Anda di halaman 1dari 9

PENGAMATAN

BEAM BAJA PADA JEMBATAN LALU LINTAS


(PENGHUBUNG DESA HARGOREJO, KOKAP, KULON PROGO)
Penulis Irvan Junico Mahendra1, Dedy Widiyanto2, Didiek Hermansyah3*
Jurusan Teknik Sipil FST UTY
Jalan Glagahsari NO 63 Yogyakarta, D.I.Yogyakarta 55164 Telp. (0274)373955, Faks. (0274)381212
rangersstudio17@gmail.com

Jembatan merupakan sarana penghubung jalan yang terputus karena rintangan sungai,
lembah, laut, jalan maupun rel kereta api. Jika diklasifikasikan secara fungsinya jembatan dapat
dibedakan menjadi jembatan jalan raya dan jembatan kereta api. Pada paper ini, akan diperlihatkan
apakah penggunaan Beam Baja IWF dengan lebar 6 m dan panjang 11,70 m dapat dipergunakan pada
jembatan jalan raya maupun jembatan kereta api. Perbandingan dilakukan pada analisis perhitungan
struktur jembatan dan beban-beban yang digunakan pada kedua fungsi jembatan tersebut. Untuk
jembatan jalan raya beban dikelompokkan menjadi tiga kelompok beban, yaitu berat sendiri gelagar,
beban mati tambahan, dan beban hidup. Beban mati tambahan yang dianalisis yaitu beban pelat, deck
slab, aspal, dan diafragma sedangkan untuk beban hidup dengan fungsi jalan raya adalah beban D
yang terdiri dari beban terdistribusi (load distribution) dan beban Knife Edge Load (KEL) berdasarkan
"Pembebanan Untuk Jembatan SNI 1725:2016". Pengelompokkan beban untuk jembatan kereta api
sama dengan jembatan jalan raya. Yang membedakan dalam analisis perhitungan yaitu tidak adanya
beban aspal pada jembatan kereta api dan digantikan dengan beban track dan ballast pada beban mati
tambahan. Beban hidup yang bekerja pada struktur atas jembatan kereta api adalah beban yang
berasal dari rangkaian kereta api yang besarnya ditentukan berdasarkan Rencana Muatan 1921
(RM.1921).

Kata kunci: beban, jembatan, jalan raya, kereta api

I. PENDAHULUAN beban yang digunakan sesuai dengan fungsi


Jembatan merupakan bagian dari jalan yang jembatan pada jembatan jalan raya dan jembatan
menghubungkan jalan yang terputus karena kereta api. Untuk jembatan jalan raya beban
rintangan seperti sungai, lembah, laut, jalan maupun dikelompokkan menjadi 3 kelompok beban yaitu
rel kereta api. Pada paper ini, akan diperlihatkan berat sendiri gelagar, beban mati tambahan, dan
analisis perhitungan jembatan gelagar I bentang 50 beban hidup. Untuk beban mati tambahan yang di
m untuk jembatan kereta api dan jembatan jalan analisis yaitu beban pelat, deck slab, aspal, dan
raya. Beban-beban yang diperhitungkan adalah diafragma sedangkan untuk beban hidup dengan
fungsi jalan raya adalah beban D yang terdiri dari A. Format Penulisan
beban terdistribusi (load distribution) dan beban Ukuran kertas harus sesuai dengan ukuran
Knife Edge Load (KEL) berdasarkan "Pembebanan halaman A4, yaitu 210 mm (8,27") lebar dan 297
Untuk Jembatan RSNI T-02-2005". mm (11,69") panjang. Batas margin ditetapkan
Pengelompokkan beban untuk jembatan kereta sebagai berikut:
api sama dengan jembatan jalan raya. Yang  Atas = 19 mm (0,75")
membedakan dalam analisis perhitungan yaitu tidak  Bawah = 43 mm (1,69")
adanya beban aspal pada jembatan kereta api dan  Kiri = Kanan = 14,32 mm (0,56")
digantikan dengan beban track dan ballast pada Artikel penulisan harus dalam format dua kolom
beban mati tambahan. Beban hidup yang bekerja dengan ruang 4,22 mm (0,17") antara kolom.
