Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perkembangan Pabrik


PT. Holcim Indonesia Tbk. atau dahulu dikenal dengan nama PT.
Semen Nusantara didirikan berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal
Asing No. 1 Tahun 1967, UU No. 11 tahun 1970. Berdasarkan rapat BKPN
pada tanggal 20 Desember 1973 telah dinyatakan kelayakan terhadap proyek
proposal pendirian pabrik semen di Cilacap Jawa Tengah dalam rangka
penanaman modal asing. Persetujuan dari Bapak Presiden RI dengan SK No.
B-76/PRES 3/1974 tertanggal 4 Maret 1974 telah diperoleh sesuai
permohonan dari pemegang saham yang terdiri dari :

1. PT. Gunung Ngadeg Djaya (30% saham) Pengusaha Swasta Nasional.


2. Onoda Cement Co.Ltd (35% saham) Pengusaha Swasta Jepang
3. Mitsui Co.Ltd (35% saham) Pengusaha Swasta Jepang

Yang telah terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari BKPN


dengan Nomor: B 183/bkpn/II/1974 dan kemudian oleh Menteri Perindustrian
RI dikeluarkan ijin Pendirian Industri Semen di Cilacap dengan surat Nomor:
126/M/SK/3/74. PT. Semen Nusantara sebagai badan hukum secara resmi
didirikan berdasarkan Akte Notaris Kartini Mulyadi SH di Jakarta, dengan
register Nomor: 133 tanggal 18 Desember 1974 dengan usulan akte
perubahan No. 46 tanggal 11 Maret 1975, dalam bentuk Perseroan Terbatas
dan berstatus Penanaman Modal Asing (Join Venture), kemudian dikukuhkan
dengan surat Menteri Kehakiman RI No.V.A/5/96/25 tanggal 23 April 1975.

Pulau Nusakambangan yang tadinya sebagai lokasi tertutup telah


dicabut SK Presiden RI No. 38 tahun 1974. Dengan demikian dimungkinkan
bagi PT. Semen Nusantara untuk memanfaatkan sebagian areal Pulau
Nusakambanagan sebagai lokasi penambangan batu kapur yang merupakan
salah satu bahan baku utama dalam pembuatan semen, dan sebagai salah satu
usaha perwujudan pasal 33 UUD 1945. kemudian realisasinya PT. Gunung

1
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Ngadeg Djaya sebagai pemegang saham pihak Indonesia mendapat ijin


penambangan daerah Gubernur Daerah KDH TK 1 Jawa Tengah untuk :

1. Konsensi penambangan batu kapur di Pulau Nusakambangan seluas


1000 hektar sejak tahun 1975.
2. Konsensi penambangan tanah liat di Desa Tritih Wetan seluas 250
hektar.
3. Lokasi Pabrik semen di Kelurahan Karangtalun Kecamatan Cilacap
Utara dengan luas 26,5 hektar.
4. Lokasi perumahan di Kelurahan Gunung Simping dengan luas 10
hektar.
5. Lokasi service station/shipping distribution lengkap dengan loading
facility seluas 3,5 hektar (status kontrak dengan Perum Pelabuhan III
cabang Cilacap).

Pada waktu pendirian PT. Semen Nusantara menggunakan modal sebagai


berikut :

Data Semula Tahun 1984


Modal Dasar Perseroan $ 21.000.000 $ 21.000.000
Modal Peminjaman $ 84.000.000 $ 92.000.000
Jumlah $ 105.000.000 $ 113.000.000
Tabel 1.1 Modal Pendirian PT. Semen Nusantara

Peletakan batu pertama pendirian Pabrik Semen Nusantara dilakukan


oleh Bupati KDH tingkat II kabupaten Cilacap, yaitu Bapak H. RYK Mukmin
pada tanggal 19 Juni 1975. Pembangunan fisik dimulai tanggal 1 Juli 1975
dan selesai tanggal 5 April 1977. Dalam pembangunan Pabrik Semen
Nusantara, sebagai konsultan perencanaan dan pembangunan pabrik adalah
Naigai Consultant dan Co., Ltd, Jepang. Suplier mesin-mesin dan pengawas
pembangunan adalah F.L Smith, Prancis dengan peralatan dari Jerman,
Prancis, Denmark dan Jepang. Civil Engineering dilakukan oleh PT. Jaya
Obayashi Gumi dan instalasi listrik oleh PT. Promits.

Selama pembangunan pabrik tersebut telah mempekerjakan kira-kira


1800 orang tenaga kerja Indonesia dan 150 orang tenaga asing yang bertindak
sebagai tenaga ahli yang berasal dari Prancis, Jerman, Denmark, dan Jepang.
Pada tanggal 1 Juli 1977, PT. Semen Nusantara sudah mulai berproduksi dan

2
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

produksi komersial telah ditetapkan sejak tanggal 1 September 1977. Jenis


semen yang dihasilkan adalah semen Portland Type 1 dengan logo Candi
Borobudur dan Bunga Wijaya Kusuma sedangkan pengawasan mutu
dilakukan oleh Technical Asisitant dari Onoda Jepang dan Lembaga
penelitian Bahasa Departemen Perindustrian dan Kimia Bandung.

Sejak tanggal 10 Juni 1993, PT. Semen Nusantara telah memiliki


status baru yaitu dengan pengambilan saham 100% oleh Indonesia, yang
kemudian oleh PT. Semen Cibinong Tbk. Diakuisisi sebagai unit IV dari grup
Semen Cibinong pada tanggal 14 Juli 1993 dan diberi nama PT. Semen
Cibinong Tbk. Di Pabrik Cilacap terdiri dari dua sentral produksi CP 1
(pabrik lama) dan CP 2 (pabrik baru).

Pemenuhan kebutuhan pasar khusunya di daerah Jawa Tengah dan


DIY dilakukan oleh PT. Semen Cibinong Tbk. Pabrik Cilacap dengan cara
memperbesar kapasitas produksi melalui:

1. Pengadaan pregrinding sehingga dapat mempercepat penggilingan


yang diharapkan kapasitas produksi bertambah hingga 500.000
ton/tahun sehingga produksi menjadi 1.500.000 ton/tahun dan mulai
operasi pada Juni 1995.
2. Perluasan dengan menambah 1 unit pabrik sekaligus merupakan unit
kelima yang dibangun di kawasan Industri Cilacap II dengan kapasitas
sebesar 2,6 juta ton/tahun.

Proyek pembangunan CP-2 dimulai pada bulan Januari 1995 dan


selesai pada bulan April 1997, sehingga kapasitas total PT. Semen Cibinong
Pabrik Cilacap adalah 4,1 juta ton/tahun. Pada tahun 2005 semenjak terdiri
kenaikan BBM, maka pabrik CP-1 ditutup karena biaya operasi di CP-1
melebihi budget yang telah disediakan oleh pabrik sehingga pabrik
mengalami kerugian. Biaya operasi naik karena di CP-1 menggunakan
pembangkit listrik generator yang berbahan bakar IDO (Industry Diesel Oil).
Selain itu kapasitas pabrik CP-1 pada kenyataannya hanya sepertiga dari
Pabrik CP-2.

3
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Pada tahun 2000, PT. Semen Cibinong Tbk. Pabrik Cilacap setuju
untuk diadakan restrukturisasi hutang dengan para kreditor. Hutang perseroan
telah dikurangi sebesar $500 juta, selain itu PT. Tirtamas Maju Tama sebagai
pemegang saham terbesar telah menjual seluruh sahamnya pada perusahaan
Holcim dari Swiss, sehingga pemegang saham terbesar saat ini adalah:

 Holcim 77,33 %
 Kreditor 16,1 %
 Umum 6,6 %

Pada tanggal 13 Desember 2001, Holcim Ltd. Menjadi pemegang


saham utama dengan total 77,33 %. Kantor pusat PT Holcim Tbk, terletak di
Menara Jamsostek, Gedung Utara lantai 14 dan 15, Jalan Jend. Gatot Subroto
NO. 38, Jakarta.

Pada tanggal 30 Desember 2004 Holcim Participation Ltd. menjual


seluruh saham tersebut kepada induk perusahaannya yaitu Holderfin B.V.
pemegang saham mayoritas PT. Semen Cibinong dengan kepemilikan
5.925.921.820 lembar itu terjual seluruh penyertaan kepada Holderfin B.V
dengan nilai transaksi sebesar Rp. 2,5 Trilyun (USD 256,48juta).

Holderfin yang berkedudukan di Belanda tersebut merupakan induk


perusahaan sekaligus pemegang saham Holcim yang berkedudukan di
Mauritus. Pengalihan kepemilikan saham Semen Cibinong oleh Holcim
kepada Holderfin itu, menurut Timothy Mackay, adalah bagian dari
rekonstruksi internal Holderfin.

Mulai tanggal 1 Januari 2006, nama PT. Semen Cibinong diganti


dengan nama PT. Holcim Indonesia Tbk. Sesuai dengan keputusan yang
diperoleh pada rapat yang diadakan pada tanggal 24 April 2005.

1.2 Lokasi Pabrik


Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan suatu
pabrik adalah pemilihan lokasi pabrik itu sendiri, karena lokasi pabrik secara
tidak langsung akan menentukan kelangsungan dan keberhasilan suatu
perusahaan. Pemilihan lokasi pabrik harus diusahakan sedemikian rupa

4
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

sehingga dekat dengan sumber bahan baku, sasaran pasar dan fasilitas
transportasi yang memadai. Serta tersedianya tenaga ahli. Oleh karena itu
pemilihan lokasi yang tepat akan meningkatkan efisiensi dari pabrik.
Adapun pemilihan lokasi pabrik PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik
Cilacap di Desa Karang Talun didasarkan pada perimbangan-pertimbangan
sebagai berikut :
1. Tersedianya bahan baku
Bahan Baku yang tersedia di sekitar pabrik cukup memadai, diantaranya :
1) Batu kapur dari Pulau Nusakambanagan,
2) Tanah liat dari Jeruklegi,
3) Pasir besi dibeli dari PT. Aneka Tambang yang memiliki area
penambangan di sekitar pantai Adipala Cilacap,
4) Pasir Silika di daerah Jatinegoro, Rembang dan sekitar Bandung Jawa
Barat
2. Fasilitas Transportasi
Bagi suatu industri, transportasi merupakan salah satu hal yang penting,
karena melalui transportasi bahan baku ataupun jadi dapat dipindahkan
dari pabrik. Adanya pelabuhan alam Wijaya Pura yang telah memiliki
fasilitas bongkar muat yang memadai, sarana angkutan darat melalui jalan
raya dan jalur kereta api mempermudah pengangkutan bahan baku maupun
distribusi produk ke daerah-daerah pemasaran.
3. Merupakan daerah kawasan industri
Kota Cilacap sejak tahun 1970 telah dipersiapkan sebagai daerah kawasan
industri dengan fasilitas transportasi yang memadai.
4. Daerah pemasaran
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah
pemasaran utama, sedangkan Jawa Barat merupakan daerah pemasaran
lainnya. Selain itu, diusahakan untuk menembus pasaran ekspor baik
semen maupun clinker. Daerah pemasaran ekspor yang sudah berhasil
ditembus antara lain : Srilanka, Bangladesh, Australia, Mauritus, Malaysia,
dan Amerika.
5. Tenaga Kerja

5
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Cilacap merupakan salah satu daerah yang padat penduduknya, sehingga


memudahkan dalam hal pemenuhan tenaga kerja.
6. Penyediaan Air
Kota Cilacap merupakan kota yang dikelilingi laut, maka kebutuhan air
mudah diperoleh. Selain itu, di lingkungan pabrik tersedia sumur sebagai
sumber air melalui pengeboran dan desalinasi air laut.

Gambar 1.1 Tata letak Penambangan limestone diNusakambangan

Sumber: Sigit, Umar., “Reference Guide For Process Performance Engineers


(4th ed)”, Holcim, 2007. Diakses 20 Februari 2018

Tata letak pabrik PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap dapat dilihat
pada gambar 1.2

6
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

1 7

2
4 8
3 5
6
18

17

16 15 14 13
12
11 10 0 9

Gambar 1.2 Tata letak pabrik PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap Sumber:
Sigit, Umar., “Reference Guide For Process Performance Engineers (4th ed)”,
Holcim, 2007. Diakses 20 Februari 2018

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan suatu


pabrik adalah pemilihan lokasi pabrik itu sendiri, karena lokasi pabrik secara
tidak langsung akan menentukan kelangsungan dan keberhasilan suatu
perusahaan. Pemilihan lokasi pabrik harus diusahakan sedemikian rupa
sehingga dekat dengan sumber bahan baku, sasaran pasar dan fasilitas
transportasi yang memadai
Sesuai denah tata letak yang ditampilkan Gambar 1.1, berikut adalah
keterangan untuk masing-masing lokasi di PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik
Cilacap :
1. Ship jetty 10. Area Clinker cooler & clinker
bin
2. Settling pond dan unit desalinasi 11. Area gedung A, gedung B dan
air laut kantin
3. Tempat penyimpanan bahan 12. Rotary kiln
baku.
4. Stasiun penerimaan aditif 13. Homogenizing silo dan gedung
preheater
5. Packhouse 14. Area Raw mill dan Coal mill

7
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

6. Gedung finish mill 15. Cerobong stack utama


7. Clinker silo 16. Area parkir kendaraan
8. PT PLN 17. Taman/ Lahan penghijauan
9. Area workshop, warehouse, dan 18. Water pond
garasi.

1.3 Bahan Baku dan Produk yang Dihasilkan


1.3.1 Bahan Baku Utama dan Bahan Baku Pendukung
Bahan baku dan bahan pendukung yang ada, baik yang berasal dari
tambang maupun dari pihak lain yang menyediakannya, perlu dipersiapkan
terlebih dahulu sebelum masuk ke unit produksi yang pertama. Hal ini
perlu dilakukan agar bahan–bahan tersebut sesuai standar kualitas yang
ditetapkan oleh perusahaan. Bahan baku untuk pembuatan semen dibagi
menjadi dua yaitu :

A. Bahan Baku Utama


a. Batu Kapur (limestone)
Komponen utama dalam pembuatan semen adalah batu kapur.
Pemakaiannya dalam tepung baku sebanyak 77%. Komposisi utama
batu kapur yaitu CaCO3 dengan kandungan minimal 93% dan
MgCO3 dengan kandungan tidak lebih dari 2%. Kebutuhan batu
kapur diambil dari Quarry Sodong Pulau Nusa Kambangan, dengan
kandungan CaCO3 ± 96%.
Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut:
 Wujud : padat
 Bentuk : bongkahan
 Ukuran : maks. 7,5 cm
 Kenampakan : putih kekuningan

Tabel 1.2. Komposisi Batu Kapur

Komponen Komposisi (% berat)


CaCO3 86-90
SiO2 1,5-2,46
Al2O3 0,7-1,5
Fe2O3 0,37-0,6
MgCO3 0,4-0,7
Na2O 0,01-0,034

8
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

K2O 0,02-1,2
H2O 7-7,2
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

b. Tanah Liat (clay)


Tanah liat merupakan sumber SiO2 dan alumina. Dalam semen,
tanah liat digunakan sebagai bahan pembantu (pengoreksi).
Umumnya tanah liat terbentuk oleh aluminat silikat hidroksida
(Al2O3.SiO3.2H2O) mineral oksida silika (SiO2) merupakan
komponen yang paling dominan dalam tanah liat. Komposisi dalam
tepung baku sebanyak 15%. Tanah liat yang digunakan didapat dari
penambangan.
Adapun spesifikasinya adalah yaitu:
 Wujud : padat
 Bentuk : flake
 Ukuran : maks. 3 cm
 Kenampakan : coklat kehitaman

Tabel 1.3 Komposisi Tanah Liat

Komponen Komposisi (% berat)

SiO2 48,4-52,3
Al2O3 16,7-18,2
Fe2O3 7,2-8
MgCO3 1,8-2,4
CaCO3 7,5-8
H2O 14,5-15

Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

c. Pasir Silika (silica sand)

9
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Pasir Silika merupakan bahan baku yang mempunyai fungsi untuk


menaikkan kadar silika dalam campuran bahan baku, karena
kandungan SiO2 dari tanah liat tidak mencukupi. Pasir silika
dikatakan baik jika mempunyai kandungan SiO2 lebih dari 90% dan
dalam keadaan murni biasanya berwarna putih. Komposisi pasir
silika dalam tepung baku sebanyak 6%. Pasir silika didatangkan
dari daerah Jatirogo Jawa Timur, dan Padalarang Jawa Barat.
Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut :
 Wujud : padat
 Bentuk : butiran (pasir)
 Kenampakan : abu-abu

