bengkak dan terdapat benjolan berisi nanah
Masalah 2: Cemas
Ds : Ibu mengatakan sangat cemas dengan keadaanya
Do : Ibu tampak cemas dan tidak tenang
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Penyebaran infeksi ke bagian tubuh yang lainnya
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Kompres air hangat dan dingin
V. INTERVENSI
Tanggal: 24 Januari 2013 Jam:09.10
Diagnosa : Ny. “H” P1oo1 post partum hari ke 3 dengan Abses payudara
di BPS Ny. Indah
Tujuan : Abses payudara tertasi dan tidak terjadi komplikasi lain.
Kriteria Hasil :
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmetis
Keadaan emosional : stabil
TTV : TD : 100 / 70- <140/90 mmHg
Nadi : 60-100 x/menit
RR :16-24 x/menit
Suhu : 36,5-37,5 0 C
- Payudara simetris
- Putting menonjol
- Tidak adanya pembengkakan dan abses,
- Payudara lembek dan tidak tegang
- Laktasi lancar.
- Involusi uterus berjalan normal
- Ibu tidak merasa panas dan atau menggigil
Intervensi :
1. Beri penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini
R : Ibu dan keluarga lebih mengerti kondisi ibu saat ini dan memudahkan
bidan dalam melakukan tindakan selanjutnya.
2. Lakukan kompres air hangat dan dingin
R : Kompres hangat dingin dapat menimbulkan vasokontriksi dan
vasodilatasi pada pembulu darah yang dapat mengurangi rasa nyeri pada
payudara ibu
3. Beri penjelasan pada ibu untuk tetap menyusui bayi dari payudara yang
sehat
R : Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan mencegah abses pada payudara
yang sehat
4. Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa ibu harus dirujuk untuk mendapat
penangan lebih lanjut dari dokter
R : Abses yang terjadi pada payudara harus diinsisi untuk dikeluarkan dan itu
harus dilakukan oleh dokter.
5. Lakukan persiapan rujukan
R: Rujukan berjalan lancar dan tepat waktu
Masalah 1 : Nyeri
Tujuan : Nyeri berkurang
Kriteria hasil :
- Ekspresi wajah ibu tidak meringis
- Payudara simetris, tidak ada nyeri tekan
- Proses laktasi lancar.
Intervensi :
1. lakukan kompres air hangat dan dingin
R: Kompres hangat dingin dapat menimbulkan vasokontriksi dan vasodilatasi
pada pembulu darah yang dapat mengurangi rasa nyeri pada payudara ibu

Masalah 2 : Cemas
Tujuan : Cemas berkurang
Kriteria hasil :
- Ibu tampak tenang
Intervensi :
1. Jelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan yakinkan ibu bahwa
keadaanya akan kembali pulih.
R: Dukungan psikologis yang diberikan oleh petugas kesehatan akan
membuat ibu labih memahami kondisinya sekarang.
VI. IMPLEMENTASI
Tanggal: 12 Juni 2014 Jam: 09.20 WIB
Diagnosa : Ny. “H” P1oo1 post partum hari ke 3 dengan Abses payudara
Implementasi:
1. Memberikan penjelasan pada ibu dan keluarga tentang keadaan ibu saat ini
TTV: : TD : 110 / 60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 22 x/menit
Suhu : 37,8 0 C
Payudara bagian kanan ibu mengalami abses payudara dan yang bagian
kiri dalam keadaan sehat
2. Makukan kompres air hangat dan dingin
Kompres hangat dan dingin dilakukan secara bergantian masing-masing
15-20 menit untuk mengurangi nyeri
3. Memberikan penjelasan pada ibu dan membantu ibu untuk tetap menyusui
bayi dari payudara yang sehat
4. Menjelaskan pada ibu dan keluarga bahwa ibu harus dirujuk untuk
mendapat penangan lebih lanjut dari dokter
5. Mekukan persiapan rujukan

Masalah 1 : Nyeri
Implementasi :
1. Melakukan kompres air hangat dan dingin
Kompres hangat dan dingin dilakukan secara bergantian masing-masing 15-
20 menit untuk mengurangi nyeri

