Anda di halaman 1dari 15

1.

Indikasi rawat inap & pulang pasien cedera kepala


Indikasi rawat inap :
- Penurunan kesadaran ( GCS<15 dan gangguan orientasi)
- Riwayat kehilangan kesadaran (>15 menit)
- Amnesia posttraumatika (>1jam)
- Tanda-tanda peningkatan TIK (muntah, nyeri kepala sedang-berat, penurunan
kesadaran)
- Fraktur cranium
- Rinore dan otore
- CT Scan abnormal

Indikasi pulang :

- Keadaan pasien stabil dalam 2x24 jam dan gangguan subjektif pasien sudah tidak
ada
- GCS 15 dan orientasi (waktu & tempat) baik
- Tanda vital stabil
- Tidak ada muntah / sakit kepala
- Tidak ada fraktur kranium
- Defisit neurologis sudah berkurang, jika ada parese tetapi keadaan pasien stabil
boleh pulang

2. Indikasi operasi pada cedera kepala


a. Cedera kranioserebral tertutup
- EDH
Volume hematom >30 ml
Keadaan pasien memburuk
Midline shift > 3 mm
- ICH
Hematoma besar
Progresivitas kelainan neurologi
Terjadi herniasi
- SDH
Midline shift > 3mm
Kompresi / obliterasi sisterna basalis
b. Cedera kranioserebral terbuka
- Liquorrhea tidak berhenti ≥ 14 hari
- Fraktur terbuka kranioserebral
c. Edema serebri dan tanda-tanda TIK
3. Perbedaan SDH & EDH
SDH EDH

GEJALA KLINIS Terjadi penurunan kesadaran Terjadi penurunan kesadaran


dalam 24-48 jam, nyeri ≤ 24 jam, nyeri kepala,
kepala memberat progresif, muntah proyektil, terdapat
muntah proyektil (tanda interval lucid (selang waktu
peningkatan TIK) antara pasien sadar setelah
kejadian trauma kepala
dengan penurunan
kesadaran kemudian)

PF Penurunan kesadaran, Pupil anisokhor (midriasis


dilatasi pupil / non reaktif disisi lesi akibat herniasi
pupil pada ipsilateral, unkus), hemiparese, reflex
Hemiparese kontralateral. patologis babinski + pada
Kronik SDH : kontralateral lesi,
Papiledema, hiperefleks /
reflex asimetri, hemianopia,
hemiparesis, gangguan saraf
cranial III & VI
CT SCAN Lesi hiperdens berbentuk Lesi hiperdens umumnya di
bulan sabit daerah temporal bentuknya
cembung

LETAK LESI Perdarahan diantara Perdarahan diantara tulang


duramater (membrane tengkorak dan duramater
duramater interna) dan
arakhnoid
LOKASI Robeknya bridging vein, sinus Robeknya arteri meningea
venosus duramater, atau media
robeknya arakhnoidea

4. Keluhan stroke? Bedain TIA, RIND, STROKE IN EVOLUTION, COMPLETE STROKE (gejala klinis)?
Jelaskan silent stroke?
- Keluhan stroke : (terjadi keluhan dengan onset mendadak)
Kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak sebelah atau kedua sisi
Nyeri kepala, mual-muntah, penurunan kesadaran
Bibir mencong
Bicara pelo atau tidak bias berkomunikasi
Gangguan penglihatan
Gangguan menelan, sering tersedak
Kejang
Gangguan fungsi sensorik (rasa baal kesemutan)
- TIA
Hemiparesis sepintas atau amnesia umum sepintas selama ≤ 24 jam
- RIND (Reversible Ischemia Neurologic Deficit)
Keluhan-keluhan stroke dengan mekanisme kompensasi masih mampu memulihkan
fungsi neurologic dalam waktu beberapa hari sampai 2 minggu.
- Stroke in evolution (stroke yang sedang terjadi)
Terjadi akibat penyumbatan parsial dari thrombus pada pembuluh darah otak.
Gejala stroke sudah ada dan masih akan bertambah berat lagi gejalanya. Mulanya
gejalanya ringan, kemudian dalam hitungan jam berangsur-angsur memburuk.
Misalnya awalnya pasien dalam kondisi sadar semakin hari terjadi penurunan
kesadaran.
- Stroke complete
Gangguan neurologic telah menetap
- Silent stroke
Stroke yang gejalanya ringan atau asimptomatik dan pasien tidak menyadari bahwa
pasien menderita stroke. Misalnya sering lupa (gangguan memori yang ringan).
Silent stroke menyebabkan kerusakan pada otak dan membuat risiko tinggi untuk
pasien mengalami TIA dan Complete stroke.
Jenis silent stroke :
Stroke lakunar infark lakunar <1.5cm yang terjadi karena oklusi pembuluh darah
kecil yaitu oklusi mikroateromatosis atau lipohyalinosis pada pembuluh darah
cabang dari sirkulus Willisi (a.serebri media atau a.vertebralis/basilaris). Yang paling
sering kena yaitu ganglia basal, capsula interna, pons.

