Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pulpa gigi adalah suatu jaringan lunak yang terletak di daerah tengah
pulpa. Jaringan pulpa membentuk, mendukung, dan dikelilingi oleh dentin.
Fungsi utama pulpa adalah formatif, yaitu membentuk odontoblast yang
akan membentuk dentin pada tahap awal perkembangan gigi. Selain itu,
odontoblast juga berinteraksi dengan sel-sel dari epitel dentin dan
membentuk email. Setelah gigi terbentuk, pulpa menyelenggarakan
sejumlah fungsi sekundernya yang berkaitan dengan sensivitas gigi,
hidrasi, dan pertahanan.
Di Indonesia, dengan segala kemajuan ilmu teknologi, pengobatan
penyakit karies gigi masih tertinggal oleh negara-negara lain. Meskipun
telah banyak yang dicapai, prevalensi karies gigi masih tinggi dan tidak
menurun seperti pada negara-negara maju. Mempertahankan gigi geligi
sulung dalam keadaan sehat dan nonpatologis adalah suatu hal yang
penting dan harus diupayakan. Tujuannya agar diperoleh kemampuan
mastikasi yang baik, terpeliharanya estetika dan fungsi mempertahankan
ruang bagi gigi permanen, perkembangan fonetik dan pencegahan terhadap
kebiasaan buruk. Masih tingginya tingkat karies dan penyakit pulpa pada
gigi anak menyebabkan perlunya dilakukan perawatan untuk
mempertahankan fungsi-fungsi pulpa.
Perawatan endodontic adalah suatu usaha menyelamatkan gigi
terhadap tindakan pencabutan agar gigi dapat bertahan dalam
soket. Karena itu sebaiknya seorang klinisi (Dokter Gigi), harus mengtahui
prinsip-prinsip ilmu endodontic secara benar yaitu pengetahuan
mendiagnosis, cara merestorasi jaringan gigi yang hilang dan
mempertahankan sisa jaringan, sehingga gigi tersebut dapat bertahan
selama mungkin di dalam mulut dan menghindari tindakan pencabutan
agar gigi dapat bertahan di dalam soketnya, sehingga dapat memperlambat

1
resorpsi tulang alveolar gigi terkait. Keuntungan secara psikologis yang
diperoleh adalah dapat mempertahankan gigi dalam keadaan vital, pasien
tetap memiliki gigi asli dalam keadaan sehat, karena gigi dapat berfungsi
seperti semula, dan gigi dapat dipakai sebagai tumpuan gigi tiruan lepasan.
Mempertahankan gigi dalam keadaan vital adalah usaha perawatan yang
dilakukan untuk melindungi pulpa yang terluka dari peradangan dan
kerusakan lebih lanjut. Secara mendasar pulpa memeberi rangsangan
bqakteri, kemis, toksin, dan termis serta hal lain, dengan mengadakan
peradangan local. Selama perawatan, semua jaringan pulpa harus
dikeluarkan, saluran akar dibersihkan dan diirigasi, permukaan saluran
disterilkan sebagai yang ditentukan oleh pemeriksaan bakteriologik, dan
saluran diobturasi dengan baik untuk mencegah kemungkinan infeksi
kembali.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pulpektomi ?
2. Apa saja indikasi dan kontra indikasi pulpektomi ?
3. Apa saja klasifikasi pulpektomi ?
4. Bagaimana teknik perawatan pulpektomi ?
5. Apa saja macam-macam pulpektomi ?
6. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan pulpektomi ?

C. Tujuan
1. Untuk menjelaskan pengertian pulpektomi
2. Untuk menjelaskan indikasi dan kontra indikasi pulpektomi
3. Untuk menjelaskan klasifikasi pulpektomi
4. Untuk menjelaskan teknik perawatan pulpektomi
5. Untuk menjelaskan macam-macam pulpektomi
6. Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pulpektomi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pulpektomi
Pulpektomi adalah tindakan pengambilan seluruh jaringan pulpa
dari seluruh akar dan korona gigi. Pulpektomi merupakan perawatan untuk
jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel
atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun
perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar dari pada pulpa
capping atau pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya
dapat diprediksi dengan baik. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran
diangkat serta seluruh akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil
perawatan yang baik pula.
Pulpektomi adalah suatu tindakan pembuangan jaringan nekrotik
dan saluran akar gigi sulung yang pulpanya nonvital atau mengalami
radang kronis. Tujuannya adalah untuk menghilangkan infeksi dan
mempertahankan fungsi gigi sulung hingga waktunya tanggal tanpa
membahayakan benih gigi permanen dan kesehatan anak.

