Anda di halaman 1dari 133

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) sangat penting untuk dilaksanakan di


puskesmas sebagai tempat fasilitas pelayanan kesehatan, disamping sebagai tolak ukur
mutu pelayanan juga untuk melindungi pasien, petugas, pengunjung dan keluarga serta
lingkungan dari resiko tertular penyakit infeksi karena perawatan, bertugas dan berkunjung
ke puskesmas. Puskesmas sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat diharapkan dapat memberikan pelayanan yang bermutu
sesuai standar yang sudah ditentukan.
Kebersihan program dan kegiatan PPI di puskesmas memerlukan keterlibatan semua
pihak yaitu keterlibatan semua profesional dan unit kerja ( Dokter, Perawat, Ahli
Laboratorium, K3, Farmasi, Ahli Gizi, Sanitasi, CSSD dan Loundry, IPSRS, dan bagian
Rumah Tangga Puskesmas ), sehingga diperlukan wadah untuk pengorganisasiannya
berupa komite PPI. Kerjasama organisasi PPI dalam pelaksanaannya harus didukung
komitmen tinggi manajerial sehingga menentukan terlaksananya program dan kegiatan
dengan baik semuanya itu akan menjamin mutu pelayanan Puskesmas.
Infeksi puskesmas merupakan masalah serius bagi semua serius bagi semua
puskesmas, dampak yang muncul sangat membebani puskesmas maupun pasien. Adapun
factor yang mempengaruhinya antara lain, Banyaknya pasien yang dirawat sebagai sumber
infeksi bagi lingkungan pasien lainnya maupun petugas kontak langsung antara pasien
dengan pasien lainnya maupun petugas kontak langsung antara pasien dengan pasien
lainnya, kontak langsung antara petugas dengan pasien yang tercemar, penggunaan
peralatan medis yang tercemar kuman, kondisi pasien yang lemah.
Kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi di puskesmas harus dilaksanakan
secara menyeluruh dengan baik dan benar disemua sarana kesehatan puskesmas, dengan
prosedur yang baku untuk setiap tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi tersebut,
untuk itu perlu adanya suatu pedoman yang digunakan di Puskesmas Parang.
Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi merujuk pada pedoman manajerial
dan pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi dari Departemen Kesehatan 2009,
Infeksi yang berasal dari lingkungan puskesmas dikenal dengan istilah infeksi nosokomial
mengingat seringkali tidak bias secara pasti ditentukan asal infeksi, maka sekarang istilah
infeksi nosokomial diganti dengan istilah baru yaitu “Healthcare – associated infections”
(HAis).
Diharapkan dengan adanya Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi ini, seluruh
petugas Puskesmas Parang memiliki sikap dan perilaku yang mendukung standar
pencegahan dan pengendalian infeksi di Puskesmas Parang

B. Tujuan
Tujuan Umum :
Menyiapkan agar Puskesmas Parang dengan sumber daya terbatas dapat menerapkan
pencegahan dan pengendalian infeksi, sehingga dapat melindungi tenaga kesehatan dan
masyarakat dari penularan penyakit menular ( Emerging Infectious Diseases ) yang
mungkin timbul, khususnya dalam menghadapi kemungkinan pandemic influenza.

Tujuan Khusus :

Membuat standar pelaksanaan Pencegahan dan pengendalian infeksi bagi petugas


kesehatan di Puskesmas Parang meliputi :

1. Konsep dasar penyekit infeksi


2. Fakta – fakta penting beberapa penyakit menular
3. Kewaspadaan isolasi
4. Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di Puskesmas Parang
5. Kesiapan menghadapi pandemi penyakit menular
6. Surveilans Pencegahan dan Pengendalian infeksi

C. Ruang Lingkup
Pedoman ini memberi panduan bagi petugas kesehatan di Puskesmas Parang dalam
melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada pelayanan terhadap pasien
yang menderita penyakit menular melalui udara, kontak droplet atau penyakit menular
melalui udara, kontak, droplet atau penyakit infeksi lainnya.
BAB II
KEBIJAKAN PELAYANAN
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
DI PUSKESMAS PARANG

A. VISI
Menjadikan Pelayanan pencegahan dan pengendalian infeksi yang bermutu menuju
puskesmas rujukan spesialistik yang terbaik untuk wilayah Kecamatan Parang.
B. MISI
1. Melaksanakan program pencegahan dan pengendalian infeksi disemua bagian/
instalasi yang terkait.
2. Memberikan Pelayanan sesuai pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi
kepada pasien, petugas kesehatan, dan pengunjung puskesmas.
3. Melindungi pasien, petugas kesehatan dan pengunjung dari infeksi puskesmas.
4. Tersedianya pelatihan dan pendidikan pencegahan dan pengendalian infeksi

C. Falsafah dan Tujuan


Kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi Puskesmas Parang merupakan suatu
pelayanan yang harus dilaksanakan untuk melindungi pasien, petugas kesehatan dan
pengunjung dari kejadian infeksi dengan memperhatikan cost effectiveness, dalam bentuk
upaya pencegahan, surveilans dan pengobatan tradisional.

D. Dasar Hukum
1. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 270/MenKes/2007, tentang Pedoman
Manajerial PPI di Puskesmas dan Fasilitas pelayanan Kesehatan lainnya.
2. Surat keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 382/MenKes/SK/III/ 2007 : Tentang
Pedoman PPI di Puskesmas dan Fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 129/MenKes/SK/II/2008, tentang
standar Pelayanan Minimal Puskesmas.
4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1165.A/MenKes/SK/X/2004, tentang
Komisi Akreditasi Ruamh Sakit
5. Surat Edaran Dirjen Bina Pelayanan Medis nomor :HK.03.01/III/3744//2008,
tentang pembentukan Komite PPI RS dan Tim PPI RS
6. Surat Keputusan Direktur Puskesmas Parang Nomor : 821/4954/TU/07/2008,
tentang Pembentukan Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI ) dan
Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (TPPI ) pada Puskesmas Parang.

E. Organisasi pencegahan dan pengendalian infeksi


1. Struktur Organisasi
Berdasarkan Keputusan Direktur RSU. Full Bethesda nomor

DIREKTUR

Dr. Maruli Basa Nasution


WADIR PELAYANAN

KABID PELAYANAN KABID PELAYANAN


MEDIK & PENUNJANG KEPERAWATAN
MEDIK

KETUA KOMITE PPI

SEKRETARIS KOMITE PPI


(IPCN)

ANGGOTA KOMITE PPI TIM PPI

Gambar 1 : Struktur Organisai Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

a. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi pada Puskesmas Parang

Pengarah/ Penanggung Jawab : Wakil Direktur Pelayanan PARANG


Ketua :
Sekretaris :
Anggota : 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

b. susunan Tim Pencegahan dan Pengendalian infeksi pada Puskesmas Parang.


Ketua :
Sekretaris :
Anggota : Seluruh Wakil Kepala Ruangan

2. Tugas dan Tanggung Jawab


a. Direktur
 Membentuk Komite dan Tim PPIRS Dengan Surat Keputusan.
 Bertanggung jawab dan miliki komitmen yang tinggi terhadap penyelenggaraan
upaya pencegahan dan Pengendalian HAIs
 Bertanggung jawab terhadap tersedianya fasilitas sarana dan prasarana termasuk
anggaran yang dibutuhkan.
 Menentukan kebijakan pencegahan dan pengendalian HAIs
 Mengadakan evaluasi kebijakan pencegahan dan pengendalian HAIs berdasarkan
saran dari tim PPIRS.
 Mengadakan evaluasi kebijakan pemakaian antibiotik yang rasional dan
disinfektan di puskesmas berdasarkan saran dari Tim PPIRS.
 Dapat menutup suatu unit perawatan atau instalasi yang dianggap berdasarkan
saran dari Tim PPIRS.
 Mengesahkan Standar operasional prosedur (SOP) untuk PPIRS.

b. Ketua Komite PPIRS


Bertanggung jawab langsung kepada Direktur .
Tugas dan tanggung jawab :
1. Membuat dan mengevaluasi kebijakan pencegahan dan pengendalian Infeksi.
2. Melaksanakan sosialisasi kebijakan PPIRS, agar kebijakan dapat dipahami dan
dilaksanakan oleh petugas kesehatan Puskesmas.
3. Membuat Prosedur tetap Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang bersifat umum
untuk semua unit kerja.
4. Menyusun dan mengevaluasi Program pemantauan kejadian infeksi di puskesmas,
baik dirawat inap maupun rawat jalan.
5. Memberikan usulan kepada Direktur untuk mengembangkan dan meningkatkan
cara pencegahan dan pengendalian infeksi.
6. Secara periodik memberikan usulan kepada Direktur tentang standar penggunaan
antibiotik berdasarkan hasil pemantauan kejadian infeksi di puskesmas.
7. Bersama Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (TPPI) melakukan investigasi
terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) infeksi di puskesmas.
8. Mengusulkan kepada Direktur penetapan karantina, penutupan atau isolasi suatu
ruangan/ unit kerja sebagai hasil investigasi KLB infeksi.
9. Menerima laporan berkala dari Tim Pencegahan dan Pengndalian Infeksi (TPPI)
dan melaporkan hal – hal yang penting kepada Direktur.

c. Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ( TPPI)


Bertanggung jawab kepada Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Tugas dan Tanggung jawab :
1. Melaksanakan dan melakukan sosialisasi kebijakan Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi kepada seluruh unit kerja
2. Membantu dan membimbing unit-unit kerja untuk membuat prosedur tetap
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang sesuai dengan kondisi dan sifat
pekerjaan tiap unit kerja.
3. Melaksanakan pemantauan rutin kejadian Infeksi di puskesmas dan secara berkala
melaporkan kepada Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI)
4. Membimbing, memberikan pelatihan dan konsultasi kepada petugas kesehatan
pada unit-unit kerja sesuai kondisi dan sifat pekerjaan tiap unit kerja.
5. Bersama Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) melakukan
investigasi dan melakukan penanggulangan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB)
Infeksi Rymah Sakit.
6. Melakukan identifikasi masalah infeksi di unit kerja serta mengusulkan pengadaan
alat dan bahan yang sesuai dengan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
melalui Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ( KPPI).

d. IPCN ( Infection Prevention and Control Nurse )

Tugas dan Tanggung Jawab


1. Mengunjungi ruangan setiap hari untuk memonitor kejadian infeksi yang terjadi
dilingkungan kerjanya.
2. Memonitor pelaksanaan PPI, Penerapan SOP, kewaspadaan isolasi.
3. Melaksanakan surveilans infeksi dan melaporkan kepada komite PPI
4. Bersama Komite PPI melakukan pelatihan petugas kesehatan tentang PPI di
Puskesmas Parang.
5. Melakukan investigasi terhadap KLB dan bersama-sama Komite PPImemperbaiki
kesalahan yang terjadi.
6. Memonitor kesehatan petugas kesehatan untuk mencegah penularan infeksi dari
petugas kesehatan ke pasien atau sebaliknya.
7. Bersama komite menganjurkan prosedur isolasi dan memberi konsultasi tentang
pencegahan dan pengendalian infeksi yang diperlukan pada kasus yang terjadi di
Puskesmas.
8. Audit Pencegahan dan Pengendalian infeksi termasuk terhadap Limbah Laundry,
Gizi,dan lain-lain dengan menggunakan daftar titik
9. Memonitor Kesehatan Lingkungan
10. Memonitor terhadap pengendalian penggunaan antibiotika yang rasional
11. Mendesain, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi surveilans infeksi yang
terjadi di puskesmas.
12. membuat laporan surveilans dan melaporkan ke Komite PPI
13. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan PPI
14. Memberikan saran desain ruangan puskesmas agar sesuai dengan prinsip PPI
15. Meningkatkan kesadaran pasien dan pengunjung puskesmas tentang PPIRS
16. Memprakarsai penyuluhan bagi petugas kesehatan, pengunjung dan keluarga tentang
topik infeksi yang sedang berkembang di masyarakat, infeksi dengan insiden tinggi.
17. Sebagai koordinator antara departemen/ unit dalam mendeteksi, mencegah dan
mengendalikan infeksi di puskesmas.

e. IPCLN ( Infektion Prevention and Control Link Nurse )


Tugas dan Tanggung Jawab :
1. Mengisi dan mengumpulkan formulir surveilans setiapa pasien di unit rawat inap
masing-masing, kemudian menyerahkan- Nya kepada IPCN ketika pasien pulang.
2. Memberikan motivasi dan teguran tentang pelaksanaan kepatuhan pencegahan dan
pengendalian infeksi pada setiap personil ruangan di unit rawat masing-masing.
3. Memberitahukan kepada IPCN apabila ada kecurigaan adanya HAIs pada pasien.
4. Berkoordinasi dengan IPCN saat terjadi infeksi potensial KLB, penyuluhan bagi
pengunjung di ruang rawat masing-masing, konsultasi prosedur yang harus
dijalankan bila belum paham.
5. Memonitor kepatuhan petugas kesehatan yang lain dalam menjalankan standar
isolasi.
BAB III
KONSEP DASAR PENYAKIT INFEKSI
DAN PENYAKIT MENULAR

A. KONSEP DASAR PENYAKIT INFEKSI

Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia,


termasuk indonesia, ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi berasal dari Komunitas (
Community acquired infection )atau berasal dari lingkungan rumahsakit ( Hospital
Acquired infection ) yang sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial. Dengan
berkembangnya system pelayanan kesehatan khusus dalam bidang perawatan pasien,
sekarang perawatan tidak hanya di puskesmas saja, melainkan juga di fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya, bahkan perawatan di rumah ( Home Care).
Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang di maksudkan
untuk tujuan perawatan atau penyembuhan pasien, baik bagi pasien atau bahkan pada
petugas kesehatan itu sendiri. Karena seringkali tidak bisa secara pasti ditentukan asal
infeksi, maka sekarang instilah infeksi nosokomial ( Hospital acquired infection ) diganti
dengan istilah baru yaitu ” Healthcare- associated infections” (HAIs) dengan pengertian
yang lebih luas tidak hanya di puskesmas tetapi juga difasilitasi pelayanan kesehatan
lainnya. Juga tidak terbatas infeksi pada pasien saja, tetapi juga infeksi pada petugas
kesehatan yang terjadi didapat pada saat melakukan tindakan perawatan pasien. Khusus
infeksi yang terjadi atau didapat di puskesmas, selanjutnya disebut sebagai infeksi
puskesmas ( Hospital infection )

1. Beberapa Batasan / Definisi


a. Kolonisasi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi, dimana
organisme tersebut hidup, tumbuh, dan berkembang biak, tanpa disertai
adanya respon imun atau gejala klinik. Pada kolonisasi, tubuh penjamu tidak
dalam keadaan suseptibel. Pasien atau petugas kesehatan bisa mengalami
kolonisasi dengan kuman pathogen tanpa menderita sakit, tetapi dapat
menularkan kuman tersebut keorang lain. Pasien atau petugas kesehatan
tersebut dapat bertindak sebagai ”Carrier”.
b. Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi
(organism), dimana terdapat respon imun, tetapi tidak disertai gejala klinik.
c. Penyakit Infeksi
Merupakan suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi
(organism) yang disertai adanya respon imun dan gejala klinik.

d. Penyakit menular atau infeksius


Adalah penyakit infeksi tertentu yang dapat berpindah dari satu orang
keorang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung
e. Inflamasi
Merupakan bentuk respon tubuh terhadap suatu agen karena infeksi, trauma,
pembedahan atau luka bakar yang ditandai dengan adanya sakit/ nyeri
(dolor), panas (calor), kemerahan (rubor), pembengkakan (tumor) dan
gangguan fungsi.
f. ”Systemic Inflammatory Response Syndrome”(SIRS)
Sekumpulan gajala klinik atau kelainan laboratorium yang merupakan
respon tubuh (inflamasi) yang bersifat sistemik. Kriteria SIRS bila
ditemukan 2 atau lebih keadaan berikut :
Hipertermi/ hipotermi/suhu tidak stabil,(2) takikardi (sesuai usia)
,takipnoe(sesuai usia),serta (4) Leukositosis atau leukopenia atau hitung
jenis leukosit jumlah sel muda lebih dari 10% pada dewasa dan 20% pada
bayi.SIRS dapat disebabkan karena infeksi atau non infeksi seperti trauma,
pembedahan, luka bakar, pankreatitis,atau gangguan metabolik.SIRS yang
disebabkan infeksi disebut ”sepsis”.

2. Rantai Penularan

Untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mengetahui


rantai penularan.Apabila satu rantai dihilangkan atau di rusak, maka infeksi dapat di
cegah atau di hentikan.Komponen yang di perlukan sehingga terjadi penularan
tersebut adalah :

a. Agen infeksi ( infectious agent)adalah mikroorganisme yang dapat


menyebabkan infeksi.Pada manusia agen infeksi dapat berupa bakteri, virus,
ricketsia, jamur dan parasit.Ada tiga faktor pada agen penyebab yang
mempengaruhi terjadinya infeksi yaitu : patogenitas,virulensi, dan jumlah
(dosis, atau ”load”).
b. Reservoir atau tempat agen infeksi dapat hidup, tumbuh, berkembang biak
dan siap di tularkan kepada orang. Reservoir yang paling umum adalah
manusia,binatang, tumbuh-tumbuhan, tanah, air dan bahan-bahan organik
lainnya.Pada orang sehat permukaan kulit, selaput lendir saluran nafas
atas,usus dan vagina merupakan reservoir yang umum.
c. Pintu keluar ( portal of exit ) adalah jalan dari mana agen infeksi
meninggalkan reservoir. Pintu keluar meliputi saluran pernafasan,
pencernaan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan membran
mukosa,transplasenta dan darah serta cairan tubuh lain.

d. Transmisi ( cara penularan ) adalah mekanisme bagaimana transport agen


infeksi dari reservoir ke penderita yang susep tibel.Ada beberapa cara yaitu :
(1) Kontak langsung dan tidak langsung, (2) Droplet, (3 ) airbone, (4)
melalui venikulum ( makanan , air / minuman , darah ) dan ( 5 ) melalui
vector biasanya serangga dan binatang pengerat .
e. Pintu masuk ( portal of entri ) adalah tempat dimana agen infeksi memasuki
pejamu yang suseptibel . Pintu masuk bisa melalui saluran pernafasan ,
pencernaan , saluran kemih dan kelamin, selaput lendir, serta kulit yang
tidak utuh ( luka ).
f. Pejamu ( host ) yang susptibel adalah orang yang tidak memiliki daya tahan
tubuh yang cukup untuk melawan agen infeksi serta mencegah terjadinya
infeksi atau penyakit. Faktor yang khusus dapat mempengaruhi adalah umur,
status gizi, status imunisasi, penyakit kronis, luka bakar yang luas, trauma
atau pembedahan, pengobatan dengan imunosupresan.Faktor lain yang
mungkin berpengaruh adalah jenis kelamin , ras atau etnis tertentu, status
ekonomi, gaya hiduo, pekerjaan dan herediter.

Agen

Host/ reservoir
pejamu
rentan

Tempat Tempat
masuk keluar
Metode
penularan

Gambar 2 . Skema rantai penularan penyakit infeksi

3. Faktor Risiko ” healthcare- associated infections” (HAIs)


a. Umur : neonatus dan lanjut usia lebih rentan
b. Status imun yang rendah/terganggu (imuno-kompromais) : penderita dengan
penyakit kronik, penderita keganasan, obat-obatan imunosupresan
c. Interupsi barier anatomis :
 Keteter urine : meningkatkan kejadian infeksi
saluran kemih (ISK).
 Prosedur operasi : dapat menyebabkan infeksi luka
operasi atau ” Surgical site infection (SSI) ”
 Intubasi pernapasan : meningkatkan kejadian ”Hospital
acquired Pneuminia”(HAP/VAP).
 Kanula vena dan arteri : menimbulkan infeksi luka infus (ILI),
” Blood Stream Infection ”(BSI).
 Luka bakar dan Trauma
d. Implantasi benda asing :
 Indwelling catheter”
 ”Surgical suture material”
 ”Cerebrospinal fluid shunts”
 ”Valvular/ vascular prostheses”
e. Perubahan mikroflora normal : pemakaian antibiotik yang tidak bijaksana
menyebabkan timbulnya kuman yang resisten terhadap berbagai
antimikroba.

4. Pencegahan dan pengendalian infeksi


Proses terjadinya infeksi tergantung kepada interaksi antara suseptibilitas pejamu,
agen infeksi (patogenitas, virulensi dan dosis ) serta cara penularan, identifikasi
faktor risiko pada pejamu dan pengendalian infeksi tertentu dapat mengurangi
insiden terjadinya HAIs, baik pada pasien ataupun pada petugas.

5. Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari :


a. Peningkatan daya tahan pejamu
Dengan pemberian imunisasi aktif ( contoh vaksinasi hepatitis B ),
imunisasi pasif ( immunoglobulin), dan promosi kesehatan secara umum
termasuk nutrisi adekuat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
b. Inaktivasi agen penyebab infeksi
Dilakukan dengan metode fisik maupun kimiawi, contohnya metode fisik
adalah : pemanasan ( pasteurisasi dan sterilisasi) dan memasak makanan
metode kimiawi termasuk klorisasi air, desinfeksi dll.
c. Memutus rantai penularan
Merupakan cara yang paling mudah untuk pencegahan penularan penyakit
infeksi, tetapi hasilnya tergantung dari ketaatan petugas dalam
melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan pencegahan ini
dengan cara melaksanakan ” Isolation Precautions” ( Kewaspadaan isolasi )
yang terdiri dari dua pilar/ tingkatan yaitu ” Standard precautions” (
kewaspadaan berdasarkan cara penularan)
d. Tindakan pencegahan paska pajanan ( ”Post exposure prophilaxis”/PEP)
terhadap petugas kesehatan. Pencegahan agen infeksi yang ditularkan
melalui darah dan cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka
tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya. Penyakit yang perlu
mendapatkan perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV

B. FAKTA-FAKTA PENTING PENYAKIT MENULAR

1. INFLUENZA
1.1. Influenza musiman dan influenza A (H5NI)
a. Pengertian
Influenza adalah penyakit virus acute yang menyerang saluran pernapasan,
ditandai demam, sakit kepala, mialgia, coryza, lesu, dan batuk.

b. Penyebab
Virus influenza A, B, C, Tipe A terdiri dari banyak subtipe yang berpotensi
terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) atau endemi/ pandemi. Subtipe virus
influenza A dapat menyerang unggas dan mamalia, bila terjadi pencampuran
antara 2 subtipe dapat terjadi subtipe baru yang sangat virulen dan mudah
menular serta berpotensi menyebabkan pandemi.

c. Epidemiologi
Influenza dapat ditemukan diseluruh dunia terutama pada musim penghujan
di wilayah 2 musim dan pada musim dingin di wilayah empat musim. Biasa
terjadi epidemi tahunan berulang yang disebabkan oleh virus yang
mengalami ”antigenic drift”, namun dapat terjadi pandemi global akibat
virus yang mengalami ”antigenic drift”.

d. Cara Penularan
Melalui udara atau kontak langsung dengan bahan yang terkontraminasi.
Masa inkubasi biasanya 1-3 hari.

e. Gejala Klinis
Gejala Influenza yang umum adalah demam, nyeri otot dan malaise.
Biasanya influenza akan sembuh sendiri dalam beberapa hari.

f. Masa Penularan
mungkin dapat berlangsung selama 3-5 hari sejak timbulnya gejala kliniks,
pada anak muda sampai 7 hari

g. Kerentanan dan Kekebalan


Infeksi dan vaksinasi menimbulkan kekebalan terhadap virus spesifik.
Lamanya antibody bertahan paska infeksi dan luasnya spektrum kekebalan
tergantung tingkat perubahan antigen dan banyaknya infeksi sebelumnya.

h. Cara Pencegahan
 Menjaga kebersihan perorangan terutama melalui pencegahan
penularan melalui batuk, bersin, dan kontak tidak langsung melalui
tangan dan selaput lendir saluran pernapasan.
 Vaksinasi menggunakan virus inaktif dapat memberikan 70-
80% perlindungan pada orang dewasa muda apabila antigen dalam
vaksin sama atau mirip dengan strain virus yang sedang beredar (
musim), pada orang usia lanjut vaksinasi dapat mengurangi beratnya
penyakit, kejadian komplikasi dan kematian.
 Obat anti virus (penghambat neuraminidase seperti aseltamivir dan
penghantar M2 channel rimantadin, amatadin) dapat
dipertimbangkan terutama pada mereka yang beresiko mengalami
komplikasi ( orang tua, orang dengan penyakit jantung/ paru
menahun). Akhir-akhir ini dilaporkan terjadinya resistensi terhadap
amantadin, rimantadin yang semakin meningkat.
 Isolasi umumnya tidak dilakukan karena tidak praktis. Pada saat
epidemi isolasi dilakukan terhadap pasien dengan cara
menempatkan mereka secara kohort.

1.2. Influenza A ( H5N1) atau Flu burung


a. Pengertian
Flu burung adalah salah satu penyakit yang di khawatirkan dapat
Menyebabkan pandemi. Penyakit flu burung penting untuk di
Ketahui sebagai Emerging infectious Diseases.
b.Penyebab
Flu burung ( Avian influenza ) disebabkan virus influenza
subtipe H5N1, flu burung dapat terjadi secara alami pada semua
burung. Burung membawa virus kemudian menyebarkan melalui
saliva, sekresi patuk, dan feses.
Burung yang kontak dengan burung pembawa virus, dapat
tertular dan menimbulkan sakit, sekretnya akan tetap infeksius
selama sepuluh hari. Faeses burung yang terinfeksi dapat
mengeluarkan virus dalam jumlah besar.
c. Epidemiologi
Flu burung pada manusia sampaisaat ini telah dilaporkan di
banyak negara terutama di Asia. Di daerah dimana terdapat
interaksi tinggi antara populasi hewan khususnya unggas dan
manusia ( animal- human interface ) risiko terjadi penularan pada
manusia. Saat ini flu burung dianggap sangat potensial sebagai
penyebab terjadinya pandemi influenza.
Sebagian besar kasus infeksi flu burung pada manusia yang
dilaporkan, terjadi akibat dekat dan kontak erat dengan unggas
terinfeksi atau benda terkontaminasi. Angka kematian tinggi,
antara 50-80 %. Meskipun terdapat potensi penularan virus
H5N1 dari manusia ke manusia,model penularan semacam ini
belum terbukti.
d Kelompok usia yang beresiko
Virus H5N1 menyerang dan membunuh kelompok usia muda.
Sebagian besar kasus terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang
sebelumnya sehat.
e. Mengapa virus H5N1 perlu mendapat perhatian khusus dari 15
subtipe virus flu burung, virus H5N1 menjadi perhatian khusus,
dengan alasan sebagai berikut :
 Sejak tahun 2003, H5N1 menyebar luas di Asia pada
populasi unggas dan bergerak ke Eropa pada tahun 2005.
Selain itu terjadi perluasan host (pejamu) dari burung ke
mamalia.
 Risiko manusia dan terinfeksi H5N1 tinggi, dipedesaan Asia
unggas di ternakkan dekat wilayah pemukiman dan dibiarkan
berkeliaran secara bebas.
 Virus ini telah menyebabkan penyakit yang parah pada
manusia dengan kematian tinggi ( dilaporkan mencapai
sekitar 50%, meskipun data surveilans mungkin tidak
lengkap )
 Fakta terpenting bahwa H5N1 dapat bermutasi secara cepat
dan berkemampuan memperoleh gen dari virus yang
menginfeksi spesies hewan lain.
f. Cara penularan ke manusia
kontak langsung dengan unggas terinfeksi atau benda yang
terkontaminasi, oleh feses burung saat ini sebagai jalur utama
penularan terhadap manusia.
g. Masa Inkubasi
Masa inkubasi virus influenza pada manusia sangat singkat yaitu 2
sampai 3 hari, berkisar 1 sampai 7 hari. Pada influenza A (H5N1)
masa inkubasi 3 hari berkisar 2 sampai 8 hari.

h. Gejala-gejala pada manusia


Gejala-gejala flue burung pada manusia adalah :
 Demam tinggi (suhu ≥38o C )
 Batuk
 Pilek
 Nyeri Tenggorokan
 Nyeri Otot
 Nyeri Kepala
 Gangguan pernapasan atau sesak napas

Gejala tambahan yang mungkin ditemukan :


 Infeksi selaput mata
 Diare atau gangguan saluran cerna
 Fatigue/ letih

Catatan :
Bila menemukan kasus demam ( suhu tubuh≥38o C ) ditambah 1
atau lebih gejala dan tanda diatas patut dicurigai sebagai kasus flu
burung ; terutama bila dalam anamnesa diperoleh keterangan salah
satu atau lebih dibawah ini :
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah kontak dengan
penderita influenza A/ H5N1 yang tealah di konfirmasi
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah kontak dengan
unggas, termasuk ayam mati karena penyakit
 Dalam 7 hari sebelum timbul gejala, pernah bekerja
memproses sample dari orang atau hewan yang diduga
mengalami infeksi virus flu burung patogen tinggi ( High
Patogenic Avian Influenza / HPAI).
 Tinggal diwilayah / dekat dengan kasus HPAI yang
dicurigai atau telah dikonfirmasi.

i. Pencegahan
Khusus dalam kasus wabah flu burung perlu;
 Menghindari kontak dengan burung terinfeksi atau
benda terkontraminasi
 Menghindari peternakan unggas
 Hati-hati ketika menangani unggas
 Memasak unggas dengan baik ( 60o selama 30 menit
atau 80o selama 1 menit ).
 Menerapkan tindakan untuk menjaga kebersihan tangan
:
o Setelah memegang unggas
o Setelah memegang daging unggas
o Setelah memasak
o Sebelum makan
j. pengobatan anti virus untuk influenza
obat anti virus bekerja menghambat replikasi virus,
sehingga dapat mengurangi gejala dan komplikasi orang
yang terinfeksi. Obat anti virus influenza tersebut yaitu :
 Amantadine
 Rimantadine
 Oseltamivir ( Tamiflu)
 Zanamivir ( Relenza )

k. Penularan di Puskesmas
 Virus mungkin masuk ke puskesmas melalui cairan
tubuh ( terutama dari pernapasan ) pasien yang
sudah didiagnosis menderita flu burung atau masih
suspek maupun probable.
 Semua tenaga kesehatan, laboratorium, radiologi,
petugas kebersihan, atau pasien lain dan pengunjung
puskesmas beresiko terpajan flu burung.
 Penularan lewat udara, droplet dan kontak.
l. Penatalaksanaan
 Identifikasi dan isolasi pasien
Semua pasien yang datang kepuskesmas dengan
demam, dan gejala infeksi pernapasan harus
ditangani sesuai dengan tindakan hygiene saluran
pernapasan seperti yang dibahas dalam buku ini.
Pasien dengan riwayat perjalanan kedaerah yang
terjangkit flu burung dalam waktu 10 hari terakhir,
dirawat inap dengan infeksi saluran pernapasan berat
atau berada dalam pengamatan untuk flu burung,
harus ditangani dengan menggunakan kewaspadaan
standar dan kewaspadaan penularan lewat kontak,
droplet dan udara seperti pada pasien SARS.
Kewaspadaan ini harus dilakukan selama 7 hari
setelah turun demam pada orang dewasa, 21 hari
sejak onset penyakit pada anak-anak dibawah 12
tahun, sampai diagnosis alternatif ditegakkan atau
hasil uji diagnostik menunjukkan bahwa pasien tidak
terinfeksi oleh virus influenza A.
 Langkah penting pencegahan dan pengendalian
infeksi
Pencegahan dan pengendalian penyebaran flu
burung di Puskesmas Parang :
- penempatan pasien diruang isolasi khusus flu
burung dengan tekanan negatif.
- Pengawasan terhadap implementasi
kewaspadaan standard dan kewaspadaan
penularan lewat udara, droplet dan kontak

2. HIV – AIDS

a. Pengertian
AIDS ( Acquaired Immuno Deficiency Syndrome ) merupakan kumpulan gejala penyakit
yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat terserang virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV)

b. Penyebab
Human Immunodeficiency Virus (HIV), termasuk retrovirus yang terdiri atas 2 tipe : tipe 1
(HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2)

c.Cara Penularan
Penularan HIV dri orang ke orang melalui kontak seksual yang tidak dilindungi, baik homo
maupun heteroseksual, pemakaian jarum suntik yang terkontraminasi, kontak kulit yang lecet
dengan bahan infeksius, transfusi darah atau komponenjnya yang terinfeksi, transplantasi
organ dan jaringan. Sekitar 15-35% bayi yang lahir dari ibu yang HIV (+) terinfeksi,
transplantasi organ dan jaringan. Sekitar 15-35% bayi yang lahir dari ibu yang HIV (+)
terinfeksi melalui placenta dan hampir 20% bayi yang disusui oleh ibu HIV (+) dapat tertular.
Penularan dapat juga terjadi pada petugas kesehatan yang tertusuk jarum suntik yang
mengandung darah yang terinfeksi.

d. Masa Inkubasi
Bervariasi tergantung usia dan pengobatan antivirus. Waktu antara terinfeksidan
terdeteksinya antibody sekitar 1-3 bulan namun untuk terjadinya AIDS sekitar<1tahun hingga
>15 tahun. Tanpa pengobatan efektif, 50% orang dewasayang terinfeksi akan menjadi AIDS
dalam waktu 10 tahun.

e. Gejala Klinis
Biasanya tidak ada gejala klinis yang khusus pada orang yang terinfeksi HIV dalam waktu 5
sampai 10 tahun. Setelah terjadi penurunan sel CD4 secara bermakna baru AIDS mulai
berkembang dan menunjukkan gejala-gejala seperti :
 Penurunan berat badan secara drastis
 Diare yang berkelanjutan
 Pembesaran kelenjar leher dan atau ketiak
 Batuk terus menerus
 Gejala klinis lainnya tergantung pada stadium klinis dan jenis infeksi
oportunistikyang terjadi.

f. Pengobatan
Pemberian anti virus (Highly Active Anti Retroviral Therapy, HAART ) dengan 3 obat atau
lebih dapat meningkatkan prognosis dan harapan hidup pasien HIV. Angka kematian di
negara maju menurun 80% sejak digunakannya kombinasi obat antivirus.

g. Masa Penularan
Tidak diketahui pasti, diperkirakan mulai sejak terinfeksi dan berlangsung seumur hidup.

h. Kerentanan dan Kekebalan


Diduga semua orang rentan. Terutama pada PMS ( Penyakit Menular Seksual ) dan pria yang
tidak dikhitan kerentanan meningkat.

i. Cara Pencegahan
Menghindari perilaku risiko tinggi seperti seks bebas tanpa perlindungan, menghindari
penggunaan alat suntik bergantian, melakukan praktek transfusi dan donor organ yang aman
serta praktek medis dan prosedur laboratorium yang memenuhi standar.

j. Profilaksis paska pajanan


 Diberikan obat ARV untuk mengurangi risiko penularan HIV terhadap petugas
kesehatan setelah terpajan. Studi kasus kelola menyatakan bahwa pemberian ARV
segera setelah pejanan perkutan menurunkan resiko infeksi HIV sebesar 80% (
Cardo dkk. N.Engl J Med 1997). Efektifitas ARV apabila diberikan dalam 1 jam
setelah pejanan selama 28 hari.
 Pemeriksaan sample darah HIV
 Pemeriksaan antibodi pada bulan ke3 dan ke 6
 Petugas yang terpajan dimonito oleh dokter penyakit dalam atau anak dan perlu
dukungan psikologis.

