Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM GENETIKA

A. Judul
Persilangan Monohibrid Pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna unguiculata
subsp. Sesquepedalis )
B. Tujuan
1. Menggunakan tanaman model untuk percobaan percobaan persilangan
2. Mengamati beberapa sifat yang berbeda antara 2 tetua lini murni
3. Menghasilkan populasi F1 dari persilangan dan menentukan dominansi
beberapa sifat pada tanaman kacang panjang
C. Alat dan Bahan
1. Peralatan bercocok tanam
2. Polibag 5 kg
3. Lanjaran bambu (tinggi 2 meter)
4. Gunting
5. Pinset
6. Benih kacang panjang: 2 varietas (var merah dan var hitam putih)
7. Campuran tanah : kompos = 2 : 1
8. Pupuk NPK
9. Kantong plastik
10. Label
11. Rafia
12. Kapas
13. Alkohol
D. Cara Kerja

Menanam 2 benih (biji) pada tiap polibag dengan jarak yang cukup antar
keduanya

Menancapkan lanjaran bambu di tengah polibag antara kedua benih

Menyiram tanaman bila perlu

Tahap Persilangan

Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan meliputi gunting, pinset,


kapas, alkohol (untuk sterilisasi alat), kantong plastik, rafia, dan label

Melakukan kastrasi pada pagi hari sebelum jam 08.00 pagi, dengan
menghilangkan mahkota bunga

Melakukan emaskulasi sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi


penyerbukan sendiri, dengan menghilangan alat kelamin jantan (stamen)
pada induk ♀ menggunakan pinset yang sudah disterilkan

Melakukan penyerbukan dengan menggoyang bunga yang dijadikan


sebagai induk ♀ yang telah diemaskulasi

Melakukan isolasi agar bunga yang sudah diserbuki tidak diserbuki oleh
tepung sari asing, dengan kantong plastik dan rafia

Memberikan label pada plastik dengan format tertulis waktu persilangan,


nama induk ♂ dan ♀
E. Hasil Pengamatan
 Parental (P)
Jenis parental Permukaan
Ukuran biji bentuk
(P) kulit
Biji kacang
panjang
± 12 mm halus bulat panjang
berwarna
merah (MM)
Biji kacang
panjang
berwarna ± 10 mm halus bulat panjang
belang hitam-
putih (HP)
 Penanaman
- Jenis tanaman yang ditanam :
1) Tanaman kacang panjang dengan biji berwarna merah
2) Tanaman kacang panjang dengan biji berwarna belang hitam-
putih
- Tanggal penanaman : Selasa, 16 Februari 2016
Jenis parental
Bentuk daun Arah lilitan Warna bunga
(P)
Lonjong
Berlawanan Putih
Merah (MM) dengan ujung
arah jarum jam kekuningan
runcing
Lonjong
Belang hitam- Berlawanan Putih
dengan ujung
putih (HP) arah jarum jam kekuningan
runcing
 Persilangan
- Jenis tanaman yang disilangkan :
1. Tanaman kacang panjang ♂ biji belang hitam-putih (HP) >< ♀
biji merah (MM)
2. Tanaman kacang panjang ♂ biji merah (MM) >< ♀ biji belang
hitam-putih (HP)
- Tanggal penyilangan : Selasa, 8 Maret 2016
Jenis parental Warna Jumlah buah Jumlah biji
(P) buah/polong per pohon per buah
♂ biji belang
hitam-putih
- - -
(HP) >< ♀ biji
merah (MM)
♂ biji merah
(MM) >< ♀
biji belang Putih kehijauan 16 9
hitam-putih
(HP)

1. Uji Chi Square (X2) fenotip hasil persilangan ♂ biji belang hitam-putih
(HP) >< ♀ biji merah (MM)

Observasi
Fenotip Genotip E d = o-E d2/E
(o)

merah - - - - -

Belang
putih - - - - -

hitam

Jumlah -

X2 = ∑d2/E = - dk = 1 P=-
2. Uji Chi Square (X2) fenotip hasil persilangan ♂ biji merah (MM) >< ♀ biji
belang hitam-putih (HP)
Observasi
Fenotip Genotip E d = o-E d2/E
(o)
3
merah MM 0 x0=0 0 0
4

