Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Septik arthritis adalah suatu penyakit radang sendi yang disebabkan oleh bakteri atau
jamur. Septik arthritis piogenik paling sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Hal ini
juga dapat disebabkan beberapa organisme lain, termasuk Staphylococci, Streptococcus
pneumoniae, Streptokokus grup B, spesies Gonococcus, Escherichia coli, spesies
Haemophilus, spesies Klebsiella, spesies Pseudomonas, dan spesies Candida. Infeksi dapat
menyebabkan kerusakan sendi cepat dan berat. Infeksi primer disebabkan oleh inokulasi
langsung akibat trauma termasuk pembedahan. Infeksi sekunder akibat penyebaran secara
hematogen atau perluasan dari osteomielitis (Holder L, 2013).

Septik arthritis dapat mengenai berbagai usia, tetapi anak-anak dan orang tua lebih
mudah terkena, terutama jika mereka sudah mempunyai kelainan pada sendi seperti riwayat
trauma atau kondisi seperti hemofilia, osteoarthritis, atau rheumatoid arthritis. Pasien
immunocompromise untuk beberapa alasan dan penyakit seperti diabetes mellitus,
alkoholisme, sirosis, kanker, dan uremia meningkatkan resiko infeksi (Canale, 2008).

Insiden septik artritis pada populasi umum bervariasi 2-10 kasus per 100.000 orang per tahun.
Insiden ini meningkat pada penderita dengan peningkatan risiko seperti artritis rheumatoid
28-38 kasus per 100.000 per tahun, penderita dengan protese sendi 40-68
kasus/100.000/tahun (30-70%). Puncak insiden pada kelompok umur adalah anak-anak usia
kurang dari 5 tahun (5 per 100.000/tahun) dan dewasa usia lebih dari 64 tahun (8,4
kasus/100.000 penduduk/tahun). Kebanyakan septik artritis terjadi pada satu sendi,
sedangkan keterlibatan poli artikular terjadi 10-15% kasus. Sendi lutut merupakan sendi yang
paling sering terkena sekitar 48-56%, diikuti oleh sendi panggul 16-21%, dan pergelangan
kaki 8% (Abdullah, 2014).

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi fisiologi knee joint

Knee joint adalah salah satu sendi kompleks dalam tubuh manusia. Femur, tibia,
fibula, dan patella disatukan menjadi satu kelompok yang kompleks oleh ligament.
(Ballinger, 2007)

Sendi merupakan pertemuan antara dua atau beberapa tulang dari


kerangka.Terdapat tiga jenis utama berdasarkan kemungkinan gerakannya yaitu sendi
fibrus, sendi tulang rawan dan sendi sinovial (C Evelyn, 1999).
Sendi fibrus atau sinartroses adalah sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat
ikat, maka tidak mungkin ada gerakan antara tulang – tulangnya, misalnya: sutura antara
tulang pipih tengkorak. Sendi tulang rawan atau amfiartroses adalah sendi dengan
gerakan sedikit dan permukaan persendiannya dipisahkan oleh bahan dan mungkin
sedikit gerakannya. Misalnya, Simphisis pubis, dimana sebuah bantalan
tulang rawan mempersatukan kedua tulang pubis. Sendi synovial atau diartroses adalah
persendian yang bergerak bebas dan terdapat banyak ragamnya.

Gambar IIA.1 Anatomi Knee Joint kanan dari sisi Anterior view dan Posterior view
(Nucleus Medical Art, 1997-2007)

2
Gambar IIA.2 Anatomi Knee Joint Kanan dari sisi Lateral view dan Medial view
(Nucleus Medical Art, 1997-2007)

Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis proksimalis, tulang
tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari tulang yang
berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella femoral, antara
tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan antara tulang
tibia dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio fibular proxsimal (De Wolf,
1996).
Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa tulang , ligament beserta
otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan yang disebut dengan sendi lutut atau knee
joint. Anatomi sendi lutut terdiri dari:

1. Tulang pembentuk sendi lutut antara lain:

a. Tulang Femur

Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang kerangka pada
bagian pangkal yang berhubungan dengan acetabulum membentuk kepala sendi yang
disebut caput femoris. Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju
yang disebut trochantor mayor dan trochantor minor, di bagian ujung membentuk
persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut condylus medialis dan
condylus lateralis, di antara kedua condylus ini terdapat lekukan tempat letaknya
tulang tempurung lutut (patella) yang disebut dengan fosa condylus (Syaifuddin,
1997).

