Anda di halaman 1dari 12

Golkar, dari Golongan Fungsional

Tentara Jadi Anak Emas Orba


Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id

Sekber Golkar dibentuk pada 20 Oktober 1964 seiring naiknya kekuatan politik golongan fungsional.
Militer menjadi bagian tak terpisahkan dari kemenangan dan dominasi Golkar di masa Orde Baru.

Soeharto saat menjabat presiden terlibat pembicaraan dengan Ali Moertopo (kiri).

tirto.id - “Di balik baju hijau tentara, setiap anggota ABRI adalah kader Golkar. Jadi anggota ABRI
dilarang ragu-ragu mendukung Golongan Karya. ABRI dan Golkar sejak awal hidup tidak pernah
terpisah, dan yang akan datang tidak boleh berpisah.”
Kalimat tersebut diucapkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Hartono di hadapan
hadirin Temu Kader Golkar di Lapangan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dua puluh
satu tahun silam, tepatnya 13 Maret 1996
Bisa dibayangkan betapa bersemangat dan mantap batinnya Hartono saat itu. Ia berpidato di hadapan
5000 kader Golkar. Dan, tidak hanya Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Siti Hardiyanti
Rukmana saja, juga ada empat petinggi militer, yakni Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) Letjen
TNI Syarwan Hamid, Asisten Teritorial (Aster) KSAD Mayjen Suparman, dan Panglima Daerah
Militer (Pangdam) IV/Diponegoro Mayjen TNI Soebagyo, turut menyaksikannya kala itu.
Sangat sedikit yang membayangkan dua tahun kemudian harapan Hartono agar ABRI dan Golkar
selalu bersama itu pupus. Pertengahan 1997, krisis moneter melanda Indonesia. Peristiwa ini pun
diikuti serangkaian demonstrasi oleh organisasi masyarakat, mahasiswa, dibantu sejumlah elit politik
menuntut diadakannya reformasi, termasuk dalam relasi sipil-militer di Indonesia.
Hasilnya, Soeharto berhenti dari jabatan presiden pada Mei 1998. Puncaknya, pada Oktober 1998,
ABRI memutus hubungan resmi dengan Golkar.
Beringin Merindukan Tentara?

Sembilan belas tahun setelah reformasi 1998, di akhir November 2017, Ketua Umum Golkar, Setya
Novanto, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi e-KTP.
Kursi tertinggi partai berlambang beringin pun kini menjadi incaran. Politisi senior Golkar, Ridwan
Hisyam, menyarankan Golkar kembali dipimpin oleh tentara seperti di era Orde Baru (Orba).
"Kita harus melihat kembali sejarah bahwa Golkar terbentuk setelah seminar Angkatan Darat
menyatakan perlu ada partai yang memungkinkan tentara masuk ke pemerintahan untuk mengawal
Orde Baru," ujar Ridwan Hisyam, Rabu (21/11/2017).
Memang, Golkar langgeng berkuasa di era Orba-nya Soeharto, namun kemunculannya tidak lepas
dari "golongan fungsional" – kelompok yang dibagi atas fungsi kekaryaan, misalnya golongan buruh,
guru, tani, tentara, pemuda, atau seniman - yang dijadikan anggota Dewan Nasional oleh Presiden
Sukarno pada 9 April 1957.
Lembaga ini dibayangkan Sukarno bisa menjadi wadah penyalur aspirasi di luar partai-partai politik.
Lantas, bagaimana golongan fungsional ini kemudian terkait dengan Golkar dan tentara?
Awad Bahasoan dalam “Golongan Karya, Mencari Format Politik Baru” menjelaskan setidaknya ada
tiga organisasi yang menjadi cikal bakal pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber
Golkar) yang didirikan pada 20 Oktober 1964 guna memberikan perlindungan kepada kelompok-
kelompok fungsional. Ketiganya menghimpun golongan fungsional dan dijalankan oleh tentara.
Yang pertama adalah Koperasi Swadiri Gotong Royong (Kosgoro). Dibentuk sekitar 1957, organisasi
ini diketuai Mayor Isman. Anggota organisasi ini umumnya berasal dari kalangan tentara republik
Indonesia pelajar (Trip) yang bertempur di Surabaya. Melalui wadah ini mereka mendirikan koperasi
guna memenuhi kesejahteraan mereka.
Yang kedua Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR). Organisasi ini dibentuk pada 3
Januari 1960 oleh Kolonel Sugandhi. Kegiatan organisasi ini meliputi bidang-bidang agama, sosial,
pendidikan, dan kebudayaan.
Sedangkan yang ketiga adalah Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) yang
didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1960 oleh Kolonel Suhardiman. SOKSI berfokus menghimpun
massa dari sektor buruh.
Awad menjelaskan strategi organisasi ini berlawanan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang
sama-sama memobilisasi buruh. Jika PKI mempertentangkan relasi antara pekerja dan pemilik modal,
SOKSI mengutamakan hubungan yang serasi antara keduanya.
Bisa disaksikan, tiga organisasi tersebut (Kosgoro, Soksi dan MKGR) didirikan oleh orang-orang
militer.
Anak Emas Orde Baru

