Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kasus

FRAKTUR FEMUR NEGLECTED

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel
Abidin Banda Aceh

Disusun Oleh:
M. Maulizar Akbar
1407101030277
Fitri Fatimah
1407101030259

Pembimbing:
Dr. Armia Indra Nur Alam, Sp. OT

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2016

ii
iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugaslaporan kasus dengan
judul Fraktur Femur Neglected. Shalawat beriringkan salam penulis sampaikan
kepada baginda Rasulullah SAW yang telah membawa umat manusia menuju
masa yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Laporan kasus ini merupakan
salah satu dari tugas dalam menjalankan Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian/SMF Bedah RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Sri Hastuti Sp. S yang
telah bersedia membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas
ini.Penulis mengharapkan kritik dan juga saran yang membangun dari semua
pihak terhadap laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi
penulis dan orang lain.

Banda Aceh, 30 November 2016

M.Maulizar Akbar, Fitri Fatimah


iv

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. LatarBelakang ...................................................................... 1

BAB II LAPORAN KASUS


2. 1. Identitas Pasien .................................................................... 3
2. 2. Anemnesis............................................................................ 3
2.2.1. KeluhanUtama ......................................................... 3
2.2.2. KeluhanTambahan ................................................... 3
2.2.3. RiwayatPenyakitSekarang ....................................... 3
2.2.4. RiwayatPenyakitDahulu .......................................... 3
2.2.5. RiwayatPenyakitKeluarga ....................................... 4
2.2.6. RiwayatPenggunaanObat......................................... 4
2. 3. Status InternusdanPemeriksaanFisik ................................... 4
2. 4. Status Neurologis ................................................................. 6
2. 5. PemeriksaanPenunjang ........................................................ 6
2. 6. Diagnosis Kerja ................................................................... 8
2. 7. Penatalaksanaan ................................................................... 8
2. 8. Planning ............................................................................... 8
2. 9. Prognosis.............................................................................. 8
2. 10. Resume ................................................................................ 8

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


3. 1. AnatomidanFisiologi Femur ................................................ 10
3. 2. Fraktur.................................................................................. 11
3.2.1 DefinisiFraktur ......................................................... 11
3.2.2 EtiologiFraktur ......................................................... 11
3.2.3 KlasifikasiFraktur .................................................... 12
3.2.4 Mekanismeterjadinyadan PathwayFraktur............... 14
3.2.5 Diagnosis Fraktur ..................................................... 15
3.2.6 PenatalaksanaanFraktur ........................................... 17
3.2.7 KomplikasiFraktur ................................................... 19
3.2.8 Proses PenyembuhanFraktur .................................... 20
3. 3. FrakturNeglected.................................................................. 21
3.2.9 DefinisiFrakturNeglected ......................................... 21
3.2.10 KlasifikasiFrakturNeglected .................................... 21

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan ........................................................................... 22
v

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan ........................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 26


vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia.Tingkat


kematian kasus trauma lebih tinggi pada negara-negara berpenghasilan menengah
kebawah, hal ini berhubungan dengan penggunaan transportasi bermotor, kurang
maksimalnya pembangunan jalan, dan system penanganan trauma yang
terbatas.Secara statistik, lebih banyak yang berakhir dengan kecacatan baik
sementara maupun permanen. Statistik gabungan kasus trauma akibat jatuh dan
kecelakaan lalulintas, mendapatkan angka antara1000-2600/100.000 jiwa per
tahun pada Negara berpenghasilan menengah ke bawah. Negara-negara dengan
penghasilan yang tinggi angka tersebut hanya berkisar 500/100.000 jiwa per
tahun.1 Indonesia termasuk Negara berkembang dengan jumlah penduduk miskin
28,59 juta orang (11,66 %) pada bulan September 2012 dan sebagian besar
berpendidikan rendah.2
Menurut World Health Organization (WHO) di antara negara-negara se-Asia
Tenggara, Indonesia ada di urutan pertama, dengan 37.438 kematian ataus ekitar
16,2 per 100.000 penduduk.3 Fraktur adalah kondisi yang banyak ditemui pada
trauma muskuloskeletal. Berdasarkan Data dari Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia tahun 2010,didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami fraktur
dengan jenis fraktur yang berbeda-beda.Hasil survey tim kementrian kesehatan RI
didapatkan 25% penderita fraktur yang mengalami kematian, 45% cacat fisik,dan
25% mengalam istres psikologis, serta 5% mengalami kesembuhan dengan baik.4
Patah tulang atau fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan
dan lempeng pertumbuhan yang disebabkan oleh trauma dan juga non
trauma.Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur
yang tidak lengkap adalah fraktur yang tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.
Beberapa keadaan trauma muskuloskeletal, fraktur dan dislokasi dapat terjadi
bersamaan. Hal ini terjadi apabila kehilangan hubungan yang normal antara kedua
permukaan tulang disertai dengan fraktur persendiaan tersebut.5,6
Berdasarkan Riskesdas penderita patah tulang sebanyak 43.808 kasus
atau4,5% kasus cedera di Indonesia.7 Sebagian besar dari kasus ditangani oleh
vii

