Anda di halaman 1dari 26

Tema :

BUDAYA LOKAL
(LOCAL CULTURE)

Judul :
PENERAPAN BENTUK ATAP RUMAH TRADISIONAL SUNDA
TERHADAP DESAIN STASIUN TRANSIT KERETA API
KIARACONDONG BANDUNG

Penyusun :
Sri Utami Andini
(21-2014-052)

Pembimbing :
Irfan S. Hasim, S.T., M.T
Ir. Achsien Hidayat, M.T

Proposal Sinopsis

ARA–500 TUGAS AKHIR ARSITEKTUR


Periode IIA Semester Genap – Tahun Akademik 2017/2018

Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Nasional
2018
SINOPSIS TUGAS AKHIR

1. JUDUL PROYEK
Penerapan Bentuk Atap Rumah Tradisional Sunda Terhadap Desain Stasiun Transit Kereta
Api Kiaracondong Bandung

2. PENGERTIAN JUDUL
2.1 Definisi judul
a. Penerapan / pe.ne.rap.an / n 1 proses, cara, perbuatan menerapkan; 2 pemasangan; 3
pemanfaatan; perihal mempraktikkan (sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses
Kamis, 25 Januari 2018 pukul 20.17 WIB)
b. Bentuk / ben.tuk / n 1 lengkung, lentur; 2 bangun, gambaran; 3 rupa, wujud; 4
sistem, susunan (pemerintahan, perserikatan, dan sebagainya); 5 wujud yang
ditampilkan (tampak); 6 acuan atau susunan kalimat; 7 kata penggolong bagi benda
yang berkeluk (sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Sabtu, 27 Januari 2018
pukul 19.34 WIB)
c. Atap n penutup rumah (bangunan) sebelah atas; benda yang dipakai untuk menutup
atas rumah (sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Sabtu, 27 Januari 2018
pukul 19.37 WIB)
d. Rumah / ru.mah / n 1 bangunan untuk tempat tinggal; 2 bangunan pada umumnya
(sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Sabtu, 27 Januari 2018 pukul 19.49
WIB)
e. Tradisional / tra.di.si.o.nal / a menurut tradisi (adat) (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Sabtu, 27 Januari 2018 pukul 19.51 WIB)
f. Sunda / sun.da / n 1 suku bangsa yang mendiami daerah Jawa Barat; 2 bahasa yang
dituturkan oleh suku Sunda (sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Kamis, 25
Januari 2018 pukul 20.24 WIB)
g. Terhadap / ter.ha.dap / p kata depan untuk menandai arah, kepada, lawan (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Kamis, 25 Januari 2018 pukul 20.26 WIB)
h. Desain / de.sa.in /désain/ n 1 kerangka bentuk, rancangan; 2 motif, pola, corak; 3
tahapan dalam siklus hidup perangkat lunak yang menekankan pada solusi logis, yaitu
bagaimana sistem dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Sabtu, 27 Januari 2018 pukul 20.53 WIB)
i. Stasiun/ sta.si.un / n 1 tempat menunggu bagi calon penumpang kereta api dan
sebagainya; tempat perhentian kereta api dan sebagainya; 2 bangunan yang dilengkapi
peralatan secara khusus untuk melaksanakan fungsi tertentu seperti gedung (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Kamis, 11 Januari 2018 pukul 13.10 WIB)
j. Transit/ tran.sit / n 1 tempat singgah; 2 lintasan barang dagangan; (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Kamis, 11 Januari 2018 pukul 13.12 WIB)
k. Kereta api/ ke.re.ta api / n 1 kereta yang terdiri atas rangkaian gerbong (kereta) yang
ditarik oleh lokomotif, dijalankan dengan tenaga uap (atau listrik), berjalan di atas rel
(rentangan baja dan sebagainya), digunakan untuk kendaraan umum (sumber:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/ di akses Kamis, 11 Januari 2018 pukul 13.15 WIB)
l. Kiaracondong (n) : salah satu kecamatan dari total 30 kecamatan yang ada di Kota
Bandung, terletak di Jl. Babakansari No.177 Kota Bandung yang dibangun sejak
tahun 1975/1976 dengan luas wilayah cakupan 613,03 Ha (sumber: bandung.go.id di
akses Kamis, 11 Januari 2018 pukul 13.18 WIB)
m. Bandung (n) : ibukota provinsi Jawa Barat, yang merupakan kota terbesar ketiga dan
kota metropolitan terluas kedua di Indonesia (sumber: https://kbbi.kemdikbud.go.id/
di akses Kamis, 11 Januari 2018 pukul 13.20 WIB)

Jadi, secara keseluruhan definisi judul tersebut adalah sebuah tempat singgah kereta
api untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang dan barang yang berada di kawasan
Kiaracondong Bandung dengan menerapkan bentuk atap rumah tradisional sunda dalam
perancangannya. Sehingga pada bentuk atap nya yaitu adaptasi dari bentuk atap rumah
tradisional sunda yang bertujuan untuk menciptakan karakter stasiun itu sendiri, dan
memunculkan identitas lokal kawasan, khususnya Kota Bandung yang kental akan budaya
Sunda dalam kesehariannya.

3. TEMA PERANCANGAN
Tema : Local Culture
Budaya merupakan suatu kebiasaan yang tak bisa lepas dari karakter baik seseorang
maupun kawasan. Stasiun Kiaracondong sendiri yang memiliki nilai historis sebagai sebuah
kawasan yang dijadikan tempat persinggahan penumpang kereta api dan muat bongkar
barang. Sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah, maka perlu adanya pelestarian dari
beberapa aspek perancangan yang akan dibuat agar eksistensi kawasan ini masih tetap terjaga
dan dapat lebih dikembangkan menjadi lebih baik.
Tema yang di angkat akan memiliki konsep yang berkesinambungan antara lokasi site
di wilayah yang memiliki karakter tertentu dengan sikap dan karakter pengguna maupun
masyarakat sekitarnya. Budaya yang melekat pada masyarakat di wilayah tertentu
mempengaruhi kondisi lingkungan sekitarnya, sehingga karakter kawasan akan muncul
menjadi identitas kawasan.
Perubahan budaya bukanlah hal terpenting, karena budaya merupakan suatu kebiasaan
yang dilakukan masyarakat dan sangat sulit untuk di ubah. Baik budaya yang bernilai baik
maupun buruk. Penataan yang lebih baik akan tercipta apabila sesuai dengan kemajuan
teknologi di era globalisasi ini. Bukan mengubah karakter kawasan ataupun karakter
masyarakat tertentu, tetapi lebih menata ulang kembali sesuai fungsi dan porsi nya masing-
masing agar tercipta suatu ruang lingkup yang lebih terintegrasi.
Kemajuan teknologi yang semakin berkembang akan berdampak pada karakter dan
identitas kawasan tertentu, terutama kawasan lokal yang masih menerapkan sistem tradisional
dalam kesehariannya. Ketika kecanggihan teknologi semakin menguasai kehidupan
masyarakat, maka semakin sedikit budaya lokal yang ada, bahkan bisa perlahan-lahan
menghilang. Kegiatan atau aktifitas manusia akan lebih banyak di kendalikan oleh teknologi
yang semakin canggih, tentunya hal ini tidak bisa kita cegah ataupun tolak.
Budaya lokal perlu di lestarikan dan di jaga supaya keberadaan atau eksistensinya
tetap ada, karena budaya lokal merupakan suatu identitas bangsa dan memiliki nilai yang
sangat tinggi. Sesuatu yang dimiliki suatu bangsa tanpa bangsa lain memilikinya. Dan hal
tersebut menjadi karakter atau ciri khas yang memiiki nilai-nilai kebaikan yang beragam
berkaitan dengan lingkungan alam, sikap, norma, dan lainnya.