Belang
1 6,75 20,25
(putih HP 9 x 9 = 2,25
4
hitam)

Jumlah 9 20,25

X2 = ∑d2/E = 20,25 dk = 1 P = terletak di sebelah kanan 0,5

P < 0,05, sehingga Ho ditolak

Intepretasi hasil perhitungan X2


Hipotesis nihil (H0) : X2 hitung terdapat pada kolom probability ≥ 0.05.
Menunjukkan data hasil pengamatan baik (tidak berbeda nyata dengan
perbandingan fenotip yang diharapkan).
Hipotesis alternatif (Ha) : X2 hitung terdapat pada kolom probability <
0.05. Menunjukkan data hasil pengamatan kurang baik (berbeda nyata
dengan perbandingan fenotip yang diharapkan).
F. Pembahasan
Praktikum berjudul “Persilangan Monohibrid pada Tanaman Kacang
Panjang (Vigna unguiculata subsp. sesquipedalis)” yang dilakukan pada hari
Selasa, 16 Februari 2016 sampai bulan April 2016 ini bertujuan untuk
menggunakan tanaman model untuk percobaan persilangan, mengamati
beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua lini murni, dan menghasilkan
populasi F1 dari persilangan dan menentukan dominansi beberapa sifat pada
tanaman kacang panjang.
Tanaman kacang panjang digunakan pada praktikum ini, karena
kacang panjang dijadikan sebagai tanaman model pengganti kapri yang lebih
mudah tumbuh di Indonesia, dapat menghasilkan banyak biji, mempunyai
beberapa sifat yang membedakan antar varietas dan dapat disilangkan. Mendel
menggunakan tanaman kapri karena dapat menghasilkan banyak biji (banyak
keturunan), mempunyai sifat-sifat yang dapat dibedakan antar varietas, dapat
diperbanyak secara selfing atau disilangkan, dan mudah tumbuh di daerah
tempat tinggal Mendel. Sebagai tanaman model untuk menunjukkan hasil
persilangan monohibrid di daerah tropis seperti Indonesia dapat digunakan
dengan alasan yang sama dengan Mendel, yaitu mudah tumbuh di daerah
tropis. Tanaman kacang panjang juga termasuk famili yang sama dengan kapri
sehingga mempunyai struktur bunga yang serupa (Tim Genetika, 2012: 1).
Klasifikasi untuk tanaman kacang panjang sendiri adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna unguiculata
Sub Spesies : sesquipedalis
Alat dan bahan yang digunakan saat penanaman tanaman kacang
panjang adalah peralatan bercocok tanam, polibag 5 kg, lanjaran bambu
dengan tinggi 2 m, gunting, pinset, benih kacang panjang (biji merah dan
belang hitam-putih), campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1,
dan pupuk NPK. Cara penanamannya yaitu pertama-tama praktikan mengisi
polibag dengan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1,
kemudian melubangi polibag menanami 2 benih (biji) pada tiap lubang
polibagnya dengan jarak yang cukup antar keduanya. Menancapkan lanjaran
di tengah polibag antara kedua benih. Menyiram tanaman dan memberi pupuk
NPK pada umur 14 hari setelah ditanam.
Berdasarkan percobaan penanaman yang dilakukan, diperoleh data
bahwa biji kacang panjang berwarna merah yang awalnya memiliki ukuran ±
12 mm, dengan permukaan kulit yang halus dan berbentuk bulat panjang,
setelah ditanam akan menghasilkan tanaman kacang panjang yang berdaun
lonjong dengan ujung runcing, arah lilitan berlawanan jarum jam dan warna
bunga putih kekuningan. Biji kacang panjang yang berwarna belang hitam-
putih yang awalnya memiliki ukuran ± 10 mm, dengan permukaan kulit yang
halus, dan berbentuk bulat panjang setelah ditanam, juga menghasilkan
tanaman kacang panjang yang berdaun lonjong dengan ujung runcing, arah
lilitan berlawanan jarum jam dan warna bunga putih kekuningan.
Setelah diperoleh tanaman kacang panjang, maka dilakukanlah
persilangan. Persilangan yang dilakukan pada praktikum kali ini merupakan
persilangan monohibrid. Persilangan monohibrid adalah persilangan antar dua
tetua dengan salah satu sifat yang dapat membedakan keduanya. Diharapkan
