Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat disertai atau
tidak disertai infeksi.Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga
disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis (Sally I, Severin
V.X, 2003 dalam Anonim, 2013).

Adapun penyebab mastitis adalah cara menyusui yang kurang baik


dapat menimbulkan berbagai macam masalah baik pada ibu maupun pada
bayinya misalnya puting susu lecet dan nyeri, radang payudara (mastitis),
pembengkakan payudara yang menyebabkan motivasi untuk memberikan
ASI berkurang sehingga bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup dan
akhirnya mengakibatkan bayi kurang gizi.
Studi terbaru menunjukkan kasus mastitis meningkat hingga 12 –
35% pada ibu yang puting susunya pecah-pecah dan tidak diobati dengan
antibiotik.Namun bila minum obat antibiotik pada saat puting susunya
bermasalah kemungkinan untuk terkena mastitis hanya sekitar 5 % saja.
Penelitian terbaru menyatakan bahwa mastitis dapat meningkatkan
risiko penularan HIV melalui menyusui. Mastitis dan abses payudara
dapat terjadi pada semua populasi, dengan tanpa kebiasaan menyusui,
tetapi biasanya dibawah 10 % sebagian besar laporan menunjukkan bahwa
75 % sampai 95 % kasus terjadi dalam 12 minggu pertama.
Pada tahun 2012 AKI di Indonesia masih berada pada angka 359 per
100.000 kelahiran hidup. Kejadian kematian ibu terbesar di indonesia
adalah perdarahan (28%), infeksi (11%) dan eklamsi (24%). Salah satu
diantara infeksi pada ibu nifas adalah infeksi payudara. Studi banding di
RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Januari – September 2014
didapatkan data ibu nifas dengan mastitis 130 (5,21%) dari jumlah ibu
nifas sebanyak 2494 orang.

1
2

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan
keperawatan klien dengan mastitis.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep teori tentang anatomi
fisiologi mammae.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep definisi mastitis.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep klasifikasi mastitis.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep etiologi mastitis.
5. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep manifestasi klinis mastitis.
6. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep patofisiologi mastitis.
7. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep WOC mastitis.
8. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep pemeriksaan penunjang
mastitis.
9. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep penatalaksanaan mastitis.
10. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep komplikasi mastitis.
11. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep pencegahan mastitis.
12. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada
pasien dengan mastitis.
13. Mahasiswa mampu menjelaskan tinjauan kasus dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan mastitis.
1.3 Manfaat
1.3.1 Mahasiswa memahami konsep dan proses asuhan keperawatan pada klien
dengan mastitis sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah.
1.3.2 Mahasiswa mengetahui proses asuhan keperawatan dengan mastitis yang
benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah
sakit
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori


2.1.1 Anatomi Fisiologi Payudara
Kelenjar mammae (payudara) dimiliki oleh kedua jenis kelamin.
Kelenjar ini menjadi fungsional saat pubertas untuk merespons estrogen
pada perempuan dan pada laki-laki biasanya tidak berkembang. Saat
kehamilan, kelenjar mammae mencapai perkembangan puncaknya dan
berfungsi untuk produksi susu (laktasi) setelah melahirkan bayi.
1. Struktur
Setiap payudara merupakan elevasi dari jaringan glandular dan
adipose yang tertutup kulit pada dinding anterior dada. Payudara
terletak diatas otot pektoralis mayor dan melekat pada otot tersebut
melalui selapis jaringan ikat. Variasi ukuran payudara bergantung
pada variasi jumlah jaringan lemak dan jaringan ikat dan bukan pada
jumlah glandular aktual.
a. Jaringan glandular terdiri dari 15 sampai 20 lobus mayor, setiap
lobus dialiri duktus laktiferusnya sendiri yang membesar menjadi
sinus lakteferus (ampula).
b. Lobus-lobus dikelilingi jaringan adipose dan dipisahkan oleh
ligamen suspensorium cooper (berkas jaringan ikat fibrosa).
c. Lobus mayor bersubdivisi menjadi 20 sampai 40 lobulus, setiap
lobulus kemudian bercabang menjadi duktus-duktus kecil yang
berakhir di alveoli sekretori.
d. Puting memiliki kulit berpigmen dan berkerut membentang keluar
sekitar 1 cm sampai 2 cm untuk membentuk aerola.
2. Suplai darah dan aliran cairan limfatik payudara
a. Suplai arteri ke payudara berasal dari arteri mammaria internal,
yang merupakan cabang arteri subklavia. Konstribusi tambahan
berasal dari cabang arteri aksilari toraks. Darah dialirkan dari
payudara melalui vena dalam dan vena supervisial yang menuju
vena kava superior.
4

b. Aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit, puting,


dan aerola adalah melalui sisi lateral menuju aksila. Dengan
demikian, limfe dari payudara mengalir melalui nodus limfe
aksilar.

2.1.2 Fisiologi Payudara


Payudara wanita mengalami tiga jenis perubahan yang
dipengaruhi oleh hormon. Perubahan pertama dimulai dari masa hidup
anak melalui masa pubertas sampai menopause. Sejak pubertas, estrogen
dan progesteron menyebabkan berkembangnya duktus dan timbulnya
sinus. Perubahan kedua, sesuai dengan daur haid. Beberapa hari sebelum
haid, payudara akan mengalami pembesaran maksimal, tegang, dan nyeri.
Oleh karena itu pemeriksaan payudara tidak mungkin dilakukan pada saat
ini. Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Saat hamil
payudara akan membesar akibat proliferasi dari epitel duktus lobul dan
duktus alveolus, sehingga tumbuh duktus baru. Adanya sekresi hormon
prolaktin memicu terjadinya laktasi, dimana alveolus menghasilkan ASI
dan disalurkan ke sinus kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting
susu (Sjamsuhidajat, R., dan De Jong, W., 2005).
2.1.3 Definisi
Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat disertai atau
tidak disertai infeksi.Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga
disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis.Kadang-kadang
5

keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberikan tindakan yang
adekuat.Abses payudara, pengumpulan nanah lokal di dalam payudara,
merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keadaan inilah yang
menyebabkan beban penyakit bertambah berat (Sally I, Severin V.X,
2003 dalam Anonim, 2013).
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan karena adanya sumbatan
pada duktus hingga puting susu mengalami sumbatan. Mastitis paling
sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran.Penyebab
penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat
teknik menyusui yang buruk.Untuk menghambat terjadinya mastitis ini
dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki
penyangga yang baik pada payudaranya (Sally I, 2003 dalam Anonim,
2013).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat di tarik suatu
kesimpulan mastitis adalah suatu infeksi atau peradangan pada jaringan
payudara yang diakibatkan karena adanya bakteri (staphylococcus aureus)
yang masuk melalui puting susu yang pecah-pecah atau terluka.
2.1.4 Etiologi dan Faktor Resiko
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak
ditemukan pada kulit yang normal yaitu Staphylococcus aureus. Bakteri
ini seringkali berasal dari mulut bayi yang masuk ke dalam saluran air
susu melalui sobekan atau retakan di kulit pada puting susu.Mastitis
biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi
dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan.Sekitar 1-3% wanita menyusui
mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
Soetjiningsih (2007) menyebutkan bahwa peradangan pada payudara
(Mastitis) di sebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Payudara bengkak yang tidak disusu secara adekuat, akhirnya tejadi
mastitis.
b. Puting lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadi payudara
bengkak.
6

c. Penyangga payudara yang terlalu ketat, mengakibatkan segmental


engorgement sehingga jika tidak disusu secara adekuat bisa erjadi
mastitis.
d. Ibu yang memiliki diet jelek, kurang istirahat, anemia akan
mempermudah terkena infeksi.
Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan
dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah
putung susu. Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan
penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang
tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.Dua
penyebab utama mastitis adalah stasis ASI dan infeksi.Stasis ASI
biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau
berkembang menuju infeksi.Guther pada tahun 1958 menyimpulkan dari
pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam
payudara, dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah
keadaan tersebut.Ia menyatakan bahwa bila terjadi infeksi, bukan primer,
tetapi diakibatkan oleh stagnasi sebagai media pertumbuhan bakteri.
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis
(Prasetyo, 2010), yaitu:
a. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada
wanita di bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun.
b. Serangan sebelumnya
Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan
akibat teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki.
c. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis, walupun
penggunaan oksitosin tidak meningkatkan resiko.
d. Gizi
Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor
predisposisi terjadinya mastitis. Wanita yang mengalami anemia akan
beresiko mengalami mastitis karena kurangnya zat besi dalam tubuh,
sehingga hal itu akan memudahkan tubuh mengalami infeksi
7

(mastitis). Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat


mengurangi resiko mastitis.
e. Faktor kekebalan dalam ASI
Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme
pertahanan dalam payudara.
f. Pekerjaan di luar rumah
Interval antar menyusui yang panjang dan kekurangan waktu dalam
pengeluaran ASI yang adekuat sehingga akan memicu terjadinya
statis ASI.
g. Trauma
Trauma pada payudara yang disebabkan oleh apapun dapat merusak
jaringan kelenjar dan saluran susu dan haltersebut dapat
menyebabkan mastitis.
2.1.5 Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala dari mastitis ini biasanya berupa:
a. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, keras dan kadang
terasa nyeri.
b. Payudara dapat terlihat merah, mengkilat dan puting teregang menjadi
rata.
c. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk
menghisap ASI sampai pembengkakan berkurang.
d. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam,
rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.
e. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama
dengan payudara yang terkena.
Gejala yang muncul juga hampir sama dengan payudara yang
membengkak karena sumbatan saluran ASI antara lain :
a. Payudara terasa nyeri
b. Teraba keras
c. Tampak kemerahan
d. Permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak
seperti pecah–pecah, dan badan terasa demam seperti hendak flu, bila
terkena sumbatan tanpa infeksi, biasanya di badan tidak terasa nyeri
8

dan tidak demam. Pada payudara juga tidak teraba bagian keras dan
nyeri serta merah.
Namun terkadang dua hal tersebut sulit untuk dibedakan,
gampangnya bila didapat sumbatan pada saluran ASI, namun tidak terasa
nyeri pada payudara, dan permukaan kulit tidak pecah – pecah maka hal
itu bukan mastitis. Bila terasa sakit pada payudara namun tidak disertai
adanya bagian payudara yang mengeras, maka hal tersebut bukan mastitis
(Pitaloka, 2001 dalam Anonim, 2013).
2.1.6 Klasifikasi
Mastitis diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu: mastitis puerparalis
epidemic, mastitis aninfeksosa, mastitis subklinis dan mastitis infeksiosa.
Dimana keempat jenis tersebut muncul dalam kondisi yang berbeda-beda.
Diantaranya adalah sebagai berikut (Bertha, 2002 dalam Djamudin,
2009):
1. Mastitis Puerparalis Epidemik
Mastitis puerparalis epidemic ini biasanya timbul apabila pertama
kali bayi dan ibunya terpajan pada organisme yang tidak dikenal atau
verulen. Masalah ini paling sering terjadi di rumah sakit, yaitu dari
infeksi silang atau bekesinambungan strain resisten.
3. Mastitis Noninfesiosa
Mastitis moninfeksiosa terjadi apabila ASI tidak keluar dari sebagian
atau seluruh payudara, produksi ASI melambat dan aliran
terhenti.Namun proses ini membutuhkan waktu beberapa hari dan
tidak akan selesai dalam 2–3 minggu. Untuk sementara waktu,
akumulasi ASI dapat menyebabkan respons peradangan.
4. Mastitis Subklinis
Mastitis subklinis telah diuraikan sebagai sebuah kondisi yang dapat
disertai dengan pengeluaran ASI yang tidak adekuat, sehingga
produksi ASI sangat berkurang yaitu kira-kira hanya sampai di bawah
400 ml/hari (<400 ml/hari).
4. Mastitis Infeksiosa
Mastitis infeksiosa terjadi apabila siasis ASI tidak sembuh dan
proteksi oleh faktor imun dalam ASI dan oleh respon–respon
9

