Anda di halaman 1dari 40

27

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan

4.1.1 Proses kegiatan well service

I. Miru Rig
Adapun prosedur miru rig antara lain:
1. Lakukan pemeriksaan wellpad (kepala sumur) dan pastikan sumur
dan akses ke lokasi sudah siap dan aman untuk Rig Down to Rig Up
2. Ikuti prosedur perpindahan rig dari yard menuju lokasi sumur dan
pastikan mendapat persetujuan sebelum mulai berpindah
3. Melakukan meeting keselamatan pra-kerja antara Well Site Manager
dan semua yang membuat BP (business partner) terkait meninjau
program kerja dan JSA (job safety analysis)
4. Periksa kondisi kepala sumur (body, koneksi, katup, segel). ganti jika
perlu
5. Lakukan dan ikuti prosedur Rig Inspection dan lakukan SWA (stop
working authority) jika ditemukan adanya penyimpangan.
6. Melakukan tail gate metting untuk setiap shift dan melakukan pre
job meting/job hazard analysis (memaparkan aturan kerja) untuk
setiap pekerjaan.
7. Pastikan jalur power generator & transportation electric memiliki
jarak yang aman dan jernih dari tiang pengaman.
II. Install Fosv
Adapun prosedur install fosv (full opening safety valve) antara lain:
1. Diam di dalam sumur. Periksa shut in tubing pressure (SITP) dan
shut in casing pressure (SICP) dan rekam dalam Laporan Tour.
Turunkan tekanan tubing dan casing sampai 0 psi saat memantau
potensi kenaikan tekanan. Antisipasi jika ada tekanan yang tidak
dapat dikendalikan
2. R/U memompa garis ke tabung dan casing anulus.

27
28

3. Tutup sumur dengan bullhead down tubing dengan dipompakan air


(berat: 8.3 ppg) ke dasar perforasi.
4. Isi anulus penuh atau 1 x volume annulus dengan air formasi.
5. Amati tekanan sumur stabil pada 0 psi selama 15-30 menit.
6. Pastikan semua katup pada kepala sumur atau xmastree selesai dan
bekerja dengan baik (buka / tutup)
7. Lepaskan injektor dan isolat Injektor dengan mengikat pinggiran
roda. Pasang gantungan tabung kosong atau test plug.
III. Test Tekanan Bope
Adapun prosedur test tekanan bope antara lain:
1. Lakukan tes penarikan akumulator.
2. Uji tekanan rendah yang digunakan adalah 250-350 psi untuk semua
jenis BOP.
3. Tes tekanan uji tinggi MASP + 500 Psi (lihat SOP BOPE Pressure
test) Prasyarat:
1. Jika BOP tidak melewati uji tekanan rendah, jangan uji ke tekanan
tinggi dan kemudian turun kembali ke tekanan rendah.
2. Semua tes tekanan harus dilakukan minimal selama 5 menit, tanpa
kebocoran yang terlihat. Tes tekanan yang dapat diterima terdiri dari
uji tekanan rendah diikuti dengan uji tekanan tinggi, untuk
mengetahui tidak adanya kehilangan tekanan selama setiap 5 menit.
3. Semua tes tekanan harus dicatat pada grafik perekaman tekanan
(gunakan grafik Barton), formulir uji BOP, dan bentuk uji penarikan
akumulator. Laporkan semua tes BOP dan tes penarikan akumulator
pada laporan aktivitas harian yang spesifik dan rinci.
4. Tekanan harus dilepaskan hanya melalui jalur pelepasan tekanan dan
katup.

IV. POH (Put On Hole) pompa ESP (Electric Simersible Pump)


Adapun prosedur pemasangan POH pompa antara lain:
1. Lakukan sirkulasi balik sebelum pencabutan pompa ESP untuk
memastikan fluida pada sumur bor bersifat homogen
29

2. Periksa semua unit pompa dan kondisi tubing (fisik tubing dan
sambungan) di permukaan.
3. Mohon periksa apakah ada korosi selama POH ESP
4. Catat semua informasi dalam Laporan Tour
5. Tolong pertahankan sirkulasi lubang pada rangkaian POH
V. Pasang Alat RIH, POH ARS Packer
Adapun prosedur pemasangan alat RIH dan Packer antara lain:
1. Pastikan mengisi sumur bor dengan penghalang hidrostatis yang
cukup sebelum dilepaskan dan mengisi POH PKR dengan penerus
sirkulasi sebelum packer dilepaskan.
2. Lakukan pemantauan lubang saat tersandung & pertahankan tekanan
hidrostatik dengan mengisi dengan baik dengan air formasi sesuai
volume string perpindahan
3. Catat semua informasi (kondisi tubing) dalam laporan wisata,
misalnya menemukan adanya kerusakan atau skala pada tubin.
4. Waspadalah terhadap packer stuck. Jika packer tidak mau
melepaskan, silahkan hubungi TL (Tool Leader) untuk perawatan
lebih lanjut
5. Jangan biarkan POH terlalu cepat untuk menghindari efek swa
VI. Swab pada interval SBHP
Adapun prosedur memasang alat pengukur memori antara lain:
1. R/U 3.5 swab head dan swab packer, lakukan selang uji interval
untuk interval di bawah ini:
RIH RBP - RTTS PKR dengan alat pengukur memori, ambil swab dan
data SHBP untuk interval berikut:

