Anda di halaman 1dari 56

dEvaluasi lahan Secara langsung

Waaaaahhh uda lama ni gk posting….


Akibat banyak kegiatan jadinya beginilah, uda jarang posting-posting artikel..

Tapi kali ini saya akan memposting artikel tentang Evaluasi Lahan Secara Langsung.
Langsung saja.
EL (Evaluasi lahan) secara langsung dilakukan melalui percobaan – percobaan untuk
melihat apa yang akan terjadi. Misalnya dengan menanam tanaman . dalam evaluasi lahan secara
langsung, ada 3 metode yang harus dilakukan:
1. Percobaan
2. Pengumpulan & pengolahan data hasil tanaman
3. Pengukuran komponen produktivitas pertanian

Evaluasi Lahan secara Langsung yang menggunakan data hasil tanaman harus
memperhatikan faktor-faktor :

1. Tanah
2. Cuaca pada periode pertanaman
3. Tindakan/tingkatan pengelolaan

Berdasarkan penelitian Dent dan Young (1981) : variasi hasil tanaman akibat perbedaan
pengelolaan mencapai 5 kali lipat (500 %); variasi jenis tanah 50-100 %
Dalam evaluasi lahan secara langsung, pengumpulan data produksi dapat dikumpulkan
melalui:

a. Petak percobaan
Petak percobaan ditujukan :
1. untuk mengetahui tingkat produksi alami
2. Mempelajari masalah pengelolaan tertentu
Untuk jangka panjang petak percobaan disebut test farm
Contoh Hasil Tanaman di test farm:
Produksi gabah kering (ku/ha) selama 10 thn
Tahun varietas
IR 5 Pelita I/1 IR 32

1972/1973 38,5 40,3 -

1973/1974 56,0 56,0 -

1974/1975 45,3 43,2 -

1975/1976 42,8 39,7 36,0

1976/1977 28,0 25,0 39.0

1977/1978 22,0 - 36,0

1978/1979 - 17,0 30,0

1980/1981 - 12,8 26,5

1981/1982 - - 21,0

Pedoman Percobaan Utk evaluasi daerah yang luas dan rekomendasi:


1. Lokasi percobaan sebaiknya pada jenis tanah yg sama yg mewakili satuan peta
2. Satuan peta yg sempit dihindari utk lokasi percobaan
3. Lokasi sebaiknya dapat dibandingkan dgn lokasi lain
4. Lokasi dgn kisaran penyebaran & iklim yg luas, maka data iklim perlu dikumpulkan
5. Percobaan sebaiknya dilakukan untuk jangka waktu yg lama
6. Ulangan harus cukup utk memungkinkan analisis statistik

b. Pengujian Pot
Pengujian pot dilakukan dgn mengambil sejumlah contoh tanah yg mewakili suatu areal dan
dilakukan pengujian thd pertumbuhan atau produksi suatu tanaman.
Keuntungan : faktor lingkungan dikontrol dan biaya lebih murah.
Kelemahan : faktor lingkungan yg dikontrol tsb shg tidak alami atau menggambarkan
masalah yg terdapat di lapangan, karenanya pengujian pot hanya digunakan sbg
petunjuk/indikator.
Contoh Data Pengujian Pot
Pengaruh Pupuk N pada berat kering gabah (g/pot) pada 2 jenis tanah & 3 tk respon
Jenis Tanah Tk respon Pupuk N
(kg/Ha)

0 50

Oksisol R 44,8 48,4

AR 5,8 8,1

TR 9,7 13,0

vertisol R 39,0 41,3

AR 31,8 34,1

TR 9,3 13,8

c. Produksi Tanaman di Lapangan


Data hasil dapat diperoleh relatif mudah dgn mengambil contoh produksi dari
lapangan(petani) dimana tanaman tumbuh di bawah kondisi pertanian yg ada.
Untuk mengatasi keragaman aikbat perbedaan teknik pengelolaan dibutuhkan ulangan.
Keragaman dapat dikurangi antara lain dgn mengelompokkan data dalam strata menurut tk
pengelolaannya

Tingkat pengelolaan pertanian


Tk 1. Pengelolaan biasa (ordinary management) yaitu tindakan pengelolaan yg paling umum
dilakukan
Tk 2. Pengelolaan maju (improved management) merupakan tindakan pengelolaan pertanian yg
lebih baik dari pengelolaan biasa, tetapi memerlukan masukan (input) modal yg besar serta
keterampian yg sangat tinggi.
Tk 3. Pengelolaan optimum (optimum management) yaitu tk pengelolaan seperti pd lembaga
penelitian, termasuk penggunaan metode mutakhir.
Contoh data pengamatan lapangan
Tk Pengelolaaa Jagung Kacang Tanah Tembakau kentang

Tradisional 740 440 480 2.000

Sederhana 2.900 910 920 7.800

Maju 5.700 1.000 1.150 11.600

Rata rata pendugaan hasil tanaman (kg/Ha) pada berbagai tk pengelolaan

d. Catatan Petani
Petani umumnya menyimpan catatan hasil yg diperoleh dari petak usaha taninya. Keadaan
lapangan usaha tani mereka umumnya beragam sehingga catatan/ data untuk beberapa tahun.
Permasalahan yg sering timbul dalam menggunakan data dari catatan petani adalah keadaan
lapangan atau areal produksi yg sering terdiri dari lebih satu jenis tanah
e. Statistik pertanian
Statistik pertanian yg dikumpulkan oleh pemerintah atau badan-badan lain dapat digunakan
sebagai dasar untuk memprediksi hasil. Contoh hasil sensus pertanian oleh BPS merupakan
sumber informasi penting dalam memprediksi hasil pada suatu daerah.
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga laporan ini dapat
terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan baik tanpa
adanya bimbingan dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dosen mata kuliah Bersangkutan, yang telah memberi ilmu dan pengarahan dalam makalah ini.
2. Bapak dan Ibu yang telah memberikan doa sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3. Sahabat- sahabat yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sebagai balasan atas amal baik
dari semua pihak yang telah disebutkan di atas. Penulis mengharap saran dan kritik membangun
guna kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua
pihak yang membacanya.

Garut, 1 Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Hal

KATAPENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Identifikasi Masalah 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Evaluasi lahan 2

2.2 Tujuan evaluasi lahan 2

2.3 Fungsi evaluasi lahan 2

2.4 Manfaat evaluasi lahan 3


2.5 Tahapan evaluasi lahan 3

2.6 Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan 5

2.7 Tata Cara dan Pengembangan Evaluasi Lahan 7

2.8. Evaluasi Kesesuaian Lahan 9

2.9 Metode Pendekatan Dalam Evaluasi Lahan 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 18

DAFTAR PUSTAKA 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif
penggunaan. Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi
wilayah yang hendak dievaluasi. Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan
memberikan gambaran tentang penggunaan lahan secara optimal guna meningkatkan
produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan tanaman duku (Abdullah,
1993).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian tersebut di atas, maka permasalahan pokok yang
dapat dirumuskan dan menjadi kajian dalam penulisan makalah ini adalah: “Hal-hal apa saja
yang berhubungan dengan “toksikologi pada tanaman teh”.

Permasalahan yang muncul diantaranya yaitu:

1. Bahgaimanakah kondisi lahan dari tiap-tiap tempan yang diteliti?

2. Apa fungsi dari survey lahan ini?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Evaluasi lahan

Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif
penggunaan. Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi
wilayah yang hendak dievaluasi. Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan
memberikan gambaran tentang penggunaan lahan secara optimal guna meningkatkan
produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan tanaman duku (Abdullah,
1993).

Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau
sumber daya lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan
untuk suatu tujuan penggunaan tertentu.Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat
pemetaan tanah, maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil
survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan
skala pemetaannya.

2.2 Tujuan evaluasi lahan

Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan
tertentu.Usaha ini dapat dikatakan melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga,
2003).

2.3 Fungsi evaluasi lahan

Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan


antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai
perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.

2.4 Manfaat evaluasi lahan

Manfaat dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu
penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan
lahan yang akan dilakukan. Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan
tersebut diharapkan akan menyebabkan perubahan-perubahan besar terhadap keadaan
lingkungannya.

2.5 Tahapan evaluasi lahan

2.5.1 Pendekatan

Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap
konsultasi awal (initial consultation) sampai kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO, 1976).
Kedua pendekatan itu adalah: 1) pendekatan dua tahapan (two stage approach); dan 2)
pendekatan paralel (parallel approach).
a. Pendekatan dua tahapan

Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap
kedua evaluasi lahan secara ekonomi. Pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam
inventarisasi sumber daya lahan baik untuk tujuan perencanaan makro, maupun untuk studi
pengujian potensi produksi (FAO, 1976).

Klasifikasi kesesuaian tahap pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan
yang telah diseleksi sejak awal kegiatan survei, seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah
dan perkebunan.Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap pertama terbatas hanya
untuk mencek jenis penggunaan lahan yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini
disajikan dalam bentuk laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua
untuk segera ditindak lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosialnya

b. Pendekatan parallel

Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi dilakukan
bersamaan (paralel), atau dengan kata lain analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan
lahan dilakukan secara serempak bersamaan dengan pengujian faktor-faktor fisik. Cara seperti
ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan yang spesifik dalam kaitannya dengan proyek
pengembangan lahan pada tingkat semi detil dan detil. Melalui pendekatan paralel ini diharapkan
dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.

2.5.2. Penyiapan Data

Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun
pendekatan paralel perlu didahului dengan konsultasi awal. Konsultasi awal ini untuk
menentukan tujuan dari evaluasi yang akan dilakukan, data apa yang diperlukan dan asumsi-
asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam penilaian. Evaluasi lahan yang akan
dilakukan tergantung dari tujuannya yang harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi
sumber daya lahan.
Urutan kegiatan dalam melaksanakan evaluasi lahan dapat dilihat pada Gambar 1.
Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: tingkat tinjau skala
1:250.000 atau lebih kecil; semi detil skala 1:25.000 sampai 50.000; dan detil skala 10.000
sampai 25.000 atau lebih besar. Jenis, jumlah, dan kualitas data yang dihasilkan dari ketiga
tingkat pemetaan tersebut bervariasi, sehingga penyajian hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai
berikut: pada tingkat tinjau dinyatakan dalam ordo, tingkat semi detil dalam kelas/subkelas, dan
pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. Petunjuk Teknis ini disarankan dipakai
terutama untuk tingkat pemetaan semi detil.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching)
data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun
berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas
pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk
112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan pada Lampiran 1–6. Pada proses
matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor pembatas yang akan menentukan
kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan
dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan
potensial). Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement
= I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.

Gambar 1. Urutan kegiatan dalam evaluasi lahan (FAO, 1983)

2.6 Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan

Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang
akan diterapkan. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada
kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi.
Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan
masukan teknologi tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk
perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah.Demikian pula dalam hal
penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah
secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas
dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik). Sebagai contoh
penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara
manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik.Kasus serupa
dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng.Pada lereng lebih besar dari 8%
jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau
diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana.
Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal: (1) yang menyangkut areal proyek; dan (2) yang
menyangkut pelaksanaan evaluasi/interpretasi serta waktu berlakunya dari hasil evaluasi lahan.
Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah
sebagai berikut:

- Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau
satuan peta tanah.
- Reliabilitas data yang tersedia: rendah, sedang, tinggi
- Lokasi penelitian atau daerah survei
- Kependudukan tidak dipertimbangkan dalam evaluasi
- Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
- Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan
tinggi.
- Pemilikan tanah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
- Pemasaran hasil produksi serta harga jual tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
- Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif, kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.

- Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan
dengan tingkat pengelolaannya.
- Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar.

2.7. Tata Cara dan Pengembangan Evaluasi Lahan


Evaluasi lahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu; (1) secara langsung, dan (2) secara tidak
langsung. Evaluasi lahan secara langsung dapat dilakukan melalui percobaan-percobaan dengan
cara menanam tanaman, atau membangun jalan, untuk melihat apa perubahan yang terjadi.
evaluasi lahan secara langsung bersifat sangat terbatas jika tidak disertai dengan pengumpulan
data yang cukup. Oleh karena itu sebagian besar evaluasi lahan dilakukan secara tidak
langsung.Melalui evaluasi lahan secara tidak langsung, diasumsikan bahwa tanah tertentu dengan
sifat-sifat lain yang terdapat pada suatu lokasi akan mempengaruhi keberhasilan jenis
penggunaan lahan tertentu. Keadaan ini dapat diprediksi, karena kualitas lahan dapat dideduksi
dari hasil pengamatan ciri lahan tersebut. Untuk lebih jelasnya tahapan evaluasi lahan secara
tidak langsung dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Pada tahapan tersebut dilakukan penentuan ciri lahan atau karakteristik lahan (land
characteristics) yang meliputi pengumpulan data mengenai keadaan tanah, topografi, iklim dan
sifat-sifat lain yang berhubungan dengan ekologi.Pengaruh karakteristik lahan pada sistem
penggunaan lahan jarang yang bersifat langsung (contoh, pertumbuhan tanaman tidak secara
langsung dipengaruhi oleh curah hujan atau tekstur tanah, tetapi dipengaruhi oleh ketersediaan
air, unsur hara serta serasi tanah).Kualitas lahan merupakan sifat kompleks atau sifat komposit
yang sesuai untuk suatu penggunaan, yang ditentukan oleh seperangkat karakteristik lahan yang
berinteraksi.

Penggunaan lahan berdasarkan FAO (1976) dapat dianalisis melalui tiga aspek, sebagai berikut.

1. Kesesuaian lahan, berhubungan dengan satu penggunaan lahan tertentu (contoh, kesesuaian
lahan untuk perkebunan tebu, padi, sagu, dan lain sebagainya);
2. Kemampuan lahan, berhubungan dengan serangkaian atau sejumlah penggunaan, dimana
ruang lingkupnya lebih luas (contoh, untuk pertanian, kehutanan, perkebunan);

3. Nilai lahan, merupakan konsep nilai yang didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang
dinyatakan dalam bentuk biaya per tahun (contoh, sewa).