Tabel 1.4 Komposisi Pasir Silika

Komponen Komposisi (% berat)


SiO2 89-91
Al2O3 4-5
Fe2O3 1,5-5
H2O 3,5-4
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

d. Pasir Besi (iron sand)


Fungsi pasir besi dalam pembuatan semen adalah untuk
mempermudah pelelehan. Komposisi pasir besidalam tepung baku
sebanyak 2%.Pasir tidak perlu ditambahkan bila kadar Fe2O3 dari
batu kapur dan tanah liat telah mencukupi dari persentase yang telah
ditentukan. Pasir besi diperoleh dari PT. Aneka Tambang Cilacap
yang memiliki areal tambang di sekitar pantai Cilacap. Pasir besi
jika bereaksi dengan CaO dan Al2O3 akan membentuk garam
calcium aluminat ferit.
Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut :
 Wujud : padat
 Bentuk : butiran (pasir)
 Kenampakan : hitam

Tabel 1.5 Komposisi Pasir Besi

Komponen Komposisi (% berat)


Fe2O3 64-66

10
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

SiO2 23-23,6
Al2O3 7-8,2
H2O 4-4,2
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

B. Bahan Baku pendukung


a. Gypsum (CaSO4.2H2O)
Dalam pembuatan semen Portland, gypsum berfungsi untuk
mengendalikan kecepatan pengerasan semen (setting time).
Gypsum merupakan satu – satunya bahan yang masih diimpor dari
Thailand, selain itu diperoleh dari Petrokimia Gresik, Jawa Timur.
Gypsum ini digunakan pada proses pencampuran akhir dan
persentase pemakaiannya sebanyak 3–4%, bila pemakaian gypsum
kurang maka akan terjadi kelebihan C3A yang mengakibatkan
panas yang besar sehingga semen mudah retak dan cepat mengeras.
Sedangkan apabila gypsum berlebihan, maka akan mengakibatkan
kadar SiO2 naik dan terjadi blocking. Gypsum ditambahkan dalam
bahan–bahan utama yang telah digiling dan dimasak menjadi
klinker, kemudian digiling bersama–sama dalam finish mill
menjadi semen.
Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut :
 Wujud : padat
 Bentuk : bubuk
 Ukuran partikel : 50 mm (min) – 156 mm (maks)
 Kenampakan : putih keabuan

Tabel 1.6 Komposisi Gypsum

Komponen Komposisi (% berat)


CaSO4.2H20 96

H2O 4

Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

b. Addictive

11
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Bahan addictive yang digunakan pada proses pembuatan semen di


PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap yaitu pozzoland, fly ash
dan dolomite.
a) Pozzoland dan Dolomite
Pozzoland diperoleh dari Banjarnegara sedangkan dolomite
diperoleh dari Pulau Nusakambangan. Pozzolan dan dolomite
digunakan dalam proses sebanyak 45 t/h. Fungsi dari pozzoland
adalah sebagai bahan pengikat hidraulis yang berarti proses
pengerasanya lebih baik dalam rendaman air dan menghasilkan
produk yang tahan air. Sedangkan fungsi dari dolomite adalah
sebagai bahan koreksi apabila kekurangan kadar CaO.

Adapun spesifikasinya adalah sebagai berikut :

Tabel I.7 Tabel Komposisi Pozzoland

Komponen Komposisi (% berat)


Silika 75-77
Alumina 10-15
Fe2O3 1-3
CaO 1-5
Na2O 3-6
K2O 3-5
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

Tabel 1.8 Tabel Komposisi Dolomite

Komponen Komposisi (% berat)


Silika 2-8
Alumina 1-2
Fe2O3 1-4
CaO 50-75
H2O 5-10

12
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

K2O 3-5
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

c. Fly Ash
Fly ash digunakan untuk menggantikan semen Portland pada beton,
karena mempunyai sifat pozzolanic. Hal ini memungkinkan
terjadinya peningkatan kekuatan dan durabilitas dari beton. Adanya
penggunaan fly ash dapat menjadi faktor kunci pada pemeliharaan
beton tersebut.
Fly ash tersebut dapat menggantikan semen sampai 30% berat
semen yang dipergunakan dan dapat menambah daya tahan dan
ketahanan terhadap kimia. Fly ash juga dapat meningkatkan
workability dari semen dengan berkurangnya pemakaian air.

Tabel 1.9 Tabel Komposisi Fly Ash

Komponen Komposisi (%
berat)
Silika 47-54
Alumina 28-35
Fe2O3 4-12
CaO 1-4
Na2O 0,2-2
K2O 1-6
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

1.3.2 Produk yang dihasilkan

Produk yang dihasilkan oleh PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap


adalah semen hydroulic type GU (General Use) sesuai standar ASTM
(American Society for Testing and Materials) dalam bentuk packing dan
curah. Semen GU yang penggunaannya secara umum tidak memerlukan
persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis yang lainnya.

13
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Digunakan untuk pemakaian umum seperti bangunan gedung-gedung


bertingkat, dan lain sebagainya, dengan spesifikasi:

 Wujud : padat
 Bentuk : bubuk
 Ukuran partikel : 90 mikron
 Kenampakan : abu abu
 Komposisi semen :

Tabel 1.10 Komposisi Semen Type GU


Komponen Komposisi (% berat)
C3S 50,8-63
C2S 2,8-14
C3A 7,7-9
C4AF 8,9-9,9
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

Tipe-tipe Semen Portland

Berbagai macam semen Portland dibuat secara khusus untuk memenuhi


persyaratan kualitas fisik dan kimiawi untuk tujuan yang spesifik. The American
Society for Testing and Materials (ASTM) Designation C150 menjabarkan
terdapat 8 tipe semen Portland sebagai berikut :

a) Tipe I (Ordinary Portland Semen)

Semen Portland tipe I adalah semen Portland yang biasa digunakan untuk
penggunaan-penggunaan umum yang tidak memerlukan sifat atau
perlakuan khusus. Tipe ini lazim digunakan apabila beton yang akan dibuat
tidak akan terpapar sulfat secara berlabihan atau mengalami kenaikkan
temperatur akibat hidrasi. Penggunaannya antara lain untuk trotoar, jalan
setapak, bangunan beton sederhana, konstruksi jalur rel kereta, tangki,
reservoir, pipa pembuangan dan pipa air.Komposisi senyawa yang terdapat
pada tipe ini adalah: 5 % MgO, dan 2,5-3 % SO3.

b) Tipe II (Moderate heat Portland Cement)

Semen Portland tipe II digunakan apabila dibutuhkan pencegahan


terhadap paparan sulfat, misalnya dalam stuktur sistem pipa drainase

14
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

dengan konsentrasi sulfat yang cukup tinggi dalam air tanah dengan panas
hidrasi yang sedang, semen tipe II ini dapat digunakan juga untuk
pembangunan dermaga besar, tembok penahan, dan cocok untuk
konstruksi beton yang dibangun di udara hangat karena selama
penggunaan kenaikan temperatur akan berkurang.Komposisi senyawa
yang terdapat pada tipe ini adalah : 20 % SiO2, 6 % Al2O3, 6 % Fe2O3, 6
% MgO, dan 8 % C3A. Semen tipe ini lebih banyak mengandung C2S dan
mengandung lebih sedikit C3A dibandingkan dengan semen tipe I
sehingga kecepatan pengerasannya lambat.

c) Tipe III (High Early Strength Portland Cement)

Semen Portland tipe III merupakan tipe semen Portland yang dapat
memberikan kekuatan tinggi pada periode awal, kira-kira dalam waktu
seminggu atau kurang. Tipe ini biasanya digunakan untuk bangunan-
bangunan sementara yang hanya digunakan sesaat. Meskipun semen tipe I
juga dapat memberikan kekuatan dini yang tinggi, tapi semen tipe III, yang
sering disebut high early portland cement, dapat memberi hasil yang lebih
memuaskan dan lebih ekonomis. Komposisi senyawa yang terdapat pada
tipe ini adalah : 6 % MgO, 3,5-4,5 % Al2O3, 35 % C3S, 40 % C2S, dan 15
% C3A.

d) Tipe IA, IIA, IIIA

Perbedaan tipe A dengan tipe biasa adalah penambahan sejumlah kecil


material pengikat udara ke dalam clinker untuk menghasilkan gelembung-
gelembung udara yang terdistribusi merata dan terpisah sempurna. Semen
tipe-tipe ini memberikan tambahan ketahanan terhadap kondisi membeku
dan mencair yang periodik.

e) Tipe IV (Low Heat Portland Cement)

Semen Porland tipe IV adalah semen dengan panas hidrasi yang rendah
dan digunakan apabila laju dan jumlah pembentukan panas harus
diminimalisasi. Laju pengerasannya lebih lambat daripada semen tipe I.
Semen tipe IV diperuntukkan dalam pembangunan struktur beton masif,

15
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

misalnya bendungan besar. Komposisi senyawa yang terdapat pada tipe ini
adalah : 6,5 % MgO, 2,3 % SO3, dan 7 % C3A. Semen tipe ini mempunyai
kandungan C3A lebih rendah dari semen tipe III, sehingga proses
pengerasannya lebih lambat dari semen tipe III.

f) Tipe V(Shulpato Resistance Portland Cement)

Semen Portland tipe V adalah semen tahan sulfat yang digunakan hanya
pada konstruksi beton yang terpapar sulfat dalam kadar tinggi, terutama bila
konstruksi didirikan pada lahan yang memiliki kandungan sulfat tinggi pada
tanah ataupun air tanah. Semen tipe ini biasanya memilliki kandungan C3A
yang sedikit, biasanya 5 % atau lebih kecil. Komposisi senyawa yang
terdapat pada tipe ini adalah : 6 % MgO, 2,3 SO3, 5 % C3A. Semen tipe ini
mempunyai kandungan C3A lebih rendah dari semen tipe lainnya sehingga
proses pengerasanya lebih lambat.

g) Semen Putih (White Cement)

Semen putih adalah semen yang dibuat dengan bahan baku batu kapur
yang mengandung oksida besi dan oksida magnesia yang rendah (kurang
dari 1%). Semen ini digunakan untuk bangunan arsitektur dan dekorasi.
Komposisi senyawa yang terdapat pada semen tipe ini adalah: 24,2 % SiO2,
4,2 % Al2O3, 0,39 Fe2O3, 65,8 % CaO, 1,1 % MgO dan 0,02 % Mn2O3.

h) Semen Sumur Minyak ( Oil Well Cement)

Semen Sumur Minyak adalah semen Portland yang dicampur dengan


bahan retarder khusus seperti lignin, asam borat, casein, gula, atau organic
hidroxid acid. Fungsi retarder adalah untuk mengurangi pengurangan
kecepatan pengerasan semen atau memperlambat waktu pengerasan semen.
Semen ini digunakan untuk melindungi ruangan antara rangka sumur
minyak dengan karang atau tanah sekelilingnya, sebagai rangka sumur
minyak dari pengaruh air yang korosif. Komposisi senyawa yang terdapat
pada semen tipe ini adalah : 6 % MgO, 3 % SO3, 48-65 % C3S, 3 % C3A,
24 % C4AF + 2C3A, dan 0,75 % alkali (N2O).

i) Semen Portland Komposit (PCC)

16
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil


penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau
lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland
dengan bubuk bahan anorganik lain.

Semen Portland Komposit produksi PT. Holcim Indonesia Tbk. Memenuhi


persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan
untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian,
selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti
beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan
sebagainya.

Semen Non Portland

a. Semen Alumina Tinggi ( High Alumina Cement )

Semen Alumina Tinggi pada dasarnya adalah suatu semen kalsium


aluminat yang dibuat dengan meleburkan campuran batu gamping, dan
bauksit yang mengandung oksida besi, silika, magnesia, dan ketidak
murnian lainnya. Cirinya ialah bahwa kekuatan semen ini berkembang
dengan cepat, dan ketahanannya terhadap air laut dan air yang mengandung
sulfat.

b. Semen Portland Pozzolan

Semen Portland Pozzolan merupakan suatu bahan pengikat hidraulis yang


dibuat dengan menggiling bersama-sama terak semen Portland dan bahan
yang mempunyai sifat pozzolan, atau mencampur secara merata bubuk
semen Portland dan bubuk bahan lain yang mempunyai sifat pozzolan.

17
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

c. Semen Alam (Natural Cement)

Semen alam merupakan semen yang dihasilkan dari proses pembakaran


batu kapur dan tanah liat pada suhu 850-1000 oC kemudian digiling menjadi
semen halus.(Departemen Pendidikan Nasional Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa).

Produk yang Dihasilkan

Produk yang dihasilkan oleh PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap adalah
tipe Portland Compocit Cement (PCC) dengan brand GU (General Use) sesuai
standar ASTM (American Society for Testing and Materials) dalam bentuk
packing dan curah. Semen GU yang penggunaannya secara umum tidak
memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis yang lainnya.
Digunakan untuk pemakaian umum seperti bangunan gedung-gedung bertingkat,
dan lain sebagainya, dengan spesifikasi:

 Wujud : padat
 Bentuk : bubuk
 Ukuran partikel : 90 mikron
 Kenampakan : abu abu
 Komposisi semen :

Tabel 1.11 Komposisi Semen PCC yang dihasilkan


Komponen Komposisi (% berat)
C3S 55-60
C2S
18-22
C3A
C4AF 5-10
6-10
Sumber: Hand Book PT Holcim di akses 20 Februari 2018

1.4 Organisasi Perusahaan


Secara garis besar organisasi di PT. Holcim Indonesia, Tbk. pabrik
Cilacap mengikuti garis Staff Manager yang mempunyai wewenang eksekutif
sebagai pelimpahan tanggung jawab pada batas tertentu.

18
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Departemen ini dipimpin oleh seorang Manager Maintenance yang


mempunyai tugas mengadakan perawatan, pemeliharaan mesin, perbaikan
mesin dan seluruh sarana yang berkaitan dengan peralatan pabrik termasuk
penyediaan sarana utilitas yang meliputi penyediaan air yang digunakan untuk
pendingin mesin maupun penyediaan listrik yang diperoleh dari PLN.
PT. Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap dipimpin oleh seorang
Plant Manager.

General Manager

Secretary

CIL Quarry CIL Maintenance CIL Production


Manager Manager Manager

CIL General Admin dan CIL OHS


Comrel Manager CIL production CIL Technical Manager
and Planing Manager
Manager

Gambar 1.3. Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Cilacap

1.4.1 Quarry Department


Departemen ini mempunyai tugas dan tanggung jawab pada
penambangan batu kapur di Pulau Nusakambangan dan tanah liat di daerah
Jeruk Legi. Quarry department dipimpin oleh Quarry Manager yang
dibantu oleh empat Superintendent (SI) yaitu:

19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

1. L/S Quarry Operation and Transport Superintendent bertanggung


jawab pada peledakan (blasting), pengeboran dan operator alat berat,
penyediaan alat transportasi batu kapur dan tanah liat dengan
menggunakan kapal tongkang.
2. L/S Quarry and Transport Equipment Maintenance Superintendent
bertanggung jawab atas pemeliharaan listrik, alat berat dan alat
transportasi.
3. Quarry Dev. and Quarry Superintendent, bertugas menjaga kualitas
dari daerah yang akan ditambang, menentukan daerah yang akan
ditambang dan dampaknya bagi lingkungan sekitar serta
penanggulangannya dan hasil tambang yang dihasilkan.
4. Clay Quarry and Raw Material Receiving Superintendent bertanggung
jawab pada penambangan tanah liat dan pengiriman material.