Tabel 4.1 Interval Swab


SAND DEPTH DURATION
D2300 2291’- 2295’ 4 HOURS
BK2500 2502’-2514’ 6 HOURS
BK 2560’-2565 6 HOURS
30

2. Ambil sampel water cut setelah swab stabil.


3. Laporkan hasil tes swab ke PE, CE & WDR Tactical Bangko
CATATAN:
Jika ditemukan pekerjaan berbahaya atau keadaan bertekanan tinggi
sebelum swab, jangan lanjutkan kegiatan (label merah). Lepaskan
alat swab dan bongkar semua air yang disuntikkan per interval.
Setelah membongkar semua air yang disuntikkan, lakukan pekerjaan
swab minimal 4 jam dengan laju dan water cut yang stabil.
 Jika WC < 90% silahkan lakukan swab sampai 100 bbls/ Jika swab
pada laju rendah maka lakukan swab 4 jam setelah laju stabil.
 Jika WC > 90% silahkan lakukan swab 2 jam setelah laju stabil
tercapai.
 Jika WC 100%, swab sampai 4 x laju stabil
Pastikan mengatur water cut dengan menggunakan cairan yang keluar
dari kepala swab (jangan menggunakan cairan di dalam tangki
penyeka)
VII. Atur ulang RBP packer
Adapun prosedur mengatur ulang packer antara lain:
1. Pastikan memiliki tekanan dan tegangan yang memadai pada set
packer(14 klbs)
2. Lakukan tes tekanan RBP packer pada tekanan 500 psi
3. Suntikan air dilakukan dengan tekanan permukaan maksimal 300 psi,
lakukan tes penghisap
4. POH (Put Out Hole) atau cabut RTTS packer
VIII. Tabung RIH OE dan unit penyemen R/U dipasang, lakukan
squeeze job (penyemenan ulang)
Adapun prosedur penyemenan squeeze antara lain:
Unit R/U Cementing
1. Mencampur dan mencocokkan semen, digantikan dengan air formasi
2. POH OE Tabung sekitar 100 kaki diatas permukaan semen
31

3. Lakukan tes pengisap jika tidak ada kemunculan laju hisap maka
turunkan sirkulasi 2 x volume tabung, jika ditemukan laju hisap,
tutup 30-60 menit sebelum sirkulasi menurun.
4. Tunggu hingga semen mengeras dan terbentuk sesuai desain
IX. RIH (Run In Hole) mata bor kemudian letakkan mata bor
didalam lubang

Adapun prosedur pemasangan mata bor antara lain:


1. P/U (penyambungan) dan M/U (memasang) 8" mata bor dengan
string

2. Pertemukan mata bor RIH ke TOC (Top On Cement)

3. Lakukan pengecekan casing produksi dengan menggunakan tekanan


500 psi + MASP selama 15 menit (5% tekanan diperbolehkan
diturunkan)

4. Lakukan DOC (Drill Out Cement) sesuai prosedur yang dianjurkan

5. Melakukan uji tekan pada squeeze cementing setiap interval dengan


tekanan 300 psi

X. RIH melepaskan alat, POH RBP packer

XI. Penggunaan casing scrapper 7” untuk PBTD (Plug Bottom


Total Depth)

Adapun prosedur penggunaan casing scrapper antara lain:


1. Mengatur nilai pada scrapper sesuai yang dibutuhkan kemudian akan
digunakan pada area well dan zona produksi.
2. Jika ada indikasi kerusakan casing, silahkan catat pada laporan dan
diskusikan dengan TL (Tool Leader)
3. Jika ada indikasi pasri atau semen pada lubang bor, silahkan catat
pada laporan dan lakukan COS atau DOC (Drill Out Cement) untuk
PBTD (Plug Bottom Total Depth)
32

4. Lakukan pemantaun lubang dan catat hasil pemantauan pada lembar


pengecekan harian (bila mungkin) untuk memastikan tidak ada
penurunan tekanan hidrostatik
5. Jangan terlalu cepat TIH (Take In Hole) dan POH (Put Out Hole)
pada casing scrapper untuk menghindari gelombang dan swab efek
XII. Menggantungkan tubing kosong pada elevator
Adapun prosedur menggantungkan tubing antara lain:
1. Melakukan test tekanan pada tubing yang digantung dengan 500 psi
+ MASP selama 5 menit, dan pastikan tidak adanya tekanan yang
turun
2. Tuliskan hasil tes tekanan pada report test
XIII. N/D (Nepple Down) BOP, NU X-mastree hambatan
Adapun prosedur memasang mastree hambatan antara lain:
1. Periksa hambatan pada kegiatan produksi (semua hambatan dan
sambungan yang terhambat) dengan 500 psi + MASP selama 5
menit, pastikan tekanan tidak menurun
2. Tuliskan hasil tes tekanan pada report test
XIV. Rig Down Moving
Pastikan untuk melakukan penyerahan data laporan harian selama
kegiatan berlangsung dengan sopan dan tepat kepada PMT

4.1.2 Peralatan dan Perlengkapan Well Service

1. Mast
33

Gambar 4.1 Mast


Mast adalah Menara yang digunakan untuk menempatkan peralatan
pengeboran secara vertikal saat berlangsungnya kegiatan pengoboran di
lapangan.

2. Crown Block

Gambar 4.2 Crown Block

Crown Block adalah bagian Menara yang dapat berputar dan merupakan
tempat bergantungnya drilling line.
34

3. Racking Platform

Gambar 4.3 Racking Platform


Racking Platform adalah tempat atau area penempatan pipa sebelum
digunakan dan dimasukkan ke dalam well.

4. Drilling Line

Gambar 4.4 Drilling Line


Drilling Line adalah kabel baja yang terpasang antara mesin kerek katrol
puncak dan kerekan yang berguna sebagai salh alat bantu menjaga rig
tetatp tegak.
35

5. Traveling Block

Gambar 4.5 Traveling Block


Traveling Block adalah sistem kerja yang dipakai bersama katrol untuk
mengangkut peralatan pendukung seperti elevator dan bekerja secara
vertikal.

6. Hook

Gambar 4.6 Hook


Hook adalah alat yang berbentuk seperti kail besar tempat swivel
bergantung

7. Swivel
36

Gambar 4.7 Swivel


Swivel adalah peralatan yang dipasang antara rotary house dan kelly,
berfungsi sebagai tempat menggantungkan kelly.

