Anda di halaman 1dari 14

STATUS ILMU KESEHATAN ANAK SMF ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS

KEDOKTERAN UKRIDA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN

Nama Mahasiswa : Wendy Yudija Tanda Tangan :


NIM : 11.2016.075
Dokter Pembimbing : dr. Edi Pasaribu, SpA, M.Kes.

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. C Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal lahir : 25 April 2013 Suku Bangsa : Batak
Umur : 4 Tahun 9 bulan Agama : Protestan
Pendidikan :-
Alamat : Jl. Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat

IDENTITAS ORANG TUA

Nama Ayah : Tn. AS Nama Ibu : Ny. S


Umur : 35 tahun Umur : 25 tahun
Pendidikan Terakhir : SMA Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat

Tanggal Masuk RS : 16 Februari 2018 Jam 21:54 WIB


Tanggal Pemeriksaan : 18 Februari 2016 Jam 10:55 WIB
Dilakukan di : Bangsal Melati 5304

ANAMNESIS
Diambil dari : Alloanamnesis nenek dan ibu pasien
Tanggal : 18 Februari 2016 Jam 10.55 WIB

Keluhan Utama:
Kejang

Keluhan Tambahan:
Demam, bintik-bintik kemerahan.

1
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUD Tarakan dengan keluhan kejang, malam hari sebelum
masuk rumah sakit (SMRS). Kejang terjadi secara tiba-tiba sebanyak 4-5 kali selama ± 1 menit
dengan jarak antar kejang ± 10 menit. Bentuk kejang berupa kelojotan pada kedua tangan, mata
mendelik keatas, tetapi tidak sampai terjatuh saat kejang timbul. Menurut ibu pasien, kejang
yang dialami oleh anaknya selalu timbul saat pasien ingin tidur malam. Setiap selesai kejang
pasien merasa lemas terkadang sampai tidak sadarkan diri. Sebelum kejang terjadi, dipagi hari
pasien tidak demam ataupun kejang, akan tetapi menurut pengakuan ibu pasien, timbul bintik-
bintik merah dalam mulut pasien terutama langit-langit mulut dan amandel pasien terlihat lebih
merah dari biasanya. Tidak lama kemudian timbul bintik-bintik ditelapak tangan dan kaki yang
mirip dengan bintik-bintik yang ada dimulut, selain itu bintik merah timbul di dengkul pasien.
Menurut ibu pasien, anaknya tidak merasa gatal pada bintik-bintik merah yang muncul. Batuk,
pilek, mata merah dan berair disangkal oleh ibu pasien.
1 hari SMRS, os mengalami demam tinggi secara mendadak pukul 11.00. Orang tua
pasien tidak mengukur suhu tubuhnya. Demam berlangsung terus menerus menetap sepanjang
hari. Selama demam berlangsung pasien rewel. Demam tidak disertai dengan sakit kepala, mual
muntah, mimisan, batuk, pilek dan sesak. Saat siang hari menurut ibu pasien demam sempat
turun saat diberikan obat paracetamol sirup. Ketika malam hari demam timbul kembali, suhu
diukur sekitar 39,8oC, sehingga ibu pasien langsung memberikan obat paracetamol sirup dan
diazepam lewat bokong akan tetapi pasien tetap demam, dan beberapa menit kemudia os kejang.
Kejang berlangsung lebih dari 10x, kejang berlangsung kurang dari 1 menit. Kejang berupa
kekakuan pada kedua tangan dan mata mendelik keatas. Selesai kejang os mengantuk dan
kadang tidak sadarkan diri.
Pasien sudah BAB hari ini 1x, konsistensi kental, warna coklat, tidak ada darah, disertai
ampas, tidak bau amis, kira-kira volume BAB untuk hari ini sekitar ¼ gelas aqua. BAK sering
warna bening kekuningan. Ibu pasien mengatakan 3 atau 4 hari sebelum pasien demam tinggi
os sempat berlibur selama 2 hari.
Riwayat imunisasi lengkap dilakukan di bidan sesuai jadwal. Riwayat persalinan normal
pervaginam, aterm, tanpa penyulit.

