Anda di halaman 1dari 42

MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG SKABIES DAN


KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN SKABIES DI KELURAHAN
HEGARSARI KECAMATAN PATARUMAN KOTA BANJAR
Disusun Untuk Melengkapi Syarat Internsip
di Puskesmas Pataruman 1
Banjar, Jawa Barat

Disusun Oleh:
dr. Fiya Yanti Fahma
SIP. 503.1/043-Dinkes/1.2/dr/VI/2017

Pendamping:
dr. Ika Rika Rohantika
NIP. 19720102 2006 2 033

INTERNSIP DOKTER INDONESIA PERIODE 2017-2018


PUSKESMAS PATARUMAN 1, BANJAR, JAWA BARAT
2017
LEMBAR PERSETUJUAN

MINI PROJECT

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG SKABIES DAN


KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN SKABIES DI KELURAHAN
HEGARSARI KECAMATAN PATARUMAN KOTA BANJAR

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memenuhi Tugas Dokter Internship Indonesia 2017

Penyusun :
dr. Fiya Yanti Fahma
SIP. 503.1/043-Dinkes/1.2/dr/VI/2017

Telah Disetujui Oleh :


Pendamping

dr. Ika Rika Rohantika


NIP. NIP. 19720102 2006 2 033

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan Mini Project dengan judul GAMBARAN TINGKAT
PENGETAHUAN TENTANG SKABIES DAN KEPATUHAN PENGOBATAN
PADA PASIEN SKABIES DI KELURAHAN HEGARSARI KECAMATAN
PATARUMAN KOTA BANJAR.
Penulisan Mini Project ini dilakukan untuk memenuhi syarat tugas Internsip
Dokter Indonesia di PuskesmasPataruman 1 periode Juni- Oktober 2017, selain itu
juga sebagai sarana melatih kemampuan dalam rangka mengembangkan ilmu
pengetahuan dalam bidang kesehatan masyarakat. Penulis berharap karya ini
menjadi tahapan untuk mengukir karya-karya berikutnya, semoga dengan adanya
tulisan ini dapat pula bermanfaat.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih
kepada:
1. dr. Ika Rika Rohantika, selaku Kepala Puskesmas Pataruman 1 dan
pendamping Internsip
2. Teman-teman Internsip yang telah memberikan dukungan selama menjalankan
penelitian ini.
Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis

Banjar, September 2017


Penulis

dr. Fiya Yanti Fahma

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................1


LEMBAR PERSETUJUAN ......................................................................................2
KATA PENGANTAR ...............................................................................................3
DAFTAR ISI ..............................................................................................................4
BAB IPENDAHULUAN ...........................................................................................6
A. Latar Belakang .................................................................................................6
B. Rumusan Masalah ............................................................................................9
C. Tujuan Penelitian ..............................................................................................9
D. Manfaat Penelitian............................................................................................9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................10
A. Skabies ..........................................................................................................10
B. Pengetahuan ...................................................................................................10
BAB IIIMETODE PENELITIAN ...........................................................................31
A. Kerangka Konsep Penelitian ..........................................................................31
B. Metode Penelitian ...........................................................................................31
C. Populasi dan Sampel Penelitian......................................................................31
D. Teknik Pengumpulan Data .............................................................................31
E. Metode Analisis Data .....................................................................................31
BAB IVDESKRIPSI DATA DASAR & KARAKTERISTIK ................................32
BAB V ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH .............................................37
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................39
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................41
LAMPIRAN .............................................................................................................42

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kulit banyak dijumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena
Indonesia beriklim tropis. Iklim tersebut yang mempermudah perkembangan
bakteri, parasit maupun jamur. Penyakit yang sering muncul karena kurangnya
kebersihan diri adalah berbagai penyakit kulit. Skabies merupakan penyakit
kulit yang masih sering di jumpai di Indonesia dan tetap menjadi masalah
kesehatan masyarakat (Sudirman, 2006).
Skabies merupakan penyakit endemi di masyarakat. Penyakit ini banyak
dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat mengenai semua
golongan umur. Penyakit kulit skabies merupakan penyakit yang mudah
menular. Penyakit ini dapat ditularkan secara langsung (kontak kulit dengan
kulit) misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan melalui hubungan
seksual.Penularan secara tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian,
handuk, sprei, bantal, dan selimut (Djuanda, 2007).
Penyakit ini mudah menular dan banyak faktor yang membantu
penyebarannya antara lain kemiskinan, higiene individu yang jelek dan
lingkungan yang tidak sehat. Penyakit skabies pada umumnya menyerang
individu yang hidup berkelompok seperti di asrama, pesantren, lembaga
pemasyarakatan, rumah sakit, perkampungan padat, dan rumah jompo.
Penularan skabies terjadi lebih mudah karena factor lingkungan dan perilaku
yang tidak bersih. Prevalensi skabies di negara berkembang dilaporkan
sebanyak 6-27% dari populasi umum dan insidens tertinggi pada anak usia
sekolah dan remaja (Sudirman, 2006).
Angka kejadian penyakit skabies di seluruh dunia dilaporkan ada sekitar
300 juta kasus per tahun (Chosidow, 2006). Angka kejadian skabies tidak hanya
terjadi pada negara berkembang saja, namun juga terjadi pada negara maju,
seperti di Jerman. Skabies terjadi secara sporadik atau dalam bentuk endemik
yang panjang (Ariza, Walter., et al., 2013). Insiden skabies di Indonesia masih
sangat tinggi, terendah di Sulawesi Selatan dan tertinggi di Jawa Barat.
Prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 2008 adalah

