Anda di halaman 1dari 5

RMK

TEORI PASAR MODAL

“Manajemen Investasi &Time Value of Money”

Dosen Pengempu : Dr. Gerianta Wirawan Yasa SE., M.Si..

Oleh

PUTU VIO NARAKUSUMA ARDAYANI


1515351012

Program Ekstensi Jurusan Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2017
MANAJEMEN INVESTASI

Dalam mengambil keputusan investasi, seorang investor akan mempertimbangkan dua


faktor penting yaitu besarnya tingkat pengembalian (return) serta risiko (risk) pada saat
keuntungan yang diharapkan mungkin tidak terjadi. Risk–Return Tradeoff adalah suatu prinsip
pengelolaan investasi dimana kenaikan potential return akan diikuti oleh kenaikan risk.
Menunjukkan hubungan dari besarnya risiko yang diambil terhadap kemungkinan besarnya
tingkat pengembalian yang akan didapat dari investasi tersebut. Biasa disebut juga risk–
reward, atau risk-return spectrum. Pilihannya adalah; risiko yang minimal cenderung
menghasilkan tingkat pengembalian yang rendah, dan risiko yang tinggi cenderung
menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.

Return adalah keuntungan (atau kerugian) yang diperoleh investor atas dana yang
diinvestasikan. Dapat berupa Realized Return (tingkat pengembalian yang telah terjadi yang
dihitung berdasarkan data historis) dan Expected Return (tingkat pengembalian yang
diharapkan untuk diperoleh di masa depan). Keputusan investasi akan terfokus pada expected
return, dimana investor memperkirakan berapa besar return yang dibutuhkan dimasa
mendatang untuk mengelola risiko yang ada. Ketika investor memiliki tujuan untuk
mengurangi risiko tanpa mempengaruhi return yang akan didapatnya, maka investor dapat
melakukan diversifikasi atas sekuritas yang dimilikinya dengan membuat suatu portfolio.
Keputusan investasi mengandung ketidakpastian. Dengan adanya ketidakpastian tersebut,
maka terdapat risiko dari expected return yang tidak disadari, sehingga investor perlu untuk
memperhatikan distribusi returnnya. Ketika terdapat ketidakpastian akan expected return yang
akan didapat, maka investor harus berpikir mengenai distribusi return, tidak hanya single return
saja. Semua hal-hal yang mungkin terjadi dimasa mendatang harus ikut dipertimbangkan
dalam bentuk probabilitas. Ketika investor menghadapi pilihan antara 2 saham; A dan B,
dimana saham A memiliki expected return yang lebih kecil daripada saham B, namun memiliki
tingkat risiko (standar deviasi) lebih rendah. Maka untuk memilih saham manakah yang akan
dipilih? Keputusan ini tergantung pada seberapa besar penerimaan risiko dari seorang investor
tersebut. Perlu diingat bahwa terdapat tradeoff antara risiko dan return. Ketika return tinggi,
maka risiko dari saham tersebut tinggi, begitu pula sebaliknya. Ketika sebuah saham memiliki
risiko yang rendah, maka return dari saham tersebut juga rendah. Sehingga investor harus
menentukan, apakah ia termasuk investor yang berorientasi pada return ataukah risiko.
Risiko secara umum didefinisikan sebagai penyimpangan dari sesuatu yang
diharapkan. Risiko juga dapat dikatakan sebagai adanya ketidakpastian akan sesuatu
kejadian di mana sesuatu yang diharapkan tidak terjadi atau terjadinya sesuatu yang tidak
diharapkan di mana kejadian tersebut dapat mengakibatkan kerugian. Dalam ilmu statistika,
risiko dinyatakan dengan standar deviasi yang merupakan akar kuadrat dari varians data.
Standar deviasi menunjukan seberapa besar/jauh sebuah kejadian menyimpang dari nilai
rata-ratanya atau nilai yang diharapkan. Semakin besar standar deviasi maka risiko yang
ada semakin besar. risiko juga dapat didefinisikan sebagai volatilitas dari hasil yang tidak
diharapkan, umumnya berkaitan dengan nilai aset atau kewajiban.

Persepsi investor terhadap return dan risiko dari sebuah saham akan menentukan
harga pasar dari saham tersebut. Sedangkan return yang sebenarnya dapat dihasilkan oleh
saham dan risiko sebenarnya yang terkandung dalam saham tersebut akan membentuk nilai
intrinsik dari saham tersebut. Pada saat kesetimbangan (equilibrium), nilai saham harus
sama dengan nilai intrinsik atau nilai yang sebenarnya. Ketika investor memiliki persepsi
yang tidak benar mengenai return dan risiko dari sebuah saham, maka akan semakin jauh
harga saham menyimpang dari nilai intrinsiknya. Sebaiknya, manajer menghindari
melakukan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan nilai intrinsik, walaupun jika
keputusan tersebut digunakan untuk meningkatkan harga saham dalam jangka pendek.
Untuk mencari PV dari anuitas biasa, rangkaian arus kas masa depan, PMT, yang digunakan dalam
permasalahan FV anuitas, didiskontokan kembali ke saat ini (waktu = 0), bukan dimajemukkan ke masa
depan sampai tanggal terakhir anuitas.

