Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL I

“SALEP ANTIBIOTIK”

OLEH:

NAMA : JOANNASARI AGATHA DACHI


NIM : 171501103
HARI/PARTNER : RABU/3
TANGGAL PERCOBAAN : 7 MARET 2018
PROGRAM STUDI : S-1 FARMASI
ASISTEN : DAIMAH W.S. HARAHAP

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL I


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kelompok sediaan obat topikal secara garis besar dapat dikelompokkan
sebagai berikut, yaitu semi solid yang meliputi unguenta, pasta, linimenta,
cremores, gellones (jelly); cairan yang meliputi solutiones, lotiones, emulsion;
padat yang meliputi pulvis adspersorius, pulvis dentifricius, pulvis stomachicus,
plaster (transdermal flake) (Jas, 2007).
Pemakaian obat secara topikal artinya penggunaan sediaan melalui kulit
terutama pada superfisial epidermis dengan tujuan lokal. Penggunaan kurang tepat
bila kulit rusak, karena kemungkinan besar akan terjadi efek sistemik obat
tertentu. Hal ini sebenarnya tidak dikehendaki. Bentuk sediaan obat topical bila
diberikan bahan aktif akan dilepas dari vehikulum dan masuk ke dalam jaringan
kulit secara difusi pasif. Yang berperan adalah laju absorpsi dan jumlah
terabsorpsi (Jas, 2007).
Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi absorpsi obat yaitu
antara lain : Sifat fisiko-kimia obat. Absorpsi obat melalui kulit cukup sukar,
karena kulit berfungsi sebagai barrier dan sangat selektif. Tetapi obat juga dapat
diabsorpsi cukup baik melalui kulit tergantung keadaan kulit dan sifat fisika-kimia
obat; Keadaan kulit. Faktor yang mempengaruhi keadaan kulit yaitu usia, iklim,
perubahan hormon seperti masa pubertas, hamil, gizi, pola makanan, dan
kebersihan kulit. Daerah permukaan kulit. Terdapat variasi dalam permeabilitas
kulit di berbagai tempat pada tubuh, tergantung ketebalan stratum corneum yang
utuh dan kerapatan kutan. Vehikulum. Vehikulum dapat mempengaruhi absorpsi
ke stratum komeum dan tidak semua vehikulum bersifat inert; Keadaan
lingkungan, Peningkatan suhu dapat mempercepat absorpsi. Pada kulit rusak, suhu
dapat naik hingga mencapai 40oC dengan kelembaban 50%. Penetrasi zat yang
liposolubel pada suhu yang tinggi akan berkurang, karena terjadi reduksi energi
aktivitasi difusi akibat menurunnya viskositas jaringan lemak; Keadaan kesehatan
dan gizi. Sirkulasi darah di dermis mempengaruhi absorpsi perkutan, tergantung
pada gradien dan lamanya penetran di kulit; dan Konsentrasi zat aktif dalam
sediaan (Jas, 2007).
1.2.Prinsip Percobaan
Digunakan dasar salep senyawa hidrokarbon yaitu vaselin album. Salep
dibuat dengan mencampurkan bahan aktif dan dasar salep hingga homogen. Salep
dikemas dalam tube dengan persyaratan ketika uji kebocoran pada tube yang telah
dibungkus dengan kertas penyerap dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu
80oC selama 15 menit.
1.3. Tujuan Percobaan
 Untuk mengetahui hasil evaluasi uji homogenitas sediaan.
 Untuk mengetahui hasil evaluasi uji kebocoran tube sediaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salep (unguenta menurut FI ed.III) adalah sediaan setengah padat yang
mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau
terdispersi homogen ke dalam dasar salep yang cocok (Syamsuni, 2015).
Sediaan setengah padat terdiri dari : salep krim, pasta, jeli, cerata dan
kataplasma (poultices). Salep yang digunakan untuk untuk mata disebut okulenta.
Salep dibuat dengan substansi berlemak seperti : Adeps lanae, Vaselinum
(Petrolatum) dan minyak mineral. Menurut pemikiran modern salep adalah
sediaan semi padat untuk pemakaian pada kulit dengan atau tanpa penggosokan
Oleh karena itu salep dapat terdiri dari substansi berminyak atau erdiri dari emulsi
lemak atau lilin yang mengandung air dalam proporsi relative tinggi (Hydrophilic
ointment) (Anief, 2012).
Penelitian oleh ahli penyakit kulit mengenai keadaan dan penyakit kulit
mendorong Apoteker untuk mengembangkan dan memperbaiki kualitas sediaan
salep bagi maksud tersebut. Maka sekarang Dokter dapat memilih dasar salep
secara luas seperti surfaktan, malam yang hidrofil, dan polimer sintetik, salep
yang mudah dicuci, tetap kaku tapi hidrofil, yang liat, hidrofob dan dapat
digunakan sebagai penutup kulit (Anief, 2012).
Pengobatan lesi kulit lokal tampaknya menawarkan kesempatan unik
untuk uji coba menawarkan kesempatan unik untuk uji coba perawatan berbeda
pada lesi serupa pada individu yang sama pada saat bersamaan, namun zatyang
diterapkan secara lokal terkadand diserap dan mungkin memberi efek pada tubuh
secara keseluruhan, juga penyembuhannya. Dari lesi suatu tempat, tanpa alasan