3.1 Tinjauan Umum Tema


Budaya lokal yang sangat dekat yaitu budaya Sunda. Sunda merupakan salah satu
suku bangsa yang ada di Jawa Barat. Berbagai macam budaya terlahir di tanah Sunda, seperti
tarian, bahasa, adat istiadat, dan lainnya termasuk arsitektur. Arsitektur Sunda tidak hanya
berupa wujud fisik bangunan ataupun material, jauh daripada itu mengaitkan pada filosofi
dan kosmologi.
Gambar 3.1 Kampung Naga
Sumber: http://www.harnas.co/2017/07/03/-tiga-hari-larangan-di-kampung-naga (di akses: Kamis,
25 Januari 2018 pukul 20.57 WIB)

Ditambah lagi dengan wilayah lokal yang tropis, semua mengacu pada alam sebagai
potensi utama bagi kehidupan masyarakat Sunda, mereka yakin bahwa menjaga dan
melestarikan alam adalah suatu kewajiban. Karena kita hidup dari alam, apabila kita baik
kepada alam maka alam akan jauh lebih baik kepada kita, begitulah kepercayaan yang
diyakini oleh masyarakat Sunda.
Budaya lokal Sunda ini sangatlah luas, dalam penerapan tema terhadap perancangan
stasiun transit, karakter Sunda yang akan di angkat yaitu aspek arsitektur tradisional Sunda
yang di terapkan pada bentuk-bentuk atap nya yang bermacam-macam sesuai fungsinya. Di
Indonesia, khususnya di Jawa Barat masih ada beberapa kampung adat Sunda yang
keseluruhan bangunannya merupakan bangunan tradisional khas Sunda. Seperti Kampung
Naga di Tasikmalaya, Kampung Dukuh di Garut, dan Kampung Mahmud di Kabupaten
Bandung Selatan.
Bentuk rumah tradisional Sunda berupa rumah panggung yang bermaterial alami
seperti bambu, ijuk, dan kayu. Ciri khas dari bangunan-bangunan Sunda terlihat dari bentuk
atap (suhunan) yang bermacam-macam. Namun secara umum semuanya hampir sama,
rangka atap berupa kayu dan bamboo sedangkan penutup atapnya bermaterial ijuk. Berikut
jenis-jenis atap rumah tradisional Sunda:
a. Atap Jolopong
Jenis atap ini juga biasa disebut suhunan panjang, dan kebanyakan orang
menyebutnya atap pelana. Atap ini memiliki dua bidang atap dan terpisah oleh batang
suhunan di tengah bangunan rumah, kedua sisinya simetris dan berukuran sama.
Gambar 3.2 Bentuk Atap Jolopong
Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010
b. Atap Tagog Anjing
Bentuk atap ini mirip seperti bentuk seekor anjing yang sedang duduk. Terdiri dari
dua sisi atap dan salah satu sisi atapnya lebih lebar.

Gambar 3.3 Bentuk Atap Tagog Anjing


Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010

c. Atap Badak Heuay


Bentuk atap ini menyerupai seekor badak yang mulutnya menganga. Bentuknya
hampir mirip dengan bentuk atap tagog anjing, bedanya hanya dibagian sisi atap yang
lebih lebar. Bidang atap tersebut lurus memanjang ke atas melewati batang suhunan.

Gambar 3.4 Bentuk Atap Badak Heuay


Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010

d. Atap Perahu Kumereb


Bentuk atap ini biasa disebut bentuk atap perisai. Memiliki empat bidang atap dengan
2 pasang bidang yang sama luasannya. Bentuknya di ibaratkan seperti sebuah perahu
yang terbalik, karena arti kata kumereb dalam bahasa Indonesia adalah terbalik atau
tengkurab.
Gambar 3.5 Bentuk Atap Perahu Kumereb
Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010

e. Atap Capit Gunting


Bentuk atap ini mirip dengan atap jolopong, namun perbedaannya berada di puncak
atap. Bagian atas atau puncak atap bentuknya menyerupai gunting, hal tersebut
dikarenakan adanya persilangan antara 2 kaso.

Gambar 3.6 Bentuk Atap Capit Gunting


Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010

f. Atap Julang Ngapak


Bentuk atap ini menyerupai sayap seekor burung julang yang sedang terbang atau
merentangkan sayapnya. Kedua sisi atap melebar dan adanya bentuk yang lebih tinggi
di bagian puncak atap tersebut.

Gambar 3.7 Bentuk Atap Julang Ngapak


Sumber: Anwar, Hendi & Nugraha, Hafidz, 2010
Berdasarkan banyaknya bentuk atap rumah tradisional Sunda, bentuk yang paling
cocok karakternya dan yang lebih terlihat unik untuk di jadikan sebagai adaptasi bentuk atap
pada stasiun yaitu bentuk atap Julang Ngapak. Karena, kebanyakan rumah tradisional Sunda
yang menggunakan bentuk atap ini biasanya berfungsi sebagai bangunan umum atau publik.
Meskipun memang ada di beberapa kampung yang menjadikan atap ini sebagai atap rumah
tinggalnya. Akan tetapi, kebanyakan rumah tinggal masyarakat Sunda biasanya memiliki
bentuk atap jolopong atau perahu kumereb.
Tema ini dipilih dengan harapan rancangan yang akan dibuat memiliki nilai budaya
dan berkarakter sesuai dengan fungsi nya sebagai stasiun. Melibatkan suatu budaya yang ada
yaitu budaya Sunda pada perancangan stasiun ini akan menjadi nilai lebih juga karakter khas
pada rancangan yang akan dibuat, baik dari segi esensi, fungsi, dan estetika. Terutama pada
penerapan bentuk atap rumah tradisional sunda pada atap bangunan stasiun, sesuatu yang
akan lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat melalui bentuk yang secara umum
sudah dikenali. Selain itu juga semua hal yang akan di rancang dapat di konsumsi oleh
berbagai kalangan masyarakat. Dengan fasilitas pendukung yang akan menunjang identitas
kawasan dan meningkatkan eksistensi stasiun di wilayah tersebut.

