Anda di halaman 1dari 11

A.

Transformasi Diri
1. a. Transformasi diri yang telah saya lakukan, yaitu mengurangi untuk
berbohong. Berbohong mungkin dikalangan manusia pasti adalah hal yang
sudah tidak asing lagi baik berbohong dalam hal kebaikan atau berbohong
dalam hal buruk. Setelah memahami fraud, bahaya fraud sampai dengan
impilkasinya. Saya sadar bahwa diri sendiri masih sering melakukan hal buruk
salah satu hal kecil adalah berbohong. Contohnya, berbohong jika terlambat,
berbohong kepada orang tua karena uang untuk membeli buku, saya buat untuk
main bersama teman-teman saya. Tetapi setelah saya memahami fraud. Saya
berusaha untuk tidak berbohong entah itu dalam hal terlambat saya berusaha
untuk mendorong diri saya agar on time dan berusaha mengatakan jujur kepada
orang tua saya, bahwa saya pernah memakai uang untuk beli buku ternyata
untuk main bersama teman-teman saya. Alhamdulillah orang tua saya tidak
marah dan memberi saya uang lagi, tetapi entah di dalam hati kecil saya. Saya
merasa telah mengecewakan orang tua dan menyalahkan diri sendiri, lebih
tepatnya menyalahkan kebodohan dan ketidak dewasaan saya. Sampai
akhirnya, saya ingat betul ucapan dari Prof. Gugus mengatakan, jika dari hal
kecil saja sudah melakukan fraud maka akan berdampak ke depannya karena
ini merupakan penyakit/virus yang akan kambuh sewaktu-waktu dan
berbohong tidak hanya membohongi orang-orang disekeliling kita tetapi
membohongi diri sendiri. Yang terakhir, yang membuat saya lega pada hari itu
adalah ”Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri”. Dan saya bertekad
untuk memperbaiki diri saya demi orang tua saya agar tidak saya kecewakan
dan orang-orang sekitar saya.

b. Saya akan lakukan dimasa depan saat saya bekerja. Saya ingat akan nasihat
ibu saya, ibu saya pernah berkata, kalau suatu hari nanti saya berada di fase
sudah mendapat pekerjaan jangan pernah lihat pekerjaan dari nominal yang
kamu dapatkan tetapi carilah pekerjaan yang membuat kamu nyaman dan kamu
suka, ditunjang dengan lingkungan yang baik. Karena bekerja itu ibadah. Pasti
banyak godaan di saat kita bekerja, maka dari itu pikirkan baik-baik setiap
kamu ingin mengambil suatu keputusan. Dari perkataan ibu saya ini dan setelah
memahami fraud, bahaya fraud dan impilkasinya. Saya bertekad saat saya kerja
nanti, jika lingkungan saya tidak baik, saya berusaha untuk resign dari
pekerjaan saya atau menghindar jauh-jauh jika ada hal yang tidak beres dan
akan berdampak tidak baik. Selain itu, karena cita-cita saya ingin bekerja di
bagian keuangan pemerintahan. Saya ingin membangun integritas dalam diri
saya, salah satunya hal kecil yang dapat saya lakukan dengan rajin mencatat
setiap detail transaksi secara rinci dan melaporkan dengan bukti yang jelas,
misalnya dalam pekerjaan saya atau pengeluaran bulanan saya. Karena saya
paham hal-hal yang berbau keuangan pasti sangat sensitif.