Pengembangan sistem evaluasi lahan secara tidak langsung pada dasarnya meliputi identifikasi
ciri serta sifat lokasi yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan lahan tersebut.Sistem
kemudian dibangun dengan menggunakan nilai-nilai dari sifat-sifat tersebut, baik sebagai
kategori-kategori yang ditentukan atau sistem kategori ataupun sebagai kombinasi matematik.
Hasil kombinasi tersebut kemudian akan menghasilkan indeks yang dapat ditempatkan pada
suatu alat berupa skala yang dapat digeser-geser.

2.8.Evaluasi Kesesuaian Lahan

Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk
penggunaan tertentu (Sitorus, 1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk
mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kelas kesesuian lahan
untuk suatu areal dapat berbeda tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.

Selanjutnya Sitorus (1998) menyatakan bahwa evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan
proses pendugaan potensi sumber daya lahan untuk berbagai kegunaan dengan cara
membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan dengan sifat sumber
daya yang ada pada lahan tersebut. Fungsi kegiatan evaluasi lahan adalah memberikan
pengertian tentang hubungan antara kondisi lahan dengan penggunaannya serta memberikan
kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat
diharapkan berhasil.

FAO (1976) dalam Djaenuddin dkk (1994) menyatakan bahwa evaluasi lahan dapat dibedakan
atas a) pendekatan dua tahap yaitu tahapan pertama berdasarkan evaluasi lahan secara fisik atau
bersifat kualitatif kemudian diikuti dengan tahapan kedua berdasarkan analisis ekonomi dan
sosial, b) pendekatan paralel dimana evaluasi lahan baik secara fisik maupun ekonomi
dilaksanakan secara bersamaan.

Tanah

Menurut Arsyad (1985), tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu (1) sebagai sumber unsur hara
bagi tumbuhan dan (2) sebagai matriks tempat akar tumbuhan berjangkar, air tanah tersimpan
dan tempat unsur-unsur hara dan air ditambahkan. Kedua fungsi tersebut akan habis atau hilang
disebabkan kerusakan tanah. Hilangnya fungsi pertama dapat diperbaharui dengan mengadakan
pemupukan, tetapi hilangnya fungsi kedua tidak mudah diperbaharui.

Iklim
Iklim sangat berpengaruh terhadap usaha pertanian dan kadang-kadang merupakan faktor
penghambat utama disamping faktor-faktor lainnya. Iklim dapat berpengaruh terhadap tanah,
tanaman dan terhadap hama dan penyakit tanaman (Kartasapoetra dan Sutedjo, 1985).

Sandy (1977) menyatakan bahwa unsur-unsur iklim yang berpengaruh terhadap penggunaan
tanah adalah suhu dan curah hujan. Suhu (tenperatur) sangat ditentukan oleh perbedaan tinggi
tempat, sedangkan curah hujan sangat ditentukan oleh intensitas dan distribusinya.

Topografi

Ketinggian di atas permukaan laut, panjang dan derajat kemiringan lereng, posisi bentang lahan
mudah diukur dan dinilai sangat penting dalam evaluasi lahan. Faktor-faktor topografi
berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kualitas tanah. Faktor ini berpengaruh
berpengaruh terhadap kemungkinan bahaya erosi atau mudah tidaknya diusahakan demikian pula
didalam program mekanisme pertanian (Sitorus, 1989).

Vegetasi

Salah satu unsur lahan yang dapat berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktifitas
manusia adalah vegetasi baik pada masa lalu atau masa kini. Vegetasi dapat digunakan sebagai
petunjuk untuk mengetahui potensi lahan atau kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu
melalui adanya tanaman-tanaman sebagai indikator (Sitorus, 1989).

Sosial Ekonomi

Menurut Sitorus (1989), ada 3 masalah utama dalam menggunakan data sosial ekonomi utnuk
evaluasi lahan yaitu : (1) pengevaluasian mungkin tidak mengetahui secara tepat nomenklatur
dan konsep ekonomi, (2) data ekonomi yang tersedia pada umumnya didasarkan atas kerangka
yang berbeda dari informasi-informasi lainnya, (3) faktor-faktor ekonomi yang selalu berubah-
ubah. Dengan alasan-alasan di atas sebagian besar sistem evaluasi lahan mencoba menghindari
pertimbangan faktor sosial dalam pengevaluasian lahan.

2.9. Metode Pendekatan Dalam Evaluasi Lahan

Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan
pendekatan pembatas, parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.

2.9.1. Pendekatan Pembatas

Pendekatan pembatas adalah suatu cara untuk menyatakan kondisi lahan atau karakteristik lahan
pada tingkat kelas, dimana metode inimembagi lahan berdasarkan jumlah dan intensitas
pembatas lahan. Pembatas lahan adalah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik dan
kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et al.,
1991).

Metode ini membagi tingkat pembatas suatu lahan ke dalam empat tingkatan, sebagai berikut :
a. 0 (tanpa pembatas), digolongkan ke dalam S1

b. 1 (pembatas ringan), digolongkan ke dalam S1

c. 2 (pembatas sedang), digolongkan ke dalam S2

d. 3 (pembatas berat), digolongkan ke dalam S3

e. 4 (pembatas sangat berat), digolongkan ke dalam kelas N1 dan N2

2.9.2. Pendekatan Parametrik

Pendekatan parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai pada tingkat
pembatas yang berbeda pada sifat lahan, dalam skala normal diberi nilai maksimum 100 hingga
nilai minimum 0. Nilai 100 diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe penggunaan lahan yang
dipertimbangkan (Sys et al., 1991).

Pendekatan parametrik mempunyai berbagai keuntungan yaitu kriteria yang dapat


dikuantifikasikan dan dapat dipilih sehingga memungkinkan data yang obyektif; keandalan,
kemampuan untuk direproduksikan dan ketepatannya tinggi. Masalah yang mungkin timbul
dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal pemilihan sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu
yang diperlukan untuk mengkuantifikasikan sifat serta kenyataan bahwa masing-masing
klasifikasi hanya diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu (Sitorus, 1998).

Sistem klasifikasi lahan dengan pendekatan parametric di dalam menyusun system-sisstem


klasifikasi kemampuannya biasanya berbeda beda dalam memilih dan menggunakan factor-
faktor yang diikutsertakan dalam pertimbangan serta manipulasi matematik yang digunakan.
Paling tidak, ada tiga jenis manipulasi matematik yang sering digunakan dalam mengkombinasi
factor-faktor tersebut (FAO, 1974) yaitu :

1. penjumlahan (additive) dan atau pengurangan (subtractive) ; misalnya : P = A+B-C

2.Perkalian (multyiplicative) ; misalnya : P = A * B * C

3. Persamaan parametric kompleks, misalnya : P = A (B* C * D)

P adalah indeks atau nilai parametric yang berhubungan dengan produksi (kg/h,dan A,B,C dan D
adalh ciri tanah dan lokasi seperti kedalaman tanah,tekstur dan sebagainya).

a. Menentukan kelas lahan daerah Batu Tumpang berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)

Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%

Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 – 70 % = ∑ 65%

Faktor C : Nilai Atas dasar Lereng yaitu 33% berada dikisaran 30 – 50 % = ∑ 40%
Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C

Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = ∑6,8 (86,8%),
Relief : bukit kecil (80%).∑X = 78,36%

SIR = A * B * C * X = 0,6 * 0,65 * 0,4 * 0,78 = 0,122 ( 12,22% )

b. Menentukan kelas lahan daerah Badega berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)

Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%

Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 – 70 % = ∑ 65%

Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 55% berada dikisaran 5 – 30 % = ∑ 17,5%

Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C

Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = ∑ 6,8 (86,8%),
Relief : bukit kecil (80%). ∑X = 78,36%

SIR = 0,6 * 0,65 * 0,175 * 0,783 = 0,053 (5,34%)

c. Menentukan kelas lahan daerah Gunung Gelap berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)

Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%

Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu Lempung berliat = 85%

Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 25,5% berada dikisaran 70 – 80 % = ∑ 75%

Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C

Drainase :kurang baik 40-80% = ∑60% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 10 - 40% = ∑ 25%
(Sangat Hebat), pH = ∑ 6,2 (86,2%), Relief : Gunung 20 – 60 % = ∑40%. ∑X = 58,24%

SIR = 0,6 * 0,85 * 0,75 * 0,582 = 0,22 ( 22,26%)

2.9.3. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik

Kombinasi pendekatan parametrik dan pendekatan pembatas sering digunakan untuk


menentukan kelas kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu. Penentuan kelas kesesuaiannya
dilakukan dengan cara memberi bobot atau harkat berdasarkan nilai kesetaraan tertentu dan
menentukan tingkat pembatas lahan yang dicirikan oleh bobot terkecil (Sys et al., 1991).

Kriteria Penilaian Kelas Kesesuain Lahan


Indeks Lahan Nilai Tingkat Kelas Kesesuaian

atau Iklim Ekivalensi Pembatas Lahan


> 75 100 – 85 Tidak ada S1

50 – 75 85 – 60 Ringan S2

25 – 50 60 – 40 Sedang S3

12 – 25 40 – 25 Berat N1

< 12 < 25 Sangat Berat N2

Sumber : Sys et al. (1991)

2.10. Klasifikasi Kesesuaian Lahan

Kesesuaian lahan merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk


penggunaan tertentu. Klasifikasi kesesuaian lahan merupakan penilaian pengelompokan suatu
kawasan tertentu. Klasifikasi kesesuaian lahan merupakan penilaian dan pengelompokan suatu
kawasan tertentu dari lahan dalam hubungannya dengan penggunaan yang dipertimbangkan
(FAO, 1976) dalam Sitorus (1998).Struktur dari kesesuaian lahan menurut metode FAO (1976)
yang terdiri dari empat kategori yaitu :

(1) Ordo : menunjukkan jenis/macam kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara umum.

(2) Kelas : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo.

(3) Sub-kelas : menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan di dalam
kelas.

(4) Unit : menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di


dalam sub-kelas.

Ordo

Tingkat ini menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Oleh
karena itu ordo kesesuaian lahan dibagi dua, yaitu :

a. Ordo S : Sesuai

Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunaan
tertentu secara lestari, tanpa atau dengan sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya
lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi masukan
yang diberikan.
b. Ordo N : Tidak Sesuai

Lahan yang termasuk ordo ini mempunyai pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah suatu
penggunaan secara lestari.

Kelas

Ada tiga kelas dari ordo tanah yang sesuai dan dua kelas untuk ordo tidak sesuai, yaitu :

Kelas S1 : Sangat Sesuai

Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan secara lestari atau hanya
mempunyai pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap
produksinya serta tidak akan menaikkan masukan dari apa yang telah biasa diberikan.

Kelas S2 : Cukup Sesuai

Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas agak berat untuk suatu penggunaan yang
lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan sehingga akan meningkatkan
masukan yang diperlukan.

Kelas S3 : Sesuai Marjinal

Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk suatu penggunaan yang
lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas atau keuntungan dan perlu menaikkan masukan
yang diperlukan.

Kelas N1 : Tidak Sesuai pada saat ini

Lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tetapi masih mungkin diatasi.

Kelas N2 : Tidak Sesuai selamanya

Lahan yang mempunyai pembatas yang permanen, mencegah segala kemungkinan penggunaan
lahan.

Sub Kelas

Sub kelas kesesuaian lahan menggambatkan jenis faktor pembatas. Sub kelas ditunjukkan oleh
huruf jenis pembatas yang ditempatkan sesudah simbol S2, S3, atau N sedangkan S1 tidak
mempunyai sub kelas karena tidak mempunyai faktor pembatas.

Beberapa jenis pembatas yang menentukan sub kelas kesesuaian lahan, yaitu :

a. Pembatas iklim (c)


b. Pembatas topografi (t)

c. Pembatas kebasahan (w)

d. Pembatas faktor fisik tanah (s)

e. Pembatas faktor kesuburan tanah (f)

f. Pembatas salinitas dan alkalinitas (n)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif
penggunaan. Evaluasi kesesuaian lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi
wilayah yang hendak dievaluasi. Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan terhadap lahan akan
memberikan gambaran tentang penggunaan lahan secara optimal guna meningkatkan
produktivitas lahan khususnya evaluasi lahan terhadap pembudidayaan tanaman duku (Abdullah,
1993).

Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan
tertentu.Usaha ini dapat dikatakan melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga,
2003).

Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan


antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai
perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.

Manfaat dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu
penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan
lahan yang akan dilakukan. Hal ini penting terutama apabila perubahan penggunaan lahan
tersebut diharapkan akan menyebabkan perubahan-perubahan besar terhadap keadaan
lingkungannya.

Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk
penggunaan tertentu (Sitorus, 1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk
mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman. Kelas kesesuian lahan
untuk suatu areal dapat berbeda tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.

Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan
pendekatan pembatas, parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.

DAFTAR PUSTAKA
Makalah Evaluasi Lahan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan lahan yang semakin meningkat, langkanya lahan pertanian yang subur dan potensial, serta adanya persaingan
penggunaan lahan antara sektor pertanian dan non-pertanian, memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan
penggunaan lahan secara berkelanjutan. Untuk dapat memanfaatkan sumber daya lahan secara terarah dan efisien diperlukan
tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan sifat lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh
tanaman yang diusahakan, terutama tanaman-tanaman yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi cukup baik. Data iklim, tanah,
dan sifat fisik lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta terhadap aspek manajemennya perlu
diidentifikasi melalui kegiatan survei dan pemetaan sumber daya lahan. Data sumber daya lahan ini diperlukan terutama untuk
kepentingan perencanaan pembangunan dan pengembangan pertanian. Data yang dihasilkan dari kegiatan survei dan pemetaan sumber
daya lahan masih sulit untuk dapat dipakai oleh pengguna (users) untuk suatu perencanaan tanpa dilakukan interpretasi bagi keperluan
tertentu.