dokter umum, perawat, ataupun paramedis yang terbatas kemampuannya dan


dengan fasilitas yang kurang memadai untuk penanganan awal. Pasien biasanya
datang kepusat pelayanan kesehatan atas rujukan sudah dalam keadaan fraktur
ekstremitas dengan mal-united, ununited, infected, atau mal-positioned.8Di
Indonesia, pasien trauma muskuloskeletal, terutama fraktur, kebanyakan masih
memilih pengobatan patah tulang tradisional.
Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur yang
tidakditangani atau di tangani dengan tindakan yang tidak semestinya, sehingga
menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi yang lebih
buruk dan bahkan kecacatan.9 Pasien-pasien trauma patah tulang di Indonesia
kebanyakan masih memercayakan pengobatannya pada pengobatan patah tulang
tradisional, karena dianggap lebih terjangkau dalam hal biaya dan jarak,serta
menghindari tindakan bedah yang invasif. Pasien sering dating kedokter bedah
tulang setelahgagal di pengobatan patah tulang tradisional dengan keadaan patah
tulang yang mengalami komplikasi.10
Penelitian yang dilakuakn di RSCM dan RS Fatmawati, Jakarta, Februari –
April 1975, neglected fracture adalah penanganan patahtulang pada ekstremitas
yang salah oleh bone setter (dukun patah tulang).11 Lebih dari 50% komplikasinya
atas tindakan yang dilakukan oleh traditional bone setter adalah malunion, 25%
nonunion, sisanya delayed union, gangren, kekakuan sendi, Volksman’sischaemic
contracture, dan juga tetanus. Hanya satu di antara 36 orang (2,8%) yang tidak
memiliki keluhan dan puas dengan pengobatan patah tulang tradisional.12 Hasil
pengobatan patah tulang tradisional seringkali buruk, bahkan disertai kecacatan.13
Maka,berdasarkan laporan diatas sebelumnya, penulis tertarik menuliskan laporan
kasus mengenai Fraktur Femur Neglected yang terjadidi Rumah SakitUmum
Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
viii

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1. IdentitasPasien

Nama : Tn. M

TanggalLahir : 01-03-1968

Umur :48 tahun, 8 bulan, 9 hari

JenisKelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Suku : Aceh

Alamat : Aceh Barat Daya

CM : 1-10-66-57

Tanggal Masuk : 10/11/2016

Tanggal Pemeriksaan : 17/11/2016

2.2. Anamnesis

2.2.1 Keluhan Utama


Nyeri pada paha kiri

2.2.2 Keluhan Tambahan


Nyeri pahakiri, sulit berjalanan, tidak tahan berjalan lama, batuk.

2.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dating dari Poli Bedah Ortopedi dengan keluhan terdapat nyeri pada
paha kiri sejak 2 minggu SMRS dan memberat dalam 2-3 hari terakhir ini.Nyeri
tersebut di rasakan semakin memberat bila berjalan dan berdiri lama.Pasien juga
mengatakan, bahwa saat ini pasien mengalami kesulitan berjalanan.Kejadian ini
dirasakan oleh pasien semakin lama semakin memberat. Pasien juga mengeluhkan
ix

adanya batuk sejak 3 hari yang lalu. Selain itu, pasien mengeluhkan demam yang
naik turun dengan obat penurun panas.

2.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat kecelakaan sepeda motor, terjatuh dan lalu masuk
lubang kira-kira sejak 2 tahun yang lalu. Hanya berobat kedokter umum dan tidak
sembuh lalu berobat kepengobatan tradisional yaitu dukun patah. Riwayat DM,
HT dan alergi tidak ada.

2.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada dari keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
Riwayathi pertensi, alergi, diabetes, alergi tida kada.

2.2.6 Riwayat Penggunaan Obat

Pasien hanya minum obat penghilang nyeri yang dibelinya diwarung dekat
rumah dan pengobatan tradisional dari dukun patah tersebut. Sebelum berobat ke
RSUDZA pasien sempat berobat kedokter umum dan diberikan terapi antibiotik.
Riwayat operasi (-).

2.3. Status Internus dan Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang, Lemas


Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah :120/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,7oC
Pernafasan : 18 x/menit

Pemeriksaan Kulit
x

Warna : Kuning langsat


Turgor : Kembalicepat
Sianosis : Negatif
Ikterus : Negatif
Oedema : Negatif
PemeriksaanKepala

Kepala :Normocepali
Rambut :Hitam
Wajah : Simetris (+)
Mata : Conjungtiva anemi (+/+), ikterik (-/-), sekret (-/-),
RCL (+/+), RCTL (+/+), Pupil bulat isokor, 3 mm/3 mm,

Mata cekung (+/+)

Telinga : Serumen (-/-)


Hidung : Sekret (-/-), nafascupinghidung (-)
Mulut
o Bibir : Simetris, kering (-), sianosis (-)
o Lidah : Simetris, tremor (-), hiperemis (-), kesankotor/putih (-)
Bercakputihkelabudilidah (-), faring hiperemis (-)
o Tonsil : Hiperemis (-/-), T1/T1
o Faring : Hiperemis (-)
PemeriksaanLeher

Inspeksi : Simetris, retraksi (-)

Palpasi : TVJR-2cmH2O, pembesaran KGB (-)

