Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

KMB
GANGGUAN PEMBULUH DARAH

‘’ Dosen Pengampu : Irhamdi Achmad,S.Kep.,Ns.,M.Kep. ”

Disusun oleh :

Tingkat 2B ( Kelompok 4 ) :
1. Siti Irna Kurniawati Alwi
2. Hesty Weldemina Proyim
3. Rahayu Wulandari Wenno

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLTEKES KEMENKES MALUKU
PRODI KEPERAWATAN MASOHI
TAHUN AKADEMIK 2017-2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
Rahmat dan Karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Makalah dengan judul ‘’
gangguan pembuluh darah perifer ‘’ ini dengan tepat waktu.
Dari penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak.

Begitupulah kami, manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Untuk itu, saran dan

kritik yang membangun daripada semua pihak sangatlah kami perlukan agar

penyusunan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi daripada makalah yang sekarang

ini.

Masohi, 05 oktober 2017

Penyusun

Kelompok 10
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Bab II. Pembahasan

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
2. Etiologi
3. Patofisiologi
4. Manifestasi Klinis
5. Pemeriksaan penunjang
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
2. Diagnosa
3. Intervensi dan rasional
Bab III. Penutup

A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem peredaran darah adalah kesatuan organ yang berperan dalam proses
transfortasi yang terjadi dalam tubuh manusia. Tentunya apabila kita mendengar hal
tersebut, secara otomatis fikiran kita akan langsung teringat pada darah, pembuluh
darah, jantung dan lain sebagainya yang berkaitan dengan sistem peredaran darah.
Dimana darah bertindak sebagai penyalur zat-zat yang terkandung dalam darah,
pembuluh darah sebagai media penyalurnya dan jantung bertindak sebagai mesin
yang membantu proses peredaran darah melalui pembuluh darah. Namun apabila
terjadi ketidaksetimbangan pada proses tersebut, akan terjadi gangguan-gangguan
yang dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan terutama jika terjadi pada
pembuluh darah.

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari gangguan pembuluh darah perifer ?
2. Apa saja etiologi dari gangguan pembuluh darah perifer ?
3. Bagaimana Patofisiologi dari gangguan pembuluh darah perifer ?
4. Apa saja Manifestasi Klinis dari gangguan pembuluh darah perifer ?
5. Apa saja Pemeriksaan penunjang dari gangguan pembuluh darah perifer ?
6. Bagaimana Pengkajian dari gangguan pembuluh darah perifer ?
7. Apa saja Diagnosa gangguan pembuluh darah perifer ?
8. Apa saja Intervensi dan rasional gangguan pembuluh darah perifer ?
C. Tujuan
1. Menjelaskan definisi dari gangguan pembuluh darah perifer
2. Menjelaskan etiologi dari gangguan pembuluh darah perifer
3. Menjelaskan Patofisiologi dari gangguan pembuluh darah perifer
4. Menjelaskan Manifestasi Klinis dari gangguan pembuluh darah perifer
5. Menjelaskan Pemeriksaan penunjang dari gangguan pembuluh darah perifer
6. Menjelaskan Pengkajian dari gangguan pembuluh darah perifer
7. Menjelaskan Diagnosa gangguan pembuluh darah perifer
8. Menjelaskan Intervensi dan rasional gangguan pembuluh darah perifer

BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN PEMBULUH DARAH PERIFER
A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Penyakit pembuluh darah perifer mempengaruhi sirkulasi darah ke bagian tubuh
yang ekstrimitas. Penyakit vaskular termasuk segala kondisi yang mempengaruhi
sistim peredaran darah . Ini mencakup dari penyakit-penyakit arteri-arteri, vena-vena
dan pembuluh-pembuluh limfa sampai ke kekacauan-kekacauan darah yang
mempengaruhi sirkulasi. (Suzanne C Smeltzer, 2001)

2. Etiologi
1. Gagal jantung
2. Infeksi
3. Perubahan pembuluh darah dan pembuluh limfe
4. Proses penuaan
(Suzanne C Smeltzer, 2001)