8. Drawworks

Gambar 4.8 Drawworks

Drawworks adalah peralatan yang menaik turunkan pipa dan


menggerakkkan rotary table. Drawworks memiliki kanvas untuk
melakukan pengereman.
37

9. Driller Console

Gambar 4.9 Drillers Console


Driller Console adalah tempat driller untuk mengendalikan proses
pengeboran dan berisi berbagai macam sistem control.

10. Drill Floor

Gambar 4.10 Drill Floor


Drill Floor adalah tempat dimana anggota atau regu yang bertanggung
jawab pada setiap kegiatan yang terjadi diatas rig misalnya melepas dan
memasukkan tubing yang biasa disebut (floor man) berada.
38

11. Rotary Table

Gambar 4.12 Rotary Table

Rotary Table adalah meja bundar yang dipasang diatas substructure


yang di operasikan oleh tenaga mesin untuk memutar rangkaian pipa
bor.

12. Substructer

Gambar 4.12 Substructer

Substructure adalah banguan yang menjadi tempat dudukan menara bor


(rig), tempat crew rig bekerja dan ditempatkannya rotary table.
39

13. Blow Out Preventer

Gambar 4.13 Blow Out Preventer


Blow Out Preventer adalah peralatan yang di pasang di kepala sumur
untuk mencegah semburan liar (BOP).

14. Rig Office

Gambar 4.14 Rig Office


Rig Office adalah ruangan atau kantor yang digunakan sebagai tempat
menyimpan data tentang rig tersebut, semua schedule, sebagai tempat
istirahat WSM dan ruang kerja clerek.
40

15. Choke Maniford

Gambar 4.15 Choke Maniford

Choke Maniford adalah peralatan untuk membatasi aliran dengan tujuan


mengatur tekanan yang timbul atau well control.

16. Gas Flare

Gambar 4.16 Gas Flare


Gas Flare adalah gas hasil produksi yang tidak dimanfaatkan dibuang
melalui pipa dan dibakar dengan api agar tidak mencemari lingkungan.

17. Power Penggerak (Engine)


41

Gambar 4.17 Power Penggerak

Power penggerak adalah suatu mesin yang memberi tenaga ke


drawworks dan sebagian tenaga yang tersisa kembali ke tangki hidrolik.

18. Handle Break

Gambar 4.18 Handle Break


Handle Break adalah suatu alat yang digunakan untuk mengendalikan
traveling block.

19. Elevator
42

Gambar 4.19 Elevator

Elevator adalah suatu alat yang digunakan untuk penjepit atau


pengangkat tubing saat akan dimasukkan ke dalam well.

20. Tidos

Gambar 4.20 Tidos


Tidos adalah alat electric line yang berfungsi untuk menghidupkan bola
lampu yang ada pada rig saat melakukan pekerjaan di malam hari. Alat
ini tahan terhadap air, gas dan ledakan.

21. Guy Line


43

Gambar 4.21 Guy Line


Guy line adalah kawat baja yang di pasang di sekitar rig yang berfungsi
untuk menahan rig agar tetap seimbang dimana fungsinya hampir sama
dengan drill line.

22. Air Compressor

Gambar 4.22 Air Compressor


Air Compressor adalah salah satu bahan bakar yang diperlukan sebagai
penggerak engine.

23. Base Floor


44

Gambar 4.23 Base Floor


Base Floor adalah alat yang digunakan sebagai alas mobil rig. Base
Floor ini berupa besi yang berada tepat di bawah mobil.

24. Mud Pump

Gambar 4.24 Mud Pump


Mud Pump adalah pompa yang digunakan untuk memompa dan
mengalirkan fluida menuju stand pipe untuk mensirkulasikan lumpur
pengeboran.

25. Mixing Tank


45

Gambar 4.25 Mixing Tank


Mixing tank adalah sebuah tank yang berfungsi sebagai alat
pencampuran lumpur pengeboran dengan chemical.

26. WPF (Working Plat Form)

Gambar 4.26 WPF (Working Platform)


WPF (Working Plat Form) adalah suatu alat tempat crew rig bekerja.

27. Tangki Solar


46

Gambar 4.27 Tangki Solar


Tangki Solar adalah tangka penyimpan bahan bakar solar yang
digunakan pada saat bekerja.

28. Pulsation Dumpener

Gambar 4.28 Prosesor Dumpener


Prosesor Dumpenr adalah suatu alat yang berfungsi untuk menstabilkan
tekanan pompa. Isi prosesor dumpener ini berupa karet hitam yang
mengikuti bentuk prosesor dumpener itu sendiri dan di dalam karet
tersebut berisi Nitrogen.
47

29. Shale Shaker

Gambar 4.2.29 Shale Shaker

Shale Shaker adalah pengayak serpih berupa kasa bergetar untuk


memisahkan batuan yang mengandung minyak yang biasanya
digunakan pada saat eksplorasi oleh geologist.

30. Monkey Board

Gambar 4.2.30 Monkey Board


Monkey board adalah plank sebagai penanda identitas rig milik
kontraktor besmindo.

31. Genset
48

Gambar 4.2.31 Genset

Genset adalah sumber listrik untuk kegiatan di lapangan.

32. Aqumulator

Gambar 4.2.32 Aqumulator


Aqumulator adalah suatu alat yang sangat penting untuk mencegah
Blow Out Preparation (BOP) . Tabung aqumulator ini berisi Nitrogen
yang jumlah tabung nya tergantung dengan ukuran nya.

33. Bit
49

Gambar 4.2.33 Bit


Bit adalah suatu alat yang digunakan untuk menembus permukaan tanah
sehinga membentuk lubang bor dengan kedalaman dan diameter yang
telah ditentukan.