5. Perbedaan CVD SI & SH ? Faktor risiko SI ? Patofisiologi SI ?


CVD SH CVD SI

Onset Mendadak Mendadak

Epidemiologi Usia muda >50 tahun

Nyeri kepala + (hebat) + ringan

dipicu Aktivitas Istirahat

Kejang + -

Papil edema + -

muntah + -

babinski + -

FR :
- YANG TIDAK DAPAT DIUBAH:
Usia
Jenis kelamin
Genetik
- YANG DAPAT DIUBAH
Hipertensi
Kebiasaan merokok
DM II
Penyakit jantung
Dislipidemia
Aterosklerosis
Obesitas
- Faktor Risiko Mayor : Hipertensi, DM, Kelainan Jantung
- Faktor Risiko Minor : hiperkolesterolemia, merokok, hiperkoagulasi, obesitas, usia
lanjut, riwayat TIA/Stroke, RPK

Patof baca di buku hitam hal 288

6. Perbedaan chorea & atetosis?


Chorea : gerakan involunter yang cepat, menyentak, berulang-ulang yang dimulai dari satu
bagian tubuh, bergerak tiba-tiba, terus-menerus sampai bagian tubuh lainnya menghasilkan
berbagai pola gerakan. Diawali dari bagian distal dari ekstremitas dan bagian proksimal akan
mengikuti.
Gejala klinis Chorea : biasanya pada lengan, tungkai, dan wajah (khas pada anggota gerak
atas) terutama bagian distal, gerakannya aritmik yang bergerak dari otot-otot sinergis dan
antagonis.
Atetosis : gerakan involunter otot yang lambat bergelombang, dan menggeliat yang paling
sering mengenai segmen-segmen distal ekstremitas. Terjadi karena pemutusan sirkuit yang
melibatkan nucleus basalis dan korteks serebri

7. Gejala dan tanda GBS


Gejala :

a. Kelemahan progresif maksimal dalam 4 minggu yang dimulai dari bagian distal tungkai
kemudian melanda otot tungkai proksimal, bilateral
b. Gangguan sensibilitas ringan
c. Gangguan N. VII bilateral ( bilateral facial palsy)
d. Gangguan pada pergerakan otot – otot lidah (kesulitan bicara) dan menelan (disfagia)
e. Kesulitan memulai BAK, inkontinensia urin dan alvi, konstipasi
f. Kesulitan bernapas
g. Penglihatan kabur
h. Batuk yang lemah dan aspirasi
i. Gejala ISPA

Tanda :

a. Kelemahan otot bilateral


b. Refleks tendon menurun atau menghilang
c. Refleks patologis tidak ditemukan
d. TRM ( kernig dan kaku kuduk mungkin ditemukan)

8. Definisi Parkinson, Perbedaan Spastisitas dan Rigiditas

- Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif pada sistem ekstrapiramidal


- Spastisitas = ketahanan otot melawan gerakan pasif berlangsung secara sinambung tapi
pada tahap akhir gerakan fleksi atau ekstensi hilang secara mendadak  fenomena pisau
lipat  lesi pada jaras kortikospinal
- Rigiditas = kekakuan otot bersifat sinambung atau hilang timbul  lesi pada ekstrapiramidal

