Anda di halaman 1dari 5

RMK

TEORI PASAR MODAL

“Laporan Keuangan Perusahaan dan Analisis Kinerja Keuangan


Perusahaan”

Dosen Pengempu : Dr. Gerianta Wirawan Yasa SE., M.Si..

Oleh

PUTU VIO NARAKUSUMA ARDAYANI


1515351012

Program Ekstensi Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
Laporan Keuangan Perusahaan dan Analisis Kinerja Keuangan
Perusahaan
Laporan keuangan adalah produk yang dihasilkan dari proses akuntansi. informasi
akuntansi yang terdapat di dalam laporan keuangan dapat berfungsi sebagai jendela untuk
melihat aktivitas nyata dari sebuah organisasi (perusahaan, emiten), meskipun masih ada juga
jendela lain yang tidak berdasarkan informasi akuntansi.

Seorang analis fundamental menggunakan informasi yang terdapat di dalam laporan


keuangan, utamanya yang berhubungan dengan laba dan hutang, untuk menghitung harga
wajar dari saham suatu perusahaan, atau seberapa besar beban hutang dapat mengurangi marjin
laba perusahaan tsb. Seorang investor obligasi juga dapat menilai kemampuan suatu
perusahaan dalam melunasi hutangnya setelah melihat perbandingan besarnya hutang
perusahaan tsb terhadap ekuitas, aset, atau laba, baik yang aktual maupun perkiraan.

Perlu diketahui bahwa pelaporan keuangan setiap perusahaan bisa memiliki sudut
pandang yang berbeda, tergantung dari sektor industrinya. Misalnya pada sektor Keuangan,
sub sektor Perbankan, dimana dana pihak ketiga berupa deposito, giro, atau simpanan nasabah
lainnya dicatatkan ke dalam Liabilitas, bukan sebagai Aset, sementara bagi perusahaan di
sektor lain, deposito dan giro dicatatkan sebagai aset. Adapun pembagian sektor industri dari
beberapa emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia dapat dilihat pada Fact Book yang
diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebelum membaca sebuah laporan keuangan, ada
baiknya untuk mengerti rumus dan persamaan akuntansi berikut ini:

Laba = Pendapatan – Biaya


Aset = Liabilitas + Ekuitas
Ekuitas = Aset – Liabilitas
Liabilitas = Aset – Ekuitas

Neraca terdiri dari 3 bagian besar yaitu Aset, Liabilitas, dan Ekuitas. Aset adalah
sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan atau pada harta mana saja perusahaan
mengivestasikan dananya. Terdiri dari 2 bagian besar yaitu Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar.
Liabilitas adalah pendanaan perusahaan yang berasal dari kreditur, atau supplier, atau bank.
Terdiri dari 2 bagian besar yaitu Kewajiban Jangka Pendek dan Kewajiban Jangka Panjang.
Ekuitas adalah hak pemilik terhadap perusahaan yang timbul sebagai akibat penanaman modal
investasi pemilik kedalam perusahaan. Laba rugi usaha akan mempengaruhi langsung kepada
Modal Pemilik. Laba rugi yang diperoleh perusahaan mempengaruhi perkiraan Laba Ditahan
(retained earning). Pemegang saham memperoleh pembagian keuntungan yang diperoleh
perusahaan secara berkala yang disebut dengan Dividen.

Laporan laba rugi terdiri dari: Pendapatan Penjualan adalah variabel Income, harap
diingat penjelasan pada rumus dan persamaan akuntansi sebelumnya, Beban Pokok
Penjualan: segala biaya yang timbul untuk pembuatan barang/jasa yang akan dijual, Laba
Kotor: Penjualan dikurangi Beban Pokok Penjualan, Beban-beban Operasional Lainnya:
umum dan administrasi, keuangan, dll, Pajak: dihitung dari jumlah penghasilan kena pajak
perseroan sesuai dengan peraturan UU yang berlaku, Kepentingan Non Pengendali: bagian
ekuitas dari anak perusahaan yang tidak dapat diatribusikan secara langsung kepada induknya,
Laba: Laba Komprehensif membukukan aktifitas lain yang tidak ada hubungan langsung
dengan kegiatan usaha utama perusahaan, misalnya keuntungan atau kerugian yang
ditimbulkan dari perubahan kurs mata uang. Sementara Laba Bersih berasal dari semua
aktifitas utama perusahaan, Laba Per Saham: Laba bersih dibagi jumlah lembar saham
perseroan yang beredar. Biasa digunakan sebagai salah satu acuan untuk melakukan valuasi
nilai wajar saham berdasarkan rasio P/E (Price to Earning) yang didapat dari membagi harga
saham di pasar dengan Laba Per Saham.

