Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada asumsi gas ideal, dinyatakan bahwa semua arah dari kecepatan
molekul memiliki kecepatan yang sama. Asumsi ini memberikan petunjuk
bahwa arah kecepatan molekul pada saat tertentu bisa dianggap ke segala arah
dengan kecepatan yang sama. Dalam pergerakannya, dapat dipahami bahwa
atom atau molekul akan saling bertumbukan satu dengan yang lainnya.
Tumbukan ini akan semakin sering terjadi apabila pergerakan molekul
semakin besar, hal ini terjadi saat temperaturnya semakin tinggi. Untuk
mengetahui besar tumbukan yang terjadi, maka diperlukannya menentukan
jumlah tumbukan rata-rata molekul. Dalam menghitung jumlah tumbukan
rata-rata, kita memandang pergerakan suatu molekul. Untuk mempermudah
penentuannya kita menganggap semua molekul gas kecuali molekul target
adalah diam dan tersebar merata dalam ruang.
Pada kenyataannya, semua molekul bergerak sehingga anggapan bahwa
pada saat tertentu semua molekul gas diam kecuali molekul target yang selalu
bergerak tidak sesuai dengan hasil sesungguhnya. untuk mendekati keadaan
sesungguhnya, dapat dibuat suatu pendekatan dengan menganggap bahwa
semua molekul gas mempunyai kecepatan sama dan tetap (konstan). anggapan
teoritis ini memberikan dasar perhitungan atau penentuan jumlah tumbukan
serta jalan bebas rata-ratanya. Selain itu, kita dapat mengetahui distribusi jalan
bebas rata-rata molekul tersebut. Fenomena transport semua proses
irreversible alam static yang berasal dari gerakan acak molekul secara terus
menerus, yang kebanyakan diamati pada cairan (liquid).
Oleh karena itu, kami merasa bahwa diperlukannya membuat makalah
untuk menyelidiki permasalahan yang berkaitan dengan fenomena transport.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat
dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas. Adapun permasalahan
yang dimaksud sebagai berikut.
1. Bagaimana tumbukan antar molekul dan frekuensi tumbukan?

1
2. Bagaimanaa jalan bebas rata-rata molekul?
3. Bagaimana distribusi lintasan bebas molekul?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang diperoleh dari penulisan makalah ini sebagai
berikut.
1. Mampu menjelaskan tumbukan antar molekul dan frekuensi tumbukan
2. Mampu menjelaskan jalan bebas rata-rata.
3. Mampu menjelaskan distribusi lintasan bebas molekul.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan mampu diperoleh dari penulisan
makalah ini sebagai berikut.
1. Bagi Penulis
Melalui penulisan makalah “Fenomena Transport” penulis
diharapkan mendapat banyak ilmu untuk memahami dan menganalisis
materi ini.
2. Bagi Pembaca
Melalui membaca makalah “Fenomena Transport” pembaca
diharapkan mampu memahami konsep ini serta dapat dijadikan sebagai
bahan acuan untuk membuat makalah berikutnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tumbukan antar Molekul dan Frekuensi Tumbukan


Model kinetika gas memberikan gambaran kuantitatif pada peristiwa
yang berlangsung dalam gas, dan dapat pula dipergunakan dalam menghitung
frekuensi tumbukan dan jarak bebas rata-rata yang dialami oleh gas dalam
pergerakannya yang acak. Frekuensi tumbukan merupakan jumlah tumbukan
yang dialami oleh molekul gas persatuan waktu. Sementara jarak bebas
merupakan perjalanan rata-rata molekul yang bbas tumbukan (jarak rata-rata
diantara tumbukan) (Ikhsan, 2013).
Tumbukan terjadi jika dua molekul saling mendekat dalam jarak 𝑑
(diameter tumbukan). Molekul gas diasumsikan sebagai bola keras, dan besar
𝑑 (diameter tumbukan) untuk molekul yang identik, yaitu:
𝑑𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 = 𝑑𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙
Sementara itu untuk molekul yang tidak identik yang memiliki model bola
keras A dan B, maka besar diameter tumbukannya, yaitu:
1
𝑑𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 = (𝑑𝐴 + 𝑑𝐵 )
2