inflamasi. Secara normal, ASI segar bukan merupakan media yang


baik untuk pertumbuhan bakteri.
2.1.7 Patofisiologi Mastitis
Secara garis besar, mastitis atau peradangan pada payudara dapat
terjadi karena proses infeksi ataupun noninfeksi. Namun semuanya
bermuara pada proses infeksi. Mastitis akibat proses noninfeksi berawal
dari proses laktasi yang normal. Namun karena sebab-sebab tertentu
maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pengeluaran ASI atau
yang biasa disebut sebagai stasis ASI (Sally I, Severin V.X, 2003 dalam
Sugiarto, 2008).
Stasis ASI –> peningkatan tekanan duktus –> jika ASI tidak segera
dikeluarkan –> peningkatan tegangan alveoli yang berlebihan –> sel epitel
yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan –> permeabilitas
jaringan ikat meningkatàbeberapa komponen(terutama protein dan
kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan
jaringan sekitar sel –> memicu rrespon imun –> respon inflmasi
dan kerusakan jaringan yang mempermudah terjadinya infeksi
(Staohylococcus aureus dan Sterptococcus) –> dari port d’ entry yaitu:
duktus laktiferus ke lobus sekresi dan putting yang retak ke kelenjar limfe
sekitar duktus/ periduktal dan secara hematogen.
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam
duktus (saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan
maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel
epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga
permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama
protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI
dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun.
Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan kerusakan jaringan
memudahkan terjadinya infeksi (Bertha, 2002 dalam Djamudin, 2009).
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus
laktiferus ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe
sekitar duktus (periduktal) atau melalui penyebaran hematogen pembuluh
darah). Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus,
10

Escherecia coli dan Streptococcus. Kadangkadang ditemukan pula


mastitis tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa
tonsil. Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis
mencapai 1%.

2.1.8 WOC Terlampir


2.1.9 Pemeriksaan Penunjang
Data yang mendukung pemeriksaan yang tidak dapat diketahui
dengan pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan laboratorium dan rontgen.
Pada ibu nifas dengan mastitis tidak dilakukan pemeriksaan
laboratorium/rontgen (Wiknjosastro, 2005). Namuan World Health
Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan kultur dan uji
sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:
a. pengobatan dengan antibiotik tidak memperlihatkan respons yang
baik dalam 2 hari;
b. terjadi mastitis berulang;
c. mastitis terjadi di rumah sakit; dan
d. penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.
Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan
tangan yang langsung ditampung menggunakan penampung urin steril.
Puting harus dibersihkan terlebih dulu dan bibir penampung diusahakan
tidak menyentuh puting untuk mengurangi kontaminasi dari kuman yang
terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif palsu dari kultur.
Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul
berhubungan erat dengan tingginya jumlah bakteri atau patogenitas
bakteri.
2.1.10 Penatalaksanaan Mastitis
a. Tindakan medis meliputi :
1.) Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk mengidentifikasi
adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan
dengan aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai diagnostik
sekaligus terapi
2.) Pemberian obat analgesik untuk penghilang rasa nyeri
11

Rasa nyeri merupakan faktor penghambat produksi hormon


oksitosin yang berguna dalam proses pengeluaran ASI.
Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri pada mastitis.
Analgesik yang dianjurkan adalah obat anti inflamasi seperti
ibuprofen. Ibuprofen lebih efektif dalam menurunkan gejala yang
berhubungan dengan peradangan dibandingkan parasetamol atau
asetaminofen. Ibuprofen sampai dosis 1,6 gram per hari tidak
terdeteksi pada ASI sehingga direkomendasikan untuk ibu
menyusui yang mengalami mastitis.
3.) Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi
Antibiotik diberikan jika tidak terlihat perbaikan gejala dalam 12
- 24 jam atau jika ibu tampak sakit berat. Jenis antibiotik yang
biasa digunakan adalah dikloksasilin atau flukloksasilin 500 mg
setiap 6 jam secara oral. Dikloksasilin mempunyai waktu paruh
yang lebih singkat dalam darah dan lebih banyak efek
sampingnya ke hati dibandingkan flukloksasilin. Pemberian per
oral lebih dianjurkan karena pemberian secara intravena sering
menyebabkan peradangan pembuluh darah. Sefaleksin biasanya
aman untuk ibu hamil yang alergi terhadap penisillin tetapi untuk
kasus hipersensitif penisillin yang berat lebih dianjurkan
klindamisin. Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 - 14
hari. Biasanya ibu menghentikan antibiotik sebelum waktunya
karena merasa telah membaik. Hal ini meningkatkan risiko
terjadinya mastitis berulang.
4.) Pada mastitis dengan komplikasi abses yang sangat besar
terkadang diperlukan tindakan bedah.
b. Tindakan suportif meliputi :
1.) Tata laksana mastitis dimulai dengan memperbaiki teknik
menyusui ibu. Jangan berhenti menyusui meskipun payudara
meradang. Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi
kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi
abses payudara (payudara bernanah). Aliran ASI yang baik
merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis karena stasis
12

ASI merupakan masalah yang biasanya mengawali terjadinya


mastitis. Ibu dianjurkan agar lebih sering menyusui dimulai dari
payudara yang bermasalah. Tetapi bila ibu merasa sangat nyeri,
ibu dapat mulai menyusui dari sisi payudara yang sehat,
kemudian segera mungkin dipindahkan ke payudara bermasalah,
bila sebagian ASI telah menetes (let down) dan nyeri sudah
berkurang.
2.) Anjurkan ibu untuk memperhatikan waktu istirahat serta
konsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi yang seimbang.
Kondisi istirahat yang cukup dapat mempengaruhi hormon
dalam proses menyusui. Nutrisi yang seimbang juga dapat
mempengaruhi hormon dalam proses menyusui dan menunjang
sistem imun terhadap infeksi.
3.) Pemberian kompres pada payudara yang mengalami radang
Secara bergantian, kompres payudara dengan air hangat dan air
dingin. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan
kompres panas membantu memerangi peradangan. Kompres
hangat terutama saat menyusu akan sangat membantu
mengalirkan ASI. Setelah menyusui atau memerah ASI, kompres
dingin dapat dipakai untuk mengurangi nyeri dan bengkak.
4.) Lakukan pemijatan ringan saat menyusui. Pijatan payudara yang
dilakukan dengan jari-jari yang dilumuri minyak atau krim
selama proses menyusui dari daerah sumbatan ke arah puting
juga dapat membantu melancarkan aliran ASI.
5.) Dukungan keluarga terhadap ibu untuk tetap melanjutkan
menyusui serta menjaga istirahat dan asupan nutrisi sangatlah
penting dalam memotivasi ibu selama mengalami mastitis.
2.1.11 Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya mastitis dapat dilakukan beberapa
tindakan sebagai berikut (Soetjiningsih, 1997):
a. Menyusui secara bergantian antara payudara kiri dan kanan
b. Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan
payudara dengan cara memompanya
13

c. Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah


robekan/luka pada puting susu
d. Minum banyak cairan
e. Menjaga kebersihan puting susu
f. Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
Tindakan-tindakan berikut ini juga dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya mastitis, yaitu:
a. Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
 Menyusui sedini mungkin setelah melahirkan;
 Menyusui dengan posisi yang benar;
 Memberikan ASI On Demand dan memberikan ASI eklusif;
 Makan dengan gizi yang seimbang;
b. Pemberian infotentang hal-hal yang mengganggu proses menyusui,
membatasi, mengurangi isapan proses menyusui dan meningkatkan
statis ASI antara lain:
 Penggunaan dot;
 Pemberian minuman lain pada bayi pada bulan-bulan pertama;
 Tindakan melepaskan mulut bayi dari payudara pertama sebelum
bayi siapuntuk menghisap payudara yang lain;
 Beban kerja yang berat atau penuh tekanan;
 Kealpaan menyusui bila bayi mulai tidur sepanjang malam
 Trauma payudara karena tindakan kekerasan atau penyebab lain.
c. Pemberian infotentang penatalaksaan yang efektif pada payudara
yangpenuh dan kencang. Adapun hal-hal yang harus dilakukan yaitu:
 Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan pada payudara oleh
bayinya untuk memperbaiki pengeluaran ASI serta mencegah luka
pada punting susu.
 Ibu harus didorong untuk menyusui sesering mungkin dan selama
bayi menghendaki tanpa batas.
 Perawatan payudara dengan dikompres dengan air hangat dan
pemerasan ASI
14

d. Pemberian informasi tentang perhatian dini terhadap semua tanda


statis ASIIbu harus memeriksa payudaranya untuk melihat adanya
benjolan, nyeri/panas/kemerahan:
 Bila ibu mempunyai salah satu faktor resiko, seperti kealpaan
menyusui.
 Bila ibu mengalami demam/merasa sakit, seperti sakit kepala.
 Bila ibu mempunyai satu dari tanda-tanda tersebut, maka ibu perlu
untuk:beristirahatdi tempat tidur bila mungkin, sering menyusui
pada payudara yang terkena, mengompres panas pada payudara
yang terkena, berendam dengan air hangat/pancuran, memijat
dengan lembut setiap daerah benjolan saat bayi menyusui untuk
membantu ASI mengalir dari daerah tersebut, mencari pertolongan
dari nakes bila ibu merasa lebih baik selanjutnya.
e. Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain
Ibu membutuhkan bantuan terlatih dalam menyusui setiap saat dan ibu
mengalami kesulitan yang dapat menyebabkan statis ASI, seperti:
 Nyeri/puting pecah-pecah
 Ketidaknyaman payudara setelah menyusui
 Kompresi puting susu (garis putih melintasi ujung puting ketika
bayi melepaskan payudara)
 Bayi yang tidak puas, menyusu sangat sering, jarang atau lama
 Kehilangan percaya diri pada suplay ASInya, menganggap ASInya
tidak cukup
 Pengenalan makanan lain secara dini
 Menggunakan dot
f. Pengendalian infeksi
Petugas kesehatan dan ibu perlu mencuci tangan secara
menyeluruh dan sering sebelum dan setelah kontak dengan bayi.
Kontak kulit dini, diikuti dengan rawat gabung bayi dengan ibu
merupakan jalan penting untuk mengurangi infeksi rumah sakit.
2.1.12 Komplikasi
Berikut beberapa komplikasi yang dapat muncul karena mastitis.
a. Abses payudara
15

Abses payudaramerupakan komplikasi mastitis yang biasanya


terjadi karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila
terdapat daerah payudara teraba keras, merah dan tegang walaupun
ibu telah diterapi, maka kita harus memikirkan kemungkinan
terjadinya abses. Kurang lebih 3% dari kejadian mastitis berlanjut
menjadi abses.Pemeriksaan USG payudara diperlukan untuk
mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul. Cairan ini dapat
dikeluarkan dengan aspirasi jarum halus yang berfungsi sebagai
diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin diperlukan aspirasi
jarum secara serial/berlanjut. Pada abses yang sangat besar
terkadang diperlukan tindakan bedah. Selama tindakan ini
dilakukan, ibu harus mendapatkan terapi medikasi antibiotik. ASI
dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang
diberikan sesuai dengan jenis kumannya.
b. Mastitis berulang/kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan
terlambat atau tidak adekuat. Ibu harus benar-benar beristirahat,
banyak minum, mengonsumsi makanan dengan gizi berimbang,
serta mengatasi stress. Pada kasus mastitis berulang karena infeksi
bakteri biasanya diberikan antibiotik dosis rendah (eritromisin 500
mg sekali sehari) selama masa menyusui.
c. Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh
jamur seperti candida albicans.Keadaan ini sering ditemukan
setelah ibu mendapat terapi antibiotik.Infeksi jamur biasanya
didiagnosis berdasarkan nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar
di sepanjang saluran ASI. Diantara waktu menyusui permukaan
payudara terasa gatal. Puting mungkin tidak nampak kelainan.
Pada kasus ini, ibu dan bayi perlu mendapatkan pengobatan.
Pengobatan terbaik adalah mengoles nistatin krim yang juga
mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai bayi
menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang
sama.
16

