Anda di halaman 1dari 27

Cara Jepang dan Cina Memutar Balik

Stigma Buruk Produknya


Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Pada 1960-an warga Jepang lebih memilih produk AS karena dianggap lebih bergengsi
Produk Cina punya stigma buruk soal kualitas, tapi stigma itu mulai dipatahkan dengan berbagai
produk yang sukses di pasar.

Ilustrasi. Macam-macam smartphone yang setiap saat selalu ada yang baru. Foto/iStock

tirto.id - Produk Cina melekat sebagai produk yang berkualitas rendah. Banyak kasus yang
mendukung anggapan miring tersebut. Dalam tulisan David Volodzko berjudul How 'Made in
China' Became a Stigma yang dimuat The Diplomat, ia memaparkan bagaimana produk Cina awalnya
selalu mendapat stigma buruk dari konsumen.
Ia mengambil contoh bagaimana skandal susu pada 2008, insektisida dalam pangsit, telur yang
tercemar melamin, urea dalam kacang panjang, beras plastik hingga formaldehid dalam bir merusak
reputasi produk Cina dan menjadi pengalaman buruk bagi konsumen pada masa lalu.
Selain pada produk makanan, Cina yang mulai merambah industri ponsel pintar juga diterpa dengan
stigma miring bahwa produk Cina itu hanya unggul pada harga yang murah namun memiliki kualitas
rendah. Di awal kemunculannya, ponsel Cina memang dibanderol dengan harga murah yang jauh di
bawah produk AS yaitu Apple atau Samsung dari Korea Selatan.
Pandangan konsumen bahwa “harga menentukan kualitas” membuat produk Cina tak banyak dilirik
meski awalnya harga murah itu untuk menarik konsumen yang selama ini dihadapkan pada harga
ponsel Apple atau Samsung yang mahal. Stigma buruk pada produk Cina ini juga yang menjadi salah
satu batu sandungan kala vendor ingin melebarkan pasarnya ke dunia Barat. Di mata konsumen,
produk Barat memiliki kualitas bagus, menangkap tren, dan lebih mutakhir dibandingkan produk
Cina.
Namun, Cina mulai menjungkirbalikkan stigma tersebut sudah tak berlaku lagi untuk saat ini terutama
untuk produk ponsel pintar. Inovasi tentu menjadi kunci Cina dalam meraih kesuksesan saat ini.
Pada 2011, sekitar 70 persen penjualan ponsel pintar di pasar Cina dikuasai oleh Nokia, Samsung, dan
Apple. Namun berdasarkan laporan Statista, pada 2016 ponsel lokal Cina seperti Huawei, OPPO,
Vivo dan Xiomi menjadi ponsel paling laris mengalahkan Apple dan Samsung.
Kondisi itu terus berlanjut hingga 2017. Penjualan empat merek ponsel itu kian meningkat dan
berhasil menguasai 69 persen pasar ponsel pintar Cina pada kuartal II-2017. Sedangkan Apple turun
0,3 persen dan Samsung terjun bebas dengan penurunan sebesar 4 persen dibandingkan kuartal yang
sama di 2016.
Secara Global, ponsel Cina memang belum mampu mengalahkan Samsung dan Apple. Namun, tiga
produk Cina yaitu Huawei, OPPO, dan Vivo mulai menempel kedua produk internasional itu dengan
berada tak tepat di posisi ketiga, keempat dan kelima sebagai ponsel terlaris di dunia.
"Banyak orang biasa melihat ponsel pintar Cina sebagai copycats. Tapi situasinya sudah banyak
berubah, "kata Jin Di, Research Manager IDC Cina dikutip dari South China Morning Post
"Di satu sisi, mereka telah melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Di sisi lain,
banyak usaha telah dilakukan untuk memperbaiki citra merek mereka," katanya.
Ada beberapa faktor mengapa produk Cina dapat melawan stigma Made in China yang buruk. Di
awal kemunculan, ponsel Cina hanya menawarkan sebuah ponsel dengan konsep yang mirip bahkan
dianggap meniru konsep Samsung dan Apple. Begitu pun pada produk lainnya seperti fesyen yang
meniru desain Barat.
Para vendor Cina mulai melakukan gebrakan dengan menghadirkan konsep baru
seperti OPPO dengan konsep roteting camera dengan lensa berlisensi Schneider Kreuznach dan
teknologi A.I Beauty Recognition untuk teknologi selfie. Menyediakan produk canggih, mutakhir,
berkualitas tinggi yang banyak dibutuhkan konsumen menjadi landasan inovasi para vendor Cina saat
ini.
Inovasi dan perbaikan kualitas tak lepas dari usaha Cina meningkatkan riset dan pengembangan di
berbagai sektor termasuk pada ponsel pintar. Menurut laporan Harvard Business Review, anggaran
riset pemerintah juga terus ditingkatkan dari 1,7 persen dari GDP di 2010 menjadi 2,5 persen dari
GDP pada 2020. Langkah ini juga membantu iklim inovasi bagi dunia usaha dalam berinovasi.
Dalam laporan McKinsey yang dikutip Forbes, sekitar 62 persen konsumen Cina kini mulai beralih ke
merek lokal dibandingkan merek impor bila memiliki kualitas serta harga yang sama.
Merek-merek impor yang awalnya banyak disukai anak muda dan kaum jetset mulai menunjukkan
penurunan. Mark Tanner, Direktur China Skynny, sebuah perusahaan riset berbasis di
Shanghai, mengatakan bahwa warga Cina kini tak lagi “membutuhkan merek asing untuk
menunjukkan bahwa mereka keren.”
Merek lokal mulai dari ponsel hingga fesyen kini dianggap dapat mendukung warga Cina untuk
tampil kekinian. Penduduk lokal juga mulai menumbuhkan sikap mencintai produk lokal dan
menganggap sebagai bentuk cinta negara.
Barang fesyen mewah buatan Cina yang sebelumnya dipandang memiliki reputasi rendah mulai
berubah tak lepas dari “efek Peng Liyuan” gaya berbusana istri Presiden Xi Jinping menjadi pusat
perhatian. Efek Peng Liyuan dianggap menjadi salah satu soft power Cina di bidang fesyen, sama
seperti yang terjadi di Eropa yang dikenal dengan “Efek Kate Middleton.”
Selain First Lady Cina yang melakukan soft power, para pelaku bisnis misalnya di bidang perfilman
juga berkontribusi besar. Meningkatnya film lokal Cina menjadi ajang soft power untuk menunjukkan
merek lokal, sama seperti yang dilakukan film Amerika dalam mempromosikan Apple, Starbucks atau
Nike yang disisipkan dalam film.
Dari sisi regulasi, pemerintah mendukung industri Cina dengan memberi pajak murah termasuk pada
industri ponsel, menurut laporan IB Times. Vendor juga dapat memanfaatkan infrastruktur manufaktur
di Shenzhen yang menjadi kota tujuan para konsumen produk elektronika. Hal ini memberi kontribusi
untuk menurunkan biaya produksi.
Apa yang terjadi pada produk Cina yang perlahan-lahan mengikis stigma, juga dialami oleh negara
industri lainnya seperti Jepang.
Produk Jepang Melawan Stigma
Jepang yang kini hadir sebagai salah satu raksasa teknologi dunia mulai dari industri otomotif hingga
elektronika rumah tangga juga pernah menerima stigma buruk soal produknya yang menyalin desain
dan merek dagang, standar kualitas rendah dan buruk. Stigma itu juga datang dari rakyat mereka
sendiri.
Akira Nagashima pernah melakukan survei pada 1965 dan 1967 untuk membandingkan bagaimana
tanggapan konsumen terkait produk Jepang, AS, Inggris, Jerman, dan Italia. Dalam tulisannya
berjudul A Comparison of Japanese and U.S Attitudes Toward Foreign Products, ia mengungkapkan
bahwa warga Jepang menganggap made in Japan adalah produk murah dengan proses pengerjaan
buruk.
Dalam survei, Akira juga mengelompokkan produk berdasarkan jenis, misalnya otomotif, peralatan
elektronika, tekstil, kosmetik, makanan dan obat-obatan. Para pebisnis AS dan Jepang disurvei,
negara mana yang produknya paling bagus berdasarkan harga, kualitas, desain, servis dan lainnya.
Untuk kelompok otomotif, 81 persen pebisnis AS memilih produk dalam negeri dan tak ada yang
memilih Jepang. Sedangkan 54 persen pebisnis Jepang juga memilih produk AS dan hanya 5 persen
yang memilih produk lokal Jepang.
Sedangkan untuk barang elektronika, 94 persen pebisnis AS tentu memilih produk AS dan hanya 4,5
persen yang memilih produk Jepang. Di sisi lain pebisnis Jepang sebanyak 40 persen memilih produk
AS dan 48 persen memilih produk dalam negeri.
Sedangkan untuk kosmetik, para pebisnis AS tak memilih salah satu negara sedangkan pebisnis
Jepang memilih produk Perancis. Jumlahnya mencapai 81 persen. Hanya 9 persen orang Jepang yang
memilih produk kosmetik dalam negeri.
Masih dalam tulisan Akira, ia mengungkapkan bahwa warga Jepang menganggap produk AS
memiliki nilai gengsi lebih dibanding lainnya. Salah satu strategi AS menarik konsumen saat itu
dengan gencar melakukan pemasaran dengan iklan yang masif sehingga produknya gampang dikenal
dibanding produk lainnya.
Namun, seiring waktu berjalan, setelah 1970-an, Jepang mulai mengubah industrinya dengan
membangun produk-produk yang berkualitas dan memperluas pasar di seluruh dunia. Di Brazil,
produk Kanban, 5S, dan Kaizen sangatlah popular. Produk Jepang juga banyak dikenal lewat merek
elektronika dan otomotif. Bahkan sebelum Volkswagen (VW/Jerman) mengambil alih pasar mobil,
Toyota selama beberapa tahun memimpin penjualan mobil dunia.
Namun, memiliki produk berkualitas dan menjadi salah satu pemimpin negara industri tak lantas akan
mengukuhkan Jepang di puncak pasar. Akhir-akhir ini produk Jepang tengah diuji dengan berbagai
skandal seperti recall air bag Takata, skandal Olympus atau skandal Nissan.
Hugh Cortazzi yang menjabat sebagai duta besar Inggris untuk Jepang pada 1980-1984 mengkritik
bagaimana Jepang berusaha menutupi skandal-skandal tersebut termasuk berbuat curang sehingga tak
ada yang dipenjara terkait skandal yang terjadi pada Olympus. Menurut Hugh, hal ini dapat
mencoreng reputasi produk Jepang, seperti peribahasa "Nila setitik, rusak susu sebelanga".

