Anda di halaman 1dari 45

Detergen Pakaian Adalah Rinso

Reporter: Petrik Matanasi | 19 November, 2017 | tirto.id


Rinso pertama kali diperkenalkan oleh Robert Spear Hudson
Di Indonesia, sebagian orang menyebut detergen sebagai Rinso. Padahal Rinso
adalah merek salah salah satu detergen di Indonesia.

Ilustrasi Rinso. FOTO/Istimewa

tirto.id - Serbuk detergen yang beredar di pasaran Indonesia sangat beragam. Ada
Rinso dari Unilever, Daia dan So Klin produksi Wings, Attack produksi Kao, dan
masih banyak lagi. Meski merek yang beredar sudah sangat beragam, akan tetapi
di beberapa daerah orang-orang Indonesia lebih sering menyebut detergen
penghasil busa untuk mencuci pakaian sebagai: Rinso
Di Indonesia, bisa dibilang Rinso menjadi nama generik bagi produk detergen
untuk mencuci pakaian. Jika seorang ibu menyuruh anaknya “belikan Rinso ya,
Nak!” maka detergen yang dimaksud belum tentu bermerek Rinso. Bisa bermerek
Attack, So Klin, Daia atau yang lainnya. Rinso pun bernasib seperti Honda—untuk
sebut sepeda motor, Sanyo—untuk pompa air listrik atau Aqua—untuk air mineral.
Rinso menjadi generik bagi produk detergen di Indonesia.
Di Indonesia, Rinso termasuk merek top. Seperti juga sabun merek Lux dan pasta
gigi Pepsodent. Hermawan Kertajaya dkk dalam buku Positioning, Diferensiasi
dan Brand (2004), menyebut Rinso sebagai market leader detergen (pemimpin
pasar detergen), dalam hal ini Indonesia.
“Dulu, Rinso hanya memiliki satu jenis saja untuk satu kebutuhan. Kini, kalau kita
lihat, Rinso memiliki banyak sekali varian produk. Ada Rinso yang dikhususkan
untuk menjaga agar warna pakaian tetap cemerlang, Rinso yang dikhususkan untuk
proses mencuci dengan cepat, Rinso yang dikhususkan untuk mesin cuci, dan
sebagainya,” tulis Hermawan Kertajaya dalam Strategi membidik Pasar
Ibu (2005). Rinso hendak menjadi solusi mencuci bagi kaum ibu.
Pihak Unilever dalam situswebnya, melalui mengklaim “Rinso diluncurkan di
Indonesia sebagai merek detergen pertama di negara ini.” Ketika pertama kali
dirilis di Indonesia, Rinso adalah produk yang umum dipakai di Amerika, Inggris
dan Australia sejak 1918.
Rinso, menurut David Harvey dalam West Browich Buses (2014), pertama kali
diperkenalkan oleh Robert Spear Hudson. Dia membuka pabrik di Bank Hall,
Liverpool, Inggris, pada 1875. Pada masa-masa itulah Rinso diperkenalkan.
Perusahaan milik Robert Hudson mengeluarkan buku terbitan berjudul Rinso
Works While You Sleep pada 1880. Judul cetakan itu, seperti jargon dan cara kerja
Rinso yang diperkenalkan dalam iklan-iklan lawas Rinso: Rinso bekerja ketika kau
terlelap. Detergen Rinso bekerja ketika pakaian direndam dalam air yang
dilarutkan detergen.
Apa yang dibangun Robert Spear Hudson itu kemudian dijual anaknya, Robert
William, kepada Lever Brother—yang belakangan jadi Unilever pada 1908.
Produk ini lalu masuk ke Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru dan akhirnya
masuk ke Indonesia juga.
Hans W. Wamsteker, dalam 60 Years Unilever in Indonesia 1933-1993 (1993),
mencatat serbuk detergen Rinso di Indonesia diluncurkan pada tahun 1970 di
bawah komando Unilever. Sejak 1933, menurut buku Perusahaan Indonesia
Menghadapi Abad 21 (1997), Unilever punya pabrik di Angke, Jakarta. Rinso
pernah ikut diproduksi di sana. Produk lain Unilever di Indonesia, selain Rinso
adalah: Sunlight, Lux, Lifebuoy, Blue Band juga Pepsodent.
Dalam pemasarannya, menurut Hans W. Wamsteker, Rinso menggandeng
presenter dan penyanyi kondang Kris Biantoro sebagai bintang iklan Rinso. Dalam
iklan Rinso (1980), berdurasi sekitar 1 menit dan bisa ditemukan di Youtube,
digambarkan Kris dan ibu-ibu membuktikan keampuhan Rinso. Jargon yang
diusung Rinso di Indonesia adalah: Berani Kotor Itu Baik.
Iklan yang dibintangi Kris itu cukup sukses. Rinso pun menjadi brand yang kuat
melekat di Indonesia. Namun, kisah sukses Rinso berbanding terbalik dengan kisah
Kris. Sebagai bintang iklan Rinso, Kris Biantoro punya cerita yang cukup pahit.
“Tujuh-belas tahun saya menampilkan barang yang satu ini, tetapi perolehan saya
tak seberapa dibanding jumlah Rinso yang terjual di waktu yang sama,” aku Kris
Biantoro dalam autobiografinya, Manisnya Ditolak: Sebuah Autobiografi (2004).
Kris membandingkan dirinya dengan si bomseks seksi asal Perancis, Brigitte
Bardot, yang jadi bintang iklan produk Unilever lain, yakni sabun mandi Lux.
Bardot jadi bintang iklan yang ditayangkan di kawasan Eropa. “Ia (Bardot) dibayar
puluhan juta dolar. Saya jadi bintang Rinso untuk Indonesia, sebuah kawasan yang
cacah penduduknya tak kalah dengan Eropa, tetapi saya hanya mendapat sekian
juta rupiah,” aku Kris.
Kris hanya pasrah dan berharap pihak Unilever di Indonesia tergerak hatinya.
Berhubung tak ada perjanjian legal, seperti halnya kontrak iklan lain, Kris akhirnya
hanya bisa gigit jari dan mengaku: “Saya mencatat kontrak dengan Unilever
(dalam iklan Rinso) merupakan kontrak terburuk dan terpahit dalam sejarah saya
membintangi iklan.”

Sumber : https://tirto.id/detergen-pakaian-adalah-rinso-cz6r
Sejarah Perusahaan

Sebelum Honda Menjadi Raja di


Jalan Raya
Reporter: Petrik Matanasi | 14 September, 2017 | tirto.id
Saat Jepang sedang menjajah Indonesia, Honda hanyalah nama seorang pemuda yang gandrung
otomotif.
Saking populernya, Honda menjadi idiom bagi (1) sepeda motor dan (2) serangan penyakit malaria.
Sejarah meroketnya nama besar Honda di industri otomotif.