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
1. Idenitas klien
Orangtua meliputi : nama, wanita umur (21-35 tahun), agama, suku
atau kebangsaan, pendidikan, penghasilan, pekerjaan, dan alamat).
2. Keluhan Utama
3. Riwayat keluhan utama meliputi : adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan
mengeras, bengkak, nyeri.
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang:
Pasien biasanya kelihatan lemah, suhu tubuh meningkat (>38
derajat celcius), tidak ada nafsu makan, nyeri pada daerah
mammae, bengkak dan merah pada mammae. Jika tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat, maka dapat timbul
berbagai komplikasi seperti abses payudara, infeksi berulang dan
infeksi jamur. Oleh sebab itu, perlu dilakukan tindakan
pencegahan yang tepat, misalnya memberikan info tentang
perawatan payudara, teknik menyusui yang benar, dsb.
b. Riwayat kesehatan dahulu :
Kemungkinan wanita yang mengalami mastitis ini karena adanya
faktor-faktor predisposisi seperti faktor kekebalan ASI yang
rendah, sehingga dapat dengan mudah mengalami infeksi
utamanya pada payudara (mastitis). Asupan nutrisi yang tidak
adekuat dan lebih banyak mengandung garam dan lemak juga
dapat memicu terjadinya mastitis, adanya riwayat trauma pada
payudara juga dapat menjadi penyebab terjadinya mastitis karena
adanya kerusakan pada kelenjar dan saluran susu.
c. Riwayat kesehatan keluaraga :
Faktor herediter tidak mempengaruhi kejadian mastitis.
5. Pola Fungsi Kesehatan
1) Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan Persepsi: masih banyak
masyarakat yang menganggap bahwa nyeri yang sering muncul
17

saat masa menyusui adalah hal yang normal, dimana tidak perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk penanganannya. Pasien
dengan mastitis biasanya kebersihan badannya kurang terjaga
terutama pada area payudara dan lingkungan yang kurang bersih
(Djamudin, 2009)
2) Pola Nutrisi / Metabolik: Asupan garam yang terlalu tinggi juga
dapat memicu terjadinya mastitis. Dengan adanya asupan garam
yang terlalu tinggi maka akan menyebabkan terjadinya
peningkatan kadar natrium dalam ASI, sehingga bayi tidak mau
menyusu pada ibunya karena ASI yang terasa asin. Hal ini akan
mengakibatkan terjadinya penumpukan ASI dalam payudara
(Stasis ASI) yang dapat memicu terjadinya mastitis. Wanita yang
mengalami anemia juga akan beresiko mengalami mastitis karena
kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga hal itu akan
memudahkan tubuh mengalami infeksi (mastitis). Pemenuhan
nutrisi juga seringkali menurun akibat dari penurunan nafsu
makan karena nyeri dan peningkatan suhu tubuh.
3) Pola Eliminasi: Secara umum pada pola eliminasi tidak
mengalami gangguan yang spesifik akibat terjadinya mastitis.
Tidak ada nyeri saat berkemih, konsistensi dan warna normal,
jumlah dan frekuensi berkemih normal.
4) Pola aktivitas: terganggu akibat peningkatan suhu tubuh
(hipertermi : >38 derajat celcius) dan nyeri. Sehingga biasanya
pasien akan mengalami penurunan aktivitas karena lebih fokus
pada gejala yang muncul.
5) Pola Tidur dan Istirahat Pola tidur: Akan terganggu karena
kurang nyaman saat tidur, mengeluh nyeri. Pasien akan lebih
fokus pada gejala yang muncul pula.
6) Pola Kognitif dan Perseptual: Kurang mengetahui kondisi yang
dialami, anggapan yang ada hanya nyeri biasa.Pasien merasa
biasa dan jika ada orang lain yang mengetahui dapat terjadi
penurunan harga diri.
18

7) Pola Seksual dan Reproduksi: Biasanya seksualitas terganggu


akibat adanya penurunan libido dan pasien pasti akan lebih
fokus pada gejala yang muncul sehingga untuk pemenuhan
kebutuhan seksualitas ini sudah tidak lagi menjadi prioritas.
8) Pola Peran dan Hubungan: Ada gangguan, lebih banyak untuk
istirahat karena nyeri.
9) Pola Manajemen Koping-Stress: Pasien terlihat tidak banyak
bicara, banyak istirahat.
10) Sistem Nilai dan Keyakinan: Biasanya akan mengalami
gangguan, namun hal itu juga tergantung pada masing-masing
individu, kadangkala ada individu yang lebih rajin ibadah dan
mendekatkan diri kepada Tuhan.namun di lain sisi juga ada
individu yang karena sakit itu, ia malah menyalahkan dan
menjauh dari Tuhan.
6. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Keadaan Umum: pada ibu dengan mastitis keadaan umumnya
baik.
Kesadaran : pada ibu dengan mastitis derajat kesadarannya
adalah compos mentis
2) Pemeriksaan Fisik Head to too
a) Tanda-tanda Vital
Tekanan darah: pada ibu dengan mastitis TD dalam keadaan
normal 120/80 mmHg
Nadi: pada ibu dengan mastitis nadi mengalami penaikan 90-
110/menit. Dimna normalnya 60-80/menit.
Frekuensi Pernafasan: pada ibu dengan mastitis frekuensi
pernafasan mengalami peningkatan 30x/menit. Dimana
normalnya 16-20x/menit.
Suhu: suhu tubuh waniti setelah partus dapat terjadi
peningkatan suhu badan yaitu tidak lebih dari 37,2ᵒC dan
pada ibu dengan mastitis, suhu mengalami peningkatan
sampai 39,5ᵒC.
19

b) Kulit Tidak ada gangguan, kecuali pada area panyudara


sehingga perlu pemeriksaan fisik yang terfokus pada
panyudara.
c) Kepala
Pada area ini tidak terdapat gangguan. Namun biasanya ibu
dengan mastitis mengeluh nyeri kepala seperti gejala flu.
d) Wajah
Wajah terlihat meringis kesakitan.
e) Mata
Pada ibu dengan mastitis konjungtiva terlihat anemis.
Dimana anemia merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya mastitis, karena seseorang dengan anemis akan
mudah mengalami infeksi.
f) Hidung
Napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-), deviasi (-/-).
Tidak ada gangguan pada area ini.
g) Mulut
Mukosa basah (+), sianosis (-), pucat (-), kering (-). Tidak
ada gangguan pada area ini
h) Telinga
Daun telinga dalam batas normal, sekret (-). Tidak ada
gangguan ada area ini.
i) Tenggorokan
Uvula di tengah, mukosa pharing hiperemis (-), tonsil T1 -
T1. Tidak ada gangguan pada area ini.
j) Leher
Pada area leher tidak di temukan adanya gangguan atau
perubahan fisik.
k) Kelenjar getah bening
Pada kelenjar bening yang terdapat pada area ketiak terjadi
pembesaran. pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada
sisi yang sama dengan payudara yang terkena mastitis.
l) Panyudara
20