Selanjutnya, Menyajikan perubahan posisi kas sebagai akibat dari penerimaan


(collections) dan pengeluaran kas (cash outlays) selama periode tertentu. Laporan arus kas juga
menggambarkan arus kas masuk dan arus kas keluar dari kegiatan operasional, investasi dan
pembiayaan perusahaan. Terdiri dari 3 bagian besar, yaitu Arus Kas Dari Aktivitas Operasi,
Arus Kas Dari Aktivitas Investasi, dan Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan. Dimana
penjumlahan ketiganya akan menghasilkan Arus Kas Bersih. Kegunaan Laporan Arus Kas:

1) Melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas.


2) Melihat kemampuan untuk membayar dividen dan kewajiban lain.
3) Melihat penyebab perbedaan antara laba bersih dengan arus kas bersih yang
dihasilkan aktivitas operasional.
4) Melihat transaksi keuangan yang berhubungan dengan investasi dan pendanaan.
Arus Kas Dari Aktivitas Operasi terdiri dari Penerimaan kas dari konsumen akibat transaksi
penjualan baik penjualan tunai maupun penjualan kredit, pembayaran ke supplier sehubungan
dengan pembelian bahan baku dan lainnya. Arus kas keluar dari kegiatan operasi lainnya serta
pembayaran bunga sehubungan dengan pembayaran beban operasi dan beban bunga dalam
laporan laba rugi, dan pembayaran tunai pajak. Arus Kas Dari Aktivitas Investasi yaitu
pengeluaran pembelian investasi dan pemasukan dari penjualan investasi. Arus Kas Dari
Aktivitas Pendanaan: Berkaitan dengan semua arus kas baik yang masuk maupun yang keluar
kepada ataupun dari para investor perusahaan, baik pemberi pinjaman maupun pemilik.

Setelah mengenal akuntansi dan pelaporan keuangan perusahaan, selanjutnya akan


mengenal lebih jauh bagaimana cara menganalisa data keuangan tersebut agar dapat menilai
kondisi perusahaan untuk menghasilkan keputusan investasi. Ada beberapa metode yang dapat
digunakan dalam melakukan analisa laporan keuangan perusahaan, seperti analisa horizontal
yaitu disebut juga dengan Trend Analysis, adalah metode analisis yang dilakukan dengan
membandingkan suatu pos (akun) pada laporan keuangan di dalam satu periode terhadap pos
yang sama di periode sebelumnya. Periode yang menjadi patokan biasanya adalah tahunan atau
kuartalan. Lalu ada analisa vertikal yaitu disebut juga Common Size Analysis, adalah metode
analisis dengan membandingkan 2 pos (akun) dalam periode yang sama. Pos (akun) Total Aset
dan Pendapatan Penjualan biasanya menjadi faktor pembagi utama dalam metode ini. serta
penggunaan beberapa rasio. Selanjutnya ada analisa rasio dimana laporan keuangan
melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan (emiten) dalam suatu periode tertentu,
lalu aktivitas ini kemudian dituangkan dalam angka, baik dalam mata uang Rupiah maupun
dalam mata uang asing, lalu angka-angka ini menjadi lebih berarti apabila diperbandingkan
antara satu pos (akun) dengan yang lainnya, dan setelah melakukan perbandingan, kemudian
dapat diperoleh kesimpulan mengenai posisi keuangan suatu emiten untuk periode tertentu.
Pada akhirnya kita dapat menilai kinerja manajemen dalam periode tersebut. Perbandingan ini
kita kenal dengan nama Analisis Rasio Keuangan.

