Anda di halaman 1dari 17

PERJANJIAN LISENSI

Makalah ini disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Hukum Perikatan Syariah

Dosen Pengampu: Agus Salim Ferliadi, M.H

Kelompok IX
Febriani Safitri 14118234
Indrawati 14118434
Januar Adi Wibowo 14118494
Siami Mutmainah 14119434
Kelas/Semester: D/VII

JURUSAN EKONOMI ISLAM


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO
T.A 2017
ii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, alhamdulillah puji syukur kepada Allah swt. yang selalu
melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua. Sholawat teriring salam semoga
Allah swt. selalu mencurahkan kepada Nabi Muhammad saw. keluarga, para
sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa mengikuti sunah-sunah beliau
hingga akhir zaman.
Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terimakasih kepada
Bapak Agus Salim Ferliadi, M.H selaku dosen mata kuliah Hukum Perikatan
Syariah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan
makalah ini dengan judul LISENSI.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan
yang timbul dari keterbatasan kemampuan kami dalam menulis. Oleh karena itu,
kami berharap dari berbagai pihak kritik dan saran yang bersifat membangun agar
penulisan makalah ini lebih sempurna lagi dikemudian hari. Kami juga berharap
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya kepada kami selaku
penulis kepada pembaca pada umumnya. Amin.

Metro, 01 Desember 2017

Penulis
Kelompok IX
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan Makalah ................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Lisensi ................................................................................ 2
B. Macam-Macam Lisensi ........................................................................ 4
C. Lisensi dalam Dunia Bisnis.................................................................. 6
D. Ketentuan Pemberian Lisensi dan Pengalihan Hak ............................. 7
E. Bentuk-Bentuk Perizinan dalam Dunia Bisnis ..................................... 8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................... 13
B. Kritik dan Saran ................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Badan usaha adalah kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan
ekonomis yang bertujuan mencari laba atau keuntungan. Dalam dunia bisnis,
perizinan memegang peranan yang sangat penting. Bahkan bisa dikatakan
perizinan dan pertumbuhan dunia usaha merupakan dua sisi yang saling
berkaitan.
Lisensi adalah suatu bentuk hak untuk melakukan satu atau
serangkaian tindakan atau perbuatan yang diberikan oleh mereka yang
berwenang dalam bentuk izin. Tanpa adanya izin tersebut, maka tindakan
atau perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan yang terlarang yang
merupakan perbuatan yang melawan hukum.
Dunia usaha takkan berkembang tanpa adanya izin yang jelas
menurut hukum, dan izin berfungsi karena dunia membutuhkanny dalam
makalah ini akan dijelaskan tentang pengertian, persyaratan, macam-macam,
bentuknya dalam suatu bisnis lisensi.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Lisensi?
2. Apa saja macam-macam Lisensi?
3. Bagaimana perjanjian lisensi dalam dunia bisnis?
4. Bagaimana ketentuan dalam pemberian lisensi dan pemberian hak?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian Lisensi
2. Untuk mengetahui macam-macam lisensi
3. Untuk mengetahui perjanjian lisensi dalam bisnis
4. Untuk mengetahui ketentuan perjanjian lisensi dan pemberian hak nya
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lisensi
Pengertian Lisensi dalam Black’s Law Dictionary diartikan sebagai
a personal privilege to do some particular act or series ofacts atau The
permission by competent authority to do an act which, without such
permission would beillegal, a trespass, a trot, orotherwise would not
allowable. Dan ini berarti bahwa llisensi selalu dikaitkan dengan kewenangan
dalam bentuk privillege untuk melakukan sesuatu oleh seseorang atau suatu
pihak tertentu. Pengertian umum lainnya dalam Black’s Law Dictionary,
penggunaan istilah lisensi senantiasa dikaitkan dengan penggunaan atau
pemanfaatan tanah berdasarkan pada izin yang diberikan otoritas atau pihak
yang berwenang (pejabat atau instansi pemerintah terkait). 1
Kemudian dalam Black’s Law Dictionary juga disebutkan bahwa
Licensing adalah The sale of a license permiting the use of patents,
trademarks, or the technology to another firm, sehingga dalam Black’s Law
Dictionary dapat ditarik kesimpulan bahwa makna lisensi secara tidak
langsung bergeser menjadi arti penjualan berupa izin (privilege) untuk
mempergunakan paten, hak atas merek (khususnya merek dagang) atau
teknologi (di luar perlingdungan paten/rahasia dagang) kepada pihak lain.
Berdasarkan hal tersebut dapat kita tarik simpulan secara umum bahwa lisensi
merupakan hak privilege yang bersifat komersial. Dalam hal ini memberikan