9. Penyakit kelumpuhan UMN dan LMN berdasarkan letak lesi


a. Kelumpuhan UMN

- Hemiplegi akibat hemilesi di korteks motorik  derajat kelumpuhan berbeda antara lengan
dan tungkai karena bagian korteks diperdarahi oleh cabang kortikal dari dua arteri yaitu
arteri serebri anterior dan arteri serebri media dan pada umumnya infark terjadi akibat
penyumbatan pada salah satu arteri.
- Hemiplegi akibat hemilesi di kapsula interna  terdapat tanda – tanda kelumpuhan UMN (
Spastisitas, hiperrefleks), disartria + rigiditas, atetosis, distonia, tremor, dan hemianopia (
jaras ekstrapiramidal juga melalui kapsula interna )
- Hemiplegi alternans akibat hemilesi di batang otak
1) Sindrom hemiplegi alternans di mesensefalon ( kelumpuhan UMN otot tubuh
kontralateral +N.XII dan N. IX & X + kelumpuhan LMN N. III ipisilateral)Lesi terjadi di
pedunkulus serebri dan menimbulkan gangguan pada N.III ipsilateral, gejala :
paralisis m. Rektus medialis, m. Rektus superior, m. Rektus inferior, m. Oblikus
inferior, dan m. Levator palpebrae superioris  strabismus divergen, ptosis dan
diplopia, paralisis m. Sfingter pupilae  midriasisSINDROM WEBER

2) Sindrom hemiplegi alternans di pons


Kelumpuhan UMN kontralateral + N.VI dan VII

3) Sindrom hemiplegi alternans di medula oblongata


Kelumpuhan UMN kontralateral + kelumpuhan LMN pada lidah ipsilateral

- Tetraplegi/kuadriplegi dan paraplegi akibat lesi di medula spinalis


1. Lesi transversal setinggi C5  kelumpuhan UMN pada otot tubuh, di bawah C5 ( sebagian dari
otot kedua lengan, toraks, abdomen, serta seluruh otot tungkai [kuadriplegi/tetraplegi]). Pada
tingkat lesi terjadi kelumpuhan LMN  gangguan sensorik
2. Lesi pada torakal atau lumbal atas  paraplegi ( kelumpuhan UMN tungkai + kelumpuhan LMN
dari muskulatur toraks dan abdomen )
3. Lesi pada segemn lumbal bawah dan sakral  merusak motorneuron  kelumpuhan tungkai
LMN

b. Kelumpuhan LMN
1. Lesi di final common pathway ( motorneuron dan akson) , gejala : fasikulasi ( gerakan otot
halus yang dapat dilihat)
a. Lesi di kornu anterior : poliomielitis anterior akut , lesi vaskuler akibat aterosklerosis,
sifilis meningovaskular
b. Lesi di motorneuron dan jaras kortikospinal : poliomielitis kronik, penyakit keturunan,
slow viral infection, akibat toksin yang berlokasi di substansia grisea sentralis
c. Lesi di motorneuron dan funikulus anterolateralis : sindrom arteri spinalis anterior,
d. Lesi di substansi grisea : siringomielia
2. Lesi di radiks ventralis : arakhnoiditis adhesif, polineuritis post infeksiosa, GBS
3. Kerusakan pada pleksus brakhialis : sindrom kelumpuhan akibat lesi di atas pleksus brakhialis
( Sindrom erb-Duchenne) dan sindrom kelumpuhan akibat lesi di bagian bawah pleksusu
brakhialis ( sindrom kelumpuhan Klumpe)
4. Lesi pada motor end plate : miastenia gravis
5. Lesi pada otot : distrofia muskularum, miositis, dan miopati

10. Klasifikasi Cedera Kepala

CKR CKS CKB


GCS 13 - 15 9 -12 3 -8
Pingsan < 10 menit >10 menit s/d 6 jam >6 jam
Amnesia < 1 jam 1-24 jam >24 jam
Defisit - + +
neurologis
CT Scan normal abnormal Abnormal
Rawat RS <2 hari >2 hari > 7 hari
Pengeluaran cairan darah akibat trauma jika ditempat terpencil : tusuk kepalanya pake alat yg bisa
dipake ??

