Anda di halaman 1dari 41

BAB 7 KUALITAS BATUBARA Batubara merupakan endapan organik yang mutunya sangat ditentukan oleh

beberapa faktor antara lain tempat terdapatnya cekung- dan banyaknya kontaminasi. Di dalam
penggunaannya aerancangan mesin yang mempergunakan batubara sebagai bahan bakar harus
menyesuaikan dengan kualitas batubaranya agar mesin yang dipergunakan tahan lama. I. PENGENALAN
UMUM KUALITAS BATUBARA Batubara merupakan bahan baku pembangkit energi diper- unakan untuk
industri Mutu dari batubara akan sangat penting dalam menentukan peralatan yang dipergunakan.
Untuk menentukan kualitas batubara, beberapa hal yang harus adalah: High heating value Total moisture
Inherent moisture Volatile matter Ash content 3 mm, 40 mm, 50 mm) Sulfur content Coal Size
Grindability Index Hardgrove

Ash tent dan komposisi Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui g bakar d daerah
kanveksi dalam bentuk ahu atau abu Sekitar 20 dalam bentuk ahu dasar dan RO dalam bentuk Fined
rarban cintorine Hydrogen oxigen, Nitrogen, Sulfur, Ash UIrimate Carbon, -Ash fusion dasar semakin
tinggi kandungan abu dan terpantung erbang Inempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan dan
a. High Heating Value HHV) korasi peralatan yang dilalui. High Hearing value sangat berpengaruh
terhadap Pengo e. sulfur Content Pipa batubara, wind box Kandungan sulfur berpengaruh terhadap
tingkat korosi sisi ain vang terjadi pada elemen pemanas udara terutama apabila sulu High heating maka
aliran batu, ra lebih rendah dari letak emhan salfur, di samping berpengaruh atan electrostatic jamnya
semakin rendah, sehingga kecepatan coal feeder harus d terhadap efektivitas penangkapan abu pada
peial kan, Coal Size b. Moisture Content Ukuran butir batubara dihatasi pada rentang butir halus dan
butir Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian udah paling halus untuk ukuran <3 mm,
sedang ukuran paling primennya, pada batubara dengan kandungan moisture tinggi ai B paling halus
dibatasi Dustness dan tingkat membutuhkan udara primer lebih banyak guna mengeringkan batuban
kasar sampai 50 mm. Butir kemudahan diterbangkan angin sehingga mengouoti li pula Tingkat Dustness
dan kemudahan beterbangan masih ditentukan merebut pada suhu keluar mill tetap. oleh kandungan
moisture batubara Volatile Matter Kandungan volatile maner mempengaruhi kesempumaan pen g.
Hardgrove Grindability Index (HGI) Kapasitas mill (pulveriter) dirancang pada kapasitasnya bility Index
tertentu, maka untuk HGI lehih rendah dari nilai patoknya unuk bakaran dan intensitas nyala api.
Kesempumaan pembakaran ditentuka h. Ash Fushion Ch

KLAnna .3. ANNYA AAT batubara perlu sifat yang ditunj kkan oleh batubara baik yang disi miaw higit dan
mekanis. Silat sifat akan dapat atau simpulkan d kualitas batubara hasil analisis dan pengujiannya. Dari
sejumlah yang dari padanya dapat diambil harga any misalnya kandungan air, abu dan lain yang bersifat
kimi etapi ada pula yang tidak dapat diambil harga nya, melainka dilihat harga minimum dan maksimum,
seperti pada harga Hardgrove India dan Titik leleh abu Beberapa parameter kualitas yang akan sangat me
pemanfaatannya, terutama sebagai bahan bakar adalah a. Kandungan Air Kandungan air ini dapat
dibedakan atas kandung air bebas vree moisture, kandungan air bawaan dan kandungan air total Goral
moisture). Kandungan air ini akan banyak pengaruhnya pada pengangkutan, penanganan, penggerusan
maupun pada pembakarannya. h. Kandungan Abu Selain kualitas yang akan mempengaruhi
penanganannya, baik sebagai fly ash maupun bottom ash tetapi juga komposisinya yang akan
mempengaruhi pemanfaatannya dan juga titik leleh yang dap menimbulkan fouling pada pipa-pipa.
Dalam hal ini kandungan Na dalam abu akan sangat mempengaruhi titik leleh abu. Abu ini dapat di
hasilkan dari pengotor bawaan (inherent impurities) maupun pengotor sebagai hasil penambangannya.
Komposisi seyogyan diketahui dengan baik untuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan Zat
Kandungan mak sanga erat kai annya dengan kelas terbang kelasnya. Pada pembakaran batubara, maka
kandungan ut terbang akan lebih mempercepat pembakaran pa balikny terbang yang rendah
mempersukar penn- ba Nisbah kandungan carbon tertambat kandungan mat bang disebut Fuel Ratio 4.
Fuel Ratio Berbagai Jenis Bauba Tabe Barbara Jenise Coke Antras Antrasit (low volatile) dium volatile)
Ligni d. Nilai Kalor (Fuel Ratio) Harga nilai kalor mempakan penjumlahan dari harga harga pana
pembakaran dari unsur-unsur pembentuk batubara ai kalor yang dapat dilaporkan adalah targa Gros
Calorific value dan biasanya dengan dasar Air dried, sedang n yang benar-benar dimanfaa sensible yang
dipengaruhi oleh kandungan total dun air dan abu. e. Hardgrove Grindability Inder (HGD Harga
Hardgrove Grinda

menggunakan diperoleh dengan rumus Grindabilny 3,6 6,93 W HGI rumus W adalah berat dalam gram
dari batubara lembut berukuran 200 mesh. Makin tinggi harga HGl, lunak batubara penggerusan PLTU
disiapkan untuk menggunakan kapasitas terhadap suatu jenis baubara dengan harga tertentu. Silat
caking dan coking Kedua sifat tersebut ditunjukkan oleh Nilai Muai Bebas (Free swelling Inder) dan harga
dilatasi, yang terutama memberik gambaran sira fisik pelunakan batubara pada manasanny pengujian
Harga-harga yang ditunjukkan oleh hasil analisis dan tatacara tersebut diperoleh dari sejumlah sampel
dengan menggunakan tertentu dan terkendali. Sedangkan pada kenyataannya oleh sangat berbeda. Oleh
karenanya perlu dilakukan pemantauan pemakai batubara terbadap hasil pembakaran sebenarnya.
demikian akan diperoleh angka-angka yang dapat dikorelasi terhada hasil analisis dan pengujian dari
sampel batubara. BAB 8 PENGAMANAN DALAM PENANGANAN BATUBARA Batubara adalah bahan bakar
padau yang mengandung abu-oleh sebab itu pemanfaatan batubara akan melibatkan biaya yang tinggi
untuk alat yang diperlukan bagi penanganan (Coal handling) dan pembakaran batubara. Kesemuanya
ters berujuan untuk meng pengamanan. eliminir abu dan debu. Penanganan batubara memerlukan lain:
karena ada beberapa masalah dalam penanganan bat antara batubara dapat terbakar sendiri batubara
dapat menimbulkan ledakan kalau ada angi batubara menyebabkan pencemaran, kencang debunya
beterbangan kemana-mana 1, TERBAKAR SENDIRI Batubara dapat terbakar sendiri setelah mengalami
proses yang bertahap menyerap dari Tahap pertama: mula-mula akart batubara akan secara dan
kemudian temperatur batubara naik. naik kecepatan akan Tahap kedua sebagai akibat temperahrr
kemndian Thah temperatur

Temperatur pelunakan Delatasi Maksimum Kontraksi Maksimum Plastometri Max. Dial Division/Min
Temp. Initial Fluidity AAallos Abu Temp. Max. Fluidity Temp, Final Fluidi Fluidity Temp. Range Tick leleh
Abu l) Keterangan. Diperlukan datanya untuk PLTU Diperlukan datanya untuk bahan bakar Diperlukan
datanya untuk industri Kokas Metalurgi Pemanfaatkan suatu jenis batubara tertentu perlu diketahui
suatu set data kualitas batubara yang diperlukan untuk suatu keperluan tertentu. Data ini dapat
diperoleh dari hasil suatu analisis pengujian Dari sekian banyak parameter kualitas batubara, biasanya
hanya bebe- napa saja yang sangat bermakna dalam melanjutkan suatu kemanfaatan tertentu. Tetapi
dengan mempunyai data lengkap parameter kualitas batubara dari suatu cadangan tertentu, akan lebih
terlihat seluruh kemungkinan kemanfaatan batubara tersebut yang dapat membantu industri pemakai.

adap suatu jenis batubara dengan harga menggunakan rumu su penggerusan W batubarat kapasitas
tersebut, berukuran 6,93 batubara makin lunak 3,6 menggunakan dari dengan harga dalam lodiperoleh
HGI HGI, untuk gram disiapkan adalah berat Makin tinggi biasanya fat caking dan coking Kedua silat
tersebut ditunjukkan oleh Nilai Muai Bebas (Free ling Inder) dan harga dilatasi, yang terutama
memberikan Harga-harga yang batubara pada dan pengujian ditunjukkan oleh hasil analisis diperoleh
dari sejumlah sampel dengan menggunakan mu dan terkendali. Sedangkan pada kenyataannya
pemanfaatannya r berbeda. Oleh karenanya perlu dilakukan oleh kai batubara terhadap hasil
pembakaran sebenarnya, ian akan diperoleh angka-angka yang dapat dikorelasi terhadap nalisis dan
pengujian dari sampel batubara. BAB 8 PENGAMANAN DALAM PENANGANAN BATUBARA Batubara
adalah bahan bakar padat yang mengandung abn. olc sebab itu pemanfaatan batubara akan untuk alat
yang diperlukan bagi penanganan (Coa untuk men embakaran batubara. Kesemuanya tersebut berujuan
eliminir abu dan debu. Penanganan batubara memer karena ada beberapa masalah dalam penanganan
batubara antara lain batubara dapat terbakar sendiri batubara dapat mcnimbulkan ledakan kalau ada
angin batubara menyebabkan pencemaran, debunya beterbangan kemana-mana. 1, TERBAKAR SENDIRI
Batubara dapat terbakar sendiri setelah mengalami pro bertahap batubara akan menyerap Oks Tahap
mula-mula temperatur batut ura secara perlahan-lahan dan kemudian naik kem Tahap kedua: udara
bertambah dan temperatur menyerap oksigen dari

86 100 140° C temperatur 140° C ahap ketiga: setelah mencapai mencapai akan terhentuk Tahap
keempat: sampai temperatur 230 C isolasi co, ak Tahap kelima: bila temperatur telah berada di atas c in
berlanjut berarti batubara telah mencapai titik sulutnya dan akan cepat 2. SEBAB-SEBAB TERBAKAR
SENDIRI Batubara merupakan bahan bakar organik, dan apabila b gungan langsung dengan udara dalam
an temperatur tinggi (misalnya musim kemarau yang berkepanjangan) akan terbakar sendin. Keadaan ini
akan dipercepat oleh: reaksi eksothermal (uap dan oksigen di udara), Hal ini yang palin sering terjadi.
aksi katalitis dari benda-benda anorganik. Sedangkan kemungkinan terjadinya terbakar sendiri terutama
antara lain karbonisasi yang rendah (ow carbonization) kadar belerangnya tinggi 2 Ambang batas kadar
belerang sebaiknya 1,2 saja. PENANGGULANGAN BATUBARA YANG TERBA- KAR SENDIRI Bilamana
batubara ditimbun di tempat penimbunan yang tertutup door storage) maka harus dibuat peraturan
agar gudang penimbunan sebut bersih dari endapan-endapan debu batubara, terutama yang emukan di
permukaan alat-alat. Dengan demikian maka perlu ada awatan yang terus menerus dan konstan. Apabila
tempat penim an ini terbuka (outdaor storage) maka sebaiknya dipilihkan tempat dan tidak lembab. Hal
ini me untuk rata kotoran (impurities) berzal terbang diper unggi,peru ang koto rinkler). siramanhayakan.
Paling lama baulbara yang terwal a sebaiknya INGGI ONGGOKAN Tingginya onggokan tumpukan
batubara memang sebab masing-masing lempat peuimbunan memi ndiri antara lain iklim, penyinaran
diri-se sen PENGECEKAN DINI TERHADAP GEJAL a. Pengecekan temperatur Untuk mengetahui
temperatur maksimum dari dapat ditentukan 1-2 m di bawah pemnukaan dan tuna lubang pengecekan
Onggokan batubara termometer alkohol

batubara batubara agi sed ang kegunays agar luhang tidak tertimbun lubang sama dengan tem perforasi
agar tempera di dalam okan dalam angg b. Batubara dapat menimbulkan ledakan Ledakan debu
batubara disebabkan oleh: ukuran partikel debu: 20 mesh 0,833 mmb terdapat hubungan antara zat
terbang dan derajad peledakan Volatile Apabila volatile ratio 0, 2 maka kemu teriadinya dalam ledakan
debu batubara selalu ada. Bila komponen abu batubara 70-80 maka tidak perlu takut bahaya ledakan,
Kon untuk meledak akan terjadi bila partikel-partikel alus cukup mengambangnya (floating time). Juga
adanya gas pembakar dal udara dapat membantu terjadinya peledakan. c. Cara penanggulangan ledakan
Gunakan gas inert igas N2) Gas ini cukup mahal harganya, se itu juga cepat menguap, sehingga selalu
harus diperiksa valve pressurenya. Tempatkan tabung gas N2 ini di dalam tempat penyimpanan batubara
gerus (pulverized coal bin). Juga dibagian filter (BAF) Dilakukan pembersihan secara periodik untuk
menghindari pem bentukan endapan debu batubara. Menghilangkan kemungkinan sumber tercapainya
titik sulut batubara (ignition point di dalam instalasi. Perhatikan, dicari dan temukan sumber kebakaran
sedini mungkin. Dalam hal timbunan batubara ditutupi dengan plastik usahakan agar konsentrasi O2
kurang dari 12 pnda timhu terbuka neng. aan dalam tis akan sangat membantu ubara. caranya bunan
batubar kemudian disel pada temperatur tertentu. abila temperatur b temperatur yang distel di coP,
maka prinkler timbunan batubara tersebut. Perawatan debu batubara Lembaran plastik penutup
timbunan ba adalah yang baik, diusahakan tidak menggunakan gan bulldozer untuk mengurangi hadirnya
oksigen di dalam sela-sela batubara. Pada timbunan batubara terbuka kaan timbunan sebaiknya
disemprot dengan cairan yang eraskan permukaan Cairan ini adalah produk dari meng minyak.