4. LATAR BELAKANG
4.1 Latar Belakang Proyek
Semakin berkembangnya Kota Bandung di beberapa tahun terakhir ini, menimbulkan
banyak isu dan permasalahan dari banyak aspek, terutama pada aspek infrastruktur
transportasi. Infrastruktur transportasi sangat berperan penting dalam hal pengembangan
sebuah kota terutama Kota Bandung yang memiliki intensitas pergerakan penduduk yang
tinggi. Transportasi sendiri berfungsi sebagai jembatan pusat kegiatan penduduk. Masalah
yang timbul ini berawal dari tidak seimbangnya ketersediaan infrastruktur dengan tingginya
permintaan perjalanan.
Permasalahan transportasi yang paling utama yaitu kemacetan, yang di akibatkan oleh
semakin meningkatnya jumlah kendaraan pribadi seperti motor dan mobil. Kemacetan di
Kota Bandung akan semakin bertambah dikala waktu akhir pekan dan hari libur nasional.
Banyaknya wisatawan yang datang ke Bandung juga menjadi salah satu poin alasan
kemacetan di kota Bandung. Perilaku masyarakatnya sendiri yang cenderung lebih menyukai
menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum
seperti angkot maupun bus. Alasannya karena biaya transportasi umum yang cenderung
mahal, dan sikap pengemudi yang sebagian besar kurang baik seperti menurunkan
penumpang ditengah jalan karena hanya tersisa 1 penumpang di angkutannya.
Dengan meningkatnya volume kendaraan pribadi, alternatif lain bagi masyarakat
untuk bisa menggunakan transportasi publik selain angkutan umum dan bus yaitu
menggunakan kereta api. Mungkin kereta api merupakan sebuah alat transportasi yang aman
karena merupakan sarana transportasi dengan energi yang efektif dan efisien. Kereta api
dinilai sangat penting terutama di wilayah tertentu yang padat penduduk, untuk mendukung
mobilitas penduduk dan angkutan barang antar daerah.
Transportasi kereta api di Indonesia memiliki peran penting khususnya dalam bidang
perekonomian dan kehidupan sosial, karena transportasi ini memegang kendali strategis bagi
kemudahan pendistribusian barang dan jasa ke tempat yang dituju, bukan hanya sebagai
transportasi pengangkut manusia. Kereta api merupakan sarana transportasi berupa kendaraan
dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya
(gerbong), yang bergerak di rel. Kereta api merupakan alat transportasi massal yang
umumnya terdiri dari lokomotif (kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan
rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya). Rangkaian kereta
atau gerbong tersebut berukuran relatif luas sehingga mampu mengangkut penumpang
maupun barang dalam skala besar.
Untuk dapat menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi dibutuhkan suatu
ruang yang berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan penumpang atau barang yang di
sebut sebagai stasiun. Menurut UU No.13 Tahun 1992 Pasal 19, stasiun adalah tempat kereta
api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar
muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. Stasiun ini perlu dirancang secara
baik, bukan hanya dari segi estetika namun juga perlu mempertimbangkan dari segi fungsi,
aksesibilitas, kenyamanan, struktur, dan material. Menjadikan stasiun yang berfungsi dengan
baik juga tidaklah cukup, keamanan penumpang juga menjadi prioritas utama. Selain itu, kini
perlu ada pengembangan rancangan stasiun bagi difable people (penyandang disabilitas).
Kota Bandung berkembang sangat pesat dari beberapa bidang yang ada seperti
perekonomian, perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya terutama dalam bidang
pariwisata. Arus manusia atau barang yang datang ke Bandung dan meninggalkan Bandung
semakin tinggi. Dan salah satu moda transportasi yang sering digunakan yaitu kereta api.
Semakin meningkatnya manusia yang menggunakan jasa kereta api, maka fasilitas atau
sarana yang diperlukan harus lebih memadai dan baik, juga harus bisa memberikan kesan
yang baik terhadap Kota Bandung itu sendiri khususnya sebagai tujuan kedatangan.
Selain itu, perancangan sebuah stasiun juga harus dapat mengaitkan pada issu di masa
depan yang akan datang dan sudah mulai terlihat tunas nya dari masa sekarang. Seperti
perkembangan teknologi yang semakin canggih. Kira-kira 10 tahun yang akan datang, Kota
Bandung akan menjadi sebuah kota yang canggih dengan keberadaan teknologi. Masyarakat
cenderung akan melakukan sesuatu dengan mengacu pada teknologi, seperti pemesanan tiket
kerata online, sistem otomatis untuk keberangkatan, dan hal lainnya yang bisa manusia
sendiri lakukan. Dengan kelebihan yang ada pada kemajuan teknologi ini membuat manusia
beraktifitas lebih efisien terhadap waktu maupun hal lainnya.

4.2 Latar Belakang Lokasi


Kecamatan Kiaracondong merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kota
Bandung. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi) Kota Bandung, kecamatan ini berbatasan dengan:

Sisi utara : Kecamatan Antapani


Sisi selatan : Kecamatan Batunuggal
Sisi barat : Kecamatan Cibeunying Kidul
Sisi timur : Kecamatan Antapani dan Buahbatu

Kecamatan ini memiliki luas wilayah 613,03 hektar dengan dominasi darat 433,76
hektar dan sawah sebanyak 179,27 hektar. Terdiri dari 6 kelurahan, 85 Rukun Warga dan 592
Rukun Tetangga. Nama Kiaracondong sendiri konon berasal dari cerita bahwa di daerah
tersebut ada sebuah pohon kiara yang sangat besar namun posisinya tidak tegak melainkan
condong, namun tidak pernah roboh. Akhirnya orang-orang menyebut daerah itu dengan
daerah kiaracondong.
Kawasan Kiaracondong, khususnya tempat dimana Stasiun akan dirancang
merupakan sebuah kawasan yang padat penduduk. Di sekitar site terdapat pasar tradisional
yang menyebabkan keadaan lingkungan sekitar site menjadi kumuh. Aktifitas masyarakat
sekitar pun kebanyakan adalah berdagang, bahkan sebagian rumah warga berfungsi sebagai
ruko (rumah toko). Karena posisinya berada di sekitar pasar tradisional, maka masih banyak
juga aktifitas kejahatan seperti pencopetan dan banyaknya preman-preman yang berkeliaran
di kawasan ini. Sehingga karakter masyarakat yang ada di sekitar site cenderung memiliki
karakter masyarakat menengah ke bawah.
Padatnya pemukiman rumah penduduk di kawasan ini dikarenakan semakin tingginya
tingkat urbanisasi. Kebanyakan para pendatang mencari pekerjaan di Kota Bandung, berawal
dari hanya kedatangan hingga berujung menjadi menetap di Kota Bandung. Latar belakang
proses perpindahan ini biasanya dikarenakan kurang puasnya upah yang diterima ketika
mereka bekerja di desa atau kampung, sehingga menyebabkan meningkatnya rasa ingin lebih
agar kehidupannya lebih nyaman dan enak. Akhirnya, semakin banyak rumah warga yang
dibangun berdempetan sehingga menimbulkan suasana yang kumuh.
Keadaan seperti sekarang ini juga menjadi salah satu masalah pada perancangan
stasiun, berdekatan dengan kondisi lingkungan yang kumuh. Terlebih lagi bangunan-
bangunan liar di sepanjang rel kereta, walaupun jaraknya tidak terlalu dekat dengan stasiun
namun tetap saja memberikan kesan yang buruk. Hal tersebut membuktikan bahwa masih
banyak pelanggaran yang di lakukan masyarakat terhadap peraturan pemerintah.
Stasiun kiaracondong merupakan sebuah stasiun transit. Penumpang yang naik atau
turun di stasiun ini di dominasi oleh pedagang, buruh/pekerja, dan pelajar. Kondisi atau
keadaan yang ada di stasiun ini cenderung ramai karena kebanyakan penumpang bersaing
dengan waktu. Disamping jadwal kereta yang sudah ditentukan, waktu para penumpang
menuju ke tempat berikutnya untuk bekerja atau sekolah juga tidak lah banyak, sehingga
banyak penumpang yang terburu-buru ketika naik atau turun dari kereta.