Soichiro Honda berpose dengan prototype mobil buatannya. FOTO/Honda

tirto.id - Di beberapa daerah, ada istilah unik untuk menyebut kendaraan roda dua.
Mereka tak menyebutnya sebagai sepeda motor. Lidah orang-orang di daerah-
daerah itu lebih suka menyebut sepeda motor sebagai: honda. Istilah honda, bukan
dari Indonesia, tapi dari Jepang. Di Jepang, sepeda motor tak disebut sebagai
honda, melainkan Baiku.
“Semua sepeda motor di Madura, apa pun mereknya, selalu disebut Honda,” tulis
Islahudin dalam Gus Dur Menertawakan NU (2010).
Saat Jepang menjajah Indonesia, Honda hanyalah nama pemuda yang gandrung
otomotif. Nama lengkap pemuda itu: Soichiro Honda. Pemuda kelahiran 17
November 1906 ini, menurut Mick Walker dalam British Motorcycles of the 1960s
and ’70s, sudah mulai berbisnis suku cadang piston ring di bawah bendera Tokai
Seiki. Setelah kecelakaan yang dialami pada 1936, menurut Peter Rakestrow
dalam The Honda Gold Wing (2016), Honda kemudian mendirikan perusahaan
sendiri pada November 1937.
“Selama masa-masa perang, 1937-1945, perusahaan Honda, Tokai Seiki, makmur
oleh permintaan militer atas produk-produk perusahaan, termasuk piston ring dan
baling-baling logam pesawat,” catat The 20th Century Go-N: Dictionary of World
Biography, Volume 8 (1999) suntingan Frank N. Magill.
Setelah perang selesai, Tokai Seiki yang aset-asetnya jadi sasaran bom-bom udara
sekutu itu kemudian dijual kepada Toyota. Menurut Masaaki Sato dalam The
Honda Way (2006), Tokai Seiki dijual 450 ribu Yen pada September 1945. Pada
tahun-tahun tersebut, dia belum menjual sepeda motornya sampai ke Indonesia
yang kala itu jadi daerah pendudukan Jepang.
Setelah Oktober 1946, barulah ada lembaga bernama Honda Technical Research
Institute di Hamamatsu. Lembaga itu bekerja di ruangan kayu berukuran 18X12
kaki. Untuk kepentingan usaha, Honda membeli 50 unit mesin bensin sisa perang
yang digunakan militer sebagai generator. Soichiro Honda pun berimprovisasi
dengan pengetahuan dan kemampuan otomotif yang diasahnya sejak muda.
“Dia menemukan cara memasang mesin untuk menjadikannya tenaga pedal
sepeda,” tulis Peter Rakestrow.
Minimnya bahan diakali Honda dengan membuat sendiri suku cadang lainnya.
Hasilnya adalah sepeda motor dengan mesin dua tak 50 CC yang resminya dikenal
sebagai A-type.
Menurut Mick Walker, “ketika Honda Motor Company menjadi perusahaan pada
September 1948, A-Type punya capaian hebat dengan pangsa yang menguasai 60
persen pasar dalam negeri Jepang.”
“Soichiro menamakan mesin-mesin Honda sesuai abjad, mulai dari A-Type, diikuti
oleh B-Type dan C-Type,” tulis Masaaki Sato.
Disusul D-Type pada 1949 lalu E-Type pada pertengahan 1951. Menurut Mick
Walker, E-type adalah sepeda motor 4 tak pertama Honda. Rata-rata produksi
motor itu mencapai 130 unit per hari.
Meski titik cerah terlihat, bukan berarti Honda tak punya masalah. Usahanya nyaris
bubar pada 1953 karena cash-flow perusahaan sempat tersendat. Oktober 1958,
Honda merilis sepeda motor C-100 Super Cub.
Setelah membangun industri sepeda motor, Honda juga membangun industri
mobilnya. Mobil sport pertama mereka S-360 sudah pamerkan di Tokyo Motor
Show 1962. Sementara, truk kecil pertama mereka, yang diberi nama T-360, mulai
diproduksi pada 1963 hingga 1967.
Belakangan, Honda tak lagi identik sebagai produsen truk. Mobil Honda menjadi
mobil-mobil perkotaan. Baik sepeda motor dan mobil buatan Honda berhasil juga
mencapai Amerika.
Sebelum dirilisnya C-100 Super Cub itu, produk-produk Honda belum jadi raja
jalanan. Menurut catatan Firman Lubis, Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa
Remaja (2008), “Sepeda motor buatan Jepang seperti Honda, Yamaha, dan Suzuki
yang sejak 1960-an menyerbu masuk dan merajai jalanan Jakarta belum ada di era
1950-an.”
Menurut Hersri Setiawan, mantan tahanan politik (tapol) 1965 yang dibuang ke
Pulau Buru, dalam bukunya Kamus Gestok (2003), “Sekitar tahun 1965, ketika
G30S dan terjadi penangkapan terjadi, kendaraan bermotor roda dua merek Honda
buatan Jepang, sedang membanjiri pasaran motor Indonesia.”
Di Pulau Buru, dengan mengutip Hersri, naik Honda adalah,“ungkapan pelembut
untuk penyakit malaria. Sebutan itu diberikan tapol Buru dengan melihat gejala si
penderita, suhu badan panas tapi merasa sangat dingin dan tubuh menggigil keras
berguncang-guncang seperti orang di atas (sepeda motor) Honda.”
Nama yang menjadikan sepeda motor Honda menjadi raja jalanan di Indonesia
adalah Astra International.
Tak hanya Astra yang meraup rezeki dari karya cipta Honda. Sejak 1968, menurut
Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, Hadi Budiman
alias Ang Kok Ha mulai menjual Honda pada 1968. Kebetulan, seorang kawannya
yang jadi importir, tak mampu bayar utang hingga izin impornya dicabut. Hak
impor dan status distributor mobil Honda pun didapatkan Hadi pada 24 Maret
1970. Hadi melakukannya di bawah bendera PT Istana Motor Raya (Imora).
Ketika Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari) meledak di Jakarta, sepeda motor
Honda dan juga mobilnya—bersama merek-merek lain—jadi incaran amuk massa
untuk dibakari. Malari memang, salah satunya, menyembulkan sentimen anti
(modal asing) Jepang. Sehingga Honda pun kena imbasnya (baca juga: Shinzo Abe
ke Indonesia Bertepatan dengan Malari).
Pesohor Indonesia 1980an yang pernah punya mobil Honda adalah penyanyi
legendaris Chrisye. “[Namun] mobil Honda Accord, mobil pertama kesayangan
saya (yang dibeli sebelum menikah), dan sedan Mercy warna merah bata sempat
dijual karena kami membutuhkan dana mendesak,” aku Chrisye seperti ditulis
Albertine Endah dalam Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007).
Berhubung pemilik mobil tidak banyak, seorang anak yang punya mobil tentu
menjadi kebanggaan orang tua. “Papi cukup bangga ketika saya bisa membeli
sebuah sedan Honda Accord warna cokelat,” kenang Chrisye.
Perusahaan yang didirikan Honda itu tak melulu mobil dan sepeda motor. Tapi
juga generator listrik, robot, bahkan pesawat jet. Namun, masih ada sebagian orang
Indonesia yang masih menyebut sepeda motor sebagai Honda.

Sumber : https://tirto.id/sebelum-honda-menjadi-raja-di-jalan-raya-cwtx
Sejarah Perusahaan

Kenapa Sanyo Melekat Sebagai


Pompa Air
Reporter: Petrik Matanasi | 15 Oktober, 2017 | tirto.id
Sanyo adalah merek dari Jepang, yang tak cuma membuat pompa air
Di Indonesia sebagian masyarakat terbiasa menyebut pompa air dengan nama
"Sanyo". Padahal, banyak merek pompa air yang beredar di pasar.

Pompa air SANYO. FOTO/SANYO

tirto.id - Waktu jadi tahanan politik, bekas Brigadir Jenderal Suhario


Padmodiwirio alias Hario Kecik sering olahraga sambil isi air.
“Seribu kali gerakan handle pompa dengan tangan kanan dan seribu kali dengan
tangan kiri. Kira-kira satu meter kubik telah saya masukan ke dalam kolam,” kata
Kecik, salah satu tokoh pertempuran Surabaya ini dalam Memoar Hario Kecik
(1995).
Kebiasaan Kecik memompa air dengan tangan setiap pagi itu membuatnya segar
bugar. Suatu kali Mayor Soemarno—yang ikut berwenang mengurus tempat Kecik
ditahan—datang menjenguk. Kabar setengah buruk pun menghampiri Kecik.
Mayor Soemarno berniat mengganti pompa air tangan itu dengan pompa air listrik.
“Saya mengajukan keberatan bahwa pergantian pompa itu akan berarti bahwa ia
akan mengambil satu-satunya alat sport yang sangat saya perlukan,” kata Hario
Kecik.
Mayor itu pun tertawa. Pompa air listrik, yang sering juga disebut jet pump, tentu
dianggap efisien untuk mengisi bak air daripada cara manual. Kebetulan saat itu,
pompa air yang dipilih adalah merek Sanyo. Nama yang begitu melekat bagi
produk pompa air.
Selain Sanyo, kini ada beragam merek pompa air yang ada di pasar, antara
lain Shimizu, Panasonic, Hitachi, dan lain-lain. Namun, apapun mereknya, semua
pompa air di Indonesia masih disebut sanyo. Menurut Firman Lubis dalam Jakarta
1950-an: Kenangan Semasa Remaja (2008), pompa air listrik banyak dipasang
sekitar tahun 1970-an di Indonesia. Setelah puluhan tahun, "semua merek" pompa
air listrik pun disebut Sanyo, bagi konsumen Indonesia.
Dalam percakapan sehari-hari ihwal ini sudah lazim. “Air di bak habis, nyalakan
sanyonya!” Sanyo nyaris menjadi kata yang mewakili sebagai pompa air listrik.
Mirip dengan merek Honda untuk sepeda motor, Odol untuk pasta gigi. “Sebagian
besar penyandang gelar nama generik (itu) adalah pionir untuk kategori setiap
produk,” tulis Hermawan Kertajaya dalam Hermawan Kertajaya on Brand (2007).
Sanyo adalah merek dari Jepang, yang tak cuma membuat pompa air. Perusahaan
ini setidaknya pernah bikin radio, mesin cuci dan alat elektronika lainnya. Sanyo,
menurut Yoshiko Nakano dalam Where There Are Asians, There Are Rice
Cookers (2009), didirikan oleh Tashio Iue, ipar dari pendiri National, Kanasuke
Matsusita, pada 1947.
Sebelum mendirikan Sanyo, Tashio Iue pernah bekerja di perusahaan National dan
keluar pada 1946. Perusahaan menjadi incorporated pada 1950. Nama Sanyo,
dalam bahasa Jepang artinya adalah tiga samudera. Di bumi ada tiga
samudera penting: Atlantik, Hindia, dan Pasifik. Sesuai namanya, tak
mengherankan produk Sanyo sampai ke Amerika Latin hingga pasar Indonesia.
Awalnya, menurut buku Key Players in the Japanese Electronics Industry (1985),
seperti juga Kanasuke Matsusita, perusahaan Tashio Iue, juga membuat alat yang
terkait lampu sepeda.
Pada 1952, Sanyo merilis radio plastiknya. Tahun berikutnya, Sanyo memproduksi
mesin cuci. Setelahnya, Sanyo memproduksi Pompa air, Kipas angin, AC,
Televisi, LCD, Penanak nasi, Baterai Mesin cuci, juga Proyektor.
Di Indonesia, Sanyo juga memperlebar industrinya. “PT Sanyo Indonesia
Industries didirikan 1970 di Sunter yang memproduksi berbagai alat keperluan
rumah tangga seperti kulkas, fan (kipas angin), televisi, mesin cuci dan
sebagainya,” tulis majalah Informasi (1989).
Sebelum Sanyo berjaya Indonesia, perusahaan saudara pendiri dari Sanyo (Tashio)
yaitu Matsushita Electric Industrial, lebih dulu berhubungan dengan Indonesia
pada 1960 dengan Transistor Radio Manufacturing yang masih dipegang oleh
mitra lokal di Indonesia melalui Gobel bersama kawan-kawannya. Setelah 1965,
banyak perusahaan patungan dibangun Gobel dan perusahaan Matsushita.
Seperti Matsushita, Sanyo juga bekerjasama dengan perusahaan Gobel yang
dikenal sebagai Panasonic. Pada 2009, menurut Ko Unoki dalam Mergers,
Acquisitions and Global Empires(2012), Sanyo telah menjadi anak perusahaan
Panasonic di Indonesia.
Hingga kini nama Sanyo masih melekat bagi konsumen di Indonesia sebagai mesin
pompa air. Namun, Sanyo bukanlah hanya sebuah pompa air.

