Anda di halaman 1dari 14

JURNAL KESEHATAN

PENGARUH MEDITASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI


PADA PASIEN SINDROM KORONER AKUT
DI ICU RSI GONDANGLEGI

FARIDA NURDIANA
NIM : 153220068

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2016
ABSTRACT

PENGARUH MEDITASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI


PASIEN SIDROM KORONER AKUT DI ICU RSI GONDANGLEGI

Oleh : Farida Nurdiana

Jantung memiliki otot yang tahan lelah dengan kemampuan memompa setiap
saat untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen. Jika kebutuhan suplai oksigen
tidak seimbang, maka dapat terjadi perubahan metabolisme secara anaerob yang
menyebabkan penimbunan asam laktat dan perubahan pH, kemudian menstimulasi
sistem persyarafan yang berada disekitar pembuluh darah arteri koroner, sehingga
menimbulkan nyeri dada. Meditasi merupakan salah satu tehnik sederhana dalam
mengatasi nyeri. Fungsinya adalah untuk merangsang produksi endorfin dalam darah
yang berperan dalam relaksasi dan sebagai analgetik natural dalam mengurangi nyeri
dada.

Tujuan secara umum adalah untuk mengetahui pengaruh meditasi terhadap


penurunan intensitas nyeri pada pasien Sindrom Koroner Akut di ICU RSI
Gondanglegi. Penelitian ini menggunakan rancangan one group pre test and post test
design. Pemilihan sampel dengan incidental sampling dengan kriteria inklusi dan
ekslusi yaitu sebanyak 10 responden. Pengolahan data dengan Editing, Coding, dan
Tabulating dianalisis dengan menggunakan uji statistik wilcoxon dengan tingkat
kesalahan α = 0,05.
Hasil penelitian ini menunjukkan dari 10 responden sebelum (pre) dilakukan
meditasi sebagian besar mengalami nyeri sedang yaitu 6 responden (60%) dan sesudah
(post) dilakukan meditasi sebagian besar mengalami nyeri ringan yaitu 7 responden
(70%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh meditasi terhadap penurunan
intensitas nyeri pada pasien sindrom koroner akut yaitu ρ = 0,004 jika α = 0,05
sehingga ρ<α maka H1 diterima.
Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh meditasi terhadap penurunan
intensitas nyeri pada pasien sindrom koroner akut di ICU RSI Gondanglegi, sehingga
perlu diterapkan pada pasien. Peran perawat dalam mengembangkan teknik ini sebagai
proses asuhan keperawatan secara mandiri.

Kata kunci : meditasi, intensitas nyeri, sindrom koroner akut


ABSTRACT

THE EFFECT OF MEDITATION TO DECREASE PAIN INTENCITY IN ACUT


CORONARRY SYNDROME IN ISLAMIC HOSPITAL OF GONDANGLEGI

by : Farida Nurdiana

Cardiac muscle has an extraordinary endurance in response to the demand of


pumping all the times without any interruption, However if the heart muscle cells do not
receive enough oxygen , the anaerobic glycolysis can occur producing the lactic acid.
Furthermore, the increase of lactic acid can cause the pH imbalance which can
stimulate the nerve ending surrounding the coronary arteries in the heart muscle and
producing pain called the chest pain. Meditation is a simple technique to manage pain.
This technique can stimulate endorphin hormones in the circulation which act as a
natural analgesia which can decrease chest pain.

The objective of this research is to identify the effect of the meditation to the
pain intensity of acute coronary syndrome patients (SKA). The design of this study is
one group pretest and posttest design. Samples were recruited using incidental
sampling with some inclusion and exclusion criteria. 10 samples were recruited.Data
processing Editing, Coding, Scoring and Tabulating analyzed using the Wilcoxon
statistical test error rate α = 0.05 level.

The results of this research showed 10 respondents before (pre) the meditation
most of them, there are 6 respondents (60%) are on medium pain and after the
meditation most of them, there are 7 respondents (70%) are on ..........pain. The results
showed that there is an effect of meditation to the pain intensity in patiens of acut
coronarry syndrome with ρ = 0.004 if α = 0.05 then ρ <α and H1 is accepted.
In conclusion of this study, the meditation technique influences the pain
intensity, therefore can be aplicated to the patien. The nurses can integrate this
technique in their nursing care plan as one of the independent nursing intervention.

Keywords: meditation, pain intensity, acut coronarry syndrome


BAB 1

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah sekumpulan gejala yang diakibatkan oleh

terganggunya aliran darah pada pembuluh darah koroner di jantung secara akut.

Gangguan pada aliran darah tersebut disebabkan oleh thrombosis (pembekuan darah)

yang terbentuk di dalam pembuluh sehingga menghambat aliran darah (Maulana, 2014).