Ketua Pertama Sekber Golkar adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono -- lagi-lagi seorang
militer. Lalu, melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I yang dilaksanakan pada Desember
1965 terpilih ketua baru, Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati -- militer lagi.
“Bagi Sekber Golkar peranan pegawai negeri dan bantuan militer akan memunyai dampak yang luar
besar terhadap struktur Golkar sendiri baik formal maupun struktural,” sebut Awad Bahasoan seraya
menyimpulkan berbagai perlakuan istimewa pemerintah yang dipimpin Suharto. Melalui Sidang
Istimewa Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada 7 Maret 1967, Suharto ditunjuk
ditunjuk sebagai presiden.
Dua tahun kemudian, terbit Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 1969 (Permen 12)
yang melarang anggota Golongan Karya yang menduduki jabatan di DPRD memiliki keanggotaan
dari partai-partai politik. Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1970
yang melarang semua pegawai negeri termasuk anggota ABRI terlibat dalam kegiatan-kegiatan partai
politik.
“Ini berarti sikap anti-partai berwujud dalam bentuk direnggutnya basis-basis massa yang selama ini
yang selama ini menjadi sumber bagi kekuatan suara dan dukungan partai, terutama Partai Nasional
Indonesia (PNI),” sebut Awad.
Hasilnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1971, Golkar keluar sebagai pemenang dengan 62,82
persen suara nasional. Inilah awal kemenangan mutlak beruntun yang didapatkan Golkar di setiap
Pemilu era Orba.
Dalam beberapa kesempatan, Golkar seolah diberikan fasilitas pengerahan tentara untuk menyudutkan
pesaing politik. Baskara T. Wardaya dalam Bung Karno Menggugat mencatat pada April 1982, terjadi
bentrokan antara para pendukung Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Peristiwa ini
memicu diturunkannya tentara ke sana. Para pendukung PPP pun ditembaki. Dalam peristiwa ini,
tujuh orang meninggal.
Kemudian, dalam suatu peristiwa pada 27 Juli 1996 yang dikenal dengan sebutan “Kudatuli” markas
Partai Demokrasi Indoneisa di Jalan Diponegoro Jakarta diserbu tentara dan polisi setelah mereka
menunjukkan gelagat anti-Suharto.
“Dengan dukungan amat kuat dari pemerintah dan militer macam itu tidak mengherankan jika dalam
pemilu-pemilu dari 1971 hingga 1997 Golkar selalu ‘menang’ dengan mengantongi rata-rata lebih
dari 70 persen suara, dan penguasa tunggal Soeharto berjaya sampai 32 tahun,” sebut laki-laki yang
akrab disapa Romo Bas itu.

