Anda di halaman 1dari 42

SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar Akuntansi Keuangan untuk

Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia untuk perusahaan
kecil dan menengah. SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Standar ETAP ini cukup sederhana dan
pasti tidak akan menyulitkan bagi penggunanya.
Apabila SAK ETAP ini telah berlaku efektif, maka lembaga keuangan seperti LPD tidak
perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Di dalam
beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan
dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Perbedaan secara kasat mata
dapat dilihat dari ketebalan SAK ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan
30 bab.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk
digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang
dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan tidak
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi
pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung
dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Perlu pula diketahui bahwa Karakter SAK-ETAP:
1. Berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK-Umum
2. Menggunakan historical cost
3. Hanya mengatur transaksi umum yang terjadi pada ETAP
4. Lebih sederhana
5. Tidak berubah dalam beberapa tahun kedepan

SAK ETAP cocok digunakan oleh LPD. Dengan adanya penggunaan SAK ETAP pada
LPD maka LPD bisa menyusun laporan keuangannya sendiri dan laporan keuangan LPD bisa
diaudit (auditable) dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan
keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usaha. SAK ETAP lebih sederhana
dibandingkan dengan PSAK-IFRS karena SAK ETAP merupakan penyederhanaan dari SAK
Umum, sehingga lebih mudah dalam mengimplementasikannya dan bisa memberikan informasi
yang handal dalam pengujian laporan keuangan. Penggunaan SAK ETAP pada LPD bisa
menjadikan pelaporan keuangan LPD menjadi lebih transparan, komprehensif, dan relevan.
Selain itu dengan menggunakan SAK ETAP, LPD sebagai usaha mikro bisa dibandingkan
dengan usaha-usaha lainnya. LPD menggunakan dasar pengakuan accrual basis yang merujuk
pada SAK ETAP.
LPD yang merupakan singkatan dari Lembaga Perkreditan Desa merupakan badan usaha
keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan usaha di lingkungan desa dan untuk krama
desa, di mana masyarakat adat setempat maupun di luar desa adatnya dapat melakukan
penyimpanan dana dan meminjam kredit pada Lembaga Perkreditan Desa Adat. Tujuan
pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat, berdasarkan penjelasan peraturan Daerah No.2/
1988 dan No. 8 tahun 2002 mengenai Lembaga Peerkreditan Desa (LPD), adalah untuk
mendukung pembangunan ekonomi pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung
masyarakat desa dan menyediakan kredit bagi usaha skala kecil, untuk menghapuskan bentuk–
bentuk eksploitasi dalam hubungan kredit, untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi
kegiatan usaha pada tingkat desa, dan untuk meningkatkan tingkat monetisasi di daerah
pedesaan. LPD harus dapat mengadaptasi perkembangan-perkembangan global. Sementara itu,
SAK ETAP adalah standar akuntansi keuangan yang juga sudah sesuai dengan perkembangan
jaman di mana SAK ETAP ini sudah merupakan penyederhanaan dari SAK Umum yang
diharapkan penggunaannya bisa mempermudah pembuatan laporan keuangan, sehingga SAK
ETAP ini sudah sesuai dengan LPD yang harus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Setelah menerapkan SAK ETAP banyak manfaat yang didapat, diantaranya laba menjadi
lebih stabil, pelaporan lebih transparan dan berstandar Internasional. SAK ETAP murah dari sisi
biaya. SAK ETAP relatif konsisten, sehingga dengan penggunaan SAK ETAP bagi LPD tidak
perlu disusahkan oleh perubahan standar akuntansi. Namun, kendala utama penerapan kebijakan
ini terletak pada kualitas SDM yang belum memadai. (Dari berbagai sumber)
http://helloimratnaa.blogspot.co.id/2013/01/mungkinkah-lpd-mengadopsi-dan.html

Rangkuman isi SAK-ETAP

31 Votes

BAB I Ruang Lingkup

Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas
publik adalah entitas yang memiliki dua kriteria yang menentukan apakah suatu entitas tergolong
entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) yaitu:

1. Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan

Suatu entitas dikatakan memiliki akuntabilitas yang signifikan jika:

1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM-LK) atau regulator lain untuk
tujuan penerbitan efek di pasar modal. Oleh sebab itu Bapepam sendiri telah mengeluarkan
surat edaran (SE) Bapepam-LK No. SE-06/BL/2010 tentang larangan penggunaan SAK ETAP bagi
lembaga pasar modal, termasuk emiten, perusahaan publik, manajer investasi, sekuritas,
asuransi, reksa dana, dan kontrak investasi kolektif.
2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebaga fidusia untuk sekelompok besar masyarakat,
seperti bank, entitas asuransi, pialang dan/atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana, dan
bank investasi.

2. Tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statements) bagi pengguna eksternal.

Contoh pengguna eksternal adalah:

1. Pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha;


2. Kreditur;
3. Lembaga pemeringkat kredit.

Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifkan dapat menggunakan SAK ETAP jika
otoritas berwenang membuat regulasi yang mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Contohnya
Bank Perkreditan Rakyat yang telah diijinkan oleh Bank Indonesia menggunakan SAK ETAP
mulai 1 Januari 2010 sesuai dengan SE No. 11/37/DKBU tanggal 31 Desember 2009.

SAK-ETAP ini akan berlaku efektif per 1 January 2011 namun penerapan dini per 1 Januari
2010 diperbolehkan. Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat
suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan
tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan
mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP. Apabila
perusahaan memakai SAK-ETAP, maka auditor yang akan melakukan audit di perusahaan
tersebut juga akan mengacu kepada SAK-ETAP.

Mengingat kebijakan akuntansi SAK-ETAP di beberapa aspek lebih ringan daripada


PSAK, maka terdapat beberapa ketentuan transisi dalam SAK-ETAP yang cukup ketat:

1. Pada BAB 29 misalnya disebutkan bahwa pada tahun awal penerapan SAK-ETAP, yakni 1 January
2011
2. Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan
keuangan tidak berdasarkan SAK-ETAP, tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan
secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP
ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
3. Per 1 Januari 2011, perusahaan yang memenuhi definisi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik harus
memilih apakah akan tetap menyusun laporan keuangan menggunakan PSAK atau beralih
menggunakan SAK-ETAP.
4. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi
persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP. Hal ini misalnya ada
perusahaan menengah yang memutuskan menggunakan SAK-ETAP pada tahun 2011, namun
kemudian mendaftar menjadi perusahaan public di tahun berikutnya. Entitas tersebut wajib
menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk
menerapkan SAK ETAP ini kembali.
5. Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan keuangannya
dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP, maka entitas
tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.

BAB 2 Konsep Dan Prinsip Pervasif

1. Tujuan laporan keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan
laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam
pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan
keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Dalam memenuhi tujuannya,
laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

1. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan


2. Posisi keuangan

1. Dapat Dipahami. Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini,
pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi
dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan
ketekunan yang wajar.
2. Relevan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan
ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu,
masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di
masa lalu.
3. Materialitas. Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau
kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi
pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan.
4. Keandalan. Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias,
dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan. Substansi Mengungguli Bentuk Transaksi, peristiwa dan
kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan
bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk meningkatkan keandalan laporan
keuangan.
5. Pertimbangan Sehat. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat
melakukan pertimbangan yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aset
atau penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan
lebih rendah.
6. Kelengkapan. Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap
dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan
mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak
dapat diandalkan dan kurang mencukupi ditinjau dari segi relevansi.
7. Dapat Dibandingkan. Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas
antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.
Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.
8. Tepat Waktu. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam
jangka waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya
dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.
9. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya
penyediannya.

Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas pada suatu waktu tertentu.
Unsur laporan keuangan yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan
adalah aset, kewajiban, dan ekuitas. Unsur-unsur ini didefinisikan sebagai berikut:

1. Aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari
mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas.
2. Kewajiban merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi.
3. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi semua kewajiban.
4. Kinerja keuangan

Kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana
disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai
dasar untuk pengukuran lain, seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-
unsur laporan keuangan yang secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah
penghasilan dan beban. Penghasilan dan beban didefinisikan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode pelaporan dalam
bentuk arus masuk atau peningkatan aset, atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan
kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
2. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode pelaporan dalam
bentuk arus keluar atau penurunan aset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan
penurunan ekuitas yang tidak terkait dengan distribusi kepada penanam modal.

Pengakuan penghasilan dan beban dalam laporan laba rugi dihasilkan secara langsung dari
pengakuan dan pengukuran aset dan kewajiban. Kriteria pengakuan penghasilan dan beban
dibahas lebih lanjut dalam paragraf

1. Pengakuan unsur-unsur laporan keuangan

Pengakuan unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau
laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari
atau ke dalam entitas; dan
2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
Kegagalan untuk mengakui pos yang memenuhi kriteria tersebut tidak dapat digantikan dengan
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau catatan atau materi penjelasan.

1. Pengukuran unsur-unsur laporan keuangan

Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset,
kewajiban, penghasilan dan beban dalam laporan keuangan. Proses ini termasuk pemilihan dasar
pengukuran tertentu. Dasar pengukuran yang umum adalah biaya historis dan nilai wajar:

1. Biaya historis. Aset adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari
pembayaran yang diberikan untuk memperoleh aset pada saat perolehan. Kewajiban dicatat
sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai wajar dari aset non-kas yang
diterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat terjadinya kewajiban.
2. Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset, atau untuk
menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki
pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
3. Prinsip pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasif)

Persyaratan untuk pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam
SAK ETAP didasarkan pada prinsip pervasif dari Kerangka Dasar Penyajian dan Pengukuran
Laporan Keuangan.

1. Dasar akrual

Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas, dengan menggunakan dasar
akrual. Dalam dasar akrual, pos-pos diakui sebagai aset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan
beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk
pos-pos tersebut.