B. Indikasi dan KontraIndikasi Pulpektomi


1. Indikasi
a. Gigi sulung dengan pulpitis ireversibel, atau gigi yang semula akan
dilakukan pulpotomi tapi ternyata pulpa menunjukkan tanda-tanda
pulpitis ireversibel (misalnya, perdarahan berlebihan yang tidak
dapat dikendalikan dengan kapas dalam beberapa menit, sehingga
harus dilakukan pulpektomi
b. Inflamasi kronis atau nekrosis pulpa (misalnya, suppration,
purulence).
c. Tidak ada resorpsi internal, resorbsi eksternal masih terbatas
d. Kegoyangan gigi minimal,

3
e. Tidak ada gigi permanen pengganti.

2. Kontra Indikasi pulpektomi gigi sulung


a. Pada gigi dengan kerusakan yang luas dan tidak dapat direstorasi
b. Panjang akar kurang dari 2 /4 disertai resorbsi internal atau eksternal
c. Kelainan pada pulpa yang menyebabkan dasar pulpa terbuka ke arah
furkasi
d. Infeksi periapikal yang melibatkan benih gigi pengganti
e. Pasien dengan penyakit kronis.

C. Klasifikasi Pulpektomi
1. Pulpektomi Vital
Biasanya sering dilakukan pada gigi anterior dengan karies yang telah
meluas kearah pulpa, atau gigi yang mengalami fraktur. Berikut
merupakan tahap perawatan pulpektomi vital.

4
2. Pulpektomi Devital
Biasanya sering dilakukan pada gigi posterior yang telah mengalami
pulpitis atau dapat juga pada gigi anterior pada pasien yang tidak
tahan terhadap anestesi.
Berikut merupakan gambar tahapan perawatan pulpektomi devital :

3. Pulpektomi Non Vital


Perawatan saluran akar ini sering dilakukan pada gigi anterior yang
mempunyai saluran akar satu, walaupun kini telah banyak dilakukan
pada gigi posterior dengan saluan akar lebih dari satu. Gigi yang
dirawat secara pulpektomi nonvital adalah gigi dengan gangren pulpa
atau nekrosis.
Indikasi:
 Mahkota gigi masih dapat direstorasi dan berguna untuk keperluan
prostetik (untuk pilar restorasi jembatan).
 Gigi tidak goyang dan periodontal normal.Foto rontgen
menunjukkan resorpsi akar tidak lebih dari sepertiga apical, tidak
ada granuloma pada gigi sulung.

5
 Kondisi pasien baik serta ingin giginya dipertahankan dan bersedia
untuk memelihara kesehatan gigi dan mulutnya.Keadaan ekonomi
pasien memungkinkan.
Kontra indikasi:
 Gigi tidak dapat direstorasi lagi.
 Resorpsi akar lebih dari sepertiga apical.
 Kondisi pasien buruk, mengidap penyakit kronis, seperti Diabetes
Melitus, TBC, dan lain-lainTerdapat belokan ujung dengan
granuloma (kista) yang sukar dibersihkan ataui sukar dilakukan
tindak bedah endodonti.

6
D. Teknik Perawatan Pulpektomi
Pertama :
 Anestesi (bila perlu) dan isolasi gigi
 Karies dibersihkan
 Outline form diperbaiki
 Atap pulpa dibuka sepenuhnya
 Preparasi biomekanis : pulpa yang mengering dibersihkan sampai
sepanjang saluran akar, dan kira-kira mencapai k-file nomor 35
 Irigasi sebanyak-banyaknya dengan air aquades agar serpihan-serpihan
dentin keluar dari saluran , lalu kemudian dikeringkan.
 Beri cotton pelet dengan bahan obar sterilisasi (rotation of medication)
seperti CHKM, CMCP, Creosote, Cresophene dll yang ditaruh di kamar
pulpa lalu tutup dengan tmpatan sementara.