Masalah 2 : Cemas
Implementasi :
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini dan meyakinkan ibu bahwa
keadaanya akan kembali pulih.
VII. EVALUASI
Tanggal: 12 Juni 2014 Jam: WIB
Diagnosa : Ny. “H” P1oo1 post partum hari ke 3 dengan Abses payudara
S : -Ibu mengatakan telah mengerti dengan penjelasan yang
diberikan oleh bidan
- Ibu dan keluarga setuju untuk dilakukan rujukan
O : Ibu menganggukan kepala saat diberi penjelasan
A : Ny. “H” P1oo1 post partum hari ke 3 dengan Abses payudara
P : Rujuk Ibu segera untuk mendapat penganganan lebih lanjut
Masalah 1: Nyeri
S : Ibu mengatakan nyeri payudaranya sedikit berkurang

O : Ekspresi wajah ibu tampak mulai tenang

A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan kompres hangat dan dingin

Masalah 2: cemas
S : Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan dari bidan dan yakin
akan kembali sembuh
O : Ekspresi wajah ibu tampak sedikit lebih tenang dibandingkan
sebelumnya
A : Masalah teratasi sebagian
P : berikan dukungan psikologis pada ibu dan keluarga
BAB 4

PEMBAHASAN

Dalam melakukan asuhan kebidanan pada NY. “H” P1001 post partum

hari ke-3 dengan abses payudara, pada pembahasan adalah membandingkan

antara teori dan kasus yang ada. Untuk pengkajian baik pada teori maupun kasus

tidak terdapat kesenjangan karena pengkajian dimulai dari data subjektif di mana

data dan keterangan yang diperoleh didapat langsung dari klien, begitu pula pada

data objektif.

Pada interpretasi data dasar tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus

yaitu diagnosa dan masalah yang ditetapkan pada kasus didasarkan pada data

yang telah diperoleh dari hasil pengkajian. Pada diagnosa dan masalah potensial

pun disesuaikan dengan teori yang ada.

Untuk identifikasi kebutuhan segera yaitu kompres dengan air hangat dan

dingin yang bisa membantu menurunkan nyeri pada pasien, sesuai yang ada pada

teori. Pada intervensi serta implementasi juga tidak ada kesenjangan yaitu baik

pada teori maupun pada kasus semua yang sudah direncanakan dapat

diimplementasikan.

Pada evaluasi asuhan kebidanan yang diharapkan adalah adanya

perubahan ke arah yang lebih baik dengan adanya tindakan yang diberikan dan

pada kasus didapatkan hasil bahwa dengan dilakukannya kompres dan dukungan

psikologis pada pasien, membantu pasien merasa lebih baik, dan pasien dirujuk

untuk mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter.


BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Masa nifas merupakan hal penting yang perlu diperhatikan karena pada masa

ini terjadi beberapa perubahan, salah satunya perubahan pada payudara untuk

mempersiapkan masa laktasi atau menyusui. Menyusui bayi adalah salah satu

ekspresi cinta seorang ibu, tetapi banyak kesulitan yang dialami seorang ibu

dalam pelaksanaannya. Salah satu kesulitan yang dihadap ibu adalah terjadinya

abses payudara. Seperti kasus yang telah diuraikan pada bab 3, dalam menghadapi

pasien dengan abses payudara petugas kesehatan harus mampu memberikan

asuhan kebidanan secara komperhensif dan memberikan dukungan psikologis

secara penuh pada pasien.

Akhir dari pelaksanaan asuhan kebidanan, yang diharapkan adalah adanya

perubahan ke arah yang lebih baik dengan adanya tindakan yang diberikan dan

pada kasus didapatkan hasil bahwa dengan dilakukannya kompres dan dukungan

psikologis pada pasien, membantu pasien merasa lebih baik, dan pasien dirujuk

untuk mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter.

5.2 Saran

5.2.1 Petugas kesehatan

1. Diharapkan petugas kesehatan dalam melaksanakan tugasnya harus selalu sesuai

dengan standar prosedur opersional yang berlaku.

2. Petugas kesehatan harus bisa memberikan solusi ataupun pengobatan pada

pasien terutama pada abses payudara, dan merujuk pasien sesegera mungkin

untuk mendapatkan pengobatan lanjut.


3. Memberikan penjelasan kepada ibu nifas tentang pentingnya pemberian ASI

eksklusif dan cara menyusui yang benar.

5.2.2 Mahasiswa

Mempelajari secara cermat pemberian asuhan kebidanan terutama pada pasien

post partum dengan abses payudara serta pendokumentasian berdasarkan 7

langkah varney.