Evaluasi lahan merupakan suatu pendekatan atau cara untuk menilai potensi sumber daya lahan. Hasil evaluasi lahan akan
memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang kemungkinan akan
diperoleh. Beberapa sistem evaluasi lahan yang telah banyak dikembangkan dengan menggunakan berbagai pendekatan, yaitu ada yang
dengan sistem perkalian parameter, penjumlahan, dan sistem matching atau mencocokkan antara kualitas dan sifat-sifat lahan (Land
Qualities/Land Characteritics) dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang disusun berdasarkan persyaratan tumbuh komoditas
pertanian yang berbasis lahan. Sistem evaluasi lahan yang pernah digunakan dan yang sedang dikembangkan di Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Balai Penelitian Tanah Bogor diantaranya:

1. Klasifikasi kemampuan wilayah (Soepraptohardjo, 1970)

2. Sistem pendugaan kesesuaian lahan secara parametrik (Driessen, 1971)

3. Sistem yang digunakan oleh Proyek Penelitian Pertanian Menunjang Transmigrasi atau P3MT (Staf PPT, 1983)

4. Sistem yang digunakan dalam Reconnaissance Land Resources Surveys 1:250.000 scale Atlas Format Procedures (CSR/FAO, 1983)

5. Land Evaluation Computer System atau LECS (Wood, and Dent, 1983)

6. Automated Land Evalution System atau ALES (Rossiter D.G., and A.R. Van Wambeke, 1997)
Adanya berbagai sistem atau metode yang digunakan dalam evaluasi lahan tanpa mempertimbangkan tingkat dan skala peta dalam
hubungannya dengan ketersediaan dan kehandalan (accuracy) data, dapat mengakibatkan terjadinya kerancuan dalam interpretasi dan
evaluasi lahan. Sebagai contoh sistem Atlas Format (CSR/FAO, 1983) yang pada awalnya ditujukan untuk keperluan evaluasi lahan pada
tingkat tinjau (reconnaissance) skala 1:250.000, sering juga digunakan untuk evaluasi lahan pada skala yang lebih besar (semi detil atau
detil). Hal ini mengakibatkan informasi dan data yang begitu lengkap dari hasil pemetaan semi detil dan detil, tidak nampak peranannya
dalam hasil evaluasi lahan, sehingga hasil tersebut masih sulit digunakan untuk keperluan alih teknologi dalam perencanaan pembangunan
pertanian khususnya untuk skala mikro. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya suatu Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan yang dapat
digunakan sesuai dengan tingkat pemetaan dan skala peta, serta tujuan dari evaluasi lahan yang akan dilakukan dalam kaitannya dengan
ketersediaan dan validitas data. Petunjuk teknis ini disusun mengacu kepada “Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian Versi
3.0” (Djaenudin et al., 2000), dan dirancang untuk keperluan pemetaan tanah tingkat semi detil (skala peta 1:50.000).

B. Tujuan
Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan tertentu. Usaha ini dapat dikatakan
melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga, 2003).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perkenalan
Lahan digunakan sebagai media untuk memulai perencanaan. Setiap lahan mempunyai kapasitas yang berbeda-beda. Ada lahan
yang bisa ditanami tamanan yang dapat berproduksi dengan kualitas terbaik. Ada lahan yang difungsikan sebagai jalanan, permukiman,
kebun dan ada juga lahan yang tidak bisa ditanami karena kandungan tanahnya. Maka setiap lahan mempunyai kemampuan untuk
keberlanjutan kedepannya.
Kampuan suatu lahan dapat mempengaruhi harga, dan kedepannya akan terjadi persaingan harga lahan (ekonomi lahan). Dan
perusahaan, individu atapun lembaga yang mempunyai kepentingan terhadap lahan akan membayar lebih untuk suatu tempat dari pada
memilih tempat yang lain. Suatu tempat ataupun lahan mungkin sangat diinginkan karena sumber daya mineral, kualitas tanah, pasokan
air, iklim, topografi, lingkungan menyenangkan, baik akses input ataupun output, penawaran tenaga kerja dan sebagainya. Namun
penggunaan lahan diatur melalui sistem harga.

B. Terminologi Evaluasi Lahan


Pada dasarnya definisinya : tanah dan lahan
1. Definisi Tanah
a. Menurut Ensiklopedi Indonesia, tanah adalah campuran bagian - bagian batuan dengan material serta bahan organik yang merupakan
sisa kehidupan yang timbul pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.
b. Menurut Marbut (ahli tanah Amerika Serikat), tanah adalah bagian terluar dari kulit bumi yang biasanya dalam keadaan lepas - lepas,
lapisannya bisa sangat tipis dan bisa sangat tebal, perbedaannya dengan lapisan di bawahnya adalah hal warna, struktur, sifat fisik, sifat
biologis, komposisi kimia, proses kimia dan morfologinya.
2. Definisi Lahan
Lahan yaitu lingkungan fisik yang tediri dari iklim, relief, air, vegetasi serta benda-benda yang diatasnya termasud didalamnya
hasil kegitan manusia masa lalu dan masa sekarang.

3. Definisi
Evaluasi lahan menurut FAO, 1976 yaitu proses penilaian penampilan lahan untuk tujuan tertentu, meliputi pelaksanaan dan
interpretasi survay serta studi betuk lahan, tanah, vegetasi, iklim dan aspek lahan lainnya, agar dapat mengidentifikasi dan membuat
perbandingan berbagai penggunaan lahan yang mungkin dikembangkan.
Melakukan evaluasi dan monitoring terlahan penggunaan lahan sangat penting, apalagi ketika lahan itu sedang direncanakan
dan sedang dalam proses pengerjaan. Evaluasi lahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu; (1) secara langsung, dan (2) secara tidak
langsung. Evaluasi lahan secara langsung dapat dilakukan melalui percobaan-percobaan dengan cara menanam tanaman, atau
membangun jalan, untuk melihat apa perubahan yang terjadi. evaluasi lahan secara langsung bersifat sangat terbatas jika tidak disertai
dengan pengumpulan data yang cukup. Oleh karena itu sebagian besar evaluasi lahan dilakukan secara tidak langsung. Melalui evaluasi
lahan secara tidak langsung, diasumsikan bahwa tanah tertentu dengan sifat-sifat lain yang terdapat pada suatu lokasi akan
mempengaruhi keberhasilan jenis penggunaan lahan tertentu. Keadaan ini dapat diprediksi, karena kualitas lahan dapat dideduksi dari
hasil pengamatan ciri lahan tersebut.

4. Klasifikasi kemampuan lahan


Sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak digunakan adalah sistem USDA yang dikemukakan dalam Agricultural
Handbook No. 210 (Klingebiel dan Montgomery, 1961). Sistem ini mengenal tiga kategori yaitu klas, subkelas, dan unit. Penggolongan ke
dalam klas, subkelas dan unit berdasar atas kemampuan lahan tersebut untuk produksi pertanian secara umum tanpa menimbulkan
kerusakan dalam jangka panjang.

5. Klasifikasi Kesesuaian Lahan


Klasifikasi kesesuaian lahan menurut metode FAO (1976) dapat dipakai untuk klasifikasi kesesuaian lahan kuantitatif maupun
kualitatif, tergantung dari data yang tersedia.
a. Kesesuaian lahan kuantitatif adalah kesesuaian lahan yang ditentukan berdasar atas penilaian karakteristik (kualitas) lahan secara
kuantitatif (dengan angka-angka) dan biasanya dilakukan juga perhitungan-perhitungan ekonomi (biaya dan pendapatan). dengan
memperhatikan aspek pengolahan dan produktivitas lahan.
b. Kesesuaian lahan kualitatif adalah kesesuaian lahan yang ditentukan berdasar atas penilaian karakteristik (kualitas) lahan secara
kualitatif (tidak dengan angka-angka) dan tidak ada per hitungan-perhitungan ekonomi. Biasanya dilakukan dengan cara memadankan
(membandingkan) kriteria masing-masing kelas kesesuaian lahan dengan karakteristik (kualitas) lahan yang dimilikinya. Kelas kesesuaian
lahan ditentukan oleh faktor fisik (karakteristik kualitas lahan) yang merupakan faktor penghambat terberat.

C. Batasan dan Ruang Lingkup Evaluasi Lahan


Informasi tanah merupakan salah satu bagian sumberdaya alam yang mempunyai pengaruh langsung dan kelanjutan bagi
pengguna pertanian. Informasi bentuk lahan, topografi dan formasi geologi secara tidak langsung mempengaruhi bentuk penggunaan
lahan dan jenis tanah tanaman yang diusahakan (Sitorus, 1995), factor-faktor topografi (ketinggian, panjang dan derajat lereng, posisi
pada bentang lahan) dapat berpengaruh tidak langsung pada penggunaan lahan bagi usaha pertanian.
Evaluasi lahan mempertimbangkan kemugkinan penggunaan dan faktor pembatasan tersebut dan berusaha menerjemahakan
informasi-informasi yang cukup banyak dari lahan tersebut kedalam bntuk-bentuk yang dapat di gunakan para praktisi seperti petani,
para ilmuwan yang mempertanyakan kemungkinan untuk menanam jenis tanaman tertentu, atau pertanyaan yang berhubungan dengan
pekerjaan keteknisan (Worosuprojdo.S. 1989).
Kemampuan lahan yang tinggi diharapkan berpotensi besar dalam berbagai penggunaan, yang memungkinkan penggunan ynag
intensif yang berbagai macam kegiatan. Sistem tersebut mengelompokkan lahan kedalam sejumlah kecil kategori yang diurutkan menurut
faktor penghambat dan sejumlah cirri-ciri tanah serta lingkungan lainnya.
Kesesuaian lahan adalah bentuk penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu (FAO, 1976)
kelas kesesuian lahan suatu arela dapat saja berbeda tergantung pada tipe penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan. Evaluasi
kesesuaian lahan pada dasarnya berhubungan dengan evaluasi untuk suatu penggunaan tertentu, seperti untuk budidaya padi, palawija,
jagung dan sebagainya, sedangkan evaluasi kemampuan lahan umumnya ditujukan untuk penggunaan yang lebih umum seperti
penggunaan untuk pertanian, pemungkinan, industri, perkotaan, jasa, peruntukan dan sebagainya.
USDA mengelompkkan system kalsifikasi lahan melalui interpretasi yang dibuat terutama untuk pertanian. Pengelompokan lahan
yang dapat digarap menurut potensi dan penghambatnya untuk dapat berproduksi secara lestari, yang mendasarkan pada faktor-faktor
penghambat dan potensi bahaya lainang masih dapat di terima dalam klasifikasi lahan (Bibby dan Mackney dalam Sitorus, 1995).

BAB III

PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan adalah suatu pendekatan untuk menilai potensi sumberdaya lahan. Evaluasi lahan adalah tahap lebih lanjut dari
kegiatan survey dan pemetaan sumberdaya lahan masih sulit untuk dipakai untuk suatu perencanaan tanpa dilakukan interpretasi bagi
keperluan tertentu.
Dasar interpretasi dalam evaluasi lahan, bahwa areal dengan keseragaman sifat-sifat tanah, vegetasi, geologi, dan lereng
merupakan kesatuan habitat yang dianggap memberikan kesempatan pemakaian yang seragam pula. Keadaan lahan disuatu daerah pada
umumnya memilki kondisi yang bervariasi karena adanya perbedaan fisik (lereng, drainase,pH, toksisitas, suhu dan sebagainya) kondisi
yang beragam ini berakibat pada perbedaan kualitas lahan yang menyebabkan kesesuaian usaha tanaman pertanian berbeda. Di dalam
memanfaatkan kondisi lahan yang bervariasi ini apabila tidak sesuai dengan peruntukkannya, maka harapan produksi tidak akan
terpenuhi.
Perencanaan penggunaan lahan untuk jenis tanaman tertentu, khususnya pada upaya peningkatan produksi pertanian harus
didasarkan dengan perencanaan yang baik. Untuk penyusun perencanaan tersebut dibutuhkan informasi dasar sumberdaya lahan yang
meliputi tentang masalah kemampuan lahan dan kesesuaian lahan, karena kemampuan lahan merupakan sifat dakhil lahan yang
menyatakan daya dukungnya untuk memberikan hasil pertanian pada tingkat tertentu.
Evaluasi kesesuaian lahan berupaya mengestimasi daya dukung lahan untuk penggunaan tertentu.sedangkan kesesuaian lahan
menitikberatkan pada tingkat kecocokan sebidang lahan untuk satu penggunaan tertentu klasifikasi kesesuaian lahan merupakan suatu
proses penilaian dan pengelompokan lahan dalam arti kesesuaian relative lahan atau kesesuaian absulut lahan bagi suatu penggunaan
tertentu.