5
5,6% - 12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit
tersering (DEPKES RI, 2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merasa perlu untuk
melakukan penelusuran tentang “Gambaran Tingkat pengetahuan tentang
skabies dan kepatuhan pengobatan pada pasien skabies di kelurahan Hegarsari
Kecamatan Pataruman Kota Banjar”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Tingakat Pengetahuan tentang Skabies di Kelurahan Hegarsari
Kecamatan Pataruman?
2. Bagaimana Kepatuhan Pengobatan pasien Skabies di Kelurahan Hegarsari
Kecamatan Pataruman?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penulisan Minipro ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Tingkat
pengetahuan tentang scabies dan kepatuhan pengobatan pada pasien scabies
di kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman.
2. Tujuan Khusus
Sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi hasil dari program yang telah
dijalankan puskesmas.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan atau masukan dan
tambahan informasi bagi pengembang ilmu kedokteran pada umumnya dan
studi bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat pada khususnya program kesehatan
Penyakit Menular.
2. Manfaat Praktis:
a) Menambah khasanah pengetahuan peneliti tentang Gambaran Tingkat
pengetahuan tentang scabies dan kepatuhan pengobatan pada pasien
scabies di kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman.
b) Sebagai bahan untuk tindakan preventif atau pencegahan terhadap
Skabies.

6
3. Bidang pelayanan masyarakat :
a) Sebagai pengetahuan untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat
khususnya warga Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman tentang
Skabies.
b) Meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya warga Kelurahan
Hegarsari Kecamatan Pataruman tentang pentingnya Pengobatan Skabies.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. SKABIES
1. Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi tungau Sarcoptes Scabiei varian hominis dan produknya pada
tubuh. Di Indonesia skabies sering disebut kudis, orang jawa menyebutnya
gudik, sedangkan orang sunda menyebutnya budug. Skabies adalah penyakit
zoonosis yang menyerang kulit, dapat mengenai semua golongan di seluruh
dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei
(Djuanda, 2007).
2. Etiologi
Penyebabnya penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun lalu
sebagai akibat infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei atau pada
manusia disebut Sarcoptes scabiei varian hominis. Sarcoptes scabiei
termasuk filum Arthropoda , kelas Arachnida , ordo Acarina, super family
Sarcoptes (Sudirman, 2006).
a. Morfologi
Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk
dalam filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, siperfamili
Sarcoptes. Tungau S. scabiei berwarna putih krem dan berbentuk oval
yang cembung pada bagian dorsal dan pipih pada bagian ventral . Tungau
betina dewasa berukuran 300 - 500 x 230 - 340 µm sedangkan yang jantan
berukuran 213 - 285 x 160 - 210 pm. Permukaan tubuhnya bersisik dan
dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel yang
berjalan transversal (Gambar 2.1) . Stadium larva mempunyai tiga pasang
kaki sedangkan dewasa dan nimpa mempunyai empat pasang kaki. Tungau
ini tidak dapat terbang atau melompat dan hanya dapat hidup selama 30
hari di lapisan epidermis (Chosidow 2006; Orkin 2008; Wardhana, 2009).

8
Gambar 2.1 Morfologi Sarcoptes scabiei (Wardhana, 2009)
b. Siklus Hidup
Siklus hidup dari telur hingga menjadi tungau dewasa memerlukan
waktu 10 - 14 hari sedangkan tungau betina mampu hidup pada induk
semang hingga 30 hari. Literatur lain menyebutkan bahwa durasi siklus
hidup S. Scabiei berkisar 30 - 60 hari. Tungau betina mengeluarkan telur
sebanyak 40 – 50 butir dalam bentuk kelompok-kelompok, yaitu dua-dua
atau empat-empat. Telur akan menetas dalam waktu tiga sampai empat
hari dan hidup sebagai larva di lorong-lorong lapisan tanduk kulit. Larva
akan meninggalkan lorong, bergerak ke lapisan permukaan kulit,
membuat saluran-saluran lateral dan bersembunyi di dalam folikel
rambut. Larva berganti kulit dalam waktu dua sampai tiga hari menjadi
protonimpa dan tritonimpa yang selanjutnya menjadi dewasa dalam
waktu tiga sampai enam hari (Iskandar, 2014).

Gambar 2.2 Siklus Hidup Sarcoptes scabiei

9
3. Epidemiologi
Faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain sosial
ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual dan sifatnya
promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis dan perkembangan
demografi serta ekologi. Selain itu faktor penularannya bisa melalui tidur
bersama dalam satu tempat tidur, lewat pakaian, perlengkapan tidur atau
benda-benda lainnya. Cara penularan (transmisi) : kontak langsung misal
berjabat tangan, tidur bersama dan kontak seksual. Kontak tidak langsung
misalnya melalui pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain (Djuanda,
2007).
4. Cara Penularan
Penularan biasanya melalui Sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi atau kadang-kadang oleh larva. Dikenal pula Sarcoptes scabieivar.
Animalis yang kadang-kadang menulari manusia. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan, atau apabila
banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relatif
sempit. Penularan skabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu
tempat tidur yang sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang
menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, serta fasilitas-fasilitas
kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas, dan fasilitas umum lain yang
dipakai secara bersama-sama di lingkungan padat penduduk (Djuanda, 2007).
5. Patogenesis
Setelah terjadi perkawinan (kopulasi) biasanya tungau jantan akan
mati, namun kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam
terowongan yang digali oleh betina. Setelah tungau betina dibuahi, tungau ini
akan membentuk terowongan pada kulit sampai perbatasan stratum korneum
dan stratum granulosum dengan panjangnya 2-3 mm perhari serta bertelur
sepanjang terowongan sampai sebanyak 2 atau 4 butir sampai sehari
mencapai 40-50 butir. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3-5 hari dan
menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva tersebut sebagian ada
yang tetap tinggal dalam terowongan dan ada yang keluar dari permukaan
kulit, kemudian setelah 2-3 hari masuk ke stadium nimfa yang mempunyai 2
bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Waktu yang diperlukan