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb
Ponsel 'Made in China': Dulu
Dicaci, Kini Dicari
Reporter: Ahmad Zaenudin |17 November, 2017 | tirto.id
Selain pemasaran gila-gilaan, ponsel cerdas Cina juga pandai memanfaatkan ceruk pasar
OPPO, Vivo, dan Xiaomi sukses melunturkan stereotip produk buatan Cina yang dulu sinonim
sebagai barang murah, bajakan, dan buruk rupa

tirto.id - Satu siang di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebuah toko ponsel terlihat sepi. Tak
ada pembeli sama sekali di toko tersebut. Praktis, toko hanya diisi tiga pekerja. Dua orang adalah
karyawan toko dan seorang lagi adalah karyawan khusus yang diutus resmi oleh salah
satu brand smartphone asal Cina, OPPO.
Karyawan khusus tersebut acap kali disebut promotor. Jika dua karyawan asli toko itu menjajakan
ponsel pintar secara umum, seorang promotor hanya bertugas menjual produk dari perusahaannya
sendiri. Andri, bukan nama sebenarnya, seorang promotor di toko ponsel itu hanya bertugas
membantu toko menjual produk-produk OPPO.
Meski bekerja dalam satu ruangan toko, Andri terlihat bekerja bak sendirian. Ia memiliki tempat
khusus di toko ponsel tersebut dengan dominan etalase OPPO. Jelas, toko ponsel itu tak cuma menjual
OPPO. Ragam smartphone dari pelbagai merek juga dijajakan. Mulai dari merek yang sudah melekat
dalam benak pembeli hingga pendatang baru. OPPO termasuk brand pendatang baru itu.
Andri, yang hanya bertugas membantu toko menjual produk OPPO, mengungkapkan bahwa ia sering
ditanyai calon pembeli tentang produk jualannya. Umumnya adalah pertanyaan skeptis seputar fakta
bahwa OPPO merupakan brand baru dan berasal dari Cina. Pertanyaan macam itu bukanlah hal aneh.
Aryo Meidianto, manajer humas OPPO Indonesia, mengamininya, terutama ketika OPPO baru
memasuki pangsa pasar ponsel di Indonesia
“Saat itu memang yang berkembang stigma bahwa perangkat-perangkat kami dari Tiongkok, dengan
kualitas rendah, mudah rusak, dan tidak berharga,” kata Aryo. “Untuk menghapuskan stigma itu, kami
sejak awal membawa pesan bahwa OPPO adalah produsen ponsel premium."
Hal itu tidak mudah, tambah Aryo. Tetapi, pelan dan pasti, ia mengklaim bahwa produk OPPO
"makin diterima di pasar." Momentumnya saat perusahaan menyelesaikan pekerjaan konstruksi pabrik
pada Desember 2014. Saat itu, kata Aryo, "sebagian ponsel OPPO telah diproduksi di Indonesia."
Lionel Obadia, profesor antropologi dari Universitas Lyon, Perancis, dalam makalah "‘Made In
China’ - Political and Cultural Valuation of Brand Images, Trade, and Commodities” mengungkapkan
bahwa merek Cina atau produk-produk berlabel “made in China” memang kadung diberi cap negatif
oleh masyarakat. Label “made in China” berkorelasi dengan produk murah, cepat jadi, kualitas
rendah, hingga yang paling menonjol terkait isu pembajakan.
Stigma-stigma negatif yang disandang produk-produk buatan Cina acap kali menjadi antitesis dari
produk-produk buatan Jepang atau Amerika Serikat.
The Verge, salah satu media yang khusus mengulas teknologi, menulis stigma negatif “buatan Cina”
terbentuk atas sejarah panjang kurangnya kontrol kualitas produsen-produsen Cina atas barang
jualannya. Padahal, merujuk apa yang diungkapkan The Economist pada 2015, 70 persen produksi
ponsel dunia dilakukan di Cina. Stigma negatif seakan mengaburkan kenyataan terang itu.
Membalikkan persepsi tentu satu tantangan khusus. Jessica Marie Kraft dalam “Surviving The 'Made
In China' Stigma: Challenges for Chinese Multinational Corporation”, tesisnya untuk University of
Southern California pada Agustus 2010, menulis bahwa mengubah pandangan negatif itu memerlukan
pemasaran tempo lama, uang yang gede, dan kemampuan humas yang mumpuni untuk membentuk
brand yang kuat, sehingga mampu menangkal atau setidaknya mengaburkan stigma tersebut.
Di Indonesia dan pasar internasional, OPPO dan Vivo—keduanya berbasis di Guangdong—
melakukan langkah-langkah yang persis sama dari pengamatan Kraft. Mereka menggelontorkan dana
jorjoran buat memperkuat brand.