Kuduk kaku (-)


xi

PemeriksaanThorax

Inspeksi
o Statis : Simetris, bentuknormochest
o Dinamis : Pernafasan abdominothorakal, retraksi suprasternal (-),
retraksi intercostal (-), retraksi epigastrium (-),

Pemeriksaan Paru

Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis

Kanan Kiri

Palpasi Fremitus N Fremitus N

Perkusi Sonor Sonor

Auskultasi Vesikuler Menurun Vesikuler Normal

Ronchi (+) wheezing (-) Ronchi (-) wheezing (-)

Pemeriksaan Jantung

Auskultasi : BJ I > BJ II, murmur (-), gallop (-)

Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Simetris

Palpasi : Nyeri tekan abdomen (-), defans muscular (-)

Hepar : Tidak teraba

Lien : Tidak teraba

Ginjal : Ballotement (-)

Perkusi : Timpani, shifting dullness (-), tapping pain (-)

Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal


xii

Pemeriksaan Kelenjar Limfe

Pembesaran KGB: Tidak ditemukan

Pemeriksaan Ekstremitas

Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianosis - - - -
Nyeri - - - +
ROM - - - Terbatas

2.4. Status Neurologis

GCS : E4 M5 V6

Pupil : Isokor, bulat, ukuran 3 mm/3 mm

Reflek Cahaya : Langsung (+ /+), tidak langsung (+/+)

Tanda Meningeal : Negatif

Nervus Cranialis : Dalam batas normal

2.5. PemeriksaanPenunjang

Laboratorium darah rutin (12/10/2016)

Hemoglobin : 11.3 g/dL

Hematokrit : 33 %

Eritrosit : 3.7 x 106/mm3

Leukosit : 9.6 x 103/mm3

Trombosit : 181 x 103/mm3

Diftel : 3/1/0/69/19/8 %

MCV : 89fL
xiii

MCH : 30pg

MCHC : 34 %

RDW : 12.9 %

Thorax PA : Pneumonia dengan hemidiafragma kiri

Tampak letak tinggi

Thorax PA : Fraktur di os femur 1/3 tengah dan

Proksimal

2.6. DiagnosaKerja

1. Neglected Fr. Femur Segmental Sinistra


2. Anemia Ringan

2.7. Penatalaksanaan

1. Rawat Ruangan
2. Operasi ORIF

2.8. Planning

1. Rencana operasi ORIF

2.9. Prognosis

Quo ad vitam : Dubia Ad Bonam

Quo ad functionam : Dubia Ad Bonam

Quo ad Sanactionam : Dubia Ad Bonam

2.10. Resume

Pasien dating dari Poli Bedah Ortopedi dengan keluhan terdapat nyeri pada
paha kiri sejak 2 minggu SMRS dan memberat dalam 2-3 hari terakhir ini. Nyeri
tersebut dirasakan semakin memberat bila berjalan dan berdiri lama.Pasien juga
mengatakan, bahwa saat ini pasien mengalami kesulitan berjalanan. Kejadian ini
dirasakan oleh pasien semakin lama semakinmemberat.Pasienmemilikiriwayat
xiv

kecelakaan sepeda motor, terjatuh dan lalu masuk lubang kira-kira sejak 2 tahun
yang lalu. Hanya berobat kedokter umum dan tidak sembuh lalu berobat
kepengobatan tradisional yaitu dukun patah. Riwayat DM, HT dan alergi tidak
ada. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya konjungtiva anemia, ROM
terbatas dan nyeri pada sebelah kiri ekstremitas bawah. Setelah itu, ditemukan
ronki dan juga pada foto thoraks dijumpai gambaran pneumonia. Dari hasil foto
Femur Ap/Lat, dijumpai fraktur di OS femur 1/3 tengah dan proksimal.

Follow-Up
Tanggal Evaluasi Tindakan/Terapi
14-11-2016 S/ Nyeri pada paha kiri Terapi :
O/
- Cefazoline 1 gr/12 jam
KU: Baik
Kes: Compos mentis
TD: 120/70 mmHg - Tramadol drip/8 jam
HR: 82 x/i
RR: 20 x/i - Ketorolac inj/8 jam
Insp : Terbalut kasa, kesan kering
Palp : Nyeri (+) - Ranitidin/12 jam
ROM : Terbatas
A/ Post Op ORIF close fr.
neglected femur segmental
xv

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Anatomi dan Fisiologi Femur

Femur merupakan tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan amat
penting untuk pergerakan normal. Tulang ini terdiri atas tiga bagian, yaitu femoral
shaft atau diafisis, metafisis proximal, dan metafisis distal. Femoral shaft adalah
bagian tubular dengan slight anterior bow, yang terletak antara trochanter minor
hingga condylus femoralis. Ujung atas tulang femur memiliki caput, collum, dan
trochanter major dan minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga
bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio
coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu
tempat perlekatan ligamen dari caput.14,15,16
Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen
ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala
pada batang femur, berjalan kebawah, belakang, lateral dan membentuk sudut
lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang
batang femur. Besarnya sudut tersebut perlu diingat karena dapat dirubah oleh
penyakit.Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher
dan batang. Pada dasarnya,yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea
intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian
belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian dari batang femur
umumnya menampakkan kecembungan ke depan denganstruktur licin dan bulat
pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung,
linea aspera.14,15,16
Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut
ke bawah sebagai crista supracondilaris medialis menujutuberculum adductorum
pada condylus medialis. Tepian lateral menyatu menuju ke bawah dengan crista
supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior di batang femur, di bawah
trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah akan berhubungan
dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk
daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea.
xvi

Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di


bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior
condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut
membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan
medialis.Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus
medialis.14,15,16
Tulang dibentuk oleh sebuah matriks dari serabut-serabut dan protein yang
diperkeras dengan kalsium, magnesium fosfat, dan karbonat. Tulang terdiri atas
tiga jenis sel dasar yaitu osteoblas, osteosit dan osteocklas. Osteoblas berfungsi
dalam pembentukan tulang atau disebut sel tulang muda yang akan membentuk
osteosit. Osteosit merupakan sel tulang dewasa yang terlibat dalam pemeliharahan
fungsi tulang dan terletak ostion.Osteoklas adalah sel tulang yang berperan dalam
panghancuran, reabsorpsi dan remodeling tulang. Terdapat 206 tulang di tubuh
yang diklasifikasikan menurut panjang, pendek, datar dan tak beraturan, sesuai
dengan bentuknya. Permukaan tulang yang keras disebut periosteum, terbentuk
dari jaringan pengikat fibrosa. Periosteum mengandung pembuluh darah yang
memberikan suplai oksigen dan nutrisi ke sel tulang. Rongga tulang bagian dalam
diisi dengan sumsum kuning dan sumsum merah. Sumsum merah adalah tempat
hematopolesis yang memproduksi sel darah putih dan merah (RBCs / red blood
cells, WBCs / white blood cells) serta platelet.14,15,16

3.2. Fraktur

3.2.1. Definisi Fraktur


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, dan atau
tulang rawan epiphysis, baik bersifat total maupun parsial, yang pada umumnya
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang,
baik berupa trauma langsung maupun trauma tidak langsung, biasanya disertai
cedera di jaringan sekitarnya.5,6

3.2.2. Etiologi Faktur


Penyebab fraktur merupakan trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan juga mayoritas fraktur akibat
kecelakaan lalu lintas. Trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja,
xvii

cidera akibat olahraga. Trauma dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung.
Dikatakan langsung bila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur
di tempat tersebut, dan secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan dengan
terjadinya fraktur berjauhan.1 penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu:17
1. Cedera traumatik, cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh:
- Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya.
- Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
- Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang
kuat.
2. Fraktur Patologik
Dalam hal tersebut kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai
keadaan berikut:
- Tumor tulang (jinak atau ganas): pertumbuhan jaringan baru yang tidak
terkendali dan progresif.
- Infeksi seperti osteomielitis: dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau
dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit
nyeri.
- Rakhitis: suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D
yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh
defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi
Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
3. Secara spontan: disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya
pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.

3.2.3. Klasifikasi Fraktur


Klasifikasi fraktur dapat dibagi berdasarkan penyebabnya, klinis,radiologis,
kondisi, dan fragmen:5,18,19
xviii

1. Klasifikasi penyebab
Berdasarkan klasifikasi penyebab, fraktur dapat dibagi menjadi:
- Fraktur traumatik, disebabkan oleh trauma yang tiba-tiba mengenai tulang
dengankekuatan yang besar.
- Fraktur patologis, disebabkan oleh kelemahan tulang sebelumnya akibat
kelainanpatologis di dalam tulang.
- Fraktur stres, disebabkan oleh trauma yang terus-menerus di suatu
tempattertentu.
2. Klasifikasi klinis
Berdasarkan klasifikasi klinis, fraktur dapat dibagi menjadi:
- Fraktur tertutup (close fracture), yaitu suatu fraktur yang tidakmempunyai
hubungan dengan dunia luar, dimana kulittidak tertembus fragmen tulang
sehingga lokasi fraktur tidaktercemar oleh lingkungan luar.
- Fraktur terbuka (open fracture), apabila terdapat hubungandengan dunia
luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak,dapat berbentuk from within
(dari dalam ke luar) atau fromwithout (dari luar).
- Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) merupakan frakturyang
disertai dengan komplikasi sepertimalunion, delayedunion, non union atau
infeksi tulang.
3. Klasifikasi radiologis
Berdasarkan klasifikasi radiologis, fraktur dapat dibagi menjadi:
- Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurusterhadap
sumbu panjang tulang.
- Fraktur kominutif adalah fraktur dengan serpihan-serpihan atau terputusnya
keutuhanjaringan di mana terdapat lebih dari dua fragmen tulang.
- Fraktur oblik merupakan fraktur garis patahnya membentuk sudutterhadap
tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
- Fraktur segmental merupakan dua fraktur yang berdekatan pada satu
tulangmenyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya.
- Fraktur impaksi ada;aj fraktur terjadi ketika dua tulang menumbuktulang
yang berada di antaranya, seperti satu vertebra dengandua vertebra lainnya.
- Fraktur spiral adalah fraktur spiral akibat torsi pada ekstrimitas.
xix