11. - tremor : pergerakan involuntar yang tak bertujuan dari kontraksi otot, pasien mengangkat
kedua telapak tangan di depan, letakan kertas di atas kedua tangan tersebut.

- mioklonus : kedutan pada otot, lebih jelas terlihat pada bahun dan ujung distal ekstremitas atas

- tics : pergerakan involuntar otot, nonritmik, repetitif, dan tidak bertujuan, bagian tubuh yang sering
terkena adalah wajah, leher, bahu, badan dan tangan.

- disdiadokokinesis : gangguan pada pergerakan otot yang cepat bergantian. Pemeriksaan : pasien
disuruh mem-pronasi dan supinasikan tangan, jika terjadi disdiadokokinesia pergerakan tangan kiri
dan kanan berbeda.

- apraksia : ketidakmampuan untuk melakukan suatu gerakan volunter tanpa adanya gangguan
kekuatan, sensasi, atau koordinasi motorik. Pemeriksaan :

- tumit – lutut : penderita diminta untuk menggerakan tumit kakinya ke lutut kontralateral

12. Definisi Stroke = sindrom hemiparesis atau hemiparalisis akibat lesi vaskular yang bisa bangkit
dalam beberapa detik sampai hari, dan mendadak tergantung pada jenis penyakit yang mnejadi
kausanya.

- kenapa bisa alternan? Jika lesi terjadi pada batang otak ( kelumpuhan UMN pada otot tubuh
kontralateral di bawah tingkat lesi, sedangkan setingkat lesi terdapat kelumpuhan LMN otot nervus
kranialis

- komplikasi stroke : Akut ( kenaikan TIK dan herniasi), Komplikasi akibat imoblitas ( pneumonia,
kontraktur, deep vein thrombosis, ISK, konstipasi, dekubitus)

- mekanisme kerja asam asetil salisilat : menghambat enzim COX  pembentukan tromboksan A2
dan prostasiklin  menghambat agregasi trombosit
13. Apa definisi epilepsi dan status epileptikus? Klasifikasi ILEA? Tatalaksana status epileptikus? Efek
samping diazepam?

Jawaban :

 Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan epilepsi berulang berselang
>24 jam yang timbul tanpa provokasi.
 Status epilepsi adalah suatu keadaan dimana terjadi kejang terus-menerus disertai
penurunan kesadaran >30 menit atau kejang beruntut dimana tidak ada pemulihan
kesadaran diantaranya.
 Klasifikasi : dibuku kuning epilepsi banyak banget hehe
 Efek samping diazepam : Mengantuk,ataksia, edema, mual dan konstipasi, gejala-
gejala ekstra pirimidal. jaundice dan neutropenia. sakit kepala, amnesia, hipotensi.
gangguan visual dan retensi urin, incontinence.

14. Myastenia grafis, hyaptenia, ciri?

Jawaban :

 Myastenia : Kelemahan pada lungan atau tungkai yang meningkat saat aktivitas, ptosis,
disartria, suara sengau, gangguan n V  tidak dapat menutup mulut/rahang, diplopia.
 Hyaptenia : ?

15. Patofis dan tatalaksana gbs, polineuropati?

Jawaban :

GBS  Infeksi , baik yang disebabkan oleh bakteri maupun virus, dan antigen lain memasuki
sel Schwann dari saraf dan kemudian mereplikasi diri. Antigen tersebut mengaktivasi sel
limfosit T. Sel limfosit T ini mengaktivasi proses pematangan limfosit B dan memproduksi
autoantibodi spesifik. Autoantibodi ini akan merusak myelin sehingga impuls terhambat.

Talak : Plasma exchange therapy (PE), Intravenous inffusion of human Immunoglobulin ( IVIg )

Polineuropati  mirip2 gbs patofisnya ada demyelinisasi sehingga konduksi impuls


terganggu.