b. Tulang Tibia

Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat pada os
fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan tulang pangkal kaki dan
terdapat taju yang disebut os maleolus medialis. (Syaifuddin, 1997).

c. Tulang Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang membentuk
persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya. Terdapat tonjolan yang
disebut os maleolus lateralis atau mata kaki luar. (Syaifuddin, 1997).

d. Tulang Patella

Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang
femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap dan yang berubah
hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella di samping sebagai perekatan otot-
otot atau tendon adalah sebagai pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90

3
derajat, kedudukan patella di antara kedua condylus femur dan saat extensi maka
patella terletak pada permukaan anterior femur (Syaifuddin, 1997).

2. Ligamentum pembentuk sendi lutut

Gambar IIA.3 Susunan Ligamen Sendi Lutut Anterior View (R.Putz, R.Pabst, 2002)

Keterangan Gambar A.3 Susunan Ligamen Sendi Lutut (R.Putz, R.Pabst, 2002) yaitu :

1. Ligamen cruciatum anterior


2. Meniscus lateralis
3. Ligament collateral fibula
4. Ligament capitis fibula posterior
5. Caput fibula
6. Femur, condylus medial
7. Ligament meniscofemorale posterior
8. Ligament collateral tibia
9. Ligament popliteum obliqum
10. Ligament cruciatum posterior

4
Susunan Ligamen Sendi Lutut Lateral View (R.Putz R.Pabst, 2002)

1. Ligamen patella
2. Meniscus medialis
3. Ligament collateral tibia

Stabilitas sendi lutut yang lain adalah ligamentum. Ada beberapa ligamentum yang
terdapat pada sendi lutut antara lain :

a. Ligamentum crusiatum anterior, yang berjalan dari depan eminentia intercondyloidea


tibia, ke permukaan medial condylus lateralis femur, fungsi menahan hiperekstensi
dan menahan bergesernya tibia ke depan.

b. Ligamentum crusiatum posterior, berjalan dari facies lateralis condylus medialis


femoris, menuju fossa intercondyloidea tibia, berfungsi menahan bergesernya
tibia, ke arah belakang.

c. Ligamentum collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum


fibulla, yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar.

d. Ligamentum collateral mediale tibia (epicondylus medialis tibia), yang berfungsi


menahan gerakan valgus atau samping dalam dan eksorotasi, dan secara bersamaan
ligament collateral juga berfungsi menahan bergesernya ke depan pada posisi lutut
fleksi 90 derajat.

e. Ligamentum popliteum abligum, berasal dari condylus lateralis femoris menuju


ke insertio musculus semi membranosus melekat pada fascia musculus popliteum.

f. Ligamentum transversum genu, membentang pada permukaan anterior meniscus


medialis dan lateralis. Semua ligament tersebut berfungsi sebagai fiksator dan
stabilisator sendi lutut. Tranversum genu di samping ligament ada juga bursa pada
sendi lutut. Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya
gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membran synovial. Ada
beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara lain : (a) bursa popliteus,
(b) bursa supra patellaris, (c) bursa infra patellaris, (d) bursa subcutan prapatellaris,
(e) bursa sub patellaris, (f) bursa prapatellaris.

5
3. Sistem Otot

Gambar IIA.5 Otot Paha dan Pangkal Paha Tampak dari Depan (R.Putz R.Pabst, 2002)

Keterangan Gambar IIA.5 Otot Paha dan Pangkal Paha Tampak dari Depan (R.Putz R.Pabst,
2002) yaitu :

1. Musculus vatus medial


2. Femur condylus medial
3. Ligament patella
4. Bursa subcutanea infrapatellaris
5. Caput fibula
6. Bursa subtendinea prepatellaris
7. Fascialata, tractus, illiotibialis
8. Musculus Vastus lateralis
9. Musculus Rectus femoris

Otot-otot yang bekerja pada sendi lutut yaitu:


a. Bagian anterior adalah musculus rectus femoris, musculus vastus lateralis,
musculus Vastus medialis, musculus vastus intermedius.
b. Bagian posterior adalah musculus biceps femoris, musculus semitendinosus,
musculussemimembranosus, musculus Gastrocnemius.
c. Bagian medial adalah musculus Sartorius
d. Bagian lateral adalah musculus Tensorfacialatae