Pada daerah panyudara terlihat kemerahan atau mengkilat,


gambaran pembuluh darah terlihat jelas di permukaan kulit,
terdapat lesi atau luka pada puting panyudara, panyudara
teraba keras dan tegang, panyudara teraba hangat, terlihat
bengkak, dan saat di lakukan palpasi terdapat pus.
m) Toraks
- Bentuk: normochest, retraksi (-), gerakan dinding dada
simetris. Tidak ada gangguan pada derah toraks.
- Cordis:
Inspeksi: iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-)
- Pulmo:
Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi : Fremitus raba dada kanan = kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) Suara tambahan: (-/-
) n)
n) Abdomen
Inspeksi: dinding perut lebih tinggi dari dinding dada karena
post partum sehingga pembesaran fundus masih terlihat.
Auskultasi: bising usus (+) normal
Perkusi: tympani
Palpasi: supel, hepar dan lien tidak teraba e. Pemeriksaan
penunjang Pada ibu nifas dengan mastitis tidak dilakukan
pemeriksaan laboratorium/rontgen (Wiknjosastro, 2005).
Namun jika dilakukan pemeriksaan laboratorium biasanya
ditemukan jumlah sel darah putih (SDP) meningkat karena
adanya reaksi inflamasi. Selain itu pada pemeriksaan kultur
ASI ditemukan beberapa bakteri penyebab mastitis. Dimana
pemeriksaan kultur ASI tersebut juga digunakan untuk
menentukan antibiotik yang tepat bagi klien.
21

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit
meningkat,
b. trombosit meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin.
c. Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat.
d. Tes diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita carsinoma
mammae
e. adalah sinar X, ultrasonografi, xerora diagrafi, diaphanografi
dan
f. pemeriksaan reseptor hormon
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan penyakit akibat adanya peradangan
pada payudara
2. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi
3. Diskontuinitas pemberian ASI berhubungan denga berhentinya
menyusui sekunder akibat ibu yang sakit
4. Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan proses penyakit
5. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidakadekuat
akibat kerusakan jaringan
6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
fisik akibat penyakit
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

2.2.3 Intervensi Keperawatan


No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan Hasil
1. Hipertermia NOC: NOC :
berhubungan dengan Thermoregulasi 1. Monitor suhu sesering
penyakit akibat Kriteria hasil: mungkin
adanya peradangan 1. Suhu 36 – 37C 2. Monitor warna dan suhu
pada payudara 2. Nadi dan RR dalam kulit
rentang normal 3. Monitor tekanan darah,
3. Tidak ada nadi dan RR
22

perubahan warna 4. Monitor penurunan


kulit dan tidak ada tingkat kesadaran
pusing, merasa 5. Monitor intake dan
nyaman output
6. Berikan anti piretik:
Selimuti pasien
7. Berikan cairan intravena
8. Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
9. Tingkatkan sirkulasi
udara
10. Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi
11. Monitor hidrasi seperti
turgor kulit, kelembaban
membran mukosa)
2. Nyeri akut NOC NIC
berhubungan dengan Pain level Pain management
proses inflamasi Comfort level 1. Lakukan pengkajian
Kriteria hasil : nyeri secara
1. Mampu mengontrol komprehensif termasuk
nyeri (tahu lokasi, karakteristik,
penyebab nyeri, durasi, frekuensi,
mampu kualitas dan faktor
menggunakan presipitasi
tehnik 2. Observasi reaksi
nonfarmakologi nonverbal dari
untuk mengurangi ketidaknyamanan
nyeri, mencari 3. Kurangi faktor
bantuan) presipitasi nyeri
2. Melaporkan bahwa 4. Pilih dan lakukan
nyeri berkurang penanganan nyeri
dengan (farmakologi, non
menggunakan farmakologi dan inter
manajemen nyeri personal)
5. Ajarkan teknik distraksi
nyeri.
6. Kolaborasi:
Kolaborasikan dengan
dokter pemberian
analgesik

3. Diskontuinitas NOC: NIC


pemberian ASI Breastfeding ineffective 1. Menggunakan bantuan
berhubungan dengan Kriteria Hasil: interaktif untuk
berhentinya 1. Mempertahankan membantu ibu
menyusui sekunder laktasi mempertahankan
akibat ibu yang sakit 2. Ibu mampu keberhasilan proses
mengumpulkan dan pemberian ASI
23

menyimpan ASI 2. Sediakan informasi


secara aman tentang laktasi dan
3. Penyapihan teknik pompa Manual/
pemberian ASI eletrik) cara
diskontuinitas mengumpulkan dan
progresif pemberian menyimpan ASI
ASI 3. Apabila penyapihan
diperlukan, informasikan
ibu mengenai
kembalinya proses
ovulasi dan seputar alat
kontrasepsi yang sesuai
4. Pantau berat badan bayi
5. Identifikasi ibu untuk
tetap memompa ASI

