Anda di halaman 1dari 20

1

BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Ilmu kimia analitik adalah ilmu kimia yang mendasari pemisahan-
pemisahan dan analisis bahan.Analisa bertujuan untuk menentukan
susunan bahan, baik secara kualitatif, kuantitatif, maupun secara
struktur.Susunan kualitatif merupakan komponen-komponen bahan,
sedangkan susunan kuantitatif adalah berapa banyaknya atau setiap
komponen tersebut. Dalam ilmu kimia analitik untuk menganalisa suatu
komponen kimia terdiri atas beberapa analisis yaitu analisis volumetri,
analisis gravimetric (Basset, 1994).
Analisa volumetri adalah salah satu cara pemeriksaan jumlah zat
kimia yang luas penggunaannya. Cara ini sangat menguntungkan karena
pelaksanaannya yang mudah dan cepat, ketelitian dan kecepatan cukup
tinggi, juga dapat digunakan untuk menetukan kadar berbagai zat yang
mempunyai sifat berbeda-beda. Metode volumetri secara garis besar dapat
diklasifikasikan dalam empat kategori yaitu titrasi asam basa yang
meliputi reaksi asam dan basa baik kuat maupun lemah, titrasi redoks yaitu
titrasi yang meliputi hampir semua reaksi oksidasi reduksi, titrasi
pengendapan yaitu titrasi yang meliputi pembentukkan endapan, dan titrasi
kompleksometri seperti titrasi EDTA misalnya titrasi spesifik (Khopkar,
1990).
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer
ataupun titrant.Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.Kadar
larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan
ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis
bereaksi). Titrasi asam-basa sering disebut aidimetri-alkalimetri (Svehla,
1990).
Asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan
utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidimetri dan

1
2

Alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk
karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam
standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas atau asam yang terbentuk dari
hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar
(alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion hydrogen
dan ion hydroksida untuk membentuk air (Basset, 1994).
Asidi alkalimetri sangat perlu untuk dipelajari, karena titrasi asam
basa sangat berguna dalam dunia industri. Contoh penggunaannya adalah
dalam bidang farmasi seperti menentukan reaksi-reaksi dalam pembuatan
obat. Dalam industri makanan digunakan untuk penentuan kadar iodium,
sakarin, kadar Zn dan Fe dalam tahu yang dibungkus dengan plastik dan
dalam industri kosmetika yaitu dalam penentuan kadar zat warna AZO
yang berbahaya.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas maka perlu dilakukan
praktikum mengenai analisis volumetri (titrasi asam basa), guna
mengetahui metode atau cara menitrasi suatu larutan yang bersifat basa
ataupun asam, selain itu dapat menyelaraskan antara praktikum dan teori
titrasi asam basa.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui
kadar asam oksalat dan asam asetat dengan menggunakan prinsip
asidimetri dan alkalimetri.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1. Menentukan normalitas dari asam asetat dan asam oksalat
2. Menentukan presentase kadar asam asetat dan asam oksalat
3. Menentukan pH dari asam asetat dan asam oksalat
3

I.3 Prinsip Percobaan


Adapun prinsip percobaan pada praktikum kali ini yaitu berdasarkan
hasil akhir dari titrasi menggunakan reaksi netralisasi atau reaksi asidi
alkalimetri dimana terjadi reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam
dengan ion hidroksida yang berasal dari basa sehingga menghasilkan air
yang bersifat netral.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Pengertian Asidimetri-Alkalimetri
Asidi dari kata acid (bahasa Inggris) yang berarti asam sedang
metri dari (bahasa Yunani) yang berarti ilmu, proses, atau seni mengukur.
Asimetri berartipengukuran jumlah asam atau pengukuran dengan asam.
Titrasi asidimetri-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan
asam-basa. Berdasarkan reaksinya dengan pelarut, asam dan basa
diklasifikasikan menjadi asam-basa kuat dan lemah sehingga titrasi asam-
basa meliputi titrasi asam kuat dengan basa kuat, asam kuat dengan basa
lemah, asam lemah dengan basa kuat, asam kuat dengan garam dari asam
lemah, dan basa kuat dengan garam dari basa lemah. Titrasi merupakan
suatu proses analisis dimana suatu volum larutan standar ditambahkan ke
dalam larutan dengan tujuan mengetahui komponen yang tidak dikenal
(Day Underwood, 1999).
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah
diketahui secara pasti. Berdasarkan kemurniannya larutan standar
dibedakan menjadi larutan standar primer dan larutan standar sekunder.
Larutan standar primer adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan
menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian tinggi
(konsentrasi diketahui dari massa - volum larutan). Larutan standar
sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan
melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif rendah sehingga
konsentrasi diketahui dari hasil standardisasi (Day Underwood, 1999).
Standardisasi larutan merupakan proses saat konsentrasi larutan
standar sekunder ditentukan dengan tepat dengan cara mentitrasi dengan
larutan standar primer. Titran atau titer adalah larutan yang digunakan
untuk mentitrasi (biasanya sudah diketahui secara pasti konsentrasinya).
Dalam proses titrasi suatu zat berfungsi sebagai titran dan yang lain
sebagai titrat. Titrat adalah larutan yang dititrasi untuk diketahui

