Anda di halaman 1dari 10

Makalah

Biologi Laut

Oleh:
1. Muhammad Abdul Aziz 201610260311033
2. M. Alfinur Rohman 201610260311037
3. Masitoh 201610260311038
4. Hesti Elysana 201610260311039
5. Magfirah Forestia 201610260311044
6. Ade Setiawan L Tobing 201610260311046

LABORATORIUM PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN – PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
PENDAHULUAN

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan
kemampuan, kekuatan, serta keberkahan baik waktu, tenaga, maupun pikiran kepada penulis
sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Benthic Fauna” tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan
akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Penulis menyadari
bahwa masih banyak kekurangan pada penulisan makalah ini. Maka dari itu, saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian. Penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekosistem laut dalam merupakan kesatuan intruksi sama makhluk hidup (komponen
biotik) dengan lingkunganya (komponen abiotic) yang terjadi di laut dalam yang memiliki
kedalaman >300 meter.

Sumberdaya alam laut dalam lebih banyak daripada laut dangkal. Hal ini dikarenakan :

1. Ruang gerak laut dalam lebih uas dari pada ruang gerak laut dangkal.
2. Akses manusia untuk mengeksplorasi sumber daya alam laut dalam lebih sulit
3. Dengan sifat air sebagai pelarut atau pengencer, sehingga efek limbah tidak sampai ke
laut dalam

Dengan kedalaman 300 meter maka cahaya matahari tidak akan dapat menembus daerah
laut dalam dan tidak akan terjadi proses fotosintesis sehingga tidak terdapat organisme
autotroph sebagai produsen yang menjadi dasar proses rantai makanan. Selain tidak
tersedianya produsen dalam ekosistem laut dalam, keadaan tanpa cahaya tersebut dan
kedalamanya membuat organisme atau biota laut dalam melakukan adaptasi untuk
mempertahankan kehidupanya.

1.2 Tujuan

1. Memperdalam ilmu mengenai ekositem laut dalam beserta biotanya.


2. Memperluas wawasan akan keaneragaman biota laut beserta cara adaptasinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Laut Dalam

Laut dalam merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik (zona bercahaya)
mencakup zona batipelagis, abilsal dan hadal (Nontji,2002). Bagian dari lingkungan bahari
yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih
dalam dari paparan benua (>200m)

Laut dalam adalah lapisan terbawah dari lautan, berada dibawah lapisan thermocline pada
kedalaman lebih dari 1828 m. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk
ke area ini, dan sebagian besar organisme bergantung pada material organik yang jatuh dari
zona fotik. Karena alasan inilah para saintis mengira bahwa kehidupan di tempat ini akan
sangat sedikit, namun dengan adanya peralatan yang dapat menyelam ke kedalaman,
ditemukan bahwa ditemukan cukup banyak kehidupan di arena ini.

Di tahun 1960, Bathyscaphe Trieste menuju ke dasar dari Palung Mariana dekat Guam,
pada kedalaman 35.798 kaki (10.911 m), titik terdalam di bumi. Jika Gunung Everest
ditenggelamkan, maka puncaknya akan berada lebih dari satu mil dari permukaan. Pada
kedalaman ini, ikan kecil mirip flounder terlihat. Kapal selam penelitian Jepang, Kaiko, adalah
satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang di tahun 2003.

Hingga tahun 1970, hanya sedikit yang diketahui tentang kemungkinan adanya kehidupan
pada laut dalam. Namun penemuan koloni udang dan organisme lainnya di sekitar
hydrothermal vents mengubah pandangan itu. Organisme-organisme tersebut hidup dalam
keadaan anaerobik dan tanpa cahaya pada keadaan kadar garam yang tinggi dan temperatur
149 oC. Mereka menggantungkan hidup mereka pada hidrogen sulfida, yang sangat beracun
pada kehidupan di daratan. Penemuan revolusioner tentang kehidupan tanpa cahaya dan
oksigen ini meningkatkan kemungkinan akan adanya kehidupan di tempat lain di alam semesta
ini.

Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 permukaan bumi ( ±70 % ), karena luasnya dan
potensinya sangat besar, ekosistem laut menjadi perhatian orang banyak, khususnya yang
berkaitan dengan Revolusi Biru. Ekosistem laut dalam merupakan ekosistem laut yang tidak
terjangkau oleh sinar matahari. Oleh sebab itu, pada ekosistem ini tidak mungkin hidup
produsen yang fotoautotraf. Komunitas yang ada pada ekosistem laut dalam kemungkinan
adalah hewan-hewan saprovora, karnivora, dan detritivora. Karena terbatasnya sumber materi
dan energi, maka keanekaragaman jenis makhluk hidup pada ekosistem laut dalam paling
rendah dibandingkan ekosistem laut lainnya.
2.2 Ciri – Ciri Lingkungan Hidup Laut Dalam

laut dalam memiliki perbedaan yang sangat besar dibandingkan laut dangkal. Keadaan
tersebut juga mempengaruhi individu – individu biota laut dalam tersebut. Adapun ciri – ciri
lingkungan hidup laut dalam tersebut adalah

 Cahaya matahari hampir dikatakan tidak menembus laut dalam sehingga kondisi laut
dalam tersebut gelap gulita dan tidak terjadi proses fotosintesis pada ekosistem ini
 Tekanan hidrostatik yang tinggi karena semakin turun sejauh 10 meter dari permukaan
laut maka tekanan akan bertambah sebesar 1 atm.
 Pengaruh salinitas yang tinggi. Salinitas juga di pengaruhi oleh meningkatnya suhu
karena semakin tinggi suhu maka semakin tinggi prnguapan sehingga terjadi pemekatan
yang mengakibatkan salinitas meningkat. Curah hujan dan masuknya air tawar dari
aliran sungai juga mempengaruhi salinitas karena semakin banyak suplay air tawar
yang masuk maka akan terjadi pengenceran sehingga salinitas menururn.
 Suhu, semakin dalam laut maka suhu semakin rendah karena ketidak mampuan
penetrasi cahaya matahari hingga ke laut dalam.
 Kadar Oksigen rendah karena oksigen yang masuk ke laut dalam digunakan terus –
menerus oleh organisme laut dalam tanpa adanya organisme penghasil oksigen.
 Pakan yang sedikit, pakan pada ekosistem laut dalam berasal dari sisa – sisa makanan
dari ekosistem laut dangkal. Selain itu pakan bagi organisme – organisme ialah
organisme yang telah mati dan lain – lain.

2.3 Kondisi Fisik Lingkungan Laut Dalam

Ekosistem laut dalam memiliki perbedaan yang sangat besar dibandingkan ekosistem laut
dangkal. Keadaan tersebut juga mempengaruhi individu-individu biota laut dalam tersebut.
Cahaya matahari hampirdikatakan tidak menembus laut dalam sehingga kondisi laut dalam
tersebut gelap gulita dan dipastikan hampir tidak ada proses fotosintesis. Organisme yang hidup
di perairan ini merupakan organism yang sangat hebat, karena dapat bertahan hidup dengan
kadar oksigen yang sangat minim.

2.3.1 Tekanan Hidrostatis

Tekanan hidrostatis di lingkungan laut dalam (>300m) sangat tinggi karena tekanan
hidrostatik bertambah secara konstan seiring dengan bertambahnya kedalaman air. Setiap
kedalaman 10 m tekanan hidrostatik bertambah sebesar 1 atm yang setara dengan 1,03 kg/cm2
atau 14,7 lbs/in2. Dengan demikian pada kedalaman 100 m ikan akan mengalami tekanan
sebesar 10 atm atau setara dengan 10,03 kg pada setiap luasan 1 cm2 dari tubuhnya yang
berlaku secara proporsional, artinya tekanan hidrostatik yang dialami ikan tersebut sama pada
seluruh bagian tubuhnya.