1
2. a. Saya melakukan transformasi diri saya dengan menjaga nafsu konsumtif
saya. Mencoba berfikir apa dampak kedepan jika saya tidak bisa mengontrol
nafsu konsumtif saya. Meminta sahabat saya untuk menegur saya saat saya
melakukan kebohongan atau nafsu untuk konsumtif. Yang terakhir, ini yang
paling ampuh adalah mendekatkan diri dengan Allah SWT, dengan melakukan
rutin sholat wajib 5 waktu dengan tepat waktu. Sebelumnya saya bukan tipe
orang yang tepat waktu sholat tetapi semester ini saya berusaha on time jika
sholat dan terbukti jika saya ingin berbohong pasti ada aja yang tertahan dan
akhirnya saya berkata jujur. Jika saya ingin melakukan hal buruk atau ingin
berkata buruk pasti ada hal yang menahan saya dan akhirnya saya diam.
Akhirnya setelah saya pikir-pikir bahwa saya dapat membuktikan pada diri
sendiri bahwa sholat itu penting. Luangkan waktu 3-5menit untuk sholat
sesibuk apapun saya. Apalagi, ditunjang dengan ibu saya yang selalu
menanyakan sholat saya melalui WhatsApp. Terima kasih ibuku, beruntung
aku punya ibu yang masih selalu mengingatkan meskipun anaknya sudah besar
dan selalu membuat kesalahan.

b. Saya akan lakukan di masa depan saat bekerja dengan cara berani mengambil
keputusan yang terbaik untuk diri sendiri, sebisa mungkin menghindari hal-hal
yang sudah dirasa akan berdampak buruk. Memegang teguh kode etik misalnya
saya bekerja sebagai seorang akuntan, auditor, bendahara, atau bagian
keuangan di pemerintahan. Menjaga integritas diri dengan menanamkan
mindset dalam otak kita untuk merasa malu jika melakukan kesalahan atau hal
negatif dan selalu sadar diri dengan mengevaluasi diri.

B. Pemahaman ”Komprehensif”/comprehension (kognitif, afektif, dan psiko


motorik – ngerti, ngrasa, dan nglakoni)
1. Fraud merupakan suatu perbuatan sengaja untuk menipu atau membohongi,
suatu tipu daya atau cara-cara yang tidak jujur untuk mengambil atau
menghilangkan uang, harta, hak yang sah milik orang lain baik baik karena
suatu tindakan atau dampak yang fatal dari tindakan itu sendiri (Black Law
Dictionary, 8th Ed). Karakteristik fraud, dilihat dari pelaku fraud maka bisa
dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu oleh pihak perusahaan diantaranya
manajemen untuk kepentingan perusahaan, misalnya salah saji yang timbul
karena kecurangan pelaporan keuangan dikarenakan dorongan dan ekspektasi
terhadap prestasi kerja manajemen, contoh dari hal tersebut adalah
penggelapan terhadap penerimaan kas, mark up harga dan transaksi tidak
resmi, pegawai untuk kepentingan individu berupa penyalahgunaan aktiva.
Kedua, oleh pihak diluar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha, dan pihak
asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

2
2. Menurut pendapat saya mengenai pernyataan “Fraud itu berbahaya dan
memiliki implikasi yang sangat serius,bahkan disebut seperti penyakit kanker,
dan atau penyakit yang sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia (pandemi)”
memang benar fraud adalah masalah yang sangat serius. Fraud sangat
merugikan baik untuksuatu perusahaan dan ekonomi, bahaya dari fraud sendiri
adalah mengurangi pendapatan, dibutuhkan untuk mengembalikan dana yang
telah digunakan. Setiap saat fraud perkembangannya akan terus berjalan dan
pastinya tantangan yang dihadapi pasti akan semakin dinamis dan
membutuhkan kemampuan para regulator dan praktisi untuk menjaga
integritas, nilai-nilai etik serta secara bersama terus mengembangkan kapasitas
profesionalisme melalui pengembangan kompetensi yang berkelanjutan.
Dengan keberadaan ACFE (Association of Certified Fraud Examiners)
Indonesia sangat penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan fraud di
Indonesia. Dengan harapan profesi fraud examiner terus dikembangkan untuk
menjaga berjalannya strategi anti fraud seiring dengan pembangunan ekonomi
dan industri keuangan.