1. Pengakuan dalam laporan keuangan


1. Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonominya di masa depan akan
mengalir ke entitas dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat
ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah periode
pelaporan berjalan. Sebagai alternatif transaksi tersebut menimbulkan pengakuan
beban dalam laporan laba rugi.
2. Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban masa
kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
3. Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam Laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa
depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau penurunan kewajiban telah terjadi
dan dapat diukur secara andal.
4. Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan
yang berkaitan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan
dapat diukur secara andal.
5. Laba atau rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Hal tersebut
bukan merupakan suatu unsur terpisah dari laporan keuangan, dan prinsip pengakuan
yang terpisah tidak diperlukan.
6. Saling hapus

Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau penghasilan dengan beban,
kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.

BAB 3 Penyajian Laporan Keuangan

1. Penyajian wajar

Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa
dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan
dan beban yang dijelaskan dalam Bab 2 Konsep dan Prinsip Pervasif.

1. Kepatuhan terhadap SAK ETAP

Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan
eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam
catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP
kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.

1. Kelangsungan usaha

Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP
membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usaha. Entitas
mempunyai kelangsungan usaha kecuali jika manajemen bermaksud melikuidasi entitas tersebut
atau menghentikan operasi, atau tidak mempunyai alternatif realistis kecuali melakukan hal-hal
tersebut.

1. Frekuensi pelaporan

Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum
satu tahun sekali. Ketika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan
telah disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari satu tahun, maka entitas
mengungkapkan:

1. Fakta tersebut;
2. Alasan penggunaan untuk periode lebih panjang atau lebih pendek; dan
3. Fakta bahwa jumlah komparatif untuk laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan
laba rugi dan saldo laba, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan yang terkait
adalah tidak dapat seluruhnya diperbandingkan.
4. Penyajian yang konsisten

Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali:
1. Terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan penyajian atau
pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan
penerapan kebijakan akuntansi dalam Bab 9 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan; atau
2. SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian.
3. Informasi komparatif

Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan
lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan
keuangan). Entitas memasukkan informasi komparatif untuk informasi naratif dan deskriptif jika
relevanuntuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.

1. Materialitas dan agregasi

Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material
digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalaian dalam
mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jika, baik secara
individual maupun bersama-sama, dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur tersebut dapat menjadi faktor penentu.

1. Laporan keuangan lengkap

Laporan keuangan entitas meliputi:

1. Neraca;
2. Laporan laba rugi;
3. Laporan perubahan ekuitas
4. Laporan arus kas; dan
5. Catatan atas laporan keuangan yang berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan
informasi penjelasan lainnya.
6. Identifikasi laporan keuangan

Entitas harus mengidentifikasikan secara jelas setiap komponen laporan keuangan termasuk
catatan atas laporan keuangan. Jika laporan keuangan merupakan komponen dari laporan lain,
maka laporan keuangan harus dibedakan dari informasi lain dalam laporan tersebut. Di samping
itu, informasi berikut ini disajikan dan diulangi, bilamana perlu, pada setiap halaman laporan
keuangan:

1. Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan periode terakhir;
2. Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap
komponen laporan keuangan;
3. Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam bab 25 mata uang pelaporan;
4. Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

Entitas harus mengungkapkan hal berikut ini dalam catatan atas laporan keuangan:

1. Domisili dan bentuk hukum entitas serta alamat kantornya yang terdaftar;
2. Penjelasan sifat operasi dan aktivitas utamanya
BAB 4 Neraca

Informasi yang disajikan dalam neraca minimal mencakup pos-pos berikut:

1. kas dan setara kas;


2. piutang usaha dan piutang lainnya;
3. persediaan;
4. properti investasi;
5. aset tetap;
6. aset tidak berwujud;
7. utang usaha dan utang lainnya;
8. aset dan kewajiban pajak;
9. kewajiban diestimasi;
10. ekuitas.

Entitas menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya dalam neraca jika penyajian seperti itu
relevan dalam rangka pemahaman terhadap posisi keuangan entitas. SAK ETAP tidak
menentukan format atau urutan terhadap pos-pos yang disajikan.

BAB 5 Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu
periode kecuali SAK ETAP mensyaratkan lain. SAK ETAP mengatur perlakuan berbeda
terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan
sebagai penyesuaian terhadap periode yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi
dalam periode terjadinya perubahan (lihat Bab 9 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan).
Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos sebagai berikut:

1. Pendapatan;
2. Beban keuangan;
3. Bagian laba atau rugi dari investasi yang menggunakan metode ekuitas;
4. Beban pajak;
5. Laba atau rugi neto.

Entitas harus menyajikan pos, judul dan sub jumlah lainnya pada laporan laba rugi jika penyajian
tersebut relevan untuk memahami kinerja keuangan entitas. Entitas tidak boleh menyajikan atau
mengungkapkan pos pendapatan dan beban sebagai “pos luar biasa”, baik dalam laporan laba
rugi maupun dalam catatan atas laporan keuangan.

BAB 6 Laporan Perubahan Ekuitas Dan Laporan Laba Rugi Dan Saldo Laba

Laporan perubahan ekuitas menyajikan laba atau rugi entitas untuk suatu periode, pos
pendapatan dan beban yang diakui secara langsung dalam ekuitas untuk periode tersebut,
pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan yang diakui dalam periode
tersebut, dan (tergantung pada format laporan perubahan ekuitas yang dipilih oleh entitas)
jumlah investasi oleh, dan dividen dan distribusi lain ke, pemilik ekuitas selama periode tersebut.

Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:

1. Laba atau rugi untuk periode;


2. Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas;
3. Untuk setiap komponen ekuitas, pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi
kesalahan yang diakui sesuai bab 9 kebijakan akuntansi, estimasi, dan kesalahan;
4. Untuk setiap komponen ekuitas, suatu rekonsiliasi antara jumlah tercatat awal dan akhir
periode, diungkapkan secara terpisah perubahan yang berasal dari:
1. Laba atau rugi;
2. Pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas;
3. Jumlah investasi, dividen dan distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, yang menunjukkan
secara terpisah modal saham, transaksi saham treasuri, dan dividen serta distribusi
lainnya ke pemilik ekuitas, dan
4. Perubahan kepemilikan dalam entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan
pengendalian.

Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rugi entitas dan perubahan saldo laba
untuk suatu periode pelaporan. Paragraf 3.13 mengijinkan entitas untuk menyajikan laporan laba
rugi dan saldo laba menggantikan laporan laba rugi dan laporan perubahan ekuitas jika
perubahan pada ekuitas hanya berasal dari laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan
periode lalu, dan perubahan kebijakan akuntansi.

BAB 7 Laporan Arus Kas

Bab ini mengatur informasi yang disajikan dalam laporan arus kas dan bagaimana penyajiannya.
Laporan arus kas menyajikan informasi perubahan historis atas kas dan setara kas entitas, yang
menunjukkan secara terpisah perubahan yang terjadi selama satu periode dari aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan.

BAB 8 Catatan Atas Laporan Keuangan

Bab ini mengatur prinsip yang mendasari informasi yang disajikan dalam catatan atas laporan
keuangan dan bagaimana penyajiannya. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi sebagai
tambahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan
memberikan penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan
informasi pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan harus:

1. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi
tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 8.5 dan 8.6;
2. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan dalam sak etap tetapi tidak disajikan dalam laporan
keuangan; dan
3. Memberikan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan, tetapi relevan
untuk memahami laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis sepanjang hal tersebut praktis. Setiap
pos dalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi terkait dalam catatan atas laporan
keuangan. Secara normal urutan penyajian catatan atas laporan keuangan adalah sebagai berikut:

1. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK ETAP.
2. Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan.
3. Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan urutan penyajian setiap
komponen laporan keuangan dan urutan penyajian pos-pos tersebut.
4. Pengungkapan lain.

BAB 9 Kebijakan Dan Estimasi Akuntansi Dan Kesalahan

Bab ini memberikan panduan untuk memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi yang
digunakan dalam menyusun laporan keuangan. Bab ini juga mengatur perubahan estimasi
akuntansi dan koreksi kesalahan periode lalu.

BAB 10 Investasi Pada Efek Tertentu

Bab ini mengatur penerapan akuntansi nilai wajar untuk efek utang dan efek ekuitas baik yang
dimaksudkan oleh pemiliknya untuk diperdagangkan, efek utang yang dimaksudkan untuk
dimiliki hingga jatuh waktu maupun tidak untuk keduanya. Efek adalah surat berharga, yaitu
surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit
penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

1. Efek utang adalah efek yang menunjukkan hubungan hutang piutang antara kreditor dengan
entitas yang menerbitkan efek.
2. Efek ekuitas adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas, atau hak untuk
memperoleh (misalnya: waran, opsi beli) atau hak untuk menjual (misalnya opsi jual)
kepemilikan tersebut dengan harga yang telah atau akan ditetapkan.

Bab ini harus diterapkan untuk akuntansi dan pelaporan investasi efek ekuitas yang nilai
wajarnya tersedia dan untuk semua investasi efek utang, kecuali investasi pada entitas asosiasi,
joint venture dan entitas ana

BAB 11 Persediaan

Bab ini mengatur prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran persediaan. Persediaan adalah aset:

1. Untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;


2. Dalam proses produksi untuk kemudian dijual; atau
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
Bab ini diterapkan untuk semua jenis persediaan, kecuali:

1. Persediaan dalam proses (work in progress) dalam kontrak konstruksi termasuk kontrak jasa
yang terkait secara langsung (lihat Bab 20 Pendapatan);
2. Efek tertentu (lihat Bab 10 Investasi pada Efek Tertentu).