Sumber : https://tirto.id/kenapa-sanyo-melekat-sebagai-pompa-air-cyoP
Sejarah Perusahaan

Semua Pasta Gigi adalah Odol


Reporter: Petrik Matanasi | 14 Oktober,, 2017 | tirto.id
Bagi orang Indonesia, semua pasta gigi adalah Odol
Odol adalah merek pasta gigi Jerman yang beredar sejak zaman kolonial
Odol adalah sebuah merek pasta gigi Jerman yang jadi generik untuk menyebut
semua pasta gigi.

Ilustrasi iklan pasta gigi 'Odol'. FOTO/German Postal History

tirto.id - Dari sekian banyak merek pasta gigi di Indonesia, Odol adalah yang
paling terngiang di kepala orang-orang Indonesia. Padahal merek Odol sudah
puluhan tahun tidak beredar lagi di Indonesia. Orang-orang lebih mudah
menemukan Pepsodent, Close Up, Colgate atau yang lainnya di toko kelontong.
Tapi tidak merek Odol. Odol diingat karena distribusinya di masa-lalu hingga
dikenal masyarakat Indonesia era kolonial dan beberapa tahun setelahnya.
“Saking terkenalnya merek pasta gigi Odol sehingga banyak orang-orang Jawa
(bahkan sampai sekarang) masih menyebut pasta gigi dengan “odol',” tulis
Albertus Budi Santoso dalam Identitas dan postkolonialitas di Indonesia (2003).
Tak hanya di Jawa saja, tapi juga di pulau-pulau lain. Banyak lidah masih sulit
menyebut pasta gigi atau tapal gigi, yang dua kata dan agak panjang untuk
menyebut satu benda. Menyaksikannya sebagai Odol, yang hanya satu kata dan
empat huruf, tentu lebih mudah.
Di Indonesia, Odol adalah merek yang sama nasibnya dengan
Honda, Sanyo, Kodak, atau Aqua. Semua sepeda motor apapun mereknya adalah
Honda, padahal Honda salah satu merek yang beredar. Seperti Sanyo untuk semua
mesin pompa air; Kodak untuk semua foto film dan semua air minum kemasan
adalah Aqua. “Sebagian besar penyandang gelar nama generik (itu) adalah pionir
untuk kategori setiap produk,” tulis Hermawan Kertajaya dalam Hermawan
Kertajaya on Brand (2007)
Odol di masa lalu adalah merek milik perusahaan Jerman yang didirikan Karl
August Lingner (1861-1916), yang bernama Dresden Chemical Laboratory
Lingner. Menurut Helmut Obst dalam Karl August Lingner, ein
Volkswohltäter? (2005), perusahaan itu didirikan pada 3 Oktober 1892. Menurut
David Carlo, dalam Advertising Empire: Race and Visual Culture in Imperial
Germany (2011), tahun 1893, Odol tampil sebagai salah satu merek produk obat
pembersih mulut Jerman. Dan, Ken Geiser dalam Chemicals Without Harm:
Policies for a Sustainable World (2015) menyebut, pasta gigi bermerek Odol
masuk pasar pada 1903. Kata Odol sendiri singkatan dari dua kata
Yunani: odus (gigi) dan oleum (minyak).
Odol memproduksi obat perawatan gigi, gusi, mulut dan tenggorokan itu baik
berupa obat kumur atau pasta gigi ini. Produk-produk tersebut sudah dijual di lebih
dari 20 negara, termasuk Negeri Belanda, lalu ke tanah koloninya: Hindia
Belanda—yang belakangan jadi Indonesia. Untuk penjualan Odol di Hindia
Belanda, pernah ada perusahaan bernama N.V. Odol Maatschappij.
Mingguan Djaja (1965) menyebut soal mengapa “tapal gigi disebut Odol, mungkin
karena tapal gigi yang pertama masuk di Indonesia mereknya Odol.” Odol sebagai
pasta gigi pertama cukup diamini sebagian orang Indonesia. Hubungan Odol
dengan Indonesia bisa dilihat dalam majalah dagang Bataviasch Nieuwsblad
(24/12/1894), yang terdapat iklan kecil Odol. Berbunyi: “Winkel Maatschappij
Eigen Hulp Odol!!! Idol!!! Odol!!! Eenige Importeurs voor geheel Java.” Winkel-
Maatschappij Eigen Hulp adalah sebuah toko serba ada di Batavia antara 1890
hingga 1929 dan menyalurkan pasta gigi Odol di Jawa. Setidaknya tahun 1894 obat
pembersih mulut Odol ini sudah dimasukkan ke Indonesia. Untuk produk pasta
gigi Odol, tentu saja setelah 1903.
Odol yang beredar di Hindia Belanda, bungkus dan tube bertuliskan: Odol, lalu ada
tulisan Tandpasta, yang artinya pasta gigi dalam bahasa Belanda. Versi Jerman,
tulisannya di bawah Odol adalah: Zahnpasta—yang artinya pasta gigi dalam
bahasa Jerman. Di dalam iklan terdapat tulisan Mooi tanden, yang artinya gigi
bagus dalam bahasa Belanda
Pada zaman kolonial, kehadiran Odol di Indonesia juga mendapatkan saingan
seperti Colgate atau Pepsodent. Keduanya dari Amerika. Namun, Odol masih
menjuarai pasar. Kepopuleran Odol membuatnya banyak ditiru. Pada sekitar tahun
1911, surat kabar Bendera Wolanda menyebut: "sekarang adalah banyak toko-toko
yang menjual pasta gigi Odol tiruan kepada orang banyak."
Iklan-iklan pasta gigi bertebaran di surat-surat kabar era kolonial. Mereknya
tertancap kuat di benak rakyat Indonesia hingga turun temurun. Belakangan, Odol
yang sudah terserap di kepala orang-orang Indonesia justru tak menjual lagi pasta
giginya di Indonesia. Padahal produk pembersih mulut dan pasta gigi Odol masih
beredar di luar negeri. Sementara itu pasta gigi Pepsodent atau Colgate masih
beredar di pasaran. Padahal, hasrat sikat gigi orang-orang Indonesia makin
meningkat dibanding masa-masa sebelum Proklamasi 1945. Makin jarang orang
sikat gigi dengan batu bata yang digosok. Namun, seringkali orang-orang
Indonesia mengkategorikan Pepsodent, Colgate, Close Up dan lainnya sebagai:
Odol.
Kata odol bisa ditemukan dalam novel, di antaranya karya Leila S Chudori, Malam
Terakhir (1989) atau Moammar Emka, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda: a
Novel (2007). Dalam buku sejarah pun demikian. Abdul Haris Nasution,
dalam Sekitar perang kemerdekaan Indonesia - Volume 5 (1978) menyebut Odol—
bersama sikat gigi, sabun wangi dan lainnya—sebagai sesuatu yang harus dimiliki
prajurit TNI. Tentu saja akan sulit menebak apakah merek pasta gigi yang dipakai
sebenarnya. Dan semua pasta gigi pun dianggap Odol.

Sumber : https://tirto.id/semua-pasta-gigi-adalah-odol-cxMU
Sejarah Perusahaan

Melacak Asal-Usul Istilah Oplet


Reporter: Petrik Matanasi | 22 Oktober, 2017 | tirto.id
Kata Oplet berasal dari kata Opelette, ada kaitannya dengan Opel.
Membaca hikayat oplet sama dengan membaca sejarah industri otomotif di
Indonesia.