Gambar 1. Tampang lintang tumbukan tak identik

3
Gambar 2. Pipa wadah gas yang saling bertumbukan
Jumlah tumbukan (𝑁𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 ) yang dihasilkan oleh suatu molekul, yaitu :
𝑁𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 = 𝑉𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ × 𝛿
Dimana:
𝑁𝑚𝑜𝑙𝑒𝑘𝑢𝑙
𝛿=
𝑉𝑔𝑎𝑠
Pada wadah gas tersebut memiliki luas penampang (𝜎), yaitu:
𝜎 = 𝜋𝑑 2
dan panjang penampang (L), yaitu:
𝐿 = 𝑣̅ ∆𝑡
maka volume wadah pada gambar (2) adalah sebagai berikut.
𝑉𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑔𝑎𝑠 = 𝜎𝑣̅ ∆𝑡
Dimana:
𝑣̅ adalah kecepatan rata-rata
∆𝑡 adalah perubahan waktu
Jika suatu molekul gas memiliki volume yang memiliki besar yang sama
dengan volume wadah gas , maka molekul tersebut akan mengalami tumbukan
dengan gas lainnya. Jumlah tumbukan yang terjadi dalam wadah tersebut sama
dengan jumlah tumbukannya, yaitu:
𝑁𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 = 𝜎𝑣̅ ∆𝑡𝛿
Frekuensi tumbukan z yang didefinisikan sebagai jumlah tumbukan yang
dihasilkan oleh suatu molekul persatuan waktu. Dapat dirumuskan sebagai
berikut.
𝑧 = 𝛿𝜎𝑣̅ (1)

4
Persamaan (1) dapat diturunkan dari suatu asumsi bahwa hanya satu molekul
yang bergerak menumbuk molekul lainnya., pada kenyataannya masing-
masing molekul bergerak dengan kecepatan yang belum tentu sama, apalagi
molekul tersebut memiliki massa yang tidak sama (𝑚𝐴 ≠ 𝑚𝐵 ) dengan
diameter yang berbeda pula (𝑑𝐴 ≠ 𝑑𝐵 ). Maka dari itu, seharusnya kecepatan
rata-rata relatifnya sebesar, sebagai berikut.
8𝑘𝑏 𝑇
𝑣𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 = √ (2)
𝜋𝜇

Dimana 𝜇 adalah massa tereduksi molekul, dengan nilai 𝜇 adalah:


𝑚 𝑚
𝜇 = 𝑚 𝐴+𝑚𝐵 (3)
𝐴 𝐵

Jika massa molekul A dan molekul B adalah sama, 𝑚𝐴 = 𝑚𝐵 , maka massa


tereduksi molekul akan menjadi:
𝑚𝐴 𝑚𝐵 𝑚𝐴2 𝑚𝐴
𝜇= = =
𝑚𝐴 + 𝑚𝐵 2 2
Sehinggga kecepatan rata-rata relatif (𝑣̅𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 ) dapat dirumuskan sebagai
berikut ini.

8𝑘𝑏 𝑇
𝑣̅𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 = √ 𝜋𝑚
2

8𝑘𝑏 𝑇
𝑣̅𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 = √ × √2
𝜋𝑚

𝑣̅𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 = 𝑣̅ √2 (4)
Oleh karena itu, frekuensi tumbukan dua molekul gas identik dengan massa
sama akan memiliki kecepatan relatif yang besarnya dinyatakan dengan
persamaan berikut ini.
𝑧 = 𝛿𝜎𝑣̅√2 (5)
Adapun penjelasan dari persamaan (5) yaitu frekuensi tumbukan
meningkat jika suhu system dinaikkan. Pengaruh suhu pada frekuensi
tumbukkan ditunjukkan pada persamaan kecepatan relatif, yang
memperlihatkan bahwa peningkatan suhu system menyebabkan peningkatan