Jorjoran OPPO & Vivo Meruntuhkah Stigma Negatif

Vivo—yang bareng dengan OPPO dan OnePlus menginduk pada satu korporasi, yakni BBK
Electronics—melakukan strategi pemasaran melalui aneka ajang olahraga dunia.
Liga sepakbola India, Piala AFF (turnamen negara-negara Asia Tenggara), Pro Kabaddi League (Liga
Kabaddi India), hingga Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia adalah pagelaran akbar yang dijajaki Vivo
untuk memasarkan mereknya. Semua ini tidak murah. Menjadi sponsor resmi Piala Dunia,
misalnya, Vivo dikabarkan merogoh kocek sedalam 400 juta Poundsterling (atau setara Rp7 triliun).
Selain itu, Vivo menempatkan produk mereka dalam film Hollywood superhero Captain
America (2016). Ia juga ikut membantu salah satu program National Geographic.
Senada dengan Vivo, OPPO melakukan langkah serupa, salah satunya menjadi sponsor resmi kelab
Katalunya Barcelona untuk kontrak selama 2 tahun untuk pasar Indonesia pada Juli 2016. OPPO
diizinkan memakai logo FC Barcelona guna kepentingan komersial di Indonesia. OPPO juga
menempatkan produknya dalam film superhero Spider-Man Homecoming (2017).
Keduanya pun jorjoran beriklan di pelbagai media, televisi, koran dan majalah, maupun online.
Keduanya menggandeng selebritas top tanah air, sebut saja Raisa, Isyana, Chelsea Islan, Agnes
Monica, Reza Rahardian, Prily Latuconsina.
Selain kedua merek ponsel itu, Xiaomi—yang berbasis di Beijing—juga melakukan pendekatan
pemasaran yang masif tapi dengan cara agak beda. Lei Jun, sang pendiri, lebih memilih
memanfaatkan pendekatan maya baik melalui Sina Weibo maupun Facebook demi
membesarkan brand.
Secara perlahan, tiga brand itu mengikis stigma negatif produk Cina. Edy Kusuma, manajer brand
Vivo, mengklaim bahwa stigma negatif itu telah luntur terutama di Indonesia.
“Sekarang stigma itu sudah tidak lagi sejak 2014,” kata Kusuma.
Licin Memanfaatkan Ceruk Pasar

Terkikisnya stigma negatif bahwa smartphone Cina itu produk abal-abal bisa dilihat melalui
pencapaian pasar ketiga brand tersebut.
Pada kuartal alias tiga bulan kedua tahun 2017, baik OPPO, Vivo, maupun Xiaomi menyumbang
persentase pengapalan ponsel pintar dunia yang cukup besar.
OPPO menyumbang 8,4 persen dari total pengapalan smartphone dunia. Dikuntit Vivo dengan 6,6
persen, dan Xiaomi dengan 6,3 persen. Persentase ketiga brand ini meningkat dari kuartal pertama
tahun 2017: OPPO menyumbang 6,8 persen, Vivo sebesar 6,1 persen, dan Xiaomi dengan 3,5 persen.
Jika ditilik lebih mendalam soal kesuksesan OPPO, Vivo, dan Xiaomi, sesungguhnya hal itu bukan
perkara strategi pemasaran semata. Tetapi mereka licin memilih ceruk pasar—istilah dalam
pemasaran disebut niche.
Tevfik Dalgic dan Maarten Leeuw dari Sekolah Bisnis Henley, Inggris Raya, dalam makalah yang
sudah menjadi klasik berjudul “Niche Marketing Revisited: Concept, Applications and Some
European Cases” (1994), menulis bahwa niche adalah pasar kecil yang tidak dijajaki oleh kompetitor.
Bermain dengan konsep niche artinya mengeksploitasi pasar spesifik, yang tidak dilirik oleh
perusahaan-perusahaan pesaing. Konsep ini berbeda dari segmentasi. Jika segmentasi adalah proses
dari atas, nicheadalah pasar yang muncul dari bawah, dari keinginan-keinginan spesifik pelanggan.
Dalam tindakan pragmatis, OPPO misalnya secara terang-terangan mengusung tagline “Camera
Phone.” Tagline ini adalah praktik spesifik yang menjelaskan kemampuan kamera ponsel OPPO
adalah jualan utamanya.
Produk OPPO N1, misalnya, yang dirilis pada September 2013 adalah smartphone yang
membenamkan kamera putar pertama. Itu adalah fitur yang memungkinkan pengguna mengambil foto
dari depan atau belakang dengan sama baiknya. OPPO juga termasuk perusahaan ponsel pertama
yang mengusung konsep dual-kamera, yang kini sudah jadi tren dan bukan lagi perkara istimewa.
Xiaomi pun begitu; ia memiliki niche sendiri, terutama sederap-selangkah dengan strategi online-nya.
Jika produsen-produsen lain menyasar segmen offline, Xiaomi menyasar pasar yang sudah melek
internet. Selain itu, Xiaomi membawa strategi niche lewat MIUI, user interface Android yang khusus
dibuatnya, menjelaskan kemudahan kustomisasi dan mendorong fungsi perangkat secara optimal.
MIUI dibuat untuk menyederhanakan user interface bawaan Android yang terasa kaku.
Gabungan strategi pemasaran dan pemilihan niche itulah, di antara faktor-faktor lain, membuat merek
ponsel cerdas "made in China" sukses di pasaran, tak terkecuali di Indonesia.