yang diketahui dapat menghasilkan peraikan pada lesi serupa di tempat lain, dan
sebaliknya, untuk memprovokasi flare-up di satu lokasi sering membuat semua
lesi lainnya memburuk seperti yang lainnya (Laurence, 1962).
Untuk pemakaian mata disebut secara khusus “Oculenta” atau salep
mata. Bahan obat harus larut/terdispersi homogen dalam dasar salap yang cocok
(Farmakologi Indonesia edisi III). Salap tidak boleh berbau tengik. Jika dalam
komposisi tidak disebutkan dasar salapnya, yang digunakan adalah vaselin album.
Pemilihan dasar salep sesuai sifat fisika-kimia obat dan tujuan penggunaannya
(Jas, 2007).
Fungsi salep adalah sebagai bahan pembawa substansi obat untuk
pengobatan kulit, sebagai bahan pelumas pada kulit, dan sebagai pelindung untuk
kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsang
kulit (Anief, 2012).
Peraturan pembuatan salep menurut F. Van Duin, yaitu : (1) Zat-
zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu
dengan pemanasan, (2) Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan
lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan
dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi
dari basis salepnya, (3) Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut
dalam lemak dan air harus diserbukkan lebih dahulu, kemudian diayak dengan
pengayak no.60, (4) Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan,
campurannya harus digerus sampai dingin. Bahan bahan yang ikut dilebur,
penimbangannya harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya
(Syamsuni, 2015).
Persyaratan salep menurut FI III adalah :
 Pemerian : tidak boleh berbau tengik
 Kadar : kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras
atau obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%.
 Dasar salep (ds) : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis
salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan
obat dan tujuan pemakaian salep.
 Homogenitas : jika dioleskan pada sekeping kacan atau bahan transparan
lainyang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
 Penandaan : pada etiket harus tertera “obat luar” (Syamsuni,2015).
Menurut konsistensinya salep dapat dibagi :
 Unguenta : salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair
pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga.
 Cream (krim) : salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit,
suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
 Pasta : salep yang mengandung lebih dari 50 % zat padat (serbuk), suatu salep
tebal, karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi.
 Cerata : salep berlemak yang mengandung persentase lilin (wax) yang tinggi
sehingga konsistensinya lebih keras (ceraium labiale).
 Gelones/spumae/jelly. Salep yang lebih halus, ummnya cair dan sedikit
mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelican atau basis, biasanya terdiri
atas campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik lebur rendah.
Contoh : starch jellies (10% amilum dengan air mendidih) (Syamsuni, 2015).
Menurut farmakologi/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi :
 Salep epidermis (epidermic ointment; salep penutup) guna melindungi kulit
dan menghasilkan efek lokal, tidak diabsorpsi, kadang-kadang ditambahkan
antiseptik, astringensia untuk meredakan rangsangan atau anestesi lokal.
Dasar salep yang baik adalah dasar salep senyawa hidrokarbon.
 Salep endodermis : salep yang bahan obatnya menembus ke dalam kulit,
tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian, digunakan untuk melunakka
kulit atau selaput lender. Dasar salep yang terbaik adalah minyak lemak.
 Salep diadermis : salep yang bahan obatnya menembus ke dalam tubuh
melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan, misalnya salep yang
mengandung senyawa merkuri iodide, beladona (Syamsuni, 2015).
Menurut dasar salepnya, salep dapat dibagi :
 Salep hidrofobik yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar salep
berlemak (greasy bases) tidak dapat dicuci dengan air; misalnya : campuran
lemak-lemak, minyak lemak, malam.
 Salep hidrofilik yaitu salep yang suka air atau kuat menarik air, biasanya
dasar salep tipe M/A (Syamsuni, 2015).
Kualitas dasar salep adalah: Stabil, selama masih dipakai mengobati.
Maka salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan
kelembaban yang ada dalam kamar; Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus
dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen, sebab salep digunakan untuk
kulit yang teriritasi, inflamasi dan ekskoriasi (Anief, 2012).
Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit; Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep yang
harus kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar
salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari obat yang
mampu melepas obatnya pada daerah yang diobati; terdistribusi merata, obat
harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan
(Anief, 2012).
Dasar salep dibagi menjadi 4 golongan yaitu
a. Dasar salep hidrokarbon : bersifat lemak dan sukar dicuci dengan air.
Misalnya adalah paraffin, vaselin, minyak nabati.
b. Dasar salep dapat menyerap air dalam jumlah terbatas. Misalnya adalah :
Adeps lanae, lanolin, lilin (cera).
c. Dasar salep yang mudah dicuci dengan air. Dasar salep ini merupakan emulsi
minyak dalam air, misalnya hidrofilik, vanishing cream
d. Dasar salep yang dapat larut dalam air yaitu dasar salep yang mengandung
komponen larut dalam air.
Dasar salep harus sesuai dengan sifat fisika kimia obat dan tujuan penggunaannya
(Jas, 2007).
Vaselin (Petrolatum), terdiri dari Vaselin putih atau vaselin kuning.
Nama lain vaselin adalah soft paraffin. Vaseline merupakanvaselin yang
dipucatkan/dimurnikan Karena pemucatan menggunakan asam sulfat, maka hati-
hati jangan dipakai untuk salep mata, karena dapat terjadi iritasi mata oleh
kelebihan asam sulfat yang dikandung dalam dasar salep. Vaselin dapat
menyerap sebanyak 5% air. Dengan penambahan kolesterol, kemampuan
mendukung air dapat dinaikkan (Anief, 2007).
Parafin adalah paraffinum solidum merupakan senyawa hidrokarbon
padat dan digunakan untuk mengeraskan salep, sebab menaikkan titik lebur.
Minyak tumbuh-tumbuhan yang banyak dipakai adalah oleum sesame dan oleum
olivarum dan digunakan sebagai pelumas dan untuk menurunkan titik lebur dasar
salep. Jelene tersusun dari minyak hidrokarbon dan malam, structural tersusun
sedemikian hingga fase cair mudah bergerak, dengan demikian terbentuk gerakan
intern yang menyesuaikan diri dengan perubahan antar muka secara kontinu
(Anief, 2007).
Dasar salep absorpsi ada dua tipe yaitu dasar salep anhidrus yang
mampu menyerap air dan membentuk tipe emulsi A/M dan dasar salep hidrus dan
merupakan tipe emulsi A/M tapi masih mampu menyerap air yang ditambahkan.
Sifat lain dasar salep absorpsi adalah tidak mudah dicuci, karena fase kontinu
adalah minyak (Anief, 2007).
Dasar salep tercuci adalah anhidrus, larut dalam air dan mudah dicuci
dengan air. Hanya bagian kecil dari cairan dapat didukung oleh dasar salep tanpa
perubahan viskositas. Dasar salep emulsi ada dua macam yaitu dasar salep emulsi
tipe A/M seperti lanolin dan cold cream dan dasar salep emulsi tipe M/A seperti
vanishing cream. (Anief, 2007).
Bila obat menembus kulit maka terjadi perubahan aktivitas faali dari
kulit, sedang dasar salep snediri jarang mengubah fungsi faali kulit. Dasar salep
mempengaruhi penetrasi obat dalam kulit hanya berpengaruh secara tak langsung
pada faali dasar kulit. Sediaan salep yang digunakan pada kulit dapat
mempengaruhi kulit berdasarkan sifat-sifat fisika dan dasar kimia (Anief, 2007).
Dasar-dasar absorpsi perkutan belum sepenuhnya dapat dipahami. Dari
segi faktor fisiologi, yang mempengaruhi kecepatan atau besarnya absorpsi
adalah keadaan kulit, luas daerah pemakaian dan banyaknya pemakaian. Pada
kulit yang sakit atau lecet, sering terjadi kenaikan kecepatan dan besarnya
absorpsi kecil. Bila sawar kulit rusak pengaruh dasar salep pada absorpsi kecil.
Pada daerah kulit yang tebal seperti telapak kaki dan telapak tangan penetrasi
berjalan lambat dan penetrasi berjalan ceat pada daerah yang lapisan keratinnya
tipis misalnya pada muka dan pelupuk mata (Anief, 2007).
Menurut Higuchi dan Wagner, hubungan fisika dan kimia antara obat
dan dasar salep dimana obat berada berpengaruh lebih besar disbanding sifat-sifat
penetrasi dasar salep sendiri dalam absorpsi perkutan. Difusi melintas stratum
korneum merupakan tahap penentuan kecepatan dalam absorpsi perkutan melalui
kulit yang utuh. Difusi kulit biasanya merupakan proses pasif yang diatur oleh
hokum difusi Fick (Anief, 2007),
Difusi yang terjadi di dalam fase bahan pembawa (dasar salep) disebut
tahap pengendalian kecepatan. Bila obat larut di dalam bahan dasar salep, maka
kecepatan pelepasannya dapat diubah dengan mengubah kadar obatnya atau
koefisien difusi asal hanya obat tunggal di dalm bahan pembawa. Kecepatan
pelepasan obat dari dasar salep dapat lebih cepat diubah dengan merubah kadar
obat dibanding merubah koefisien difusi (Anief, 2007).
Kulit merupakan salah satu panca indera manusia yang terletak di