3. Patofisiologi
Penurunan aliran darah melalui pembuluh darah perifer merupakan tanda pada
semua penyakit vaskuler perifer. Efek fisiologis berybahnya aliran darah tergantung
pada besarnya kebutuhan jaringan yang melebihi suplai oksigen dan nutrisi yang
tersedia. Bila kebutuhan jaringan tinggi, maka bila terjadi sedikit penurunan aliran
darah dapat mengganggu pemeliharaan integritas jaringan sehingga jaringan
menjadi iskemi (kekurangan suplai darah), malnutrisi dan kematian apabila
kekurangan aliran darah tersebut tidak diperbaiki.
Gagal jantung, aliran darah perifer yang tidak memadai terjadi bila kerja
pemompaan jantung tidak efisien. Gagal jantung kiri menyebabkan penimbunan
darah diparu dan penurunan aliran kedepan atau curah jantung. Gagal jantung
kanan menyebabkan kengesti vena sistemik dan penurunan aliran darah.
Perubahan pembuluh darah dan pembuluh limfa. Pembuluh darah yang utuh,
paten dan responsive diperlukan untuk menyalurkan oksigen yang cukup ke jaringan
dan mengangkat sampah metabolisme. Arteri dapat mengalami obstruksi akibat plak
aterosklerosis, thrombus atau embolus. Arteri dapat rusak atau mengalami obstruksi
akibat trauma kimia atau mekanis, infeksi atau proses radang, gangguan vasospastik
dan malformasi congenital. Oklusi arteri yang mendadak menyebabkan iskemia berat
pada jaringan, sering irreversible dan berakir dengan kematian jaringan. Bila oklusi
arteri berlangsung secara bertahap, resiko kematian jaringan mendadak lebih rendah
karena sirkulasi kolateral mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Aliran darah vena menurun akibat trobus yang menyumbat vena, katup vena
yang inkompeten, atau oleh menurunya efktifitas kerja pemompaan otot disekitarnya.
Penurunan aliran darah vena mengakibatkan peningkatan tekanan vena, diikuti
peningkatan tekanan hidrostatik perifer, filtrasi bersih cairan keluar dari kapiler ke
rongga intertisial, dan selanjutnya terjadi edema. Jaringan edema tidak mampu
menerima nutrisi yang memadai dari darah dan sebagai konsekuensinya jaringan
tersebut lebih peka terhadap kematian dan infeksi.
Sumbatan pembuluh limfe juga dapat mengakibatkan edema. Pembuluh limfe dapat
mengalami penyumbatan oleh tumor atau kerusakan akibat trauma mekanis atau
proses radang.
Proses penuaan menghasilkan dinding pembuluh darah yang mempengaruhi
transportasi oksigen dan nutrisi kejaringan. Lapisan intima menebal sebagai akibat
proliferasi seluler dan fibrosis. Serabut elastic di lapisan media mengalami
klaisifikasi, tipis dan terpotong dan kolagen tertimbun di lapisan intima maupun
media. Perubahan tersebut mengakibatkan kekakuan pembuluh darah, yang
meningkatkan tekanan perifer gangguan aliran dara, dan peningkatan kerja ventrikel
kiri.

4. Manifestasi Klinis
1). Nyeri
Nyeri berat seperti kram pada ekstremitas disebabkan oleh ketidakmampuan
system arteri mencukupi kebutuan aliran darah kejaringan saat menghadapi
peningkatan kebutuhan akan nutrisi. Karena jaringan dipaksa menyelesaikan siklus
energy tanpa nutrisi, maka akan dihasilkan metabolit otot dan asam laktat. Nyeri
akan dirasakan ketika metabolit mengganggu ujung syaraf jaringan sekitarnya.

2). Perubahan kulit


Aliran darah yang tidak memadai mengakibatkan ekstremitas yang dingin dan
pucat, kekurangan oksigen, sianosis.