Besar tekanan hidrostatik pada permukaan air laut cenderung berubah-ubah setiapwaktu
yang disebabkan oleh adanya ombak, sedangkan pada bagian yang lebih dalam tekanan secara
konstan bertambah sesuai dengan bertambahnya kedalaman. Tekanan hidrostatik berhubungan
erat dengan mekanisme pengaturan daya apung pada ikan. Ikan-ikan yang melakukan migrasi
vertikal atau hidup dekat permukaan harus mampu mengatur daya apungnya untuk
mengimbangi perubahan tekanan hidrostatik yang drastis.

2.3.2 Kadar Oksigen

Sumber oksigen utama di perairan laut dalam berasal dari air permukaan laut di
Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan
semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan
permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan
udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi
penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar
oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis,
stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih
sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan
tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih
terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut

2.3.3 Suhu

Keadaan suhu air laut dipengaruhi oleh penetrasi cahaya yang mampu menembus
kedalaman laut. Semakin dalam laut maka suhu semakin rendah karena ketidak mampuan
penetrasi cahaya matahari hingga ke laut dalam. Di laut yang sangat dalam, suhu umumnya
seragam dengan kisaran 1–30C (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold
hydrocarbon seeps (<1oC)).

2.3.4 Salinitas

Secara sederhana, salinitas diartikan sebagai jumlah dari seluruh garam-garaman


dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktik, sangat sukar untuk mengukur
salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau
komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Di laut dalam, salinitas umumnya seragam
(35 ppm) pada daerah cold hydrocarbonseeps (hipersain = 40 permil).

Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati
kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara konstan terhadap kedalaman. Di
daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,50 – 400 LU atau 23,5 - 40oLS),
salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat tingginya aktifitas evaporasi
(penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan
kembali bertambah secara tetap terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas
di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibat tingginya presipitasi (curah hujan).
2.3.5 Sirkulasi Air

Sirkulasi air di laut dalam Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan
topografi dasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen
di laut dalam.

2.3.6 Persediaan Makanan

Laut dalam tidak memiliki lokasi dimana produksi primer dapat berlangsung kecuali
diaderah dimana terdapat bakteri kemosintetik.Karena itu semua organisme penghuni laut
dalam menggantungkan makanannya pada produksi dari tempat lain yang dapat melakukan
forosintetis. Pakan ini kemudian diangkut atau terangkut ke laut dalam.

Pakan yang tenggelam biasanya berupa pakan pelet tinja organisme di laut permukaan
atau kulit crustacea yang lepas pada saat molting. Karena kebanyakan organisme tidak dapat
mencerna kitin dari kulit crustacea, biasanya kulit tersebut akan diserang oleh bakteri dan
dicerna kemudian di keluarkan dalam bentuk pakan protoplasma bakteri. Akibatnya di dasar
laut dalam banyak terdapat bakteri yang merupakan makanan dari organisme yang lebih besar.
Bahkan kelimpahan organisme pemakan bakteri akan lebih banyak daripada organisme pelagik
di kedalaman yang sama.

Pakan yang dapat langsung dimanfaatkan adalah organisme laut dalam adalag
organisme yang pada saat larvanya berada di zona fotik dan dewasanya bermigrasi ke laut
dalam dimana ia akan menjadi mangsa para predator. Jenis pakan lain yang dapat langsung
dimanfaatkan adalah organisme mati yang berasal dari laut permukaan yang pada saat sampai
ke dasar laut dalam belum seluruhnya habis dimakan oleh organisme lain di zona atasnya.

2.4 Adaptasi Organisme

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya


untuk bertahan hidup. Adaptasi tersebut seperti warna tubuhnya. Pada organisme mesopelagik
ikan-ikannya berwarna hitam dan gelap sementara crustacea dan hewan lainnya berwarna ungu
kelam atau merah. Dengan demikian organisme tersebut tidak akan tampak di perairan. Warna
merah adalah warna pertama yang diadsorbsi oleh air laut, sehingga warna merah tersebut akan
tampak seperti warna hitam. Pada organisme yang hidup di zona abisal dan hadal biasanya
berwarna putih atau bahkan transparan da tidak berpigmen, tetapi ikan-ikannya berwarna
hitam.