3. Seseorang melakukan fraud didorong dengan tiga elemen, dimana tiga elemen
ini disebut dengan teori segitiga fraud (triangle fraud). Tiga elemen ini terdiri
dari:

a. Tekanan (Pressure) yang dirasakan, setiap pelaku kecurangan selalu


dihadapkan dengan berbagai jenis tekanan yang dirasakan, yang dapat
mendorong terjadinya kecurangan laporan keuangan antara lain adalah
kerugian finansial, kegagalan dalam memenuhi ekspektasi pendapatan,
atau ketidakmampuan untuk bersaing dengan perusahaan lain.
b. Peluang (Opportunity) yang dimiliki, pelaku kecurangan juga mesti
pintar melihat suatu peluang/kesempatan yang dimiliki atau mereka
tidak akan melakukan kecurangan. Peluang/kesempatan yang dimiliki
untuk melakukannya dipicu oleh beberapa faktor seperti lemahnya
pengendalian internal.
c. Kemampuan untuk merasionalisasi kecurangan sebagai sesuatu yang
dapat diterima, pelaku kecurangan harus memiliki berbagai cara untuk
merasionalisasi tindakan mereka melakukan kecurangan sebagai
sesuatu yang dapat dapat diterima. Rasionalisasi ini di antaranya berupa
pemikiran seperti “ini demi kebaikan perusahaan”, “semua perusahaan
melakukan praktik akuntansi yang agresif”.

Selain itu, dalam teori fraud diamond menambahkan satu elemen yang
mendorong seseorang melakukan fraud, yaitu kemampuan (capability), dimana
sifat individu dan kemampuan yang dimiliki adalah hal yang sangat berperan
penting dalam munculnya fraud karena pada dasarnya fraud tidak akan muncul

3
bilamana seseorang memiliki kemampuan (capability) yang baik. Sedangkan
teori fraud pentagon, merubah capability menjadi competence yang memiliki
makna istilah yang sama dan ada penambahan berupa arogansi (arrogance),
yang juga menjelaskan bahwa sifat superioritas atas hak yang dimiliki dan
merasa bahwa pengendalian internal dan kebijakan perusahaan tidak berlaku
untuk dirinya atau pengendalian internal yang lemah dapat memicu seseorang
melakukan fraud.

4. Fraud dapat dideteksi diantaranya sebagai berikut:


a. Dalam tindakan pencurian, seseorang dapat menyaksikan seseorang
yang mengambil kas atau aset lainnya, persediaan, inforasi. Pencurian
dapat terjadi secara manual, dengan komputer, atau melalui telepon.
b. Dalam penyembunyian, langkah yang diambil oleh pelaku untuk
menyembunyikan kecurangan dari orang lain. Penyembunyian dapat
berupa catatan keuangan yang diubah, kesalahan menghitung kas atau
persediaan dapat diketahui dan bisa juga penghancuran bukti.
c. Dalam konversi, penjualan aset curian atau mentransfernya dalam
bentuk uang tunai. Mengonversi dari uang menjadi barang dan
kemudian menghabiskan uang/menjual barang tersebut. Ditandai
dengan perubahan gaya hidup yang hampir tidak dapat dikesampingkan
ketika mereka mengonversi uang yang mereka gelapkan dapat terlihat
dengan jelas karena hampir semua pelaku menghabiskan dana yang
mereka curi.
d. Secara tidak sengaja, sebagian besar fraud terdeteksi karena
ketidaksengajaan. Sayangnya, ketika berhasil dideteksi, fraud biasanya
telah menjadi besar dan berlangsung lama.
e. Dengan menyediakan sejumlah cara bagi orang yang ingin melaporkan
dugaan adanya kecurangan, terdapat organisasi yang telah
mengimplementasikan sejumlah inisiatif untuk mendeteksi kecurangan
dengan memasang saluran pengaduan untuk menerima laporan (sistem
whistle blowing). Hal ini memungkinkan pegawai, rekan kerja, dan
pihak lain untuk memberikan informasi melalui media informasi
mengenai dugaan adanya kecurangan secara anonim.
f. Dengan memeriksa catatan dan dokumen transaksi untuk menentukan
apakah ada anomali yang mungkin merepresentasikan suatu
kecurangan, dengan menganalisis data dan transaksi untuk mencari
trend, jumlah, dan anomali lainnya yang mencurigakan. Saat ini
organisasi telah mengimplementasikan program pendeteksian
kecurangan secara komprehensif dengan mengidentifikasi secara
sistematis jenis-jenis kecuranagan yang terjadi , mendata berbagai
indikator yang menunjukkan adanya kecurangan, dan membuat real
time queries ke dalam sistem komputer untuk mencari indikator

4
tersebut. Biasanya ini dipakai jika transaksinya sangat kompleks
contohnya, perbankan.