keturunan pertamanya (generasi F1) akan memiliki sifat sama dengan salah
satu tetua jika sifat tersebut dipengaruhi oleh alel dominan dan resesif serta
tidak ada tautan seperti yang ditemukan oleh Mendel pada tanaman kapri
(Pisum sativum). Persilangan rnonohibrid dibedakan menjadi dua macam,
yaitu persilangan monohibrid dominan dan monohibrid intermediate :
a) Persilangan Monohibrid Dominan
Persilangan monohibrid dominan adalah persilangan dua individu
sejenis yang memerhatikan satu sifat beda dengan gen-gen yang dominan.
Sifat dominan dapat dilihat secara mudah, yaitu sifat yang lebih banyak
muncul pada keturunan dari pada sifat lainnya yang sealel. Persilangan
monohibrid sudah diteliti oleh Mendel. Dari hasil penelitiannya dengan
tanaman kacang kapri. Jika tumbuhan berbatang tinggi disilangkan dengan
tumbuhan sejenis berbatang pendek menghasilkan F1 tumbuhan berbatang
tinggi, dikatakan bahwa batang tinggi merupakan sifat dominan,
sedangkan batang pendek merupakan sifat resesif. Jadi, pada F1 dihasilkan
keturunan yang mempunyai sifat sama dengan sifat induk yang dominan.
Rasio/perbandingan genotipe pada F2 = 1 : 2 : 1, sedangkan rasio
fenotipenya = 3 : l.
b) Persilangan Monohibrid Intermediat
Persilangan monohibrid intermediat adalah persilangan antara dua
individu sejenis yang memperhatikan satu sifat beda dengan gen-gen
intermediat. Jika tumbuhan berbunga merah disilangkan dengan tumbuhan
sejenis berbunga putih menghasilkan F1 tumbuhan berbunga merah muda,
dikatakan bahwa bunga merah bersifat intermediat. Dengan cara
persilangan seperti pada persilangan monohibrid dominan di atas, dapat
diketahui bahwa rasio genotipe dan fenotipe F1 pada persilangan
monohobrid intermediat sama, yaitu 1 :2 : l.
Dalam percobaan ini diperoleh rasio fenotip 34 : 49 : 5. Jika
diasumsikan kacang panjang betina mengalami penyerbukan sendiri maka
genotipenya adalah heterozigot agar dapat menghasilkan 3 anakan dengan
genotipe yang berbeda. Dari perbandingan fenotipe yang diperoleh apabila
disederhanakan menjadi 10 : 5 : 1 dianggap mendekati 9 : 6 : 1,
disederhanakan lagi menjadi 3 : 2 : 1. Lurik dengan perbandingan 1 tidak
disederhanakan karena homozigot resesif/dominan. Dalam teori
persilangan monohybrid diperoleh anakan 1 : 2 : 1, dalam hal ini
perbandingannya yaitu homozigot dominan : heterozigot : homozigot
resesif. Dalam persilangan ini kacang panjang betina hitam disilangkan
dengan lurik menghasilkan fenotip dengan rasio 3 : 2 :1.
Metode ini digunakan untuk mengetahui probabilitas atau istilah
lainnya kemungkinan, kebolehjadian, peluang dan sebagaimya umumnya
digunakan untuk menyatakan peristiwa yang belum dapat dipastikan. Dapat
juga digunakan untuk menyatakan suatu pernyataan yang tidak diketahui akan
kebenarannya, diduga berdasarkan prinsip teori peluang yang ada.
Sehubungan dengan itu teori kemungkinan sangat penting dalam mempelajari
genetika. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama
dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap
keseluruhannya. Kemungkinan peristiwa yang diharapkan ialah perbandingan
dari peristiwa yang diharapkan itu dengan segala peristiwa yang mungkin
terjadi terhadap (Suryo, 1994: 145).
Metode chi square adalah cara yang dipakai untuk membandingkan
data percobaan yang diperoleh dari persilangan. Persilangan dengan hasil
yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoritis. Teori kemungkinan
merupakan dasar untuk menetukan nisbah yang diharapka dari tipe-tipe
persilangan genotip yang berbeda. Suatu persilangan antara sesama individu
dihibrid (AaBb) menghasilkan keturunan yang terdiri atas empat macam
fenotipe, yaitu A-B-, A-bb, aaB-, dan aabb masing-masing sebanyak 315,
108, 101, dan 32. Untuk menentukan bahwa hasil persilangan ini masih