Narik Opelete 1932. tirto.id/Sabit

tirto.id - Penikmat TV swasta dekade 1990an sering melihat oplet yang disupiri
Mandra di sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Padahal di dekade 1990an
saja kendaraan itu sudah uzur umurnya.
Dalam media populer, oplet tak hanya muncul dalam sinetron besutan anak-
anak Sukarno M. Noor itu saja. Iwan Fals sudah menggambarkannya di
pertengahan dekade 1980an dalam sebuah lagu. “Berjalan tersendat/ di antara
sedan-sedan licin mengkilat/ Dengan warna pucat/ dan badan penuh cacat sedikit
berkarat,” tulis Iwan (baca: Cerita tentang Aktor Serba Bisa Sukarno M. Noor).
Dalam lagu yang muncul dalam album Barang Antik (1984) itu, Iwan Fals
menggambarkan oplet butut sedang mencoba bertahan dari gerusan zaman di
sekitar ibukota Jakarta. "Sainganmu mikrolet, bajaj dan bis kota/ Kini kau
tersingkirkan oleh mereka," ujar Iwan Fals.
Istilah oplet tak hanya dipakai di Jakarta dan sekitarnya saja. Setidaknya di Padang
dan Banjarmasin istilah oplet juga dipakai.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ia diartikan sebagai “mobil sedan
yang susunan tempat duduknya diubah dan disesuaikan sebagai kendaraan umum
yang ditambangkan”. KBBI menuliskan "opelet" sebagai bentuk baku, bukan
"oplet" (baca juga: Ejaan Resmi Bukanlah Batas Suci).
Ada yang menjadikan oplet sebagai sebutan kendaraan angkutan umum ukuran
kecil, macam mikrolet. Namun, ada pula yang menjadikan oplet sebutan hanya
untuk kendaraan lawas seperti yang tampil dalam sinetron Si Doel Anak
Sekolahan saja.
Hal ini senada dengan uraian John U. Wolf, dalam Formal Indonesian (1980). Ia
mencatat: “Umumnya oplet terdiri dari mobil-mobil tua yang umurnya dari sudut
teknologi telah uzur, bahkan menurut hukum perusahaan seharusnya telah puluhan
tahun masuk kubur.”
Seperti potongan lagu Iwan Fals tadi, oplet makin jadi barang antik yang bisa jadi
mahal harganya di kalangan pecinta barang antik. Jenama (merek) oplet di masa
lalu antara lain Austin, Morris juga Opel kecil. Apa pun jenamanya, semuanya
disebut oplet.
Seperti di beberapa daerah orang menganggap sepeda motor Yamaha, Suzuki atau
lainnya sebagai honda — padahal Honda hanyalah salah satu jenama saja. Ini juga
berlaku untuk Odol dan Sanyo, sebuah jenama yang lantas menjadi generik.
Ketika baru keluar dari pabrik, sebelum dijadikan angkutan umum, oplet
sebenarnya diperuntukkan bagi 4-5 penumpang saja. Berkat karoseri alakadarnya
— dengan seng dan kayu — maka 10 orang pun bisa dimuat.
ak hanya merek Austin, Morris atau Opel saja yang dijadikan oplet. Setelah Perang
Dunia II, bahkan mobil Jeep sisa perang pun dimodifikasi dan kemudian dikenal
dengan sebutan oplet juga.
Di kota Padang, menurut Mardanus Safwan dalam Sejarah Kota Padang (1987),
kendaran itu disebut sebagai oplet yang mematikan angkutan umum macam bis
ukuran sedang. Di kota Balikpapan, kata orang-orang tua, Jeep yang dimodifikasi
dengan seng dan papan itu disebut: taksi jamban (baca: Walikota Padang Gugur di
Medan Juang).
Ada beberapa pendapat soal asal kata "oplet". Menurut Rizal Khadafi
dalam Jakarta Transportation Guide(2009), oplet berasal dari kata "autolet".
Namun, menurut Transport and Communications Bulletin for Asia and the Pacific
53 (1979), istilah "oplet" berasal dari Opel yang sangat populer di Indonesia
sebelum Perang Dunia II.
Menurut Soe Potter, dalam An Indonesian Alphabet (2009), Opel cukup populer
lalu jadi muasal kata oplet. Namun, pada dekade 1930an, sudah ada nama produk
Opel bernama Opelette. "Lette" sendiri bisa diartikan "kecil". Jadi "Opelette" bisa
diartikan "Opel kecil".
Hal itu sesuai dengan data pembanding lainnya. Misalnya, buku General Motors in
the 20th Century(2000) menyebut di tahun 1932 General Motor Java memproduksi
mobil Opel bermesin 2.0 liter yang mampu memuat 7 penumpang dengan nama
Opelette.
Nama Opelette sendiri, menurut Nieuwshier van Dondergad (12/11/1953), adalah
nama yang diberikan oleh Mr. J. Th. GC van Buuren, Sales Manager General
Motors sejak 1928. “Kini kata oplet adalah nama yang umum digunakan untuk bus
kecil,” tulis koran Belanda di tahun 1953 itu.
Penyalur Opelette adalah Lindeteves Stokvis. Mobil ini, dalam iklannya, diklaim
buatan General Motor Amerika. Iklan mengklaim mobil tersebut dirakit di General
Motor Tanjung Priok. Dalam iklan berbahasa Jawa, mobil ini disebut: "mesinnya 4
silinder, sasisnya kuat, bensinnya irit."
Mobil ini bisa dibeli di Lindeteves yang punya bagian mobil di Batavia, Semarang,
Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Palembang juga Padang. Memasuki zaman
kemerdekaan, Mobil-mobil ini banyak yang jadi mobil angkutan umum
berpenumpang, baik dalam kota maupun pinggiran.
Setelah oplet-oplet makin tersisih, Opel sendiri masih berproduksi. Beberapa
produknya masih bisa ditemui di jalan-jalan di Indonesia.
Opel merupakan produk Jerman. Adam Opel (1837-1895) mendirikannya pada 21
Januari 1862 di Rüsselsheim, Jerman. Menurut situs resmi Opel, Opel awalnya
memproduksi mesin jahit. Sempat juga membuat sepeda, belakangan lalu
memproduksi mobil.
Pada 1928, General Motors membeli 80 persen saham Opel. Kala Opelette dirilis,
Opel ternyata sudah menjadi bagian General Motors.
Mobil Opelette, yang dilafalkan jadi "oplet" oleh orang Indonesia belakangan,
tentu masuk dalam berita juga iklan surat kabar. Salah satunya berita kecelakaan
di De Indische Courant (18/06/1938).
Surat kabar itu melaporkan sebuah oplet yang berjalah dari arah Mentikan,
Mojokerto, ditabrak truk militer di Lapangan Darmo. Kecelakaan ini terjadi akibat,
menurut koran itu, “kesalahannya si Tionghoa pengemudi opelet, yang tidak mau
mengalah dengan kendaraan lain. Akibatnya enam penghuni opelet tersebut cedera.
Seorang penumpang bahkan mengalami luka yang membuatnya dibawa ke rumah
sakit.”
Berita lain soal oplet datang juga dari kantor berita nasional, Antara (17/08/1961).
Mereka memberitakan kenakalan sopir-sopir angkot.
“Pada saat-saat kita memperingati dwi-windu (16 tahun) kemerdekaan (Indonesia),
disinyalir ada supir-supir oplet yang nakal, tidak mau memuat penumpang secara
biasa, tetapi hanya mau menarik setjara borongan,” tulis Antara di paragraf
pembukanya. Itu semua dilakukan karena tarif borongan bisa jauh lebih tinggi dari
tarif normal.

Sumber : https://tirto.id/melacak-asal-usul-istilah-oplet-cyuU
Sepatu Bata Bukanlah Sepatu Asli
Indonesia
Reporter: Petrik Matanasi | 18 Agustus, 2017 | tirto.id
Pada 1894, Tomas Bata mendirikan pabrik sepatu Bata di Ceko
Bata mendapat banyak orderan sepatu saat Perang Dunia I pecah
Sepatu ini sudah hadir sejak zaman kolonial, tapi ia bukanlah produk asli Hindia
Belanda.