4. Klasifikasi kondisi
Berdasarkan klasifikasi kondisi, fraktur dapat dibagi menjadi:
- Fraktur komplit (bagian tulang terpisah total), berdasarkan konfigurasinya
dapat berupa fraktur bentuk transversal, oblik, spiral,segmental, kominutif,
kompresi,impresi, avulsi.
- Fraktur inkomplit (tidak melibatkan seluruh ketebalan dari tulang),contoh:
fraktur greenstick.
5. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
Berdasarkan hubungan antarfragmen, dibagi menjadi:
- Tidak bergeser: garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser.
- Bergeser : terjadi pergeseran fragmen-fragmen

3.2.4. Mekanisme Terjadinya dan Pathway Fraktur


Pada dasarnya, mekanisme terjadinya fraktur dapat terjadi akibat peristiwa
trauma tunggal,tekanan yang berulang ulang,kelemahan abnormal pada
tulang.Tulang merupakan jaringan dinamis, dimana secara kontinyu bereaksis
terhadap suatu tekanan. Berdasarkan data dari Maitra dan Johnson, fraktur stress
atau tekanan merupakan hasil ketidakseimbangan antara resorbsi tulang dan
deposit tulang selama tulang menerima tekanan yang berulang. Sebagian besar
tekanan di kortek termasuk tension atau torsi; bagaimanapun, tulang lemah dalam
tension dan cenderung patah sepanjang garis semen. Maitra dan Johnson
melaporkan bahwa paksaan tension memicu resorbsi osteoklas, sementara
paksaan kompresi memicu respon osteoblas. Dengan tekanan yang berulang,
pembentukan tulang baru tidak dapat seimbang dengan kejadian resorbsi tulang.
Ketidakmampuan ini menyebabkan penipisan dan kelemahan kortek tulang,
dengan propragasi retakan melalui garis semen, dan bahkan berkembang menjadi
mikrofraktur.5,6,20
Tanpa istirahat untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini, mikrofraktur
dapat berkembang menjadi fraktur klinis.Tulang bersifat terlalu rapuh, namun
cukup mempunyai kekuatan dan daya tahan pegas untuk menahan tekanan, tulang
yang mengalami fraktur, biasanya diikuti kerusakan jaringan sekitarnya. Fraktur
ini suatu permasalahan yang kompleks karena pada fraktur tersebut tidak dilukai
luka terbuka, sehingga dalam mereposisi fraktur tersebut perlu pertimbangan
xx

dengan fiksasi yang baik agar tidak timbul komplikasi selama tindakan reposisi.
Penggunaan fiksasi yang tepat yaitu dengan internal fiksasi jenis plate and screw.
Dilakukan operasi terhadap tulang ini bertujuan mengembalikan posisi tulang
yang patah ke normal atau posisi tulang sudah dalam keadaan sejajar sehingga
akan terjadi proses penyambungan tulang.5,6,20

3.2.5. Diagnosis Fraktur


Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik
yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidak mampuan untuk
menggunakan anggota gerak. Penderita biasanya datang karena adanya nyeri,
pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak,
krepitasi atau datang dengan gejala lain. Pada pemeriksaan awal penderita perlu
diperhatikan:5,21,22
1. Syok, anemia atau perdarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang
atau organ-organ dalam rongga thoraks, panggul dan abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (look)
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak secara keseluruhan
- Ekspresi wajah karena nyeri
- Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau terbuka
- Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
- Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan
- Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ
lain
- Perhatikan kondisi mental penderita
- Keadaan vaskularisasi
2. Palpasi (feel)
xxi

Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh


sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang
- Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-
hati
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada
bagian distal daerah trauma, temperatur kulit
- Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai.
3. Pergerakan (move)
Periksa pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma.
Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat
sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga
dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan
saraf.5,21,22
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta
ekstensi fraktur. Tujuan pemeriksaan radiologis:5,21,22
- Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
- Untuk konfirmasi adanya fraktur
- Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
- Untuk menentukan teknik pegobatan
- Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
- Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
- Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
- Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru
xxii

Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua:


- Dua posisi proyeksi: dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-
posterior dan lateral
- Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di
bawah sendi yang mengalami fraktur
- Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada ke dua
anggota gerak terutama pada fraktur epifisis
- Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua
daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu
dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang
- Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto
berikutnya 10-14 hari kemudian.

3.2.6. Penanganan Fraktur


Enam prinsip penanganan Fraktur:5,23,24
1. Firstly do no harm. Lakukan penanganan pada pasien fraktur dengan tidak
menambah keparahan fraktur.
2. Base treatment on an accurate diagnosis and prognosis. Penanganan yang
dilakukan berdasarkan diagnosa yang akurat.
3. Select treatment with specific aims. Seleksi pengobatan dengan tujuan yang
khusus, yaitu menghilangkan nyeri, memperoleh posisi yang baik terhadap
fragmen, mengusahakan terjadinya penyambungan tulang,mengembalikan
fungsi secara optimal.
4. Cooperate with the”law of nature”. Mengingat bahwa prinsippengobatan
terkait dengan hukum penyembuhan alami.
5. Be realistic an practical in your treatment. Pemilihan pengobatanpasien
fraktur bersifat realistik dan praktis.
6. Select treatment for your patient as an individual. Berikanpengobatan yang
memang sesuai dan dibutuhkan pasien.
Penanganan fraktur dibedakan berdasarkan fraktur terbuka dan tertutup.
1. Penanganan Fraktur Terbuka
xxiii