pada struktur atas jembatan kereta api adalah beban Paragraf harus teratur. Semua paragraf harus rata,
yang berasal dari rangkaian kereta api yang yaitu sama-sama rata kiri dan dan rata kanan.
besarnya ditentukan berdasarkan Rencana Muatan
1921 (RM.1921). B. Jumlah Halaman
Analisis perhitungan kedua jenis jembatan (jalan Jumlah halaman paper yang diajukan ke jurnal
raya dan kereta api) menggunakan panjang gelagar, Teknofisika adalah antara 6 sampai dengan 12
jarak antar gelagar, penampang gelagar, tebal pelat, halaman.
dan tebal deck slab yang sama. Kuat tekan beton
C. Huruf-huruf Dokumen
untuk gelagar adalah 724,3 kg/cm2 (K-800)
sedangkan untuk pelat 291,8 kg/cm2 (K-350). Seluruh dokumen harus dalam Times New
Kabel prategang yang digunakan yaitu uncoated Roman atau Times font. Type 3 font tidak boleh
stress relieve 7 wires strand dengan kuat tarik digunakan. Jenis font lain dapat digunakan jika
ultimate: 19.000 kg/cm2, diameter: 12,7 mm, luas diperlukan untuk tujuan khusus.
efektif: 0,987 cm2, dan modulus elastisitas D.Judul dan Penulis
1.960.000 kg/cm2.
Judul harus dalam tipe Reguler 24 pt font. Nama
Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai
pengarang harus dalam Reguler 11 pt font. Afiliasi
berikut: (1) menganalisis kekuatan profil IWF
penulis harus dalam Italic 10 pt. Alamat email harus
terhadap gaya-gaya yang bekerja khususnya beban
di 9 pt Regular font.
hidup pada jalan raya dan kereta api; (2)
Judul dan pengarang harus dalam format kolom
menghitung kekuatan gelagar IWF jembatan jalan
tunggal dan harus terpusat. Setiap awal kata dalam
raya pada kondisi awal (setelah diberi gaya
judul harus huruf besar kecuali untuk kata-kata
prategang) dan kondisi layan; (3) mengetahui
pendek seperti, "sebuah", "dan", "di", "oleh",
apakah dimensi penampang gelagar IWF untuk
"untuk", "dari", , "pada", "atau", dan sejenisnya.
jembatan jalan raya dapat juga dipergunakan untuk
Penulisan penulis tidak boleh menunjukkan nama
jembatan kereta api.
jabatan (misalnya Dosen Pembimbing), apapun
II. METODOLOGI PENELITIAN gelar akademik (misalnya Dr) atau keanggotaan
Bagian ini menjelaskan secara rinci tentang dari setiap organisasi profesional (misalnya Senior
penelitian yang dilakukan. Member IEEE).
Agar tidak membingungkan, nama keluarga
ditulis di bagian terakhir dari masing-masing nama
III.HASIL DAN PEMBAHASAN pengarang (misalnya Yohanes AK Smith). Setiap
Hasil penelitian hendaknya dituliskan secara jelas afiliasi harus termasuk, setidaknya, nama
dan padat. Diskusi hendaknya menguraikan arti perusahaan dan nama negara tempat penulis
pentingnya hasil penelitian, bukan mengulanginya. didasarkan (misalnya Kausal Productions Pty Ltd,
Hindari penggunaan sitasi dan diskusi yang Australia).
berlebihan tentang literatur yang telah
dipublikasikan.
Alamat email wajib bagi penulis korespondensi
(corresponding author). Keterangan sebagai penulis
korespondensi dituliskan setelah alamat email.
E. Bagian Heading
Sebaiknya tidak lebih dari 3 tingkat untuk
heading. Semua tulisan harus dalam font 10pt.
Setiap awal kata dalam judul heading harus huruf
besar kecuali untuk kata-kata pendek seperti yang
tercantum dalam Bagian III-D.
