Anda di halaman 1dari 17

AKUNTANSI PEMERINTAHAN INDONESIA

TEORI LAPORAN KEUANGAN, BASIS, PERSAMAAN AKUNTANSI, DAN


JENIS-JENIS LAPORAN KEUANGAN

OLEH:

KELOMPOK 3

NI KADEK JYOTI KRISHNA MAHESWARI 1506305084

DEVIANA SIJABAT 1506305156

ALFIAN NURWANTO PUTRA 1607531056

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
2
DAFTAR ISI

Pertemuan III

DAFTAR ISI............................................................................................................ i

I. PEMBAHASAN................................................................................................... 1

1.1 Tujuan Laporan Keuangan Pemerintah.................................................... 1

1.2 Basis Akuntansi Dan Periode Pelaporan Pemerintah............................... 1

1.3 Persamaan Akuntansi Pemerintah............................................................ 3

1.4 Identifikasi Dan Penanggungjawab Laporan Keuangan.......................... 5

1.5 Jenis-Jenis Laporan Keuangan Pemerintah.............................................. 7

II. Kesimpulan......................................................................................................... 9

DAFTAR RUJUKAN.............................................................................................. 10

LAMPIRAN............................................................................................................ 11

i
ii
I. PEMBAHASAN
1. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH

Tujuan Laporan Keuangan


Secara sfesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk
menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk
menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercaya
kepadanya, dengan:
a. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban,
dan ekuitas dana pemerintah.
b. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah.
c. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber
daya ekonomi.
d. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya.
e. Menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya.
f. Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai
penyelenggaraan kegiatan pemerintah.
g. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan
entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.

2. BASIS AKUNTANSI DAN PERIODE PELAPORAN PEMERINTAH

Penggunaan Basis Akuntansi


Laporan keuangan disajikan menganut basis akuntansi yang merupakan
prinsip-prinsip akuntansi yang menentukan kapan pengaruh atas transaksi atau
kejadian harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Basis akuntansi pada
umumnya ada 2 yaitu basis kas dan basis akrual.
Dalam akuntansi berbasis kas, transaksi ekonomi dan kejadian lain diakui
ketika kas diterima oleh kas pemerintah atau dibayarkan dari kas pemerintah.
Sedangkan dalam akuntansi berbasis akrual berarti suatu basis akuntansi diman
transaksi ekonomi dan peristiwa-peristiwa lain diakui dan dicatat dalam catatan
akuntansi dan dilaporkan dalam periode laporan keuangan pada saat terjadinya
transaksi tersebut, bukan pada saat kas atau ekuivalen kas diterima atau dibayarkan.
Menurut PSAP Nomor 01 basis akuntansi yang digunakan dalam menyusun
laporan keuangan pemerintah pada saat ini adalah basis kas untuk pengakuan

1
pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan. Sedangkan basis akrual untuk
pengakuan asset, kewajiban, dan ekuitas dana.
Entitas pelaporan diperkenankan untuk menyelenggarakan akuntansi dan
penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual, baik
dalam pengakuan pendapatan,belanja, transfer dan pembiayaan, maupun dalam
pengakuan asset, kewajiban, dan ekuitas dana. Namun, entitas pelaporan tersebut
tetap menyajikan Laporan Realisasi Anggaran (LRA) berdasarkan basis kas.
Rekonsiliasi dari LRA berbasis akrual ke LRA berbasis kas wajib disajikan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Periode Pelaporan
Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
Penyajian laporan keuangan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBN/APBD diwajibkan untuk setiap periode tahun anggaran APBN/APBD,
dimana dalam masa 1 tahun anggaran terhitung mulai 1 januari sampai dengan
tanggal 31 Desember. Untuk itu, periode pelaporan keuangan tahunan adalah per
tanggal 31 Desember untuk Neraca dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember
LRA dan LAK.
Dalam situasi tertentu, tanggal laporan suatu entitas berubah dan laporan
keuangan tahunan disajikan dengan suatu periode yang lebih panjang atau lebih
pendek dari satu tahun, entitas pelaporan mengungkapkan informasi berikut:
1) Alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun.
2) Fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk laporan tertentu seperti arus
kas dan catatan-catatan terkait tidak dapat dibandingkan.
Contohnya ketika dalam masa transisi dari akuntansi berbasis kas ke akrual,
suatu entitas pelaopran mengubah tanggal pelaporan entitas-entitas akuntansi yang
berada dalam entitas pelaporan untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan
konsolidasian. Dalam kondisi seperti ini, entitas pelaporan harus mengungkapkan
informasi mengenai alasan penggunaan periode pelaporan tidak satu tahun, dan fakta
bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk laporan tertentu seperti arus kas dan catatan-
catatan terkait tidak dapat diperbandingkan.
Sesuai dengan UU nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, batas
waktu penyampaian laporan keuangan sebagai laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD selambat-lambatnya 6 bulan setelah berakhirnya tahun
anggaran.
Selain laporan keuangan tahunan, setiap entitas pelaporan juga diwajibkan
menyusun laporan keuangan interim, yaitu setidak-tidaknya setiap semester