Tomas Bata. FOTO/batova-vila.cz

tirto.id - Nun jauh di kota Zlín, Ceko, Tomas Bata bersama saudara-
saudarinya Antonin dan Anna mendirikan sebuah pabrik sepatu. Pada 24 Agustus
1894, Tomas baru berusia 18 tahun. “Tahun 1894, saudaraku Antonin
mendaftarkan namanya dalam bisnis pembuat sepatu di Zlin,” aku Tomas seperti
dikutip buku Knowledge in Action: The Bata System of Management (1992).
Buku Thomas John Bata dan Sonja Sinclair, Bata: Shoemaker to the World (1990),
menyebut mereka memulai usahanya dengan modal $350 dari ibu mereka. Bisnis
itu tak langsung berjalan mulus di tahun-tahun pertama. Pada 1904, Tomas Bata
menyeberangi Atlantik menuju New England Amerika. Dia bekerja di pabrik
sepatu sana selama 6 bulan. “Di mana dia belajar dari tangan pertama soal
permesinan dan teknik menejemen untuk membuat sepatu modern.”
Sekembalinya ke Zlin, dia mulai menerapkan apa yang dipelajarinya. Kemudian
terjadilah Perang Dunia I di Eropa yang membuat munculnya kebutuhan sepatu
untuk tentara. Bata pun mendapat orderan. Menurut The Encyclopedia of the
Industrial Revolution in World History (2014) dan Czech Republic: The Bradt
Travel Guide (2006), Bata mendapat untung besar saat membuat sepatu untuk
tentara Austro-Hungaria. Pabrik Bata membuat sekitar 50 ribu sepatu sepanjang
perang itu.
Setelah Perang Dunia pertama, usaha Bata berkembang di beberapa negara.
Mereka belakangan mendirikan Bataville di Perancis, Bata-Park di Swiss, Bata-
Estate di Inggris, Batadorp di Belanda, dan Batawa di Kanada. Di Ceko sendiri ada
Batavillage, desa tempat pabrik Bata dan tenaga kerjanya. Selain pabrik terdapat
sekolah, klinik kesehatan, fasilitas olahraga, dan tentu saja kantor di sana. Ketika
Tomas Bata meninggal dunia karena kecelakaan pesawat pada 12 Juli 1932,
perusahaannya sudah mempekerjakan 31 ribu pekerja.
Sebelum Tomas Bata meninggal dunia, produk Bata sudah sampai ke Hindia
Belanda. Sebuah perusahaan pengimpor pun berdiri pada 1931. Gudangnya yang
ada sejak 1931 berada tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok. Perusahaan itu
adalah NV Nederlandsch Indische Schoenhandel Maatschappij Bata.
Menurut buku Asian Accounting Handbook: A User's Guide to the
Accounting (2005) karya Shahrokh M. Saudagaran dan Thomson Learning, berdiri
berdasar akta notaris Adriaan Hendrik van Ophuijsen no. 64 tanggal 15 Oktober
1931. Menurut buku Anthony Cekota dalam Entrepreneur Extraordinary:
Biography of Tomas Bata (1968), Tomas Bata bahkan datang ke Indonesia untuk
menjadikan Hindia Belanda sebagai pasarnya.
Dari Tanjung Priok, aset perusahaan Bata lalu dipindahkan ke daerah baru:
Rawajati, Kalibata pada 1939. Kemiripan nama ini kebetulan saja. Menurut
Zaenuddin H.M. dalam buku 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe (2012), di
daerah Kalibata dulunya banyak terdapat batu, termasuk batu bata, sehingga
dinamai demikian. Tak hanya di Kalibata, Pabrik Bata ada juga Medan, lalu
Purwakarta sejak 1994.
Setelahnya, menurut Grant Gordon dalam Family Wars: Membedah Konflik 20
Dinasti Bisnis Dunia, perusahaan sempat dipimpin Jan Antonin Bata. Tomas tidak
meninggalkan wasiat. Putra Tomas, Thomas Bata Sr, yang kala itu baru 17 tahun
dianggap belum siap memimpin perusahaan. Pada 1966, barulah perusahaan
dipegang olehnya.
Jelang Ceko diduduki oleh tentara NAZI Jerman, menurut catatan Anthony Cekota
dalam The Stormy Years of an Extraordinary Enterprise: Bata 1932 – 1945 (1985),
Thomas John Bata tiba di Ceko. Dia datang untuk mengawasi persiapan
pengiriman pekerja dan mesin ke Kanada karena hendak mendirikan pabrik di
negara itu.
“Selama Perang Dunia II, Bata berikan sumbangsihnya dalam perang dengan
membuat sepatu untuk prajurit, serta perlengkapan militer lain,” tulis Joyce Wilson
dalam Canadian Book Review Annual (1990)
Setelah Perang Dunia II, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pabrik bata
di Indonesia menjadi sasaran “ambil-alih” pihak Republik dalam revolusi 1945.
Menurut catatan Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan
Indonesia, Volume 1 (1978), “pabrik sepatu Bata di Kalibata dijadikan milik
Republik.” Di mana pemerintah Republik mengawasi para buruhnya.
Pasca-1945, Bata dengan jargonnya “Pembikin Sepatu Terkenal di Dunia,” tak
hanya membuat sepatu kulit yang terkesan formal, tapi juga sepatu olahraga.
Sepatu senam, main tenis, bahkan basket. Menurut situs resminya, Bata
menghasilkan 7 juta pasang alas kaki dalam setahun yang terdiri dari 400 model,
baik sepatu, sepatu sandal, dan sandal. Bahan kulit, karet, maupun plastik.
Dulu, Bata tak hanya dipakai oleh warga Indonesia kebanyakan. Sukarno, menurut
catatan Maulwi Saelan dalam bukunya Dari Revolusi '45 sampai Kudeta '66:
kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa(2001), punya “3 Doos berisi 3 pasang
sepatu olah raga Bata.”
Berpuluh tahun, sejak zaman kolonial, Bata sudah menyediakan sepatu untuk
orang-orang Indonesia dengan harga yang relatif terjangkau. Belakangan, Bata
kerap dikira produk asli Indonesia. Apalagi pernah ada pabrik Bata di Kalibata.
Padahal, Bata adalah nama keluarga orang Ceko: Tomas Bata dan saudara-
saudarinya.

Sumber : https://tirto.id/sepatu-bata-bukanlah-sepatu-asli-indonesia-cuQw
Astra, dari Perusahaan Mati Suri Jadi
Raksasa Otomotif
Reporter: Petrik Matanasi | 26 Agustus, 2017 | tirto.id
Astra dulunya merupakan sebuah perusahaan kecil yang sudah mati suri
William Soerjadjaja beserta dua saudara dan satu kawannya merupakan perintis Astra
Astra bermula dari sebuah perusahaan yang punya hak impor tapi sedang mati
suri. Ia kemudian tumbuh besar berkat kegigihan William Surjadjaja.