10
mulai dari telur menetas sampai menjadi dewasa sekitar 8-12 hari (Iskandar,
2014)
Siklus hidup tungau scabies paling cepat terjadi selama 30 hari dan
selama itu juga tungau-tungau tersebut berada dalam epidermis manusia.
Tungau yang akan berpindah ke lapisan kulit teratas memproduksi substansi
proteolitik (sekresi saliva) yang berperan dalam pembuatan terowongan
dimana saat itu juga terjadi aktivitas makan dan pelekatan telur pada
terowongan tersebut. Tungau-tungau ini memakan jaringan-jaringan yang
hancur, namun tidak mencerna darah. Feses (Scybala) tungau akan
ditinggalkan di sepanjang perjalanan tungau menuju ke epidermis dan
membentuk lesi linier sepanjang terowongan (Hicks & Elston, 2009).
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi
juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan
oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan
waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Sensitisasi terjadi pada penderita
yang terkena infeksi scabies pertama kali. Pada saat itu kelainan kulit
menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-
lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi
sekunder. Apabila terjadi immunocompromised pada host, respon imun yang
lemah akan gagal dalam mengontrol penyakit dan megakibatkan invasi
tungau yang lebih banyak bahkan dapat menyebabkan crusted scabies.
Jumlah tungau pada pasien crusted scabies bisa melebihi 1 juta tungau
(Harahap, 2000; Handoko, 2007).

Gambar 2.4 Patogenesis Skabies

11
Gambar 2.5 Sarcoptes scabiei membuat terowongan dan bertelur di kulit
(A. Permukaan kulit, B. Terowongan pada lapisan tanduk, C. Telur, D.
Sarcoptes scabiei)

6. Gambaran Klinis
Keluhan pertama yang dirasakan penderita adalah rasa gatal terutama
pada malam hari (pruritus noktural) atau bila cuaca panas serta pasien
berkeringat (Sudirman, 2006). Diagnosa dapat ditegakkan dengan
menentukan 2 dari 4 tanda dibawah ini:
a. Pruritus noktural yaitu gatal pada malam hari karena aktifitas tungau yang
lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam
keluarga biasanya seluruh anggota keluarga, perkampungan yang padat
penduduknya, sebagian tetangga yang berdekatan akan diserang oleh
tungau tersebut. Dikenal dengan hiposensitisasi yang seluruh anggota
keluarganya terkena.
c. Adanya kunikulus (terowongan) pada tempat-tempat yang dicurigai
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok,
rata-rata 1 centi meter, pada ujung terowongan ditemukan papula
(tonjolan padat) atau vesikel (kantung cairan). Jika ada infeksi sekunder,
timbul poli morf (gelembung leokosit).
d. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostig. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Gatal yang hebat
terutama pada malam hari sebelum tidur. Adanya tanda : papula (bintil),
pustula (bintil bernanah), ekskoriasi (bekas garukan), bekas-bekas lesi
yang berwarna hitam (Sudirman, 2006).
7. Histopatologis Skabies
Gambaran histopatologis menunjukkan bahwa terowongan pada
skabies terletak pada stratum korneum dimana tungau betina akan tampak
pada bagian ujung terowongan di bagian sratum Malphigi. Kelainan yang
12
tampak berupa proses inflamasi ringan serta edema lapisan Malphigi dan
sedikit infiltrasi perivaskular (Sudirman, 2006).
8. Imunologi Skabies
Infestasi pertama skabies akan menimbulkan gejala klinis setelah satu
bulan kemudian. Tetapi yang telah mengalami infestasi sebelumnya, gejala
klinis dapat timbul dalam waktu 24 jam. Hal ini terjadi karena pada infestasi
ulang telah ada sensitisasi dalam tubuh pasien terhadap tungau dan
produknya yang antigen dan mendapat respons dari sistem imun tubuh
(Sudirman, 2006).
9. Diagnosis
Diagnosis penyakit skabies sampai saat ini masih menjadi masalah
dalam dermatologi. Penetapan diagnosa scabies berdasarkan riwayat gatal
terutama pada malam hari dan adanya anggota keluarga yang sakit seperti
penderita (ini menunjukkan adanya penularan). Pemeriksaan fisik yang
penting adalah dengan melihat bentuk tonjolan kulit yang gatal dan area
penyebarannya. Untuk memastikan diagnose skabies adalah dengan
pemeriksaan mikroskop untuk melihat ada tidaknya kutu Sarcoptes scabiei
atau telurnya (Sudirman, 2006).
10. Pemeriksaan Penunjang
a. Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah sekitar papula yang lama
maupun yang baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca objek dan
ditetesi dengan KOH 10% kemudian ditutup dengan kaca penutup dan
diperiksa di bawah mikroskop. Diagnosis scabies positif jika ditemukan
tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran S. scabiei.
b. Menyikat dengan sikat dan ditampung pada kertas putih kemudian
dilihat dengan kaca pembesar.
c. Biopsi irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan
tipis dengan pisau kemudian diperiksa dengan mikroskop cahaya.
d. Biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin.
e. Tes tinta pada terowongan di dalam kulit dilakukan dengan cara
menggosok papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula
yang telah tertutup dengan tinta didiamkan selama dua puluh sampai
tiga puluh menit, kemudian tinta diusap/ dihapus dengan kapas yang
dibasahi alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta masuk ke dalam
13
terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag
(Djuanda et al, 2007).
f. Videodermatoskopi dilakukan menggunakan sistem mikroskop video
dengan pembesaran seribu kali dan memerlukan waktu sekitar lima
menit. Umumnya metode ini masih dikonfirmasi dengan basil kerokan
kulit.
g. Pengujian menggunakan mikroskop epiluminesken dilakukan pada
tingkat papilari dermis superfisial dan memerlukan waktu sekitar lima
menit serta mempunyai angka positif palsu yang rendah. Kendati
demikian, metode diagnosis tersebut kurang diminati karena
memerlukan peralatan yang mahal
11. Klasifikasi
Menurut Sudirman (2006) skabies dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Skabies pada orang bersih (Scabies in the clean)
Tipe ini sering ditemukan bersamaan dengan penyakit menular lain.
Ditandai dengan gejala minimal dan sukar ditemukan terowongan.Kutu
biasanya menghilang akibat mandi secara teratur.
b. Skabies pada bayi dan anak kecil
Gambaran klinis tidak khas, terowongan sulit ditemukan namun vesikel
lebih banyak, dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk kepala, leher,
telapak tangan, telapak kaki.
c. Skabies noduler (Nodular Scabies)
Lesi berupa nodul coklat kemerahan yang gatal pada daerah tertutup.
Nodul dapat bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun walaupun
telah diberikan obat anti skabies.
d. Skabies in cognito
Skabies akibat pengobatan dengan menggunakan kostikosteroid topikal
atau sistemik. Pemberian obat ini hanya dapat memperbaiki gejala klinik
(rasa gatal) tapi penyakitnya tetap ada dan tetap menular.
e. Skabies yang ditularkan oleh hewan (Animal transmited scabies)
Gejala ringan, rasa gatal kurang, tidak timbul terowongan, lesi terutama
terdapat pada tempat-tempat kontak, dapat sembuh sendiri bila menjauhi
hewan tersebut dan mandi yang bersih.
14
f. Skabies krustosa (crustes scabies / scabies keratorik )
Tipe ini jarang terjadi, namun bila ditemui kasus ini, dan terjadi
keterlambatan diagnosis maka kondisi ini akan sangat menular.
g. Skabies terbaring di tempat tidur (Bed ridden)
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus terbaring di
tempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.
h. Skabies yang disertai penyakit menular seksual yang lain
Apabila ada skabies di daerah genital perlu dicari kemungkinan penyakit
menular seksual yang lain, dimulai dengan pemeriksaan biakan atau
gonore dan pemeriksaan serologi untuk sifilis.
i. Skabies dan Aquired Immuodeficiency Syndrome (AIDS)
Ditemukan skabies atipik dan pneumonia pada seorang penderita.
j. Skabies dishidrosiform
Jenis ini di tandai oleh lesi berupa kelompok vesikel dan pustule pada
tangan dan kaki yang sering berulang dan selalu sembuh dengan obat
antiskabies (Sudirman, 2006).
12. Penatalaksanaan
Terdapat beberapa terapi untuk scabies yang memiliki tingkat
efektivitas yang bervariasi. Faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan
yang antara lain umur pasien, biaya pengobatan, berat derajat erupsi dan
faktor kegagalan terapi yang pernah diberikan sebelumnya (Orkin, 2008).
a. Medikamentosa
Pengobatan skabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan
produknya, mudah diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman
untuk semua umur, dan terjangkau biayanya. Pengobatan scabies
bervariasi berupa topikal maupun oral. Jenis obat topikal yang dapat
diberikan kepada pasien adalah :
1) Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam
bentuk salep atau krim. Preparat ini tidak efektif terhadap stadium
telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari.
Kekurangannya ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-
kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur
kurang dari 2 tahun.