3. ANTRAKS
a. Pengertian
Antraks adalah penyakit bakteri akut yang biasanya mengenai kulit, saluran pernapasan
atau saluran pencernaan.

b. Epidemiologi
Penyakit antraks pada manusia terdapat diseluruh dunia. Umumnya didaerah pertanian
dan industri. Mereka yang berisiko terkena antraks adalah :
 Orang yang kontak dengan binatang yang sakit
 Digigit serangga tercemar antraks
 Orang yang mengkonsumsi daging binatang terinfeksi
 Orang yang kontak dengan kulit, bulu, tulang binatang yang mengandung spora
antraks.
a. Penyebab
Bacillus anthracis, bakteri gram positif berbentuk batang, berspora.

b. Cara Penularan
Penularan melalui kontak dengan jaringan, bulu binatang yang sakit dan mati atau
tanah yang terkontraminasi (antraks kulit). Infeksi juga dapat melalui inhalasi spora
(antraks paru) atau memakan daging tercemar yang tidak dimasak dengan baik
(antraks saluran pencernaan). Jarang terjadi penularan dari orang ke orang.
c. Masa Inkubasi
Antara 1-7 hari, bisa sampai 60 hari

d. Gejala klinis
Gejala klinis antraks sangat tergantung patogenesis dan organ yang terkena (kulit,
paru, saluran pencernaan, meningitis). Di Indonesia terbanyak ditemukan antraks
kulit.
 Gejala antraks kulit : 3-5 hari setelah endospora masuk kedalam kulit timbul
makula kecil warna merah yang berkembang menjadi papel gatal dan tidak
nyeri. Dalam 1-2 terjadi vesikel, ulkus dan ulcerasi yang dapat sembuh
spontan dalam 2-3 minggu. Dengan antibiotika mortalitas antraks kulit kurang
dari 1%.
 Gejala antraks saluran pencernaan : mual, demam, nafsu makan menurun,
abdomen akut, hematemesis, melena. Bila tidak segera diobati dapat
mengakibatkan kematian.
 Gejala antraks saluran pernapasan meliputi :
o Antraks pada daerah orofaring akan menimbulkan demam, sukar
menelan, limfadenopati regional.
o Antraks pada paru ada 2 tahap. Tahap pertama ringan berlangsung 3
hari pertama muncul gejala flu, nyeri tenggorok, demam ringan, batuk
non produktif, nyeri otot, mual, muntah, tidak terdapat coryza. Tahap
kedua ditandai gagal napas, stridor, penurunan kesadaran dan sepsis
sampai syok sering berakhir dengan kematian. Meningitis antraks
terjadi pada 50% kasus antraks paru.

g. Masa Penularan
Tanah dan bahan yang tercemar spora dapat infeksius sampai puluhan
tahun

h. Kerentanan dan Kekebalan


kekebalan setelah terinfeksi tidak jelas. Infeksi kedua kemungkinan terjadi
tetapi tidak ada gejala.
i. Cara Pencegahan
Pencegahan penyakit antraks dengan :
 Pencegahan pada manusia dengan menjaga kebersihan tangan,
memasak daging yang matang.
 Memberikan vaksinasi kepada kelompok risiko tinggi
 Pemberian antibiotika profilaksis paksa pajanan selama 60 hari
tanpa waksin atau selama 30 hari ditambah 3 kali dosis vaksin,
dapat dimulai sampai 24 jam paska pajanan.
 Pemberian antibiotika jangka panjang diperlukan untuk mengatasi
spora yang menetap lama dijaringan paru dan kelenjar getah
bening. Antibiotika yang dipakai adalah siprofloksasin 500mg dua
kali sehari atau doksisiklin 100mg dua kali sehari.
 Kewaspadaan standar terutama terhadap penyebaran melalui
inhalasi dengan :
o Peralatan bedah harus segera di sterilkan setelah digunakan
o Petugas kesehatan menggunakan APD, dan segera mandi
menggunakan sabun dan air mengalir yang cukup banyak
o Petugas tidak perlu diberikan vaksinasi dan profilaksis
antibiotika
o APD bekas pakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan
dibuang kesampah medis untuk dimasukkan ke incinerator/
dibakar
o Jenazah pasien antraks dibungkus dengan kantong plastik,
dimasukkan kedalam peti mati yang ditutup rapat dan
disegel. Bila memungkinkan dibakar.
o Tempat tidur dan alat yang terkontraminasi harus
dibersihkan dan disterilkan dengan autoklaf 120 o c selama
30 menit
o Limbah padat, cair dan limbah laboratorium diolah dengan
semestinya.

5. TUBERKULOSIS
a. Penyebab
Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh kuman atau basil tahan asam (BTA) yakni
mycobacterium tuberculosis. Kuman ini cepat mati bila terkena sinar matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jenis mycobacterium dapat
menyebabkan penyakit pada manusia dan menyerang semua organ tubuh bakteri ini
seperti kulit, kelenjar, otak, ginjal, tulang, dan yang paling sering paru.

b. Epidemiologi
penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik di
Indonesia maupun di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke 3 dunia dalam hal
jumlah pasien TB setelah India dan Cina. Sekitar 9 juta kasus baru terjadi setiap tahun
diseluruh dunia. Sepertiga penduduk dunia terinfeksi TB secara laten. Sekitar 95%
pasien TB berada di negara sedang berkembang, dengan angka kematian mencapai 3
juta orang pertahun. Di Indonesia diperkirakan terdapat 583.000 kasus baru dengan
140.000 kematian tiap tahun. Umumnya sekitar 75-85% pasien TB berasal dari
kelompok usia produktif.

Faktor risikonya yaitu penderita HIV/AIDS, Diabetes, gizi kurang dan kebiasaan
merokok.

c. Cara Penularan
Penularan penyakit TB paru melalui percikan dahak ( droplet) dari orang keorang,
sekali batuk terdapat 3000 percikan dahak (droplets) yang mengandung kuman TB dan
dapat menulari orang sekitarnya.

d. Masa Inkubasi
Sejak masuknya kuman hingga timbul gejala adanya lesi primer atau reaksi test
tuberkolosis positif memerlukan waktu 2-10 minggu. Risiko menjadi TB paru
(breakdown) dan TB ekstrapulmoner progresif setelah infeksi primer umumnya terjadi
pada tahun pertama dan kedua. Infeksi laten bisa berlangsung seumur hidup. Pada
pasien dengan imun defisiensi seperti HIV, masa inkubasi bisa lebih pendek.

e. Masa Penularan
Pasien TB berpotensi menular selama penyakitnya masih aktif dan dahaknya
mengandung BTA. Penularan berkurang apabila pasien yang tidak diobati atau diobati
tidak adekuat dan pasien dengan ”persistent AFB positive” dapat menjadi sumber
penularan dalam waktu lama. Tingkat penularan tergantung pada jumlah basil yang
dikeluarkan, virulensi kuman, terjadinya aerosolisasi waktu batuk atau bersin dan
tindakan medis berisiko tinggi seperti intubasi, bronhoskopi.

f. Gejala Klinis
Gejala klinis penyakit TB paru yang utama adalah batuk terus menerus disertai dahak
selama 3 minggu atau lebih, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, badan lemah, sering
demam, nafsu makan menurun dan penurunan berat badan.

g. Pengobatan
 Pengobatan spesifik dengan kombinasi anti tuberkulosis (OAT), dengan metode
DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse), pengobatan dengan regimen
jangka pendek dibawah pengawasan langsung Pengawas Minum Obat (PMO).
 Untuk pasien baru TB BTA (+),WHO menganjurkan pemberian 4 macam obat
setiap hari selama 2 bulan terdiri dari Rifampisisn, INH, PZA dan ethambutol
diikuti INH dan rifampisisn 3 kali seminggu selama 4 bulan.
h. Cara Pencegahan
 Penemuan dan pengobatan pasien merupakan salah satu cara pencegahan
dengan menghilangkan sember penularan.
 Imunisasi BCG sedini mungkin
 Perbaikan lingkungan, status gizi dan kondisi sosial ekonomi
 Setiap pasien TB paru BTA positif ditempatkan dalam ruangan bertekanan
negatif.. setiap orang yang kontak diharuskan memakai pelindung pernapasan
yang dapat menyaring partikel yang berukuran submikron.

BAB IV
PELAKSANAAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
DI PUSKESMAS PARANG KABUPATEN KARAWANG

Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di Puskesmas Parang meliputi :

A. Kewaspadaan Standar
1. Kebersihan tangan
2. Penggunaan Alat pelindung diri
3. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
4. Pengelolaan Limbah
5. Pengendalian Lingkungan Puskesmas
6. Kesehatan karyawan/ perlindungan petugas kesehatan
7. Penempatan Pasien
8. Hygiene respirasi/ etika Batuk
9. Praktek menyuntik yang aman
10. Praktek untuk lumbal punksi

1. Kebersihan Tangan
a. Definisi
 Kebersihan tangan dari sudut pandang pencegahan dan pengendalian infeksi,
adalah praktek membersihkan tangan untuk mencegah infeksi yang ditularkan
melalui tangan.
 Mencuci tangan : proses yang secara mekanik melepaskan kotoran dan debris dari
kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air
 Flora transien dan flora residen pada kulit : Flora transien pada tangan diperolah
melalui kontak dengan pasien, petugas kesehatan lain dan permukaan lingkungan
( misalnya meja periksa, lantai, atau toilet ). Organisme ini tinggal dilapisan luar
kulit dan terangkat dengan mencuci tangan menggunakan sabun biasa dan air
mengalir. Flora Residen tinggal dilapisan kulityang lebih dalam serta didalam
folikel rambut, dan tidak dapat dihilangkan seluruhnya, walaupun dengan
pencucian dan pembilasan dengan sabun dan air bersih.
 Air bersih : air yang secara alami atau kimiawi dibersihkan dan disaring sehingga
aman untuk diminum, serta untuk pemakaian lainnya dan memenuhi standar
kesehatan yang telah ditetapkan. Pada keadaan normal minimal air bersih harus
bebas dari mikroorganisme dan memiliki turbiditas rendah ( jernih, tidak berkabut
).
 Sabun : produk-produk pembersih/ sabun cair yang menurunkan tegangan
permukaan sehingga membantu melepaskan kotoran, debris dan mikroorganisme
yang menempel sementara pada tangan, sabun niasa memerlukan gosokan untuk
melepas mikroorganisme secara mekanik, sementara sabun antiseptik (
antimikroba) selain melepas juga membunuh atau menghambat pertumbuhan dari
sebagian besar mikroorganisme.
 Agen anti septik atau anti mikroba : bahan kimia yang digunakan untuk mencuci
tangan dengan menghambat atau membunuh mikroorganisme, sehingga
mengurangi jumlah bakteri.
 Emollient : cairan organik seperti gliserol, propilen delikol, atau sorbitol yang
ditambahkan pada handrub dan losion. Kegunaannya untuk melunakkan kulit dan
membantu mencegah kerusakan kulit ( keretakan, kekeringan iritasi dan dermatitis
) akibat pencucian tangan.

b. Indikasi membersihkan tangan


 Segera : setelah tiba ditempat kerja
 Sebelum :
o Kontak langsung dengan pasien
o Memakai sarung tangan sebelum pemeriksaan klinis dan tindakan
invasif
o Menyediakan/ atau mempersiapkan obat-obatan
o Mempersiapkan makanan
o Memberi makan pasien
o Meninggalkan puskesmas

 Diantara : prosedur tertentu pada pasien yang sama dimana tangan


terkontraminasi, untuk menghindari kontaminasi silang
 Setelah :

 Kontak dengan pasien


 Melepas sarung tangan
 Melepas alat pelindung diri
 Kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi, eksudat luka dan
peralatan yang diketahui atau kemungkinan terkontraminasi
dengan darah, cairan tubuh, faeses/ urine apakah menggunakan
atau tidak menggunakan sarung tangan
 Menggunakan toilet, ,menyentuh/ melap hidung dengan tangan

c. persiapan membersihkan tangan :


 Air mengalir
 Sabun
 Larutan antiseptik
 Lap Tangan yang bersih dan kering
d. Prosedur Standar Membersihkan Tangan
Tekhnik membersihkan tangan dengan sabun dan air harus dilakukan seperti di bawah
ini :
1. Basahi tangan dengan air mengalir yang bersih
2. Tuangkan sabun secukupnya, pilih sabun cair
3. ratakan dengan kedua telapak tangan
4. gosok punggung dan sel-sel jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya
5. gosok kedua telapak dan sela-sela jari
6. jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci
7. gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan
sebaliknya
8. gosok dengan memutar ujung jari-jari di telapak tangan kiri dan sebaliknyaBilas
kedua tangan dengan air mengalir
9. Bilas kedua tangan dengan air mengalir
10. keringkan dengan handuk sekali pakai atau tissue towel sampai benar-benar
kering
11. gunakan handuk sekali pakai atau tissue towel untuk menutup kran

e. Handrub antiseptik ( handrub berbasis alkohol )


1. teknik untuk menggosok tangan dengan antiseptik meliputi :
2. tuangkan secukupnya handrub berbasis alkohol untuk dapat mencakup
seluruh permukaan tangan dan jari (kira-kira satu sendok teh)
3. ratakan dengan kedua telapak tangan
4. gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan
sebaliknya
5. gosok kedua telapak dan selasela jari
6. jari-jari dalam dari kedua tangan saling mengunci
7. gosok ibu jari berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan
sebaliknya
8. gosok dengan memutar ujung jari-jari ditelapak tangan kiri dan sebaliknya

Perhatian :

Lama penggosokan untuk pembersihan tangan dengan air dan sabun minimal selama 15 detik,
sedangkan untuk pembersihan tangan dengan larutan berbahan dasar alcohol minimal selama
10 detik.

f. Hal –hal yang harus diperhatikan


 Bila tangan kotor dan terkontraminasi harus cuci tangan dengan sabun dan
air mengalir
 Bila tidak jelas kotor atau terkontraminasi, cuci tangan dengan hancrub
 Pastikan tangan kering sebelum memulai kegiatan
 Dispenser sabun harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum pengisian ulang
 Jangan mengisi sabun yang masih ada isinya, penambahan dapat
menyebabkan kontaminasi bakteri pada sabun yang dimasukkan
 Jangan menggunakan baskom yang berisi air, walaupun menggunakan
antiseptik
 Kiki harus dijaga tetap pendek, tidak lebih dari 3mm melebihi ujung jari
 Tidak boleh menggunakan kuku buatan karena dapat menimbulkan HAIs (
Hedderwick et al.2000) sebagai reservoar untuk bakteri gramn negatif.
 Tidak diperkenankan menggunakan cat kuku dan perhiasan.

2. Penggunaan Alat Pelindung Diri


a. Definisi
Alat pelindung diri adalah alat pelindung sebagai barrier yang digunakan
untuk melindungi pasien dan petugas dari mikroorganisme yang ada
diPuskesmas
b. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri ( APD )
1. Sarung tangan
2. Masker
3. Kaca Mata
4. Topi
5. Gaun
6. Apron
7. Pelindung Kaki

1) Sarung Tangan

Definisi
Alat yang digunakan untuk melindungi tangan dari bahan yang dapat
menularkan penyakit dan melindungi pasien dari mikroorganisme yang
berada di tangan petugas kesehata. Sarung tangan merupakan
penghalang (barier) fisik paling penting untuk mencegah penyebaran
infeksi. Sarung tangan harus diganti antara setiap kontak dengan satu
pasien ke pasien lainnya, untuk menghindari kontraminasi silang.

Ingat : Memakai sarung tangan tidak dapat menggantikan tindakan mencuci tangan atau
pemakaian antiseptic yang digosokkan pada tangan.

Tujuannya :
a). Untuk menciptakan barier protektif dan mencegah kontaminasi yang berat.
Misalnya untuk menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekresi, mukus
membran, kulit yang tidak utuh.
b). Menghindari transmisi mikroba dari petugas nkepada pasien saat melakukan
tindakan pada kulit pasien yang tidak utuh.
c). Mencegah transmisi mikroba dari pasien ke pasien lain melalui tangan petugas.

Penggunaan sarung tangan oleh petugas pada keadaan :


a). Kontak tangan dengan darah, cairan tubuh, membran atau kulit yang tidak utuh
b). Melakukan tindakan invasif
c). Menangani bahan-bahan bekas pakai yang terkontraminasi atau menyentuh
bahan tercemar.
d). Menerapkan kewaspadaan berdasarkan penularan melalui kontak

Jenis-jenis tangan :
a. sarung tangan bersih
b. sarung tangan steril
c. sarung tangan rumah tangga

TANPA SARUNG TANGAN


Apakah kontak dengan
Tidak
darah/ cairan tubuh ?

Ya

SARUNG TANGAN
APAKAH RUMAH TANGGA ATAU
Tidak
KONTAK SARUNG TANGAN BERSIH
DENGAN PASIEN

Ya

SARUNG TANGAN BERSIH


APAKAH KONTAK Tidak ATAU SARUNG TANGAN
DENGAN JARINGAN DTT
DIBAWAH KULIT

Ya

SARUNG TANGAN STERIL


ATAU SARUNG TANGAN
DTT
Gambar 3 : Bagan alur pemilihan jenis sarung tangan

Hal hal yang harus diperhatikan pada pemakaian sarung tangan :


 Gunakan ukuran sarung tangan yang sesuai, khususnya untuk tindakan bedah,
karena dapat mengganggu tindakan dan mudah robek.
 Kuku harus pendek, agar tidak cepat robek
 Tarik sarung tangan keatas manset gaun untuk melindungi pergelangan tangan
 Gunakan pelembab yang larut dalam air, untuk mencegah kulit tangan kering/
berkerut.
 Jangan gunakan lotion yang mengandung minyak, karena akan merusak sarung
tangan bedah.
 Jangan menggunakan lotion yang mengandung parfum karena dapat mengiritasi
kulit
 Jangan menyimpan sarung tangan ditempat dengan suhu terlalu panas atau terlalu
dingin mislanya dibawah sinar matahari langsung, didekat pemanas AC, cahaya
ultraviolet cahaya fluoresen atau mesin rongent, karena dapat merusak bahan sarung
tangan sehingga mengurangi efektifitas sebagai pelindung.
2) Masker
Definisi
Masker adalah alat yang digunakan untuk menutupi hidung, mulut, bagian bawah dagu
dan rambut pada wajah (jenggot).
Tujuan
 Untuk menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan atau petrugas
bedah berbicara, batuk atau bersin.
 Untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung
atau mulut petugas kesehatan.

Jenis- jenis Masker


a. Masker katun / kertas, sangat nyaman tetapi tidak dapat menahan cairan atau efektif
sebagai filter.
b. Masker bedah, merupakan masker terbaik dapat menyaring partikel berukuran besar
(>5µm), sekalipun tidak dirancang untuk menutup secara benar-benar menutup
secara erat, sehingga tidak dapat secara efektif menyaring udara.
c. Masker N-95 merupakan masker khusus dengan efisiensi tinggi yang
direkomendasikan untuk perawatan pasien flu burung/ SARS, berfungsi melindungi
dari partikel dengan ukuran (>5µm). Pelindung ini menempel dengan erat pada
wajah tanpa ada kebocoran, kelemahannya dapat mengganggu pernapasan dan
harganya lebih mahal dari masker bedah sebelum digunakan masker dilakukan fit
test.

Prosedur penggunaan masker bedah atau N-95/ respirator particulat


a. Genggamlah respirator/ masker bedah dengan satu tangan, posisikan sisi depan
bagian hidung pada ujung jari-jari anda, biarkan tali pengikat respirator menjuntai
bebas dibawah tangan anda.
b. Posisikan masker bedah/ respirator dibawah dagu anda dan sisi untuk hidung berada
diatas.
c. Tariklah tali pengikat respirator yang atas dan posisikan tali agak tinggi dibelakang
kepala anda diatas telinga. Tariklah tali pengikat respirator yang bawah dan
posisikan tali dibawah telinga.
d. Letakkan jari-jari tangan anada diatas bagian hidung yang terbuat dari logam. Tekan
sisi logam tersebut (gunakan dua jari dari masing-masing tangan) mengikuti bentuk
hidung anda, jangan menekan respirator dengan satu tangan karena dapat
mengakibatkan respirator bekerja kurang efektif
e. Tutup bagian depan respirator dengan kedua tangan, dan hati-hati agar posisi
respirator tidak berubah.
 Pemerikasaan segel positif
Hembuskan napas kuat-kuat. Tekanan positif didalam respirator berarti
tidak ada kebocoran. Bila terjadi kebocoran atau posisi dan atau
ketegangan tali. Uji kembali kerapan respirator. Ulangi langkah tersebut
sampai respirator benar-benar tertutup rapat.

 Pemeriksaan segel negatif


Tarik napas dalam-dalam. Bila tidak ada kebocoran, tekanan negatif
didalam respirator akibat udara masuk melalui celah-celah pada
segelnya.

3. Alat Pelindung Mata


Definisi
Alat untuk melindungi petugas dari percikan darah atau cairan tubuh lain dengan cara
melindungi mata.
Jenis – jenis alat pelindung mata :
 Kaca mata ( Goggles )
 Kaca mata pengaman
 Kaca mata pelindung wajah dan visor
4. Topi
Digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan kulit dan rambut
tidak masuk kedalam luka selama pembedahan.
Tujuannya
Untuk melindungi petugas dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau
menyemprot.
5. Gaun Pelindung
Digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa atau seragam lain, pada saat
merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui
droplet/ airbone.
Tujuannya :
 Untuk melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi
 Untuk melindungi dari penyakit menular
 Untuk merawat pasien karena ada kemungkinan terpecik atau tersemprot darah,
cairan tubuh, sekresi, atau eksresi.
Manfaatnya :
 Dapat menurunkan 20-100x dengan memakai gaun pelindung
 Dapat menurunkan opron plastik saat merawat pasien bedah abdomen
dibandingkan perawat yang memakai baju seragam dan ganti tiap hari.

6. Apron
Definisi
Adalah alat yang terbuat dari karet atau plastik sebagai pelindung bagi petugas
kesehatan dan tahan air.
Digunakan pada saat :
 Merawat pasien langsung
 Membersihkan pasien
 Melakukan prosedur dimana ada resiko tumpahan darah, cairan tubuh atau
sekresi.
7. Pelindung Kaki
Digunakan untuk melindungi kaki dari cedera akibat benda tajam atau benda
berat yang mungkin jatuh secara tidak sengaja keatas kaki.
Jenis – jenis pelindung kaki :
 Sepatu Boot Karet
 Sepatu Kulit Tertutup

c. Pemakaiaan Alat pelindung diri (APD) di Puskesmas :


1. Faktor – faktor yang harus diperhatikan pada pemakaian APD
 Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, umumnya sebelum
memasuki ruangan
 Gunakan dengan hati-hati jangan menyebarkan kontaminasi
 Lepas dan buang hati-hati ketempat limbah infeksius yang telah
disediakan diruang ganti khusus. Lepas masker diluar ruangan
 Segera lakukan pembersihan tangan dengan langkah-langkah
membersihkan tangan sesuai pedoman.

2. Cara menggunakan APD


Langkah-langkah menggunakan APD pada perawatan ruang isolasi
kontak dan airbrne adalah sebagai berikut :
a. Kenakan baju kerja sebagai lapisan pertama pakaian pelindung
b. Kenakan pelindung kaki
c. Kenakan sepasang sarung tangan pertama
d. Kenakan gaun luar
e. Kenakan celemek plastik
f. Kenakan sepasang sarung tangan kedua
g. Kenakan masker
h. Kenakan penutup kepala
i. Kenakan pelindung mata

3. Cara melepaskan APD


Langkah-langkah adalah :
a. Disinfeksi sepasang sarung tangan bagian luar
b. Disinfeksi celemek dan pelindung kaki
c. Lepaskan sepasang sarung tangan bagian luar
d. Lepaskan celemek
e. Lepaskan gaun bagian Luar
f. Disinfeksi tangan yang mengenakann sarung tangan
g. Lepaskan Pelindung Mata
h. Lepaskan Penutup Kepala
i. Lepaskan Masker
j. Lepaskan Pelindung kaki
k. Lepaskan sepasang sarung tangan bagian dalam
l. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
3. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen
3.1. Pemrosesan Peralatan Pasien

a. Alur pemrosesan peralatan pasien

Pre- cleaning (Pembersihan awal)


Menggunakan detergen atau
Enzymatic, sikat

Pembersihan
( Cuci bersih dan tiriskan )

STERILISASI
(Peralatan Kritis )
Masuk dalam pembuluh DISINFEKSI
Darah / Jaringan tubuh

Disinfeksi Tingkat Tinggi Disinfeksi Tingkat Rendah


(Peralatan semi kritikal) (Peralatan non kritikal)
Masuk dalam mukosa tubuh Hanya pada permukaan tubuh
Endotracheal tube.NGT yang utuh
Gambar 4 : Alur pemprosesan peralatan pasien

b. Tingkatan Proses Disinfeksi


1. Disinfeksi Tingakat Tinggi (DTT)
Mematikan kuman dalam waktu 20 menit -12 jam akan mematikan semua mikroba
kecuali spora bakteri.
2. Disinfeksi Tingakat Sedang (DTS )
Mematikan mikrobakteria vegetatif, virus, jamur, tetapi tidak bisa mematikan spora
bakteria.
3. Disinfeksi Tingkat Rendah (DTR)
Mematikan hampir semua bakteri vegetatif, beberapa jamur, beberapa virus dalam
waktu < 10 menit.
c. Definisi
 Preclenaing/ Prabilas : proses yang membuat mati lebih aman untuk ditangani oleh
petugas sebelum dibersihkan (menginaktivasi HBV, HBC, dan HIV ) dan
mengurangi, tapi tidak menghilangkan jumlah mikroorganisme yang
mengkontraminasi.
 Pembersihan : proses yang secara fisik membuang semua kotoran, darah atau cairan
tubuh lainnya dari benda mati ataupun mikroorganisme untuk mengurangi resiko
bagi petugas yang menyentuh kulit atau menangani objek tersebut.
 Disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) : Proses menghilangkan semua mikroorganisme,
kecuali beberapa endospora bakterial dari objek, dengan merebus, menguapkan atau
memakai disinfektan kimiawi.
 Sterilisasi : proses menghilangkan semua mikroorganisme ( bakteria, virus, fungi,
dan parasit termasuk endospora bacterial) dari benda mati dengan uap tekanan
tinggi ( otoklaf), pabas kering (oven), sterilisasi, kimiawi, atau radiasi.

3.2. Pengelolaan Linen


Definisi
Pengelolaan Linen adalah penanganan linen di puskesmas meliputi proses
pengimpanan, pendistribusian, pemisahan linen kotor, dan pencucian.
Tujuan
Mencegah terjadinya penularan melalui linen yang terkontraminasi dari pasien
kepetugas maupun kepasien lain dan lingkungan sekitarnya.
Prinsip Umum :
 Semua linen yang sudah digunakan harus dimasukkan kedalam kantong/ wadah
yang tidak rusak saat diangkut.
 Pengantongan ganda tidak diperlukan untuk linen yang sudah digunakan.

