Anda di halaman 1dari 6

HISTOLOGI II

Oleh :
Nama : Siti Khoerun Nisa
NIM : B1A015016
Rombongan : A1
Kelompok :2
Asisten : Dina Rosdiana

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN
Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai bentuk, asal, fungsi, dan
struktur yang sama. Untuk melakukan proses-proses hidup pada tumbuhan terdapat
bermacam-macam sel yang mana mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Sel parenkim,
sel ini berdinding tipis yang mana menbentuk suatu jaringan yaitu jaringan parenkim
yang merupakan jaringan dasar pembentukkan korteks dan empulur pada batang
serta korteks pada akar (Kimball, 1991).
Terjadinya jaringan tumbuhan ialah karena adanya pembelahan dari sel yang
tetap melakukan hubungan dengan erat antara yang satu dengan yang lainnya.
Selanjutnya pembentukan jaringan-jaringan tersebut sangat erat hubungannya pula
dengan pembentukan berbagai alat pada tumbuhan, akar, batang, daun, bunga, buah
dan lain sebagainya. Dalam hal ini, tiap jaringan biasanya hanya melakukan satu
proses dalam hidupnya, seperti jaringan meristem yang mampu membelah terus
menerus dan membentuk sel-sel baru (Putjoarianto, 1998).
II. TUJUAN
Tujuan praktikum acara histologi II adalah mengamati macam-macam dan
tipe jaringan penguat pada tumbuhan (kolenkim dan sklerenkim), mengamati
macam-macam susunan jaringan pengangkut pada tumbuhan (xylem dan floem).
III. MATERI
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Histologi II adalah
mikroskop, object glass, cover glass, laporan sementara, silet, dan pipet.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum acara Histologi II adalah
irisan melintang batang Apium graveolens (Seledri), irisan melintang batang
Hibiscus rosa-sinensis (Kembang sepatu), irisan melintang batang Zea mays
(Jagung), irisan melintang batang Cordyline sp. (Hanjuang) dan air.
IV. METODE
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara Histologi II antara lain:
1. Dibuat irisan melintang dari preparat Apium graveolens (Seledri) dan Hibiscus
rosa-sinensis (Kembang sepatu) yang disediakan setipis mungkin, kemudian
diletakkan di atas kaca benda, kemudian ditetesi air dan ditutup dengan kaca
penutup dan diamati di bawah mikroskop, untuk preparat awetan Zea mays
(Jagung) dan Cordyline sp. (Hanjuang), langsung diamati di bawah mikroskop.
2. Semua preparat diamati letak, susunan dan tipe jaringan penguat, yaitu kolenkim
dan sklerenkim pada preparat segar dengan perbesaran 400X serta letak, susunan
berkas pengangkut pada preparat awetan dengan perbesaran 100X, kemudian
digambar dan diberi keterangan.
V. HASIL
Keterangan :
1 1. Epidermis
2. Klorenkim
2
3. Kolenkim
3 4. Parenkim korteks
5. Berkas pembuluh
4
Tipe kolenkim: Lakuner
5

Gambar 1. Ø.L. Batang Apium graveolens (Seledri) Perbesaran 100X


Keterangan :
1
1. Epidermis
2 2. Klorenkim
3 3. Kolenkim
4. Parenkim korteks
4
5. Berkas pembuluh
5
6. Empulur
6 Tipe kolenkim: Anguler

Gambar 2. Ø.L. Batang Hibiscus rosasinensis (Kembang sepatu)


Perbesaran 100X
Keterangan :
1 1. Floem
2. Xylem
2
3. Buluh cincin
3 4. Ruang reksigen

4 5. Sarung sklerenkim
6. Parenkim korteks
5
Tipe berkas
6 pengangkut: Kolateral
tertutup
Gambar 3. Ø.L. Batang Zea mays (Jagung) Perbesaran 400X
Keterangan :
1 1. Floem
2. Xylem
2 3. Parenkim
korteks
3 Tipe berkas
pengangkut: Konsentris
amfivasal