memenuhi nisbah teoretis ( 9 : 3 : 3 : 1 ) atau menyimpang dari nisbah
tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang lazim
digunakan adalah uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji
kecocokan (goodness of fit) (Wildan, 1991: 119-120).
Untuk mengevaluasi suatu hipotesis genetic, kita memerlukan suatu
uji yang dapat mengubah deviasi-deviasi dari nilai yang diharapkan, menjadi
probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi oleh peluang. Selain
dari pada itu, uji ini harus pula memperhatikan besarnya sampel dan jumlah
peubah (derajat bebas). Sebagai uji X2 (Chi Square Test). Uji chi-kuadrat atau
chi-square digunakan untuk menguji homogenitas varians beberapa populasi
atau merupakan uji yang dapat mengubah deviasi dari nilai-nilai yang
diharapkan menjadi probabilitas dari ketidaksamaan demikian yang terjadi
oleh peluang dan harus memperhatikan besarnya sampel dan besarnya peubah
(derajat bebas) ( William, 1991: 223).
Pada tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa hasil percobaan
dimasukkan ke dalam kolom O sesuai dengan kelas fenotipenya masing-
masing. Untuk memperoleh nilai E (hasil yang diharapkan), dilakukan
perhitungan menurut proporsi tiap kelas fenotipe. Selanjutnya nilai d
(deviasi) adalah selisih antara O dan E. Pada kolom paling kanan nilai d
dikuadratkan dan dibagi dengan nilai E masing-masing, untuk kemudian
dijumlahkan hingga menghasilkan nilai X2h atau X2 hitung. Nilai X2h inilah
yang nantinya akan dibandingkan dengan nilai X2 yang terdapat dalam tabel
X2 (disebut nilai X2tabel ) yang disingkat menjadi X2t. Apabila X2h lebih kecil
daripada X2t dengan peluang tertentu (biasanya digunakan nilai 0,05), maka
dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah
Mendel. Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t, maka dikatakan
bahwa hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel pada nilai
peluang tertentu (biasanya 0,05) (Borror, 1992: 186)
Persilangan monohibrid yang dilakukan pada praktikum ini ada 4,
yaitu persilangan antara tanaman kacang panjang jantan (♂) biji merah (MM)
dengan betina (♀) biji merah (MM), jantan (♂) biji merah (MM) dengan
betina (♀) biji belang hitam-putih (HP), jantan (♂) biji belang hitam-putih
(HP) dengan betina (♀) biji belang hitam-putih (HP), dan jantan (♂) biji
belang hitam-putih (HP) dengan betina (♀) biji merah (MM). Akan tetapi,
pada praktikum ini praktikan hanya melakukan 2 persilangan saja, yaitu
jantan (♂) biji merah (MM) dengan betina (♀) biji belang hitam-putih (HP)
dan jantan (♂) biji belang hitam-putih (HP) dengan betina (♀) biji merah
(MM). Hal ini dikarenakan jumlah bunga yang ada hanya sedikit dan tidak
memungkinkan dilakukannya keempat persilangan tersebut. Penyilangan
tanaman kacang panjang pada praktikum ini melalui 6 tahapan, yaitu tahap
persiapan, kastrasi, emaskulasi, penyerbukan, isolasi, dan pelabelan.
Tahapan persiapan dilakukan dengan menyiapkan alat-alat dan bahan
yang dibutuhkan untuk melakukan persilangan. Alat dan bahan yang
dibutuhkan meliputi gunting kecil yang tajam, pinset ujung tajam, alkohol 75-
85% atau spirtus dalam botol kecil (untuk sterilisasi alat), kantong plastik,
selotip, dan label. Ketika semua alat dan bahan sudah siap, praktikan pertama-
tama melakukan kastrasi. Kastrasi dilakukan dengan cara membuang mahkota
bunga yang akan disilangkan. Bunga yang akan disilangkan, merupakan bunga
yang masih kuncup. Pemilihan bunga yang masih kuncup ini bertujuan agar
bunga yang akan dilakukan penyilangan merupakan bunga yang masih virgin
atau belum tersebuki. Pada praktikum ini, kami melakukan kastrasi pada
tanaman kacang panjang dari biji berwarna merah dan juga belang hitam-
putih. Pelaksanaan kastrasi ini adalah pagi hari.