BAB 12 Investasi Pada Entitas Asosiasi Dan Entitas Anak

Bab ini harus diterapkan untuk investasi pada entitas asosiasi dan entitas anak. Bab ini tidak
mengatur:

1. Investasi pada joint venture;


2. Hak paten, merek dagang, dan aset yang serupa;
3. Sewa pembiayaan

BAB 13 Investasi Pada Joint Venture

Bab ini diterapkan untuk investasi pada joint venture. Joint venture adalah perjanjian kontraktual
dimana dua pihak atau lebih menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi subyek dari
pengendalian bersama. Joint venture dapat berbentuk pengendalian bersama operasi,
pengendalian bersama aset, dan pengendalian bersama entitas. Pengendalian bersama adalah
kesepakatan kontraktual berbagi pengendalian atas suatu aktivitas ekonomi, dan ada hanya jika
keputusan strategis keuangan dan operasi terkait dengan aktivitas tersebut mensyaratkan
persetujuan pihak-pihak yang berbagi pengendalian (venturer).

BAB 14 Properti Investasi

Bab ini diterapkan untuk akuntansi untuk investasi pada tanah dan bangunan yang memenuhi
definisi properti investasi dalam paragraf 14.2. Properti investasi adalah properti (tanah atau
bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau
lessee melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan sewa atau untuk kenaikan nilai atau
kedua-duanya, dan tidak untuk:

1. Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif;
atau
2. Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

BAB 15 Aset Tetap

Bab ini diterapkan untuk akuntansi atas aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang:

1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke
pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
2. Diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. Aset tidak berwujud tidak termasuk hak atas
mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber daya yang tidak dapat
diperbarui lainnya.
BAB 16 Aset Tidak Berwujud

Bab ini diterapkan untuk akuntansi untuk semua aset tidak berwujud kecuali aset tidak berwujud
yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal (lihat Bab 11 Persediaan dan Bab 20
Pendapatan) Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik. Suatu aset dapat diidentifikasikan jika:

1. Dapat dipisahkan, yaitu kemampuannya untuk menjadi terpisah atau terbagi dari entitas dan
dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan melalui suatu kontrak terkait aset atau
kewajiban secara individual atau secara bersama; atau
2. Muncul dari hak kontraktual atau hak hukumnya lainnya, terlepas apakah hak tersebut dapat
dialihkan atau dapat dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban lainnya.

Aset tidak berwujud tidak termasuk:

1. Efek (surat berharga), atau


2. Hak atas mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber daya yang tidak
dapat diperbarui lainnya

BAB 17 Sewa

Bab ini mencakup akuntansi untuk semua sewa, kecuali:

1. Sewa untuk mengekplorasi atau menggunakan mineral, minyak bumi, gas alam dan sumber
daya yang tidak dapat diperbaharui lainnya;
2. Perjanjian lisensi seperti film, rekaman video, karya panggung, manuskrip (karya tulis), hak
paten, dan hak cipta (lihat Bab 16 Aset Tidak Berwujud);

BAB 18 Kewajiban Diestimasi Dan Kontinjensi

Bab ini diterapkan untuk semua kewajiban diestimasi (kewajiban yang waktu atau jumlahnya
belum pasti), kewajiban kontijensi dan aset kontijensi, kecuali kewajiban estimasi yang diatur
dalam Bab lain, yaitu:

1. Sewa (Bab 17 Sewa);


2. Kontrak konstruksi (Bab 20 Pendapatan);
3. Kewajiban imbalan kerja (Bab 23 Imbalan Kerja);
4. Kewajiban pajak penghasilan (Bab 24 Pajak Penghasilan).

Persyaratan dalam Bab ini tidak berlaku untuk kontrak eksekutori kecuali kontrak tersebut
merupakan kontrak memberatkan. Kontrak eksekutori adalah kontrak dalam hal tidak ada satu
pihak telah melakukan kewajibannya atau kedua pihak secara sebagian telah melakukan
kewajibannya secara seimbang. Istilah “penyisihan” seringkali digunakan dalam konteks seperti
penyusutan, penurunan nilai aset, dan tagihan tidak tertagih. Hal tersebut merupakan
penyesuaian atas nilai tercatat aset, bukan pengakuan kewajiban, sehingga tidak diatur dalam
Bab ini.
BAB 19 Ekuitas

Bab ini mengatur akuntansi ekuitas untuk:

1. Entitas Perorangan;
2. Persekutuan Perdata;
3. Firma;
4. Commanditaire Vennootschap (CV);
5. Perseroan Terbatas;
6. Koperasi.

Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam entitas harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga
memberikan informasi mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan
perundangan dan akta pendirian yang berlaku.

BAB 20 Pendapatan

Bab ini diterapkan dalam akuntansi untuk pendapatan yang muncul sebagai akibat dari transaksi
atau kejadian berikut:

1. Penjualan barang (baik diproduksi oleh entitas untuk tujuan produksi atau dibeli untuk dijual
kembali);
2. Pemberian jasa;
3. Kontrak konstruksi;
4. Penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti atau dividen.

Pendapatan atau penghasilan lain yang muncul dari beberapa transaksi dan kejadian lain berikut
ini diatur dalam Bab lain:

1. Perjanjian sewa (lihat Bab 17 Sewa);


2. Dividen yang timbul dari investasi yang dihitung dengan menggunakan metode ekuitas (lihat
Bab 12 Investasi pada Entitas Asosiasi dan Entitas Anak);
3. Perubahan nilai wajar investasi pada efek tertentu, atau pelepasannya (lihat Bab 10 Investasi
Pada Efek Tertentu).

BAB 21 Biaya Pinjaman

Bab ini mengatur akuntansi untuk biaya pinjaman. Biaya pinjaman adalah bunga dan biaya
lainnya yang timbul dari kewajiban keuangan suatu entitas. Biaya pinjaman mencakup:

1. Bunga untuk cerukan bank dan pinjaman jangka pendek dan jangka panjang;
2. Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman;
3. Amortisasi biaya tambahan yang timbul sehubungan dengan proses perjanjian peminjaman;
4. Beban pembiayaan sesuai dengan sewa pembiayaan yang diakui sesuai dengan bab 17 sewa;
5. Perbedaan nilai tukar yang timbul dari pinjaman dalam mata uang asing dimana perbedaan ini
dianggap sebagai penyesuaian terhadap biaya bunga.
BAB 22 Penurunan Nilai Aset

Kerugian penurunan nilai terjadi ketika nilai tercatat aset melebihi jumlah yang dapat diperoleh
kembali. Bab ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk penurunan nilai semua aset, kecuali
aset yang muncul dari imbalan kerja (lihat Bab 23 Imbalan Kerja).

BAB 23 Imbalan Kerja

Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan oleh entitas sebagai pertukaran atas
jasa yang diberikan oleh pekerja, termasuk direktur dan manajemen. Bab ini diterapkan untuk
empat jenis imbalan kerja:

1. Imbalan kerja jangka pendek adalah imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kerja) yang jatuh
tempo seluruhnya dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pekerja memberikan jasanya.
2. Imbalan pascakerja adalah imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kerja) yang terutang
setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya.
3. Imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah imbalan kerja (selain imbalan pascakerja dan
pesangon pemutusan kerja) yang tidak seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah
pekerja memberikan jasanya; dan
4. Pesangon pemutusan kerja adalah imbalan kerja yang terutang akibat:
1. Keputusan entitas untuk memberhentikan pekerja sebelum usia pensiun normal, atau
2. Keputusan pekerja menerima tawaran untuk mengundurkan diri secara sukarela dengan
imbalan tertentu.

BAB 24 Pajak Penghasilan

Bab ini mengatur akuntansi untuk pajak penghasilan. Untuk tujuan ini, pajak penghasilan
termasuk seluruh pajak domestik dan luar negeri sebagai dasar penghasilan kena pajak. Pajak
penghasilan juga termasuk pajak, misalnya pemungutan dan pemotongan pajak, yang terutang
oleh entitas anak, entitas asosiasi atau joint venture atas distribusi ke entitas pelaporan.

BAB 25 Mata Uang Pelaporan

Bab ini diterapkan untuk semua entitas yang akan atau telah menggunakan mata uang selain
rupiah sebagai mata uang pelaporan. Mata uang fungsional adalah mata uang utama dalam arti
substansi ekonomi, yaitu mata uang utama yang dicerminkan dalam kegiatan operasi entitas.
Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.
Mata uang pencatatan adalah mata uang yang digunakan oleh entitas untuk membukukan
transaksi.

BAB 26 Transaksi Dalam Mata Uang Asing

Bab ini diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing. Transaksi mata uang
asing adalah transaksi yang didenominasi atau harus diselesaikan dalam mata uang asing, yang
meliputi transaksi yang timbul ketika entitas:

1. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam mata uang asing;
2. Meminjam atau meminjamkan dana atas sejumlah utang atau piutang yang didenominasi dalam
mata uang asing;
3. Memperoleh atau melepas aset, atau terjadinya atau menyelesaikan kewajiban, yang
didenominasi dalam mata uang asing.

BAB 27 Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan

Bab ini mendefinisikan peristiwa setelah akhir tanggal pelaporan dan menentukan prinsip-prinsip
pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan peristiwa tersebut.Peristiwa setelah akhir periode
pelaporan adalah peristiwa-peristiwa, baik menguntungkan maupun tidak menguntungkan, yang
terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan.
Ada dua jenis peristiwa setelah akhir periode pelaporan, yaitu:

1. Peristiwa yang memberikan bukti atas suatu kondisi yang telah terjadi pada akhir periode
pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang memerlukan penyesuaian).
2. Peristiwa yang mengindikasikan timbulnya suatu kondisi setelah akhir periode pelaporan
(peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian).

BAB 28 Pengungkapan Pihak-Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa

Bab ini mensyaratkan entitas untuk memberikan pengungkapan yang diperlukan dalam laporan
keuangannya untuk memberi perhatian pada kemungkinan posisi keuangan dan laba atau rugi
entitas telah terpengaruh oleh adanya pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa serta
transaksi dan saldo dengan pihak-pihak tersebut. Dalam mempertimbangkan setiap kemungkinan
hubungan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, entitas harus menilai dari substansi
hubungan dan bukan semata-mata dari bentuk hukum.

