Anda di halaman 1dari 5

RMK

TEORI PASAR MODAL

“Ekonomi dan Kaitannya dengan Kinerja Efek”

Dosen Pengempu : Dr. Gerianta Wirawan Yasa SE., M.Si..

Oleh

PUTU VIO NARAKUSUMA ARDAYANI


1515351012

Program Ekstensi Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
EKONOMI DAN KAITANNYA DENGAN KINERJA EFEK

Pasar adalah media bertemunya pembeli dan penjual barang/jasa untuk melakukan
pertukaran. Sebuah pasar dikatakan memiliki persaingan yang sempurna apabila terdiri dari
banyak pembeli dan penjual sehingga masing-masing memiliki dampak yang sama terhadap
pembentukan harga, yang diperoleh melalui proses bertemunya Permintaan dan Penawaran
terhadap satu barang/jasa yang sama. Bursa Efek (pasar surat berharga) adalah cerminan dari
teori ini. Fenomena ekonomi yang dapat mempengaruhi suatu pasar salah satunya adalah
fenomena inflasi. Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara
umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut
inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang
lainnya. (sumber: Bank Indonesia). Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan
ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan
bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial
ekonomi masyarakat. (Sumber: Bank Indonesia). Inflasi yang tinggi akan menyebabkan
pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan
akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin. Inflasi yang
tidak stabil juga akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam
mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan
menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang
pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi domestik yang lebih
tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik
riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai Rupiah.

Tingkat laju inflasi memiliki hubungan jangka panjang dan negatif terhadap harga
saham (Cohn, Richard A. dan Donald R, 1980). Inflasi berkepanjangan akan mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan apabila kenaikan biaya lebih besar daripada kenaikan penjualan.
Harga – harga yang naik tinggi mendorong naiknya angka inflasi. Jika angka inflasi tinggi,
Bank Indonesia cenderung meningkatkan suku bunga guna meredam inflasi (termasuk dalam
kebijakan moneter). Namun, hal tersebut berdampak pada perusahaan (emiten), dimana beban
perusahaan akan bertambah terutama untuk perusahaan yang banyak memiiki utang di bank.
Dengan bertambahnya beban perusahaan, maka keuntunga perusahaan akan menurun. Hal ini
akan membuat investor akan lebih memilih mengamankan uang mereka di bank dibandingkan
di pasar modal. Dengan bank menaikkan suku bunga akan memicu minat masyarakat untk
menabung, dengan demikian uang yang beredar akan semakin sedikit sehigga inflasi dapat
diredam.
Selain kebijakan moneter diatas, terdapat pula kebijakan fiskal yang dapat
memengaruhi kinerja efek seperti Indeks harga saham dan obligasi mengalami kenaikan pada
saat Pemerintah mengumumkan rencana pengurangan subsidi BBM pada bulan November
2014, serta pengesahan UU Pengampunan Pajak pada bulan Juni 2016. Kedua hal tersebut
termasuk dalam Kebijakan Fiskal yang diyakini investor akan berdampak baik bagi keuangan
negara, terutama dalam membiayai pembangunan.

Untuk dapat mengetahui segala variabel yang dapat mempengaruhi nilai intrinsik
sebuah surat berharga (termasuk kondisi makroekonomi sebuah negara dan kondisi industri
dimana perusahaan itu berada, maupun kondisi spesifik dari perusahaan itu sendiri) maupun
memprediksi pergerakan harga suatu instrumen keuangan (dalam hal ini surat berharga/efek)
di masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu, terutama pergerakan harga dan volume
untuk kepentingan suatu investasi, perlu adanya analisis ekonomi terhadap kegiatan usaha
perusahaan. Analisa dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu analisis fundamental dan analisis
teknikal.

Dalam analisis fundamental, terdapat 2 macam pendekatan analisis yaitu analisis


fundamental top – down approach yaitu analisis yang dimulai dengan melakukan analisis pada
ekonomi global, termasuk indikator ekonomi nasional dan internasional, seperti pertumbuhan
GDP, inflasi, tingkat suku bunga, dan nilai tukar. Kemudian selanjutnya analisis total asset dan
tingkat harga industri/regional, tingkat persaingan dan tingkat kemudahan untuk masuk dan
keluar dari industry, dan analisis fundamental bottom – up approach yaitu dimana seorang
investor fokus hanya pada analisa satu perusahaan saja dengan mengasumsikan bahwa
perusahaan tersebut dapat memiliki kinerja yang baik (bahkan pada saat kondisi perekonomian
dan industrinya tidak baik).