4
5

konsentrasi komponen tertentu. Titik ekivalen adalah titik yang


menyatakan banyaknya titran secara kimia setara dengan banyaknya analit.
Analit adalah spesies (atom, unsur, ion, gugus, molekul) yang dianalisis
atau ditentukan konsentrasinya atau strukturnya (John Kenkel, 2003).
Titik akhir titrasi adalah titik pada saat titrasi diakhiri/dihentikan.
Dalam titrasi biasanya diambil sejumlah alikuot tertentu yaitu bagian dari
keseluruhan larutan yang dititrasi kemudian dilakukan proses pengenceran.
Pengenceran adalah proses penambahan pelarut yg tidak diikuti terjadinya
reaksi kimia sehingga berlaku hukum kekekalan mol (W Haryadi, 1990).
II.1.2 Peralatan dalam Titrasi Asidimetri-Alkalimetri
Peralatan yang digunakan dalam titrasi pada umumnya meliputi
buret, statif, klem, klem holder, erlenmeyer, pengaduk magnetik, pipet
tetes, dan pipet transfer atau pipet volumetrik. Buret berfungsi untuk
menambahkan sejumlah titran sedikit demi sedikit dan tertentu.
Erlenmeyer digunakan untuk wadah titratnya. Pipet tetes untuk
menambahkan indikator ke dalam titrat. Pengaduk magnetik digunakan
untuk mangaduk larutan titrat pada saat proses titrasi agar perubahan sifat
fisik (warna) dapat diketahui secara cepat. Pipet transfer atau pipet
volumetrik digunakan untuk mengambil larutan titrat sejumlah tertentu
dengan tepat. Selain itu perlu juga disiapkan kertas berwarna putih sebagai
alas Erlenmeyer agar bila terjadi perubahan warna secara cepat dapat
teramati dengan jelas (Underwood, 1999)
II.1.3 Indikator pH
Indikator pH merupakan zat yang dapat berubah warna apabila pH
lingkungannya berubah. Indikator pH dapat dibedakan menjadi indikator
satu warna dan indikator dua warna. Indikator satu warna adalah yaitu
indikator yang mempunyai satu macam warna seperti fenolptalin yang
hanya akan berwarna merah bila dalam lingkungan basa. Indikator dua
warna adalah indikator yang mempunyai dua warna, yaitu warna asam dan
warna basa. Indikator kuning alizarin mempunyai warna kuning dalam
lingkungan asam (warna asam) dan berwarna ungu dalam lingkungan basa
66

