Anda di halaman 1dari 5

PENINGGALAN ZAMAN PRASEJARAH

Berdasarkan benda-benda peninggalan yang ditemukan, masa prasejarah dibagi menjadi:


1. Zaman Batu
yaitu zaman ketika manusia mulai mengenal alat-alat yang terbuat dari batu. Pada zaman
ini, bukan berarti alat-alat dari kayu atau bambu tidak dibuat. Alat yang terbuat dari bahan
kayu atau bambu mudah rapuh, tidak tahan lama seperti dari batu, bekas-bekas
peninggalannya tidak ada lagi. Ciri-ciri zaman batu, yaitu :
1) Dimulai kurang lebih pada tahun 590.000 SM.
2) Peralatan yang digunakan masyarakatnya masih menggunakan bahan dari batu.
3) Alat dari batu ini digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan binatang buas,
mencari dan mengolah makanan.
4) Selain batu, digunakan juga peralatan dari kayu, tetapi tidak ada bekasnya karena lapuk dan
tidak tahan lama.
5) Pola pikir manusia masih sangat sederhana
Zaman batu ini dibagi lagi atas beberapa periode, yaitu:
a. Zaman batu tua (Palaeolithikum);
b. Zaman batu tengah (Mesolithikum);
c. Zaman batu muda (Neolithikum);
d. Zaman batu besar (Megalithikum).

2. Zaman logam
yaitu zaman sewaktu manusia sudah mampu membuat alat-alat perlengkapan hidupnya
dari logam. Teknik pembuatan alat-alat dari logam ini dengan cara melebur terlebih dahulu
bijih-bijih logam yang nanti dituangkan dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan yang
dibutuhkan. Dengan demikian, zaman logam ini tingkat kehidupan manusia sudah lebih
tinggi daripada zaman batu. Ciri-ciri zaman logam, yaitu :
1) Manusia yang hidup pada zaman ini, sudah mulai bertempat tinggal dengan menetap.
2) Perlalatan yang digunakan masyarakat sudah mulai beralih ke bahan-bahan yang terbuat dari
logam.
3) Mata pencaharian tidak hanya dari pertanian, tetapi juga melalui usaha perdagangan (jual
beli alat dari logam).
4) Pola pikir masyarakatnya mengalami kemajuan dengan bukti bahwa mereka sudah
menyentuh nilai-nilai keagamaan, yaitu melakukan ritual tradisi memuja roh nenek moyang.
5) Memeiliki kemampuan tambahan yaitu berlayar dengan menggunakan perahu cadik.
Zaman logam dibagi atas:
a. zaman tembaga,
b. zaman perunggu, dan
c. zaman besi.

A. Hasil Kebudayaan zaman Batu


Pada zaman batu peralatan hidup manusia purba terbuat dari batu. Berdasarkan
perkembangannya zaman batu dapat dapat dikelompokan menjadi empat yaitu :

1. Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)