Prosedur Pengelolaan Linen :


 Linen yang kotor diletakkan dipisahkan linen yang infeksi dan non infeksi dengan
menggunakan APD. Kantong kuning untuk yang infeksi, dan yang hitam untuk
yang tidak infeksi atau linen yang bersih, kemudian diikat yang rapih.
 Hilangkan bahan padat dari linen yang sangat kotor dengan menggunakan APD
yang sesuai dan buang ketempatnya, kemudian linen masukkan kekantong cucian.
 Linen yang sudah digunakan harus dibawa dengan hati-hati dan menggunakan
trolley linen dengan membedakan tempat linen bersih dan yang kotor, untuk
mencegah kontaminasi permukaan lingkungan atau orang-orang disekitarnya.
 Jangan memilah linen ditempat perawatan pasien. Masukkan linen yang
terkontraminasi langsung kekantong cucian diruang isolasi dengan memanipulasi
minimal atau mengibas-ibaskan untuk menghindari kontaminasi udara dan orang
 Linen dicuci sesuai prosedur pencucian biasa.
 Cuci dab keringkan lenen sesuai dengan standar dan prosedur tetap di Puskesmas.
Untuk pencucian dengan air panas, cuci linen menggunakan detergen/ disinfeksi
dengan air 70o C ( 160 o F) selama 25 menit. Pilih bahan kimia yang cocok untuk
pencucian temperatur rendah dengan konsentrasi yang sesuai temperatur air >70o C
( 160 o F).
4. Pengelolaan Limbah
Pengelolaan Limbah merupakan salah satu upaya kegiatan pencegahan dan
pengendalian infeksi dipuskesmas. Limbah puskesmas berupa limbah yang sudah
terkontraminasi atau tidak terkontraminasi. Sekitar 85% limbah umum dihasilkan yang
dihasilkan Puskesmas tidak terkontraminasi dan tidak berbahaya bagi petugas yang
menangani, namun demikian penanganan limbah ini harus dikelola dengan baik dan
benar.

4.1. Pengertian
Limbah puskesmas adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan puskesmas
dalam bentuk padat, cair dan gas.
4.2. Tujuan Pengelolaan Limbah
 Melindungi petugas pembuangan limbah dari perlukaan
 Melindungi penyebaran infeksi terhadap para petugas kesehatan
 Mencegah penularan infeksi pada masyarakat sekitarnya
 Membuang bahan-bahan berbahaya ( bahan Toksik dan radioaktif) dengan
aman.
4.3. Jenis-jenis Limbah
a. Limbah padat puskesmas adalah semua limbah puskesmas yang berbentuk padat
sebagai akibat kegiatan puskesmas yang terdiri dari :
 Limbah medis padat adalah : limbah padat yang terdiri dari limbah
infeksius, limbah patologi, limah benda tajam, limbah farmasi, limbah
sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan,
dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi
 Limbah pada non medis adalah : limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan
puskesmas diluar medis yang berasal dari dapur perkantoran, taman, dan
halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
b. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan
puskesmas yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia
beracun, dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan.
c. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan
pembakaran dipuskesmas seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator,
anastesi, dan pembuatan obat sitotoksis.
d. Limbah infeksius adalah limbah yang terkontraminasi dengan darah, cairan tubuh
pasien, eksresi, sekresi yang dapat menularkan kepada orang lain.
e. Limbah Sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi dari persiapan
dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai
kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup.

4.4. Pengelolaan Limbah


a. Identifikasi Limbah :
 Padat
 Cair
 Tajam
 Infeksius
 Non infeksius
b. Pemisahan
 Pemisahan dimulai dari awal penghasilan Limbah
 Pisahkan limbah sesuai dengan jenis limbah
 Tempatkan limbah sesuai dengan jenisnya
 Limbah cair segera dibuang ke westafel di spoelhok
c. Labeling
 Limbah padat infeksius : plastik kantong kuning atau warna lain tapi diikat
tali kuning.
 Limbah padat non infeksius : plastik kantong warna hitam
 Limbah benda tajam : wadah tahan tusuk dan air (safety box)
d. Kantong pembuangan diberi label biohazard atau sesuai jenis limbah
e. Packing
 Tempatkan dalam wadah limbah tertutup
 Tutup mudah dibuka, sebaliknya bisa dengan menggunakan kaki
 Kontainer dalam keadaan bersih
 Kontainer terbuat dari bahan yang kuat, ringan dan tidak berkarat
 Tempatkan setiap kontainer limbah pada jarak 10-20meter
 Ikat limbah jika sudah terisi ¾ penuh
 Kontainer limbah harus dicuci setiap hari
f. Penyimpanan
 Simpan limbah di empat penampungan sementara
 Tempatkan limbah dalam kantong plastik dan ikat dengan kuat
 Beri label pada kantong plastik limbah
 Setiap hari limbah diangkat dari tempat penampungan sementara
 Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong khusus
 Kereta dorong harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup
 Tidak boleh ada yang tercecer
 Sebaliknya lift pengangkut limbah berbeda dengan lift pasien
 Gunakan alat pelindung diri ketika menangani limbah
 Tempat penampungan sementara harus di area terbuka, terjangkau oleh
kendaraan, aman dan selalu dijaga kebersihannya dengan kondisi kering.

g. Pengangkutan
 Mengangkut limbah harus menggunakan kereta dorong khusus
 Kereta dorong harus kuat, mudah dibersihkan, tertutup
 Tidak boleh ada yang tercecer
 Sebaliknya jalan pengangkut limbah berbeda dengan jalan pasien
 Gunakan alat pelindung diri ketika menangani limbah.
h. Treatment
 Limbah infeksius dimasukkan dalam incenerator
 Limbah non infeksius dibawa ketempat pembuangan limbah umum
 Limbah benda tajam dimasukkan dalam incenerator
 Limbah cair dalam westafell diruang spoelhok
 Limbah Feces, urine kedalam WC
4.5. Penanganan Limbah Benda Tajam
 Jangan menekuk atau mematahkan benda tajam
 Jangan meletakkan limbah benda tajam sembarang tempat
 Segera buang limbah benda tajam ke kontainer yang tersedia tahan tusuk
dan tahan air dan tidak bisa dibuka lagi
 Selalu buang sendiri oleh si pemakai
 Tidak menyarungkan kembali jarum suntik habis pakai
 Kontainer benda tajam diletakkan dekat lokasi tindakan

4.6. Penanganan limbah pecahan kaca


 Gunakan sarung tangan rumah tangga
 Gunakan kertas koran untuk mengumpulkan pecahan benda tajam tersebut,
kemudian bungkus dengan kertas
 Masukkan dalam kontainer tahan tusukan beri label

4.7. Unit Pengelolaan Limbah Cair


 Kolam stabilisasi air limbah
 Kolamoksidasi air limbah
 Sistem proses pembusukan anaerob
 Septik tank

4.8. Pembuangan Limbah Terkontaminasi


 Menuangkan cairan atau limbah basah ke sistem pembuangan kotoran
tertutup
 Insinerasi (pembakaran) untuk menghancurkan bahan-bahan sekaligus
mikroorganisme nya. Ini merupakan metode terbaik untuk pembuangan
limbah terkontaminasi. Pembakaran juga akan mengurangi volume limbah
dan memastikan bahwa bahan-bahan tersebut tidak akan dijarah dan dipakai
ulang. Bagaimanapun juga pembakaran akan dapat mengeluarkan kimia
beracun ke udara.
 Mengubur limbah terkontaminasi agar tidak tersentuh lagi

4.9. Cara penanganan limbah terkontaminasi


 Untuk limbah terkontaminasi, pakailah wadah plastik atau disepuh logam
dengan tutup yang rapat.
 Gunakan wadah tahan tembus untuk pembuangan semua benda-benda tajam
 Tempatkan wadah limbah dekat dengan lokasi terjadinya limbah itu dan
mudah dicapai oleh pemakai.
 Peralatan yang dipakai untuk mengumpulkan dan mengangkut limbah tidak
boleh dipakai untuk keperluan lain diklinik atau puskesmas.
 Cuci semua wadah limbah dengan larutan pembersih disinfektan dan bilas
teratur dengan air
 Jika mungkin, gunakan wadah terpisah untuk limbah yang akan dibakar dan
yang tidak akan dibakar sebelum dibuang.
 Gunakan alat perlindungan diri (APD) ketika menangani limbah
 Cuci tangan atau gunakan penggosok tangan antiseptik berbahan dasar
alkohol tanpa air setelah melepaskan sarung tangan apabila menangani
limbah.

4.10.Cara Pembuangan Limbah


a. Enkapluasi : dianjurkan sebagai cara termudah membuang benda-benda
tajam. Benda tajam dikumpulkan dalam wadah tahan tusukan dan antobocor.
Sesudah ¾ penuh, bahan seperti semen, pasir, tau bahan-bahan menjadi
padat dan kering., wadah ditutup, disebarkan pada tanah rendah, ditimbun
dan dapat dikuburkan. Bahan-bahan sisa klimia dapat dimasukkan bersama
dengan benda-benda tajam.
b. Insinerasi adalah proses dengan suhu tinggi untuk mengurangi berat dan isi
limbah. Pross ini biasanya dipilih untuk menangani limbah yang tidak dapat
didaur ulang, dipakai lagi, atau dibuang ke tempat pembuangan limbah atau
tempat kebersihan pealatan tanah.
c. Pembakaran terbuka tidak dianjurkan karena berbahaya, batas pandangan
tidak jelas, dan angin dapat menyebarkan limbah kesekitar kemana-mana
d. Mengubur limbah difasilitasi kesehatan dengan sumber terbatas, penguburan
limbah secara aman pada atau dekat fasilitas mungkin merupakan satu-
satunya alternatif untuk pembuangan limbah. Caranya : buat lubang sedalam
2,5m, setiap tinggi limbah 75cm ditutupi kapur tembok, kemudian diisi lagi
dengan limbah sampai 75 cm ditutupi kapur tembok, kemudian diisi lagi
dengan limbah samapai 75cm, kemudian dikubur. Untuk mengurangi risiko
dan polusi lingkungan, beberapa aturan dasar adalah :
 Batas akses ketempat pembuangan limbah tersebut
 Tempat penguburan sebaiknya dibatasi dengan lahan dengan
permeabilitas rendah (seperti tanah liat), jika ada
 Pilih tempat berjarak setidak-tidaknya 50 meter dari sumber air
untuk mencegah kontaminasi permukaan air
 Tempat penguburan harus terdapat pengaliran yang baik, lebih
rendah dari sumur, bebas genangan air dan tidak didaerah rawan
banjir.
e. Membuang limbah berbahaya : bahan-bahan kimia termasuk sisa-sisa
bahan-bahan sewaktu pengepakan, bahan-bahan kadaluarsa atau kimia
dekomposisi, atau bahan kimia tidak dapat dipakai lagi. Bahan kimia yang
tidak terlalu banyak dapat dikumpulkan dalam wadah dengan limbah
terinfeksi, dan kemudian diindinerasi, enkapsulasi atau dikubur. Pada jumlah
yang banyak, tidak boleh dikumpulkan dengan limbah terinfeksi.
Karena tidak ada metode yang aman dan murah, maka pilihan
penanganannya sebagai berikut :
 Insinerasi pada suhu tinggi merupakan opsi terbaik untuk
pembuangan limbah kimia.
 Jika ini tidak mungkin, kembalikan limbah kimia tersebut
kepemasok Karena kudua metode ini mahal dan tidak praktis, maka
jagalah agar limbah kimia terdapat seminimal mungkin
f. Limbah Farmasi
Dalam jumlah yang sedikit limbah farmasi ( obat dan bahan obat obatan ),
dapat dikumpulkan dalam wadah dengan limbah terinfeksi dan dibuang
dengan cara yang sama insinerasi, enkapluasi atau dikubur secara aman.
Perlu dicatat bahwa suhu yang dicapai dalam insinerasi kamar tunggal
seperti tong atau insinerator dari bata adalah tidak cukup untuk
menghancurkan total limbah farmasi ini, sehingga tetap berbahaya.
Sejumlah kecil limbah farmasi, seperti obat-obatan kadaluarsa ( kecuali
sitotoksik dan antibiotik), dan dapat dibuang ke pembuangan kotoran tapi
tidak boleh dibuang kesungai, kali, telaga, atau danau. Jika jumlahnya
banyak, limbah farmasi dapat dibuang secara metode berikut :
 Sitotoksik dan antibiotik dapat diinsenerasi, sisanya dikubur di tempat
pemerataan tanah (gunakan insinerator seperti untuk membuat semen
yang mampu mencapai suhu pembakaran hingga 800C). Jika inspirasi
tidak tersedia, bahan farmasi di rekapsulasi.
 Bahan yang larut dengan air, campuran ringan bahan farmasi seperti
larutan vitamin, obat batuk, cairan intravena, tetes mata, dan lain-lain
dapat diencerkan dengan sejumlah besar air lalu dibuang dalam tempat
pembuangan kotoran.
 Jika semua gagal, kembalikan kepemasok, jika mungkin.

Rekomendasi berikut dapat juga diikuti :


 Sisa-sisa obat sitotoksik atau limbah sitotoksik lain tidak boleh
dicampur dengan sisa-sisa limbah farmasi lainnya.
 Limbah sitotoksik tidak boleh dibuang disungai, kali, telaga, danau atau
area pemerataan tanah

g. Limbah dengan bahan mengandung logam berat


Baterai, termometer, dan lain-lain benda mengandung logam berat seperti air
raksa atau kadmium. Cara pembuangannya sebagai berikut :
 Pelayanan daur ulang tersedia
 Enkapsulasi, jika daur ulang tidak mungkin maka pembuangan
limbah enkapsulasi dapat dilakukan, jika tersedia.
Jenis limbah ini tidak boleh diinsinerasi karena uap logam beracun yang
dikeluarkan, juga tidak boleh dikubur tanpa enkapsulasi karena
mengakibatkan polusilapisan air tanah.Biasanya, limbah jenis ini hanya
terdapat dalam jumlah yang kecil di fasilitas kesehatan.
Air raksa merupakan neurotoksin kuat, terutama pada masa tumbuh
kembang janin dan bayi. Jika dibuang dalam air atau udara, air raksa
masuk dan mengkontaminasi danau, sungai, dan aliran air lainnya.
Untuk mengurangi resiko polusi, benda-benda yang mengandung air
raksa seperti termometer dan tensimeter sebaiknya dengan yang tidak
mengandung air raksa.
Jika termometer pecah :
 Pakai sarung tangan pemeriksaan pada kedua belah tangan
 Kumpulkan semua butiran air raksa yang jatuh dengan sendok,
dan tuangkan dalam wadah kecil tertutup untuk dibuang atau
dipakai kembali

Wadah penyembur aerosol tidak daur ulang


 Semua tekanan sisa harus dikeluarkan sebelum aerosol dikubur
 Wadah bertekanan gas tidak boleh dibakar atau diinsinerasi
karena dapat meledak
Sebagai kesimpulan, sedapat-dapatnya hindarkan membeli atau
,memakai produk kimia yang sukar atau sangat mahal untuk dibuang.
5. Pengendalian Lingkungan Puskesmas
Pengendalian lingkungan puskesmas atau fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya merupakan salah satu aspek dalam upaya
pencegahan pengendalian infeksi dipuskesmas atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya. Lingkungan puskesmas jarang
menimbulkan transmisi penyakit infeksi nosokomial, namun pada
pasien-pasien iang immunocompromise harus lebih diwaspadai dan
perhatian karena dapat menimbulkan beberapa penyakit infeksi
lainnya seperti infeksi saluran pernapasan, aspergillus, legionella,
mycobacterium TB, varicella zoster, virus hepatitis B, HIV.
Pengendalian lingkungan Puskesmas meliputi ruang bangunan,
penghawaan, kebersihan , saluran limbah dan lain sebagainya.
Untuk mencegah terjadinya infeksi akibat lingkungan dapat
diminimalkan dengan melakukan :
1. Pembersihan Lingkungan
2. Disinfeksi lingkungan yang terkontraminasi dengan darah
atau cairan tubuh pasien
3. Melakukan pemeliharaan peralatan medik dengan tepat
4. Mempertahankan mutu air bersih
5. Memperhatikan ventilasi yang baik

5.1. Pengertian
Pembersihan lingkungan adalah proses membuang semua atau
sebagian besar patogen dari permukaan dan benda yang
terkontraminasi.
Pembersihan permukaan dilingkungan pasien sangat penting karena
agen infeksius yang dapat menyebabkan ISPA dapat bertahan
dilingkungan selama beberapa jam atau bahkan beberapa hari.
Pembersihan dapat dilakukan dengan air dan detergen netral

5.2. Tujuan
Tujuan pengendalian lingkungan puskesmas atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya adalah untuk menciptakan lingkungan
yang bersih aman dan nyaman sehingga dapat menimilkan atau
mencegah terjadinya transmisi mikroorganisme dari lingkungan
kepada pasien, petugas, pengunjung, dan mayarakat disekitar
puskesmas dan fasilitas kesehatan sehingga infeksi nosokomial dan
kecelakaan kerja dapat di cegah.
5.3. Prinsip dasar pembersihan lingkungan
 Semua permukaan horizontal ditempat dimana pelayanan yang
disediakan untuk pasien harus dibersihkan setiap hari dan terlihat
kotor. Permukaan tersebut juga harus dibersihkan bila pasien
sudah keluar dan sebelum pasien baru masuk.
 Bila permukaan tersebut, meja pemerikasaan atau peralatan
lainnya pernah bersentuhan langsung dengan pasien, permukaan
tersebut harus dibersihkan dan disinfeksi diantara pasien-pasien
yang berbeda
 Semua kain lap yang digunakan harus dibasahi sebelum
digunakan.membersihkan debu dengan kain kering atau dengan
sapu dapat menimbulkan aerosolisasi dan harus dihindari.
 Larutan, kain lap dan kain pel harus diganti secara berkala sesuai
dengan peraturan setempat.
 Semua peralatan pembersih harus dibersihkan dan dikeringkan
setelah digunakan
 Kain lap pel yang dapat digunakan kembali harus dicuci dan
dikeringkan setelah digunakan
 Tempat-tempat disekitar pasien harus bersih dari peralatan serta
perlengkapan yang tidak perlu sehingga memudahkan
pembersihan menyeluruh setiap hari.
 Meja pemeriksaan dan peralatan disekitarnya yang telah
digunakan pasien yang diketahui atau suspek terinfeksi ISPA
yang dapat menimbulkan kekhawatiran harus dibersihkan dengan
disinfektan segera setelah dugunakan.

5.4. APD untuk pembersihan Lingkungan


Kegiatan pembersihan adalah tugas berat yang memerlukan banyak
pekerja dan dilingkungan tertentu risiko terpajan benda-benda tajam
sangat tinggi.

Petugas kesehatan harus mengenakan :


 Sarung tangan karet
 Gaun pelindung dan celemek karet
 Sepatu yang rapat dan kuat seperti sepatu bot

5.5. Pembersihan tumpahan dan percikan


Saat membersihkan tumpahan atau percikan cairan tubuh atau
sekresi, petugas kesehatan harus menggunakan APD yang memadai,
termasuk sarung tangan karet dan gaun pelindung.

5.6. Tahap-tahap pembersihan tumpahan adalah sebagai berikut :


 Pasang gaun pelindung atau celemek dan sarung tangan karet
 Bersihkan bagian permukaan yang terkena tumpahan
tersebut dengan air dan detergen menggunakan kain
pembersih sekali pakai.
 Buang kain pembersih kewadah limbah tahan bocor yang
sesuai
 Lakukan disinfeksi pada bagian permukaan yang terkena
tumpahan.
 Lepas sarung tangan karet dan celemek dan tempatkan
perlengkapan tersebut kewadah yang sesuai untuk
pembersihan dan disinfeksi lebih lanjut
 Tempatkan gaun pelindung dan masukkan kewadah yang
sesuai
 Bersihkan tangan

Hal-hal penting mengenai pembersihan dan disinfeksi


 Lingkungan yang digunakan oleh pasien harus
dibersihkan dengan teratur
 Pembersihan harus menggunakan teknik yang benar
untuk menghindari aerosolisasi debu.
 Hanya permukaan yang bersentuhan dengan kulit/
mukosa pasien dan permukaan yang sering disentuh oleh
petugas kesehatan yang memerlukan disinfeksi setelah
dibersihkan.
 Petugas kesehatan harus menggunakan APD untuk
melakukan pembersihan dan diinfeksi peralatan
pernapasan dan harus membersihkan tangan setelah APD
dilepas.

Ruang Lingkup pengendalian lingkungan


Kontruksi bangunan puskesmas
a. Dinding
Permukaan dibuat harus kuat, rata dan kedap air sehingga
mudah dibersihkan secara periodik dengan jadwal yang
tetap 3-6 bulan sekali. Cat dinding berwarna terang dan
menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak
menggunakan logam yang berat.

b. Langit-Langit
Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah
dibersihkan, tingginya minimal 2,70 meter dari lantai,
kerangka langit-langit harus kuat dan bila terbuat dari kayu
harus anti rayap.

c. Lantai
Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, halus, kedap air,
tidak licin, warna terang, permukaan rata, tidak
bergelombang sehingga mudah dibersihkan secara rutin,3
kali sehari atau kalu perlu. Lantai yang selalu kontak
dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup
kearah saluran pembuangan air limbah. Pertemuan lantau
dengan dinding harus berbentuk lengkung agar mudah
dibersihkan.

d. Atap
Atap harus kuat, tidak bocor dan tidak menjadi tempat
perindukan serangga, tikus dan binatang penggangu
lainnya.

e. Pintu
Pintu harus kuat, cukup tinggi, cukup lebar, dan dapat
mencegah masuknya serangga, tikus, dan binatang
pengganggu lainnya.

f. Jaringan Instalasi
Pemasangan jaringan instalasi air minum, air bersih, air
limbah, gas, listrik, sistem penghawaan, sarana komunikasi
dan lain-lainnya harus memenuhi persyaratan teknis
kesehatan agar nyaman dan aman, mudah dibersihkan dari
tumpukan debu. Pemasangan pipa air minum tidak boleh
bersilang dengan pipa air limbah dan tidak boleh
bertekanan negatif untuk menghindari pencemaran air
minum.

g. Furniture
Dibersihkan secara rutin setiap hari, khusus tempat tidur
pasien gunakan cairan disinfektan, tidak menggunakan
bahan yang dapat menyerap debu, sebaiknya bahan yang
mudah dibersihkan dari debu maupun darah atau cairan
tubuh lainnya.

h. Fixture dan fitting


Peralatan yang menetap di dinding hendaknya didesain
sedemikian rupa sehingga mudah dibersihkan.

i. Gorden
Bahan terbuat yang mudah dibersihkan, tidak
bergelombang, warna terang, dicuci secara periodik 1-3
bulan sekali dan tidak menyentuh lantai disain ruangan
sedapat mungkin diciptakan dengan memfasilitasi
kewaspadaan standar. Alkohol handrub perlu disediakan
ditempat yang mudah diraih saat tangan tidak tampak kotor.
Wastafel perlu diadakan 1 buah tiap 6 tempat tidur pasien,
sedang diruang high care 1 wastafel tiap 1 tempat tidur.
Jarak antar tempat tidur diupayakan cukup agar perawat
tidak menyentuh 2 tempat tidur diupayakn cukup agar
perawat tidak menyentuh 2tempat tidur dalam waktu yang
sama, nila mungkin / ideal 2,5m. Penurunan jarak antar
tempat tidur menjadi 1,9m menyebabkan peningkatan
transfer MRSA 3,15 kali.
Permukaan sekitar :
 RS merupakan tempat yang mutlak harus bersih.
Lingkungan jarang merupakan sumber infeksi. Masih
kontradiksi tentang disinfeksi ruangan rutin ? tidak
ada perbedaan HAIs yang bermakna antara ruangan
dibersihkan dengan disinfeksi dan detergen.

 Disinfeksi rutin dapat menyebabkan bakteri resisten


(QAV), toleransi meningkat (formaldehid),
membunuh bakteri yang sensitif, mempengaruhi
penampilan limbah yang ditangani, membentuk
komponen organik halogen (Na hipoklorin),
mengkontaminasi permukaan air, membentuk bahan
mutagenik.
5.9. Lingkungan
a. Ventilasi Ruangan
Definisi
 Ventilasi ruangan adalah proses memasukkan dan
menyebabkan udara luar, dan / atau udara daur ulang
yang telah diolah dengan tepat dimasukkan kedalam
gedung atau ruangan.
 Pengkondisian udara adalah mempertahankan udara
dalam ruang agar bertemperatur nyaman.

Tujuan :
 Untuk mempertahankan kualitas udara dalam ruangan
yang baik, aman untuk keperluan pernapasan.
 Ventilasi yang memadai dan aliran satu arah yang
terkontrol harus diupayakan di puskesmas.
 Untuk mengurangi penularan patogen yang ditularkan
dengan penularan obligat atau preferensial melalui
airborne.
Ventilasi ruangan untuk infeksi pernapasan
Ruang ventilasi memadai adalah ruangan dengan
pertukaran udara > 12x /jam tapi aliran udaranya tidak
ditentukan diperlukan bila ada kemungkinan penularan
droplet nuklei. Direkomendasikan ventilasi ruangan ACH
≥12 dan aliran udara yang diharapkan, dapat dicapai
dengan ventilasi alami atau mekanik.
Kondisi Ruangan ACH
( Pertukaran udara per jam )
Jendela dan pintu dibuka 29,3-93,2
Penuh
Jendela dibuka penuh, 15,1-31,4
Pintu ditutup
Jendela dibuka separuh, 10,5-24
Pintu ditutup
Jendela ditutup 8,8

Tabel 1 : Tabel pertukaran udara pada ventilasi alami.


Jenis-jenis ventilasi :
1. Ventilasi mekanis : menggunakan fan untuk mendorong aliran udara melalui
suatu gedung, jenis ini dapat dikombinasi dengan pengkondisian dan
penyaringan udara.
2. ventilasi alami : menggunakan cara alami untuk mendorong aliran udara
melalui suatu gedung ; adalah tekanan angin dan tekanan yang dihasilkan
oleh perbedaan kepadatan antara udara didalam dan diluar gedung, yang
dinamakan ”efek cerobong".
3. Ventilasi gabungan memadukan ventilasi mekanis dan alami.

Faktor utama dalam pemilihan ventilasi mekanis di Puskesmas :


a. Metode efektif dengan persyaratan ACH minimal :
 12 ACH dapat membantu pencegahan penularan patogen infeksius melalui
drople nuklei
 Sistem ventilasi mekanik maupun alami yang dirancang dengan baik dapat
memenuhi persyaratan minimal efektif
 Ventilasi mekanis lebih mudah dikontrol
 Ventilasi alami dengan sistem rancangan dan sistem kontrol yang lebih baik,
ventilasi alami lebih efektif
 Efektivitas ventilasi alami tergantung pada kecepatan angin dan atau
temperatur, daerah bersuhu ekstrem dan kecepatan angin yang selalu rendah
tidak cocok untuk penggunaan ventilasi alami.
b. Prasarana di Puskesmas
 Ventilasi mekanik dengan sistem ventilasi sentral, dan pemasangan sistem
kontrol diruang isolasi merupakan pilihan terbaik.
 Ventilasi alami yang dipasukan dengan exhaust fan.

Tabel 2 : Kelebihan dan Kekurangan sistem Ventilasi


Jenis Ventilasi Ventilasi Mekanis Ventilasi Alami
Kelebihan  Cocok untuk semua iklim  Biaya modal,
dan cuaca. operasional dan
 Lingkungan yang lebih pemeliharaan lebih
terkontrol dan nyaman murah
 Dapat mencapai tingkat
ventilasi yang sangat
tinggi sehingga dapat
membuang sepenuhnya
polutan dalam gedung
 Kontrol lingkungan oleh
penghuni
 Lebih sulit perkiraan,
analisa, dan
rancangannya
Kekurangan  Biaya pemasangan dan  Mengurangi tingkat
pemeliharaan mahal kenyamanan penghuni
 Memerlukan keahlian. saat cuaca tidak
bersahabat, seperti
terlalu panas, lembab,
atau dingin
 Tidak mungkin
menghasilkan tekanan
negatif ditempatisolasi
bila perlu
 Risiko pajanan terhadap
serangga atau vektor

Penggunaan ventilasi alami di ruang isolasi


Prinsip ventilasi alami adalah menghasilkan dan meninggalkan aliran udara luar gedung
menggunakan cara alami seperti gaya angin dan gaya apung termal dari satu lubang ke
lubang lain untuk mencapai ACH yang diharapkan. Penelitian terbaru mengenai sistem
ventilasi alami di Peru menunjukkan bahwa ventilasi alami efektif mengurangi penularan
tuberculosis di Puskesmas.

Pilihan tempat isolasi dan penempatan pasien didalam ruang isolasi harus direncanakan
dengan teliti dan dirancang untuk lebih mengurangi resiko infeksi bagi orang-orang
disekitarnya. Saat merancang suatu Puskesmas, sebaiknya tempat isolasi terletak jauh dari
bagian-bagian puskesmas yang lain dan dibangun ditempat yang diperkirakan mempunyai
karakteristik angin yang baik sepanjang tahun. Udara harus diarahkan dari tempat
perawatan pasien ditempat terbuka diluar gedung yang jarang digunakan dilalui orang
didalam ruang pencegahan infeksi melalui airbone, pasien harus ditempatkan dekat dinding
luar dekatjendela terbuka, bukan dekat dinding dalam.
Pertimbangan lain berkaitan dengan penggunaan ventilasi alami adalah pajanan pasien
terhadap vektor artopoda (misalnya nyamuk) didaerah endemi. Penggunaan kelambu dan
langkah pencegahan vektor lainnya dapat membantu mengurangi resiko penularan melalui
vektor.

Penggunaan exhaust fan diruang isolasi

Pembuatan bangsal isolasi sementara secara cepat menggunakan exhaust fan dilakukan
selama terjadinya wabah SARS.

Tujuan utama : membantu meningkatkan ACH sampai tingkat yang diharapkan dan
menghasilkan tekanan negatif.

Perancangan dan perencanaan yang teliti exhaust fan dalam jumlah yang memadai
diperlukan untuk mendapatkan hasil seperti :

Pintu yang Pintu dan jendela ACH


menghubungkan yang
kamar dengan menghubungkan
Exhaust Fan koridor kamar dengan
balkon dan udara
luar
Mati Tertutup Tertutup 0.71
Mati Tertutup Terbuka 14.0
Mati Terbuka Terbuka 12.6
Hidup Tertutup Tertutup 8.8-18.5
Hidup Tertutup Terbuka 14.6
Hidup Terbuka Terbuka 29.2

WH Seto, Jurusan Mikrobiologi, Universitas Hongkong dan Puskesmas Queen Mary.

Tabel 3 : Tabel. Tingkat ventilasi ( ACH) dikamar berventilasi alami yang tercatat dalam
sebuah eksperimen di Cina, DAK Hongkong, dalam kondisi eksperimen yang berbeda.

Ruangan isolasi yang digunakan untuk pencegahan transmisi infeksi melalui airbone yang
berventilasi mekanis harus menggunakan sistem kontrol untuk menghasilkan tingkat
ventilasi yang memadai dan aliran udara terkontrol.

