Anda di halaman 1dari 5

WHITEPAPER CLINICAL PRIVILEGES

DOKTER BEDAH ORTHOPAEDI


RSUD NGIMBANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini profesi medis umumnya dan bedah orthopaedi khususnya dihadapkan dengan
perubahan yang cepat di bidang keilmuan, teknologi pembedahan maupun alat kesehatan dan
infrastrukturnya, perubahan sosial dan pasar ekonomi, perubahan sistem pelayanan kedokteran
dan pembiayaannya, status dokter yang sudah menjadi profesional di sektor perdagangan jasa
berakibat adanya peningkatan persaingan individual dokter, kelompok dokter dengan teknik
pemasaran sebagaimana di bidang perdagangan, persaingan rumah sakit yang sudah menjadi
industri jasa yang berprinsip ekonomi, dan dipicu adanya perubahan kultur, life-style, tingkat
pengetahuan masyarakat akan ilmu kedokteran berbekal kemajuan informasi dan teknologi
komunikasi akibat internasionalisme dan globalisasi.

1.2 Kewajiban Umum Dokter Bedah Orthopedi


1. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
Setiap dokter spesialis bedah orthopaedi wajib menjunjung tinggi, memahami dan
mengamalkan KODEKI beserta penjelasan, penjelasan pasal dan penjelasan cakupan
pasal.
2. Kewajiban terhadap Pasien
Setiap dokter spesialis bedah orthopaedi wajib menjunjung tinggi, memahami dan
mengamalkan KODEKI beserta penjelasan, penjelasan pasal dan penjelasan cakupan
pasal.
3. Kewajiban terhadap Sejawat
Setiap dokter spesialis bedah orthopaedi memperlakukan dan menghormati teman
sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan secara wajar sesuai dengan moral
etika dan budaya masyarakat Indonesia.
4. Kewajiban terhadap Diri Sendiri
Setiap dokter spesialis bedah orthopaedi wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya
dapat bekerja dengan baik dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta wajib memelihara akhlak yang baik.