5
kecepatan rata-rata relatif 𝑣̅𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 dari molekul-molekul yang bertumbukan.
Hal ini yang menyebabkan frekuensi tumbukan akan meningkat.
𝑁
Rapat jumlah molekul, yaitu bagi proses yang terjadi terhadap gas yang
𝑉

identik dengan gas ideal, sehingga dapat diwujudkan dengan persamaan


berikut ini.
𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇
𝑁
𝑃𝑉 = 𝑅𝑇
𝑁𝐴
𝑁 𝑃
= 𝑅𝑇 = 𝐶 (6)
𝑁𝐴 𝑉
𝑁 𝑃𝑁𝐴
= (7)
𝑉 𝑅𝑇

Terlihat pada persamaan (6) maka frekuensi tumbukan gas yang identik pada
persamaan ( dapat ditulis dalam bentuk persamaan lain sebagai berikut:
𝜎𝑣̅𝑃√2
𝑧= atau
𝑘𝐵 𝑇

𝑧 = 𝜎𝑣̅ 𝑁𝐴 𝐶√2 (8)


Persamaan (8) menunjukkan bahwa pada suhu tertentu, frekuensi
tumbukan berbanding lurus dengan tekanan 𝑃 dan konsentrasi gas 𝐶. Jika
tekanan sistem atau konsentrasi gas diperbesar, maka kerapatan molekul gas
akan meningkat. Sebagai akibatnya, frekuensi tumbukan juga menjadi lebih
besar.
Sistem di suatu wadah bervolume 𝑉 terdapat gas yang jumlahnya 𝑁.
Frekuensi tumbukan menyatakan jumlah tumbukan per satuan waktu yang
dialami oleh suatu molekul gas. Frekuensi tumbukan total yang terjadi dalam
suatu sistem gas yang mengandung sejumlah molekul gas (𝑗, 𝑖) dihitung
dengan rapat tumbukan 𝑍𝑗𝑖 . 𝑍𝑖𝑗 mengungkapkan jumlah total tumbukan per
satuan waktu per satuan volume. Rapat tumbukan molekul-molekul identik
(misalnya molekul A dan A) dituliskan sebagai 𝑍𝐴𝐴 , sedangkan rapat
tumbukan molekul yang tidak identik (misalnya molekul A dan B) dituliskan
sebagai 𝑍𝐴𝐵 .
Besarnya rapat tumbukan dihitung dengan mengalikan frekuensi
tumbukan z dengan rapat jumlah molekul gas (𝑗, 𝑖). Selain itu, faktor
penghitungan ganda (double counting factor) juga diperhitungkan untuk setiap

6
tumbukan yang dialami oleh dua molekul identik. Sebagai contoh, jika dua
molekul A bertumbukan, jumlah tumbukan keduanya dihitung sekali, tidak
dua kali. Secara matematik, rapat tumbukan dalam sistem gas yang identik
harus memperhitungkan perkalian dengan angka 1/2 dari rapat jumlah
molekul sebagai berikut.
𝑁
𝑍𝐴𝐴 = 2𝑉 (𝑧) (9)
1
𝜎𝑣̅ 𝑁 2 4𝑘𝐵 𝑇 2
𝑍𝐴𝐴 = ( ) = 𝜎 ( 𝜋𝑚 ) (𝑁𝐴2 𝐶 2 ) (10)
√2 𝑉

Rapat tumbukan molekul-molekul yang tidak identik (misalnya 𝐽 dan 𝐼)


dituliskan sebagai 𝑍𝐽𝐼 dihitung dengan persamaan berikut:
𝑁𝐽 𝑁𝐼
𝑍𝐽𝐼 = 𝜎𝑣̅𝑟𝑒𝑙 (11)
𝑉2
1
2 8𝑘𝑇 2 𝑁𝐽 𝑁𝐼
𝑍𝐽𝐼 = 𝜋. 𝑑𝐽𝐼 (𝜋.𝜇 ) (12)
𝐽𝐼 𝑉2
1
2 8𝑘𝑇 2
𝑍𝐽𝐼 = 𝜋. 𝑑𝐽𝐼 (𝜋.𝜇 ) (𝑁𝐴 )2 . 𝐶𝐽 . 𝐶𝐼 (13)
𝐽𝐼

