Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN

MASTECTOMY

OLEH KELOMPOK 6 :
ANGGUN DYTA DURROTUNNISA
WIDDYA
NURAINI SAPUTRI
MAYA NOVIA SARI
PUTRI HANDAYANI
LAILY AGUSTRIANI
DUWI SUMIYANTO

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat allah SWT karena atas rahmat dan karunianya makalah ini
telah dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Keberhasilan kami dalam penulisan makalah
ini tentunya tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak.

Untuk itu kami menyampaikan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
dan masih banyak kekurangan yang masih perlu di perbaiki,untuk itu kami mengharapkan
saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini,sehingga dapat bermanfaat bagi
siapa pun yang membacanya.

Pringsewu, Maret 2018

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kanker payudara disebut juga carcinoma mammae adalah sebuah tumor ganas yang
tumbuh dalam jaringan payudara. Tumor ini dapat tumbuh dalam kelenjar susu, jaringan
lemak, maupun pada jaringan ikat payudara. Kanker ini memang tidak tumbuh dengan
cepat namun berbahaya. Termasuk dalam catatan Word Health Organization (WHO)
dimasukkan dalam International Classification of Diseases (ICD) dengan kode nomor 17
(WHO, 2009).

Menurut Ferlay (2001) dalam Rasjidi (2008) kanker payudara merupakan penyebab
kematian kedau setelah kanker rahim. Berdasarkan American Cancer Society, sekitar 1,3
juta wanita terdiagnosa menderita kanker payudara baik tumor ganas maupun tumor
jinak. Setiap tahunnya diseluruh dunia kurang dari 465.000 wanita meninggal karena
penyakit ini.

Kanker payudara di Indonesia sendiri menduduki peringkat kedua setelah kanker rahim.
Angka kematian akibat kanker payudara pada wanita mencapai 19%. Secara keseluruhan
risiko pada perempuan seumur hidupnya untuk berkembang kanker payudara adalah 1
berbanding 8. Secara keseluruhan tahun 2006 kejadian kanker payudara sebanyak 8.327
kasus atau 19,64% (KTI Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Reproduksi: Ca.
Mammae Sinistra Post Operasi Ferry Anggriawan, 2012).

Penerapan pengobatan tumor payudara tergantung pada stadiun klinik penyakit tersebut,
salah satunya yaitu dilakukan pembedahan (Taufan, 2011). Mastektomi adalah
pengobatan kanker payudara dengan cara mengangkat seluruh jaringan payudara (KTAN
Analisis Asuhan Keperawatan Pasien Ca Mammae Novi Anaswati, 2017).
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Tujuan dari pembuatan makalah asuhan keperawatan pasien dengan mastectomy
adalah supaya perawat dan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan
dengan pasien mastectomy.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penyususnan makalah ini adalah untuk mengetahui :
a. Pengertian dari mastectomy
b. Indikasi tindakan mastectomy
c. Pemeriksaan penunjang dari mastectomy
d. Komplikasi dari mastectomy
e. Penatalaksanaan dari mastectomy
f. Pengkajian dari mastectomy
g. Diagnosa keperawatan
h. Intervensi
i. Tindakan keperawatan pre operasi dan post operasi
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Mastektomi adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu
dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan
parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit di atas tumornya disertai diseksi
kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II, III secara end block tanpa mengangkat
M.Pektoralis major dan minor (Sjamsuhidayat, 2004).

B. TIPE MASTEKTOMI
Menurut Pierce & Neil (2007) tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara
bergantung pada beberapa faktor meliputi : usia, kesehatan secara menyeluruh, status
menopause, dimensi tumor, tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya, stadium
tumor dan keganasannya, status reseptor hormon tumor, penyebaran tumor telah
mencapai simpul limfe atau belum. Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan
dalam empat kategori meliputi :
1. Mastektomi Preventif (preventife mastectomy)
Operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat seluruh payudara dan
putting atau berupa subcutaneous mastectomy dimana seluruh payudara diangkat
namun puting tetap dipertahankan.

(http://bangeud.blogspot.co.id/2011/05/asuhan-keperawatan-mastectomy.html)
2. Mastektomi Total
Mengangkat semua jaringan payudara tetapi semua atau kebanyakan nodus limfe dan
otot dada tetap utuh.