3). Denyut nadi lemah


Penyakit arteri oklusif mengganggu aliran darah dan dapat menurunkan atau
menghilangkan denyutan nadi pada ekstremitas.

4). Edema
Penurunan aliran darah vena mengakibatkan peningkatan tekanan vena, diikuti
peningkatan tekanan hidrostatik perifer, filtrasi bersih cairan keluar dari kapiler ke
rongga intertisial, dan selanjutnya terjadi edema

5). Ganggren
Gangguan akan terjadi setelah iskemia berat yang lama dan menunjukan
adanya nekrosis jaringan.

5. Pemeriksaan penunjang
a. ECG (Electrocardiogram)
ECG bermanfaat dalam mengidentifikasi iskemia miokardium, apalagi dalam
kondisi istirahat. Adanya gambaran depresi S-T atau horizontal 1mm atau lebih diluar
titik J, bersifat khas, walaupun tidak patognomonik iskemia kardium. Gambaran lain
dari adanya kelainan ECG mencakup perubahan gelombang ST-T nonspesifik,
kelambatan hantaran atrioventrikularis dan intraventrikel serta aritmia bersifat non
spesifik untuk penyakit jantung koroner aterosklerotik.
b. Laboratorium darah
Lipid darah (lemak) bahwa telah diketahui bahwa hiperlipidemia adalah suatu
faktor penting dalam perkembangan aterosklerosis koronaria. Demikian juga
peningkatan kadar gula darah yang diatas rata-rata, hal ini menunjukkan adanaya
risk factor lain yang dapat menyebabkan aterosklerosis.
- Elektrolit : ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan dapat
mempengaruhi kontraktilitas, contoh: hipokalemia atau hiperkalemia.
- Sel darah Putih (SDP) : leukosit (10.000-20.000) biasanya tampak sehubungan
dengan proses inflamasi.
- Kecepatan sedimentasi : apabila meningkat maka menunjukkan adanya inflamasi.
- Kimia : mungkinnormal tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut
atau kronis.
- Kolesterol atau trigeliserida serum : meningkat, menunjukkan arteriosclerosis.

c. Pemeriksaan dengan Echokardiografi


Pemeriksaan penunjang lain yaitu pemeriksaan echo-kardiografi, dari
pemeriksaan ini dapta dilihat lokasi penyumbatan dan berapa besar tingkat aliran
darah yang mengaliri koroner dan jantung, dan dilihat juga seberapa besar adanya
penyumbatan aliran tersebut. Dari hasil echo yang dapat memotret dari 3 dimensi
memungkinkan diagnosa dan tindakan yang akan dilakukan akan tepat sasaran.

d. Angiografi koroner
Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner dan biasanya
dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi
ventrikel kiri (fraksi ejeksi).

e. Pemeriksaan Photo thorak


Hasil, mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga gagal
jantung koroner atau aneurisme ventrikuler. Pemeriksaan ini disamping untuk
mengetahui seberapa besar adanya pembesaran jantung, juga untuk mengetahui
dan mengidentifikasi gangguan sistem respirasi terutama paru. Dengan adanya
photo thorak dapat diketahui secara dini adanya pneumonia atau infeksi lain
sehingga faktor penyulit tersebut dapat dicegah dan ditangani dengan cepat.

B. KONSEP KEPERAWATAN

A). Pengkajian
1. Identitas klien : selain nama klien, juga orangtua; umur, alamat, asal kota dan
daerah.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : penyebab utama klien sampai dibawa ke rumah sakit.
b. Riwayat penyakit sekarang : tanda dan gejala klinis gangguan vaskuler perifer,
gejala yang mudah diamati adalah nyeri sperti krem
yang hilang saat istirahat.
c. Riwayat penyakit dahulu : untuk mengidentifikasi adanya faktor-faktor penyulit
atau faktor yang membuat kondisi pasien menjadi
lebih parah kondisinya. Komplikasi dari penyakit
terdahulu dapat menjadi pertimbangan dalam
penanganan aterosklerosis. Adanya penyakit
hipertensi, ataupun penyakit kardiovaskuler lain
dapat dipertimbangkan pengaruhnya terhadap
terjadinya gangguan vaskuler.
d. Riwayat penyakit keluarga : adakah penyakit yang diderita oleh anggota
keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan
penyakit klien sekarang.
3. Pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi-metabolik.
Kehilangan nafsu makan. Pada awal kejadian adanya mual atau muntah
(adanya peningkatan intra kranial) kehilangan senasai pada lidah, dagu, tenggorokan
dan gangguan menelan.