Tekanan udara negatif terkontrol dengan lingkungan sekitar ;


 12 ACH
 Penggunaan HEPA filter
 Pintu kamar harus ditutup dan asien harus tetap berada didalam kamar

b. Air
Air yang dianjurkan untuk Puskesmas :
 Pertahankan temperatur air, panas 51 ºC, dingin 20ºC
 Pertahankan resirkulasi tetap panas air didistribusikan ke unit perawatan
 Anjurkan pasien, keluarga, pengunjung menggunakan air dari keran
 Uji kualitas mutu air minimal 6 bulan sekali

c. Permukaan Lingkungan
Permukaan lingkungan meliputi permukaan lingkungan di area perawatan, lantai,
dinding, permukaan yang sering disentuh (pegangan pintu, bed rails, light switch),
blinds dan jendela tirai perawatan pasien, kamar operasi serta carpet. Tehnik
pembersihan permukaan lingkungan meliputi :
1. Area perawatan
 Disamping pembersihan secara seksama disinfeksi bagi peralatan tempat tidur
dan permukaan perlu dilakukan, seperti dorongan tempat tidur, meja
disamping tempat tidur, kereta dorong, lemari baju, tombol pintu, keran,
tombol lampu, bel panggilan, telepon, TV, temote kontrol.
 Virus dapat dinonaktifkan oleh alkohol 70% dan klorin 0,5%
 Dianjurkan untuk melakukan pembersihan permukaan lingkungan dengan
detergen yang netral dilanjutkan dengan larutan disinfektan.
 Bersihkan dan disinfeksi permukaan lingkungan di area perawatan
 Lakukan pembersihan dua kali sehari atau bila kotor
 Pilih disinfeksi yang terdaftar dan digunakan sesuai petunjuk pabrik
 Jangan menggunakan high level disinfektan/ cairan chemikal untuk peralatan
non kritikal dan permukaan lingkungan
 Ikuti petunjuk pabrik untuk pembersihan dan pemeliharaan peralatan non
kritikal.
 Pembersihan dari pabrik ikuti petunjuk dari pabrik dan bila tidak ada petunjuk
pembersihan dari pabrik ikuti prosedur yang telah ditentukan.
 Jangan melakukan disinfeksi fogging di area keperawatan
 Hindari metode pembersihan permukaan yang luas yang menghasilkan mist
atau aerosol.

2. Membersihkan permukaan lantai, dinding dan meja


 Gunakan detergen, jangan menggunakan high level disinfektan/ cairan
chemikol untuk peralatan non kritikal dan permukaan lingkungan
 Ikuti petunjuk pabrik untuk pembersihan dan pemeliharaan peralatan non
kritikal
 Jika tidak ada petunjuk/ disonfektan yang terdaftar untuk pembersihan dan
disinfeksi ruangan perawatan pasien gunakan detergen atau air untuk
pembersihan permukaan non perawatan seperti perkantoran administrasi.
3. Pembersihan permukaan yang sering disentuh seperti pegangan pintu, bed rails,
light switch.
 Bersihkan dinding, blinds dan jendela, tirai diarea perawatan pasien.
 Hindari metode pembersihan permukaan yang luas yang menghasilkan mist atau
aerosol
 Ikuti prosedur tepat yang efektif menggunakan mops, cloths and solution.
 Siapkan cairan pembersih setiap hari atau jika diperlukan, dan gunakan
cairan yang baru.
 Ganti mop setiap hari
 Bersihkan mop dan kain pembersih setelah dipakai dan dibiarkan kering
sebelum dipakai lagi
 Berikan perhatian ketat untuk pembersihan dan disinfeksi permukaan yang
sering disentuh diarea perawatan seperti charts, bedside commode, pegangan
pintu

4. Kamar Operasi
 Bersihkan kamar operasi setelah selesai operasi terakhir setiap hari, bersihkan
ruangan dengan wet vacum atau mop
 Bersihkan lantai dan dinding dengan menggunakan cairan disinfektan yang
terdaftar dengan label
 Jangan gunakan mats dipintu masuk ruang operasi
 Gunakan metode pembersihan debu yang tepat untuk pasien yang
immonocompromised
 Tutup pintu pasien immonocompromised saat membersihkan lantai. Segera
bersihkan dan dekontaminasi tumpahan darah atau material lain yang potensial
infeksi
5. Carpet diarea umum fasilitas pelayanan sarana kesehatan dan area umum
 Vacum carpet diarea umum fasilitas pelayanan sarana kesehatan dan area
umum pasien secara regular
 Secara periodik pembersihan sampai kedalam carpet
 Hindari penggunaan carpet didaerah keramaian di ruang perawatan pasien
 Hindari tumpahan darah seperti unit terapi, ruang operasi, laboratorium,
intensive care
6. Perawatan Bunga
 Bunga dan tanaman pot tidak dianjurkan diarea pelayanan pasien
 Perawatan dan pemeliharaan bunga dan tanaman pot dilakukan oleh petugas
khusus (bukan yang merawat pasien). Namun jika tidak ada petugas khusus
maka petugas memakai sarung tangan dan cuci tangan setelah melepas sarung
tangan
 Tidak mengizinkan bunga segar atau kering atau tanaman pot di area perawatan
 Lakukan pest control secara rutin.

Prinsip Pembersihan Lingkungan


 Pakai APD selama prosedur pembersihan dan disinfeksi
 Lakukan pembersihan dan disinfeksi untuk pengendalian lingkungan yang
terkontaminasi sesuai prosedur
 Pastikan kepatuhan dari petugas kebersihan untuk oembersihan dan disinfeksi
 Pakai cairan disinfektan yang sesuai
 Kultur permukaan lingkungan dapat dilakukan bila terjadi KLB
 Pembersihan dan disinfeksi lingkungan permukaan peralatan medis secara regular
 Anjurkan keluarga, pengunjung dan pasien tentang pentingnya kebersihan tangan
 Untuk meminimalkan penyebaran Mikroorganisme
 Jangan menggunakan disinfeksi tingkat tinggi untuk kebersihan lingkungan
 Jangan lakukan rendom pemeriksaan mikrobologi udara, air dan permukaan
lingkungan, bila indikasi lakukan sampling mikrobiologi sebagai investigasi
epidemiologi atau sepanjang pengkajian kondisi lingkungan berbahaya untuk
menditeksi atau verifikasi adanya bahaya
 Batasi sampling mikrobiologi untuk jaminan kualitas

d. Linen Pasien
 Kebersihan linen adalah tanggung jawab petugas
 Petugas harus mengganti pakaiannya yang terkontaminasi darah atau material
lain yang terkontaminasi infeksius dan mencucinya kebagian laundry
 Fasilitas dan peralatan loundry
o Pertahankan tekanan negatif pada ruangan kotor dibanding dengan
ruangan bersih
o Pastikan bahwa area laundry mempunyai sarana cuci tangan dan
tersedia APD
 Pakai dan pelihara peralatan laundry sesuai dengan intruksi pabrik
 Jangan biarkan pakaian direndam dimesin sepanjang malam
 Tangani pakaian kontaminasi dengan tidak mengibaskan untuk menghindari
kode warna
 Jangan diberikan penutup pada pakaian terkontaminasi di ruangan pasien tetapi
harus diganti
 Proses pencucian : Panas 71ºC, selama 25 menit.
 Pilih zat kimia yang sesuai
 Simpan pakaian agar terhindar dari debu
 Transportasi linen yang kotor, harus dibungkus sehingga tidak kena debu
 Jangan laukan pemeriksaan kultur rutin untuk pakaian bersih
 Lakukan pemeriksaan kultur selama outbreak jika ada epidemiologi evidence
 Gunakan linen steril, surgical drapes dan gaun untuk kondisi yang memerlukan
steril
 Gunakan pakaian bersih pada perawatan neonatus
 Jaga kasur tetep kering, lapisi dengan plastik kedap air
 Bersihkan dan disinfeksi tutup kasur dan bantal dengan menggunakan
disinfektan
 Bersihkan dan disinfeksi kasur dan bantal antar pasien

e. Binatang
 Anjurkan pasien menghindari dari kotoran, air liur, urine binatang
 Jangan membiarkan binatang anjing kucing berkeliaran disekitar puskesmas
 Bersihkan lengkungan puskesmas dari kotoran binatang.
f. Pembuangan sampah
Semua sampah yang dihasilkan dalam ruangan atau area isolasi harus dibuang
dalam wadah atau kantong yang sesuai :
 Untuk sampah infeksius gunakan kantong plastik kuning atau bila tidak
tersedia dapat menggunakan kantong plastik warna lain yang tebal atau lapis
dua (kantong ganda). Kemudian diikat dengan tali warna kuning atau di beri
tanda ”infeksius”. Semua sampah dari suatu ruangan/ area yang merawat
pasien dengan penyakit menular melalui udara (airborne) harus ditangani
sebagai sampah infeksius.
 Untuk sampah non-infeksius/ tidak menular gunakan kantong plastik hitam.
 Untuk sampah benda tajam atau jarum ditaruh dalam wadah tahan tusukan.

Kantong sampah apabila sudah. Bagian penuh harus segera diikat dengan tali dan
tidak boleh dibuka kembali.
Petugas yang bertanggung jawab atas pembuangan sampah dari bangsal/ area isolasi
harus menggunakan APD lengkap ketika membuang sampah.
Satu lapis kantong kuning sampah biasanya mamadai, bila sampah dapat dibuang
kedalam kantong tanpa mengotori bagian luar kantong. Jika hal tersebut tidak
mungkin dibutuhkan dua lapis kantong (kantong ganda).
Kantong pembuangan sampah perlu diberi label biohazard yang sesuai dan
ditangani dan dibuang sesuai dengan kebijakan puskesmas dan peraturan nasional
mengenai sampah puskesmas.
Limbah cair seperti urin atau feses dapat dibuang kedalam sistem pembuangan
kotoran yang tertutup dan memenuhi syarat dan disiram dengan air yang banyak.

7. Kesehatan karyawan/ perlindungan petugas kesehatan


Petugas kesehatan Puskesmas Parang Karawang setiap tahun dilakukan
pemeriksaan kesehatannya terutama petugas yang bekerja diruangan berisiko
terinfeksi, karena dapat mentransmisikan infeksi kepada pasien maupun petugas
kesehatan yang lain.
Semua karyawan baru seorang petugas kesehatan harus diperiksa riwayat pernah
infeksi apa saja, status imunisasinya.
Imunisasi yang diberikan untuk petugas kesehatan adalah hepatitis B, dan bila
memungkinkan A, influenza, campak, tetanus, difteri, rubella.
Petugas yang dinyatakan menderita penyakit menular akan dipantau dan diberikan
pengobatan sesuai penyakitnya
Petugas yang terpajan/ tertusuk jarum yang terinfeksi HIV, HBV, HCV segera
membersihkan daerah yang terluka dengan air mengalir dan berikan desinfektan,
kemudian lapor ke perawa jaga kalau diluar jam kerja, kemudian periks ake dokter
UGD atau kedokter penyakit dalam didalam jam kerja, kemudian periksa
laboratorium sesuai dengan pejanan, kemudian difllow up sesuai penyakitnya.
Alur paksa panjanan harus dibuat dan pastikan dipatuhu untuk HIV, HBV, HCV
nesseria meningitidis, MTB, hepatitis A, Difteri, Varicell zaster, bordetella pertusis,
rabies
Pajanan terhadap virus H5N1
Bila terjadi pajanan H5N1 diberikan oseltamivil 2x75Mg selama 5 hari. Monitor
kesehatan petugas yang terpajang sesuai dengan pormulir yang tersedia.
Pejanan terhadap virus HIV
Resiko terpajan 0,2 – 0,4 % perinjuri
Upaya menurunkan resiko terpajan patogen melaluidarah dapat melalu :
 Rutin menjalankan kewaspadaan setandar, memakai APD yang sesuai
 Menggunakan alat dengan aman, membuang limbah pada wadah yang tepat
 Edukasi petugas tentang praktek aman mengguanakan jarum, benda tajam.

Faktor yang dapat meningkatkan terjadinya infeksi paska pajanan :


 Tusukan yang dalam
 Tanpak darah pada alat penimbun pajanan
 Tusukan masuk kepembulu darah
 Sumber pajanan mengandung virus kadar tinggi
 Jarum berlubang ditengah
Tindakan pencegahan harus terinpormasi kepada seluruh petugas. Pelaturanya harus
termasuk memeriksa sumber pajanan, penata laksanaan jarum dan alat tajam yag
benar, alat pelindung diri, penata lakasanaan luka tusuk, sterilisasi dan disinfeksi.

Alur penata laksanaan pajanan dipuskesmas harus termasuk pemeriksaan


laboratorium yang harus dikerjakan, profilaksis paska pajanan harus telah diberikan
dalam waktu 4 jam paska pajanan, dianjurkan pemberian antiretroviral ( ARV )
kombinasi AJT ( Zidopudine ), 3 TC ( Lamivudine ) dan Indinavir atau sesuai
pedoman lokal.
Paska pajanan harus segera dilakukan pemeriksaan HIV serologi dan dicatat samapi
jadwal pemeriksaan monitoring lanjutannya kemungkinannya serokonversi. Petugas
terinpormasi tentang sindroma ARV akut, mononukliosis akut pada 70 – 90 %
infeksi HIV akut, melaporkan semua gejala sakit yang dialam selama 3 bulan .

Kemunhkinan resiko pajanan dapat terjadi kapan saja tetapi konseling, pemeriksan
laboratorium dan pemberian ARV harus dipasilitasi dalam 24 jam. Penelusuran
paska pajanan harus standar sampai waktu 1 tahun. Diulang tiap 3 bulan sampai 9
bulan ataupun 1 tahun.

Pajanan terhadap virus Hepatitib B


Probabilitas infeksi hepatitis B paska pajanan antara 1,9 – 40% perpajanan. Segera
paska pajanan harus dilakukan pemeriksaan. Petugas dapat terjadi infeksi bila
sumber pajanan positif HbSaG atau HbEAg
Profilaksi paska pajanan
Tidak perlu divaksinasi bila petugas telah mengandung anti HbS lebih dari 10
mlU/ml. Hb imunoglobulin IM segera, dianjurkan dalam waktu 40 jan dan lebih 1
minggu PP, dan 1 seri paksinasi hepatitis B dan dimonitordengan tes serologik.
Hepatitis B timbul pada individu dengan hepatitis B, ditransmisikan dengan cara
yang sama demikian dengan cara memonitornya.
Pajanan terhadap virus Hepatitis C
Transmisi sama dengan hepatitis B. Belum ada terapi provilaksi paska pejanan yang
dapat diberkan, tetapi perlu dilakukan meonotoring pemeriksaan adakah
serokonfersi dan didokumentasikan. Sumber pajanan juga harus diperiksa. Segala
pajanan patogen yang terjadi saat okupasi harus dilaklukan konseling, pemeriksaan
klinis dan harus dimonitor dengan pemeriksaan serologis.
Infeksi nesseriameningitidis
N meningitidis dapat ditransmisilan lewat sekresi respiratorik, jarang terjadi saat
okupasi. Perlu terapi provilaksis bila telah terjadi kontak erat petugas dengan pasie
misal saat resusitasi mulut ke mulut, diberikan rimfamfisin 2x60mg selama 2 hari
atau dosis tunggal Cyfrifloxacin 500 mg atau Ceptriakson Im.
Mikobakterium tuberkolosis transmisi kepada petuagas lewat air borne, droplet
nuclei biasanya dari pasien TB paru. Sekarang perlu perhatian hubungan antara TB,
infeksi HIV dan MDR TB. Petugas yang paska terekspos perlu di tes mantuk bila
indurasinya lebih dari 10mm perlu diberikan provilaksis INH sesuai rekomendas
lokal. Infeksi lain ( Varicella, hepatitis A, hepatitis E, influenza, pertusis, dipteria
dan rabies )
Transmisinya tidak basa, tetapi harusdibuat penata lakasanan untk petugas.
Dianjurkan vaksinasi untuk petugas terhadap varicella dan hepatitis A, rabies untuk
daerah yang indemis.
Kesehatan petugas dan pencegahan HALS
PENYAKIT MASA MENULAR CARA KEWASPAD MASA
INKUBASI SELAMA/VI TRANSM AAN YANG PETUGAS/REK
RUS ISI PERLUDIJA OMENDASI
SHEDDING LANAN
Abses Selama luka Kontak Kontak
mengeluarkan
tubuh

Acinetobacter Luka bakar Flora N Standar dan


baumanii yang di kulit kontak
hydroterapi manusia,
mukosa
membran
dan tanah.
Bertahan
di tempat
lembab
dan kering
sampai
berbulan,
menular
melalui
peralatan
rawat
respirasi,
tangan
petugas,
humindift
er,
stetoscop,
termomete
r, matras,
bantal,
permukaa
n TT,
mop,
gordeng,
tempat
mandi,
Adenovirus type 1- luka bakar
7
6-9 hr Sekret saluran Droplet,
nafas kontak
Aspergilosis

Candidiasis Infeksi Inhalasi Kontak dan


jaringan luas stadium airborne
Chlamidia dengan cara airborne,
C trachomitis berlebihan conidin
Standar,konta
k
Congenital
rubella Standar
kontak
langsung
termasuk
Congenitis seksual
*adenovirus type 8

Campak Sampai umur Kontak Standar,


1 tahun dengan kontak
bahan
nasofaring
dan urin

5-12 hari 14 hari setelah Kontak Kontak, Sampai mata


onset dengan standar tidak keluar
Campilobacter tangan, kotoran
alat
Clostridium terkontami
dufficille nasi
5-12 hari 3-4 hari Droplet Transmisi Retiksi 7 hari
setelah bercak yang besar udara setelah bercak
Cytomegalo virus timbul ( kontak merah timbul (
melalui dekat ) & yang imun ) 5
nasofaring udara hari setelah
ekspos – 21 hari
setelah ekspos

Difteria Standar

Kontak

Tidak Tahan Kontak Standar, hand Tidak perlu


diketahui dilingkungan dengan hygiene
Gastroenteritis dalam waktu sekresi &
*salmonella pendek ekskresi :
*Shigella saliva &
*yenterocolitca urin

Giardia lamblia
Sekresi Dopler, Sampai terapi
Hepatitis A dari mulut kontak antibiotika telah
mengandu lengkap dan
ng c sampai 2 kultur
difteriae berjarak 24 jam
dinyakatan
negatif, perlu
imunisasi tiap 10
thn
Hepatitis B,D

Kontak Standar atau Tidak mengolah


px, kontak makanan sampai
konsumsi 2xjarak 24 jam
makanan/a kultur feses
ir negatif
terkontami
nasi

Feses Kontak
Hepatitis C,F,G

15-50 hari 2 minggu, Fekal oral, Standar Libur di area


kadang – melalui perawatan/
kadang feses pengolahan
sampai 6 makanan,1
bulan(prematu minggu setelah
r) sakit kuning
imunisasi paska
ekspos

Herpes simplex B:6-24 Akut atau Perkutane Standar Tidak perlu


minggu kronik dengan us,mukosa dibatasi sampai
D:3-7 minggu HbsAg positif ,kulit yang HbeAg negatif
tidak utuh
kontak
dengan
darah,
semen,cair
an
vagina,cai
ran tubuh
yang lain

HIV Perkutane Standar


us,mukosa
,kulit yang
tidak utuh
kontak
dengan
darah,sem
en,cairan
vagina,cai
ran tubuh
yang lain
2-14 hari
Helicobacterpylori Asimptomati Kontak Standar, Restriksi tidak
dapat dengan kontak tangan perlu , tapi batasi
MDRO( mengeluarkan ludah kontak dengan px
MRSA,VRE,VISA, virus karier
ESBL,Strep mengandu
pneumonia ng virus
langsung/
lewat
Influenza sekresi
luka
aberasi /
cairan
vesikel

Perkutane Standar
us,mukosa
,kulit yang
tidak
utuhkonta
k dengan
darah,sem
en,cairan
vagina,cai
Hemophilus ran tubuh
influenzae yang lain
 Dewasa
 *anak Standar

Human
Metapneumo virus Kontak Kontak
(HMPV) luka

Norovirus

N meningitidis 1-5 hari Infeksius pada Airborne, Kontak Vaksinasi pada


3 hari prtama kontak petugas yang
sakit.Virus langsung rentan.Amantadin
dapat atau untuk kontak
dikeluarkan droplet dengan influenza
sebelum dengan A
gejala timbul sekresi
sampai 7 hari saluran
setelah napas
melalui
sakit,lebih
panjang pada
anak dan
orang

Standar
Droplet

Batuk non Droplet Kontak,Dropl


produktif, sekret et
kongesti nasal respirasi
wheezine,bro
nkhiolitis,pne
umonia pada
anak + 11,5
tahun

12-48 jam Diare,KLB Makanan, Kontak,maka


air nan,air
terkontami
nasi feses
2-10 hari
Kontak Transmisi
dengan melalui
sekret droplet
saluran
napas
Parotitis/ Mumps 16-18 hari(12- Coommunity Kontak Tranmisi Libur sampai 2
25hari) acquired, dengan droplet jam setelah terapi
virus berada droplet paska
dalam saliva atau ekspos.Rifampin
6-7hari langsung 2x600 mg, 2 hari
sebelum dengan ciprofloxacin 1x
parotitis sekret 500 mg atau
sampai 9 hari saluran ceftriaxon 250 mg
setelah onset napas, IM
Px yaitu
immunokomp saliva, Vaksinasi
romais hidung&m efektif,MMR
ulut Restriksi sampai
9 hari setelah
Parvovirus/B19 6-10 hari Menular Kontak Transmisi onset parotitis
sebelum dengan droplet petugas rentan :12
bercak merah droplet hari paska ekspos
sampai 7 hari besar, pertama sampai
setelah onset muntahan 25 hari setelah
ekspos terakhir.
Pertusis 7-10 hari F catarrhal Kontak Transmisi
sangat dengan droplet
menular sekresi sal sampai 5 hari
napas, menerima
droplet antibiotik Tidak Perlu
besar restriksi
kontak
dekat
Vaksin
direkomen umur
11-64th petugas
dengan pertusis :
Restriksi fase
Poliomyelitis Nonparalitik : Sal napas 1 Kontak Transmisi catarrhal sampai
3-6hari; minggu cairan sal kontak minggu 3 setelah
paralitik 7- setelah gejala napas, onset atau 5 hari
21hari muncul, benda setelah teraphi
dalam feses terkontami antibiotik kontak
beberapa nasi feses saja tidak perlu
minggu-bulan restriksi.
setelah gejala
muncul

Rubella 12-23 hari Sangat Kontak Transmisi Imunisasi


bintik nerah menular saat dengan droplet dan direkomendasian
timbul 14- bintik merah droplet kontak
16hari setelah keluar, virus nasofaring dengan cairan
ekspos dilepas 1 Px sal napas
minggu
sebelum
sampai 5-7
hari setelah
onset,
congenital 5 hari setelah
rubella bisa bintik keluar
melepas virus petugas rentan 7
berbulan hari setelah
bertahun- ekspos pertama
tahun sampai 21 hari
setelah ekspos
RSV (infeksi virus 2-8 hari Orang sakit Tangan Transmisi terakhir.
respiratorik) (tersering 4- dapat terkontami kontak erat
6hari) mengeluarkan nasi saat dengan
virus selama merawat droplet atau
3-8 hari tapi pasien aerosol
pada bisa atau partikel kecil
anak 3-4 menyentu
minggu h benda
mati,
transmisi
RSV bila Batasi kontak
menyentu dengan pasien
h mata rawat dan
atau lingkungan bila
hidung ada KLB RSV
Restriksi sampai
MRSA Kontak Standar, gejala akut
tangan transmisi hilang.
petugas, kontak,dapat
mungkin airborne
karier nares
anterior,
tangan,
axilla,perineu
m,nasofaring,
orofaring
Restriksi
Streptococ A Kontak sisi Kulit, Standar, perawatan pasien
terinfeksi& faring, berdasar dan pengolahan
mensekresi rektum, transmisi makanan bila
vagina petugas dengan
lesi kulit basah.
Tidak perlu
restriksi bila
kolonisasi

Salmonella, Orang- Restriksi


shigella orang perawatan pasien
lewat &pengolahan
fekal oral, makanan sampai
air/ 24 jam setelah
makanan mendapat terapi
terkontami antibiotik. Tidak
nasi perlu restriksi
petugas dengan
Syphilis Kontak Kontak kolonisasi
langsung
dengan
lesi primer
atau
sekunder
syphilis

Tuberkulosis
Sampai 1 Inhalasi Airborne,
bulan minum droplet kontak
OAT nuklei (mengeluarka
n c tubuh
infeksius)
Varicella
Sampai lesi Airborne,
kering&berkr kontak
usta standar

Sampai terbukti
non infectius

Vibrio Kolera
Zoster Kontak 8 hari paska
feses kontak sampai 21
*lokal hari paska kontak,
Tutupi lesi, beri imuno
jangan kontak globulin IV paska
dengan pasien kontak, imunisasi
rawat petugas paska
*menyeluruh atau pajanan dalam 4
orang immuno Jangan kontak hari.
kompromais dengan pasien

*paska pajanan
(person yang Jangan kontak
rentan) dengan pasien Restriksi sampai
rawat lesi mengering
dan mengelupas
Restriksi sampai
semua lesi kering
dan mengelupas

Dari hari ke10


paska pajanan
pertama
sampaihari ke21
atau hari 28 bila
diberi lagi atau
sampai lesi kering
dan mengelupas.
Tabel 4 : Kesehatan petugas dan pencegahanHAIs.

Tindakan pertama pada pejanan bahan kimia tau cairan tubuh


 Pada mata : bilas dengan air mengalir – 15 menit
 Pada kulit : bilas dengan air mengalir – 1 menit
 Pada mulut : segera kumur-kumur – 1 menit.
 Lapor ke komite PPI, Panitia K3RS atau ke dokter karyawan.

6.2. Program pada Petugas Kesehatan


Adalah program sebagai strategi preventif terhadap infeksi yang dapat di transmisikan
dalam kegiatan pelayanan kesehatan, antara lain:
 Monitoring dan suport kesehatan petugas
 Vaksinasi bila dibutuhkan
 Vaksinasi terhadap infeksi saluran napas akut bila memungkinkan
 Menyediakan anti virus profilaksis
 Surveilans ILI membantu mengenal tanda awal transmisi infeksi saluran napas akut
dari manusia-manusia
 Terapi dan follo up epi/ pandemic infeksi saluran napas akut pada petugas.
 Rencanakan petugas diperbolehkan masuk sesuai pengukuran risiko bila terkena
infeksi.
 Upayakan support psikososial.

Tujuannya :
 Menjamin keselamatan petugas dilingkungan puskesmas.
 Memelihara kesehatan petugas kesehatan
 Mencegah ketidakhadiran petugas, ketidakmampuan bekerja, kemungkinan
medikolegal dan KLB.

Unsur yang dibutuhkan


 Petugas yang berdedikasi
 SOP yang jelas dan tersosialisasi
 Administrasi]yang menunjang
 Koordinasi yang baik antar instalasi/ unit
 Penanganan paska pajanan infeksius
 Pelayanan konseling
 Perawatan dan kerahasiaan medikal record

Evaluasi sebelum dan setelah penempatan


Meliputi :
 Status imunisasi
 Riwayat kesehatan yang lalu
 Terapi saat ini
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

Edukasi
Sosialisasi SOP pencegahan dan pengendalian infeksi misal : Kewaspadaan Isolasi,
Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan berbasis transmisi, Kebijakan Departemen
Kesehatan tenatang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) terkini.

Program Imunisasi
 Keputusan pelaksanaan imunisasi petugas tergantung pada :
 Risiko ekspos petugas
 Kontak petugas dengan pasien
 Karakteristik pasien Puskesmas
 Dana Puskesmas

Riwayat imunisasi yang tercatat baik secara periodik menyiapkan apakah seorang petugas
memerlukan booster atau tidak. Imunisasi influenza dianjurkan sesuai dengan strain yang
ada.
ALUR PASKA PAJANAN

PETUGAS YANG TERPAJAN

DOKTER PENYAKIT DALAM /IGD

IPCN/ K3 RS LABORATORIUM

Gambar 5 : Alur Paska Pajanan

7. Penempatan Pasien
7.1. Penanganan Pasien Dengan Penyakit Menular/ Suspek
 Terapkan dan lakukan pengawasan terhadap Kewaspadaan Standar untuk kasus
/ dugaan kasus penyakit menular melalui udara :
 Letakkan pasien didalam satu ruangan tersendiri. Jika ruangan tersendiri ntidak
tersedia, kelompokkan kasus yang telah dikonfirmasi secara terpisah didalam
ruangan atau bangsal dengan beberapa tempat tidur dari kasusu yang belum
dikonfirmasi atau sedang didiagnosis ( kohorting ). Bila ditempatkan dalam 1
ruangan, jarak antar tempat tidur harus lebih dari 2 meter dan diantara tempat
tidur harus ditempatkan penghalang fisik seperti tirai atau sekat.
 Jika memungkinkan, upayakan ruangan tersebut dialiri udara bertekanan
negatif yang dimonitor ( ruangan bertekanan negatif ) dengan 6-12 pergantian
udara per jam dan system pembuangan udara keluar atau menggunakan
saringan udara partikulasi efisiensi tinggi ( filter HEPA ) yang termonitor
sebelum masuk ke sistem sirkulasi udara lain di Puskesmas.
 Jika tidak tersedia ruangan bertekanan negatif dengan sistem penyaringan udara
partikulasi efiesiensi tinggi, buat tekanan negatif didalam ruangan pasien
dengan memasang pendingin ruangan atau kipas angin dijendela sedemikian
rupa agar aliran udara keluar gedung melalui jendela. Jendela harus membuka
keluar dan tidak mengarah kedaerah publik. Uji untuk tekanan negatif dapat
dilakukan dengan menempatkan sedikit bedak tabur dibawah pintu dan amati
apakah terhisap kedalam ruangan. Jika diperlukan kipas angin tambahan
didalam ruangan dapat meningkatkan aliran udara.
 Jaga pintu tertutup setiap saat dan jelaskan kepada pasien mengenai perlunya
tindakan tindakan pencegahan ini.
 Pastikan setiap orang yang memasuki ruangan memakai APD yang sesuai :
masker ( bila memungkinkan masker efisiensi tinggi harus digunakan, bila
tidak, gunakan masker bedah sebagai alternatif ) gaun, pelindung wajah atau
pelindung mata dan sarung tangan.
 Pakai sarung tangan bersih, non steril ketika masuk ruangan.
 Pakai gaun yang bersih, non- steril ketika masuk ruangan jika akan
berhubungan dengan pasien atau kontak dengan permukaan atau barang -
barang didalam ruangan.

Pertimbangkan pada saatpenempatan pasien :


 Kamar terpisah bila dimungkinkan kontaminasi luas terhadap lingkungan, misal :
luka lebar dengan cairan keluar, diare, perdarahan tidak terkontrol
 Kamar terpisah dengan pintu tertutup diwaspadai transmisi melalui udara kekontak,
misal : luka dengan infeksi kuman gram positif.
 Kamar terpisah atau kohort dengan ventilasi dibuang keluar dengan exhaust ke area
tidak ada orang lalu lalang, misal : TBC
 Kamar terpisah dengan udara terkunci bila diwaspadai transmisi airborne luas, misal
: varicella
 Kamar terpisah bila pasien kurang mampu menjaga kebersihan ( anak, gangguan
mental ).
Bila kamar terpisah tidak memungkinkan dapat kohorting. Bila pasien terinfeksi
dicampur dengan non infeksi maka pasien, petugas dan pengunjung menjaga
kewaspadaan untuk mencegah transmisi infeksi.