34. Drill Pipe (DP)

Gambar 4.2.34 Drill Pipe


Drill Pipe adalah pipa yang digunakan dalam kegiatan work over yang
akan dimasukkan ke dalam well dengan bentuk menyerupai tubing.
50

35. Bog Blower

Gambar 4.2.35 Bog Blower


Bog Blower adalah alat yang digunakan oleh para pekerja rig untuk
membersihkan sisa gas beracun dan berbahaya yang masih menempel
di badan.

36. Loading Ram

Loading Ram
Gambar 4.2.36 Loading Ram
adalah sebuah alat yang mejadi landasan rig sebelum di naikkan ke atas
substructure.
51

37. Kelly

Gambar 4.37 Kelly

Kelly adalah sebuah alat yang terhubung ke swivel dengan bentuk yang
hexagonal dan merupakan pemutar string pada rotary table.

39. Catwalk

Gambar 4.38 Catwalk

CP 32 - 229 REV 2/92


SWAB / FLOW TEST REPORT
RIG : BMS#11 FIELD : KOPAR WELL NO : 15 DATE : 20/01/2018
SAND INTERVAL PACKER LOAD
4677 - 4708
Catwalk adalah tempat pengumpulan pipa RBP = 4750
sementara sebelum TUBING LOAD : 29.78
di masukkan ke dalam Bbls
RTTS = 4659 CSG LOAD : 2.00 Bbls
well. TTL LOAD : 31.78 Bbls
NO TIM SWAB FLUID TOTAL SFL WATER NO TIME SWAB FLUID TOTA SFL WATER
52

E DEPTH RATE REC CUT % DEPTH RATE L REC CUT %


1 1500 2.3 1235 99% 1
2 2000 4.6 6.9 2
3Tabel 4.2 SWAB
2300 Test
3.22 Report
10.12 BMS#11 Loc.Kopar
3
4 2800 5.52 15.64 4
5 4.6 20.24 5
6 4.6 24.84 6
7 4.6 29.44 7
8 4.6 34.04 8
9 4.6 38.64 9
10 4.6 43.24 10
11 4.6 47.84 11
12 4.6 52.44 12
13 4.6 57.04 13
14 4.6 61.64 14
15 15
SUMMARY
STATIC FLUID LEVEL : 1235 FT FORMATION RECOVERY : 29.86
SWAB DEPT : 2800 FT WORKING FLUID LEVEL : 2271
RATE : 4.6 Bbls STABLE : 4.6
RATE PER HOURS : 18.4 Bbls WATER CUT : 99%
TOTAL RECOVERY : 61.64 Bbls FLOWING RATE :
START TIME :

3- 1/2" - 9.30 #TUBING : 0.0087 BBLS/FT ANNULAR VOLUME - BBLS/FEET


7" - 20 #CASING : 0.0405 BBLS/FT 3 - 1/2" - 9.3 #TBG -7" 20# : 0.0286 BBLS/FET
7" - 23 #CASING : 0.0394 BBLS/FT 7" - 26# : 0.0383 BBLS/FET
9 - 5/8 - 40,5 #CASING : 0.0745 BBLS/FT 9 - 5/8" - 43.5# : 0.0626 BBLS/FET
10 - 3/4" - 45,5 #CASING : 0.0808 BBLS/FT 10 - 3/4" - 40.5# : 0862 BBLS/FET
10 - 3/4 " - 45.5# : 0.0689 BBLS/FET
5.5" CASING A1:N56 : 0.0232 BBLS/FEET
4.3.1 Hasil SWAB Test RIG Besmindo

Tabel 4.3 SWAB Test Summary Report BMS#11 Loc.Kopar

SWAB TEST SUMMARY REPORT


WELL SERVICE & REMEDIAL - SBU RUMBAI

RIG : BMS#11 @ : RBP = 4750 RT TUBING LOAD : 29.78 BBLS


DATE : 20/01/2018 @ : RTTS = 4659 RT CASING LOAD : 2.00 BBLS
LOCATION : TOTAL LOAD : 31.78 BBLS
INTERVALS : 4677 – 4708

INITIAL / STATIC FLUID LEVEL : 1.235 FEET


SWAB DEPTH : 2.800 FEET
TOTAL RECOVERY : 61.64 BBLS/ RUNS
FORMATION FLUID RECOVERY : 29.86 BBLS
RUN RATE PER : 4.6 BBLS/ MNTS
RATE PER HOUR : 18.4 BBLS/ RUNS
WORKING FLUID LEVEL : 2271 FEET
AVERAGE WATER CUT : 99%
53

1. % 2. % 3. % 4. %

FLOWING : PSI REPORTED BY : RECEIVED AT :


SHUT IN PRESSURE : PSI
FLOWING RATE : BPH
START SWABBING/ FLOWING : AM/PM
STOP SWABBING / FLOWING : AM/PM
FLOWING CUT : %

CP 32 - 229 REV 2/92


SWAB / FLOW TEST REPORT
RIG : BMS#11 FIELD : WELL NO : DATE : 09/01/2018
SAND INTERVAL LOAD
1650-1657 TUBING LOAD : 7.74 Bbls
CSG LOAD : 0.66 Bbls
TTL LOAD : 8.40 Bbls
SWAB FLUID TOTAL WATER SWAB FLUID TOTA WATER
NO TIME DEPTH RATE REC SFL CUT % NO TIME DEPTH RATE L REC SFL CUT %
1 22:10 1200 3.91 750 99% 21 24:40 4.6 70.07
24:5
2 22:20 1500 3.22 7.13 22 0 4.6 74.67
3 22:30 1600 4.6 11.73 23 1:00 4.6 79.27
4 22:40 3.91 15.64 24 1:10 4.6 83.87
5 22:50 4.3 19.67 25 1:20 4.6 88.47
6 23:00 4.6 24.27 26 1:30 4.6 93.07
7 23:10 4.6 28.67 27 1:40 4.6 97.67
8 23:20 4.6 33.27 28 1:50 4.6 102.27
9 23:30 4.6 37.87 29 2:00 4.6 106.87
10 23:40 4.6 42.47 30 2:10 4.6 111.47
11 23:50 4.6 47.07 31 2:20 4.6 116.07
12 24;00 4.6 5.67 32 2:30 4.6 120.67
13 24:10 4.6 56.27 33 2:40 4.6 125.27
14 24;20 4.6 60.87 34 2:50 4.6 129.87
15 24;30 4.6 65.47 35 3:00 4.6 134.47
SUMMARY
STATIC FLUID LEVEL : 750 FT FORMATION RECOVERY : 125,60 Bbls
SWAB DEPT : 1600 FT WORKING FLUID LEVEL : 1071 FT
RATE : 4.6 Bbls STABLE :
54