LINGKUNGAN HIDUP DAN BATUBARA Batubara merupakan sumberdaya mineral yang penting dalam
kebijaksanaan diversifikasi sumber-sumber Konsumen batubara dalam negeri adalah: PLTU yang
dioperasikan oleh PLN Pabrik-pabrik semen Lain-lain (PJKA. Peleburan Logam, Industri). Selain
penggunaan batubara untuk keperluan dalam negeri eks port batubara meningkau juga. Taiwan,
Malaysia, Banglades dan Jepang adalah konsumen batubara Indonesia yang terhesar. Adapun masalah
lingkungan yang mungkin terjadi sebagai akibat pemanfaatan batubara adalah pada kegiatan: 1. PROSES
PENAMBANGAN a. Preses penambangan bawah tanah Proses penambangan bawah tanah
mengakibatkan terjadinya tiga dampak lingkungan yang potensial yaitu: pembuangan air tambang
uangan limbah padat, yang sering mengandung batubara dan prises penamban permukaan atau terbuka
akan Pada proses penam per masalah lingkun yang adi antara lain: terhadap permukaan tanah gangguan
terhadap air tanah k debu, asap serta adanya pencemaran udara kebisingan. PROSES PENCUCIAN,
NVIAPAN DAN PENYIM. PANAN a. Pencucian batubara berujuan untuk memisahkan batubara dari bahan
yang tidak dapat menyala atau terbakar seperti lempung yang tercampur pada waktu penambangan,
Limbah air pencucian mengandung partikel suspensi dan senyawa kimia. Bila langsung dibuang ke
perairan dapat mengganggu binta b. Penyiapan penyiapan batubara antara lain adalah menghaneurkan
batubara menjadi ukuran yang diinginkan pada waktu pembakaran. Masalah lingkungan yang mungkin
lerjadi yaitu pencemaran udana oleh debu batubara c. Penyimpanan Penyimpanan batubara dapat
dilakukan di tempat penumbangan pelabuhan dan ditempat penggunaan batuhara. adalah bila Masalah
lingkungan yang mungkin terjadi kebakaran secara spontan, debu yang berbahay 3. PROSES
PENGANGKUTAN BATURARA emuat dan membongkar batubara pada waktu pengangkutan

BAB 10 BATUBARA SEBAGAI BATUAN IND Enda saat ini batubara dikenal sebagai bahan bakar antara hur
tuntuk kepentingan pemhangkit listrik tenaga u industri semen industri baja, Hasil penelitian terakhir
menunjukkan bahwa batubara a memegang peranan yang penting di dalam dunia Batu khususnya untuk
keperluan eksplorasi gas dan minyak bumi. suatu berasul dari sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi di
dalam cekunga dan kemudian mengalami suatu proses pembatubaraan (coalification yang disebabkan
faktor tekanan, geologi. Batubara dapat terbentuk horupa lapisan dengan ketebalan beberapa milimeter
sampai dengan ratusan meter atau dapat pula berupa bahan urganik yang tersebar pada suatu baluan
sedimen (disp organic matter). Secara umum di dalam balubara terdapat tiga unsur hahan organik yang
dikenal sebagai han maceral yaitu mace vitrinite, ekinite dan inentinite. Penelitian batubara di bawah
mikroskop memperlihat beberapa gambaran yang menunjukkan bahwa batubara berperun ak dalam
pembentukan hidrokarbon, Hal ini termasuk juga didapatkannya urat urat (veins) dari unsur-unsur
bitume di dalam ukkan adanya bahan yang batubara dan maceral maceral yang menunj sama dengan
unsur bitumen tadi, di dalam pengamatan mitru dengan menggunakan sinar fluoresence MACERAL pi
dalam batubara terdapat unsur-usaar otwa terbagi atas tiga macerul vitrinite, eksiniu dan kayu trat
benisal dari sel dinding sereu dari suatu tumbuhan. Sedang Eksinite berasal dari unsur unsur yang
mengandun liiin atau rasin Knatu tumbutan, seperti halaye Ranggangi dan getuni Maceral a lidar bahan
yan s dengan bohun pembentuk muceral bora tetapi ama telah mengalami proses oksid akan bahan
tersebut BATUAN INDUK HIDROKARBON Baruan induk hidrokarbon adalah suan batuan yung
mengandung unsur-unsur atau sisa-sisa jasad reni binatang laul atau aur tawar tumbuh tumbuhan. Pada
mulanya balanan yang diendapkan di ini kenyataan telah membukukan bahwa baruan yang mengandung
unsur umbuhan aunu binatan air yang berasal dari daal dapat menghasilkan minyak bumi dalam lamiah
yang besar Penemuua tengan beberapa balnya penemisan miny idi. lapisan-lapitan batubara teperi delta
Nigeria (Afrika), cekungan Gipnnland, Cauptt dan Eromanga Aus alia), eekungan Mahakam dan Strnausta
selatan di todonesia, Pada umumnya minyak bumi yang bermaal dan sisa tumbstswa oleh kandungan
lilin yang cukup besar, Hal ini telah diteliti Hedberg G968 dan Powel Me Kindy S915) di mann uelah
diyakinkan bahwa kandungan lilin torsebun berusal dari unsur-unsur organikl tumbuhan yang
mempunyai andongan muaccrul (1983), Beberapa peneliti antara lain Smith & Cook a980, smyth macer
Tissut & Welte (1984) dan Cook (1987. berpendapat bahwa dari group liptinite erupakan unsur yang
penting dalam pembetukan m hidrokurbon dan minyak bumi. Menuruu Smyth ctal (1964) dan Cook etal
(1985) maceral moceraldan group virrinite dan inertiniat meme
ekungan sumatera Selatan rentang wntara 0, og2 batubara yang terkena peagal di mana kainite pada
batubara Fotuvei Muara Britto Maceral ektinite untuk 20 dibin than emai potens hidrokarhon, iakkan
sinar yang tua Ibara dari Talang Akar Lahat mara warna kuning terang makerul ekrinite bambora, 3 ,
DERA JAD KEMATANGAN BAHAN ORCANIk bal Pembentukan batubara dan minyak bumi selain oleh
maceral yang kandung di dal batuan am Lahat terlihat minyak bumi minyak drop ma hangga unsur-
unsum dipengarul oleh dari bahan organik materatitu kend Kematangan ini adalah suatu perwu udun
dari rajad nembuatu macerat wang telah dicapai oleh pembatub minyak hanyak dijumpan dalam
batubara Sumatera Selaran Berdasarkan di mikrmkap Selatan menunjukkan potensi yang tinggi batur
sehagai proses pemi dapat menentukan batubara muda bahan lebih dari batubara mibiuminous, antrasit
dan m reflcktan vitrinite dari batubara terscbut kematan yang cukup bara Sumatera Selatan ini menewrai
gas. Analisis batu kasilkan bumi maupun spektrometri dari dapat Stach, 1982) Proses perubahan ini
disebahkan oleh faktor wakta suhu dan tekanan Teichmuller & Teichmuller, 1982 salah 1980, 1985,
metode pengukuran remektan dari vitrinite adalah kromatografi dan gas kromatografi rmass surmur bor
beberapa minyakhumi yang di dapatkan dari yang terakhir dan di Sumatera Selatan, tunjukkanlah min
yak itu satu metode vang umummya diperg unakan saat ini untuk mengikur derajad kematangan dari
bahan organi maceral Mcnuru Heroux etal (979); Masak (982), Smith & Cook (1984) dan Cook (1986)
minyak mbuhan darat. Hal ini dieiri dengan unggah kandungan lilin. rasio antara unsur phytane dan
pristine dan ungginyakonsantrawl biaadinane dan aleandmei unsur pristine dan phwanr bumi akan
tertentuk padal reflektan antara 0,5 sampai y Snowdor & Powel C982) menyal akan menjadi batuan
induk bumi kaya akan muceral ekstrare lumut akan mengilustrasikan minyak dari minyak mentah perang
minyak yang berasal dari unsur tummuhan durat. sedangkan bicadinane adalah unsur yang ada pwta
gelaa patton damar dari hutan tropis. Dari uraian tersebu di bahan hakar dapat pula batuhara selain
dipakai langsung sebagai dan gan, ilal pakai sehagai indikator adanya minyak hami pada retlektan
vitrintie 0,4 Di daerah sub cekungan Aril renektrin Bara) pembentukan niinyak bumi dari batubara tejadi
pada vitrinite 0,45 ( Gordon, 19850. dibuktikan dengan adanya penemuan lapangun minyak baru di
dumin yang berasosiasi dengan lapisan-lapisan batubani. Di dalam eksplprasi minyak bumi, penelitian
halaan induk minyak bum dilaksanakan dengan menggunakan metode organik mengenai derajad
kemalangan suatu banuaru induk, amommyndilakukan dengan metode pengukuran reflektan virrinite, 4.
BATUBARA SUMATERA ERA SELATAN Di Cekungan Sumatera Selatan, terbentuklah batubara dalam
bentuk tiga bentuk batuan Tersier, dari yang benimur tua ke unuda, yaitu Formusi Formasi Talang Akar
dan Formasi Muara Enim. Secara umum batubara gan Sumatera Selatan didominasi oleh mat vitri, dan
kemudian disusul oleh maveral eksinine. Reflektan vitrinite d ari

mempunyai potensi ting minyak bumi bundurkan era dn 'init menelusilkar menghasilkan Hal ini
haruhann Senna tera Selatan, BAR 11 REKAYASA DARI BAHAN BATUBARA Peningkatan peran batuban
sebagai penyedia cmcrgi alternatif s diu Hal ini telah mendarong diakukannya penelitian. dengan hahan
utama batubaru yang semula dalai bentuk padat meayadi bahan cair. Rekayasa tersebut telah
manghasilka Coal Uil M COMI, Coal War r CEi), dan Teknologi Pencairan 1. COAL OIL MIXTURE fcoM) Pada
saul krisis minyak yeriadia pata ahli berusaha mettrmukan bahan bakar yang dupat mengganti Bunker C
Oil ataa Fuel No.6. Penemuan tidak hanya didasarkan pada teknologi saya namun harus ekonomis bahwa
buhan bakar penggu ini memang ekonumus lebih murah dari Bunker C. oil. Salah satu penemuan ini
adalah Coal Oil Mixture (coM). Beberapa proses dilakukan selagai berikut: a. Proses Ultrasonic Proses ini
dikembangkan oleh Coal Liquid International of USA dengan prinsip dasar sebagai berikut