7.2. Transport pasien infeksius


 Dibatasi, bila perlu saja.
 Bila mikroba pasien virulen, 3 hal perlu diperhatikan :
o Pasien diberi APD ( masker, gaun)
o Petugas diarea tujuan harus diingatkan akan kedatangan pasien tersebut
melaksanakan kewaspadaan yang sesuai
o Pasien diberi informasi untuk dilibatkan kewaspadaannya agar tidak
terjadi transmisi kepada orang lain.

Pasien yang didiagnosis menderita SARS atau flu burung


 Jangan izinkan mereka meninggalkan tempat isolasi kecuali untuk pelayanan
kesehatan yang lebih penting.
 Pindahkan pasien melalui alur yang dapat mengurangi kemungkinan
terpajannya staf, pasien lain atau pengunjung
 Bila pasien dapat menggunakan masker bedah, petugas kesehatan harus
menggunakan gaun pelindung dan sarung tangan. Bila pasien tidak dapat
menggunakan masker, petugas kesehatan harus menggunakan masker, gaun
pelindung, dan sarung tangan.

7.3. Pemindahan pasien yang dirawat diruang isolasi


Batasi pergerakan dan transportasi pasien dari ruangan isolasi hanya untuk
keperluan penting. Lakukan hanya jika diperlukan dan beritahu tempat yang akan
menerima sesegera mungkin sebelum pasien tiba. Jika perlu dipindahkan dari
ruangan/ area isolasi dalam puskesmas, pasien harus dipakaikan masker dan gaun.
Semua petugas yang terlibat dalam transportasi pasien harus menggunakan APD
yang sesuai. Demikian pula jika pasien perlu dipindahkan keluar fasilitas pelayanan
kesehatan. Semua permukaan yang kontak dengan pasien harus dibersihkan. Jika
pasien dipindahkan menggunakan ambulance, maka sesudahnya ambulance tersebut
harus dibersihkan dengan disinfektan seperti alkohol 70%atau larutan klorin 0,5%

Keluarga Pendamping pasien di Puskesmas


Perlu edukasi oleh petugas agar menjaga kebersihan tangan dan menjalankan
kewaspadaan isolasi untuk mencegah penyebaran infeksi kepada mereka sendiri
ataupun kepada pasien lain. Kewaspadaan yang dijalankan seperti yang dijalankan
oleh petugas kecuali pemakaian sarung tangan.

7.4. Pemulangan Pasien


 Upaya pencegahan infeksi harus tetap dilakukan sampai batas waktu masa
penularan.
 Bila dipulangkan sebelum masa isolasi berakhir, pasien yang dicurigai terkena
penyakit menular melalui udara/ airborne harus diisolasi didalam rumah selama
pasien tersebut menglami gejala sampai batas waktu penularan atau sampai
diagnosis alternatif dibuat atau hasil uji diagnosa menunjukkan bahwa pasien
tidak terinfeksi dengan penyakit tersebut. Keluarga harus diajarkan cara menjaga
kebersihan diri, pencegahan dan pengendalian infeksi serta perlindungan diri.
 Sebelum pemulangan pasien, pasien dan keluarganya harus diajarkan tentang
tindakan pencegahan yang perlu dilakukan, sesuai dengan cara penularan penyakit
menular yang diderita pasien. ( contoh Lampiran D : Pencegahan, Pengendalian,
Infeksi, dan penyuluhan Bagi keluarga atau Kontak pasien Penyakit Menular )
 Pembersihan dan disinfeksi ruangan yang benar perlu dilakukan setelah
pemulangan pasien.

7.5. Pemulasaraan Jenazah


 Petugas kesehatab harus menjalankan Kewaspadaan Standar ketika menangani
pasien yang meninggal akibat penyakit menular.
 APD lengkap harus digunakan petugas yang menangani jenazah jika pasien tersebut
meninggal dalam masa penularan.
 Jenazah harus terbungkus seluruhnya dalam kantong jenazah yang tidak mudah
tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah.
 Jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
 Pindahkan sesegera mungkin kekamar jenazah setelah meninggal dunia.
 Jika keluarga pasien ingin melihat jenazah, diijinkan untuk melakukannya sebelum
jenazah dimasukkan kedalam kantong jenazah dengan menggunakan APD.
 Petugas harus memberi penjelasan kepada pihak keluarga tentang penanganan
khusus bagi jenazah yang meninggal dengan penyakit menular. Sensitivitas agama,
adat istiadat dan budaya harus diperhatikan ketika seorang pasein dengan penyakit
menular meninggal dunia.

7.6. Pemerikasaan Post Mortem


Pemeriksaan post mortem pada seseorang yang menderita atau kemungkinan
menderita penyakit menular harus dilakukan dengan hati – hati, apalagi jika psien
meninggal dunia selama masa penularan. Jika pasien masih menyebar virus ketika
meninggal, paru parunya mungkin masih mengandung virus. Oleh karena itu, kalau
melakukan suatu prosedur pada paru-paru jenazah, APD lengkap harus digunakan
yang meliputi masker N-95, sarung tangan, gaun, pelindung mata dan sepatu
pelindung.

Mengurangi resiko timbulnya aerosol selama autopsi


 Selalu gunakan APD
 Gunakan selubung vakum untuk gergaji getar
 Hindari penggunaan semprotan air tekanan tinggi
 Buka isi perut sambil disiram dengan air.

Meminimalisasi risiko dari Jenazah yang terinfeksi


Ketika melakukan pemotongan paru, cegah produksi aerosol dengan :
 Hindari penggunaan gergaji listrik
 Lakukan prosedur dibawah air.
 Hindari pajanan ketika mengeluarkan jaringan paru.
Sebagai petunjuk umum, terapkan Kewaspadaan Standar sebagai berikut :
 Gunakan peralatan sesedikit mungkin ketika melakukan otopsi.
 Hindari penggunaan pisau bedah dan gunting dengan ujung yang runcing
 Jangan memberikan instrumen dan peralatan dengan tangan, selalu gunakan
nampan.
 Jika memungkinkan, gunakan instrumen dan peralatan sekali pakai
 Upayakan jumlah petugas seminimal mungkin dan dapat menjaga diri masing-
masing
 Perawatan jenazah/ persiapan sebelum pemakaman
 Petugas kamar jenazah atau tempat pemakaman harus diberi tahu bahwa
kematian pasien adalah akibat penyakit menular agar kewaspadaan Standar
diterapkan dalam penanganan jenazah.
 Penyiapan jenazah sebelumdimakamkan seperti pembersihan, pemandian,
perapian rambut, pemotongan kuku, pencukuran, hanya boleh dilakukan oleh
petugas khusus kamar jenazah.

8. Hygiene respirasi/ etika batuk


Kebersihan pernapasan dan etika batuk adalah dua cara penting untuk mengendalikan
penyebaran infeksi di sumbernya.

Semua Pasien, pengunjung, dan petugas kesehatan harus dianjurkan untuk selalu
mematuhi etika batuk dan kebersihan pernapasan untuk mencegah sekresi pernapasan.
Saat anda batuk atau bersin :
 Tutup hidung dan mulut anda
 Segera buang tisu yang sudah dipakai
 Lakukan kebersihan tangan

Di fasilitasi pelayanan kesehatan. Sebaiknya gunakan masker bedah bila Anda sedang
batuk. Etika batuk dan kebersihan pernapsan harus diterapkan disemua bagian puskesmas,
dilingkungan masyarakat, dan bahkan di rumah.

Tindakan penting ini harus selalu dilakukan untuk mengendalikan sumber infeksi
potensial.

9. Praktek Menyuntik Yang aman


 Pakai jarum yang steril, sekali pakai, pada tiap suntikan untuk mencegah
kontaminasi pada peralatan injeksi danterapi.
 Bila memungkinkan sekali pakai vial walaupun multidose. Jarum atau spuit yang
dipakai ulang untuk mengambil obat dalam vial multidose dapat menimbulkan
kontaminasi mikroba yang dapat menyebar saat obat dipakai untuk pasien lain.

10. Praktek untuk Lumbal Punksi


Pemakaian masker pada insersi cateter atau injeksi suatu obat kedalam area spinal/
epidural melalui prosedur lumbal punksi misal saat melakukan anastesi spinal dan
epidural, myelogram, untuk mencegah transmisi droplet flora orofaring.

B. Kewaspadaan Isolasi ( Isolation Precautions )


Kewaspadaan isolasi diterapkan secara rutin dalam perawatan seluruh pasien dalam
puskesmas baik terdiagnosis infeksi, diduga terinfeksi atau kolonisasi. Bertujuan untuk
mencegah transmisi silang sebelum diagnosis ditegakkan atau hasil pemeriksaan
laboratorium belum ada, strategi utama untuk PPI adalah menyatukan kewaspadaan
satandar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi. Kewaspadaan standar seperti yang
sudah diuraikan diatas dengan melaksanakan 10 pilar pencegahan dan pengendalian
infeksi.

1. Kewaspadaan berdasarkan transmisi

Dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba penyebab infeksi dibuat
untuk diterapkan terhadap pasien yang diketahui maupun dugaan terinfeksi atau
terkolonisasi patogen yang dapat di transmisikan lewat udara, droplet, kontak dengan
kulit atau permukaan terkontaminasi.
Jenis Kewaspadaan berdasarkan transmisi :
a. Kontak
b. Melalui droplet
c. Melalui udara ( Airborne )
d. Melalui common vehicle (makanan, air, obat, peralatan )
e. Melalui vektor (lalat, nyamuk, tikus)
Catatan : suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara.
Kewaspadaan berdasarkan transmisi ini dapat dilaksanakan secara terpisah ataupun
kombinasi dengan Kewaspadaan Standar seperti kebersihan tangan dengan mencuci
tangan sebelum dan sesudah tindakan menggunakan sabun, antiseptik ataupun
antiseptik berbasis alkohol, memakai sarung tangan sekali pakai bila kontak dengan
cairan tubuh, gaun pelindung dipakai bila terdapat kemungkinan terkena percikan
cairan tubuh, memakai masker, goggle untuk melindungi wajah dari percikan cairan
tubuh.
Sebagai tambahan kewaspadaan Standar, terutama setelah terdiagnosis jenis
infeksinya.
Rekomendasi (3)
Rekomendasi dikategorikan sebagai berikut :
 Kategori IA :
Sangat direkomendasikan untuk seluruh puskesmas, telah didukung penelitian
dan studi epidemiologi.

 Kategori IB :
Sangat direkomendasikan untuk seluruh puskesmas dan telah ditinjau efektif
oleh para ahli dilapangan. Dan berdasarkan kesempatan HICPAC ( Hospital
Infection Control Advisory Committee ) sesuai dengan bukti rasional walaupun
mungkin belum dilaksanakan suatu studi scientifik.
 Kategori II :
Dianjurkan untuk dilaksanakan dirumahsakit. Anjuran didukung studi klinis dan
epidemiologik, teori rasional yang kuat, studi dilaksanakan di beberapa
puskesmas.
 Tidak direkomendasi :
Masalah yang belum ada penyelesaiannya.
Belum ada bukti ilmiah yang memadai atau belum ada kesepakatan mengenai
efikasinya.

a. Kewaspadaan transmisi Kontak ( 5,7,10 )


Cara transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan HAIs. Ditujukan
untuk menurunkan risiko transmisi mikroba yang secara epidemiologi di
transmisikan melalui kontak langsung atau tidak langsung. Kontak langsung
meliputi kontak permukaan kulit terluka/ abrasi orang yang rentan/ petugas
dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misal perawat membalikkan
tubuh pasien, memandikan, membantu pasien bergerak., dokter bedah
dengan luka basah saat mengganti verband petugas tanpa sarung tangan
merawat oral pasien HSV atau scabies.

Transmisi kontak tidak langsung terjadi kontak antara orang yang rentan
dengan benda yang terkontaminasi mikroba infeksius dilingkungan,
instrumen yang terkontaminas, jarum, kassa, tangan terkontaminasi dan
belum dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien
satu dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan cairan
sekresi pasien terinfeksi yang di transmisikan melalui tangan petugas atau
benda mati dilingkungan pasien.

Sebagai cara transmisi tambahan melalui droplet besar pada patogen infeksi
saluran napas misal : para influenza, RSV, SARS, H5N!.(10)
Pada pedoman Isolation tahun 2007, dianjurkan juga kenakan masker saat
dalam radius 6-10 kaki dari pasien dengan mikroba virulen.

Diterapkan terhadap pasien dengan infeksi atau terkolonisasi (ada mikroba


pada atau bdalam pasien tanpa gejala klinis infeksi) yang secara
epidemiologi mikrobanya dapat ditransmisikan dengan cara kontak langsung
atau tidak langsung. ( Kategori IB)
Petugas harus menahan diri untuk menyentuh mata, hidung, mulut saat
masih memakai sarung tangan terkontaminasi ataupun tanpa sarung tangan.

Hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang tidak berhubungan


dengan perawatan pasien misal : pegangan pintu, tombol lampu, telepon
(10)

b. Kewaspadaan transmisi droplet (6,10,11)


Diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan Standar terhadap pasien dengan
infeksi diketahui atau suspek mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan
melalui droplet (>5 µm). Droplet yang besar terlalu berat untuk melayang
diudara dan akan jatuh dalam jarak 1-2 m dari sumber (10,11) Transmisi
droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mucus membrane hidung/
mulut, orang rentan dengan droplet partikel besar mengandung mikroba
berasal dari pasien pengidap atau carrier dikeluarkan saat batuk, bersin,
muntah, bicara, selama prosedur suction, bronkhoskopi. Dibutuhkan jarak
deket anatara sumber dan resipien<3 kaki. Karena droplet tidak bertahan
diudara m.

Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mucus membrane atau


terinhalasi. Transmisi droplet kekontak, yaitu droplet mengkontaminasi
permukaan tangan dan ditransmisikan ke sisi lain misal : mukosa,
membrane.
Transmisi jenis ini lebih sering terjadi daripada transmisi droplet langsung
misal : commoncold, respiratory syncitial virus (RSV).
Dapat terjadi saat pasien terinfeksi batuk, bersin, bicara, intubasi
endotrakheal, batuk akibat induksi fisioterapi dada, resusitasi
kardiopulmoner.

c. Kewaspadaan transmisi melalui udara ( Airborne Precautions) (4,10)


kewaspadaan transmisi melalui udara ( kategori IB) diterapkan sebagai
tambahan kewaspadaan Standar terhadap pasien yang diduga atau telah
diketahui terinfeksi mikroba yang secara epidemilogi penting dan di
transmisikan melalui jalur udara. Seperti misalnya transmisi partikel
terinhalasi (varicella zoster) langsung melalui udara.

Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi udara mikroba penyebab


infeksi baik yang ditransmisikan berupa droplet nuklei ( sisa partikel
kecil<5µm evaporasi dari droplet yang bertahan lama diudara) atau partikel
debu yang mengandung mikroba penyebab infeksi. Mikroba tersebut akan
terbawa aliran udara >2m dari sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan
diruang yang sama dan jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada
factor lingkungan, misal penanganan udara dan ventilasi yang penting dalam
pencegahan transmisi melalui udara, droplet nuklei atau sisik kulit
terkontaminasi ( S. Aureus).

Tabel 5 : KEWASPADAAN BERBASIS TRANSMISI

KEGIATAN KONTAK DROPLET UDARA/ AIRBONE


Penempatan Tempatkan diruang Tempatkan pasien di ruang Tempatkan pasien
rawat terpisah, bila terpisah, bila tidak diruang terpisah yang
tidak mungkin mungkin kohortin. Bila mempunyai :
kohorting, bila keduanya tidak mungkin, 1. tekanan negatif
keduanya tidak buat pemisah dengan jarak 2. aliran udara 6-
mungkin maka >1 meter antar TT dan 12X/ jam
pertimbangkan jarak dengan pengunjung. 3. pengeluaran
epidemiologi mikroba Pertahankan pintu terbuka, udara terfiltrasi
dan populasi pasien. tidak perlu penanganan sebelum udara
Bicarakan dengan khusus terhadap udara dan mengalir ke
petugas PPI (kategori ventilasi (kategori IB ) ruang atau
IB) tempatkan dengan tempat lain di
jarak >1meter 3 kaki Puskesmas.
antar TT jaga agar tidak Usahakan opintu
ada kontaminasi silang ruang pasien
kelingkungan dan tertutup. Bila
pasien lain (kategori IB) ruang terpisah
tidak
memungkinkan,
tempatkan
pasien dengan
pasien lain yang
mengidap
mikroba yang
sama, jangan
dicampur
dengan infeksi
lain (kohorting)
dengan
jarak>1meter.
Konsultasikan
dengan petugas
PPIRS sebelum
menempatkan
pasien bila
tidak ada ruang
isolasi dan
kohorting tidak
memungkinkan.
(kategori IB)

Batasi gerakan dan


transport pasien
Transport Batasi gerak dan hanya kalau
Pasien transportasi untuk batasi diperlukan saja. Bila
Batasi gerak, transport droplet dari pasien dengan perlu untuk
pasien hanya kalau mengenakan masker pada pemeriksaan pasien
perlu saja. Bila pasien (kategori IB ) dan dapat diberi masker
diperlukan pasien menerapkan hygiene bedah untuk cegah
keluar ruangan perlu respirasi dan etika batuk menyebarkan
kewaspadaan agar risiko droplet nuclei
minimal transmisi (kategori IB)
kepasien lain atau
lingkungan (kategori IB
)
Perlindungan saluran
napas
APD Petugas Masker Kenakan masker
Pakailah bila bekerja respirator ( N95/
dalam radius 1m terhadap Kategori N pada efisiensi
Sarung tangan dan pasien (kategori IB ), saat 95%) saat masuk ruang
cuci tangan kontak erat masker pasien atau suspek TB
Memakai sarung tangan seyogyanya melindungi paru. Orang yang rentan
bersih non steril, lateks hidung dan mulut, pakai seharusnya tidak boleh
saat masuk keruang saat memasuki ruang masuk ruang pasien yang
pasien, ganti sarung diketahui atau suspek
APD Petugas tangan setelah kontak Rawat pasien dengan campak, cacar air kecuali
dengan bahan infeksius infeksi saluran napas. petuga yang telah imun.
(feses, cairan drain)
Lepaskan sarung tangan Bila terpaksa harus
sebelum keluar dari masuk maka harus
kamar pasien dan cuci mengenakan masker
tangan dengan respirator untuk
antiseptic (kategori IB) pencegahan. Orang yang
Gaun telah pernah sakit
Pakaian gaun bersih, campak atau cacar air
tidak steril saat masuk tidak perlu memakai
ruang pasien untuk masker (kategori IB)
melindungi baju dari Masker Bedah/ prosedur
kontak dengan pasien, (min) sarung tangan
permukaan lingkungan, gaun goggel bila
barang diruang pasien, melakukan tindakan
cairan diare pasien, dengan kemungkinan
ileostomy, coloctomy, timbul aerosol.
luka terbuka. Lepaskan
gaun sebelum keluar
ruangan. Jaga agar tidak
ada kontaminasi silang
kelingkungan dan
pasien lain (kategori IB
)
Apron Transmisi pada TB
Bila gaun permeable, Sesuai pedoman TB
untuk mengurangu CDC ”Guidelinefor
Peralatan penetrasi cairan, tidak Tidak perlu penanganan Preventing of
untuk dipakai sendiri udara secara khusus karena tuberculosis in
perawatan mikroba tidak bergerak Healthcare Facilities”
pasien jarak jauh. dan referensi nomor 10.
Bila memungkinkan
peralatan nonkritikal
dipakai untuk 1 pasien
atau dengan infeksi
mikroba yang sama,
bersihkan dan disinfeksi
mikroba yang sama. MTB (obligat airborne)
Bersihkan dan campak, cacat air
Peralatan disinfeksi sebelum (kombinasi transmisi)
Untuk dipakai untuk pasien B. pertussis, SARS, RSV Norovirus (partikel feses,
Perawatan lain (kategori IB) influenza, Adenovirus, vomitus), Rotavirus
Pasien Rhinovirus,N.meningitidis, melalui partikel kecil
streptococ grup A, aerosol.
Mycoplasma pneumoniae.
MDRO, MRSA, VRSA,
VISA, VRE, MDRSP (
Strep pneuminiae)
Virus Herpes simplex
SARS RSV ( indirex
mel mainan), S. Aureus,
MDRO, VRE, C.
Difficile,P. Aeruginosa,
influenza, Norovirus
(juga makanan dan air )

Disinfeksi tangan adalah kewaspadaan isolasi yang terpenting.

Tujuan terpenting PPI adalah menjaga petugas, peralatan dan permukaan tetap bersih.
Bersih diartikan :
 Bebas dari kotoran
 Telah dicuci setelah terakhir dipakai
 Penjagaan kebersihan tangan personal
 Bebas polutan dan bahan tidak diinginkan

d. Peraturan untuk kewaspadaan isolasi


Harus dihindari transfer mikroba patogen antar pasien dan petugas sat perawatan
pasien rawat inap.
Perlu dijalankan hal berikut :
1. Kewaspadaan terhadap semua darah dan cairan tubuh ekresi dan sekresi dari
seluruh pasien untuk meminimalisir risiko transmisi infeksi.
2. Dekontaminasi tangan sebelum kontak diantara pasien.
3. Cuci tangan setelah menyentuh bahan infeksius (darah dan cairan tubuh ).
4. Gunakan teknik tanpa menyentuh bila memungkinkan untuk menghindari
menyentuh bahan infeksius.
5. Pakai sarung tangan saat harus atau mungkin kontak dengan darah dan
cairan tubuh serta barang yang terkontaminasi. Disinfeksi tangan segera
setelah melepas sarung tangan. Ganti sarung tangan antara pasien.
6. Penanganan limbah feses, urin, dan sekresi pasien yang lain dalam lubang
pembuangan yang disediakan, bersihkan dan disinfeksi bedpan, urinal dan
ontainer pasien yang lain.
7. Tangani bahan infeksius sesuai prosedur
8. pastikan peralatan, barang fasilitas dan linen infeksius pasien telah
dibersihkan dan didisinfeksi dengan benar antar pasien.
BAB V
PETUNJUK PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
UNTUK PENGUNJUNG

Pengunjung dengan gejala infeksi saluran pernapasan selama terjangkitnya penyakit


menular
 Pengunjung dengan gejala demam dan gangguan pernapasan tidak boleh
mengunjungi pasien didalam fasilitas pelayanan kesehatan.
 Pengunjung yang setelah sakit sudah tidak menunjukkan gejala, perlu dibatasi
kunjungan ke pasien.
 Orang dewasa yang sakit tidak boleh berkunjung sampai batas waktu penularan
penyakit, sedangkan anak-anak dibawah 12 tahun dilarang mengunjungi pasien
dipuskesmas.
 Kebijakan ini agar dicantumkan dipapan pengumuman fasilitas kesehatan.

Petunjuk pencegahan dan pengendalian infeksi untuk anggota keluarga yang merawat
penderita atau suspek flu burung
 Anggota keluargaperlu menggunakan APD seperti petugas kesehatan yang merawat
di Puskesmas.

Mengunjungi pasien dengan penyakit menular melalui udara


 Petugas kesehatan atau Tim pencegahan dan pengendalian infeksi perlu mendidik
pengunjung pasien dengan penyakit menular tentang cara penularan penyakit, dan
menganjurkan mereka untuk menghindari kontak dengan pasien selama masa
penularan.
 Jika keluarga teman perlu mengunjungi pasien yang masih suspek atau telah di
konfirmasi menderita penyakit menular melalui udara, pengunjung tersebut harus
mengikuti prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi di puskesmas.
Pengunjung harus memakai APD lengkap ( masker, gaun, sarung tangan dan kaca
mata) Jika kontak langsung dengan pasien atau lingkungan pasien.
 Petugas kesehatan perlu mengawasi pemakaian APD dan masker secara benar bagi
pengunjung.
 Ketika pengunjung meninggalkan ruangan, ia harus melepas APD dan mencuci
tangan. Tidak menggantung masker dileher.
 Jika keluarga dekat mengunjungi pasien penyakit menular melalui udara, petugas
kesehatan harus mewawancarai orang tersebut untuk menentukan apakah ia
memiliki gejala demam atau infeksi saluran pernapasan. Karena berhubungan dekat
dengan pasien penyakit menular melalui udara beresiko untuk terinfeksi. Jika ada
demam atau gejala gangguan pernapasan, pengunjung tersebut harus dikaji untuk
penyakit menular melalui udara dan ditangani dengan tepat.
 Fasilitas pelayanan kesehatan harus mendidik semua pengunjung tentang penerapan
pencegahan dan pengendalian infeksi dan wajib mentaatinya ketika mengunjungi
pasien penyakit menular.

Menjaga kebersihan alat pernapasan dan etika batuk ditempat pelayanan kesehatan.

Untuk mencegah penularan infeksi saluran pernapasan difasilitasi pelayanan kesehatan,


kebersihan saluran pernapasan dan etika batuk harus merupakan bagian mendasar dari
prilaku sehat.
Setiap orang yang memiliki tanda atau gejala infeksi pernapsan ( batuk, bersin) harus :
 Menutup hidung/ mulut ketika batuk atau bersin
 Menggunakan tisu untuk menahan sekresi pernapasan dan dibuang ditempat limbah
yang tersedia.
 Cuci tangan segera setelah kontak dengan sekresi pernapasan.

Fasilitasi pelayanan kesehatan harus menjamin tersedianya :


 Tempat limbah tertutup yang tidak perlu disentuh atau dapat dioperasikan dengan
kaki disemua area.
 Fasilitas cuci tangan dengan air mengalir diruang tunggu.
 Pengumuman / informasi tertulis untuk menggunakan masker bagi setiap
pengunjung yang batuk.
Jika memungkinkan, dianjurkan bagi orang yang batuk untuk duduk pada jarak 1 meter dari
yang lainnya diruang tunggu.

Pada pintu masuk dan diruang fasilitas rawat jalan seperti ruang gawat darurat, ruangan
dokter, klinik rawat jalan, perlu dipasang instruksi etika batuk atau bersin. Pasien dan orang
yang menemaninya agar mempraktekkan kebersihan alat saluran pernapsan dan etika batuk
atau bersin, dan memberitahukan kepada petugas sesegera mungkin tentang gejala penyakit
yang diderita, bagi orang yang batuk harus disediakan masker.

BAB VI
SURVEILANS INFEKSI PUSKESMAS

A. Definisi
Surveilans infeksi Puskesmas adalah suatu proses yang dinamis, sistematis terus menerus,
dalam pengumpulan, identifikasi, analisis dan interprestasi dari data kesehatan yang
penting pada suatu populasi spesifik yang didiseminasikan secara berkala kepada pihak-
pihak yang memerlukan untuk digunakan dalam perencanaan, penerapan, dan evaluasi
suatu tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

Infeksi Puskesmas (IRS) atau Healthcare associated infections (HAIs) adalah infeksi yang
terjadi pada pasien selama perawatan di RS atau fasilitas pelayanan kesehatan lain, yang
tidak ditemukan dan tidak dalam masa inkubasi saat pasien masuk RS. IRS juga mencakup
infeksi yang didapat di RS tetapi baru muncul setelah keluar RS dan juga infeksi akibat
kerja pada tenaga kesehatan.

B. Tujuan
1. mendapatkan data dasar Infeksi Puskesmas
2. menurunkan Laju Infeksi RS
3. Identifikasi dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Infeksi Puskesmas
4. meyakinkan para tenaga kesehatan tentang adanya masalah yang memerlukan
penanggulangan.
5. Mengukur dan menilai keberhasilan suatu program PPI di RS
6. Memenuhi standar mutu pelayanan medis dan keperawatan
7. Salah satu unsur pendukung untuk memenuhi akreditasi RS

C. Metode Surveilans
Metode surveilans IRS di Puskesmas Umum Kabupaten Karawang adalah menggunakan
metode Surveilans target (targetted/sentinel surveillance) adalah surveilans yang terfokus
pada ruangan, kelompok pasien, atau tindakan dengan resiko infeksi spesifik. Yaitu
surveilans diruang perawatan insentif (ICU) dan ruang perawatan bedah, surveilans pada
pasien dengan kateter vena sentral, surveilans, infeksi luka operasi, surveilans pasien
dengan pemasangan Endotracheal Tube (ETT) dan ventilator, surveilans pasien dengan
pemasangan kateter urine, surveilans target ini diharapkan dapat memberikan hasil yang
lebih tajam dan memerlukan sumber daya yang lebih sedikit.

D. Jenis-jenis infeksi Puskesmas


1. Infeksi Aliran Darah Primer
a. Definisi Infeksi Aliran Darah Primer (IADP)
 Merupakan jenis infeksi yang terjadi akibat masuknya mikroba melalui peralatan
yang kita masukkan langsung ke system pembuluh darah. Dalam istilah CDC
disebut sebagai Blood Stream Infection (BSI)

Akses langsung keperedaran darah ini dapat berupa kateter vena maupun arteri yang
kita lakukan terhadap pasien, baik dalam rangka perawatan maupun diagnostik,
yang secara umum disebut sebagai kateter intravaskuler ( intravaskuler Catheter).
Contahnya adalah pemasangan vena sentral (CVC : Central Venous Catheter), vena
perifer ( infus) hemodialisa.

 Adalah ditemukannya organisme dari hasil kultur darah semikuantitatif/ kuantitatif


disertai tanda klinis yang jelas serta tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat
lain dan / atau dokter yang merawat menyatakan telah terjadi infeksi >2x24 jam
setelah pemasangan catheter vena sentral.