RATE PER HOUR : 27.6 Bbls WATER CUT : 99%


TOTAL RECOVERY : 134.47 Bbls FLOWING RATE :
START TIME :
3- 1/2" - 9.30 #TUBING : 0.0087 BBLS/FT ANNULAR VOLUME - BBLS/FEET
7" - 20 #CASING : 0.0405 BBLS/FT 3 - 1/2" - 9.3 #TBG -7" 20# : 0.0286 BBLS/FET
7" - 23 #CASING : 0.0394 BBLS/FT 7" - 26# : 0.0383 BBLS/FET
9 - 5/8 - 40,5 #CASING : 0.0745 BBLS/FT 9 - 5/8" - 43.5# : 0.0626 BBLS/FET
10 - 3/4" - 45,5 #CASING : 0.0808 BBLS/FT 10 - 3/4" - 40.5# : 0862 BBLS/FET
10 - 3/4 " - 45.5# : 0.0689 BBLS/FET
5.5" CASING : 0.0232 BBLS/FEET
Tabel 4.4 SWAB Test Report BMS#11 Loc.BKO#86

Tabel 4.5 SWAB Test Summary Report BMS#11 Loc.BKO#186

SWAB TEST SUMMARY REPORT


WELL SERVICE & REMEDIAL - SBU RUMBAI

RIG : BMS#11 @ : RBP = 1689 RT TUBING LOAD : 7.74 BBLS


DATE : 09/01/2018 @ : RTTS = 1640 RT CASING LOAD : 0.66 BBLS
LOCATION : TOTAL LOAD : 8.40 BBLS
INTERVALS : 1650 – 1657

INITIAL / STATIC FLUID LEVEL : 750 FEET


SWAB DEPTH : 1600 FEET
TOTAL RECOVERY : 83.87 BBLS/ 19 RUNS
FORMATION FLUID RECOVERY : 75.47 BBLS
RUN RATE PER : 4.6 BBLS/10 MNTS
RATE PER HOUR : 27.6 BBLS/ 6 RUNS
WORKING FLUID LEVEL : 1071 FEET
AVERAGE WATER CUT : 99% %

1. % 2. % 3. % 4. %

FLOWING : PSI REPORTED BY : RECEIVED AT :


SHUT IN PRESSURE : PSI
FLOWING RATE : BPH
START SWABBING/ FLOWING : AM/PM
STOP SWABBING / FLOWING : AM/PM
FLOWING CUT : %
55

Tabel 4.6 SWAB Test Report BMS#11 (after injectivity)

CP 32 - 229 REV 2/92


SWAB / FLOW TEST REPORT
RIG : BMS#11 FIELD : WELL NO : DATE :
SAND INTERVAL PACKER LOAD
1720 – 1780 RBP = 1800 TUBING LOAD : 12.17 Bbls
RTTS = 1703 CSG LOAD : 3.03 Bbls
TTL LOAD : 15.21 Bbls

TIM SWAB FLUID TOTAL WATER SWAB FLUID TOTAL WATER


NO E DEPTH RATE REC SFL CUT % NO TIME DEPTH RATE REC SFL CUT %
1 23:30 700 3.45 303 1
2 1200 4.37 7.28 2
3 1500 2.76 10.58 3
4 1650 DRY 4
5 DRY 5
6 1:30 6
7 7
8 8
9 9
10 10
SUMMARY
STATIC FLUID LEVEL : FT FORMATION RECOVERY :
SWAB DEPT : FT WORKING FLUID LEVEL :
RATE : Bbls STABLE :
RATE PER HOUSE : Bbls WATER CUT :
TOTAL RECOVERY : 10.58 Bbls FLOWING RATE :
START TIME :

3- 1/2" - 9.30 #TUBING : 0.0087 BBLS/FT ANNULAR VOLUME - BBLS/FEET


7" - 20 #CASING : 0.0405 BBLS/FT 3 - 1/2" - 9.3 #TBG -7" 20# : 0.0286 BBLS/FET
7" - 23 #CASING : 0.0394 BBLS/FT 7" - 26# : 0.0383 BBLS/FET
9 - 5/8 - 40,5 #CASING : 0.0745 BBLS/FT 9 - 5/8" - 43.5# : 0.0626 BBLS/FET
10 - 3/4" - 45,5 #CASING : 0.0808 BBLS/FT 10 - 3/4" - 40.5# : 0862 BBLS/FET
56

10 - 3/4 " - 45.5# : 0.0689 BBLS/FET


5.5" CASING : 0.0232 BBLS/FEET

Tabel 4.7 SWAB Test Summary Report BMS#11

SWAB TEST SUMMARY REPORT


WELL SERVICE & REMEDIAL - SBU RUMBAI

RIG : BMS#11 @ : 1703 RT TUBING LOAD : 11.17 BBLS


DATE : 9/01/2018 @ : RBP 1800 RT C ASING LOAD : 3.03 BBLS
LOCATION : TOTAL LOAD : 14.2 BBLS
INTERVALS : 1720 - 1780 (After injectivity)

INITIAL / STATIC FLUID LEVEL : 303 FEET


SWAB DEPTH : 1650 FEET
TOTAL RECOVERY : 10.58 BBLS/8 x RUNS
FORMATION FLUID RECOVERY : BBLS
RUN RATE PER : 1.61 BBLS/30 MNTS
RATE PER HOUR : 3.22 BBLS/2x RUNS
WORKING FLUID LEVEL : 1465 FEET
AVERAGE WATER CUT : 100%