Sumber : https://tirto.id/ponsel-039made-in-china039-dulu-dicaci-kini-dicari-cAaP
Promosi Gila-gilaan OPPO x
Vivo di Pasar Ponsel Indonesia
Reporter: Ahmad Zaenudin |17 November, 2017 | tirto.id

Dua ponsel dari satu induk perusahaan Cina ini mengerahkan ribuan promotor dan memajang
reklame mencolok
Tujuan OPPO & Vivo jorjoran berpromosi offline untuk mengerek merek mereka sebagai 'top of
mind' konsumen.

tirto.id - Di satu blok di pusat perbelanjaan elektronik di Jakarta, seorang perempuan bernama
Shintia tengah bekerja menjual ponsel cerdas. Meski begitu, Shintia bukanlah karyawan toko tersebut.
Dalam istilah pemasaran, Shintia adalah promotor alias sales promotion girl, dan yang
mempekerjakannya adalah Vivo, perusahaan handphone asal Guangdong, Cina.
“Kita hanya bantu jualan stok di toko,” ujar Shintia. “Per bulan saya ditargetkan menjual 40 unit
HP Vivo."
Ada banyak orang yang bekerja seperti Shintia. Hampir tiap toko ponsel, baik di pusat perbelanjaan
maupun di pinggir jalan, memiliki promotor. Selain Vivo, OPPO pun melakukannya. Keduanya
berinduk korporasi yang sama, yakni BBK Electronics.
Edy Kusuma, manajer brand Vivo Indonesia, mengatakan hingga hari ini Vivo mempekerjakan 3.500
promotor. Promotor-promotor ini dipekerjakan untuk meringankan beban toko ponsel menjual produk
ponsel buatan Vivo.
Senada dengan Vivo, OPPO mengutus sangat banyak promotor ke toko ponsel. “Total karyawan
OPPO saat ini 27.000 di seluruh Indonesia, dan 80 persennya adalah promotor,” kata Aryo Meidianto,
manajer humas OPPO Indonesia. Para promotor ini adalah pasukan terdepan perusahaan menghadapi
para konsumen.
Ratmi, pemilik toko ponsel di ITC Fatmawati, Jakarta Selatan, membenarkan bahwa promotor yang
seolah-olah bekerja di tokonya digaji sepenuhnya oleh perusahaan yang menitipkan mereka, entah
dari OPPO atau Vivo. Dan mereka ditargetkan menjual ponsel dalam jumlah tertentu setiap bulan.
Eklis, pekerja toko di ITC Roxy Mas, mengatakan promotor-promotor di toko tempatnya ditargetkan
menjual 10 unit ponsel per bulan. Target kecil ini karena posisi toko di lokasi kurang strategis di
lantai 4.
Soal target, Aryo dari OPPO Indonesia mengatakan sesungguhnya tak ada target mutlak. “Target
penjualan dapat dibuat sendiri dan ditembus sendiri. Jika mereka ingin menyejahterakan dirinya
ataupun keluarga, tentu secara otomatis mereka akan berkomitmen untuk mencapai target penjualan
tertentu. Jadi perbedaan target, tergantung masing-masing promotor."
Selain promotor yang diutus khusus, baik oleh Vivo maupun OPPO, nyaris di setiap toko ponsel itu
dihiasi bermacam alat peraga reklame yang mencolok, di antaranya berupa shop sign, billboard,
maupun banner.
Aryo mengatakan model pemasaran dengan memajang materi iklan di etalase toko itu "sangat efektif
untuk memengaruhi konsumen" demi menjadikan OPPO sebagai "top of mind"—merek yang seketika
muncul dalam benak konsumen.
"Ketika konsumen melihat logo atau produk ponsel OPPO di mana-mana, secara psikologis
konsumen akan penasaran dan akhirnyamencari informasi dan mengunjungi toko-toko kami,”
ujar Aryo.
Penempatan beragam jenis iklan itu jelas butuh biaya. "Semua yang pasang-pasang iklan ini bayar.
Mau OPPO mau Vivo, semua bayar," kata Ratmi, pemilik toko ponsel. Ia menyebut tarif Rp1
juta/bulan untuk tiap satu badan etalase. Bila ada dua sisi badan toko yang terlihat oleh konsumen,
katanya, tinggal dikalikan Rp1 juta.
Pihak OPPO dan Vivo saat ditanya soal total biaya promosi ini lebih menjawab diplomatis. “Pada
dasarnya OPPO melakukan support penuh untuk toko-toko yang bekerja sama dengan kami.
Bentuknya antara lain seperti pemasangan shop sign, meja display, dan melengkapi material promosi
lain, termasuk tenaga penjual atau promotor juga kami sediakan,” kata Aryo.
Edy dari Vivo mengatakan model kerja sama itu tak melulu berbuah uang. “Kami menawarkan
renovasi di toko biar bagus. Mutual benefit."
Total, OPPO telah bekerja sama dengan 20 ribuan toko ponsel; sementara Vivo dengan 7 ribuan toko.
“Jika setengah tahun kami copot materi iklan, kami didenda Rp20 juta,” ujar Ratmi.
Jorjoran pemasaran