Seara dengan ag ukuran 2000 digerus dalam sampai C on 40% dan Dengan komposisi hambara gens 50
Bunker aduk. D kkan dalam tarik dan pe mbakaran stabi tawar 10 SE, dimasul Comb. karena air
mempunyai ch sebab itu dialirkat capability). Adukan ini belum berfu melalui ultrasonic device yan untuk
melepas molekui air dari batubara kemudian diselim oleh Di alam alut butiran butiran saingat sehingga
tidak agresi ada butiran itu. melahn apat proses ultrasonic, COM yang dihasilkan menjadi stabil dan d
disimpan dalam tangki penyimpanan yang dilengkapi dengan automatis (automuutic heating) dengan
temperatur T- 60 sangat stabilisasi yang dilakukan oleh alal ulurasol ini biayanya minimum, kurang dari
5am sen dollar per million BT dapat memecahkan masalah bahan bakar yang menunjukkan stabilitas
status dan stabilitas dinamis. Stabilitas statis adalah kemammm. an campuran itu (COM) untuk tetap
homogen, baik ketika ditransport ataupun ketika dalam penyimpan an sampai diperlukan. Stab dinamis
adalah ketentuan retensi bahan hakar (CoM) ketika men melalui pipa pembakar. b. Proses Umum Pada
proses ini batubara yang sudah digerus, Bunker C. oil, air dan additive (zar penambah) diaduk secara
mekanis di dalam tangki campur (mixine tank) dengan cara agitasi, Adukan yang selesai dan sudah stabil
dialirkan ke tanki penyimpan Addirive ini berupa cairan (suro face active agent mi sita terhadap air, bank,
sedangkan sisi satunya bersifad hydrophone seperti disatu pihak molcksal sabun daupsal membaersakas
Tminyak dari permukaan, tetapi juga dapat bersusa dengan kedua itat ini bekeria bersamaan. Sabun
memang interface antara iaydrophoric Milckal SAA pada molekul minyak dan air, antara minyak dan
batubara. Tanpa SAA interfacenya tidak akan stabil setelah dengan SAA interfacenys menjadi c. Proses
Penggilingan Basah Dalam proses ini batuhara lidak perlu digerus additive active coal, bersama-sama
Banker C oil, air dan ditambah agenar (SAA) digiling dalam ballmiil.coM ywag ke tanki penyimpan coM
boiler dan B/c uil boiler adalah, perbedaan pokok and ara Fuel feeding equipmentnya berbeda Struktur
pembakar (burner) nga berbeda menampung Boiler harus ditambah pemlanan kantang filter untuk
percobaan abu yang dihasilkan oleh batubara di dalam coM Pada lun dengan COM ini masih didapatkan
antara Abu yang terbentuk hasil pembakaran coM

turunnya cepor aus, lulan nra cepat besar, yang be ubang selulu terdapat kerak Di ujung ng Mugs
didalara bumier sulahr mengendali zat yang be pipa ada tujuh dan harus dibe utih diduga si01, Maa
pembakn scrimp han sekali menyubabkan polusi abu hasil dengan tidak ashnya dittmp di bawab CUM
Demonstration Plan di In kantang yang tinggi nilai ka ret ski, bituminous VM) masih dapat ditole lebih kai
45 e Bih vM nytt tinggi. maka ketika teriadi ebaso2 dalam air heart peng Beru Birubara, dialirkan adan
yang naan COM tergantung pada Nilai ekonomis pengg harga coM minyak. Ketika harga minyak US s 25
barrel Us s 10 bawah harga Saad harga minyak antara namun be barrel program pengembangan COM
agak terganggu. 2. COAL WATER FUEL (CWF) Seperti diketahui minyak tanah, 50lar dan bensin dapat
diperoleh dengan pruses i pencairan batubara. Bahan bakar gas dapat diperoleh dengan proses gasifikasi
halubara. Salah satu proses yang sederirana adalah modifikasi batubara menjadi suatu campuran
batuhara ars hero merupakan salah salal pronik minyak bumi a, kahan Baku CWF bahari baku
diporgunakan hatubara yang mempun Sebaga or milan kala air sehinggu kalor CWF young diperoleh kup
tinggi baku hatiurara jenis bitumen dengan nilai kalOT iuEui dana dungan air bawaan are) yung rendah
disarankAn sehingga kendala rendahnya nilai kaler CWF yang diperoleh datat Sehetulnya dapat pula
dipergmakan wuhnitu data kedua jenis tersebul wcmpunyai kandungan air bawawi yang teiap sehingga
CwF yang dihasikan akim mempunyin nilai katuu Yang rendah. Untuk mengatasi hal tersebui harms
alakukan pengeringan. la suhu dan tekanan lingvi bersyaratan bahan bako CwH adalah Kadar abu yang
mtulan Kantungan ial terbang lebih besar dari 20% Angka iiGI hans ting Titik leleh abu hanis tinggi dan
slagging inders yang rendah Kandungan belerangkurang samping tidak mencemari udarn, kadar abu
harus edifikasi tangku pada penihuampurt al untuk TI tengurangi on untuk dungan zat terbang ash) dasar
pembuattin CwFmempergun adah penyalaan. Di dnlam batuhara halus traka diper kan penggi ziling Tinik
elela u angka HGHuans tinggi untuk abu yang mudah abu harus untuk inengeltindakun mengendapan
leleh pada bagian dalam tingk (boiler). Te jadinya fuuling dan slagging dapat umengheulikan operasi,
oleh sebab fouling baliwan alih panas slagging perhu dibersilkan untuk mengemu olen kunditngan alkali
tinggi. Indeks fouling dan slagging dipengaruhi harus dan belerang dalam abus Di samping itu kand
beierang

turunnya cepor aus, lulan nra cepat besar, yang be ubang selulu terdapat kerak Di ujung ng Mugs
didalara bumier sulahr mengendali zat yang be pipa ada tujuh dan harus dibe utih diduga si01, Maa
pembakn scrimp han sekali menyubabkan polusi abu hasil dengan tidak ashnya dittmp di bawab CUM
Demonstration Plan di In kantang yang tinggi nilai ka ret ski, bituminous VM) masih dapat ditole lebih kai
45 e Bih vM nytt tinggi. maka ketika teriadi ebaso2 dalam air heart peng Beru Birubara, dialirkan adan
yang naan COM tergantung pada Nilai ekonomis pengg harga coM minyak. Ketika harga minyak US s 25
barrel Us s 10 bawah harga Saad harga minyak antara namun be barrel program pengembangan COM
agak terganggu. 2. COAL WATER FUEL (CWF) Seperti diketahui minyak tanah, 50lar dan bensin dapat
diperoleh dengan pruses i pencairan batubara. Bahan bakar gas dapat diperoleh dengan proses gasifikasi
halubara. Salah satu proses yang sederirana adalah modifikasi batubara menjadi suatu campuran
batuhara ars hero merupakan salah salal pronik minyak bumi a, kahan Baku CWF bahari baku
diporgunakan hatubara yang mempun Sebaga or milan kala air sehinggu kalor CWF young diperoleh kup
tinggi baku hatiurara jenis bitumen dengan nilai kalOT iuEui dana dungan air bawaan are) yung rendah
disarankAn sehingga kendala rendahnya nilai kaler CWF yang diperoleh datat Sehetulnya dapat pula
dipergmakan wuhnitu data kedua jenis tersebul wcmpunyai kandungan air bawawi yang teiap sehingga
CwF yang dihasikan akim mempunyin nilai katuu Yang rendah. Untuk mengatasi hal tersebui harms
alakukan pengeringan. la suhu dan tekanan lingvi bersyaratan bahan bako CwH adalah Kadar abu yang
mtulan Kantungan ial terbang lebih besar dari 20% Angka iiGI hans ting Titik leleh abu hanis tinggi dan
slagging inders yang rendah Kandungan belerangkurang samping tidak mencemari udarn, kadar abu
harus edifikasi tangku pada penihuampurt al untuk TI tengurangi on untuk dungan zat terbang ash) dasar
pembuattin CwFmempergun adah penyalaan. Di dnlam batuhara halus traka diper kan penggi ziling Tinik
elela u angka HGHuans tinggi untuk abu yang mudah abu harus untuk inengeltindakun mengendapan
leleh pada bagian dalam tingk (boiler). Te jadinya fuuling dan slagging dapat umengheulikan operasi,
oleh sebab fouling baliwan alih panas slagging perhu dibersilkan untuk mengemu olen kunditngan alkali
tinggi. Indeks fouling dan slagging dipengaruhi harus dan belerang dalam abus Di samping itu kand
beierang

nandali untuk mencegah pencemaran lingkur dan ke dalam boier. b. Aditif ditambahkin ke dalam ca
Aditiradalah bahan yang artinya burirah b dan berfungsi menambah waktu yang lama bulan tidak
mengendap dalam Penambahan aditif untuk antara 0,1 butiran b ter. berkisar sampai S gantung macam
inya Dan hasil elitian pulkan bah Na baik berup oroagen permukaan ang dapat terdiri dari surthiran ionik
(anionik atau un dan lain ang fungsinya menub campuran yang bersifat emulsi dan stabil. Karena jenis
surfactant banyak viriasinya, maka diperlukan penelitian mntuk batubara yang sedang dipakai untuk
bahan baku yang cocob syaratan aditii yang baik ialah banus efektif, ikut terbakar dalam pembxtkaran
clan murah e. Pembuatan CWE Teknologi pembuatan CWF temasuk sederhana tenitamu apahila bahan
baku batubara tingei (kurang lebih 7000 kca/kg). Batubara yang mempunyai kada abu s menjadi mm,
digilin dengan ball mill Penggilingan dilakukan dalam kosentrasi padaran tinggi kurang lebih 70
batubara). Hasil gilingan dilakukan pada suatu pemisah ukuran (size clasifier ada ukuran pemisah 75
mikro Ukuran lebih besar 75 mikron diteruskan ke alat pengurangan air (aenatering) apabila diperlukan.
Ukuran partikel terbesar bauuhara tidak terpaku pada 75 mikron saja, dapat juga lebih besar atau halus
tergantung dari jenis batubaranya. Besarnya konsentrasi campuran pada miring) ditentukan pada waktu
optimas skala pengadukan laboratorium sebelumnya. Unluk batubara dengan mutu tinggi, proses cwt
dapat letih srderharta setelah pengkiningum buatan dilakukan pengaulukan di mana pada tahap ini aditif
sung Pada batubara ti ngkatan rendah dengan kandungan air kan tinggi per dilakukan pengeringan hebth
dahutu pada sutru. waa Pengadukan berlangsung hanya dalam waktu beberapa deng putaran tinggi G
6000) dan menghasilkan kestabilan Yang tinggi 2 TEKNOLOGI PENCAIRAN BATUBARA. Pada suatu saat
kebutuhan energi tidak dapat bergantung pada ak dan gas burni karena cadangannya cenderung
menurun, tidak ditemukan cadangan baru, Untuk penggunaan bahan bakar tersebut ditingkatkan
penggunaan batuhara sebagai salah satu sumber energi lintuk meueapai hal tersebut proses melakukan
pencairan batubara. Proses pencairan batubara dipilih hidrog pencairan barubara secara langsung
dengan memilih batubara yang mempunyai kadar abu rendah k 10 Percobaan pada yang berasal dari
Sumarera Selatan Banjarsan dari Kungkidan) dalam suau ataclame yang berkapasitas 250 cc, Prinsip Kerja
60 Batubara 4- 40 gram, katidi t 0,40 gmm CoMo) ditambah gram tar oil fraction, dimasukkan ke dahum
outeciave. Gas hidroget dialirkan ke dalam autoclave dengan tekanan 150 bur, kemudian oyang hingga
dicapai suhu konstan di mana dipanuskan sambi dihasilkan dianalisis mituk meng tekanan gas akan
turun. Gas yang dari larutan hitung konversi tubara menjadi larutan diperhitungkan yang dihasilkan b.
Hasil yang diperolehi versi batubara Banjarsari 98,50 Kungkilan 92.50 ini sebagai berikut (Tabel Gas yang
dihasilkan dari penelitian

62.3 1.35 tabel tersebut di atas macam dan prosentase Dari berbeda dari pencairan ini yang ber volume
gas yang kilan Hasil penelitian dari Banjarsari dan melakukan pencairan batubara dalam sia. harapa
kemung industri, BAB 12 BATU SEBAGAI BAHAN BAKAR LISTRIK TENAGA UAP Mengangkan PLTU Suralaya
yang beroperasi sermenjak rahun ugga sebagai contoh studi kasus PLTU Suralaya ini diraneang bangun
dengan menggunakan bahan bakar batubara Buki tingkah kualitas average dam worst. uapai Sampa
tahun 1988 batubara Bukit Asam masih belum memenuhi kebutuhan yang terus menitigkat dari 156.000
ton pada tahun 1985, 9 ton. 1.500.0 ton pada tahou-tahun berikurnya dan pada tahun tersebut
meneapai 2055 sata tats mestinya akan meningkai lagi, diusahakan sedapat Kualitas batubara pengganti
tersebu telah tersebut. Ha-hal mungkin kualitas batubara Bukit Asata pada perlu diperhitungkan di
dalam batubara adalah (unjuk keria bility reliabiliry Dampak lingkungan dampaknya rhadap tingkat
Kendala dar karakteristik operasi, serta memper meliharaan tersebut di atas semaia-mata dan Tinjauan
terhadap aspek dengan rancang bangunnya timbangkan peralatan terpasang sesuai

alaman tersebar inen dasar dal selanjurnya lim pen 1. PENGENALAN DAUM KUALITAS BATU atubara yang
uda dipasaran uusur kualitasnya su rerdin dari kurartgnya (kgealtka d. Volatile Ash f Siuphun content mm
ity Unsur-unsur lainnya diperlukan sesuai yang bunsitiu data umum maupun usus. Untuk melengkapi
iperlukan unsur kualitas seperti Fired carton Carbu Hydrogen oxigen, Nitrogen, Sulphur dan Asu kudang
diperlukan Ash Fashio Tenwcratiire 2, PENGARITH KUALITAS BATUBARA a. High Heating Value (HHV) HIiv
sangat berpengaruh terhadap pengoperasian aspek Pulverizer Ppa Batubara, wind box burner akin tinggi
HHV maka wan batubara semp varmaya sehingga kecepatan coul re eder barn disesuaikan. Sem detugan
edetenl dan HGM yong sinma, dengan maka m akan beroperasi di bawah was nomuminya uk hatubara
idesain anau dengan kana lain operating rationaya metledi toth Moisture Coment Kandungan mai ure
mempengaruhi umlah pemakaian waara hatubara dengan kattanngun mnivture linggi bunuhkan udara
primer lehin baryak guna an barirearms. sebut pada suhu ke luar min tadap c. valatile Matter Kandungan
volatile matter mempengaruhi kesempumaan peru. bakaran dan intensitas api carbon semakin tinggi
Juel ratio maka carbon yang idak terhakar semakin banyak d. Ash Content melalu Kandungan abu veroavi
bersama gas pembakaran dun abu ruane bakar dan durerah kouveni dalam bentuk abu terbang bentuk
Sekitar 20 dalam h abu dasar dan dalam dasar tinggi kaadungan abu dan tergantung dan ahu Semakin
pengotoran (aulingo nya mempengaruhi tingkat peralatan yang dilalui