3 X STABLE

1. % 2. % 3. % 4. %

FLOWING : PSI REPORTED BY : RECEIVED AT :


SHUT IN PRESSURE : PSI
FLOWING RATE : BPH
START SWABBING/ FLOWING : AM/PM
STOP SWABBING / FLOWING : AM/PM
FLOWING CUT : %
57

Tabel 4.8 SWAB Test Report BMS#11 (after stabil)

CP 32 - 229 REV 2/92


SWAB / FLOW TEST REPORT
RIG : BMS#11 FIELD : WELL NO : DATE : 9/01/2018
SAND INTERVAL LOAD
1720 – 1780 RTTS @1703 TUBING LOAD : 11.17 Bbls
RBP @1800 CSG LOAD : 3.03 Bbls
TTL LOAD : 14.2 Bbls

SWAB FLUID TOTAL WATER SWAB FLUID TOTAL WATER


NO TIME DEPTH RATE REC SFL CUT % NO TIME DEPTH RATE REC SFL CUT %
1 1000 5.06 7.13 418 31
2 2.07 9.84 32
3 2.76 13.8 33
4 1300 3.91 16.56 34
5 1650 2.76 18.17 35
6 5:30 1.61 19.8 36
7 6:10 1.61 21.41 37
8 6:30 1.61 23.02 38
9 7:10 1.61 24.63 40% 39
10 7:30 1.61 26.24 40
11 8:00 1.61 27.85 41
12 8:30 1.61 29.46 42
13 9:00 1.61 31.07 43
14 9:30 1.61 32.68 40% 44
15 10:00 1.61 34.29 45
16 10:30 1.61 35.9 46
17 11:00 1.61 37.51 47
18 11:30 1.61 39.12 48
19 12:00 1.61 40.73 40% 49
20 12:30 1.61 42.34 50
21 13:30 L/D SWAB Tool 51
SUMMARY
STATIC FLUID LEVEL : FT FORMATION RECOVERY :
SWAB DEPT : FT WORKING FLUID LEVEL :
RATE : Bbls STABLE :
RATE PER HOUSE : Bbls WATER CUT :
TOTAL RECOVERY : Bbls FLOWING RATE :
START TIME :

Tabel 4.9 SWAB Test Summary Report BMS#11

SWAB TEST SUMMARY REPORT


WELL SERVICE & REMEDIAL - SBU RUMBAI

RIG : BMS#11 @ : RTTS 1705 RT TUBING LOAD : 11.17 BBLS


DATE : 09/01/2018 @ : RBP 1800 RT CASING LOAD : 3.03 BBLS
LOCATION : TOTAL LOAD : 14.2 BBLS
INTERVALS : 1720 - 1780 (After Stabil)
58

INITIAL / STATIC FLUID LEVEL : 418 FEET


SWAB DEPTH : 1650 FEET
TOTAL RECOVERY : 42.34 BBLS/ 21x RUNS
FORMATION FLUID RECOVERY : 28.14 BBLS
RUN RATE PER : 1.61 BBLS/30 MNTS
RATE PER HOUR : 3.22 BBLS/ 2x RUNS
WORKING FLUID LEVEL : 1465 FEET
AVERAGE WATER CUT : 40 %

STABLE 16 X R

1. % 2. % 3. % 4. %

FLOWING PRESSURE : PSI REPORTED BY : RECEIVED AT :


SHUT IN PRESSURE : PSI
FLOWING RATE : BPH
START SWABBING/ FLOWING : AM/PM
STOP SWABBING / FLOWING : AM/PM
FLOWING CUT : %

4.2 Pembahasan

4.2.1 Proses Kegiatan Well Service

Kegiatan well service yang dilakukan pada rig BMS#11 yang


merupakan salah satu contoh yang diamati ialah swab job. Hal tersebut
dilakukan karena pada well tersebut aliran fluidanya terhambat. Hal ini
diketahui dengan menurunnya hasil produksi. Dan segera dilakukannya
pekerjaan well service. Kemudian pihak perusahaan akan
mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dilapangan. Untuk proses
pengerjaannya membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 bulan (tergantung
tingkat hambatan).
59

Alat yang biasanya digunakan untuk well service ialah rig


lengkap dengan peralatan pendukung lainnya (seperti yang disebutkan
diatas). Rig yang dibawa dari yard kemudian dipasang tepat diatas well
yang akan dikerjakan. Kegiatan swab merupakan jenis kegiatan
menghisap/memancing laju alir fluida agar mendapatkan tekanan dan
laju alir yang stabil. Kemudian untuk mengetahui apakah fluida yang
mengalir pada well masih mengandung minyak, maka dilakukan
perhitungan water cut. Water cut bertujuan mengetahui presentase air
yang terkandung didalam fluida.

Alat yang digunakan untuk mengukur water cut disebut water


cup. Minyak mentah yang telah diangkat melalui proses swab kemudian
ditampung pada water cup dengan ukuran 100 ml dan dibiarkan selama
beberapa waktu hingga batasan antara minyak dan air (water content)
terlihat jelas untuk menghitung nilai water cut tersebut.

4.2.2 Peralatan dan Perlengkapan Well Service

Alat yang digunakan untuk kegiatan well service ialah rig. Rig
yang digunakan pada PT.Besmindo merupakan rig 2 joint dengan horse
power 250 HP dan 350 HP. Rig tersebut memiliki banyak alat
pendukung (seperti yang dijelaskan sebelumnya). Rig yang digunakan
PT. Besmindo merupakan tipe mobile yang dapat dipindahkan dengan
mudah.

4.2.3 Hasil Swab Test Rig Besmindo

KOPAR#15

Pada BMS#11 dilakukan swab pada interval 4677-4708 FT.