Emaskulasi dilakukan dengan menghilangkan alat kelamin jantan


(stamen) pada induk ♀ sebelum bunga mekar. Pada praktikum ini, praktikan
menghilangkan benangsari pada bunga tanaman kacang berbiji belang hitam-
putih untuk persilangan jantan (♂) biji merah (MM) dengan betina (♀) biji
belang hitam-putih (HP) dan menghilangkan benangsari pada bunga tanaman
kacang berbiji merah untuk persilangan jantan (♂) biji belang hitam-putih
(HP) dengan betina (♀) biji merah (MM). Penghilangan benangsari ini
dilakukan dengan menggunakan pinset untuk menghindari menghilangnya
organ lain yang tidak diinginkan. Setiap kali pinset akan digunakan, piset
terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan alkohol 75%, kemudian
dikeringkan. Ini bertujuan agar pinset tetap dalam keadaan steril dan tidak
membawa benangsari dari tanaman yang sebelumnya.

Penyerbukan dilakukan dengan mengoles-oleskan benang sari dari


bunga yang dijadikan sebagai induk ♂ yang telah dibuang mahkotanya diatas
bunga ♀ yang telah dimaskulasi. Penyerbukan yang dilakukan pada praktikum
ini ada dua. Penyerbukan pertama dilakukan dengan mengoles-oleskan benang
sari dari bunga betina (♂) biji merah (MM) diatas bunga jantan (♀) biji belang
hitam-putih (HP) yang telah dimaskulasi. Penyerbukan kedua dilakukan
dengan mengoles-oleskan benang sari dari bunga induk betina (♂) dengan biji
belang hitam-putih (HP) diatas bunga jantan (♀) dengan biji merah (MM)
yang telah dimaskulasi.

Isolasi dilakukan dengan menutup bunga kacang yang telah diserbuki


tadi dengan menggunakan kantong plastik. Tujuan dilakukannya isolasi ini
dilakukan agar bunga yang sudah diserbuki tidak diserbuki oleh tepung sari
tepung asing.

Pelabelan merupakan pemberian label pada kantong plastik hasil


isolasi, yang bertujuan untuk memberi nomer yang berhubungan dengan
lapangan, waktu persilangan, nama induk ♂ dan ♀, dan kode pemulia/
penyilang .
Beberapa waktu setelah penyilangan, maka akan tumbuh buah kacang
panjang dari tiap-tiap tanaman induk betina. Berdasarkan hasil persilangan,
diperoleh hasil bahwa tanaman yang berasal dari persilangan antara tanaman
kacang panjang jantan (♂) biji merah (MM) dengan betina (♀) biji belang
hitam-putih (HP) menghasilkan buah berwarna putih kehijauan, dengan
jumlah buah 16 tiap pohonnya, dan tiap buah memiliki 9 biji kacang. Pada
praktikum ini, semua biji kacang panjang hasil persilangan ♂ biji merah
(MM) dengan ♀ biji belang hitam-putih (HP) berwarna belang hitam-putih
(HP).
Berikut merupakan hasil Uji Chi Square (X2) fenotip hasil persilangan
♂ biji merah (MM) >< ♀ biji belang hitam-putih (HP):

Observasi
Fenotip Genotip E d = o-E d2/E
(o)
3
merah MM 0 x0=0 0 0
4

Belang
1 6,75 20,25
(putih 9 x 9 = 2,25
4
hitam)