B. Klasifikasi Kesesuaian Lahan


Klasifikasi lahan dapat didefinisikan sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasarkan sifat-
sifat lahan atau kesesuainnya untuk berbagai penggunaan (Soil Conservation Society Of Amerika, 1982).
Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika untuk pengaturan dari berbagai macam lahan ke dalam kategori-
kategori yang ditentukan menurut sifat lahan itu sendiri, sifat ini meliputi sifat yang dapat diamati secara langsung ( Kemiringan lereng
sifat-sifat yang hanya ditetapkan dengan penyidikan kesuburan tanah ). Sistem klasifikasi lahan sering dirancang untuk keperlua yang
sangat terbatas dan mungkin hanya menekankan pada sifat lahan.
Prosedur klasifikasi lahan variasi dari satu sistem ke sistem lainnya karena adanya perbedaan dalam prinsif-prinsif, asumsi-
asumsi dan kepentingannya, selain itu untuk mencapai keperluan yang sama, sifat lahan yang sama dapat diintegrasikan secara berbeda
dengan memberikan bobot yang berbeda di dalam kombinasi-kombinasi yang tidak serupa (kellogg, 1951).
Sebagian besar dari sistem menyelesaikan klasifikasi lahan dengan jalan membagi lahan ke dalambagian-bagian yang lebih
kecil yang merupaka satu-satuan lahan yang lebih seragam untuk memperoleh deskripsi yang lebih sederhana dan lebih tepat )Beckett
dan Webster, 1965).
C. Tahapan Evaluasi Lahan
1. Pendekatan
Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap konsultasi awal (initial consultation) sampai
kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO, 1976). Kedua pendekatan itu adalah: 1) pendekatan dua tahapan (two stage approach); dan 2)
pendekatan paralel (parallel approach).
a. Pendekatan dua tahapan
Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi lahan secara ekonomi.
Pendekatan tersebut biasanya digunakan dalam inventarisasi sumber daya lahan baik untuk tujuan perencanaan makro, maupun untuk
studi pengujian potensi produksi (FAO, 1976).

Klasifikasi kesesuaian tahap pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang telah diseleksi sejak awal
kegiatan survei, seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah dan perkebunan.Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap
pertama terbatas hanya untuk mencek jenis penggunaan lahan yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk
laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan
sosialnya.

b. Pendekatan parallel
Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi dilakukan bersamaan (paralel), atau dengan kata lain
analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan lahan dilakukan secara serempak bersamaan dengan pengujian faktor-faktor fisik.
Cara seperti ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan yang spesifik dalam kaitannya dengan proyek pengembangan lahan pada
tingkat semi detil dan detil. Melalui pendekatan paralel ini diharapkan dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.

2. Penyiapan Data
Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun pendekatan paralel perlu didahului
dengan konsultasi awal. Konsultasi awal ini untuk menentukan tujuan dari evaluasi yang akan dilakukan, data apa yang diperlukan dan
asumsi-asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam penilaian. Evaluasi lahan yang akan dilakukan tergantung dari tujuannya
yang harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi sumber daya lahan.
Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: tingkat tinjau skala 1:250.000 atau lebih kecil; semi detil
skala 1:25.000 sampai 50.000; dan detil skala 10.000 sampai 25.000 atau lebih besar. Jenis, jumlah, dan kualitas data yang dihasilkan
dari ketiga tingkat pemetaan tersebut bervariasi, sehingga penyajian hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai berikut: pada tingkat tinjau
dinyatakan dalam ordo, tingkat semi detil dalam kelas/subkelas, dan pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. Petunjuk
Teknis ini disarankan dipakai terutama untuk tingkat pemetaan semi detil.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan
dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan
tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk 112 jenis
komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan pada Lampiran 1–6. Pada proses matching hukum minimum dipakai untuk menentukan
faktor pembatas yang akan menentukan kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan
dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan potensial). Keadaan potensial dicapai setelah
dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement = I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.

3. Asumsi-Asumsi Dalam Evaluasi Lahan


Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang akan diterapkan. Dalam hal ini
apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi.
Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan masukan teknologi tinggi, tentu
berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah.Demikian
pula dalam hal penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah secara manual (cangkul
atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat
berat (mekanik). Sebagai contoh penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara manual
tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik.Kasus serupa dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal
ini lereng.
Pada lereng lebih besar dari 8% jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian
kalau diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana.
Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal: (1) yang menyangkut areal proyek; dan (2) yang menyangkut pelaksanaan
evaluasi/interpretasi serta waktu berlakunya dari hasil evaluasi lahan.
Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah sebagai berikut:
a. Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau satuan peta tanah.
b. Reliabilitas data yang tersedia: rendah, sedang, tingg.
c. Lokasi penelitian atau daerah survei
d. Kependudukan tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
e. Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
f. Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan tinggi.
g. Pemilikan tanah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
h. Pemasaran hasil produksi serta harga jual tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
i. Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif, kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.
j. Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan dengan tingkat pengelolaannya.
k. Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar.

4. Tata Cara dan Pengembangan Evaluasi Lahan


Evaluasi lahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu; (1) secara langsung, dan (2) secara tidak langsung. Evaluasi lahan secara
langsung dapat dilakukan melalui percobaan-percobaan dengan cara menanam tanaman, atau membangun jalan, untuk melihat apa
perubahan yang terjadi. evaluasi lahan secara langsung bersifat sangat terbatas jika tidak disertai dengan pengumpulan data yang cukup.
Oleh karena itu sebagian besar evaluasi lahan dilakukan secara tidak langsung.Melalui evaluasi lahan secara tidak langsung, diasumsikan
bahwa tanah tertentu dengan sifat-sifat lain yang terdapat pada suatu lokasi akan mempengaruhi keberhasilan jenis penggunaan lahan
tertentu. Keadaan ini dapat diprediksi, karena kualitas lahan dapat dideduksi dari hasil pengamatan ciri lahan tersebut. Untuk lebih
jelasnya tahapan evaluasi lahan secara tidak langsung dapat dilihat pada diagram berikut ini.
Pada tahapan tersebut dilakukan penentuan ciri lahan atau karakteristik lahan (land characteristics) yang meliputi
pengumpulan data mengenai keadaan tanah, topografi, iklim dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan ekologi.Pengaruh karakteristik
lahan pada sistem penggunaan lahan jarang yang bersifat langsung (contoh, pertumbuhan tanaman tidak secara langsung dipengaruhi
oleh curah hujan atau tekstur tanah, tetapi dipengaruhi oleh ketersediaan air, unsur hara serta serasi tanah).Kualitas lahan merupakan
sifat kompleks atau sifat komposit yang sesuai untuk suatu penggunaan, yang ditentukan oleh seperangkat karakteristik lahan yang
berinteraksi.
Penggunaan lahan berdasarkan FAO (1976) dapat dianalisis melalui tiga aspek, sebagai berikut.
a. Kesesuaian lahan, berhubungan dengan satu penggunaan lahan tertentu (contoh, kesesuaian lahan untuk perkebunan tebu, padi, sagu,
dan lain sebagainya);
b. Kemampuan lahan, berhubungan dengan serangkaian atau sejumlah penggunaan, dimana ruang lingkupnya lebih luas (contoh, untuk
pertanian, kehutanan, perkebunan);
c. Nilai lahan, merupakan konsep nilai yang didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk biaya per tahun (contoh,
sewa).
d. Pengembangan sistem evaluasi lahan secara tidak langsung pada dasarnya meliputi identifikasi ciri serta sifat lokasi yang
mempengaruhi keberhasilan penggunaan lahan tersebut.Sistem kemudian dibangun dengan menggunakan nilai-nilai dari sifat-sifat
tersebut, baik sebagai kategori-kategori yang ditentukan atau sistem kategori ataupun sebagai kombinasi matematik. Hasil kombinasi
tersebut kemudian akan menghasilkan indeks yang dapat ditempatkan pada suatu alat berupa skala yang dapat digeser-geser.

5. Evaluasi Kesesuaian Lahan


Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu (Sitorus,
1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan
tanaman. Kelas kesesuian lahan untuk suatu areal dapat berbeda tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.
Selanjutnya Sitorus (1998) menyatakan bahwa evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan proses pendugaan potensi sumber
daya lahan untuk berbagai kegunaan dengan cara membandingkan persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan dengan
sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut. Fungsi kegiatan evaluasi lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan antara
kondisi lahan dengan penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan
yang dapat diharapkan berhasil.
FAO (1976) dalam Djaenuddin dkk (1994) menyatakan bahwa evaluasi lahan dapat dibedakan atas a) pendekatan dua tahap yaitu
tahapan pertama berdasarkan evaluasi lahan secara fisik atau bersifat kualitatif kemudian diikuti dengan tahapan kedua berdasarkan
analisis ekonomi dan sosial, b) pendekatan paralel dimana evaluasi lahan baik secara fisik maupun ekonomi dilaksanakan secara
bersamaan.
a. Tanah
Menurut Arsyad (1985), tanah mempunyai dua fungsi utama yaitu (1) sebagai sumber unsur hara bagi tumbuhan dan (2) sebagai
matriks tempat akar tumbuhan berjangkar, air tanah tersimpan dan tempat unsur-unsur hara dan air ditambahkan. Kedua fungsi
tersebut akan habis atau hilang disebabkan kerusakan tanah. Hilangnya fungsi pertama dapat diperbaharui dengan mengadakan
pemupukan, tetapi hilangnya fungsi kedua tidak mudah diperbaharui.

b. Iklim
Iklim sangat berpengaruh terhadap usaha pertanian dan kadang-kadang merupakan faktor penghambat utama disamping faktor-
faktor lainnya. Iklim dapat berpengaruh terhadap tanah, tanaman dan terhadap hama dan penyakit tanaman (Kartasapoetra dan Sutedjo,
1985).

Sandy (1977) menyatakan bahwa unsur-unsur iklim yang berpengaruh terhadap penggunaan tanah adalah suhu dan curah
hujan. Suhu (tenperatur) sangat ditentukan oleh perbedaan tinggi tempat, sedangkan curah hujan sangat ditentukan oleh intensitas dan
distribusinya.

c. Topografi
Ketinggian di atas permukaan laut, panjang dan derajat kemiringan lereng, posisi bentang lahan mudah diukur dan dinilai sangat
penting dalam evaluasi lahan. Faktor-faktor topografi berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kualitas tanah. Faktor ini
berpengaruh berpengaruh terhadap kemungkinan bahaya erosi atau mudah tidaknya diusahakan demikian pula didalam program
mekanisme pertanian (Sitorus, 1989).

d. Vegetasi
Salah satu unsur lahan yang dapat berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktifitas manusia adalah vegetasi baik pada
masa lalu atau masa kini. Vegetasi dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui potensi lahan atau kesesuaian lahan bagi suatu
penggunaan tertentu melalui adanya tanaman-tanaman sebagai indikator (Sitorus, 1989).

e. Sosial Ekonomi
Menurut Sitorus (1989), ada 3 masalah utama dalam menggunakan data sosial ekonomi utnuk evaluasi lahan yaitu : (1)
pengevaluasian mungkin tidak mengetahui secara tepat nomenklatur dan konsep ekonomi, (2) data ekonomi yang tersedia pada umumnya
didasarkan atas kerangka yang berbeda dari informasi-informasi lainnya, (3) faktor-faktor ekonomi yang selalu berubah-ubah. Dengan
alasan-alasan di atas sebagian besar sistem evaluasi lahan mencoba menghindari pertimbangan faktor sosial dalam pengevaluasian
lahan.

6. Metode Pendekatan Dalam Evaluasi Lahan


Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan pendekatan pembatas, parametrik dan
kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.
a. Pendekatan Pembatas
Pendekatan pembatas adalah suatu cara untuk menyatakan kondisi lahan atau karakteristik lahan pada tingkat kelas, dimana metode
inimembagi lahan berdasarkan jumlah dan intensitas pembatas lahan. Pembatas lahan adalah penyimpangan dari kondisi optimal
karakteristik dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et al., 1991).

Metode ini membagi tingkat pembatas suatu lahan ke dalam empat tingkatan, sebagai berikut :

1) 0 (tanpa pembatas), digolongkan ke dalam S1


2) 1 (pembatas ringan), digolongkan ke dalam S1
3) 2 (pembatas sedang), digolongkan ke dalam S2
4) 3 (pembatas berat), digolongkan ke dalam S3
5) 4 (pembatas sangat berat), digolongkan ke dalam kelas N1 dan N2

b. Pendekatan Parametrik
Pendekatan parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai pada tingkat pembatas yang berbeda pada sifat
lahan, dalam skala normal diberi nilai maksimum 100 hingga nilai minimum 0. Nilai 100 diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe
penggunaan lahan yang dipertimbangkan (Sys et al., 1991).
Pendekatan parametrik mempunyai berbagai keuntungan yaitu kriteria yang dapat dikuantifikasikan dan dapat dipilih sehingga
memungkinkan data yang obyektif; keandalan, kemampuan untuk direproduksikan dan ketepatannya tinggi. Masalah yang mungkin timbul
dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal pemilihan sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu yang diperlukan untuk
mengkuantifikasikan sifat serta kenyataan bahwa masing-masing klasifikasi hanya diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu
(Sitorus, 1998).
Sistem klasifikasi lahan dengan pendekatan parametric di dalam menyusun system-sisstem klasifikasi kemampuannya biasanya
berbeda beda dalam memilih dan menggunakan factor-faktor yang diikutsertakan dalam pertimbangan serta manipulasi matematik yang
digunakan. Paling tidak, ada tiga jenis manipulasi matematik yang sering digunakan dalam mengkombinasi factor-faktor tersebut (FAO,
1974) yaitu :
1) Penjumlahan (additive) dan atau pengurangan (subtractive) ; misalnya : P = A+B-C
2) Perkalian (multyiplicative) ; misalnya : P = A * B * C
3) Persamaan parametric kompleks, misalnya : P = A (B* C * D)
P adalah indeks atau nilai parametric yang berhubungan dengan produksi (kg/h,dan A,B,C dan D adalh ciri tanah dan lokasi seperti
kedalaman tanah,tekstur dan sebagainya).
1) Menentukan kelas lahan daerah Batu Tumpang berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
a) Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%
b) Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 – 70 % = ∑ 65%
c) Faktor C : Nilai Atas dasar Lereng yaitu 33% berada dikisaran 30 – 50 % = ∑ 40%
d) Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C
Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = ∑6,8 (86,8%), Relief : bukit kecil (80%).∑X = 78,36%
SIR = A * B * C * X = 0,6 * 0,65 * 0,4 * 0,78 = 0,122 ( 12,22% )