16. Apa manifestasi kardinal parkinson? Bagaimana grading parkinson?

Jawaban :

 Manifestasi kardinal : resting tremor, rigiditas, akinesia/bradikinesia, postural instabilitas


 Grading :

Singkatnya :

I : Unilateral

II : Bilateral

III : Bilateral + refleks postural


IV : Perlu bantuan karena 3

V : Berdiam diri karena 3

Hoehn and Yahr Staging of Parkinson's Disease

1. Stage One
1. Signs and symptoms on one side only
2. Symptoms mild
3. Symptoms inconvenient but not disabling
4. Usually presents with tremor of one limb
5. Friends have noticed changes in posture, locomotion and facial expression
2. Stage Two
1. Symptoms are bilateral
2. Minimal disability
3. Posture and gait affected
3. Stage Three
1. Significant slowing of body movements
2. Early impairment of equilibrium on walking or standing
3. Generalized dysfunction that is moderately severe
4. Stage Four
1. Severe symptoms
2. Can still walk to a limited extent
3. Rigidity and bradykinesia
4. No longer able to live alone
5. Tremor may be less than earlier stages
5. Stage Five
1. Cachectic stage
2. Invalidism complete
3. Cannot stand or walk
4. Requires constant nursing care
17. Apa etiologi, gold standard pemeriksaan dan tujuan stroke dirawat?

Jawaban :

Etiologi : iskemiktrombus dan emboli. Hemoragik ruptur a. Carotis interna atau a.


vertebrobasiler

Gold standar : CT scan

18. Beda trombus dan emboli secara klinis? Pf? Emboli darimana? Tanda aterom?

Trombus Emboli
Akut/subakut, sering didahului gejala Mendadak
prodromal TIA
Saat Istirahat dan saat bangun pagi Terjadi penurunan kesadaran jika emboli besar
Kesadaran umumnya bagus
Sering mengenai usia dekade 6-8 Harus ada sumber emboli (umumnya gangguan
irama jantung)

19. Pemeriksaan n.cranialis secara umum sudah dipelajari di KKD. Untuk pemeriksaan
n.III, n.IV, dan n.VI diperiksa secara bersama-sama, karena kesatuan fungsinya yaitu
mempersarafi otot-otot ekstrinsik dan intrinsik bola mata, pemeriksaan dilakukan
dengan menuver huruf H.

Nervus occulomotorius (III) menginervasi otot ekstrinsik mata yaitu:

m.rectus medialis melihat ke medial

m.rectus superior melihat ke atas lateral

m.rectus inferior  melihat ke bawah lateral

m.obliquus inferior  melihat ke atas medial

m.levator palpebrae  mengangkat palpebra (buka mata)

Serabut fisero-motorik n.III menginervasi otot intrinsik bola mata yaitu:

m.sfingter pupile (mengatur kontraksi pupil)

m.siliare (mengatur ketebalan lensa)

Nervus trochlearis (IV) menginervasi otot ekstrinsik m.obliquus superior, untuk


melihat ke arah nasomedial (bawah medial)

Nervus abducens (VI) menginervasi otot ekstrinsik m.rectus lateralis, untuk melihat
ke arah temporal (lateral)

20. pemeriksaan penunjang Hb & Ht untuk apa?

Untuk mengetahui kemungkinan polisitemia dan hiperviskositas darah (buku kuning


STROKE).

21. fungsi serebellar?

pusat koordinasi yang mempertahankan keseimbangan dan mengontrol tonus otot dan
memastikan eksekusi semua proses motorik terarah dan terkoordinasi dengan tepat.

Komponen serebellum:

*vestibulocerebellum: menerima impuls dari aparatus vestibularis yg membawa


informasi mengenai posisi dan gerakan kepala. Output eferennya memengaruhi fungsi
motorik mata dan tubuh agar ekuilibrium dpt dipertahankan pada semua posisi dan
semua gerakan.
*spinoserebellum: menerima input dari medula spinalis. Spinoserebelum mengontrol
tonus otot dan mengoordinasi kerja kelompok2 otot antagonistik yang berpartisipasi
pada postur dan gaya berjalan.

*serebroserebelum: memperbaiki setiap kesalahan dalam perjalanan gerakan volunter


utk memastikan bhwa gerakan tsb dilakukan secara halus dan tepat.