Gejala serangan koroner akut umumnya mudah dikenali. Gejala khasnya adalah rasa

nyeri di dada dan ulu hati. Bila digambarkan rasa nyeri itu seperti terjepit, kram, rasa

seperti diremas atau rasa terbakar (Maulana, 2014).

Beberapa intervensi non-farmakologis tersedia untuk mengurangi nyeri. Intervensi

non-farmakologis mencakup perilaku kognitif dan pendekatan secara fisik. Tujuan dari

intervensi perilaku kognitif adalah untuk mengubah persepsi klien terhadap nyeri, untuk

mengubah perilaku terhadap nyeri, dan untuk mengajari klien agar memiliki rasa

kontrol terhadap nyeri yang lebih baik. Distraksi, berdo’a, relaksasi, imajinasi

terpimpin, musik, dan biofeedback merupakan beberapa contoh. Teknik relaksasi

mencakup meditasi, yoga, zen, imajinasi terpimpin, dan latihan relaksasi secara

progresif (Perry, 2009).

Pada tahun 2005, data dari WHO menunjukkan 17,5 juta atau 30 persen dari 58 juta

kematian di dunia, disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. Dari seluruh

angka tersebut, penyebab kematian antara lain disebabkan oleh serangan jantung (7,6

juta penduduk), stroke (5,7 juta penduduk), dan selebihnya disebabkan oleh penyakit

jantung dan pembuluh darah (4,2 juta penduduk) (Guntoro, 2013). Di Indonesia pada
tahun 2009, SKA masuk dalam kategori 10 besar penyakit tidak menular yang menjadi

penyebab kematian di rumah sakit di seluruh Indonesia yaitu sekitar 6,25% (Kemenkes,

2012). Begitupun di Jawa Timur, SKA merupakan salah satu dari 20 penyakit terbanyak

di rumah sakit di provinsi Jawa Timur yaitu sekitar 1,45% (Dinkes Jawa Timur, 2010).

Berdasarkan rekapitulasi kunjungan tahun 2015 total kasus pasien Rawat Inap di

RSI Gondanglegi Kabupaten Malang sebanyak 519 pasien, dari data tersebut jumlah

pasien SKA yang memerlukan perawatan intensif mencapai 118 pasien, sedangkan

angka kematian dengan kasus SKA diruang intensif mencapai 14% dari total kasus

pasien SKA yang masuk diruang ICU. Sedangkan pada bulan Maret sampai dengan

April 2016 jumlah pasien sindrom koroner akut mencapai 25 pasien (Rekam Medik RSI

Gondanglegi Kabupaten Malang 2016).

Semadi atau meditasi adalah praktek relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran

dari semua hal yang membebani maupun yang mencemaskan dalam hidup kita sehari-

hari (wikipedia). Manfaat meditasi yang kita lakukan bisa secara langsung maupun tidak

langsung kita rasakan secara fisik. Salah satu manfaat tersebut adalah kesembuhan yang

kita peroleh, jika kita menderita sakit tertentu. Dari sudut pandang fisiologis, meditasi

adalah anti stress yang paling baik. Saat Anda mengalami stress, denyut jantung dan

tekanan darah meningkat, pernafasan menjadi cepat dan pendek, dan kelenjar adrenalin

memompa hormon – hormon stress. Selama Anda melakukan meditasi, detak jantung

melambat, tekanan darah menjadi normal, pernafasan menjadi tenang, dan tingkat

hormon stress menurun. Bahkan, riset atas para pendeta oleh Universitas Winconsin,

menunjukkan bahwa praktek meditasi melatih otak untuk menghasilkan lebih banyak
gelombang Gamma, yang dihasilkan saat orang bahagia (wikipedia). Melalui meditasi

yang benar, organ tubuh manusia akan distimulasi, dirangsang sehingga memproduksi

berbagai hormon yang dapat menghilangkan rasa sakit serta mengembalikan fungsi

tubuh (Effendi, 2009).

Melihat begitu manfaatnya teknik meditasi dalam menurunkan intensitas nyeri

ini, maka sudah selayaknya meditasi diterapkan dalam mengatasi nyeri. Peran

perawat dalam mengembangkan teknik ini sebagai proses asuhan keperawatan secara

mandiri (Sumartini, 2012)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian untuk

mengetahui pengaruh meditasi terhadap intensitas nyeri pada pasien Sindrom

Koroner Akut di ICU RSI Gondanglegi.


METODOLOGI PENELITIAN

2. Desain Penelitian

Desain penelitian dalam penelitian ini adalah one group pre test and post test.

