Anda di halaman 1dari 6

RMK

TEORI PASAR MODAL

“Penilaian Efek Bersifat Ekuitas dan Penilaian Obligasi”

Dosen Pengempu : Dr. Gerianta Wirawan Yasa SE., M.Si..

Oleh

PUTU VIO NARAKUSUMA ARDAYANI


1515351012

Program Ekstensi Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
PENILAIAN EFEK BERSIFAT EKUITAS

I. VALUASI SAHAM
Saham adalah efek bersifat ekuitas yang dibedakan menjadi 2 macam, sesuai dengan
hak yang melekat padanya, yaitu Saham Preferen (Preferred Stock) dan Saham Biasa (Common
Stock). Keduanya pun memiliki metode penilaian (valuasi) masing-masing seperti akan
dibahas dibawah ini.

II. SAHAM PREFEREN


Selain tidak memiliki hak voting di dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), ada
beberapa hal lain yang perlu diketahui mengenai saham preferen, yaitu memiliki klaim tertinggi
diatas saham biasa atas aset dan laba perusahaan, serta memiliki hak pembayaran dividen yang
tetap. Apabila perusahaan belum sanggup membayarkan dividen, bukan berarti perusahaan
tersebut mangkir dari kewajibannya, melainkan dividen pemegang saham preferen tsb akan
diakumulasikan. Oleh karena hal tersebut, saham preferen disebut juga hybrid security, karena
meskipun bersifat ekuitas, namun juga memiliki hak seperti efek bersifat hutang. Valuasi untuk
menghitung present value dari preferred stock dapat dilakukan dengan metode perpetuity
seperti di bawah ini:

Annual Dividend
Vps =
Required Rate of Return

Vps: Present Value of Prefered Stock

III. SAHAM BIASA


III.1. DDM (Dividend Discount Model)
Seperti menilai obligasi dan saham preferen, nilai saham biasa sama dengan nilai sekarang dari
semua arus kas masa depan yang diharapkan akan diterima oleh pemegang saham. Akan tetapi
berbeda dengan obligasi, saham biasa tidak menjanjikan kepada pemegangnya penghasilan
bunga atau pembayaran pokok pada saat jatuh tempo. Saham biasa juga tidak memberi dividen
tetap seperti yang diberikan saham preferen. Untuk saham biasa, dividen didasarkan pada:

1. Keuntungan perusahaan,
2. Keputusan manajemen untuk membayar dividen atau menginvestasikan kembali
keuntungan untuk pengembangan perusahaan.

Dalam analisis saham, nilai intrinsik yang kita taksir dibandingkan dengan nilai pasar saham
tersebut saat ini (current market price). Pedoman yang digunakan adalah sebagai berikut:

i. Apabila nilai intrinsik (V0) > harga pasar (P0), maka saham tersebut undervalued, sehingga
layak dibeli atau ditahan apabila saham tersebut dimiliki.
ii. Apabila nilai intrinsik (V0) < harga pasar (P0), maka saham tersebut overvalued, sehingga
layak dijual.
iii. Apabila nilai intrinsik (V0) = harga pasar (P0), maka saham tersebut dianggap menunjukkan
nilai yang wajar dan berada dalam kondisi keseimbangan.

Bagi investor yang memegang saham biasa hanya untuk satu periode (misal satu tahun), maka
nilai dari saham biasa adalah sebesar nilai sekarang dari dividen yang akan diterima selama
satu tahun, dan nilai sekarang dari harga pasar tahun depan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

D1 P1
V cs =
(1+kcs) (1+kcs)

Vcs = nilai intrinsik atau nilai sekarang dari saham biasa


D1 = dividen yang akan diterima tahun depan (tahun ke-1)
P1 = harga saham biasa tahun depan (tahun ke-1)
kcs = tingkat pengembalian yang diinginkan pemilik saham biasa

III.2. Cash Flow Model:


III.2.1 Present Value of Operating Free Cash Flow

Biasa disingkat FCFF (free cash flow for the firm), yang didapat dari Operating Cash
Flow dikurang Capital Expenditures. Free Cash Flow (FCF) menunjukkan besarnya kas yang
mampu dihasilkan perusahaan untuk mempertahankan, atau melakukan ekspansi bisnis dan
mengembangkan asetnya.

Secara umum juga dapat dijelaskan sebagai cash flow setelah direct cost dan sebelum
pembayaran kepada capital supplier. Artinya operating free cash flow merupakan free cash
flow setelah memenuhi interest, principal payment, dan capital expenditure. Untuk mengelola
aset guna mendanai aset baru yang berpengaruh pada pertumbuhan dari perusahaan tersebut.