Metode deteksi dini fraud dengan data driven fraud detection dipaparkan
dengan tiga langkah sebagai berikut:

a. Analytical Steps (Langkah Analitis), terdiri dari langkah pertama,


pemahaman bisnis atau unit yang akan diuji dengan pengumpulan
informasi terkait bisnis. Langkah kedua, mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya kecurangan seperti apa yang dapat terjadi
dalam kegiatan operasional yang akan diuji. Langkah ketiga, katalog
kemungkinan indikator kecurangan yang dapat muncul sebagai sebuah
potensi terjadinya kecurangan.
b. Technology Steps (Langkah Teknologi), terdiri dari langkah keempat,
menggunakan teknologi untuk mengumpulkan data terkait sejumlah
indikator. Langkah kelima, Menganalisis hasil yang berupa anomali
kemudian dianalisis menggunakan metode klasik ataupun metode
berbasis teknologi.
c. Investigative Steps (Langkah Investigatif), terdiri dari langkah keenam,
indikator investigatif merupakan langkah terakhir dari pendekatan
berbasis data. Dimana investigasi pada indikator yang paling
menjanjikan terjadinya kecurangan. Dalam langkah ini sebaiknya
investigator melanjutkan penggunaan analisis yang terkomputerisasi
untuk memberikan dukungan dan rincian informasi secara otomatis
untuk melanjutkan ke tahap paling akhir adalah tindak lanjut.

5. Metode penanganan fraud yang berorientasi pada pencegahan terdapat enam


elemen yang tercakup, diantaranya dijabarkan sebagai berikut:
1) Sifat manajemen puncak, yang dimaksud ialah membuat manajemen,
dewan direksi, dan pihak lain yang berada pada puncak organisasi
menciptakan pengaruh manajemen puncak yang positif. Positif dalam
arti disini ialah peduli terhadap organisasi yang positif, yang
mengadakan program pengajaran dan pelatihan yang efektif terkait
kecurangan di seluruh organisasi dan mempromosikan standar perilaku
perusahaan yang terdefinisi dengan baik serta memberikan contoh dan
menjadi tauladan dari perilaku manajemen yang sesuai.
2) Pendidikan dan pelatihan. Dengan mengedukasi pegawai dan pihak lain
mengenai kecurangan dan menginformasikan kepada mereka apa yang
harus dilakukan jika terdaat kecurangan. Selain itu juga, pelatihan
kesadaran kecurangan membantu mencegah kecurangan dan
memastikan bahwa kecurangan yang terjadi terdeteksi pada tahap awal
sehingga dapat meminimalkan dampak negatif pada lingkungan kerja
terutama finansial perusahaan.

5
3) Pengendalian dan resiko integritas. Penilaian risiko integritas dan
penerapan sistem pengendalian internal yang baik diperlukan untuk
mencegah terjadinya kecurangan.
4) Pelaporan dan Pengawasan. Adanya saluran pengaduan atau sistem
pelaporan yang memberikan informasi secara sukarela mengenai
kemungkinan indikator kecurangan. Pengawasan meliputi pelaksanaan
audit dan tinjauan oleh auditor internal dalam perusahaan, auditor
eksternal, dan bahkan manajemen.
5) Pendeteksian kecurangan secara proaktif. Penerapan metode
pendeteksian kecurangan secara proaktif karena kecurangan semakin
meningkat dan kecurangan harus dideteksi sejak dini. Pendeteksian
bukan hanya efektif dalam mendeteksi tetapi pengetahuan mengenai
penggunaannya merupakan alat pencegahan kecurangan yang baik.
6) Investigasi dan Tindak Lanjut. Investigasi yang efektif berarti
organisasi memiliki kebijakan formal secara khusus terkait kecurangan
yang menyatakan siapa yang bertanggung jawab terhadap prosedur
investigasi. Selain itu, sebisa mungkin pelaku kecurangan harus
dituntut dan dikenai sanksi yang tegas.