Sedangkan analisis teknikal adalah metode analisis yang digunakan untuk memprediksi
pergerakan harga suatu instrumen keuangan (dalam hal ini surat berharga/efek) di masa yang
akan datang berdasarkan data masa lalu, terutama pergerakan harga dan volume. Analisis
teknikal dapat menggunakan berbagai indikator sebagai dasar penilaian, misalnya: untuk
pergerakan harga digunakan beberapa indikator seperti Indeks Kekuatan Relatif (Relative
Strength Index), Indeks Pergerakan Rata-rata (Moving Average), regresi, korelasi antar pasar
dan intra pasar, dan siklus. Selain menggunakan indikator, analisis teknikal juga dapat
menerapkan cara klasik sebagai dasar penilaian, yaitu dengan menganalisis pola grafik.

Adapun faktor – faktor yang memengaruhi permintaan dan penawaran investasi ( dalam
hal ini saham ) antara lain berikut ini beberapa faktor (aksi korporasi, corporate action)
yang dapat mempengaruhi jumlah penawaran (supply) saham yang beredar di pasar:

1. Kebutuhan perusahaan (emiten) untuk menambah modal: Perusahaan dapat


menerbitkan saham baru pada saat membutuhkan tambahan modal. Selain dengan
skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD, Right Issue), perusahaan juga
dapat menggunakan skema non-HMETD atau biasa disebut dengan Private Placement.
2. Ketika opsi saham untuk karyawan dieksekusi: Ketika karyawan diberikan opsi saham,
hal ini akan berpotensi untuk meningkatkan jumlah saham beredar dan kapitalisasi
pasar (market capitalization).
3. Terjadinya pemecahan nilai saham (stock split): Pemecahan nilai saham menjadi
nominal yang lebih kecil atau besar (reverse stock split) akan menimbulkan perubahan
pada jumlah lembar saham yang beredar di pasar secara volume, namun tidak akan
menimbulkan perubahan pada market cap apabila tidak diikuti dengan aksi korporasi
lainnya.
4. Adanya pembelian saham kembali (buy back): Jumlah saham beredar dapat berkurang
apabila perusahaan memutuskan untuk melakukan buy back.
5. Adanya likuidasi dari pemegang saham mayoritas: Pemegang saham mayoritas dapat
melikuidasi (mengalihkan, menjual) saham yang dimilikinya baik kepada pihak lain
secara tertutup, atau kepada publik secara terbuka.

Pelaksanaan untuk semua aksi korporasi tersebut diatas wajib mengikuti aturan yang telah
ditetapkan oleh OJK dan BEI. Sebagai contoh, persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) menjadi syarat mutlak bagi pelaksaan sebagian besar aksi korporasi tersebut diatas.
Selanjutnya adalah beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan (demand)
saham suatu perusahaan yaitu:

1. Keuntungan perusahaan: Keuntungan perusahaan yang lebih besar dari harapan


investor, dapat dianggap sebagai sinyal positif dan dapat mengakibatkan kenaikan
permintaan atas saham perusahaan tersebut, terutama bagi investor yang mengharapkan
pembagian dividen lebih besar dari perkiraan semula.
2. Perluasan pasar dan/atau kontrak penjualan baru: Perluasan pasar atau penerbitan
kontrak penjualan baru dapat memberikan sentimen positif bagi investor karena dapat
berpotensi meningkatkan laba perusahaan tsb.
3. Hutang perusahaan: Peningkatan hutang melebihi modal atau potensi pendapatan yang
akan diperoleh dapat menjadi sentimen negatif terhadap kinerja perusahaan, namun
apabila peningkatan hutang tidak melebihi modal atau potensi pendapatan yang akan
diperoleh maka dampaknya cenderung positif, karena apabila dikelola dengan baik,
hutang dapat menjadi sumber pendanaan ekspansi kegiatan bisnis perusahaan.
4. Berita lainnya: Berita seputar perkembangan kegiatan bisnis perusahaan, sektor
industri, keadaan ekonomi negara tempatnya berdomisili, rencana aksi korporasi, dll,
dapat menyebabkan perubahan pada permintaan atas saham perusahaan tsb. Berita-
berita yang baik akan meningkatkan permintaan saham perusahaan, sedangkan berita
yang dianggap buruk akan menurunkan permintaan atas saham perusahaan.
5. Psikologi massa: Psikologi massa dapat memainkan peranan yang penting pada
permintaan saham perusahaan. Sama halnya dengan saham individual, keseluruhan
pasar dapat bergerak cepat ketika para investor percaya bahwa saham atau pasar akan
naik atau turun, walaupun disana tidak terdapat dasar rasional mengenai perubahan
tersebut. Pergerakan ekstrim keatas disebut dengan bubbles atau panic buying.
Sedangkan, pergerakan ekstrim kebawah disebut dengan panic selling.