Sulphur Corrent terhadap tingkat k an sulphur berpeng terutama Kandung pada elemen pemanas di
sumping bet dingin yang dari titik pengaruh lebih rendah uhu pada peralatan ele meta terhadap pen
Coal size uang halus b Ukuran butir batubara di pada sedan dan kasur. But paling halus u ukuran 3 mm,
uku dengan butir paling kasar sampa tingkat kemudahan diterbangkan an oleh tingkat drastnesr dan
dustress dan sehingga mengotori lingkungan. Tingkat ungan moisture ba masih di rnkam pula oleh
Hardgrove Grinttability index (HGD Kapasitas mill (pulverizer) ang pada HGI tertemu. Untuk Hon lebih
rendah bih rendah dari nilai paroknya aga menghasilkan fineness yang sama. h, Ash Fushion
Temperature Ash fashion temperature akan mempengaruhi tingkan faulin saggine dan operasi soot
blower 3. SPESIFIKASI MENTRUT DESAIN PLTU sURALAYA a. Spesifikasi batubara PLTU Suralaya dirancang
bangun untuk mampu berproduksi kontinyu pada beban 4000 MW dengan mempergunakan bahan
bakar batubara Bukit Asam, averagehtorst, dengan 4 buah mill beroperasi buah baubara dat Suiwa kkan
pada Tabel 16 an acuan Batubara Bukit Asan In. Data Unjuk Kerja Boiler Dara unjuk kerja troller
ditaniukkan padaTabel Tatel T. Kota Builer 1. Miran ngp superheater Tekaman uup superhauner ATI ran
uap renv Tekanan uup Sedang jumlula abu terbang dininjukkan pada Tabel 18 Tahel lumlah Abu Teiteng
Pada Beban Unsur Ahman batubara Jumlah abu Masukan kale Ash toffding

Tahawi 19 Data Kipaa Rai Beroperasi Behan 100MW Dari Tabel terlihat bahwa Pulverizer da yang cukup
besar. Kapasitas untuk HGI 50 630 tonjan, de en 70% fineness 200 mesh. bahwa penggam Dari uraian
tersebut di atas rapat disimpulkan peman pemasok bahan bakar batubara untuk PLTU, dari daerah yang
batubara yang salu dengan batubara than daerah penambangan Ran arus dilakukan spesifikasi
batubaranya terlebih dahulu. Hal in dimaksudkan untuk menghindari kerusakan peralatan BAB 13 PENG
BATURARA DALAM INDUSTRI SEMEN Energi Inerupakan kebut ulama dalam industri, Dalam industri
semen. energi panas kehutulan paling mama, aitu untuk operasi Pembakaran dalam lamur pular 1.
URAIAN TEKNIS TENTANG JENIS BAHAN BAKAR operasi pembakaran pada tanar matar menupakan
uangkah yang naling kritis dalam setiap semen, baik wkris icaran di manur pular maupun secara
ekonomis. Opetaai pen serta memerinkan pemakai kan operasi pada unit unit yang lain 30 dari biaya
energi panas yang nilainya dapat mencapai umumnya ditentikan keseluruhan. Produktifitas dari industri
semen produktifias tanut oleh produktifitas unut tanur puiamya Sedantkan putar umumnya ditentukan
pada run factoruya yang umurnya kan oleh ketahanam lapisan bau tahnn tipinya. tertadap keaahanan
lap Aspek utama, yang paling berpengamb an batu tahan api dan efisiensi operasi pembakaran da tanut
put adalah dalam jenis bahan bakat yang dipakai. Untuk kedua mutu tersebut diperlukan operasi yang
dapat nyala yang stabil dan suhu yang setinggi mungkin.

Pemakaian bahan bakar den jenis batubara u dalam orasi pembakaran dalam t uar lapat mel Pruduk pul
nghasilkan asi pembakaran dengan bahan bak akan memerlukan konsumsi para persatuan yan bakar
jenis lain bih pemakaian bahan bakar minyak atau bakar gas. Hal ini disebabkan adanya pola yakar bahan
operas i pembakaran dari ketiga jenis bahan batubara akan memerlukan gas, cair dan padat. Operasi
pembakaran sedan pemakaian dingin ang jauh lebih besar, atau bakaran makat bahan bakar minyak
besar alam, akan memakai udara pada tinggi yang lebih Di samping itu, operasi pembakaran balubara
juga akan meng hasilkan suhu nyala yang lebih rendah serta stabilitas yang kurang baik memperpendek.
lihanding BBM alan gas alan kedua hal ini akan umum lapisan batu tahan Keadaan yang kurang produktif
pembakaran dengan memakai batubara akan dibanding dengan operasi pembakaran dengan BBM
karena Konsumsi panas per satuan produkt. Umur lapisan baru tahan api, atau dengan kata lain
produktifitas tanmr putar yang berarti produktifitas pabrik semen keseluruhan Secara ekonomis dapat
dinyatakan bahwa operasi dengan mema kai batubara akan kurang ekonomis dibandingkan dengan
memakai BBM atau gas alam, antara lain Naiknya biaya operasi pembaknran Naiknya biaya operasi bam
tahan api Naiknya biaya produksi semen akibat penurunan produksi semen Mengingat jenis dan kualitas
batubara di Indonesia sangat beragam, maka secara umum dapat dikatakan bahwa produktifitas
pemakaian bambara dalam operasi pembakaran pada tanur putar akan menurun sebanyak 10-20
dibandingkan dengan pemakaian BBM atau gas alam. BATUBARA SEB DUSTRI SEMEN fat Batubara rti
diketahu ahwa batubara menupakan suatu eampuran berbeda, mula dan ade yang rasit Sebagai padatn,
batu bara tera alas macerai ire, eksi e than eneri n tchay, kalsit Man lam mineral Dil dari unsur-unsur
pembentuk batubara terdiri alas carbnn, kit sulfut, phospor dan lain lain, sedangkat idasu en, nitrogen
uks oleh karena itu dapat alas aruntatik alipla dalam industri senen, batubara digunakan sebagai bahan
bakar, maka panas pembakauan, hasil hasil pembakaran, dan sisa-sisa pembakar perlu diketahui,
tertuama apabila hal-hal terseb dapat mengganggu kualitas semen yang akan batuhara dapaal dilihau
dengan amalisa sebapai berkur Analisa Prosikmat terdiri dari Lengus (moisture) yang berupalengas habas
mainture, lengas hawaan (inherent moisture) dan lengas totalttotal ntoisaae) Kadar abu (usi) Carbon
(fired curbon) Zat terbang (valatile matneru h. Analisa Ultimat Terdiri alas analisis untuk unsur unsur:
C.H. 0, Njuga s dan phospor serta Cl. c. Nilai Kalor Terdapat dua mac nilai kalor yaulu

Nilai kalor net, yaitu nilai kalor pem di keadaan semua air (H20) herujud gas. Nilai kalo gross kalor pen
diukur dalam keadaan semua air (H20) be dal yaitu bil d. Total sulphur Sulphur atau belerang dapat
berheda dalam baru bara sebaga mineral pirit, markasi Ca sulphat, atau helerang yaug pad
pembakarannya akan berubah menjadi So2. e. Analisa Abu Abu yang terjadi dalam pembakaran bambam
akan memb oksida oksida sebagai berikut SiU2, Al203, TiO2, MngO4, Cao, Mgo Nato. K20. Abu inilah
yang terutama secara padaran bercampu dengan klinker dan mempengaruhi kualitas semen. Namun de
kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya sampai 20 saja. Hard grove Grindability Index
Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukkan mudah sukarnya batubara digerus menjadi bahan
bakar serbik. Makin kecil bilangannya, makin keras keadaan batubaranya. Sesuai dengan sifatnya,
batubara umumnya dibagi atas empat macam, yaitu Antrasit, mengandung sedikit volatile matte
Bitumine, mengandung medium volatile mart Lignit, mengandung banyak volatile matter Apabila kita
membakar batubara dengan fire grate, maka panjang nyala yang dihasilkan, tergantung besarnya
kandungan volatile maiter. nya, Batubara dengan kadar volatile matter yang tinggi, akan meng hasilkan
nyala yang panjang di atas grate fire dan batu bara dengan kadar volatile matter yang rendah, akan
menghasilkan nyala yang oleh karenanya irtirasil to bitumine sebagai long flaming coal, dan Akan ietapi
barubara akan menghasiakan dalam bentuk batubara halus di dalam vanur Lang bila dibakar dalam unor
punar ng segera dam volalle marter mem akan terbakar i dengan yang dengan cep partikel coke yang
sudah akan luas permukaan yang sangat besar sustingga dapat terbakar secara cepat. Hal yang
menyebabkan lani batubara coil di dalamn tanur putar akan terbakar hanya dalam duserala Jarmin
pendek dari unur atau dengan katalain akan mengt dek. Short aming coal mengandung sedikit volal
matters bilw i di dalam tanar putar sebagai batubara halus akan tea lambat, terbakar dalam jarak yang
lebih panjan Dengan demikian, bambara yang disebul Short Flamin dibakar ebagai baub halus dalam
tanur putar, akan menghasilkan ala panjang. erasi pembakaran dalam tanur prtar membeelh Op kan
pembakaran dengan s nyala yang sanga tinggi karens klinkerisasi memerlukan suhu matenal seltilar 49
Disanpog suhu nyala yang lebih tinggi aknn dalam lal efektivitas dan besar Kedua hal ini sangat
berpengaruh anmait pembakaran dalam patar. Walaupun bakar memiliki nilai kalo tinggi,
penggunaannya sebagai bahan ayala dalam tanur putar kurang dis karann antranit manghasilan yang
lebih panjang dengan si yang relatif lebih rendah kaudungan juga lignit, yang di samping mempunyai
disukai. volatile matter yang tinggi dan berheating volue madala, tak Butumine karena akan
menghasilkan subu nyala yang lebih rendah. adalah jenis batubara lebih disukai pemakaiann bakar dalam
tanur putar karena mempunyai yang yang cukup, tetapi nilai kalorinya pun menghasilkan subu nyala
Oleh karena itu bitumine dapat sebagai lebih tinggi. Akan tetapi bituinine yang dari clay dan besar
(akibat adanya ties yang biasaaya nya), atau berkandungan air yang tinggi juga tidak

al tersehr n me, suhu nyala mengakibatkan rendah menurunkan Hal ini akan ang ebir bakaran dalam
puta. eletrivitas dan efisiensi operas dibarapkan bi coal y sebenarnya secara teorinis akar menghasilkan
suhu nyal e material dari combust dibandingkan dengan mar ural yang pendek dan h tinggi sehin pada
praktiknya kandungan bempa as atau trdak tinggi dam operasi exces air yang lebih primary air rendah
yang lebih besar. memperbes Hal ini akan menurunkan su nyala di samping tinue rategas bakar yang
mengakibatkan lebih akan menurunkan as dalam tanur pular dari prehraner dan panas melalui inanser
rate, yang berarti akan memperbesar terbuangnya 3. PENYIAPAN DAN SISTEM PENGUM PAN KE DALAM
KILN. Di antara semuu bahan bakar batu-bara merupakan bahan bakar yang memerlukan invest awal
yang sangat tinggi baik untuk grinding maupun pengumpanan. Flow Sheet dari instalasi batubara hampir
sama di semua tingkat, agaimana terlihat pada gambar di halaman 119 a. Penyimpanan (Stock Piling)
Sesudah dibongkar di suatu pabrik, batubara disimpan di suatu gudang pen Perhatian utama yang harus
diberikan pada tahap ini adalah mengurangi resiko self ignition dan kehilangan (l material selama
penyimpanan. Karena salah satu karakter bahan bakar padar adalah tidak homogen, maka sebelum
digiling perlu dilakukan pre homogeniaation, yang antara lain dengan cara pengaturan tumpukan dan
penampian dari gudang penyimpanan. Aturan FIFO perlu d sanakan di sini untuk mencegah oksidasi
batubara yang berlebihan. Unloading stock Piling L Pre Homogenization Primary cnishing Conveyor belt
Intermediary Silo Flor Air Grinding & Drying classifying crushing Circuit waa Clote Primary Cnuhing dapat
dilakukan secara Open b, Primary Circuit. Kehalasan produk dari primary