William Soeryadjaya. FOTO/Istimewa

tirto.id - Benjamin alias Tjia Kian Joe merasa prihatin dengan nasib abangnya,
Tjia Kian Liong—yang meringkuk satu setengah bulan di Penjara Banceuy,
Bandung. Si abang dibui karena tuduhan korupsi di perusahaan yang dibangunnya.
Nama baiknya rusak. Benjamin yang masih kuliah di Institut Teknologi Bandung
itu pun minta tolong pada abangnya yang lain, Tjia Kian Tie, yang menetap di
Amsterdam, Negeri Belanda.
Keduanya berusaha membukakan jalan bagi Kian Liong yang sedang terpuruk,
agar bisa menjalani hidup baru dengan sebuah perusahaan baru. Perusahaan yang
diinginkan adalah perusahaan dagang. Kian Liong punya pengalaman dagang yang
cukup panjang sejak remaja. Benjamin ingin perusahaan itu nantinya "bisa impor".
Memiliki perusahaan yang bisa impor tentu bukan hal yang mudah pada saat itu.
Pada tahun 1950an, hak impor sangat sulit didapat. Mereka pun berpikir untuk
membeli perusahaan yang bisa impor, tetapi sedang mati suri. Kian Liong dan
saudara-saudaranya pun berkongsi dengan salah seorang kawan zaman sekolah
bernama Liem Peng Hong—seorang pengusaha rokok di Malang. Pada zaman
Program Benteng—yang sangat pro pengusaha pribumi—orang-orang Tionghoa
macam mereka agak sulit hidup dalam dunia usaha.
Mereka akhirnya berhasil mendapatkan perusahaan mati suri yang masih
memegang hak impor. Nama Kian Liong tidak tercantum dalam anggaran dasar
perusahaan untuk sementara, karena masalah hukum yang menimpanya. Sementara
nama Benjamin menjadi salah satu pemegang saham. Perusahaan itulah cikal bakal
dari Astra. Demikian sejarah perusahaan besar Astra, seperti tertulis Man of
Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya (2012).
Perusahaan itu berkantor di Jalan Sabang nomor 36A Jakarta. Perusahaan kecil itu,
mirip lebih mirip toko kelontong ketimbang importir. Lokasinya pun sering
terancam banjir.
Mereka kemudian mengganti nama perusahaan. Kian Tie -- adik Kian Liong yang
doktorandus lulusan Belanda -- mengusulkan nama Astra. Nama itu berasal dari
mitologi Yunani kuno, yang berarti terbang ke langit dan menjadi bintang terang.
Kian Liong dan Liem Peng Hong setuju. Lengkapnya, perusahaan itu bernama
Astra International Inc. Tak lupa logo bola dunia yang diembeli pita dengan tulisan
"astra" mereka buat. Mereka mendaftarkan diri ke Notaris Sie Khwan Djioe pada
20 Februari 1957. Modal mereka kala itu senilai Rp2,5 juta.
Selama sepuluh tahun pertama, jumlah karyawan Astra tak lebih dari 5 orang. Pada
dekade awal itu, Astra awalnya sempat pula jadi distributor dan importir limun
merek Prim Club kornet CIP. Tak hanya produk impor, tetapi juga lokal dari
Bandung seperti pasta gigi Fresh O Dent, pasta gigi Odol Dent sempat
didistribusikan. Bisnis pengiriman fosfat alumunium dan bohlam lampu. Pernah
juga mengekspor kopra dan minyak goreng.
Belakangan hanya Kian Liong yang mengelola Astra. Kian Tie malah bekerja di
sebuah bank di Palembang sementara Pang Hong asyik dengan bisnisnya yang
lain. Saham-saham pun beralih ke tangan Kian Liong semua pada 1961. Setelah
itu, Astra memasuki babak baru. Pada masa-masa sulit Demokrasi Terpimpin orde
lama Presiden Sukarno, antara 1962 hingga 1964, Astra sempat menjadi pemasok
lokal proyek pembangunan waduk Jatiluhur.
Memasuki tahun 1965, Astra tak mampu berkembang di tengah situasi ekonomi
yang buruk. Ketika itu, perekonomian Indonesia memang sedang menghadapi
kejatuhan, inflasi membubung tinggi hingga 600 persen. Daya beli masyarakat
hancur-hancuran sehingga membuat perusahaan satu per satu berjatuhan. Kian
Liong mencoba mempertahankan perusahaannya agar bisa tetap hidup.
Kian Liong dan stafnya kemudian memindahkan kantor dari Jalan Sabang ke Jalan
Juanda III nomor 8. Pada tahun-tahun itu pula dia mengubah namanya menjadi
William Surjadjaja—atas saran seorang jaksa Bandung bernama Suryakusuma
Dinata.
Setelah terjungkalnya orde lama dan Demokrasi Terpimpin, dunia usaha mulai
bangkit lagi. Banyak pelarian di era Sukarno seperti Profesor Soemitro
Djojohadikusumo pulang dan dipekerjakan di pemerintahan baru. “Soemitro
berkawan baik dan sering dibantu oleh Kian Tie, yang menetap di Malaysia sejak
1961. Di Indonesia, ibunda sang Profesor sering dibantu oleh William, sebuah
tindakan berisiko di era Sukarno,” catat buku Man of Honor: Kehidupan,
Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya.
Perekonomian perlahan membaik bagi William. Tahun 1966, Astra menjadi
importir 80 ribu ton aspal dari Marubeni Jepang untuk membangun jalan. Ia
bahkan mendapat pinjaman dana dari USAID sebesar $2,9 juta. Dengan dana itu,
William boleh mengimpor apapun, termasuk truk dari Amerika.
“William menggunakan dana tersebut untuk mengimpor 800 unit truk merek
Chevrolet buatan General Motor Co. dan menjualnya kepada Pemerintah,” tulis
Bisuk Siahaan dalam Industrialisasi di Indonesia: Sejak Rehabilitasi Sampai Awal
Reformasi (2000). Sayangnya, William tak bisa mengimpor lebih banyak lagi truk-
truk dari General Motor. Apalagi dia pernah dianggap melanggar dan tidak
memahami ketentuan USAID yang melarang jadi pemasok ke pemerintahan.
Tak mampu dapat truk dari Amerika, tahun 1969, William pun menoleh ke Jepang.
“Hidung bisnis William yang tajam segera mengendus-ngendus peluang lain.
Truk-truk bermerek Toyota segera terbayang di kepalanya,” tulis Amir Husin
Daulay dalam William Soeryadjaya, Kejayaan dan Kejatuhannya (1993).
Kebetulan, Hideo Kamio—yang pernah jadi manager di Gaya Motor waktu zaman
Jepang—bersikeras truk-truk Toyota yang akan masuk Indonesia harus dirakit di
Gaya Motor.
Orang-orang Toyota itu pun diarahkan Suhartoyo dari Kementerian Perdagangan.
“Kalau Anda mau Gaya Motor, ya harus berhubungan dengan Astra dan owner-
nya. Anda harus melepas dulu MoU dengan perusahaan lain dan join dengan Astra
untuk jadi agen tunggal,” kata Suhartoyo seperti dikutip dalam Man of Honor:
Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya. Kala itu, Gaya Motor
sudah dipegang oleh William. “PT Gaya Motor, bukan lagi PN Gaya Motor)
dengan akte notaris Eliza Pondag tanggal 25 Februari 1969. Di mana Tjian Kian
Liong (William Soeryadjaya) sebagai Presiden,” tulis Amir Husin.
Jadilah Toyota sebagai mitra penting dari Astra. Truk-truk Toyota membanjiri
areal proyek-proyek maupun kawasan industri Indonesia. Tak hanya truk saja.
Sejak 1971, setelah Amerika tidak memproduksi truk dan jip dengan stir kanan,
Astra akhirnya menguasai pasar truk dan jeep Indonesia. Astra berjaya. Tak hanya
merek Toyota, belakangan juga Honda, Isuzu, Daihatsu dan lainnya. Bisnis
William pun merambah ke bidang lain, tak hanya dunia otomotif bersama Astra.
Ketika William makin tua, dua anaknya, Edward dan Edwin juga terjun ke dunia
bisnis. Anak William, Edward mendirikan Bank Summa—dalam grup bisnis
keluarga Surjadjaja. Namun, bank tersebut bermasalah dan keuangannya tidak
sehat. Pada 14 Desember 1992, bank itu pun dilikuidasi pemerintah. Kredit macet
bank Summa kala itu mencapai Rp1,2 triliun. Menurut Kees Bartens
dalam Pengantar Etika Bisnis (2000), “masalah kredit macet
akibat mismanagement anggota keluarganya […] William Surjadjaja terpaksa
harus membantu dengan melepaskan semua sahamnya di Astra.”
Melepas Astra yang dibangunnya tentu bukan hal mudah bagi William yang sudah
menjelang senja usianya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Nama baik keluarga
harus dijaga dengan tanggung jawab. Demi mengembalikan dana nasabah,
Astra akhirnya dilepas.
Saat ini, sebanyak 51,11 persen saham Astra International dikuasai oleh Jardine
Cycle & Carriage Limited, sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura. Sisa
saham Astra dimiliki oleh masyarakat. Nama William memang sudah tak lagi
tercantum dalam daftar pemilik Astra. Namun, siapapun pasti akan mengingat
bahwa Astra adalah buah keringat William Seryadjaya.

Sumber : https://tirto.id/astra-dari-perusahaan-mati-suri-jadi-raksasa-otomotif-cvcj
Sejarah Truk di Indonesia Sejak
Zaman Penjajahan
Reporter: Petrik Matanasi | 07 Agustus, 2017 | tirto.id
Perang dan pemberontakan memerlukan truk untuk mengangkut logistik perang
Untuk keperluan perkebunan dan perang, muncullah pengusaha yang menyewakan truk seperti
Westerling
Indonesia sejak dulu punya pabrik perakitan truk impor sendiri.

Truk mengangkut Tentara Indonesia dekat wilayah Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, 1974. FOTO/gahetna.nl
via indotrucker