4. Kerusakan intergritas NOC : NIC : Pressure Management


kulit berhubungan Kirteria Hasil: 1. Anjurkan pasien untuk
dengan proses 1. Integritas kulit yang menggunakan bra yang
penyakit baik bisa longgar
dipertahankan 2. Jaga kebersihan kulit
(sensasi, elastisitas, agar tetap bersih
temperatur, hidrasi, 3. Monitor kulit akan
pigmentasi) adanya kemerahan
2. Tidak ada luka/lesi 4. Oleskan lotion atau
pada kulit minyak/baby oil
3. Menunjukkan 5. Monitor status nutrisi
pemahaman dalam pasien
proses perbaikan 6. Kaji lingkungan dan
kulit dan mencegah peralatan yang
terjadinya sedera menyebabkan tekanan
berulang 7. Berikan posisi yang
mengurangi tekanan
5. Resiko infeksi NOC : NIC:
berhubungan dengan Risk control 1. Kaji TTV dan tanda-
pertahanan primer Kriteria hasil: tanda adanya infeksi.
tidakadekuat akibat 1. Klien bebas dari 2. Lakukan perawatan
kerusakan jaringan tanda dan gejala luka/abses dengan set
infeksi yang steril.
2. Menunjukkan 3. Kolaborasi pemeriksaan
kemampuan untuk darah lengkap.
mencegah timbulnya 4. Kolaborasi dalam
infeksi melakukan insisi/biopsy
3. Jumlah leukosit dan pemberian antibiotic.
dalam batas normal 5. Berikan informasi
pentingnya menjaga
personal hygiene. ksi
kandung kencing
6. Tingkatkan intake nutrisi
24

7. Inspeksi kulit dan


membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
8. Dorong istirahat
9. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
6. Gangguan citra tubuh NOC NIC
berhubungan dengan Body image 1. Kaji secara verbal dan
penyakit kanker Kriteria Hasil : nonverbal respon klien
rongga mulut 1. Body Image positif terhadap tubuhnya
2. Mampu 2. monitor frekuensi
mengidentifikasikan mengkritik dirinya
kekuatan personal 3. Jelaskan tentang
3. Mendiskripsiakan pengobatan,
secara factual kemajuan,prognosis, dan
perubahan fungsi perawatan
tubuh 4. Dorong klien
4. Mempertahankan mengungkapkan
inraksi sosial perasaannya

BAB III
STUDI KASUS

3.1 Kasus
Ny.A usia 23 tahun mempunyai anak berusia 3 minggu datang ke
RSUA pada tanggal 18 Mei 2016. Ibu mengeluh nyeri pada payudara
sebelah kanan, bayinya tidak mau menyusu, penghisapan tidak adekuat
pada bayi, payudara teraba keras, tampak mengkilat dan memerah,
permukaan kulit dari payudara pecah-pecah serta terdapat nyeri tekan,
badan terasa demam seperti terserang flu. Pada pemeriksaan fisik
25

didapatkan akral hangat, suhu 38,5ºC, nadi 88x/menit, RR 22x/menit, TD


120/70 mmHg. Saat ini klien mengeluh tidak nafsu makan dan sejak 1
hari yang lalu. Makan hanya sekali sehari, hanya habis ½ porsi. Namun
oleh suami dipaksakan untuk makan buah, tetapi hanya makan sedikit.
3.2 Asuhan Keperawatan
3.2.1 Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. A Nama Suami : Tn.F
Usia : 23 tahun Usia : 26 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Mulyorejo Alamat : Jl.Mulyorejo
Tanggal Pengkajian : 18 Mei 2016
2. Keluhan Utama :
Klien mengatakan nyeri pada payudara sebelah kanan, payudara
terasa bengkak.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan gejala nyeri pada payudara sebelah kanan
muncul sejak 3 hari yang lalu, namun semakin hari nyerinya
semakin bertambah. Payudara terasa bengkak, warna kemerahan
semakin tampak jelas pada payudara sebelah kanan. Dan bayinya
pun tidak mau menyusu pada payudara yang sakit. Pada akhirnya
klien memutuskan untuk datang berobat ke RSUA pada pukul
10.00 WIB diantar oleh suaminya.
4. Riwayat Kehamilan

Usia Jenis Tahun Nifas / Anak


No Ditolong Penyulit
Kehamilan Persalinan Persalinan Laktasi
JK BB PB Keadaan

1. Aterm Operasi Dokter - 2016 Baik ♂ 3000 49 Hidup

5. Riwayat Persalinan
26

Jenis Persalinan : Normal


Tanggal persalinan : 27 April 2016, jam 10.40 WIB
Jenis kelamin : Laki-laki BB : 3000 gr PB : 49 cm
Keadaan Anak : Baik
Plasenta : Lahir lengkap
Jumlah Perdarahan : Normal
Komplikasi/ Penyulit : Tidak ada
6. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Tidak ada penggunaan nafas cuping hidung, tidak ada
penggunaan otot bantu nafas, suara nafas vesikuler,
RR=22x/menit
b. B2 (Blood)
S=38,5ºC, N=88x/menit, TD=120/70 mmHg
c. B3 (Brain)
Kesadaran compos mentis
d. B4 (Bladder)
Tidak ada gangguan
e. B5 (Bowel)
kan, makan hanya sekali/hari
f. B6 (Bone)
Klien tampak lemah, tonus otot normal

7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap :
- Leukosit meningkat : 11.000 sel/mm³
- Hb : 11 gr %
Pemeriksaan Urin :
- Protein Urine : (-) negative
Reduksi : (-) negative
3.2.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah


27

1. DS : Klien mengatakan nyeri Agen injuri Nyeri akut


pada payudara sebelah kanan, biologis
badan terasa demam seperti ↓
terserang flu Pelepasan
DO : mediator
- Payudara bengkak inflamasi
- Payudara teraba keras, tampak ↓
mengkilat dan memerah, Pelepasan
- Permukaan kulit dari payudara prostaglandin
pecah-pecah
- Terdapat nyeri tekan
2. DS : Klien mengatakan badan Proses infeksi Hipertermi
terasa demam seperti terserang flu ↓
DO : Respon inflamasi
- Wajah klien tampak ↓
merah Peningkatan suhu
- S=38,5ºC
- Akral hangat
3. DS : Klien mengeluh tidak nafsu Proses infeksi Ketidakseimbangan
makan dan sejak 1 hari yang lalu. ↓ nutrisi kurang dari
DO : Nyeri kebutuhan tubuh
- Makan hanya sekali/hari ↓
- Sedikit makan buah Anoreksia
dengan dipaksa
- Makan hanya ½ porsi
- Bising usus = 38x/menit
4. DS : Klien mengatakan bayinya Proses infeksi Ketidakefektifan
tidak mau menyusu, penghisapan ↓ pemberian ASI
tidak adekuat pada bayi Payudara bengkak
DO : ↓
- Payudara sebelah kanan Payudara terasa
tampak bengkak nyeri
28