Dibandingkan dengan metode penanganan fraud yang umumnya dilakukan dan


tidak berorientasi kepada pencegahan fraud. Dalam metode tersebut
dipaparkan beberapa tahap, sebagai berikut:

1) Tahap 1, insiden kecurangan tidak dilanjutkan dengan pelatihan formal


mengenai kesadaran atau langkah pencegahan lainnya. Setelah insiden
terjadi, perusahaan mengalami masa krisis dengan perlu
mengidentifikasi pelaku, ingin menghindari publisitas, ingin berusaha
mengembalikan kerugian dan lain sebagainya.
2) Tahap 2 adalah investigasi yang dalam hal ini melibatkan keamanan
perusahaan dan audit internal. Investigasi membutuhkan waktu yang
lama dan relatif mahal dibandingkan dengan metode penanganan fraud
yang berorientasi pada pencegahan menggunakan pendekatan preventif
yang tidak memerlukan waktu yang lama untuk pengembangannya.
3) Tahap 3, Tindakan diperlukan karena disinilah peran perusahaan untuk
memutuskan tindakan apaa yang harus diambil terkait pelaku.
4) Tahap 4, Penyelesaian dengan melibatkan penutupan dokumen,
penyelesaian prosedur yang belum sepenuhnya selesai dikerjakan,
penggantian pegawai yang mengakibatkan biaya tambahan,
implementasi beberapa pengendalian baru, dan penyelesaian masalah.
Setelah empat tahapan ini selesai, tidak ada tindak lanjut yang
dilakukan sehingga kecurangan lain terjadi dan tidak pernah berkurang.

6
6. Dalam metode pencegahan fraud (fraud prevention) terdapat dua faktor
menurut W. Steve Albrecht diantaranya:
1) Menciptakan budaya jujur, terbuka, dan memberi dukungan, dengan cara
sebagai berikut:
a. Mempekerjakan orang yang jujur dan memberikan pelatihan
kesadaran kecurangan.
b. Menciptakan lingkungan kerja positif.
c. Implementasi program dukungan pegawai.
d. Membuat ekspektasi hukuman.
2) Mengeliminasi kesempatan terjadinya kecurangan, dengan cara sebagai
berikut:
a. Memiliki pengendalian internal yang baik.
b. Mengurangi kerjasama antara pegawai dan pihak lain serta
memberitahu pemasok terkait kebijakan perusahaan.
c. Mengawasi pegawai dan mengimplementasikan saluran pengaduan.
d. Membuat ekspektasi hukuman.
e. Auditing kecurangan secara proaktif.

7. Menurut pendapat saya, setuju dengan pernyataan “Just about everyone can be
dishonest”. Ketika seseorang ditempatkan pada lingkungan dengan integritas
yang rendah, pengendalian yang buruk, akuntabilitas yang longgar, atau
tekanan yang tinggi, seseorang memiliki kecenderungan menjadi semakin
tidak jujur.Fraud dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, bagaimana saja,
dan dalam posisi apapun dari top management hingga bottom management.
Maka dari itu, organisasi dapat membuat lingkungan dengan tingkat
kecurangan yang rendah dengan dua faktor dasar yang termasuk dalam
lingkungan dengan tingkat kecurangan yang rendah, yang penting dalam
pencegahan kecurangan, yaitu menciptakan budaya jujur, terbuka, memberi
dukungan dan menyertakan penghapusan kesempatan untuk melakukan
kecurangan dan menciptakan adanya ekspektasi bahwa pihak-pihak yang
terlibat dalam kasus kecurangan akan mendapatkan hukuman.

