Anda di halaman 1dari 6

KOPERASI INDONESIA

A. Prinsip Dasar Koperasi Indonesia


Menurut Muhammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, koperasi dikonsepsikan sebagai
‘persekutuan kaum lemah untuk membela kepentingan hidupnya. Mencapai keperluan
hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya, itulah yang dituju. Pada koperasi
didahulukan kepentingan bersama bukan keuntungan (Hatta, 1954)’.
Pengertian yang lain diungkapkan oleh Edilius dan Sudarsono ‘Koperasi adalah
perkumpulan orang, biasanya yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, yang melalui
suatu bentuk organisasi perusahaan yang diawasi secara demokratis, masing-masing
memberikan sumbangan yang setara terhadap modal yang diperlukan dan bersedia
menanggung resiko serta menerima imbalan yang sesuai dengan usaha yang mereka
lakukan (ILO, 1993).
Berdasar dua pengertian di atas, dapat dirumuskan unsur-unsur utama dalam koperasi
yaitu :
1. Adanya sekelompok anggota masyarakat yang memiliki ‘kepentingan bersama’
2. Mereka bertemu secara sukarela dan terbuka
3. Mereka bersepakat bekerja sama menolong diri sendiri secara bersama-sama
4. Pembentukan koperasi bersifat bottom up
5. Koperasi adalah wadah bersama yang dimiliki secara bersama (koperasi adalah
kumpulan orang yang sama harkat dan martabatnya, satu orang satu suara)
6. Anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pelanggan
7. Koperasi tidak bertujuan mencari laba, tetapi mencari keuntungan untuk para
anggotanya
8. Kesadaran pribadi dan kesetiakawanan merupakan landasan mental koperasi
9. Koperasi bertujuan untuk menyatukan kekuatan-kekuatan kecil menjadi kekuatan
bersama yang bersifat mandiri

Koperasi memiliki prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman pokok dalam


menjalankan koperasi. Di Indonesia, prinsip dasar koperasi dituangkan dalam UU
No.25/1992, sebagai berikut :
1. Keanggotaan Bersifat Suka Rela dan Terpadu
2. Prengelolaan Dilakukan secara Demokratis
3. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan dengan Adil
4. Pemberian Balas Jasa yang Terbatas pada Modal
5. Kemandirian

B. Sejarah Koperasi Indonesia


Koperasi pertama di dunia didirikan oleh para buruh di Rochdale, Inggris pada awal
abad 19, sementara koperasi pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1895 oleh seorang
Patih dari Purwokerto bernama R. Aria Wiriaatmaja untuk menolong para pegawai pamong
praja rendah agar tidak terjerat oleh lintah darat. Koperasi berbentuk bank tersebut diberi
nama Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Koperasi ini kemudian
melayani sektor pertanian (Hulp-Spaar en Lanbouwcrediet Bank) dengan meniru koperasi
pertanian yang dikembangkan di Jerman, namun koperasi tersebut tidak dapat berkembang
lebih lanjut karena masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang koperasi.
Budi Utomo (1908) juga mendirikan koperasi rumah tangga. Tahun 1913, Sarikat
Dagang Islam (SDI) yang berubah menjadi Sarikat Islam (SI) juga mendirikan koperasi
industri kecil. Usaha-usaha tersebut tidak juga berkembang dengan baik karena minimnya
pengetahuan masyarakat tentang koperasi dan tantangan dari pemerintah Hindia Belanda
dengan peraturan Koperasi No.431 tahun 1915.
Pemerintah Jepang mengharuskan koperasi menjadi kumikai. Kumikai diharuskan
mengumpulkan bahan kebutuhan pokok guna kepentingan Jepang melawan sekutu.
Keadaan tersebut menyebabkan koperasi tidak lagi dapat digunakan sebagai alat
perjuangan ekonomi sehingga semangat berkoperasi masyarakat Indonesia kembali
melemah.
Setelah kemerdekaan, berdasarkan pasal 33 UUD 1945, koperasi merupakan bangun
perusahaan yang sesuai dengan sistem perekonomian yang hendak dikembangkan. Hingga
tahun 1959 koperasi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun sejak diterapkan
demokrasi liberal, koperasi kembali dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Pemerintah Orde Baru membuat program koperasi yang diberi nama Koperasi Unit
Desa (KUD) yang membuat koperasi kembali berkembang. Walaupun KUD berjumlah
banyak dan diikiuti oleh ribuan anggota namun tidak semua KUD berjalan dengan baik.
Berbagai masalah timbul dalam KUD sebagai akibat peraturan pemerintah yang ternyata
kontraproduktif terhadap kinerja KUD sendiri.
Dari masa ke masa koperasi senantiasa memiliki tempat dalam perekonomian
Indonesia, meskipun selalu mengalami pasang surut akibat gejolak politik. Koperasi dalam
bentuk KUD mengalami perkembangan pesat sejak Pelita I hingga Pelita V. Berdasarkan
data secara kuantitatif kita dapat mengetahui bahwa jumlah KUD meningkat dari tahun ke
tahun sehinga koperasi memiliki peranan dalam perekonomian Indonesia, namun jika kita
bandingkan dengan badan ekonomi lain seperti BUMN dan sektor swasta maka kita dapat
menyimpulkan bahwa koperasi belum banyak berperan dalam perekonomian Indonesia.

