Anda di halaman 1dari 5

ANALISA 5S DAN DISIPLIN KERJA PADA SUB.

BIDANG
PENGEMBANGAN POTENSI INDUSTRI
(Studi Kasus: Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kab. Kampar)

Siti Rahmadhani Rizki1, Merry Siska2


1
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Jl. HR. Soebrantas No. 155 Simpang Baru, Panam, Pekanbaru, 28293
1
Email: rizkismansa11@gmail.com
2
Dosen Jurusan Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Jl. HR Subantas KM 12,5, Kampus Bina Widya, Simpang Baru, Pekanbaru, Riau 28293

ABSTRAK

Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja merupakan Dinas yang bertanggung jawab dibidang
perindustrian dan ketenagakerjaan yang ada di Kab Kampar. Dinas ini memiliki misi untuk membentuk
kawasan industri di Kabupaten Kampar. Salah satu Sub. Bidang yang berperan penting dalam mewujudkan
misi ini yaitu Sub. Bidang Pengembangan Potensi Industri. Agar misi ini dapat terwujud, tentunya pegawai
harus menghasilkan produktivitas kerja yang baik dan didasari oleh Budaya Kerja dan disiplin pegawai yang
ada pada Bidang tersebut. Adapun hal yang berkaitan dengan budaya kerja yaitu penyusunan ruang kerja
pegawai. Pada Bidang ini, ruang kerja kurang tertata dengan baik sehingga kenyamanan dalam bekerja tak
dapat dicapai secara maksimal. Oleh karena itu, dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas pegawai,
maka perlu dilakukannya evaluasi lingkungan kerja dengan metode Budaya Kerja 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
Seiketsu dan Shitsuke) dan Disiplin Kerja.
Penelitian ini berjenis deskriptif murni, karena hanya menganalisa serta memberikan usulan tanpa
merancang dan menerapkannya di Dinas tersebut. Sumber data yang digunakan melalui observasi dan
wawancara, baik kepada pembimbing maupun karyawan di Sub. Bidang Pengembangan Potensi Industri.
Analisa yang dilakukan yaitu Budaya Kerja 5S dan Disiplin pegawai. Berdasarkan analisa pendahuluan, Sub.
Bidang Pengembangan Potensi Industri belum menerapkan Budaya Kerja 5S dan Disiplin Kerja, maka perlu
diberikannya usulan perbaikan agar dapat diterapkan secara berkala sehingga dapat meningkatkan
produktivitas pegawainya.

Kata Kunci: Perindustrian, Budaya Kerja 5S, Disiplin Kerja

ABSTRACT

Department of Industry and the Department of Labor is responsible for the field of industrial and
employment in Kampar district. This office has a mission to establish an industrial area in Kampar. One Sub.
Fields play an important role in realizing this mission, namely Sub. Industrial Potential Development
Division. In order for this mission to be realized, of course, an employee must both labor productivity and
based on the work culture and discipline that exist in the field. As for matters relating to the preparation of
the work culture that employees working space. In this field, the work space is less well ordered so that
comfort in the work unattainable maximum. Therefore, in an effort to increase employee productivity, it is
necessary to do the evaluation of the work environment with work culture method 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
Seiketsu and Shitsuke) and Work Discipline.
This research was purely descriptive, because only analyze and make suggestions without having to
design and implement at the Department. Source of data used through observation and interviews, both the
supervisor and the employee in Sub. Industrial Potential Development Division. Analysis done of Work
Culture 5S and Discipline employees. Based on preliminary analysis, Sub. Industry Potential Development
Division has not implemented the 5S and Work Culture Work Discipline, it is necessary given the proposed
improvements to be implemented on a regular basis so as to improve the productivity of their employees.