tirto.id - Setelah keluar dari dinas militer Belanda pada 1948, bekas Kapten
pasukan khusus KNIL Belanda Raymond Paul Pierre Westerling terjun ke dunia
bisnis. Dia jadi pengusaha angkutan perkebunan
alias transport onderneming, memegang beberapa armada truk bekas militer.
Begitu menurut buku biografinya Westerling de Eenling (1982) yang ditulis
Dominique Venner dan autobiografinya Challenge to Terror (1953).
Berbekal nama besar Westerling yang disegani di kalangan militer Belanda,
bisnisnya tak diganggu. Nama Westerling jadi oli pelicin bagi truk miliknya ketika
melewati pos-pos penjagaan. Cukup bilang, “truk Westerling,” maka truk pun
boleh lewat.
Di dunia militer modern, truk sangat penting dalam pergerakan pasukan. Sejarah
peperangan modern melibatkan banyak truk pengangkut pasukan di dalamnya.
Termasuk dalam Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), 23 Januari
1950. Tak hanya truk milik Westerling saja yang terlibat.
Menurut Laporan Jawatan Kepolisian kepada Presiden pada 21 Februari 1950
tentang aksi Westerling, transport onderneming Hergalaxtina seperti Bintang Tiga,
Selecta, dan Ie Hian juga ikut meminjamkan kendaraan pengangkut mereka dalam
Pemberontakan APRA. Di luar pemberontakan atau pergerakan militer, truk-truk
itu digunakan untuk urusan bisnis.
Westerling tergolong pengusaha beruntung karena punya truk bekas militer.
Pedagang
Pemuda yang di zaman pendudukan Jepang sudah mulai berdagang ini bukanlah
pemain sepikul dua pikul. Dagangannya lebih dari pikulan. Maka, sejak masa
pendudukan Jepang dan Belanda, Kian Liong sering membayar tentara yang
memiliki truk untuk mengangkut barang dagangannya. Entah dari Cirebon ke
Bandung atau dari Bandung ke Jakarta.
Meski dagangannya makin berkembang, Tjia Kian Liong masih ingat pentingnya
truk. Dia “sadar betul betapa pentingnya truk sebagai moda transportasi dalam
berbisnis. Truk seperti cinta lama baginya,” seperti tercatat dalam buku Man of
Honor: Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya(2012).
Di Indonesia, truk sudah masuk sejak zaman kolonial. Berdasar penelusuran
Rudolf Mrazek dari surat kabar De Ingeniur in NI volume 6 nomor 2 (Februari
1939), seperti yang ditulisnya dalam Engineers of Happyland (2006), pada 1939
sudah terdapat 12.860 unit truk. Selain Depresi Ekonomi Dunia, bersama bis, truk
ikut jadi penyebab turunnya pemasukan dari jawatan kereta api di Jawa—sebesar
40 persen di tahun 1933.
Dari puluhan ribu truk yang ada di Hindia Belanda tersebut, sebagian di antaranya
bermerek Chevrolet. Truk Chevrolet, menurut catatan Man of Honor: Kehidupan,
Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya, nampaknya punya penjualan yang
cukup baik di Hindia Belanda pada 1930an. NV General Motors Java Handel
Maatschappij, yang berdiri pada 3 Februari 1927, menjadi penyalurnya.
Pabrikan dari Chevrolet, yakni General Motors, pun akhirnya membikin pabrik
sejak 1938 di Tanjung Priok. Pabrik seluas 7 hektar itu, adalah perakitan mobil
pertama di Indonesia dan terbesar se-Asia Tenggara di masanya. Sayangnya,
pabrik tersebut sempat bernasib nahas. Sebelum balatentara Jepang menduduki
Indonesia, perakitan tersebut dihancurkan sendiri oleh militer Belanda agar tak bisa
dipakai Jepang. Setelah jatuh ke tangan Indonesia, perusahaan itu ganti nama
sebagai PN Gaya Motor. Sisa kawasan komplek Gaya Motor itu masih bisa
ditemukan hingga hari ini di sekitar Cilincing.
Pabrik perakitan itu belakangan terlupakan oleh General Motors yang di masa
sebelum Perang Dunia II merakit truk Chevroletnya di situ. Di awal-awal Orde
Baru, Tjia Kian Liong—yang sudah ganti nama menjadi William Suryadjaya—
berusaha meramaikan lagi kompleks perakitan Gaya Motor.
Apalagi William mendapat pinjaman dana dari USAID sebesar $2,9 juta. Dengan
dana itu, William boleh mengimpor apapun, termasuk truk dari Amerika. Sadar
akan pentingnya truk, dia pun mengimpor truk. Di zaman Sukarno, waktu itu,
impor truk sangat dibatasi. Begitu juga investigasi asing.
“William menggunakan dana tersebut untuk mengimpor 800 unit truk merek
Chevrolet buatan General Motor Co. dan menjualnya kepada Pemerintah,” tulis
Bisuk Siahaan dalam Industrialisasi di Indonesia: Sejak Rehabilitasi Sampai Awal
Reformasi (2000).
Menjual kepada pemerintah membuat William berada dalam masalah, karena ada
ketentuan tak boleh jadi penyalur barang untuk pemerintah. Buku Man of Honor:
Kehidupan, Semangat, dan Kearifan William Soeryadjaya menyebut William tak
mengerti aturan itu. Belakangan, usahanya mengimpor dan merakit truk-truk
Chevrolet di Gaya Motor gagal. Dia sempat juga mengajak Nissan untuk hal yang
sama. Usaha itu pun gagal.
“Hidung bisnis William yang tajam segera mengendus-ngendus peluang lain.
Truk-truk bermerek Toyota segera terbayang di kepalanya,” tulis Amir Husin
Daulay dalam William Soeryadjaya, Kejayaan dan Kejatuhannya (1993).
Kebetulan, sekitar akhir 1969 itu, salah seorang petinggi Toyota, Hideo Kamio—
yang pernah jadi manager di Gaya Motor waktu zaman Jepang—bersikeras truk-
truk Toyota yang masuk Indonesia harus dirakit di Gaya Motor.
Setelahnya, truk-truk Toyota membanjiri areal proyek-proyek maupun industri-
industri di Indonesia. William—bersama perusahaan yang awalnya sempat jual
hasil bumi, Astra—kemudian tak hanya mengimpor truk saja. Astra, sejak 1971,
setelah Amerika tidak memproduksi truk dan jip dengan stir kanan, akhirnya
menguasai pasar truk dan jip. Astra pun mulai jadi perusahaan besar.

Sumber : https://tirto.id/sejarah-truk-di-indonesia-sejak-zaman-penjajahan-ctG7
Muasal Raja Alat Rumah Tangga
Maspion
Reporter: Husein Abdulsalam | 24 November, 2017 | tirto.id
Alim Markus merintis Maspion bersama ayahnya
Maspion kemudian menggandeng pabrikan-pabrikan besar kelas dunia
Maspion merupakan produsen alat rumah tangga yang dibangun di Indonesia.
Pemiliknya, Alim Markus, penah dijuluki Raja alat rumah tangga.

Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus meninjau ruang pamer produk perseroan, di Sidoarjo, Jawa
Timur. ANTARA FOTO/Wahyu Darmawan

tirto.id - Maspion merupakan salah satu produk yang cukup legendaris di


Indonesia. Orang-orang Indonesia akan selalu teringat dengan iklan seorang laki-
laki blasteran Tionghoa-Indonesia, bernama Alim Markus, bersama artis Titiek
Puspa dengan jargonnya: “Cintailah produk-produknya Indonesia.” Tak hanya
Titie Puspa saja yang diajak menjadi bintang iklan Maspion, menurut buku 60
Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah dan Pemikiran (2016), mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie juga pernah ditawari membintangi iklan
tersebut. Karena role modelnya adalah Titiek Puspa, Jimly pun tak keberatan untuk
bilang: “Cintailah produk-produknya Indonesia.”
Tidak ada yang salah dengan ucapan itu, karena memang produk-produk Maspion
diproduksi di Indonesia. Sejarah Maspion, boleh dibilang termasuk juga sejarah
industri Indonesia. Seperti juga sejarah industri milik Gobel Panasonic, meski
kalah tua.
Pada tahun 1965, Alim Markus, yang belum berusia 15 tahun, cabut dari bangku
SMP di Chiauw Chung. Sebagai anak tertua dia tak hanya bekerja keras, tapi juga
belajar berpikir keras. Dia membantu usaha ayahnya di tahun-tahun yang tidak
bagus bagi dunia usaha itu. Ayahnya, Alim Husin, punya bengkel kecil di
Surabaya.
“Alim Husin adalah pendiri dari sebuah usaha bernama UD Logam Djawa, yang
memproduksi alat masak dari alumunium,” tulis Leo Suryadinata dalam Southeast
Asian Personalities of Chinese Descent: Biographical Dictionary (2012). Usaha
itu dimulai sejak awal 1960an. Selain membuat alat rumah tangga, menurut catatan
Sam Setyautama, dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), Alim
Husin juga “membuka toko One Man Show dengan memberikan jasa perbaikan
pompa air tangan dan lampu petromak.” Alat-alat yang dibuat Alim Husin antara
lain: ayakan, ember, pelat besi, kompor, cangkir, piring, panci dan semua perkakas
logam dengan bendera CV Hen Chiang.
Meski tak sekolah, menurut Lie Shi Ghuang dalam Rahasia Kaya dan Sukses
Pebisnis Tionghoa (2009), Markus tetap belajar bahasa Inggris, Cina, Jepang juga
Akuntansi. Belakangan, dia juga belajar bahasa Jerman dan Korea. Selain itu,
Markus ikut kursus manajemen di Pan Pasific Management di Taiwan dan kursus
singkat di sekolah bisnis National University of Singapore (NUS) Singapura.
Ketika pintu investasi asing mulai dibuka di Indonesia, dunia usaha terlihat
menggeliat lagi. Kala itu, menurut catatan Leo Suryadinata, Alim Markus yang
sudah berusia 20 tahun, mulai serius terjun ke bisnis bersama ayahnya. Anak-
Bapak itu mendirikan perusahaan baru. Nama Tionghoanya: Jin Feng (Puncak
Emas). Namun, perusahaan itu belakangan dikenal sebagai Maspion. Nama itu
adalah akronim dari Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional.
Perusahaan itu, menurut Sam Setyautama, awalnya memproduksi plastik ember.
Sekitar 7.000 jenis alat rumah tangga kemudian mereka hasilkan. Untuk
memperbesar usaha, Maspion menggandeng industri-industri besar seperti
Komatsu, Marubeni, Sumitomo Metals, Kawasaki Steel, Satachi, Seven Seas
Chemicals, Siam Cement juga Samsung. Tentu saja Maspion tak melulu bikin alat
macam panci, tapi merambah ke pipa dan lainnya. Menurut Lie Shi Huang, Markus
sangat selektif memilih mitra bisnis. “Kami selalu memilih mitra bisnis yang
terbaik di bidangnya,” kata Markus, seperti dikutip Lie Shi Huang dalam bukunya.
Produk-produknya tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke
Amerika Serikat, Jepang, Australia, Eropa dan Timur-Tengah. Nilai ekspor
Maspion tahun 1995 mencapai 100 juta dolar. Untuk kepentingan bisnis di luar
negeri, sebuah kantor perwakilan didirikan di Toronto, Kanada. Sejak 1995, Alim
Markus bahkan ditunjuk sebagai konsul kehormatan di Kanada.
Sebagai pengusaha, Alim Markus tentu dianggap sukses. Tak heran di zaman
kepresidenan Abdurahman Wahid (Gus Dur), laki-laki kelahiran 1951 di Surabaya
yang bernama Tionghoa Lin Wenguang ini, dijadikan anggota Dewan Pemulihan
Ekonomi Nasional. Selain itu, dia juga Wakil Ketua Kamar Dagang Industri daerah
Jawa Timur. Di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, menurut catatan
George Junus Aditjondro dalam Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal
Bank Century(2010), Alim Markus termasuk pengusaha yang ditarik masuk ke
kubu SBY ketika maju sebagai calon Presiden bersama Boediono.
Ketika Alim Husin masih hidup, Maspion yang berkantor pusat di Jalan Kembang
Jepun, Surabaya, biasa rapat di Jalan Kembang Jepun itu. Ketika masih hidup,
menurut Lie Shi Ghuang, Alim Husin pernah jadi pemegang saham mayoritas (50
persen) di grup Maspion. Di kantor itu, Alim Husin biasa berkumpul dengan anak-
anaknya yang berkecimpung juga di Grup Maspion—mulai dari Alim Markus,
Alim Mulia Sastra, Alim Satria, Alim Puspita dan Alim Prakasa. Maspion yang
besar itu, menurut catatan Sam Setyautama mempekerjakan 25 ribu karyawan dan
membawahi 44 perusahaan. Namun, beberapa tahun belakangan, cerita perpecahan
keluarga Alim itu muncul. Tahun 2013, Alim Satria memilih mundur dari Maspion
Grup yang dipimpin Alim Markus, dan terjun ke bisnis real estate.
Sumber : https://tirto.id/muasal-raja-alat-rumah-tangga-maspion-cwpB
Sophie Martin Tidak Dibikin dari
Perancis
Reporter: Petrik Matanasi | 02 September, 2017 | tirto.id
phie Martin diambil dari nama istri Bruno Hasson, seorang berkewarganegaraan Perancis
Sistem direct selling Sophie Martin terinspirasi konsep Dell.
Banyak yang menyangka produk Sophie Martin Paris adalah impor dari Perancis.
Padahal, produk ini asli dibuat dibuat di Indonesia.