Gambar 4.1 Stasiun Kiaracondong


Sumber: http://www.joecgp.com/2013/07/stasiun-kiara-condong.html (di akses: Kamis, 25 Januari
2018 pukul 21.31 WIB)

5. TUJUAN PROYEK
a. Meminimalisir jumlah volume kendaraan pribadi yang semakin bertambah setiap
tahunnya
b. Sebagai fasilitas transit atau tempat kegiatan datang dan pergi para penumpang, dan
menjadikan stasiun sebagai sarana penting di setiap kota yang dilalui perjalanan
kereta api.
c. Meningkatkan masyarakat yang produktif dan mandiri
d. Membuat sebuah bangunan stasiun yang memiliki karakter kawasan yang khas
6. MISI PROYEK
a. Menyediakan sarana transit dan tempat bagi penumpang kereta api untuk naik dan
turun kereta maupun bongkar muat barang
b. Menyediakan sarana transit yang fungsional, nyaman, dan aman
c. Menyediakan sarana yang memiliki kemudahan aksesibilitas ditunjang dengan
fasilitas pendukung yang akan menguatkan karakter kawasan
d. Meringankan masalah kemacetan Kota Bandung
e. Meningkatkan produktifitas masyarakat dan kemandirian masyarakat

7. DESKRIPSI PROYEK
a. Nama Proyek : Stasiun Kereta Api
b. Sifat Proyek : Fiktif
c. Owner/Pemberi Tugas : Pemerintah
d. Sumber dana : Pemerintah
e. Lokasi : Perbatasan Kelurahan Babakansari dan Kelurahan
Kebonjayanti, Kecamatan Kiaracondong Bandung
f. Luas Lahan : ±41.477m²

8. PENGENALAN PROYEK
8.1 Karekteristik Proyek (Stasiun Kereta Api Kiaracondong)
Stasiun Kereta Api ini merupakan sebuah sarana untuk kegiatan naik atau turun
penumpang pengguna kereta api, maupun bongkar muat barang. Dalam Peraturan Menteri
Perhubungan Republik Indonesia nomor 48 tahun 2015 tentang standar pelayanan minimum
angkutan orang dengan kereta api pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa, standar pelayanan
minimum penumpang di stasiun paling sedikit mencakup keselamatan; kemanan; kehandalan;
kenyamanan; kemudahan; dan kesetaraan. Oleh karena itu, berlandaskan peraturan menteri
tersebut konsep rancangan stasiun transit Kiaracondong ini mengacu pada standar yang sudah
dibuat oleh pemerintah.
Stasiun Kereta Api Kiaracondong merupakan stasiun kelas besar kedua di Kota
Bandung setelah Stasiun Kereta Api Bandung. Berlokasi di JL. Jembatan Opat, Kebonjayanti,
Bandung. Posisi yang lebih tepatnya yaitu berada di antara 2 kelurahan, yaitu Kelurahan
Kebonjayanti dan Kelurahan Babakansari. Stasiun ini termasuk dalam Daerah Operasi II
Bandung. Keberangkatan kereta api kelas ekonomi jarak jauh dan menengah dipindahkan ke
Stasiun Kiaracondong karena adanya peningkatan jadwal pemberangkatan di Stasiun
Bandung.
Di dekat stasiun ini terdapat Balai Yasa Kiaracondong, balai yasa yang khusus
digunakan untuk perawatan dan perbaikan jembatan, meliputi pengadaan suku cadang untuk
jembatan-jembatan kereta api yang masih aktif, perbaikan rangka jembatan, pembuatan
jembatan baru, dan pemeliharaan rutin.
Saat ini kereta kelas campuran juga berhenti di stasiun ini untuk menaikturunkan
penumpang, baik dalam perjalanan dari maupun ke Bandung. Kebijakan ini menjadikan
stasiun ini sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang kedua di Kota Bandung.
Kereta api yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah KA Argo Wilis,
Turangga, dan angkutan barang.
Berikut adalah layanan kereta api yang ada di Stasiun Keret Api Kiaracondong:
a. Penumpang
- Kelas campuran
1. Lodaya (regular dan tambahan), tujuan Bandung dan tujuan Solo (eksekutif-
bisnis AC)
2. Malabar, tujuan Bandung dan tujuan Malang (eksekutif-bisnis-ekonomi AC)
3. Mutiara Selatan, tujuan Bandung dan tujuan Surabaya bersambung Malang
(eksekutif-bisnis AC)
- Kelas ekonomi AC
1. Pasundan (reguler dan tambahan), dari dan tujuan Surabaya
2. Kahuripan, dari dan tujuan Blitar
3. Kutojaya Selatan (reguler dan tambahan), dari dan tujuan Kutoarjo
4. Serayu, tujuan Jakarta via Purwakarta dan tujuan Kroya bersambung
Purwokerto via Tasikmalaya
- Lokal/komuter ekonomi AC
1. Patas Bandung Raya, dari dan tujuan Padalarang atau Cicalengka
2. Lokal Bandung Raya, dari dan tujuan Padalarang-Purwakarta atau Cicalengka-
Cibatu
3. Lokal Cibatu/Simandra, tujuan Purwakarta dan tujuan Cibatu
b. Persilangan/papasan dan persusulan
- KA Lokal Bandung Raya tujuan Cicalengka (KA 384) bersilang dengan KA Argo
Wilis tujuan Bandung (KA 5) yang melintas langsung
- KA Lokal Bandung Raya tujuan Cicalengka (KA 376) disusul KA Turangga
tujuan Surabaya (KA 50) yang melintas langsung

