Anda di halaman 1dari 16

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanah merupakan reseptor dari sejumlah besar bahan pencemar, tanah merupakan tempat
penampungan berbagai bahan kimia yang berasal dari rembesan penumpukan sampah
(landfill), Instalasi Pengolahan Air Limbah, dan sumber-sumber lainnya. Dalam beberapa
kasus, lahan pertanian yang terkontaminasi pestisida menyebabkan terjadinya penumpukkan
bahan berbahaya dan beracun di dalam tanah.

Tidak berbeda dengan udara dan air, tanah pun dapat mengalami penurunan kualitas.
Walaupun banyak jenis tanah mempunyai kemampuan mengasimilasi dan menetralisir bahan
pencemar, namun tanah juga dapat mengalami penurunan kualitasnya. Apabila mengalami
penurunan kualitasnya, tanah tidak dapat lagi memmberikan daya dukung bagi kehidupan
manusia secara optimal.

Penurunan kualitas tanah terutama disebabkan oleh kehadiran bahan-bahan pencemar


di tanah. Selain itu, kualitas tanah juga dapat menurun disebabkan oleh erosi. Erosi
menyebabkan tersingkapnya lapisan tanah yang lebih asam, terbentuknya lapisan dengan
kandungan allumunium yang lebih tinggi, menurunkan kandungan bahan organik, unsur-
unsur hara menjadi lebih rendah dan terbentuknya lapisan bawah yang lebih padat. Bila
keadaan lebih parah lagi akan terbentuk lahan kritis.

Dengan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kualitas tanah, maka
diperlukan sebuah penelitian atau penyelidikan tentang kualitas tanah. Dimana penyelidikan
tanah dibutuhkan untuk data perancangan pondasi bangunan-bangunan, seperti : bangunan
gedung, dinding penahan tanah, bendungan, jalan, dll. Sedangkan fungsi dari pondasi sendiri
adalah menerima beban dari atas (upper structures), memikul, melimpahkan & meratakan ke
lapisan tanah di bawahnya. Untuk memperoleh suatu pondasi yang baik maka harus
memenuhi kriteria berikut :

1. Beban yang diteruskan oleh pondasi ke tanah tidak boleh melampaui kekuatan tanah
yang bersangkutan.

2. Harus mampu menahan beban bangunan diatasnya tanpa menimbulkan keretakan


maupun kegagalan konstruksi.

1
Sedangkan kriteria untuk tanah yang baik adalah sebagai berikut :

1. Penurunan ( settlement ) tanah yang disebabkan oleh beban masih dalam batas yang
diperbolehkan.
2. Keruntuhan geser dari tanah dimana pondasi berada tidak terjadi ( daya dukungnya
cukup bagus ).

Maka dari itu, untuk memperoleh suatu pondasi yang baik da juga bangunan yang baik
maka harus dilakukan penyelidikan tanah.

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam laporan ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan tes sondir ?


2. Apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir ?
3. Bagaimana teori uji sondir itu ?
4. Apa saja alat dan bahan pengujian sondir ?
5. Bagaimana langkah kerja pengujian sondir ?

1.3. Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan tes sondir


2. Mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir
3. Mengetahui teori uji sondir
4. Mengetahui alat dan bahan pengujian sondir
5. Mengetahui langkah kerja uji sondir

1.4. Metode
Dalam pembuatan laporan ini menggunakan metode studi literatur. Studi Literatur adalah
cara untuk menyelesaikan persoalan dengan menelusuri sumber-sumber tulisan yang
pernah dibuat sebelumnya.

2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Tes Sondir

Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang teknik sipil yang berfungsi untuk
mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan seberapa kuat
tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Tes ini biasa dilakukan
sebelum membangun pondasi tiang pancang, atau pondasi-pondasi dalam lainnya. Data yang
didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran gaya perlawanan dari tanah terhadap konus,
serta hambatan pelekat dari tanah yang dimaksud. Hambatan pelekat adalah perlawanan geser
dari tanah tersebut yang bekerja pada selubung bikonus alat sondir dalam gaya per satuan
panjang.

Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk:

 Menentukan tipe atau jenis pondasi apa yang mau dipakai


 Menghitung daya dukung tanah asli
 Menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya

Sondir adalah alat berbentuk silindris dengan ujungnya berupa konus. Sondir ada dua
macam, yang pertama adalah sondir ringan dengan kapasitas 0-250 kg/cm² dan yang kedua
adalah sondir berat dengan kapasitas 0-600 kg/cm². Jenis tanah yang cocok disondir dengan
alat ini adalah tanah yang tidak banyak mengandung batu.

sondir

Dalam uji sondir, stang alat ini ditekan ke dalam tanah dan kemudian perlawanan tanah
terhadap ujung sondir (tahanan ujung) dan gesekan pada silimur silinder diukur. Alat ini telah
lama di Indonesia dan telah digunakan hampir pada setiap penyelidikan tanah pada pekerjaan
teknik sipil karena relatif mudah pemakaiannya, cepat dan amat ekonomis.

3
Sesungguhnya alat uji sondir ini merupakan representase atau model dari pondasi
tiang dalam skala kecil. Teknik pendugan lokasi atau kedalaman tanah keras dengan suatu
batang telah lama dipraktekan sejak zaman dulu. Versi mula-mula dari teknik pendugaan ini
telah dikembangkan di Swedia pada tahun 1917 oleh Swedish State Railways dan kemudian
oleh Danish Railways tahun 1927. Karena kondisi tanah lembek dan banyaknya penggunaan
pondasi tiang, pada tahun 1934 orang-orang Belanda memperkenalkan alat sondir
sebagaimana yang kita kenal sekarang (Barentseen, 1936).
Metode ini kemudian dikenal dengan berbagai nama seperti: Static Penetration
Test atau Quassi Static Penetration Test, Duch Cone Test dan secara singkat
disebut sounding saja yang berarti pendugaan. Di Indonesia kemudian dinamakan sondir
yang diambil dari bahasa Belanda.
Uji sondir saat ini merupakan salah satu uji lapangan yang telah diterima oleh para
praktisi dan pakar geoteknik. Uji sondir ini telah menunjukkan manfaat untuk pendugaan
profil atau pelapisan (stratifikasi) tanah terhadap kedalaman karena jenis perilaku tanah telah
dapat diindentifikasi dari kombinasi hasil pembacaan tahanan ujung dan gesekan selimutnya.
Besaran penting yg diukur pada uji sondir adalah perlawanan ujung yg diambil
sebagai gaya penetrasi per satuan luas penampang ujung sondir (qc). Besarnya gaya ini
seringkali menunjukkan identifikasi dari jenis tanah dan konsistensinya. Pada tanah pasiran,
tahanan ujung jauh lebih besar daripada tanah butiran halus.
Apa hubungan kuat dukung tanah dengan data sondir (qc). Anda dapat melihat
hubungan nilai tahanan konus (qc) terhadap konsistensi tanah, sebagai berikut ini. Untuk
tanah yang sangat lunak nilai qc < 5 kg/cm2, lunak 5-10 kg/cm2, teguh 10-20 kg/cm2, kenyal
20-40 kg/cm2, sangat kenyal 40-80 kg/cm2, keras 80-150 kg/cm2, dan sangat keras > 150
kg/cm2.

Sebab alat sondir semakin populer di Dunia


Sebab-sebab alat sondir semakin populer penggunaannya di dunia adalah :
1. Merupakan jenis uji yang cukup ekonomis dan dapat dilakukan ulang dengan hasil yang
relatif sama.
2. Tidak bergantung pada kesalahan operator atau kesalahan operasi alat.
3. Perkembangan yang semakin canggih pada penggunaan sondir listrik dan elektronik,
yaitu : Batu pori untuk mengukur tekanan air pori pada saat penetrasi sondir ke dalam
tanah, Sondir dilengkapi dengan stress cell dibagian belakang konus untuk mengukur tekanan
lateral tanah selama dan setelah penetrasi, Perambatan gelombang pada tanah diujung konus
(seismic cone) sehingga dapat diperkirakan parameter dinamis tanah.
4. Korelasi empiris semakin baik dan andal.
5. Kebutuhan untuk pengujian di lapangan (insitu test) untuk mengatasi tanah-tanah yang
sulit diambil sampelnya seperti tanah lembek dan tanah pasir.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interpretasi Sondir


1. Konfigurasi dan ukuran alat sondir
Bentuk ujung sondir memberikan pengaruh yang amat besar terhadap tahanan konus.
Sondir dengan ujung konus yang lebih lancip dapat memberikan perlawanan konus (qc) yang
lebih kecil. Ukuran sondir memberikan pengaruh tahanan ujung khususnya pada tanah
pasiran. Sondir standar digunakan adalah sondir dengan sudut ujung konus sebesar 600 dan
mempunyai luas proyeksi 10 Cm²
2. Tegangan vertikal dan lateral tanah