Dalam konteks SAK ETAP, pihak-pihak berikut tidak dianggap sebagai pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa:

1. Dua entitas yang memiliki satu direktur atau anggota personel manajemen kunci secara umum,
tetapi tidak memenuhi ketentuan (d) dan (f) dalam definisi “pihak yang mempunyai hubungan
istimewa” (lihat daftar istilah).
2. Dua venturer karena mereka berbagi pengendalian bersama atas joint venture.
3. Pihak-pihak berikut dalam pelaksanaan urusan normal dengan entitas (meskipun pihak-pihak
tersebut dapat memengaruhi kebebasan entitas atau ikut serta dalam proses pengambilan
keputusan):
1. Penyandang dana;
2. Serikat dagang;
3. Entitas pelayanan umum; dan
4. Departemen dan instansi pemerintah.
5. Pelanggan, pemasok, pemilik hak waralaba (franchisor), distributor atau agen umum
yang mana entitas mengadakan transaksi usaha dengan volume signifikan, semata-mata
berdasar atas akibat ketergantungan ekonomi.

BAB 29 Ketentuan Transisi


Entitas menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka entitas
diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. Entitas yang menerapkan secara
prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan keuangan maka:

1. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam SAK ETAP;
2. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak mengijinkan
pengakuan tersebut;
3. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau komponen
ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban,
atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP;
4. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.

Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya berdasarkan SAK
ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama dengan menggunakan
kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi,
kejadian atau kondisi lainnyasebelum tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada
saldo laba pada tanggal penerapan SAK ETAP.

Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan
SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi berdasarkan
PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak diperkenankan
untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan berikutnya.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi
persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Entitas tersebut
wajib menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non- ETAP dan tidak diperkenankan
untuk menerapkan SAK ETAP ini kembali sesuai dengan paragraf 29.4 di atas.

Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan


keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK
ETAP, maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETA ini dalam menyusun laporan
keuangan. Entitas tersebut menerapkan persyaratan dalam paragraf 29.1 – 29.3.

BAB 30 Tanggal Efektif

SAK ETAP diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1
Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan. Jika SAK ETAP diterapkan dini, maka entitas
harus menerapkan SAK ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau
setelah 1 Januari 2010.

https://tsetyaernawati.wordpress.com/2012/04/05/rangkuman-isi-sak-etap/

SAK ETAP (IFRS for SME)


SAK ETAP: Standar akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. ETAP
adalah entitas yang: (1) tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan (2) menerbitkan
laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna
eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam
pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. SAK ETAP menggunakan acuan
IFRS for Small Medium Enterprises (SME) yang lebih sederhana antara lain:
(1) Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
(2) Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.
(3) Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
(4) Laporan keuangan sesuai SAK ETPA menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja,
dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.

Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah dapat menyusun
laporan keuangannya sendiri dan dapat diausit untuk mendapatkan opini audit. Informasi
keuangan yang sederhana tetapi memberikan informasi yang andal. SAK ETAP disusun dengan
mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.

Entitas signifikan
Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:
(1) Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan
pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar
modal; atau
(2) Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat,
seperti bank, entitas asuransi, pialang adan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan
bank investasi.
(3) Harus menggunakan PSAK – IFRS based
(4) Namun, dapat menggunakan SAK ETAP jika ada regulasi yang mengijinkan penggunaan SAK
ETAP.

Mengapa SAK ETAP Harus Diterapkan?


PSAK – IFRS based sulit diterapkan bagi perusahaan menengah kecil mengingat penentuan fair
value memerlukan biaya yang tidak murah. PSAK – IFRS rumit dalam implementasinya seperti
kasus PSAK 50 dan PSAK 55 meskipun sudah disahkan tahun 2006 namun implementasinya
tertunda bahkan 2010 sudah keluar PSAK 50 (revisi). PSAK – IFRS menggunakan principle
based sehingga membutuhkan banyak professional judgement. PSAK – IFRS perlu dokumentasi
dan IT yang kuat . SAK ETAP sebagai solusi utk SME (ETAP).
SAK ETAP diterbitkan tahun 2009 berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan lebih
awal yaitu 1 Januari 2010. Diterapkan secara retrospektif, jika tidak praktis diperkenankan
prospektif. Diberlakukan Prospektif dengan cara:
(1) Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP.
(2) Tidak mengakui aset dan kewajiban jika tidak diijinkan oleh SAK ETAP.
(3) Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai
SAK ETAP.
(4) Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yang diakui sesuai SAK ETAP.
(5) ETAP dapat memilih tetap menggunakan PSAK – IFRS atau menggunakan SAK ETAP.
(6) Seluruh entitas sampai dengan 31 Desember 2009 menggunakan satu PSAK yaitu PSAK yang
berlaku per 31 Desember 2009.
(7) ETAP yang tetap memilih menggunakan PSAK – IFRS tidak boleh dikemudian hari berubah
menggunakan SAK ETAP.
(8) Entitas dengan akuntabilitas publik yang kemudian telah memenuhi persyaratan sebagai ETAP
dapat menggunakan SAK ETAP.
(9) ETAP yang kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka harus menggunakan PSAK – IFRS
dan tidak boleh lagi menggunakan SAK ETAP.

Konsep dan Prinsip Pervasif SAK ETAP


1. Tujuan laporan keuangan,
2. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuanga (dapat dipahami, relevan, materialitas,
keandalan, substansi mengungguli bentuk, pertimbangan sehat, kelengkapan, dapat
dibandingkan, tepat waktu, dan keseimbangan antara biaya dan manfaat).
3. Posisi keuangan: asset, kewajiban, ekuitas,
4. Kinerja keuangan: pendapatan dan beban,
5. Pengakuan dan pengukuan unsur-unsur laporan keuangan,
6. Dasar akrual,
7. Saling hapus tidak diperkenankan.

Prinsip Pengakuan
Aset diakui sebagai manfaat ekonomi dikemudian hari yang mengalir ke entitas dan nilainya
dapat diukur secara andal. Kewajiban diakui jika entitas menstransfer sumberdaya dikemudian
hari akibat peristiwa masa alu dan nilainya dapat diukur dengan andal. Pengakuan penghasilan
dan beban sebagai akibat langsung pengakuan asset dan kewajiban. Kebijakan akuntansi adalah
prinsip, dasar, konvensi, aturan, dan praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas dalam
menyusun dan menyajikan laporan keuangannya.

Perbedaan Pokok SAK ETAP dengan SAK IFRS


1. PSAK ETAP tidak menggatur pajak tangguhan,
2. PSAK ETAP hanya menggunkan metoda tidak langusng untuk laporan arus kas,
3. PSAK ETAP menggunakan model biaya untuk investasi asosiasi dan menggunakan metoda
ekuitas untuk anak perusahaan,
4. PSAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55,
5. PSAK ETAP hanya menggunakan model biaya untuk asset tetap, asset tidak berwujud, dan
property investasi dan tidak boleh menggunakan model revaluasi.

SAK ETAP adalah bentuk mini dari SAK IFRS dengan (1) terdapat pengurangan opsi dan
pengungkapan; (2) tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang berbeda; (3) targetnya adalah
perusahaan menengah ke atas, termasuk anak dari perusahaan terbuka. IFRS for SMEs,
merupakan bentuk mini dari Full IFRS.
Pada SAK ETAP terdapat pengurangan opsi dan pengungkapan. Tidak terdapat pengakuan dan
pengukuran yang berbeda dengan Full IFRS, kecuali borrowing cost dibebankan langsung dan
tidak dikapitalisasi, dan terdapat pengaturan mengenai ekuitas. Target dari IFRS for SMEs
adalah perusahaan menengah ke atas, termasuk entitas anak dari perusahaan terbuka.

Rangkuman Perbedaan SAK ETAP dengan SAK Besar (IFRS)