Kedua :
 Setelah 3 hari cek apakah ada keluhan dari pasien atau tidak (kontrol
gejala) meliputi perkusi, druksasi, mobilitas, warna,dan perabaan. Serta
dicek dengan K-file nomor terakhir (pada waktu preparasi preparasi

7
biomekanis) apakah ada ada pus yang keluar dari saluran akar atau
tidak
 Mengganti bahan obat sterilisasi (rotation of medication). Ditutup
kembali dengan tumpatan sementara.

Ketiga :
 Setelah 3 hari, kontrol gejala kembali. Jika tidak ada keluhan dari
pasien maupun gigi yang sedang dirawat, maka bisa memulai dengan
pengisian saluran akar dengan bahan ZnOE.
 Isolasi terlebih dahulu.
 Irigasi terlebih dahulu, kemudian keringkan.
 Siapkan bahan lalu aduk dengan konsistensi kental.
 Ambil bahan sedikit(dengan alat dycal), taruh di bagian orifice saluran
akar. Dorong bahan tersebut dengan cotton pelet (kecil saja) yang
dijepit dengan pinset agar masuk. Lakukan berulang-ulang sampai
saluran akar tersebut penuh.
 Jika sudah penuh, maka bersihkan kamar pulpa dari ZnOE . Tutup
bagian orifice dengan Zinc Pospat setinggi kira-kira 1mm.

Keempat :
 Jika kontrol gejala juga tidak menunjukkan kelhan setelah pengisian,
maka bisa dilakukan tumpat tetap dengan GIC IX. Gigi tersebut
dibangun selayaknya gigi sehat.
 Cek oklusi.
 Restorasi bila perlu.

Seperti halnya seluruh perawatan gigi, penggabungan beberapa factor


mempengaruhi hasil suatu perawatan endodontik. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan saluran akar adalah
faktor patologi, factor penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan
kecelakaan prosedur perawatan.

8
E. Macam-Macam Pulpektomi
1. Pulpektomi parsial
Pulpektomi parsial dilakukan pada gigi sulung bila jaringan pulpa
bagian koronal dan dalam saluran akar masih vital tetapi menunjukkan
gejala klinis hiperemia, atau bila perdarahan pada pemotongan pulpa
yang tidak dapat dikontrol. Prosedur ini dapat dilakukan dalam satu
kali kunjungan.
Teknik perawatan pulpektomi parsial yaitu:
o Rontgen foto
o Pemberian anestesi lokal, lalu gigi diisolasi dengan rubber dam
o Membuang semua jaringan karies dan seluruh atap pulpa, lalu
jaringan pulpa bagian koronal diambil dengan eskavator atau bur
bulat
o Sisa jaringan dibersihkan dan diirigasi, lalu dikeringkan
o Jaringan pulpa dalam saluran akar diambil dengan jarum eksterpasi
yang dimasukkan dengan perlahan-lahan sampai dirasakan adanya
hambatan untuk masuk lebih dalam
o Saluran akar dilebarkan dengan file untuk memudahkan pengisian
saluran akar, dan didirigasi berulang-ulang dengan larutan NaOCL
agar sisa debris hilang
o Saluran akar dikeringkan dengan paper point, dan diisi dengan
bahan pengisian yang dapat mengalami resorbsi dengan
menggunakan jarum lentulo, pressure syringe, file, atau kondensor
amalgam
o Di atas bahan pengisi saluran akar diletakkan dasar semen, lalu
gigi direstorasi permanen.

2. Pulpektomi Lengkap
Pulpektomi lengkap atau menyeluruh dilakukan untuk merawat gigi
sulung nonvital, dan dilakukan dalam beberapa kali kunjungan. Bila
gigi goyang, terdapat pembengkakan atau fistula, terdapat pus pada

9
saluran akar, atau instrumetasi saluran akar tidak boleh dilakukan pada
kunjungan pertama.
Teknik perawatan pulpektomi menyeluruh sebagai berikut:
o Pada kunjungan pertama, dilakukan perkusi pada gigi yang akan
dirawat, bila terdapat abses, fistula, atau reaksi positif terhadap
perkusi, pulpa segera harus dibuka untuk drainase dan meredakan
rasa sakit
o Abses yang berfluktuasi diinsisi dan fistula yang menonjol dieksisi
o Pada kunjungan berikutnya gigi diisolasi dengan rubber dam, lalu
semua jaringan karies dibuang
o Jaringan pulpa pada mahkota diambil dan jaringan nekrotik
dibersihkan,
o Kavitas diirigasi dengan aquades, kemudian ruang pulpa diisi
dengan kapas yang dibasahi dengan obat antibakteri, seperti
CHKM, kresofen, lalu ditutup dengan tumpatan sementara
o Pada kunjungan berikutnya, setelah ruang pulpa kering dan semua
gejala hilang, tumpatan sementara dibuka, kemudian saluran akar
diisi dengan pasta seperti pada pulpektomi parsial, untuk
mengetahui apakah pengisian saluran akar sudah baik, digunakan
radiogram,
o Di atas bahan pengisi saluran akar diletakkan lapisan dasar semen,
lalu direstorasi permanen.