1) Heading Level-1: Heading level 1 harus dalam
Small Caps, terletak di tengah-tengah dan
menggunakan penomoran angka Romawi huruf Gambar 1. Contoh grafik garis menggunakan
besar. Sebagai contoh, lihat judul "III. HASIL DAN hitam-putih. Perhatikan penulisan label dan satuan
PEMBAHASAN" dari dokumen ini. Judul dengan pada sumbu horisontal maupun vertikal.
heading 1 yang tidak diberi nomor adalah "UCAPAN
TERIMA KASIH" dan "REFERENSI". Label pada sumbu horisontal maupun vertikel
2) Heading Level-2: Heading level-2 harus sering kali dapat membingungkan. Oleh karena itu
ditulis miring, merapat ke kiri dan nomor sedapat mungkin gunakan kata-kata, dan bukan
menggunakan abjad huruf besar. Sebagai contoh, hanya simbol. Berikan satuan di dalam tanda
lihat judul "E. Bagian Heading" di atas. kurung, namun penulisan label jangan hanya berupa
satuan tanpa keterangan secukupnya. Contoh
3) Heading Level-3: Heading level-3 harus penulisan label yang tepat adalah ”Suhu (K)” atau
ditulis menjorok, miring dan dinomori dengan ”Suhu, T
max (K)”. Contoh penulisan label yang
angka Arab diikuti dengan tanda kurung kanan. keliru adalah ”T ” atau ”(K)”.
max
Heading level 3 harus diakhiri dengan titik dua. Gunakan font yang konsisten dan seragam pada
Tulisan bersambung mengikuti judul heading grafik. Font yang disarankan adalah Times New
dengan baris yang sama. Sebagai contoh, ayat ini Roman (atau Times), Arial (atau Helvetica),
diawali dengan heading level 3. Symbol dan Courier. Contoh grafik dapat dilihat
F. Gambar dan Keterangan Gambar pada Gambar 1.
Gambar harus terletak di tengah (centered). Pastikan bahwa resolusi gambar cukup untuk
Gambar yang besar bisa direntangkan di kedua mengungkapkan rincian penting pada gambar
kolom. Setiap gambar yang mencakup lebih dari 1 tersebut. Untuk gambar yang bersumber dari file
kolom lebar harus diposisikan baik di bagian atas JPG, pastikan mempunyai resolusi sebesar 300 dpi.
atau di bagian bawah halaman. Gambar tidak diberi Gambar 2 menunjukkan contoh sebuah gambar
bingkai (border) di luar bidang gambar. dengan resolusi rendah yang kurang sesuai
Gambar grafik dimungkinkan berwarna. Untuk ketentuan, sedangkan Gambar 3 menunjukkan
grafik berwarna, pastikan warna cukup kontras contoh dari sebuah gambar dengan resolusi yang
untuk membedakan garis yang satu dengan yang memadai.
lain. Untuk grafik hitam putih, gunakan jenis garis Keterangan gambar diletakkan di bagian bawah
yang berbeda (misalnya garis utuh, garis putus- gambar. Keterangan gambar menggunakan 8 pt
putus, garis titik-titik, dan sebagainya). Reguler font dan diberi nomor dengan
menggunakan angka Arab. Keterangan gambar
dalam satu baris (misalnya Gambar 2) diletakkan di
tengah (centered), sedangkan keterangan gambar
yang lebih dari satu baris harus dirata kiri (misalnya
Gambar 1). Keterangan gambar dengan nomor
gambar harus ditempatkan sesuai dengan poin-poin Keterangan angka tabel ditempatkan sebelum tabel
yang relevan, seperti ditunjukkan pada Gambar 1 – terkait. Isi tabel ditulis rata tengah. Perhatikan
3, kecuali jika gambar berukuran besar melebihi bahwa pada tabel tidak terdapat garis vertikal.
satu kolom. Contoh tabel dapat dilihat di Tabel I.