Semua fraktur terbuka haruslah dianggap terkontaminasi, sehingga penting


untuk mencoba mencegah terjadinya infeksi. Untuk mencegah terjadinya infeksi
terdapat empat hal penting yaitu:
- Pembalutan luka
Menutup kulit atau tidak dapat menjadi suatu keputusan yang sukar.Luka
tipe I yang kecil dan juga tidak terkontaminasi, yang dibalut dalam beberapa jam
setelah cedera, setelah dilakukan tindakan debrideman selanjutnya dapat dijahit
atau dilakukan pencangkokan kulit. Luka tipe lain harus dibiarkan terbuka hingga
bahaya tegangan dari infeksi telah terlewati. Setelah itu luka dibalut sekedarnya
dengan kasa steril dan diperiksa setelah lima hari kalau bersih, apabila luka telah
bersih, luka itu dapat dijahit atau dilakukkan pencangkokan kulit.
- Profilaksis antibiotika
Penanganan dini luka harus tetap ditutup hingga pasien tiba berada kamar
bedah.Antibiotika diberikan secepat mungkin dan juga dilanjutkan hingga bahaya
infeksi terlewati. Pada umumnya pemberian dari kombinasi benzilpenisilin dan
flukloksasilin tiap 6 jam selama 48 jam akan mencukupi. Pemberian profilaksis
tetanus juga penting diberikan pada mereka yang sebelumnya telah diimunisasi
kalau belum, berilah antiserum manusia.
- Debridemen
Operasi bertujuan untuk membersihkan luka dari bahan asing dan juga dari
jaringan mati, memberikan persediaan darah yang baik di seluruh bagian itu.
- Stabilisasi fraktur
Stabilitas fraktur diperlukan untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Untuk
luka tipe I atau tipe II yang kecil dengan fraktur yang stabil, boleh menggunakan
gips atau untuk femur digunakan traksi.
2. Penanganan fraktur tertutup
Pada dasarnya terapi fraktur terdiri atas manipulasi untuk memperbaiki
posisi fragmen, dan diikuti dengan pembalutan untuk mempertahankan secara
bersama-sama sebelum fragmen menyatu.Sementara itu gerakan sendi dan fungsi
harus dipertahankan. Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis
pada tulang, sehingga diawal proses penyembuhan dianjurkan untuk melakukan
aktivitas otot dan penahanan beban. Tujuan ini tercakup dalam tiga hal, yaitu:
xxiv

- Reduksi. Mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya danlokasi


anatomis. Reduksi terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Reduksi tertutup. Umumnya digunakan untuk semua tipe frakturdengan
pergeseran minimal.
b. Reduksi terbuka. Diindikasikan apabila reduksi tertutup gagal,fragmen
artikular besar, dan bila terdapat fraktur traksi yangfragmennya terpisah.
- Mempertahankan reduksi. Metode yang tersedia untukmempertahankan
reduksi adalah :
a. Traksi terus menerus
b. Pembebatan dengan gips
c. Pemakaian penahan fungsional
d. Fiksasi internal
e. Fiksasi eksternal
f. Latihan

3.2.7. Komplikasi Fraktur


Komplikasi fraktur dapat terjadi secara spontan, karena iatrogenic atau oleh
karena tindakan pengobatan.Komplikasi umumnya akibat tiga faktor utama, yaitu
penekanan local, traksi yang berlebihan, dan juga infeksi.Komplikasi oleh akibat
tindakan pengobatan (iatrogenic) umumnya dapat dicegah. Komplikasi fraktur
terhadap organ antara lain:5,6,25
1. Komplikasi pada kulit
- Lesi akibat penekanan
- Ulserasi akibat dekubitus
- Ulserasi akibat pemasangan gips
2. Komplikasi pada pembuluh darah
- Ulserasi akibat pemasangan gips
- Lesi akibat traksi dan penekanan
- Iskemik Volkmann
- Gangren
3. Komplikasi pada saraf
- Lesi akibat traksi dan penekanan
4. Komplikasi pada sendi
xxv

- Infeksi (arthritis septic) akibat operasi terbuka pada trauma tertutup


5. Komplikasi pada tulang
- Infeksi akibat operasi terbuka pada trauma tertutup (osteomielitis)
- Komplikasi pada lempeng epifisis dan epifisis pada fraktur anak-anak

3.2.8. Proses Penyembuhan Fraktur


Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang:5,16,26
1. Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan
bila ada cedera pada lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan
yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Terjadi
inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari
dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
2. Proliferasi sel
Dalam sekitar lima hari, hematome akan mengalami organisasi. Terbentuk
benang- fibrin dalam jendela darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi,
dan invasi fibroblast dan osteoblast.
3. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan juga lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang di
gabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu
waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang dapat tergabung dalam tulang rawan atau
jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.
4. Penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah
tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun
sampai tulang benar-benar telah bersatu dan keras. Penulangan perlu waktu 3-4
bulan.
5. Remodeling menjadi tulang dewasa
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan
reorganisasi tulang baru menuju ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling
memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya
xxvi

modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan juga stres fungsional pada
tulang.