Dimana:
𝐶𝐽 adalah konsentrasi molekul 𝐽,
𝑁𝐽 adalah jumlah molekul 𝐽,
𝑁𝐴 adalah tetapan Avogadro,
𝜇𝐽𝐼 adalah masa tereduksi molekul 𝐽 dan 𝐼,
1
𝑑𝐽𝐼 adalah diameter tumbukan molekul 𝐽 dan 𝐼, di mana 𝑑𝐽𝐼 = 2 (𝑑𝐽 + 𝑑𝐼 ).

Berikut ini adalah beberapa molekul gas berupa diameter tumbukan dan
frekuensi tumbukannya.
Tabel 1. Tumbukan beberapa gas pada suhu kamar 𝑝 = 1 𝑎𝑡𝑚

Diameter Diameter Frekuensi

No tumbukan Tumbukan tumbukkan


𝒛
𝒅/𝑨̇ 𝒅𝒆𝒕−𝟏
𝟏𝟎𝟗
1 𝐻2 2,73 14,3
2 𝐻𝑒 2,18 6,6
3 𝑁2 3,74 7,2

7
4 𝑂2 3,57 6,2
5 𝐴𝑟 3,62 5,7
6 𝐶𝑂2 4,56 8,6

2.2 Jalan Bebas Rata-Rata


Atom atau molekul bergerak dengan berbagai macam kecepatan ke
segala arah. Dalam pergerakannya, atom atau molekul dapat menimbulkan
tumbukan antara satu dengan yang lainnya. Tumbukan ini dipengaruhi oleh
temperatur, semakin tinggi temperatur maka pergerakan atau tumbukan yang
terjadi antara atom atau molekul akan semakin besar. Untuk mengetahui besar
tumbukan tersebut, maka diperlukan usaha untuk menentukan jumlah
tumbukan rata-rata per satuan waktu.
Berdasarkan sifat-sifat gas, molekul memiliki ukuran tertentu dan
membuat tumbukan dengan molekul yang lain. Pada kajian teori kinetik gas
ideal, ukuran molekul dianggap tidak ada atau dianggap sebagai titik. Pada
gambar 3, molekul tertentu dinyatakan dengan bulatan berwarna hitam yang
bergerak di antara molekul yang lain atau yang dinyatakan dengan bulatan
berwarna putih.

Gambar 3. Jalan bebas molekul


Masing-masing lintasan antara tumbukan disebut lintasan bebas. Jalan
bebas molekul memiliki panjang yang bermacam-macam sesuai dengan
tumbukan berturut-turut yang terjadi secara tak teratur. Panjang rata-rata dari
jalan bebas ini disebut jalan bebas rata-rata. Jarak rata-rata diantara tumbukan-
tumbukan yang beruntun seperti itu dinamakan jalan bebas rata-rata (mean
free path) yang disimbolkan dengan λ (Sunyono, 2012).

8
2.2.1 Jalan Bebas Rata-Rata pada Molekul Statis
Untuk menentukan jumlah tumbukan rata-rata, kita dapat memandang
pergerakan suatu molekul. Dengan menganggap semua molekul lainnya
kecuali molekul target adalah diam dan tersebar merata dalam ruang.
Anggapan molekul statis tentunya tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga
hasilnya tidak cocok dengan keadaan sebenarnya, tetapi perhitungan teoritis
ini telah memberikan dasar perhitungan atau penentuan jumlah tumbukan serta
jalan bebas rata-rata yang dihasilkan. Untuk menghitung lintasan bebas rata-
rata, kita dapat mengasumsikan:
1) Pada saat tertentu, semua molekul gas diam kecuali satu molekul yang
selalu bergerak.
2) Molekul yang bergerak memiliki laju v.
3) Molekul-molekul berbentuk bola dengan jari-jari ρ.
4) Ketika terjadi tumbukan, jarak pusat tumbukan adalah 2ρ.
5) Molekul yang bertumbukan, satu dianggap membesar dengan jari-jari 2ρ
sedangkan molekul yang lain mengecil menjadi titik.