2) Menentukan kelas lahan daerah Badega berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
a) Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%
b) Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu liat berdebu 60 – 70 % = ∑ 65%
c) Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 55% berada dikisaran 5 – 30 % = ∑ 17,5%
d) Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C
Drainase : 100% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 45% (Erosi Parit), pH = ∑ 6,8 (86,8%), Relief : bukit kecil (80%). ∑X = 78,36%
SIR = 0,6 * 0,65 * 0,175 * 0,783 = 0,053 (5,34%)

3) Menentukan kelas lahan daerah Gunung Gelap berdasarkan Srorie Index Rating (SIR)
a) Faktor A : Nilai pada karakter fisik Profil 40 – 80 % = ∑ 60%
b) Faktor B : Nilai atas dasar tekstur lapisan atas yaitu Lempung berliat = 85%
c) Faktor C :Nilai Atas dasar Lereng yaitu 25,5% berada dikisaran 70 – 80 % = ∑ 75%
d) Faktor X : Nilai Atas dasar Kondisi –Kondisi selain dari Faktor A,B dan C
Drainase :kurang baik 40-80% = ∑60% , Kesuburan : 80% (sedang), Erosi : 10 - 40% = ∑ 25% (Sangat Hebat), pH = ∑ 6,2 (86,2%), Relief
: Gunung 20 – 60 % = ∑40%. ∑X = 58,24%
SIR = 0,6 * 0,85 * 0,75 * 0,582 = 0,22 ( 22,26%)

c. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik


Kombinasi pendekatan parametrik dan pendekatan pembatas sering digunakan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan untuk
penggunaan tertentu. Penentuan kelas kesesuaiannya dilakukan dengan cara memberi bobot atau harkat berdasarkan nilai kesetaraan
tertentu dan menentukan tingkat pembatas lahan yang dicirikan oleh bobot terkecil (Sys et al., 1991).
Tabel 1. Kriteria Penilaian Kelas Kesesuain Lahan
Indeks Lahan Nilai Tingkat Kelas Kesesuaian

atau Iklim Ekivalensi Pembatas Lahan

> 75 100 – 85 Tidak ada S1

50 – 75 85 – 60 Ringan S2

25 – 50 60 – 40 Sedang S3

12 – 25 40 – 25 Berat N1

< 12 < 25 Sangat Berat N2

Sumber : Sys et al. (1991)

7. Persyaratan Penggunaan Lahan


Semua jenis komoditas pertanian termasuk tanaman pertanian, peternakan, dan perikanan yang berbasis lahan untuk dapat
tumbuh atau hidup dan berproduksi optimal memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan
evaluasi, persyaratan penggunaan lahan dikaitkan dengan kualitas lahan dan karakteristik lahan yang telah dibahas. Persyaratan
karakteristik lahan untuk masing-masing komoditas pertanian umumnya berbeda, tetapi ada sebagian yang sama sesuai dengan
persyaratan tumbuh komoditas pertanian tersebut.
Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi, temperatur, kelembaban, oksigen, dan hara. Persyaratan
temperatur dan kelembaban umumnya digabungkan, dan selanjutnya disebut sebagai periode pertumbuhan (FAO, 1983). Persyaratan lain
berupa media perakaran, ditentukan oleh drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif (tempat perakaran
berkembang). Ada tanaman yang memerlukan drainase terhambat seperti padi sawah. Tetapi pada umumnya tanaman menghendaki
drainase yang baik, dimana pada kondisi demikian aerasi tanah cukup baik, sehingga di dalam tanah cukup tersedia oksigen, dengan
demikian akar tanaman dapat berkembang dengan baik, dan mampu menyerap unsur hara secara optimal.
Persyaratan tumbuh atau persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masing-masing komoditas mempunyai batas
kisaran minimum, optimum, dan maksimum untuk masing-masing karakteristik lahan. Kisaran tersebut untuk masing-masing komoditas
pertanian dapat dilihat pada Lampiran 1 - 6.
Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan merupakan batasan bagi kelas kesesuaian lahan
yang paling sesuai (S1). Sedangkan kualitas lahan yang di bawah optimum merupakan batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang
cukup sesuai (S2), dan/atau sesuai marginal (S3). Di luar batasan tersebut merupakan lahan-lahan yang secara fisik tergolong tidak
sesuai (N).

8. Kualitas Lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan
mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas
satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di
lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO, 1976).Dalam evaluasi lahan sering kualitas lahan
tidak digunakan tetapi langsung menggunakan karakteristik lahan (Driessen, 1971; Staf PPT, 1983), karena keduanya dianggap sama
nilainya dalam evaluasi. Metode evaluasi yang menggunakan kualitas lahan antara lain dikemukakan pada CSR/FAO (1983), FAO (1983),
Sys et al. (1993) (lihat Tabel2).
Tabel 2. Kualitas lahan yang dipakai pada metode evaluasi lahan menurut CSR/FAO (1983), FAO (1983), dan Sys et al. (1993).
CSR/FAO, 1983 FAO, 1983 Sys et.al., 1993

Temperatur Kelembaban Sifat iklim

Ketersediaan air Ketersediaan hara Topografi

Ketersediaan oksigen Ketersediaan oksigen Kelembaban

Media perakaran Media untuk perkembangan akar Sifat fisik tanah

Retensi hara Kondisi untuk pertumbuhan Sifat kesuburan tanah

Toksisitas Kemudahan diolah Salinitas/alkalinitas

Sodisitas Salinitas dan alkalinitas/ toksisitas

Bahaya sulfidik Retensi terhadap erosi

Bahaya erosi Bahaya banjir

Penyiapan lahan Temperatur

Energi radiasi dan fotoperiode

Bahaya unsur iklim (angin, kekeringan)


Kelembaban udara Periode kering untuk
pemasakan (ripening) tanaman

Kualitas lahan dapat berperan positif atau negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang
berperan positif sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif akan merugikan
(merupakan kendala) terhadap penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor penghambat atau pembatas. Setiap kualitas lahan dapat
berpengaruh terhadap satu atau lebih dari jenis penggunaannya. Demikian pula satu jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi
oleh berbagai kualitas lahan.Sebagai contoh bahaya erosi dipengaruhi oleh: keadaan sifat tanah, terrain (lereng) dan ikim (curah hujan).
Ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman dipengaruhi antara lain oleh: faktor iklim, topografi, drainase, tekstur, struktur, dan konsistensi
tanah, zone perakaran, dan bahan kasar (batu, kerikil) di dalam penampang tanah.Kualitas lahan yang menentukan dan berpengaruh
terhadap manajemen dan masukan yang diperlukan adalah:
a. Terrain berpengaruh terhadap mekanisasi dan/atau pengelolaan lahan secara praktis (teras, tanaman sela/alley cropping, dan
sebagainya), konstruksi dan pemeliharaan jalan penghubung.
b. Ukuran dari unit potensial manajemen atau blok area/lahan pertanian.
c. Dalam hubungannya untuk penyediaan sarana produksi (input), dan pemasaran hasil (aspek ekonomi).
Dalam Juknis ini kualitas lahan yang dipilih sebagai berikut: temperatur, ketersediaan air, ketersediaan oksigen, media perakaran,
bahan kasar, gambut, retensi hara, toksisitas, salinitas, bahaya sulfidik, bahaya erosi, bahaya banjir, dan penyiapan lahan.
Temperatur: ditentukan oleh keadaan temperatur rerata

Ketersediaan air : ditentukan oleh keadaan curah hujan, kelembaban, lama masa kering, sumber air
tawar, atau amplitudo pasangsurut, tergantung jenis komoditasnya

Ketersediaan oksigen : ditentukan oleh keadaan drainase atau oksigen tergantung jenis komoditasnya

Media perakaran : ditentukan oleh keadaan tekstur, bahan kasar dan kedalaman tanah

Gambut: ditentukan oleh kedalaman dan kematangan gambut

Retensi hara : ditentukan oleh KTK-liat, kejenuhan basa, pH-H20, dan C-organik

Bahaya keracunan : ditentukan oleh salinitas, alkalinitas, dan kedalaman sulfidik atau pirit (FeS2)

Bahaya erosi : ditentukan oleh lereng dan bahaya erosi

Bahaya banjir : ditentukan oleh genangan

Penyiapan lahan : ditentukan oleh batuan di permukaan dan singkapan batuan


Fasilitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi merupakan penentu kesesuaian lahan secara ekonomi atau economy land
suitability class (Rossiter, 1995). Hal ini dengan pertimbangan bagaimanapun potensialnya secara fisik suatu wilayah, tanpa ditunjang
oleh sarana ekonomi yang memadai, tidak akan banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan wilayah tersebut. Evaluasi Lahan
dari aspek ekonomi tidak dibahas dalam Juknis ini.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi lahan untuk bermacam-macam alternatif penggunaan. Evaluasi kesesuaian
lahan sangat fleksibel, tergantung pada keperluan kondisi wilayah yang hendak dievaluasi. Usaha-usaha perbaikan yang dilakukan
terhadap lahan akan memberikan gambaran tentang penggunaan lahan secara optimal guna meningkatkan produktivitas lahan khususnya
evaluasi lahan terhadap pembudidayaan tanaman duku (Abdullah, 1993).
Tujuan dari evaluasi lahan adalah untuk menentukan nilai suatu lahan untuk tujuan tertentu.Usaha ini dapat dikatakan
melakukan usaha klasifikasi teknis suatu daerah (Sinulingga, 2003).
Fungsi evaluasi sumberdaya lahan adalah memberikan pengertian tentang hubungan-hubungan antara kondisi lahan dan
penggunaannya serta memberikan kepada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan
berhasil.
Manfaat dari evaluasi sumberdaya lahan adalah untuk menilai kesesuaian lahan bagi suatu penggunaan tertentu serta
memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Hal ini penting terutama apabila
perubahan penggunaan lahan tersebut diharapkan akan menyebabkan perubahan-perubahan besar terhadap keadaan lingkungannya.
Evaluasi kesesuian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu (Sitorus,
1998). Menurut Husein (1981), evaluasi lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan
tanaman. Kelas kesesuian lahan untuk suatu areal dapat berbeda tergantung dari penggunaan lahan yang sedang dipertimbangkan.
Ada tiga metode pendekatan yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian lahan yaitu dengan pendekatan pembatas, parametrik
dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.

B. Saran
Untuk dapat menggambarkan tingkat kesesuaian lahan dalam penggunaannya dan untuk mengelompokan tanah-tanah tersebut
perlu melakukan evaluasi lahan, agar dalam pengolahan tidak mengalami banyak hamabatan. Dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, karena kurangnya ilmu pengetahuan yang penulis miliki, untuk itu demi kesempurnaan makalah ini penulis mengharapkan
kritik dan saran agar pembuatan makalah kedepan bisa lebih baik. Dan semoga makalah ini bisa membantu para pengunjung yang akan
membuat laporan tentang evaluasi lahan. Atas partisipasinya penulis mengucapkan terimah kasih.

DAFTAR PUSTAKA

http://muhammad-braja.blogspot.com/2011/12/i.html

http://dhayatgeo.blogspot.com/2011/12/evaluasi-sumber-daya-lahan.html

http://fytryany.blogspot.com/2013/04/evaluasi-lahan.html

http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/pendahuluan.php

http://makalah4all.wap.sh/Data/Kumpulan+makalah+pertanian/__xtblog_entry/9605013-laporan-evaluasi-lahan-laporan-evaluasi-
lahan-smester-6-uniga?__xtblog_block_id=1

Evaluasi Lahan
Posted on 4 December 2010

16 Votes
DIkutip dari http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id

———————————————————
Pendahuluan

Kebutuhan lahan yang semakin meningkat, langkanya lahan pertanian yang subur dan potensial,
serta adanya persaingan penggunaan lahan antara sektor pertanian dan non-pertanian,
memerlukan teknologi tepat guna dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan secara
berkelanjutan. Untuk dapat memanfaatkan sumber daya lahan secara terarah dan efisien
diperlukan tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan sifat
lingkungan fisik lainnya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang diusahakan, terutama tanaman-
tanaman yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi cukup baik. Data iklim, tanah, dan
sifat fisik lingkungan lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta terhadap
aspek manajemennya perlu diidentifikasi melalui kegiatan survei dan pemetaan sumber daya
lahan. Data sumber daya lahan ini diperlukan terutama untuk kepentingan perencanaan
pembangunan dan pengembangan pertanian. Data yang dihasilkan dari kegiatan survei dan
pemetaan sumber daya lahan masih sulit untuk dapat dipakai oleh pengguna (users) untuk suatu
perencanaan tanpa dilakukan interpretasi bagi keperluan tertentu. Evaluasi lahan merupakan
suatu pendekatan atau cara untuk menilai potensi sumber daya lahan. Hasil evaluasi lahan akan
memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai
harapan produksi yang kemungkinan akan diperoleh. Beberapa sistem evaluasi lahan yang telah
banyak dikembangkan dengan menggunakan berbagai pendekatan, yaitu ada yang dengan sistem
perkalian parameter, penjumlahan, dan sistem matching atau mencocokkan antara kualitas dan
sifat-sifat lahan (Land Qualities/Land Characteritics) dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang
disusun berdasarkan persyaratan tumbuh komoditas pertanian yang berbasis lahan. Sistem
evaluasi lahan yang pernah digunakan dan yang sedang dikembangkan di Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Balai Penelitian Tanah Bogor diantaranya:

1. Klasifikasi kemampuan wilayah (Soepraptohardjo, 1970)

2. Sistem pendugaan kesesuaian lahan secara parametrik (Driessen, 1971)

Sistem yang digunakan oleh Proyek Penelitian Pertanian Menunjang Transmigrasi atau P3MT
3.
(Staf PPT, 1983)

Sistem yang digunakan dalam Reconnaissance Land Resources Surveys 1:250.000 scale Atlas
4.
Format Procedures (CSR/FAO, 1983)

5. Land Evaluation Computer System atau LECS (Wood, and Dent, 1983)

6. Automated Land Evalution System atau ALES (Rossiter D.G., and A.R. Van Wambeke, 1997)

Adanya berbagai sistem atau metode yang digunakan dalam evaluasi lahan tanpa
mempertimbangkan tingkat dan skala peta dalam hubungannya dengan ketersediaan dan
kehandalan (accuracy) data, dapat mengakibatkan terjadinya kerancuan dalam interpretasi dan
evaluasi lahan. Sebagai contoh sistem Atlas Format (CSR/FAO, 1983) yang pada awalnya
ditujukan untuk keperluan evaluasi lahan pada tingkat tinjau (reconnaissance) skala 1:250.000,
sering juga digunakan untuk evaluasi lahan pada skala yang lebih besar (semi detil atau detil).
Hal ini mengakibatkan informasi dan data yang begitu lengkap dari hasil pemetaan semi detil
dan detil, tidak nampak peranannya dalam hasil evaluasi lahan, sehingga hasil tersebut masih
sulit digunakan untuk keperluan alih teknologi dalam perencanaan pembangunan pertanian
khususnya untuk skala mikro. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan adanya suatu Petunjuk
Teknis Evaluasi Lahan yang dapat digunakan sesuai dengan tingkat pemetaan dan skala peta,
serta tujuan dari evaluasi lahan yang akan dilakukan dalam kaitannya dengan ketersediaan dan
validitas data. Petunjuk teknis ini disusun mengacu kepada “Kriteria Kesesuaian Lahan untuk
Komoditas Pertanian Versi 3.0” (Djaenudin et al., 2000), dan dirancang untuk keperluan
pemetaan tanah tingkat semi detil (skala peta 1:50.000).