Dimana
Vj = nilai perusahaan j
n = banyaknya periode diasumsikan infinite (tak hingga)
OFCFt = operating free cash flow perusahaan pada periode t WACCj = weighted
average cost of capital perusahaan

Di mana,
WACC = WE.KE + WD.KD dan WD+WE = 1
WE = Porsi pembiayaan modal sendiri/ekuitas
KE = Biaya modal sendiri (Cost of equity)
WD = Porsi Pembiayaan Hutang
KD = Biaya Modal pihak ketiga (Cost of Debt)

Jika dengan infinite period maka:

Dimana

OFCF1 = operating free cash flow pada periode 1 = OFCF0(1+gOFCF)


gOFCF = tingkat pertumbuhan konstan jangka panjang dari operating free cash flow

FCFF = FCFE + Interest expense (1-Tax Rate) + Principal Repayment – New Debt Issue + Preferred Dividend
atau
FCFF = EBIT ( 1- Tax Rate) + Depresiasi – Capital Expenditure - ∆Working Capital

III.2.2 Present Value of Free Cash Flow of Equity (FCFE)

Merupakan penghitungan cash flow yang tersedia untuk pemegang equity setelah
perusahaan membayar utang dan memberikan kesempatan expenditure untuk mengelola aset
perusahaan. Dengan kata lain, free cash flow of equity merupakan cash flow yang tersedia untuk
semua pihak yang memiliki klaim pada perusahaan.

Dimana
Vj = nilai perusahaan j
n = banyaknya periode diasumsikan infinite (tak hingga)
FCFEt = free cash flow to equity perusahaan pada periode t

FCFE= Net Income + Depresiasi - Capital Expenditure - ∆working capital - Principal Debt +
New Debt Issue Atau FCFE = Net Income – (1 – g)(Capital Expenditure- Depresiasi) – (1 - g) ∆Working
Capital
PENILAIAN OBLIGASI

Dalam menghitung nilai intrinsik saham dan obligasi, kita akan menggunakan konsep
nilai waktu dari uang (time value of money). Nilai intrinsik dari saham dan obligasi sama
dengan nilai sekarang dari sejumlah arus kas yang diharapkan akan diterima oleh investor dari
saham dan obligasi tersebut.

I. METODE VALUASI OBLIGASI


Obligasi (bond) adalah surat hutang, atau kesanggupan jangka panjang dengan janji
untuk membayar kepada pemegangnya berupa sejumlah uang yang telah ditetapkan
sebelumnya dalam jumlah yang tetap pada setiap periodenya (bisa tahunan, kuartalan,
semesteran, dll) sampai jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, nilai pokok (principal) dari
obligasi akan dibayarkan kepada pemegang obligasi.

Perjanjian kontrak dari sebuah obligasi secara spesifik menjelaskan tingkat bunga
kupon yang dinyatakan baik dalam persentase dari nilai par atau jumlah bunga yang tetap di
mana perusahaan peminjam berjanji untuk membayarkan kepada pemegang obligasi setiap
tahun. Misalkan obligasi dengan nilai par 1.000, tingkat bunga kupon 9%, artinya pembayaran
bunga tahunan adalah sebesar 90.

Obligasi membayar kupon/bunga yang tetap (fixed coupon/ interest) dalam interval
waktu yang tetap (biasanya tiap enam bulan atau satu tahun) dan membayar par value (nilai
par/nominal) pada saat jatuh tempo.

Secara umum, nilai intrinsik dari sebuah aset sama dengan present value dari sejumlah
arus kas yang diharapkan/perkirakan yaitu coupon dan hutang pokok dengan required rate of
return (tingkat pengembalian yang diinginkan) tertentu. Jadi nilai obligasi merupakan fungsi
dari:

1. Jumlah dan waktu penerimaan dari arus kas.


2. Required rate of return dari investor dalam melakukan investasi.

Nilai dari sebuah aset dapat diperoleh dengan menghitung present value dari seluruh
arus kas yang diharapkan akan diperoleh di masa depan. Penilaian ini dapat dinyatakan dalam
persamaan umum present value. Untuk penilaian obligasi, diskontokan arus kas yang diperoleh
dari obligasi yang bersangkutan pada required rate of return investor. Arus kas dari obligasi
berupa:

1. The coupon payment (tahunan/tengah tahunan/3 bulanan)


2. The par value payment (satu kali pada saat jatuh tempo)
Dimana:
𝑉𝐵 = harga obligasi (nilai intrinsik obligasi)
𝐶𝑡 = coupon (kupon obligasi)
i = tingkat bunga
n = jangka waktu

I.1. Yield To Maturity


Dapat juga dikatakan sebagai expected rate of return (tingkat pengembalian yang
diharapkan dari obligasi). Kita menghitung expected rate of return dengan mencari
discount rate yang menghasilkan present value dari seluruh pembayaran kupon dan
prinsipal sama dengan harga pasar obligasi saat ini.

Return (YTM) ini akan diperoleh jika obligasi dipegang oleh investor sampai dengan
jatuh tempo dengan cacatan perusahaan yang mengeluarkan tidak mengalami kegagalan
pembayaran (default).

Dimana:
𝑉𝐵 = harga obligasi (nilai intrinsik obligasi)
𝐶𝑡 = coupon (kupon obligasi)
YTM = tingkat bunga
n = jangka waktu

I.2. Zero Coupon Bond


Zero coupon bond adalah tipe obligasi di mana:
1. Tidak ada pembayaran kupon.
2. Return investor ditentukan seluruhnya dari diskon harga obligasi.

Valuasi nilai intrinsik dari obligasi tanpa bunga adalah sebagai berikut:

Dimana:
𝑉𝐵 = harga obligasi (nilai intrinsik obligasi)
i = tingkat bunga
n = jangka waktu