15
2) Emulsi benzyl-benzoas (20-25%) efektif terhadap semua stadium,
diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh,
sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah
dipakai.
3) Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan=gammexane) kadarnya
1% dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif
terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi
iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan
wanita hamil, karena toksis terhadap susunan saraf pusat.
Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi
seminggu kemudian.
4) Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan anti gatal, dipakai
selama 24 jam, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
5) Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik jika dibandingkan
gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus
setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi selama seminggu. Tidak
dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 tahun.
Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika. Untuk
rasa gatal dapat diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika
diantara anggota keluarga ada yang menderita skabies juga harus diobati.
Karena sifatnya yang sangat mudah menular, maka apabila ada salah satu
anggota keluarga terkena skabies, sebaiknya seluruh anggota keluarga
tersebut juga harus menerima pengobatan (Djuanda et al., 2007; Siregar,
2004).
b. Non Medikamentosa
1) Menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah
penggunaan barang-barang penderita secara bersama-sama.
2) Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan
oleh penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air panas.
3) Pakaian dan barang-barang yang berbahan kain dianjurkan untuk
disetrika sebelum digunakan.
4) Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal
tiga hari sekali.
16
5) Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling,
selimut) disarankan dimasukkan ke dalam kantung plastik selama
tujuh hari, selanjutnya dicuci kering atau dijemur di bawah sinar
matahari sambil dibolak batik minimal dua puluh menit sekali.
6) Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk serta pola hidup yang
sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup S.
scabiei.