Dengan keadaan tanpa adanya cahaya matahari, tekanan tinggi, salinitas tinggi dan
faktor – faktor khusus di laut dalam tersebut yang membuat organisme di daerah tersebut
melakukan adaptasi, yakni :
2.4.1 Adaptasi Morfologi

Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan
kebutuhan organisme hidup. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak
dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka
adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal
mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Kanibalisme juga sering terjadi di
beberapa spesies.

Pada organisme mosopelagik umumnya memiliki mata yang besar. Mata ini digunakan untuk
memeksimalkan penglihatan pada intensitas cahaya yang begitu minim. Mata ini akan
menangkap bayangan dari cahaya yang dihasilkan oleh organ penghasil cahaya. Ikan-ikan ini
berenang dibagian atas zona mesopelagik yang masih sedikit terdapat cahaya dan bermigrasi
ke zona epipelagik seaat malam hari, dan menggunakan matanya untuk mendeteksi adanya
cahaya berintensitas rendah baik dari cahaya matahari maupun cahaya dari organ penghasil
cahaya. Ikan-ikan ini memiliki penglihatan senja karena memiliki pigmen rodopsin dan
kepadatan batang retina yang tinggi.

Adapun organisme yang memiliki mata tubuler yang berbentuk silinder pendek dengan lensa
setengah lingkaran di ujung silinder. Mata tersebut memiliki dua retina. Retina yang yang satu
untuk melihat jauh dan retina yang lain untuk melihat dekat.
Karena zona ini memiliki tekanan yang sangat besar yaitu mencapai 600 atm,maka makhluk
hidup di lapisan ini memiliki kulit yang berongga dan tulang yang lunak dan fleksibel.
Sehingga mereka mampu beradaptasi dengan tekanan tinggi

2.4.2 Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang
menyebabkan adanya penyesuaian pada fungsi alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup
dengan baik. Di ekosistemlaut dalam dapat dikatakan tidak terdapat produsen karena tidak
adanya sinar matahari yang menyebabkan tidak adanya proses fotosintesis pada ekosistem
tersebut, sehingga biota laut dalam melakukan adaptasi fisiologi. Bentuk adaptasi fisiologi
biota laut dalam adalah adalah organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah
energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa
mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan
stok makanan yang didapat.

2.4.3 Adaptasi Tingkah Laku

Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku terhadap
lingkungannya. Beberapa organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai
perilaku yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan
memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba gelap. Dalam
ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan
agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi
keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa, seperti Ikan
Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang
lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak
hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini. Kemudian contoh lainnya adalah Ikan
Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif
sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya. Di
laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah
Bioluminescence.

Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut,
cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap.
Asosiasi dari organisme dan bakteri yang menghasilkan bioluminescence ini digunakan oleh
hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih
bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh
setiap hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang
hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa
berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence
digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut dalam
tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya. Asosiasi seperti ini
merupakan adaptasi tingkah laku dari penghuni perairan laut bawah.
.
BAB III
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan

Laut dalam merupakan bagian dari laut yang memiliki kedalaman > 300 meter.
Kedalaman 300 meter yang ada pada laut merupakan daerah yang tidak tertembus cahaya
matahari sehingga suasana pada kedalaman tersebut adalah gelap sehingga tidak terdapat
proses fotosintesis, tekanan bertambah dan suhu airpun menurun. Dengan kondisi yang
demikian maka organisme laut dalam pun melakukan adaptasi yakni memiliki tubuh yang
transparan dan berukuran kecil dapat menghasilkan cahaya sendiri atau bersimbiosis dengan
mikroorganisme penghasil cahaya dan memiliki system fisiologi tubuh yang dapat
memanfaatkan makanan yang sedikit dan menghasilkan energy untuk kehidupan

5.2 Saran

Perlunya kajian-kajian yang mendalam akan karateristik,sifat- sifat biota yang hidup di
perairan laut dalam beserta cara adaptasinya.