Penempatan promotor maupun materi-materi iklan yang dipajang di toko ponsel adalah bagian dari
strategi hilir pendekatan promosi darat duo perusahaan asal Cina tersebut. Di bagian hulu, dua-duanya
getol menggelontorkan uang untuk mempromosikan brand mereka melalui pelbagai saluran. Vivo
misalnya sebagai sponsor resmi Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.
“Ini bagian strategi pemasaran yang sudah kami bikin, kami rencanakan. Kami, kan, brand baru,”
kata Edy. “Kami punya mimpi tidak hanya merajai pasar Asia Tenggara saja, tapi juga di benua lain.
Untuk World Cup, everybody suka football, ini investasi jangka panjang."
OPPO pun setali sepermainan, misalnya menggaet kelab Katalunya FC Barcelona untuk lisensi
rilisan ponsel di pasar Indonesia.
Keduanya juga memasang iklan di media masa. Sebagai gambaran, harga iklan di televisi—yang
pertumbuhan iklannya tertinggi di antara media lain—berada pada kisaran 5 ribu dolar AS untuk jam
tayang utama di Indonesia (antara pukul 18.00-23.00).
Dan selain iklan media masa, duo perusahaan asal Cina ini rajin bekerja sama dengan selebritas top,
di antaranya Raisa, Isyana Sarasvati, Chelsea Islan, dan Agnes Monica.
Sayangnya, baik OPPO dan Vivo enggan buka-bukaan soal biaya promosi gila-gilaan ini. Aryo
mengatakan OPPO Indonesia hingga hari ini melakukan strategi offline lebih besar ketimbang online.
Perbandingannya mencapai 80:20. Ini berbeda dengan pendekatan Xiaomi, perusahaan Cina lain,
yang lebih memilih pemasaran melalui jalur online.
Memasarkan produk melalui pendekatan offline untuk pasar Indonesia tidaklah mengherankan.
Akamai, provider Content Delivery Network (CDN), pada Maret 2017 pernah merilis tingkat
penetrasi internet di Indonesia sebesar 50,4 persen. Angka ini masih kalah dari negara-negara tetangga
seperti Singapura (81,2 persen), Malaysia (67,7 persen), Thailand (60 persen), Vietnam (52,1 persen),
dan Filipina (52 persen). Gambaran ini (masih) menjadikan segmen offline sebagai strategi pemasaran
yang cukup layak dieksploitasi oleh produsen-produsen ponsel tersebut.
Mereka terus menguras ceruk pasar Indonesia. Menurut proyeksi lembaga riset eMarketer (2015),
akan ada 83,5 juta unit ponsel pintar yang aktif di Indonesia pada 2018 dan 92 juta pada 2019. Jumlah
ini tertinggi di Asia Tenggara di sebuah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia.

Sumber : https://tirto.id/promosi-gila-gilaan-oppo-x-vivo-di-pasar-ponsel-indonesia-cAaQ
Strategi 'Flash Sale' Xiaomi
buat Meladeni Kompetitor
OPPO & Vivo
Reporter: Ahmad Zaenudin |17 November, 2017 | tirto.id

"Mi Fans"—sebutan penggila produk Xiaomi—lahir dari strategi penjualan online perusahaan dari
Beijing tersebut
Upaya Xiaomi menjual ponsel terbarunya via jalur online dengan menggandeng Lazada berhasil
menciptakan konsumen loyal.

tirto.id - Pada awal Oktober 2017, Xiaomi, perusahaan teknologi berbasis di Beijing yang dimotori
oleh Jun Lei, merilis produk ponsel cerdas bernama Mi A1 di Indonesia. Sebelumnya, produk serupa
lebih dulu dirilis di India, pasar yang memiliki karakteristik hampir mirip Indonesia.
Kecuali bagi pencinta teknologi maupun pengakses berita-berita teknologi, kehadiran Mi A1 di
Indonesia terasa senyap. Ini berbeda manakala Vivo merilis smartphone baru bernama Vivo V7 pada
akhir September lalu.
Saat itu Vivo menggandeng 9 stasiun televisi (RCTI, ANTV, Indosiar, MNCTV, SCTV, Trans7,
TransTV, GlobalTV, dan TVOne) serta 9 media online untuk menayangkan secara langsung kelahiran
jagoan baru mereka. Dalam tayangan langsung itu, selain menyuguhkan penampil utamanya V7 ,
Vivo memamerkan selebritas ternama untuk mengisi acara berdurasi 90 menit tersebut.
Praktis, kehadiran Mi A1 hanya mengandalkan pemberitaan.
Soal penjualan produk, Xiaomi lagi-lagi memilih pendekatan berbeda dari kompetitor lain, terutama
dibandingkan pesaing yang sama-sama dari Cina seperti OPPO dan Vivo. Jika OPPO dan Vivo
terlihat jorjoran mengerahkan pasukannya menjual produk mereka di ritel-ritel offline, Xiaomi lebih
mengandalkan pendekatan online.
Mi A1 dirilis dengan memakai flash sale, satu metode penjualan yang muncul kali pertama pada awal
tahun 2000 yang dipelopori oleh uBid and Woot.com di toko online Lazada. Flash sale secara ringkas
adalah metode penjualan dalam tempo terbatas dengan iming-iming harga lebih murah.
Achmad Alkatiri, kepala kantor pemasaran Lazada, mengungkapkan keuntungan flash sale adalah
“mendapatkan harga terbaik (lebih murah) dibandingkan harga pasaran.”
Umumnya, flash sale diadakan oleh e-commerce dengan terlebih dulu mengirimkan notifikasi kepada
para pelanggan setia. Pihak Lazada menjelaskan bahwa ada "puluhan ribu masyarakat Indonesia"
yang mendapatkan notifikasi untuk acara flash sale Mi A1. Dan dalam hitungan menit,
klaim Achmad, produk itu terjual habis.
Tercatat, sejak awal Oktober hingga hari ini, Lazada hampir selalu mengadakan flash sale Mi M1
setiap minggu. Sayangnya, baik pihak Lazada maupun Xiaomi ogah omong soal
total smartphone yang terjual dari acara tersebut.
Sebagai gambaran, pada September 2014 di India, dengan metode penjualan serupa,
Xiaomi mengklaim telah sukses menjual 100 ribu unit ponsel dalam waktu 4,2 detik.
“Kerja sama dengan Lazada adalah cara efektif bagi kami, karena para 'Mi Fans' bisa mendapatkan
produk pada hari yang sama,” ujar pihak Xiaomi Indonesia.