Packer jenis RTTS diletakkan pada kedalaman 4659 FT sedangakan
jenis RBP pada kedalaman 4750 FT. Packer berfungsi sebagai pembatas
tiap interval yang akan diswab. Pada jenjang 1235 FT dari permukaan
well, alat swab (swab cup) telah menyentuh permukaan fluida.
60

Pada kedalaman 1500 FT didapat fluida sebanyak 2.3 Bbls.


Kemudian dilanjut kedalaman 2000 FT didapat fluida sebanyak 4.6
Bbls. Dikarenakan jumlah fluida yang didapat belum stabil maka
dilakukan swab selanjutnya pada kedalaman 2300 FT dengan fluida
sebanyak 3.22 Bbls. Kemudian pada kedalaman 2800 diswab kembali
dan didapat fluida sebanyak 5.22 Bbls. Pada kedalaman yang sama
diswab kembali dan didapat fluida sebanyak 4.6 Bbls (sudah stabil).

Jumlah fluida yang diambil sebanyak 61.64 Bbls dengan jumlah


fluida yang diambil dari formasi sebanyak 29.86 Bbls. Rata-rata sekali
swab per jeda waktu yang stabil sebanyak 4.6 Bbls/15 menit dan per
jam sebanyak 18.4 Bbls. Pompa reda (ESP) sebagai alat yang
memomba fluida agar tetap mengalir diletakan pada kedalaman 2271
FT

Disaat kembali didapat fluida dengan jumlah yang sama terus-


menerus maka dapat dinyatakan jalu alir fluida sudah stabil (swab
berhasil). Kemudian dilakukan pengukurusan water cut menggunakan
water cup dan ditemukan hasil 99% air pada well yang berlokasi
KOPAR#15. Sehingga untuk kegiatan lebih lanjut akan dilakukan work
over untuk meningkatkan produksi.

Hitungan Manual Swab :

1. IFL = SD – (FR x 115)


Cth: IFL= Kedalaman 1 (Swap Depth) – (Fluid Recovery x 115)
= 1500 – (2,3 x 115)
= 1500 – (264,5)
= 1235
2. SD = 2800 ( Kedalaman Fluida yang telah statis)
3. TR = 61,64 ( Total seluruh Fluida yang telah diambil)
4. Formation Fluid REC (FFR)
FFR = Total Recovery – Total Load
= 61,64 – 31,78
= 29,86
5. TL (Tubing Load)
61

TL = (set packer – IFL) : 115


= (4659 – 1235) : 115
= 29,78
6. CS (Casing Load)
CS = (Interval paling atas – set packer) x 0,0394
= (4708 – 4659) x 0,0394
= 2,00
7. TL (Total Load)
TL = Tubing Load + Casing Load
= 29,78 + 2
= 31,78
8. RPR (Rate Per Run)
RPR = Nilai Stabil/Selang menit yang digunakan
= 4,6/30
Dalam 1 jam = 60 menit/ 15 menit
=4
Jadi RPR = RPR x banyaknya timbaan selama 1 jam
= 4,6 x 4 = 18,4
9. Walking Fluid Level = Level Fluida yang kita ambil setelah Stabil
WFL = SD – (Stabil Rate Per Run x 115)
= 2800 – (4,6 x 115)
= 2.271

BKO#186

Pada BMS#11 dilakukan swab pada interval 1650-1657 FT.


Packer jenis RTTS diletakkan pada kedalaman 1640 FT sedangakan
jenis RBP pada kedalaman 1689 FT. Packer berfungsi sebagai pembatas
tiap interval yang akan diswab. Pada jenjang 750 FT dari permukaan
well, alat swab (swab cup) telah menyentuh permukaan fluida.

Pada kedalaman 1200 FT didapat fluida sebanyak 3.91 Bbls.


Kemudian dilanjut kedalaman 1500 FT didapat fluida sebanyak 3.22
Bbls. Dikarenakan jumlah fluida yang didapat belum stabil maka
dilakukan swab selanjutnya pada kedalaman 1600 FT dengan fluida
sebanyak 4.6 Bbls. Kemudian pada kedalaman yang sama diswab
kembali dan didapat fluida sebanyak 3.91 Bbls, 4.3 Bbls dan 4.6 Bbls
(sudah stabil).
62

Jumlah fluida yang diambil sebanyak 134.47 Bbls dengan jumlah


fluida yang diambil dari formasi sebanyak 125.6 Bbls. Rata-rata sekali
swab per jeda waktu yang stabil sebanyak 4.6 Bbls/10 menit dan per
jam sebanyak 27.6 Bbls. Pompa reda (ESP) sebagai alat yang
memomba fluida agar tetap mengalir diletakan pada kedalaman 1071
FT

Disaat kembali didapat fluida dengan jumlah yang sama terus-


menerus maka dapat dinyatakan jalu alir fluida sudah stabil (swab
berhasil). Kemudian dilakukan pengukurusan water cut menggunakan
water cup dan ditemukan hasil 99% air pada well yang berlokasi
BKO#186. Sehingga untuk kegiatan lebih lanjut akan dilakukan work
over untuk meningkatkan produksi.