8. Metode Investigasi terhadap fraud dapat meliputi beberapa tahap, sebagai


berikut:
a. Metode Investigasi Tindak Pencurian (Theft Investigation)
Aktivitas-aktivitas yang secara langsung menginvestigasi tindakan
kecurangan, seperti penjagaan dan kegiatan operasional secara rahasia,
pengawasan, pencarian bukti fisik, dan pengumpulan bukti elektronik.
b. Metode Investigasi Penyembunyian (Concealment Investigation)
Metode investigasi kecurangan mencakup upaya untuk memperoleh temuan
atas dokumen fisik atau catatan komputer, seperti pengujian dokumen,
audit, pencarian secara elektronik, dan perhitungan aset fisik yang telah

7
dimanipulasi untuk menyembunyikan kecurangan.
c. Metode Investigasi Konversi (Conversion Investigation)
Aktivitas-aktivitas dalam mengumpulkan bukti konversi tidak langsung dari
dokumentasi publik dan sumber lainnya yang menunjukkan perubahan gaya
hidup yang melampaui nilai pendapatan para pelaku. Dengan bukti tersebut
dapat digunakan untuk menginterogasi para pelaku dan mendapatkan
pengakuan dari pelaku. Biasanya, metode ini digunakan untuk menemukan
cara bagaimana pelaku mengonversi dan menghabiskan hasil uang curian
mereka untuk menghilangkan fraud. Nyatanya, ketika mereka
menghabiskan uangnya, mereka membuat jejak keuangan yang dapat diuji
untuk membantu mendeteksi kecurangan.

9. Net Worth Method (Metode Nilai Bersih) digunakan untuk mengetahui jumlah
yang digelapkan. Sebelum melakukan metode ini, investigator menghimpun
informasi mengenai gaya hidup dan kebiasaan berbelanja dari catatan publik
dan sumber-sumber lain. Investigator biasanya ingin mengetahui luasnya
cakupan dari dana curian. Cara yang paling umum untuk menentukan luasnya
cakupan dari dana curian tersebut adalah dengan perhitungan nilai bersih.
Metode Nilai Bersih menggunakan formula yang didasarkan pada aset
seseorang, liabilitas, biaya hidup, dan pendapatan.

10. Proses interview yang baik dalam proses investigasi, sebagai berikut:
1) Perkenalan (Introduction Questions), salah satu aspek yang paling sulit
dalam wawancara dikarenakan pewawancara dan responden belum pernah
bertemu sebelumnya. Didalam perkenalan ini pewawancara bertemu orang
yang akan diwawancarai, menyatakan alasan melakukan wawancara,
menciptakan hubungan yang diperlukan, dan mendapatkan informasi.
2) Menggali Informasi atau substansi (Informational & Asessement
Questions), setelah mengamati reaksi dari responden. Saatnya pewawancara
mengembangkan tema wawancara dengan membuat pertanyaan secara
transisional dimulai dari umum ke khusus dan menanyakan pertanyaan yang
tidak sensitif serta sesuai dengan tujuan wawancara. Dalam tahap ini
mendokumentasikan hasil wawancara dengan pencatatan atau media
elektronik sangat dibutuhkan.
3) Closing statement. Pertanyaan penutup. Mungkin sebelum ke pertanyaan
penutup, sebaiknya pewawancara menilai apakah pertanyaan ada yang
dirasa jawabannya kurang memenuhi target. Bisa ditanyakan kembali
dengan sopan kepada responden didukung dengan rasionalisasi yang baik.
Ketika mengakhiri wawancara,pastikan dilakukan dengan positif. Kita
melakukan konfirmasi ulang atas informasi yang kita peroleh agar tidak
terdapat salah paham.
4) Admission Seeking Questions. Jika responden telah terbuka dan merasa

8
nyaman, pewawancara dapat menyatakan mengenai apa yang sudah
dilakukan responden dalam hal fraud dan dapat menanyakan mengenai
motif yang mendasari pelaku melakukan fraud.