1.4.2 Production Department


Departemen produksi dipimpin oleh seorang Manager Produksi yang
bertanggung jawab mengawasi perencanaan bahan baku, mengawasi
proses produksi dan keselamatan karyawan, serta menangani kelancaran
produksi semen dari penerimaan bahan baku sampai menadi produk semen
ataupun clinker. Tugas-tugas Manager Produksi dibantu oleh
Administration Support dan membawahi:
1. Production Shift Manager
2. Production Superintendent
3. CP-1 Shift Superintendent
4. Production Planning Superintendent
1.4.3 Maintenance Department
Departemen ini dipimpin oleh seorang Manager Maintenance yang
mempunyai tugas mengadakan perawatan, pemeliharaan mesin, perbaikan
mesin dan seluruh sarana yang berkaitan dengan peralatan pabrik termasuk
penyediaan sarana utilitas yang meliputi penyediaan air yang digunakan
untuk pendingin mesin maupun penyediaan listrik yang diperoleh dari
PLN.
Dalam menjalankan tugasnya, departemen maintenance dibantu oleh
lima superintendent dan satu manager bagian, sebagai berikut:

20
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

1. Maintenance Planning Superintendent


2. Mechanical Superitendent
3. Electrical & Instalasi Superintendent
4. Utility Superintendent
5. Mechanical Superintendent
6. Realibility Maintenance Manager
1.4.4 Technical Department
Departemen ini dikepalai oleh seorang Manager Teknik (Technical
Manager) yang bertugas melakukan quality control dan menangani
komplain pelanggan serta melakukan penelitian dan pengembangan
(Research and Development) tentang rancang proses dan peralatan proses
untuk kemajuan pabrik. Departemen ini membawahi:
1. Laboratorium (quality control shift, laboratorium fisika, dan
laboratorium kimia)
Quality control shift bertugas untuk menguji kualitas sampel yang
diambil di blending silo, feed kiln bin, cooler, finished mill, dan semen
yang dihasilkan. Uji kualitasnya dilakukan dengan menggunakan sinar
X-ray sehingga dapat diketahui komposisi penyusun material tersebut
serta parameter kualitas sampel seperti LSF, IM, AM, dan SM.
Laboratorium kimia bertugas menganalisis kualitas bahan baku,
batubara, fly ash, oil sludge, sekam padi, dan material lain yang terkait
dengan proses produksi. Sehingga sebelum material tersebut
digunakan, sudah dipastikan bahwa material tersebut memenuhi syarat
mutunya.
Laboratorium fisika bertugas menguji ketahanan fisik dari semen
yang dihasilkan, yaitu meliputi uji kehalusan, kuat tekan, setting time,
dan soundness. Laboratorium fisika juga memiliki laboratorium
concrete yang berfungsi untuk menguji kualitas beton yang dibuat dari
semen produksi setiap bulannya.
2. Process Engineering (PE)
PE bertugas sebagai penentu nilai dari parameter-parameter yang
dikontrol pada proses produksi seperti tekanan, temperatur, laju alir
material, spesifikasi alat yang dibutuhkan, hingga parameter bahan
baku yang layak digunakan dalam proses produksi.
3. Environment Quality Service (EQS)

21
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

EQS bertugas untuk menjaga lingkungan pabrik maupun di luar


pabrik agar tetap bersih dan nyaman. EQS akan mengurus limbah yang
dihasilkan selama proses produksi maupun limbah nonproduksi yang
meliputi limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Selain itu, EQS
juga mencari sumber alternatif energi maupun bahan baku (
Alternative Fuel and Raw Material ) bagi proses produksi pabrik.
Pencarian AFR saat ini dilakukan oleh tim Geocycle yang berada di
bawah EQS.

1.4.5 Administration Department


Departemen ini dipimpin oleh seorang Administration Superintendent
yang bertugas menangani bagian umum dengan tanggung jawab
menyediakan alat transportasi, menerima tamu beserta akomodasinya,
menyediakan alat tulis untuk tiap departemen. Dalam menjalankan
tugasnya Administration Superintendent dibantu oleh Administration
Service, Cleaning and Office Contractor, dan Transportation Team Leader
yang meliputi Transportation Administration, Driver, dan Transport
Maintenance.
1.4.6 Plant Accounting Departement
Departemen ini dipimpin oleh Plant Accounting Superintendent yang
bertugas mengelola keuangan baik pemasukan maupun pengeluaran yang
berkaitan dengan aktivitas pabrik, misalnya: gaji karyawan, pajak,
pembayaran kepada relasi, penjualan semen, dan sebaran barang yang
dibeli. Tugas Plant Accounting Superintendent dibantu oleh Cost Analysis
Payroll dan Expenses Administration.

1.4.7 Safety Environment and Quality System Department


Departemen ini dipimpin oleh seorang manager, dan bertugas
mengadakan pengawasan dan menjaga mutu produk dari bahan baku
sampai menjadi semen yang mengacu pada sertifikat ISO 9002 dan ISO
14001 serta menangani dampak lingkungan yang timbul dari proses
produksi di PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap.
Dalam menjalankan tugasnya, departemen ini membawahi :

22
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

1. Safety and Fire Superintendent yang membawahi Safety Officer and


Shift Fire Brigade.
2. Environment Superintendent yang membawahi Environment Officers
dan Land Scaping and Gardening Contractor
3. Quality System

1.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


1.5.1 Keselamatan Kerja
Setiap karyawan wajib mengetahui ketentuan – ketentuan dari
perusahaan dimana dia bekerja dan prosedur-prosedur keselamatan kerja
demi menunjang suasana yang kondusif di tempat kerja sehingga mampu
menciptakan suatu perwujudan sikap yang baik pada perusahaan, terhadap
pekerjaan, pimpinan serta rekan kerja.
Pada PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap plant terdapat delapan
ketentuan peraturan tentang kesehatan dan keselamatan kerja, yaitu :
1) Managemen perusahaan PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant
mempunyai perhatian khusus terhadap pencegahan kecelakaan.
2) Suatu kecelakaan bisa saja terjadi akan tetapi bukan tidak mungkin untuk
mencegahnya.
3) Setiap karyawan diminta melaporkan kepada supervisor atau leadernya
apabila menghadapi suatu keadaan yang tidak aman dalam bekerja.
4) Tidak seorang pekerja pun diperkenankan mengoperasikan peralatan
sebelum mengetahui dan mempelajari cara pemakaiannya dan telah diberi
wewenang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan itu oleh supervisor
atau leadernya.
5) Tidak seorang pekerja pun melaksanakan suatu pekerjaan yang dirasakan
kurang aman untuk keselamatan diri.
6) Menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan jenis pekerjaan dan
tempatnya.
7) Apabila seseorang mengalami cedera walaupun luka kecil maka dia harus
segera melaporkannya keatasannya untuk kemudian mendapatkan P3K.

23
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

8) Pelindung terhadap mesin-mesin, alat-alat dan tempat-tempat kerja telah


dilaksanakan dengan baik dan pihak manajemen akan terus berusaha
menyempurnakannya sesuai dengan kebutuhan dan metode-metode baru
yang telah didapatkan.
1.5.2 Kesehatan Kerja
Dalam menangani kesehatan kerja, perusahaan menyediakan
pengelolaan kuratif dan preventif. Pengelolaan kuratif diberikan berupa
pelayanan obat-obatan dan tersedianya tenaga medis untuk karyawan yang
bersangkutan maupun keluarganya. Pengelolaan preventif diberikan
berupa perlengkapan kerja seperti helm, sepatu, kaca mata, sarung tangan,
ear plug dan lain-lain.

1.6 Penanganan Limbah


Limbah merupakan salah satu sisa produk yang cukup berbahaya jika
langsung disalurkan langsung ke lingkungan. Limbah dapat membuat
lingkungan sekitar menjadi tercemar sehingga limbah membutuhkan
perhatian yang sangat khusus.
PT. Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap menghasilkan tiga macam
limbah yaitu: limbah cair, limbah gas, dan limbah padat (debu).
1.6.1 Limbah Cair
Limbah cair di ligkungan berasal dari pencucian bengkel mesin atau
kendaraan berat dan limbah yang berasal dari laboratorium. Penanganan
limbah cair tidak di-treatment lebih lanjut karena masih dalam ambang
batas yang di izinkan.
1.6.2 Limbah Gas
Limbah gas yang keluar ke udara kadang-kadang masih dalam bentuk
asap hitam. Hal ini karena pembakaran yang tidak sempurna, sehingga
batu bara yang tidak terbakar ikut keluar melalui stack. Seperti diketahui
bahwa kandungan terbesar dari batu bara adalah karbon monoksida yang
sangat berbahaya bagi manusia khususnya bagi pernafasan.
Upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan
pemasangan cerobong pembuangan asap yang dapat menyaring partikel-

24
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

partikel padat. Selain itu dengan tindakan preventif yaitu dengan


mengoperasikan pembakaran berdasarkan kondisi operasi yang telah
dilakukan.
1.6.3 Limbah Padat (Debu)
Proses pembuatan semen menghasilkan beberapa partikel yang
beterbangan dengan substantial yang berbeda. Pencemaran udara
ditimbulkan karena debu, SO2, dan NO2 yang dihasilkan selama produksi.
Untuk mengatasi pencemaran tersebut limbah debu harus dilewatkan ke
dalam cyclone dan electrostatic precipitator terlebih dahulu sebelum
dibuang ke udara bebas. Dimana kedua alat ini berfungsi untuk
memisahkan padatan dengan gas (udara). Selain kedua alat ini dipasang
pula bag filter. Debu yang beterbangan di udara setiap tiga bulan harus
dianalisis dan konsentrasi debu rata-rata harus berada di bawah nilai
ambang yaitu :10 mg/m3 (Kep.Men.LH Nomor : Kep13/MENLH/3/1995).
Makin pekat atau gelap gas buang, berarti opasitas gas makin tinggi.
Untuk mengetahui parameter-parameter gas buang secara kuantitatif, gas
buang yang melalui cerobong asap stack EP Kiln Raw Mill dipantau
secara kontinu dengan menggunakan CEM (Continous Emission
Monitoring). CEM ini adalah software komputer pada ruangan departemen
EQS (Environmental Quality Service) yang dengan kontinu dapat
memantau komposisi gas buang yang keluar dari cerobong stack. CEM
mampu melihat hasil pengukuran dari lima alat ukur utama yang masing-
masing mengukur komposisi gas buang yang berbeda, kelima alat ukur
tersebut adalah:
1) FID : untuk mengukur kandungan VOC (volatile organic compound).
2) GM31 : untuk mengukur kandungan NOX, O2, SO2.
3) Flowsic : untuk mengukur laju gas buang serta temperatur gas.
4) OMD41_C : untuk mengukur kadar debu dari cooler.
5) OMD41_K : untuk mengukur kadar debu dari kiln.

Untuk melakukan analisa stack gas, digunakan cara isokinetic


sampling. Isokinetic Sampling adalah teknik khusus untuk pengambilan

25
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

sampel dioksin dan partikular dari aliran gas, karena kedua unsur ini
dikategorikan semi-VOC dan aerosol berturut-turut.
1.6.4 Limbah Buangan
Limbah dari PTHI Cilacap dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a) Limbah domestik yaitu sisa makanan, daun, sampah potong rumput,
pelepah poho, ranting pohon.
b) Limbah non-logam yaitu kertas, plastik, potongan newlite/kayu/BC,
karet.
c) Limbah logam yaitu besi, kaleng, kawat, drum bekas, potongan plate.
d) Limbah B3 yaitu majun bekas (terkena oli/grease), toner bekas,
kemasan bahan kimia/bahan peledak, limbah padat klinik, filter oli
bekas, lampu TL/Merkuri bekas, baterai/accu.

Gambar 1.4 Tempat Sampah PT Holcim Indonesia Tbk. Cilacap

Di lingkungan PTHI Cilacap banyak terlihat 4 tempat sampah berbeda


warna, lihat Gambar 2.3. Warna biru adalah tempat sampah untuk limbah
domestik, kuning untuk limbah logam, merah untuk limbah B3 dan hijau
untuk limbah non-logam. Untuk tempat sampah merah (limbah B3), harus
dilengkapi juga dengan tutup tempat sampah.

26
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

1.6.5 Limbah B3
Dalam PTHI Cilacap menggolongkan limbah B3 yang mencakup
grease/oli bekas, tinta bekas, filter bekas, material terkontaminasi, lem
bekas, botol kimia bekas, limbah laboratorium dan WWT sludge. Untuk
oli bekas secara khusus PT. Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap telah
memiliki sistem recovery oli bekas dengan sistem seal trap sehingga
nantinya oli telah bersih dan telah aman untuk dibuang ke saluran
pembuangan khusus.
Mengenai penanganan dan penggunaan limbah B3, PT. Holcim
Indonesia Tbk. pabrik Cilacap telah mendapatkan pengesahan dari
pemerintah melalui tiga Kepmen LH sebagai berikut:
1) Kepmen LH No.697 Tahun 2008 mengenai Izin Pengoperasian Alat
Pengolah Limbah Berbahaya dan Beracun (Kiln Incinerator).
Sesuai Kepmen LH di atas, PT Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap
telah mendapatkan izin untuk melakukan pembakaran limbah B3
domestik (hasil dari PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap sendiri)
ataupun limbah B3 dari pihak luar. Fasilitas pembakaran limbah B3 ini
terletak di lantai 5 dari preheater, berupa insinerator yang berhubungan
dengan kiln. Pada periode Januari – Maret 2009, total limbah B3 yang
dibakar adalah 29,55 ton, dengan perincian sebagai berikut:
- Oli/grease bekas (0,01 ton)
- Tinta bekas (0,44 ton)
- Filter bekas (1,05 ton)
- Material terkontaminasi (1,25 ton)
- Lem bekas (0,2 ton)
- WWT sludge (26,6 ton)
2) Kepmen LH No.393 Tahun 2007 mengenai Izin Pemanfaatan Limbah
Berbahaya dan Beracun (B3)
Sesuai Kepmen ini, PTHI Cilacap telah memiliki izin untuk
memanfaatkan limbah B3, terutama oli bekas, dalam proses recovery,

27
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

sehingga dapat digunakan kembali atau segera dibuang melalui saluran


pembuangan khusus, PTHI Cilacap memiliki 4 tempat penyimpanan
limbah B3 berupa :
- 1 unit bak 2,14 x 1,4 x 1,3 m
- 2 unit bak 4,3 x 3,9 x 6,3 m
- 1 unit bak penampungan oli bekas berdimensi 4,3 x 3,9 x
1,8 m
3) Kepmen LH No.506 Tahun 2007 mengenai Izin Pemanfaatan Limbah
Berbahaya dan Beracun (Bottom and Fly Ash)
Sesuai dengan Kepmen ini PTHI Cilacap telah diberikan otoritas untuk
menggunakan limbah tertentu (debu pembakaran batu bara dan limbah
dari industri lain) sebagai bahan tambahan dalam proses produksinya.
Limbah yang telah diberi izin untuk dimanfaatkan oleh PTHI Cilacap
adalah fly ash, wet fly ash, ash valley, bottom ash, debu EAF
(Electrical Arc Furnace), iron scale, iron concentrate, iron slag, steel
slag, copper slag, oil slop, sludge IPAL (industri kertas dan kawasan
industryter.

28
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

BAB II

DESKRIPSI PROSES
2.1 Konsep Proses
PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap memproduksi semen GU (semen
serbaguna) dengan menggunakan proses kering. Umpan berupa tepung baku
dengan kadar air sekitar 0,5% - 1%. Secara grafis besar tahapan proses pembuatan
semen adalah sebagai berikut:

1. Persiapan dan Pengadaan Bahan Baku

a. Penambangan dan penyediaan bahan baku

b. Pengeringan dan penggilingan bahan baku

2. Proses Pembentukan Semen

a. Homogenisasi

b. Pemanasan awal

c. Pembakaran

d. Pendinginan klinker

e. Penggilingan akhir

3. Pengantongan Semen

29
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

2.2 Diagram Alir Proses


Gambar 2.1 Diagram Alir Proses

30
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

2.3 Langkah-langkah proses


1. Penambangan dan penyediaan bahan baku

a. Batu Kapur
Batu kapur merupakan komponen yang terpenting dalam proses
pembuatan semen, karena komposisinya terbanyak ± 75%. Kebutuhan batu
kapur adalah sebanyak 568 ton/jam. Batu kapur ini diambil dari daerah
Sodong Pulau Nusakambangan dan ditangani oleh Departemen Tambang
(Quarry Department) dengan melalui beberapa tahapan yaitu :

1. Clearing (pembersihan)
Clearing adalah kegiatan pembersihan dari pepohonan yang menutupi
daerah yang akan digali, alat yang digunakan adalah buldozer.
2. Stripping (pengupasan)
Yaitu penghilangan lapisan tanah bagian atas, alat yang biasa digunakan
adalah buldozer dan shovel. Tujuannya adalah agar batu kapur tidak
tercampur lapisan tanah yang dapat menurunkan kadar CaO.
3. Drilling (Pengeboran)
Yaitu proses pembuatan lubang untuk memasukkan bahan peledak
dengan kedalaman 3-6 meter dan diameter ± 50 mm. Sudut pengeboran
dari kemiringan 70o bertujuan untuk mencapai efisiensi peledakan yang
tinggi. Pengeboran dilakukan dengan alat crawler drill yang digerakkan
dengan udara tekan dari kompresor.
4. Blasting (peledakan)
Bahan peledak yang digunakan disebut ANFO, yaitu 94,5% ammonium
nitrat, dan 5,5% fuel oil berupa solar. Peledakan bertujuan untuk

31
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

memecah batu kapur dari bongkahan yang besar menjadi kecil.