Dasar Evaluasi Lahan

Dalam melaksanakan evaluasi lahan perlu terlebih dahulu memahami istilah-istilah yang
digunakan, baik yang menyangkut keadaan sumber daya lahan, maupun yang berkaitan dengan
kebutuhan atau persyaratan tumbuh suatu tanaman. Berikut diuraikan secara ringkas mengenai:
pengertian lahan, penggunaan lahan, karakteristik lahan, kualitas lahan, dan persyaratan
penggunaan lahan.

Lahan
Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan
fisik termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami
(natural vegetation) yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan
lahan (FAO, 1976). Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi
oleh berbagai aktivitas flora, fauna dan manusia baik di masa lalu maupun saat sekarang, seperti
lahan rawa dan pasang surut yang telah direklamasi atau tindakan konservasi tanah pada suatu
lahan tertentu.
Penggunaan yang optimal memerlukan keterkaitan dengan karakteristik dan kualitas lahannya.
Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dalam penggunaan lahan sesuai dengan
karakteristik dan kualitas lahannya, bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan secara lestari
dan berkesinambungan.
Pada peta tanah atau peta sumber daya lahan, hal tersebut dinyatakan dalam satuan peta yang
dibedakan berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya terdiri atas: iklim, landform (termasuk litologi,
topografi/relief), tanah dan/atau hidrologi. Pemisahan satuan lahan/tanah sangat penting untuk
keperluan analisis dan interpretasi potensi atau kesesuaian lahan bagi suatu tipe penggunaan
lahan (Land Utilization Types = LUTs).
Evaluasi lahan memerlukan sifat-sifat fisik lingkungan suatu wilayah yang dirinci ke dalam
kualitas lahan (land qualities), dan setiap kualitas lahan biasanya terdiri atas satu atau lebih
karakteristik lahan (land characteristics). Beberapa karakteristik lahan umumnya mempunyai
hubungan satu sama lainnya di dalam pengertian kualitas lahan dan akan berpengaruh terhadap
jenis penggunaan dan/atau pertumbuhan tanaman dan komoditas lainnya yang berbasis lahan
(peternakan, perikanan, kehutanan).

Penggunaan lahan

Penggunaan lahan untuk pertanian secara umum dapat dibedakan atas: penggunaan lahan
semusim, tahunan, dan permanen. Penggunaan lahan tanaman semusim diutamakan untuk
tanaman musiman yang dalam polanya dapat dengan rotasi atau tumpang sari dan panen
dilakukan setiap musim dengan periode biasanya kurang dari setahun. Penggunaan lahan
tanaman tahunan merupakan penggunaan tanaman jangka panjang yang pergilirannya dilakukan
setelah hasil tanaman tersebut secara ekonomi tidak produktif lagi, seperti pada tanaman
perkebunan. Penggunaan lahan permanen diarahkan pada lahan yang tidak diusahakan untuk
pertanian, seperti hutan, daerah konservasi, perkotaan, desa dan sarananya, lapangan terbang,
dan pelabuhan.
Dalam Juknis ini penggunaan lahan untuk keperluan evaluasi diarahkan pada: kelompok
tanaman pangan (serealia, umbi-umbian, dan kacang-kacangan), kelompok tanaman hortikultura
(sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias), kelompok tanaman industri/perkebunan, kelompok
tanaman rempah dan obat, kelompok tanaman hijauan pakan ternak, dan perikanan air payau.

Dalam evaluasi lahan penggunaan lahan harus dikaitkan dengan tipe penggunaan lahan (Land
Utilization Type) yaitu jenis-jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detil karena
menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara
spesifik. Setiap jenis penggunaan lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe
penggunaan lahan bukan merupakan tingkat kategori dari klasifikasi penggunaan lahan, tetapi
mengacu kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya dibawah kategori penggunaan
lahan secara umum, karena berkaitan dengan aspek masukan, teknologi, dan keluarannya.
Sifat-sifat penggunaan lahan mencakup data dan/atau asumsi yang berkaitan dengan aspek hasil,
orientasi pasar, intensitas modal, buruh, sumber tenaga, pengetahuan teknologi penggunaan
lahan, kebutuhan infrastruktur, ukuran dan bentuk penguasaan lahan, pemilikan lahan dan tingkat
pendapatan per unit produksi atau unit areal. Tipe penggunaan lahan menurut sistem dan
modelnya dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound.

1. Multiple: Tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebih dari satu jenis
penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama dari
sebidang lahan. Setiap penggunaan memerlukan masukan dan kebutuhan, serta memberikan
hasil tersendiri. Sebagai contoh kelapa ditanam secara bersamaan dengan kakao atau kopi di
areal yang sama pada sebidang lahan. Demikian juga yang umum dilakukan secara diversifikasi
antara tanaman cengkih dengan vanili atau pisang.
2. Compound: Tipe penggunaan lahan yang tergolong compound terdiri lebih dari satu jenis
penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari sebidang lahan yang untuk
tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal. Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada
suatu sekuen atau urutan waktu, dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak,
tetapi pada areal yang berbeda pada sebidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang
sama. Sebagai contoh suatu perkebunan besar sebagian areal secara terpisah (satu blok/petak)
digunakan untuk tanaman karet, dan blok/petak lainnya untuk kelapa sawit. Kedua komoditas
ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama.

Karakteristik lahan
Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi. Dari beberapa pustaka
menunjukkan bahwa penggunaan karakteristik lahan untuk keperluan evaluasi lahan bervariasi.
Sebagai gambaran Tabel 1 menunjukkan variasi dari karakteristik lahan yang digunakan sebagai
parameter dalam evaluasi kesesuaian lahan oleh beberapa sumber (Staf PPT, 1983; Bunting,
1981; Sys et al., 1993; CSR/FAO, 1983; dan Driessen, 1971).
Tabel 1. Karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter dalam evaluasi lahan.

Staf PPT (1983) Bunting (1981) Sys et al. (1993) CSR/FAO (1983) Driessen (1971)

Tipe hujan (Oldeman Periode Temperatur rerata Temperatur Lereng


et al.) pertumbuhan (°C) atau elevasi rerata (°C) atau
tanaman elevasi

Kelas drainase Temperatur rerata Curah hujan (mm) Curah hujan Mikrorelief
pada periode (mm)
pertumbuhan

Sebaran besar butir Curah hujan Lamanya masa Lamanya masa


Keadaan batu
(lapisan atas) tahunan kering (bulan) kering (bulan)

Kelembaban
Kedalaman efektif Kelas drainase Kelembaban udara Kelas drainase
udara

Regim
Ketebalan gambut Tekstur tanah Kelas Drainase Kelas drainase
kelembaban

Dekomposisi Kedalaman Salinitas/


Tekstur/Struktur Tekstur
gambut/jenis gambut perakaran alkalinitas

KTK Reaksi tanah (pH) Bahan kasar Bahan kasar Kejenuhan basa

Reaksi tanah
Kejenuhan basa Salinitas/ DHL Kedalaman tanah Kedalaman tanah
(pH)

Pengambilan hara
Ketebalan
Reaksi tanah (pH) (N, P, K) oleh KTK liat Kadar pirit
gambut
tanaman

Pengurasan hara (N, Kematangan Kadar bahan


C-organik Kejenuhan basa
P, K) dari tanah gambut organik

Tebal bahan
P-tersedia Reaksi tanah (pH) KTK liat
organik

Salinitas/DHL C-organik Kejenuhan basa Tekstur

Struktur,
Kedalaman pirit Aluminium Reaksi tanah (pH) porositas, dan
tingkatan
Lereng
Salinitas/DHL C-organik Macam liat
(%)/mikrorelief

Bahan induk/
Erosi Alkalinitas Aluminium cadangan
mineral

Kerusakan karena Kedalaman


Lereng Salinitas/DHL
banjir efektif

Batu dan kerikil,


penghambat Genangan Alkalinitas
pengolahan tanah

Batuan di
Pori air tersedia Kadar pirit
permukaan

Penghambat
pertumbuhan karena CaCO3 Lereng
kekurangan air

Kesuburan tanah Gypsum Bahaya erosi

Permeabilitas lapisan
Jumlah basa total Genangan
atas

Batuan di
permukaan

Singkapan
batuan

Karakteristik lahan yang digunakan pada Juknis ini adalah: temperatur udara, curah hujan,
lamanya masa kering, kelembaban udara, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman tanah,
ketebalan gambut, kematangan gambut, kapasitas tukar kation liat, kejenuhan basa, pH H2O, C-
organik, salinitas, alkalinitas, kedalaman bahan sulfidik, lereng, bahaya erosi, genangan, batuan
di permukaan, dan singkapan batuan.

– temperatur udara : merupakan temperatur udara tahunan dan dinyatakan dalam °C

– curah hujan : merupakan curah hujan rerata tahunan dan dinyatakan dalam mm
merupakan jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun dengan
– lamanya masa kering :
jumlah curah hujan kurang dari 60 mm

– kelembaban udara : merupakan kelembaban udara rerata tahunan dan dinyatakan dalam %

merupakan pengaruh laju perkolasi air ke dalam tanah terhadap aerasi


– drainase :
udara dalam tanah

menyatakan istilah dalam distribusi partikel tanah halus dengan ukuran


– tekstur :
<2 mm

menyatakan volume dalam % dan adanya bahan kasar dengan ukuran >2
– bahan kasar :
mm

menyatakan dalamnya lapisan tanah dalam cm yang dapat dipakai untuk


– kedalaman tanah :
perkembangan perakaran dari tanaman yang dievaluasi

digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tebalnya lapisan gambut


– ketebalan gambut :
dalam cm dari permukaan

digunakan pada tanah gambut dan menyatakan tingkat kandungan


– kematangan gambut : seratnya dalam bahan saprik, hemik atau fibrik, makin banyak seratnya
menunjukkan belum matang/mentah (fibrik)

– KTK liat : menyatakan kapasitas tukar kation dari fraksi liat

– kejenuhan basa : jumlah basa-basa (NH4OAc) yang ada dalam 100 g contoh tanah.

nilai pH tanah di lapangan. Pada lahan kering dinyatakan dengan data


– reaksi tanah (pH) : laboratorium atau pengukuran lapangan, sedang pada tanah basah
diukur di lapangan

– C-organik : kandungan karbon organik tanah.

kandungan garam terlarut pada tanah yang dicerminkan oleh daya


– salinitas :
hantar listrik.

– alkalinitas : kandungan natrium dapat ditukar

– kedalaman bahan sulfidik dalamnya bahan sulfidik diukur dari permukaan tanah sampai batas atas
: lapisan sulfidik.
– lereng : menyatakan kemiringan lahan diukur dalam %

bahaya erosi diprediksi dengan memperhatikan adanya erosi lembar


permukaan (sheet erosion), erosi alur (reel erosion), dan erosi parit (gully
– bahaya erosi :
erosion), atau dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang
(rata-rata) per tahun

– genangan : jumlah lamanya genangan dalam bulan selama satu tahun

– batuan di permukaan : volume batuan (dalam %) yang ada di permukaan tanah/lapisan olah

– singkapan batuan : volume batuan (dalam %) yang ada dalam solum tanah

tersedianya air tawar untuk keperluan tambak guna mempertahankan


– sumber air tawar :
pH dan salinitas air tertentu

– amplitudo pasang-surut : perbedaan permukaan air pada waktu pasang dan surut (dalam meter)

ketersediaan oksigen dalam tanah untuk keperluan pertumbuhan


– oksigen :
tanaman/ikan

Setiap satuan peta lahan/tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei dan/atau pemetaan sumber
daya lahan, karakteristik lahan dapat dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik
lingkungan dan tanahnya. Data tersebut digunakan untuk keperluan interpretasi dan evaluasi
lahan bagi komoditas tertentu.
Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi ada yang sifatnya
tunggal dan ada yang sifatnya lebih dari satu karena mempunyai interaksi satu sama lainnya.
Karenanya dalam interpretasi perlu mempertimbangkan atau memperbandingkan lahan dengan
penggunaannya dalam pengertian kualitas lahan. Sebagai contoh ketersediaan air sebagai
kualitas lahan ditentukan dari bulan kering dan curah hujan rata-rata tahunan, tetapi air yang
dapat diserap tanaman tentu tergantung pula pada kualitas lahan lainnya, seperti kondisi atau
media perakaran, antara lain tekstur tanah dan kedalaman zone perakaran tanaman yang
bersangkutan.