11. Format laporan kasus fraud yang akan saya iktisarkan, seperti ini: (Konsep
dalam 5 W+ 2 H)
a. What (Apa): Apa yang diambil atau dicuri?
b. Who (Siapa): Siapa yang memiliki kesempatan melakukan fraud dan siapa
saja yang terkait?
c. Why (Mengapa): Mengapa melakukan fraud (latar belakang atau
penyebab)?
d. Where (Dimana): Dimana memindahkan aset, dimana disembunyikan,
dimana kejadian fraud tersebut?
e. When (Kapan): Kapan waktu kejadian melakukan fraud, menyembunyikan,
dan memindahkan aset?
f. How (Bagaimana): Bagaimana alur kejadian dan suasana saat melakukan
fraud atau bagaimana selama proses fraud anda lakukan dan bagaimana aset
dipindahkan, disembunyikan, dan dikonversi?
g. How much (Berapa banyak): Sejauh mana anda melakukan tindakan fraud?
Berapa banyak aset yang sudah anda gelapkan?

12. Saya ketahui tentang Whistleblowing system adalah aplikasi yang disediakan
oleh sebuah instansi, organisasi, atau lembaga untuk whistle blower yang
memiliki informasi dan ingin melaporkan suatu perbuatan berindikasi
pelanggaran atau kecurangan yang terjadi di lingkungan instansi, organisasi,
atau lembaga yang dapat ditindak lanjuti. Whistleblowing system yang baik
dapat diterapkan dengan adanya empat elemen berikut:
1) Anonimitas, harus diyakinkan bahwa mereka dapat melaporkan insiden
mencurigakan tanpa takut dikenakan sanksi. Sistem yang efektif harus
menyembunyikan identitas whistle blower
2) Independensi, Whistle blower merasa lebih nyaman melaporkan
pelanggaran terhadap pihak yang independen yang tidak terkait dengan
organisasi atau pihak yang terlibat dengan pelanggaran tersebut.
3) Akses, Whistle blower harus memiliki beberapa jalur yang berbeda
untuk melaporkan adanya pelanggaran, yaitu melalui telepon, surel,
online, atau surat. Hal ini memastikan bahwa whistle blower dapat
secara anonim membuat laporan menggunakan jenis saluran sesuai
kehendak mereka.
4) Tindak lanjut, insiden yang dilaporkan melalui sistem whistle blowing
harus ditindaklanjuti dan tindakan korektif harus diambil ketika
dibutuhkan. Hal ini menggambarkan manfaat sistem dan mendorong
pelaporan pelanggaran lebih lanjut.

9
Cara menyeimbangkan upaya perlindungan terhadap pelapor dan mendorong
pelapor menjadi pelapor yang bertanggung jawab dalam melaporkan kasus
fraud dengan penegakkan hukum perlindungan terhadap whistle blower dan
harus diterapkan kepada setiap instansi atau organisasi yang memakai sistem
tersebut.

13. Akuntan dapat memiliki peran sentral dalam upaya pencegahan (prevention)
dan pendeteksian (detection) fraud. Menurut pendapat saya, kecurangan erat
kaitannya dengan penyalahgunaan materi. Peran akuntan sebagai
filter/penyaring terakhir dari keuangan yang dapat menjadi deteksi dini hari
sekaligus pencegahan dari tindak kecurangan atas perilaku yang tidak biasa
dari pihak terkait.

14. Pernyataan “mencegah lebih baik dan murah daripada mengobati”.


Penjelasannya adalah kecurangan dalam bentuk materiil dan non materiil akan
berdampak kerugian bagi para pihak yang terkait. Pernyataan diatas ialah
dengan mengenali indikator kecurangan sejak awal akan menjadi lebih efektif
daripada kecurangan yang telah terjadi dan kita tidak mengetahui apakah
kecurangan tersebut sudah berlangsung lama atau tidak. Maka dari itu, adanya
metode pencegahan fraud yang berorientasi pencegahan sangat diperlukan
untuk meminimalisir terjadinya fraud.

15. Menanamkan kejujuran dan rasa malu untuk mahasiswa sebagai bagian dari
fraud awareness training dengan cara kesadaran dari masing-masing individu
bahwa melakukan kecurangan merupakan hal yang salah dan merugikan diri
sendiri, menekankan bahwa orang lain belum tentu bisa, percayalah pada
kemampuan diri sendiri.

10
DAFTAR PUSTAKA

Albrecht, et al. (2012), Fraud Examination, South-Western, a division of Thomson


Learning [AWS]

11