Paleolithikum berasal dari kata Palaeo artinya tua, dan Lithos yang artinya batu sehingga
zaman ini disebut zaman batu tua. Hasil kebudayaannya banyak ditemukan di daerah Pacitan
dan Ngandong Jawa Timur. Para arkeolog sepakat untuk membedakan temuan benda-benda
prasejarah di kedua tempat tersebut, yaitu sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan
Ngandong.
Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kurang lebih 600.000 tahun silam. Kehidupan
manusia masih sangat sederhana, hidup berpindah-pindah (nomaden), dan bergantung pada
alam. Mereka memperoleh makanan dengan cara berburu, mengumpulkan buahbuahan,
umbi-umbian, serta menangkap ikan. Cara hidup seperti ini dinamakan food gathering.
Jenis peralatan yang digunakan pada zaman batu tua terbuat dari batu yang masih kasar,
seperti kapak genggam (chopper), kapak penetak (chopping tool), peralatan dari tulang dan
tanduk binatang, serta alat serpih (flake) yang digunakan untuk menguliti hewan buruan,
mengiris daging, atau memotong umbi-umbian.
2. Zaman Batu Pertengahan/Madya (Mesolithikum)
Mesolithikum berasal dari kata Meso yang artinya tengah dan Lithos yang artinya batu
sehingga zaman ini dapat disebut zaman batu tengah.
Zaman batu pertengahan diperkirakan berlangsung kurang lebih 20.000 tahun silam.
Pada zaman ini, kehidupan manusia tidak jauh berbeda dengan zaman batu tua, yaitu berburu,
mengumpulkan makanan, dan menangkap ikan. Mereka juga sudah mulai hidup menetap di
gua, tepi sungai, atau tepi pantai.
Alat-alat perkakas yang digunakan pada masa Mesolithikum hampir sama dengan alat-
alat pada zaman Palaeolithikum, hanya sudah sedikit dihaluskan. Peralatan yang dihasilkan
pada zaman Mesolithikum, antara lain kapak Sumatra (pebble), sejenis kapak genggam yang
dibuat dari batu kali yang salah satu sisinya masih alami; kapak pendek (hache courte),
sejenis kapak genggam dengan ukuran
yang lebih kecil; pipisan, batu-batu penggiling beserta landasannya; alat-alat dari tanduk dan
tulang binatang; mata panah dari batu dan juga flake.
Adapun hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan manusia purba pada zaman batu
pertengahan adalah sebagai berikut :
1) Peradaban abris sous roche (abris = tinggal, sous = dalam, roche = gua), yaitu peradaban
ketika manusia purba menjadikan gua-gua sebagai tempat tinggal. Hasil kebudayaannya
adalah Kebudayaan Sampung Bone di Gua Lawa, dekat Sampung Ponorogo, Jawa Timur,
berupa tulang manusia jenis Papua Melanesoid, flakes, alat-alat dari tulang, dan tanduk rusa
yang ditemukan pada 1928–1931 oleh van Stein Callenfels dan Kebudayaan Toala di
Lamoncong, Sulawesi Selatan. Hasil kebudayaan ini adalah lukisan yang terdapat di dinding
gua, seperti lukisan manusia, cap tangan, dan binatang yang ditemukan di Gua Raha, Pulau
Muna, Sulawesi Tenggara, dan Danau Sentani Papua.
2) Manusia purba yang tinggal di sepanjang pantai pada zaman Mesolithikum telah memiliki
kemampuan membuat rumah panggung sederhana. Kehidupan manusia purba ini menghasil
kan tumpukan sampah berupa kulit siput dan kerang di bawah rumah mereka yang disebut
kjokken moddinger (kjokken = dapur, moddinger = sampah). Sampah dapur ini banyak
ditemukan di daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan.
3) Peninggalan berupa kapak Sumatra dan kapak pendek di Indonesia sama dengan peninggalan
kebudayaan yang ditemukan di Pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, Tonkin,Yunan
Selatan. Para ahli menyimpulkan bahwa di Tonkin terdapat pusat kebudayaan pra-aksara Asia
Tenggara yang kemudian diberi nama Kebudayaan Bacson-Hoabinh.
3. Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Neolithikum berasal dari kata Neo yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu.
Neolithikum berarti zaman batu baru/muda. Pada zaman batu baru/ muda, kehidupan manusia
purba sudah berangsur-angsur hidup menetap tidak lagi berpindah-pindah. Manusia pada
zaman ini sudah mulai mengenal cara bercocok tanam meskipun masih sangat sederhana,
selain kegiatan berburu yang masih tetap dilakukan. Manusia purba pada masa neolithikum
sudah bisa menghasilkan bahan makanan sendiri atau biasa disebut food producing.
Peralatan yang digunakan pada masa neolithikum sudah diasah sampai halus, bahkan ada
peralatan yang bentuknya sangat indah. Peralatan yang diasah pada masa itu adalah kapak
lonjong dan kapak persegi. Di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan ada yang telah membuat
mata panah dan mata tombak yang digunakan untuk berburu dan keperluan lainnya.
Perkembangan penting pada zaman batu muda adalah banyak ditemukannya kapak
lonjong dan kapak persegi dengan daerah temuan yang berbeda. Kapak persegi banyak
ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Nusa
Tenggara. Adapun kapak lonjong banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Timur,
seperti Sulawesi, Halmahera, Maluku, dan Papua.
Perbedaan daerah temuan kapak persegi dan kapak lonjong tersebut diperkirakan karena
daerah penyebaran kapak persegi dan kapak lonjong bersamaan dengan persebaran bangsa
Austronesia, sebagai nenek moyang bangsa Indonesia yang datang sekitar 2000 SM.
Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Megalithikum berasal dari kata megalith dalam bahasa yunani. Kata itu tersusun atas
kata mega dan lithos, mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Jadi megalithikum dapat
berarti bangunan yang dibuat dari batu besar. Zaman batu besar diperkirakan berkembang
sejak zaman batu muda sampai zaman logam. Ciri
utama pada zaman megalithikum adalah manusia yang hidup pada zamannya sudah mampu
membuat bangunan-bangunan besar yang terbuat dari batu. Banyak terdapat bangunan-
bangunan besar terbuat dari batu ditemukan khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan
mereka seperti sarkofagus, kubur batu, punden berundak, arca, menhir, dan dolmen.
Berikut merupakan hasil kebudayaan Megalithikum beserta ciri dan fungsinya serta
tempat ditemukannya.
1) Sarkofagus adalah bangunan batu besar yang dipahat menyerupai mangkuk, yakni terdiri
atas dua keping yang ditangkupkan menjadi sepasang (satu sisi untuk bagian bawah dan sisi
lain sebagai penutupnya). Sarkofagus berfungsi sebagai peti jenasah. Banyak ditemukan di
daerah Bali.
2) Menhir adalah bangunan berupa tiang atau tugu batu yang berfungsi sebagai tanda
peringatan dan melambangkan kehormatan terhadap arwah nenek moyang. Adapun tempat
ditemukannya di Paseman Sumatra Selatan dan Sulawesi Tengah.
3) Dolmen adalah bangunan berupa meja batu yang berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji
dalam pemujaan terhadap roh nenek moyang. Adapun tempat ditemukannya di Cipari
Kuningan, Pasemah dan Nusa Tenggara.
4) Punden berundak-undak adalah bangunan berupa susunan batu bertingkat yang
menyerupai bangunan candi, yang berfungsi sebagai tempat pemujaan. Ditemukan di Lebak
Sibedug dan Bukit Hyang Jawa Timur.
5) Arca Batu adalah bangunan berupa patung manusia dan binatang yang berfungsi sebagai
bentuk penghormatan terhadap tokoh yang disukai, ditemukan di daerah Lampung, Pasemah,
Jawa Tengah dan Jawa Timur.
6) Pandhusa, benda ini berupa meja batu yang kakinya tertutup rapat berfungsi sebagai
kuburan, ditemukan di Bondowoso dan Besuki Jawa Timur.
7) Kubur batu adalah peti yang terbuat dari batu berbentuk kotak persegi panjang, yang
berfungsi sebagai tempat menyimpan jenazah. Kubur batu banyak ditemukan di Bali,
Pasemah (Sumatra Selatan), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah), dan Cirebon
(Jawa Barat).
8) Waruga, yaitu kubur batu berbentuk kubus atau bulat yang terbuat dari batu besar yang utuh.
Waruga banyak ditemukan di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.
9) Arca atau patung, yaitu bangunan batu berupa binatang atau manusia yang melambangkan
nenek moyang dan menjadi pujaan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra
Selatan) dan lembah Bada Lahat (Sulawesi Selatan).