1
Gunawan Widjaya, Lisensi atau Waralaba Suatu Panduan Praktis, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2004), h. 9-10.
3

hak dan kewenangan untuk memanfaatkan paten maupun merek dagang atau
teknologi yang dilindungi secara ekonomis.2
Perjanjian lisensi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih,
yang mana satu pihak yaitu pemegang hak bertindak sebagai pihak yang
memberikan lisensi, sedangkan pihak yang lain bertindak sebagai pihak
menerima lisensi.
Rumusan atau pengertian tentang lisensi juga terdapat dalam
peraturan perundang-undanngan Republik Indonesia yang semuanya
mengatur tentang Hak atas Kekayaan Intelektual yang secara berturut-turut
dijelaskan sebagai berikut:
1. Undang-Undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang Hak Rahasia
Dagang kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada
pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk menikmati manfaat
ekonomi dari suatu Rahasia Dagang yang diberi perlindungan dalam
jangka waktu tertentu dan syarat tertentu.
2. Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang Hak Desain
Industri kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada
pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk menikmati manfaat
ekonomi dari suatu Desain Industri yang diberi perlindungan dalam
jangka waktu tertentu dan syarat tertentu.
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang Hak Desain
Tata Letak Sirkuit Terpadu kepada pihak lain melalui suatu perjanjian
berdasarkan pada pemberian hak (bukan pengalihan hak) untuk
menikmati manfaat ekonomi dari suatu Desain Tata Letak Sirkuit
Terpadu yang diberi perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan
syarat tertentu.

2
Ibid., h.10.
4

4. Undang-Undang No 14 Tahun 2001 Pasal 1 Angka 13 tentang Paten


Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak Paten
kepada pihak lain berdasarkan pada pemberian hak (bukan pengalihan
hak) untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu Paten yang diberi
perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu.
5. Undang-Undang No 15 Tahun 2001 Pasal 1 Angka 13 tentang Merek
Lisensi adalah izin yang diberikan Pemilik Merek Terdaftar
kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian
hak (bukan pengalihan hak) untuk menggunakan merek tersebut baik
seluruh atau sebagian jenis barang dan atau jasa yang didaftarkan dalam
jangka waktu tertentu dan syarat tertentu.
Hal ini berarti juga bahwa lisensi ini merupakan suatu bentuk
pemberian izin pemanfaatan atau penggunaan Hak atas Kekayaan
Intelektual, yang bukan pengalihan hak yang dimiliki oleh pemilik
lisensi kepada penerima lisensi dalam jangka waktu dan syarat tertentu,
akan tetapi pada umumnya disertai dengan imbalan berupa royalti. 3

B. Macam-Macam Lisensi
1. Lisensi Atas Hak Kekayaan Intelektual
Salah satu jenis lisensi adalah lisensi atas hak intelektual,
misalnya perangkat lunak komputer. Pemilik lisensi memberikan hak
kepada pengguna untuk memakai dan menyalin sebuah perangkat lunak
yang memiliki hak paten kedalam sebuah lisensi. Lisensi atas hak
intelektual biasanya memiliki beberapa pasal/bagian didalamnya, antara
lain syarat dan ketentuan (term and condition), pembaruan (renewal),
wilayah (territory), dan syarat-syarat lain yang ditentukan oleh pemilik
lisensi.
a. Syarat dan ketentuan (term and condition) dan pembaruan (renewal),
Mayoritas lisensi dibatasi oleh jangka waktu pemakaian.
Hal ini untuk melindungi kekayaan intelektual dari pemilik lisensi,