(warna basa). Sifat beberapa indikator asam-basa yang penting (Harvey,


2000):
Berbagai macam indikator dapat digunakan sebagai penunjuk
asam, basa, atau garam. Berikut ini satu-persatu akan diuraikan macam-
macam indikator dengan berbagai kekhasannya (Johnson, 2006) :
1. Kertas Lakmus
Ada 2 macam kertas lakmus, yaitu merah dan biru. Kertas
lakmus biru biasanya digunakan untuk menunjukkan asam, yaitu jika
dicelupkan dalam larutan dan ternyata berubah menjadi warna merah,
berarti larutan tersebut bersifat asam. Sebaliknya jika kertas lakmus
merah dicelupkan ke dalam suatu larutan dan warnakertas berubah
menjadi biru, berarti larutan tersebut bersifat basa. Jika kertas lakmus
merah atau biru dicelupkan ke dalam suatu larutan dan ternyata kedua
kertas tidak mengalami perubahan warna, berarti larutan tersebut
bersifat netral. Dengan kertas lakmus merah saja, kita dapat mengetahui
larutan yang bersifat asam, yaitu bila warna tidak berubah, basa bila
berubah menjadi biru. Namun untuk larutan yang bersifat netral agak
sulit untuk menyimpulkannya, karena dengan kertas lakmus merah
warnanya akan tetap, padahal untuk larutan asam juga demikian. Untuk
mengetahui sifat netral diperlukan dua kertas lakmus(merah dan biru),
dimana dengan keduanya larutan netral tidak dapat mengubah
warnanya, artinya merah tetap merah dan biru tetap biru.
2. Larutan Indikator
Beberapa contoh larutan indikator antara lain adalah fenolptalin
(pp) yang memberikan warna pink dalam lingkungan basa dan tidak
berwarna dalam lingkungan asam, dan metil orange (mo) yang
memberikan warna merah dalam lingkungan asam dan kuning dalam
lingkungan basa. Perubahan warna indikator ini terjadi dalam rentangan
pH tertentu yang disebut trayek pH. Sebagai contoh, indikator pp
memiliki trayek pH : 8,0 – 9,6, dan indikator mo memiliki trayek pH :
3,1 – 4,4.
7 7

3. Indikator Universal
Indikator ini dapat berupa kertas, tetapi ada juga yang berupa
larutan, yang dapat menunjukkan harga jangkauan pH suatu larutan
yang lebar. Jika kertas indikator ini dicelupkan ke dalam larutan akan
memberikan warna tertentu yang kemudian dibandingkan dengan warna
standar yang tertera dalam wadahnya untuk mengetahui pH larutan
yang sebenarnya.
4. Indikator Alami
Indikator alami dapat dibuat dari bagian tanaman yang berwarna,
misalnya kelopak bunga sepatu, daun kubis ungu, daun bayam merah,
kayu secang, dan kunyit. Sebenarnya hampir semua tumbuhan
berwarna dapat dipakai sebagai indi-kator tetapi terkadang perubahan
warnanya tidak jelas. Oleh karena itu hanya beberapa saja yang sering
dipakai, misalnya daun kubis ungu yang memberikan warna merah dan
hijau, daun bayam merah yang memberikan warna merah dan kuning.
Beberapa indikator alami tersebut dapat dibuat secara cepat, mudah,
dan sederhana. Namun dalam bentuk larutan ia tidak tahan lama, mudah
rusak, dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Untuk mengatasi hal itu
kita dapat membuat-nya dalam bentuk indikator kertas, yaitu dengan
melarutkan bahan indikator alami dalam alkohol setelah sebelumnya
dikeringkan, kemudian kertas saring yang telah dibentuk seperti kertas
pH Universal (ukuran ½ x 5 cm) kita celupkan satu-persatu dan
dibiarkan kering di udara. Kertas indikator alami ini akan bertahan lama
bila disimpan di plastik yang tertutup.
II.2 Uraian Bahan
a. Alkohol (FI III: 63)
Nama resmi : Aethanolum
Nama Lain : Etanol
RM/BM : C2H6O / 46,07 g/mol
8

Rumus Stuktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna,mudah menguap, bau khas.


Kelarutan : Bercampur dengan air, praktis bercampur dengan
pelarut organik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Mensterilkan alat dan bahan yang digunakan untuk
praktikum
b. Aqua Destilata (FI IV: 96)
Nama resmi : Aqua destilata
Nama Lain : Air suling
RM/BM : H2O/18,02 g/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau; tidak


mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai bahan untuk membuat air bebas
c. Asam asetat (FI IV: 45)
Nama resmi : Acidum Aceticum
Sinonim : Asam asetat
RM/BM : C2H4O2 / 60,05 g/mol
Rumus Struktur : CH3COOH

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna ; bau khas, menusuk;


rasa asam yang tajam.
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dan denga gliserol.
Kegunaan : Sebagai sampel
9