Kualitas lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang
lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap
kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik
lahan (land characteristics). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung
di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO, 1976).
Dalam evaluasi lahan sering kualitas lahan tidak digunakan tetapi langsung menggunakan
karakteristik lahan (Driessen, 1971; Staf PPT, 1983), karena keduanya dianggap sama nilainya
dalam evaluasi. Metode evaluasi yang menggunakan kualitas lahan antara lain dikemukakan
pada CSR/FAO (1983), FAO (1983), Sys et al. (1993) (lihat Tabel2).
Tabel 2. Kualitas lahan yang dipakai pada metode evaluasi lahan menurut CSR/FAO (1983),
FAO (1983), dan Sys et al. (1993).

CSR/FAO, 1983 FAO, 1983 Sys et.al., 1993

Temperatur Kelembaban Sifat iklim

Ketersediaan air Ketersediaan hara Topografi

Ketersediaan oksigen Ketersediaan oksigen Kelembaban

Media perakaran Media untuk perkembangan akar Sifat fisik tanah

Retensi hara Kondisi untuk pertumbuhan Sifat kesuburan tanah

Toksisitas Kemudahan diolah Salinitas/alkalinitas

Sodisitas Salinitas dan alkalinitas/ toksisitas

Bahaya sulfidik Retensi terhadap erosi

Bahaya erosi Bahaya banjir

Penyiapan lahan Temperatur

Energi radiasi dan fotoperiode

Bahaya unsur iklim (angin, kekeringan)

Kelembaban udara
Periode kering untuk pemasakan (ripening) tanaman

Kualitas lahan dapat berperan positif atau negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari
sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif sifatnya menguntungkan bagi suatu
penggunaan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif akan merugikan (merupakan
kendala) terhadap penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor penghambat atau pembatas.
Setiap kualitas lahan dapat berpengaruh terhadap satu atau lebih dari jenis penggunaannya.
Demikian pula satu jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas
lahan.
Sebagai contoh bahaya erosi dipengaruhi oleh: keadaan sifat tanah, terrain (lereng) dan ikim
(curah hujan). Ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman dipengaruhi antara lain oleh: faktor
iklim, topografi, drainase, tekstur, struktur, dan konsistensi tanah, zone perakaran, dan bahan
kasar (batu, kerikil) di dalam penampang tanah.
Kualitas lahan yang menentukan dan berpengaruh terhadap manajemen dan masukan yang
diperlukan adalah:

1. Terrain berpengaruh terhadap mekanisasi dan/atau pengelolaan lahan secara praktis (teras,
tanaman sela/alley cropping, dan sebagainya), konstruksi dan pemeliharaan jalan penghubung.
2. Ukuran dari unit potensial manajemen atau blok area/lahan pertanian.
3. Lokasi dalam hubungannya untuk penyediaan sarana produksi (input), dan pemasaran hasil
(aspek ekonomi).

Dalam Juknis ini kualitas lahan yang dipilih sebagai berikut: temperatur, ketersediaan air,
ketersediaan oksigen, media perakaran, bahan kasar, gambut, retensi hara, toksisitas, salinitas,
bahaya sulfidik, bahaya erosi, bahaya banjir, dan penyiapan lahan.

– temperatur: ditentukan oleh keadaan temperatur rerata

ditentukan oleh keadaan curah hujan, kelembaban, lama masa kering, sumber
– ketersediaan air :
air tawar, atau amplitudo pasangsurut, tergantung jenis komoditasnya

– ketersediaan oksigen ditentukan oleh keadaan drainase atau oksigen tergantung jenis
: komoditasnya

– media perakaran : ditentukan oleh keadaan tekstur, bahan kasar dan kedalaman tanah

– gambut: ditentukan oleh kedalaman dan kematangan gambut

– retensi hara : ditentukan oleh KTK-liat, kejenuhan basa, pH-H20, dan C-organik

– bahaya keracunan : ditentukan oleh salinitas, alkalinitas, dan kedalaman sulfidik atau pirit (FeS2)

– bahaya erosi : ditentukan oleh lereng dan bahaya erosi

– bahaya banjir : ditentukan oleh genangan

– penyiapan lahan : ditentukan oleh batuan di permukaan dan singkapan batuan

Fasilitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi merupakan penentu kesesuaian lahan secara
ekonomi atau economy land suitability class (Rossiter, 1995). Hal ini dengan pertimbangan
bagaimanapun potensialnya secara fisik suatu wilayah, tanpa ditunjang oleh sarana ekonomi
yang memadai, tidak akan banyak memberikan kontribusi terhadap pengembangan wilayah
tersebut. Evaluasi Lahan dari aspek ekonomi tidak dibahas dalam Juknis ini.

Persyaratan penggunaan lahan


Semua jenis komoditas pertanian termasuk tanaman pertanian, peternakan, dan perikanan yang
berbasis lahan untuk dapat tumbuh atau hidup dan berproduksi optimal memerlukan persyaratan-
persyaratan tertentu. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi, persyaratan penggunaan
lahan dikaitkan dengan kualitas lahan dan karakteristik lahan yang telah dibahas. Persyaratan
karakteristik lahan untuk masing-masing komoditas pertanian umumnya berbeda, tetapi ada
sebagian yang sama sesuai dengan persyaratan tumbuh komoditas pertanian tersebut.

Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi, temperatur, kelembaban, oksigen, dan
hara. Persyaratan temperatur dan kelembaban umumnya digabungkan, dan selanjutnya disebut
sebagai periode pertumbuhan (FAO, 1983). Persyaratan lain berupa media perakaran, ditentukan
oleh drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif (tempat perakaran
berkembang). Ada tanaman yang memerlukan drainase terhambat seperti padi sawah. Tetapi
pada umumnya tanaman menghendaki drainase yang baik, dimana pada kondisi demikian aerasi
tanah cukup baik, sehingga di dalam tanah cukup tersedia oksigen, dengan demikian akar
tanaman dapat berkembang dengan baik, dan mampu menyerap unsur hara secara optimal.
Persyaratan tumbuh atau persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masing-masing
komoditas mempunyai batas kisaran minimum, optimum, dan maksimum untuk masing-masing
karakteristik lahan. Kisaran tersebut untuk masing-masing komoditas pertanian dapat dilihat
pada Lampiran 1 – 6.
Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan merupakan
batasan bagi kelas kesesuaian lahan yang paling sesuai (S1). Sedangkan kualitas lahan yang di
bawah optimum merupakan batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang cukup sesuai (S2),
dan/atau sesuai marginal (S3). Di luar batasan tersebut merupakan lahan-lahan yang secara fisik
tergolong tidak sesuai (N).

Prosedur Evaluasi Lahan

Evaluasi lahan umumnya merupakan kegiatan lanjutan dari survei dan pemetaan tanah atau
sumber daya lahan lainnya, melalui pendekatan interpretasi data tanah serta fisik lingkungan
untuk suatu tujuan penggunaan tertentu. Sejalan dengan dibedakannya macam dan tingkat
pemetaan tanah, maka dalam evaluasi lahan juga dibedakan menurut ketersediaan data hasil
survei dan pemetaan tanah atau survei sumber daya lahan lainnya, sesuai dengan tingkat dan
skala pemetaannya.

Pendekatan

Dalam evaluasi lahan ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh mulai dari tahap konsultasi
awal (initial consultation) sampai kepada klasifikasi kesesuaian lahan (FAO, 1976). Kedua
pendekatan itu adalah: 1) pendekatan dua tahapan (two stage approach); dan 2) pendekatan
paralel (parallel approach).

1. Pendekatan dua tahapan. Pendekatan dua tahap terdiri atas tahap pertama adalah evaluasi
lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi lahan secara ekonomi. Pendekatan tersebut
biasanya digunakan dalam inventarisasi sumber daya lahan baik untuk tujuan perencanaan
makro, maupun untuk studi pengujian potensi produksi (FAO, 1976). Klasifikasi kesesuaian tahap
pertama didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan yang telah diseleksi sejak
awal kegiatan survei, seperti untuk tegalan (arable land) atau sawah dan perkebunan.
Konstribusi dari analisis sosial ekonomi terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mencek
jenis penggunaan lahan yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam
bentuk laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera
ditindak lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosialnya.
2. Pendekatan paralel. Dalam pendekatan paralel kegiatan evaluasi lahan secara fisik dan ekonomi
dilakukan bersamaan (paralel), atau dengan kata lain analisis ekonomi dan sosial dari jenis
penggunaan lahan dilakukan secara serempak bersamaan dengan pengujian faktor-faktor fisik.
Cara seperti ini umumnya menguntungkan untuk suatu acuan yang spesifik dalam kaitannya
dengan proyek pengembangan lahan pada tingkat semi detil dan detil. Melalui pendekatan
paralel ini diharapkan dapat memberi hasil yang lebih pasti dalam waktu yang singkat.

Penyiapan Data

Untuk melakukan evaluasi lahan baik dengan menggunakan pendekatan dua tahapan maupun
pendekatan paralel perlu didahului dengan konsultasi awal. Konsultasi awal ini untuk
menentukan tujuan dari evaluasi yang akan dilakukan, data apa yang diperlukan dan asumsi-
asumsinya yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam penilaian. Evaluasi lahan yang akan
dilakukan tergantung dari tujuannya yang harus didukung oleh ketersediaan data dan informasi
sumber daya lahan.

Pelaksanaan Evaluasi lahan dibedakan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: tingkat tinjau skala
1:250.000 atau lebih kecil; semi detil skala 1:25.000 sampai 50.000; dan detil skala 10.000
sampai 25.000 atau lebih besar. Jenis, jumlah, dan kualitas data yang dihasilkan dari ketiga
tingkat pemetaan tersebut bervariasi, sehingga penyajian hasil evaluasi lahan ditetapkan sebagai
berikut: pada tingkat tinjau dinyatakan dalam ordo, tingkat semi detil dalam kelas/subkelas, dan
pada tingkat detil dinyatakan dalam subkelas/subunit. Petunjuk Teknis ini disarankan dipakai
terutama untuk tingkat pemetaan semi detil.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching)
data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun
berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas
pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi. Kriteria kelas kesuaian lahan untuk
112 jenis komoditas pertanian yang berbasis lahan disajikan pada Lampiran 1–6. Pada proses
matching hukum minimum dipakai untuk menentukan faktor pembatas yang akan menentukan
kelas dan subkelas kesesuaian lahannya. Dalam penilaian kesesuaian lahan perlu ditetapkan
dalam keadaan aktual (kesesuaian lahan aktual) atau keadaan potensial (kesesuaian lahan
potensial). Keadaan potensial dicapai setelah dilaksanakan usaha-usaha perbaikan (Improvement
= I) terhadap masing-masing faktor pembatas untuk mencapai keadaan potensial.
Asumsi-asumsi dalam Evaluasi Lahan

Sebelum melaksanakan evaluasi lahan, terlebih dahulu harus ditetapkan asumsi-asumsi yang
akan diterapkan. Dalam hal ini apakah evaluasi lahan akan dilakukan dengan asumsi pada
kondisi tingkat manajemen rendah (sederhana), sedang, atau tinggi.
Evaluasi lahan untuk tujuan perencanaan pembangunan pertanian perkebunan besar dengan
masukan teknologi tinggi, tentu berbeda asumsinya jika tujuan evaluasi lahan hanya untuk
perkebunan rakyat yang cukup dengan masukan teknologi menengah. Demikian pula dalam hal
penggunaan alat-alat pengolahan tanah dalam pembukaan lahan pertanian. Jika lahan akan diolah
secara manual (cangkul atau bajak) maka asumsi yang dapat digunakan dalam menilai kualitas
dan karakteristik lahan berbeda dengan penggunaan alat-alat berat (mekanik). Sebagai contoh
penilaian terhadap tekstur tanah yang liat dan/atau berkerikil untuk pengolahan tanah secara
manual tidak terlalu bermasalah dibandingkan jika menggunakan alat mekanik. Kasus serupa
dalam menghadapi kualitas lahan terrain dalam hal ini lereng. Pada lereng lebih besar dari 8%
jika tanah diolah dengan menggunakan traktor merupakan masalah, tetapi tidak demikian kalau
diteras dengan menggunakan alat pengolah tanah yang sederhana.
Asumsi dapat dibedakan terutama atas dua hal:
(1) yang menyangkut areal proyek;
dan (2) yang menyangkut pelaksanaan evaluasi/interpretasi serta waktu berlakunya dari hasil
evaluasi lahan.
Beberapa contoh asumsi yang ditetapkan untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik adalah
sebagai berikut:

1. Data tanah yang digunakan hanya terbatas pada informasi atau data dari satuan lahan atau
satuan peta tanah.
2. Reliabilitas data yang tersedia: rendah, sedang, tinggi
3. Lokasi penelitian atau daerah survei
4. Kependudukan tidak dipertimbangkan dalam evaluasi
5. Infrastruktur dan aksesibilitas serta fasilitas pemerintah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
6. Tingkat pengelolaan atau manajemen dibedakan atas 3 tingkatan yaitu rendah, sedang, dan
tinggi.
7. Pemilikan tanah tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
8. Pemasaran hasil produksi serta harga jual tidak dipertimbangkan dalam evaluasi.
9. Evaluasi lahan dilaksanakan secara kualitatif, kuantitatif fisik atau kuantitatif ekonomi.
10. Usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan
dengan tingkat pengelolaannya.
11. Aspek ekonomi hanya dipertimbangkan secara garis besar.