Flash Sale sebagai Strategi Fundamental

Strategi penjualan online oleh Xiaomi via flash sale bukan perkara jual-beli semata. Selama ini
Xiaomi memang dikenal produsen smartphone yang menjual produk dengan harga lebih murah
dibanding produk kompetitor yang memiliki spesifikasi hampir mirip. Flash sale adalah upaya
Xiaomi menekan harga produk serta membangun antusiasme penggila yang akrab dipanggil "Mi
Fans".
Rajendra Kumar Tolety, dalam “Hunger Marketing, Flash Sale and Cost Optimization Strategy of
Xiaomi Inc.” (2017), mengungkapkan bahwa flash sale secara fundamental adalah upaya Xiaomi
untuk menekan harga jual produk. Ini salah satu upaya menekan biaya dari level operasional hingga
level strategi.
Melalui metode itu Xiaomi mempraktikkan langkah pemasaran yang lahap. Cara ini demi menekan
penawaran untuk tetap di bawah permintaan, sehingga menciptakan apa yang disebut kondisi “defisit
semu.”
Secara sederhana, produk yang memanfaatkan strategi ini seolah-olah sangat laku hingga terkesan
kehabisan stok. Dalam kasus Mi A1, gambaran itu bisa dilihat dari empat kali mengadakan flash
salepada Oktober dan sekali pada November. Xiaomi dan Lazada sukses menciptakan defisit semu.
Kondisi ini bukan tanpa tujuan. Tolety mengungkapkan bahwa hal itu mendorong Xiaomi
menegosiasikan ulang harga bahan baku smartphone dari para pemasok. Sehingga ia berhasil
mencapai tujuannya: membuat harga ponsel Xiaomi bisa ditekan lebih murah dibandingkan produk
serupa dari kompetitor.
Jelas, strategi Xiaomi ini tidak akan berhasil manakala flash sale yang diadakan berbuah pahit. Di titik
inilah "Mi Fans" berperan penting menyukseskan rilisan ponsel baru Xiaomi.
Chao Ching Shih dalam “Fan-centric social media: The Xiaomi phenomenon in China” (2014)
menulis bahwa kelahiran "Mi Fans" lahir dari pendekatan online. Kondisi semakin bertambahnya
penduduk yang mengakses internet dan memanfaatkan media sosial, membuat Xiaomi percaya diri
untuk memenangkan hati kerumunan di ranah media sosial.
Sejak didirikan, Lei Jun memanfaatkan Sina Weibo, Twitter versi Cina, dan Facebook untuk
menciptakan "Mi Fans". Jun memanfaatkan kedua media sosial itu untuk berinteraksi dengan
pengguna maupun orang-orang yang berpotensi menjadi pengguna produk Xiaomi. Jun mengunggah
lebih dari 100 komentar di Sina Weibo untuk merespons pertanyaan apa pun seputar Xiaomi.
Dan karena media sosial adalah platform yang terbuka, maka komentar positif atau negatif pun
terpampang bebas. Untuk komentar negatif, meski menyakitkan, tetap direspons dengan baik, yang
justru berbalik jadi salah satu faktor setia fans Xiaomi. Ini membuat Xiaomi, yang lebih suka
dipanggil “perusahaan internet”, sukses membangun basis penggemar yang cukup militan.
Keuntungan dari sana tinggal dipetik: saat flash sale digelar, produk Xiaomi bisa terjual hingga ludes
dalam hitungan cepat. Hal inilah yang dinamakan sebuah metode pemasaran yang lapar.

Kondisi ke depan

Strategi Xiaomi terlihat menjanjikan. Pada 2017, diprediksi jumlah pengakses internet di Indonesia
mencapai 104,69 juta orang
Sayangnya, mengandalkan pendekatan online saja tak bisa terus-menerus dilakoni. Masih banyak
penduduk Indonesia yang belum terjangkau akses internet. Akamai, provider Content Delivery
Network (CDN), pada Maret 2017 pernah merilis tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 50,4
persen.
Xiaomi sadar soal situasi itu dan mulai mencoba beradaptasi. “Belakangan Xiaomi tidak hanya fokus
dalam channel online, kami bekerja sama dengan distributor lokal kami, Erajaya. Kami telah
membuka tiga Authorized Mi Store yang berlokasi di Summarecon Mall Serpong, Pondok Indah
Mall, dan Summarecon Mall Bekasi. Sampai akhir tahun ini, kami akan membuka sampai 15
Authorized Mi Store di beberapa kota besar di Indonesia,” kata pihak Xiaomi Indonesia.
Bahkan bukan hanya Xiaomi yang mengamini kenyataan ini. Dua market place daring terbesar di
tanah air, Tokopedia dan Bukalapak, menyadari hal ini.
William Tanuwijaya, CEO Tokopedia, mengungkapkan pasar online dan offline ke depan seharusnya
bisa bersinergi. “Keduanya punya kelebihan masing-masing. Offline akan memberikan pengalaman,
dari melihat, mencoba, dan menyentuh produk. Sedangkan online akan menjadi sarana kemudahan
dan efisiensi,” ucap William.
Lebih jauh, Bukalapak telah mengintegrasikan keduanya. “Bagi masyarakat yang terkendala dengan
internet, Bukalapak mempunyai program Agen Bukalapak, inisiatif online-to-offline, yang mulai
dijalankan pada November 2016,” kata Andarini, manajer humas Bukalapak.

Sumber : https://tirto.id/strategi-039flash-sale039-xiaomi-buat-meladeni-kompetitor-oppo-
amp-vivo-cAaS
Potret Ponsel Lokal di tengah
Gempuran Smartphone Cina
Reporter: Ahmad Zaenudin |17 November, 2017 | tirto.id

Gempuran brand ponsel manca sangat sulit dibendung


Sama-sama komponennya diproduksi dari Cina, ponsel lokal macam Mito dan Advan berada dalam
impitan raksasa macam Vivo, OPPO, maupun Xiaomi.