4
Tegangan vertikal dan lateral tanah memberikan pengaruh amat besar pada tanah pasiran.
3. Kecepatan Penetrasi dan Metoda Penetrasi
Kecepatan penetrasi memberikan pengaruh pada besarnya tekanan air pori pada tanah
lempung sehingga menunjukkan tekanan air pori yang besar sekali. Olehsebab itu pengujian
ini harus distandarisasi terhadap kecepatan penetrasi yaitu 2Cm/det. Metoda yang umum
dipakai adalah metoda statik, yaitu konus ditekansecara perlahan-lahan ke dalam tanah.
4. Kompressibilitas, sementasi dan ukuran partikel
Kompresibilitas pada tanah pasir memberikan pengaruh yang amat besar terhadap
tahanan ujung dan gesekan selimut sondir. Pasir kwarsa memiliki tahanan ujung yang besar
dan rasio gesekan kecil (Rf=0,5 %). Sedangkan untuk pasir karbonan yang amat
kompressibel memberikan tahanan ujung kecil dan ratio gesekan yang besar (Rf=3 %).

2.2. Metode Sondir

Metoda sounding/sondir terdiri dari penekanan suatu tiang pancang untuk meneliti
penetrasi atau tahanan gesernya. Alat pancang dapat berupa suatu tiang bulat atau pipa bulat
tertutup dengan ujung yang berbentuk kerucut dan atau suatu tabung pengambil contoh tanah,
sehingga dapat diperkirakan (diestimasi) sifat-sifat fisis pada strata dan lokasi dengan variasi
tahanan pada waktu pemancangan alat pancang itu. Metoda ini berfungsi untuk eksplorasi
dan pengujian di lapangan. Uji ini dilakukan untuk mengetahui elevasi lapisan “keras” (Hard
Layer) dan homogenitas tanah dalam arah lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan
dalam bentuk diagram sondir yang mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung,
kemudian digunakan untuk menghitung daya dukung pondasi yang diletakkan pada tanah
tersebut.

Di Indonesia alat sondir sebagai alat tes di lapangan yang sangat terkenal karena di
negara ini banyak dijumpai tanah lembek (misalnya lempung) hingga kedalaman yang cukup
besar sehingga mudah ditembus dengan alat sondir. Di dunia penggunaan Sondir ini semakin
populer terutama dalam menggantikan SPT untuk test yang dilakukan pada jenis tanah liat
yang lunak dan untuk tanah pasir halus sampai tanah pasir sedang/kasar. Pemeriksaan ini
dimaksudkan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus (qc), hambatan lekat (fs) tanah
dan friction ratio (rf) untuk memperkirakan jenis tanah yang diselidiki.

Penyondiran adalah proses pemasukan suatu batang tusuk ke dalam tanah, dengan
bantuan manometer yang terdapat pada alat sondir tersebut kita dapat membaca atau
mengetahui kekuatan suatu tanah pada kedalaman tertentu. Sehingga, dapat diketahui bahwa
dari berbagai lapisan tanah memiliki kekuatan yang berbeda.

Penyelidikan dengan penyondiran disebut penetrasi, dan alat sondir yang biasa
digunakan adalah Dutch Cone Penetrometer, yaitu suatu alat yang pemakaiannya ditekan
secara langsung kedalam tanah. Ujung yang berbentuk konus ( kerucit ) dihubungkan pada
suatu rangkaian stang dalam casing luar dengan bantuan suatu rangka dari besi dan dongkrak
yang dijangkarkan ke dalam tanah.