Peledakan dilakukan dua kali yaitu:
a) Peledakan pertama untuk melepaskan batuan dari bahan induknya
b) Peledakan kedua untuk memperkecil ukuran bongkahan hasil
ledakan pertama.
Diharapkan dari proses blasting ini diperoleh batu kapur dengan diameter
maksimum 100-120 mm.
5. Loading
Yaitu pemuatan ke dalam dump truck berkapasitas 2.000 ton dengan
menggunakan crawler loader.
6. Hauling
Yaitu pengangkutan hasil dari lokasi penambangan ke unit pemecahan
(crushing).
7. Crushing
yaitu pemecahan material bahan sesuai yang dipersyaratkan untuk proses
selanjutnya dengan menggunakan hammer mill.
Proses Alir Material di Limestone Crushing

Batu kapur dibawa dari quarry dengan menggunakan dump truck dan
diumpankan oleh hopper crusher (212-HP1), kemudian dibawa ke Apron
Feeder (212-AF1), selanjutnya masuk ke dalam hammer crusher (212-HC1)
untuk mengalami size reduction (pengecilan ukuran), dimana material yang
berukuran maksimal 120 mm akan dihancurkan menjadi produk crusher yang
berukuran ± 0-75 mm. Selanjutnya material yang ukurannya sudah diperkecil
akan diangkut oleh belt conveyor (212-BC1)

Secara keseluruhan produk crusher tersebut ditimbang oleh belt scale


(212-BW1) yang terdapat di belt conveyor (212-BC1) untuk kemudian
diangkut ke tongkang dengan kapasitas 5000 ton. Selanjutnya batu kapur
dibawa oleh tongkang menyeberang sampai ke pemberhentian tongkang
(Unloading Jetty). Penyeberangan dilakukan dua sampai tiga kali sehari.
Setelah sampai di tempat pemberhentian tongkang, batu kapur dipindah dari
tongkang ke hopper (242-HPA) oleh Travelling Ship Unloader (242-UBA),
selanjutnya diangkut ke limestone Storage menggunakan belt conveyor yang

32
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

dilengkapi Tripper (242-TRI) yang berfungsi untuk menjatuhkan batu kapur


dalam bentuk curah di limestone Storage dengan menggunakan metode
Longitudinal Pre Blending. Umumnya, stock pile dalam storage dibagi menjadi
dua bagian yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Hal ini dilakukan untuk menunjang
proses jika stock pile bagian kanan sedang digunakan sebagai proses, maka sisi
bagian kiri akan diisi bahan baku. Begitu juga sebaliknya. Untuk mengatur
letak penyimpanan bahan baku, digunakan reclaimer (312-RE1). Reclaimer ini
berfungsi untuk memindahkan atau mengambil raw material dari stock pile ke
belt conveyor

b. Clay

Tanah liat merupakan komponen utama pembentukan semen,


komposisinya ± 17%. Kebutuhan clay sebanyak 77 ton/jam. Penambangan
tanah liat untuk PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap terletak di Desa
Tritih Wetan, Jeruklegi Cilacap dengan luas area sekitar 250 hektar. Proses
penambangan tanah liat lebih sederhana daripada penambangan batu kapur
karena quarry tanah liat sebelumnya berupa padang ilalang, bukan merupakan
hutan seperti quarry limestone. Tahapan penambangannya adalah sebagai
berikut :

1. Clearing dan Stripping


Yaitu pembersihan tanah liat dari tumbuhan semak, tumbuhan dan
lapisan humus yang menutupi tanah liat dengan menggunakan Ripper
(Caterpilar)
1. Digging
Yaitu penggalian dari bagian tepi singkapan yang telah dikupas dengan
melakukan penggerukan memakai Buldozer yang berfungsi sebagai
ripping dan dozing.
2. Pemuatan dan pengangkutan ke pabrik
Yaitu pemuatan tanah liat dengan menggunakan Wheel Loader
sedangkan pengangkutannya ke lokasi pabrik menggunakan dump truck.

Proses Alir Material di Crushing

33
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Tanah liat dibawa dari quarry dengan menggunakan dump truck dan
dimasukkan dalam hopper clay (222-HP1), kemudian oleh apron feeder (222-
AF1) diumpankan ke clay crusher (222-RC1) dan clay mengalami size
reduction (pengecilan ukuran) oleh hantaman dan tumbukan crusher. Produk
dari crusher yang berukuran ± 90 mm akan turun ke belt conveyor (222-BC1)
dan ditimbang oleh beltscale (222-BW1). Selanjutnya diangkut oleh belt
conveyor yang dilengkapi oleh mobile belt stacker (255-MB1) yang berfungsi
untuk menumpukkan tanah liat dengan sistem Longitudinal Pre Blending.

c. Pasir Besi (Iron Sand) dan Pasir Silika (Silica Sand)

Bahan baku lain dari semen adalah pasir besi dan pasir silika. Dibutuhkan
pasir besi sebanyak 10 ton/jam dan pasir silika 36 ton/jam dalam proses
pembuatan semen di PT Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap. Pasir besi dan
pasir silika diangkut ke lokasi pabrik menggunakan dump truck dan
dimasukkan hopper (X22-HP1) kemudian oleh X22-AF1 diumpankan ke belt
conveyor (X22-BC1). Selanjutnya pasir besi dan pasir silika ditimbang oleh
belt scale (X32-BW1) yang terdapat pada belt conveyor (X22-BC1) lalu
diangkut oleh belt conveyor (X32-BC4) yang dilengkapi oleh tripper ( X32-
TR1) yang berfungsi menumpukkan material dengan sistem longitudinal
preblending. Pasir besi dibeli dari PT. Aneka Tambang Cilacap. Pasir silika di
datangkan dari Jatirogo dengan kandungan SiO2 ±91%. Pasir silika diangkut
±200 ton/hari, sedangkan pasir besi hanya 30 ton/hari.
2. Proses Pembuatan Semen
a. pengeringan dan Penggilingan Bahan Baku

Limestone dalam limestone bin (312-3B1) selanjutnya ditimbang oleh


weight feeder (332-WF1) kemudian dijatuhkan ke belt conveyor (332-BC1).
Pengeluaran clay dari clay bin (322-3B1) ditimbang oleh weight feeder (332-
WF2) dan dijatuhkan ke belt conveyor (332-BC1) yang membawa limestone.

Sedangkan iron sand dan silica sand dari masing-masing bin-nya juga
ditimbang oleh weight feeder (332-WF3) untuk iron sand dan weight feeder
(332-WF4) untuk silica sand. Lalu dari weight feeder, iron sand dan silica
sand dijatuhkan ke belt conveyor (332-BC1) yang membawa limestone dan

34
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

clay, sehingga keempat bahan baku ini akan tercampur dalam satu belt
conveyor yang dilengkapi magnetic separator (332-MS1) yang berfungsi untuk
menarik material logam yang tidak dikehendaki. Material dari 332-BC1 ke
332-BC2 dan masuk menuju raw mill (362-RM1). Kapasitas umpan masuk raw
mill adalah 600 ton/jam.

Keempat bahan baku tersebut akan mengalami size reduction dan


penguapan kadar air. Udara panas yang digunakan untuk pengeringan tepung
baku ini berasal dari sisa udara panas suspension preheater dan clinker cooler.

Produk dari raw mill dengan ukuran kehalusan 12% residu pada ayakan 90
mikron dengan kadar air maksimal 1%. Di dalam raw mill pada bagian atas
terdapat classifier yang memisahkan tepung baku halus dari yang kasar. Produk
dari raw mill berupa tepung baku halus dibawa aliran udara panas menuju
cyclone-cyclone (362-CN1 dan 362-CN2). Di dalam cyclone-cyclone terjadi
pemisahan antara gas dengan material. Produk dari cyclone akan jatuh ke
bawah karena gaya gravitasi menuju ke airslide (362-AS2 dan 362-AS1).
Aliran gas panas yang mengandung debu keluar dari masing-masing cyclone
karena hisapan raw mill fan (362-FN2).

Kurang lebih 90% dari material raw mill after mill akan terpisahkan dari
udara panas, sedangkan 10% yang merupakan sisa produk yang terbawa oleh
aliran udara panas akan ditangkap oleh electrostatic precipitator (442-EP1).
Gas yang bersih akan keluar melalui electrostatic precipitator stack (422-3K1).
Reject dari raw mill berupa produk yang kasar akan keluar dari bagian bawah
raw mill turun ke belt conveyor (362-BC1 dan 362-BC3). Reject tersebut
dibawa ke bucket elevator (362-BE1) untuk dikembalikan ke raw mill untuk
digiling dan dikeringkan kembali.

Apabila roller mill tidak operasi maka gas panas dari suspension preheater
dan clinker cooler di bypass lewat conditioning tower (422-CT1) yang
dilengkapi dengan water spray (345-WS2). Pada kondisi normal suhu gas
panas dari suspension preheater dan clinker cooler adalah 3360C dan 300 oC
dan yang electrostatic precipitator bersuhu 90 oC jika kondisi raw mill running
dan 150 oC jika kondisi raw mill down.

35
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Selama raw mill down, debu dari conditioning tower diangkut oleh chain
conveyor (392-CV1) dan diteruskan oleh screw conveyor (392-SC2) menuju
chain conveyor (392-CV6) bersamaan dengan debu dari electrostatic
precipitator (422-EP1). Selanjutnya debu diangkut oleh bucket elevator (392-
BE2) ke airslide (392-AS6) lalu ke dust bin (392-3B1), debu dari dust bin akan
ditampung terlebih dahulu. Debu tersebut digunakan sebagai umpan kiln
apabila nilai LSF pada umpan kiln yang keluar dari blending silo sangat rendah
dan apabila debu dalam dust bin penuh maka debu akan dimasukkan ke dalam
blending silo. Debu dibawa bersama-sama dengan material hasil (produk)
cyclone-cyclone (362-CN1 dan 362-CN2) oleh airslide (362-AS1) lalu menuju
bucket elevator (392-BE1) dan dibawa lagi oleh airslide (393-AS5) menuju
blending silo (392-3S1 dan 392-3S2).

b. Homogenisasi

Homogenisasi terjadi pada blending silo. Blending silo yang digunakan


adalah FLS continous blending silo. Produk dari raw mill (362-RM1) raw meal
ditransport oleh airslide menuju ke west blending silo (392-3S1) dan east
blending silo (392-3S2). Raw meal masuk ke dalam silo secara bergantian
melalui air slide (392-AS5) setiap 20 menit menuju west dan east blending
silo. Masing – masing blending silo memiliki kapasitas muat sebanyak 20.000
ton.

Material terdistribusi secara merata, bottom silo terdiri dari 42 segmen


blower dengan 7 buah cone pengeluaran. Prinsip pencampuran material
berdasarkan atas perbedaan layer material yang bercampur pada waktu
material tersebut dikeluarkan dari silo. Proses pencampuran akan berjalan
dengan baik apabila terbentuk sebanyak mungkin layer material yang berbeda
komposisi.

Raw meal yang keluar dari silo-silo tersebut merupakan kiln feed yang
kemudian diangkut oleh airslide lalu masuk ke bin (412-3B1) dan keluar ke
airslide (425-ASC). Dari 425-ASC kiln feed bersama-sama dengan dust dari
dust bin (392-3B1) diangkut oleh bucket elevator (432-BE1) menuju preheater.

36
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

c. Pemanasan Awal

Proses pemanasan awal kiln feed terjadi di suspension preheater (445-


PH1). Suspension preheater adalah bagian dari kiln yang berfungsi
mengeringkan dan memanaskan kiln feed sebelum masuk ke rotary kiln. Di
samping sebagai alat penukar panas, suspension preheater juga berfungsi
sebagai alat pemisah material kiln feed dan udara panas.

Sistem preheater yang digunakan adalah new suspension preheater dengan


calsiner. New suspension preheater ini terdiri dari 2 string yaitu SLC (separate
line calsiner) dan ILC (inline calsiner), masing-masing terdiri dari empat stage
dan dilengkapi dengan sebuah calsiner. Umpan masuk suspension preheater
bersuhu ± 80-100 oC. Aliran material berlawanan arah dengan gas panas
dimana kiln feed masuk melalui bagian atas samping cyclone sedangkan udara
atau gas panas dialirkan dari bagian bawah cyclone.

Kiln feed masuk ke dalam cyclone dari samping sehingga terjadi gerakan
spiral yang disebabkan oleh gaya centrifugal, gaya grafitasi dan gaya angkat
gas dalam cyclone. Gaya centrifugal dan gaya gravitasi lebih dominan untuk
material kiln feed yang kasar sedangkan untuk material kiln feed yang halus
berlaku gaya angkat gas sehingga material akan terangkat oleh gas panas
keluar dari cyclone.

Kiln feed jatuh ke down pipe cyclone stage 1A dan 1B, kemudian masuk
ke ducting cyclone stage II, dan mengalami proses seperti pada stage 1.
Demikian pula untuk stage III. Kiln feed yang keluar dari stage cyclone III
akan mengalami kalsinasi sampai 90%, kemudian kiln feed akan terbawa aliran
gas panas masuk ke dalam cyclone stage IV lalu keluar melalui down ducting
dan diumpankan ke dalam kiln. Sedangkan pada ILC, kiln feed jatuh ke down
pipe cyclone stage IA dan IB kemudian masuk ducting cyclone stage II dan
mengalami proses seperti pada stage I. Dari cyclonestage II masuk ke cyclone
stage III. Kiln feed yang keluar dari stage cyclone III akan masuk calsiner SLC
dan mengalami kalsinasi sampai 90%. Dalam calsiner SLC kiln feed dari ILC
dan SLC bergabung, kemudian kiln feed akan terbawa aliran gas panas masuk

37
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

ke dalam cyclone stage IV. Dari cyclone stage IV kiln feed melalui down
ducting dan diumpankan ke dalam kiln.

Reaksi yang terjadi dalam material di suspension preheater:

1. Pada suhu 100 – 150 oC


Penguapan H2O bebas dari kiln feed dan berjalan secara endotermis

Reaksi : H2O (l)  H2O (g) (III.1)

2. Pada suhu 100 – 400 oC


Penguapan air kristal/hidrat yang terkandung di dalam tanah liat dan
berjalan secara endotermis

Reaksi : Al2O3.SiO2.2H2O  Al2O3.2SiO2 + H2O (III.2)

3. Pada suhu 400-750oC


Dekomposisi tanah liat berlangsung secara endotermis
Reaksi : Al4(OH)8.SiO4.O102(Al2O3.2SiO2)+4H2O (III.3)
4. Pada suhu 600-900oC
Dekomposisi metakaolinit berlangsung secara endotermis
Reaksi : Al2O3.2SiO2 Al2O3.+2SiO2 (III.4)
5. Pada suhu 600-1000oC
Penguraian garam-garam karbonat (kalsinasi)

CaCO3 CaO + CO2 (III.5)

MgCO3 MgO +CO2 (III.6)

6. Pada suhu 800 – 900 oC

Pembentukan senyawa dikalsium silikat (C2S)

2CaO + SiO2 2CaO.SiO2 (III.7)

d. Pembakaran

38
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Kiln feed setelah mengalami pemanasan awal di dalam suspension


preheater akan masuk ke kiln (462-KL1). Jenis dari kiln adalah rotary kiln
yang berfungsi untuk membakar kiln feed menjadi semen setengah jadi yang
disebut clinker. Kapasitas produksi klinker dari rotary kiln sebesar 7500
ton/hari.Sumber panas dalam rotary kiln dihasilkan dari pembakaran batu bara
di dalam burner. Kebutuhan batubara adalah sebanyak 47 ton/jam

Rotary kiln terbagi menjadi 4 zone sesuai dengan reaksi yang terjadi pada
suhu dimana reaksi itu berlangsung. Zone-zone tersebut adalah:

a) Zona kalsinasi pada suhu 800 -1200 oC

b) Zona transisi pada suhu 1200 -1400 oC

c) Zona klinkerisasi pada suhu 1400 -1520 oC

d) Zona pendinginan pada suhu 1520 -1290 oC

Kiln feeder keluar dari preheater bersuhu ± 820 oC kemudian masuk ke


dalam rotary kiln yang dipasang horisontal dengan kemiringan 4odan berputar
dengan kecepatan putaran 1-3 rpm. Kiln feed akan terus terbakar dan meleleh
sehingga terbentuk senyawa semen yaitu C3S, C2S, C3A, C4AF.