Keywords: Industry, Work Culture 5S, Work Dicipline


Pendahuluan melakukan studi pendahuluan yaitu mengamati
lingkungan kerja selama proses magang. Kemudian
Perubahan jaman semakin maju dan merumuskan masalah.
perkembangan teknologi yang semakin canggih Langkah berkutnya yaitu pengumpulan data baik
menghasilkan berbagai inovasi dalam berbagai berdasarkan pengamatan maupun melalui hasil
bidang kehidupan, termasuk bidang industri. wawancara terhadap pihak Sub. Bidang Pengembangan
Kemajuan ini memberikan banyak manfaat bila Potensi Industri. Berdasarkan hasil pengamatan, maka
dapat dinikmati oleh banyak pihak. Perubahan terdapat beberapa masalah yang dapat diselesaikan
dunia industrisemakin cepat, semakin banyak pula dengan metode 5S dan konsep disiplin kerja sehingga
tuntutan kerja yang diinginkan perusahaan. Untuk dapat memberikan masukan dan menjadi pertimbangan
mendukung pekerjaan agar dapat dilakukan lebih bagi tempat tersebut untuk melakukan perbaikan. 5S
mudah dan lebih nyaman, salah satu yang harus sendiri merupakan singkatan dari Seiri (Ringkas),
dibangun adalah budaya kerja (Sandika, 2013). Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan
Salah satu objek yang dijadikan penelitian untuk
Shitsuke (Rajin).
menganalisa budaya kerja 5S yaitu Dinas
Perindustrian dan Tenaga Kerja Kampar. Dinas ini
merupakan Dinas yang bertanggung jawab dibidang Seiri (Ringkas)
perindustrian dan ketenaga kerjaan yang ada di
Kab. Kampar. Dinas ini memiliki 4 sub bidang yang Seiri/ringkas) adalah kata pertama dari 5S yang
memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. berarti “Pengorganisasian atau Pemilihan”.
Salah satunya yaitu sub bidang Pengembangan Terorganisir berarti menjaga barang yang
Potensi Industri. Ruang kerja pada bidang ini diperlukan serta memisahkan barang yang tidak
termasuk sederhana dengan besar ruangan yang diperlukan dalam pekerjaan. Yang terpenting disini
hanya cukup untuk 7 orang pegawai, sementara adalah manajemen stratifikasi, yang mencakup
jumlah pegawai yang seharusnya berada diruangan memutuskan pentingnya suatu barang dan
ini yaitu 10 orang. Hal ini diakibatkan karena tidak mengurangi persediaan barang yang tidak
adanya pengaplikasian terhadap budaya kerja 5S diperlukan serta memastikan barang yang
sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi ruang kerja diperlukan disimpan dalam jarak yang dekat supaya
tidak nyaman dan memberikan dampak terhadap lebih efisien (Jahja, 1998 dikutip oleh Wiratmani,
kedisiplinan dan hasil kerja para pegawainya. 2013).

Seiton (Rapi)

Seiton/Rapi adalah kata kedua dari 5R.