4. Biomekanik sendi lutut

Aksis gerak fleksi dan ekstensi terletak di atas permukaan sendi, yaitu melewati
condylus femoris. Sedangkan gerakan rotasi aksisnya longitudinal pada daerah condylus

6
medialis (Kapandji, 1995). Secara biomekanik, beban yang diterima sendi lutut dalam
keadaan normal akan melalui medial sendi lutut dan akan diimbangi oleh otot-otot paha
bagian lateral, sehingga resultannya akan jatuh di bagian sentral sendi lutut.

a. Osteokinematika

Osteokinematika yang memungkinkan terjadi adalah gerakan fleksi dan


ekstensi pada bidang sagital dengan lingkup gerak sendi fleksi antara 120-130 derajat,
bila posisi hip fleksi penuh, dan dapat mencapai 140 derajat, bila hip ekstensi penuh,
untuk gerakan ekstensi, lingkup gerak sendi antara 0 – 10 derajat gerakan putaran
pada bidang rotasi dengan lingkup gerak sendi untuk endorotasi antara 30 – 35
derajat, sedangkan untuk eksorotasi antara 40-45 derajat dari posisi awal mid
posision. Gerakan rotasi ini terjadi pada posisi lutut fleksi 90 derajat (Kapandji,
1995), gerakan yang terjadi pada kedua permukaan tulang meliputi gerakan rolling
dan sliding. Saat tulang femur yang bergerak maka, gerakan rolling ke arah belakang
dan sliding ke arah depan (berlawanan arah). Saat fleksi, femur rolling ke
arah belakang dan sliding ke belakang, untuk gerakan ekstensi, rolling ke depan dan
sliding ke belakang. Saat tibia yang bergerak fleksi adapun ekstensi maka rolling
maupun sliding bergerak searah, saat fleksi maka rolling maupun sliding bergerak
searah, saat fleksi rolling dan sliding ke arah belakang, sedangkan saat ekstensi
rolling dan sliding bergerak ke arah depan.

b. Artrokinematika

Artrokinematika pada sendi lutut di saat femur bergerak rolling dan sliding
berlawanan arah, disaat terjadi gerak fleksi femur rolling ke arah belakang dan
sliding-nya ke depan, saat gerakan ekstensi femur rolling kearah depannya sliding-nya
ke belakang. Jika tibia bergerak fleksi ataupun ekstensi maka rolling maupun sliding
terjadi searah, saat fleksi menuju dorsal, sedangkan ekstensi menuju
ventral (Kapandji, 1995).

B. Patologi

1. Definisi

Septik arthritis adalah suatu penyakit radang sendi yang disebabkan oleh
infeksi bakteri atau jamur. Artritis bakteri atau biasa disebut supuratif piogenik atau
septik artritis, adalah infeksi pada sendi yang paling sering terjadi dan yang paling
penting karena merupakan kegawatan dibidang rematologi yang berpotensi untuk
menyebabkan kerusakan sendi dan hilangnya fungsi yang ireversibel (25-50% dari
pasien) jika terlambat dalam diagnosis dan pengobatan. Infeksi primer disebabkan
oleh inokulasi langsung akibat trauma termasuk pembedahan. Infeksi sekunder akibat

7
penyebaran secara hematogen atau perluasan dari osteomyelitis atau selulitis yang
berdekatan dengan celah sendi (Canale, 2008).

Septik artritis adalah salah satu penyakit infeksi pada sistem muskuloskeletal.
Infeksi pada sistem musculoskeletal dapat terjadi pada tulang, sendi, otot dan
jaringan lunak, sehingga menimbulkan manifestasi klinis yang bervariasi, tergantung
pada struktur yang terlibat. Ketika infeksi tersebut terjadi pada sendi disebut septik
artritis. Biasanya septik arthritis mempengaruhi satu sendi besar seperti lutut atau
pinggul. Septik artritis jarang mempengaruhi beberapa sendi Septik artritis paling
sering terjadi pada sendi pinggul, kemudian sendi lutut dan pergelangan kaki.

