Anda di halaman 1dari 4

Proses kontak banyak digunakan karna melihat pengembangan proses kontak merupakan proses

industri yang murah, kontinyu dan dikendalikan secara otomatis

Pembakaran belerang

Tujuannya = untuk mencipptakan lelehan beleran dengan cara membakar belerang dengan steam

Tekanan = 7 Kg/Cm2

Suhu = 170°C

Alat utamanya adalah melter yang berfungsi untuk melebur belerang dengan menggunakan steam
melalui coil. Untuk meratakan panas dan mengurangi kotoran maka pada dasar melter dilengkapi
pengaduk sedangkan untuk mengatasi terjadinya asam bebas ditambahkan serbuk kapur.

Pompa sulfur

Berfungsi untuk mengalirkan sulfur cair ke sulfur burner. Pompa ini mempunyai pipa-pipa penyaluran
luar bermantel uap sehingga belerang tidak menjadi dingin dan membeku

Filter

Menyaring udara dari particular


Turbo blower

Fungsinya sebagai penyuplai udara untuk proses pembakaran ke furnace. Main blower yang digunakan
adalah tipe turbo fun dengan kapasitas 117 m3/menit dan tekanan operasi 1800 mmHg.

Drying tower

Fungsinya sebagai unit proses tempat terjadinya pengeringan udara oleh sirkulasi asam sulfat (minimal
93%) dari circulating tank karna asam sulfat mempunya sifat higrokopis yang mampu menyerap molekul
air dengan baik. Drying tower juga akan mengalirkan udar kering untuk membantu proses pembakaran
pda sulfur burner, heat exchanger, pass converter

Kenapa H2O harus dihilangkan ?

1. Karna reaksi SO2 dengan H20 akan menyebabkan S03 yang merupakan penyebab korosi
2.
3.

Sulfur burner

Fungsinya sebagai tempat berlangsungnya proses pembakaran belerang cair dengan udara menjadi gas
SO2

Suhu = ± 750-770 °C karna reaksinya endootermis maka suhu akan naik mendekati 1042°C

Tekanan =

reaksinya adalah = S (l) + O2 (g) = SO2 (g) ΔH = -298,3 KJ, 25°C

konversi reaksi yang terjadi mendekati 100%, kandungan gas SO2 yang keluar diatur 10.5%
volume dengan cara penambahan udara kering yang berlebih dengan tujuan agar konversi SO2
menjadi SO3 dalam konvertor menjadi lebih besar

waste heat boiler

gas SO2 yang keluar dari boiler akan masuk kedalam waste heat boiler dimana wate heat boiler ini
telah dimasukan pendingin boiler feed water yang berasal dari economizer. Boiler feed water yang
digunakan berasal dari service unit dan telah ditambahkan zat penghambat kerak kalgen (senyawa
fosfat) dan zat penghambat korosi kurin power ( larutan soda). Air umpan boiler dalam waste heat
boiler akan dirubah menjadi steam jenuh dengan tekanan tinggi (35 Kg/cm2) . Sehingga suhu gas SO2
yang keluar dari WHB menjadi 480°C dan gas siap diumpankan ke dalam hot gas filter.

Hot gas filter

Fungsinya sebagai alat penyaring untuk aliran gas yang akan masuk ke converter. Agar tidak ada gas-gas
yang dapat meracuni katalis V205
Heat exchanger (on gas filter)

Fungsinya sebagai alat untuk mendinginkan aliran gas dari furnace dan boiler yang akan masuk ke
converter

4 pass converter

Tujuan = mengkonversi SO2 menjadi SO3

Peralatan utama dalam sistem ini adalah converter yang terdiri atas 4 bed yang berfungsi untuk
mengkonversi SO2 menjadi SO3 dengan bantuan katalis V2O5 atau vanadium pentaoksida.

Reaksi = SO2 + ½ O2  SO3

Udara berasa dari drying tower

Setiap bed menggandung katalis yang sama. Karna reaksi pembentukan SO3 merupakan reaksi yang
endotermis maka setelah melewati satu aliran bed gas harus didinginkan agar kesetimbangan tidak
bergeser kearah reaktan.