B. PENGETAHUAN
Pengetahuan merupukan hasil dari “tahu” yang terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengideraan ini
dilakukan oleh panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan manusia sebagian besar didapatkan oleh
indra mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan hal yang sangat
penting dalam membentuk tingkatan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo,
2007). Pengetahuan akan muncul ketika seseorang menggunakan indra atau akal
budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah
dilihat atau dirasakan sebelumnya (Wijayanti, 2009).
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang tercangkup dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, meliputi:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang paling rendah.Misalnya menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan
materi tersebut secara benar.Misalnya dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini
17
dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan
(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk menciptakan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.Sintesis juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.Misalnya, dapat menyusun,
dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya
terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian suatu penelitian
biasanya didasari pada suatu kriteria-kriteria yang sudah ada sebelumnya.
Seseorang yang telah mendapatkan pengetahuan akan menghasilkan
perilaku baru, namun sebelum orang tersebut menghadapi perilaku baru akan
terjadi sebuah proses berurutan dalam diri nya. Prosesnya meliputi
(Notoatmodjo, 2007):
1. Awareness (kesadaran) dimana orang (subjek) tersebut menyadari atau
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (tertarik) terhadap stimulus tersebut. Sikap subjek sudah mulai
timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap efek (baik atau buruk) yang akan
ditimbulkan stimulus bagi dirinya. Sikap subjek akan lebih baik lagi.
4. Trial, tahap dimana seseorang akan mulai mencoba melakukan sesuatu
seperti yang dikehendaki oleh stimulus
5. Adaptation, dimana seseorang tersebut telah berprilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
18
Dalam kehidupan sehari-hari pengetahuan akan dipengaruhi oleh 7 faktor,
diantaranya (Hendra, 2008) :
1. Umur
Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan
pengetahuan yang diperoleh, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau
menjelang usia lanjut kemampun penerimaan atau mengingat suatu
pengetahuan akan berkurang.
2. Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan
berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru.
Intelegensi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dari proses
belajar. Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal berfikir dan
mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai
lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan
intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat
pengetahauan.
3. Lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang.Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi
seseorang dimana seseorang dapat mempelajari hal- hal yang baik dan juga
hal-hal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan
seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara
berfikir seseorang.
4. Sosial Budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang.
Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungan dengan orang
lain, karena hubungan ini seseorang mengalami suatu proses belajar dan
memperoleh suatu pengetahuan.
5. Pendidikan
Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik
pula pengetahuannya.Tapi tidak semua orang yang memiliki pendidikan
rendah pengetahuannya rendah juga.

19
6. Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan seseorang.
Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi bila ia
mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio
atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahauan
seseorang.
7. Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat
diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahauan, atau
pengetahuan itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh
sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk
memperoleh pengetahauan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang
kembali pengalaman yang diperoleh dalam memeahkan permasalahan yang
dihadapi pada masa lalu.

C. KEPATUHAN MINUM OBAT


Ada beberapa macam terminologi yang biasa digunakan dalam literatur
untuk mendeskripsikan kepatuhan pasien diantaranya compliance, adherence,
dan persistence. Compliance adalah secara pasif mengikuti saran dan perintah
dokter untuk melakukan terapi yang sedang dilakukan (Nurina, 2012).
Adherence adalah sejauh mana pengambilan obat yang diresepkan oleh
penyedia layanan kesehatan. Tingkat kepatuhan (adherence) untuk pasien
biasanya dilaporkan sebagai persentase dari dosis resep obat yang benar-benar
diambil oleh pasien selama periode yang ditentukan (Nurina, 2012).
Di dalam konteks psikologi kesehatan, kepatuhan mengacu kepada situasi
ketika perilaku seorang individu sepadan dengan tindakan yang dianjurkan atau
nasehat yang diusulkan oleh seorang praktisi kesehatan atau informasi yang
diperoleh dari suatu sumber informasi lainnya seperti nasehat yang diberikan
dalam suatu brosur promosi kesehatan melalui suatu kampanye media massa
(Ian & Marcus, 2011).
Para Psikolog tertarik pada pembentukan jenis-jenis faktor-faktor kognitif
dan afektif apa yang penting untuk memprediksi kepatuhan dan juga penting
perilaku yang tidak patuh. Pada waktu-waktu belakangan ini istilah kepatuhan
telah digunakan sebagai pengganti bagi pemenuhan karena ia mencerminkan
20
suatu pengelolaan pengaturan diri yang lebih aktif mengenai nasehat pengobatan
(Ian & Marcus, 2011). Menurut Kozier (2010) kepatuhan adalah perilaku
individu (misalnya: minum obat, mematuhi diet, atau melakukan perubahan
gaya hidup) sesuai anjuran terapi dan kesehatan. Tingkat kepatuhan dapat
dimulai dari tindak mengindahkan setiap aspek anjuran hingga mematuhi
rencana. Sedangkan Sarafino (dalam Yetti, dkk 2011) mendefinisikan kepatuhan
sebagai tingkat pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang
disarankan oleh dokternya. Dikatakan lebih lanjut, bahwa tingkat kepatuhan
pada seluruh populasi medis yang kronis adalah sekitar 20% hingga 60%. Dan
pendapat Sarafino pula (dalam Tritiadi, 2007) mendefinisikan kepatuhan atau
ketaatan (compliance atau adherence) sebagai: “tingkat pasien melaksanakan
cara pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau oleh orang
lain”. Pendapat lain dikemukakan oleh Sacket (Dalam Neil Niven, 2000)
mendefinisikan kepatuhan pasien sebagai “sejauhmana perilaku pasien sesuai
dengan ketentuan yang diberikan oleh professional kesehatan”. Pasien mungkin
tidak mematuhi tujuan atau mungkin melupakan begitu saja atau salah mengerti
instruksi yang diberikan.
Kemudian Taylor (1991), mendefinisikan kepatuhan terhadap pengobatan
adalah perilaku yang menunjukkan sejauh mana individu mengikuti anjuran
yang berhubungan dengan kesehatan atau penyakit. Dan Delameter (2006)
mendefinisikan kepatuhan sebagai upaya keterlibatan aktif, sadar dan
kolaboratif dari pasien terhadap perilaku yang mendukung kesembuhan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku kepatuhan
terhadap pengobatan adalah sejauh mana upaya dan perilaku seorang individu
menunjukkan kesesuaian dengan peraturan atau anjuran yang diberikan oleh
professional kesehatan untuk menunjang kesembuhannya.
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Menurut Kozier (2010), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah
sebagai berikut:
a. Motivasi klien untuk sembuh
b. Tingkat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan
c. Persepsi keparahan masalah kesehatan
d. Nilai upaya mengurangi ancaman penyakit
e. Kesulitan memahami dan melakukan perilaku khusus
21
f. Tingkat gangguan penyakit atau rangkaian terapi
g. Keyakinan bahwa terapi yang diprogramkan akan membantu atau tidak
membantu
h. Kerumitan efek samping yang diajukani
i. Warisan budaya tertentu yang membuat kepatuhan menjadi sulit
dilakukan
j. Tingkat kepuasan dan kualitas serta jenis hubungan dengan penyediaan
layanan kesehatan
Sedangkan menurut Neil (2000), Faktor-faktor yang mempengaruhi
ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian:
a. Pemahaman Tentang Instruksi
Tak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang
instruksi yang diberikan padanya. Lcy dan Spelman (dalam Neil, 2000)
menemukan bahwa lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu
dengan dokter salah mengerti tentang instruksi yang diberikan pada
mereka. Kadang-kadang hal ini disebabkan oleh kegagalan professional
kesehatan dalam memberikan informasi yang lengkap, penggunaan
istilah-istilah media dan memberikan banyak instruksi yang harus diingat
oleh pasien.
b. Kualitas Interaksi
Kualitas interaksi antara professional kesehatan dan pasien merupakan
bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Korsch &
Negrete (Dalam Neil, 2000) telah mengamati 800 kunjungan orang tua
dan anak- anaknya ke rumah sakit anak di Los Angeles. Selama 14 hari
mereka mewawancarai ibu-ibu tersebut untuk memastikan apakah ibu-ibu
tersebut melaksankan nasihat- nasihat yang diberikan dokter, mereka
menemukan bahwa ada kaitan yang erat antara kepuasaan ibu terhadap
konsultasi dengan seberapa jauh mereka mematuhi nasihat dokter, tidak
ada kaitan antara lamanya konsultasi dengan kepuasaan ibu. Jadi
konsultasi yang pendek tidak akan menjadi tidak produktif jika diberikan
perhatian untuk meningkatkan kualitas interaksi.