2
Riwayat tumbuh kembang pasien: bersifat aktif dan mudah berinteraksi dengan baik
kepada orang yang baru dikenal, saat 10 bulan sudah bisa jalan merembet dan saat 1 tahun sudah
bisa berjalan lancar, sudah dapat berbicara dan cukup dimengerti saat usia 1 tahun. Menurut ibu
perkembangan anaknya tidak ada keterlambatan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Ibu pasien mengatakan saat berusia 6 bulan os didiagnosis oleh dokter Hidrocephalus.
Saat berusia 8 bulan dilakukan pemasangan VP Shunt di RSUD Tarakan. Melalui pengakuan ibu
pasien, os dipasang VP Shunt sebanyak 3x dengan jarak waktu 1 tahun. Menurut ibu pasien
setelah dipasangkan VP Shunt anaknya kejang untuk pertama kalinya dan disaat itu anaknya
menjadi lebih sering kejang.
Selain hydrocephalus os juga menderita epilepsi dan sudah mendapatkan pengobatan,
akan tetapi obat antikejang yang diberikan tidak diminum secara teratur.

Penyakit Dahulu (bila ya ( + ), bila tidak ( - ))


(-) Sepis (-) Meningoencephalitis (+) Kejang demam
(-) Tuberkulosis (-) Pneumoni (-) Alergi lainnya
(-) Asma (-) Alergi Rhinitis (-) Gastritis
(-) Diare akut (-) Diare Kronis (-) Amoebiasis
(-) Disentri (-) Kolera (-) Difteri
(-) Tifus Abdominalis (-) DHF (-) Polio
(-) Cacar air (-) Campak (-) Penyakit Jantung Bawaan
(-) Batuk rejan (-) Tetanus (-) ISK
(-) Demam Rematik Akut (-) Penyakit Jantung Rematik (-) Kecelakaan
(-) Glomerulonephritis (-) Sindroma Nefrotik (+) Operasi

Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit Ya Tidak Hubungan


Alergi +
Asma +
Tuberkulosis +

3
Hipertensi +
Diabetes +
Kejang Demam +
Epilepsy +

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


1. Kehamilan
 Perawatan antenatal : Bulan 1-5 : 5 kali, Bulan 6-7 : 4 kali, Bulan 8-9 : 6 kali
 Tempat perawatan : Bidan, diberikan Zat Besi
 Penyakit kehamilan : Tidak ada kelainan
2. Kelahiran
 Tempat kelahiran : Bidan dekat rumah
 Penolong persalinan : Bidan
 Cara persalonan : Spontan
 Masa gestasi : Aterm
 Keadaan bayi
o Berat badan lahir : 2900 gram
o Panjang badan lahir : 49 cm
o Lingkar kepala : Tidak diketahui
o Langsung menangis : Langsung menangis kuat
o Pucat/Biru/Kuning/Kejang : Kulit tampak pink
o Nilai APGAR : Tidak diketahui
o Kelainan bawaan : Tidak ada
Kesan : Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan (NBC-SMK)

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Pasien rutin ke Posyandu setiap bulan untuk pengukuran Berat Badan (BB) dan
Panjang/Tinggi Badan (PB/TB) dilakukan sejak lahir hingga usia 3 bulan dan dalam

4
setiap pemeriksaan didapati ukuran lingkar kepala pasein besar, tidak sesuai dengan
seusianya. Menurut ibu pasien, hingga usia 4 tahun pasien hanya bisa berbicara 2 kata.
Kesan: Tumbuh Kembang anak tidak sesuai dengan usia sekarang
Riwayat Imunisasi
(+) Hep B-0 hari lahir di bidan Puskesmas.
(+) BCG usia 1 bulan
(+) DPT, 3 kali saat usia 2 bulan, 4 bulan dan 5 bulan
(+) Polio, 4 kali saat usia 1 bulan, 2 bulan, 4 bulan dan 5 bulan.
(+) Hep. B, 3 kali saat usia 2 bulan, 4 bulan dan 5 bulan
(+) Campak, 1 kali saat 9 bulan

Kesan: Imunisasi dasar pasien lengkap dan tepat waktu menurut Jadwal Departemen
Kesehatan