TABEL I
POTENSI KONVERSI BEBERAPA
RADIONUKLIDA

Energi Neutron
Nuklida
Termal Epitermal Cepat
Pu-239 1,09 0,9 1,9
U-233 1,20 1,3 1,5
U-235 1,07 0,8 1,3

Gambar 2. Contoh gambar dengan resolusi kurang


H. Persamaan
Persamaan ditulis rata tengah. Gunakan
Microsoft Equation Editor atau MathType add-on.
Jangan copy paste persamaan dari file lain yang
berbentuk pdf atau jpg. Penomoran persamaan
ditulis rata kanan dengan angka arab di dalam tanda
kurung. Contoh penulisan persamaan dapat dilihat
di Persamaan (1) berikut ini.

2 n 2
  (1)
 A
Gunakan ukuran (size) berikut ini pada Microsoft
Equation Editor:
 Full : 10 pt
Gambar 3. Contoh gambar dengan resolusi cukup  Subscript/Superscript : 5 pt
 Sub-subscript/superscript : 3 pt
G. Tabel dan Keterangan Tabel  Symbol : 16 pt
Tabel harus diletakkan di tengah (centered). Tabel  Sub-symbol : 10 pt
yang besar bisa direntangkan di kedua kolom atau
diputar menjadi vertikal. Setiap tabel atau gambar I. Nomor Halaman, Headers dan Footers
yang mencakup lebih dari 1 kolom lebar harus Nomor halaman, headers dan footers tidak
diposisikan baik di bagian atas atau di bagian dipakai.
bawah halaman.
J. Tautan dan Bookmark
Tabel dan judul tabel ditulis dengan font 8 pt
Reguler. Tabel diberi nomor menggunakan angka Semua tautan hypertext dan bagian bookmark
Romawi huruf besar. Setiap awal kata dalam judul akan dihapus. Jika paper perlu merujuk ke alamat
tabel menggunakan huruf besar kecuali untuk kata- email atau URL di artikel, maka alamat atau URL
kata pendek seperti yang tercantum pada Bagian lengkap harus ditulis dengan font biasa.
III-D, dan ditulis menggunakan Small Caps. K. Referensi
Setiap dokumen/pustaka yang disitasi di paper ini yang sudah dituliskan di bagian Intisari, akan tetapi
harus dituliskan di bagian ini. Jumlah pustaka yang membahas hasil-hasil yang penting, penerapan
disitasi minimal 10 buah, dengan 80% berupa acuan maupun pengembangan dari penelitian yang
primer. Yang dimaksud dengan acuan primer adalah dilakukan. Bagian ini hendaknya juga dapat
artikel jurnal, book chapter, paten, paper menunjukkan apakah tujuan penelitian dapat
seminar/prosiding. Adapun yang dimaksud dengan tercapai.
acuan sekunder adalah buku teks dan handbook. Kesimpulan ditulis dalam bentuk paragraf uraian.
Judul pada bagian REFERENSI tidak boleh Hindari penggunaan bulleted list.
bernomor. Semua item referensi dalam 8 pt font.
Silakan gunakan Italic Reguler dan gaya untuk UCAPAN TERIMA KASIH
membedakan berbagai bidang seperti ditunjukkan Bagian ini memberikan apresiasi kepada
pada bagian Referensi. Nomor referensi harus perorangan maupun organisasi yang memberikan
ditulis berurutan di dalam tanda kurung siku bantuan kepada penulis. Ucapan terima kasih
(misalnya [1]). kepada pihak sponsor maupun dukungan finansial
Ketika mengacu pada item referensi, silakan juga dituliskan di bagian ini.
menggunakan nomor referensi saja, seperti dalam
REFERENSI
[2]. Jangan menggunakan "Ref. [3]" atau "Referensi
[3]" kecuali pada awal kalimat, misalnya "Referensi [1] SNI 1725:2016 Pembebanan untuk
[3] menunjukkan bahwa ...". Pengacuan beberapa jembatanBadan Standardisasi Nasional. (2004).
referensi dengan cara menuliskan masing-masing [2] Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan,
nomor dengan kurung terpisah (misalnya [2], [3], SNI T-12-2004. Jakarta: Badan Standardisasi
[4] - [6]). Beberapa contoh item referensi dengan Nasional.
kategori yang berbeda ditampilkan dalam bagian [3] Badan Standardisasi Nasional. (2005).