(http://bangeud.blogspot.co.id/2011/05/asuhan-keperawatan-mastectomy.html)

3. Mastektomi Radikal Modifikasi


Mengangkat seluruh payudara, beberapa atau semua nodus limfe dan kadang-kadang
otot pektoralis minor.otot dada mayor masih utuh. Mastektomi radikal adalah
prosedur yang jarang dilakukan yaitu pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot
pektoralis mayor dan minor, nodus limfe ketiak dan kadang-kadang nodus limfe
mamari internal atau supra klavikular.

(http://bangeud.blogspot.co.id/2011/05/asuhan-keperawatan-mastectomy.html)

4. Prosedur Membatasi
Dilakukan pada pasien rawat jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa jaringan
sekitarnya diangkat. Lumpektomi dianggap tumor non-metastatik bila kurang dari 5
cm ukurannya yang tidak melibatkan puting. Prosedur ini untuk keperluan diagnostik
dan atau pengobatan bila dikombinasi dengan terapi radiasi misalnya : lumpektomi.
Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan menjadi :
a. Terapi Bedah Kuratif
Adalah pengangkatan seluruh sel kanker tanpa meninggalkan sel kanker secara
mikroskopik. Terapi bedah kuratif ini dilakukan pada kanker payudara stadium
dini (stadium 0, I dan II).
b. Terapi Bedah Palliatif
Adalah untuk mengangat kanker payudara secara makroskopik dan masih
meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Pengobatan bedah palliatif ini pada
umumnya dilakukan untuk mengurangi keluhan-keluhan penderita seperti
perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus, dilakukan pada kanker payudara
stadium lanjut,yaitu stadium III.

C. INDIKASI TINDAKAN
Mastektomi dilakukan untuk pengankatan beserta payudara dan kelenjar axilla
(Jitowiyono dan Kristiyanasari weni, 2012) dilakukan pada :
1. Kakker payudara stadium dini (I, II)
2. Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu
3. Keganasan jaringan lunak pada payudaranya.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Mandatory
 Mamografi atau USG payudara
 Pemeriksaan sitologi (FNAB) atau histopatologi tumor payudara
 Foto toraks
 USG liver/abdomen
 Pemeriksaan kimia darah lengkap, rekam jantung (EKG) kalau ada indikasi untuk
persiapan operasi
2. Oprional
 Bone scanning
 Pemeriksaan kimia darah

(Modul 6 Bedah Onkologi pdf)


Menurut Sjamsuhidayat 2004 :

1. Mamografi
Dengan tes ini dapat ditemukan benjolan yang kecil sekalipun. bila secara klinis
dicurigai ada tumor dan pada mamografi tidak ditemukan apa-apa, pemeriksaan
harus dilanjutkan dengan biopsi sebab sering karsinoma tidak tampak pada
mamogram. Sebaliknya bila mamografi positif dan secara klinis tidak teraba tumor
pemerkiksaan harus dilanjutkan dengan fungsi atau biopsi
2. Ultrasonografi
USG biasanya digunakan bersama-sama dengan mamografi tujuannya untuk
membedakan kista yang berisi caira atau solid. Untuk menentukan stadium dapat
menggunakan foto thorak, USG abdomen bone scanning dan CT scan.
3. X-foto thorax
Dapat membantu mengetahui adanya keganasan dan mendeteksi adanya metastase
diparu-paru
4. Pemeriksaan biopsi jarum halus
Merupakan pemeriksaan sitologi dimana bahan pemeriksaan diperoleh dari hasil
fungsi jarum terhadap lesi yang dapat dipakai untuk menentukan apakah akan segera
disiapkan pembedahan dengan sediaan beku atau akan dilanjutkan oleh pemeriksaan
lain. Cara pemeriksaan ini memiliki sensitifitas yang tinggi, namun tidak dapat
memastikan tidak adanya keganasan. Hasil negatif pada pemeriksaan ini dapat berarti
bahwa jarum biopsi tidak mengenai daerah keganasan sehingga biopsi eksisi tetap
diperlukan untuk konfirmasi hasil negatif tersebut.