Menurut Notoatmodjo (2010) rancangan ini adalah suatu rancangan penelitian tanpa

kelompok pembanding (kontrol), dilakukan observasi pertama (pretest) yang

memungkinkan penelitian dapat menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah

adanya eksperimen (program). Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut:

Pretest Perlakuan Posttest

01 x O2

Gambar 4.2 Bentuk rancangan One Group pretest-postest desain

Keterangan : 01 : sebelum perlakuan meditasi

x : perlakuan meditasi

02: sesudah perlakuan meditasi

2.1 Waktu dan Lokasi penelitian

2.1.1 Waktu penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Juni 2016 sampai dengan Agustus 2016

2.2.2 Lokasi penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di ruang ICU RSI Gondanglegi


4.3 Kerangka kerja (Frame work)

Populasi
Semua pasien dengan sindrom koroner akut di RSI Gondanglegi selama 3
bulan dengan jumlah 25 orang

Sampling
Sampling incidental

Sampel
Sebagian pasien dengan sindrom koroner akut di ICU RSI Gondanglegi
dengan jumlah 24 orang

Desain Penelitian
One group pretest - posttest

Pengumpulan Data
Observasi

Pengolahan dan Analisa Data


Editing, Coding, Scoring, Tabulating, Uji Wilcoxon

Penyusunan Laporan Akhir

Gambar 4.3 Kerangka kerja penelitian “Pengaruh Meditasi Terhadap Intensitas Nyeri

Pasien SKA”
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas hasil penelitian sebagai tindak lanjut pelaksanaan

penelitian dengan judul “Pengaruh Meditasi Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada

Pasien Sindrom Koroner Akut di ICU RSI Gondanglegi”. Hasil penelitian disajikan

dalam dua bagian yaitu data umum dan data khusus. Dalam data umum dimuat

karakteristik responden berdasarkan usia, pendidikan, dan pekerjaan. Sedangkan data

khusus yang dimuat adalah hasil penelitian pengaruh meditasi terhadap penurunan

intensitas nyeri pada pasien Sindrom Koroner Akut. Data tersebut disajikan dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi.


Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSI Gondanglegi. RSI Gondanglegi merupakan


rumah sakit swasta di wilayah malang selatan.................

1) Karakteristik responden berdasarkan intensitas nyeri pre dan post meditasi


Tabel Distribusi Frekuensi intensitas nyeri responden Pre dan Post meditasi di ICU RSI
Gondanglegi pada bulan juli 2016
No Intensitas nyeri Pre meditasi Post meditasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi prosentase

1 Tidak nyeri 0 0% 0 0%

2 Nyeri ringan 0 0% 7 70 %

3 Nyeri sedang 6 60 % 3 30 %

4 Nyeri berat 4 40 % 0 0%

5 Nyeri sangat 0 0% 0 0%
hebat
Jumlah 10 100 % 10 100 %

Berdasarkan diatas menunjukkan bahwa dari 10 responden sebelum (pre)

meditasi sebagian besar responden yaitu sebanyak 6 responden (60%) mengalami nyeri

sedang, dan sesudah (post) meditasi sebagian besar responden sebanyak 7 responden

(70%) nyeri ringan.

Setelah dilakukan uji statistik wilcoxon diperoleh ρ = 0,004 jika α = 0,05 sehingga ρ<α

maka H1 diterima, jadi ada pengaruh meditasi terhadap penurunan intensitas nyeri pada

pasien sindrom koroner akut.


Pembahasan

5.2.1 Pre meditasi

Berdasarkan tabel memperlihatkan bahwa sebelum dilakukan meditasi sebagian

besar responden mengalami nyeri sedang yaitu sebanyak 60% responden. Hal ini sesuai

dengan Maulana pada 2014, bahwa gejala khas dan paling awal dari sindrom koroner

akut adalah nyeri dada. Biasanya nyeri dada yang timbul juga disertai dengan sesak

nafas.

Rasa nyeri timbul karena otot jantung tidak mendapat oksigen yang cukup.

Berkurangnya kadar oksigen memaksa miokardium mengubah metabolisme yang

bersifat aerobik menjadi metabolisme anaerobik. Hasil akhir metabolisme anaerob yaitu

asam laktat akan tertimbun sehingga menurunkan pH sel. Gabungan efek hipoksia dan

berkurangnya energi yang tersedia dapat mempercepat gangguan fungsi ventrikel kiri.

Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerakan pada jantung akan mengubah

hemodinamika. Perubahan hemodinamika bervariasi sesuai ukuran segmen yang

mengalami iskemia, dan derajat respons refleks kompensasi sistem saraf otonom

(Muttaqin, 2012).

5.2.2 Post meditasi

Berdasarkan tabel memperlihatkan bahwa sesudah dilakukan meditasi sebagian

responden mengalami nyeri ringan yaitu sebanyak 70% responden. Hal ini seperti

terdapat dalam Effendi (2009) bahwa secara umum meditasi akan memberikan manfaat

yang nyata bagi fisik, antara lain mengurangi rasa sakit, mengurangi sesak nafas, dan

gejala-gejala sakit akan menurun.