gan dan Pengeringan Grinaire Diving (Penggi Untuk Intubara yang mempunyai r air di bawah 20
veringannya dilakukan pada Untuk batuhara alat aimva lehih dari diberlakan dalam dua tipe, yaitu mill an
sebi Writical Mill Nikan secara Yang dipper" Circuit, atau Close Circui proses pengeringan di sin adalah
gering kan raw maksimal sampai pada inherent mansturenya. Di dalam mill ini yang harus menjadi
perhatian utama adal mengurangi risiko peledakkan, lancar rimpan batubara yang tidak Kendaklancaran
pengumpaman nyebabkan material kasar (kering kembali dari separator, akan langsung kontak dengan
uda Perubahan kadar air batubara yang turlalu besar Kadar air produk terlalu rendah, jauh di bawah
inherent peledakan tersebut diperbesar oleh kandunga valatile matter yang inggi batubara. Pengendalian
operasi Con mil! didasarkan pada desain kebalusan batubara yang telah diperhimngkat esuai kebutuhan
pembakaran dalam tanur putar d. Penangkapan Debu Penangkapan dehu batubara umumnya dilakukan
dengan filter atau efeatrastati presipirator. Untuk mengurangi kehilangan materia alat penangkap debu
ini harus dijaga agar beroperasi secara optimal. debu y halus cenderung Yang harus diperhatikan di sini
iala menyebabkan Icaksi peledakan. Campuran batubaraudara akan sive dalam daerah konsentrasi
tertentu. Bcberapa ahli menyebut 40-150 g/Nml3 sebagai daerah kritis untuk terjadinya bahwa in
ledakaum tersebu yang biasa anya tenad saat alart up utau atop em Peng Batubara H siste ke Dalam
Tanur Putar sistem pengumpanan batubara babus ke anaunur putar dapat dibedakan sebagai lirect sysie
adirect system Sysrem, semua balubara yang dihasilkan dig rinding angsung dinmpankan ke dalam t
pular bersama udara. eringnya. Pada semi system batubara dari mull unvuk disimpan dalam inte ilo
sebebum ke entrediae anur pular. Untuk sistum ini ada dua maewm versi yang tergast Jalan rya kadar air
rendah, udara pengering dari mill sebagian diinjekskan ketamur putar sebagai udara rimer. dan sebagian
disirkulasikan ke m Bila kadar air tinggi, ebagian gas dini mill dikeluarkan melalui alau penangkap deba di
Pada direct system, semua baubara dari mill disimpan in intermediate silo sebelum diumpankan, dall gas
dan mill tidak diumpam kan ke pu sebagai udara primer kecuali baa dinnnnkan. PEMAKAIAN BATUBARA
PADA TANUR 4 OPERASI PUTAR Dalam pemakaian baubara tenaga bahun bakar dalam speras tanur pular,
terdapat beberapa hal yang spesifik periu diperhalikan a, Pemakaian Udara Primer Udara primer
berperan antara lain sebagai dalam tamu puut. arana transportasi untuk injeksi batubara ke

BAB 14 BRIKET BATUBARA Teknologi pernbuatan briket batubara dari batubara bubuk yan bulkan
kesulitan pada waktu pengangkutan terny sudah al yang mendorong banyak dilakukan dan industri kecil
di antara lain briket masyarakat yang sangat besar. pedesaam, Potensi batubara Indonesia tinggal di
Penduduk Indonesia sebagian besar investa Dapat dilaksanakan dengan teknologi sederhana, dengan
ssedikit. pecah dan bernilai kalori tinggi Batubara Indonesia mudah dipakai sukar ditranspo batubara
hubuk yang tidak lebih menjadi bermanfaat cadangan terbatas (10 juta ton) Adanya endapan batubara
dengan sekitarn yang dapal dimanfaatkan secara skala kecil untuk daerah minyak dan Kebijaksanaan
pemerintah untuk mengurangi pemakaian kavu bakar. I. TEKNIK PEMBRIKETAN BATUBARA a. Sifat briket
yang baik: Tidak berasap dan tidak berbau pada saat pembakaran. Mempunyai kekuatan tertentu set
Avdu diangkat dan dipindah-pindah. Mempunyai suhu pembakaran yang tetap 4,35m cy dalam ungka
waktu yang cukup panjang jam) nyai kekuatan enentu w setelah pembakaran masih memp mudah untuk
dikeluarkan dari dalam tungku masak. dak mengandung gas karbon monoksida asil pembak aral Gas
yang tinggi b, Jenis briket enis briket yaitu Dikenal 2 Tipe Yontan (silinder) untuk keperluan rumah
tangga, sustu lipe ini lebih dikenal dan populer. disebut dengan Yontan. mama lokal, berbentuk silinder
dengan garis engah 150 mm, 22 unggi 142 mm, berat 3.5 kg dan mempunyai lubang labang sebanyak
bang. keperluan ndustri dan rumah tangga Tipe ini Tipe Egg (telor untuk juga dipergunakan untuk bahan
bakar industri kecil sepeni untuk pembakaran kapur, bata, get gerabah, pandai besi dan sebagai mya,
tetapi juga untuk keperluan numah tangga. Jenis ini mempumyai lebar 32-39 mm, panjang 46-58 mmt
dan tebal 20-24 mm c. Teknik pembuatan embualan briket Yontan cukup sederhana Batubara bubuk (5
mm) diberi air (10 diuekan deugan mesin 1ekan ngsa dipamieh briket. pembriketan pada tekanan 120
Kgle mesin Untuk tipe lelor perlu ditambah molases 750) dan diroll pada briket tine rol d. Parameter
dalam pembuatan briket Beberapa parameter dalam pembualan brikeu antara lain sebagai ukuran
butiran batubara.

Tokunun mes lll llll Radar air yang batubaru tekan 6 kg/cm2 lerkandung dalam kuat Beberapa enga n,
briker dengan diangkut dan cukup kuat dan tidak mudah pecah pada saat dibawa, diangk e. Karakteristik
pembakaran tergantung Sifat pembakaran adalah sangat penting dama dan batubaranya. pembakaran
riket ini terbakar suhu pembakaran tergantung pula dari udara yang air supply) dan kalori Ma besar
udara yang ikut nilai pembakaran briket dan makin tinggi terbakar makin pendek lama briket makin lama
waktu pembakaran kalori ra yang dibuat (dengan membuka kompor Makin besar udara yang diberikan
briket pun diperoleh pendek waktu pembakaran suhu maks yang lebih tinggi 2. PEMBUATAN BRIKET
DARI BATUBARA Contoh batubara digerus sampai ukuran 5 mm. selanjutnya ditambah lempung (20
sebagai bahan pengikat dan air 10 Analisa batubara contoh sebagai berikut: Tabel 20. Analisa kimia
batubara contoh Korea Sifat 39.50 8.19 53,70 50,24 Fired Carbon 4570 Nilai Kalori 0,47 3.70 Belerang)
3.20 foisture 39.66 Subhitamine Korea a. Kuat Tekan Dart hasil penekanan dengan mesin pembriketam
yang sama diperoleh data sebagai berikur Kuat Tekin (Kgl Bahan pengikat tempung 30 Hasil yang
diperoleh memberikan data ba wa kual lekan berikum adalah cukup baik 6 kglem2y b. Karakteristik
pembakaran Dari hasil pembakaran diperoleh data sebagai herikut Berasap cukup banyak dan berbau
tajam sedikit lebih tittgridampada britet Korea Suhu pembakaran tertinggi 650 C-700 cobriken Korea 600
lebih Lama waktu pembakaran pada suhu 330 C lernyata iauh pendek t 2,5 jam, sedang briket Korea 8
jam. dara lebih kecil diharapkan Dengan mengatur pipa bukaan waktu mbakaran dapat lebih panjang. pel
le Catatan Penambahan dapat menyerap bau tar dan mempertinggi kualius briket walaupun d nilai kalor
yang menyandung as inggi Sebaiknya dipergunakan batubara c. Meniadakan Asap dan bau dari
Percobaan untuk mengurangitmemiadakan asap dan bau

ini dapar ditempuh dengan melakukan karbonisasi terhachup pende riket batubura telah dihukukan
batuba Hanya masalah dan temyal baik. lebih pada dari briker batubara ini masih relatif aktu
pembakaran yaitu t 4 jam Yunan itriAct time Briker tipe Egg Gambar 32, Briket ripe rantan bentuk
silinder) dan lipe Egg bentuk seperti Telor) BAB 15 GAMBUT bundaran gambut dataran rendah (low land
praty di Indonesia elah dikenal sangat luas sebarannya sesuai dengan bentangan dataran rendah pantai,
tetapi sampai saat ini terkiraan Calangan masih terlalu kasar. Shell (1983) memperkirakan bahwa
endapan gambut y berketebalan lenih dari 1 meter yang dapat dimanfaatkan sebagnibahan energi
mencakup dataran lebih dari juta hektar tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya ini timbul
gagasan haru u Sejak tahun terakhir ini dinarkui oleh laporan membangun daerah terpencil. Hal bahwa
dalam jangka Euroco sult, yang antara lain menyatakan panjang dan tersedianya konsumen. industri pen
Indonesih sebagai bahan pembangkit listrik untuk daerah terpencil di bakar akan dapat berkompetisi
dengan pembangkit listrik bahan minyak. 1. KOMPOSISI GAMBUT Gambut adalah sisa tiimhunan tambul
yang telah mai dam kemudian diuraikan oleh bakueri anaerobik dan aerobik Di komponen yang lebih
stabil Selain zat organik yang membentuk gambut terdapat juga za anorganik dalam jimlah yang

ut ini selalu d keadaan jenuh mnya Numa k ga gkungan penge Zat ebih dari engan k pem an sesu denga
ngka mbuhan dalam erdiri da osa, l'embusukanny org organik tidak stabil dan resin), pad proses
pembusuka salnya pada padla gkal pet sukan din 2) see 15-20% tetapi ampir tidak ditemukan ngkat pe
busukan pada tingkat mbusukan di Sebaliknya humus pada cellulosa telah mengalam edangkan pada
gambut yang lebih tinggi besar terdiri dari karbon unsur pembe gumbut sebagian (C) drogen Al, dan
oksigen (O). bentuk terdapat juga unsur lain Si, S, dan lain-lain dalam kadar Tingkat pembusukan pada
gambut akan menaikkan karbon (C) dan menurunkan oksigen (O gambut Berdasarkan lingkungan
tumbuh dan pengendapannya Indonesia dapat dibagi menjadi 2 jenis hanya berasal dari ai Gambur
ombrogenus yang kandungan airnya hujan. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan di
mana tumbuhan pembentuk yang semasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga kadar abunya
adalah asli (inherent) dan umbuhan itu sendiri berasal dari a b. Gambut topogenus yang kandungan irnya
tumbuhan yang permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa semasa hidupnya tumbuh dari
pengaruh air permukaan tanah sehingga kadar abunya dipengaruhi oleh elemen yang terbawa oleh air
permukaan tersebut. lahan pertanian Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk gambut
dibanding dengan daerah gambut ombrogenus karena jenis topogenus mengandung relatif lebih banyak
nutrisi. Kedua sukar gambut tersebut pada hakikatnya secara megaskopis agak didefinisikan secara pasti
karena kompleksnya tahapan pembusukan menentukan mutu dan kegunaannya yang Komposisi gambut
dipengarul erapa faktor seperti kandongan zat organik.shu. kayu dan lam Fisher idalam Supraptohardjo
Dieesen, 196m) membuat klusifikasi gambut lebih paria kepentingan yaitu membagi berdasarkan tautiah
sebagai beriku eutropik (subury mesotropik (sedang) oligotropik Emiski Selanjutnya dikemukakan pula
bahwa tanah gambu Indonesia beragam dari subur sampai miskin. Kasifikasi yang lebih ukhir THen
kankan pada tingkatkemaangannya atau tingkat dekomposisinya. (Supraptohardjo & Drieesen, 1916)
yaitu: saprik terombak lebih dari 66 hemik terombak 33-66 fibrik (terombak kurang dari Ada pula
klasifikasi gambut dengan tidak melihat dekompo- sisinya tetapi berdasarkan bahan induk yang
membentuknya Backman dkk. 1969, dalam Endang Suarka. 19dB) yaitu: ambat endapan, merupakan
campuran leli air, herba empang plangton dan lain-lain. muittpuu, gambut berserat terdiri aas berbagai
macam sphagnum dan lain-l gambut kayuan terdiri atas pobopan dan konifera. digolongkan pula Selain
pembagian tersebut di atas Bambu sebagai gambut topogen yaitu gambut cutro atau gambut ombrogen
yaitu gambut oligetmpik. 2. GAMBUT SEBAGAI BAHA BAKAR pemanfantan gambul untuk Beberapa
alasan yang men bahan bakar di Indonesia antara lain ng cukup besar pada ambut tersedia dalam jumlah
cadangan