Kerapian adalah hal mengenai sebagaimana cepat
kita meletakkan barang dan mendapatkannya
kembali dengan mudah pada saat diperlukan.
Setelah melakukan ringkas atau R yang pertama
dari 5R, selanjutnya adalah menata barang-barang
yang diperlukan dengan rapi, yaitu dengan
mengelompokkan barang berdasarkan
Gambar 1.1 (a) Kursi rusak dan rak yang tidak penggunaannya. Semua barang harus memiliki
digunakan di sudut ruangan nama tertentu, alamat tertentu, dan jumlah yang
tertentu pula (Jahja, 1998 dikutip oleh Wiratmani,
Permasalahan yang terjadi diatas, merupakan 2013).
akibat dari tidak adanya pengaplikasian terhadap
program 5S. Oleh karena itu, penelitian ini Seiso (Resik)
bertujuan untuk menganalisa ruang kerja Sub
Bidang Pengembangan Potensi Industri Seiso/Resik merupakan tahap ketiga dalam
menggunakan budaya kerja 5S sehingga dapat metode 5S. Prinsip dari Seiso atau shine adalah
memberikan masukan pada Dinas tersebut dan membersihkan tempat atau lingkungan kerja, mesin
dapat memperbaikinya agar terciptanya ruang kerja atau peralatan dan barang-barang lainnya agar tidak
yang nyaman dan menghasilkan kerja yang baik. terdapat debu atau kotoran dan sampah yang
berserakan. Kondisi yang bersih dapat
Metode Penelitian mempengaruhi manusia secara psikologis dengan
membuat diri mereka merasa nyaman dan tidak
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah merasa stress (Diniaty dan Hidayat 2017). Setelah
metode Budaya Kerja 5S.. Melalui metode ini, dilakukan menjadi rapi, langkah berikutnya adalah
analisa terhadap ruang kerja Sub. Bidang Pengembangan membersihkan tempat kerja, ruangan kerja,
Potensi Industri. Adapun langkah awal adalah dengan peralatan dan lingkungan kerja.
Seiketsu (Rawat) diterapkan. Berikut foto hasil observasi yang
diambil langsung saat melaksanakan magang.
Seiketsu /Rawat adalah R keempat dari istilah
5S yang berarti tertib pribadi. Yaitu memperluas
konsep kebersihan pada diri pribadi dan terus-
menerus mempraktekkan tiga langkah terdahulu.
Diperlukan standarisasi untuk menjaga keadaan
yang sudah baik. Pada step ini manajemen harus
mulai nyata. Manajemen digunakan untuk menjaga
kerapian lingkungan kerja dimana karyawan akan
memiliki akses yang lebih cepat dan aman untuk
memperoleh barang yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugasnya. Kode warna sering
digunakan dalam langkah ini untuk mengingatkan
letak benda. Kekacauan akan muncul dan suasana
kerja yang tidak nyaman akan terjadi jika
pengaturan tidak ditekankan secara terus menerus. Gambar 1.2 Meja yang tidak digunakan
Hal ini dapat mengakibatkan munculnya suasana
kerja yang tidak diinginkan (Jahja, 1998 dikutip Hal ini tentunya menimbulkan keterbatasan gerak
oleh Wiratmani, 2013). dan tidak enak dilihat oleh pegawai yang berda di
ruang tersebut. oleh karena itu, Seharusnya meja ini
Shitsuke (Rajin) disingkirkan agar pegawai yang duduk di daerah
tersebut lebih leluasa dalam bergerak.
Shitsuke/Rajin adalah kata terakhir dari istilah
5S, yang diartikan sebagai disiplin pribadi. Disiplin Seiton/ Rapi
maksudnya adalah menerapkan kemampuan
melakukan sesuatu sesuai dengan cara yang Rapi memiliki keterkaitan dengan ringkas.
seharusnya, mempraktekkan 4S terdahulu secara Apabila ringkas telah diterapkan, maka akan
terus menerus dan menjadikan kegiatan ini sebagai menghasilkan kerapian. Pada ruang kerja ini,
kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan kerapiannya masih tergolong kurang. Ruang ini
yang buruk dapat dihilangkan dengan cara memiliki 3 loker dan 1 lemari untuk penyimpanan
mengajari karyawan mengenai hal yang harus berkas kerja. Untuk 1 loker ada bermasalah yaitu
dilakukan dan membiasakan mereka untuk berlatih dibiarkan begitu saja tanpa dikunci dan siapapun
kebiasaan yang baik (Jahja, 1998 dikutip oleh dapat mengambil berkas yang ada didalamnya tanpa
Wiratmani, 2013). merapikan kembali.

Seiso/ Resik
Disiplin Kerja

Disiplin kerja memiliki banyak pengerian


(Franklin & Pagan, 2006). Werther dan Davis,
disiplin kerja merupakan tindakan yang dilakukan
manajemen untuk mendorong karyawan patuh
dengan standar aturan organisasi (Franklin &
Pagan, 2006) baik peraturan tertulis maupun tidak
tertulis, dan bila melanggar akan ada sanksi atas
pelanggarannya (Aries dan Baskoro, 2012 dikutip
oleh Sari dan Hadijah, 2016).

Hasil dan Pembahasan


Gambar 1.3 Meja kerja berdebu
Seiri/Ringkas
Berdasarkan gambar, meja tersebut pada
Sebagai upaya untuk menghasilkan ruang kerja bagian belakang komputernya kotor dan berdebu.
yang nyaman, tentunya penerapan ringkas sangat Bagian tersebut tidak dibersihkan karena pegawai
membantu. Ringkas ini bertujuan untuk hanya bekerja pada bagian depannya sehingga
memperluas ruang gerak pegawai dalam bekerja. bagian belakang tersebut tidak diperhatikan. Selain
Pada ruang kerja bidang ini, ringkas belum itu, jarang ada pegawai yang melaksankan aktivitas
di meja tersebut. Seharusnya, meja ini dibersihkan dibutuhkan. Berikut contohnya diambil dari meja
dan pegawai yang tidak mendapatkan tempat karena Kasi Pengawasan dan Perizinan Industri.
kekurangan meja dapat membantu pekerjaan yang
ada. Gambar 1.4 Daftar kegiatan pada meja kerja

Seiketsu/Rawat Shitsuke/Rajin

Pelaksanaan rawat, pegawai dituntut untuk Rajin yang dimaksudkan yaitu tentang langkah
menjaga meja kerjanya masing-masing agar tetap atau upaya yang dilakukan seseorang untuk
terpelihara kenyamanannya. Selain itu, setiap memelihara ke empat poin 5S sebelumnya. Dalam
pegawai diharapkan mendapatkan informasi yang penerapan rajin, pegawai dituntut untuk menjaga
dan meningkatkan ke empat poin 5S sebelumnya.