Dalam penelitiannya, Herbert Benson ingin membuktikan sejauh mana meditasi

memberikan manfaat bagi manusia. Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa melalui

meditasi yang benar, organ tubuh manusia akan distimulasi, dirangsang sehingga

memproduksi berbagai hormon yang dapat menghilangkan rasa sakit serta

mengembalikan fungsi tubuh (Effendi, 2009).

Pengaruh meditasi terhadap penurunan intensitas nyeri pasien sindrom koroner akut.

Berdasarkan tabel menunjukkan ada pengaruh meditasi terhadap penurunan intensitas

nyeri pada pasien sindrom koroner akut. Dari hasil uji statistik wilcoxon diperoleh nilai

ρ= 0,004 jika α=0,05 maka ρ < α sehingga H1 diterima. Jadi ada pengaruh meditasi

terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien sindrom koroner akut.

Menurut pandangan medis, apabila seseorang mengalami stres yang

berkepanjang, didalam tubuhnya akan terjadi reaksi hormon kortisol dan adrenalin.

Reaksi ini akan memaksa jantung memompa darah lima kali lebih cepat dari kecepatan

normal sehingga syaraf akan menegang. Emosi menjadi tidak terkendali, cepat

tersinggung, dan lain sebagainya. Hal ini akan menimbulkan dampak yang amat

merugikan bagi kesehatan. Tubuh akan terimbas dan berbagai gangguan kesehatan akan

mulai dirasakan. Sedangkan jika seseorang melakukan meditasi, frekuensi getaran

gelombang otak turun, napas akan melambat, dan oksigen yang terpakai hemat. Dalam

keadaan seimbang, tubuh akan distimulasi secara alami untuk memproduksi hormon

melantonin dan endorfin, yang bereaksi menghilangkan rasa sakit, menimbulkan rasa

tenang, dan pada akhirnya akan merangsang organ-organ tubuh untuk mereproduksi sel-

sel yang telah rusak. Secara bertahap, akan terjadi self-healing atau penyembuhan diri-

sendiri dari dalam tubuh kita (Effendi, 2007).


KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

6.1.1 Intensitas nyeri pasien sindrom koroner akut di ICU RSI Gondanglegi sebelum

(pre) dilakukan meditasi sebagian besar mengalami nyeri sedang

6.1.2 Intensitas nyeri pasien sindrom koroner akut di ICU RSI Gondanglegi sesudah

(post) dilakukan meditasi sebagian besar mengalami nyeri ringan

6.1.3 Ada pengaruh meditasi terhadap penurunan intensitas nyeri pasien sindrom

koroner akut di ICU RSI Gondanglegi

6.2 Saran

6.2.1 Bagi pasien sindrom koroner akut

Diharapkan pasien sindrom koroner akut mau menerapkan meditasi untuk

membantu menurunkan intensitas nyeri.

6.2.2 Bagi petugas kesehatan

Diharapkan petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan dan informasi

kepada pasien sindrom koroner akut tentang salah satu tindakan untuk mengurangi nyeri

secara noninvasif yaitu dengan meditasi.

6.2.3 Bagi RSI Gondanglegi

Hasil penelitian dapat digunakan untuk memberikan masukan mengenai

pelayanan pada pasien sindrom koroner akut khususnya pada tindakan untuk

mengurangi intensitas nyeri yaitu dengan meditasi.


DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa data. Jakarta:
Salemba Medika

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka


Cipta

Effendi, Tjiptadinata. 2009. MEDITASI Jalan Menuju Kesembuhan Lahir dan Batin.
Jakarta: Elex Media Komputindo

http://wikipedia-org dilihat pada 13 April 2016

http://pustaka. unpad.ac.id/wp.content/uploads/2012/04/tesis sumartini, sri-pengaruh


guided imagery-relaxation terhadap intensitas nyeri angina pectoris ind.pdf dilihat pada
14 April 2016

http://eprints. Walisongo.ac.id/id/eprint/4466/tesis Hamzah, Zaifuddin- Meditasi


sebagai sarana mempertajam intuisi di Lembaga Seni Pernafasan Radiasi Tenaga
Dalam Unit Psikosufistik UIN walisongo Semarang dilihat pada 14 April 2016

http://id.wikipedia.org dilihat pada 13 April 2016

Kabo, Peter.2008. Mengungkap Pengobatan PENYAKIT JANTUNG KORONER


Kesaksian seorang ahli jantung dan ahli obat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kasron. 2012. Buku Ajar : GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER. Yogyakarta:


Nuha Medika

Maulana, Mirza. 2014. PENYAKIT JANTUNG: Pengertian, Penanganan &


Pengobatan. Jogjakarta: KATA HATI

Mubin, A.Halim. 2007. PANDUAN PRAKTIS ILMU PENYAKIT DALAM: Diagnosis


dan Terapi. Ed 2. Jakarta: EGC