Gambar 4. Penampang tumbukan


Pada gambar 4, penampang bola yang membesar dengan jari-jari 2ρ disebut
penampang tumbukan. Luas penampang tumbukan (σ) adalah:
   2  2  4 2 (13)
Dalam selang waktu t detik, molekul menempuh jarak vt sepanjang
lintasan zig-zag tak beraturan dan melewati volume silinder yakni vt serta luas
penampangnya σ. Dalam waktu t detik, molekul akan menumbuk semua
molekul yang pusatnya ada pada volume yang dilewati seperti yang pada
gambar 5.

9
Gambar 5. Volume yang dilewati molekul gas bergerak
Jika n adalah jumlah molekul per satuan volume, maka dalam waktu t
detik akan terjadi tumbukan sebanyak nvt . Jumlah tumbukan per satuan
waktu atau frekuensi tumbukan ditandai dengan z yang dapat dirumuskan
dengan:
nvt
z  nv (14)
t
Dalam t detik lintasan yang dilewati adalah vt . Dalam t detik, terjadi
tumbukan sebanyak nvt kali yang berarti terjadi pula nvt jalan bebas.
Dengan demikian, batas jalan bebas rata-rata molekul adalah:
vt 1
  (15)
nvt n
z dapat juga dinyatakan dengan jalan bebas rata-rata (λ) yang dirumuskan
dengan:
1
z  nv  v (16)

2.2.2 Jalan Bebas Rata-Rata pada Molekul Berkecepatan Tetap


(Konstan)

Pada kenyataannya semua molekul bergerak, sehingga adanya anggapan


bahwa pada saat tertentu molekul gas diam kecuali molekul target yang selalu
bergerak tidak sesuai dengan hasil sesungguhnya. Untuk mendekati keadaan
sesungguhnya, kita dapat menganggap bahwa semua molekul memiliki
kecepatan yang sama dan tetap (konstan). Dengan adanya anggapan ini, pada
tahun 1857 Clausius menentukan jumlah tumbukan dan jalan bebas rata-rata.

10
Gambar 6. Kecepatan relatif antara dua molekul dengan
kecepatan sama dan tetap (konstan).
Dengan menganggap semua molekul sama dan tetap (konstan), maka
dalam menentukan jumlah tumbukan dan jalan bebas rata-rata perlu
menggantikan kecepatan molekul pada pembahasan sebelumnya dengan
kecepatan relatif vr di antara molekul tersebut. Kecepatan relatif (vr)
bergantung pada sudut antara kedua kecepatan bersangkutan, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 6, sehingga vr memiliki bermacam-macam harga.
Jika sudut antara kedua kecepatan adalah θ, maka dapat dirumuskan:

vr  v 2  v 2  2v 2 cos 

v r  2v 2 1  cos  


v r  2v 2 2 sin 2  2  
vr  2v sin  2  (17)
Kecepatan relatif (vr) rata-rata dapat ditentukan dengan menentukan
harga rata-rata dari faktor sin  2  . Harga rata-rata f  ,   pada koordinat bola
dengan satu satuan jari-jari diperoleh melalui mengalikan fungsi ini dengan
suatu elemen luas dA mengintegrasikan untuk bola dan membaginya dengan
seluruh luas bola, yakni:
 2
f  ,  r    f  , r sin drd
1
4r 2 0 0