Riwayat Nutrisi
No. Usia Makanan
1 0 – 6 bulan Susu Formula sampai sekarang setiap 2 jam 30-60cc/kali
2 6– 7 bulan Susu Formula (Bebelac) 3 x 120cc/kali
Nestle Bubur Bayi 3x1 mangkok
4 8 bulan – 1 tahun Susu Formula (Bebelac) 3 x 120cc/kali
Nestle Bubur Bayi 3x1 mangkok
Buah-buahan (pisang, pepaya, alpukat)
5 1 tahun – 2 tahun Bubur Ayam 1 porsi 2x1 mangkok
Susu Formula (Bebelac) 2-3 x 180cc/kali
Buah-buahan (pisang, pepaya, alpukat)

6 2 tahun – sekarang Nasi dengan lauk (ikan, ayam, sop) 3 x 1 porsi


Susu Sapi UHT 1-2 x 120-240cc/kali terutama saat mau tidur
Buah pisang, apel, jeruk, pepaya, pir
Jajanan: Bolu, roti, coklat, es krim, snack

5
Riwayat Sosial Personal (Socio-personal history)

Bangunan rumah terbuat dari batu bata dengan ukuran 10 meter kali 8 meter, yang tidak
bertingkat. Rumah tersebut ditinggali oleh 3 orang. Lantai beralaskan keramik dan dibersihkan
setiap hari sekali. Ventilasi cukup dengan jendela yang sering dibuka, disertai pencahayaan alami
yang mencukupi. Fasilitas mandi, cuci dan toilet dalam keadaan yang bersih dan sumber air
bersih karena sumber air dari PAM. Sumber air minum berasal dari air mineral botolan bermerk
yang terpercaya.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum

Tanggal : 18 Februari 2016 Jam 10:55 WIB


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 90/60
Nadi : 199 kali/menit, reguler, kuat
Suhu : 36,7 °C
Pernapasan (frekuensi dan tipe) : 23 kali/menit, teratur, reguler
Antropometri
Tinggi badan : 113 cm
Berat badan : 20 Kg
LILA : 18 cm
LK : 53 cm
IMT : 100 % (Ideal)
Status Gizi
BB/U : 117%
TB/U : 106%

6
BB/TB : 100%
Kesan : Status gizi cukup

PEMERIKSAAN SISTEMATIS
Kepala
o Bentuk dan ukuran : Makrocephal, simetris, tidak ada lesi, lunak pada penekanan
o Wajah : Normal.
o Rambut & kulit kepala: Warna hitam, kering, tidak mudah rontok.
o Mata : Konjungtiva anemis (-) Sklera ikteri (-) Mata kearah bawah
o Telinga : Normotia, fistula (-), liang telinga bersih, membran timpani sulit
dinilai
o Hidung : Deviasi septum (-), sekret -/-, pernafasan cuping hidung (-).
o Mulut : Bibir kering (-), lidah kotor (-), sianosis (-), tonsil T1-T1
hiperemis, faring hiperemis (-). Makula eritematus (+)
o Leher : Trakea lurus ditengah, tidak teraba pembesaran kelenjar getah
bening, kelenjar tiroid tidak membesar, retraksi suprasternal (-)
o Rangsang meningen : Negative
Thoraks
o Paru
Inspeksi : Pernafasan torakoabdominal, bentuk dada normal, simetris dalam
keadaan statis maupun dinamis, retraksi sela iga (-).
Palpasi : Fremitus simetris, tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru.
Auskultasi : Suara napas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
o Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis teraba pada sela iga IV 1 cm lateral linea
Midklavikularis kiri, kuat angkat.
Perkusi : Batas atas jantung di ICS II linea parasternal kiri.
Batas kiri jantung di ICS V, linea midclavikularis kiri.
Batas kanan jantung di ICS IV, linea sternal kanan.