3
Gunawan Widjaya, Lisensi atau Waralaba.., h. 21-22.
5

karena sering atau adanya perubahan kondisi peraturan pemberian


lisensi/pasar. Hal ini juga melindungi pemilik lisensi dari pemakaian
lisensi dengan beberapa alamat IP (Internet Protocol) dalam satu
(nomor seri) untuk satu jenis perangkat lunak.
b. Wilayah (territory)
Pembatasan wilayah adalah batasan pemakaian produk
untuk digunakan dalam satu wilayah atau regional terbatas (tertentu).
Sebagai contoh, sebuah lisensi produk atau jasa untuk daerah atau
regional Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) tidak dapat
dipakai di Indonesia (regional Asia Tenggara), begitu juga
sebaliknya,
2. Lisensi Massal
Lisensi massal perangkat lunak adalah lisensi dari pemilik ke
perorangan untuk menggunakan sebuah perangkat lunak dalam satu
komputer. Rincian lisensi biasanya tertuang dalam Kesepakatan Lisensi
Pengguna tingkat Akhir (End User License Agreement/EULA)) dalam
sebuah perangkat lunak. Dibawah perjanjian EULA ini pengguna
komputer dapat melakukan instalasi perangkat lunak dalam satu atau
lebih komputer (tergantung perjanjian lisensi).
3. Lisensi Merek Barang/Jasa
Pemilik barang atau jasa dapat memberikan izin (lisensi)
kepada individu atau perseroan agar individu atau perseroan tersebut
dapat mendistribusikan (menjual) sebuah produk atau jasa dari pemilik
barang atau jasa dibawah sebuah merek dagang. Dengan pemakaian
lisensi tipe ini, pemakai lisensi dapat menggunakan (menjual atau
mendistribusikan) merek barang atau jasa di bawah sebuah merek dagang
tanpa khawatir dituntut secara hukum oleh pemilik lisensi. Sebagai
contoh, sebuah perusahaan dapat memakai desain dan teknologi sebuah
produk atau jasa yang berasal dari suatu negara dan dipasarkan dengan
memakai nama lain di negaranya sendiri.
4. Lisensi Hasil Seni dan Karakter
6

Pemilik lisensi dapat memberikan izin atas penyalinan dan


pendistribusian hak cipta material seni dan karakter (misalnya, Mickey
Mouse menjadi Miki Tikus).
5. Lisensi Bidang Pendidikan
Gelar akademis termasuk sebuah lisensi. Sebuah Universitas
memberikan izin kepada perorangan untuk memakai gelar akademis.
Misalnya: Diploma I (D1), Ahli Madya Diploma III, (D3), Sarjana (S1),
Magister (S2), Doktor (S3).4

C. Lisensi dalam Dunia Bisnis


Lisensi atau perizinan sangat penting dalam dunia bisnis. Dunia
usaha tidak akan berkembang tanpa adanya perizinan yang jelas menurut
hukum. Perizinan memberikan kemudahan dalam usaha agar mampu
menciptakan iklim usaha yang bergairah. Dengan adanya Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP) yang tercantum dalam UU No. 3 Tahun 1982 tentang
Wajib Daftar Perusahaan, diharapkan gairah dalam dunia bisnis bisa semakin
berkembang ke arah yang positif.
Dalam perizinan dunia bisnis, secara umum dapat dikatakan ada 4
masalah terkait, yaitu:
1. Adanya bentuk dan jenis izin yang diselenggarakan umumnya secara
bertahap, yang diawali dengan letter of intent untuk mendapatkan izin
sementara, izin tetap dan izin perluasan.
2. Adanya bidang kegiatan industri yang dalam pemberian izinnya
dibedakan antara bidang yang dikelola oleh departemen-departemen
seperti perindustrian, pertanian, pertambangan dan energi, serta
departemen lainnya.
3. Adanya badan hukum yang dipersyaratkan dalam perizinan sehingga
terdapat berbagai kemungkinan badan hukum berdasarkan ketentuan