22. vertigo pada stroke?

“Gejala vertigo dpt terjadi jika ada gangguan di telinga dalam yang melibatkan
n.vestibularis dan juga bisa terjadi akibat gangguan fungsi serebelum” (buku duus).

kalo dikaitkan dg stroke mungkin ada perluasan lesi (iskemik ataupun hemoragik) di
salah satu atau kedua tempat tersebut.

23. pembagian sistem nervus kranialis?

Sensorik: I, II, VIII

Motorik: III, IV, VI, XI, XII

Keduanya: V, VII, IX, X

24. letak lesi 7 dex 12 kiri, hemihipestesia kiri, hemiparese kiri, ada dimana lesinya?

Di hemisferium dextra mungkin, tapi “lesi 7 dex 12 kiri” maksudnya apa aku gatau

Maaf ya kalo ada yg kurang atau salah pd jawabannya, mohon koreksinya..

25. perbedaan defisit neurologis akibat kelainan pada korteks dan sub korteks
26. perbedaan defisit neuroogis akibat kelainan pada sistem carotis dan bertebrobasilaris

Sistem karotis Sistem vertebrobasiler


1. A. Carotis interna 1. Hemianastesia ipsilateral pada wajah
- Amaurotis fugax (buta mendadak) dan kontralateral pada tubuh
- Disfasia bila terkena hemisfer 2. Hemianopia, buta kortikal
dominan keseluruhan
- Hemiparese kontralateral + 3. Hilangnya refleks muntah, disfagia,
sindrom horner pada sisi sumbatan suara serak akibat lesi ari n.
2. A. Serebri anterior Glosofaringeus dan n. vagus
- Hemiparesis kontralateral 4. Vertigo, nystagmus, mual dan
- Gangguan mental (lesi di frontal) muntah
- Gangguan sensibilitas pada tungkai 5. Sindrom horner ipsilateral
yang lumpuh 6. Ataxia ipsilateral/gejala serebellar
3. A. Serebri media lainnya
- Hemiparesis kontralateral dan 7. Hemiparesis unilateral/bilateral
hemihipestesia pada wajah dan 8. koma
lengan
- Afasia
- Hemianopia homonim kontralateral
- Anososgnosia jika yang terkena
hemisfer kanan
4. A. Serebri posterior
- Hemianopia homonim kontralateral
- Visual agnosia
- Gangguan memori

27. pemberian clopidogrel


[Clopidogrel diberikan pada pasien dengan stroke iskemik, TIA]

28. mengapa pada pasien harus diperiksa darah lengkap, fungsi ginjal, dan elektrolit

[darah lengkap: untuk menentukan fungsi hematologik yang berpengaruh pada stroke seperti
anemia, polisitemia, trombositosis, menentukan ada atau tidaknya infeksi, dll]

[gula darah: ?]

[fungsi ginjal: untuk menentukan pemberian obat osmoterapi]

29. apa yang dimaksud dengan legkung refleks

[Lengkung refleks adalah neural pathways yang mengontrol suatu refleks. Lengkung
refleks berperan penting dalam terjadinya refleks dalam tubuh. Lengkung refleks terdiri dari
beberapa struktur yaitu (1) organ reseptor, (2) neuron aferen, (3) neuron efektor dan (4) organ
efektor.]

30. Dasar diagnosis contoh penulisannya kerja, klinis, topis, etiologis


 Diagnosis kerja: stroke iskemik
 Diagnosis klinis: hemiparese dextra
 Diagnosis topis: subkorteks
 Diagnosis etiologis: trombosis

31. Trias meningitis dan ensefalitis


Trias meningitis
 Demam
 Nyeri kepala
 Kaku kuduk (+)
Trias encephalitis
 Demam mendadak tinggi
 Kejang
 Penurunan kesadaran

32. Gejala klinis ensefalitis, beda LP pada meningitis bakteri, virus, tb, tatalaksana
Gejala klinis encephalitis
 TIK meningkat  pada funduskopi terlihat papil edem
 Nyeri kepala kronik progresif
 Muntah
 Penglihatan kabur
 Kejan
 Penurunan kesadaran