2
sebagaiman diamanatkan dalam peraturan pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang
penyusunan rencana kerja dan anggaran kementriannegara/lembaga dan peraturan
pemerintah nomor 8 tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi
pemerintah.

3. PERSAMAAN AKUNTANSI PEMERINTAH

Proses pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dalam akuntansi


menggunakan sistem berpasangan (double entry), artinya pencatatan (penjurnalan)
suatu transaksi keuangan digolongkan/ atau melibatkan minimal ke dalam dua jenis
rekening.
Sistem pencatatan berpasangan berdasarkan pada logika persamaan dasar
akuntansi sebagai berikut:
1. Persamaan Akuntansi Untuk Neraca
Dalam akuntansi pada umumnya, kita mengenal persamaan akuntansi sebagai
berikut:
ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS
Persamaan tersebut, dalam akuntansi pemerintahan berubah menjadi :
ASET = KEWAJIBAN + EKUITAS DANA
 Aset, dalam bahasa sederhana dalam diartikan, sebagai sumber daya ekonomis
yang dimiliki dan atau dikuasai dan dapat diukur dengan satuan uang. Dalam
persamaan dasar akuntansi tersebut, Aset merupakan wujud kekayaan yang
mempunyai nilai uang yang sama dengan sumber (darimana wujud kekayaan
tersebut diperoleh), yaitu Kewajiban ditambah Ekuitas Dana. Artinya,
bertambahnya Aset dapat diperoleh dari (penambahan) Kewajiban dan/atau
(penambahan) Ekuitas Dana. Demikian pula sebaliknya, berkurangnya Aset
dapat digunakan untuk (pengurangan) Kewajiban dan/atau (pengurangan)
Ekuitas Dana.
 Kewajiban, secara sederhana dapat diartikan, sebagai utang kepada pihak
ketiga sebagai akibat transaksi keuangan masa lalu (tahun-tahun anggaran
sebelumnya), atau berupa penerimaan yang perlu dibayar kembali. Dalam
persamaan dasar akuntansi, menunjukkan bahwa bertambahnya Kewajiban
dapat menyebabkan bertambahnya Aset dan/ atau berkurangnya Ekuitas Dana.
Demikian pula sebaliknya, berkurangnya Kewajiban dapat menyebabkan
berkurangnya Aset dan/atau bertambahnya Ekuitas Dana.
 Ekuitas dana, adalah jumlah kekayaan bersih yang merupakan selisih antara

3
jumlah Aset dengan jumlah Kewajiban. Dalam persamaan dasar akuntansi,
menunjukkan bahwa bertambahnya Ekuitas Dana dapat menyebabkan
bertambahnya Aset dan/atau berkurangnya Kewajiban. Demikian pula
sebaliknya, berkurangnya Ekuitas Dana dapat menyebabkan berkurangnya
Aset dan/atau bertambahnya Kewajiban.