tirto.id - Dalam dunia perangkat teknologi ada satu kalimat cukup terkenal: Didesain oleh Apple
di California, dirakit di Cina. Parafrasa ini melekat pada produk bikinan Apple, seperti iPhone, iPod,
iPad, dan Mac.
Kalimat itu adalah pernyataan, tak sekadar informasi, untuk menjelaskan produk Apple. Meski dirakit
di Cina, perancangan gawai dan rupa-rupa pekerjaan litbang lain tetap dilakukan di negeri Paman
Sam. Apple ingin menyatakan bahwa iPhone, iPod, iPad, atau produk apa pun adalah buatan AS,
bukan Cina.
Di pasar Indonesia, berlaku hal serupa. Ponsel dengan cap buatan Cina dikemas ulang
dalam brandIndonesia. Dalam sekejap, ponsel itu akan berubah status menjadi ponsel lokal.
Wijaya Kusuma, manajer pemasaran PT Mito Mobile, produsen ponsel lokal dengan merek Mito,
mengamini tindakan demikian.
“Semua brand lokal ngambil dari Cina. Kami di Mito, kan, ada litbang, jadi kami memberikan fitur-
fitur berbeda dari brand lain sebagai nilai tambah,” kata Wijaya.
Apa yang diungkap Wijaya sejalan pengakuan Jualiardi dari PT Metrotech Jaya Komunika,
perusahaan di balik brand lokal bernama Nexian. “(Nexian) memang diproduksi di Cina, tetapi untuk
kontennya berasal dari Indonesia, seperti Nexian Messenger. Dan kami mem-packing produk Nexian
di Indonesia,” ujarnya.
Ada cukup banyak brand lokal: Nexian, Mito, Advan, maupun brand ponsel lokal yang dibekingi
perusahaan provider telekomunikasi seperti Smartfren. Mereka bertarung di pasar ponsel Indonesia.
Data dari IDC mengungkapkan, pada kuartal (tiga bulan) pertama tahun 2017 tercatat ada 7,3 juta
unit smartphone yang dikapalkan di Indonesia.
Umumnya ada dua cara ponsel bikinan Cina bertransformasi menjadi brand lokal: meminta langsung
pihak Cina mengemas dengan brand lokal; atau mengimpor bagian per bagian sebuah ponsel, lantas
dirakit di pabrik perusahaan lokal. Nexian, menurut Juliardi, memilih cara pertama. PT Mito Mobile,
menurut Wijaya, menggunakan cara kedua.
Namun, untuk cara kedua, Wijaya mengatakan teknik perakitan itu tak hanya dilakukan
perusahaannya. Mengimpor bagian per bagian komponen ponsel lalu merakitnya di Indonesia juga
dilakukan brandbesar, terutama demi mengakali TKDN alias Tingkat Komponen Dalam Negeri—satu
skema pemerintah untuk melokalisasi produk-produk elektronik terutama bagi ponsel dan laptop.
“Semua rata-rata begitu, semua dalam bentuk part komponen. Brand-brand besar pun sama, semua
yang branded. Ada software-nya yang digunakan untuk nanti dicek quality control terhadap produk-
produk mereka hingga memiliki standar yang sama dengan aslinya,” klaim Wijaya.
Peraturan resmi dari Kementerian perindustrian tahun 2017 menyebutkan TKDN terdiri tiga aspek:
manufaktur, pengembangan, dan aplikasi, dengan masing-masing bobot nilai 70 persen, 20 persen,
dan 10 persen.
Sayangnya, urusan TKDN ini pula yang menjadi bumerang bagi Nexian. “Nexian mati murni karena
syarat TKDN,” kata Juliardi.
Berbeda dari Nexian, brand Mito hingga hari ini masih bisa bertahan. Menurut Wijaya, hal ini karena
perusahaannya memiliki basis pabrik elektronik. “Sekarang masih jalan terus, dari ponsel yang
seharga Rp100 ribu sampai ponsel Android Rp1 jutaan.”
Untuk urusan TKDN, Wijaya mengklaim terus mengoptimalkan segala komponen atas dasar
penghitungan skema tersebut. “TKDN tetap perakitan, produksi, bisa dari software, tenaga kerja,
pabrik, bahan baku. Kardus pun termasuk TKDN,” terangnya.
Toh, meski beberapa brand ponsel lokal masih bertahan, gempuran merek ponsel internasional
memang sangat sulit dibendung. Data dari IDC mengungkapkan bahwa pangsa pasar brand lokal
terus tergerus. Pada kuartal pertama tahun 2017, brand lokal hanya memperoleh 17 persen pangsa
pasar. Angka ini menurun jika dibandingkan kuartal yang sama setahun sebelumnya dengan 20 persen
pangsa pasar.
Pangsa pasar brand lokal kalah jauh dibandingkan ponsel Cina seperti OPPO, Vivo, Xiaomi,
maupun brand lainnya. Pada kuartal yang sama, brand Cina menguasai 31 persen pangsa pasar.
Tergerusnya brand lokal ini salah satunya soal duit besar. Perusahaan ponsel macam OPPO dan
Vivo maupun Xiaomi gencar membakar uang dalam strategi pemasaran demi mengambil ceruk pasar
ponsel di Indonesia.
Meski begitu, untuk urusan persaingan, Wijaya dari PT Mito Mobile mengatakan bahwa
segmen brandCina dan brand Indonesia sesungguhnya dalam level berbeda.
Membandingkan keduanya kurang tepat, kata Wijaya. Perbedaan harga dan level ponsel dari
keduanya jelas tidaklah setara. "Brand Indonesia hanya bisa dikomparasikan dengan
sesama brand Indonesia, bukan dengan brand Cina," tambahnya.
Di lain pihak, Juliardi mengatakan kematian Nexian tak dipengaruhi oleh OPPO, Vivo, maupun
Xiaomi. Ia bilang bahwa Nexian mati sebelum brand asal Cina tersebut meledak di pasar Indonesia.
Thus, mengibaratkannya dalam sebuah sepakbola: bila brand dari Cina adalah kompetisi Eropa,
ponsel dari brand lokal adalah kompetisi liga Indonesia.

Sumber : https://tirto.id/strategi-039flash-sale039-xiaomi-buat-meladeni-kompetitor-oppo-
amp-vivo-cAaS
10 Tahun iPhone dan Catatan Bunuh Diri
Buruh Foxconn
Reporter: Akhmad Muawal Hasan |14 September, 2017 | tirto.id
Catatan tertinggi terjadi pada 2010 ada 14 kasus bunuh di pabrik Foxcon Cina
Ancaman bunuh diri adalah jalan terakhir dan yang paling efektif bagi para buruh
Maraknya aksi bunuh diri para pekerja pabrik Foxconn menjadi ironi dari kesuksesan gawai yang
mereka produksi dan laris di pasar dunia.

Pekerja Foxconn di selatan provinsi Guangdong, Cina. REUTERS/Bobby Yip

tirto.id - Tahun ini iPhone telah melewati usia satu dasawarsa. Selama kurun waktu itu pula,
iPhone telah terjual 1,2 miliar unit di seluruh dunia. Keberadaan iPhone itu tak terpisahkan dari kerja
keras para buruh pabrik komponen elektronika, Foxconn, salah satunya di Longhua, Shenzen, Cina
Nama Foxconn beberapa tahun lalu memang kurang sedap untuk urusan nasib para pekerja.
Perusahaan asal Taiwan ini terkenal dengan fenomena bunuh diri yang dilakukan para pekerjanya di
Cina. Dalam laporan investigasi Brian Merchant untuk The Guardian, diketahui bahwa pabrik raksasa
tersebut adalah rumah bagi 450.000 buruh. Saat ini jumlahnya diyakini lebih sedikit, tulis Merchant,
namun tetap menjadi salah satu operasi pabrik terbesar di dunia.
Kasus bunuh diri para pekerja di Foxconn sudah dimulai pada 2007, yang dicatat sejumlah media
lokal melibatkan seorang buruh pria yang gantung diri di toilet pabrik. Kasus selanjutnya pada 2009,
yang menimpa Sun Dan-yong, buruh berusia 25 tahun. Ia diyakini stres karena dituduh mencuri
prototipe iPhone baru. Ia mengaku dipukuli tim keamanan pabrik saat diinterogasi. Pada 15 Juli jadi
momen terakhir kalinya sebagai pekerja di Foxconn, ia mengirim pesan terakhir ke pacar, dan
keesokan harinya loncat dari lantai 12 gedung apartemen.
Pada 2010 jadi tahun paling merepotkan bagi Foxconn dan tentu para kliennya seperti Apple, Sony,
Nintendo, dan HP karena mereka menjadi sorotan. Pada tahun itu, tingkat bunuh diri di kalangan
buruh Foxconn meningkat tajam. Tercatat ada 18 aksi percobaan bunuh diri, sebanyak 14 di antaranya
berakhir kematian dan sisanya berhasil digagalkan
Rata-rata para korban mengikuti jejak Sun-Dan yong, mengakhiri hidup dengan terjun dari ketinggian
termasuk dari gedung pabrik. Beberapa di antaranya ada yang memilih cara lain, dan ada juga yang
memutuskan untuk loncat dari jendela kamar kos-kosan.
Bunuh diri seolah jadi "ritual" tahunan di pabrik Foxconn. Selain pada 2010, ada empat kasus serupa
muncul di 2011, satu kasus terjadi lagi pada 2012. Pada 2012 juga sempat ada ancaman 150 pekerja
yang akan bunuh massal diri di pabrik. Lalu ada dua kasus pada 2013. Pada 2016 ada satu kasus
bunuh diri. Angka-angka ini yang muncul ke permukaan, karena diperkirakan kenyataannya bisa lebih
dari itu. Media massa, terutama dari luar Cina, amat susah untuk membuat laporan yang komprehensif
atas kasus yang mencuat di Foxconn termasuk harus dialami oleh Merchant.
Selain Sun Dan-yong, kasus lain yang mencuri perhatian publik dialami oleh Wang Ling, buruh
perempuan berusia 25 tahun yang diketahui mengalami masalah psikis sehingga di bawa ke rumah
sakit jiwa. Persoalan tekanan kerja dan sosial yang dipendam sejak lama, mendorong Ling
memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai gedung rumah sakit tempat dirinya
dirawat.
Adanya kenyataan ini, elite Apple dan Foxconn pun menanggapi kasus menahun ini. Saat
mendiang Steve Jobs masih hidup, ia sempat menyatakan "Kita sudah move-on."
CEO Foxconn, Terry Gou, sempat menyewa konselor dan para buruh diminta menandatangani janji
tertulis berisi komitmen untuk tidak melakukan percobaan bunuh diri. Mereka juga memasang jaring
raksasa di banyak dasar gedung pabrik untuk mencegah tubuh para buruh jatuh menimpa aspal.
Namun, kebijakan ini dinilai tak efektif sebab dinilai tak menyentuh akar persoalan dan ada banyak
cara bunuh diri dan prosesnya tak mesti dilakukan di kawasan pabrik.
Akar Bunuh Diri di Foxconn