C. Masalah Struktural Koperasi di Indonesia


Kegagalan koperasi menjadi soko guru perekonomian Indonesia disebabkan oleh berbagai
masalah struktural, sebagai berikut :
1. Deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1983-1988
memberikan prioritas untuk sektor perbankan dan ekspor impor. Koperasi tidak dapat
memanfaatkan deregulasi tersebut. Hal yang diperlukan koperasi adalah debirokratisasi
sehingga dapat bergerak lebih lincah dan mandiri tanpa dibebani dengan peraturan dan
pengaturan dari pemerintah seperti kemudahan yang didapat sektor perbankan dan
industri
2. Berkaitan dengan anggapan bahwa KUD adalah instansi pemerintah yang
berfungsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah karena itu KUD dibebani banyak
penugasan yang secara ekonomis tidak menguntungkan sehingga KUD lebih sibuk
menjalankan penugasan tersebut daripada melayani anggotanya
3. Yang dihadapi koperasi di Indonesia adalah berkembangnya konglomerasi.
Deregulasi yang dibuat oleh pemerintah memungkinkan berdirinya asosiasi-asosiasi
pengusaha yang bertujuan ‘memperlancar’ hubungan dengan pemerintah. Keberadaan
asosiasi tersebut memberi dampak buruk terhadap koperasi, karena membuat
pemerintah lebih memperhatikan kepentingan pengusaha besar daripada koperasi.
D. Tantangan Koperasi di Era Korporatokrasi
Kegagalan koperasi menjadi soko guru perekonomian Indonesia selama ini disebabkan
oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah ketertinggalan koperasi dalam
hal profesionalitas pengelolaan lembaga, kualitas sumber daya manusia dan permodalan.
Untuk menyelesaikan masalah inetrnal seperti profesionalitas sumber daya manusia dan
permodalan, pemerintah harus ikut membantunya.
Sedangkan faktor eksternal meliputi iklim ekonomi politik nasional yang kurang
kondusif bagi perkembangan ekonomi rakyat termasuk koperasi. Koperasi menghadapi
tantangan yang cukup berat mengingat kebijakan ekonomi Indonesia yang semakin liberal.
Deregulasi memungkinkan koperasi menjadi besar karena dapat meningkatkan skala
produksi yang melibatkan banyak anggota. Koperasi yang besar dan kuat akan
memungkinkan memiliki saham perusahaan, tidak hanya saham perusahaan swasta tetapi
juga perusahaan pemerintah (BUMN). Hal ini dapat dilakukan mengacu pada prinsip
Triple-Co, yaitu pemilikan bersama (co-ownership), penentuan bersama (co-determinant)
dan tanggung jawab bersama (co-responsibility).
PRIVATISASI
DI INDONESIA
A. Pengertian dan Konsep Privatisasi
Dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi beban pemerintah,
Badan-badan Usaha Milik Negara (governmentowned companies) diarahkan untuk
melakukan korporatisasi (corporation) dan privatisasi (privatization).
Korporatisasi dapat diartikan sebagai menerapkan pola-pola manajemen unit bisnis
swasta dalam badan-badan usaha milik negara tersebut dan menghapuskan pola-pola
birokrat atau pemerintahan yang sering mencemari manajemen BUMN. Privatisasi atau
swastanisasi adalah melepaskan sebagian atau seluruh saham kepada pihak swasta, baik itu
secara langsung maupun melalui pasar modal (go public).
Sementara itu dalam konteks pemberdayaan BUMN di Indonesia, reformasi BUMN
dilakukan dengan dua pendekatan yang berjalan simultan, yaitu restrukturisasi dan
privatisasi. Dalam hal ini restrukturisasi diartiakan sebagai upaya untuk peningkatan
kesehatan perusahaan dan pengembangan kinerja usaha atau privatisasi BUMN. Langkash
yang dilakukan antara lain dengan memperkuat posisi manajemen perusahaan sebesar-
besarnya kepada manajemen dan meminimalkan keterlibatan pemerintah.

B. Tujuan Privatisasi
Gagasan privatisasi (swastanisasi) sangat gencar dimasa perekonomian yang sedang
dilanda kesulitan. Paling tidak ada tiga kondisi atau faktor yang melatarbelakanginya.
Pertama, BUMN dilihat sebagai sosok unit usaha yang tidak efisien dan belum optimal
kinerjanya sehingga dianggap berpeluang untuk dibenahi dan ingin menjadikannya sebagai
unit usaha yang kinerjanya sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis umumnya. Kedua,
membantu kesulitan keuangan negara dan problematik perekonomian nasional umumnya.
Ketiga, untuk menarik masuknya modal asing.