Seringkali phlebitis dilaporkan sebagai IADP. IADP berbeda dengan Phlebitis


(Superficial & Deep Phlebitis). Perbedaan antara IADP dengan phlebitis, adalah :
 Phlebitis, merupakan tanda-tanda peradangan pada daerah lokal tusukan infus.
Tanda-tanda peradangan tersebut adalah merah, bengkak, terasa seperti terbakar
dan sakit bila ditekan.
 IADP adalah keadaan bakteremia yang diagnosanya ditegakkan melalui
pemeriksaan kultur.

b. Faktor risiko adalah :


 Lamanya terpasang kateter
 Lamanya hari rawat
 Kondisi penurunan daya tahan tubuh (immunocompromised)
 Malnutrisi
 Luka bakar
 Luka operasi tertentu

c. Kriteria IADP
Ada beberapa kriteria untuk menentukan IADP, kriteria IADP 1 dan 2 dapat
digunakan untuk semua peringkat umur pasien termasuk usia <1th, minimal
ditemukan satu kriteria seperti :
c.1. Kriteria 1 IADP ; berikut :
 Ditemukan pathogen pada >1 kultur darah pasien
 Mikroba dari kultur darah itu tidak berhubungan dengan infeksi dibagian
lain dari tubuh pasien (lihat catatan 1&2)

c.2. Kriteria 2 IADP :


 Pasien menunjukkan minimal satu gejala klinis : demam (suhu >38ºC)
menggigil atau hiypotensi, dan tanda dan gejala klinis serta hasil positif
pemeriksaan laboratoriumyang tidak berhubungan dengan infeksi dibagian
lain dari tubuh pasien.
 Hasil kultur yang berasal dari >2 kultur darah pada lokasi pengambilan
yang berbeda didapatkan mikroba kontaminan kulit yang umum, misalnya
difteroid ( C corynebacterium spp), Bacillus spp. (bukan B anthracis),
Propionibacterium spp, Staphylococcus coagulase negatif termasuk
epidermidis, Steptococcus viridans, Aerococcus spp, Micrococcus spp.
Berasal dari >2 kultur darah pada lokasi pengambilan yang berbeda (lihat
catatan 3&4).

c.3. Kriteria 3 IADP :


 Pasien anak usia <1 tahun menunjukkan minimal satu gejala seperti berikut :
demam (suhu rektal >38ºC), hipotermi ( suhu rektal <37ºC), apnoe atau
bradikardia, dan
 Tanda dan gejala serta hasil pemeriksaan positif laboratorium yang tidak
berhubungan dengan infeksi dibagian lain dari tubuh pasien dan
 Hasil kultur yang berasal dari >2 kultur darah pada lokasi pengambilan yang
berbeda didapatkan mikroba kontaminan kulit yang umum, misalnya
difteroid (corynebacterium spp), Bacillus spp (bukan B anthracis),
Propionibacterium spp, staphylococcus coagulase negatif termasuk S
epidermidis, Streptococcus viridans, Aerococcus spp, Micrococcus
spp.berasal dari >2 kultur darah pada lokasi pengambilan yang berbeda.
Catatan :
1. dalam kriteria 1, arti ”>1” kultur darah pasien adalah = minimal 1 botol
kultur dari darah yang diambil memberikan hasil dilaporkan ada
pertumbuhan mikroba, artinya kultur darah positif.
2. dalam kriteria 1 maksud”patogen ”yang ditemukan adalah mikroba yang
tidak termasuk dalam mikroba kontaminan kulit yang umum didapatkan
(lihat kriteria 2 dan 3). Contoh beberapa mikroba pathogen yang bukan
termasuk flora normal umum kulit yang dapat ditemukan adalah S.aureus,
Enterococcus spp, E coli, Psudomonas spp, Klebsiella spp, Candida spp dan
lain-lain
3. dalam kriteria 2 dan 3, arti ’>2’kultur darah diambil dari lokasi yang berbeda
adalah artinya :
 Dari CV line atau kultur ujung kateter CV line dan perifer sekurang-
kurangnya 2 kali pengambilan darah perifer dengan jeda waktu tidak
lebih dari 2 hari (misalnya pengmbilan darah pada hari Senin dan
Selasa, atau Senin dan Rabu, jangan terlalu jauh misalnya Senin-
Kamis), atau pada waktu yang bersamaan dari 2 lokasi yang berbeda
 Minimal 1 botol dari darah yang diambil menunjukkan pertumbuhan
kuman kontaminan umum kulit yang sama. (lihat catatan no 4 untuk
melihat kesamaan mikroba )
4. Phlebitis yang purulen dikonfirmasi dengan hasil positif kultur
semikuantitatif dari ujung kateter, tetapi bila hasil kultur negatif atau
tidak ada kultur darah, maka tidak dilaporkan sebagai IADP.

Kriteria Nasional
I. Infeksi Aliran Darah Perifer (IADP)

Algoritma Diagnosa IADP

Umum Anak <1 tahun

Minimal : Minimal 1 :
Simtom  Demam (>38ºC)  Demam (>38ºC )
(Gejala dan Tanda)  Menggigil  Hipotermi (<37ºC)
 hipotensi  Apnoe
 bradikardia

Laboratorium : Positif =1 mikroba


Kultur Darah patogen
Positif =2 mikroba
Flora kulit

Bukti Infeksi tempat lain Negatif


Keterangan :
 Yang dimaksud mikroba pathogen pada kriteria 1 misalnya adalah : S. Aureus,
Enterococcus spp, E coli, Psudomonas spp, Klebsiella spp, Candida spp dan lain-
lain.
 Yangdimaksud dengan flora kulit adalah mikroba kontaminan kulit yang umum,
misalnya difteroid (Corynebacterium spp), Bacillus spp, Propionibacterium spp,
CNS termasuk Staph. Epidermidis, Streptococcus viridans, Aerococcus spp,
Micrococcus spp.
 Hasil kultur darah pada kriteria 2 dan 3, arti ’≥2’kultur darah : 2 spesimen darah
diambil dari lokasi yang berbeda dan dengan jeda waktu tidak lebih dari 2hari.

Gambar 7 : Diagram Alur Infeksi Aliran Drah Primer


1. Pneumonia

Ada 2 jenis Pneumonia yang berhubungan dengan IRS, yaitu Pneumonia yang
didapatkan akibat perwatan yang lama atau sering disebut sebagai Hospital
Acquired Pneumonia (HAP) dan Pneumonia yang terjadi akibat pemakaian ventilasi
mekanik atau sering disebut sebagai Ventilator Associated Pneumonia (VAP).
a. Definisi HAP
HAP adalah infeksi saluran napas bawah yang mengenai parenkim paru setelah
pasien dirawat dipuskesmas >48 jam tanpa dilakukan intubasi dan sebelumnya
tidak menderita infeksi saluran napas bawah. HAP dapat diakibatkan tirah baring
lama ( koma/ tidak sadar, trakeostomi, refluk gaster, Endotracheal Tube/ETT).

b. Definisi VAP
VAP adalah infeksi saluran napas bawah yang mengenai parenkim paru
setelah pemakaian ventalasi mekanik > 48 jam, dan sebelumnya tidak
ditemukan tanda-tanda infeksi saluran napas.

c. Dasar diagnosis Pneumonia


Pneumonia (PNEU) ditentukan berdasarkan kriteria klinis, radiologi dan
laboratorium.
(lihat Gambar 4.2. Diagram Alur Pneumonia dan Gambar 4.3. Diagram Alur
Kriteria Pilihan Pneumonia pada bayi dan Anak).

d. Tanda dan Gejala Klinis Pneumonia


Bukti Klinis Pneumonia adalah bila ditemukan minimal 1 dari tanda dan
gejala berikut :
 Demam (≥38ºC) tanpa ditemui penyebab lainnya.
 Leukopenia (< 4.000 WBC/mm3) atau Leukositosis (≥12.000 SDP/mm3).
 Untuk penderita berumur ≥70tahun, adanya perubahan status mental yang
tidak ditemui penyebab lainnya. Dan minimal disertai 2 tanda berikut :
 Timbulnya onset baru sputum purulen atau perubahan sifat sputum
 Munculnya tanda atau terjadinya batuk yang memburuk atau dyspnea
(sesak napas) atau tachypnea (napas frekuen)
 Rhonci basah atau suara napas bronchial
 Memburuknya pertukaran gas, misalnya desaturasi O2
(PaO2/FiO2≤240), peningkatan kebutuhan oksigen, atau perlunya
peningkatan ventilator.

e. Tanda Radiologis Pneumonia


Bukti adanya Pneumonia secara Radiologis adalah bila ditemukan ≥2 foto
serial didapatkan minimal 1 tanda berikut :
 Infiltrat baru atau progresif yang menetap
 Konsolidasi
 Kavitasi
 Pneumotoceles pada bayi berumur ≤1 tahun.

Catatan :
Pada pasien yang tanpa penyakit paru-paru atau jantung (respiratory
distress syndrome, bronchopulmonary dysplasia, pulmonary edema, atau
chronic obstructive pulmonary disease) yang mendasari, 1 bukti
radiologis foto thorax sudah dapat diterima.

f. Kriteria Pneumonia
Ada 3 tipe spesifik pneumonia :
1. Pneumonia klinis (PNEU1)
2. Pneumonia dengan gambaran laboratorium spesifik (PNEU2)
3. Pneumonia pada pasien imunokompromis (PNEU3)

f.1. Kriteria PNU1 : Pneumonia Klinis


dapat diidentifikasi sebagai PNU 1 bila didapatkan salah satu kriteria
berikut :
1) Untuk semua umur (PNU1-1)
- Tanda dan gejala Klinis Pneumonia (d)
- Tanda Radiologis Pneumonia(e)
2) Untuk bayi berumur ≤1 tahun (PNU1-2)
Buruknya pertukaran gas dan, minimal disertai 3 dari tanda berikut :
- Suhu yang tidak stabil, yang tidak ditemukan penyebab
lainnya.
- Leukopeni (<4.000/mm3) atau lekositosis (≥15.000/mm3) dan
gambaran darah tepi terlihat pergeseran kekiri (≥10%bentuk
netrofil bentuk batang).
- Munculnya onset baru sputum purulen atau perubahan karakter
sputum atau adanya peningkatan sekresi pernapasan atau
peningkatan keperluan pengisapan (suctioning).
- Apneu, tachypneu, atau pernapasan cuping hidung dengan
retraksi dinding dada.
- Rhonci basah kasar maupun halus
- Batuk
- Bradycardia (<dari100x/menit) atau tachycardia(>170x/menit)
3) Untuk anak berumur lebih dari >1 tahun atau berumur ≤12 tahun
(PNU1-3), minimal ditemukan 3 dari tanda berikut :
- demam (suhu >38,4ºC ) atau hypothermi (<36,5ºC), yang tidak
ditemukan penyebab lainnya.
- Lekopeni (< 4.000/mm3) atau lekositosis (≥15.000/mm3)
- Munculnya onset baru sputum purulen atau perubahan karakter
sputum atau adanya peningkatan sekresi pernapasan atau
peningkatan keperluan pengisapan (suctioning)
- Onset baru dari memburuknya batuk, apneu, tachypneu
- Wheezing, rhonci basah kasar mapun halus
- Memburuknya pertukaran gas, misalnya pO2< 94%.

f.2. Kriteria PNU2


a) Kriteria PNU2-1
Pneumonia dengan hasil laboratorium yang spesifik untuk infeksi
bakteri dan jamur berfilamen.
Dapat diidentifikasi sebagai PNU2-1, bila ditemukan bukti-bukti
berikut
- tanda dan gejala Klinis Pneumonia (d)
- Tanda Radiologis Pneumonia (e)
- Minimal 1 dari tanda laboratorium berikut :
 Kultur positif dari darah yang tidak ada hubungannya
dengan sumber infeksi lain.
 Kultur positif dari cairan pleura
 Kultur kuantitatif positif dari spesimen Saluran Napas
Bawah (BAL atau sikatan bronkus terlindung)
 ≥5% sel yang didapat dari BAL mengandung bakteri
intraseluler pada pemeriksaan mikroskopik langsung.
 Pemeriksaan histopatologik menunjukkan 1 dari bukti
berikut :
- Pembentukan abses atau fokus konsolidasi dengan sebukan
PMN yang benyak pada bronchiolus dan alveoli.
- Kultur kuantitatif positif dari parenkim paru-paru
- Bukti adanya invasi oleh hifa jamur atau pseudohifa pada
parenkim paru-paru
- Bukti adanya invasi oleh hifa jamur atau pseudohifa pada
parenkim paru-paru
Keterangan :
- SNB : Saluran Napas Bawah (LRT : Lower respratory tract)
- Interprestasi hasil kultur darah positif harus hati-hati.
Bakterimia dapat terjadi pada pasien yang terpasang jalur
intravaskuler atau kateter urine menetap. Pada pasien
immunocompromised, sering didapatkan bekteremia CNS atau
flora atau kontaminan umum kulit yang lain serta sel yeast.
- Nilai ambang untuk kultur kuantitatif dapat dilihat pada Tabel
4.3.
- Pada pemeriksaan kultur kuantitatif, spesimen yang dipilih
adalah spesimen yang terkontaminasi minimal, misalnya yang
dari BAL atau sikatan bronchus terlindung. Spesimen dari
aspirasi endotracheal tidak dapat digunakan untuk dasar kriteria
diagnostik.
- BAL : Broncjo Alveolar Lavage

b) Kriteria PNU 2-2 :


Pneumonia dengan hasil laboratorium yang spesifik untuk infeksi
virus, Legionella, Chlamydia, Mycoplasma, dan patogen tidak
umum lainnya.Dapat diidentifikasi sebagai PNU2-2, bila
ditemukan bukti-bukti berikut
- Tanda dan Gejala Klinis Pneumonia (d)
- Tanda Radiologis Pneumonia (e)
- Minimal 1 dari tanda laboratorium berikut :
 Kultur positif untuk virus atau Chlamydia dari sekresi
pernapasan
 Deteksi antigen atau antibody virus positif dari sekresi
pernapasan
 Didapatkan peningkatan titer 4x atau lebih lgG dari paired
sera terhadap patogen (misalnya influenza virus,
Chlamydia)
 PCR positif untuk Chlamydia atau Mycoplasma
 Tes micro-IF positif atau visualisasi micro-IF untuk
Legionella spp.,dari sekresi pernapasam atau jaringan
 Terdeteksinya antigen Legionella pneumophila serogrup iI
dari urine dengan pemeriksaan RIA atau EIA, rapid test
 Pada pemeriksaan indirect IFA, didapatkan peningkatan
titer 4x atau lebih antibody dari paired sera terhadap
Legionella pneumophila serogroup I dengan titer ≥1:128

Keterangan :
- deteksi langsung patogen dapat menggunakan berbagai teknik
deteksi antigen (EIA,RIA,FAMA, Micro-IF),PCR atau kultur
- PCR: Polymerase Chain Reaction, merupakan teknik
diagnostik dengan cara memperbanyak asam nukleat patogen
secara in-vitro
- Paired sera adalah pasangan sera yang diambil pada fase akut
dan fase penyembuhan penyakit. Pada penyakit yang sedang
berlangsung(progresif) akan didapatkan peningkatan titer sera
pada fase penyembuhan sebesar ≥4x dibandingkan dengan titer
sera pada fase akut.
- Bila terkontaminasi pneumonia disebabkan oleh RSV,
adenovirus atau influenza virus, dugaan infeksi oleh patogen
yangsama segera dapat dilakukan tehadap pasien-pasien yang
dirawat yang mempunyai kemiripan gejala dan tanda klinis.

f.3. Kriteria PNU3 :


Pneumonia Pada Pasien Immunocompromised.
Dapat diidentifikasi sebagai PNU3, bila ditemukan bukti-bukti
berikut
- Tanda dan Gejala Klinis Pneumonia (d) ditambah dengan
kemungkinan gejala dan tanda :
 Hemoptysis
 Nyeri dada pleuritik
- Tanda Radiologis Pneumonia (e)
- Minimal 1 dari tanda laboratorium berikut :
 Kultur pasangan positif dan cocok dari kultur darah dan
sputum terhadap Candida spp.
 Bukti adanya jamur atau pnemocytis carini dari spesimen
terkontaminasi minimal SNB (BAL atau sikatan bronchus
terlindung) dari cara berikut :
- pemeriksaan mikroskopik langsung
- kultur jamur positif
 apapun yang masuk dalam kriteria laboratorium untuk
PNU2.

Keterangan :
- yang tergolong dalam pasien immunocompromised antara
lain:
 penderita neutropenia (hitung netrofil absolute
<500/mm3), leukemia, lymphoma, HIV dengan
CD4<200, atau
 splenectomy, post transplantasi,kemoterapi cytotoxic,
atau
 Pengobatan steroid dosis tinggi :>40mgprednisolone
atau ekivalennya (hidrokortison 160 mg,metal-
prednisolon 32mg, deksametason 6mg, kortison
200mg)/hari untuk >2 minggu.
- Spesimen darah dan sputum diambil pada waktu yang
berdekatan (48 jam)
- Spesimen kultur semikuantitatif atau kualitatif dimungkinkan,
kriteria sesuai algoritma.

 Tabel 6. Nilai Ambang Kultur Kuantitatif Spesimen yang


digunakan dalam diagnosis pneumonia

Jenis/ Teknik pengambilan spesimen Nilai


Parenkim Paru ≥ 104 cfu/g jaringan
Spesimen bronchoscopic
- Bilasan bronchoalveolar ≥ 104 cfu/mL

- Protected BAL ≥ 104 cfu/mL


- Protected specimen brushing ≥ 104 cfu/mL
Spesimen Non- bronchoscopic (blind)
- BAL ≥ 104 cfu/mL
- Protected BAL ≥ 104 cfu/mL

 Cfu : colonyforming units


 Parenkim paru dapat diambil melalui, transbronchial atau transthoraxic post-mortem
Pneumonia (PNEU) ditentukan berdasarkan kriteria klinis, radiologi dan Laboratorium.
(Lihat gambar 1. Diagram Alur Pneumonia dan Gambar2. Diagram Alur Kriteria Pilihan
Pneumonia pada Bayi dan Anak).

 Pneumonia (PNEU)

Algoritma Pneumonia

Pasien dengan penyakit penyerta kardio-pulmoner Pasien tanpa penyakit penyerta


kardiopulmoner

 Infiltrat baru atau


progresif yang menetap
Radiologis

 Konsolidasi ≥2 tanda ≥1 tanda


 Kavitasi radiologist serial radiologis serial
 Pneumatoceles pada
bayi≤1 tahun.

 Demam Minima l
 Leukopenia atau Simtom
Leukositosis Minimal 1 simtom termasuk
 Penderita ≥70 simtom:
tahun : perubahan  Hemoptisis
status mental  Nyeri Pleuritik
(tanda dan Gejala)

 Onset baru sputum


Simtom

purulen atau
perubahan sifat
sputum,sekresi
 Batuk memburuk
atau dyspnea atau Minimal 2 Minimal 1
tachypnea Simtom Simtom
 Rhonci basah atau
suara nafas
bronchial
 Memburuknya
pertukaran gas

immunocompromised

 Darah : Kultur darah + Sekresi nafas :  Kultur


 Cairan pleura Kultur +  Kultur+ pasangan
 Spesimen SNB : Kultur  Deteksi antigen darah-sputum
Kuantitatif + + +dan cocok
 BAL :≥5 sel mengandung  Peningkatan untuk Candida
bakteri intraseluler titer ≥4xlgG dari spp
Laboratorium

 Histopatologik : paired sera  Spesimen SNB


 Abses/ focus  PCR+ : Jamur atau
konsolidasi Pneumocystis
 Kultur carinii+
kuantitatif+parenkim
Pasien tanpa penyakit penyerta
Pasien dengan penyakit penyerta kardio-pulmoner Immunocompromised
kardio- pulmoner

 Infiltrat baru atau


progresif yang
Radiologis

menetap. ≥2 tanda ≥ 1 tanda radiologist


 Konsolidasi radiologist serial serial
 Kavitasi
 Pneumatoceles pada
bayi≤1 tahun

Bayi ≤1 tahun Anak ≥3atau≤12 tahun

 Memburuknya pertukaran gas


Dan ≥3 tanda berikut :
 Suhu tidak stabil ≥tanda berikut :
 Leukopenia atau  Demam
 Leukositosis  Leucopenia atau
( Tanda dan Gejala)

 Onset baru sputum purulen atau  Leukositosis


perubahan sifat sputum, sekresi  Onset baru sputum
Simtom

 Tanda-tanda sesak napas purulen atau perubahan


 Wheezing dan atau ronchi sifat sputum, sekresi
 Batuk  Batuk baru, batuk
 Bradikardi memburuk atau tanda-
tanda sesak nafas
 Rhonci atau suara
bronchial memburuknya
pertukaran gas

PNU 1
Anak

Gambar 8 : Diagram Alur Pneumonia dan Diagram Alur Kriteria Pilihan Pneumonia pada
Bayi dan Anak
Keterangan :

 PNU 1 : Kriteria untuk Peumonia Klinik


 PNU2 – 1 : Kriteria untuk Pneumonia dengan hasil Laboratorium yang spesifik untuk
infeksi bakteri umum dan jamur berfilamen
 PNU2-2 : Kriteria untuk Pneumonia dengan hasil Laboratorium yang spesifik untuk
infeksi virus, Legionella, Chlamydia, Mycoplasma, dan patogen tidak umum lainnya.
 PNU 3 : Kriteria untuk Pneumonia pada pasien immunocompromised.
 Yang dimaksud dengan kelainan kardio-pulmoner, misalnya : respiratory distress
syndrome, bronchopulmonary dysplasia, pulmonary edema, atau chronic obstructive
pulmonary disease
 Demam ;suhu 38ºC
 Leukopenia :<4.000 SDP/mm3 (SDP :sel darah putih)
 Leukositosis ≥12.000SDP/mm3
 Leukositosis ≥ 15.000SDP/mm3
 Memburuknya pertukaran gas : desaturasi O2: PaO2/FiO2 ≤240, atau pO2 < 94%,
peningkatan kebutuhan oksigen, atau perlunya peningkatan ventilator
 Peningkatan sekresi pernafasan termasuk peningkatan keperluan pengisapan
(suctioning)
 SNB : Saluran nafas Bawah
 Sekresi SNB adalah yang diambil dengan alat bronchoskopi dan merupakan spesimen
sekresi saluran napas bawah yang mempunyai tingkat kontaminasi minimal

Ada 3 tipe spesifikasi pneumonia : pneumonia klinis (PNEU1), pneumonia dengan


gambaran laboratorium spesifik (PNU2), dan pneumonia pada pasien imunokompromis
(PNU3). Berikut ini adalah komentar umum yang dapat diterapkan pada semua tipe spesifik
pneumonia, disertai daftar singkatan yang digunakan dalam algoritma dan petunjuk
pelaporan. Gambaran 1 dan 2 merupakan diagram alur untuk algoritme pneumonia yang
dapat digunakan dalam sebagai pengumpulan data.

Ketentua-ketentuan umum Hospital Acquired Pneumonia (HAP) tidak dapat ditegakkan


berdasar diagnosis dari dokter saja. Meskipun kriteria spesifik dimasukkan untuk bayi dan
anak, pasien pediatri mungkin memenuhi kriteria pneumonia spesifik lainnya.
Pneumonia terkait ventilator (VAP, yaitu pneumonia pada pasien yang menggunakan alat
untuk membantu napas untuk atau mengontrol pernapasan secara terus menerus melalui
trakeostomi atau intubasi endotrakheal dalam jangka waktu 48 jam sebelum terjadi infeksi,
termasuk periode penyapihan ) harus disertakanpada pelaporan data. Pada waktu
melakukan asesmen untuk menetapkan pneumonia, penting dibedakan perubahan keadaan
klinis yang disebabkan keadaan lain seperti infark miokard, emboli paru, sindrom gawat
napas, atelektasis, keganasan ,PPOK, penyakit membran hialin, dispalasia bronkopulmoner
dll. Pada waktu melakukan asesmen pasien-pasien yang intubasi, perlu dibedakan antara
kolonisasi trakea, infeksi saluran napas atas (misalnya trakeobronkitis) dan gejala awal
pneumonia.Perlu disadari bahwa mungkin sulit untuk menentukan HAP pada orang tua,
bayi dan pasien imunokompromis karena keadaan seperti itu dapat menutupi tanda-tanda
atau gejala tipikal pneumonia. Kriteria spesifik pilihan untuk orang tua, bayi dan pasien
imunokompromis telah dimasukkan dalam definisi HAP ini.

HAP dapat ditandai dari onsetnya : awal atau lambat. Pneumonia onset awal timbul dalam
4 hari pertama perawatan dan sering disebabkan oleh Moraxella catarrhalis, H influenzae,
dan S Pneumonia . Penyebab Pneumonia late onset sering berupa kuman gram negatif atau
S aures, termasuk methicillin-resistant S aureus. Virus (misalnya influenza A dan B atau
RSV) dapat menyebabkan early dan late onset pneumonia nosokomial, sedang kapang,
jamur, legionellae, dan pneumocystis carinii umumnya merupakan patogen late onset
pneumonia.

Pnemonia yang di sebabkan aspirasi hebat ( misalnya pada waktu intubasi di ruang darurat
atau di kamar oprasi ) dianggap HAP jika memenuhi kriteria spesifik manapun dan jelas
tidak didapati atau sedang dalam masa inkubasi pada saat pasien masuk puskesmas.
HAP berulang dapat terjadi pada pasien-pasien yang sakit berat dan tinggal di puskesmas
untuk waktu yang lama.Pada waktu menetapkan apakah untuk melaporkan HAP berulang
pada seorang pasien, perlu di cari bukti-bukti bahwa infeksi awal telah mengalami
resolusi.Penambahan atau perubahan pathogen saja bukan indikasi episode baru
pneumonia.Di perlukan kombinasi gejala dan tanda serta bukti radiologis atau uji
diagnostik lain.Pewarnaan gram fositif untuk bakteri dan tes KOH untuk serat elastin dan
atau hipa jamur dari sputum yang di kumpulkan dengan cara yang baik merupakan kunci
penting dalam menemukan penyebab infeksi. Namun sempel dahak sering terkontaminasi
oleh kuman yang mengkoloni saluran nafas sehingga perlu di interprestasi dengan hati –
hati. Secara khusus, candida sering ditemukan pada pewarnaan, tetapi tidak sering
menyebabkan HAP.

g. Faktor resiko pneumonia


Pnumonia dapat berasal dari :
- Faktor lingkungan yang terkontaminasi,misalnya air,udara atau makanan (muntah)
- peralatan yang digunakan dalam perawatan pasien : Endotracheal Tube (ETT),
nasogastric Tube (NGT) suction catheter, Bronchoscopy, Respiratory devices.
- Orang keorang : dokter, perawat, pengunjung, maupun dari flora endogen pasien itu
sendiri.

Faktor Risiko untuk terjadinya Pneumonia antara lain :

1. Kondisi pasien : umur (>70 tahun), Penyakit kronis, Pembedahan (Toraks atau
Abdomen ), penyakit paru obstruktif Kronis (PPOK), Penyakit Jantung Kongestif,
Cardiac Vascular Disease (CVD), kkma, Perokok berat.
2. Tindakan pengobatan atau perawatan : sedatif, anestesi umum, intubasi trakeal,
trakeostomi, pemakaian ventilasi mekanik yang lama, pemberian makanan enternal,
terapi antibiotik obat immunosupresif atau sitostatik.

Populasi berisiko untuk terjadinya pneumonia IRS dibedakan berdasarkan jenis


pneumonianya.
- Populasi berisiko VAP adalah semua pasien yang terpasang ventilasi mekanik,
sehingga kejadiannya terutama terfokus pada pada area spesifik yaitu ICU,
NICU/PICU, HCU. Sehingga yang digunakan sebagai numerator dalam menghitung
laju infeksi adalah jumlah kasus VAP per periode tertentu (1bulan, 6bulan, 1 tahun),
sedangkan denominatornya adalah jumlah hari pemasangan alat ventilasi mekanik
periode waktu tertentu.populasi berisiko HAP adalah pasien tirah baring lama yang
dirawat dipuskesmas, sehingga yang digunakan sebagai numerator adalah jumlah
kasus HAP per periode tertentu (1bulan, 6 bulan, 1 tahun) sedangkan denominatornya
adalah jumlah hari rawat pasien tirah baring per periode tertentu (1 bulan, 6 bulan ,1
tahun).

3. Infeksi Saluran Kemih


Infeksi Saluran Kemih (ISK) dalam istilah CDC disebut sebagai Urinary Tract Infection
(UTI), merupakan jenis infeksi yang terjadi pada saluran kemih murni (Urethra dan
prmukaan kandung kemih) atau melibatkan bagian yang lebih dalam dari organ-organ
pendukung saluran kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, uretra dan jaringan sekitar
retroperitonial atau rongga perinefrik). Untuk itu, dalam menentukan jenis ISK, perlu
pengelompokan sebagai berikut :
1. Infeksi Saluran Kemih Simptomatis
2. Infeksi Saluran Kemih Asimptomatis
3. Infeksi Saluran Kemih Lainnya.

a. Tanda dan Gejala ISK


 Demam (>38ºC)
 Urgensi
 Frekuensi
 Disurai, atau
 Nyeri Supra Pubik

b. Tanda dan gejala ISK anak ≤1 tahun:


 Demam > 38ºC C rektal
 Hipotermi <37ºC rektal
 Apnea
 Bradikardia
 Letargia
 Muntah-muntah

c. Tes Konfirmasi ISK


Tes Konfirmasi merupakan tes-tes yang membantu memastikan adanya ISK.
- Tes konfirmasi mayor merupakan pemeriksaan kultur kuantitatif yang
menghasilkan jumlah koloni yang sedikit kemungkinan terjadi akibat
kontaminasi.
- Tes konfirmasi minor merupakan pemeriksaan atau bukti ISK dengan
keakuratan yang kurang sebagai tanda adanya ISK
- Tes konfirmasi minor dapat berupa : tes-tes kultur kuantitatif dengan jumlah
koloni yang meragukan adanya infeksi, pemeriksaan urine untuk melihat adanya
kemungkinan ISK tanpa melakukan kultur, dan diagnosis dokter yang merawat.

c.1. Tes konfirmasi ISK mayor :


Hasil biakan urin aliran tengah (midstream) >105 kuman per ml urin dengan
jumlah kuman tidak lebih dari 2 spesies.

c.2. Tes Konfirmasi ISK minor


 Tes carik celup (dipstick)positif untuk lekosit esterase dan / atau nitrit
 Piuri (terdapat ≥10 lekosit per ml atau terdapat ≥3 lekosit per LPB (mikroskop
kekuatan tinggi/ 1000x)dari urin tanpa dilakukan sentrifugasi).
 Ditemukan kuman dengan pewarnaan Gram dari urin yang tidak disentrifugasi
 Paling sedikit 2 kultur urin ulangan didapatkan uropatogen yang sama (bakteri
gram negatif atau S. Saprophyticus) dengan jumlah ≥102 koloni per ml dari
urin yang tidak dikemihkan (kateter atau aspirasi suprapubik)
 Kultur ditemukan ≤105 koloni/ml kuman patogen tunggal (bakteri gram
negatif atau S. Saprophyticus)pada pasien yang dalam pengobatan
antimikroba efektif untuk ISK
 Dokter mendiagnosis sebagai ISK
 Dokter memberikan terapi yang sesuai untuk ISK
d. Kriteria ISK :
1). ISK Simptomatis harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini :
a).Kriteria 1 ISK simtomatis.
- Ditemukan paling sedikit satu simtom ISK (a) tanda atau gejala berikut
tanpa diketahui penyebab lain, dan
- Tes konfirmasi mayor positif (c.1)

b). Kriteria 2 ISK Simtomatis.


- Ditemukan paling sedikit dua simtom ISK (a), dan
- Satu tes konfirmasi minor positif (C.2)

c). Kriteria 3 ISK simtomatis anak usia ≤1 tahun.


- Ditemukan paling sedikit satu tanda ISK (b) dan
- Tes konfirmasi mayor positif (C1)

d). Kriteria 2 ISK sistomatis anak usia≤1 tahun.