8.2 Pengguna Stasiun


Berdasarkan hasil observasi pada hari Kamis, 11 Januari 2018 di Stasiun Kereta Api
Kiaracondong, dan juga berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Pengantar Tugas
Akhir dengan judul “Redesain Stasiun Kereta Api Bandung” oleh Andang Setya Purnama,
Prodi Desain Interior, Fakultas Desain, Universitas Komputer Indonesia, Bandung, tahun
2015, pengguna stasiun kereta api adalah sebagai berikut:
a. Penumpang kereta api, baik yang berangkat maupun yang tiba
b. Pengantar penumpang yang akan berangkat
c. Penjemput penumpang yang tiba di stasiun
d. Penyewa retail (makanan, minimarket, dan jasa pengiriman paket)
e. Pengelola stasiun
- Kepala Stasiun dan wakilnya, yang bertugas untuk bertanggungjawab atas segala
sesuatu yang terjadi di stasiun baik dari segi operasional, administrasi, dan lainnya
- Kepala tata usaha dan staff, bertugas untuk mengepalai bagian tata usaha yang
mengatur serta mengerjakan segala urusan yang menyangkut masalah administrasi
stasiun kereta api
- PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api), mengatur perjalanan kereta api baik
yang berangkat maupun yang tiba termasuk pengaman perjalanan kereta api.
- POLSUSKA (Polisi Khusus Kereta Api), bertanggung jawab dan bertugas
menjaga keamanan serta ketertiban dalam stasiun termasuk keamanan serta
ketertiban pengunjung stasiun (penumpang, pengantar, penjemput).
- Kepala gudang, bertugas untuk mengurusi angkutan barang-barang gudang
- Juru gudang dan staff, bertugas untuk mengurusi pelaksanaan kiriman dan
penerimaan barang dari kereta atau gerobak barang.
- KKBH (Kepala Kiriman Barang Hantaran), bertugas untuk mengatur pelayanan
angkutan kiriman barang hantaran
- Kepala penjual tiket, bertugas untuk mengatur masalah keuangan dari hasil
penjualan tiket secara langsung melalui reservasi atau pemesanan.
- Petugas loket, bertugas untuk melayani penjualan tiket kereta api baik secara
langsung maupun melalui reservasi atau pemesanan.
- Mandor stasiun, yang bertugas untuk mengkoordinir para pekerja stasiun
- Kondektur, bertugas memeriksa karcis kereta api didalam kereta api
- Kepala kantor kawat dan staff, bertugas untuk menerima serta mengirimkan
telegram dinas dan umum serta memberitahu kepada stasiun terdekat yang akan
dilalui kereta api dari stasiunnya.
- Juru langsir, yang bertugas untuk memindahkan kereta dari jalur satu ke jalur lain
agar bisa dilalui oleh kereta lain berikutnya.
- Juru rumah sinyal, yang bertugas untuk mengatur sinyal perjalanan kereta api.

8.3 Aktifitas
Aktifitas yang terdapat di stasiun kereta api ini dapat dibagi kedalam dua kelompok:
a. Aktifitas primer
Tujuan setiap orang menuju ke stasiun yaitu untuk bepergian, baik jarak dekat
maupun jauh. Kegiatan yang pasti dilakukan dan merupakan kegiatan yang dominan
adalah membeli tiket di loket, duduk diruang tunggu, dan menunggu kereta di peron.
Hal tersebut sudah pasti dilakukan bagi pengunjung yang hendak bepergian. Selain
pengunjung, pengguna lain stasiun seperti kepala stasiun dan karyawannya juga
memiliki aktifitas yang selalu dilakukan atau rutin. Ada juga aktifitas bongkar muat
barang, seperti paket motor dan barang lainnya.
b. Aktifitas sekunder
Kegiatan sekunder pengunjung yaitu membeli barang atau makanan di retail yang
disediakan seperti minimarket, mengirim paket melalui jasa antar paket, beribadah (di
musholla), ke toilet, dan lain sebagainya. Selain itu, akan tersedia hotel transit, maka
aktifitas penumpang lainnya bisa menginap di hotel untuk istirahat sejenak selama
menunggu keberangkatan berikutnya. Sama seperti pengunjung, kepala stasiun dan
karyawannya juga memiliki aktifitas berbeda di waktu jam istirahat, seperti ke toilet,
beribadah, dan makan.

8.4 Fasilitas dan Kelengkapan Pelayanan


Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia nomor 48 tahun
2015 tentang standar pelayanan minimum angkutan orang dengan kereta api pasal 3 ayat 1
disebutkan bahwa, standar pelayanan minimum penumpang di stasiun paling sedikit
mencakup:
a. Keselamatan, yang mencakup:
- APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
- Perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) termasuk kursi roda
dan tandu
- Lampu penerangan
b. Keamanan, yang mencakup:
- Tersedia jaringan CCTV
- Tersedia petugas berseragam yang mudah terlihat
- Lampu penerangan
c. Kehandalan, yang mencakup:
- Layanan penjualan tiket (Loket)
d. Kenyamanan, yang mencakup:
- Ruang tunggu dengan area yang bersih dan terawatt
- Ruang boarding
- Toilet
- Musholla
- Lampu penerangan
- Pengatur sirkulasi udara di ruang tunggu tertutup
e. Kemudahan, yang mencakup:
- Informasi pelayanan dalam bentuk audio, maka harus tersedia speaker
- Fasilitas pusat informasi
- Fasilitas kemudahan naik/turun penumpang, mengacu pada tinggi peron dengan
lantai kereta yang tidak lebih dari 20cm
- Tempat parkir (roda dua dan roda empat)
f. Kesetaraan, yang mencakup:
- Fasilitas penunjang bagi penumpang difable, berupa ramp dengan kemiringan
maksimal 10° dan akses jalan penyambung antar peron
- Ruang ibu menyusui
Dengan tambahan:
a. Ruang kepala stasiun
b. Ruang karyawan
c. Ruang pengatur perjalanan kereta api
d. Retail, seperti mini market dan jasa antar kirim paket

Stasiun ini memiliki fasilitas penunjang lain berupa hotel transit. Berkonsep modern
mengikuti kemajuan teknologi di era globalisasi namun masih tetap kontekstual terhadap
lingkungan seperti iklim dan cuaca, dan memperhatikan impact rancangan terhadap
lingkungan sekitar. Membuat karakter bangunan sesuai dengan kawasan Kiaracondong
dengan desain yang lebih modern dan menggunakan bahan material berteknologi masa kini
tanpa meninggalkan bagaimana desain tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap
lingkungan sekitarnya.
Hotel transit menjadi salah satu pilihan fasilitas yang akan dibuat di area stasiun,
dengan pertimbangan fungsi awal stasiun ini sebagai stasiun transit. Hotel transit sendiri
merupakan sebuah jasa penginapan yang bisa disewa dalam hitungan jam saja, biasanya
untuk istirahat sejenak. Hotel ini berkonsep sangat sederhana, dengan luasan kamar yang
terhitung kecil karena hanya memiliki fasilitas tempat tidur dan kamar mandi saja. Namun
ada juga beberapa hotel transit yang memiliki fasilitas tambahan seperti televisi (TV) dan
wifi. Harga kamar biasanya dihitung dari jumlah jam yang akan digunakan untuk menginap,
harganya relatif lebih mahal akan tetapi hotel transit seperti ini sangat memudahkan
penumpang yang kelelahan dan memiliki sedikit waktu transit sebelum keberangkatan
berikutnya.

Gambar 8.1 Kamar Rail Transit Suite Gambir


Sumber: https://www.agoda.com/hotel-rail-transit-suite-gambir/hotel/jakarta-id.html?cid=-218 (di
akses: Kamis, 25 Januari 2018 pukul 22.38 WIB)
Selain hotel transit, konsep rancangan stasiun juga harus terintegrasi terkait dengan
adanya theme park yang akan dibangun di sekitar kawasan dekat stasiun. Theme park adalah
istilah untuk sekelompok atraksi hiburan dan wahana dan acara lainnya di suatu lokasi
untuk dinikmati sejumlah besar orang. Theme park lebih rumit daripada sebuah taman
kota atau taman bermain yang sederhana, biasanya menyediakan tempat yang
dimaksudkan untuk melayani anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Theme park adalah
sebuah taman hiburan yang dekoratif dan didesain untuk mencerminkan satu tema
tertentu sebagai tema utama, seperti suatu periode khusus dalam suatu cerita atau
dunia di masa yang akan datang (Webster 2010).
Isu yang muncul dari sekitar tahun 2014 yaitu akan dibangun sebuah theme park di
wilayah Kiaracondong. Theme Park tersebut salah satu program pemerintah Kota Bandung
yang diberi nama Taman Asia-Afrika. Theme park ini memiliki pengaruh yang besar
terhadap lingkungan sekitar, mengingat bahwa theme park ini akan di kunjungi banyak orang
baik dari dalam maupun luar Bandung. Banyaknya pengunjung membuat meningkatnya
volume kendaraan pribadi, namun jika pengunjung lebih memilih menggunakan transportasi
publik seperti kereta api maka fasilitas yang ada di stasiun perlu lebih di perhatikan sesuai
dengan kondisi yang akan berubah di kemudian hari. Besar kemungkinan pengunjungnya
lebih banyak menggunakan alat transportasi kereta api karena memiliki jarak yang dekat.