Angka kejadian ketiga sendi tersebut dapat mencapai 80% dari seluruh kasus
(Ortega, 2014). Pada anak-anak yang memiliki keluhan nyeri sendi terutama pada
daerah yang non-weight bearing, maka dapat dicurigai sebagai septik artritis.
Ortopedi menggunakan Kriteria Kocher untuk menentukan kemungkinan terkena
septik artritis. Kriteria kocher terdiri dari (Bond, 2011):

- Erythrocyte Sedimentation Rate >40 mm/hr


- WBC > 12.000 mm3
- Sendi yang terkena adalah non weight-bearing
- Demam

2. Etiologi

Stapylococcus aureus merupakan bakteri yang sering menyebabkan arthritis


bacterialis dan osteomelitis pada manusia. Diduga, kemampuan sthapylococcus
aureus untuk menginfeksi sendi berhubungan dengan interaksi antara bakteri tersebut
dengan komponen matriks ekstrasululer.

Produk-produk bakteri seperti endotoksin (lipopolisakarida) bakteri gram


negative, fragmen dinding sel bakteri gram positif dan kompleks imun akan
merangsang sel-sel synovial untuk melepaskan TNF- α (tumor necrosis factor
alfa) dan IL – 1 β (Interleukin-1 beta) yang akan mencetuskan infiltrasi dan aktivasi
sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Bakteri akan difagositosis oleh vacuolated
synovial linning ells dan sel – sel PMN. Sel-sel fagositik tersebut, memiliki sistem
bakterisidal, kemampuannya mematkan bakteri tergantung pada virulensi bakteri
yang menginfeksi.
Komponen bakteri yang membentuk kompleks antigen-
antibodi, akan mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik, sedangkan toksin
bakteri akan mengaktifkan komplemen melalui jalur alternative. Fagositosis bakteri
yang mati oleh sel-sel PMN, juga dapat menyebabkan autolysis sel, PMN akan
melepaskan enzim lisozomal kedalam sendi yang menyebabkan kerusakan synovial,
ligament dan rawan sendi. Selain itu, sel PMN dapat merangsang metabolisme asam

8
arakidonat dan melepaskan kolagenase, enzim-enzim proteolitik dan IL-1 sehingga
reaksi inflamasi bertambah hebat.

Organism cultured from 56 cases of acute septic arthritis


Organism Number of cases
Staphylococcus aureus 27
Haemophilus influenza 10
Haemophilus para-influenza 3
Streptococcus pyogenes 8
Califorms 2
Streptococcus pneumonia 2
Streptococcus viridians 1
Staphylococcus albus 1
Anaerobic Gram-positive cocci 1
Meningococcus 1
Sumber : THE JOURNAL OF BONE AND JOINT SURGERY

Stadium Arthritis Septic


Apley membagi 3 stadium, yaitu (Muttaqin, 2008):
1. Stadium akut.
Ditemukannya peradangan local berupa kemerahan, pembengkakan sendi, atropi
otot. Dengan pemeriksaan radiologi, terlihat adanya refraksi tulang. Pada stadium
dini terjadi peradangan sinovium (sinovitis), pembengkakan sinovium, dan belum
terdapat kerusakan tulang rawan.
2. Stadium Penyembuhan
Pada stadium ini terjadi penyembuhan secara berangsur-angsur. Gejala klinis
seperti panas dan nyeri menghilang serta terjadi klasifikasi pada tulang.
3. Stadium Residual
Bila penyembuhan penyakit terjadi sebelum ada kerusakan pada sendi, akan terjadi
penyembuhan sempurna, tetapi bila telah terjadi kerusakan pada tulang rawan
sendi, akan terdapat gejala sisa/sekuela yang bersifat permanen berupa fibrosis dan
deformitas sendi.

3. Tanda dan gejala

Manifestasi klinis septik artritis sangat bergantung pada usia dan kondisi dari
tubuh pasien. Tapi secara umum septik artritis ditandai dengan trias gejala akut yang
tipikal dan dengan durasi ejala 1-2 minggu, disertai dengan demam dengan suhu
rendah (tanpa menggigil), nyeri pada sendi, dan penurunan pergerakan sendi. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan sendi tampak bengkak, kemerahan, nyeri tekan, dan
teraba panas. Umumnya kelaianan yang melibatkan intraartikular ditandai dengan
terbatasnya gerak sendi baikitu secara aktif maupun pasif. Sendi biasanya terhenti

9
pada posisi maksimal dari sebuah pergerakan sendi. Berlawanan dengan itu,
inflamasi periatrikular terbatasnya gerak sendi hanya oada pergerakan sendi aktif,
dan disertai bengkak yang terlokalisir (Horowitz, et.al. 2011).