Referensi meliputi: Perencanaan Pembebanan untuk Jembatan, SNI
 contoh untuk buku pada [1] T- 02-2005. Jakarta: Badan Standardisasi
 contoh sebuah buku dalam seri dalam [2] Nasional.
 contoh artikel jurnal di [3] [4] Badan Standarisasi Nasional. (2004). Pelaksaan
 contoh paper seminar di [4] Pekerjaan Beton untuk Jembatan dan Jalan
 contoh paten dalam [5] Pedoman T-07-2005. Jakarta: Badan
 contoh website di [6] Standarisasi Nasional.
 contoh dari suatu halaman web di [7] [5] Railway Technical Institute. (2004). Design
 contoh manual databook dalam [8] Standard Railway Structure for Concrete
 contoh datasheet di [9] Structure.
 contoh tesis master di [10] [6] Hidayat, Irpan, Analisis Perhitungan Jembatan
 contoh laporan teknis [11] Gelagar I Pada Jembatan Jalan Raya Dan
 contoh standar dalam [12] Jembatan Kereta Api , Civil Engineering
Department, Faculty of Engineering, Binus
IV. KESIMPULAN University. Jakarta Barat.
Kesimpulan berisi tentang poin-poin utama
artikel. Kesimpulan hendaknya tidak mengulangi
STUDI ALTERNATIF PERENCANAAN JEMBATAN DENGAN KONSTRUKSI PLATE
GIRDER PADA JEMBATAN PAGERLUYUNG TOL MOJOKERTO
Febrian Deni Bastian
ABSTRAKSI
Jembatan merupakan konstruksi yang berfungsi untuk meneruskan jalan dari satu
tempat ke tempat yang lain yang terhalang oleh rintangan. Rintangan ini dapat berupa
jalan lain (jalan air atau jalan lalu lintas biasa). Perkembangan trasportasi yang semakin
erat kaitannya dengan pembangunan, baik berupa pembangunan jalan maupun
jembatan yang berfungsi untuk memperlancar arus kendaraan sehingga tercipta efisiensi
waktu dalam beraktifitas. Jembatan Pagerluyung mempunyai bentang total yaitu 87,9m
dan lebar 11,15m, dengan bentang yang panjang jembatan pagerluyung dibagi menjadi
3 bentang yaitu bentang I : 16,60m, bentang II : 40,70m, dan bentang III : 30,60m.
Secara umum, tugas akhir ini adalah merencanakan alternatif struktur jembatan.
Altenatif perencanaan Jembatan pagerluyung tol Mojokerto menggunakan kontruksi
gelagar plat, bentang jembatan di ambil 40,65 meter dengan lebar 11,15 meter. Untuk
pembebanan pada jembatan ini menggunakan LRFD, Standard pembebanan untuk
jembatan RSNI T – 02 - 2005 dan RSNI4 (Perencanaan Struktur Baja untuk
Jembatan). Hasil perencanaan besarnya pembebanan dan dimensi plat lantai kendaraan
dari perhitungan Beban primer didapat Berat plat lantai kendaraan: 1304,4 kg/m, Beban
sendiri gelagar : 1050,016 kg/m, beban hidup : 2111,4 kg/m dan beban garis ”P” : 11466
kg. Sedangkan untuk beban sekunder didapat Beban angin : 1109,65 kg/m dan akibat
Gaya rem: 8100 kg. Perencanaan dimensi plat lantai kendaraan diperoleh Tebal plat
beton : 20 cm, Tulangan pokok : D16 - 100 mm, dan Tulangan bagi: D10 - 100mm. Hasil
perhitungan dimensi gelagar tipe plat tinggi 170 cm, lebar flens atas dan bawah 60 cm,
tebal flens 7,5 cm terdiri dari 3 lapis plat, tebal badan 2 cm. Semua dimensi yang dipakai
memenuhi persyaratan dari beban yang bekerja. Panjang gelagar 40,65 meter terbagi
menjadi 6 sambungan baut dengan panjang 5,325 meter untuk ujung bentang dan 6
meter pada tengah bentang. Pada perencanaan pondasi, pondasi yang digunakan adalah
tiang pancang dengan diameter 60 cm, kedalaman 24 meter, sebanyak 15 buah dan
menggunakan besi tulangan diameter 14 mm.