Ada dua macam ujung penetrometer, yaitu :


a. Standard Type ( mantel conus )

5
Pada jenis ini yang diukur adalah perlawanan pada ujung ( konus ), hal ini dilakukan
hanya dengan menekan stang dalam yang segera menekan konus tersebut ke bawah
sedangkan seluruh casing luar tetap di luar. Gaya yang dibutuhkan untuk menekan konus
tersebut ke bawah diukur dengan suatu alat pengukur. Alat pengukur yang akan diletakkan
pada kekuatan rangka didongkrak. Setelah dilakukan pengukuran,konus,stang dalam,dan
casing luar dimajukan sampai pada kedalaman berikutnya dimana pengukuran selanjutnya
dilakukan hanya dengan menekan stang dalamnya saja.

b. Friction Sleeve ( Adhesion Jacket Type / Bikonus )


Pada jenis ini dapat diukur secara sekaligus nilai konus dan hambatan lekatnya. Hal ini
dilakukan dengan penekanan stang dalam seperti biasa. Pembacaan nilai konus dan hambatan
lekat dilakukan setiap 20 cm. Dengan alat sondir yang mungkin hanya mencapai pada
kedalaman 30 cm atau lebih, bila tanah yang diselidiki adalah lunak. Alat ini sangat cocok di
Indonesia, karena disini banyak dijumpai lapisan lempung yang dalam dengan kekuatan
rendah sehingga tidak sulit menembusnya. Dan perlu diketahui bahwa nilai konus yang
diperoleh tidak boleh disamakan dengan daya dukung tanah tersebut.

CARA PEMBACAAN MANOMETER pada ALAT SONDIR


Setelah batang konus dimasukan pada kedalaman tertentu, pemutar sondir diputar
sebanyak 5 kali. Pada saat itu dilihat pada jarum manometer terdapat dua nilai, nilai yang
terbesar adalah jumlah perlawanan konus ( JPK ) dan nilai terkecil adalah perlawanan
penetrasi konus ( PPK ).
· Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap ujung konus pada
saat dilakukan penetrasi.
· Jumlah perlawanan konus adalah perlawanan geser terhadap konus pada saat
dilakukan penetrasi.
· Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus.

sondir

6
2.3. Keuntungan dan Kerugian Alat Sondir

 Keuntungan:

1. Cukup ekonomis.
2. Apabila contoh tanah pada boring tidak bisa diambil (tanah lunak / pasir).
3. Dapat digunakan manentukan daya dukung tanah dengan baik.
4. Adanya korelasi empirik semakin handal.
5. Dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran.
6. Dalam prakteknya uji sondir sangat dianjurkan didampingi dengan uji lainnya baik uji
lapangan maupun uji laboratorium, sehingga hasil uji sondir bisa diverifikasi atau
dibandingkan dengan uji lainnya.
7. Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.
8. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan
9. Dapat digunakan pada lapisan berbutir halus
10. Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.

 Kerugian:

1. Jika terdapat batuan lepas biasa memberikan indikasi lapisan keras yang salah.
2. Jika alat tidak lurus dan tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh bisa
merugikan.
3. Tidak dapat diketahui tanah secara langsung

2.4. Teori Sondir

Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahui karakteristik tanah
yang dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan konstruksi.
Sondir ada dua macam, yang pertama adalah sondir ringan dengan kapasitas 0-250 kg/cm²
dan yang kedua adalah sondir berat dengan kapasitas 0-600 kg/cm². Jenis tanah yang cocok
disondir dengan alat ini adalah tanah yang tidak banyak mengandung batu.

PERHITUNGAN:

– Hambatan Lekat (HL)

HL = (JP-PK) x A/B

Dimana :

JP = Jumlah Perlawanan Konus dan Hambatan Lekat (px2)

PK = Perlawanan Penetrasi Konus (px1)

A = Interval Pembacaan 20 cm

B = Faktor Alat = L Konus/L torak= 10 cm

7
– Jumlah Hambatan Lekat

JHLi = Z HL

Dimana :

i = Kedalaman Lapisan Yang Ditinjau

Z= Zigma

2.5. Peralatan Tes Sondir

1. Mesin sondir ringan ( 2 ton ) atau mesin sondir berat ( 10 ton )


2. Seperangkat pipa sondir lengkap dengan batang dalam, sesuai kebutuhan dengan
panjang masing-masing 1 meter.
3. Manometer masing-masing 2 buah dengan kapasitas: untuk sondir ringan
menggunakan 0 – 50 kg/cm² dan 0 – 250 kg/cm² untuk sondir berat menggunakan 0 – 50
kg/cm² dan 0 – 600 kg/cm².
4. Konus dan Bikonus
5. Empat buah angker dengan perlengkapan ( Angker daun dan spiral )
6. Kunci-kunci pipa, alat-alat pembersih, oli, dan minyak hidrolik.