4
https://id.wikipedia.org/wiki/Lisensi, diunduh pada Kamis, 07 Desember 2017 pukul
11.00 WIB.
7

hukum yang berbeda seperti, KUHD, UUPMA, UUPMDN dan


sebagainya.
4. Adanya perdagangan pada dasarnya izin diterbitkan oleh departemen
perdagangan, namun dipersyaratkan pula untuk mendapat rekomendasi
dari departemen terkait, sehingga jalurnya menjadi lebih panjang.
Menurut Keppres No.53 Tahun 1988, disebutkan bahwa,
disebutkan bahwa ada beberapa kegiatan usaha yang tidak dikenakan
ketentuan wajib daftar perusahaan, yaitu sebagai berikut:
1. Usaha atau kegiatan yang bergerak di luar bidang perekonomian dan sifat
serta tujuannya tidak semata-mata mencari keuntungan dan atau laba.
2. Bidang-bidang usaha seperti:
a. Pendidikan formal dalam segala jenis dan jenjang yang
diselenggarakan oleh siapapun
b. Pendidikan non formal yang dibina oleh pemerintah dan
diselenggarakan bersama oleh masyarakat serta dalam bentuk usaha
c. Notaris
d. Penasihat Hukum
e. Praktek perorangan dokter dan praktek berkelompok dokter
f. Rumah Sakit
g. Klinik pengobatan5

D. Ketentuan Pemberian Lisensi dan Pengalihan Hak


Adapun ketentuan mengenai pemberian lisensi adalah sebagai
berikut:
1. Pemegang hak cipta berhak memberikan lisensi kepada pihak lain
berdasarkan surat perjanjian lisensi untuk mendapatkan hak ekslusif.
2. Lingkup lisensi meliputi hak ekslusif yang bersifat komersial untuk
mengumumkan atau memperbanyak selama jangka waktu lisensi
diberikan.

5
Elfa Murdiana, Hukum Dagang: Internalisasi Hukum Dagang dan Hukum Bisnis di
Indonesia, (Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2013), h. 149-150.
8

3. Pelaksanaan perbuatan menerima hak ekslusif disertai dengan kewajiban


pemberian royalti kepada pemegang hak cipta oleh penerima lisensi.
4. Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada pemegang hak cipta oleh
penerima lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak
dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi.6

Selanjutnya untuk memberikan lisensi dalam rahasia dagang


terdapat ketentuan yang berlaku, yaitu:
1. Perjanjian lisensi wajib dicatatkan pada Direktorat Jendral dengan
dikenai biaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
2. Perjanjian lisensi rahasia dagang yang tidak dicatatkan pada Direktorat
Jendral tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga.
3. Perjanjian lisensi sebagaimana dimaksud di umumkan terhadap pihak
ketiga. 7

Secara umum, hak dan lisensi dapat beralih atau dialihkan kepada
pihak lain dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Hak dan lisensi dapat beralih atau dialihkan dengan pewarisan, hibah,
wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh
peraturan perundang-undangan.
b. Pengalihan hak dan lisensi disertai dengan dokumen tentang
pengalihan hak dan lisensi.
c. Segala bentuk pengalihan hak dan lisensi wajib dicatatkan pada
Direktorat Jendral dengan membayar biaya sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang.
d. Pengalihan hak dan lisensi yang tidak di catatkan pada Direktorat
Jendral tidak berakibat hukum pada pihak ketiga.
e. Pengalihan hak dan lisensi diumumkan dalam berita resmi.