1. SAK ETAP sebagian besar sama dengan SAK 2004.
Semangat sama dan disclosure. Untuk entitas yanfg tidak berakuntabilitas public (tidak listing.)
Untuk tujuan umum pelaporan keuangan bagi pengguna eksternal.
2. Konsep dan Prinsip Pervasif
Conceptual framework sama. Biaya historis dan nilai wajar (LOCOM). Konsep dasar
penyusunan dan pelaporan keuangan terdiri dari (1) Tujuan Laporan Keuangan; (2) Karakteristik
kualitatif Laporan Keuangan; (3) Unsur-Unsur Laporan Keuangan; dan (4) Konsep Pengakuan
dan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan. Pengukuran unsur Laporan Keuangan dengan
biaya historis dan nilai wajar. Konsep dasar: (1) penyajian yang wajar; (2) kepatuhan terhadap
SAK ETAP; (3) Kelangsungan Usaha; (4) frekuensi pelaporan; (5) konsistensi penyajian; (6)
informasi komparatif; (7) materialitas dan agregasi; (8) laporan keuangan lengkap.
3. Penyajian Laporan Keuangan
Penyajian sama dengan PSAK 2004, kecuali tidak ada lagi: (1) asset keuangan; (2) property
investasi yang diukur dengan nilai wajar; (3) asset bilogik yang diukur dengan biaya perolehan
dan nilai wajar; (4) kewajiban berbunga jangka panjang; (5) asset dan kewajiban pajak
tangguhan; (6) kepentingan non pengendalian.
4. Informasi di Laporan Laba Rugi tidak ada lagi item extra ordinary.
5. Ada beberapa penyesuaian seperti dihapusnya PSAK 27 tentang Koperasi.
6. Laporan Arus Kas hanya menggunakan metoda tidak langsung saja dan seluruh transaksi kas
atau tunai harus dilaporkan.
7. Laporan Perubahan Ekuitas sama dengan PSAK kecuali yang terkait pendapatan komprehensif
lain. Laporan Perubahan Ekuitas tidak harus ada bila tidak ada perubahan ekuitas dari tahun
lalu.
8. Catatan atas Laporan Keuangan yang berisi kebijakan akuntansi, estimasi dan kesalahan, serta
bila ada perubahan metoda alasan dan dampak perubahan pada Laporan Keuangan sebelumnya
harus dijelaskan.
9. Laporan Keuangan Konsolidasi dengan menggunakan metoda ekuitas.
10. Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan (dibandingkan dengan SAK 2004):
a) Instrumen Keuangan Dasar: investasi pada efek tertentu.
b) Investasi pada Perusahaan Asosiasi dan Entitas Anak: Entitas Asosiasi dengan metoda biaya dan
Entitas Anak dengan metoda ekuitas.
c) Investasi pada Joint Venture: sama dengan PSAK tetapi hanya metoda biaya yang
dipergunakan.
d) Properti investasi: metoda akuntansi menggunakan model biaya.
e) Persediaan: Penilaian dengan Lifo dan Average dan pencatatan dengan perpetual dan periodic.
f) Aset Tetap: total harga perolehan.
g) Imbalan kerja: metoda iuran pasti dan imbalan pasti.
h) Aset Tidak Berwujud: sama dengan PSAK 2004, kecuali akibat penggabungan usaha. Goodwill
tidak diatur.
i) Sewa (leasing): tidak diatur, masih penggunakan PSAK 30 (1990).
j) Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi: sama dengan PSAK (ETAP Bab 18).
k) Ekuitas: sama dengan PSAK Kecuali untuk Reorganisasi dan Selisih Penilaian Kembali.
l) Pendapatan: sama dengan PSAK.
m) Biaya Pinjaman: langsung dibebankan.
n) Penurunan Nilai Aset: sama dengan PSAK, penurunan goodwill tidak diatur, dan penurunan
nilai piutang dengan PSAK 31.
o) Imbalan Kerja: sama dengan PSAK kecuali untuk manfaat pasti kecuali untuk metoda Projected
Unit Credit. Iuran Pasti: perusahaan membayar program pension untuk karyawannya sehingga
tidak perlu di present value kan. Imbalan Pasti: perusahaan mengelolah sendiri dana pension
karyawannya, harus ada staf aktuaria.
p) Pajak Penghasilan: menggunakan Tax Paybale Concept dan tidak ada pengakuan dan
pengukuran untuk pajak tangguhan.
q) Mata Uang Pelaporan: sama dengan PSAK. Mata uang fungsional, harus ada pelaporan bila
menggunakan mata uang asing.
r) Peristiwa Setelah Akhir Periode: sama dengan PSAK.
s) Pengungkapan Pihak-Pihak Memunyai Hubungan Istimewa: Sama dengan PSAK7.
t) Aktivitas Khusus: Tidak diatur.
u) PSAK lainnya: tidak diatur.
v) Ketentuan Transisi: Retropespektif dan prospektif yang diterapkan secara prospective catch-up
(dampak ke saldo laba).
w) Tanggal Efektif: Berlaku efektif untuk Laporan Keuangan yang dimulai tanggal 1 Januari 2011,
penerapan dini 1 Januari 2010.

Rerangka Konseptual
KDPPLK SAK ETAP

Tujuan laporan keuangan Sama


Karakteristik kualitatif laporan keuangan Sama
Unsur-unsur laporan keuangan Sama
Konsep pengakuan Sama
Konsep pengukuran: Konsep pengukuran:
• biaya historis • biaya historis
• biaya kini • nilai wajar
• nilai realisasi bersih
• nilai sekarang
Konsep pemeliharaan modal Tidak ada

Penyajian Laporan Keuangan


SAK IFRS SAK ETAP
• Kepatuhan terhadap SAK • Kepatuhan terhadap SAK ETAP
• Pengungkapan atas PSAK “misleading”
Komponen laporan keuangan: Komponen laporan keuangan:
• Lap posisi keuangan/neraca • Neraca
• Lap laba rugi komprehensif • Lap laba rugi
• Lap perubahan ekuitas • Lap perubahan ekuitas
• Lap arus kas • Lap arus kas
• Catatan atas laporan keuangan • Catatan atas laporan keuangan
Tanggung jawab atas laporan keuangan Tidak ada
Dasar akrual & kelangsungan usaha Sama
Neraca Neraca
• Pos minimal yang disajikan • Pos minimal yang disajikan lebih sedikit
• Klasifikasi aset dan liabilitas • Sama
• Pengungkapan • Pengungkapan lebih sederhana
Laporan laba rugi komprehensif Laporan laba rugi
• Laba rugi dan pendapatan kompresensif lain • Laba rugi
• Pos minimal • Pos minimal lebih sedikit
Laporan perubahan ekuitas Laporan perubahan ekuitas
• Pos minimal • Pos minimal lebih sedikit
• •
Pengungkapan distribusi dividen dan dividen per Tidak ada
saham • Laporan perubahan ekuitas dan saldo laba dapat
• Tidak diperkenankan menggantikan lap laba rugi dan laporan perubahan
ekuitas
Laporan arus kas Laporan arus kas
• Arus kas operasi disajikan dengan metoda • Arus kas operasi disajikan dengan metoda tidak
langsung atau tidak langsung langsung
• Arus kas valas, bunga & dividen, pajak • Arus kas bunga & dividen, pajak penghasilan, dan
penghasilan, investasi pada entitas anak, ventura transaksi nonkas
bersama & entitas asosiasi, perubahan • Tidak ada
kepemilikan, dan transaksi nonkas
• Kas yang dibatasi
Catatan atas laporan keuangan Catatan atas laporan keuangan
• Kebijakan akuntansi • Kebijakan akuntansi
• Sumber estimasi ketidakpastian • Sumber estimasi ketidakpastian
• Modal
• Dividen dan informasi umum entitas

Laporan Keuangan Konsolidasian


SAK IFRS SAK ETAP

Laporan keuangan konsolidasian Tidak menyusun laporan


keuangan konsolidasian
Laporan keuangan tersendiri (lampiran dari
laporan keuangan konsolidasian)

Konsolidasi entitas bertujuan khusus


Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan
SAK IFRS SAK ETAP

Kebijakan akuntansi Kebijakan akuntansi


• Pemilihan kebijakan akuntansi • Pemilihan kebijakan akuntansi
• PSAK serupa • Bagian SAK serupa
• Conceptual framework • Conceptual framework
• Other pronouncements, literatur dan praktik • SAK umum
• Dampak penerapan PSAK yang akan berlaku • Other pronouncements, literatur dan praktik
• Tidak ada
Estimasi akuntansi Sama
Kesalahan Sama

Instrumen Keuangan
SAK IFRS SAK ETAP
Instrumen keuangan Efek yang diperdagangkan (marketable
securities)
• Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi• Diperdagangkan
• Tersedia untuk dijual • Tersedia untuk dijual
• Dimiliki hingga jatuh tempo • Dimiliki hingga jatuh tempo
• Pinjaman yang diberikan dan piutang

Maksud dan kemampuan Maksud

Persediaan
SAK IFRS SAK ETAP
Biaya perolehan atau nilai realisasi neto (mana Sama
lebih rendah)
FIFO dan rata-rata tertimbang Sama
Persediaan pialang-pedagang komoditi Tidak ada
menggunakan fair value
Persediaan pemberi jasa Sama
Investasi Pada Entitas Asosiasi
SAK IFRS SAK ETAP
Pengaruh signifikan Pengaruh signifikan
• Faktor kuantitatif dan kualitatif • Faktor kuantitatif
• Hak suara potensial • Tidak ada
Metode ekuitas Metoda biaya
Investasi pada entitas asosiasi yang tersedia Tidak ada
untuk dijual

Investasi Pada Joint Venture


SAK IFRS SAK ETAP
Pengendalian bersama operasi Pengendalian bersama operasi
Pengendalian bersama aset Pengendalian bersama aset
Pengendalian bersama entitas Pengendalian bersama entitas
• Metode ekuitas atau proporsional konsolidasi • Metoda biaya

Investasi Pada Entitas Anak


SAK IFRS SAK ETAP
Pengendalian, termasuk entitas bertujuan khusus Pengendalian, tidak mengatur entitas bertujuan
khusus
Metode ekuitas dan harus dikonsolidasikan Metoda ekuitas dan tidak dikonsolidasikan
Transaksi pelepasan kepemilikan tetapi tidak Tidak ada
menyebabkan hilangnya pengendalian (transaksi
ekuitas)
Properti Investasi dan Aset Tetap
SAK IFRS SAK ETAP
Properti investasi Properti investasi
• Model biaya • Model biaya
• Model nilai wajar
Aset tetap Aset tetap
• Model biaya • Model biaya (revaluasi harus ada izin pemerintah)
• Model revaluasi

Aset Tidak Berwujud


SAK IFRS SAK ETAP

Berasal dari internal dan eksternal Berasal dari eksternal


Umur manfaat terbatas dan tidak terbatas Umur manfaat terbatas
Goodwill Tidak ada
Model biaya dan model revaluasi Model biaya

Sewa
SAK IFRS SAK ETAP

Perjanjian sewa dan perjanjian mengandung sewa Perjanjian sewa


Klasifikasi sewa: indikator dan situasi yang Klasifikasi sewa: indikator yang tidak perlu
memerlukan judgment judgment (pengalihan aset, opsi beli, min 75%
umur ekonomis, min 90% nilai wajar, dan aset
bersifat khusus)
Jual dan sewa-balik (sale and leaseback) Tidak ada
Sewa dan sewa lanjut (lease and sublease) Tidak ada
Kewajiban Diestimasi (Provisi), Kontijensi, Ekuitas, dan Pendapatan
SAK IFRS SAK ETAP
Kewajiban diestimasi (provisi), aset kontinjensi, Sama
dan kewajiban kontinjensi
Ekuitas Sama
Pendapatan penjualan barang dan jasa Sama