Dikutip dari catatan selamat tinggal dan wawancara sejumlah pekerja yang dikumpulkan Brian
Merchant, laporan kompilasi yang disusun oleh 20 universitas Cina--dari hasil wawancara 1.800
buruh di 12 pabrik Foxconn, terkait rentetan kasus di 2010, dan audit yang dilakukan Fair Labor
Assosiation pada 2012 ada kesimpulan bahwa penyebab utamanya adalah tekanan kerja yang
terlampau tinggi di pabrik Foxconn.
Xu, salah satu narasumber Merchant, berkata bahwa Foxcon “bukanlah tempat yang ideal untuk
manusia.” Media lokal hingga internasional memang memberikan porsi liputan yang besar bagi kasus
bunuh diri yang terjadi pada 2010, tapi hal ini tidaklah cukup untuk mengubah keadaan di pabrik
menjadi lebih ideal, katanya.
Kerja Xu dan rekan-rekannya kerapkali melampaui durasi normal. Mereka kerap dipaksa menjalani
lembur sehingga total jam kerjanya mencapai 12 jam per hari. Menurut laporan Forbes bahkan ada
yang menjalani 14 jam kerja per hari dan masuk selama tujuh hari penuh dalam seminggu. Belum lagi
di tengah potensi kecelakaan kerja yang masih tinggi untuk ukuran pabrik merek terkenal dunia, para
buruh juga seringkali telat mendapat bayaran, termasuk untuk upah lembur.
Akar permasalahan untuk tingginya tekanan kerja di Foxconn, kata Xu dan dikonfirmasi buruh lain,
adalah gaya para manajer yang terlalu agresif, tak manusiawi, dan gampang melancarkan beragam
bentuk kekerasan verbal. Sikap ini ditengarai bertujuan untuk mendisiplinkan buruh, tapi efek
buruknya adalah level depresi yang meningkat tajam dan membuat para buruh mudah terdorong untuk
mengakhiri hidup.
Beberapa bulan sebelum Merchant datang ke Foxconn, Xu menyaksikan seorang buruh yang
dikenalnya melakukan bunuh diri. Kata Xu, buruh itu dipermalukan seorang manajer di depan umum
karena ia melakukan sebuah kesalahan. Sang buruh tak terima dan mengajak berkelahi, tapi berhasil
didamaikan aparat kepolisian. Menurut Xu, si buruh menjadikan masalahnya jadi sangat personal dan
tak mampu menahannya lagi. Tiga hari berselang, si buruh loncat dari lantai 9 gedung pabrik.
Xu bercerita bagaimana para manajer bisa marah sejadi-jadinya jika seorang buruh melakukan
kesalahan kecil atau tempo kerjanya melambat. Cara memarahinya pun menegangkan: sang buruh
disidang di depan buruh dan manajer lain agar ia malu dan tak mengulangi kesalahannya lagi. Akibat
lingkungan kerja yang demikian, ditambah sikap culas dan tak jujur dari para manajer, Xu berkata
rata-rata para buruh hanya bertahan satu tahun saja di Foxconn.
“Mereka (kalangan pekerja) menyebut Foxconn sebagai jebakan rubah sebab telah menipu banyak
orang,” kata Xu.
Ini berkebalikan dengan janji-janji Foxconn saat masa perekrutan, termasuk janji rumah gratis, tapi
kemudian buruh dipaksa bayar listrik dan air dengan biaya yang tinggi. Para pekerja tidur di kamar
sempit yang biasa dipakai untuk 8-12 orang. Foxconn mengelak dari segala bentuk asuransi sosial dan
sering gagal membayar bonus. Banyak pekerja yang menandatangani kontrak tak adil sebab berisi
aturan dihukum denda besar jika keluar dari pekerjaannya dalam tiga bulan pertama.
Pada kejadian ancaman bunuh diri 150 orang buruh pada 2012, pihak manajemen sempat menjanjikan
perbaikan kondisi kerja dan upah. Setahun setelahnya, sekelompok buruh dengan jumlah lebih kecil
juga melakukan manuver serupa lalu Foxconn pun memenuhi permintaan mereka.
Ancaman bunuh diri, pada akhirnya, jadi jalan satu-satunya dan yang paling efektif bagi para buruh
Foxconn untuk menuntut hak-haknya. Hak para pekerja Foxconn tentu sebuah kewajaran di tengah
kondisi berkebalikan dari produk-produk gawai yang komponennya mereka hasilkan mampu
membantu kehidupan orang banyak seperti gawai iPhone yang kini ada di tangan miliaran orang di
seluruh dunia.

Sumber : https://tirto.id/10-tahun-iphone-dan-catatan-bunuh-diri-buruh-foxconn-cwxX
Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb

Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb

Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb

Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb

Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id


Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb

Reporter: Yantina Debora |17 November, 2017 | tirto.id

Sumber : https://tirto.id/cara-jepang-dan-cina-memutar-balik-stigma-buruk-produknya-cAbb