22
c. Isolasi Sosial dan Keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam
menentukan keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat juga
menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima. Pratt
(dalam Neil, 2012) telah memperhatikan bahwa peran yang dimainkan
keluarga dalam pengembangan kebiasaan kesehatan dan pengajaran
terhadap anak-anak mereka. Keluarga juga memberi dukungan dan
membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga yang
sakit.
d. Keyakinan, Sikap dan Keluarga Becker (dalam Neil, 2012) telah
membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk
memperkirakan adanya ketidakpatuhan. Mereka menggambarkan
kegunaan model tersebut dalam suatu penelitian bersama Hartman dan
Becker (1978) yang memperkirakan ketidakpatuhan terhadap ketentuan
untuk pasien hemodialisa kronis. 50 orang pasien dengan gagal ginjal
kronis tahap akhir yang harus mematuhi program pengobatan yang
kompleks, meliputi diet, pembatasan cairan, pengobatan, dialisa. Pasien-
pasien tersebut diwawancarai tentang keyakinan kesehatan mereka
dengan menggunakan suatu model. Hartman dan Becker menemukan
bahwa pengukuran dari tiap-tiap dimensi yang utama dari model tersebut
sangat berguna sebagai peramal dari kepatuhan terhadap pengobatan.
2. Cara-cara Mengurangi Ketidakpatuhan Dinicola dan Dimatteo (dalam Neil,
2000) mengusulkan rencana untuk mengatasi ketidakpatuhan pasien antara
lain:
a. Mengembangkan tujuan dari kepatuhan itu sendiri, banyak dari pasien
yang tidak patuh yang memiliki tujuan untuk mematuhi nasihat-nasihat
pada awalnya. Pemicu ketidakpatuhan dikarenakan jangka waktu yang
cukup lama serta paksaan dari tenaga kesehatan yang menghasilkan efek
negatif pada penderita sehingga awal mula pasien mempunyai sikap patuh
bisa berubah menjadi tidak patuh. Kesadaran diri sangat dibutuhkan dari
diri pasien.
b. Perilaku sehat, hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, sehingga perlu
dikembangkan suatu strategi yang bukan hanya untuk mengubah perilaku,
tetapi juga mempertahankan perubahan tersebut. Kontrol diri, evaluasi
23
diri dan penghargaan terhadap diri sendiri harus dilakukan dengan
kesadaran diri. Modifikasi perilaku harus dilakukan antara pasien dengan
pemberi pelayanan kesehatan agar terciptanya perilaku sehat.
c. Dukungan sosial, dukungan sosial dari anggota keluarga dan sahabat
dalam bentuk waktu, motivasi dan uang merupakan faktor-faktor penting
dalam kepatuhan pasien. Contoh yang sederhana, tidak memiliki
pengasuh, transportasi tidak ada, anggota keluarga sakit, dapat
mengurangi intensitas kepatuhan. Keluarga dan teman dapat membantu
mengurangi ansietas yang disebabkan oleh penyakit tertentu, mereka
dapat menghilangkan godaan pada ketidaktaatan dan mereka seringkali
dapat menjadi kelompok pendukung untuk mencapai kepatuhan.

24
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep Penelitian

Kepatuhan
Pengetahuan
Melakukan
Tentang Skabies
Pengobatan

B. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan survey yang menggunakan metode deskriptif,
yang bisa memberi gambaran tingkat pengetahuan tentang Skabies dengan
kepatuhan melakukan pengobatan di Kelurahan Hegarsari Kecamatan
Pataruman Kota Banjar.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang Skabies dan Kepatuhan
Pengobatan.
3. Populasi Dan Sampel
a. Populasi
Populasi penelitian adalah warga Kelurahan Hegarsari Kecamatan
Pataruman Kota Banjar.
b. Sampel
Sampel yang digunakan adalah warga yang terkena Skabies di Kelurahan
Hegarsari Kecamatan Pataruman Kota Banjar.
4. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa kuesioner yang telah dibagikan kepada
peserta sampel penelitian.
5. Cara Pengolahan Data
Semua data yang diperoleh, dicatat, diolah secara manual lalu disusun
ke dalam tabel sesuai dengan penelitian.