6
Burhanuddin, Hukum Bisnis Syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2011), h. 216.
7
Ibid., h. 223.
9

E. Bentuk-Bentuk Perizinan dalam Dunia Bisnis


1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
SIUP adalah surat izin untuk dapat melaksanakan kegiatan
perdagangan. Dasar hukum untuk mendapatkan SIUP adalah UU No. 3
Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, yang menyebutkan bahwa
suatu perusahaan wajib didaftarkan dalam jangka waktu 3 bulan setelah
perusahaan mulai menjalankan usahanya.
Cara untuk melaksanakan ketentuan tersebut, khususnya
ketentuan mengenai izin, telah dikeluarkan Keputusan Menteri
Perdagangan Nomor: 1458/Kp/XII/84 tanggal 19 Desember 1984 tentang
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Dalam keputusan menteri tersebut
disebutkan bahwa setiap perusahaan yang melakukan kegiatan
perdagangan diwajibkan memiliki SIUP. Untuk memperoleh SIUP ini
perusahaan terlebih dahulu wajib mengajukan Surat Permohonan Izin
(SPI) yang dapat diperoleh secara cuma-cuma pada kantor Wilayah
Departemen Perdagangan atau Kamar Perdagangan setempat.
Ketentuan perusahaan yang harus memiliki SIUP dibedakan atas
3 kelompok, yaitu:
a. Perusahaan Kecil, yaitu perusahaan yang mempunyai modal dan
kekayaan bersih (netto) dibawah Rp 25.000.000,00-
b. Perusahaan Menengah, yaitu yaitu perusahaan yang mempunyai
modal dan kekayaan bersih (netto) Rp 25.000.000,00- sampai
dengan Rp 100.000.000,00-
c. Perusahaan Besar, yaitu perusahaan yang mempunyai modal dan
kekayaan bersih (netto) di atas Rp 100.000.000,00-

Sekalipun SIUP merupakan persyaratan pokok, ada perusahaan-


perusahaan yang dibebaskan dari kewajiban untuk memiliki SIUP, yang
terdiri dari:
a. Cabang/perwakilan perusahaan yang dalam menjalankan kegiatan
perdagangan mempergunakan SIUP kantor pusat perusahaan.
10

b. Perusahaan yang telah mendapatkan izin usaha dari departemen


teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
tidak melakukan kegiatan perdagangan.
c. Perusahaan produksi yang didirikan dalam rangka undang-undang
No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.
d. Perusahaan Jawatan (Perjan) dan Perusahaan Umum (Perum).
e. Perushaan Kecil perorangan.

Perusahaan yang memiliki SIUP mempunyai 3 kewajiban yang


harus dilaksanakan, yaitu sebagai berikut.
a. Wajib lapor apabila tidak melakukan lagi kegiatan perdagangan atau
menutup perusahaan disertai dengan pengembalian SIUP, mengenai
pembukaan cabang/perwakilan perusahaan atau mengenai
Penghentian kegiatan atau penutupan cabang/perwakilan perusahaan.
b. Wajib memberikan data/informasi mengenai kegiatan usahanya
apabila diperlukan oleh menteri atau pejabat yang berwenang.
c. Wajib membayar uang jaminan dan biaya administrasi perusahaan
sesuai ketentuan yang berlaku.

2. Perizinan Lembaga Pembiayaan


Untuk mendirikan suatu badan usaha pembiayaan, maka terlebih
dahulu harus meminta izin dengan surat permohonan kepada Menteri
Keuangan dengan melampirkan hal-hal sebagai berikut:
a. Akta pendirian perusahaan pembiayaan yang telah disahkan dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b. Bukti pelunasan modal disetor untuk perseroan terbatas atau
simpanan pokok dan simpanan wajib untuk koperasi, pada salah satu
bank di Indonesia.
c. Contoh perjanjian pembiayaan yang akan digunakan.
d. Daftar susunan pengurus perusahaan pembiayaan.
e. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan.
11

f. Neraca pembukuan perusahaan pembiayaan.


g. Perjanjian perusahaan patungan antara pihak asing dan pihak
Indonesia bagi perusahaan patungan yang di dalamnya tercermin
arah Indonesianisasi dalam kepemilikan saham.