Biaya Pinjaman dan Penurunan Nilai


SAK IFRS SAK ETAP
Biaya pinjaman dikapitalisasi Biaya pinjaman dibebankan
Penurunan nilai Penurunan nilai
• Instrumen keuangan: incurred loss • Pinjaman yang diberikan dan piutang: expected
• Goodwill dan aset tidak berwujud dengan umur loss (aging schedule)
manfaat tidak terbatas • Tidak ada
• Unit penghasil kas • Tidak ada

Imbalan Kerja
SAK IFRS SAK ETAP
Imbalan kerja jangka pendek Imbalan kerja jangka pendek
Imbalan pasca kerja Imbalan pasca kerja, perhitungan lebih sederhana
Imbalan kerja jangka panjang lainnya Imbalan kerja jangka panjang lainnya
Pesangon pemutusan kerja Pesangon pemutusan kerja
Imbalan berbasis saham Tidak ada

Mata Uang Pelaporan dan Transaksi Valan


SAK IFRS SAK ETAP

Mata uang pelaporan: rupiah atau mata uang Mata uang pelaporan: rupiah atau mata uang asing
asing
Transaksi valas: kurs tanggal transaksi Transaksi valas: kurs rata-rata bulanan
(mingguan)
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN untuk ENTITAS TANPA
AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP)

SAK IFRS Versus SAK ETAP


SAK IFRS merupakan hasil konvergensi dari IFRS sedangkan SAK ETAP merupakan adopsi
dari IFRS for SME. SAK ETAP dipergunakan untuk perusahaan yang belum go public, bukan
fidusia (bank, asuransi, dana pensiuan dan lain sebagainya), dikecualikan oleh otoritas yang
berwenang seperti Bank Indonesia mengharuskan BPR menggunakan SAK ETAP dan bukannya
SAK IFRS.
SAK ETAP disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai kondisi di
Indonesia dan dibuat lebih ringkas. SAK ETAP masih memerlukan professional judgement
namun tidak sebanyak untuk PSAK – IFRS. Dalam beberapa hal tidak ada perubahan signifikan
dibandingkan dengan PSAK lama contoh PSAK 16 (1994). Namun ada beberapa hal yang
dimodifikasi dari IFRS/IAS. PSAK yang disederhanakan: (1) Pilihan pada alternatif standar
yang lebih sederhana; (2) penyederhaaan pengakuan dan pengukuran; (3) mengurangi
pengungkapan; (4) penyederhanaan; dan (5) standar yang berdiri sendiri secara keseluruhan
(stand alone).

Ruang Lingkup SAK ETAP


Digunakan untuk entitas tanpa akuntabilitas public yaitu:
(1) entitas yang tidak memiliki akuntabilitas public,
(2) menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement)
bagi pengguna eksternal,
(3) entitas dengan akuntabilitas publilk signifikan boleh menggunakan SAK ETAP jika diijinkan
oleh otoritas berwenang. SE No.11/37/DKBU Bank Indonesia tanggal 31 Desember 2009 yang
menetapkan standar akuntansi keuangan untuk BPR adalah SAK ETAP dan SE No.
12/14/DKBU Bank Indonesia tanggal 1 juni 2010 yang menetapkan penggunaan Pedoman
Akuntansi Bank Perkreditas Rakyat (PA – BPR) yang diberlakukan sejak 1 Januari 2010.
IFRS for SMEs, merupakan bentuk mini dari Full IFRS: (1) yerdapat pengurangan opsi dan
pengungkapan; (2) tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang berbeda dengan Full IFRS,
kecuali “borrowing cost” dibebankan langsung dan tidak dikapitalisasi, dan terdapat pengaturan
mengenai “ekuitas”
Target dari IFRS for SMEs adalah perusahaan menengah ke bawah. SAK ETAP, dimaksudkan
untuk digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP), yaitu entitas yang (2) tidak
memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan (2) menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan
umum bagi pengguna eksternal
Entitas dengan akuntabilitas publik signifikan adalah:
(1) Telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau sedang dalam proses pengajuan pernyataan
pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar
modal; atau
(2) Menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti
bank, entitas asuransi,pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank
investasi.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika
otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Contoh: Bank
Perkreditan Rakyat
Entitas berakuntabillitas public adalah:
(1) Perusahaan kecil yang memiliki saham di pasar modal.
(2) Perusahaan manufaktur besar (bukan emiten).
(3) Bank umum besar (bukan emiten).
(4) Entitas yang bisnis satu-satunya adalah pendapatan bunga atas uang yang dipinjamkan kepada
nasabah. Entitas ini memperoleh semua dana dari seorang pemilik yang milyuner.
(5) Laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pengguna laporan keuangan, misalnya: pemegang saham, kreditor, pekerja, dan masyarakat
dalam arti luas.
Laporan keuangan yang dipersiapkan sesuai dengan SAK ETAP untuk menyediakan informasi
mengenai posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas yang berguna untuk pengguna luas yang
tidak dalam posisi meminta laporan untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu, misalnya
diberikan kepada: Bank, Pemilik, dan Penyandang dana

Isi SAK ETAP


Terdiri dari 30 Bab & Daftar Istilah
1. Bab 1 – Ruang lingkup
2. Bab 2 – Konsep dan prinsip pervasif
3. Bab 3 – Pernyajian laporan keuangan
4. Bab 4 – Neraca
5. Bab 5 – Laporan laba rugi
6. Bab 6 – Laporan perubahan ekuitas dan laporan laba rugi dan ...
7. Bab 7 – Laporan arus kas
8. .......
9. Bab 29 – Ketentuan Transisi
10. Bab 30 – Tanggal Efektif
11. Daftar Istilah
Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
1. Tujuan penyajian Laporan Keuangan.
2. Karakteristik kualitatif informasi.
3. Definisi asset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban.
4. Persyaratan pengakuan unsur-unsur laporan keuangan.
5. Dasar pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasive).
6. Dasar Akrual.
7. Saling hapus.

Prinsip Pengakuan
1. Aset diakui jika manfaat ekonomi dikemudian hari besar kemungkinan akan mengalir kepada
entitas dan nilainya dapat diukur secara andal.
2. Kewajiban diakui jika besar kemungkinan entitas harus mentransfer sumber daya dikemudian
hari akibat peristiwa masa lalu dan nilainya dapat diukur dengan andal.
3. Pengakuan penghasilan dan beban sebagai akibat langsung pengakuan aset dan kewajban

Konsep Dasar Penyusunan Penyajian Laporan Keuangan


1. Tujuan penyajian laporan keuangan
Menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat
bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak
dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi
tertentu.
2. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan,
a. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk
segera dapat dipahami oleh pengguna.
b. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses
pengambilan keputusan.
c. Materialitas
Inforjmasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam
mencatat informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas
dasar laporan keuangan.
d. Keandalan
Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal. Informasi
memeiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian yang secara
jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajaikan.
e. Substansi Mengungguli Bentuk
Transaksi, peristiwa, dan kondisi lain dicata dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas
ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Hal ini untuk meningkatkan keandalan laporan
keuangan.
f. Pertimbangan sehat
Ketidak pastian yang tidak dapat diabaikan meliputi berbagai peristiwa dan keadaan yang
dipahami berdasarkan pengungkapan sifat dan penjelasan peristiwa dan keadaan tersebut dan
melalui penggunaan pertimbangan sehat dalam menyusun laporan keuangan.
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan pertimbangan yang
diperlukan dalam kondisi ketidak pastian, sehingga asset atau penghasilan tidak disajikan lebih
tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan lebih rendah. Namun demikian, penggunaan
pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan asset atau penghasilan yang lebih
rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi.
g. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan biaya. Kesengajaan atau tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi
menjadi tidak benar atau menyesatkan dank arena itu tidak dapat diandalkan dan kurang
mencukupi ditinjau dari segi relevansinya.
h. Dapat Dibandingkan
Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar perioda untuk
mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerka keuangan. Pengguna juga harus dapat
membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja,
serta perubahan keuangan secara relative.
i. Tepat Waktu
Agar relevan, informasi dalam laporan keuangan harus dapat memengaruhi keputusan ekonomi
para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan dalam jangka
waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan
maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.
j. Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat
Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediaannya. Namum demikian, evaluasi biaya
dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga tidak perlu
ditanggung oleh pengguna yang menikmati manfaat informasi laporan keuangan. Dalam
evaluasi manfaat dan biaya, entitas harus memahami bahwa manfaat informasi mungkin juga
manfaat yang dinikmati oleh pengguna eksternal.