2.6. Langkah Kerja

1. Menentukan lokasi yang permukaannya datar.


2. Memasang empat buah angker ke dalam tanah dengan memutarnya menggunkan kunci
pemutar angker (kunci T). kemudian memasang 2 pelat persegi yng memanjang di
saming angker. Jarak antar angker dan jarak kedua pelat disesuaikan dengan ukuran
mesin sondir.
3. Memasang mesin sondir tegak lurus dan perlengkapannya pada lokasi pengujian, yang
diperkuat dengan pelat besi pendek untuk menjepit mesin dan diperkuat dengan mor
pengunci angker yang dipasang ke dalam tanah.
4. Memasang Traker,tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung konus akan
bergerak ke bawah sedalam 4 cm, kemudian manometer dibaca yang menyatakan
perlawanan ujung. Pada penekanan berikutnya konus dan mantelnya bergerak 4cm. Nilai
pada manometer yang terbaca adalah nilai tekanan ujung dan perlawanan lekat.
5. Menekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan sampai setiap
kedalaman tambahan sebanyak 20 cm.
6. Melakukan hal yang sama dengan langkah kerja di atas sampai pembacaan manometer
tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai ≥150 kg/cm2 dan jika penekanan mesin sondir
sudah mencapai maksimalnya atau dirasa telah mencapai tanah keras, maka pengujian ini
dapat dihentikan.

8
BAB 3 CONTOH
3.1. Perhitungan Pondasi Borpile Berdasarkan Hasil Survei Sondir (DPCT)
Judul : Perhitungan Pondasi Borpile Berdasarkan Hasil Survei Sondir (DPCT)
Lokasi : Papolo

Penyondiran dilakukan dengan menggunakan alat Dutch Cone Penetration


Test (DCPT) dengan kapasitas 2,5 ton yang dilengkapi dengan “Adhesion Jacket Cone”.
Spesifikasi alat DCPT yang digunakan adalah :
Luas Konus = 10 cm²
Sudut puncak kerucut konus = 60 derajat
Luas mantel (selimut konus) = 150 cm²
Luas piston penekan = 10 cm²
Letak titik sondir tersebut telah ditentukan sedemikian hingga dapat menggambarkan
profil geoteknis di lokasi yang akan dibangun. Penyondiran dilakukan hingga mencapai
kedalaman permukaan tanah keras dengan indikasi yaitu pada saat nilai hambatan konus
(cone resistance) > 150 kg/cm². Pembacaan local friction (fs) dilakukan pada setiap interval
kedalaman 0,2 m.

Pengolahan data sondir diperlukan bagi kepentingan interprestasi desain untuk pondasi.
Data yang dibutuhkan dari lapangan adalah berupa raw data, yang memuat hasil bacaan
manometer tiap interval kedalaman per 20 cm sampai kedalaman akhir konus, yaitu bacaan
yang pertama berupa perlawanan konus (qc) dan bacaan kedua berupa perlawanan geser
(qc+fs).

Hasil pengolahan berbentuk tabel perhitungan dan grafik sondir, yang memuat informasi
berikut :
qc (perlawanan konus, atau daya dukung)
fs (perlawanan geser)
rf (angka banding geser, atau friction ratio)
Tf (geseran total)
Perhitungan dan penggambaran grafik sondir ini dilakukan dengan menggunakan komputer
yang memakai software dari Microsoft Excel atau program software yang khusus untuk
pengolahan data CPT (Cone Penetration Test) (Tabel A). Data hasil pengukuran adalah cell
yang berwarna kuning dan rumus yang terpakai adalah sebagai berikut:
Cw = Perlawanan Konus (Kg/cm2)
Tw = Total Perlawanan (Kg/cm2)
Kw = Hambatan setempat (Kg/cm2)
= Tw-Cw
qc = Perlawanan konus terkoreksi (Kg/cm2)
= Cw
Lf = Unit hambatan setempat (Kg/cm2)
= 0.3
20lf = hambatan setempat /20cm (Kg/cm)
= Lf/20

9
Tf = Total Hambatansetempat (Kg/cm)
= tfn-1+20lfn

Rf = Rasio geser (Kg/cm)


= lf/qc

Uji sondir di Palopo

Pelaksanaan Uji Duct Cone Pentration Test (DCPT) dilaksanakan berjumlah 4 titik pada
lokasi rencana pembangunan namun pada tuliosan ini hanya dierikan 1 contoh hasil dan
perhitungan pondasinya.Berdasarkan hasil pelaksanaan survey diketahui bahwa kedalaman
tanah keras bervariasi antara 7,2-11m dengan perlawanan konus 160 kg/cm2 dan total
hambatan setempat berkisar antara 239-571 kg/cm.