Kalimantan Tengah, Kaliman selaton, serawak dan bagian Gambut pada daerah tersebut sebagiati adalah
yang cukup gambutnya dapat dipergunakan untuk Tanah yang telah diambil ambut embrogenous dan
pemrosesan gambut untuk bahan bakar m tidak tenaga kerja. langsung maupun Selain dapat yang baik
terhadap angsung mempunyai dampak b, Cara Pembuatan ambut selama ini diketahui menjadi masalah
pada emban an lahan di Indonesia Tanah gambut tidak dapat ditanami secara optimal untuk lahar
penanman karena tanah tersebut derajad keasaman tinggi. Dengan dapat gambut dapat gambut untuk
bahan bakar maka areal bebas deposil untuk lahan pertanian untuk bahan bakar adalah Masalah p
emanfaatan gambut Kadar wir daput kandungan air yang tinggi yaitu sekitar 90%. tersebun dikurangi
cara pengeringan. Gambut dapat dipros digunakan dalam (Milled peat) Sod-pear) giling peat gambut
potong (Hand Cut gambut briket (Briquete pear) gampot polet Pellet peat). dipergunakan untuk bahan
bakar Produk gambut dapat tersebut rumah tangga ataupun dapat diproses dan diproduksi dalam untuk
bahan bakar a. Daerah Penyebaran Gambut Ha alau Jumlah areal gambut di dunia diperkirakan 420 juta
mungkin lebih dari 500 juta Har Endapan terdapat dunia yang memenuhi syarat-syarat yang
memungkinkan pembentukan terdapat daerah Sebagian besar daerah beriklim dingin dan mempunyai
sifat Endang tinggi dan evaporasi yang rendah 1982 dalam 1988 Suarka, 1988) Drieesen (1976 dalam
Endang Suarka, & menyebutkan bahwa dacrah hutan lebat dengan curah hujan tinggi dan pengaruh
tanah kurang akan membentuk gambut sedan gambut topogen bentukannya dipengaruhi uir tanah.
Indonesia diperkirakan mempunyai cadangan gambut seluas 17 Ha. Jumlah tersebut menjadikan
Indonesia sebagai negara yang mempunyai cadangan gambut keempat di dunia setelah Kanada Ha, Rusia
150 Juta Ha, Amerika Serikat 40 Juta Ha berbagai macam bentuk sepenu. Gambut Giling (Milled Peat)
tambut kirakira 10-15 Gambut ini diambil dari lapisan sa diambil permukaan. Kandungan air gambut
giling pada sampai kira-kira 77 Seelah dikeringkan di tetapat kandungan airnya 40 gambut ini diambil dan
dikumpul Soepraptohardjo & Drieesen (1976 dalam Endang suarra 1988) areal gambut di Indonesia
mencapai 16 juta Ha lebih b. untuk digunakan. (Hand-Cut dengan ukuran 10 x 20 Gambut Potong Manual
kubus Jenis gambut ini berbentuk dengan pel 9,7 juta Ha pantai timur Sumatera 6.3 juta Ha. 20 x cm
kabik. Kandungan air gambut ini kita-kira 25 Kalimantan 1.3 juta Ha Andrieese Lain-lain. hampir sama
dengan perkiraan timur Perkiraan tersebut daerah biogeografi bagian Has (1974) yang menyebutkan
bahwa menutupi 18 juta Melayu gambut pada dataran rendah yang Barat terutama terdapat di pantai
timur Sumatera, Kalimantan e. Gambut Potong Mesin (Sod Peal) Gambut ini diambil dari kedalaman

p dengan diameter 80 100 mm dikeringkan 4-6 semakin tinggi kandungan air dalam gambun, sernakin
minggu hingga kandungan air tin a nilai kalor gamhut tersebut d. Kandungan abu semakin tinggi
kandnngan abu pada gambuu semakin tendah d. Gambut (Briquete Peat) berbentuk briket dengan uku
jenis Gambut dipres sehingga ran briket ini a nilai kalor gambut tersehut e. Komposisi kimia Secara
tenritis nilai kalor gainbut dapat diperoleh dengan Bahan 40 55 sere-lali menjadi brike air iling ersamaan
Mott & Sponner (dalam Berggren etal, 1980, dikutip kandungan air ini dapat menjadi 10-15 oleh Endang
Suarka, 1988) sebagai berikut: e. Gambut Pelet (Pellet Peat) berbentuk silinder dengan ukuran 45 x
Gambut ini biasanya ini biasanya 40 x 30 mm. Bahan baku untuk antara 10 Kandungan air gambut ini
beragam 420 ll 336 C di mana: q mladi kalor bahan kering dalam Klikg yo berat Carbon H berat Hidrogen
c. Nilai Kalar Gambu kalor bahan Nilai kalor gambut bila dibandingkan dengan nilai l bakar lainnya dapat
dilihat pada ini. nilai kalo rata-rata gambut potong masinal peal) yang Goberat Oksigen. berat Sulhur Kg
Kalor jenis 12,5 MJ atau 300 kilo kalori, adalah setara dengan 0,45 kg batubar bitumine atau 0.54 kg sub
dari Sumatera. Bila Tabel 21. Nilai Katar Gambut, Barubara un gambut potong tersebut dibandingkan
dengan biomas, maka 1 kg gambut tersebut setara dengan 0,93 biomas. Tinggi n kalor gambut
tergantung pada beberapa faktor seperti: an matangt hand cui pe a. Tingkat dekomposisi. derajad
kematangan gambut dapat Tingkat dekomposisi atall lebih unempengaruhi nilai kalor gambut Gambut
saprik dibandingkan dari 66 mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi gambu dengan jenis gambut memik
terombak 33 36%), maupun masinal (cod pean ng untiled pea Briker (briqurte peal) Batubara 20.00
sumural Suh biramme (Sumaman fibrik (terombak kurang dari 33 Sub bitumine (Kalitti b. Bahan asal
pembentuk terbentuk dari jenis lumut sphagnum Gambut yang dibandingkan gambut yang mempunyai
nilai yang lebih rendah (woody terbentuk dari bahan-bahan sejenis rumput kayu Brikei Biomas sedges)

yra lain sistema petakaran bibit kurang kumpak dengar medianya, rsebut di atas nilai kalor yang oleh
gnmbr Dari dengan nilai kalor dan jauh ebih keuil d kurang lebih setara nilai kalor baluhara, rsatuan bibit
relatif titiggi, banyak terjadi kenusakam/kematiati berat pci pengangkutan hibit ke lanan pertaman ada
saat 3. GAMBUT SEBAGAI MEDIA SE MAI pertania dan Gambut Indonesia ada jenis industri, jenis medi
yang mampu menjadi but tertentu jenis kehutanan Selain itu gami untuk tahun 1983, coba pemanfaatan
lahan gambut coba telah dilakukan edia tumbuh tanaman hutan dipers dengan pertumbub dengan hasil
sebagai berikut menumbuhkan bibit media gambut mampu persatuan bibit ringan. kecil kemampuan
mengikat air mudah dicampur dengan beberapa nutrisi tanaman, gambut dan ikatan yang tinggi antara
akar unsur hara/ nutrisi. teduh mudah dikemas dan diangkut. ruang terbuka yang setelah bibit tumbuh
baik dipindahkan ke Gambar 33. Atasia magmam dengan mempeigunakan media semai (Roeslan, 1986)
oleh tenda dipindah ke tempat terbuka dengan si setelah umur 2 bulan dapat saatnya ditanam di
lapangan matahari tidak langsung sampai pertanian, setiap hari disiram dua kali. Untuk daerah yang
tandus dengan top soil tipis dimungkinkan gambut yang sudah diolah dimanfaatkan sebagai media
tanam dengan komposisi Di dalam percobaan ini semai yang diperoleh dari Banjarmasin 70% Batman
lubang telah disediakan. pada gambut Finlandia yang usaha mengurangi ketergantungan media semai
perlu yang dipergunakan sebagai salah satu campuran but Finlandia. sekam Indonesia y ditambah pupuk
pula ditambah alang-alang selain sekam dapat dicarikan penggantinya. soil (tanah lapisan atas)
Dibanding dengan peranan media top lahan yang sampai sekarang masih digunakan sebagai media
semai, so gambut lebih baik sebagai media semai. Kelemahan media top

Persyaratan gambut yang dipakai sebagai media semai lalah memiliki sifat perbandingan antara kapasitas
air: kapasitas udara kemampuan 50 50 Ini berarti gambutnya mempunyai menyera dan menahan air
serta poro mampu memasukan udara ke dalam media. Jenis bibit yang telah berhasil Pinus Doarpa Pius
Carpea Acuzsia mangiam Eucalyptus alba. b. Cara Membuat Media Semai tanaman tersebut Tahapan di
dalam membuat Semai tuk jeni uni di atas adalah dicampur dengan sekam (20 dan media gambut lokal
(7o pengaduk gambut Finlandia (10%) diaduk dalam alat diisi bibit dan campuran tersebut diisikan pada
pot, selanjutnya diletakkan di ruang hijau (green house) yang teduli setelah bibit tumbuh baik
dipindahkan ke mang terbuka oleh tenda dipindah ke tempau terbuka dengan sinar setelah umur 2 bulan
dapat ditanam di lapangan matahari tidak langsung sampai saatnya pertanian, setiap bari disiram dua
kali. dimungkinkan Untuk daerah yang tandus dengan top soil tipis tanam gambut yang sudah diolah
dimanfaatkan sebagai media lubang yang telah disediakan. ketergantungan pada gambut Finlandia Dalan
usaha mengurangi media semai perlu yang dipergunakan sebagai salah satu campuran dicarikan
penggantinya. BAB 16. EKSTRAKSI ASAM HUMAT DARI GAMBUT UNTUK INDUSTRI Gambut merupakan
campuran heterogen endapan vegetasi yang terakumulasi dalam lingkungan air jenuh. Pembennik utama
gambut di Indonesia adalah vegetasi hutan tropis dan pada umumnya variasi warna kuning sampai at
kehitarnan, tergantung dan proses pelapukan, jenis tanaman serta kandungan sedimennya. Lahan
tersebar luas di Indonesia terutama daerah-daerah pantai Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan, daerah
Riau, Inan laya. Sumatera Utara dan Lampung. sumber daya alam, gammut dapat dimanfaatkan untuk
berbagai peruntukan laiu sebagai lahan penanian dan antara baku i vanaman maupun sebagai sumber
energi dan bahan dan gas Melalui proses pirolisa, gamhut dapat menghasilkan kokas.uar yang
selanjutnya melalui proses lanjitin dapi kimila dan lain metalurgi karbon aktif, bahan pelarut
menghasilkam sebagainya. Melalui proses gasifikasi, gambul dapat gas selanjutnya dapat synthetic gas
dan water gas yang proses hidro hidrogen, methan, methanol dan amoniak. Pada yaitu suatu pr gambut
dapat menghasilkan synthetic crude oil, i dasar untuk bahan bakar. Selama itu, melalu proses antara
dapat menghasilkan asam humar yang dapat sebagai pengatur viskositas ada lumpur pe

pencampur pada proses pengerasan semen dan pada industri plastik. Unsur pembentuk gambut adalah
unsur organik yang terdiri d karbon, oksigen dan serta sedikit organik tersebut yang terdiri dari silika,
kalium dan yang terdiri dari asam mbentuk rantai mol yang besar merupakan asam fulpat, humin.
karbohidrat, lilin, protein, lignin serta banyak la senyawa nik lainnya. humat dan asam fulpar salah
senyawa pembentuk gambut yang paling banyak dan merupakan satu indikasi dari berbagai jenis dan
tipe gambut berbeda. ai sifat kelarutan yang senyawa pembentuk gambut mempuny Polimer, berwarna
Asam humat adalah senyawa koloid, coklat tua, larut dalam larutan Natrium hidroksida dan tidak la
mengendap di dalam larutan organik. Berdasarkan sifat kelarutan ersebut asam humat dapat dipisahkan
dari senyawa lainnya, Asam humat direaksikan atau diekstraksi dengan larutan Natrium hidroksida. Hasil
ekstraksi dimumikan atau dikeringkan hingga diperoleh padatan yang kering berwarna hitam mengkilat.
Menurut Wu (1984) natrium humat dapat dipakai sebagai katude plane ekstender, portland semen,
drilling mud additive, dispersan untuk menambah dan kekompakan produk industri porselin serta bahan
industri asam organik. 1. PRINSIP KERJA Pada percobaan ekstraksi yang dilakukan proses pelak
sanaannya berlangsung secara bertahap yakni ekstraksi asam humar pemisahan dan pemumian natrium
h Untuk mengetahui jumlah serta sebaran asam humat dari setiap fraksi terhadap contoh gambut yang
diambil telah dilakukan analisa a Contoh dicampur secara acak pada suatu lahan gambut di ditetapkan
diaduk sampai homogen, kemudian ditimbang dan contoh dijemur selama 5 hari sampai didapat sortth
dengan kekeringan yang merata (kadar air antara 10 13%), Analisa dilakukan terhadap gamahu kering
tersebut dengan saringan kawat Tucimpunyai ukuran bukaan 12, 2, D dan mm. Fraksi yang diperc dari
analisa ayak ditimbang mengetahui perbandingan berat dari masin Kandungan asam humat dari tiap
fraksi kan larutan Kalium Ekstraksi manganat. Dari hasil analisa ayak serta penentuan kandungan asam
terhadap masing- masing fraksi dis mpulkan bahwa percobaan ekstraksi asam humat paling ideal
dilakukan pada eontoh yambut berukuran butir kurang dari mm Tabeu 22. Analisa Ayak Dari
Kandampuan Asanu Humut Praksi (mm) 2. EKSTRAKSI ASAM HUMAT dilakukan terhadap gambut kering
akuran 2 mm. basil analisa ayak di Hal ini berdasarkan pengamatan Pemilihan ini dilakukan banyak baku
yang mana gambut ukuran ini jumlahnya yang 10 Bahan (milled dan kandungan asam lebih dari serbuk 2
mm. dipakai pada percobaan ini diperoleh dari 10 kg Rambut bukaan dan peat, dengan ayakan yang
mempunyai ukuran diaduk dibiarkan semalam, Hasil pengayakan kemudian kadar airnya percobaan
enkan, ditimbang tertutup. Untuk bahan dihomogl kantong plastik disimpan dalam