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


d. Fenolftalein (FI IV: 662)
Nama resmi : Phenolphthaleinum
Sinonim : Fenolftalein
RM/BM : C20H14O4 / 318,33 g/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan lemah;


tidak berbau; stabil diudara.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam etanol;
agak sukar larut dalam etanol.
Kegunaan : Indikator
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
e. Natrium hidroksida (FI IV: 589)
Nama resmi : Natrii Hydroxidum
Sinonim : Natrium hidroksida
RM/BM : NaOH / 40,00 g/mol
Rumus Struktur :
Na-OH
Pemerian : Putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk
pelet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Keras,
rapuh dan menunjukan pecahan hablur. Bila
dibiarkan diudarah akan cepat menyerap karbon
dioksida dan lembab.
Kelarutan : Mudah larutdalam air dan etanol.
Kegunaan : Titran
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
10 10

f. Kalium Biftalat (FI Edisi IV Hal 686)


Nama Resmi : KALIUM HIDROGENFTALAT
Nama Lain : Kalium Biftalat
Rumus Molekul : CO2H.C6H4.CO2K

Berat Molekul : 204,2


Pemerian : Serbuk hablur, putih
Kelarutan : Larut perlahan-lahan dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Larutan baku primer
g. Asam Oksalat (FI Edisi IV Hal 356)
Nama Resmi : ACID OKSALAT
Nama Lain : Asam Oksalat
Rumus Molekul : (CO2H)2.2H2O
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 134,00


Pemerian : Serbuk hablur, tidak berwarna
Kelarutan : Larut dalam air dan etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai sampel
11

BAB III
METODE KERJA
III.1. Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan Praktikum Kimia Analisis mulai dilaksanakan
pada tanggal 6 Mei 2017 pada pukul 13.00 wita, bertempat di
Laboratorium Kimia Farmas, Universitas Negeri Gorontalo.
III.2. Alat dan Bahan
III.1.1. Alat
1. Batang pengaduk
2. Botol Coklat
3. Buret
4. Cawan porselin
5. Gelas Kimia
6. Gelas Ukur
7. Kaca Arloji
8. KLem
9. Labu Erlenmayer
10. Lap Halus
11. Lap Kasar
12. Neraca Analitik
13. Penangas
14. Pipet
15. Spatula
16. Statif
III.1.2.Bahan
1. Alkohol
2. Aquades
3. Asam Asetat
4. Asam Oksalat
5. Indikator Fenolfthalein
6. NaOH

11
12

III.3 Cara Kerja


a. Pembuatan air bebas CO2
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dibersihkan alat dengan alkohol 70 %
3. Diukur air sebanyak 500 ml
4. Dimasukkan ke dalam gelas kimia
5. Dipanaskan di atas penanas air selama 15 menit dan tutup dengan
aluminium foil
6. Didiamkan hingga dingin
b. Pembuatan larutan NaOH
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang seksama sebanyak 20 gram NaOH
4. Dilarutkan dalam 500 ml air bebas CO2
5. Diaduk hingga homogen
c. Kenetapan kadar larutan asam oksalat
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang asam oksalat sebanyak 0,63 g
4. Dimasukkan kedalam gelas kimia
5. Dilarutkan 100 ml air bebas CO2
6. Diambil sebanyak 20 ml dan dimasukkan kedalam labu erlenmeyer
7. Ditetesi indikator penoftalein sebanyak 4 tetes
8. Dititrasi dengan NaOH 1 N sampai menjadi perubahan menjadi
warna ungu
9. Dicatat volume titran yang dipakai
d. Penetapan kadar larutan asam asetat
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Dibersihkan alat dengan menggunakan alkohol 70%
3. Diukur asam asetat sebanyak 20 ml
4. Dimasukkan kedalam gelas kimia
13