Sumber : https://tirto.id/golkar-dari-golongan-fungsional-tentara-jadi-anak-emas-orba-cAy7
Kemenangan dan Kekalahan Supremasi
Sipil
Reporter: Husein Abdulsalam | 08 Oktober, 2017 | tirto.id
Kebijakan supremasi sipil atas militer bergulir seiring Soeharto lengser
Pemerintahan Gus Dur melakukan sejumlah langkah politik yang bagus termasuk menghapus
Dwifungsi ABRI
Supremasi sipil terus diusahakan sejak lengsernya Soeharto, namun resistensi bukannya tidak ada

Presiden Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian
berjalan kaki menuju lokasi Upacara Parade dan Defile HUT ke-72 TNI Tahun 2017, Banten, Kamis (5/10/2017). ANTARA
FOTO/Setpres/Agus Suparto
tirto.id - Presiden Jokowi dan Panglima Tentara Nasional Indonesia Gatot
Nurmantyo tersenyum sembari bertepuk tangan melihat atraksi yang ditampilkan prajurit TNI.
Keduanya terlihat akrab menikmati rangkaian acara dalam peringatan HUT TNI di Cilegon, Banten,
Kamis kemarin (5/10). Tidak ada raut masam di antara keduanya.
Namun di media sosial, perang cuit sedang terjadi. Akun @hotradero memantik perang tersebut. Ia
mencuit, “Dari pakaian dalam, seragam, hingga tank, kapal perang dan pesawat tempur – dibiayai
sipil lewat pajak. Maka junjung tinggi supremasi sipil.” Cuitan ini muncul dalam rangkaian cuitannya
mengenai militer di Indonesia.
Salah satu yang merespons adalah akun Pusat Penerangan TNI @puspen_TNI. Akun itu mencuit,
“TNI juga bayar pajak bung. Kita sama2 bayar pajak. Supremasi sipil mana yg dilanggar TNI???”
Mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melongok sejarah dan peran militer saat Orde
Baru. Kala itu tentara tidak hanya berperan sebagai alat pertahanan negara, tetapi merangsek ke
urusan sipil. Yang paling kentara adalah penerapan Dwifungsi ABRI, faksi ABRI dalam DPR/MPR,
dan tentara menjabat dalam jajaran birokrasi sipil.
Sejak Juli 1998, ada 14 provinsi dari total 27 provinsi di Indonesia (55,5 persen) yang dipimpin oleh
anggota militer. Sementara ada 41,1 persen walikota/bupati dipegang anggota militer di seluruh
Indonesia.
Kehadiran supremasi sipil di Indonesia hampir nihil pada era pemerintahan Soeharto. Pertanyaannya:
Bagaimana situasi supremasi sipil di bawah demokrasi Indonesia pasca-Soeharto?

“Bersatu Sehati Hapus Dwifungsi ABRI”

"Kita tidak boleh terus-menerus membiarkan berbagai kelompok kepentingan memanfaatkan