Reaksi yang terjadi sampai terbentuk klinker:

a) Zona kalsinasi lanjut dari CaCO3 dan MgCO3

CaCO3 CaO + CO2 pada suhu 800-850 oC (III.8)

MgCO3 MgO + CO2 (III.9)

b) Zona pembentukan senyawa C2S (dikalsium silikat)

2CaO + SiO2 2CaO.SiO2 pada suhu 800-1200 oC

c) Reaksi pembentukan senyawa C3A dan C4AF (trikalsium aluminat dan


tetrakalsium aluminaferit)

2 CaO + CaO.Al2O3 3CaO.Al2O3 (III.10)

CaO + 2CaO.Fe2O3+ CaO.Al2O3 4CaO.Al2O3.Fe2O3 (III.11)

39
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

pada suhu 1000 -1200 oC

d) Zona pembentukan senyawa C3S (trikalsium silikat)

CaO + CaO.Si2O3 3CaO.Si2O3 pada suhu 1200 -1450 oC (III.12)

Pemanasan berlangsung secara counter current sehingga kontak antara gas


panas dan kiln feed lebih efisien. Kontak antar partikel kiln feed mengakibatkan
terjadinya perpindahan panas antara gas panas dan kiln feed sehingga
menimbulkan reaksi-reaksi seperti di atas.

Proses pembakaran pada rotary kiln dilakukan pada temperatur yang


tinggi, oleh karena itu dinding rotary kiln terbuat dari pelat baja yang dilapisi
batu tahan api (refraktory) di dalamnya. Lapisan batu tahan api tersebut
berfungsi untuk mengurangi beban pada dinding rotary kiln dan juga untuk
memperkecil kehilangan panas yang disebabkan radiasi di sekitar rotary kiln.

Tabel 2.1 Jenis Batu Tahan Api di dalam Rotary Kiln

No Zone Jenis Brick (Batu tahan api)


.
1. Inlet Zone Castable

2. Calcinating zone High alumina brick

3. Transition zone Direct bond MgCr

4. Sintering zone Direct bond MgCr

5. Cooling zone High alumina brick

6. Outlet zone Castable

Bahan bakar yang digunakan adalah batu bara yang didapat dari ADARO.
Batu bara sebelumnya dihancurkan dalam coal mill dengan memanfaatkan gas
panas dari suspension preheater. Serbuk batu bara (fine coal) ditampung dalam
coal bin, kemudian disemprotkan ke rotary kiln melalui burner. Udara primer
untuk pembakaran berasal dari bahan bakar minyak IDO (industrial diesel oil).
Setelah suhu pemanasan yang dikehendaki, kemudian setelah itu secara

40
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

perlahan-lahan bahan bakar diganti dengan fine coal, dibutuhkan waktu 8-9
jam dari penyalaan untuk mencapai suhu yang diinginkan.

e. Pendinginan Klinker
Produk dari tepung yang telah mengalami proses pembakaran dalam
rotary kiln (462-KL1) berupa lelehan akan didinginkan secara mendadak
(quenching) supaya dihasilkan klinker yang kemudian akan digiling dalam
finish mill.

Pendinginan mendadak dimulai di daerah outlet kiln sehingga diharapkan


tepung baku setelah keluar dari kiln sudah menjadi terak atau klinker dan
kemudian didinginkan lebih lanjut dalam cooler, dengan tipe control flow gate
(CFG) (472-GQ1). Klinker didinginkan dari suhu ± 1290 oC menjadi ± 150oC
dengan memanfaatkan udara pendingin dari 14 cooler fan. Clinker cooler yang
digunakan terdiri dari 16 grate yang dilengkapi dengan 14 cooling fan yang
dihembuskan dari bawah grate plate menembus tumpukan material bed
(klinker). Sebagian udara tersebut kembali ke kiln sebagai udara primer,
sebagian lagi dihisap keluar menuju suspension preheater (udara sekunder),
dan ada sebagian lagi yang dihisap menuju raw mill sedangkan gas buang dari
cooler akan dibuang ke Ep cooler

Sebagian udara dari cooler yang dimanfaatkan untuk pengeringan dalam


raw mill, terbawa oleh hisapan booster fan (472-FN4) masuk ke dalam cyclone
(472-CN1 dan 472 CN2) untuk dipisahkan antara gas dan debu clinker. Gas
panas yang dihasilkan dialirkan ke raw mill sedangkan debu dari clinker
diangkut oleh screw conveyor untuk diangkut ke deep drawn fan conveyor
(492-AC1) sebagai produk klinker.

Klinker yang kasar akan tertinggal dalam grate cooler dan terdorong maju
oleh gerakan geser maju dari grate, dorongan feed yang masuk dan hembusan
yang kuat dari fan menuju bagian outlet dari cooler yang dilengkapi clinker
breaker (445-CR1 dan 445-CR2) yaitu hammer crusher untuk memecah

41
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

klinker yang keluar dari outlet cooler. Selanjutnya klinker diangkut menuju
deep drawn fan conveyor.

Klinker halus yang berupa debu akan terbawa oleh udara menuju
electrostatic precipitator (472-EP1). Debu yang terkumpul jatuh ke chain
conveyor (472-CV1) yang diangkut menuju deep drawn fan conveyor (492-
AC1). Udara buang yang dihasilkan keluar melalui stack (472-3K1).
Sedangkan clinker yang agak halus akan jatuh menembus lubang-lubang kecil
pada grate dan akan ditampung dalam hopper chute dibawahnya untuk
selanjtnya dibawa oleh drag chain conveyor menuju deep drawn fan conveyor
(492-AC1).

Sebelum produk klinker dimasukkan ke dalam clinker bin (492-3B1)


sebagian produk klinker akan diangkut oleh deep drawn fan conveyor (492-
AC2) menuju clinker storage silo (492-3S1). Produk klinker dari dalam bin
klinker dipasarkan sesuai permintaan konsumen dan diangkut dengan
menggunakan truck. Debu dari deep drawn fan conveyor (492-AC2) terbawa
oleh aliran udara yang dihisap oleh bag filter (422-BF2). Debu yang terkumpul
dalam bag filter diangkut oleh screw conveyor ( 492-SC2) kemudian masuk ke
clinker storage silo (492-3S1).

Pengeluaran clinker dari clinker storage silo diatur oleh 10 pin gate.
Clinker yang keluar dari pin gate 1, 2, 3 diangkut oleh belt conveyor (513-
BC1) ke belt conveyor (513-BC2) ke bucket elevator (513-BE1) menuju
clinker bin (513-3B1). Sedangkan clinker dari pin gate 4, 5, 6, 7 diangkut oleh
belt conveyor (51B-BC2) ke bucket elevator (514-BE1) menuju ke clinker bin
(514-3B1). Begitu juga klinker yang keluar dari pin gate 8, 9 , dan 10 diangkut
oleh belt conveyor (514-BC1) menuju ke bucket elevator (514-BE1) menuju
clinker bin (514-3B1).

Clinker dari 513-3B1 ini kemudian menuju vertical raw mill (545-VR1)
untuk tahap pregrinding. Sedangkan klinker dari bucket elevator (514-BE1)
ditampung dalam clinker bin (514-3B1) lalu menuju vertical raw mill (545-
VR1).

42
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

f. Penggilingan Akhir

Penggilingan pendahuluan (pregrinder) dilakukan dalam vertical raw mill


(545-VR1) yang menggunakan gaya tekan roller pada meja putar. Clinker
dihancurkan dengan 4 roller vertikal dengan landasan grinding table yang
horizontal menjadi butiran-butiran kecil berukuran ± 10 mm, sedangkan
produk kasar dengan ukuran ± 75 mm dimasukkan kembali ke pregrinding.
Produk clinker yang sudah halus diangkut oleh belt conveyor (533-BC3).

Gypsum dalam gypsum bin (K29-3B1 dan K29-3B3) serta addictive dalam
addictive bin (K29-3B2 dan K29-3B4) ditimbang lebih dahulu oleh belt
conveyor (533-BC4) bersama-sama dengan klinker menuju ball mill (563-
BM1) sebagai penggilingan akhir. Kebutuhan gypsum adalah sebanyak 12
ton/jam.

Penggilingan akhir dimaksudkan untuk memperoleh semen dengan derajat


kehalusan yang sesuai dengan ketentuan SII (Standar Industri Indonesia).
Semen yang dihasilkan dengan penggilingan akhir mempunyai derajat
kehalusan antara 300 -320 m2/kg.

Cement mill (ball mill) yang digunakan untuk penggilingan akhir


berbentuk silinder horisontal dimana di dalamnya terdapat dua kamar yang
dibatasi oleh diafragma yang berfungsi untuk menahan media grinding agar
tidak bercampur antara ukuran yang besar dan ukuran yang kecil dan juga
bersifat menyaring material.

Kamar I (Compartment I) media penggilingnya berupa bola baja (grinding


ball) dengan diameter bolanya antara lain yaitu 60, 70, 80,90 (dalam satuan
mm) sedangkan kamar II media penggilingnya berupa silinder pejal dengan
diameter 15, 17, 20, 25, 30, 40, 50 (dalam satuan mm).

Semen dapat keluar dari cement mill disebabkan karena perputaran dari
cement mill, desakkan dari bola-bola baja atau cyclab, desakan feed yang
masuk dan hisapan ball mill venting fan. Material yang halus terbawa aliran
udara menuju bag filter (563-BF1). Debu yang terkumpul diangkut oleh screw
conveyor (563-SC1) menuju air slide (563-AS1).

43
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Produk semen dari ball mill dibawa oleh airslide (563-AS1) bersamaan
dengan debu dari dust colector menuju bucket elevator (563-BE1). Selanjutnya
diangkut oleh airslide (563-AS2) menuju onoda separator (563-SR1).

Suhu di dalam cement mill dijaga antara 100 oC – 120 oC karena akan
berpengaruh terhadap mutu semen yang dihasilkan. Di dalam cement mill
dilengkapi dengan water spray system yang bekerja secara otomatis. Jika
suhunya melebihi 120 oC, maka water spray akan menyemprot dengan
sendirinya secara co-current yang akan menyebabkan hilangnya air kristal dan
gypsum, dan sebaliknya jika suhunya sudah mencapai kurang dari 100 oC maka
water spray akan berhenti secara otomatis.

Sistem penggilingan pada PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap


menggunakan sistem penggilingan tertutup (close circuit system). Produk
semen dari ball mill ini ditransport ke o-sepa. Onodaseparator ini berfungsi
memisahkan material halus dan kasar. Material semen yang kasar karena gaya
grafitasi akan turun ke bawah, lalu dibawa oleh airslide (563-AS6) selanjutnya
kembali ke ball mill untuk digiling. Sedangkan material yang halus terbawa
aliran udara oleh hisapan fan (563-FN2) menuju cyclone (563-CN1).

Yang halus dari cyclone dibawa oleh airslide (593-AS1) lalu melalui
airslide (565-AS5) menuju cement silo (59B-3S1) dan airslide (565-AS4)
menuju cement silo (39B-3S2). Sedangkan udara akan terhisap oleh O-sepa
bag filter fan (563-FN3) masuk ke dalam bag filter (563-BF3). Debu yang
terkumpul dibawa ole screw conveyor (593-SC3) lalu melali airslide (593-
AS1) menuju cement silo (59B-3S2). Kapasitas masing-masing cement silo
adalah 19.000 ton.

3. Pengantongan Semen

Tahap pengantongan semen dimulai dari cement silo (59B-3S1 dan 59B-3S2).
Sebagian semen akan dipasarkan secara curah melalui junction box, kemudian
ditampung di dalam bin (61B-3B1 dan 61B-3BA). Selanjutnya dialirkan melalui
load spout (62T-LA1 dan 62U-LA1).

44
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Sedangkan untuk semen dalam kemasan kantong, semen dari bin dibawa oleh
airslide (61B-AS1) ke 615-AS4 menuju ke bucket elevator (66F-BE1) yang
mengangkut semen ke feed bin (66F-3B1), sebelumnya semen diayak
menggunakan screen (66F-SG2). Setelah itu dari feedbin, semen masuk ke dalam
packing machine (66F-PM1) yaitu rotary packing machine yang dilengkapi
dengan spout tube berupa suntikan untuk memasukkan semen ke dalam kantong
semen. Semen dan udara ditiupkan bersama-sama ke dalam kantong semen yang
telah dijahit atau dilem. Setelah berat isinya mencapai 40 kg dan 50 kg maka
ujung kantong akan tertutup secara otomatis dan kantong berisi akan keluar
melalui discharge conveyor.

Jika berat semen kurang atau melebihi berat yang ditentukan maka semen akan
dikeluarkan melalui bin reject dan diangkut oleh screw conveyor (66F-SC1)
kemudian dikembalikan oleh bucket elevator (66F-BE1) untuk dimasukkan ke
dalam feed bin (66F-3B1). Semen yang sesuai beratnya akan diangkut oleh belt
conveyor (66F-BC1) menuju truk maupun gerbong kereta untuk didistribusikan ke
konsumen.

45
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

BAB III

SPESIFIKASI PESAWAT

3.1. Spesifikasi Alat Utama


Peralatan utama yang terdapat di PT. Holcim Indonesia Pabrik Cilacap CP-
2 adalah sebagai berikut :

1. Raw Mill
Fungsi : Menggiling, mencampur, dan mengeringkan rawmaterial
yang masuk menjadi raw meal (tepung baku)

Tipe : Vertical roller mill

Kapasitas : 600 TPH

Vendor : Fuller-Loesche

Jumlah roller : 4 buah

Diameter table : 5900 mm

Diameter roller : 2700 mm

Motor/putaran : 400 kW/900 rpm

Gambar 3.1. Raw Mill

46
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Sumber:https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses 20 Februari 2018

Mekanisme :

Bahan baku masuk melalui bagian samping dan jatuh ke roller table yang
berputar oleh adanya gaya sentrifugal, material akan menuju ke roller dan
digiling sehingga hancur. Gas panas dilewatkan melalui nozzel sehingga
material yang halus akan terbawa keatas bersama-sama gas masuk cyclone
sedang material yang kasar akan jatuh ke meja dan dihancurkan lagi.

Grinding table yang horizontal diputar oleh sebuah gear reducer yang
digerakkan oleh sebuah motor listrik. Feed material dimasukkan ke tengah-
tengah table dan menyebar di sekitar table tersebut. Pada sisi luar table
terdapat dump ring yang berfungsi sebagai alat pengumpul material pada saat
material terdapat pada sebelah sisi inlet mill. Kemudian roller menekan ke
bawah dari atas alat material dan bobot roller digabungkan dengan cara
pemberian tenaga tambahan ke roller tersebut oleh silinder-silinder hidrolik
dengan sistem pegas pneumatik yang menyebabkan material berada di dasar
grinding roller.

Grinding roller yang terdiri dari 4 buah roller tidak bergerak sedangkan
tyre grinding bergerak karena gesekan yang terjadi antara grinding roller dan
putaran atas grinding table. Sewaktu material berada di bawah dibantu oleh
gaya sentrifugal, material menyebar keluar table dan keluar melalui dump
ring, kemudian masuk bersamaan dengan gas yang bergerak naik dengan
cepat dari louvre ring yang mengelilingi table. Batu batuan yang besar,
material asing dan benda-benda lainnya yang tidak bisa digiling, yang
mungkin telah masuk mill bersamaan dengan feed, juga dapat dipindahkan
dari table oleh gaya sentrifugal, sehingga material yang besar tersebut masuk
lewat louvre ring.