- Payudara teraba keras ↓


- Penghisapan bayi tidak Penghisapan bayi
adekuat tidak adekuat

Ibu tidak tahu apa
yang harus
dilakukan

Ibu berhenti
menyusui bayinya
lagi

3.2.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b.d agen injuri biologis
2. Hipertermi b.d proses infeksi
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
anoreksia
4. Ketidakefektifan pemberian ASI b.d kurangnya pengetahuan ibu
29

3.2.4 Intervensi

Diagnosa
No Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
Keperawatan
1. Nyeri akut b.d Tujuan : Setelah dilakukan NIC : Pain
agen injury tindakan keperawatan nyeri Management
biologis hilang atau berkurang. Mandiri :
NOC : 1. Lakukan
- Pain level pengkajian nyeri
- Pain control secara komprehensif
- Comfort level termasuk lokasi,
Kriteria Hasil : karakteristik, durasi,
- Klien mengatakan frekuensi, kualitas dan
nyerinya berkurang/ hilang faktor presipitasi
- Kondisi payudara 2. Observasi reaksi
membaik : warna kemerahan nonverbal dari
berkurang/hilang, tidak ada ketidaknyamanan
nyeri tekan 3. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
4. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
5. Ajarkan teknik
distraksi nyeri dengan
masase pada
payudara.

Kolaborasi:
Kolaborasikan dengan
dokter pemberian
30

analgesik.
2. Hipertermi b.d Tujuan : Setelah dilakukan NIC : Fever
proses infeksi tindakan keperawatan klien Treatment
tidak mengalami hipertermi Mandiri
NOC : 1. Monitor suhu
- Thermoregulation tubuh sesering
Kriteria hasil : mungkin
- Suhu tubuh dalam 2. Monitor
rentang normal (36,5- perubahan warna
37,5ᵒC) kulit dan akral
- Tidak ada perubahan tubuh
warna kulit 3. Monitor tingkat
- Akral hangat kesadaran
4. Berikan kompres
pada lipatan paha
dan aksila klien
5. Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
6. Monitor hidrasi
seperti turgor kulit
dan membrane
mukosa
Kolaborasi
Kolaborasikan dengan
dokter dalam
pemberian antipiretik
dan antibiotik
3. Ketidakseimbanga Tujuan : Setelah dilakukan NIC : Nutrition
n nutrisi kurang intervensi keperawatan Management
dari kebutuhan diharapkan terjadinya Mandiri:
tubuh peningkatan status gizi. 1. Identifikasi
NOC : Nutrition Status penyebab ganguan
31

Kriteria hasil : nafsu makan


- Nafsu makan 2. Kaji riwayat alergi
meningkat makanan klien
- Frekuensi makan 3. Kaji makanan
3x/hari kesukaan klien
- Klien makan habis 1 4. Timbang berat
porsi badan klien tiap hari
- BB meningkat 5. Berikan makanan
sesuai dengan diet
yang telah ditetapkan
6. Anjurkan klien
makan makanan
selagi hangat
7. Berikan informasi
yang tepat tentang
kebutuhan nutrisi dan
bagaimana memenuhi
nya

Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian obat untuk
mengatasi mual
muntah bila perlu
2. Kolaborasi dengan
ahli gizi dalam
pemberian makanan
yang TKTP diet
rendah garam
32

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan karena adanya sumbatan
pada duktus hingga puting susu mengalami sumbatan. Mastitis paling
sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran.Penyebab
penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat
teknik menyusui yang buruk.
Mastitis disebabkan oleh payudara bengkak yang tidak disusu
secara adekuat, akhirnya tejadi mastitis, puting lecet akan memudahkan
masuknya kuman dan terjadi payudara bengkak, penyangga payudara yang
terlalu ketat, mengakibatkan segmental engorgement sehingga jika tidak
disusu secara adekuat bisa erjadi mastitis dan ibu yang memiliki diet jelek,
kurang istirahat, anemia akan mempermudah terkena infeksi.
Penatalaksanaan yang bisa diberikan pada ibu dengan mastiti ialah
dengan memperbaiki teknik menyusui ibu, memperhatikan waktu istirahat
serta konsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi yang seimbang, pemberian
kompres pada payudara yang mengalami radang, melakukan pemijatan
ringan saat menyusui, serta memberikan dukungan terhadap ibu untuk
tetap melanjutkan menyusui.
4.2 Saran
Diharapkan dalam menangani pasien dengan mastitis, pengenalan
awal mengenai tanda dan gejala sangat diperlukan untuk menentukan
prognosa yang lebih baik.
33

DAFTAR PUSTAKA

Alasiry, E. 2013. Buku Indonesia Menyusui (Pencegahan dan Penanganan


Mastitis).http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-
dan penanganan.html. Diakses pada tanggal 17 Mei 2016.

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne McCloskey. 2013.
Nursing Interventions classification (NIC) 6th ed. America : Elsevier
Mosby Djamudin, Syahrul. 2009. Askep Nifas Pada Ibu Dengan
Infeksi Payudara. Jakarta : Salemba Medika

Herman, T Heather, Kamitsuru, Shigemi. 2014. Nursing Diagnoses 2015-2017 :


Definition and Classificaion 10th ed. UK : Wiley Blackwell

http://www.mdguidelines.com/postpartum-mastitis/prognosis dan komplikasi.html

https://harsonosites.com/2014/06/03/mastitis-radang-payudara.html

Moorhed, Sue , Johnson, Marion , Maas, Meridean L., Swanson, Elizabeth. 2013.
Nursing Outcomes lassification (NOC) 5th ed. America : Elsevier
Mosby.

Sjamsuhidajat, R., dan De Jong, W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 3. Jakarta :
EGC.

Sugiarto, Bertha . 2008. Mastitis: Penyebab dan Penatalaksanaan. Jakarta : Widya


Medika