B. Hasil Kebudayaan Zaman Logam


Kebuadayaan manusia purba pada zaman logam sudah jauh lebih tinggi atau lebih maju
jika dibandingkan dengan kebudayaan manusia purba pada zaman batu. Pada zaman logam
manusia purba sudah memiliki kemampuan melebur logam untuk membuat alat-alat yang
dibutuhkan. Kebudayaan zaman logam dapat dibagi menjadi tiga zaman yaitu zaman
perunggu, zaman tembaga, dan zaman besi.

1. Zaman perunggu
Di Indonesia tradisi logam dimulai beberapa abad sebelum masehi. Tradisi membuat
alat-alat dari perunggu merupakan ciri khas pada masa perundagian. Adapun alat-alat dari
zaman perunggu antara lain nekara, moko, kapak corong, perhiasan perunggu, arca atau
patung perunggu, dan manik-manik.
a. Nekara
Nekara dapat juga disebut Genderang Nobat atau Genderang Ketel karena bentuknya
semacam berumbung. Terbuat dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya, dan sisi
atasnya tertutup. Bagi masyarakat prasejarah, nekara dianggap sesuatu yang suci. Di daerah
asalnya, Dongson, pemilikan nekara merupakan simbol status, sehingga apabila pemiliknya
meninggal, dibuatlah nekara tiruan yang kecil yang dipakai sebagai bekal kubur. Di Indonesia
nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, antara lain ditabuh untuk memanggil
roh nenek moyang, dipakai sebagai genderang perang, dan dipakai sebagai alat memanggil
hujan. Daerah penemuan nekara di Indonesia antara lain, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau
Roti, dan Pulau Kei serta Pulau Selayar, Pulau Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Sangean. Nekara-
nekara yang ditemukan di Indonesia, biasanya beraneka ragam sehingga melalui hiasan-
hiasan tersebut dapat diketahui gambaran kehidupan dan kebudayaan yang ada pada
masyarakat prasejarah. Nekara yang ditemukan di Indonesia ukurannya besar-besar. Contoh
nekara yang ditemukan di Desa Intaran daerah Pejeng Bali, memiliki ketinggian 1,86 meter
dengan garis tengahnya 1,60 meter. Nekara tersebut dianggap suci sehingga ditempatkan di
Pure Penataran Sasih. Dalam bahasa Bali sasih artinya bulan, maka nekara tersebut
dinamakan nekara Bulan Pejeng.
b. Moko
Merupakan genderang kecil yang terbuat dari perunggu. Bangunan ini berguna untuk alat
upacara atau sebagai mas kawin. Daerah penemuan moko ini adalah di Alor.