5. Dilarutkan kedalam 20 ml air bebas CO2


6. Diambil sebanyak 2 ml larutam asam asetat dan dimasukkan
kedalam labu erlenmeyer
7. Ditetesi indikator penoftalein sebanyak 4 tetes
8. Ditetesi dengan NaOH 1 N sampai menjadi perubahan menjadi
warna ungu
9. Dicatat volume titran yang dipakai
III.4. Reaksi-reaksi
a. Titrasi asam dan basa kuat
Diakhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa
kuat. Misalnya :
HCl + NaOH NaCl + H2O
b. Titrasi asam lemah dan basa kuat
Pada akhirnya titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan
basa kuat. Misalnya : asam asetat dengan NaOH
CH3COOH + NaOH CH3COOHNa + H2O
c. Titrasi basa lemah dan asam kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah
dan asam kuat. Misalnya : NH4Cl dan HCl
NH4OH + HCl NH4Cl + H2O
d. Titrasi asam lemah dan basa lemah
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah
dan basah lemah. Misalnya : asam asetat dan NH4OH
CH3COOH + NH4OH CH3COONH4 + H2O
14

BAB IV
TABEL PENGAMATAN DAN PERHTIUNGAN
IV.1 Tabel Hasil Pengamatan
Sampel Vtitran Vtitrat Indikator Perubahan
penoftalein warna
Asam asetat 1,3 mL 20 mL 4 tetes Ungu
Asaam 1,6 mL 20 mL 4 tetes Ungu
oksalat

IV.2 Perhitungan
IV.2.1 Perhitungan Normalitas
a. Normalitas Asam Asetat
V1. N1 = V2. N2
VNaOH. NNaOH = Vasetat. Nasetat
1,3 mL . 1 N = 20 . Nasetat
Nasetat = 0,065 N
b. Normalitas Asam Oksalat
V1. N1 = V2. N2
VNaOH. NNaOH = Voksalat. Noksalat
1,6 mL . 1 N = 20 . Noksalat
Noksalat = 0,08 N
IV.2.2 Perhitungan Kadar
a. % kadar asam asetat
Vtitran x Ntitran x BE
% kadar asam asetat = x 100%
mL sampel x 1000
1,3 mL x 1 x 60.05
= x 100%
20 x 1000
78,065
= x 100%
20.000

= 0,390325 %
b. % kadar asam oksalat
Vtitran x Ntitran x BE
% kadar asam asetat = x 100%
mL sampel x 1000

14
15

1,6 mL x 1 x 90,03
= x 100%
20 x 1000
144,048
= x 100%
20.000

= 0,72024 %
IV.2.3 Perhitungan pH
a. pH asam asetat
pH asam aseta = -log H+
gr
a) mol asam asetat = 𝑀𝑟
0,3
= 60

= 0,005 mol
mol
b) M asam asetat = V
0,005
= 20

= 0,00025 M
c) H+ = √ka + M
= √1 x 10−5 x 25−5
= √25 x 10−10
= 5 x 10-5
d) pH Asam asetat = -log H+
= -log 5 x 10-5
= 5 – log 5
= 5 – 0,69
= 4,13
b. pH asam oksalat
pH asam oksalat = -log H+
gr
a) mol asam asetat = mr
0,63
= 90

= 0,007 mol
16

mol
b) M asam asam oksalat = V
0,007
= 20

= 0,00035 M
c) H+ = √Ka + M
= √1 x 10−5 + 35−5
= √35 x10−10
= 5,91 x 10-5
d) pH asam oksalat = -log H+
= -log 5,91 x 10-5
= 5 – log 5,91
= 5 – 0,77
= 4,23
IV.2.4 Perhitungan Bahan
a. Perhitunngan larutan NaOH
Menurut FI 40 gr dalam 1 L
Yang akan dibuat 500 mL
A1 B
= B1
A2 2