7
Auskultasi : BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-)
o Abdomen
Inspeksi : Datar, lesi (-), benjolan massa (-), retraksi (-), membuncit (-)
Auskultasi : Supel, datar, Bising usus (+).
Palpasi : Distensi (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba,
undulasi(-)
Perkusi : Timpani di seluruh lapang perut, shifting dullness (-)
o Alat Kelamin : Tidak dilakukan
o Extremitas
Ekstremitas superior : Akral hangat, deformitas (-), Edema -/ , CRT < 2s,
sianosis (-), refleks fisiologis +/+, refleks patologis (-)
macula eritematus (+)
Ekstremitas Inferior : Akral hangat, deformitas (-), Edema -/-, CRT <2s,
sianosis (-), refleks fisiologis +/+, refleks patologis (-)
macula eritematus (+)
o Tulang Belakang : tidak tampak kelainan pada tulang belakang
o Anus dan Rektum : tidak diperiksa
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Laboratorium tanggal : tanggal 16 Februari 2018 RSUD Tarakan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Hemoglobin : 11.8 g/dL (11-16.5 g/dL)
Hematokrit : 36.0 % (35-45 %)
Eritrosit : 4.57 Juta/uL (4.11-5.95 Juta/uL)
Lekosit : 7.815 /mm3 (4.000-10.000 mm3)
Trombosit : 157.000 /mm3 (150.000-450.000 /mm3)
KIMIA KLINIK
Elektrolit
Na : 142 Meq/L (135-150 Meq/L
K : 3.7 Meq/L (3.6-5.5 Meq/L)
Cl : 99 Meq/L (94-111 Meq/L)

8
GULA DARAH
Glukosa darah sewaktu : 70 mg/dL ( <140 mg/dL)

RINGKASAN
Os datang ke IGD RSUD Tarakan dengan keluhan kejang. Kejang terjadi 4-5x.
Setiap kejang sekitar 1 menit. Bentuk kejang berupa kelojotan pada kedua tangan, mata
mendelik keatas, tetapi tidak sampai terjatuh saat kejang timbul. Menurut ibu pasien, kejang
yang dialami oleh anaknya selalu timbul saat pasien ingin tidur malam. Setiap selesai kejang os
merasa lemas kadang sampai tidak sadarkan diri.. Selain kejang os juga mengeluh timbul bercak
merah pertama kali di rongga mulut, lalu timbul ditangan, kaki hingga ke dengkul. 1 hari SMRS
os sempat demam dan kejang hingga 10x. Gejala serupa sebelumnya (-) Riwayat penyakit
dahulu hydrocephalus dan pemasangan VP Shunt sebanyak 3 kali. Riwayat keluarga tidak ada
yang sedang atau pernah menderita gejala yang sama. Riwayat imunisasi lengkap sesuai jadwal.
Riwayat persalinan normal pervaginam, aterm, tanpa penyulit. Riwayat tumbuh kembang pasien
tidak sesuai dengan usianya.
Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan normal. Pada pemeriksaan sistematis
ditemukan tonsil T1-T1 hiperemis, dan macula eritema di palatum molle, sekitar mulut, telapak
tangan, lengan bawah, kaki, hingga di lutut. Sedangkan pada pemeriksaan penunjang semua
dalam batas normal

DIANGNOSIS BANDING
1. Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + HFMD
2. Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + Campak
3. Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + Rubella
4. Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + Roseola
5. Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + Scarletina

Diagnosis Kerja
Epilepsi putus obat + Hidrocephalus post VP Shunt + HFMD

9
PENATALAKSANAAN
 IVFD loading D10% 2cc/kgBB/7atm
 Diazepam 0.5mg IV  Jika kejang
 RL maintenance
 Rencana EEG

PROGNOSIS
1. Ad vitam : dubia ad bonam
2. Ad Fungsionam : dubia ad bonam
3. Ad sanationam : dubia ad malam