Reject kemudian dipindahkan oleh scapper ke putaran grinding table dan


jatuh ke hopper. Dari sini reject keluar gilingan lewat chute dan air lock
masuk ke dalam alat transportasi sistem FMR. Setelah material berada di

47
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

bawah dan material meninggalkan grinding table, material tersebut diangkut


lewat saluran gas. Saluran ini biasanya menggunakan gas untuk
menyelesaikan proses-proses lain yang dikerjakan oleh induct draft fan yang
berada di bawah mill dan masuk ke mill stand gase boxes lewat sambungan
dua buah duct pada sisi-sisinya.

Udara mengalir ke ring canal untuk disebarkan oleh louvre ring yang
langsung menuju mill body. Louvre ring mempunyai efek nozzle untuk
menaikkan kecepatan, oleh karena blade yang miring mempunyai bentuk
spiral, maka gas bergerak naik ke mill body. Permukaan yang miring di atas
louvre ring mengatur gas jauh dari tepi-tepinya.

Dengan kecepatan tinggi gas naik dari louvre ring dan melewati sisi luar
dari grinding table serta mengangkat material ke atas lewat mill menuju
clasifier. Fungsi clasifier adalah memisahkan material-material yang halus
dengan yang masih kasar. Material yang masih kasar akan dikembalikan ke
table, untuk digiling lagi. semua gas dan raw material yang sudah halus
meninggalkan mill melewati antara blade.

2. Blending Silo

Fungsi :Menampung dan mencampur rawmeal dari raw homogen


Tipe :Blending silo funel flo type
Kapasitas :20.000 ton/hari
Vendor :-
Jumlah : Dua buah

48
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.2. Blending Silo

Sumber:https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses 20 Februari 2018

Mekanisme :

Bahan baku masuk dari bagian atas blending silo, oleh karena itu alat
transportasi yang digunakan untuk mengirim bahan baku hasil penggilingan
blending silo adalah bucket elevator, dan keluar dari bagian bawah blending
silo dilakukan pada beberapa titik dengan jarak tertentu, dan diatur dengan
menggunakan valve yang sudah diatur waktu bukaannya. Proses
pengeluaraannya dari beberapa titik dilakukan untuk menambah
kehomogenan bahan baku. Blending silo dilengkapi dengan alat pendeteksi
ketinggian (level indicator), sehingga jika blending silo sudah penuh, maka
pemasukan bahan baku terhenti secara otomatis.

3. New Suspension Preheater


Fungsi :Memanaskan raw meal dan mengkalsinasi CaCO3 menjadi CaO
serta memisahkan gas panas dengan material padatan
Tipe : Suspension pre-heater, 4 stages, 2 strings,ILC dan SLC
Kapasitas : 565 TPH
Vendor : FL Smidth (Denmark)

49
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.3 New Suspension Preheater

Sumber:https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses 20 Februari 2018

Mekanisme :

Setelah mengalami homogenisasi di blending silo, material terlebih


dahulu ditampung didalam kiln feed bin, bin ini merupakan tempat umpan
yang akan masuk ke dalam pre-heater. Suspension pre-heater merupakan
suatu susunan empat buah cyclonedan satu buah calsiner yang tersusun
menjadi satu string, suspension pre-heater yang digunakan terdiri dari dua
bagian yaitu: in-line calsiner (ILC) dan separate line calsiner (SLC). Jadi pre-
heater yang digunakan adalah suspension pre-heater dengan dua string dan
masing-masing string terdiri dari empat tahap pemanasan dan satu kalsinasi
dengan pembakaran menggunakan batubara hingga mencapai suhu 800oC-
900oC.

Masing-masing string mempunyai inlet tersendiri, dan material yang


masuk melalui ILC akan mengalami dua kali kalsinasi, karena setelah sampai
calsiner ILC material tersebut ditransfer ke SLC, sedangkan material yang
masuk melalui SLC hanya akan mengalami satu kali calsinasi, karena setelah

50
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

sampai ke calsiner SLC material akan langsung masuk kedalam rotary kiln.
Proses yang terjadi dengan menggunakan calsiner dapat mencapai 90%.

4. RotaryKiln
Rotary kiln adalah alat yang digunakan untuk membakar raw meal
menjadi bahan setengah jadi yang disebut clinker. Dalam perencanaan awal
pendirian pabrik yang menjadi dasar perhitungan adalah kapasitas kiln,
sedangkan peralatan lainnya menyesuaikan dengan desain kiln.

Kapasitas : 7800 ton/hari

Panjang : 84000 mm

Kemiringan : 4% dari panjangnya

Putaran : 3 rpm

Power drive : 2 x 600 kW

Vendor : FL Smidth (Denmark)

Fungsi : Melakukan pembakaran sehingga rawmeal yang


diumpankan bereaksi menjadi clinker (terak)

Gambar 3.4 Kiln

Sumber:https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses 20 Februari 2018

Mekanisme :

51
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Kilnfeed masuk ke dalam kiln melalui ujung kiln lalu dipanaskan oleh
panas hasil pembakaran batubara di dalam burner. Karena kemiringan kiln
maka material akan bergerak ke ujung kiln yang satu sambil terus dipanaskan
dan diputar. Kiln diputar supaya terjadi pemerataan distribusi panas pada
dinding kiln. Bagian dalam kiln dilapisi oleh bata tahan api untuk mengurangi
beban panas pada dinding kiln dan memperkecil kehilangan panas radiasi.
Rotary kiln terbagi menjadi 4 zone sesuai dengan reaksi yang terjadi pada
suhu dimana reaksi itu berlangsung.

Zone-zone tersebut adalah:

a) Zona kalsinasi pada suhu 800 -1200 o C

b) Zona transisi pada suhu 1200 -1400 o C

c) Zona klinkerisasi pada suhu 1400 -1520oC

d) Zona pendinginan pada suhu 1520 -1290oC

Rotarykiln dipasang horisontal dengan kemiringan 4% dari panjang kiln dan


berputar dengan kecepatan putaran 1-3 rpm.

5. Clinker Cooler
Tipe : CFG 16102

Kapasitas : 7800 ton/hari

Suhu clinker keluar : 970C

Bahan : Baja

Pembuat : Fuller

Fungsi : Mendinginkan clinker yang dihasilkan oleh kiln


dan mengambil kembali panasnya untuk proses di kiln, pre-heater dan raw
mill.

Mekanisme :

Pendinginan dilakukan oleh 14 fan pada 9 kompartemen. Terak yang


berasal dari kiln masuk ke dalam grate cooler dan jatuh di atas plate grate

52
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

cooler. Udara tekan dari fan dialirkan ke dalam cooler melalui lubang-lubang
kecil pada grate untuk mendinginkan terak panas. Terak yang berukuran kecil
akan jatuh ke drag chain conveyor yang ada di bawah cooler sedangkan yang
berukuran besar akan terangkut oleh gerakan grate menuju hammermill untuk
dihancurkan.

Gambar 3.5 grate cooler

Sumber:https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-
semen-pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 februari
2018
6. Clinker Silo
Tipe : Silo

Kapasitas : 75000 ton

Vendor :-

Fungsi : Menampung clinker yang dihasilkan untuk diproses


menjadi semen

53
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.6 Clinker silo. Sumber:


https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-pada-pt-
holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 februari 2018

7. Cement Mill (Finish Mill)


Cement mill adalah seperangkat alat yang digunakan pada fase akhir
pemuatan semen, dimana clinker dan bahan tambahan digiling pada
kompartemen yang berbentuk tube.

Tipe : Ball mill


Diameter : 4,8 m
Panjang : 13 m
Kapasitas : 2 X 210 TPH
Pregrinder : 2 X UVP 30.40
Separator : 2 X O.sepa N5000
Fungsi : Menggiling, mencampur, dan mengeringkan
clinker,gypsum, dan adititif sehingga menjadi semen
Mekanisme :
Proses penggilingan terjadi di dalam tube yang di dalamnya
terdapat bola-bola baja yang berputar dan saling bertumbukan. Pada finish
mill terdapat beberapa kompartemen yang masing-masing memilki ukuran
bola baja yang berbeda sehingga kehalusan material yang dihasilkan
berbeda pula. Pada kompartemen pertama berfungsi sebagai coarse
grinding (menumbuk) sedangkan kompartemen kedua berfungsi sebagai
fine grinding (menggerus). Semen dapat keluar dari finish mill disebabkan

54
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

karena adanya perputaran finish mill, desakan bola-bola baja, desakan feed
yang masuk dan hisapan ball mill vent fan. Material yang halus akan
terbawa aliran udara menuju dust collector.

Gambar 3.7. ball mill/ finish mill


Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 februari 2018

8. Cement Silo
Tipe : Bin silo
Kapasitas : 218000 ton
Vendor : -
Fungsi : Menampung semen yang dihasilkan untuk pengepakan atau
transportasi selanjutnya

55
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.8. Cement silo

Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-
semen-pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 Februari
2018
9. Coal Mill
Tipe : LM 26.30
Kapasitas : 50 tph
Vendor : Fuller-Loesche
Fungsi : Menggiling dan mengeringkan batu bara manjadi fine coal agar
pembakaran lebih sempurna untuk bahan bakar kiln dan pre-heater
Mekanisme :
Material jatuh ke tengah-tengah meja dan menyebar ke sekeliling
meja. Pada sekeliling meja dipasang dam ring yang berfungsi untuk
menahan material agar tetap berkumpul di tengah meja. Roller akan
menekan material di atas table. Berat roller dan gaya tekan dari hydraulic
cylinder akan menyebabkan material tergiling. Setelah material mengalami
proses penggilingan, material tersebut meninggalkan coal mill dengan
hembusan udara menuju classifier.

56
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

2.3 Spesifikasi Alat Pendukung


1. Alat Crushing
a. Limestone crusher
Tipe/jenis : Hammer mill
Kapasitas : 1400 TPH
Kegunaan : Menghancurkan limestone menjadi ukuran yang lebih
kecil
Vendor : Universal
mekanisme:
Batu kapur diumpankan lewat hopper, lalu batu kapur akan
dialirkan oleh Wobler Feeder masuk ke crusher dan jatuh di atas breaker
plate. Batu kapur ini akan dipukul oleh hammer yang berputar. Pengaturan
besar kecil produk crusher yaitu dengan mengatur jarak antara hammer
dengan breaker plate sesuai keinginan. Material halus akan keluar melalui
discharge opening yang sebelumnya melewati screen. Material kurang
halus akan kembali dipukul oleh hammer crusher sampai kehalusan yang
diinginkan dan akan keluar melalui screen.

Gambar 3.9. Hamner mill.


Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 Februari 2018

b. Clay Chusher
Tipe/jenis : roller crusher
Kapasitas : 240 TPH
Vendor : Bedechi
Fungsi : Menghancurkan clay menjadi ukuran yang lebih kecil

57
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Mekanisme :
Terdiri dari dua buah roll horizontal berukuran besar. Masing-masing
roll berputar berlawanan arah dan kecepatan putarnya pun berbeda,
sehingga akan menyebabkan efek gesekan pada material, dan material
mengalami pengecilan.

Gambar 3.10 Clay Crusher


Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-
semen-pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 Februari
2018

2. Alat Reclaimer
a. Reclaimer Limestone
Tipe : Bridge reclaimer
Kapasitas : 800 TPH
Vendor :-
Fungsi : Memindahkan limestone dari stockpile untuk
diproses lebih lanjut
Mekanisme :
Tumpukkan pile pada storage diambil dengan dirontokkan
menggunakan reclaimer, dan diangkut menggunakan scraper menujun
belt conveyor yang terpasang di sekeliling conveyor.

58
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.11. Bridge reclaimer limestone


Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf diakses 20 Februari 2018

b. Reclaimer Clay
Tipe : Bucket elevator
Kapasitas : 240 TPH
Vendor :-
Fungsi : Memindahkan clay dari stockpile untuk proses lebih lanjut

c. ReclaimerSilicaSand dan Iron sand


Fungsi : Memindahkan silicasand dan ironsand secara bergantian
untuk diproses lebih lanjut
Tipe : Side Scrapper
Kapasitas : 130 TPH

59
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar 3.12. Side scrapper sand silica dan iron sand


Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-
pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf diakses 20 Februari 2018

3. Alat Transport
Di PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap alat transportasi yang
banyak digunakan adalah alat transport material padat. Alat transport
material padat dapat dibedakan menjadi :
1. Alat transport mobil, dapat bergerak dan berpindah-pindah.Contoh :
Bulldozer, dump truck, dan lain-lain.
2. Alat transport non mobil/tetap yaitu alat transport yang tidak dapat
berpindah-pindah.Contoh : belt conveyor, bucket elevator, screw
conveyor, dan lain-lain.

Berikut ini penjelasan beberapa alat transport yang digunakan CP-2 :


a. Pump
Fungsi :Mengalirkan material yang berupa bubuk, khususnya
rawmeal dan semen
b. Bucket Elevator
Fungsi : Mengangkut material yang berupa bubuk atau bulk
dengan arah vertikal
Kapasitas : 7800 ton/jam
c. Belt Conveyor
Fungsi : Alat transport material pecahan atau bulk dengan
arah horizontal atau sedikit miring dengan bahan yang diangkut relatif
ringan.
Kemiringan : 30°
Kapasitas : 1200 ton/jam
d. Drag Chain Conveyor
Fungsi : Untuk mentransport material dust yang kasar
seperti clinker
e. Dump Truck
Fungsi : Transportasi hasil pertambangan

60
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

f. Screw Conveyor
Fungsi : Membawa material yang berbentuk bubuk atau
sedikit lebih besar
Penggerak: elektromotor
g. Air Slide
Fungsi : Alat transportasi material berbentuk bubuk
Kapasitas : 178 MTPH
Kemiringan : 6°
Suhu : Maksimal 60°C

4. Penangkap Debu
Untuk mengatasi pencemaran udara yang diakibatkan oleh debu yang
keluar dari alat-alat, sehingga pencemaran udara akibat debu dapat diatasi
yaitu dengan menggunakan alat penangkap debu. Dalam usaha
penangkapan debu PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap
menggunakan alat electrostatic precipitator dan bag filter sebagai alat
untuk penangkap debu.
a) Electrostatic precipitator
Fungsi : Memisahkan debu dan gas secara elektrik
Spesifikasi : Type 2 FAA 363636-6080
Kapasitas : 1750 m3/min

Gambar 3.13 Electrostatic precipitator

61
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-
semen-pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 Februari
2018

Prinsip kerja :
Prinsip kerja alat ini berdasarkan atas partikel bermuatan listrik
yang dilewat dalam suatu medan elekstrostatik. Sistem filter ini terdiri
dari dua buah electrode yaitu, discharge electrode (-) yang berupa steel
wire, dan collecting plate electrode (+) yang berupa steel plate.
Discharge electrode berfungsi sebagai penghasil elektron bebas yang
digunakan untuk charging (pemuatan medan listrik) partikel debu.
Collecting plate electrode berfungsi untuk menarik partikel debu yang
telah bermuatan dan mengumpulkannya, sehingga partikel debu akan
terkumpul pada bagian ini. Bersamaan dengan proses akumulasi ini,
partikel debu akan mengalami netralisasi di plat elektroda.
Elektron yang dilepas bergerak dengan kecepatan tinggi dari
elektroda negative menuju elektroda positif, sementara itu dalam arah
yang sejajar dengan collecting plate dan tegak lurus dengan arah
gerakan elektron, partikel debu dilewatkan bersama aliran gas, sehingga
akan terjadi benturan antara elektron dan partikel debu secara efektif.
Akibatnya partikel debu akan dilingkupi elektron sehingga bermuatan
negative. Di dalam medan elektrostatis, ion debu negative akan tertarik
menuju Collecting plate electrode dan sedikit demi sedikit debu akan
terkumpul dibagian ini. Untuk menjatuhkan material yang terakumulasi,
secara periodic elektroda digetarkan oleh pukulan impact hammer pada
unit rapping gear pada collecting and discharge system.

b) Bag filter
Fungsi : Menyaring debu dan gas
Spesifikasi : Type EP 17/7
Kapasitas : 134 m3

62
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Gambar. 3.14 Bag Filter

Sumber: https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-
semen-pada-pt-holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 20 Februari
2018
Mekanisme :
Bag filter adalah alat untuk memisahkan partikel kering dari gas
(udara) pembawanya. Di dalam bag filter, aliran gas yang kotor akan
masuk ke dalam beberapa longsongan filter (disebut juga kantong atau
cloth bag) yang berjajar secara pararel, dan meninggalkan debu pada
filter tersebut. Aliran debu dan gas dalam bag filter dapat melewati
kain (fabric) ke segala arah. Partikel debu tertahan di sisi kotor kain,
sedangkan gas bersih akan melewati sisi bersih kain. Konsentrasi
partikel inlet bag filter adalah antara 100 μg/ m3 – 1 kg/m3. Debu
secara periodik disisihkan dari kantong dengan goncangan atau
menggunakan aliran udara terbalik, sehingga dapat dikatakan bahwa
bag filter adalah alat yang menerima gas yang mengandung debu,
menyaringnya, mengumpulkan debunya, dan mengeluarkan gas yang
bersih ke atmosfer.