- Ditemukan paling sidikit dua simtom ISK anak usia ≤1 tahun ISK (b)
- Satu tes konfirmasi minor positif (C2)

2. ISK Asimptomatik
ISK asimptomatik harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut :
a. Kriteria 1 ISK Asimptomatik :
 Pasien pernah memakai kateter urine dalam waktu 7 hari
sebelum biakan urine, dan
 Tes konfirmasi mayor positif
 Simtom ISK negative

Catatan :
- Kultur positif dari ujung kateter tidak dapat digunakan untuk
tes diagnostik ISK.
- Kultur positif dari urin yang diambil dari kantong pengumpul
urin tidak dapat digunakan untuk tes diagnostik ISK
- Spesimen untuk kultur urin harus didapatkan sengan tehnik
yang benar, misalnya clean catch collection untuk spesimen
urin pancar tengah, atau kateterisasi.
- Pada bayi, spesimen diambil dengan cara kateterisasi kandung
kemih atau aspirasi supra publik.
3) Infeksi Saluran kemih yang lain
(Ginjal,Ureter, Kandung Kemih, Uretra dan jaringan sekitar retroperitonial atau rongga
perinefrik) harus memenuhi sekurang-kurangnya satu kriteria terkait organ diatas
sebagai berikut :
a.Kriteria 1 ISK Lain :
Ditemukan kultur kuman yang positif dari cairan (selain urin)atau jaringan terinfeksi.

b.Kriteria 2 ISK lain :


Ditemukan kultur kuman yang positif dari cairan ( selain urine ) atau jaringan
terinfeksi yang ditemukan baik pada pemeriksaan langsung, selama pembedahan atau
dengan pemeriksaan histopatologis.
c. Kriteria 3 ISK lain :
Ditemukan paling sedikit dua dari tanda atau gejala sebagai berikut :
- Demam ( > 38ºc )
- Nyeri lokal
- Nyeri tekan pada daerah yang dicurigai terinfeksi,dan sekurang-kurang terdapat
paling sedikit satu hal berikut :
- Drainase pus dari tempat yang di curigai terinfeksi
- Kuman yang tumbuh pada kultur darah sesuai dengan kuman dari tempat yang
diduga infeksi.
- Terdapat bukti adanya infeksi pada pemeriksaan radiologi ( USG, CT Scan,MRI,
Radiolabel Scan ).
- Diagnosis infeksi oleh dokter yang menangani
- Dokter yang menangani memberikan pengobatan anti mikroba yang sesuai jenis
infeksinya.
4). Kriteria 4 ISK lain pasien berumur ≤ 1 tahun :
Pada pasien di dapatkan paling sedikit satu tanda atau gejala berikut tanpa penyebab
lain :
 Demam > 38ºC rektal
 Hipotermi < 37ºC rektal
 Apnea
 Bradikardia
 Letargia
 Muntah-muntah, dan
sekurang-kurang terdapat sedikit satu hal berikut :
 Drainase pus dari tempat yang di curigai terinfeksi.
 Kuman yang tumbuh pada kultur darah sesuai dengan kuman dari tempat yang
di duga infeksi
 Terdapat bukti adanya infeksi pada pemeriksaan radiologi ( USG, CT SCAN,
MRI,Radiolebel Scan ).
 Diagnosis infeksi oleh dokter yang menangani
 Dokter yang menangani memberikan pengobatan anti mikroba yang sesuai

e. Faktor resiko ISK


Faktor resiko untuk terjadinya ISK adalah penderita yang terpasang catheter, sedang
faktor-faktor lain berkaitan dengan :
 Kondisi pasien ( faktor intrisik ): komorbiditas penderita ( misalnya DM ) kondisi
penurunan daya tahan tubuh ( misalnya malnutrisi ) kondisi organik ( misalnya :
obstruksi, disfungsi kandung kemih,refluks ).
 Prosedur pemasangan : tehnik pemasangan , ukuran cateter
 Perawatan : Perawatan meatus uretra,jalur cateter, pengosongan kantong urine,
manipulasi ( pengambilan sampel urine).

f. Data Surveilans ISK


Populasi utama surveilans ISK adalah penderita yang terpasang kateter menetap. Data-
data lain adalah data-data yang berhubungan dengan faktor risiko, data-data diagnostik
dan lama pemasangan kateter, yang nanti akan dijadikan denominator dalam perhitungan
laju infeksi.
Umum Usia <1 Tahun
(gejala dan Tanda) ISK  Demam  Demam
 Urgensi  Hipotermi
SIMTOM

 Frekuensi  Apneu
 Disuria  Bradikardi
 Nyeri Supra Publik  Letargia
 Muntah-muntah

Mayor Minor

Kultur urin pancar  Dipstick lekosit esterase atau


tengah : nitrit positif
 Koloni ≥105/ml,dan  Piuri : Lekosit ≥10/mm3atau
 Jenis kuman ≥3/LPB unspun-urine
KONFIRMASI

uropatogen  Mikroskopis :kuman dg cat Gram


≤2spesies unspun-urine
ISK

 ≥2x ulangan kultur urin


kateter/pungsi supra pubik jenis
uropatogen sama koloni≥102/ml
 Kultur urin koloni ≤105/ml,
uropatogen spesies tunggal.
Pasien dalam pengobatan
antimikroba efektif untuk ISK
 Diagnosis dokter ISK
 Terapi dokter sesuai ISK

ISK SIMTOMATIK

Simtom Simtom
Umum <1 tahun

ISKS Konfirmasi ISKS


Kriteria 1 1 Mayor 1 Kriteria 3

ISKS Konfirmasi ISKS


Kriteria 2 2 Minor 2 Kriteria 4

ISKS ASIMTOMATIS

SEBELUM KULTUR URIN YA TIDAK


TERPASANG KATETER 7 HARI

KONFIRMASI MAYOR 1x 2x

ISKAs ISKAs
Kriteria 1 Kriteria 2

Umum Usia ≥1

Kultur positif dari : Abses/ Tanda infeksi  Demam (>38ºC)  Demam >38ºC
 Cairan non urin, :  Nyeri Lokal  Hipotermi<37ºC
atau Pengamatan  Nyeri tekan Lokal  Apneu
 Jaringan langsung,  Bradikardia
histopatologi  Letargia
 Muntah-muntah

≥2 simtom ≥1 simtom

 Drainase pus
 Kuman kultur darah =kuman kultur local
 Bukti infeksi Radiologis
 Diagnosis dokter
 Terapi antimikroba Dokter

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4

ISK Lain
Gambar 10 : Diagram Alur Infeksi Saluran Kemih

Keterangan :
 Tes konfirmasi merupakan tes-tes yang membantu memastikan adanya ISK.
- Tes konfirmasi mayor merupakan pemeriksaan kultur kuantitatif yang
menghasilkan jumlah koloni yang sedikit kemungkinan terjadi akibat
kontaminasi.
- Tes konfirmasi minor merupakan pemeriksaan atau bukti ISK dengan
keakuratan yang kurang sebagai tanda adanya ISK.
- Tes konfirmasi minor dapat berupa : tes-tes kultur kuantitatif dengan jumlah
koloni yang meragukan adanya infeksi, pemeriksaan urine untuk melihat
adanya kemungkinan ISK tanpa melakukan kultur, dan keyakinan klinisi
berdasarkan profesionalitasnya.
 Urin akiran tengah (midstream) adalah specimen urin yang diambil dengan cara
membuang aliran pertama, dan aliran pancar tengah yang akhirnya dijadikan bahan
pemeriksaan.
 Spesimen untuk kultur urin harus didapatkan sengan tehnik yang benar, mislanya
clean catch collection untuk spesimen urin pancar tengah atau kateterisasi.
 Clean catch collection adalah tekhnik pengambilan urine pancar tengah yang terutama
diambil secara spontan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi sampel dari
flora yang biasa terdapat pada muara dan urethra sekitarnya.
 Pada bayi, spesimen diambil dengan cara kateterisasi kandung kemih atau aspirasi
supra pubik.
 ISK lain : adalah ISK yang ,elibatkan jaringan lebih dalam dari sistem urinarius,
misalnya ginjal, ureter, kandung kemih, uretra dan jaringan sekitar retroperitonial atau
rongga perinefrik.

4. Infeksi Daerah Operasi (IDO)


a. Definisi
IDO dalam istilah CDC disebut sebagai Surgical Site Infection (SSI).
Ada beberapa stadium dalam operasi, sehingga penilaian ada tidaknya IDO juga
dikelompokkan berdasarkan seberapa jauh organ atau jaringan yang dioperasi,
sehingga dikenal istilah :
1. IDO superfisial : bila insisi hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit
(subkutan)
2. IDO Profunda : bila insisi mengenai jaringan lunak yang lebih dalam (fascia dan
lapisan otot)
3. IDO Organ/ Rongga tubuh : bila insisi dilakukan pada organ atau mencapai
rongga dalam tubuh.

b. Kriteria IDO
b.1. Kriteria (Surgical Site Infection/SSI)
IDO Superfisial (superficial incisional/ Surgical Site infection):
Harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
 Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi
 Mengenai hanya pada kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan)pada tempat
insisi
 Pasien sekurang-kurangnya mempunyai/ memenuhi salah satu keadaan
dibawah ini :
1.Drainase bahan purulen dari insisi superficial.
2.Dapat diisolasi kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang
diambil secara aseptic dari tempat insisi superficial.
3.sekurang-kurangnya terdapat :
- satu tanda atau gejala infeksi sebagai berikut : satu tanda atau gejala
infeksi sebagai berikut : rasa nyeri, pembengkakan yang terlokalisir,
kemerahan, atau hangat pada perabaan.
- Insisi superficial terpaksa harus dibuka oleh dr.bedah dan hasil biakan
positif atau tidak dilakukan biakan. Hasil biakan yang negatif tidak
memenuhi kriteria ini.
4. Diagnosis IDO superfisial oleh dokter bedah atau dokter yang menangani
pasien tersebut.

Terdapat 2 tipe spesifik IDO superficial, yaitu :


1. Superficial incisional primary (SIP) :
Infeksi terjadi pada tempat insisi primer pada pasien yang telah menjalani tindakan
operasi melalui satu atau lebih insisi (contoh insisi pada operasi Cesar atau insisi
pada dada dalam operasi bypass arteri coroner).
2. Superficial incisional secondary (SIS) :
Infeksi terjadi pada tempat insisi sekunder pada pasien yang menjalani tindakan
melalui lebih dari satu insisi (contoh insisi pada donor (biasanya pada kaki) untuk
CBGB).
CBGB : Coronary bypass with chest and donor incisions.

Petunjuk pencatatan/ pelaporan IDO Superfisial :


- Jangan melaporkan ”stitch abscess”(inflamasi minimal dan adanya keluar cairan
(discharge)pada tempat penetrasi/ tusukan jarum atau tempat jahitan) sebagai suatu
infeksi
- Jangan melaporkan infeksi luka yang terlokalisir (”localized stab wound infection”)
sebagai IDO, sebaiknya dilaporkan sebagai infeksi kulit (SKIN) atau infeksi jaringan
lunak (ST), tergantung dari kedalamannya infeksi.
- Laporkan infeksi pada tindakan sirkumsisi pada bayi baru lahir sebagai CIRC.
Sirkumsisi tidak termasuk kedalam prosedur operasi pada NHSN
- Laporkan infeksi pada luka bakar sebagai BURN
- Bila infeksi pada tempat insisi mengenai atau melanjutsampai ke fascia dan jaringan
otot, laporkan sebagai IDO profunda(”deep incisional SSI”)
- Apabila infeksi memenuhi kriteria sebagai IDO superficial dan IDO profunda
klasifikasikan sebagai IDO profunda.
b.2. Kriteria IDO ( Deep incisional Surgical Site Infection ) :
- Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi tanpa
pemasangan implant atau dalam waktu 1 tahun bila operasi dengan pemasangan
implant dan infeksi diduga ada kaitannya dengan prosedur operasi dan
- Mengenai jaringan lunak yang lebih dalam (fascia dan lapisan otot) pada tempat insisi
dan
- pasien sekurang-kurangnya mempunyai/ memenuhi salah satu keadaan dibawah ini :
 Drainase purulen dari jaringan lunak dalam tetapi bukan dari organ atau rongga
dalam pada tempat operasi.
 Tempat insisi dalam mengalami”dehiscement” secara spontan atau terpaksa dibuka
oleh dokter bedah dan hasil biakan positif atau tidak dilakukan biakan kuman
apabila pasien mempunyai sekurang-kurangnya satu tanda atau gejala sebagai
berikut : febris (>38C), atau nyeri yang terlokalisir. Hasil biakan yang negatif tidak
termasuk dalam kriteria ini.
 Abscess atau adanya bukti lain terjadinya infeksi yang mengenai insisi dalam yang
ditemukan berdasarkan pemeriksaan langsung, selama re-operasi, atau berdasarkan
hasil pemeriksaan histopatologi(PA) atau radiologi.
 Diagnosis IDO profunda oleh dokter bedah atau dokter yang menangani pasien
tersebut.

Catatan :
Yang dimaksud dengan implant adalah setiap benda, bahan atau jaringan yang berasal
bukan dari manusia (seperti katup jantung prostesa,cangkok pembuluh darah yang bukan
berasal dari manusia, jantung buatan(mekanik) atau prostesa tulang panggul) yang
ditempatkan pada tubuh pasien secara permanen dalam suatu tindakan operasi dan tidak
dimanupulasi secara rutin baik untuk kepentingan diagnostik maupun untuk keperluan
terapi.

Terdapat 2 tipe spesifik IDO profunda, yaitu :


1. Deep incisional primary (DIP) :
Infeksi terjadi pada tempat insisi primer pada pasien yang telah menjalani tindakan
operasi melalui satu atau lebih insisi ( contoh insisi pada operasi Cesar atau insisi
pada dada dalam operasi bypass arteri coroner)

2. Deep incisional secondary (DIS) :


Infeksi terjadi pada tempat insisi sekunder pada pasien yang menjalani tindakan
melalui lebih dari satu insisi (contoh insisi pada donor (biasanya pada kaki) untuk
CBGB).

Petunjuk pencatatan / pelaporan IDO Profunda :


Apabila infeksi memenuhi kriteria sebagai ILO superficial dan ILO profunda klasifikasikan
sebagai IDO profunda.

b.3. Kriteria IDO Organ / rongga tubuh (Organ /Space SSI)


- Infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah tindakan operasi tanpa
pemasangan implant atau dalam waktu 1 tahun bila operasi dengan pemasangan implant
dan infeksi diduga ada kaitannya dengan prosedur operasi dan.
- infeksi mengenai semua bagian dari tubuh, kecuali insisi kulit, fascia dan lapisan otot
yang sengaja dibuka atau dimanupulasi selama prosedur/ tindakan dan
- pasien sekurang-kurangnya mempunyai / memenuhi salah satu keadaan dibawah ini :
 Drainase purulen dari suatu drain yang dipasang melalui ”stab wound” kedalam
organ/ rongga tubuh.
 Dapat diisolasikan kuman penyebab dari biakan cairan atau jaringan yang diambil
secara aseptic dari organ/ rongga tubuh.
 Abscess atau adanya bukti lain terjadinya infeksi yang mengenai organ/ rongga
tubuh yang ditemukan berdasarkan pemeriksaan langsung, selama reoperasi, atau
berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi (PA) atau radiologi.
 Diagnosis IDO organ/ rongga tubuh oleh dokter bedah atau dokter yang menangani
pasien tersebut.
Petunjuk pencatatan/ pelaporan IDO Organ/ Rongga Tubuh :
 Organ atau rongga tubuh meliputi semua bagian/ organ tubuh manusia kecuali
kulit, fascia atau lapisan otot, yang sengaja dibuka atau dimanupulasi selama
tindakan operasi. Tempat atau nama organ tubuh yang spesifikasi harus
dicantumkan pada IDO organ/ rongga tubuh untuk mengidentifikasikan tempat
terjadinya infeksi.
 Secara spesifik tempat terjadinya infeksi harus dicantumkan dalam pelaporan IDO
organ/ rongga tubuh (lihat juga kriteria untuk tempat tersebut ) sebagai contoh,
pada tindakan apendektomi yang kemudian terjadi abses sub-diafragma, akan
dilaporkan sebagai IDO organ/ rongga tubuh dengan tempat spesifiknya
pada”intra-abdominal”(IDO-IAB)
 Daftar nama organ spesifik yang digunakan dalam pencatatan/ pelaporan untuk
IDO organ/ rongga tubuh : secara spesifik tempat terjadinya infeksi harus
dicantumkan dalam pelaporan IDO Organ/ Rongga tubuh (lihat juga kriteria untuk
tempat tersebut ):
- BONE - LUN - BRST - MED -CARD - MEN
- DISC - ORAL - EAR - OREP - MET - OUTI
- ENDO - SA - EYE - SINU - GIT - UR
- IAB - VASC - IC - VCUF - JNT

 Biasanya Infeksi organ/ rongga tubuh keluar (drains) melalui tempat insisi. Infeksi
tersebut umumnya tidak memerlukan re-operasi dan dianggap sebagai komplikasi
dari insisi, sehingga keadaan tersebut harus dikualifikasikan sebagai suatu IDO
profunda.

c. Faktor resiko IDO


Faktor risiko terjadinya IDO dapat berasal dari :
 Kondisi pasien sendiri, misalnya : usia, obesitas, penyakit berat, ASA Score,
karier MRSA, lama rawat pra-operasi, malnutrisi, DM, penyakit keganasan.
 Prosedur operasi : cukur rambut sebelum operasi, jenis tindakan antibiotik
profilaksis, lamanya operasi, tindakan lebih dari 1 jenis benda asing, transfusi
darah, mandi sebelum operasi, operasi emergensi, drain.
 Jenis operasi : operasi bersih, operasi bersih terkontaminasi, operasi kotor
 Perawatan paska infeksi : tempat perawatan, tindakan-tindakan keperawatan (
pergantian verban ) lama perawatan.
30 hari post operasi - 30 hari post operasi, atau
- 1 tahun bila ada pemasangan implant
kejadian
Waktu

≥ 1 simtom
a. Drainase purulen
b. Kultur cairan/ jaringan +
c. Abscess atau bukti infeksi lain : pengamatan
langsung, laboratorium, histopatologi dsb
(Tanda-Gejala)

d. Diagnosis dokter
Simtom

e. Insisi membuka spontan e. insisi” dehisces


atau sengaja dibuka dr. spontan atau sengaja
bedah, kultur+ atau tidak dibuka oleh dr. bedah
dilakukan kultur dan ≥1 hasil biakan positif
tanda radang atau tidak dilakukan
biakan dan nyeri local
atau demam

Kulit Jaringan lunak Operasi membuka


Yang Terlibat

Jaringan subkutan profunda : kulit, otot dan fascia


Jaringan

Fascia Otot sampai mencapai


rongga/ organ tubuh

ILO SUPERFISIAL ILO PROFUNDA ILO ORGAN/


Jenis ILO

RONGGA

Gambar 12 : Diagram Alur Infeksi Daerah Operasi

Keterangan :
 Bukti lain terjadinya IDO dapat berupa temuan langsung, selama re-operasi, atau
berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi (PA) atau radiologi
5. Infeksi Penyakit Lainnya
5.1. Phlebitis
a. Definisi
phlebitis dalam klasifikasi HAIs oleh CDC, dikelompokkan dalam CVS-VASC (
Arterial or venous infection)
b. Kriteria Phlebitis
Infeksi arteri atau vena harus memenuhi minimal 1 dari kriteria berikut :
1). Hasil Kultur positif dari arteri atau vena yang diambil saat operasi
2). Terdapat bukti infeksi dari arteri atau vena yang terlihat saat operasi atau
berdasarkan bukti histopatologik.
3). Pasien minimal mempunyai 1 gejala dan tanda berikut, tanpa diketemukan
penyebab lainnya :
 Demam (>38ºC), sakit, eritema, atau panas pada vaskuler yang terlibat, dan
 Kultur semikuantitatif dari ujung kanula intravaskuler tumbuh>15 koloni
mikroba, dan
 Kultur darah tidak dilakukan atau hasil negatif

4). Adanya aliran nanah pada vaskuler yang terlibat.


5). Untuk Pasien ≤1tahun, minimal, mempunyai 1 gejala dan tanda berikut, tanpa
diketemukan penyebab lainnya :
 Demam (>38ºC rektal), hipotermi(<37ºCrektal), apneu, bradikardi, letergi
atau sakit, eritema, atau panas pada vaskuler yang terliba, dan
 Kultur semikulantitatif dari ujung kanula intravaskular tumbuh >15 koloni
mikroba, dan
 Kultur darah tidak dilakukan atau hasil negatif.

c. Petunjuk Pelaporan
 Infeksi dari tranplantasi arteri-vena, shunt, atau fistula atau lokasi kanulasi
vaskuler sebagai CVS-VASC tanpa adanya hasil kultur dari darah
 Infeksi intravaskuler dengan hasil kultur darah positif, dilaporkan sebagai IADP.

5.2. Infeksi Dekunitus


a. Kriteria Infeksi dekubitus :
Infeksi dekubitus harus mempunyai 2 gejala dan tanda berikut, yang tidak diketahui
penyebab lainnya : kemerahan, sakit, atau pembengkakan di tepih luka dekubitus, dan
 Minimal ditemukan 1 dari bukti berikut :
o Hasil kultur positif dari cairan atau jaringan yang diambil secara benar
o Hasil kultur darah positif.

Keterangan :
- adanya cairan purulen semata, belum cukup sebagai bukti infeksi
- kultur positif dari permukaan dekubitus belum cukup sebagai bukti infeksi.
Spesimen kultur yang berupa cairan harus diambil dari bagian dalam luka
dekubitus dengan menggunakan jarum aspirasi. Spesimen jaringan diambil
dengan cara biospy tepian ulkus.

E. MANAJEMEN SURVEILANS
1. Identifikasi Kasus
Surveilans yang dilakukan di Puskesmas Umum Kabupaten Karawang adalah
surveilans aktif yaitu kegiatan yang secara khusus dilakukan untuk mencari kasus IRS
oleh orang-orang yang telah terlatih dan hampir selalu Komite/Tim PPI tersebut
mencari data dari berbagai sumber untuk mengumpulkan informasi dan memutuskan
apakah terjadi IRS atau tidak. Juga kasus IRS didapatkan berdasarkan klinis pasien
atau temuan laboratorium dengan menelaah faktor resiko, memantau prosedur
perawatan pasien yang terkait dengan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian
infeksi. Dalam hal ini diperlukan pengamatan langsung diruang perawtan dan diskusi
dengan dokter atau perawat yang merawat.

Surveilans yang berdasarkan pada temuan laboratorium, semata-mata didasarkan atas


hasil pemeriksaan laboratorium atas sediaan klinik. Oleh karena itu infeksi yang tidak
dikultur yaitu yang didiagnosis secara klinik (berdasarkan gejala dan tanda klinik)
saja, seperti spesis dapat terlewatkan, sementara hasil biakan positif tanpa konfirmasi
klinik dapat secara salah diinterprestasikan sebagai IRS (misalnya hasil positif hanya
merupakan kolonisasi dan bukan infeksi).

Surveilans prospektif juga dilakukan pada pasien operasi yaitu dengan pemantauan
setiap pasien selama dirawat di puskesmas dan untuk pasien operasi sampai setelah
pasien pulang (satu bulan untuk operasi implant dan satu tahun jika ada pemasangan
implant). Saat kontrol ke poliklinik.

Keuntungan yang paling utama pada surveilans prospektif adalah :


a. Dapat langsung menentukan kluster dari infeksi
b. Adanya kunjungan Komite/Tim PPI di Ruang Perawatan
c. Memungkinkan analisis data berdasarkan waktu dan dapat memberikan umpan
balik.

Kelemahannya adalah memerlukan sumber daya yang lebih besar dibandingkan


surveilans retrospektif.

2. Pengumpulan dan Pencatatan Data


Pengumpulan dan pencatatan data dilakukan oleh tim PPI Puskesmas Umum
Kabupaten Karawang dan Pelaksanaannya dilakukan oleh IPCN yang dibantu IPCLN.

Surveilans IRS difokuskan pada IRS IADP, ILO,VAP dan ISK diruang pelayanan
yaitu diperioritaskan di Ruang ICU, Perawatan Bedah, NICU, Perawatan Kebidanan
dan Kandungan. Pelaksanaanya Komite/ TimPPI harus memiliki akses yang luas atas
sumber data serta perlu mendapatkan kerjasama dari semua bagian/ unit di
Puskesmas, agar dapat melaksanakan surveilans dengan baik atau melaksanakan
penyelidikan suatu KLB.

Sumber dari dokter, perawat, pasien mauoun keluarga pasien, dari farmasi, catatan
medik, catatan perawat, untuk mengingatkan Komite/ Tim PPI kepada suatu infeksi
baru dan juga mencari rujukan mengenai cara pencegahan dan pengendaliannya.

a. Pengumpulan Data Numerator


1). Pengumpulan Data
Pengumpulan numerator data dapat dilakukan oleh selain IPCN, misalnya IPCLN
yang sudah dilatih atau dengan melihat program otomatis dari database elektronik,
tetapi tetap IPCN atau seorang IPCO ( Infection Prevention Control Officer) atau
IPCD ( Infection Prevention Control Doctor ) yang membuat keputusan final
tentang adanya IRS berdasarkan kriteria yang dipakai untuk menentukan adanya
IRS.
2). Jenis Data Numerator yang Dikumpulkan
 Data demografik : nama, tanggal lahir, jenis kelamin, nomor catatan medik,
tanggal masuk RS
 Infeksi : tanggal infeksi muncul, lokasi infeksi ruang perawatan saat infeksi
muncl pertama kali.
 Faktor Resiko : alat, prosedur, faktor lain yang berhubungan dengan IRS
 Data Laboratorium : Jenis mikroba, antibiogram serologi, patologi
 Data Radiology/ imaging : X-ray, CT scan, MRI, dsb.

3). Sumber data Numerator


a) Catatan masuk/ keluar/ pindah rawat, catatan laboratorium mikrobiologi
b). Mendatangi bangsal pasien untuk mengamati dan berdiskusi dengan
perawat.
c). Data-data pasien (catatan kertas atau komputer) untuk kinfirmasi kasus:
 Hasil Laboratorium dan radiologi/ imaging
 Catatan perawat dan dokter dan konsulan
 Diagnosis saat masuk RS
 Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
 Catatan diagnostik dan intervensi bedah
 Catatn suhu
 Informasi pemberian antibiotik
d). Untuk kasus SSI post-discharge, sumber data termasuk catatan dari
klinik bedah, catatan dokter, departemen emergensi.

4). Bagaimana IPCO mengumpulkan data numerator


a). Amati catatan masuk/ keluar/ pindah rawat pasien-pasien yang masuk
dengan infeksi, tempatkan mereka pada kelompok risiko mendapatkan
IRS.

b). Review laporan laboratorium untuk melihat pasien yang


kemungkinan terinfeksi ( misalnya kultur positif mikrobiologi, temuan
patologi dan bicarakan dengan personil laboratorium untuk
mengidentifikasi pasien yang kemungkinan terinfeksi dan untuk
mengidentifikasi kluster infeksi, khususnya pada area yang tidak
dijadikan target rutin surveilans IRS.

c). Selama melakukan surveilans keruangan, amati lembur


pengumpulan data, catatan suhu, lembar pemberian antibiotik, dan
catatan medis pasien; bicara dengan perawat dan dokter untuk mencoba
mengidentifikasi pasien-pasien yang kemungkinan terinfeksi.

d). Lakukan review data pasien yang dicurigai terkena IRS : review
perjalanan penyakit yang dibuat oleh dokter dan perawat, data
laboratorium, laporan radiologi/ imaging, laporan operasi, dsb. Bila data
elektronik ada, review dapat dilakukan melalui komputer, tetapi keliling
ruangan tetap penting untuk surveilans, pencegahan, dan kontrol
aktivitas.

e). Reviewjuga dilakukan dari sumber kumpulan data lengkap IRS.

b. Pengumpulan Data Denominator


1) Pengumpulan data denominator
Pengumpulan denominator data dapat dilakukan oleh selain IPCN, misalnya
IPCLN yang sudah dilatih. Data juga dapat diperoleh, asalkan data ini secara
substansial tidak berbeda denngan data yang dikumpulkan secara manual.
2) Jenis data denominator yang dikumpulkan
a. jumlah populasi pasien yang berisiko terkena IRS
b. untuk data laju densitas insiden IRS yang berhubungan dengan alat :
catatan harian jumlah total pasien dan jumlah total hari pemasangan alat
( ventilator, central Line, and kateter urin ) pada area yang dilakukan
surveilans. Jumlahkan hitungan harian ini pada akhir periode surveilans
untuk digunakan sebagai denominator.
c. Untuk laju SSI atau untuk mengetahui indek risiko : catat informasi
untuk prosedur operasi yang dipilih untuk surveilans (misal : jenis
prosedur, tanggal, faktor risiko dsb)

3). Sumber data denominator


a. untuk laju densitas insiden yang berhubungan dengan alat : datangi area
perawatan pasien untuk mendapatkan hitungan harian dari jumlah pasien yang
datang danb jumlah pasien yang terpasang alat yang umumnya berhubungan
dengan kejadian IRS ( misal : sentral line , ventilator, atau kateter menetap).
b. untuk laju SSI : dapatkan data rinci saat operasi dari log kamar operasi untuk
msaing-masing prosedur operasi.

4). Bagaimana ICP mengimpulkan data denominator


a. Untuk laju densitas yang berhubungan dengan alat : catatan harian jumlah
pasien yang datang dan jumlah pasien yang terpasang masing-masing alat.
b. Untuk laju SSI : dapatkan data rinci dari log kamar operasi dan data-data
pasien yang diperlukan.

c. Perhitungan
1) Numerator
Angka kejadian infeksi dan perlu data untuk dicatat
Terdapat tiga kategori yang perlu dicatat atas seorang pasien dengan IRS,
yaitu : data demografi, infeksinya sendiri dan data laboratorium.
2) Denominator
Data yang perlu dicatat
Denominator dari infection rates adalah tabulasi dari data pada kelompok
pasien yang memiliki risiko untuk mendapat infeksi :
 Jumlah pasien dan jumlah hari rawat pasien,
 Jumlah hari pemakaian ventilator,
 Jumlah total hari pemakaian kateter vena sentral dan
 Jumlah hari pemakaian kateter urin menetap
3) Pencatatan Data
Metode yang dipakai dalam surveilans IRS ini adalah metode target
surveilans aktif dengan melakukan kunjungan lapangan (bangsal).
Dilakukan identifikasi keadaan klinik pasein ada tindakannya tanda-tanda
infeksi dan factor-factor risiko terjadinya infeksi bila ditemukan tanda-tanda
infeksi dan faktor-faktor risiko dilakukan pemeriksaan laboratorium sebagai
pemeriksaan penunjang. Kalau kegiatan penemuan kasus dengan mengakses
data dari meja kerjanya.
Biasanya, penemuan kasus dimulai dengan menelusuri daftar pasien baru
masuk dengan infeksi maupun tidak infeksi(baik infeksi komunitas maupun
IRS pada perawatan sebelumnya) dan pasien-pasien yang mempunyai risiko
untuk mendapatkan IRS seperti pasien diabetes atau pasien dengan penyakit
imunosupresi kuat. Selanjutnya, mengunjungi laboratorium untuk melihat
laporan biakan mikrobiologi. Hal ini dapat membantu Komite / Tim PPI
menentukan pasien mana yang perlu ditelaah lebih lanjut. Dibangsal
melakukan observasi klinis pasien laporan keperawatan, grafik suhu, lembar
pemberian antiboitik. Untuk mendapatkan data yang lebih akurat dapat
melakukan wawancara dengan dokter, perawta dan pasien maupun
keluarganya. Kunjungan rutin ke bangsal dan laboratorium ini memberi
kesempatan kepada Komite/ Tim PPI untuk mengadakan kontak langsung
dengan petugas perawatan atau Laboratorium, untuk mendapat gambaran
adanya IRS serta gambaran penerapan keadaan umum pada saat itu serta
memberikan bimbingan langsung pendidikan (on-the-sport) tentang
pencegahan dan pengendalian infeksi pada umumnya atau Kewaspadaan
Standar pada khususnya.
4). Sumber data dan tekhnik pengumpulan Data
Sumber Data :
a. Catatan Medis/ catatan perawat
b. Catatan Hasil pemeriksaan penunjang (Laboratorium dan Radiologi)
c. Pasien/ Keluarga Pasien
d. Farmasi
e. Rekam Medik

Tekhnik pengumpulan Data :


a. Pengumpulan data denominator dan numerator dilakukan oleh IPCN
yang dibantu ileh IPCLN.
b. Data denominator dikumpulkan setiap hari, yaitu jumlah pasien, jumlah
pemakaian alat-alat kesehatan (kateter urine menetap, ventilasi mekanik,
kateter vena central, kateter vena perifer) dan jumlah kasus operasi.
c. Data numerator dikumpulkan bila ada kasus baru infeksi seperti infeksi
saluran kemih (ISK), infeksi aliran darah primer (IADP), pneumonia
baik yang terpasang dengan ventilator maupun tidak terpasang dengan
ventilator, Infeksi Daerah operasi (IDO).