3.3. Fraktur Neglected

3.3.1 Definisi Fraktur Neglected


Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur dengan
atau tanpa dislokasi yang tidak ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya
sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi
yang lebih buruk dan bahkan kecacatan.9

3.3.2 Klasifikasi Fraktur Neglected


Berdasarkan pada beratnya kasus akibat dari penanganan patah tulang yang
sebelumnya, neglected fracture dapat diklasifikasikan menjadi 4 derajat:9,27
1. Neglected derajat satu
Bila pasien datang saat awal kejadian maupun sekarang, penanganannya
tidak memerlukan tindakan operasi dan hasilnya sama baik.
2. Neglected derajat dua
Keadaan dimana apabila pasien datang saat awal kejadian, penanganannya
tidak memerlukan tindakan operasi, sedangkan saat ini kasusnya menjadi lebih
sulit dan memerlukan tindakan operasi.Setelah pengobatan, hasilnya tetap baik.
3. Neglected derajat tiga
Keterlambatan menyebabkan kecacatan yang menetap bahkan juga setelah
dilakukan operasi. Jadi pasien datang saat awal maupun sekarang tetap akan
memerlukan tindakan operasi dan hasilnya kurang baik.
4. Neglected derajat empat
Keterlambatan di sini sudah mengancam nyawa atau bahkan menyebabkan
kematian pasien.Pada kasus ini penanganannya memerlukan tindakan amputasi.
Neglected fracture dibagi menjadi 4 derajat, yaitu:
1. Derajat I: fraktur yang telah terjadi antara 3 hari sampai dengan 3 minggu
2. Derajat II: fraktur yang telah terjadi antara 3 minggu sampaidengan 3 bulan
3. Derajat III: fraktur yang telah terjadi antara 3 bulan sampai dengan1 tahun
4. Derajat IV: fraktur yang telah terjadi lebih dari 1 tahun.
xxvii

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan
Pasien dating dari Poli Bedah Ortopedi dengan keluhan terdapat nyeri pada
paha kiri sejak 2 minggu SMRS dan memberat dalam 2-3 hari terakhir ini. Nyeri
tersebut dirasakan semakin memberat bila berjalan dan berdiri lama. Pasien juga
mengatakan, bahwa saat ini pasien mengalami kesulitan berjalanan. Kejadian ini
dirasakan oleh pasien semakin lama semakin memberat.Pasien memiliki riwayat
kecelakaan sepeda motor, terjatuh dan lalu masuk lubang kira-kira sejak 2 tahun
yang lalu. Hanya berobat kedokter umum dan tidak sembuh lalu berobat ke
pengobatan tradisional yaitu dukun patah. Riwayat DM, HT dan alergi tidak ada.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya konjungtiva anemia, ROM terbatas dan
nyeri pada sebelah kiri ekstremitas bawah.Setelah itu, ditemukan ronki dan juga
pada foto thoraks dijumpai gambaran pneumonia. Laboratorium hemoglobin 11.3
g/dL. Dari hasil foto Femur Ap/Lat, dijumpai fraktur di OS femur 1/3 tengah dan
proksimal.
Dari hasil anamnesis, terdapat keluhan nyeri paha kiri setelah terjatuh dari
sepeda motor. Keluhan nyeri tersebut dirasakan setelah pasien berobat pengobatan
tradisional yaitu dukun patah. Kejadian ini dicurigai merupakan fraktur neglected.
Neglected fracture dengan yang tidak ditangani atau ditangani dengan tidak
semestinya sehingga menghasilkan keadaan keterlambatan dalam penanganan,
atau kondisi yang lebih buruk dan juga bahkan kecacatan.Diagnosis tersebut juga
dipastikan dengan hasil foto femur AP/Lateral yaitu fraktur pada OS femur 1/3
tengah dan proksimal. Terdapat beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang:
6. Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan
bila ada cedera pada lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan
yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Terjadi
inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari
dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
xxviii

7. Proliferasi sel
Dalam sekitar lima hari, hematome akan mengalami organisasi. Terbentuk
benang- fibrin dalam jendela darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi,
dan invasi fibroblast dan osteoblast.
8. Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan juga lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang di
gabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu
waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang dapat tergabung dalam tulang rawan atau
jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.
9. Penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah
tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun
sampai tulang benar-benar telah bersatu dan keras. Penulangan perlu waktu 3-4
bulan.
10. Remodeling menjadi tulang dewasa
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan
reorganisasi tulang baru menuju ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling
memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya
modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan juga stres fungsional pada
tulang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan konjungtiva anemia, ROM yang
terbatas dan nyeri pada sebelah kiri di ekstremitas bawah. Setelah itu, ditemukan
ronki dan juga pada foto thoraks dijumpai gambaran pneumonia.Laboratorium HB
11.3 g/dL.Dari hasil foto Femur Ap/Lat, dijumpai fraktur pada OS femur 1/3
tengah dan proksimal.Terdapat keluhan yang mengarahkan adanya pneumonia,
yaitu adanya batuk, demam naik turun, dan peningkatan minimal leukosit, serta
pada gambaran foto thoraks ditemukan adanya gambaran pneumonia. Dari hasil
pemeriksaan fisik paru juga ditemukan ronki. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan
anemia ringan.Namun tidak ada indikasi untuk transfusi darah. Selain itu, adanya
demam juga kemungkinan karena proses inflamasi dan infeksi dari neglected.
xxix