 2
f  ,  r    f  , r
1 2
sin dd
4r 2 0 0

 2
f  ,  r    f  , sin dd
1
(18)
4 0 0

11
Harga rata-rata dari faktor sin  2  adalah:
 2
sin  2 r 
1
  sin  r sin drd
4r 2
2
0 0

 2
sin  2 r
 
1
  sin  r
2
sin dd
4r 2
2
0 0

 2
sin  2 r
 
1
  sin  sin dd
4
2
0 0


sin  2 r 1 1
cos  2   cos 32  d
2 0 2


sin  2 r  2 sin  2   sin  32  
1 2
4 3 0

16 2 2
sin  2 r     (19)
43 3 3
Kecepatan relatif (vr) rata-rata adalah:
vr  2vsin  2 r

2 4
v r  2v   v (20)
3 3
Jadi, jumlah tumbukan rata-rata per satuan waktu pada molekul yang
berkecepatan sama dan tetap (konstan) menurut Clausius dapat ditentukan
sebagai berikut.
4
z  nv r  nv (21)
3
Sedangkan jalan bebas rata-rata menurut Clausius dapat ditentukan sebagai
berikut.
v

z
3
 (22)
4 n
Jumlah tumbukan rata-rata per satuan waktu akan bertambah dengan adanya
4 3
faktor dan jalan bebas rata-rata berkurang dengan faktor .
3 4

12
2.3 Distribusi Lintasan Bebas Molekul
Pada bagian ini, akan dicari bentuk distribusi dari lintasan bebas molekul
dengan memisalkan panjang lintasan bebas dinyatakan dengan x, sehingga
yang dicari dalam persoalan ini adalah berapa banyaknya molekul yang
memiliki jalan bebas dengan panjang dari x sampai x + dx.
Untuk membahas masalah ini, dimisalkan pada suatu saat dalam suatu
volume terdapat No molekul. Masing-masing molekul bertumbukan satu
dengan yang lainnya. Setiap tumbukan memindahkan satu molekul dari
kelompok No tadi. Setelah beberapa saat dari permukaan tumbukan, jumlah
molekul yang masih dalam kelompok adalah N, dengan N menyatakan jumlah
molekul yang belum bertumbukan. Dari molekul yang masih ini, dapat
dibayangkan jalan bebas sepanjang x, kemudian pada saat berikutnya jalan ini
bertambah dengan dx, sudah tentu pada penambahan jarak ini akan ada lagi
tumbukan dan pindah dari kelompok (Sujanem, TT).
Jumlah molekul yang pindah atau keluar dari kelompok selama
pertambahan jarak dx sebanding dengan jumlah molekul N yang masih tersisa
dalam kelompok dan sebanding dengan dx. Karena setiap tumbukan
memindahkan sebuah molekul dari kelompok dan pengurangan N, maka
perubahan di dalam N, dapat dinyatakan sebagai:
dN = - Pe N dx (23)
dengan Pe menyatakan konstanta pembanding yang disebut peluang
tumbukan, yang besarnya bergantung pada kondisi fisik dan molekul gas.
Tanda minus pada persamaaan diatas menyatakan jumlah molekul yang keluar
karena tumbukan. Dari persamaan ini dapat ditulis:
dN
  Pe dx
N
N x
dN
 N  0  Pe dx
N0

ln N NN 0
  Pe x 0
x

ln N  ln N 0   Pe x
N
 e  Pe x
N0

13
N  N 0 exp  Pe x (24)
Apabila harga N ini dimasukkan dalam persamaan:
dN   Pe Ndx (25)
maka, diperoleh:
dN   Pe N 0 exp Pe xdx

dN   Pe N 0 exp  Pe xdx (26)


Selanjutnya bila tanda minus dihilangkan didapatkan persamaan:
dN  Pe N 0 exp Pe xdx (27)
dimana dN menyatakan jumlah molekul yang memiliki jalan bebas dengan
panjang dari x sampai (x + dx). Dengan mengetahui perumusan dN maka 
dapat dihitung dengan perumusan sebagai berikut.
x

 x dN
 0

N0

xP e N 0 exp  Pe x dx


 0

N0

  Pe  x exp  Pe xdx (28)
0

Dengan memanfaatkan tabel integral untuk bentuk integral difinit seperti di


atas, maka diperoleh solusi dari integral di atas adalah sebagai berikut.