diambil sembilan contoh masing-masing dengan berat yang berbeda dengan tiap-tiap contoh Auatu
muunal (ISE) 16,1 48.8 73. 10.0 Masing-masing campuran dimasukkan ke dalam gelas piala ukuran
diaduk dengan baik kemudian ditambah dengan air sampai volume 500 ml. dididihkan di atas pelat
pemanas selama 10 Sambil diaduk perl lahan. Caunpuran larutan hasil dan dibilas ke dalam gelas ukur 1
pemanasan jumlah valume lammutan 1 liter, Selang dua liter ditambahkan air sampai dibiarkan
semalam. Setelal am lantan diaduk dan selanjutnya larutan larutan dibiarkan satu malam, ambil dengan
pipet lautan tepat di tengah gelas ukur sebanyak 10 ml, kemudian hasil ekstraksi ditentukan secara
oksidimetri dengan Kalium permanganat. Perubahan keasaman menggunakan kertas memberikan basil
setiap filtrasi tidak dapat Pemisahan dengan cara saja cairan yang yang memuaskan karena hanya
sebagian kecil bawahnya sedangkan sisanya tertahan oleh endapan di yang yang makin lama makin
padat. Penyaringan dan pemerasan disertai dengan rekanan telah dilakukan terhadap ampas atau
endapan sisa ekstraksi pada kotak besi berukuran 8 x 8 x 10 cm yang pada bagian dasarmya dipasang
saringan berlubang. gambut kering Larutan ekstraksi diperoleh 50 100 gram volume ukuran 2 mm yang
diekstraksi dengan NaoH sampai total sehingga diperolch humpur gambit s dan vetelah yangva. waktu 2,
4. 6 dan 18 jam Kadar padatan yang tidak want dilunati cara memipet bagian tengah gelas sebanyak
kemudian disaring dengan kemaR whauman nu. 40 (yang beratnyatela diketahui) dan sampan bersih
saring ke dikeringkan di Fndipaan kertas sisa di alas kenas pada 110"C selama 2 jam setelah pengeringan
enaapan alam oven menit, selanjutusya diimbnang diduginkan di dalam desikator setuma 5 dengan
penimbangan tetap, Hasil pengamostan percobaan sampai berat hasil dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 24, wakru Pergentapen dan Persen Eksrraks Gvmbul Wilkie reugendapam 1.50 Larutan Natrium
humat yang telah didiamkan lebih dari 16 run dipisahkan dari gambut dengan cara mengalirkan larutan
yang herada di atas endapan melalui sebuah selang plastik ke dalam suatu Dari i liter larutan dengan
suspensi gambut s dapat dipisahkan sebanyak 850 ml sisa endapan gambut dengan kadar ais 90,75
Sedangkan dari liter larutan dengan Buspensi gambut 10% dapat dipisahkan 700 ml larutan natrium
bumat dengan kadar air 925 dan 300 ml sisa endapan dengan kadar air dari endapan Larutam natrium
hutnat yang t dipisahkan dan kemudian disebar di atas loyang aluminium yang pada suhe l m kemudian
dimasukkan ke dalan oven, dipanasi 18 jam dan sampai kering. Setelah diarapkan lebih dari hitam
diperoleh padatan natrium humaa kering, berwarna

Larutan natrium humat dapat pula diendapkan kembali dengan larutan asam encer Endapan dipe berupa
agar yang berwarna hitam, bilu dikeringkan akan berupa padatan yang kusam. -3. PEMANFAATAN
NATRIUM HUMAT telah dilakukan uji Natrium humal hasil ekstraksi gambut laboratorium sebagai
berikut: semen. sebagai pengeras (retarder) adukan bor. sebagai pengencer (thinner) lumpur a. Pengeras
Adukan Semen dicampurkan dengan Natriun Untuk percobaan ini natriun humat 80-90 oC. Larutan sulfat
dengan perbandingan l 1 pada suhu antara dicampurkan pada Sulfinated dengan jumlah tertentu dengan
semen adukan semen. Dari hasil percobaan terlihat bahwa adukan Na-humat 0.10 gr pada 50 gr
campuran menunjukkan peningkatan kuat semen, tetapi dengan misalnya 1 pada 50 gr semen, justru
akan menurunkan kembali kuat semen tersebut. b. Pengencer Lumpur Bor pada umumnya Kegiatan
pemboran minyak dan gas bumi tertentu, perdu menggunakan lumpur bentonit dengan lumpur bor
mengatasi kesulitan dalam pemboran maka kekentalan menggunakan disesuaikan, apakah atau dengan
telah tertentu. Na-humat hasil ekstraksi gambut dimanfaatkan sebagai campuran pengencer. Dari hasil
percobaan menunjukkan bahwa Na-humat dapat menetralkan kembali viskositas lumpur bentonit yang
telah dikentalkan, dari gambut adalah Adapun bagan alir Ekstraksi Na-humat sebagai berikut: Gambut
kering Air 5%- 10% Direaksikan dengan NaOH 15%, ditambah air dan dididiAkAn Suspensi Gamhut 5%
10% Didiamkun diendapkan selama 18 jam Na-humat cair Dikeringkan Na-humat kristal
DAFTAR PUSTAKA Achmad Priyono, 1988. Peranan Batubara Menjelang Tinggal Landas WEC, Jakarta, 23-
70 Ambyo,S., 1988. Kualitas Batubara Indonesia Arti Pada Peman faatannya, WEC, Jakarta, 403-418
batubara untuk Pem Ambyo,S., 1993, Masa Depan Pemanfaatan bangkitan Tenaga Listrik di Indonesia.
Industri semen, WEC Anonim, 1988. Penggunaan Batubara Dalam Jakarta, 271-306 Indonesia, Buku
Tahunan, Departemen Anonim, 1992. Pertambangan Pertambangan dan Energi. Jakarta. 1993.
Pembuatan Basyuni, S., Sumaryono dan Suganal, Tangga. Berita Briket Batubara Tak Berasap Untuk
Rumah PPIM. PPTM, Bandung, No. 54, th, 17, 3-4. Berira Daulay,B., 1967. Pengenalan Petrologi Batubara,
Hardyono dan Syarifuddin, 1991. Batubara dan Gambut di Indonesia, Dept. Pertambangan dan Energi,
Jakarta. Harijono,D., 1993. Teknologi Pemanfaatan Batubara di Indonesia: Status, Peluang dan Tantangan.
Seminar Nasional Batubara Indonesia, Yogyakarta. 22 hal Batubara, Hilman H., 1988. Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan WEC, Jakarta, 419-426. Indonesia, Berita Indratno, B., 1994. Pengembangan
Gambut di 6-7 Batubara dan Gambut, no.2, th 10, arbon, Berita Batuhara dan Gambut, iakarsa Doileth
dan Adler,R., Coal, The John Day cornpany, New York Johannar dan Roeslan.K., 1988. Potensi dan
Prospek Pertanisataas Gambut untuk Energi WEC,Jakarta, A61-473. Komaruddin As., 1992. Polen
Kebatuhan Pemakaian CWF din Berita PPTM, Bandung, no th, 16,7 7-10 1993, Coal Water Fuel (CWE)
sebagai Bahan Bakar Pengganti Minyak Bakar, Berita Batubara dan Gambu, iakaru. no.2, th 10, 13-15 Gas
Bumi Pent. 1993. Masa Depan Penyediaan bangkit Tenaga Listrik di Indonesia WEC Jakarta, 137-15s
Nayoan Neng Sudja, 1988. Peranan Batubara dan Gas Alam Bagi Pem- bangkit Tenaga Listrik di Indonesia,
WEC, Jakarta, 35-401. Ningrum, N.S., dan Siganal 1992, Teknologi Pencairan batubara. Berita PPTM.
Bandung, 48, th Briket dari Batubara Niode.N., 1988. Pembuatan dan Pemanfaatan Kalimantan, WEC,
Jakarta, 65ky 674. Batubara dan Roeslan,K., 1986. Gambut Sebagai Media Semai. Berita Jakarta, na.3, th
1, 1-3.. dan Gambut. 1986. Coal Oil Mixture, Berita Batwbara Gambu Bandung, no.3, th 1, 9-11 1986.
Pengamanan Dalam Penanganan Banibara. Berita Batubara dan Gambut, Bandung, uo.3, thal, 11-12.
Rosidi, 1988. Kokas Dalam Industri Pengecoran WEC, iakurta, no.723-730. Tambang Indonesia, PT. Bina
Sanusi 1984. Mengenal Hasi Aksara, Jakarta. sudjono,S., 1969 Mineral and Mining to Indonesie, The
Ministry of Mine, Djakata. Gadjuh Mada Univ. Press, Skinner, B.J., 1984. Sumber Daya Bumi Soedjoko,
TS.dan Abdurrochman, 1993. Kecenderungan d

Batubara dalam bentuk dala cangga. untuk lenggantik keperluan rumah poterisial di daerah erg yani
stangan digunakan tnerupakan yang mas bariyak kayu bak ar ke br bakar mem maupun ekologi air lun
akan menelapat bantuan Van batubara saleh ma dalam bentuk Lri PERKIRAAN CADANGAN BATUHARA DI
IND ka dari mutunya batubara dik an kelas antra bitumine, suhbitum Perhitungan cadangan di bawah in
termasuk cadangan teruk tenuntuk (tenu dikasi, tereka dan hipotesis Tabel 6). S. SEIARAH
PERTAMHANGAN BATUBARA NESIA onambangan batubara di Indonesia dimulai pada tahun 1849 di
garan, Kalimantan Timur N. V. Oost kiran Paca 188 Penisaliaan Swasta mei Menjelang Perang Dunia kira
10 km sebelah tenggara Samarinda. beberapa perusahaan kecil yang bekeria di Kalimantan Timur. Di
Sumatera kegiatan pertama untuk melakukan penamb batubara secara besar-besaran dimulai tahun
1880 di lapangan Sungai Durian di Sumatera Ba Usaha ini gagal karena k pengangkutan. Setelah
penyelidikan seksama pada tahun 186 yaitm setelah lapangan batubara pada tah 1868 dibukalah pada
tahun 1892 Tambang Batubara Ombilin. Di Sumat selatan, penyelidikan antara tahun 1915-1918
menghasilkan pembukaan lambang Batubara Bukit Asam pada tahun 1919. Tambang Ba ombilin dan
Bukit Asam segera menjadi dua penghasil batubara rerpenting di Indonesia, Puda tahust 19totiga
Tanobang Barabara anasth ickerja yaitu Tambang Batubara Quisiliti di Sumatera Barul Bukit As an di
Sumatera Selatan dari Mahakam di Kalimantan Timur disatukan dalam P-N. Batubara yang didirikan
berdasarkan aras peraturan No. 23 tahun 1968. Keliga tumbang ini dikenal ula sebagai Uuit I. Unit dan
Unim UIL rubel, a. Cadangan hambara indonesia uta ton a Sumaven a Tengah 143 024 7 30s Sumatera
Sclanul 17,016 Rengkalu cistan Kalimanual Battel 436 310 6646 sumber Direktorat Barubara vide Ambyo
(1993) baubara omhilin Batubara Indonesia umumnya berumur Tersier dan Mahakam berumur Tersier
Bawah, sedang hatubara Bukit Asam berumur Tersier Atas Di daerah ombilin lapisan batubara sudah
mengalami perlipatan lemah dan membentuk sebuah sinklin yang menunjam ke arah enggara,