3. Definisi asset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban.


a. Aset
Aset adalah sumberdaya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari persitiwa masa lalu dan dari
mana manfaat ekonomi di masa depan dihatapkan akan diperoleh oleh entitas. Dalam
menentukan esistensi asset, hak milik tidak esensial. Misalnya, property yang diperoleh melalui
sewa adalah aset jika entitas mengendallikan manfaat yang diharapkan mengalir dari property
tersebut.
Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonomi di masa depan akan mengalir ke
entitas dan asset tersebut memunyai nilai atau biayayang dapat diukur dengan andal. Aset tidak
diakui dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandanga tidak
mungkin mengalir ke dalam entitas setelah perioda pelaporan berjalan. Sebagai alternative,
transaksi tersebut menimbulkan beban dalam laporan laba rugi.
b. Kewajiban
Kewajiban merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus kas keluar dari sumberdaya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi.
Karakteristik esensial dari kewajiban (liability) adalah bahwa memunyai kewajiban (obligation)
masa kini untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban
dapat berupa kewajiban hokum dan kewajiban konstruktif. Kewajiban dapat dipaksakan
menurut hokum sebagai kosekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundangan.
Kewajiban konstruktif adalah kewajiban yang timbul dari tindakan entitas ketika: (1) oleh
praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasikan atau pernyataan kini yang cukup
spesifik, entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas dakan menerima
tanggung jawab terentu, dan (2) akibat entitas telah menimbulkan ekspekstasi kuat dan sah
kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan tanggung jawab tersebut.
Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan pembayaran kas, penyerahan asset lain,
pemberian jasa, penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain, atau konversi kewajiban
menjadi ekuitas. Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur
membebaskan atau membatalkan haknya.
Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumberdaya mengandung
manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban masa kini dan jumlah yang
harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
c. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas setelah dikurangi kewajiban. Ekutitas
disubklasifikasikan dalam neraca. Misalnya, entitas yang berbentuk perseroan terbatas
subklasifikasi dapat meliputi dana yang dikontribusikan oleh pemegang saham, saldo laba, dan
keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas.
d. Penghasilan
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama perioda pelaporan dalam bentuk
arus masuk atau peningkatan asset, atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan ekuitas yang
tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenues) dan keuntungan (gains). Pendapatan
adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal
dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, imbalan bunga, dividen, royalty, dan sewa.
Keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghasilan namun bukan
pendapatan. Ketika keuntungan diakui dalam laporan laba rugi, biasanya disajikan secara
terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut berguna untuk tujuan pengambilan
keputusan ekonomi.
Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan asset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang
berkaitan dengan peningkatan asset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
secara andal.
e. Beban
Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu perioda pelaporan dalam
bentuk arus keluar atau penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan ekuitas
yang tidak terkait dengan distrbusi kepada penanaman modal.
Mencakup kerugian dan beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa.
Beban timkbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa meliputi beban pokok penjualan,
upah, dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar datau berkurangnya asset
seperti kas dan setara kas, persediaan dan asset tetap.
Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin atau mungkin
tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa. Ketika kerugian diakui dalam
laporan laba rugi biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut
berguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi.
Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan asset dan kewajiban. Beban diakui
dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan
penurunan asset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
f. Laba auatu rugi
Laba atau rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Hal tersebut bukan
merupakan suatu unsur terpisah dari laporan keuangan dan prinsip pengakuan yang terpisah tidak
diperlukan. SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan pos-pos dalam neraca yang tidak
memenuhi definisi asset atau kewajiban dengan mengabaikan apakah pos-pos tersebut
merupakan hasil dari penerapan matching concept.

4. Persyaratan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan,


Pengakuan unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau
laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria: (a) ada kemungkinan
bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam
entitas, dan (2) pos tersebut memunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
Kegagalan untuk mengakui pos yang mememuhi kriteria tersebut tidak dapat digantikan dengan
pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau catatan materi penjelasan.
5. Dasar pengukuran unsur laporan keuangan,
a. Probabilitas Manfaat Ekonomi Masa Depan
Konsep probabilitas digunakan dalam kriteria pengakuan mengacu kepada pengertian derajat
ketidakpastian bahwa manfaat ekonomi masa depan yang terkait dengan pos tersebut akan
mengalit kea tau dari dalam entitas. Pengajian derajat ketidakpastian yang melekat pada arus
manfaat ekonomi masa depan dilakukan atas dasar bukti yang terkait dengan kondisi yang
tersedia pada akhir perioda pelaporan saat penyusunan laporan keuangan. Penilaian ini dibuat
secara individu untuk pos-pos yang signifikan secara individual dan kelompok suatu populasi
besar dari pos-pos yang tidak signifikan secara individual.
b. Keandalan Pengukuran
Kriteria kedua untuk pengakuan suatu pos adalah adanya biaya atau nilai yang dapat diukur
dengan andal. Dalam banyak kasus, biaya atau nilai suatu pos diketahui. Dalam kasus lainnya
biaya atau nilai tersebut diestimasi. Penggunaan estimasi yang layak merupakan bagian esensial
dalam penyusunan laporan keuangan tanpa mengurangi tingkat keandalan. Namun demikian,
jika estimasi yang layak tidak mungkin dilakukan, maka pos tersebut diakui dalam neraca atau
laba rugi.
Suatu pos pada saat tertentu tidak dapat memenuhi kriteria pengakuan dapat memenuhi syarat
untuk diakui di masa depan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang terjadi kemudian. Suatu
pos yang gagal memenuhi keriteria pengakuan tetap perlu diungkapkan dalam catatan, materi
penjelasan, atau skedul tambahan. Pengungkapan ini dapat dibenarkan jika pengetahuan
mengenai pos tersebut dipandang relevan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja, dan
perubahan posisi keuangan suatu entitas oleh pengguna laporan keuangan.

6. Konsep pengakuan dan pengukuran berpengaruh luas (pervasive)


Persyaratan untuk pengakuan dan pengukuran asset, kewajiban, dan beban dalam SAK ETAP
didasarkan pada prinsip pervasive dari “kerangka penyajian dan pengukuran laporan keuangan”.
Dalam hal tidak ada suatu pengaturan tertentu dalam SAK ETAP untuk transaksi atau peristiwa
lain, paragraph 9.4 memberikan pandauan untuk membuat pertimbangan dan paragraph 9.5
menetapkan hirarki yang diikuti oleh entitas dalam memutuskan kebijakan akuntansi yang sesuai
dengan keadaan tersebut. Pada tingkat kedua hirarki tersebut mensyaratkan entitas untuk
menggunakan prinsip pengakuan dan pengukuran pervasive.

7. Pengukuran unsur laporan keuangan (biaya historis dan nilai wajar)


Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur asset,
kewajiban, penghasilan, dan beban dalam laporan keuangan. Proses ini terasuk pemilihan dasar
perngukuran tertentu.
Dalam pengukuran yang dipergunakan adalah biaya historis dan nilai wajar.
a. Biaya historis
Biaya historis adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari
pembayaran yang diberikan untuk memperoleh asset pada saat peroleh. Kewajiban dicatat
sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai wajar dari asset non-kas yang
duterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat terjadinya kewajiban.
b. Nilai Wajar
Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu saet, atau untuk
menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki
pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.

8. Dasar akrual
Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas, dengan menggunakan dasar
akrual. Dasar akrual pos-pos diakui sebagai asset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban
(unsur-unsur laporan keuangan) ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk pos-pos
tersebut.

9. Saling hapus
Saling hapus tidak diperkenankan atas asset dan kewajiban atau penghasilan dengan beban,
kecuali disyaratkan oleh SAK ETAP. Pengukuran nilai asset secara neto dari penilaian
penyisihan bukan merupakan saling hapus, misalnya penyisihan atau keusangan persediaan dan
penyisihan atas piutang tak tertagih. Jika aktivitas entitas yang biasa tidak termasuk membeli
dan menjual asset tidak lancar (termasuk investasi dan asset operasional) maka entitas
melaporkan keuntungan dan kerugian atas pelepasan asset dengan mengurangi hasil penjualan
dengan jumlah tercatat asset dan beban penjualan yang terkait.

Penyajian Laporan Keuangan


Entitas harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved
statement) atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan keuangan. Terdiri dari:
1. Penyajian Wajar,
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
suatu entitas. Penyajian wajar mensyarakatkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi,
peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan asset, kewajiban,
penghasilan, dan beban.
Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas. Entitas yang menggunakan
SAK ETAP harus secara eksplisit menyatakan secara penuh atas kepatuhan terhadap SAK ETAP
dalam catatan laporan keuangan. Entitas harus menilai kelangsungan usaha pada saat menyusun
laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan keuangan minimal satu kali dalam setahun.
Informasi komparatif dengan periode sebelumnya dengan keunggulan yang sama. Pos-pos yang
material disajikan terpisah.

2. Kepatuhan terhadap SAK ETAP,


Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan
eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam
catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK
ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.

3. Kelangsungan Usaha,
Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP
membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usahanya.

4. Frekuensi Pelaporan,
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi komparatif) minimum
satu tahun sekali.

5. Konsistensi Penyajian,
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar perioda harus konsiseten kecuali
(a) terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan penyajian atau
pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria pemilihan dan
penerapan kebijakan akuntansi, aatau (2) SAK ETAP mensyaratkan suatu perubahan penyajian.
Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus konsisten, kecuali:
 Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut menghasilkan penyajian yang
lebih andal dan relevan.
 SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian.
 Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat secara prospektif.
 Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang direklasifikasi serta
alasannya.

6. Informasi Komparatif
Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan perioda sebelumnya kecuali dinyatakan
lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangn dan catatan atas laporan
keuangan).

7. Materialitas dan Agregasi,


Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak material
digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalalian dalam
mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jia, baik secara
individuan maupun bersama-sama, dapat memengaruhi pengguna laporan keuangan dalam
penggambilan keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur tersebut dapat menjadi factor
penentu.
8. Identifikasi Laporan Keuangan Lengkap
Terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan atas
laporan keuangan. Perubahan perioda laporan keuangan sehingga perioda laporan berbeda, maka
ETAP mengungkapkan:
 Fakta tersebut.
 Alasan penggunaan perioda yang lebih pendek atau lebih panjang.
 Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dalam laporan keuangan yang terkait tidak dapat
diperbandingkan.
 Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.
Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
 Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan perioda terakhir;
 tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi setiap
komponen laporan keuangan;
 mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam Bab 25 Mata Uang Pelaporan;
 pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.
Catatan laporan keuangan:
 domisili , bentuk hukum dan alamat kantor yang terdaftar;
 Penjelasan sifat operasi dan aktivitas Utama.

Laporan Keuangan Lengkap


Identifikasi laporan keuangan: nama entitas, tanggal atau cakupan perioda, mata uang pelaporan,
pembulatan, domisili atau bentuk hukum, sifat operasi, dan aktivitas Utama.
1. Neraca (Posisi Keuangan)
Informasi yang disajikan dalam Neraca (CALK)
 kelompok aset tetap;
 jumlah piutang usaha, piutang dari pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, pelunasan
dipercepat dan jumlah lainnya;
 rincian persediaan;
 kewajiban imbalan kerja dan kewajiban diestimasi lainnya;
 rincian kelompok ekuitas seperti modal dasar, modal disetor, tambahan modal disetor, agio saldo
laba dan pendapatan – beban yang diakui langsung ke ekuitas;
 PT: rincian setiap kelompok modal saham dan penjelasan cadangan ekuitas;
 Bukan PT: diungkapkan rincian informasi modal yang setara dengan PT

Menyajikan aset, kewajiban dan ekuitas pada tanggal tertentu.