Di sini terdapat perbedaan yang mendasar antara ekuitas dana dan ekuitas. Di
perusahaan, selisih antara aset dan utang adalah ekuitas yang menunjukkan adanya
kepemilikan antara perusahaan tersebut oleh pemegang sahamnya. Sementara itu, di
organisasi pemerintah ekuitas dana tidak menunjukkan adanya kepemilikan siapa pun
karena memang tidak ada kepemilikan yang bisa diakui.
Teknik akuntansi pemerintahan, seperti digambarkan dalam persamaan tersebut
disebut sebagai teknik akuntansi dana. Akuntansi dana memandang bahwa sumber
daya atau kekayaan yang digambarkan dalam neraca tidak ada kepemilikannya dan
tidak digunakan untuk mencari keuntungan, melainkan sebuah kekayaan yang
dibatasi (restricted) pada sebuah tujuan atau misi tertentu.
Pemerintah Indonesia adalah salah satu contah yang menggunakan akuntansi
dana dengan system dana tunggal. Artinya, seluruh sumber daya yang dimiliki
pemerintah merupakan kekeayaan yang memiliki batasan penggunaan, yaitu untuk
mewujudkan visi, misi, dan tujuan pemerintah.

2. Persamaan untuk Laporan Realisasi Anggaran (LRA)


Akuntansi Keuangan Daerah pada dasarnya merupakan proses pencatatan,
penggolongan dan peringkasan transaksi dalam rangka pelaksanaan APBD.
Persamaan struktur APBD menunjukkan hubungan antara Pendapatan Daerah (P)
dan Belanja Daerah (B) di satu sisi, dan Pembiayaan berupa Penerimaan Daerah
(PT) serta Pembiayaan berupa Pengeluaran Daerah (PK) pada sisi lainnya.
Dalam Struktur APBD, selisih antara Pendapatan Daerah dengan Belanja
Daerah (P – B) sama dengan Surplus (S) atau Defisit (D), atau dinyatakan dalam
bentuk persamaan sebagai berikut:

P – B = S atau D
di mana:
P – B = S, jika P lebih besar daripada B
P – B = D, jika P lebih kecil daripada B
Surplus dialokasikan ke Pembiayaan berupa Pengeluaran Daerah (PK). Artinya

4
jika terjadi Surplus, alokasi Surplus tersebut menambah Pembiayaan berupa
Pengeluaran Daerah (+PK). Sebaliknya jika terjadi;
Defisit ditutupi dari Pembiayaan berupa Penerimaan Daerah (PT), artinya
penutupan Defisit mengurangi Pembiayaan berupa Penerimaan Daerah (PT).

dapat dikembangkan menjadi: atau

 Pendapatan Daerah adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Daerah


yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali
oleh pemerintah.

 Belanja Daerah adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum


Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun
anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali
oleh pemerintah.

 Surplus/defisit adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja


selama satu periode pelaporan.

Pembiayaan setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau


pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan
maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.

4. IDENTIFIKASI DAN PENANGGUNGJAWAB LAPORAN KEUANGAN

Identifikasi Laporan Keuangan


Laporan keuangan diidentifikasi dan dibedakan secara jelas dari informasi
lainnya dalam dokumen terbitan yang sama. Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan hanya berlaku untuk laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain
yang disajikan dalam suatu laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu,
penting bagi pengguna untuk dapat membedakan informasi yang disajikan menurut
Standar Akuntansi Pemerintahan dari informasi lain, namun bukan merupakan
subyek yang diatur dalam pernyataan Standar ini.

5
Setiap komponen laporan keuangan harus diidentifikasi secara jelas. Di
samping itu, informasi berikut harus dikemukakan secara jelas dan diulang pada
setiap halaman laporan bilamana perlu untuk memperoleh pemahaman yang
memadai atas informasi yang disajikan:
a) Nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya.
b) Cakupan laporan keuangan, apakah satu entitas tunggal atau konsolidasian
dari beberapa entitas pelaporan.
c) Tanggal pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan , yang
sesuai dengan komponen-komponen laporan keuangan.
d) Mata uang pelaporan.
e) Tingkat ketepatan yang digunakan dalam penyajian angka-angka pada
laporan keuangan.