permukaan tubuh. Berkaitan dengan letaknya yang ada di permukaan tubuh maka
kulit merupakan organ pertama yang terkena pengaruh tidak menguntungkan dari
lingkungan (Santoso, 2001). Kulit mempunyai bermacam-macam fungsi dan
kegunaan, diantaranya kulit berfungsi sebagai termostat dalam mempertahankan
suhu tubuh, melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme, sinar ultraviolet
dan berperan pula dalam mengatur tekanan darah (Lachman, 1994). Secara
alamiah kulit telah berusaha untuk melindungi diri dari serangan mikroorganisme
dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang diperoleh dari kelenjar lemak dan
sedikit kelenjar keringat dari kulit serta adanya lapisan kulit luar yang berfungsi
sebagai sawar kulit (Ulaen 2002).
Namun dalam kondisi tertentu faktor perlindungan alamiah tersebut tidak
mencukupi dan seringkali akibat bakteri yang melekat pada kulit menyebabkan
terjadinya jerawat. Jerawat (acne) adalah salah satu penyakit kulit yang selalu
mendapat perhatian bagi para remaja dan dewasa muda. Kulit yang berminyak
menyebabkan pori-pori tersumbat, sehingga bakteri anaerobic seperti
Staphyloccocus aureus akan berkembang biak dengan cepat dan menyebabkan
timbulnya jerawat) (Ulaen, 2002).
Oleh karena itu dibutuhkan kosmetika untuk mengobati jerawat agar
bakteri penyebab jerawat tersebut dapat dihilangkan. Sediaan anti jerawat telah
banyak beredar di pasaran, baik dalam bentuk gel, salep, krim dan losio tetapi
dari jenis sediaan tersebut salep lebih cocok digunakan untuk jerawat. Sediaan
salep merupakan bentuk sediaan yang memiliki konsistensi yang cocok
digunakan untuk terapi penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri. Sediaan
salep dengan basis PEG dapat melepaskan zat aktif dengan baik dibandingkan
dengan basis yang larut minyak, selain itu basis ini juga cocok untuk kulit yang
berjerawat karena tidak mengandung minyak (Ulaen, 2002).
Dasar salep yang mempengaruhi keadaan hidrasi pada kulit dapat
mempegaruhi nyata pada absorpsi perkutan. Hidrasi disebabkan oleh difusi air
dari lapisan epidermis bawah dan oleh akumulasi air keringat disebabkan
penggunaan dasar salep penutup atau penyampul pada permukaan kulit. Idson
menjelaskan bahwa cairan organik dapat digunakan untuk menaikkan penetrasi
dari obat yang digunakan lokal. Penambah besar atau percepatan penetrasi
kelihatannya berefek langsung terhadap permeabilitas sawar kulit (Anief, 2007).
Peranan dasar salep dalam absorpsi obat melalui kulit adalah sebagai
berikut : umumnya dasar salep bertendensi memperlambat atau menghambat
absorpsi menembus epidermis dan permukaan mukosa, absorpsi dapat terjadi
melalui kulit utuh dan berapa jumlahnya ditentukan oleh adanya hubungan sifat
kimia dan fisika (misalnya kelarutan) antara obat dan dasar salep dan obat dengan
kulit (Widyantoro, 2011).
Langkah dari pengujian yaitu : Uji Daya Lekat Salep. di letakkan di atas
objek gelas, dan objek gelas yang lain diletakkan di atasnya dan ditekan dengan
beban seberat 1 kg selama 5 menit. Objek gelas dipasang pada alat uji. Beban
seberat 80 g dilepaskan dan dicatat waktunya sehingga kedua objek gelas tersebut
terlepas. Uji Daya Sebar Menimbang 500 mg salep daun petai cina dan
diletakkan di tengah kaca bulat berskala. Sebelumnya ditimbang dahulu kaca
yang lain dan diletakkan kaca tersebut diatas salep dan dibiarkan selama 1 menit.
Diameter salep yang menyebar diukur dengan mengambil panjang rata-rata
diameter dari beberapa sisi. Diameter salep yang menyebar dicatat sampai beban
seberat 200 gram Uji pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH. Uji
Homogenitas. Sediaan salep daun petai cina dioleskan pada objek glas. Sediaan
salep kemudian digosok dan diraba untuk mengetahui homogenitasnya. Uji Daya
Proteksi Salep dioleskan pada kertas saring yang sebelumnya sudah ditetesi
fenolftalein. Kertas tersebut ditempelkan pada kertas saring lainnya yang
kemudian ditetesi larutan KOH 0,1 N. Pengamatan dilakukan pada waktu 15
detik, 30 detik, 45 detik, 60 detik, 3 menit, dan 5 menit setelah KOH diteteskan
dengan mengamati munculnya warna merah (Widyantoro, 2011).
Uji Penyembuhan Luka Bakar Pada pengujian daya penyembuhan luka
bakar diperlukan sebanyak 4 kelompok marmut. Pengelompokan dan
perlakuannya adalah tiap marmut dibuat luka bakar pada bagian punggung
sebanyak 4 bagian. Setiap marmut mendapat perlakuan yang sama yaitu diolesi
salep basis hidrokarbon, basis absorbsi, basis larut air dan basis tercuci air.
Kemampuan penyembuhan luka bakar diukur berdasarkan diameter luka sampai
hari ke-30 (Widyantoro, 2011).
BAB III
ALAT DAN BAHAN