Berikut disajikan data halis pelaksanaan survei untuk titik S-1.

Tabel A. Data Duct Cone Pentration Test (DCPT) titik S-1.

10
11
Gambar A. Grafik Duct Cone Pentration Test (DCPT) titik S-1.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya data hasil uji Duct Cone Pentration Test
(DCPT) akan digunakan sebagai dasar acuan untuk analisis daya dukung tanah dan pondasi.
Dalam hal ini dari pihak tim teknis membuat 3(tiga) skenario tipikal pondasi bor pile yang
dibagi berdasarkan diameter bor pile.

Untuk menghitung daya dukung tekan dan tarik tiang digunakan formula:

12
Berikut diuraikan analisis daya dukung untuk masing- masing titik Duct Cone Pentration
Test.
1.Analisis Borpile diameter 400 mm untuk titik S-1

Tabel B Analisis daya dukung ijin tekan tiang (Pall) dan tarik (Ptall) titik S-1 untuk bor
pile 400mm

2.Analisis Borpile diameter 600mm untuk titik S-1

13
Tabel C Analisis daya dukung ijin tekan tiang (Pall) dan tarik (Ptall) titik S-1 untuk bor
pile 600mm

3.Analisis Borpile diameter 800mm untuk titik S-1

Tabel D Analisis daya dukung ijin tekan tiang (Pall) dan tarik (Ptall) titik S-1
untuk bor pile 800mm

14
BAB 4 KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahui karakteristik tanah
yang dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan konstruksi.
Dari cara kerja dan dilakukannya tes makaakan didapatkan nilai perlawanan konus pada
kedalaman-kedalaman tertentu, Pemeriksaan Kekuatan tanah Dengan Sondir, menentukan
tipe atau jenis pondasi apa yang mau dipakai, menghitung daya dukung tanah asli, dan
menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya.

Dengan melakukan pengujian tanah dengan alat tes sondir memiliki keuntungan dan
kerugian, yaitu sebagai berikut:

Keuntungan:

 Cukup ekonomis.
 Apabila contoh tanah pada boring tidak bisa diambil (tanah lunak / pasir).
 Dapat digunakan manentukan daya dukung tanah dengan baik.
 Adanya korelasi empirik semakin handal.
 Dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran.
 Dalam prakteknya uji sondir sangat dianjurkan didampingi dengan uji lainnya baik uji
lapangan maupun uji laboratorium, sehingga hasil uji sondir bisa diverifikasi atau
dibandingkan dengan uji lainnya.
 Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.
 Dapat diperkirakan perbedaan lapisan
 Dapat digunakan pada lapisan berbutir halus
 Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.

Kerugian:

 Jika terdapat batuan lepas biasa memberikan indikasi lapisan keras yang salah.
 Jika alat tidak lurus dan tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh bisa
merugikan.
 Tidak dapat diketahui tanah secara langsung

15
DAFTAR PUSTAKA
1. http://putracelebespapua3.blogspot.co.id/2014/03/perhitungan-pondasi-borpile-
berdasarkan.html. [Diakses pada 20 Desember 2016]
2. http://labmektansipilusu.blogspot.co.id/2011/02/pemeriksaan-kekuatan-tanah-
dengan.html. [Diakses pada 20 Desember 2016]
3. http://www.soiltest.sienconsultant.com/pengujian-sondir-test.html. [Diakses pada 20
Desember 2016]
4. http://zhiemanzorank.blogspot.co.id/2012/12/sondir_1886.html. [Diakses pada 20
Desember 2016]
5. https://sipil.net/download/sni-28272008-cara-uji-penetrasi-lapangan-dengan-alat-
sondir/. [Diakses pada 21 Desember 2016]
6. http://tanya-konstruksi.blogspot.com/2013/02/apa-itu-tes-sondir.html. [Diakses pada
21 Desember 2016]
7. http://tukangsondir.blogspot.com/2013/02/cara-kerja.html.[Diakses pada 21
Desember 2016]
8. http://rickyhamzah.blogspot.com/2011/04/sondir.html. [Diakses pada 21 Desember
2016]

16