1.3 Kewajiban Terhadap Pasien


Seorang dokter spesialis bedah orthopaedi wajib memberikan pelayanan bedah orthopaedi yang
kompeten, berintegritas dan jujur demi kebaikan dan kepentingan pasien, tidak merugikan,
menghargai hak dan otonomi pasien serta berlaku adil .
1. Profesi orthopaedi terbentuk untuk tujuan utama yaitu merawat pasien. Hubungan antara
dokter dan pasien adalah fokus utama dari segala bentuk pengobatan yang berhubungan
dengan etika.
2. Setiap dokter spesialis bedah orthopaedi yang memberikan pelayanan kepada pasien
dengan bekerja di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya wajib mematuhi Statuta
fasilitas kesehatan (Hospital Bylaws), Statuta Staf Medis (Medical Staff Bylaws), melalui
kelompoknya (SMF/Departemen/Bagian) dan Komite Medis setelah menjalankan kridensial
(dan rekridensial), dan hanya melakukan pelayanan sesuai dengan kewenangan klinis
3. Dokter spesialis bedah orthopaedi dokter spesialis bedah orthopaedi tidak akan menolak
menerima mengobati pasien semata-mata berdasarkan ras, warna, jenis kelamin, orientasi
seksual, agama, atau bangsa atau dasar apapun yang akan termasuk dalam diskriminasi
ilegal.
4. Dokter spesialis bedah orthopaedi dapat memilih pasien yang akan diberikan pengobatan,
kecuali seperti dijelaskan pada butir tiga (3) diatas. Seorang dokter spesialis bedah
orthopaedi harus memberikan layanan yang terbaik dari kemampuannya. Setelah bersedia
memberikan pengobatan dan perawatan terhadap pasien, dokter spesialis bedah
orthopaedi tidak boleh melalaikan pasien tersebut. Kecuali pasien menolak pengobatan
lebih lanjut , dokter spesialis bedah orthopaedi dapat menghentikan layanan hanya setelah
memberikan informasi yang memadai kepada pasien sehingga pasien dapat memilih
pengobatan alternatif lainnya, dokter tetap memiliki tanggung jawab secara moral untuk
membantu pasien dalam mendapatkan perawatan lebih lanjut.
5. Seorang dokter spesialis bedah orthopaedi wajib senantiasa memberikan akses dan
menghormati hak-hak pasien, teman sejawatnya, tenaga kesehatan, tenaga lain di fasilitas
kesehatan, dan wajib menjaga kepercayaan pasien serta memiliki kewajiban untuk
membuat perawatan hanya dalam kondisi bahwa ia kompeten untuk mengobati.
6. Hubungan dokter-pasien memiliki dasar kontrak dan didasarkan pada kerahasiaan,
kepercayaan, dan kejujuran. Baik pasien dan spesialis bedah orthopaedi dapat
menghentikan hubungan jika ditemukan kendala dengan pihak ketiga. Jika perawatan
seorang dokter atas pasien dihentikan sesuai dengan rencana perawatan, dokter akan
memiliki tanggung jawab etis untuk membantu pasien dalam memperoleh tindakan
perawatan lanjut. Dalam hal ini, Spesialis Bedah Orthopaedi akan bertanggung jawab
untuk memberikan perawatan medis yang diperlukan untuk pasien sampai rujukan yang
tepat 11 dapat diatur. Sangat tidak etis untuk seorang spesialis bedah orthopaedi untuk
memutuskan hubungannya dengan pasien karena kegagalan pengobatan atau karena
tidak ada pengobatan lanjut melalui operasi.
7. Seorang dokter spesialis bedah orthopaedi wajib bersikap jujur ketika berhubungan
dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang pada
saat menangani pasien diketahui memiliki kekurangan dalam kompetensi maupun perilaku
atau bahkan melakukan penipuan atau penggelapan.
8. Kinerja profesional dari Spesialis Bedah Orthopaedi dapat diawasi oleh asosiasi
profesional lokal, komite medik, rumah sakit, organisasi masyarakat berbasis pelayanan
publik, komite peer review, serta dinas kesehatan dan lainnya.
9. Seorang dokter spesialis bedah orthopaedi wajib menjalankan pelayanan dengan
mengutamakan mengutamakan hak dan kewajiban pasien.
1) Hak pasien :
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis /
orthopaedi
b. meminta pendapat dokter spesialis bedah orthopaedi lainnya
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d. menolak tindakan medis
e. mendapatkan rekam medis
2) Kewajiban pasien :
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
b. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan
c. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima

1.4 Pembinaan Dan Pengawasan


1. Dengan adanya kemungkinan konflik kepentingan pelayanan bedah orthopaedi yang berakibat
dugaan pelanggaran etik dan profesionalisme (baca disiplin) bedah orthopaedi baik yang
dilaporkan maupun tidak dilaporkan, maka diperlukan pembinaan yang terstruktur dan
sistematis kepada anggota PABOI, trainees, resident dan mahasiswa kedokteran yang stase di
bedah orthopaedi
2. Pembinaan etika dan profesionalisme bagi anggota PABOI dilakukan bersamaan dengan
kegiatan ilmiah Pendidikan Orthopaedi Berkelanjutan (COE) sebagai bagian dari materi untuk
mengisi kompetensi dibidang perilaku yang kurang mendapatkan porsi yang cukup
dibandingkan tentang pengetahuan dan ketrampilan. Pelajaran etika dan profesionalisme
merupakan kurikulum wajib dan diuji pada peserta PPDS Bedah Orthopaedi, dan bagi trainees
pada akhir pendidikannya. Pengaturan pada masa pendidikan dilakukan oleh Kolegium
spesialis bedah orthopaedi
3. Pembinaan dan pengawasan oleh cabang dilakukan dengan membentuk tim ad hoc, bila ada
laporan dari dokter spesialis bedah orthopaedi, dokter lain, institusi, atau masyarakat, maka
perlu dilakukan investigasi dan hasilnya dilaporkan kepada Cabang PABOI. Laporan cabang
disampaikan ke Pusat dan dilakukan pengolahan dan solusi atas laporan, sebelum
disampaikan kembali ke cabang, bila perlu disertai laporan ke MKEK cabang/wilayah. Setelah
ada keputusan pelanggaran etis, pembinaan dilakukan oleh cabang berkoordinasi dengan
DEPOI.
4. Dalam hal dugaan sudah melibatkan profesionalisme maka baik etik dan disiplin harus
dilakukan investigasi dengan mekanisme yang sama pada butir 3. Hanya masalah disiplin
berbeda sanksinya dengan etik dan ditangani oleh MKDKI, maka DEPOI akan melakukan
koordinasi dengan MKDKI menyangkut saksi ahli dalam sidang disiplin.
5. DEPOI melakukan pembinaan dalam program peningkatan mutu dan keselamatan pasien
bekerja sama dengan Komisi Nasional Keselamatan Pasien maupun melalui program CPD
PABOI
6. DEPOI akan menetapkan Standar Profesionalism Bedah Orthopaedi berdasarkan atas pasal
dan ayat Kode Etik dan Profesionalisme Orthopaedi, Fatwa/Pandangan atas kasus, dan
contoh kasus etik dan profesionalisme yang melanggar KODEKI dan KODEPOI yang dihimpun
melalui cabang dan pusat pendidikan PPDS Orthopaedi, sebagai bagian dari pembinaan dan
pengawasan.
BAB II
DAFTAR KEWENANGAN KLINIS DOKTER BEDAH ORTHOPAEDI

Kategori Kewenangan Klinis :


No KEWENANGAN KLINIS SETUJU TIDAK KET
SETUJU
1 Dislokasi Bahu
2 Fraktur Klavikula
3 Fraktur Humerus
4 Fraktur Cruris
5 Fraktur Galeazi
6 Fraktur Montegia
7 Fraktur Radius-Ulna
8 Fraktur Colles
9 Patah Tulang Terbuka
10 Fraktur Kompresi Vertebra
11 Dislokasi Siku
12 Dislokasi Panggul
13 Fraktur Femur
14 Fraktur Patela
15 Ruptur Tendon Achiles
16 Fraktur Olekranon
17 Fraktur Suprakondiler Siku
18 Patah Tulang Terbuka
19 Infeksi tulang (kecuali costae dan skull
20 Arthritis joint (Rheumatoid, Crystal
Deposition, Osteoarthritis, Calsification)
21 Kelainan congenital tubuh (CTEV, dll)
22 Tumor tulang (kecuali costae dan skull)
23 Kelainan otot & saraf tepi (CTS, De
Quervain, HNP, Ganglion, Trigger Finger,
Tumor digiti/wrist/manus)
24 Trauma saraf tepi, otot & tendon
25 Trauma tulang dan sendi lainnya (kecuali
costae dan skull)

No PROSEDUR SETUJU TIDAK KET


SETUJU
1 Tindakan reposisi tertutup dan
immobilisasi
2 Debridement Fraktur terbuka gr I-II-III
3 Fiksasi eksternal
4 Amputasi ekstremitas
5 Disartikulasi sendi kecil dan sedang
6 Pemasangan traksi (skeletal, skin,
Glisson)
7 Tendon repair
8 Disartikulasi sendi besar : panggul, bahu,
lutut
9 Reduksi terbuka dan fiksasi interna
(ORIF)
10 Nailing : Femur, Tibia
11 Plate & Screw : Femur, Tibia, radius,
Ulna, Humenus, Clavicula
12 K. Wire : Tangan dan Kaki (Carpalia,
Tarsalia, Phalanx)
13 Tension band Wiring (tbw) : Olecranon,
Patella, Ankle
14 Biopsi Tulang
15 Perawatan CTEV konservatif
16 Sekwesterektomi / guttering

Nama & Jabatan Tanggal Tanda-tangan

Dibuat oleh

Ketua KSM Dokter Bedah Orthopedi

Disetujui oleh

Ketua Komite Medis

Anda mungkin juga menyukai