Pasien dengan Artrits Septic Akut di tandai dengan (Sudoyo,dkk.2009):

1. Nyeri sendi hebat.


2. Bengkak sendi.
3. Kaku dan gangguan fungsi sendi.
4. Demam.
5. Kelemahan umum.

4. Proses patologi

Bakteri penyebab septik arthritis bisa berasal dari beberapa sumber, yaitu:
a. Hematogen atau melalui pembuluh darah dari sumber infeksi lain
b. Contiguous atau secara perkontinuitatum dari jaringan atau organ sekitar yang
mengalami infeksi seperti osteomyelitis
c. Infeksi secara langsung terhadap sendi tersebut baik selama proses pembedahan,
penyuntikan, trauma, gigitan hewan atau manusia, atau tindakan-tindakan invasif
lainnya (Ortega, 2014).

Gambar 5. Mekanisme terjadinya septik arthrits (Abdullah, 2014)

Penyebaran secara hematogen merupakan yang paling sering ditemukan pada


pasien dengan septik arthritis. Bakteri masuk ke dalam sendi melalui pembuluh-
pembuluh darah kapiler synovial yang tidak mempunyai membrana basalis yang
berfungsi untuk membatasi terjadinya penyebaran infeksi (Mathews, 2010). Dalam
beberapa jam kemudian neutrophil dan sel-sel radang lainnya mulai menginfiltrasi
sinovium, serta terjadi hyperplasia pada membrane synovial. Selsel radang dan
bakteri masuk ke dalam celah sendi dan kemudian mulai menempel (adesi) pada
kartilago sendi. Kemudian dalam beberapa jam berikutnya sel-sel inflamaasi mulai
melepaskan sitokin-sitokin dan protease, yang selanjutnya akan menyebabkan

10
hidrolisis dari kolagen dan proteoglikan yang akhirnya menghambat sitesis dari
kartilago serta meningkatkan proses degradasinya (Abdullah, 2014).

Proses perusakan sendi akan berlanjut dengan terbentuknya pannus (jaringan


granulasi sinovial) dan erosi pada kartilago sendi. Efusi sendi yang sangat massif
dapat menyebabkan vaskularisasi ke sendi tersebut menjadi terganggu, sehingga bisa
menyebabkan nekrosis pada tulang (aspetic bone necrosis). Proses perusakan sendi
ini dapat terjadi pada septik arthritis pada tahap-tahap awal, bila kondisi infeksi tidak
segara diatasi. Oleh karena itu kondisi septik arthritis bisa dianggap sebagai kondisi
emergensi (Moyad, 2008).

Gambar 6 . (a) gambaran sendi normal, dengan (f) cairan synovial dan (c)
kartilago sendi. (b) gambaran sendi dengan kondisi septik arthritis, tanda-tanda
radang, sinovitis, dengan (P) Pannus yang meerusak katilago sendi dan tulang. Panah
putih menunjukkan tulang subkondral yang mengalami perusakan dan terekspos ke
bagian intraartikular (Abdullah, 2014).

C. Pendekatan intervensi fisioterapi

1. R.I.C.E
Tujuan :
Rest : untuk melindungi area yang mengalami cedera agar tidak terjadi komplikasi
cedera lainnya
Ice : untuk mengurangi oedema dan nyeri
Compression : mengurangi oedema pada rea cidera
Elevation : untuk melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi penumpukan
cairan pada area yang mengalami cedera

2. Breathing exercise
Tujuan : meningkatkan ekspansi thorax dan membantu untuk mengeluarkan
akumulasi cairan pada chets akibat bed rest yang terlalu lama

3. Positioning
Tujuan : mencegah terjadinya dcubitus akibat bed rest yang terlalu lama

11
4. Pasif ROM exercise
Tujuan : untuk mencegah potensi kaku sendi

5. Streching
Tujuan : mencegah terjadinya kontraktur

6. Interferential current therapy


Tujuan : mengurangi rasa sakit dengan merangsang sel saraf lokal
- Mengurangi pembengkakan dengan meningkatkan aliran darah lokal
- Relaksasi kejang otot karena cedera lokal
- Meningkatkan permeabilitas membran sel

12
BAB III
PROSES FISIOTERAPI

A. Identitas umum pasien


Diagnosa ICD : Septic arthritis et right knee
Nama : Tuan. R
Umur : 6 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Sidrap