kesempatan untuk terus menyudutkan posisi ABRI. Kita harus segera menyikapi semua permasalahan
yang menyulitkan posisi ABRI itu dengan lebih pro-aktif.”
Pernyataan itu disampaikan oleh Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, saat itu menjabat
Kepala Staf Sosial Politik ABRI. Pangkal pernyataan itu adalah maraknya demonstrasi jelang Sidang
Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat, 10-13 November 1998.
Para demonstran menuntut agar ABRI meninggalkan peran sosial-politiknya, termasuk mencabut
dwifungsi ABRI. Singkat kata, mereka ingin ABRI kembali ke barak alias menjalankan fungsi
pertahanan dan keamanan saja. “Bersatu sehati hapus dwifungsi ABRI” menjadi jargon yang kerap
menggema saat demonstrasi berlangsung.
Menurut Yudhoyono, tuntutan yang dilayangkan kepada ABRI saat itu sudah di luar proporsi normal.
Lulusan Akademi Militer di Magelang pada 1973 ini menyatakan bahwa ABRI sedang melakukan
konsolidasi internal dan berharap masyarakat "tidak meragukan" niat ABRI untuk berperan dalam
proses reformasi.
Dalam "The Politics of Military Reform in Post-Soeharto Indonesia" (2006), pakar politik
Indonesia Marcus Mietzner mencatat dari Juli hingga November 1998, angin reformasi mulai
berembus dari dan kepada institusi ABRI. Pada periode itu Panglima ABRI Wiranto kerap
melontarkan apa yang disebut "Paradigma Baru".
Setidaknya ada empat poin yang disampaikan oleh Wiranto, yang kini menjabat Menteri Koordinator
Politik, Hukum, dan Keamanan. Pertama, tidak semua urusan nasional dipegang oleh militer. Kedua,
pendekatan sebelumnya untuk menduduki posisi politik berubah menjadi memengaruhi politik dari
kejauhan. Ketiga, pengaruh itu diberikan secara tidak langsung dan bukan secara langsung. Keempat,
angkatan bersenjata mengakui perlunya pembagian peran dengan matra militer nasional lain.
ABRI Abad XXI: Redefinisi, Reposisi, dan Reaktualisasi Peran ABRI Dalam Kehidupan
Bangsa. Sekitar November 1998 muncul kebijakan bahwa tentara tidak boleh menduduki jabatan
birokrasi sipil. ABRI setuju mengurangi wakil di DPR dari 75 kursi menjadi 38 kursi dan 10 persen
kursi di DPRD.

Menjauhkan Militer dari Politik

Gebrakan segar mulai muncul setelah Sidang Istimewa MPR 1998. Pada Oktober 1998, ABRI
memutus hubungan resmi mereka dengan Golkar, partai penguasa yang menyokong pemerintahan
Orde Baru.
Sikap ini bisa dibaca dari pernyataan Jenderal TNI Hartono, saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan
Darat (KSAD), saat Temu Kader Golkar di Lapangan Matesih, Kabupaten Karanganyar, 13 Meret
1996. Menurutnya, di balik baju hijau tentara, setiap anggota ABRI adalah kader Golkar.
"Jadi anggota ABRI dilarang ragu-ragu mendukung Golongan Karya. ABRI dan Golkar sejak awal
hidup tidak pernah terpisah, dan yang akan datang tidak boleh berpisah," ujar Hartono.
Setelah memutus hubungan dengan Golkar, ABRI menjamin akan bersikap netral dalam pemilihan
umum yang bakal digelar pada Juni 1999. Selain itu, Presiden B.J. Habibie melakukan reorganisasi
Departemen Pertahanan dan Keamanan menjadi Departemen Pertahanan.
Rezim berganti pada 1999. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur terpilih sebagai presiden. Semasa
menjabat dari 1999-2001, sejumlah reformasi TNI dilakukan pemerintahan Gus Dur. Pada 2000,
doktrin Dwifungsi ABRI dicabut. Dan berdasarkan TAP MPR RI VI/MPR/2000 tentang Pemisahan
TNI dan Kepolisian, TNI diberi tugas hanya untuk pertahanan serangan dari luar negeri.
Pasal 5 ayat 5 ketetapan itu menyatakan anggota TNI hanya dapat menduduki jabatan sipil setelah
mengundurkan diri atau pensiun dari dinas ketentaraan. Sementara pasal 10 ayat 5 menyebutkan
anggota kepolisian dapat menduduki jabatan di luar kepolisian setelah mengundurkan diri atau
pensiun dari dinas kepolisian.
Langkah konkret penegakan supremasi sipil semasa pemerintahan Gus Dur juga terlihat ketika
pembubaran Direktorat Sosial Politik Departemen Dalam Negeri dan Badan Koordinasi Stabilitas
Nasional, institusi yang kerap menjadi perpanjangan militer dalam urusan sipil, atau dulu dikenal
Kopkamtib alias Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban.
Gus Dur juga mengubah tradisi lama yang bertahan sejak 1950 dengan mengangkat Juwono
Sudarsono sebagai menteri pertahanan, orang sipil non-militer pertama yang menduduki pos militer
tersebut. Gus Dur juga mengangkat Laksamana TNI Widodo Adi Subroto sebagai Panglima TNI. Dia
adalah tentara Angkatan Laut. Semasa Orde Baru, jabatan Panglima TNI selalu dipegang oleh
Angkatan Darat.
Di masa pemerintahan Gus Dur juga terbit undang-undang tentang pertahanan negara tahun 2002,
yang mengatur Kementerian Pertahanan di bawah otoritas sipil.
Aturan soal supremasi sipil atas tentara diperkuat dalam Undang-Undang 34/2004 tentang TNI. UU
ini menyebutkan bahwa “TNI dibangun dan dikembangkan secara profesional sesuai kepentingan
politik negara yang mengacu pada nilai dan prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia."
Supremasi Sipil Belum Selesai