Jumlah 9 20,25

X2 = ∑d2/E = 20,25 dk = 1 P = terletak di sebelah kanan 0,05

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai X2 hitung adalah


20,25, sedangkan P nya berada di sebelah kanan 0,05, sehingga X2 hitung
terdapat pada kolom probability < 0.05. Oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa rasio yang diharapkan (Ho) pada taraf kepercayaan 95% ditolak,
artinya persilangan ini tidak sesuai dengan Hukum Mendel I.
Menurut teori jika dominansi tampak sepenuhnya, maka persilangan
monohibrid menghasilkan keturunan yang memperlihatkan perbandingan
fenotip 3:1. Akan tetapi, F1 yang diperoleh tidak memperlihatkan
perbandingan fenotip 3:1. Ketidak sesuaian hasil percobaan dengan Mukum
Mendel I mungkin disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu
kesalahan praktikan saat melakukan emaskulasi. Pada saat melakukan
emaskulasi, dimungkinkan praktikan tidak hati-hati saat menghilangkan
benangsari pada tanaman induk betinanya (♀), sehingga benangsari tersebut
menyenggol kepala putik dan terjadi penyerbukan sendiri. Oleh karena sudah
terjadi penyerbukan sendiri, maka hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan
yang diharapkan.
Penyerbukan kacang yang lain yaitu kebalikan dari penyerbukan
sebelumnya. Penyerbukan ini menggunakan kacang biji merah sebagai induk
betina (♀) dan kacang biji belang sebagai induk jantan (♂). Persilangan ini
dilakukan dengan mengambil serbuk sari dari induk jantan (bunga biji belang)
yang telah diambil mahkotanya untuk dioles-oleskan ke kepala putik induk
betina (bunga kacang biji merah). Isolasi dilakukan setelah penyilangan
selesai. Isolasi ini merupakan penutupan bunga yang sudah disilangkan
dengan plastik bening. Tujuan dari isolasi yaitu tujuan agar bunga yang telah
diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk sari yang asing. Beberapa waktu
setelah persilangan akan tumbuh buah kacang panjang dari indukannya.
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, diperoleh data pada
persilangan kacang biji merah (♀) dengan kacang biji belang (♂) tidak
menghasilkan anakan. Percobaan ini dianggap tidak berhasil karena setelah
beberapa hari disilangkan, induk tersebut tidak menghasilkan anakan kacang.
Ketidakberhasilan ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Waktu pelaksanaan.
Waktu melakukan polinasi adalah pagi hari (kira-kira pukul 06.00-
09.00 WIB) dimana bunga betina belum mekar sempurna tetapi bunga
jantan sudah menunjukkan kematangan serbuk sari. Apabila persilangan
dilakukan lebih dari jam ini kemungkinan ktidakberhasilan tinggi karena
bunga betina yang sudah mekar bisa saja sudah melakukan polinasi
sendiri. Kemungkinan putik sudah mengering juga bisa menjadi faktor
utama. Pembuahan tetap bisa terjadi di peristiwa ini namun, hasilnya
kurang maksimal atau ada banyak kecacatan.
b. Kondisi bunga jantan dan bunga betina (matang atau tidaknya/siap atau
tidaknya dilakukan persilangan).
Bunga jantan dikatakan matang bila bunganya sudah mekar
sempurna, dan warna serbuk sarinya kuning agak jingga sedangkan untuk
bunga betina, bunga yang belum mekar atau masih kuncup. Bunga betina
yang sudah mekar dapat dikatakan sudah melakukan polinasi sendiri.
Kemungkinan ketidakberhasilan percobaan pada kelompok kami
disebabkan karena bunga betina sudah mekar.
c. Cuaca
Cuaca lebih ditekankan pada hujan karena apabila persilangan
dilakukan pada saat mendung atau menandakan akan hujan, kemungkinan
besar persilangan tersebut tidak akan berhasil melainkan bunga akan
membusuk. Ketidakberhasilan percobaan pada kelompok kami
dimungkinkan karena adanya hujan setelah persilangan dilakukan. Adanya
hujan ini bisa membuat bunga layu dan membusuk. Akhirnya putik pada
bunga betina yang telah disilangkan rontok dan tidak menghasilkan
kacang.
d. Ketelitian peletakan serbuk di atas putik.
Peletakkan serbuk sari di atas kepala putik haruslah sesuai dan
tepat. Kebanyakan percobaan terjadi keidakberhasilan persilangan karena
para praktikan tidak tepat dalam meletakkan serbuk sari dari bunga jantan
(Basuki, 1986: 139).
e. Kuncup bunga
Tanaman kacang hijau merupakan tanaman yang menyerbuk
sendiri, hal ini sangat menguntungkan karena kemungkinan terkontaminasi
serbuk sari dari luar relatif kecil. Keberhasilan dalam melakukan
emaskulasi dan polinasi ditentukan oleh vigor kuncup bunga. Kuncup
bunga yang terlalu muda sulit dimanipulasi sehingga menurunkan
persentase keberhasilan persilangan, sebaliknya kuncup bunga yang terlalu
tua akan meningkatkan terjadinya penyerbukan sendiri, dengan demikian
kuncup bunga yang dipilih adalah relative berukuran cukup besar (Fehr,
1980: 120).
G. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum dapat disimpulkan bahwa tanaman
model yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tanaman kacang panjang
(Vigna unguiculata subsp. Sesquepedalis) yang didapat berdasarkan
kemiripan sifat dengan kacang ercis. Tanaman kacang biji merah memiliki
ciri- ciri daunya lonjong dengan ujung runcing, arah lilitan berlawanan
arah jarum jam dan warna bunga putih kekuningan. Tanaman kacang
belang hitam-putih memiliki ciri daunya lonjong dengan ujung runcing,
arah lilitanya berlawanan arah jarum jam dan warna bunganya putih
kekuningan. Persilangan antara tanaman kacang panjang jantan (♂) biji
merah dengan betina (♀) biji belang hitam-putih menghasilkan buah
berwarna putih kehijauan, sedangkan persilangan kacang biji merah (♀)
dengan kacang biji belang (♂) tidak menghasilkan anakan. Hasil
keturunan pada tiap jenis persilangan tidak sama.
H. Diskusi
1. Berapa sifat yang dapat membedakan kedua tetua varietas kacang panjang
yang digunakan ? Sebutkan!
Pada praktikum ini merupakan persilangan monohibrid sehingga hanya
digunakan satu sifat untuk membedakan kedua tetua varietas kacang, yaitu
warna biji
2. Apakah kedua tetua yang digunakan dalam persilangan monohibrid (seperti
mendel) harus merupakan lini murni ? Jelaskan?
Ya, kedua tetua yang digunakan harus merupakan lini murni agar dihasilkan
keturunan yang asli bukan dari hasil persilangan. Persilangan lini murni
yang memiliki sifat kontras (alelnya), untuk mengetahui suatu gen yang
bersifat dominan
3. Apa hasil kesimpulan anda mengenai biji pada F1? apakah hasil nya sama
untuk semua jenis persilangan? Jelaskan!
Kesimpulannya, hasil keturunan pada tiap jenis persilangan tidak sama.
Mengenai biji F1 lebih cenderung mengikuti sifat dari induk betinanya.
4. Pada percobaan ini telah dilakukan persilangan resiprok. Apa yang
dimaksud dengan persilangan resiprok? Hasil apa yang akan diperoleh?
Pada praktikum ini tidak dilakukan persilangan resiprok. Pengertian
persilangan resiprok adalah suatu persilangan dimana sifat induk jantan dan
betina bila dibolak-balik/dipertukarkan tetapi tetap menghasilkan keturunan
yang sama