C. Studi Kasus Privatisasi


Dasar utama proses privatisasi ini terutama adalah adalah pemikiran bahwa aktifitas
ekonomi dan bisnis lebih baik diserahkan kepada swasta karena usaha yang dikelola swasta
umumnya lebih efisien. Privatisasi tidak saja terjadi di negara berkembang, tetapi juga di
negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Jerman dll.
Reformasi BUMN di Indonesia antara lain wujudnya tercermin dari kebijakan
privatisasi (untuk selanjutnya istilah privatisasi disini mencakup korporatisasi atau
restrukturisasi). Usaha reformasi BUMN sebenarnya sudah dimulai sejak 1983, bersamaan
dengan reformasi perbankan, lembaga keuangan, serta sektor moneter secara keseluruhan.
Pemikiran reformasi BUMN di tanah air lebih diorientasikan pada penjualan saham
BUMN melaui pasar modal.
Proses swastanisasi ini sebenarnya dapat dilihat dari beberapa bentuk. Swastanisasi
antara lain bisa dilakukan dengan menjual penuh atau melepas sepenuhnya BUMN kepada
perusahaan swasta. Di sisi lain pemerintah selaku pemegang saham, bisa juga melepas
sebagian saja sahamnya kepada swasta baik melalui penawaran umum di pasar modal
maupun penempatan modal langsung (direct placement) atau kombinasi keduanya.
Perkembangan yang terjadi di tanah air dan global saat ini telah membuat langkah
privatisasi atas BUMN makin mendesak untuk dilakukan. Di samping beberapa faktor
yang sudah dikemukakan sebelumnya, paling tidak ada tiga alasan lainnya, baik dilihat dari
kondisi internal BUMN maupun kondisi eksternal dan global yang ada, untuk melakukan
privatisasi tersebut, yaitu :
1. BUMN di tanah air sebagian masih menampakkan sosok buram yang
mencerminkan kinerja yang tidak baik.
2. Perkembangan ekonomi dunia yang makin terbuka dan liberal menuntut setiap unit
usaha bertindak profesional dan menekankan kinerja yang berorientasi efisien
3. Kecenderungan demokratisasi dalam aktivitas ekonomi domestik agaknya juga
akan lebih menguntungkan bagi pemerintah untuk menanggalkan sebagian
usahanya untuk diserahkan kepada masyarakat/swasta.

Lima prinsip dasar privatisasi, yaitu : (a) kejelasan tujuan (b) otoritas dan otonomi (c)
pantauan kerja (d) sistem penghargaan dan hukun (e) persaingan yang netral

E. Dampak Politik-Ekonomi Privatisasi


Privatisasi bukanlah agenda yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari agenda
liberalisasi ekonomi ala Washington Consensus yang bertujuan membuka seluas-luasnya
perekonomian Indonesia kepada masuknya korporat asing. Dampak ekonomi-politik
pelaksanaan privatisasi di Indonesia, yaitu :
1. Mengecilnya peranan negara dalam penyelenggaraan perekonomian nasional.
2. Memberi peluang kepada segelintir kaum berpunya untuk semakin melipat
gandakan penguasaan modal mereka, karena struktur penguasaan modal atau
faktor-faktor produksi yang sangat timpang
3. Privatisasi ditandai oleh terjadinya pemindahan penguasaan faktor-faktor produksi
nasional dari tangan negara kepada pemodal internasional, kondisi ini jika terus
berlangsung maka perekonomian Indonesia akan dipaksa di bawah suatu bentuk
kolonialisme baru yaitu kekuatan modal internasional.
4. Privatisasi cenderung memicu konflik politik yang membahayakan persatuan
bangsa, misal konflik antara pemilik saham dengan kelompok serikat pekerja
BUMN.

E. Privatisasi atau Demokratisasi


Dengan dalih menggusur sentralisasi dengan liberalisasi, pemerintah harusnya
konsisten menegakkan amanah konstitusi untuk melakukan demokratisasi ekonomi.
Demokrasi ekonomi adalah alternatif konkrit selain melakukan liberalisasi atau privatisasi
terhadap cabang-cabang produksi yang menguasai hidup rakyat banyak. BUMN bisa di
demokratisasi melalui pelepasan sebagian sahamnya ke masyarakat (kelompok ekonomi
rakyat/koperasi). Demokratisasi ekonomi menuntut partisipasi luas masyarakat dalam
menguasai dan terlibat dalam proses produksi nasional.
Strategi alternatif untuk mengoptimalkan kinerja BUMN tanpa harus menggadaikan
kedaulatan ekonomi-politik bangsa, yaitu konsep demokratisasi ekonomi yang bertumpu
pada keterlibatan masyarakat luas dalam penguasaan dan pengelolaan aset-aset produktif
yang menguasai hajat hidup orang banyak. Konsep bangun usaha yang berjiwa koperasi ini
disebut sebagai Triple-Co, yaitu co-ownership (pemilikan bersama), co-determinant
(penentuan bersama) dan co-responsibility (tanggung jawab bersama)