FOLLOW UP
Tanggal 17 Februari 2018 jam 07.30

S: Os ditempatkan diruang isolasi. Selama bangsal os sudah tidak demam dan kejang. Ruam
pada mulut, tangan, dan kaki masih ada. Os juga mengeluh batuk tetapi tidak sering. Batuk
kering, pilek (-), sesak (-). Nafsu makan pasien baik. Pasien sudah BAB 1x, konsistensi kental
warna coklat, ampas (+), tidak ada darah. BAK sering, warna putih keruh.
O: KU: Tampak sakit sedang Kesadaran: Compos Mentis BB: 20kg
HR: 100x/menit RR: 23x/menit Suhu: 36.7oC TD: 90/70mmHG
Pemeriksaan Fisik:
Wajah : Tampak macula eritema pada mulut
Ekstremitas atas : Makula eritema (+/+) pada telapak tangan dan lengan bawah
Ekstremis bawah : Makula eritema (+/+)
Lain-lain : Dalam batas normal
A: Epilepsi putus obat, Hidrocephalus post VP Shunt, HFMD
P: terapi dilanjutkan
Regio lesi kanan kiri : Kompres NaCl 0,9% kemudia oleskan gentamicin zalf 2x
Kenalog 2x/hari
Ambroxol 10mg, Salbutamol 1mg  3x1 pulv

10
Tanggal 18 Februari 2018 07.30
S: Ruam yang timbul sudah sebagian kering, pasien aktif. Os tidak mengeluh demam kejang.
Batuk masih tetap ada tetapi hanya sesekali saja. BAB 2x, konsistensi kental, warna coklat,
ampas (+), tidak ada darah. BAK sering warna putih keruh. Nafsu makan baik.
O: KU: Tampak sakit sedang Kesadaran: Compos Mentis BB: 20kg
HR: 97x/menitRR: 23x/menit Suhu: 36.4oC TD: 90/70mmHG
Pemeriksaan Fisik:
Wajah : Tampak macula eritema pada mulut tetapi sudah berkurang
Ekstremitas atas : Makula eritema (+/+) pada telapak tangan dan lengan bawah
Tetapi sudah berkurang
Ekstremis bawah : Makula eritema (+/+) tetapi sudah berkurang
Lain-lain : Dalam batas normal
A: Epilepsi putus obat, Hidrocephalus post VP Shunt, HFMD
P: BPL
Ikalep 2 x 5,5 ml
Gentamicin zalf region pergelangan tangan
Stesolit 10mg prertektal jika kejang

11
ANALISA KASUS
Pada kasus ini, pasien mengalami gejala bahwa adanya kejang. Kejang terjadi saat pasien
berusia 8 bulan. Belakangan ini pasien sering kejang terutama saat os sedang mau tidur. Kejang
terjadi >5x dalam sehari bahkan sebelum masuk RSUD Tarakan menurut ibunya pasien kejang
hingga 10x, kejang timbul selama <1 menit. Kejang berupa kelojotan pada kedua tangan, mata
mendelik keatas, dan selesai kejang os merasa lemas bahkan sampai tidak sadarkan diri. Kejang
yang terjadi terhadap pasien timbul secara tiba-tiba, tidak harus adanya demam dahulu. Gejala
pada pasien ini serupa dengan diagnosis penyakit status epileptikus. Epilepsi merupakan
penyakit pada otak akibat peningkatan kerentanan sel neuron terhadap kejadian epileptik yang
berdampak pada aspek neurobiologist, psikologis, kognitif, dan social individu.1 Menurut ILAE
2014, epilepsi dapat ditegakkan pada salah satu kondisi berikut:
1. Terdapat minimal dua episode kejang tanpa diprovokasi
2. Terdapat satu episode kejang tanpa diprovokasi, namun resiko rekurensi dalam 10 tahun
dengan resiko rekurensi setelah dua episode kejang tanpa provokasi
3. Sindrom epilepsi berdasarkan pemeriksaan elektroensefalografi
Epilepsi bisa disebut sebagai kejang berulang 2 kali atau lebih tanpa penyebab.
Sebelum kejang anak masih beraktifitas seperti biasa, setelah kejang anak juga kembali
beraktifitas seperti biasa. Kejang pada epilepsi tidak harus kejang kelojotan dan
mengeluarkan busa, serangan kejang dapat berupa kaku di seluruh tubuh, kejang
kaku/kelojotan sebagian lengan atau tungkai bawah, kedutan di sebelah mata dan
sebagian wajah, hilangnya kesadaran sesaaat (anak tampak bengong/seperti melamun),
tangan atau kaki tiba-tiba tersentak atau anak tiba-tiba jatuh seperti kehilangan tenaga.
Gejala klinis kejang sangat tergantung dari area otak yang menjadi fokus kejang.2
Dari defenisi tersebut jelas bahwa pasien ini menderita penyakit epilepsi, selain itu juga menurut
ILAE pasien ini masuk dalam kriteria nomor satu.
Pasien ini diberikan obat untuk penanganan kejang, yaitu diazepam dan asam valproat.
Pada kasus kejang penanganan pertama adalah menilai saluran nafas, lalu memonitori tanda
vital. Bila gagal dilanjutkan pemberikan obat, salah satunya adalah diazepam.3 Selain itu juga
pasien sebelum pulang diberikan obat untuk mengontrol kejang, seperti asam valproat,
fenobarbital, carbamazepine, dan fenitoin.4