b. Pola eliminasi
Adanya perubahan pola eliminasi, anuria, inkontensia urine, distensi abdomen,
tidak ada bising usus ( illeus paralitik ).

c. Pola aktifitas-latihan
Adanya kesukaran terhadap aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralysis atau hemiplegi, mudah lelah.
d. Pola tidur dan istirahat
Kesukaran untuk istirahat karena kelemahan secara umum dan gangguan
penglihatan.
e. Pola sensorik
Adanya sinkop atau pusing, nyeri kepala menurunnya penglihatan atau
kekaburan pandangan, gangguan penciuman atau perabaan atau sentuhan menurun
terutama pada daerah luka dan ekstremitas, status mental, koma, ekstremitas lemah
atau paralisis, tidak dapat menggenggam, paralisis wajah, tidak dapat bicara,
berkomunikasi secara verbal, kehilangan pendengaran, penglihatan, sentuhan,
refleks pupil, dan dilatasi.

4. Pemeriksaan fisik, fokus pada sistem kardiovaskuler dan sistem respirasi


Pemeriksaan tanda-tanda vital TD, Nadi, RR dan Suhu penting dilakukan untuk
mengetahui tanda awal dari ketidakstabilan hemodinamik tubuh, gambaran dari
tanda vital yang tidak stabil merupakan indikasi dari peningkatan atau penurunan
kondisi perfusi jaringan dan kegagalan jantung dalam berkontraksi.
a. Keluhan atau adanya nyeri
Pada identifikasi nyeri perlu dikaji lebih dalam seberapa besar nyeri muncul,
lokasi dan sifat nyeri termasuk penjalaran dari nyeri yang muncul sehingga dapat
diklasifikasikan daerah/area yang mengalami aterosklerosis. Adanya nyeri yang
terkaji dapat menjadi patokan, didaerah mana kira-kira lokasi yang mengami
penyumbatan dan setelah itu perlu di identifikasi kembali dengan beberapa
pemeriksaan penunjang untuk membuktikan dan mempertegas kondisi pasien.

b. Pemeriksaan tanda-tanda vital


Tanda-tanda vital merupakan pemeriksaan fisik yang sangat penting dilakukan
karena adanya perubahan tanda-tanda vital menunjukkan kelainan sirkulasi dalam
sistem sistemik tubuh. Dengan asumsi penurunan kontraktilitas otot-otot jantung,
maka denyut nadi akan menurun dan juga tekanan darah naik lama kelamaan akan
menurun karena penurunan cardiac output. Oleh karena itu pengkajian terhadap
tanda-tanda vital sangat perlu dilakukan sebagai indikasi awal adanya kelainan
sistemik tubuh.

c. Pemantauan Hemodinamik
Disamping pemantauan TTV, perlu juga haru dikaji sistem hemodinamik tubuh,
karena adanya perubahan curah jantung, maka sirkulasi juga akan berkurang,
demikian juga cairan dan keseimbangan cairan akan berpengaruh terhadap tekanan
hemodinamik tubuh

d. Pemamtauan perubahan penampakan dan temperature kulit


- Aliran darah yang tidak memadai mengakibatkan ekstremitas dingin
- Rubor terlihat dalam 20 menit sampai 2 menit setelah ektremitas tergantung dan
merupakan petunjuk adanya kerusakan arteri dimana pembuluh darah tidak
mampu berkonstruksi.
- Sianosis
- Rambut hilang
- Kuku rapuh
- Kulit kering
- Atropi dan ulserasi
- Edema bilateral atau unilateral