Parameter Evaluasi Lahan

Berikut karakteristik tanah atau lahan dan cara memprediksi data secara praktis di lapangan
maupun kriteria pengelompokannya. Karakteristik tanah/lahan yang dipakai sebagai parameter
dalam evaluasi lahan tersebut antara lain: temperatur udara, drainase, tekstur, alkalinitas, bahaya
erosi, dan banjir/genangan.

Estimasi temperatur berdasarkan ketinggian tempat (elevasi)


Di tempat-tempat yang tidak tersedia data temperatur (stasiun iklim terbatas), maka temperatur
udara dapat diduga berdasarkan ketinggian tempat (elevasi) dari atas permukaan laut. Pendugaan
tersebut dengan menggunakan pendekatan rumus dari Braak (1928) dalam Mohr et al. (1972).
Berdasarkan hasil penelitiannya di Indonesia temperatur di dataran rendah (pantai) berkisar
antara 25-27ºC, dan rumus yang dapat digunakan (rumus Braak) adalah sebagai berikut: 26,3°C
– (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6°C)

Berdasarkan penelitian Braak tersebut temperatur tanah pada kedalaman 50 cm di Indonesia


lebih tinggi 3-4,5ºC, sehingga untuk menduga temperatur tanah pada kedalaman 50 cm, maka
rerata temperatur udara ditambah sekitar 3,5ºC. Tetapi menurut Wambeke et al. (1986)
temperatur tanah lebih tinggi 2,5ºC dari temperatur udara. Hasil pendugaan temperatur dan
ditambah perbedaan temperatur udara dan temperatur tanah tersebut digunakan untuk
menentukan rejim temperatur tanah seperti yang ditetapkan dalam Taksonomi Tanah (Soil
Survey Staff, 1992; 1998).
Drainase tanah
Kelas drainase tanah dibedakan dalam 7 kelas sebagai berikut:

1. Cepat (excessively drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat
tinggi dan daya menahan air rendah. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa
irigasi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak
atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).

2. Agak cepat (somewhat excessively drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi
dan daya menahan air rendah. Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau
tanpa irigasi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa
bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi).

3. Baik (well drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air
sedang, lembab, tapi tidak cukup basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk
berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen
tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan
sampai = 100 cm.

4. Agak baik (moderately well drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai
agak rendah dan daya menahan air rendah, tanah basah dekat ke permukaan. Tanah
demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah
berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley
(reduksi) pada lapisan sampai = 50 cm.

5. Agak terhambat (somewhat poorly drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak
rendah dan daya menahan air rendah sampai sangat rendah, tanah basah sampai ke
permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri
yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan
besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan sampai =25 cm.

8. Terhambat (poorly drained), tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya
menahan air rendah sampai sangat rendah, tanah basah untuk waktu yang cukup lama
sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman
lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi)
dan bercak atau karatan besi dan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.

7. Sangat terhambat (very poorly drained), tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah
dan daya menahan air sangat rendah, tanah basah secara permanen dan tergenang untuk
waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan
sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah
mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan.
Tekstur
Tekstur adalah merupakan gabungan komposisi fraksi tanah halus (diameter =2 mm) yaitu pasir,
debu dan liat. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Menentukan kelas tekstur di lapangan

No Tekstur Sifat Tanah

1. Pasir (S) Sangat kasar sekali, tidak membentuk bola dan gulungan, serta tidak
melekat.

2. Pasir Sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak
berlempung melekat.
(LS)

3. Lempung Agak kasar, membentuk bola agak kuat tapi mudah hancur, serta agak
berpasir (SL) melekat.

4 Lempung (L) Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit
digulung dengan permukaan mengkilat, dan melekat.

5 Lempung Licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan
berdebu (SiL) mengkilat, serta agak melekat.

6 Debu (Si) Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan
permukaan mengkilat, serta agak melekat.

7 Lempung Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk
berliat (CL) gulungan tapi mudah hancur, serta agak melekat.

8 Lempung liat Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk
berpasir (SCL) gulungan tetapi mudah hancur, serta melekat.

9 Lempung liat Rasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat, melekat.
berdebu (SiCL)

10 Liat berpasir Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin,
(SC) mudah digulung, serta melekat.

11 Liat berdebu Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin,
(SiC) mudah digulung, serta melekat.
12 Liat (C) Rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, basah
sangat melekat.

Pengelompokan kelas tekstur yang digunakan pada Juknis ini adalah:

Halus (h) Liat berpasir, liat, liat berdebu

Agak halus Lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
(ah)

Sedang (s) Lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu

Agak kasar (ak) Lempung berpasir

Kasar (k) Pasir, pasir berlempung

Sangat halus Liat (tipe mineral liat 2:1)


(sh)

Bahan kasar
Bahan kasar adalah merupakan modifier tekstur yang ditentukan oleh jumlah persentasi kerikil,
kerakal, atau batuan pada setiap lapisan tanah, dibedakan menjadi:

sedikit < 15%

sedang 15 – 35%

banyak 35 – 60%%

sangat banyak > 60%

Kedalaman tanah
Kedalaman tanah, dibedakan menjadi:

sangat dangkal < 20 cm

dangkal 20 – 50 cm

sedang 50 – 75 cm
dalam > 75 cm

Ketebalan gambut
Ketebalan gambut, dibedakan menjadi:

tipis < 60 cm

sedang 60 – 100 cm

agak tebal 100 – 200 cm

tebal 200 – 400 cm

sangat tebal > 400 cm

Saprik+, hemik+, fibrik+ = saprik/ hemik/ fibrik dengan sisisipan/ pengkayaan bahan mineral.

Alkalinitas
Menggunakan nilai exchangeable sodium percentage atau ESP (%) yaitu dengan perhitungan:
ESP = Na dapat tukar x 100/KTK tanah

Nilai ESP 15% adalah sebanding dengan nilai sodium adsorption ratio atau SAR 13

Bahaya erosi
Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan keadaan lapangan, yaitu dengan cara
memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion), erosi alur (reel erosion), dan
erosi parit (gully erosion). Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif
lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata)
pertahun, dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A.
Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relatif mengandung bahan organik yang
cukup banyak. Tingkat bahaya erosi tersebut disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Tingkat bahaya erosi

Tingkat bahaya erosi Jumlah tanah permukaan yang hilang (cm/tahun)

Sangat ringan (sr) < 0,15

Ringan (r) 0,15 – 0,9

Sedang (s) 0,9 – 1,8

Berat (b) 1,8 – 4,8


Sangat berat (sb) > 4,8

Bahaya banjir/genangan
Banjir ditetapkan sebagai kombinasi pengaruh dari: kedalaman banjir (X) dan lamanya banjir
(Y). Kedua data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat di
lapangan.

No Kedalaman banjir (X) Lamanya banjir (Y):

1. < 25 cm 1. < 1 bulan

2. 25 – 50 cm 2. 1 – 3 bulan

3. 50 – 150 cm 3. 3 – 6 bulan

4. > 150 cm. 4. > 6 bulan.

Bahaya banjir diberi simbol Fx, y. (dimana X adalah simbol kedalaman air genangan, dan Y
adalah lamanya banjir). Kelas bahaya banjir tersebut disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Kelas bahaya banjir

Simbol Kelas bahaya banjir Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan lamanya
banjir (F x,y)

Simbol Kelas bahaya Kelas bahaya banjir berdasarkan kombinasi kedalaman dan lamanya
banjir banjir (F x,y)

F0 Tanpa –

F1 Ringan F1.1, F2.1, F3.1

F2 Sedang F1.2, F2.2, F3.2, F4.1

F3 Agak berat F1.3, F2.3, F3.3

F4 Berat F1.4, F2.4, F3.4, F4,2, F4.3, F4.4

Kriteria Kesesuaian Lahan

id komoditas group1 group2


1 Akar wangi Tanaman industri

2 Anggur Tanaman Hortikultura Buah-buahan

3 Apel Tanaman Hortikultura Buah-buahan

4 Asparagus Tanaman Hortikultura bunga

5 Aster Tanaman Hortikultura Bunga

6 Avokad Tanaman hortikultura Buah-buahan

7 Bawang merah Tanaman Hortikultura Sayuran

8 Bawang putih Tanaman Hortikultura Sayuran

9 Bayam Tanaman Hortikultura Sayuran

10 Belimbing Tanaman Hortikultura Buah-buahan

11 Biet Tanaman Hortikultura Sayuran

12 Blewah Tanaman Hortikultura Buah-buahan

13 Brokoli Tanaman Hortikultura Sayuran

14 Buncis Tanaman Hortikultura Sayuran

15 Bunga Matahari Tanaman hortikultura Bunga

16 Cabemerah Tanaman Hortikultura Sayuran

17 Carica

Tanaman
18 Cempedak
Industri/Perkebunan

Tanaman
19 Cengkeh
Industri/Perkebunan

Tanaman
20 Duku
Industri/Perkebunan
Tanaman
21 Durian
Industri/Perkebunan

22 Gandum Tanaman Pangan Serealia

23 Gladiol Tanaman Hortikultura Bunga

24 Hairbrass Tanaman Hortikultura Bunga

25 Iles_iles Tanaman Pangan Umbi-umbian

26 Jagung Tanaman Pangan Serelia

Tanaman Rempah
27 Jahe
dan Obat

28 Jambu batu Tanaman Hortikultura Buah-buahan

Tanaman
29 Jambu Mete
Industri/Perkebunan

30 Jambu siam Tanaman Hortikultura Buah-buahan

Tanaman Rempah
31 Jarak
dan Obat

32 Jeruk Tanaman hortikultura Buah-buahan

33 Kacang Kapri Tanaman hortikultura Sayuran

34 Kacang Arab Tanaman hortikultura Sayuran

35 Kacang hijau Tanaman Pangan Kacang-kacangan

36 Kacang Panjang Tanaman hortikultura Sayuran

37 Kacang tanah Tanaman Pangan Kacang-kacangan

38 Kacang tunggak Tanaman Pangan Kacang-kacangan

39 Kailan Tanaman Hortikultura Sayuran

Tanaman
40 Kakao
industri/perkebunan
Tanaman
41 Kapas
industri/perkebunan

Tanaman
42 Kapok
industri/perkebunan

Tanaman rempah dan


43 Kapolaga
obat

Tanaman
44 Karet
industri/perkebunan

Tanaman
45 Kayu manis
industri/perkebunan

46 Kedelai Tanaman Pangan Kacang-kacangan

Tanaman
47 Kelapa
industri/perkebunan

Tanaman
48 Kelapa Sawit
industri/perkebunan

Tanaman
49 Kemiri
industri/perkebunan

50 Kenanga Tanaman Hortikultura Tanaman hias

51 Kencur Tanaman hortikultura

52 Kentang Tanaman hortikultura Sayuran

53 Kepayang Tanaman Hortikultura

54 Kesemek Tanaman hortikultura Buah-buahan

Tanaman rempah dan


55 Kina
obat

56 Klengkeng Tanaman hortikultura Buah-buahan

Tanaman
57 Kopi Arabika
industri/perkebunan
Tanaman
58 Kopi Robusta
industri/perkebunan

59 Kubis Tanaman hortikultura Sayuran

Tanaman rempah dan


60 Kunyit
obat

Tanaman rempah dan


61 Lada
obat

Tanaman rempah dan


62 Lengkuas
obat

63 Lettuce Tanaman Hortikultura

64 Lobak Tanaman hortikultura Sayuran

65 Mangga Tanaman hortikultura Buah-buahan

66 Manggis Tanaman hortikultura Buah-buahan

67 Markisa Tanaman Hortikultura Buah-buahan

68 Mawar Tanaman Hortikultura Bunga

69 Melinjo Tanaman hortikultura Sayuran

70 Melon Tanaman hortikultura Buah-buahan

71 Mentimun Tanaman hortikultura Sayuran

72 Nangka Tanaman hortikultura Buah-buahan

73 Nenas Tanaman hortikultura Buah-buahan

74 Padi gogo Tanaman pangan Serelia

75 Padi sawah Tanaman pangan Serelia

76 Padi sawah lebak Tanaman Pangan Serealia

Padi sawah tadah


77 Tanaman Pangan Serealia
hujan
Tanaman rempah dan
78 Pala
obat

79 Paprika Tanaman hortikultura Sayuran

80 Pare Tanaman hortikultura Sayuran

81 Pepaya Tanaman hortikultura Buah-buahan

82 Petai Tanaman hortikultura Sayuran

83 Petsai Tanaman hortikultura Sayuran

84 Pisang Tanaman hortikultura Buah-buahan

85 Rambutan Tanaman hortikultura Buah-buahan

86 Salak Tanaman hortikultura Buah-buahan

87 Sawi Tanaman hortikultura Sayuran

88 Sawo Tanaman hortikultura Buah-buahan

89 Sedap malam Tanaman Hortikultura Tanaman hias

90 Semangka Tanaman hortikultura Buah-buahan

91 Setaria Tanaman Hortikultura Bunga

92 Sirsak Tanaman hortikultura Buah-buahan

93 Sorgum Tanaman pangan Serelia

94 Srikaya Tanaman hortikultura Buah-buahan

95 Strawberi Tanaman hortikultura Buah-buahan

96 Sukun Tanaman tahunan

97 Talas Tanaman panagan Umbi-umbian

98 Tebu Tanaman perkebunan

99 Teh Tanaman perkebunan


100 Tembakau Tanaman perkebunan

101 Terung Tanaman hortikultura Sayuran

102 Tomat buah Tanaman hortikultura Sayuran

103 Tomat sayur Tanaman hortikultura Sayuran

104 Ubi jalar Tanaman pangan Umbi-umbian

105 Ubi kayu Tanaman pangan Umbi-umbian

Tanaman rempah dan


106 Vanili
obat

Tanaman
107 Wijen
industri/perkebunan

108 Wortel Tanaman hortikultura Sayuran