Hitungan Manual Swab :

1. IFL = SD – (FR x 115)


Cth: IFL = Kedalaman 1 (Swap Depth) – (Fluid Recovery x 115)
= 1200 – (3,91 x 115)
= 1200 – (449,65)
= 750,35
2. SD = 1600 ( Kedalaman Fluida yang telah statis)
3. TR = 134, 47 ( Total seluruh Fluida yang telah diambil)
4. Formation Fluid REC (FFR)
FFR = Total Recovery – Total Load
= 134,47 – 8,40
= 126,07
5. TL (Tubing Load)
TL = (set packer – IFL) : 115
= (1640 – 750,35) : 115
= 7,74
6. CS (Casing Load)
CS = (Interval paling atas – set packer) x 0,0394
= (1657 – 1640) x 0,0394
= 0,66
7. TL (Total Load)
TL = Tubing Load + Casing Load
= 7,74 + 0,66
= 8,40
63

8. RPR (Rate Per Run)


RPR = Nilai Stabil/Selang menit yang digunakan
= 4,6/10
Dalam 1 jam = 60 menit/ 10 menit
=6
Jadi RPR = RPR x banyaknya timbaan selama 1 jam
= 4,6 x 6 = 27,6
9. Walking Fluid Level = Level Fluida yang kita ambil setelah Stabil
WFL = SD – (Stabil Rate Per Run x 115)
= 1600 – (4,6 x 115)
= 1071

BMS #11 (AFTER INJECTIVITY)

Pada BMS#11 dilakukan swab pada interval 1720-1780 FT.


Packer jenis RTTS diletakkan pada kedalaman 1703 FT sedangakan
jenis RBP pada kedalaman 1800 FT. Packer berfungsi sebagai pembatas
tiap interval yang akan diswab. Pada jenjang 303 FT dari permukaan
well, alat swab (swab cup) telah menyentuh permukaan fluida.

Pada kedalaman 700 FT didapat fluida sebanyak 3.45 Bbls.


Kemudian dilanjut kedalaman 1200 FT didapat fluida sebanyak 4.37
Bbls. Dikarenakan jumlah fluida yang didapat belum stabil maka
dilakukan swab selanjutnya pada kedalaman 1500 FT dengan fluida
sebanyak 2.76 Bbls. Kemudian pada kedalaman 1650 diswab kembali
dilakukan dan tidak didapatlkannya fluida (dry).

Jumlah fluida yang diambil sebanyak 10.58 Bbls dengan jumlah


fluida yang diambil dari formasi sebanyak tidak ada. Rata-rata sekali
swab per jeda waktu yang stabil sebanyak 1.61 Bbls/30 menit dan per
jam sebanyak 3.22 Bbls.

Kemudian dilakukan pengukurusan water cut menggunakan


water cup dan ditemukan hasil 100% air pada well. Sehingga untuk
kegiatan lebih lanjut akan dilakukan work over untuk meningkatkan
produksi.

Hitungan Manual Swab :


64

1. IFL = SD – (FR x 115)


Cth: IFL= Kedalaman 1 (Swap Depth) – (Fluid Recovery x 115)
= 700 – (3,45 x 115)
= 700– (396,75) = 303
2. SD = Dry
3. TR = 10,58 ( Total seluruh Fluida yang telah diambil)
4. Formation Fluid REC (FFR) = Tidak Ada (Dry)
5. TL (Tubing Load)
TL = (set packer – IFL) : 115
= (1703 – 303,25) : 115
= 12,17
6. CS (Casing Load)
CS = (Interval paling atas – set packer) x 0,0394
= (1780 – 1703) x 0,0394
= 3,03
7. TL (Total Load)
TL = Tubing Load + Casing Load
= 12,18 + 3,03
= 15,2

BMS #11 (AFTER STABILE)

Pada BMS#11 dilakukan swab pada interval 1720-1780 FT.


Packer jenis RTTS diletakkan pada kedalaman 1703 FT sedangakan
jenis RBP pada kedalaman 1800 FT. Packer berfungsi sebagai pembatas
tiap interval yang akan diswab. Pada jenjang 418 FT dari permukaan
well, alat swab (swab cup) telah menyentuh permukaan fluida.

Pada kedalaman 1000 FT didapat fluida sebanyak 5.06 Bbls.


Kemudian dilanjut kedalaman 1300 FT didapat fluida sebanyak 3.91
Bbls. Dikarenakan jumlah fluida yang didapat belum stabil maka
dilakukan swab selanjutnya pada pada kedalaman 1650 dan didapat
fluida sebanyak 2.76 Bbls. Kemudian pada kedalaman yang sama
dilakukan swab kembali dan didapt fluida sebanyak 1.61 Bbls (sudah
stabil).

Jumlah fluida yang diambil sebanyak 42.34 Bbls dengan jumlah


fluida yang diambil dari formasi sebanyak 28.14 Bbls. Rata-rata sekali
swab per jeda waktu yang stabil sebanyak 1.61 Bbls/30 menit dan per
65

jam sebanyak 3.22 Bbls. Setalah mengalami keadaan stabil pada laju
fluida makam dilakukan pengukururan water cut kembali
menggunakan water cup dan ditemukan hasil 40% air pada well.

Hitungan Manual Swab :

1. IFL = SD – (FR x 115)


Cth: IFL= Kedalaman 1 (Swap Depth) – (Fluid Recovery x 115)
= 1000 – (5,06 x 115)
= 1000 – (581,9)
= 418
2. SD = 1650 ( Kedalaman Fluida yang telah statis)
3. TR = 42,34 ( Total seluruh Fluida yang telah diambil)
4. Formation Fluid REC (FFR)
FFR = Total Recovery – Total Load
= 42,34 – 14,2
= 28,14
5. TL (Tubing Load)
TL = (set packer – IFL) : 115
= (1703 – 303,25) : 115
= 12,17
6. CS (Casing Load)
CS = (Interval paling atas – set packer) x 0,0394
= (1780 – 1703) x 0,0394
= 3,03
7. TL (Total Load)
TL = Tubing Load + Casing Load
= 12,17 + 3,03
= 15,2
8. RPR (Rate Per Run)
RPR = Nilai Stabil/Selang menit yang digunakan

= 1,61/30

Dalam 1 jam = 60 menit/ 30 menit


=2
Jadi RPR = RPR x banyaknya timbaan selama 1 jam
= 1.61 x 2
= 3,22
9. Walking Fluid Level = Level Fluida yang kita ambil setelah Stabil
WFL = SD – (Stabil Rate Per Run x 115)
= 1650 – (1,61 x 115)
= 1465
66