c. Kapak Corong
Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena seolah-olah kapak disamakan dengan
sepatu dan tangkai kayunya disamakan dengan kaki. Bentuk bagian tajamnya kapak corong
tidak jauh berbeda dengan kapak batu, hanya bagian tangkainya yang berbentuk corong.
Corong tersebut dipakai untuk tempat tangkai kayu. Bentuk kapak corong sangat beragam
jenisnya. Salah satunya ada yang panjang satu sisinya yang disebut dengan candrosa,
bentuknya sangat indah dan dilengkapi dengan hiasan.
d. Bejana perunggu
Bejana perunggu ditemukan di tepi Danau Kerinci Sumatra dan Madura, bentuknya
seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan
yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip
huruf J.
e. Arca-arca perunggu
Arca perunggu yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk bervariasi, ada
yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya, arca perunggu
bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya. Adapun fungsi dari cincin
tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu
yang kecil dipergunakan sebagai bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di
Indonesia adalah Palembang Sumsel, Limbangan Bogor, dan Bangkinang Riau.
f. Perhiasan perunggu
Perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya, yaitu seperti
kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan
tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari
anak-anak. Untuk itu, para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar. Perhiasan perunggu
ditemukan di Malang, Bali, dan Bogor.
g. Manik-manik
Manik-manik yang berasal dari zaman perunggu ditemukan dalam jumlah yang besar
sebagai bekal kubur sehingga memberikan corak istimewa pada zaman perunggu
2. Zaman tembaga
Di Indonesia tidak mengalami zaman tembaga. Hal ini terlihat dari tidak diketemukannya
barang-barang peninggalan yang terbuat dari tembaga.

3. Zaman besi
Zaman besi adalah zaman ketika orang telah dapat melebur besi dari bijihnya untuk
dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Oleh karena membutuhkan suhu yang sangat
panas untuk melebur bijih besi, maka alat-alat yang dihasilkan pun lebih sempurna. Teknik
pembuatan alat yang terbuat dari logam dapat dikategorikan menjadi dua cara sebagai
berikut.
1) A cire perdue atau cetakan lilin, caranya yaitu membuat bentuk benda yang dikehendaki
dengan lilin. Setelah membuat model dari lilin, maka ditutup dengan menggunakan tanah,
dan dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu, dibakar sehingga lilin yang terbungkus
dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah. Lubang bagian atas
dimasukkan cairan perunggu, dan apabila sudah dingin, cetakan tersebut dipecah sehingga
keluarlah benda yang dikehendaki.
2) Bivalve atau setangkup, caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditungkupkan dan dapat
dibuka, sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah benda yang
dikehendaki, cetakan tersebut biasanya terbuat dari batu atau kayu.
Benda-benda yang diketemukan dimasa ini tidak begitu banyak karena mungkin alat-alat
tersebut telah berkarat sehingga hancur. Kemungkinan alat-alat tersebut dikubur bersma
dengan orang atau pemiliknya yang telah meninggal. Adapun alat-alat dari tradisi besi yang
banyak diketemukan antara lain, mata kapak, mata pisau, mata sabit, mata pedang, cangkul,
tongkat dan gelang besi. Daerah ditemukannya alat-alat ini adalah Bogor, Wanasari,
Ponorogo, dan Besuki. Zaman besi menandakan zaman terakhir dari zaman prasejarah.