Gambar 8.2 Rancangan Taman Asia-Afrika


Sumber: http://jabar.tribunnews.com/2017/09/26/taman-asia-afrika-akan-segera-hadir-di-kota-
bandung, dalam instagram @ridwankamil (di akses: Kamis, 25 Januari 2018 pukul 22.43 WIB)

9. STUDI BANDING
9.1 Stasiun Surabaya Pasar Turi (berdasarkan tema)
Lokasi : Jalan Semarang No.1 Kelurahan Gundih Kecamatan Bubutan Kota Surabaya
Provinsi Jawa Timur
Tipe proyek : Public Service (transportasi)
Gambar 9.1 Tampak Stasiun Pasar Turi
Sumber: Wikipedia (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 07.01)

Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI) atau yang lebih populer dengan nama Stasiun Pasar
Turi adalah stasiun kereta api kelas besar di perbatasan antara Gundih, Bubutan, Surabaya
dengan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya. Stasiun ini merupakan tempat keberangkatan
dan kedatangan utama kereta api di Kota Surabaya yang melewati jalur pantura Pulau Jawa
(Lamongan-Bojonegoro-Cepu-Semarang-Cirebon-Jakarta).

Gambar 9.2 Stasiun Pasar Turi dan Jalur Kereta


Sumber: Wikipedia (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 07.12)

Stasiun ini dinamai "Pasar Turi" karena dahulu di sekitarnya terdapat sebuah pasar
yang kebanyakan pedagangnya adalah pedagang bunga turi yang biasa dijadikan 'lalapan'
sambel pecel. Ke arah timur stasiun ini terdapat pusat grosir yang menjual aneka ragam
barang. Stasiun ini dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), salah
satu operator kereta api tertua di Hindia Belanda, pada kisaran 1902-1903 dan dibuka pada
bulan Februari 1903. Pada masa itu, dari seluruh stasiun kelas besar tipe A yang ada di Kota
Surabaya, stasiun ini adalah stasiun besar untuk NIS. Bangunan stasiun ini direnovasi terakhir
pada tahun 2016, salah satunya dengan penambahan kanopi di teras luar bangunan stasiun
dan juga di peron pulau antara jalur 2 dan 3.
Gambar 9.3 Gerbang Depan Stasiun Pasar Turi
Sumber: http://www.eastjava.com/tourism/surabaya/ina/pasar-turi-station-gallery.html (di akses:
Minggu, 28 Januari 2018 pukul 07.17)

Desain atap pada stasiun ini merupakan penerapan unsur lokal. Bentuk atap rumah
adat Joglo diterapkan pada bentuk atap stasiun. Hal ini membuktikan bahwa di Indonesia
yang beragam budaya masih ada upaya pelestarian budaya lokal yang dilakukan melalui
penerapan bentuk atap rumah adat pada bangunan publik.

Gambar 9.4 Suasana Stasiun Pasar Turi


Sumber: Wikipedia (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 07.23)

Stasiun ini hanya menerapkan bentuk atap rumah tradisional saja, untuk bangunannya
sendiri masih berupa bangunan peninggalan Belanda. Dan desain interiornya pun masih sama
tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Belum banyak perubahan yang terjadi dengan
pengaplikasian teknologi masa kini, suasananya mirip dengan suasana stasiun Kiaracondong
saat ini.
Gambar 9.5 Tampak Sisi Lain Stasiun Pasar Turi
Sumber: http://radevitiq.blogspot.co.id/2016/11/stasiun-pasar-turi.html (di akses: Minggu, 28 Januari
2018 pukul 07.25)

Rumah joglo adalah rumah tradisional Jawa yang umum dibuat dari kayu jati. Atap
joglo berbentuk tajug, semacam atap piramidal yang mengacu pada bentuk gunung. Dari
sinilah nama joglo tersebut muncul. Istilah joglo berasal dari dua kata, 'tajug' dan 'loro' yang
bermakna 'penggabungan dua tajug'. Bentuk atap tajug ini dipilih karena menyerupai bentuk
gunung. Sedangkan masyarakat Jawa meyakini bahwa gunung merupakan simbol segala hal
yang sakral. Diantaranya adalah karena gunung merupakan tempat tinggal para dewa.

Gambar 9.6 Rumah Adat Joglo Tipe Atap Joglo Jompongan


Sumber: http://maharaninurarifah.blogspot.co.id/2017/07/rumah-joglo.html (di akses: Minggu, 28
Januari 2018 pukul 07.39)

Untuk penerapan tipe atap rumah adat khas Jawa ini pada atap stasiun yaitu ada 2
jenis atap. Yaitu jenis atap joglo jompongan dan jenis atap tajug lawakan. Penerapan bentuk
atap ini juga digunakan di 2 bangunan stasiun yang ada di stasiun Pasar Turi, baik untuk
stasiun depan maupun stasiun belakang.

Gambar 9.7 Rumah Adat Joglo Tipe Atap Tajug Lawakan


Sumber: wikipedia (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 07.49)

9.2 Stasiun Manggarai (berdasarkan fungsi dan kelas stasiun)


Lokasi : Jalan Manggarai Utara 1, Kelurahan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, DKI
Jakarta
Tipe proyek : Public Service (transportasi)
Pemilik : Pemerintah
Luas site : (tidak diketahui)
Gambar 9.8 Tampak Depan Stasiun Manggarai
Sumber: https://aadsweb.wordpress.com/2016/05/16/stasiun-manggarai/ (diakses: Minggu, 28
Januari 2018 pukul 08.48)

Stasiun Manggarai (MRI) adalah stasiun kereta api kelas besar yang terletak di
Manggarai, Tebet Jakarta Selatan. Stasiun ini hanya melayani KAI Commuter Jabodetabek
tujuan Bogor, Depok, Jatinegara, Jakarta Kota, dan Bekasi. Letak stasiun berada di
persimpangan tujuh: ke Jatinegara, Jakarta Kota, Tanah Abang, Bogor, dipo KRL Bukit Duri,
Pengawas Urusan Kereta, serta Balai Yasa Manggarai.
Stasiun ini hampir mirip karakternya dengan Stasiun Kiaracondong, hanya saja stasiun
ini lebih maju dibandingkan Stasiun Kiaracondong. Karena, Stasiun Manggarai ini sudah
memiliki underpass sebagai jalur sirkulasi penumpang kereta menuju peron yang lain tanpa
harus menyebrang di rel kereta api.