3.1. Formula
R/ Chloramfenikol 200 mg
Propilen glikol 1
Adeps Lanae 1
Vaselin Album ad 10
#
Pro: Liana

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah alu, cawan porselin
(100 ml), kaca arloji, kertas perkamen, loyang, lumpang, object glass (Sail
Brand), oven, penara (Pasific), pinset, spatula, sudip, timbangan, tisu (Nice) dan
tube 10gr.
3.2.2 Bahan
Pada praktikum hari ini, bahan yang akan digunakan adalah adeps
lanae, clhoramfenikol, propilen glikol, dan vaselin album.

3.3 Perhitungan Bahan


 Adeps lanae = 1 gram
 Chloramfenikol = 200 miligram
= 0,2 gram
 Propilen glikol = 1 gram
 Vaselin album = 10 – (1+ 0.2 + 1)
= 7,8 gram

3.4 Prosedur
3.4.1 Prosedur Percobaan
 Disiapkan alat dan bahan
 Ditimbang masing – masing bahan
 Digerus kloramfenikol
 Ditambahkan propilen glikol, digerus homogen
 Dimasukkan adeps lanae, lalu digerus
 Ditambahkan vaselin album sedikit demi sedikit sambil digerus homogen
 Diletakkan di atas kertas perkamen
 Dimasukkan ke dalam tube
 Ditutup ujung tube dengan rapat
 Dikeringkan di oven pada suhu 80oC selama 15 menit.