Kata Kunci : Alternatif jembatan, Plate girder, Tol Mojokerto.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jembatan merupakan konstruksi yang berfungsi untuk meneruskan jalan dari satu tempat ke tempat
yang lain yang terhalang oleh rintangan. Rintangan ini dapat berupa jalan lain (jalan air atau jalan lalu
lintas biasa). Perkembangan trasportasi yang semakin erat kaitannya dengan pembangunan, baik berupa
pembangunan jalan maupun jembatan yang berfungsi untuk memperlancar arus kendaraan sehingga
tercipta efisiensi waktu dalam beraktifitas.
Dalam perencanaan jembatan pagerluyung kontruksi yang digunakan adalah beton pratekan,
Sedangkan gelagar jembatan yang digunakan di lapangan yaitu gelagar pratekan dengan tipe I. Pada
penyusunan tugas akhir ini penulis mengambil alternatif
perencanaan jembatan dengan gelagar plat karena gelagar plat merupakan alternatif terbaik yang bisa
digunakan karena mempunyai nilai ekonomis yang lebih.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas maka di per oleh identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Kondisi lalu lintas yang padat sehingga perlu lantai kendaraan yang sesuai.
2. Gelagar tipe I adalah gelagar yang digunakan di lapangan sehingga perlu arternatif lain yaitu dengan
gelagar plat.
3. Gelagar plat (plate girder) yang direncanakan mempunyai beban yang cukup besar sehingga
memerlukan dimensi pilar yang sesuai.
4. Kondisi tanah keras letaknya sangat dalam.
Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Berapa pembebanan dan dimensi plat lantai kendaraan?
2. Berapa dimensi gelagar plat (plate girder) jembatan ?
3. Berapa dimensi pilar yang sesuai dengan beban yang bekerja?
4. Berapa dimensi pondasi yang sesuai dengan beban yang bekerja?
Tujuan dan Manfaat
Sesuai dengan judul tugas akhir dan uraian di atas maka tujuan yang di harapkan dari penulisan
tugas akhir ini adalah :
1. Untuk mengetahui perencanaan penampang komposit dan gaya-gaya pada jembatan layang.
2. Menerapkan disiplin ilmu tentang struktur jembatan yang di terima selama perkuliahan.
Sedangkan manfaat yang di harapkan dari “Studi Alternatif Perencanaan Jembatan dengan
Konstruksi Plate Girder pada Jembatan Pagerluyung Tol Mojokerto” adalah diharapkan mampu
memberikan alternatif perencanaan jembatan kepada instansi terkait dalam penentuan tipe jembatan di
masa yang akan datang.
Lingkup Pembahasan
Sesuai dengan judul skripsi yaitu “Studi Alternatif Perencanaan Jembatan dengan
Konstruksi Plate Girderpada Jembatan Pagerluyung Tol Mojokerto”, maka pembahasan hanya pada
bangunan jembatan, yang meliputi:
1. Perhitungan penulangan plat lantai kendaraan dan tiang sandaran.
2. Perhitungan gelagar plat.
3. Perhitungan Pilar .
4. Perhitungan pondasi.
Landasan Teori
Pengertian Jembatan Jalan Raya
Jembatan adalah bagaian dari jalan yang merupakan bangunan layanan lalu lintas (untuk
melewatkan lalu lintas), dan keberadaannya sangat diperlukan untuk menghubungkan ruas jalan yang
terputus oleh suatu rintangan seperti sungai, lembah, gorong-gorong, saluran-saluran (air,pipa,kabel,dll),
jalan atau lalu lintas lainnya. Adapun fungsi dari jembatan yaitu sama dengan jaan yang melintasinya yakni
prasarana penghubung atau meneruskan pergerakan lalu lintas barang dan jasa, secara langsung dan
ekonomis sehingga akan menambah nilai efisiensi produksi barang tersebut.