Gambar 9.9 Tangga Underpass Stasiun Manggarai


Sumber: http://www.re-digest.web.id/2016/12/eksklusif-underpass-stasiun-manggarai.html (di akses:
Minggu, 28 Januari 2018 pukul 09.28)

Stasiun Manggarai tidak hanya menjadi tempat pemberhentian kereta, namun juga
tempat penyimpanan kereta yang sedang tidak digunakan dan bengkel. Tidak ada kereta api
jarak jauh berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan atau persusulan antarkereta
api. Stasiun Manggarai sekaligus berfungsi sebagai dipo penyimpanan kereta-kereta besar.
Banyak kereta kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi diparkir di stasiun ini yang selanjutnya
akan menuju ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir.
Bersebelahan dengan dipo dan stasiun Manggarai ini terdapat Balai Yasa Manggarai,
yang merupakan bengkel untuk melakukan perawatan rutin dan mereparasi kereta-kereta
penumpang. Kemudian, tidak jauh di selatan stasiun ini terletak dipo KRL Bukit Duri, tempat
penyimpanan dan perawatan harian aneka kereta rel listrik. Stasiun Manggarai tidak lagi
melayani kereta jarak jauh. Dahulu, stasiun ini melayani KRD ekonomi Manggarai-Nambo
pp. Sayangnya layanan kereta api itu ditutup pada tahun 2006 karena kereta api yang sudah
tua. Petak rel Citayam-Nambo saat ini sudah diaktifkan kembali, dan menggunakan kabel
listrik aliran atas, sehingga KRL dapat masuk. Untuk saat ini petak ini sudah melayani KRL
Jabotabek dengan relasi Nambo-Duri pp dan kereta api barang. Berbeda dengan Stasiun
Kiaracondong yang masih menggunakan KRD.

Gambar 9.10 Suasana Stasiun Manggarai


Sumber: http://www.capangker.com/2015/02/antara-stasiun-jatinegara-dan-stasiun-
manggarai.html (diakses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 09.52)

9.3 Stasiun Gambir (berdasarkan fungsi dan perencanaan)


Lokasi : Jalan Medan Merdeka Timur No. 1, Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Tipe proyek : Public Service (transportasi)
Pemilik : Pemerintah
Luas site : (tidak diketahui)

Gambar 9.11 Lajur Rel Stasiun Gambir


Sumber: Wikipedia (di akses: Kamis, 11 Januari 2018 pukul 21.33 WIB)
Stasiun ini dibangun pada dasawarsa 1930-an dengan nama Stasiun Koningsplein dan
direnovasi secara besar-besaran menjadi stasiun jalur layang pada 1990-an. Stasiun yang
terletak pada ketinggian +16 meter ini termasuk ke dalam Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun
ini terdiri dari tiga tingkat. aula utama, loket, beberapa restoran dan toko, serta mesin ATM
terdapat pada tingkat pertama. Tingkat kedua adalah ruang tunggu dengan beberapa restoran
cepat saji dan kafetaria, sedangkan peron berada pada tingkat ketiga, karena stasiun ini
termasuk stasiun besar. Selain itu, terdapat pula hotel transit yang menjadi fasilitas dari
Stasiun Kereta Api Gambir.

Gambar 9.12 Suasana Stasiun Gambir


Sumber: http://www.capangker.com/2017/08/cara-tercepat-ke-stasiun-gambir-naik-krl-commuter-
line.html
(di akses: Kamis, 11 Januari 2018 pukul 21.36 WIB)

Gambar 9.13 Rail Transit Suite Gambir


Sumber: http://silumanpisces.blogspot.co.id/2013/07/10-stasiun-kereta-api-terbesar-di.html
(di akses: Minggu, 18 Januari 2018 pukul 22.12 WIB)

9.4 Berlin Hauptbahnhof (berdasarkan konsep)


Lokasi : Europaplatz 110557 Berlin Mitte , Berlin, Jerman
Tipe proyek : Public Service (transportasi)
Arsitek : Meinhard von Gerkan dari Gerkan, Marg dan Partners
Gambar 9.14 Tampak Bangunan Stasiun Berlin Hauptbahnof
Sumber: http://archcase.com/transportlab/portfolio/berlin-central-station/
(di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 10.28 WIB)

Berlin Hauptbahnhof adalah stasiun kereta terbesar di Eropa. Konstruksi bangunannya


sangat modern, serta memilki arsitektur bangunan yang futuristik. Stasiun kereta ini selesai
dibangun pada tahun 2006. Stasiun ini mempunyai 2 tingkat, 14 bagian serta 80 stand toko
yang dibuat senyaman mungkin bagi para pengunjung mengingat stasiun ini adalah stasiun
kereta yang sangat vital di jerman. Bangunan ini terdiri dari logam dan panel kaca yang
memungkinkan cahaya matahari bersinar ke dalam gedung.

Gambar 9.15 Rel Stasiun Berlin Hauptbahnof


Sumber: http://www.photoeverywhere.co.uk/west/berlin/slides/berlin_hauptbahnhof.htm
(di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 22.23 WIB)

Desain stasiun Berlin Hauptbahnof ini mengekspos semua bahan material struktur dan
konstruksinya. Stasiun ini dirancang menyerupai sebuah benteng kokoh yang nampak dari
tampilan luarnya, namun dipadukan dengan gaya kuno seperti gudang mesin (sedikit
bernuansa britania) di bagian dalam. Hal ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi yang
modern mampu di tampilkan dengan perpaduan gaya kuno atau heritage.
10. TINJAUAN TAPAK
10.1 Data Tapak (Lokasi) dan Regulasi

Indonesia Jawa Barat Kota Bandung Kiaracondong

Nama proyek : Stasiun Kereta Api


Lokasi : JL. Jembatan Opat, Kebonjayanti, 40284 Bandung, Indonesia, 40274,
Jawa Barat
Jenis bangunan : Transportasi publik (Public Service)
Luas site : ±41.477m²

Asumsi sementara untuk luas site berdasarkan data perhitungan yang dilakukan pada
aplikasi google maps, diperoleh luas lahan sebesar 41.477m²

Gambar 10.1 Luas Total Lahan Stasiun KA Kiaracondong


Sumber: google maps (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 20.45 WIB)

Regulasi berdasarkan RTRW Kota Bandung:


Tata guna lahan : Industri dan Pergudangan
Gambar 10.2 Peta Rencana Pola Ruang RTRW Kota Bandung 2011-2031
Sumber: RTRW Kota Bandung 2011-2031, data diperoleh dari distaru

Gambar 10.3 Gambar Tabel Rencana Pengaturan KDB, KLB Maksimum Dan KDH Minimum
Sumber: RTRW Kota Bandung 2011-2031, data diperoleh dari distaru

KDB : 40%
KLB : 1.2
KDH minimum : 30%
GSB : ½ x lebar jalan = 10 meter

Gambar 10.4 Masterplan Stasiun KA Kiaracondong


Sumber: google maps (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 20.38 WIB)
10.2 Karakter Tapak
Merupakan sebuah tapak yang berada di perbatasan dua kelurahan, yaitu Kelurahan
Babakansari dan Kelurahan Kebonjayanti. Tapak di kelilingi oleh pemukiman warga dengan
kepadatan tinggi, di sisi barat dan timur tapak merupakan jalan sekunder yang juga di
fungsikan sebagai pasar tradisional. Rumah warga yang relatif saling berdempetan
kebanyakan di fungsikan sebagai rumah toko (ruko). Selain itu, di bagian depan tapak di sisi
selatan terdapat jalan layang, sehingga view tapak bila dilihat dari jalan layang tersebut dapat
terlihat lebih jelas secara keseluruhan.
Sekitar tahun 1870, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan
jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat.
Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta,
dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi termasuk Kiaracondong.
Tapak ini merupakan jalur yang dibuat pada masa itu dan berfungsi sebagai tempat untuk
bongkar muat barang dan gudang penimbunan barang hasil perkebunan. Karakter khas pada
tapak ini masih kuat, karena memiliki nilai sejarah didalamnya.