25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Dasar


Penelitian dilakukan di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman
dalam wilayah kerja Puskesmas Pataruman 1 pada bulan September 2017.
Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner untuk menilai
tingkat pengetahuan tentang Skabies dan Kuesioner Kepatuhan Pengobatan.
Kuesioner ini dibagikan kepada masing-masing pasien Skabies di Kelurahan
Hegarsari. Responden yang mengikuti penelitian sejumlah 25 orang yang
berasal dari Kelurahan Hegarsari.
1. Karakteristik Responden
Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden Penelitian
Karakteristik Frekuensi Presentase (%)
Usia
> 15 tahun 4 16
5- 15 tahun 19 76
< 5 tahun 2 8
Jenis Kelamin
Laki-laki 16 64
Perempuan 9 36
Pendidikan
Tidak sekolah 6 24
SD 13 52
SMP 5 20
SMA 1 4
Ttotal 25 100
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas dapat diketahui bahwa usia responden
terbanyak adalah antara 5-15 tahun (76%), dan diikuti oleh usia >15 tahun
(16%).

26
Sedangkan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki dengan 64 %. Dan
pendidikan responden terbanyak adalah siswa Sekolah Dasar sebanyak
(52%).
2. Karakteristik Pengetahuan Responden
Tabel 4.2 Karakteristik Pengetahuan Responden
Pengetahuan Frekuensi Prosentase (%)
Kurang Baik 21 84
Baik 4 16
Total 25 100
Tabel 4.2 menunjukan sebanyak 21 responden (84%) memiliki tingkat
pengetahuan tentang scabies kurang, dan 4 responden (16%) yang
memilikti tingkat pengetahuan yang baik.
3. Karakteristik Kepatuhan Pengobatan
Table 4.3 Karakteristik Kepatuhan Pengobatan
Kepatuhan Frekuensi Prosentase (%)
Tidak Patuh 19 76
Patuh 6 24
Total 25 100
Tabel 4.2 menunjukan sebanyak 19 responden (76%) tidak Patuh
dalam pengobatan Skabies, dan sebanyak 6 responden (24%) Patuh dalam
Pengobatan.
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Tingkat pengetahuan
responden mengenai skabies yang baik sebanyak 6 responden (16%) dan
sisanya 25 responden (84%) termasuk ke dalam tingkat pengetahuan yang
kurang. Dikatakan memiliki pengetahuan yang baik apabila responden mampu
mendapat skor nilai >10, sedangkan skor nilai ≤10 dapat digolongkan
memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai Skabies.
Hasil dari tingkat kepatuhan pengobatan menunjukan sebanyak 19
responden (76%) tidak Patuh dalam pengobatan Skabies, dan sebanyak 6

27
responden (24%) Patuh dalam Pengobatan. Dikatakan patuh apabila responden
mendapatkan skor nilai ≥3, dan bila responden mendapatkan skor nilai <3
digolongkan tidak patuh.
Hasil penelitian ini mengenai tingkat pengetahuan skabies sejalan
dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Riris pada tahun 2010 di
Surakarta, dimana dari 95 penderita skabies sebanyak 71 penderita memiliki
tingkat pengetahuan tentang skabies yang kurang, dan sisanya 24 penderita
memiliki pengetahuan yang baik.
Pengetahuan tentang skabies sangat mempengaruhi kejadian skabies
karena pengetahuan merupakan sumber yang sangat penting untuk
terbentuknya suatu tindakan seseorang. Hal ini dapat disebabkan juga oleh
usia dan pendidikan responden, dimana sebagian besar responden penderita
skabies ini adalah anak usia dibawah 15 tahun dan masih duduk di bangku
Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, yang kemungkinan besar
mereka belum pernah mendapatkan materi mengenai skabies baik dari sekolah
ataupun dari petugas kesehatan.
Pengetahuan juga akan mempengaruhi seseorang dalam bersikap dan
berperilaku, termasuk juga dalam kepatuhan pengobatan. Seseorang akan
cenderung patuh terhadap pengobatan apabila sudah memahami mengenai
penyakitnya dan apa akibat bila tidak melakukan pengobatan dengan benar.
Namun selain pengetahuan, dukungan keluarga juga dirasa sangat berperan
dalam kepatuhan pengobatan pada responden, mengingat usia responden
penderita skabies pada penelitian ini paling banyak usia ≤15 tahun yang
tergolong masih remaja, bahkan anak-anak, yang masih berada dalam
pantauan orang tua nya.

28
BAB V
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah


Alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
pengetahuan tentang Skabies dan meningkatkan tingkat kepatuhan pengobatan
pasien Skabies di Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman wilayah Kerja
Puskesmas Pataruman 1 adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai
Skabies mulai dari penyebab, cara penularan dan pengobatan. Serta
melakukan pemantauan Kesembuhan pasien.
B. Penentuan Alternatif Terpilih
Pemilihan prioritas alternatif pemecahan masalah harus dilakukan karena
adanya keterbatasan baik dalam sarana, tenaga, dana, serta waktu. Salah satu
metode yang dapat digunakan dalam pemilihan prioritas pemecahan masalah
adalah metode Reinke. Metode ini menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas
dan efisiensi jalan keluar.
Efektifitas jalan keluar meliputi besarnya masalah yang dapat diatasi,
kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan penyelesaian masalah.
Efisiensi jalan keluar dikaitkan dengan biaya yang diperlukan dalam
menyelesaikan masalah.Skoring efisiensi jalan keluar adalah dari sangat
murah (1), hingga sangat mahal (5).
Tabel 5.1 Kriteria dan Skoring Efektivitas Jalan Keluar
Skor M I V
(besarnya masalah (kelanggengan (kecepatan
yang dapat diatasi) selesainya masalah) penyelesaian masalah)
1 sangat kecil sangat tidak langgeng sangat lambat
2 Kecil tidak langgeng lambat
3 cukup besar cukup langgeng cukup cepat
4 Besar Langgeng cepat
5 sangat besar sangat langgeng sangat cepat

29
Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode Reinke adalah
sebagai berikut:
Tabel 5.2 Prioritas Pemecahan Masalah Metode Reinke

Efektivitas Efisiensi Urutan


Daftar Alternatif Jalan MxIxV
No M I V C Prioritas
Keluar C
Masalah
1. Pemberian penyuluhan 4 3 3 2 18 1
tentang Skabies
2. Pemantauan Kesembuhan 4 3 3 2 18 2
Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan
metode Reinke, didapat prioritas pemecahan masalah, yaitu pemberian
penyuluhan tentang Skabies mulai dari penyebab, proses penularan dan
pengobatan.