(n  1)
x
n
exp  axdx 
0 a n1

(n  1)  n(n)  n x n1e  x dx (29)
0

Di mana n=1, a =Pe , sehingga hasil dari integrasi di atas adalah sebagai
berikut.

Pe  x 0 e  x dx
 0

Pe2

14

 ex
 0
Pe

1 1
 
 0
e e

Pe
1
 (30)
Pe

Pernyataan  berbanding terbalik dengan Pe . Karena besarnya

1
 , maka Pe  n Selanjutnya dapat pula ditulis:
n
N  N 0 exp  Pe x 

 x
N  N 0 exp    (31)
 
Substitusi persamaan (31) ke persamaan (27):

dN   Pe N 0 exp  Pe xdx

N0  x
dN   exp   dx (32)
  
Jumlah jalan bebas atau distribusi jalan bebas oleh karenanya
bergantung kepada daerah jalan bebas yang kita pandang.
 x N
Dari persamaan N  N 0 exp    diperoleh grafik hubungan antara
  N0

x
terhadap yaitu sebagai berikut:

15
0,37

0,99

x
Gambar 7. Grafik hubungan N terhadap
N0 

N0  x dN
Dari persamaan dN  exp   dx diperoleh grafik hubungan antara
   dx
terhadap x yaitu sebagai berikut:

Luas di bawah grafik = N

dN
Gambar 8. Grafik terhadap x
dx
Beberapa Contoh Distribusi Jalan Bebas
Sebagai gambaran akan kita lihat di sini jumlah jalan bebas untuk daerah
jalan bebas tertentu dalam rangka distribusi jalan bebas ini. Jumlah jalan bebas

16
bergantung kepada daerah jalan bebas, yang kita pandang. Bagi suatu daerah
dx dari jalan bebas itu, jumlah bebas merupakan luas yang terarsir pada
gambar 7 di atas.
Misalkan kita ingin menentukan jumlah jalan bebas yang terletak di antara x 1
dan x2 maka:
x2 x
No 
N
  e  dx
x1

x2 x2
 
N  N o (e 
e 
) (33)
Atau persentasenya adalah sebagai berikut.
x x
N  2  2
 (e   e  ) 100% (34)
No
Demikian juga apabila kita' ingin mengetahui jumlah jalan bebas yang lebih
besar dari suatu harga L, maka dapat diperoleh:
 x
No 
N
 e
L

dx

L

N  Noe 
(35)
Atau dalam persentase diperoleh sebagai berikut.
L
N 
 e  100% (36)
No

17
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan materi mengenai fenomena transport yang
telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan:
1) Frekuensi 𝑧 tumbukan yang didefinisikan sebagai jumlah tumbukan yang
dihasilkan oleh suatu molekul per satuan waktu, dirumuskan sebagai
berikut.
𝑁
𝑧= 𝜎𝑣̅
𝑉
2) Panjang rata-rata dari jalan bebas disebut jalan bebas rata-rata yang
disimbolkan dengan 𝜆. Jumlah tumbukan per satuan waktu atau frekuensi
tumbukan (𝑧) dinyatakan dengan jalan bebas rata-rata (𝜆), maka:
1
z  nv  v

3) Jumlah molekul yang pindah atau keluar dari kelompok selama
pertambahan jarak 𝑑𝑥 sebanding dengan jumlah molekul 𝑁 yang masih
tersisa dalam kelompok dan sebanding dengan 𝑑𝑥. Karena setiap
tumbukan memindahkan sebuah molekul dari kelompok dan pengurangan
𝑁, maka perubahan di dalam 𝑁, dapat dinyatakan sebagai:
𝑑𝑁 = −𝑃𝑒 𝑁𝑑𝑥
3.2 Saran
Berdasarkan makalah yang telah dibahas, maka dapat disarankan untuk
pembaca agar lebih mendalami peristiwa mengenai fenomena transport bukan
hanya dengan menghafal, melainkan dengan mengimplikasikannya pada
kehidupan sehari-hari.

18