B. Anamnesis khusus
Keluhan utama : Nyeri dan bengkak pada lutut kanan
Lokasi keluhan : Lutut kanan
Riwayat medis : Diawali sejak 4 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien
sebelumnya terkena jarum suntik untuk mengisi tinta print, pasien punya riwayat operasi
pada lutut. Tidak ada riwayat demam, tidak ada riwayat batuk lama, tidak ada riwayat
keringat di malam hari dan tidak ada riwayat nyeri pada malam hari.
Riwayat keluarga : tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama
sebelumnya

C. Inspeksi atau observasi


Statis : terpasang elastic perban, terpasang infus, oedema, kemerahan, lutut kanan
lebih besar dari pada kiri
Dinamis : tidak dapat dinilai
Palpasi : suhu lokal hangat, nyeri tekan.

Pemeriksaan Vital sign :


BP : 90/60 mmHg
HR : 90x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,5 oC

D. Tes orientasi
Fleksi knee tidak bisa dilakukan karena nyeri

E. Pemeriksaan fungsi dasar

Tes gerak aktif


Hip joint :
- Fleksi : terbatas karna nyeri
- Ekstensi : terbatas karna nyeri
- Abduksi : terbatas karna nyeri

13
- Adduksi : terbatas karna nyeri
- Eksternal rotasi : terbatas karna nyeri
- Internal rotasi : terbatas karna nyeri

Knee joint : tidak mampu dilakukan karna sangat nyeri

Ankle joint :
- Plantar fleksi : terbatas karna terpsangan elastic perban
- Dorso fleksi : terbatas karna terpsangan elastic perban
- Inversi kaki : terbatas karna terpsangan elastic perban
- Eversi kaki : terbatas karna terpsangan elastic perban

Tes gerak pasif


Hip joint :
- Fleksi : keterbatasan gerak (soft end feel)
- Ekstensi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Abduksi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Adduksi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Internal rotasi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Eksternal rotasi : keterbatasan gerak (firm end feel)

Knee joint : empty end fell karne adanya nyeri

Ankle joint :
- Plantar fleksi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Dorso fleksi : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Inversi kaki : keterbatasan gerak (firm end feel)
- Eversi kaki : keterbatasan gerak (firm end feel)

TIMT
Hip joint :
- Fleksi : tahanan sedang
- Ekstensi : tahanan sedang
- Abduksi : tahanan sedang
- Adduksi : tahanan sedang
- Internal rotasi : tahanan sedang
- Eksternal rotasi : tahanan sedang

Knee joint : tidak mampu dilakukan karna nyeri

Ankle joint :
- Plantar fleksi : tahanan sedang
- Dorso fleksi : tahanan sedang
- Inversi kaki : tahanan sedang

14
- Eversi kaki : tahanan sedang

F. Pemeriksaan spesifik dan pengukuran fisioterapi

Pngukuran skala nyeri (FLACC) : skor 4 (jauh lebih nyeri)

Patellat tap test : positif gangguan pada periartikular

MMT
No. Sendi Gerakan Hasil

1 Hip Fleksi 3
Ekstensi 3
Abduksi 3
Adduksi 3
Eksternal rotsi 3
Internal rotasi 3
2 Knee Fleksi 1
Ekstensi 1
3 Ankle Dorsofleksi 3
Plantar fleksi 3
Inversi 3
Eversi 3

Tes tonus otot : normal

Tes sensorik:
Tes tajam tumpul : Dalam batas normal
Rasa sakit : Dalam batas normal
Raba ringan-tekan : Dalam batas normal

Gangguan ADL :
Index barthel (modifikasi) :
No Jenis AKS Kriteria
1. Saya dapat mengendalikan BAB 0 = tidak dapat
1 = kadang – kadang
2 = selalu
2. Saya dapat mengendalikan BAK 0 = tidak dapat
1 = kadang – kadang
2 = selalu
3. Saya dapat memlihara diri : (muka, rambut, gigi, 0 = tidak dapat

15
cukur) 1 = selalu
4. Saya dapat menggunakan toilet 0 = sepenuhnya dibantu
1 = bantu jika perlu
2 = bisa
5. Makan 0 = bergantung orang lain
1 = bantu jika perlu
2 = bisa
6. Naik turun kursi 0 = bergantung orang lain
1 = mampu duduk, banyak
bantuan
2 = perlu sedikit bantuan
3 = bebas
7. Jalan 0 = bergantung orang lain
1 = tidak dapat, tapi bisa
menjalankan kursi roda
sendiri
2 = dapat, tetapi dibantu
orang lain
3 = bebas penuh
8. Berpakaian 0 = bergantung orang lain
1 = kadang – kadang
dibantu
2 = bebas termasuk pakai
sepatu