Laporan keuangan sering kali lebih mudah dimengerti bilamana imformasi


disajikan dalam ribuan atau jutaan rupiah. Penyajian demikian ini dapat diterima
sepanjang tingkat ketepatan dalam penyajian angka-angka diungkapkan dan
informasi yang relevan tidak hilang.

Penanggung Jawab Laporan Keuangan


Menurut PSAP 01 Paragraf 13, tanggung jawab penyususnan dan penyajian
laporan keuangan berada pada pimpinan entitas. Dalam lingkup pemerintahan daerah
yang dimaksud pimpinan entitas adalah setiap kepala satuan kerja perangkat daerah
(SKPD) pada sebagai entitas akuntansi dan setiap gubernur/bupati/walikota sebagai
entitas pelaporan. Kewajiban dan tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan
keuangan untuk setiap kepala SKPD juga dinyatakan dalam Pasal 56 ayat (2) huruf a
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara yang
berbunyi: “ Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang
meliputi laporan realisasi anggaran, neraca, dan catatan atas laporan keuangan.”.
Oleh karena itu tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan keuangan berada
pada pimpinan entitas.

6
5. JENIS-JENIS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH

Jenis-Jenis Laporan Keuangan


Laporan keuangan pemerintahan di Indonesia paling tidak terdiri dari:
1. Laporan Realisasian Anggaran (LRA)
Laporan yang disusun secara sistematis tentang realisasi pendapatan, belanja,
dan pembiayaan selama suatu periode tertentu. LRA menyajikan sekurang-
kurangnya unsur-unsur sebagai berikut:
a. Pendapatan.
Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Negara/Daerah. Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.
Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya
penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat dan dana bagi hasil dari
pemerintah provinsi. Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas
bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah
netonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran). Dalam hal besaran
pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto (biaya) bersifat variabel terhadap
pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan
proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan. Dalam hal badan layanan
umum, pendapatan diakui dengan mengacu pada peraturan perundangan yang
mengatur mengenai badan layanan umum. Pengembalian yang sifatnya sistemik
(normal) dan berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan-LRA pada periode
penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang
pendapatan-LRA.

b. Belanja.
Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Negara/Daerah. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya
terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit
yang mempunyai fungsi perbendaharaan.
Dalam hal badan layanan umum, belanja diakui dengan mengacu pada
peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
Belanja diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan
fungsi. Klasifikasi ekonomi adalah pengelompokan belanja yang didasarkan pada
jenis belanja untuk melaksanakan suatu aktivitas. Klasifikasi ekonomi untuk
pemerintah pusat yaitu belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain. Klasifikasi ekonomi untuk

7
pemerintah daerah meliputi belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja tak terduga. Belanja operasi adalah
pengeluaran anggaran untuk kegiatan sehari-hari pemerintah pusat/daerah yang
memberi manfaat jangka pendek. Belanja operasi antara lain meliputi belanja
pegawai, belanja barang, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial.
c. Transfer.
d. Surplus/Deficit.
Selisih antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan
dicatat dalam pos Surplus/Defisit-LRA. Surplus-LRA adalah selisih lebih antara
pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan.
Defisit-LRA adalah selisih kurang antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu
periode pelaporan.

e. Pembiayaan.
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik
penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali,
yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit
dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat
berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran pembiayaan
antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian
pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.
f. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran.
SiLPA/SiKPA adalah selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan
pengeluaran selama satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara realisasi
pendapatan-LRA dan Belanja, serta penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama
satu periode pelaporan dicatat dalam pos SiLPA/SiKPA. Sisa lebih/kurang
pembiayaan anggaran pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih.

Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran


dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.
Laporan Realisasi Anggaran dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan atas Laporan
Keuangan. Penjelasan tersebut memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan
anggaran seperti kebijakan fiskal dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan
yang material antara anggaran dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih
lanjut angka-angka yang dianggap perlu untuk dijelaskan.