Perbedaan lumbal pungsi pada meningitis

Bakterial (purulen) Virus Meningitis TB


Warna Keruh Jernih Jernih/xantochrom
Sel PMN ↑ Limfosit ↑ MN, limfosit ↑
Protein ↑ ↑ ringan ↑ tinggi
Tekanan Lp ↑ Normal / ↑ ↑
Organisme Bakteri - BTA
Glukosa ↓ 20-30 mg % Normal / ↓ ringan ↓ < 50 mg %

Tatalaksana meningitis bakterial


 Rawat inap
 Oksigen
 Cairan parenterl
 Antibiotik, penisilin G  pneumokok, streptokok, dan meningokok (1-2 juta unit/2
jam), hemofilus  kloramfenikol 4x1gram/24jam atau ampisilin 4x3gram/24jam
Tatalaksana ensefalitis viral
 Rawat inap
 Cairan parenteral
 Acyclovir 10mg/kgBB/8jam selama 10 hari atau peroral 200mg/kgBB/5-6kali/hari
Tatalaksana meningitis TB
 Rawat inap
 Cairan parenteral
 HRZE
 Para amino salicylic acid 200mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
 Prednison 2-3mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu

33. Bedanya kaku kuduk dengan kuduk kaku? Cara pemeriksaan kaku kuduk, bruzinski 1 dan 2?
Hasil yang didapat?
Kaku kuduk bila ada tahanan saat kepala ditekukkan ke dagu
Kuduk kaku bila kepala tidak jatuh kebelakang saat pasien diangkat bahu
Cara pemeriksaan kaku kuduk: tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang
sedang berbaring, kemudian kepala ditekukkan dan diusahakan agar dagu mencapai dada,
tangan yang satu lagi ditempatkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan.
Brudzinski I: melakukan pemeriksaan kaku kuduk, dan lihat ada tidaknya fleksi kedua
tungkai, tanda Brudzinski I positif bila kedua tungkai fleksi, sebelumnya perhatikan apakah
tungkai tidak lumpuh
Brudzinski II: pada pasien yang sedang berbaring, satu tungkai difleksikan pada persendian
panggul, sedangkan tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus), bila
tungkai tersebut ikut terfleksi maka disebut tanda Brudzinski II positif.

34. Keluhan subjektif N VII dan XII?


NVII  pasien tidak dapat memejamkan mata
NXII  disartria (cadel, pelo)

35. Definisi nilai kekuatan motorik

0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot; lumpuh total


1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendian
yang harus digerakan oleh tersebut

2 : Didapatkan gerakan, tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya gravitasi

3 : Dapat melawan gravitasi

4 : Selain dapat melawan gravitasi dapat mengatasi sedikit tahanan yang diberikan

5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)

Definisi nilai refleks

1 : kontraksi otot
2 : kontraksi otot yang cukup kuat hingga menimbulkan pergerakan sendi
3 : pergerakan sendi terjadi ketika rangsang diberikan pada perpanjangan tendon
4 : terjadi pergerakan sendi apabila perangsangan dilakukan di luar tendon