3. Perizinan di Bidang Industri


Perizinan dalam bidang industri telah diatur secara khusus
dengan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1987 tentang Izin Usaha
Industri, dimana pada penjelasannya dijelaskan bahwa dalam rangka
pencapaian pertumbuhan industri, aspek perizinan akan ikut memainkan
peranan yang amat penting.
Industri yang dimaksud dengan UU No. 5 tahun 1984 tentang
Perindustrian adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah,
bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang
dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan
rancang bangun dan rekayasa industri.
Ada dua macam izin usaha industri, yaitu:
a. Izin tetap, yaitu izin usaha industri yang diberikan secara definitif
kepada perusahaan industri yang telah berproduksi secara komersial.
Izin tetap ini berlaku untuk seterusnya selama perusahaan industri
bersangkutan berproduksi.
b. Izin perluasan, yaitu izin usaha industri yang diberikan kepada
perusahaan industri yang melakukan penambahan kapasitas dari atau
jenis produk atau komoditi yang telah diizinkan.

4. Perizinan menurut Undang-Undang Gangguan (UUG)


Izin UUG sebenarnya bertujuan untuk memberikan
perlindungan kepada warga/penghuni disekitar lokasi suatu usaha. Sebab
tidak jarang terjadi suatu tempat usaha ditutup oleh pemerintah hanya
karena usaha tersebut diprotes oleh warga sekitar. Masih banyak
masyarakat yang belum mengetahui adanya izin UUG ini. bahwa
12

pemikiran usaha yang dijalankan berskala kecil, tidak diperlukan adanya


izin adalah tidak benar. Izin UUG ini sangat diperlukan untuk
berlangsung secara aman.
Untuk mendapatkan izin UUG, pemohon berkewajiban mengisi
formulir yang telah disediakan dengan dilampiri beberapa jenis dokumen
seperti:
a. Gambar Situasi,
b. Gambar Ruangan,
c. Surat Bukti Pemilikan Tanah dan Bangunan atau Persetujuan
Pemilik,
d. Izin Mendirikan Bangunan (IMB),
e. Izin Penggunaan Bangunan (IPB),
f. Akta Badan Hukum (bila diperlukan),
g. Rekomendasi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) bila perlu,
h. Surat Persetujuan Tetanggga,
i. Akta Jual Beli Perusahaan/Penyerahan/Hibah/Warisan (bila
diperlukan),
j. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
k. Pengantar dari Lurah Setempat yang Diketahui Camat.
Setelah berkas permohonan lengkap diisi dan dilampiri dengan
dokumen yang diperlukan, berkas diajukan kepada Kepala Bagian
Ketertiban Pemerintah daerah. Izin UUG dapat diberikan selambat-
lambatnya25 hari sejak permohonan diajukan. Menurut ketentuan
bahwa izin UUG harus didaftarkan ulang setiap 5 tahun sekali.8

8
Elfa Murdiana, Hukum Dagang.., h. 150-154.
13

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Lisensi dalam pengertian umum dapat diartikan memberi izin.
Pemberian lisesni dapat dapat dilakukan jika ada pihak yang memberi lisensi
dan pihak yang menerima lisensi, hal ini termasuk dalam sebuah perjanjian.
Perjanjian lisensi yaitu pemberian hak bukan pengalihan hak untuk
menggunakan merek tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian jenis barang
dan jasa yang didaftarkan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.
Macam-macam lisensi meliputi: lisesni atas hak karya intelektual,
lisensi massal, lisensi merek barang atau jasa, lisensi seni dan karakter, dan
lisensi bidang pendidikan. Maka lisensi sangat dibutuhkan dalam dunia
bisnis.

B. Saran
Sebaiknya jangan hanya karena keuntungan semata kita merugikan
orang lain. Agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, kita melakukan
hal yang dapat merugikan orang lain. Berbisnislah dengan cara yang benar
dan sesuai etika bisnis.
14

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin. Hukum Bisnis Syariah. Yogyakarta: UII Press. 2011.


Elfa Murdiana. Hukum Dagang: Internalisasi Hukum Dagang dan Hukum Bisnis
di Indonesia. Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta. 2013.
Gunawan Widjaya. Lisensi atau Waralaba Suatu Panduan Praktis. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada. 2004.
https://id.wikipedia.org/wiki/Lisensi.