3.4.2 Prosedur Evaluasi


a. Uji Kebocoran
 Diambil 10 tube salep, dibersihkan permukaan luar tiap tube dengan kertas
penyerap.
 Diletakkan tube di atas loyang posisi horizontal
 Dimasukkan ke dalam oven, didiamkan selama 8 jam, temperatur 60o ±
3oC
 Tidak boleh terjadi kebocoran (kertas penyerap harus tetap kering).
b. Uji Homogenitas
 Dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok harus
menunjukkan susunan yang homogen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
1. Organoleptis
Warna : Putih kekuningan
Bentuk : Semi padat (Tidak terlalu keras)
Bau : Tidak berbau tengik
2. Homogenitas : Homogen
3. Uji Kebocoran : Bocor

4.2 Pembahasan
Pada uji organoleptic, sediaan berbenuk setengah padat (salep) tidak
terlalu keras, berwarna putih kekuningan dan tidak berbau. Uji ini untuk melihat
terjadinya perubahan fase. Uji homogenitas dimaksudkan untuk mengetahui
kehomogenan zat aktif dalam basis, sehingga setiap kali tersebut digunakan
dosisnya sama. Selain itu, uji homogenitas ini melihat apakah masih ada partikel
obat yang terlalu kasar yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Homogenitas
juga dapat dipengaruhi oleh faktor penggerusan yang dilakukan pada saat
pembuatan.
Tujuan dilakukan uji homogenitas salep adalah untuk mengetahui apakah
seluruh bahan telah tercampur secara merata serta untuk menjamin zat aktif yang
terkandung di dalam bahan telah terdistribusi merata pada saat dioleskan di kulit
tidak diperbolehkan terasa ada bagian padat (Soedirman, 2009).
Pada uji kebocoran ternyata diperoleh hasil dimana satu tube bocor,
dimana kertas serap yang digunakan menjadi basah. Kemungkinan dikarenakan
tube yang dipakai tidak dengan keadaan baik atau bocor. Sistem kemasan harus
ditutup atau harus disegel dengan cara yang baik untuk mencegah kontaminasi
atau kehilangan isi.
Spesifikasi salep yang harus dipenuhi adalah memilih bentuk setengah
padat, warna harus sesuai dengan spesifikasi salep yang harus dipenuhi adalah
memiliki bentuk setengah padat, warna harus sesuai dengan spesifikasi pada saat
pembuatan awal salep dan baunya tidak tengik (Sari, 2016)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
 Hasil uji organoleptis sediaan salep adalah memiliki bentuk setengah
padat, warna sesuai dengan spesifikasi pada saat pembuatan awal salep
dan baunya tidak tengik.
 Hasil uji homogenitas sediaan salep telah memenuhi persyaratan yaitu
tidak ada lagi partikel saat pengujian di object glass.
 Hasil uji kebocoran sediaan salep tidak memenuhi syarat dikarenakan 1
tube terjadi kebocoran.

5.2 Saran
 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya, bahan aktif diganti dengan bahan
aktif obat yang lain seperti golongan antibiotik lain, ertomisin,
clindamisin, dan basitrasil.

 Sebaiknya pada percobaan selanjutnya dasar salep yang digantikan


dengan dasar salep yang lain, yaitu vaselin flava, liquid paraffin dan
mnyak mineral.
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (2012). Farmasetika.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal.


110-125.

Jas, Admar. 2007. Perihal Obat Dengan Berbagai Jenis dan Bentuk Sediannya.
Medan: USU Press. Hal. 55-61.

Laurence, C. (1962). Pharmacology. London : J & A Churchill ltd. Hal. 466-479.

Syamsuni, H.A. (2015). Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hal : 63-66

Ulaen, S. P. (2002). Pembuatan Salep Anti Jerawat Ekstrak Rimpang Temulawak


(Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Hal. 45-49.

Widyantoro. (2015). Uji Sifat Fisik dan Aktivitas Ekstrsk Daun Petai Cina
(Leucaena glauca, Benth) Dalam Berbagai Tipe Basis Salep Sebagai
Obat Luka Bakar. Media Farmasi Vol 12 No. 2. Hal. 186-198.
LAMPIRAN
1. Uji Homogenitas

2. Uji Kebocoran

Anda mungkin juga menyukai