12
Pasien juga mengeluh adanya bintik-bintik merah di lokasi mulut, tangan dan kaki selain
itu timbul juga didengkul pasien. Bintik merah berupa macula eritema. Sebelum ruam timbul
pasien sempat demam sekitar 1-2 hari. Gejala ini khas dengan penyakit Hand, Food, Mouth
Disease. disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus. Spesies enterovirus yang paling sering
menyebabkan HFMD adalah Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71). HFMD
umumnya diawali dengan demam, nyeri tenggorokan/menelan, nafsu makan yang menurun, dan
nyeri/tidak enak badan. Setelah demam satu sampai dua hari, timbul bintik-bintik merah di
rongga mulut (umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut) yang kemudian pecah
menjadi sariawan. Kemudian, 1-2 hari timbul juga ruam-ruam kulit dan bintik-bintik merah di
telapak tangan dan kaki. Meskipun kelainan selaput lendir dan kulit pada HFMD terutama
melibatkan rongga mulut, telapak tangan dan kaki, namun ruam dapat juga timbul di tungkai,
lengan, bokong dan kulit sekitar kemaluan.5 Penderita HFMD dapat menyebarkan virus HFMD
melalui sekret/cairan hidung (ingus), tenggorokan (ludah, dahak), lesi kulit yang pecah, dan dari
kotorannya. Penyebaran ini mudah terjadi bila terdapat kontak erat dengan penderita (berbicara,
memeluk, mencium), melalui udara (bersin, batuk), kontak dengan kotoran pasien, dan kontak
dengan objek atau permukaan yang tercemar oleh virus HFMD (memegang gagang pintu,
permukaan meja, perabotan yang tercemar virus tersebut, dll). Penderita HFMD umumnya
sangat menularkan virus pada minggu pertama sakit. Beberapa pasien bahkan masih menularkan
virus beberapa hari atau minggu setelah gejala dan tanda infeksi hilang.5
Tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD, pengobatan bersifat simptomatik untuk
mengatasi keluhan yang ditimbulkannya. Parasetamol dapat diberikan untuk mengatasi demam
dan nyeri. Kompres hangat dan pemberian minum yang lebih sering juga membantu menurunkan
demam anak. Pada anak yang lebih besar, kumur-kumur dengan obat kumur dapat mengurangi
nyeri akibat luka-luka di mulut.5

13
Daftar Pustaka
1. Fisher RS, Acevedo C, Arzimanoglou A, Bogacz A, Cross JH, Elger CE, et al. ILAE
official report: a practical clinical definition of epilepsy. Epilepsia Apr 2014;55(4);457-
82
2. Handryastuti S. IDAI: Seputar epilepsi pada anak. 2016.
http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/seputar-epilepsi-pada-anak.
diakses pada tanggal 26 Februari 2018
3. Pudjidi Ah, Latief A, Budiwardhana N. buku ajar pediatric gawat darurat. Jakarta: IDAI;
2011.hal.32-3
4. Glauser T, Ben-Manachem E, Burgeois B, Cnaan A, Chadwick D, Guerreiro C, et al.
ILAE treatment guidelines: evidence-based analysis of antiepileptic drug efficacy and
effectiveness as initial monotherapy for epileptic seizures and syndromes. Epilepsia
2006;47(7):1094-120.
5. Hutapea EI. IDAI: Hand foot and mouth disease. 2016.
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd.
diakses pada tanggal 26 Februari 2018

14