Minimal mencakup pos-pos:
a. kas dan setara kas,
b. piutang usaha dan piutang lain-lain,
c. persediaan,
d. properti investasi,
e. aset tetap,
f. aset tidak berwujud,
g. utang usaha dan utang lainnya,
h. aset dan kewajiban pajak,
i. kewajiban diestimasi
j. ekuitas.
Urutan dan format pos tidak ditentukan oleh SAK ETAP. Penyajian:
 Klasifikasi aset lancar, aset tidak lancar
 Klasifikasi kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang
 Kecuali jika memberikan informasi yang andal dan relevan dapat berdasarkan likuiditas

Sama dengan SAK IFRS kecuali menghilangkan pos: (1) asset keuangan, (2) property investasi
yang diukur dengan nilai wajar, (3) asset biolojik yang diukur pada nilai perolehan dan nilai
wajar, (4) kewajiban berbunga jangka panjang, (5) asset dan kewajiban pajak tangguhan, (6)
kepentingan non pengendali.
Posisi keuangan suatu entitas terdiri dari asset, kewajiban, dan ekuitas pada waktu tertentu.
Unsur laporan keuangan yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan
adalah asset, kewajiban, dan ekuitas.
a. Aset adalah sumberdaya yang dikuasai entitas sebagai akibat peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi di masa depan diharapkanakan diperoleh oleh entitas. Dalam menentukan
eksistensi asset, hak milik tidak esensial. Misalnya, property yang diperoleh melalui sewa
adalah asset jika entitas mengendalikan manfaat yang diharapkan mengalir dari property
tersebut.
Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar jika:
a. diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan, dalam jangka waktu
siklus operasi normal entitas;
b. dimiliki untuk diperdagangkan;
c. diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan; atau
d. berupa kas atau setara kas, kecuali jika dibatasi penggunaannya dari pertukaran atau digunakan
untuk menyelesaikan kewajiban setidaknya 12 bulan setelah akhir periode pelaporan.
e. Aset lainnya diklasifiaksikan tidak lancar

b. Kewajiban merupakan merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiswa masa
lalu, yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumberdaya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi. Karakteristik esensial kewajiban (liability) adalah bahwa entitas
memunyai kewajiban (obligation) masa kini untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu
dengan cara tertentu. Kewajiban dapat berupa kewajiban hokum dan kewajiban konstruktif.
Kewajiban dapat dipaksakan menurut hokum sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau
peraturan perundangan.
Kewajiban konstruktif adalah kesajiban uang timbul dari tindakan entitas ketika: (1) oleh praktik
baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasikan atau pernyataan kini yang cukup spesifik,
entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas akan menerima
tanggungjawab tertentu, dan (2) akibatnya entitas telah menimbulkan eskpekstasi kuat dan sah
kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan tanggungjawab tersebut.
Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan pembayaran kas, penyerahan asset lain,
pemberian jasa, penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain, atau konversi kewajiban
menjadi ekuitas. Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur
membebaskan datau membatalkan haknya.
Entitas mengklasifikasikan kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek jika:
 diperkirakan akan diselesaikan dalamjangka waktu siklus normal operasi entitas;
 dimiliki untuk diperdagangkan;
 kewajiban akan diselesaikan dalamjangka waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan; atau
 entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian kewajiban setidaknya 12
bulan setelah akhir periode pelaporan.
 Entitas mengklasifikasikan semua kewajiban lainnya sebagai kewajiban jangka panjang.

c. Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas setelah dikurangi kewajiban. Ekuitas
disubklasifikasikan dalam neraca. Misalnya, entitas yang berbentuk Perseroan Terbatas
subklasifikasi dapat berupa dana yang dikontribusikan oleh pemegang saha, saldo laba, dan
keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas.

2. Laporan Laba Rugi


Menyajikan laporan laba rugi suatu periode tertentu yang menunjukan kinerja keuangan selama
periode tersebut. Pos minimal:
a. pendapatan,
b. beban keuangan,
c. bagian laba atau rugi investasi dengan metode ekuitas, dan
d. laba rugi neto.
Analisis beban dapat disajikan berdasarkan fungsi atau berdasarkan sifat beban.
Pos luar biasa tidak diperkenankan

Menyajikan laporan laba rugi suatu perioda tertentu yang menunjukkan kinerja keuangan selama
perioda tersebut. Analisis beban disajikan berdasar fungsi atau berdasarkan sifat bebas. Pos luar
biasa tidak boleh untuk penyajian dan pengungkapan baik dalam laporan laba rugi maupun pada
catatan atas laporan keuangan.
Kinerja keuangan adalah hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas sebagaimana
disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai
dasar pengukuran lainnya seperti tingkat pengembalian investasi atau laba perlembar saham.
Unsur-unsur dalam laporan keuangan secara langsung terkait dengan pengukuran laba adalah
penghasilan dan beban. Menggunakan isitilah “Laporan Laba Rugi” saja. Mencakup pos-pos:
(1) pendapatan, (2) beban keuangan, (3) bagian dari laba atau rugi investasi yang menggunakan
metoda ekuitas, (4) beban pajak, (5) laba atau rugi neto.

a. Penghasilan
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama perioda pelaporan dalam bentuk
arus masuk atau peningkatan asset, atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan ekuitas yang
tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
Penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenues) dan keuntungan (gains). Pendapatan
adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal
dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, imbalan bunga, dividen, royalty, dan sewa.
Keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghasilan namun bukan
pendapatan. Ketika keuntungan diakui dalam laporan laba rugi, biasanya disajikan secara
terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut berguna untuk tujuan pengambilan
keputusan ekonomi.

b. Beban
Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu perioda pelaporan dalam
bentuk arus keluar atau penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan ekuitas
yang tidak terkait dengan distrbusi kepada penanaman modal.
Mencakup kerugian dan beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa.
Beban timkbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa meliputi beban pokok penjualan,
upah, dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar datau berkurangnya asset
seperti kas dan setara kas, persediaan dan asset tetap.
Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin atau mungkin
tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa. Ketika kerugian diakui dalam
laporan laba rugi biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut
berguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi.

Laporan laba rugi dan saldo laba (digabung) dapat disajikan sebagai pengganti laporan laba rugi
dan laporan perubahan ekuitas jika perubahan ekuitas hanya berasal dari: (1) laba rugi, (2)
pembayaran dividen, (3) koreksi kesalahan perioda lalu, dan (4) perubahan kebijakan akuntansi.
Jika entitas menyusun laporan laba rugi dan saldo laba, maka laporan laba rugi dan laporan
perubahan ekuitas tidak perlu dibuat karena susah digantikan oleh laporan laba rugi dan saldo
laba.

3. Laporan Perubahan Ekuitas


Menyajikan (1) laba rugi tahun berjalan, (2) pendapatan dan beban yang diakui secara langsung
dalam ekuitas, (3) pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan, (4)
rekonsiliasi jumlah tercatat awal dan akhir perioda dari komponen ekuitas (laba rugi, pendapatan
dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas, dan jumlah investasi, dividen, dan distribusi
lainnya ke pemilik ekuitas, serta perubahan kepemilikan entitas anak yang tidak mengakibatkan
pengendalian).
Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain.
Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rigi entitas dan peruabahan saldo laba
untuk satu perioda laporan. Laporan laba rugi dan saldo laba (gabungan) dapat disajikan
sebagai pengganti laporan perubahan ekuitas jika memenuhi syarat SAK ETAP (lihat Bab 3.13
dan 6.4)

4. Laporan Arus Kas


Menyajikan informasi arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Aktivitas operasi
hanya disajikan secara tidak langsung. Bunga dan dividen, baik dibayarkan atau diterima, harus
diungkap secara terpisah dan konsisten sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan.
Pajak penghasilan diungkapan terpisah sebagai aktivitas operasi kecuali dapat secara spesifik
diidentifikasi sebagai aktivitas operasi dan pendanaan. Transaksi non kas tidak dapat disajikan
dalam laporan arus kas. Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk: (1) arus kas aktivitas operasi
dengan metoda tidak langsung, dan (2) arus kas mata uang asing tidak diatur.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan


Mengungkapkan dasar penyajian laporan keuangan dan kebijaklan akuntansi yang digunakan
termasuk dasar pengukurannya. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan. Memberikan
informasi yang relevan walau tidak disyarakatkan. Mengungkapkan informasi tentang sumber
Utama ketidakpastian estimasi.
Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk pengungkapan modal. Mengungkapkan dasar penyajian
laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan termasuk dasar pengukurannya.
Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK ETAP. Informasi tentang sumber utama
ketidakpastian estimasi. Mengungkapkan informasi tambahan yang disajikan dalam laporan
keuangan, yang berisi informasi narasi atau rincian jumlah atau informasi yang tidak memenuhi
kriteria pengakuan. Mengungkapkan dasar penyajian laporan keuangan dan kebijakan akuntansi
yang digunakan termasuk dasar pengukuran. Memberikan informasi tambahan yang relevan,
namun tidak disyaratkan SAK ETAP. Informasi tentang sumber utama ketidakpastian estimasi.
Urutan penyajian catatan atas laporan keuangan adalah sebagai berikut:
 pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK ETAP (lihat paragraf 3.3)
 ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan (lihat paragraf 8.5)
 informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan urutan penyajian setiap
komponen laporan keuangan dan urutan penyajian pos-pos tersebut.
 pengungkapan lain.
 dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.
 kebijakan akuntansi lain yang digunakan yang relevan untuk memahami laporan keuangan
http://daniels-stephanus.blogspot.co.id/2013/07/standat-akuntansi-keuangan-entitas.html