30
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil laporan mini project di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan
Pataruman, Kota Banjar mengenai pengetahuan tentang Skabies dan
Kepatuhan Pengobatan, dapat ditarik kesimpulan berupa :
1. Dari hasil kuesioner yang telah dibagikan dan telah di rekapitulasi sesuai
dengan tabel di atas, maka dapat dilihat tingkat pengetahuan tentang
Skabies di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar
masih kurang. Hal ini harus terus ditingkatkan agar kepatuhan pasien
terhadap pengobatan juga makin meningkat
2. Alternatif pemecahan masalah pada penelitian ini adalah penyuluhan
tentang Skabies mulai dari penyebab, cara penularan hingga pengobatan
sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang scabies terhadap
para pasien scabies khususnya, dan umumnya untuk seluruh warga di
Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar wilayah kerja
Puskesmas Pataruman 1.
B. Saran
1. Bagi penderita Skabies
Meningkatkan pengetahuan tentang Skabies dan patuh menjalakan
pengobatan scabies sampai tuntas, serta selalu menjaga kebersihan diri dan
lingkungan agar tidak terkena scabies lagi dikemudian hari.
2. Bagi masyarakat/kader
Meningkatkan pengetahuan tentang skabies dan kemampuan melakukan
penjaringan terhadap masyarakat yang berpotensi tinggi terkena skabies
serta turut melakukan pengawasan terhadap proses pengobatan sehingga
dapat berperan aktif untuk mencegah dan mengurangi angka kejadian
skabies.
3. Bagi puskesmas

31
Meningkatkan frekuensi dan intensitas pemantauan terhadap pasien
penderitta skabies dan pembinaan terhadap para kader sehingga
masyarakat dapat berperan aktif dan agresif dalam upaya menekan angka
kejadian skabies, dan menyediakan obat-obatan yang sesuai untuk
penyakit Skabies, agar pasien bisa sembuh dengan sempurna dan tidak
meningkat menajdi scabies dengan infeksi sekunder.

32
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda. A. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima, cetakan kedua.
Jakarta : FKUI

Harahap. M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates

Hendra, A.W. 2008. Konsep Pengetahuan : faktor-faktor yang mempengaruhi


pengetahuan.

Iskandar. T. 2014. Masalah Skabies Pada Hewan dan Manusia Serta


Penanggulangannya. Wartazoa . Vol. 10, No. 1 th 2014. hal 28-34

Notoatmojo, S. 2007. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. Promosi


Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : PT Rineka Cipta

Sudirman. T. 2006. scabies : Masalah Diagmosis dan Pengobatan. Majalah


Kesehatan Damianus. Vol. 5, No. 3. September 2006. Hal : 177-190

Wijayanti, E. 2009. Beberapa Faktor yang Berpengaruh terhadap Pengerahuan


Kesehatan Reproduksi Remaja di desa Bancak. Semarang

33
Lampiran 1. Kuisioner Penelitian

Tanggal Survei :
Nomor Responden :
Alamat Responden :
A. Data Responden
1. Nama Responden :
2. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki
2. Perempuan
3. Umur : ...........tahun
4. Pendidikan :
5. Kelas :
B. Pengetahuan

34
1

1
1

35
C. Kepatuhan Pengobatan
Pertanyaan Ya Tidak
Apakah obat diminum secara teratur? 1
Apakah kadang-kadang lupa minum obat? 1
Seseorang kadang tidak minum obat karena beberapa 1
alasan selain lupa. Selama 2 minggu terakhir apakah
pernah tidak minum obat?
Ketika bepergian apa pernah lupa tidak membaawa 1
obat?
Ketika sudah merasa baikan apakah obatnya berhenti 1
diminum?

36
Lampiran 2. Rekapitulasi hasil Kuesioner

Tingkat Kepatuhan
No. Jenis Pendidikan
Umur Pengetahuan Pengobatan
Resp Kelamin
SD SMP SMA TS Skor Kategori Skor Kategori
1 L 11 √ 6 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
2 P 30 √ 12 Baik 4 Patuh
3 L 5 √ 8 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
4 P 4 √ 9 Kurang Baik 4 Patuh
5 L 15 √ 14 Baik 4 Patuh
6 P 9 √ 7 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
7 P 37 √ 9 Kurang Baik 4 Patuh
8 L 8 √ 6 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
9 P 4 √ 9 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
10 L 15 √ 10 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
11 P 15 √ 8 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
12 P 6 √ 8 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
13 P 9 √ 9 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
14 L 23 √ 13 Baik 5 Patuh
15 L 12 √ 7 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
16 L 10 √ 8 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
17 L 12 √ 10 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
18 L 13 √ 7 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
19 L 7 √ 9 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
20 L 12 √ 5 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
21 L 15 √ 7 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
22 L 18 √ 15 Baik 5 Patuh
23 L 10 √ 6 Kurang Baik 2 Tidak Patuh
24 L 8 √ 8 Kurang Baik 3 Tidak Patuh
25 P 8 √ 5 Kurang Baik 3 Tidak Patuh

37
Lampiran 3. Dokumentasi

38
39
40
41
42

Anda mungkin juga menyukai