Iklan tas Chicory dari katalog produk Sophie Martin. FOTO/Sophie Martin Paris

tirto.id - Bruno Hasson punya kemampuan desain dan doyan bikin produk baru.
“Saya bisa berjam-jam mengamati sebuah produk yang saya anggap menarik,”
katanya dalam bukunya Fashion Branding: 7 Jurus Sukses Branding Bisnis MLM
Fashion (2008).
Dia merupakan lulusan Institut Superieur des Techniques d'Outre-Mer (Istom),
sebuah institut pertanian milik pemerintah Perancis. Hasson menikah
dengan Sophie Martin, keduanya sama-sama berkebangsaan Perancis. Seperti
Bruno, istrinya juga desainer. Bruno pernah berkunjung ke Indonesia ketika masih
kuliah. Mereka kemudian memutuskan hijrah ke Indonesia, untuk memulai bisnis.
Pada tahun-tahun pertama setelah Hasson lulus dari Istom, Indonesia masih
dianggap Macan Asia. Pertumbuhan eknominya dianggap cepat, kala itu.
Gambaran itu membuat Bruno nekad terbang ke Indonesia. Meski masih belum
tahu apa yang harus dilakukannya nanti di Indonesia, Bruno hanya punya
keyakinan dia akan berbisnis di Indonesia.
Tidak mudahnya sukses dalam berbisnis pernah dirasakan Bruno. Dia jatuh bangun
dalam berbisnis. Dia pernah jualan pipa besi dan alat-alat pabrik.
Seperti banyak orang asing terpelajar yang datang ke Indonesia. Mereka
mengamati perilaku orang Indonesia, termasuk cara ingin tampilnya. Menurut
pengamatan Bruno pada 1995 terhadap produk tas masyarakat kelas menengah:
“Kebanyakan tas saat itu desainnya sangat jelek dan bahannya tidak berkualitas,
padahal harganya juga tidak murah.” Kondisi lain yang dilihat Bruno adalah
“banyak produk lokal mengaku (sebagai) produk impor asal Perancis. Mereka juga
mengaku memiliki desainer orang Perancis yang langsung turun tangan
membangun produk. Padahal semua itu tidak benar.”
Bagi Bruno, idealnya, bisnis (sebaiknya) “berawal dari rasa empati akan keadaan
masyarakat sekitar yang tidak terpenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan
produk dan jasa yang ada.“ Bisnis haruslah menghadirkan solusi bagi masyarakat,
“sedang profit akan berjalan seiring waktu.” Itu semua membuat Bruno bertekad
memproduksi tas dengan desain menarik bergaya Perancis.
Meski diproduksi di Indonesia, merek berbau luar negeri tentu akan menarik bagi
konsumen Indonesia. “Untuk memperkuat citra Perancis saya sengaja
menggunakan penggalan nama istri saya, Sophie Martin, yang memiliki asosiasi
kuat ke kata Perancis,” aku Bruno.
“Merek dagang yang awalnya di bawah bendera PT. Nadja Sukses Utama (NSU)
ini didirikan pada 1995. Bermodal 40 juta rupiah, Bruno Hasson dan istrinya
memulai usaha dari ruko berlantai tiga di Grand Wijaya Center, Jakarta,” tulis
Satrio Wahono dan Kurniawan Abdullah dalam The Mantra Rahasia Sukses
Berinovasi Jawara-Jawara Industri Dalam Negeri (2010). Mereka memulainya
dengan 3 mesin jahit.
Semula, produk-produknya dijual di mal. Menurut Bruno, hasil penjualannya
masih kecil pada awalnya. Sampai kemudian, seorang perempuan yang datang dan
ngotot ingin memasarkan produk Sophie Martin di Bandung. ”Saya tolak, tapi dia
minta terus," cerita Bruno seperti dilansir dari Tempo (4/10/2010).
Setelah berkali-kali ditolak, Bruno akhirnya beri kesempatan. Alhasil, “ternyata
laris.” Bruno pun tertarik pada sistem direct selling. Seperti “Michael Dell, pendiri
Dell Computer, mengawali bisnis direct selling-nya setelah melihat IBM terlalu
banyak memberikan margin kepada distributornya yang menyebabkan harga akhir
komputer IBM menjadi mahal sekali,” tulis Bruno.
Harga mahal dan membuat produk sulit diinginkan konsumen tidaklah bagus. Bagi
Bruno, Dell berusaha membuat harga komputer terjangkau. Dell begitu
mempengaruhi Bruno, hingga dia berusaha membangun jaringan distribusi ala
Multi Level Marketing (MLM). Hingga di dunia MLM Indonesia, Bruno dianggap
sebagai salah satu pelopornya.
Menurut Bruno, Indonesia adalah “pasar menjanjikan bagi perusahaan MLM.
Apabila dilihat perbandingan jumlah perusahaan MLM di Malaysia dan Indonesia
berbanding jumlah penduduk, maka jumlah pelaku MLM di Indonesia terbilang
sedikit.” Anggota MLM Sophie Martin sendiri sudah tembus 1 juta anggota.
“Mimpi terbesar saya untuk Sophie adalah untuk menjadi perusahaan direct-
sellingterbesar di Indonesia dan juga di ASEAN,” aku Hasson.
Awal-awal bisnis Sophie Martin diwarnai dengan pecahnya kerusuhan di Jakarta.
Bruno tak mau terpengaruh. Laki-laki berdarah Mesir-Perancis ini tetap bertahan di
Jakarta. Bisnisnya terus jalan meski pasar lesu. Setelah perekonomian Indonesia
berjalan lagi, Sophie Martin mampu bersaing di pasaran Indonesia.
ophie Martin lalu berkembang. Ada konsep yang disebut Sophie Paris. Pada tahun
2009, Sophie Martin bahkan punya perwakilan di Casablanca, Maroko dan 2010 di
Vietnam. Tak hanya tas saja yang belakangan diproduksi tapi juga parfum dan
kosmetik. Pabrik parfum dan kosmetiknya berada di Ciamis, Jawa Barat. Kantor
pusat dari Sophie Martin Paris sendiri berada di Jakarta, bukan Perancis.

Sumber : https://tirto.id/sophie-martin-tidak-dibikin-dari-perancis-cvjt