40 g 1000 mL
A2
= 500 mL

200 g/mL = A2. 10 mL


200 g/mL
A2 = 10 mL

A2 = 20 gr
17

BAB V
PEMBAHASAN
Asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat golongan utama
dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidimetri dan Alkalimetri
ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam
yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi
asam bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa
lemah dengan suatu basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan
bersenyawanya ion hydrogen dan ion hydroksida untuk membentuk air (Basset,
1994).
V.1. Pembuatan Air Bebas CO
Pembuatan air bebas CO2 yaitu diukur air sebanyak 500 ml
kemudian dimasukkan kedalam gelas kimia lalu di panaskan diatas
penangas air selama 5 menit dan tutup dengan aluminium foil.
Digunakannya aluminium foil dikarenakan aluminium foil agar air bebas
CO2 tidak terkontaminasi dengan cahaya karena dapat mempengaruhi sifat
larutan (Svehla, 1985) Kemudian didiamkan hingga dingin.
V.2. Pembuatan Larutan NaOH
Pembutan NaOH terlebih dahulu dengan cara melarutkan 20 g
NaOH kedalam 500 mL air. Kemudian diaduk dengan homogen.
Kemudian dimasukkan kedalam botol coklat, tujuan dimasukkan kedalam
botol coklat agar larutan NaOH tidak mudah teroksidasi oleh cahaya
matahari (Basset, 1994).
V.3. Pembakuan Natrium Hiroksida 1N dengan Kalium Biftalat
Setelah pembuatan air bebas karbon dioksida, dilanjutkan dengan
percobaan pembuatan dan pembakuan larutan NaOH 1N dengan kalium
biftalat. Sebelum pembakuan, dibuat larutan NaOH dengan cara
melarutkan 2 g NaOH kedalam 500 mL air bebas CO2.
Tujuan digunakannya air bebas CO2 dimaksudkan karena NaOH
merupakan basa kuat yang mudah menyerap CO2 atau bersifat higroskopis
sehingga diperlukan untuk melarutkan basa (Kumar, 2011).

17
18

V.4. Penetapan Kadar Asam Asetat


Percobaan yang terakhir adalah titrasi asam asetat. Larutan asam
asetat sebanyak 20 mL dilarutkan kedalam 20 mL air. Untuk
perlakuannya, yakni asam asetat ditetesi indikator phenolphthalein
sebanyak 3 tetes dan dititrasi menggunakan larutan NaOH. Menurut Restu
(2012) Percobaan kali ini sesuai dengan literatur yang ada dimana hasil
yang di timbulkan adalah warna ungu, hal ini terjadi akibat indikator yang
kita gunakan adalah penoftalein. Sehingga dapat dikatakan bahwa, larutan
telah memiliki pH di atas 7. Berdasarkan banyaknya titran NaOH yang
digunakan untuk perubahan warna, rata rata NaOH yang terpakai adalah
1.3 mL.
V.5 Penetapan Kadar Asam Oksalat
Percobaan terakhir yaitu penentuan kadar asam oksalat, asam oksalat
ditimbang sebanyak 0,63 gr kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia
dan dilarutkan dengan 100 mL air bebas CO2 dan di homogenkan, setelah
itu diambil sebanyak 20 mL di masukkan ke dalam labu erlenmeyer dan
ditetesi indikator penoftalein sebanyak 4 tetes, setelah di tetesi indikator
penoftalein kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 1 N sampai terjadi
perubahan warna. Dengan volume titran 1,6 ml
19

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan sebelumnya, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1. Normalitas asam asetat 0,065 N dan asam oksalat 0,08 N
2. % kadar asam asetat 0,390325% dan % kadar asam oksalat 0,72024%
3. pH asam asetat 4,13 dan pH asam oksalat 4,23
VI.2 Saran
V.2.1 Saran untuk praktikan
Diharapkan kepada praktikan bahwa saat melakukan praktikum
untuk lebih konsentrasi, teliti agar hasil yang didapatkan dalam praktikum
lebih akurat.
V.2.2 Saran untuk asisten
Diharapkan kepada asisten agar lebih mengawasi dan membimbing
praktikan saat melakukan praktikan agar tidak banyak terjadi kesalahan
dan kekeliruan pada saat melakukan percobaan.
V.2.3 Saran buat jurusan
Saran kami kepada pihak jurusan agar memperhatikan keadaan
laborotorium dan melengkapi alat-alat praktikum yang masih kurang untuk
kepentingan bersama

19
20

DAFTAR PUSTAKA

Basset. J. 1994. Buku Ajar Vogel; Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Day, R.A. & Underwood, A.L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 6.
Erlangga. Jakarta.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta

Harvey. David. 2000. Modern Analitycal Chemistry. USA: The Mc Graw-Hill

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik Edisi Keempat. Jakarta:


Erlangga

Kumar. V. 2011. Buku Patologi Edisi Ketujuh Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Svehla. G. 1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi
Mikro Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka

Taher. Tarmiji. 2013. Mengetahui Data Distribusi Normal. Yogyakarta: Dian


Rakyat

W. Haryadi. (1990). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia


.