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Pulpektomi


1. Faktor Patologis
Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi
tingkat keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian
menunjukan bahwa tidak mungkin menentukan secara klinis besarnya
jaringan vital yang tersisa dalam saluran akar dan derajat keterlibatan
jaringan peripikal.

10
Faktor patologi yang dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran
akar adalah :
a. Keadaan patologis jaringan pulpa.
Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti
dalam keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang
melibatkan jaringan pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain
menemukan bahwa kasus dengan pulpa nekrosis memiliki
prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat lesi periapikal.
b. Keadaan patologis periapikal
Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi
hasil perawatan saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista
apikalis menghasilkan prognosis yang lebih buruk dibandingkan
dengan lesi granulomatosa. Teori ini belum dapat dibuktikan
karena secara radiografis belum dapat dibedakan dengan jelas ke
dua lesi ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit
dilakukan.
c. Keadaan periodontal
Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi prognosis perawatan saluran akar. Bila ada
hubungan antara rongga mulut dengan daerah periapikal melalui
suatu poket periodontal, akan mencegah terjadinya proses
penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang dihasilkan
oleh plak dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi
inflamasi.
d. Resorpsi internal dan eksternal
Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan
menghentikan perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian
besar prognosisnya buruk karena sulit menentukan gambaran
radiografis, apakah resorpsi internal telah menyebabkan perforasi.
Bermacam-macam cara pengisian saluran akar yang teresorpsi agar
mendapatkan pengisian yang hermetis.

11
2. Faktor Penderita
Faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan suatu perawatan saluran akar adalah sebagai berikut :
a. Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut
dan melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk.
Ketidaksenangan yang mungkin timbul selama perawatan akan
menyebabkan mereka memilih untuk diekstraksi.
b. Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi
kemungkinan keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar.
Pasien yang lebih tua usianya mengalami penyembuhan yang sama
cepatnya dengan pasien yang muda. Tetapi penting diketahui
bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada orang tua karena
giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini
mengakibatkan prognosis yang buruk, tingkat perawatan
bergantung pada kasusnya.
c. Keadaan kesehatan umum
Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum
memiliki risiko yang buruk terhadap perawatan saluran akar,
ketahanan terhadap infeksi di bawah normal. Oleh karena itu
keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit jantung, diabetes
atau hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran akar
di luar kontrol ahli endodontis.

3. Faktor Perawatan
Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan suatu perawatan saluran akar bergantung kepada :
a. Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan
aplikasi ilmu biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan

12
dalam manipulasi dan menggunakan instrumen-instrumen yang
dirancang khusus. Prosedur-prosedur khusus dalam perawatan
saluran akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan perawatan.
Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa
pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi secara benar
dan efektif.
b. Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang
tersedia bagi dokter gigi, namun keuntungan klinis secara
individual dari masing-masing ukuran keberhasilan secara umum
belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian menunjukan bahwa teknik
yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan
menghasilkan prognosis yang buruk pula.
c. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran
akar yang ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1
mm atau 1-2 mm lebih pendek dari akar radiografis dan
disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat keberhasilan yang
rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih,
mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal
yang buruk. Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang
lebih pendek dari apeks radiografis, akan mengurangi kemungkinan
kerusakan jaringan periapikal yang lebih jauh.