B). Diagnosa
1. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
2. Nyeri berhubungan dengan gangguan kemampuan pembuluh darah menyuplai
oksigen.
3. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sirkulasi
4. Deficit pengetahuan mengenai aktifitas perawatan diri.
C). intervensi dan rasional
1. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan : meningkatkan suplai darah arteri ke ekstremitas.
 Kriteria hasil :
- Ekstremitas hangat pada perabaan
- Warna ekstremitas membaik
- Melakukan seri latihan Bueger Allen 6 kali, 4 kali secukupnya
 Intervensi
a. menurunkan ekstremitas dibawah jantung.
Rasional : ekstremitas bawah yang tergantung memperlancar suplai darah arteri.
b. mendorong latihan jalan sedang atau latihan eksterimas bertahap.
Rasional : latihan otot memperbaiki aliran darah dan pertumbuhan sirkulasi kolateral
c. mendorong latihan postural aktif (latihan bueger Allen).
Rasional : dengan latihan postural, pengisian akibat grafitasi terganggu sehingga
pembuluh darah menjadi kosong.

Tujuan : mengurangi kongesti vena.


 Kriteria hasil :
- Mengurangi edema ekstremitas
 Intervensi :
a. Meninggikan ekstremitas diatas jantung.
Rasional : peninggian ekstremitas melawan tarikan gravitasi, meningkatkan aliran
balek vena, dan mencegah statis vena.
b. Dilarang berdiri diam atau duduk terlalu lama.
Rasional : berdiri diem atau beridir lama mengakibatkan statis vena.
c. Mendorong pasien untuk berjalan-jalan
Rasional : berjalan-jalan memperbaiki aliran balek vena dengan mengaktifasi pompa
otot.

Tujuan : memperbaiki vasodilatasi dan mencegah penekanan perifer.


 Kriteria hasil :
- Tidak merokok
- Menghindari menyilang kaki
- Melindungu ekstremitas dari pejanan dingin

 Intervensi :
a. Menjaga suhu hangat dan menghindari suhu dingin.
Rasional : kengahatan memperbaiki aliran arteri dengan mencegah efek
vasokontriksi akibat dingin.

b. Melarang merokok.
Rasional : nikotin menyebabkan vasospasme yang menghambat sirkulasi perifer.
c. Memeberikan penyuluhan cara menghinddari emosi, penatalaksaan stres.
Rasional : stress emosional menyebabkan vasokontriksi perifer dalam menstimulasi
system saraf sismpatis.

d. Memdorong menghinddari memakai pakaian dan aksesoris yang mengikat (misal,


sabuk yang terlalu ketat)

e. Mendorong untuk menghindari menyilang kaki


Rasional : menyilangkan kaki menyebabkan penekanan pembuluh darah dengan
gangguan sirkulasi statis vena

f. Mendorong untuk menghindari obat vasodilator dan penyekap adrenegik sesuai


resep dengan pendekatan keperawatan yang sesuai.
Rasional : vasodilator melemaskan otot polos, bahan adrenergic menyekat respon
terhadap impuls saraf simpatis atau sirkulasi ketokolamin.

2. Nyeri berhubungan dengan gangguan kemampuan pembuluh darah menyuplai


oksigen.

Tujuan : menghilangkan nyeri.


 Kriteria hasil :
- Nyeri hilang atau berkurang
 Intervensi :
a. Memperbaiki sirkulasi.
Rasional : perbaikan sirkulasi perifer meningkatkan oksigen yang disuplai ke otak
dan megurangi akumulasi metabolit yang menyebabkan spasme otot.

b. Memberikan nalgetik sesuai dengan resep dengan pendekatan keperawatan yang


sesuai.
Rasional : analgetik mengurangi nyeri dan memungkinkan pasien berpartisispasi
dalam aktifitas dan latihan memperbaiki sirkulasi.

3. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan sirkulasi


Tujuan : pencapaian atau mempertahankan integritas jaringan.
 Kriteria hasil :
- Menghindari trauma dan iritasi kulit
- Mengenakan sepatu pelindung
- Setia kepada aturan higiene
- Makan diet seimbang yang mengandung cukup protein, vitamin B dan vitamin C

 Intervensi :
a. Menginstruksikan cara menghindari trauma terhadap ekstremitas.
Rasional : jaringan dengan nutrisi buruk peka terhadap trauma dan infeksi bakteri,
penyembuhan luka melambat dan berhenti sehubungan dengan perfusi jaringan
yang buruk.

b. Memdorong pemakaian sepatu dan bantalan pelindung pada daerah yang


tertekan.
Rasional : sepatu dan bantalan pelindung mencegah cedera dan lepuh.

c. Mendorong hygiene ketat mandi dengan sabun netral, mengoleskn pelembab,


memotong kuku dengan hati-hati.
Rasional : sabun netral dan pelembab mencegah kekeringan dan pecah-pecah kulit.

d. Diperingatkan untuk menghindari gosokn atau garukan kuat.


Rasional : menggaruk dan menggosok dapat menyebabkan abrasi kulit dan invasi
bakteri.

e. Promosi nutrisi yang baik asupan vitanib B dan C yang adekuat dan protein,
mengontrol obesitas.
Rasional : nutrisi yang bagus akan berguna pada proses penyembuhan dan
mencegah kerusakan jaringan.

4. Deficit pengetahuan mengenai aktifitas perawatan diri.


Tujuan : patuh dalam menjalankan program perawatan diri.
 Kriteria hasil :
- Melakukan perubahan posisi sesering yang dianjurkan
- Melakukan latihan postural sesuai yang dianjurkan
- Minum obat sesuai resep
- Melakukan upaya pencegahan trauma
- Melaksanakan program penatalaksaan stress

 Intervensi :
a. Mengikutsertakan keluarga atau orang terdekat dalam program penyuluhan
Rasional : kepatuhan dalam program perawatan dalam meningkat apabila pasien
menerima dukungan dari keluarga dan kelompok dukungan diri yang sesuai.

b. Memberikan instruksi tertulis mengenai perawatan kaki, tungkai, dan program


perawatan.
Rasional : instruksi tertulis sebagai pengingat dan penguat informasi.

c. Merujuk kekelompok bantuan diri sesuai keperluan, missal klinik penghentian


rokok, penatalaksaan stress, penatalaksaan berat badan, dan program latihan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembuluh darah merupakan media penyalur zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh
yang terkandung dalam darah ke seluruh bagian tubuh. Jenis pembuluh darah ada
tiga yaitu pembuluh nadi, vena dan kapiler.
Penyakit pembuluh darah perifer mempengaruhi sirkulasi darah ke bagian tubuh
yang ekstrimitas. Penyakit vaskular termasuk segala kondisi yang mempengaruhi
sistim peredaran darah . Ini mencakup dari penyakit-penyakit arteri-arteri, vena-vena
dan pembuluh-pembuluh limfa sampai ke kekacauan-kekacauan darah yang
mempengaruhi sirkulasi. (Suzanne C Smeltzer, 2001)

B. Saran
Setelah berpanjang lebar dalam pembahasan makalah ini, tentunya tak luput
dari kesalahan dan kekurangan baik dari segi penyampaian materi, penulisan serta
penyusunannya. Dari itu kami mohon maaf dan dengan tangan terbuka serta hati
yang lapang penulis mohon saran dan kritik dari para pembaca. Semoga kita semua
dapat mengambil manfaat dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Brunner


& Sudarth ed. 8. Jakarta: ECG.

Prof.dr. Achmad Tjarta,Dkk.1999. Dasar Patologis Penyakit. Jakarta :EGC

Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius


Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I
Made Kariasa dan Ni Made S. Jakarta: ECG

Anda mungkin juga menyukai