63
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

BAB IV

UTILITAS

Utilitas merupakan salah satu faktor pendukung proses produksi, dengan


tidak adanya utilitas maka proses produksi tidak akan berjalan dengan baik.
Utilitas merupakan salah satu faktor pendukung dalam proses produksi yang
harus diperhatiakan. Hal-hal yang termasuk utilitas yaitu :

4.1 Penyediaan Air


Untuk memenuhi kebutuhan air maka diperlukan dua jenis air yaitu air
produksi dan air non produksi. Air produksi yaitu air yang digunakan untuk
keperluan minum dan air pencuci alat-alat. Dalam menjaga kelangsungan
penyediaan maka PT.Holcim Indonesia Tbk. Cilacap mengambil air
permukaan dengan cara menampung air hujan.

64
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

4.1.1 Proses pengolahan air


Kebutuhan air pendingin diperlukan sebanyak 8000m3/hari. Air ini
sebagian besar dipakai untuk proses produksi. Untuk memenuhi kebutuhan
air maka PT.Holcim Indonesia Tbk. Cilacap menampung air hujan sebagai air
bersih dengan diolah terlebih dahulu. Pengolahan air yang digunakan oleh
PT.Holcim Indonesia Tbk. Cilacap adalah dengan cara menyaring air
hujannkemudian ditampung dalam kolam penampungan. Air tersebut
digunakan untuk air pendingin mesin., menyemprot jalan dan menyiram
tanaman maupun mencuci alat. Sedangkan untuk kebutuhan air untuk kamar
mandi dan cuci tangan menggunakan pasokan air dari PDAM Cilacap. Yang
bertanggung jawab terhadap ketersediaannya air adalah Maintenance
Departement.

4.2 Penyediaan Udara


Udara yang digunakan dalam proses pembuataan semen di PT.Holcim
Indonesia Tbk. Cilacap ada 2 macam yaitu udara tekan dan udara luar.
Penyediaan udara tekan dari compressor yang dipergunakan untuk
menggerakan dumper valve. Sedangkan udara luar dari fan-fan untuk
pendingin klinker pada cooler yang berjumlah 14 fan dengan kapasitas
874.800 m3/jam, udara primer pada pembakaran dengan kapasitas 14.900
m3/jam, dan udara dari blower-blower sebagai pendorong batu bara.
Perawatan dan pengawasan terhadap compressor dilakukan oleh masing-
masing department yang memiliki compressor tersebut.

4.3 Penyediaan Tenaga Listrik


PT.Holcim Indonesia Tbk. Cilacap dalam memenuhi kebutuhan tenaga
listrik baik untuk proses produksi dan perkantoran diperoleh dari PLN dan
generator. Departemen yang bertanggungjawab terhadap penyediaan tenaga
listrik adalah Electrical Departement.

Penyediaan kebutuhan tenaga listrik dari masing-masing lokasi adalah


sebagai berikut :

1. Tempat pembangunan batu kapur di Sodong, Nusakambangan


mempunyai 3 unit generator dimana 2 unit beroperasi sedangkan

65
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

lainnya sebagai cadangan. Power pada masing-masing generator 1000


Kw
2. Service station wijayapura mempunyai 3 buah unit generator, 1 buah
digunakan untuk penerangan sedangkan 2 buah lainnya sebagai
cadangan. Power masing-masing 2000kW.
3. Pabrik cilacap 2 (CP2) kebutuhan listriknya diperoleh dari PLN
dengan kapasitas 60.000kVA. tegangan tinggi dari PLN diturunkan di
gardu induk dengan mengguankan 2 buah travo.

4.4 Penyediaan Bahan Bakar


Bahan bakar yang digunakan PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap
ada beberapa macam, yaitu :

1. IDO (Industrial Diesel Oil)


IDO digunakan sebagai bahan bakar untuk pemanasan Kiln dan untuk
proses pada raw mill. Pada pabrik CIL-1 IDO digunakan sebagai
bahan bakar untuk menggerakkan generator. IDO diperoleh dari
pasokan pertamina dengan jumlah pasokan 3.008 KL/bulan.
2. Batu Bara
Batubara digunakan sebagai bahan bakar utama baik digunakan pada
proses preheater, kiln dan yang lainnya. PT. Holcim Indonesia Tbk.
Pabrik Cilacap menggunakan batubara karena mempunyai tingkat
kalori yang tinggi yaitu sekitar 5.800 kalori sehingga proses
pembakaran yang ada dapat berjalan dengan stabil. Batubara
didatangkan dari Kalimantan dengan frekuensi kedatangan 4 hingga 5
kali dalam 1 bulan. Stock minimum untuk batubara sekitar 8 ribu
hingga 10 ribu ton untuk setiap bulannya. Untuk setiap harinya
dibutuhkan konsumsi batubara sebanyak 7.500 ton.
3. Sekam Padi (Rice Husk)
Rice Husk digunakan untuk mengurangi konsumsi batubara. Bagi PT.
Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap penggunaan rice husk
berfungsi sebagai alternatif bahan bakar karena di dalam merang
mengandung senyawa silika yang dapat berikatan dengan senyawa
kimia yang lain dalam proses pembakaran yang berarti dapat
meningkatkan kualitas dari semen itu sendiri. Kalori yang terkandung

66
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

di dalam rice husk itu sendiri mencapai 3.300 kkal/kg, dengan


konsumsi mencapai 8 ton/jam. Untuk saat ini merang masih
didatangkan dari wilayah kabupaten Cilacap, karena masih banyaknya
lahan pertanian yang ada.
4. Serbuk Kayu (Saw Dust)
Saw dustmulai digunakan pada tahun 2006 yang berfungsi sebagai
bahan bakar alternatif. Saw dust mempunyai tingkat kandungan kalori
yang hampir sama dengan rice husk yaitu 3.300kkal/kg. Saw dust
banyak didatangkan dari daerah sekitar Cilacap, seperti Adipala dll.

BAB V

LABORATORIUM

5.1 Program Kerja Laboratorium


PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap membagi laboratorium menurut
fungsinya. Beberapa laboratorium analisis yang ada adalah sebagai berikut :
1. Proces Quality Control
Proces Quality Control bertugas untuk menguji kualitas sampel yang
diambil di raw mill (raw meal), blending silo (feed kiln), cooler (clinker), dan
finished mill (cement). Uji kualitasnya dilakukan dengan menggunakan sinar
X-ray sehingga dapat diketahui komposisi penyusun material tersebut serta
parameter kualitas sampel seperti LSF, IM dan SM
Adapun sampel/bahan yang dianalisa, yaitu :
a. Raw meal
Yaitu tepung baku yang telah mengalami proses pengeringan dan
penggilingan bahan baku dalam roller mill. Pengambilan sampel setiap jam.
Parameter yang harus diperhatikan adalah LSF (Lime Saturated Factor), SM

67
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

(Silika Modulus), IM (Iron Modulus), AM (Alumunium Modulus), Residu 212


untuk Bottom Ash.
b. Kiln feed
Yaitu tepung setelah mengalami proses homogenasi dalam blending
silo. Pengambilan sampel setiap jam. Parameter yang harus diperhatikan
adalah LSF dan kadar dust-nya.
c. Terak atau clinker
Pengambilan sampel tiap jam. Parameter yang harus diperhatikan
antara lain kandungan C3S, C2S, C4AF, C3A, SM (Silica Modulus), IM, LOI,
LSF, kandungan FCaO (Free Lime)
d. Semen
Pengambilan sampel setiap 2 jam sekali. Parameter yang harus
diperhatikan antara lain Blaine (ukuran kehalusan butiran semen), LOI (Loss
on Ignition), kandungan SO3, R90 (menyatakan residu 90µ yang masih
terkandung di dalam semen).
2. Laboratorium Kimia
Laboratorium kimia bertugas menganalisis kualitas bahan baku,
batubara, fly ash, bottom ash, oil sludge, sekam padi, dan material lain yang
terkait dalam proses produksi. Sehingga sebelum material tersebut digunakan,
sudah dipastikan bahwa material tersebut memenuhi syarat mutunya.
Kualitas semen diuji tiap 1 jam, sedangkan proses samplingnya
dilakukan secara otomatis. Disamping itu, semen juga diuji satu hari sekali
dengan mengambil contoh komposit di Silo tiap hari.
Laboratorium kimia melakukan analisa secara kimia dari sampel yang
berupa:
 Raw material, yaitu limestone, clay, silica sand, iron sand, gypsum,
bottom ash, dan fly ash.
 Raw meal, yaitu tepung baku yang telah mengalami proses pengeringan
dan penggilingan bahan baku dalam roller mill.
 Kiln feed, yaitu tepung setelah mengalai proses homogenasi dalam
blending silo
 Terak atau clinker hasil pembakaran dalam kiln

68
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

 Semen, diambil dari cement silo


 Batu bara
Parameter yang diuji berupa : kadar SiO2, Al2O3, Fe2O3, kadar
ammonium hidroksida, kadar CaO, kadar MgO, hilang pijar (LOI), kadar
R2O3, kadar SO3.
3. Laboratorium Fisika
Laboratorium fisika bertugas menguji ketahanan fisik dari semen yang
dihasilkan (diambil dari cement silo), yaitu meliputisetting time, shrinkage
(penyusutan), uji kuat tekan, uji kehalusan (blaine), false set (ikatan semu),
soundness, pemuaian dengan autoclave, AJS (air jet sieve) yaitu uji residu.
Laboratorium fisika juga memiliki laboratorium concrete yang berfungsi
untuk menguji kualitas beton yang dibuat dari semen produksi setiap
bulannya.

Tabel 5.1.Syarat Mutu Semen Portland

Uraian Jenis Semen Portland

I II III IV V

• SiO2, (%), minimum - 20,0 - - -

• Al2O3, (%), maksimum - 6,0 - - -

• Fe2O3, (%), maksimum - 6,0 - 6,5 -

• MgO, (%), maksimum 6,0 6,0 6,0 6,0 6,0

2,3 2,3
• SO3, (%), maksimum 2,5 3,0 3,5
bila C3A < 8,0 %

• SO3, (%), maksimum 3,5 - 4,5 - -


bila C3A > 8,0 %

69
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

• Hilang Pijar, (%), 3,0 3,0 3,0 2,5 3,0


maksimum
• Residu tak larut, (%), 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75
maksimum

• C3S, (%), maksimum - - - 35,0 -

• C2S, (%), minimum - - - 40,0 -

• C3A, (%), maksimum - 8,0 15,0 7,0 5,0

Tabel 5.2.Spesifikasi Fisika Semen Portland

Tipe
Spesifikasi
I II III IV V

1. Kehalusan
a. Sisa di atas ayakan 0,09 0 0 0 0 0
mm maksimal %
b. Dengan alat blaine 800 800 800 800 800
minimal (cm2/gr)
2. Waktu pengikatan:
a. Dengan alat vlost, awal 5 5 5 5 5
minimal (menit)

b. Dengan alat vlost, akhir 5 5 5 5 5


minimal (menit)

c. Dengan alat giilmore, 0 0 0 0 0


awal minimal
d. Dengan alat giilmore, 0 0 0 0 0
akhir minimal

70
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

3. Pemuaian dengan 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8


autoclave maksimal
4. Kuat tekan:
a. Satu hari, minimal - - 25 - -
2
(kg/cm )
b. Tiga hari, minimal - - 50 - -
2
(kg/cm )
c. Tujuh hari, minimal 25 0 - - 50
(kg/cm2)
d. Dua puluh delapan hari, 0 75 - - 10
minimal (kg/cm2)
5. Panas hiderasi:
a. Tujuh hari, maksimal - 0 - 0 -
(cal/gr)
b. Dua puluh delapan hari, - 0 - 0 0
maksimal (cal/gr)
6. Pengikatan semu 0 0 0 0 0
penetrasi akhir. (%)
7. Pemuaian karena empat - - - - 0,5
belas hari maks

5.2 Alat – Alat Laboratorium


1. Blainer
Prinsip kerjanya didasarkan pada kecepatan udara dalam volume tertentu
untuk menghembus suatu batch semen. Makin halus semen, maka nilai
blain-nya akan makin besar.
2. Wagner
Untuk menentukan ukuran distribusi partikel dari semen.
3. Spektofotometer Sinar X
Untuk memeriksa kadar SiO2, Al2O3, CaO, Fe2O3, MgO dan menghitung
modulus-modulus semen.
4. Viccat
Untuk memeriksa pengerasan semen.
5. Gillmore
Untuk memeriksa pengeringan semen.

71
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

5.3 Prosedur Analisis


1. Process Quality Control (PQC)
a) Pengujian dengan X-Ray :
a. Timbang 10 gram sampel
b. Masukkan sampel ke dalam grinding ball kemudian tambahkan3 butir
grinding pellet (iodium lourge sulfat) yang berfungsi sebagai bahan
pengikat
c. Bahan tersebut digiling dan dihomogenisasi dengan grinding mill,
kemudian dimasukkan dalam cetakan pallet
d. Cetakkan pallet tersebut ditekan oleh mesin penekan (press pellet)
dengan tekanan tertentu supaya berbentuk pallet dengan diameter 4 cm
e. Pallet tersebut dimasukkan dalam mesin x-ray yang telah dilengkapi
dengan pemograman computer yang canggih
f. Pallet akan ditembak dengan sinar x yang berasal dari gas argon dan
tenaga listrik bertekanan tinggi
g. Hasil dapat dilihat di computer.
b) Analisa ayakan tepung baku
Bentuk ayakan standar yang dicapai adalah silinder dengan diameter 10
cm dan tinggi 20 cm. Untuk tepung baku biasanya digunakan angka
ukuran 44µ dan 88µ.
Lima puluh tepung baku ditimbang, dimasukkan dalam ayakan. Ayakan
dipegang kemudian didalamnya disemprotkan air (spray water) yang
tekanannya diatur sebesar 0,7 kg/cm2. Selama itu ayakan terus digerakkan
memutar dan kadang-kadang dinaik turunkan sehingga bagian yang lebih
halus dari ayakan akan lolos. Sedangkan bagian yang kasar tetap tertinggal
diatas ayakan sebagai sisa.
c) Analisa VW Clinker (volume weight)
Analisa VW dapat dilakukan dengan :
Perhitungan : VW = (a-b) x 0,5
Dimana : a = berat tepung baku dan container
b = berat container
VW = volume weight ( kg/liter)

72
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

- Light Pocket
Container ditimbang, tepung baku dimasukkan sampai penuh kemudian
diratakan secara merata dan ditimbang.
- Medium Pocket
Container ditimbang, tepung baku setengah dari container lalu
dimampatkan dengan penekanan sebanyak 10 kali dan ditimbang.Tepung
baku ditambahkan hingga penuh dan dimampatkan kembali dengan
penekanan sebanyak 10 kali dan ditimbang.
- Height pocket
Container ditimbang tepung baku dimasukkan hingga penuh kemudian
digoyang ke kanan dan ke kiri dengan sudut ± 30oC sebanyak 25 kali.
2. Laboratorium Kimia
a. Pengujian kimia batu kapur
Pengujian kimia batu kapur, salah satunya dilakukan dengan menggunakan
alat X-ray Spetrofotometer. Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui
kandungan SiO2, Al2O3, CaO, MgO dan Fe2O3.
 Hilang Pijar (LOI)
a. Ditimbang s gram ( ± 1,0 gram) sample dalam cruse platina.
b. Dipijarkan dalam tanur listrik pada suhu (1000 ± 50)0C
c. Lalu didinginkan dalam desikator lalu timbang beratnya.
d. Perhitungan : LOI = (S-W) x 1/S x 100%
S = Sampel
W= Berat SiO2
b. Pengujian Kimia Tanah Liat dan Pasir Silika
Pengujian kimia tanah liat dan pasir silika untuk mengetahui kandungan
SiO2, CaO, MgO, dan Fe2O3 dengan menggunakan X-ray Spetrofotometer.
 Hilang Pijar (loss on ignation)
a. Ditimbang s gram ( ± 1,0 gram) sample dalam cruse platina.
b. Dipijarkan dalam tanur listrik pada suhu (1000 ± 50)0C
c. Lalu didinginkan dalam desikator lalu timbang beratnya.
d. Perhitungan : LOI = (S-W) x 1/S x 100%
S = Sampel

73
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

W= Berat SiO2

c. Pengujian Pasir Besi

Dilakukan pengujian dengan menggunakan X-ray Spetrofotometeruntuk


mengetahui kandungan pasir besi berupa SiO2, Fe2O3, CaO dan MgO.
 Hilang pijar (Loss On Ignition)
a. Ditimbang s gram ( ± 1,0 gram) sample dalam cruse platina.
b. Dipijarkan dalam tanur listrik pada suhu (1000 ± 50)0C
c. Lalu didinginkan dalam desikator lalu timbang beratnya.
d. Perhitungan : LOI = (S-W) x 1/S x 100%
S = Sampel
W= Berat SiO2

d. Pengujian Kimia Gypsum

Pengujian dilakukan dengan menggunakan X-ray Spetrofotometeruntuk


mengetahui kandungan CaO.

e. Pengujian Terak dan Semen Portland


 Hilang pijar
a. Ditimbang s gram ( ± 1,0 gram) sample dalam cruse platina.
b. Dipijarkan dalam tanur listrik pada suhu (1000 ± 50)0C
c. Lalu didinginkan dalam desikator lalu timbang beratnya.
d. Perhitungan : LOI = (S-W) x 1/S x 100%
S = Sampel
W= Berat SiO2

f. Laboratorium Fisika
Laboratorium fisika bertugas melakukan pengujian-pengujian fisik dari
semen yang dihasilkan, meliputi :
a) Pengujian Setting Time
Cara Pembuatan Pasta (Sampel)

74
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

a. Siapkan pengaduk dan mixing bowl. Timbang 650 gram semen.