4. Faktor Anatomi Gigi


Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan
suatu perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan :
a. Bentuk saluran akar
Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit,
atau bentuk abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat

13
kesulitan perawatan saluran akar yang dilakukan yang memberi
efek langsung terhadap prognosis.
b. Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi
tunggal mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar
jamak. Hal ini disebabkan karena ada hubungannya dengan
interpretasi dan visualisasi daerah apikal pada gambaran radiografi.
Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis dibandingkan dengan
gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi anterior
terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur radioopak
daerah periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit,
sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan. Radiografi
standar lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan
periapikal lebih mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran
radiologi gigi posterior.
c. Saluran lateral atau saluran tambahan
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui
bagian apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat
ditemukan pada setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan
pada setengah apikal akar dan daerah percabangan akar gigi molar
yang umumnya berjalan langsung dari saluran akar ke ligamen
periodontal.
Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa memperhitungkan
adanya saluran tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang
hebat sesudah perawatan dan menjurus ke arah kegagalan
perawatan akhir.

5. Kecelakaan Prosedural
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh
pada hasil akhir perawatan saluran akar, misalnya :
a. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.

14
Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada
permukaan dinding saluran akar yang merintangi penempatan
instrumen untuk mencapai ujung saluran . Birai terbentuk karena
penggunaan instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan
urutan; penempatan instrument yang kurang dari panjang kerja atau
penggunaan instrumen yang lurus serta tidak fleksibel di dalam
saluran akar yang bengkok. Birai dan ferforasi lateral dapat
memberikan pengaruh yang merugikan pada prognosis selama
kejadian ini menghalangi pembersihan, pembentukan dan pengisian
saluran akar yang memadai.
b. Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan
saluran akar akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan
kegagalan perawatan. Prognosisnya bergantung pada seberapa
banyak saluran sebelah apikal patahan yang masih belum
dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak
patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar
dan terjadi ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja.
Prognosis yang lebih buruk jika saluran akar belum dibersihkan
dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar foramen apikalis
pada tahap awal preparasi.
c. Fraktur akar vertikal
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi
aplikasi yang berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau
pada waktu penempatan pasak. Adanya fraktur akar vertikal
memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil perawatan karena
menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pulpektomi adalah suatu tindakan pembuangan jaringan nekrotik dan
saluran akar gigi sulung yang pulpanya nonvital atau mengalami radang
kronis. Tujuan pulpektomi adalah untuk menghilangkan infeksi dan
mempertahankan fungsi gigi sulung hingga waktunya tanggal tanpa
membahayakan benih gigi permanen dan kesehatan anak.
Indikasi dilakukan perawatan pulpektomi antara lain yaitu gigi sulung
dengan pulpitis ireversibel atau gigi yang semula akan dilakukan
pulpotomi tapi ternyata pulpa menunjukkan tanda-tanda pulpitis
ireversibel, inflamasi kronis atau nekrosis pulpa (misalnya, suppration,
purulence), tidak ada resorpsi internal resorbsi eksternal masih terbatas,
kegoyangan gigi minimal dan tidak ada gigi permanen pengganti.
Klasifikasi perawatan pulpektomi ada 3 yaitu perawatan pulpektomi
vital (biasanya sering dilakukan pada gigi anterior dengan karies yang
telah meluas kearah pulpa atau gigi yang mengalami fraktur), perawatan
pulpektomi devital (biasanya sering dilakukan pada gigi posterior yang
telah mengalami pulpitis atau dapat juga pada gigi anterior pada pasien
yang tidak tahan terhadap anestesi) dan perawatan pulpektomi non vital
(biasanya gigi dengan gangren pulpa atau nekrosis). Sedangkan macam-
macam pulpektomi ada 2 yaitu pulpektomi parsial dan pulpektomi
lengkap.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan pulpektomi adalah
faktor patologis, faktor penderita, faktor perawatan, faktor anatomi gigi
dan kecelakaan prosedural.

16
B. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini, bagi para pembaca yang
memiliki gigi berlubang yang sudah dalam untuk tidak di cabut karena
banyak kemungkinan masih bisa dilakukan perawatan saluran akar.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. http://paradipta.blogspot.co.id/2011/02/perawatan-pulpcapping-
pulpektomi- endo.html
2. http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/10978/Skripsi.p
df?sequence=1
3. https://www.scribd.com/document/239220773/PULPEKTOMI
4. https://dokumensaya.com/queue/tahapan-perawatan-
pulpektomi_58da44dcdc0d604316c346a8_pdf?queue_id=5a339dadf8393
e15117ef2cf
5. https://id.scribd.com/doc/260488771/Polpotomi-Dan-Pulpektomi

18