APLIKASI PRAKTIS NILAI WAKTU DARI UANG

Sebelum belajar untuk menerapkan penghitungan Nilai Waktu dari Uang (Time Value
of Money, TVOM) menggunakan kalkulator, ada baiknya untuk terlebih dahulu mengetahui
prinsip dasar dari metode ini. TVOM menjelaskan besarnya manfaat uang yang diterima
sekarang, daripada besok, minggu depan, bulan depan, atau beberapa tahun dari sekarang,
apabila jumlahnya tetap, dan tidak adanya manfaat lain yang akan timbul (misalnya bunga,
kupon, dan lain – lain). Dengan logika yang sama, konsep TVOM dapat memberi tahu berapa
harga wajar suatu aset hari ini (Present Value, PV) apabila anda mengharapkan suatu tingkat
pengembalian tertentu di kemudian hari (Future Value, FV).
Konsep compound interest atau bunga majemuk sangat erat melekat dengan prosedur
time value of money (TVM). Ketika suatu investasi dipengaruhi oleh bunga majemuk,
pertumbuhan dalam nilai investasi dari periode ke periode mencerminkan tidak hanya bunga
atas pokok awal namun juga bunga yang diperoleh atas bunga periode sebelumnya. Aplikasi
TVM sering kali digunakan untuk menentukan future value (FV) arus kas suatu investasi
sebagai hasil dari efek bunga majemuk. Menghitung FV terkait dengan membuat proyeksi arus
kas ke depan, berdasarkan suku bunga majemuk yang sesuai, sampai dengan akhir masa
investasi. Perhitungan present value (PV) bekerja pada arah berlawanan – membawa arus kas
dari suatu investasi kembali ke awal masa investasi berdasarkan tingkat pengembalian (rate of
return) majemuk yang sesuai. Kemampuan menghitung PV dan/atau FV suatu arus kas
investasi menjadi sangat berguna ketika harus membandingkan alternatif investasi karena nilai
arus kas investasi harus diukur pada suatu titik waktu tertentu, biasanya pada akhir periode
investasi (FV) atau pada awal periode investasi (PV). Compound interest (bunga majemuk)
terjadi ketika bunga yang dihasilkan dari investasi selama periode awal ditambahkan ke nilai
prinsipal (nilai awal) investasi pada periode awal. Kemudian, bunga yang diterima di periode
kedua merupakan bunga yang didasarkan pada nilai investasi periode pertama ditambah dengan
bunga periode awal.

Menghitung FV atau PV dari anuitas dengan kalkulator finansial tidak lebih sulit
dibandingkan dengan arus kas tunggal. Perbedaan antara nilai tunggal (single sum) dengan
anuitas dalam permasalahan TVM adalah pada pencarian PV atau FV dari arus kas, dimana
yang satu merupakan arus kas tunggal sedangkan yang lain merupakan arus kas periodik yang
sama, dimana nilai arus kas periodik didefinisikan dengan fungsi PMT pada kalkulator
finansial. Anuitas adalah serangkaian arus kas yang sama dan terjadi pada interval yang sama
selama periode tertentu. Menerima Rp2.000 per tahun pada akhir setiap tahun selama delapan
tahun merupakan contoh dari suatu anuitas. Terdapat dua jenis anuitas: anuitas biasa (ordinary
annuities) dan anuitas di muka (annuities due). Anuitas biasa merupakan jenis anuitas yang
paling umum. Anuitas biasa dicirikan dengan arus kas yang terjadi pada akhir setiap periode
compounding. Hal ini merupakan pola arus kas yang biasa dalam banyak aplikasi investasi dan
keuangan perusahaan. Jenis anuitas lainnya adalah anuitas di muka, dimana pembayaran atau
penerimaan terjadi pada awal setiap periode (pembayaran pertama dilakukan hari ini saat t =
0). Dalam hal ini, variabel PMT merupakan nilai pembayaran periodik tunggal, bukan total
seluruh pembayaran (atau deposit) dalam anuitas. Present value anuitas biasa (PVAO)
mengukur PV kolektif dari serangkaian arus kas yang sama yang diterima pada akhir setiap
periode compounding selama jumlah periode tertentu, N, dengan tingkat pengembalian tertentu
juga, I/Y.

Terkadang diperlukan untuk mencari FV anuitas di muka (FVAD), anuitas dimana


pembayaran atau setorannya terjadi pada setiap awal periode compounding. Untuk menghitung
FVAD dengan kalkulator finansial, kalkulator harus diatur menjadi awal periode (BGN). Cara
lain untuk menghitung FV anuitas di muka adalah dengan menghitung FV anuitas biasa, dan
kemudian mengalikan hasil FV-nya dengan [1 + suku bunga mejemuk (I/Y)]. Secara simbolis,
hal ini dinyatakan sebagai:
FVAD =FVAO x (1 + I/Y)

Meskipun kurang umum dibandingkan anuitas biasa, namun bisa terdapat permasalahan untuk
mencari PV anuitas di muka. Pada anuitas di muka, periode diskonto berkurang satu karena
arus kas pertama terjadi saat t = 0 sehingga sama dengan PV-nya. Hal ini menunjukkan, jika
kondisi lainnya sama (ceteris paribus), PV anuitas di muka akan lebih besar dari PV anuitas
biasa.

Meskipun pondasi konseptual perhitungan TVM tidak dipengaruhi periode


compounding, periode compounding lebih sering memiliki pengaruh terhadap perhitungan FV
maupun PV. Secara spesifik, hal itu karena kenaikan frekuensi compounding meningkatkan
suku bunga efektif, hal tersebut juga akan meningkatkan FV suatu arus kas dan menurunkan
PV suatu arus kas.