Banyaknya jumlah pos pada laporan keuangan perusahaan yang dapat diperbandingkan
satu sama lain untuk menampilkan kinerja perusahaan pada akhirnya juga menghasilkan
banyak rasio keuangan. Berikut ini adalah pembagian rasio keuangan berdasarkan 4 kategori
besar, yaitu: Rasio Likuiditas adalah rasio dengan mengukur kemampuan perusahaan untuk
membayar pokok kewajiban jangka pendek dan bunga kewajiban jangka panjangnya, semakin
tinggi rasionya, maka perusahaan dianggap memiliki margin of safety yang cukup tinggi pula
yang terdiri dari: acid test, interest coverage, dan working capital. Lalu ada Rasio Pembiayaan
adalah rasio yang menunjukkan besarnya pembiayaan terhadap modal atau penghasilan
perusahaan, sehingga dapat mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban
jangka panjangnya yang terdiri dari: debt to equity ratio, debt to assets ratio, dan solvency ratio.
Lalu ada Rasio Aktivitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk merubah
aset dan modal yang dimiliki untuk dijadikan Kas atau Penjualan yang terdiri dari: assets turn
over, average collection period, dan inventory turn over. Dan yang terakhir ada Rasio Kinerja
adalah rasio yang mengukur kinerja perseroan pada suatu periode tertentu, terhadap periode
sebelumnya. Rasio ini tidak akan banyak berguna apabila tidak dibandingkan terhadap
perseroan lain yang ada di dalam satu sektor industri. Pada dasarnya memiliki metode yang
sama seperti pada Analisa Vertikal yang terdiri dari: earnings per share, price to earnings, book
value per share, price to book value, return on assets, cash return on assets, dividend payout
ratio, dividend yield, gross profit margin, net profit margin, dan return on equity.

Yang terakhir ada analisa DuPon dimana persamaan DuPont memberikan cara lain
dalam melakukan analisis terhadap ROE, di mana ROE dibagi-bagi berdasarkan komponen
pembentuknya untuk kemudian dilakukan analisis terhadap masing-masing komponen tersebut
agar dapat diketahui pada area mana kinerja perusahaan perlu untuk ditingkatkan. Bentuk yang
paling sederhana dari metode analisis DuPont adalah membagi ROE menjadi dua bagian, yaitu
ROA dan Financial Leverage Ratio. ROA dapat dilihat sebagai ukuran seberapa efisien
perusahaan memanfaatkan aset yang mereka miliki sementara Financial Leverage Ratio
menunjukkan porsi jumlah utang yang dapat membentuk atau mempengaruhi ekuitas
perusahaan. Ini menunjukkan bahwa perubahan dalam ROE dapat dihubungkan ke salah satu
perubahan dalam ROA atau jumlah utang (leverage) yang digunakan dalam bisnis. Setelah
mengetahui persamaan dasar ini, kita dapat melanjutkan untuk memecahnya. Berikutnya
adalah memecah ROA menjadi dua faktor yang terpisah, yaitu Net Profit Margin dan Asset
Turnover. Langkah terakhir dalam menjabarkan persamaan DuPont adalah melihat marjin laba
bersih. Adapun marjin laba bersih dapat dipecah ke dalam 3 fungsi utama, yang pertama adalah
marjin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT), biasa disebut juga dengan operating margin. Ini
adalah pendapatan perusahaan yang Diperoleh dari operasi normal tanpa pertimbangan struktur
permodalan. Faktor yang kedua adalah beban bunga, yang membagi laba sebelum pajak
(setelah bunga) dengan EBIT. Hal ini akan menunjukkan berapa banyak penghasilan
perusahaan yang digunakan untuk membiayai hutang dalam struktur modal. Faktor terakhir
yaitu beban pajak yang menunjukkan tingkat pajak perusahaan.