Gambar 4. Ø.L. Batang Cordyline sp. (Hanjuang) Perbesaran 400X


VI. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum diketahui Apium graveolens (Seledri) memiliki
jaringan penguat berupa kolenkim pada batangnya dengan tipe kolenkim lakuner
sedangkan Hibiscus rosa-sinensis (Kembang sepatu) memiliki jaringan penguat
berupa kolenkim dan sklerenkim pada batangnya dengan tipe kolenkim anguler
sesuai dengan referensi menurut Hidayat (1995). Batang Zea mays (Jagung)
mempunyai jaringan pengangkut xylem dan floem dengan tipe berkas pengangkut
kolateral tertutup. Batang Cordyline sp. (Hanjuang) mempunyai jaringan pengangkut
xylem dan floem dengan tipe berkas pengangkut konsentris amfivasal. Hasil
praktikum tersebut sesuai dengan referensi menurut Sutriyan (1992).
Jaringan penguat merupakan jaringan yang mempunyai kekuatan bagi
tumbuhan dalam perimbangan-perimbangan bagi pertumbuhannya. Jaringan penguat
berfungsi untuk menguatkan bagian tubuh tumbuhan meliputi dua jaringan, yaitu
kolenkim dan sklerenkim. Kolenkim terdiri dari sel-sel yang serupa dengan parenkim
tepi dengan penebalan pada dinding sel primer disudut-sudut yang tidak menyeluruh.
Dinding sel yang plastis dan pleksibel pada kolenkim memberi dukungan yang cukup
untuk sel-sel tetangganya serta terdiri dari berisi 45% pektin, 35% hemiselulosa, dan
20% selulosa.merupakan jaringan penguat pada organ tubuh muda atau bagian
tumbuhan yang lunak. Jaringan sklerenkim merupakan jaringan penguat dengan
dinding sekunder yang tebal. Umumnya, jaringan sklerenkim terdiri atas zat lignin
dan tidak mengandung protoplas. Sel-sel sklerenkim hanya dijumpai pada organ
tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Jaringan
sklerenkim terdiri atas serat-serat sklerenkim (fiber) dan sel-sel batu (sklereid)
(Yatim, 1990).
Menurut Hidayat (1995), menurut tipe penebalan dindingnya, kolenkim
dibedakan menjadi beberapa macam, sebagai berikut:
a. Kolenkim anguler. Penebalan dinding sel terjadi pada sudut-sudut sel. Pada
penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada tempat bertemunya
tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada batang Solanum tuberosum dan
Atropa belladonna.
b. Kolenkim lameler. Penebalan dinding sel terjadi pada dinding tangensial sel,
seperti terdapat pada korteks batang Sumbucus nigra dan tangkai Cochlearia
armoracia.
c. Kolenkim lakuner. Penebalan dinding sel terjadi pada dinding-dinding yang
berbatasan dengan ruang antarsel, seperti terdapat pada tangkai Asclepias dan
pada batang Ambrosia.
d. Kolenkim cincin. Tipe kolenkim yang lumen selnya pada penampang melintang
tampak melingkar, penebalan dinding sel secara terus menerus sehingga lumen sel
akan kehilangan bentuk sudutnya.
Jaringan angkut pada tumbuhan tingkat tinggi terdiri dari xylem dan floem.
Pada xylem terdapat unsur-unsur xylem yang berupa trakeid, trakeida dan unsur-
unsur lain seperti serabut dan parenkim. Xylem memiliki fungsi utama untuk
mengangkut air dan zat hara dari dalam tanah sedangkan floem berfungsi
mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian yang membutuhkan (Nugroho et al.,
2006). Baik xylem maupun floem, biasanya membentuk berkas atau untaian dalam
tubuh tumbuhan dan biasanya sejajar dengan sumbu organ yang menjadi tempatnya.
Pada batang, berkas xylem umumnya bergabung dengan berkas floem dalam suatu
ikatan berkas pembuluh yang berkesinambungan diseluruh tubuh tumbuhan. Baik
pada akar, daun, batang hingga cabangnya yang terkecil (Savitri, 2008).
Berdasarkan letak floem terhadap floem, maka ikatan berkas pembuluh dapat
dibedakan menjadi beberapa:
1. Tipe radial yaitu pada akar, tipe radial merupakan berkas pengangkut dengan letak
xylem dan floem bergantian menurut jari-jari lingkaran.
2. Tipe kolateral yaitu letak xylem dan floem berdampingan, umumnya floem di
sebelah luar xylem sedangkan bila antara xylem dan floem berdampingan
langsung tanpa adanya kambium disebut kolateral terbuka. Ada dua tipe, yaitu
kolateral tertutup yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan
kolateral terbuka yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang.
3. Tipe bikolateral yaitu susunan dari luar bisa menjadi floem luar, kambium, xylem,
dan floem dalam.
4. Tipe kosentris yaitu xylem dikelilingi floem atau sebaliknya. Bila floem
mengelilingi xilem disebut kosentris amfikibral, misalnya pada batang tumbuhan
Pterodophyta, sedangkan bila xylem mengelilingi floem disebut kosentris
amfivasal, misalnya ditemukan pada beberapa dikotil (Hidayat, 1995).
VII. SIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Macam-macam jaringan penguat, antara lain kolenkim dan sklerenkim terdapat
pada preparat segar, dengan tipe kolenkim lakuner yang terdapat pada preparat
batang Apium graveolens (seledri) dan tipe kolenkim anguler yang terdapat pada
preparat batang Hibiscus rosa-sinensis (kembang sepatu).
2. Macam-macam jaringan pengangkut, yaitu xylem dan floem terdapat pada
preparat awetan, dengan susunan berkas pengangkut kolateral tertutup yang
terdapat pada preparat batang Zea mays (jagung) dan susunan berkas pengangkut
konsentris amfivasal yang terdapat pada preparat Cordyline sp. (hanjuang).
VIII. SARAN
Saran untuk praktikum ini adalah dalam pembuatan preparat harus benar sesuai
prosedur contohnya dalam pengirisan bahan harus setipis mungkin agar terlihat di
bawah mikroskop dan mikroskop yang digunakan seharusnya benar-benar dalam
kondisi yang bagus dan baik agar dalam melakukan pengamatan preparat terlihat
jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Yatim, Wildan. 1990. Histologi. Bandung: Tarsito.

Savitri, Sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan


Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan). Malang: UIN Press.

Sutrian, Yayan Drs. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan
Jaringan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nugroho, L.H., Purnomo & I. Sumardi. 2006. Struktur dan Perkembangan


Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Kimball, J.W. 1991. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Putjoarianto. 1998. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: UGM


Press.

Anda mungkin juga menyukai