I. Daftar pustaka

Basuki, Nur. 1986. Pendugaan Karakter Genetik dan Hubungan Antara


Hasil dan Beberapa Sifat Agronomis Serta Analisis Persilangan
Diallel Pada Ubi Jalar (Ipomea batatas L) (Disertasi). Bogor: IPB.
Fehr . W. R. 1980. Principle of Cultivar Development Theory and
Technique. New York: Mac Millan Publ Co.
Henuhili, Victoria. 2011. Genetika Dasar. Yogyakarta : Jurdik Biologi
FMIPA UNY.
Suryo. 2008. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Tim Genetika. 2012. Petunjuk Praktikum Genetika. Yogyakarta: FMIPA
UNY.
LAMPIRAN

bunga kacang biji merah Bunga kacang biji belang hitam-putih

kastrasi

emaskulasi Hasil persilangan (F1)


LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN MONOHIBRID PADA TANAMAN KACANG PANJANG
( Vigna unguiculata subsp. Sesquepedalis )
Dosen Pengampu: Victoria Henuhili & Riska AP

DISUSUN OLEH :
Septiana Damayanti 14304241008
Sifaul Faidah 14304241009
Oktafiani Nur L 14304241037
Ahmad Khamdani 14304241049
Nurul Rilawati 14304244005
PENDIDIKAN BIOLOGI A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016