8
Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi pendapatan menurut jenis
pendapatan-LRA dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan rincian lebih lanjut jenis
pendapatan disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan. Entitas pelaporan
menyajikan klasifikasi belanja menurut jenis belanja dalam Laporan Realisasi
Anggaran. Klasifikasi belanja menurut organisasi disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran atau di Catatan atas Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja menurut fungsi
disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

2. Neraca
Laporan yang disusun secara sistematis mengenai posisi asset, kewajiban, dan
ekuitas dana untuk suatu entitas pada saat tertentu. Neraca mencantumkan sekurang-
kurangnya pos-pos berikut:
a) Kas dan Setara Kas.
b) Investasi Jangka Pendek.
c) Piutang Pajak dan Bukan Pajak.
d) Persediaan.
e) Investasi Jangka Panjang.
f) Asset Tetap.
g) Kewajiban Jangka Pendek.
h) Kewajiban Jangka Panjang.
i) Ekuitas Dana.

3. Laporan Arus Kas (LAK)


Laporan yang disusun secara sistematis untuk menyajikan informasi mengenai
penerimaan dan pengeluaran kas melalui kas umum Negara/kas Daerah selama
periode tertentu. Penerimaan dan pengeluaran kas dalam Laporan Arus Kas disajikan
berdasarkan aktivitas-aktivitas keuangan pemerintah. Penerimaan dan pengeluaran
dikelompokkan berdasarkan aktivitas tersebut. Aktivitas tersebut terdiri dari:
a) Aktivitas Operasi.
b) Investasi Asset Non Keuangan.
c) Aktivitas Pembiayaan.
d) Aktivitas Non Anggaran.

4. Catatan Atas Laporan Keuangan


Cacatan atas lapoaran keuangan dimaksudkan agar laporan keuangan dapat
dipahami oleh pembaca secara luas, tidak terbatas hanya untuk pembaca tertentu
ataupun manajemen entitas laporan. Oleh karena itu, laporan keuangan mungkin
mengandung informasi yang dapat mempunyai potensi kesalahpahaman diantara
pembaca. Untuk menghindari kesalahpahaman, laporan keuangan harus dibuat

9
catatan atas laporan keuangan yang berisi informasi untuk memudahkan pengguna
dalam memahami laporan keuangan.
Kesalahpahaman dapat saja disebabkan oleh persepsi dari pembaca laporan
keuangan. Pembaca yang terbiasa dengan orientasi anggaran mempunyai potensi
kesalahpahaman dalam memahami konsep akuntansi akrual. Pembaca yang terbiasa
dengan laporan keuangan sektor komersial cenderung melihat laporan keuangan
pemerintah seperti laporan keuangan perusahaan. Untuk itu diperlukan pembahasan
umum dan referensi ke pos-pos laporan keuangan menjadi penting bagi pembaca
laporan keuangan.
Selain itu, pengungkapan basis akuntansi dan kebijakan akuntansi yang
diterapkan akan membantu pembaca untuk dapat menghindari kesalahpahaman
dalam membaca laporan keuangan.

10
II. KESIMPULAN

Untuk mengetahui posisi dan kinerja keuangan suatu entitas dapat dilihat
dalam laporan keuangannya untuk suatu periode atau pada saat tertentu. Laporan
keuangan merupakan laporan yang disusun secara sistemtis mengenai posisi
keuangan suatu entitas pada saat tertentu; dan kinerja suatu entitas pada periode
tertentu.
Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai
posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas
pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi
keputusan mengenai alokasi sumber daya. Sehingga bagi pemerintahan, laporan
keuangan ini bertujuan untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan
akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya. Adapun yang bertanggungjawab
dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan berada pada pimpinan entitas.

11
DAFTAR RUJUKAN

Mursyidi. 2009. Akuntansi Pemerintahan di Indonesia. Bandung: PT Refika


Aditama

Nordiawan, Deddy. ed. 2007. Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Salemba


Empat.

Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17


Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. Lembaran Negara Ri Tahun 2003 No. 47.
Sekretariat Negara. Jakarta.

12
13