E. KOMPLIKASI
Komplikasi operasi mastektomi (Smeltzer, 2002) :
1. Dini :
 Pendarahan
 Lesi n. Thoracalis longus wing scapula
 Lesi n. Thoracalis dorsalis
2. Lambat :
 Infeksi
 Nekrosis flap
 Wound dehiscence
 Seroma
 Edema lengan
 Kontraktur kekakuan sendi bahu

F. PENATALAKSANAAN
Menurut Pierce & Neil (2007) Ada 2 macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non
pembedahan). Penanganan kuratif dengan pembedahan yang dilakukan secara mastectomi
parsial, mastectomi total, mastectomi radikal, tergantung dari luas, besar dan penyebaran
kanker. Penanganan non pembedahan dengan penyinaran, kemoterapi dan terapi
hormonal.

Pengobatan dimulai setelah dilakukan penilaian secara menyeluruh terhadap kondisi


penderita, yaitu sekitar 1 minggu atau lebih setelah biopsi.Pengobatannya terdiri dari
pembedahan, terapi penyinaran, kemoterapi dan obat penghambat hormon.

1. Pembedahan
a. Mastektomi
1) Mastektomi adalah operasi pengangkatan mammae. Ada 3 jenis mastektomi
yaitu:
2) Modified Radycal Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh
mammae, jaringanmammae di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga,
serta benjolan disekitar ketiak.
3) Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh mammae
saja, tanpa kelenjar di ketiak.
4) Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari mammae.
Biasanya disebut Lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan
yang mengandung sel kanker, bukan seluruh mammae. Biasanya
lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari
2 cm dan letaknya di pinggir mammae.
b. Kelenjar Getah Bening (KGB) Ketiak.
c. Pengangkatan KGB Ketiak dilakukan terhadap penderita ca mammae yang
menyebar tetapi besar tumornya lebih dari 2,5 cm (Tapan, 2005).
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Data Biografi
nama, umur, jeis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan alamat
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat keluhan utama
Benjolan, kecepatan tumbuh, rasa sakit, nipple discharge, nipple retraksi dan sejak
kapan, krusta pada aerola, kelainan kulit : dimpling, peau d’orange, ulserasi,
venektasi, perubahan warna kulit, benjolan ketiak, edema lengan.
b. Keluhan ditempat lain berhubungan dengan metastasis : nyeri tulang (vertebra,
vemur), rasa penuh diulu hati, batuk, sesak, sakit kepal hebat.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama sebbelumnya.
3. Riwayat keluarga
Resiko untuk menderita kanker payudara 2-3 kali lipat lebih besar pada wanita yang
ibunya atau saudara kandungnya menderita karsinoma payudara. Kemungkinana lebih
besar bila ibu atau saudara kandung menderita kanker bilateral pre menopause. 10%
kanker payudara karena faktor genetik, karena mutasi BRCA-1 (kromosom 17) dan
BRCA-2 (kromosom 13). Sehubungan dengan penyakit kanker lain (indung telur,
saluran cerna, sarkoma jaringan lunak dsb).
4. Faktor resiko
a. Usia penderita
Insiden meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Usia melahirkan anak pertama, punya anak atau tidak, riwayat menyisui, riwayat
menstruasi : menstruasi pertama usia berapa, keteraturan siklus menstruasi,
menopause usia berapa.
b. Riwayat pemakaian obat hormonal
c. Riwayat pernah operasi tumor payudara
Adanya hiperplasia ductal dan atypical lobular pada biopsi payudara, resiko
bertambah 5 kali lipat
d. Diet dan life style
Obesitas, konsumsi alkohol, diet tinggi lemak.
e. Paparan radiasi sebelum umur 40 tahun
5. Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda vital
b. Keadaan umum
6. Pemeriksaan fisik head to toe
a. Kepala
Bentuk wajah simetris, bentuk tengkorak bulat, rambut hitam serta tidak ada nyeri