Pasien direncakan tindakan ORIF. Pada dasarnya terapi fraktur terdiri atas
manipulas iuntuk memperbaiki posisi fragmen, dan diikuti dengan pembalutan
untuk mempertahankan secara bersama-sama sebelum fragmennya menyatu.
Sementara itu gerakan sendi dan fungsi harus dipertahankan. Penyembuhan
fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis pada tulang, sehingga diawal proses
penyembuhan dianjurkan untuk melakukan aktivitas otot dan penahanan beban.
Tujuan ini tercakup dalam tiga hal, yaitu:
- Reduksi. Mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan lokasi
anatomis. Reduksi terbagi menjadi dua macam, yaitu:
c. Reduksi tertutup. Umumnya digunakan untuk semua tipe fraktur dengan
pergeseran minimal.
d. Reduksi terbuka. Diindikasikan apabilar eduksi tertutup gagal,fragmen
artikular besar, dan bila terdapat fraktur traksi yang fragmennya terpisah.
- Mempertahankan reduksi. Metode yang tersedia untuk mempertahankan
reduksi adalah :
g. Traksi terus menerus
h. Pembebatan dengan gips
i. Pemakaian penahan fungsional
j. Fiksasi internal
k. Fiksasieksternal
l. Latihan
xxx

DAFTAR PUSTAKA

1. Jain AK, Kumar S. Neglected musculosceletal injury. Ch.1: Neglected


Musculoskeletal Injuries—Magnitude of Problem. Jaypee digital. 2011.
2. Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik No 06/01/th.XVI, 2 Januari
2013.
3. World Health Organization. Global health observatory data repository:
Mortality road traffi c death 2007 [Internet]. 2011 [cited 2016November
22]. Available from: www.who.int.en.
4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Riset Kesehatan Dasar.Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. 2010.
5. Apley G dan Solomon L. Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur SistemApley.
Jakarta : Widya Medika. 2013. 240-63.
6. De Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : EGC. 2004
7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2007. 2008 Desember.
8. Handayani L, Suparto H, Suprapto A. Traditional system of medicine in
Indonesia. In: Chaudhury RR, Rafei UM, eds. Traditional Medicine in
Asia. WHO; 2001. 47-68.
9. Kawiyana KS, Reksoprodjo S. Neglected fracture in Cipto Mangunkusumo
and Fatmawati hospital Jakarta. Maj. Orthopaedi Indon. 1985; 11(2):20-8.
10. Nwachukwu BU, Okwesili IC, Harris MB, Katz JN. Traditional bonesetters
and contemporary orthopaedic fracture care in a developing nation:
Historical aspects, contemporary status andfuture directions. The Open
Orthopaedic J. 2011; 5:20-6.
11. OlaOlorun DA, Oladiran IO, Adeniran A. Complication of fracture
treatment by traditional bonesetter in southwest Nigeria. Farm Pract. 2001
(Dec);18(6):635-7.
12. Dada AA, Yinusa W, dan Giwa SO. 2011. Review of the practice of
traditional bone setting in Nigeria. Afr Health Sci. 2011 Juni;11(2):262-5.
13. Wahyudiputra A. Spektrum penderita neglected fracture pada RSUD
dr.Abdoer Rahem - Januari 2012 - Desember 2013. CDK, 42(2)98-99.
14. Putz, R. & Pabst R. Atlas Anatomi Sobotta Jilid 1, 2& 3. Edisi 24. Jakarta:
EGC, 2012.
15. Snell, Richard S. Anatomi Klinik ed. 8. Jakarta: EGC. 2012.
16. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. 2014.
xxxi

17. Salter RB. Textbook of disorders and injuries of the musculosceletal


system. USA: Lippincott William and Wilkins; 2001.
18. Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi Ke-3. Jakarta: Yarsif
Watampone. 2007.
19. Reksoprodjo S, dkk. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2002.
20. Netter, Frank. Netter’s Concise Atlas of Orthopaedic Anatomy. USA:
ICON learning system. 2002.
21. Chairuddin R. Pengantar Ilmu Orthopedi.Jakarta: YarsifWatampone. 2007:
20-25.
22. Sfeir C, Ho L, Doll BA, Azari K, Hollinger JO. Fraktur repair, Human Pess
Inc,Totowa, NJ. 2005.
23. Sjamsuhidayat R, Jong W. Buku ajar ilmu bedah edisi 3. Jakarta: Jakarta.
2010.
24. Aries MJ, Joosten H, Wegdam HJ, van der Geest S. Fracture treatment by
bonesetters in central Ghana: Patients explain their choices and
experiences. Trop.Med. Internat. Health2007;12(4):564-74.
25. Eze KC. 2012. Complication and co-morbidities in radiograph of patients in
traditional bone setters homes in Ogwa, Edo State, Nigeria : A community-
based study. Eur J Radiol. 2012Sep;81(9):2323-8.
26. Sanders DW, Mackleod M, Charyk-Stewart T, Lydestad J, Domonkos A,
Ttieszer C. Functional outcome and persistent disability after isolated
fracture of the femur. Can J Surg.2008(Oct);51(5):366-70.
27. Penni A. Persepsi Penderita Patah Tulang Terhadap Pengobatan
padaDukun Patah di Medan[skripsi].Medan: Universitas Sumatera Utara.
2006: 5-10.
xxxii