Sejumlah petinggi militer punya cara pandang tersendiri menyikapi reformasi TNI. Agus
Wirahadikusumah melihat "Paradigma Baru" yang digaungkan Wiranto sama sekali tidak baru.
Menurutnya, hal ini adalah konsep TNI sebelum 1998 jika kelak Soeharto mengizinkan reformasi
terbatas.
Sejumlah petinggi militer punya cara pandang tersendiri menyikapi reformasi TNI. Agus
Wirahadikusumah melihat "Paradigma Baru" yang digaungkan Wiranto sama sekali tidak baru.
Menurutnya, hal ini adalah konsep TNI sebelum 1998 jika kelak Soeharto mengizinkan reformasi
terbatas.
Mayor Jenderal Saurip Kadi, yang menjabat Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat pada
2001, juga mendukung langkah koleganya tersebut.
“Mari kita lihat realistis di lapangan. Untuk daerah-daerah maju, Kodim, Koramil, dan Babinsa tak
lebih dari instrumen kekuasaan atau kelompok berduit. Yang terjadi selama ini diambil alih oleh TNI
AD. Ini tidak benar. TNI AD itu urusannya pertahanan, biarlah yang lain diurus oleh pemerintah
daerah dan departemen lain,” ujar Saurip.
Saurip menyatakan bahwa demokrasi Indonesia tidak akan berjalan jika Dwifungsi ABRI masih
berlaku. “Pimpinan TNI AD sudah final untuk menghapus dwifungsi. Dengan dwifungsi, rakyat tidak
berdaya, karena hukum tidak dikedepankan. Ini tabiat,” katanya.
Hingga kini komando teritorial TNI masih eksis. Meski Dwifungsi ABRI telah dihapus, tetapi tentara
kerap juga dipakai oleh pemerintahan sipil: dari pembubaran diskusi di Perpustakaan Jalanan
Bandung pada 2016 hingga penggusuran paksa di Jakarta pada 2015 dan 2016.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat, pada 2016, Gatot
Nurmantyo menyatakan agar tentara kembali punya hak politik. Pada Mei 2017, ia hadir di tengah
Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar dan membacakan puisi berjudul “Tapi Bukan Kami” yang
berisi kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo mengenai situasi nasional mutakhir.
Yang paling mutakhir, memasuki bulan September 2017, Gatot menginstruksikan jajaran militer
untuk nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI. Seruan ini diteruskan kepada warga sipil di
sekitar markas TNI.

Sumber : https://tirto.id/kemenangan-dan-kekalahan-supremasi-sipil-cxWa
Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id

Sumber :

Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id


Sumber :

Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id

Sumber :

Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id


Sumber :