tekan pada kepala tidak terdapat benjolan (hematom), deformotas atas terbatas
b. Kulit dan rambut
Inspeksi warna kulit pasien sawo mateng, rambut pasein berwarna hitam dengan
persebaran tidak merata
c. Mata
Bola mata berbentuk bulat, konjungtiva pucat, sclera putih serta pergerakan bola
mata normal, pupil normal
d. Telinga
Inspeksi : daun telinga normal, liang telinga terdapat serumen
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada procesus mastoideus
e. Hidung
Bentuk hidung normal, tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat benjolan.
Tidak terdapat sumbatan, septum dan sinus-sinus normal, tidak ada polip
f. Mulut
Bentuk bibir normal, gigi lengkap dan bersih, mukosa bibir kering, lidah kotor.
Tidak ada perdarahan dan bengkak pada gusi
g. Leher
Bentuk leher tidak simetris, tidak terdapat bendungan vena jugularis, tidak
terdapat pembesaran kelenjar tiroid serta tidak ada nyeri tekan
h. Jantung
Pada pasien ca mammae tidak terdapat gangguan pada jantung
i. Dada
Bentuk dada tidak simetris, terdapat nyeri tekan dan benjolan, kulit pada payudara
terdapat kerutan seperti kulit jeruk
j. Paru
Terdapat perubahan pola napas, bunyi napas ronchi, nafas dangkal, inspirasi napas
pendek
Vokal premitus tidak seimbang kanan dan kiri
k. Abdomen
Pada pasein ca mammae bentuk abdomen simetris, tidak terdapat nyeri tekan,
tidak terdapat benjolan/massa, lien dan hepar tidak teraba, suara kembung,
peristaltik usus normal
l. Anus dan rektum
Pada daerah anus dan rektum tidak terdapat hemoroid baik internal maupun
eksternal
m. Alat kelamin
Pada pasien ca mammae tampak bersih
n. Ekstremitas
Atas: terkoordinasi dengan baik
Bawah: terkoordinasi dengan baik
7. Pemeriksaan laboratorium
a. Pepriksaan darah hemobgolbin biasanya menurun, leukosit menibgkat, trombosit
meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin
b. Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat
c. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita ca mamame adalah sinar x,
ultrasonografi, xeroradoagrafi, diaphanografi, dan pemeriksaan reseptor hormon.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Juall (2003) buku saku diagnosis keperawatan :
1. Diagnosa keperawatan pre operasi Mastektomi
a. Cemas berhubungan dengan krisis situasional
b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2. Diagnosa keperawatan post operasi Mastektomi
a. Resiko aspirasi berhubungan dengan status kesadaran, reflek menelan belum
optimal karena pemakaian obat anastesi
b. Resiko cidera berhubungan dengan tingkat kesadaran pasien
C. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Rencana tindakan keperawatan pre operasi Mastektomi
DIAGNOSA NOC NIC
a. Cemas Setelah dilakuakan Anxiety reduction :
berhubungan tindakan keperawatan  Tenangkan pasien
dengan selama 2x24 jam  Jelaskan seluruh prosedurt
krisis diharapkan pasien tindakan kepada pasien dan
situasional menunjukan anxiety perasaan yang mungkin muncul
control dengan pada saat melakukan tindakan
kriteria hasil :  Berusaha memahami keadaan
 pasien kooperatif pasien
 Mampu  Berikan informasi tentang
mengidentifikasikan diagnosa, prognosis dan tindakan
cemas dengan  Mendampingi pasien untuk
bahasa tubuh yang mengurangi kecemasan dan
tenang meningkatkan kenyamanan
 Tanda-tanda vital  Dorong pasien untuk
normal menyampaikan tentang isi
perasaannya
 Kaji tingkat kecemasan
 Dengarkan dengan penuh
perhatian
 Ciptakan hubungan saling
percaya
 Bantu pasien menjelaskan
keadaan yang bisa menimbulkan
kecemasan
 Bantu pasien untuk
mengungkapkan hal hal yang
membuat cemas
 Ajarkan pasien teknik relaksasi
 Berikan obat obat yang
mengurangi cemas