Gambar 1.4 Daftar kegiatan pada meja kerja Menjaga kebersihan meja tiap pegawai
setelah digunakan dan nantinya akan
Kedisiplinan Pegawai memberikan kenyamanan dalam bekerja.
d. Seiketsu/Rawat
Berkaitan dengan kedisiplinan pegawai. Sebaiknya pegawai yang lainnya ikut
Pegawai dituntut untuk bekerja sesuai standar menerapkan rawat yang telah dilakukan
sehingga tidak ada pekerjaan yang menumpuk. oleh Kasi, sehingga produktivitas dapat
Untuk pegawai di bidang ini, masih terdapat ditingkatkan secepatnya.
beberapa pegawai yang kurang rajin. e. Shitsuke/Rajin
Selain itu, belum ada pegawai yang suka rela Tingkatkan kesadaran diri terhadap ruang
untuk mengerjakan tugas, dan diberikan kepada kerja yang nyaman akan memberikan
tenaga honorer, salah satu penyebabnya yaitu ada feedback yang baik untuk pegawai
sebagian pegawai yang belum mengerti tentang IT tersebut, menjaga ke empat komponen 5S
(Penggunaan Laptop/Komputer). Adapun solusi sebelumnya.
yang dapat diberikan yaitu dengan dibuatnya absen
menggunakan sidik jari. Ucapan Terima Kasih
Jika memang ada, tuliskan Ucapan Terima Kasih
Kesimpulan di sini.

1. Usulan perbaikan ruang kerja pada Sub. Daftar Pustaka


Bidang Pengembangan Potensi Industri References harus didaftarkan urut alphabet dari
menggunakan metode 5S adalah sebagai nama pengarang dan urutan penerbitan untuk nama
berikut: pengarang yang sama. Urutan penulisan refensi adalah
a. Seiri/Ringkas nama pengarang, tahun publikasi, judul ataupun sumber.
Menyingkirkan meja dan kursi yang tidak Nama Jurnal, nama konferensi, proceeding dan judul
digunakan lagi dari ruang kerja sehingga buku harus ditulis dalam italics dan tiap huruf pertama
dapat memberikan keuntungan berupa pada judul yang bukan merupakan kata sambung ataupun
kenyamanan saat bekerja. artikel, ditulis dengan huruf capital. Tuliskanlah daftar
b. Seiton/Rapi pustaka yang digunakan dalam makalah utama. Jangan
Mengaktifkan pemanfaatan loker kedua mencantumkan referensi yang tidak pernah digunakan
agar berkas-berkas dapat disusun rapi sebagai acuan dalam penulisan naskah. Style penulisan
seperti pada loker pertama. refensi diberikan di bawah. Jika penulis lebih dari tiga
c. Seiso/Resik gunakanlah nama pengarang utama dan ’et al.’ untuk
mengacu pada penulis yang lain pada satu referensi yang
sama, contoh, (Forza et al.,[1]; Holmes dan Mallick, [2])
pada akhir kalimat, atau Mallian [5] menyatakan kalimat [3] Klir, J., and Yuan, B., Fuzzy Sets and Fuzzy
berikut ini. Logic: Theory and Applications, Prentice-Hall,
New Delhi, 2001.
[4] Lyche, T., and Morken, K., Spline Methods,
Draft, 2004, retrieved from
http://www.ubuion./umn/english/index.html on
09 November 2009.
[5] Mallian, H., Studi Literatur tentang Model
Peramalan ARMA(p,q) dan Selang Keper-
cayaan Parameter Model dengan Menggunakan
Bootstrap, Tugas Akhir, Jurusan Teknik
Daftar Pustaka Industri, Universitas Kristen Petra, Surabaya,
2006.
[1] Forza, C., Vinelli, A., and Filippini, R., [6] Monden, Y., Toyota Production System: An
Telecommunication Services for Quick Integrated Approach to Just-in-Time, 2nd ed.,
Response in the Textile-Apparel Industry, Industrial Engineering and Management Press,
Proceedings of the 1st International Norcross, GA, 1993.
Symposium on Logistics, The University of
Nottingham, 1993, pp. 119-26. Lampiran
[2] Holmes, C. C., and Mallick, B. K., Generalized
Nonlinear Modeling with Multivariate Free-
Knot, Journal of the American Statistical
Association, 98(462), 2003, pp. 352-365.