Jumlah Kasus ISK


Insiden rate ISK = ________________________________________________X1000
Jumlah Lama hari pemakaian kateter urine menetap
Jumlah Kasus IADP
Insiden rate IADP = ________________________________________________X1000
Jumlah Lama hari pemakaian kateter vena sentral

Jumlah Kasus pneumonia


Insiden rate HAP = ________________________________________________X1000
Jumlah lama hari rawat

Jumlah Kasus VAP


Insiden rate VAP = ________________________________________________X1000
Jumlah Lama hari pemakaian ETT

Jumlah Kasus IDO


Insiden rate ILO = ________________________________________________X100
Jumlah kasus Operasi

Jumlah Kasus Plebitis


Insiden rate Plebitis = ________________________________________________X1000
Jumlah Lama hari pemakaian kateter perifer

Jumlah Kasus Dekubitus


Insiden rate Dekubitus = ________________________________________________X1000
Jumlah Lama tirah baring

3. Analisis Data
Menentukan dan menghitung laju.
Laju adalah suatu probabilitas suatu kejadian.
Biasa dinyatakan dalam formula sebagai berikut :
X = numerator, adalah jumlah kali kejadian selama kurun waktu tertentu
Y = denominator, adalah jumlah populasi darimana kelompok yang mengalami
kejadian tersebut berasal selama kurun waktu yang sama.
K = angka bulat yang dapat membantu angka laju dapat mudah dibaca (100,1000
atau 10.000).

Kurun waktu harus jelas dan sama antara numerator dan denominator sehingga laju
tersebut mempunyai arti.

Ada tiga macam laju yang dipakai dalam surveilans IRS atau surveilans lainnya,
yaitu incidence, prevalence dan incidence density.
1. Incidence
Adalah jumlah kasus baru dari suatu penyakit yang timbul dalam satu kelompok
populasi tertentu dalam kurun waktu tertentu pula.
Didalam surveilans IRS maka incidence adalah jumlah kasus IRS baru dalam
kurun waktu tertentu dibagi oleh jumlah pasien dengan resiko untuk
mendapatkan IRS yang sama dalam kurun waktu yang sama pula.
2. Prevalence
Adalah jumlah total kasus baik baru maupun lama suatu kelompok populasi
dalam satu kurun waktu tertentu (period prevalence) atau dalam satu waktu
tertentu ( point prevalence).
Point prevalence nosokomial rates adalah jumlah kasus IRS yang dapat dibagi
dengan jumlah pasien dalam survei.

Rhame menyatakan hubungan antara incidence dan prevalence adalah sebagai


berikut:
I = Incidence rates
P = Prevalence rates
LA = Nilai rata-rata dari lama rawat semua pasien
LN = Nilai rata-rata dari lama rawat pasien yang mengalami satu atau
lebih IRS
INTN = Interval rata-rata antara waktu masuk puskesmas dan hari pertama
terjadinya IRS
Pada pasien-pasien yang mengalami satu atau lebih IRS tersebut.
Dalam penerapan dipuskesmas maka prevalence rates selalu memberikan over
estimate untuk resiko infeksi oleh karena lama rawat dari pasien yang tidak
mendapat IRS biasanya lebih pendek dari lama rawat pasien dengan IRS.
Hal ini dapat lebih mudah dilihat dengan menata ulang formula sebagai berikut :
Dimana prevalence sama dengan incidence dikali Lama Infeksi

3. Incidence Density
Adalah rata-rata instant dimana infeksi terjadi, relatif terhadap besaran populasi
yang bebas infeksi. Incidence density diukur dalam satuan jumlah kasus penyakit
per satuan orang per satuan waktu.
Contoh populer dari Incidence Density Rates (IDR) yang sering dipakai
dipuskesmas adalah jumlah IRS per 1000 pasien/ hari.
Incidence density sangat berguna terutama pada keadaan sebagai berikut :
a. Sangat berguna bila laju infeksinya merupakan fungsi linier dari waktu
panjang yang dialami pasien terhadap faktor risiko (misalnya semakin lama
pasien terpajan, semakin besar risiko mendapat infeksi).
Contoh incidence density rate (IDR):
Jumlah kasus ISK/ jumlah hari pemasangan kateter.
Lebih baik daripada Incidence Rate (IR) dibawah ini
Jumlah ISK jumlah pasien yang terpasang kateter urin.
Oleh karena itu IDR dapat mengontrol lamanya pasien terpajan oleh faktor
risikonya (dalam hal ini pemasangan kateter urin) yang berhubungan secara
linier dengan risiko infeksi.
b. Jenis laju lain yang sering digunakan adalah Atack Rate (AR) yaitu suatu
bentuk khusus dari incidence rate. Biasanya dinyatakan dengan persen (%)
dimana k= 100 dan digunakan hanya pada KLB IRS yang mana pajanan
terhadap suatu populasi tertentu terjadi dalam waktu pendek.

Surveilans merupakan kegiatan yang sangat membutuhkan waktu dan menyita hampir
separuh waktu kerja seorang IPCN sehingga dibutuhkan penuh waktu (full time). Dalam
hal ini bantuan komputer akan sangat membantu, terutama akan meningkatkan efisien pada
saat analisis. Besarnya data yang harus dikumpulkan dan kompleksitas cara analisisnya
merupakan alasan mutlak untuk menggunakan fasilitas komputer, meski dipuskesmas kecil
sekalipun. Lagi pula sistem surveilans tidak hanya berhadapan dengan masalah pada waktu
sekarang saja, tetapi juga harus mengantisipasi tantangan di masa depan.

Dalam penggunaan komputer tersebut ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu
:
1. memilih sistem komputer yang akan dipakai, komputer mainframe atau komputer
mikro. Komputer mainframe bekerja jauh lebih cepat, memuat data jauh lebih besar.
Dan memiliki jaringan yang dapat diakses diseluruh area puskesmas. Semua data
pasien seperti sensus pasien, hasil laboratorium dan sebagainya, dapat dikirim
secara elektronik. Namun harus diingat bahwa komputer mainframe adalah cukup
mahal baik pembelian maupun operasionalnya. Tidak setiap orang dapat
menggunakannya dan memerlukan pelatihan yang insentif. Software untuk program
pencegahan dan pengendalian IRS bagi komputer mainframe sampai saat ini masih
terbatas. Mikrokomputer jauh lebih murah dan lebih mudah dioperasikannya oleh
setiap petugas.
2. Mencari software yang sudah tersedia dan memilih yang digunakan.
Pemilihan software harus dilakukan hati-hati dengan mempertimbangkan maksud
dan tujuan dari surveilans yang akan dilaksanakan diPuskesmas.

4. Evaluasi, Rekomendasi dan Diseminasi


Hasil Surveilans dapat digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program
pencegahan dan pengendalian infeksi puskesmas (PPIRS) dalam satu waktu tertentu.
Memperbandingkan Laju Infeksi Diantara Kelompok Pasien Denominator dari suatu
laju Infeksi Diantara Kelompok Pasien
Denominator dari suatu laju (rate) harus menggambarkan populasi at.risk. Dalam
membandingkan laju antar kelompok pasien didalam suatu puskesmas, maka laju tersebut
harus disesuaikan terlebih dahulu terhadap faktor risiko yang berpengaruh besar akan
terjadinya infeksi. Kerentanan pasien untuk terinfeksi sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor risiko tertentu, seperti karakteristik pasien dan pajanan.

Faktor risiko ini secara garis besar dibagi menjadi 2 kategori yaitu faktor intrinsik dan
faktor ekstrinsik.
1. faktor intrinsik adalah faktor yang melekat pada pasien seperti penyakit yang
mendasari dan ketuaan. Mengidentifikasi faktor risiko ini perlu dilakukan dengan
mengelompokkan pasien dengan kondisi yang sama (distratifiksi).
2. Faktor ekstrinsik adalah yang lebih berhubungan dengan petugas pelayanan atau
perawatan (perilaku petugas diseluruh puskesmas ).
Meskkipun hampir semua faktor ekstrinsik memberikan risiko IRS, namun yang
lebih banyak peranannya adalah jenis intervensi medis yang berisiko tinggi, seperti
tindakan invasif, tindakan operatif atau pemasangan alat invasif. Banyak alasan
yang dapat dikemukakan mengapa pasien yang memiliki penyakit lebih berat yang
meningkat kerentanannya. Alat tersebut merupakan jembatan bagi masuknya kuman
penyakit dari bagian tubuh yang satu kedalam bagian tubuh yang lain dari pasien.
Risiko untuk mendapat infeksi luka operasi (ILO), berkaitan dengan beberapa
faktor,. Diantaranya, yang terpenting adalah bagaimana prosedur operasi
dilaksanakan, tingkat kontaminasi mikroorganisme ditempat operasi, lama operasi
dan faktor intrinsik pasien. Oleh karena faktor-faktor tersebut tidak dapat
dieliminasi maka angka ILO disesuaikan terhadap faktor-faktor tersebut.

Demikian pula halnya dengan jenis laju yang lain, apabila akan diperbandingkan
maka harus diingat faktor-faktor mana yang harus disesuaikan agar perbandinganya
menjadi bermakna.

Memperbandingkan Laju Infeksi dengan populasi pasien


Puskesmas dapat menggunakan data surveilans IRS untuk menelaah program
pencegahan dan pengendalian IRS dengan membandingkan angka laju IRS dari dua
ICU atau dapat pula menggunakan laju IRS dengan angka eksternal (benchmark
rates) puskesmas atau dengan mengamati perubahan angka menurut waktu di
puskesmas itu sendiri.

Meskipun angka laju infeksi telah mengalami penyesuaian dan melalui uji
kemaknaan namun interprestasi dari angka-angka tersebut harus dilakukan secara
hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan. Banyak yang mengaggap bahwa angka laju
infeksi dipuskesmas itu mencerminkan kebersihan dan kegagalan dari petugas
pelayanan/ perawatan pasien atau fasilitas pelayanan kesehatan dalam upaya
pencegahan dan pengendalian IRS.

Meskipun ada benarnya, masih banyak faktor yang mempengaruhi adanya


perbedaan angka tersebut.

Pertama, definisi yang dipakai atau teknik dalam surveilans tidak seragam abtara
puskesmas atau tidak dipakai secra konsisten dari waktu kewaktu meskipun dari
sarana yang sama. Hal ini menimbilkan variasi dari sensitifitas dan spesifikasi
penemuan kasusnya.

Kedua, tidak lengkapnya informasi klinik atau bukti-bukti laboratorium yang


tertulis di catatan medik pasien memberi dampak yang serius terhadap validitas dan
utilitas dari angka laju IRS yang dihasilkan.

Ketiga, angka tidak disesuaikan terhadap faktor resiko intrinsik. Faktor risiko ini
sangat penting artinya dalam mendapatkan suatu IRS, namun sering kali lolos dari
pengamatan dan sangat bervariasi dari Puskesmasyang satu ke Puskesmas yang lain.
Sebagai contoh, di puskesmas yang memiliki pasien dengan immunocompromised
diharapkan memiliki faktor risiko intrinsik yang lebih besar daripada puskesmas
yang tidak memiliki karakteristik pasien seperti itu.

Keempat, jumlah population at risk (misalnya jumlah pasien masuk/ pulang jumlah
hari rawat, atau jumlah operasi) mungkin tidak cukup besar untuk menghitung
angka laju IRS yang sesungguhnya di Puskesmas tersebut..

Meskipun tidak mungkin untuk mengontrol semua faktor tersebut diatas, namun
harus disadari pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap angka laju infeksi serta
memoertimbangkan hal tersebut pada saat membuat interprestasi.

Memeriksa Kelayakan dan Kelayakan Peralatan Pelayanan Medis

Utilisasi alat ( Device Utilization=DU ) didefinisikan sebagai berikut :

∑ hari pemakaian alat


DU=
∑ hari rawat pasien
Di ICU anak dan dewasa maka jumlah hari pemakaian alat terdiri dari jumlah total dari hari
npemakaian ventilator, jumlah hari pemasangan kateter urin. DU suatu ICU merupakan
salah satu cara mengukur tingkat penerapan tindakan invasif yang memberikan faktor
resiko intrinsik bagi IRS. Maka DU dapat dipakai sebagai tanda berat ringannya pasien
yang dirawat diunit tersebut, yaitu pasien rentan secara intrinsik terhadap infeksi. DU tidak
berhubungan dengan laju infeksi (infection rate) yang berkaitan dengan pemakaian alat,
jumlah hari pemakaian.

Perhatian Komite/ Tim Ppi tidak hanya terpaku pada laju infeksi dipuskesmas. Sehubungan
dengan mutu pelayanan/ perawatan maka harus dipertanyakan tentang : ”apakah pajanan
pasien terhadap tindakan invasif yang meningkat risiko IRS telah diminimalkan ?”
peningkatan angka DU di ICU memerlukan penelitian lebih lanjut. Untuk pasien yang
mengalami tindakan operatif tertentu, maka distribusi pasien mengenai kategori risikonya
sangat bermanfaat. Misalnya, untuk membantu menentukan kelayakan intervensi yang
diberikan. Meneliti kelayakan suatu intervensi juga membantu menentukan apakah pajanan
telah diminalkan.

Pelaporan
Laporan sebaiknya sistematik, tepat waktu, informatif. Data dapat disajikan dalam berbagai
bentuk, yang penting mudah dianalisa dan di interprestasi. Penyajian data harus jelas,
sederhana, dapat dijelaskan diri sendiri. Bisa dibuat dalam bentuk table, grafik, pie.
Pelaporan dengan narasi singkat.

Tujuan untuk :
 Memperlihatkan pola IRS dan perubahan yang terjadi (trend)
 Memudahkan analisis dan interprestasi data

Laporan dibuat secara periodik, setiap bulan, triwulan, semester, tahunan.

Desiminasi
Surveilans didesininasikan kepada yang berkepentingan untuk melaksanakan pencegahan
dan pengendalian infeksi. Oleh sebab itu hasil surveilans angka infeksi harus disampaikan
keseluruh anggota komite, direktur puskesmas, ruangan atau unit terkait secara
berkesinambungan. Disamping itu juga perlu didesiminasikan kepada kepala unit terkait
dan penanggung jawab ruangan beserta stafnya berikut rekomendasinya.

Oleh karena itu mengandung hal yang sangat sensitif, maka data yang dapat mengarah
kepasien atau perawatan harus benar-benar terjaga kerahasiaannya. Dibeberapa negara data
seperti ini bersifat rahasia. Data seperti ini tidak digunakan memberikan sanksi tetapi hanya
digunakan untuk tujuan perbaikan mutu pelayanan.

Tujuan diseminasi agar pihak terkait dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk
menetapkan strategi pengendalian IRS. Laporan didesiminasikan secara periodik bulanan,
triwulan, tahunan. Bentuk, penyampaian dapat secara lisan dalam pertemuan, tertulis,
papan buletin.

Sudah selayaknya Komite/ Tim PPI menyajikan data surveilans dalam bentuk satandar
yang menarik yaitu berupa laporan narasi singkat ( rangkuman), tabel, grafik kepada
Komite/ Tim PPI Analisis yang mendalam dari numerator dapat dilaksanakan untuk
memberikan gambaran epidemiologinya, termasuk kuman patogen dan faktor risikonya.

Tabel 7. dibawah ini menggambarkan hubungan unsur-unsur metode surveilans terhadap


Laju Infeksi Puskesmas.
UNSUR POPULASI TEMPAT DATA LAJU/
SURVEILANS AT RISK INFEKSI DENOMINAT RATIO
OR
Data Yang
diperlukan
Surveilans Semua pasien yang Semua temoat Jumlah : Laju setiap 100pasien
Komprehensif memenuhi kriteria infeksi dan tanggal 1.pasien masuk masuk atau keluar :
masuk dalam infeksi dalam bulan atau keluar dari 1.secara keseluruhan
surveilans yang sama setiap aplikasi 2. spesifikasi bagi tempat
surveilans tertentu
2. persalinan 3. spesifikasi tempat
normal pelayanan.
3. operator Laju per 100 persalinan
caesar normal laju per 100
operasi caesar.
Rawat Intensif Semua pasien di Semua tempat 1.∑pasien 1.Angka infeksi ICU
ruang rawat intensif infeksi dan tanggal 2. ∑hari rawat secara umum per 100
yang terpilih ikut infeksi dalam bulan 3.∑ hari insersi pasien atau 1000 pasien/
pasien sampai 48 yang sama kateter urin hari.
jam setelah pulang 4.∑insersi 2. Angka ISJ Puskesmas
ventilator yang poer 1000hari insersi
5.∑pasien pada kateter.
tanggal 1 bulan 3.Angka spsis untuk setiap
itu dan pada 1000hari pemasangan
tanggal 1 bulan central line
berikutnya 4. Angka Pneumonia
6.∑hari rawat Puskesmas insersi
semua pasien ventilator 1000hariinsersi
yang ada pada disetiap ICU.
tanggal 1 bulan Ratio pemakaian alat :
itu dan pada 1.Umum
tanggal 1 bulan 2.Central Line
berikutnya. 3.Ventilator kateter urin.

Ruang Rawat Semua bayi dengan Semua jenis IRS Data Jumlah bayi risiko per 100
bayi resiko perawatan tingkat dengan ,masa dikumpulkan pasien dan per1000hari
tinggi III inkubasinya untuk 4 macam rawat.
kategori berat
bayi (BB) lahir
Semua pasien Data dari 4 macam
diikuti selama 48 kategori BB lahir :
jam setelah keluar. 1.rata-rata tiap 100pasien
berisiko atau 1000 hari
rawat.
2.∑kasus bakterimia
nosokomial per 1000 hari
insersi ventilator
Ratio pemakaian alat :
1.Secara Umum
2.untuk setiap kategori
berat lahir
3.Central (umbilical) Line
4.Ventilator
Pasien Operasi Semua pasien yang Semua macam Data faktor SSI rates by :
menjalani tindakan infeksi atau infeksi risiko untuk 1.indeks prosedur dan
operasi pada liuka operasi setiap pasien risiko
dalam bulan yang yang dipantau : 2.kelas luka
sama 1.tanggal Ratio infeksi untuk setiap
operasi prosedur angka rata-rata
2.jenis setiap prosedur dan
operasi temapat infeksi.
3.nomor
register
pasien.
4.umur
5.jenis
kelamin
6.lama operasi
7.jenis luka
8.anestesi
umum
9.ASA score
10. emerge
ncy
11. trauma
12. prosedu
r ganda
13. pemerik
saan
endoskopik
14. tanggal
pulang
Data Tambahan
Surveilans Sama dengan diatas Sama dengan diatas 1.∑hari rawat Angka rata-rata untuk
Komprehensif untuk setiap setiap 1000hari rawat
jenis pelayanan 1.umum
medik 2.jenis pelayanan
2.∑pasien 3.tempat infeksi
masuk dan 4. tempat infeksi menurut
pasien keluar tempat pelayanan
pada setiap Angka rata-rata menurut
ruang rawat ruang rawat untuk setriap
3.∑hari rawatb 100pasien masuk atau
pada setiap keluar, atau setiap 1000hari
ruang rawat.
Site spesific rate per
100pasien masuk atau
keluar, atau 1000 hari
rawat.DRG spesific
infection rate per
100pasien keluar dari
setiap kategori DRG.
Pasien Operasi Sama dengan diatas Sama dengan diatas Nama atau kode SSI rates menurut operator,
dokter bedah prosedur dan indeks risiko.
Operator dan klasifikasi
luka ratio infeksi standar
menurut operator dan
prosedur rata-rata menurut
operator dan tempat
operasi

BAB VII
PENUTUP

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas Umum Kabupaten Karawang


merupakan sebagai acuan dalam penerapan pencegahan Infeksi, dengan harapan dapat
melindungi pasien, petugas dan masyarakat yang mendapatkan pelayanan di Puskesmas
serta dapat meningkatkan mutu pelayanan dengan melakukan suveilans Infeksi Puskesmas.
Infeksi puskesmas menjadi masalah yang tidak bisa dihindari di Puskesmas Umum
Kabupaten Karawang maupun di Puskesmas lain, sehingga dibutuhkan data dasar infeksi
untuk menurunkan angka yang ada. Untuk itu perlunya melakukan surveilans dengan
metode yang aktif, terus menerus dan tepat sasaran.

Pelaksanaan surveilans memerlukan tenaga khusus yang termasuk tugas dari IPCN. Untuk
itu diperlukan tenaga IPCN yang purna waktu sesuai standar

Pedoman pencegahan pengendalian infeksi puskesmas Umum Kabupaten Karawang


semoga dapat bermanfaat bagi petugas Puskesmas maupun Tim PPI.

DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas dan Fasilitas


Pelayanan Kesehatan Lainnya, Depkes 2007

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas dan Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Lainnya, Depkes ,2007
Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas dan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Lainnya, Depkes 2009

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Puskesmas dan Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Lainnya, Depkes, 2009

Pedoman Penatalaksanaan Flu Burung di Sarana Pelayanan Kesehatan, Dirjen Bina


Pelayanan Medic Depkes, 2006

Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya
Terbatas ,YBP-SP, Jakarta 2004

Lampiran 1. Cra menghitung Infeksi Aliran Darah Primer (IADP)


Teknik Perhitungan :

Laju Infeksi : Numerator x 1000 = ........%


Denominator

Jumlah Kasus IADP x 1000 = ........ %


Jumlah hari pemakaian alat

Contoh kasus :
Data di Ruangan A Puskesmas x sebagai berikut :
 jumlah pasien pada bulan Februari 2009 = 196 orang
 jumlah hari rawat =960 hari
 jumlah pasien terpasang infus = 90orang dengan jumlah hari pemasangan infus =
212 hari
 ditemukan tanda-tanda IRS berdasarkan hasil kultur positif dengan tanda klinis
yang jelas sebanyak 9 orang

Laju IADP = 9/212 x 1000 = 42.5%

Lampiran 2 Cara menghitung VAP dan HAP


Teknik Perhitungan :
 catat data secara manual atau komputerisasi sebagai data base
 tentukan numerator dan denominator
 Angka infeksi VAP adalah jumlah VAP dibagi dengan jumlah hari pemakaian alat
ventilasi mekanik
 Angka infeksi VAP = Jumlah kasus VAP x 1000
Jumlah hari pakai alat
 Angka Infeksi HAP adalah jumlah pasien HAP dibagi dengan jumlah hari rawat
pasien yang masuk pada periode tersebut.
 Angka infeksi HAP =
∑pasien HAP per bulan x 1000

∑hari rawat pasien per bulan


 Angka Infeksi VAP=
∑pasien VAP per bulan _________ x 1000
∑hari pemasangan alat ventilasi per bulan

Contoh kasus HAP :


Data surveilans bulan Desember 2008 diruang penyakit dalam RS X : jumlah pasien
yang masuk 77 orang, jumlah hari rawat 833 hari, jumlah pasien tirah baring sebanyak :
 16 orang stroke hemoragik
 9 orang stroke non hemoragik
 Jumlah hari rawat semua pasien stroke 375 hari
 Ditemukan HAP 2 orang : hasil kultur sputum MO Klebsiella pneumoniae berapa
angka infeksi HAP?
Angka infeksi HAP adalah : 2/375 x 1000 = 5,33%

Data surveilans bulan Januari 2009 diruang ICU :


 Jumlah pasien 5 orang
 Terpasang ventilasi mekanik 3 orang
 Jumlah hari pemasangan alat ventilator 30 hari
 Terinfeksi VAP sebanyak 1 orang ditandai : demam, adanya ronchi, sesak
napas, sputum purulen, X-ray toraks infiltrat(+)
Berapa angka VAP?

Angka Infeksi VAP adalah : 1/30 x 1000 = 33,3%

Lampiran 4. Cara Menghitung Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Populasi Beresiko ISK RS


Populasi yang beresiko terjadinya ISK RS yaitu semua pasien yang menggunakan
alat kateter urin menetap dalam waktu ≥2 x 24 jam.

Pengumpulan Data
 Dilakukan oleh orang-orang yang sudah mempunyai pengetahuan,
pengalaman dan keterampilan dalam mengidentifikasi kasus dan
mengumpulkan data.
 Identifikasi ISK :
o Laporan Unit
o Lakukan kunjungan keruangan : observasi atau wawancara
 Data ISK RS dan penggunaan alat kateter urin diambil secara serentak,
prospektif atau retrospektif.
 Data dikumpulkan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Contoh pengisian formulir harian :


Data pemakaian peralatan medis

Ruang/Unit : ICU ............/RS X...................Bulan : Juli ............... Tahun : 2009......


Pemakaian alat
Tgl No Nama ETT CVL IVL UC Kultur Antibiotika Ket
01-07-09 1 A 1 - Amx
2 B 1 Urine Cip E.Coli

3 C 1 - Zef
02-07-09 1 A 1 - Cip
2 D 1 Urine Amx Pseudomonas
(+)
3 F 1 - Amx

Dst.....
31-07-09 1 M 1 - Cip
2 N 1 - Cip Dx ISKoleh dr
3 O 1 - Gmc
4 R 1 - Mer

Contoh pengisisan formulir bulanan :


Formulir Bulanan
Data pemakaian alat& Infeksi
Ruang/ Unit : ..................../........................Bulan : ....................... Tahun ..........................
Tgl Jlh Ps ETT CVL IVL UC VAP Bakteremia Plebitis ISK
1 3 2 2 3 3 1
2 3 2 2 1 2 1
Dst. 2
31 4 1 1 1 1 1
Jumlah 196 212 5

- Numerator
Numerator adalah jumlah yang terinfeksi akibat penggunaan kateter urin menetap sesuai
kriteria dalam kurun waktu tertentu.

- Denominator
Denominator adalah jumlah hari pemasangan kateter urin dalam kurun waktu yang sama
dengan numerator.

Tekhnik penghitungan

Angka /Rate infeksi : Numerator x 1000 = ..........%


Denominator

Jumlah kasus ISK x 1000 = ......%


Jumlah hari pemasangan pemakaian alat

Angka (Rate) ISK RS= 5/ 212 x 1000 = 23.5% hari pemasangan kateter.

Lampiran 5. Cara menghitung infeksi Luka Operasi (ILO)


Kategori risiko :

1. Jenis Luka :
 Luka bersih dan bersih kontaminasi skor :0
 Luka bersih kontaminasi dan kotor skor :1
Keterangan :
1. luka bersih : nontrauma, operasi luka tidak infeksi, tidak membuka respiratory dan
genitoeinare.
2. bersih kontaminasi : operasi yang membuka saluran pernapasan dan genitorineri.
3. kontaminasi luka terbuka : trauma terbuka.
4. kotor dan infeksi : trauma terbuka, kontaminasi fecal.

2. Lama Operasi : waktu mulai dibuka insisi sampai penutupan kulit setiap jenis operasi
berbeda lama operasi (lihat tabel )
 lama operasi sesuai atau kurang dengan waktu yang ditentukan , skor : 0
 bila lebih dari waktu yang ditentukan, skor : 1

3. ASA Score
 ASA 1-2, skor : 0
 ASA 3-5, skor : 1

X/Y x 100%
X : jumlah kasus infeksi yang terjadi dalam waktu tertentu
Y : jumlah pasien operasi pada waktu tertentu.

Lampiran 6. Tabel . Jenis-jenis Infeksi Puskesmas dan Klarifikasinya berdasarkan CDC


UTI Urinary tract Infection

ASB Asymptomatic bacteriuria


SUTI Symptomatic Urinary tract infection
OUTI Other Infections of the urinary tract

SSI Surgical site infection


SIP Superficial incisional primary SSI
SIS Superficial incisional secondaray SSI
DIP Deep incisional primary SSI
DIS Deep incisional secondary SSI
Organ /Space Organ / Space SSI. Indicate specific type :
 BONE ■ LUNG
 BRST ■ MED
 CARD ■ MEN
 DISC ■ ORAL
 EAR ■ OREP
 EMET ■ OUTI
 ENDO ■ SA
 EYE ■ SINU
 GIT ■ UR
 IAB ■ VASC
 IC ■ VCUF
 JNT

BSI Bloodstream infection

LCBI Laboratory – confirmed bloodstream infection


CSEP Clinical sepsis

PNEU Pneumonia
PNU 1 Clinically defined pneumonia
PNU 2 Pneumonia with specific laboratory findings
PNU 3 Pneumonia in immunocompromised patient

BJ Bone and Joint Infection


BONE Osteomyelitis
JNT Joint or bursa
DISC Disc space

CNS Central nervous system


IC Intracranial infection
MEN Meningitis or ventriculitis
SA Spinal abscess without meningitis

CVS Cardiovascular system infection


VASC Arterial or venous infection
ENDO Endocarditis
CARD Myocarditis or pericarditis
MED Mediastinitis
EENT Eye, ear,nose, throat, or mouth infection
CONJ Conjunctivitis
EYE Eye, other than conjunctivitis
EAR Ear, mastoid
ORAL Oral cavity (mouth, tongue, or gums)
SINU Sinusitis
UR Upper respiratory tract, pharyngitis, laryngitis, epiglottitis

Laporan 6. jenis-jenis Infeksi Puskesmas dan Klasifikasinya berdasarkan CDC (lanjutan )

GI Gastrointestinal system infection


GE Gastroenteritis
GIT Gastrointestinal (GI) tract
HEP Hepatitis
IAB Intraabdominal,not specified elsewhere
NEC Necrotizing enterocolitis

LRI Lower respiratory tract infection, other than pneumonia


BRON Bronchitis, tracheobronchitis, tracheitis, without evidence of
pneumonia.
LUNG Other infections of the lower respiratory tract

REPR Reproductive tract infection


EMET Endometritis
EPIS Episiotomy
VCUF Vaginal cuff
OREP other infections of the male or female reproductive tract

SST Skin and soft tissue infection


SKIN Skin
ST Soft Tissue
DECU Decubitus ulcer
BURN Burn
BRST Breast abscess or mastitis
UMB Omphalitis
PUST Pustulosis
CIRC Newborn Circumcision

SYS System Infection


DI Disseminated infection