b. Kurang Setelah dilakuakan Teaching : Dissease Process


pengetahuan tindakan keperawatan  Kaji tingkat pengetahuan klien
berhubungan selama 2x24 jam dan keluarga tentang proses
dengan diharapkan penyakit
keterbatasan pengetahuan pasien  Jelaskan tentang patofisiologi
paparan meningkat dengan penyakit, tanda dan gejala serta
kriteria hasil : penyebabnya
 Klien mampu  Sediakan informasi tentang
menjelaskan kondisi klien
kembali apa yang  Berikan informasi tentang
dijelaskan perkembangan klien
 Klien kooperative  Diskusikan perubahan gaya
saat dilakukan hidup yang mungkin diperlukan
tindakan untuk mencegah komplikasi di
masa yang akan datang dan atau
kontrol proses penyakit
 Jelaskan alasan dilaksanakannya
tindakan atau terapi
 Gambarkan komplikasi yang
mungkin terjadi
 Anjurkan klien untuk mencegah
efek samping dari penyakit
 Gali sumber-sumber atau
dukungan yang ada
 Anjurkan klien untuk melaporkan
tanda dan gejala yang muncul
pada petugas kesehatan

c. Nyeri akut Setelah dilakuakan  Lakukan pengkajian nyeri secara


berhubungan tindakan keperawatan komprehensif termasuk lokasi,
dengan agen selama 2x24 jam karakteristik, durasi, frekuensi
injuri biologi diharapkan nyeri pasien  Monitor vital sign
berkurang dengan  Gunakan teknik komunikasi
kriteria hasil : terapeutik untuk mengetahui
 Nyeri terkontrol pengalaman nyeri
 Klien menggunakan  Ajarkan teknik relaksasi nafas
teknik non dalam untuk mengurangi nyeri
farmakologi untuk
mengurangi nyeri
 Tanda vital dalam
rentang normal

2. Rencana tindakan keperawatan post operasi Mastektomi


DIAGNOSA NOC NIC
a. Resiko Setelah dilakukan Aspiration Precaution :
aspirasi asuhan keperawatan  Monitor tingkat kesadaran
berhubungan selama 2x 24 jam dan reflek menelan
dengan status menunjukkan resiko  Monitor status airway dan
kesadaran, aspirasi teratasi dengan bebaskan airway
reflek menelan kriteria hasil:  Lakukan suctioning jika
belum optimal  Airway terkontrol perlu
karena dan adequat  Posisikan supinasi atau
pemakaian  Reflek menelan posisi SIM pada operasi
obat anastesi efektif jalan nafas

b. Resiko cidera Setelah dilakukan Environment Management :


berhubungan asuhan keperawatan  Sediakan lingkungan yang
dengan tingkat selama 2x24 jam aman dan nyaman
kesadaran menunjukkan resiko  Posisikan tidur sesuai
pasien cidera teratasi dengan instruksi medis / anastesi
kriteria hasil:  Memasang side trail tempat
 Pasien terbebas dari tidur
cidera  Hindari dari perabot yang
 Pasien komunikatif berbahaya
dan kooperatif  Kaji tingkat kesadaran
 Dampingi selama pasien
belum sadar penuh
 Lindungi arah gerakan dan
jangan lawan gerakan
pasien
 Rangsang kesadaran pasien
ke Compos Mentis
 Alat invasif terkontrol
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Mastektomi adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada keganasan payudara
yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma dan
parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit di atas tumornya disertai diseksi
kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II, III secara end block tanpa mengangkat
M.Pektoralis major dan minor.
Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan dalam empat kategori meliputi :
1. Mastektomi Preventif (preventife mastectomy)
2. Mastektomi Total
3. Mastektomi Radikal Modifikasi
4. Prosedur Membatasi

B. SARAN
Kita harus selalu waspada dan secara rutin memeriksa payudara agar apabila terdapat
kelainan, bisa langsung diobati sebelum mengalami tahap yang paling tinggi dan
sebelum kanker payudara itu bermetastasis lebih jauh.
DAFTAR PUSTAKA

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification


(NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby
Year-Book.

Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi


10.Jakarta:EGC.

Smeltzer, Suzanne C. And Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah:
Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC: Jakarta.

Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011,
NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd.

Karya Tulis Ilmiah. Novi Anaswati S. Kep. Analisis Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan
Body Image Pada Pasien Ca Mammae Di Ruang Bougenvile Rumah Sakit Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto. 2017.

Karya tulis ilmiah. arief widiatmoko. Pemberian terapi musik terhadap tingkat kecemasan
pada suhan keperawatan pre operasi ny S dengan fibroadenoma mammae (FAM) diruang
flamboyan RSUD Sukoharjo. 2015.

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta : Selemba Medika

Sjamsuhidayat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.Jakarta : EGC