Siapkan sejumlah air (24 ± 1 )% terhadap berat semen.
b. Masukkan air kedalam bowl, kemudian masukkan semen dan diamkan
30 menit agar air terserap. Mixer dijalankan dengan kecepatan lambat
selama 30 detik. Mixer dihentikan selama 15 detik. Adonan yang
menempel dipengaduk dan mangkuk dikumpulkan.
c. Mixer dijalankan lagi dengan kecepatan medium selama 60 detik.

Cara Pengujian Setting Time


a. Ambil pasta dengan menggunakan sarung tangan. Lempar-lemparkan
pasta dari tangan ke tangan dengan jarak ± 15 cm sebanyak 6 kali.
b. Masukkan pasta ke dalam cincin percobaan sampai kira-kira penuh.
Kurangi dan sambil ratakan dengan tangan, kemudian letakkan diatas
plat kaca/ebonite.
c. Ratakan permukaan dengan alat semacam pisau dengan cara mengiris-
iris tegak permukaan dan jaga jangan sampai menekan adonan.
d. Tempatkan dulu torak/plunger pada titik nol (selama pengujian,
bebaskan alat dari getaran ). Setting time tercapai jika torak dilepas
selama 30 detik, ujung torak masuk (10 ± 1) mm kedalam pasta.

b) Pengujian False Setting


Cara Pembuatan Pasta (Sampel)
a. Siapkan pengaduk dan mixing bowl. Timbang 500 gram semen. Siapkan
sejumlah air (26 ± 1 )% terhadap berat semen.
b. Masukkan air kedalam bowl, kemudian masukkan semen dan diamkan
30 menit agar air terserap. Mixer dijalankan dengan kecepatan lambat
selama 30 detik. Mixer dihentikan selama 15 detik. Adonan yang
menempel dipengaduk dan mangkuk dikumpulkan.
c. Mixer dijalankan lagi dengan kecepatan medium selama 150 detik.

Cara Pengujian False Setting

75
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

a. Masukkan pasta ke dalam cincin percobaan sampai kira-kira penuh.


Kurangi dan sambil ratakan dengan tangan, kemudian letakkan diatas
plat kaca / ebonite.
b. Ratakan permukaan dengan alat semacam pisau dengan cara mengiris-
iris tegak permukaan dan jaga jangan sampai menekan adonan.
c. Tempatkan dulu torak/plunger pada titik nol (selama pengujian,
bebaskan alat dari getaran). Setting time tercapai jika torak dilepas
selama 30 detik, ujung torak masuk (32 ± 4) mm kedalam pasta.

c) Analisa Blaine
a. Sampel semen ditimbang sebanyak 2,95 gram, dimasukkan kedalam
silinder baja, dimasukkan pada bagian dasar terdapat penutup yang
berongga.
b. 1 helai kertas saring diletakkan diatas sampel, sampel ditekan secara
perlahan hingga termampatkan, kemudian silinder baja diletakkan
pada pipa U yang berisi cairan minyak berwarna kuning yang
dilengkapi dengan bola penghisap.
c. Dilepaskan sampai cairan minyak naik keatas sampai melebihi tanda
batas, stopwatch dihidupkan dan dicatat lama waktu cairan minyak
turun hingga tanda batas bawah.
d) Analisa Kuat Tekan Mortar
Cara pembuatan benda uji :
a. Mula-mula mortar disiapkan terlebih dahulu.
b. Perbandingan berat antara semen dan pasir adalah 1: 2,75
c. Perbandingan antara air dan semen untuk semen Portland adalah 0,485
sedangkan untuk air entraining semen Portland adalah 0,460
d. Untuk mengecek 6 atau 9 buah benda uji, diperlukan perbandingan
bahan sebagai berikut:
6 buah 9 buah
Semen Portland (gram) 500 740
Pasir Otawa (gram) 1375 2035
Air (CC) 242 354

76
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Setelah mortar siap, mortar dibiarkan dulu di dalam mangkok selama 90


detik atau segera dilakukan “ flow test “ sebagai berikut :
a. Mula-mula flow table dan flowmold dibersihkan dan dikeringkan
terlebih dahulu.
b. Masukkan mortar ke dalam flow mold sampai kira-kira setinggi 2,5
cm dan dikompakkan dengan jalan tamping sebanyak 20 kali supaya
mortar dapat mengisi seluruh bagian flow mold dengan merata.
c. Berikutnya mortar ditambahkan kedalam flow mold lagi dan
dikompakkan dengan cara yang sama. Permukaan mortar dalam flow
mold diratakan dengan alat semacam pisau dengan gerakkan
mengiris-iris tegak lurus permukaan.
d. Flow table dibersihkan dan dikeringkan dari air yang berasal dari
mortar.
e. Setelah 60 detik dari saat selesainya mixing, flow mold segera
diangkat dan flow table segera diturun naikkan setinggi 0,5 inch
(1,27 cm) sebanyak 25 kali dalam 15 detik. Segera diuji kekuatan
tekan aduknya untuk umur 3 hari, 7 hari dan 28 hari.
a. Kemudian sesaat sebelum ditentukan kekuatan aduknya, tiap-tiap
benda uji tersebut diseka terlebih dahulu dengan kain basah untuk
menghilangkan kelebihan air dan kotoran yang melekat, sehingga
seluruh permukaan benda uji dapat langsung bersinggungan dengan
“bearing block “ pada “ testing machine “. Beban diberikan kepada
permukaan benda uji yang tadinya langsung berhubungan dengan
dinding-dinding cetakan.

e) Pemuaian dengan Autoclave


a. Mula-mula 650 gram semen dengan sejumlah air dibuat adonan
terlebih dahulu.
b. Kemudian adonan dimasukkan kedalam cetakan. Mula-mula setengah
bagian dari cetakan diisi adonan lalu dikompakkan dengan menekan-
nekan, sehingga cetakan dapat terisi adonan sepenuhnya.

77
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

c. ½ bagian yang lain dari cetakan diisi adonan lagi dengan cara yang
sama kemudian kelebihan adonan pada bagian atas cetakan dikurangi
dan permukaan cetakan diratakan dengan alat semacam pisau dengan
gerakan mengiris-iris tegak lurus permukaan.
d. Selama melakukan persiapan ini sebaiknya menggunakan sarung
tangan dari karet.
e. Setelah selesai mencetak, cetakan lalu disimpan ditempat yang lembab
paling sedikit selama 20 jam. Bila kurang dari 24 jam benda diuji
(specimen) sudah diangkat dari cetakan, maka benda uji itu harus
dibiarkan dulu ditempat yang lembab sampai saatnya diuji.
f. Setelah 24 jam ± 30 menit dari saat dicetak, benda uji diangkat dari
cetakan dan dikeluarkan dari tempat lembab lalu segera diukur
panjangnya dan dimasukkan ke dalam autoclave pada suhu kamar,
sedemikian rupa seluruh benda uji dapat dengan suhu 20-28 oC yaitu
untuk menghasilkan uap air jenuh.
g. Biasanya 7-10% bagian dari volume autoclave harus terisi air. Untuk
mengeluarkan udara dari dalam autoclave, vent valve dibiarkan
terbuka sampai uap air mulai keluar kemudian valve ditutup dan suhu
autoclave dinaikkan sampai tekanan uap air mencapai 295 psi dalam
waktu 45-75 menit dari saat suhu mulai naik
h. Tekanan 295 ± 10 psi dipertahankan selama 3 jam, pemanasan
dihentikan dan autoclave didinginkan sampai tekanannya dalam waktu
1,5 jam menjadi 10 psi, kemudian tekanan diturunkan lagi sampai
sama dengan tekanan atmosfer dengan cara membuka vent valve
pelan-pelan.
i. Autoclave dibuka dan benda uji diambillalu dimasukkan dalam air
yang suhunya diatas 90oC.
j. Dinginkan dengan menambahkan air dingin sehingga dalam waktu 15
menit suhunya turun sampai dibawah 23oC. Pertahankan suhu 23oC
tersebutselama 15 menit, kemudian keringkan permukaan benda uji
dan diukur lagi berapa panjangnya sekarang.

78
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

k. Selisih panjang antara benda uji sebelum dan sesudah di autoclave


expantion dan dinyatakan sampai 0,01%. Bila panjangnya berkurang,
maka dinyatakan dengan tanda negative.

f) Pengujian Spesifik Gravity (SG) Semen


a. Siapkan botol chapman 250 ml yang sudah kering.
b. Siapkan minyak tanah yang diberi silica gel pada suatu tempat.
c. Isi botol chapman dengan minyak tanah sampai tanda tera perama.
Tempatkan botol chapman pada bak curing beberapa jam. Catat suhu
dan isi botol chapman (V1).
d. Timbang 64 gram semen. Ambil botol chapman pada bak curing dan
keringkan permukaan luar botol dengan kain.
e. Masukkan semen ke dalam botol chapman, sedikit demi sedikit
dengan menggunakan corong gelas. Setelah semen masuk semua ke
dalam minyak tanah dalam botol chapman, tutup botol tersebut.
f. Hilangkan gelembung-gelembung udara dalam gumpalan semen
dengan cara botol digoyang dan diputar.
g. Tempatkan botol chapman dalam bak curing selama 24 jam. Catat
volume minyak tanah pada suhu yang sama sebagaiV2.
h. Perhitungan : S.G = S/ (V2-V1)
S = berat sampel semen (64 gram)
V1 = volume minyak tanah pada botol chapman
V2 = volume minyak dan semen

g) Pengujian AJS (Air Jet Sieve)


a. Penetapan residu 90 µm semen
a. Timbang 10 gram sampel , masukkan ke dalam ayakan 90 µm
b. Masukkan ke dalam ala AJS
c. Timbang sisa semen yang tertinggal di ayakan (w1)
d. Hitung dengan rumus : W = w1 X 10 gram

b. Penetapan residu 45 µm semen

79
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

a. Timbang 10 gram sampel, masukkan kedalam ayakan 45 µm


b. Masukkan ke dalam alat AJS
c. Timbang sisa semen yang tertinggal diayakan ( w1)
d. Hitung dengan rumus : W = w 1 x 10 gram.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Pelaksanaan kerja praktek sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk
membandingkan teori yang didapat dari kuliah dengan yang terjadi di
industri sesungguhnya. Setelah melakukan kerja praktek di PT. Holcim
Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap merupakan pabrik swasta yang
berpusat di Negara Swiss.

2. PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap memproduksi semen General


Use (Serba Guna)dengan menggunakan proses kering (dry process)dengan
kapasitas produksi sebesar 2,6 juta ton per tahun
3. Utilitas sebagai unit penunjang produksi meliputi penyedia air, tenaga
listrik, dan udara tekan, bahan bakar.
4. PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap dalam proses utamanya tidak
menghasilkan limbah. Limbah yang dihasilkan adalah dari proses

80
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

pendukung (auxiliary process) sepaerti aktivitas laboratorium dan


Maintenance (pergantian oli, dll). Sedangkan emisi debu, gas, dan
kebisingan merupakan dampak lingkungan yang dipantau secara rutin.

6.2 Saran
1. Sistem pengamanan lingkungan yang sangat perlu diperhatikan seperti lalu
lalang orang masuk ke areal pabrik karena banyak kasus pencurian yang
tidak terdeteksi.
2. Kurangnya kesadaran para pekerja akan kesehatan dan keselamatan kerja
menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja maka perlu dilakukan sosialisasi
bahaya apabila tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat berada
di daerah tambang, plant, maupun pack house secara berkala.
3. Mahasiswa Kerja Praktekdiharapkan bisa dilibatkan dalam pelaksanaan
proses produksi sehingga pengalaman yang didapat dapat lebih maksimal.
4. Mahasiswa Kerja Praktek di PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap
diharapkan lebih diperhatikan dalam pengarahan dan aktivitas kerja
praktek serta kejelasan pembimbing yang dilakukan pada setiap
departemen.

81
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, Apriyadi., “Proses Pembuatan Semen Pada PT. Holcim Indonesia, Tbk.”,
https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-pada-pt-
holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses tanggal 19 September 2017.

Fuller Institute, “About Burning &Kiln” (4th ed), Germany, 1990.

Geankoplis CJ. “Transport Process and Unit operation”. 2nd ed Allyn And Bacon
Inc, USA, 1983.

Sigit, Umar., “Reference Guide For Process Performance Engineers (4th ed)”,
Holcim, 2007. Diakses 20 Februari 2018.

Rieko,“Proses Pembuatan Semen Pada PT. Holcim Indonesia, Tbk.”


https://rieko.files.wordpress.com/2007/12/proses-pembuatan-semen-pada-pt-
holcim-indonesia-tbk.pdf., diakses 20 Februari 2018
Hand Book PT Holcim di akses 21 Februari 2018

Affandi, 1978. “Teknologi Semen”, Pusat Penelitian Semen PT Semen Gresik


(Persero) Tbk. : Gresik.

Austin, G.T., 1996. “Proses Industri Kimia”. Erlangga, Jakarta

82
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP

Duda, Walter H., 1984, “Cement Data Book”, International process Engineering
in the cement Industry, 2nd Edition, Bauverlag GmbH, Wiesbaden and
Berlin, Mc Donal and Evan, London

Bogue, R.H., 1968. Cement in Kirk Othmer Encyclopedia of Chemical


Technology, 2nd Edition, John Wiley ang Sons Inc., Taiwan

Purwitono, Eko., 2013. “Laporan Praktek Kerja PT. Holcim Indonesia Tbk.
Pabrik Cilacap”, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Locher F.W dan Kropp.,1986. “Cement Concetre”, VCh Verlagsgesellscaft


mbhWeinhein, Germany

Menteri Negara KLH, 1988, “Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan


Lingkungan Hidup No.Kep-02/MENKLH/I/1988 tentang Pedoman
Penetapan Baku Mutu Lingkungan”, Sekretariat Men.KLH, Jakarta

Perry, R.H and Chilton, C.H., 1999, “Perry’s Chemical Engineering Handbook”,
Chemichal Published Co.Inc., New York

http://www.energyefficiencyasia.org/2007/12/25/Proses-Pembuatan-Semen-pada-
PT.Holcim-Indonesia-Tbk/. Diakses 23 februari 2018

83