Pembebanan Jembatan
Pada perencanaan jembatan ini, dipakai peraturan perencanaan teknik jembatan (RSNI T-02-2005)
dan selanjutnya akan dibahas jenis beban yang bekerja pada jembatan jalan raya yaitu Pembebanan kelas I
adalah aplikasi pembebanan sebesar 100 % beban “T“ (beban truck) dan 100 % beban “D” (beban lajur).
Beban-beban yang dipakai dalam perhitungan adalah ;
a. Beban primer
- Beban hidup
- Beban mati
b. Beban lalu lintas
- Lajur lalu lintas biasa
- Beban lajur “D”
- Beban truk “T”
- Faktor beban dinamis
- Gaya rem
c. Beban lingkungan
- Beban angin
- Pengaruh gempa
Konstruksi Plat girder
Plat girder adalah elemen struktur lentur tersusun yang didesain untuk memenuhi kebutuhan yang
tidak dapat dipenuhi oleh penampang gilas panas biasa. Bentuk umum yang dewasa ini yang didesain
terdiri atas dua flens yang dilas pada plat web yang relatif tipis. Tebal plat biasanya konstan. Tinggi plat
web dapat konstan atau menjadi lebih tinggi didaerah yang momennya besar. Girder plat yang tingginya
tidak konstan biasanya hanya digunakan pada struktur bentang panjang.
Perencanaan plat girder baja
Tebal badan girder bisa diambil dari persamaan :

Perencanaan dimensi plat sayap digunakan rumus :


Af =
Perencanaan pengaku
- Pengaku vertikal
Ast =
- Pengaku Tumpuan
Astperlu =
Sambungan plat girder
Setiap struktur baja merupakan gabungan dari beberapa komponen batang yang
disatukan dengan alat pengencang. Salah satu alat pengencang disamping las yaitu baut mutu
tinggi. Baut mempunyai beberapa kelebihan dari paku keling yang terlebih dahulu ada yaitu
jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit, kemampuan menerima gaya lebih besar, dan secara
keseluruhan dapan menghemat biaya kontruksi
Tipe Diameter (mm)Proof Kuat tarik min
baut stress(Mpa) (Mpa)
A307 6,35-10,4 - 60
A325 12,7-25,4 585 825
A490 12,7-38,1 825 1035
Tabel Tipe tipe baut
Alat penghubung geser (Shear Connector)
Shear connector adalah alat penghubung geser yang diletakkan sedemikian rupa pada bidang kontak
antara baja dengan beton agar kedua bahan tersebut dapat bekerja sama sebagai satu kesatuan dalam
memikul beban. Untuk menghitung kekuatan dari shear connector tipe paku :
qult = 0,0004.ds2. untuk H/ds ≥ 4
Perencanaan Kepala jembatan
Kepala jembatan dan pondasi termasuk dalam bangunan bawah jembatan yang menerima beban-
beban dari bangunan diatasnya meliputi beban mati, beban hidup dan beban-beban lainnya yang bekerja
pada struktur jembatan yang kemudian diteruskan ke tanah sebagai dasar dan landasan struktur jembatan.
- Stabilitas terhadap beban eksentrinitas
)
- Stabilitas terhadap guling
Stabilitas terhadap geser
Perencanaan pondasi tiang pancang
Pondasi tiang pancang berfungsi untuk memindahkan beban-beban dari kontruksi diatasnya ke
lapisan tanah yang lebih dalam. Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas:
a. Fungsi bangunan atas yang akan dipikul oleh pondasi tersebut.
b. Besarnya beban dan beratnya bangunan atas.
c. Keadaan tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan.
Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas
Perhitungan daya dukung pondasi
Ptiang= ØPn maks = 0,85. Ø (0,85.fc x(Ag-Ast) + fy.Ast)
Berdasarkan Data SPT
Daya dukung yang diijinkan:
Ra =
Daya dukung tiang pancang tunggal
Daya dukung tiang pada tanah pondasi umumnya diperoleh dari jumlah daya dukung terpusat tiang
(bearing pile) dan tahanan geser (friction pile) pada dinding tiang seperti terlihat pada gambar di
bawah.
Perhitungan Jumlah Tiang Pancang
n =
Jarak Antar Tiang Dalam Kelompok
Berdasarkan perumusan “Uniform Building Code” dari AASHO
S £
Ef h =
q = Arc. Tan (q 0)
Gaya Yang Bekerja Pada Tiang Pancang
P =
METODOLOGI PERENCANAAN
Persiapan
Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan data. Dalam tahap
awal disusun hal hal yang penting yang harus dilakukan untuk mengefektikan waktu perjalanan.
Tahap persiapan ini meliputi kegiatan kegiatan sebagai berikut :
1. Studi pustaka terhadap materi untuk penentuan desain.
2. Menentukan data data yang dibutuhkan.
3. Mencari instansi yang akan dijadikan nara sumber.
4. Pengadaan peryaratan administrasi untuk perencanaan data.
5. Pembuatan proposal penyusunan tugas akhir.
6. Survey lokasi untuk mendapatkan gambaran umum kondisi proyek.
7. Perencanaan jadwal pembuatan desain.
Susunan persiapan di atas harus dilakukan secara cermat untuk menghindari pekerjaan yang berulang.
Sehingga tahap pengumpulan data dapat optimal.
Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan sarana pokok untuk penyelesaian suatu masalah secara ilmiah.
Dalam pengumpulan data peran instansi terkait sangat diperlukan sebagai pendukung dalam memperoleh
data data yang dibutuhkan.
Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengumpulan data adalah:
a. Jenis data
b. Tempat diperolehnya data.
c. Jumlah data yang harus di kumpulkan agar diperoleh data yang memadai (cukup dan akurat).
Untuk studi alternatif perencanaan jembatan dengan konstruksi plate girder pada jembatan pegerluyung tol
Mojokerto. Diperlukan sejumlah data yang didapat secara langsung yaitu dengan melakukan peninjauan
langsung dilapangan untuk mengetahuai kondisi jembatan ataupun data yang diperoleh dari instansi terkait,
dengan tujuan agar dapat mendapatkan gambaran yang sesuai untuk perncanaan jembatan.
Metode yang dilakukan selama proses pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1. Metode literatur
Yaitu mengumpulkan, mengidentifikasi dan mengolah data tertulis dan metode kerja yang digunakan.
2. Metode obervasi
Dengan langsung survey kelapangan agar keadaan real yang ada dilapangan diketahui, sehingga dapat
diperoleh gambaran sebagai pertimbangan dalam perencanaan desain struktur.
Proses Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey dilapangan yang diperoleh data-data sebagai berikut:
1. Data lokasi
Adalah data yang memberikan keterangan kondisi fisik jembatan Pagerluyung Tol Mojokerto sebagai
bahan dalam menentukan altenatif perencanaan jembatan yang memungkinkan.
2. Data teknis
merupakan data-data perencanaan yang menjadi acuan perhitungan konstruksi
3. Data tanah
Adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian tanah pada daerah setempat untuk menentukan
perencanaan pondasi yang akan digunakan.
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan berdasarkan data data yang diperoleh, selanjutnya dilakukan
perencanaan dan perhitungan konstruksi yaitu sebagai berikut :
Perencanaan bangunan atas
a. Analisa pembebanan
b. Perhitungan dimensi dan penulangan plat lantai
c. Perhitungan dimensi sandaran
d. Perencanaan dimensi gelagar induk
e. Perencanaan dimensi pengaku vertikal dan tumpuan
Perencanaan sambungan
a. Perencanaan sambungan las
b. Perencanaan sambungan baut
Perencanaan bangunan bawah
a. Perhitungan dimensi, penulangan dan stabilitas Pilar.
b. Perhitungan dimensi dan daya dukung pondasi tiang pancang