Gambar 10.5 Tata Guna Lahan di Sekitar Stasiun KA Kiaracondong


Sumber: google maps, di edit (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 21.01 WIB)

Keterangan:
Komersial
Pemukiman Penduduk
Jasa

Di sekitar tapak di dominasi oleh kawasan komersil berupa pasar tradisional, dan
ruko. Untuk area pemukiman penduduk yang cukup padat berada dibagian belakang area
komersial. Dan di dekat stasiun terdapat sebuah area jasa yang merupakan Balai Yasa
Jembatan. Balai yasa adalah tempat untuk melakukan semiperawatan akhir (SPA) dua
tahunan, pemeliharaan akhir (PA) empat tahunan, serta perbaikan dan modifikasi sarana
perkeretaapian. Berbeda dengan depot lokomotif yang perawatannya dapat dilakukan harian,
selama enam bulanan, ataupun selama satu tahunan. Balai yasa tidak berada di bawah daerah
operasi (Daop), tetapi langsung berada di bawah kantor pusat PT Kereta Api Indonesia dan
berbentuk unit pelaksana teknis (UPT).
Balai Yasa Kiaracondong merupakan balai yasa yang khusus digunakan untuk
perbaikan jembatan, meliputi pengadaan suku cadang untuk jembatan-jembatan kereta api
yang masih aktif, perbaikan rangka jembatan, pembuatan jembatan baru, dan pemeliharaan
rutin.
10.2 Potensi Tapak
Tapak ini berpotensi sebagai zona publik yang ramai karena berdampingan dengan
pasar tradisional yang kegiatannya terus menerus tanpa henti setiap harinya sebagai area
komersial. Jalur angkutan umum yang melalui tapak ini pun ada beberapa sehingga
memudahkan aksesibilitas pencapaian menuju kedalam tapak.

Gambar 10.6 Suasana Jl. Ibrahim Adjie (dekat gerbang stasiun depan KA Kiaracondong)
Sumber: google maps, (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 22.51 WIB)

Gambar 10.7 Suasana Pertigaan Jl. Stasiun Lama dan Jl. Ibrahim Adjie
Sumber: google maps, (di akses: Minggu, 28 Januari 2018 pukul 22.57 WIB)

10. PERNYATAAN PERSOALAN ARSITEKTUR


10.1 Aspek Perancangan
Stasiun memiliki aspek perancangan yang kuat dari segi aksesibilitas dan zona ruang.
Mempertimbangkan akses keberangkatan dan kedatangan. Zona publik dan privat yang harus
lebih di perhatikan agar memberikan kenyamanan saat berada di stasiun.

10.2 Aspek Bangunan (Fisik) dan Struktural


Wilayah Indonesia termasuk dalam golongan Negara beriklim tropis. Membangun
sebuah bangunan secara fisik yang memiliki keindahan visual tidaklah cukup, namun
rancangan harus memperhatikan aspek lainnya yang berkaitan dengan klimatologis kawasan.
Selain itu,penggunaan bahan untuk aspek struktural perlu diperhatikan agar lebih efektif dan
efisien.

10.3 Aspek Lingkungan dan Tapak


Menyesuaikan desain atau rancangan dengan regulasi wilayah setempat yang sudah
dibuat oleh pemerintah. Pencapaian menuju site yang dapat di akses dengan mudah, dan
memanfaatkan sebagian lahan sebagai elemen lansekap dalam tapak. Serta mengurangi
perkerasan di area publik diluar bangunan.
11. METODA PENDEKATAN PERANCANGAN
Berdasarkan persoalan diatas maka pendekatan perancangan yang digunakan dalam
merancang Stasiun Kereta Api adalah sebagai berikut:
a. Memahami tema lebih mendalam untuk mengembangkan konsep
b. Mengetahui potensi dan kendala pada site sehingga dapat memperoleh solusi desain
yang tepat dengan kriteria yang sesuai
c. Mengikuti regulasi wilayah yang sudah ditentukan oleh pemerintah
d. Mengikuti standar yang berlaku, sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah
seperti Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia nomor 48 tahun 2015
tentang standar pelayanan minimum angkutan orang dengan kereta api
e. Menganalisa karakter pengguna bangunan dan karakter masyarakat serta lingkungan
sekitar site.

DAFTAR PUSTAKA
a. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2015 tentang
Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api
b. Peraturan Daerah Kota Bandung No. 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Bandung 2011-2031
c. WJP-MDM, “Konsep Awal Pengembangan Metropolitan Bandung Raya”, 2013
d. Nur Ilham, Anggie, Afriyanto Sofyan, 2012, “Tipologi Bangunan Rumah Tinggal
Adat Sunda di Kampung Naga Jawa Barat”, JURNAL TESA ARSITEKTUR Vol. 10
No.1, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang
e. https://ppid.bandung.go.id/knowledgebase/profil-kecamatan-kiaracondong/
f. http://kbbi.kemdikbud.go.id/
g. https://portal.bandung.go.id/pemerintahan/kecamatan/7GVA/kecamatan-kiara-
condong
h. http://bandungtempodulu.blogspot.co.id/2015/07/catatan-kecil-mengenai-babakan-
surabaya.html
i. https://libertymr.wordpress.com/2014/11/18/hamburg-hauptbahnhof-stasiun-kereta-
tersibuk-di-jerman/
j. http://elidanisa.blogspot.co.id/2012/01/main-station-in-germany.html
k. http://silumanpisces.blogspot.co.id/2013/07/10-stasiun-kereta-api-terbesar-di.html
l. http://www.capangker.com/2017/08/cara-tercepat-ke-stasiun-gambir-naik-krl-
commuter-line.html
m. http://jabar.tribunnews.com/2017/09/26/taman-asia-afrika-akan-segera-hadir-di-kota-
bandung
n. https://www.agoda.com/hotel-rail-transit-suite-gambir/hotel/jakarta-id.html?cid=-218
o. http://www.joecgp.com/2013/07/stasiun-kiara-condong.html
p. http://www.harnas.co/2017/07/03/-tiga-hari-larangan-di-kampung-naga
q. https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Surabaya_Pasarturi
r. http://radevitiq.blogspot.co.id/2016/11/stasiun-pasar-turi.html
s. https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Manggarai
t. http://www.re-digest.web.id/2016/12/eksklusif-underpass-stasiun-manggarai.html
u. http://www.capangker.com/2015/02/antara-stasiun-jatinegara-dan-stasiun-
manggarai.html