36. Gejala klinis tumor serebri


1. Penurunan kesadaran akibat peningkatan TIK
i. Sindrom unkus atau sindrom kompresi diensefalon ke lateral
ii. Sindrom kompresi sentral rostrokaudal terhadap batang otak
iii. Herniasi serebelum di foramen magnum
2. Gejala umum ↑TIK
i. Sakit kepala berdenyut atau seperti mau meledak; nyeri paling hebat pagi
hari karena selama tidur PCO2↑  CBF ↑  TIK ↑
ii. Muntah , juga seringkali pagi hari karena PCO2 tsb
iii. Kejang fokal , manifes pada 15% pasien. Kejang umum karena ↑TIK
gangguan mental, perasaan abnormal di kepala
iv. Gangguan mental : demensia, apatis, gangguan watak dan intelegensia,
psikosis, tidak peduli lokasinya
v. Perasaan abnormal di kepala
3. Tanda-tanda lokalisatorik yg menyesatkan
Maksudnya timbul manifes yg tdk sesuai dengan lokasi tumor
i. Kelumpuhan saraf otak kontralateralnya akibat desak ruang jauh
ii. Refleks patologis positif pada kedua sisi
Misal : pergeseran mesensefalon ke sisi kontralateral akibat desakan tumor
 kompresi pedunkulus serebri sisi kontralateral  R patologis ipsilateral dg
tumor dapat positif. Sedangkan r patologis kontralateral memang positif
karena tumor merusak jaras kortikospinal pada sisitempat tumor.
iii. Gangguan mental
iv. Gangguan endokrin  akibat desak ruang di hipofisis walaupun tumornya
jauh
v. Ensefalomalasia  timbul akibat kompresi arteri serebral suatu tumor dapat
terjadi di daerah yg jauh dari tempat tumor hingga timbul defisit neurologis
4. Tanda lokalisatorik yg benar
i. Lobus frontal  fungsi intelektual mundur, kejang tonik fokal (kejang
adversif), katatonia, anosmia, sindrom foster-kennedy (atrofi n. Optikus
ipsilateral dan papil edema kontralateral)
ii. Daerah presentral  kejang fokal pada sisi kontralateral, hemiparese
kontralateral; gangguan miksi jika tumor di fisura sagitalis.
iii. Lobus temporal  manifestasi kurang menonjol kecuali yg terkena uncus
akan timbul uncinate fit. Gejala khas : hemianopsia kuadran atas
kontralateral. Gejala penyerta : tinitus, halusinasi auditorik, afasia sensorik,
apraksia
iv. Lobus parietalis  merangsang korteks sensorik timbul Jackson sensorik.
Jika sudah destruksi lobus tsb timbul astereognosia dan ataksia sensorik.
Kalau bagian dalam lobusnya yg kena , timbul thalamic over reaction yaitu
reaksi berlebihan terhadap rangsang protopatik. Selain itu bisa juga
hemianopsia kuadran bawah homonim lateral. Kalau bagian posterior lobus
ini yg kena  fungsi luhur rusak  agnosia, afasia sensorik, apraksia
v. Lobus oksipital  sakit kepala di oksiput, gangguan lapang pandang dan
agnosia visual
vi. Tumor di korpus kalosum  gangguan mental, cepat lupa. Demensia sering
disertai kejang. Disusul paraparesis/ diparesis atau manifestasi ganglia basal.
5. Tanda fisik diagnostik
i. papiledema
ii. hipertensi intrakranial  iskemia & gangguan pusat vasomotorik serebral 
bradikardia & TD sistemik ↑ progresif (kompensasi iskemia)
iii. irama dan frekuensi napas berubah

37. PF eksteroseptif, refleks bisep trisep


PF eksteroseptif : periksa rasa raba, nyeri, suhu
i. Raba : ujung kapas diusahakan sekecil mungkin. Hindari tekanan atau
pembangkitan rasa nyeri . Periksa seluruh tubuh bandingkan bagian yg
simetris. Rasa raba hilang = thigmanesthesia
ii. Nyeri : menusuk dengan jarum atau peniti
iii. Suhu : suhu dingin pake air bersuhu 10-20oC, suhu panas 40-50 oC. Suhu <5 oC
atau >50oC bikin nyeri
Refleks biseps : kita pegang lengan pasien yang di semifleksikan sambil menempatkan ibu
jari di atas tendon biseps. Kemudian ibu jari diketok.

Refleks triseps : kita pegang lengan bawah pasien yg di semifleksikan, lalu ketok tendon
insersi m.triseps yang berada sedikit di atas olekranon

39. Pemeriksaan nistagmus: dilakukan saat memeriksa gerakan bola mata. Nistagmus adalah
gerak bolak-balik mata yg involunter dan ritmik. Penderita disuruh melirik terus ke satu arah
( misalnya ke kanan, ke kiri, ke atas, bawah) selama janggka waktu 5-6 detik. Akan tetapi
mata jangan terlalu jauh dilirikan karena pada orang normal juga jadi bisa timbul nistagmus.