Bed 1 = gas SO2 masuk dengan suhu 430, dan tekanan 11,8 mmHg dan keluar dengan suhu 610 dan
tekanan 43,4 mmHg konversinya 60%

Bed 2 = gas SO2 yang berasal dari bed 1 dan telah didingikan masuk dengan suhu 440, dan tekanan
11 mmHg dan keluar dengan suhu 521 dan tekanan 25,7 mmHg konversinya 27%

Bed 3 = gas SO2 yang berasal dari bed 2 dan telah didinginkan masuk dengan suhu 430, dan tekanan
19,1 mmHg dan keluar dengan suhu 451 dan tekanan 30,1 mmHg konversinya 7%.

Konversi yang terjadi pada bed 1-3 adalah 94% dengan temperatur rata-rata ± 450 C dan
didinginkan pada economizer sampai suhu 220 C

Bed 4 = gabungan gas-gas sisa yang berasal dari heat exchanger masuk dengan suhu 420, dan
tekanan 17,6 mmHg dan keluar dengan suhu 441 dan tekanan 32,3 mmHg konversinya 99,7%

dengan temperatur ± 420 C dan didinginkan pada economizer sampai suhu 190 C

Kemudian gas SO3 yang berasal dari konversi SO2 dari convertor (bed 1-4) dialirkan menuju
economizer dengan tujuan mendinginkan gas SO3 hingga suhu 190C dan 220 C sebelum masuk
kedalam absorbing tower. Didinginkannya dengan cara mengkontakan gas SO3 dengan pendingin
air umpan boiler yang berasal dari condesate collector. Selain mendinginkan gas SO3 economizer
juga digunakan untuk mensuplay boiler feed water untuk waste heat boiler.

Oleum tower

Berfungsi untuk menghasilkan oleum

SO3 biasanya digunakan pada pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan
Sebagainya. SO3 diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7), juga dikenal sebagai
asam sulfat berasap. Oleum kemudian diencerkan ke dalam air hingga digunakan sebagai asam
sulfat pekat. Oleum tergantung pada persentase dari SO3 di dalam larutan. Penggunaan yang paling
umum untuk oleum adalah sintesa organik. Oleum diproduksi secara industri dengan proses
kontak, dimana SO3 mengandung gas yang melalui sebuah tower oleum. Tower yang mengandung
gas mengalami resirkulasi oleum dan asam sulfat yang berasal dari circulating tank yang mana
membasahi SO3. 30-60% SO3 berada dalam bentuk gas yang diabsorbsi karena pembatasan tekanan
uap oleum. Karena absorbsi tdak lengkap, gas yang meninggalkan tower absorbsi oleum harus
diproses didalam sebuah tower asam sulfat tersebut

Reaksinya = SO3 + H2SO4  H2S207

Absorbing tower

Mengabsorbsi SO3 menjadi H2SO4 sebanyak 98,5%

Reaksinya = SO3 + H2SO4  H2S207

SO3 + H2O  H2SO4

Udara kering dimasukan kedalam absorber dari bagian bawah kemudian dari bagian atas absorber
disemprotkan H2SO4 (98,5%) yang berasal dari circulating tank . Agar kontak udara dengan H2SO4
berjalan dengan baik absorber diisikan 4 jenis packing yaitu intalog 3, CMR cascade minoring no
3,5,7. Absorbing tower akan menghasilkan kabut atau debu SO2 yang diharapkan tidak lebih dari
650 ppm

Gas SO3 dimasukan kedalam absorber bagian bawah dan juga dari bagian atas absorber
disemprotkan H2SO4 (98,5%) gas SO3 akan bereaksi dengan air yang terkandung dalam asam sulfat
pekat sehingga akan terbentuk asam sulfat dengan konsentrasi 99,3%. Absorbsi ini akan
menimbulkan yang cukup besar sehingga H2SO4 harus didinginkan dan diusahakan masuk kedalam
absorber tower dengan suhu ± 80 C. Suhu yang masuk dan keluar absorber = 220 dan 80 C.

kemudian asam sulfat yang dihasilkan akan disimpan di Acid Storage Tank. Asam sulfat akan di
transfe kembali ke unit-unit yang membutuhkan dan sebagian akan menjadi produk asam sulfat
yang terbentuk dengan konversi 98,5 % dan suhu 45C