9. Naik turun tangga 0 = tidak mampu


1 = perlu bantuan
2 = bebas
10. Mandi 0 = bergantung orang lain
1 = bebas, termasuk keluar
dan masuk kamar mandi
Jumlah 11

Interpretasi : nilai 11 (cacat sedang)


0 – 4 = cacat sangat berat
5 – 9 = cacat berat
10 – 14 = cacat sedang
15 – 19 = cacat ringan
> 20 = bebas dan fungsi penuh

Pemeriksaan penunjang :
1. X-ray knee AP/lateral :
Kesan : Tampak joint space harrowing, soft tissue swelling, irregularitas joint surface

16
2. Pemeriksaan laboratorium
Mikrobiologi :
- Spesimen : jaringan
- Afinitas gram : tidak ditemukan
- Bentuk dan konfigurasi : tidak ditemukan
- Kuantitas : tidak ditemukan
- Lokalisasi : -
- Sel lain : lekosit 4+ dan sel epitel : 1 +
- Jamur : tidak ditemukan
- Jenis spesimen :jaringan
- Pewarnaan BTA : negatif

Hematologi :

- Laju endap darah : jam I = 3 jam II = 62

G. Diagnosa dan problematik fisioterapi


Diagnosa ICF : Knee pain with functional limitation post op septic arthritis right knee

Problematik Fisioterapi :
1. Impairment :
- Nyeri lutut kanan
- Kelemahan anggota gerak akibat nyeri
- Potensial kaku sendi dan kontraktur
- Potensial terjadi pneumonia berbaring
- Potensial terjadi decubitus

2. Activity limitation :
- Kesulitan untuk melakukan gerakan
- Kesulitan untuk transfer
- Gangguan ADL

3. Patricipation restriction :
- Kehilangan rasa percaya diri
- Tidak mampu melakukan hobby yang diminati

H. Rencana intervensi fisioterapi

a. Tujuan jangka pendek :

- Meningkatkan rasa percaya diri pasien

17
- Mengurangi nyeri dan pembengkakan
- Memelihara sifat fisiologis otot pada keempat anggota gerak

b. Tujuan jangaka panjang :


- Mencegah kontraktur
- Mencegah pneumonia berbaring
- Mencegah decubitus
- Meningkatkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien yang sudah
ada

I. Program intervensi fisioterapi

1. Komunikasi terapeutik :
Memberikan motivasi kepada pasien untuk meningkatkan rasa percaya diri dan
semangat untuk sembuh agar bisa melakukan aktivitas fungsional tanpa bantuan
orang lain.

2. R.I.C.E
Rest : mengistirahatkan area yang mengalami cedera dan melindungi sendi yang
megalami cedera.
Ice : memberika kompres dingin pada area yang mengalami pembengkakan
Compretion : pemberian penekanan pada are yang mengalami cidera dengan
menggunakan ace perban untuk mengurangi pembengkakan pada area lokal
Elevasion : meninggikan bagian tubuh yang mengalami cedera

3. Interferentian current
Mengaplikasikan dua arus bolak balik frekuensi menengah dengan 4 electrode
dengan frekuensi efektif 40000 Hz, intensitas arus ditingkatkan dalam tingkat
kenyamanan pasien.

4. Pasif ROM exercise


Melakukan gerakan pasif pada persendian sekitar area yang mengalami nyeri
seperti gerakan pasif pada hip (flkesi hip, ekstensi hip, internal rotasi, eksternal
rotasi, abduksi dan adduksi) gerakan pasif pada ankle (planyar fleksi, dorso fleksi,
eversi dan inversi kaki).

5. Breathing exercise
Mengajarkan tehnik pernapasan dada dan pernapasan perut secara aktif untuk
meningkatkan ekspansi thorax.

6. Positioning
Mengajarkan untuk miring kiri dan ke kanan selama 2 jam dalam satu posisi
untuk mencegah decubitus dan static pneumoni.

18
J. Evaluasi fisioterapi
1. Kepercayaan diri meningkat
2. Nyeri dan bengkak pada lutut kanan berkurang
3. Mampu untuk melakukan aktivitas fungsional tanpa dibantu orang lain

19