pada saat kestuli di Kalimantan Barat 1.20 di Kalimantan Tengara dan susanyadi di dann ari penyebarwn
endapan binuobata versebut. barn hattihata, asal Sulawes ung Enim Sumatera Sela ombilin Sumatera
Baran, vang telam semua lupusan Li Bukta Mann berumur Java daera baruan jos oleh uusi dalfun elas
apakah batuan bank yang Kalinvantan Selatan dan Kalimantan perusahaan Kontrak an J utan atau
sesudah saat ini pada tahan tro4) dari ingkat. Tidak an terhadap k T itu seum deng be ini akan bersifat
bahwa adamy di daeral ersebut. Mahakn dikenal babw ham bara yang Batu Loa Kulu, s Di dael Tuayan
Loa. Pa tersebut da saat duksi beroperasi di Kalimaman, penawalaan telah Sama KKS) yang. elah masih
dalam 1ahap dalam duksi, 2 penasahaan perusahaan berproe melakukan stidi dan tersebut pada sedang
daeran un 1994 telah mencapai sekitar 14 juta ton avau GI dari total duksi bara na Di daeral telah
dibangun. batut ipangan tan ya ditutup pada tah karena bang tersebu besar dimanf dihindarkan
Tambang Batubara amb sebagian data atan kereta Api, tur karena perlu dan muau buubara yaug aukon
besar abuhan memudahkan ekspor batubata dan pemasokan sehingga hal ini asal Kaimanian Setan
batubara ke industri dala negeri, Batubara diharapkan tingkat sehingga Padang pada saat i di unia
pasaran Tenaga Listrik imenyongsong ndarung tian tambahan kontraktor Th Pabrik dilakukan bahan
bakar yang melanda du Bara elah dan Timur mempunyai kualitas Linggi Tinggi nintaan akan batubaru ini
akan cukup Kegiatan pertambangan hamubara di Indonesia saat int Asam nunukkan peningkatan yang
pesat. Batubara Bukit satu-satunya BUMN dibidang hatubara telah tumbuh menja uta ton pertanian
Petrosea dari Australia Timur Tengah dalam bulan ok disebabkan antara lain oleh kembali pada bang
perusahaan berskala besar produksi sebagian besar Dem Kontrak Kerja Sama (KKsy yang menunjukkan
produksi Penanaman Modal Asing (PMA telah ebih besar dari keberhasilan produksinya sampai ungkat
dua kali akan pada PT, Bukit Asam. Produksi batubara Indonesia diperkirakan ningkat dimasa mendatang,
pada tahun 2003/2n0A diharapkan 1973, mel dari perusahaan tahun 19 hi ercermin batubara Indonesia
mulai dari rkembangkan Sumatera dan Kalimantan b ekarang di duerah untuk hi kebutuhan Hal ini
dilakukan dalam usaha memenul bakar a maupun untuk eksport sebagai bahan negeri iku mencapai
84,50 ton. di dalam megen Sebagai dituj bagi pembangkit tenaga listrik dan pabrik semen. solar
pemakaian minyak tanah, usaha antisipasi mulai tahun 1993 telah diambil maka bara dalam cadangan
batubara yang cuko disamping minv mempunyai jumlah memiliki besar. Sebagai sumberdaya energi,
batubara ini kebutul Indonesia untuk memenu sebagian besar strategis dan potensi batubara di
Indonesia diperkirakan sebesar 36 milyar tou Sumberdaya Sumatera (4,70% di Kalimantan dan tersebar
di Selatan) di Sumatera Tengah dan 51,73 di Sumatra dan (999 di Kalimantan 14,62 di Kalimantan Timur
dan kayu di dalam ne namah tangga memasyarakatkan briket batubara untuk dan industri kecil.
dieksport terutama di kawasan Batubara Indonesia telah mulai mencapai juta Asia. Eksport batubara di
tahun 19 1986 1992 tahun 19901 1991 mencapai 8 juta ton dan pada tahun 199ll

BAB 2 CARA TERBENTUKNYA BATUBARA Batubara terbentuk dengan cara yang sangat komplek dan
memerlukan waktu yang lama (puluhan sampai ratusan juta tahun) di bawah pengaruh fisika, kimia
ataupun keadaan geologi. Untuk memahami bagaimana batubara terbentuk dari tumbuh-tumbuhan
perlu diketahui di mana batubara terbentuk dan faktor-faktor yang akan mempengaruhinya, serta bentuk
lapisan batubara. 1. TEMPAT TERBENTUKNYA BATUBARA Untuk menjelaskan tempat terbentuknya
batubara dikenal 2 macam teori a. Teori Insitu Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk
lapisan batubar terbentuknya ditempat di mana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan demikian
maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh
lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk kualitasnya.

seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara Muara Eni (Sumatera Selatan). b. Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisar batubara terjadinya ditempat yang
berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Dengan demikian tumbuhan yang
telah mati diangkut oleh media air dan berakumulasi disuatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan
mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran
tidak luas, tetap dyumpai dibeberapa tempat, kualitas kurang baik karena banyak mengandung material
pengotor yang terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat
sedimentasi. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan dilapangan batubara delta
Mahakam purba, Kalimantan Timur 2. FAKTOR YANG BERPENGARUH dalam Cara terbentuknya batubara
merupakan proses yang kompleks arti harus dipelajari dari berbagai sudut yang berbeda. Terdapat
serangkaian faktor yang diperlukan dalam pembentukan batubara yaitu: a. posisi geotektonik b.
topografi (morfologi) c. iklim d. penurunan umur geologi e. f. tumbuh-tumbuhan g. dekomposisi h.
sejarah sesudah pengendapan i. struktur cekungan batubara j. metamorfosis organik.

Posisi Geotektonik Posisi geotektonik adalah suatu tempat yang keberadaannya ipengaruhi oleh gaya
gaya tektonik lempeng. Dalam pembentukan an. batubara, posisi geotektonik merupakan faktor yang
Posisi ini akan mempengaruhi iklim lokal dan morfologi pen kungan batubara maupun kecepatan
penurunannya. Pada fase terakhir, posisi geotektonik proses meta arfosa organik dan struktur dari
lapangan batubara melalui masa arah setelah pengendapan akhir. b. Topografi (Morfologi) Morfologi dari
cekungan pada saat pembentukan gambut sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di
mana batubara but terbent Topografi mungkin mempunyai efek yang terbatas terhadap iklim dan
keadaannya bergantung pada posisi geotektonik. Iklim Kelembaban memegang peranan penting dalam
pembentukan batubara dan merupakan faktor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi yang sesuai.
Iklim tergantung pada posisi geografi dan lebih luas lagi dipengaruhi oleh posisi geotektonik. Temperatur
yang lembab pada iklim tropis dan sub tropis pada umumnya sesuai untuk pertumbuhan flora
dibandingkan wilayah yang lebih dingin. Hasil pengkajian menyatakan bahwa hutan rawa tropis
mempunyai siklus pertumbuhan setiap 7 9 tahun dengan ketinggian pohon sekitar 30 m. Sedangkan
pada iklim yang lebih dingin ketinggian pohon hanya mencapai 5 6 m dalam selang waktu yang sama. d.
Penurunan oleh gaya-gaya Penurunan cekungan batubara dipengaruhi seimbang akan

tersebut dan Hal yang tersebut pertumbuhan flora material dan mineral menyebabkan adanya infiltrasi
terbentuk mempen mutu dari batubara yang e. Umur Geologi evolusi kehidupan Proses geologi Dalam
masa perkemban batubara dan tukan geologi secara berbagai macam tumbuhan. pengendapan makin
dalam tidak langsung membahas rah umur metamorfosa organi Makin tua penimbunan yang terjadi,
sehingga terbentuk batubara yang bermutu inggi. pada batubara yang mempunyai umur geologi lebih
tua selalu ada resiko mengalami deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau patahan
pada lapisan batubara. Di samping itu faktor erosi akan merusak semua bagian dari endapan batubara.
Tumbuhan Flora merupakan unsur utama pembentuk batubara. Pertumbuhan flora terakumulasi pada
suatu lingkungan dan zona fisiografi engan iklim dan topografi tertentu, ora merupakan faktor penentu
terbentuknya berbagai tipe batubara. Evolusi dari kehidupan mencip akan kondisi yang berbeda selama
masa sejarah geologi. Mulai dari c hingga Devon, flora belum tumbuh dengan baik. Setelah Devon
pertamakali terbentuk lapisan batubara di daerah lagon yang dangkal. Periode ini merupakan titik awal
dari pertumbuhan flora secara besar-besaran dalam waktu singkat pada setiap kontinen. Hutan uh
dengan subur selama masa Karbon. Pada masa Tersier merupakan perkembangan yang sangat luas dari
berbagai jenis tanaman Dekomposisi omposisi flora yang merupakan bagian dari transforma iokimia dari
organik merupakan titik awal untuk seluruh alterasi

m pertumbuhan sisa tumbuhan akan mengalami bahan, baik secara fisik maupun kimiawi. Setelah nses
degradasi biokimia berperan. Proses pembusukan (decay) an teriadi oleh kerja mikrobiologi (bakteri
anaerob). Bakteri ini erja dalam suasana tanpa gen menghancurkan bagian yang ak dari tumbuhan
seperti celulosa, protoplasma dan pati. Dari proses di atas perubahan dari kayu menjadi lignit dan
batubara men. Dalam suasana kekurangan oksigen terjadi proses biokimia yang berakibat keluarnya air
(H20) dan sebagian unsur karbon akan hilang dalam bentuk karbon dioksida (Co2), karbon monoksida
(CO) dan metan (CH4). Akibat pelepasan unsur atau enyawa tersebut jumlah relatif unsur karbon akan
bertambah. Kecepatan pembentukan gambut bergantung pada kecepatan erkembangan tumbuhan dan
proses pembusukan. Bila tumbuhan tertutup oleh air dengan cepat, maka akan terhindar oleh proses
pembusukan, tetapi terjadi proses desintegrasi atau penguraian oleh mikrobiologi. Bila tumbuhan yang
telah terlalu lama berada di udara terbuka, maka kecepatan pembentukan gambut akan sehingga hanya
bagian keras saja tertinggal yang menyulitkan peng uraian oleh mikrobiologi. h. Sejarah Sesudah
Pengendapan Sejarah cekungan batubara secara luas bergantung pada posi geotektonik yang
mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan batubara. Secara singkat terjadi proses geokimia
dan metamorfosa. organik setelah pengendapan gambut. Di samping itu sejarah geologi endapan
batubara bertanggung jawab terhadap terbentuknya struktur cekungan batubara, berupa perlipatan,
persesaran, intrusi magmatik dan sebagainya Struktur Cekungan Batubara nungan batubara pada
umumnya

tertentu. Di samping itu a t lapisan batubara dengan lapisan batubara erosi yang intensif menyebabkan
bentuk cekunf lapisa menerus untu terkt j. Metamorfosa organik batubara adalah peni kedua dalam
pembentukan tingkat ini proses degradasi atau penguburan sedimen baru. didominasi oleh prose
berperan tetapi lebih perubahan gambu Proses ini menyebabkan terjadinya ini terjad batubara dalam
berbagai mutu. Selama proses tum nya zat (seperti CO2, co pengurangan air lembab, prosentase karbon
padat, serta bertambahnya batubara diakibatkan belerang dan kandungan abu. Perubahan mutu oleh la
ini faktor tekanan waktu. Tekanan dapat disebabkan Hal sedimen penutup yang sangat tebal atau karena
tektonik. proses menyebabkan bertambahnya tekanan dan percepatan dapat organik akan metamorfosa
organik. dengan perubahan sifat mengubah gambut menjadi batubara sesuai kimia, fisik dan optiknya 3.
TERBENTUKNYA LAPISAN BATUBARA TEBAL Lapisan batubara tebal merupakan deposit batubara yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi. Salah satu syarat yang dapat mbentuk lapisan batu tebal adalah
apabila terdapat suatu kungan yang oleh karena adanya beban pengendapan bahan-bahan pembentuk
batubara di atasnya mengakibatkan dasar cekungan tersebut turun secara perlahan-lahan. Cekungan ini
umumnya terdapat di daerah rawa-rawa (hutan bakau) di tepi pantai. Dasar cekungan yang turun secara
perlahan-lahan ngan pembentukan batubara memungkinkan permukaan air laut akan dan kondisi rawa
stabil. Apabila karena proses geologi dasar

kibatnya di atas pembentuk batubara akan terendapkan lapisan sedimen laut antara lain batugamping.
Pada tahap selanjutnya teriadi kembali yang memungkinkan ntuk kembali terbentuk kondisi rawa. Proses
selanjutnya akan rkumpul bahan-bahan pembentuk umbuhan di atas lapisan batulempung (claystone).
Demikian seterus- va hin terbentuk lapisan batubara dengan diselingi oleh lapisan ntara yang berupa
batugamping dan batulempung. Tidak jarang dijumpai lapisan batubara sering terbentuk lapisan antara
yang berupa natulempung yang disebut sebagai clay band atau clay parting Gambar i, memperlihatkan
kronologis Pembentukan Batubara, Batugamping dan Batu lempung Gambar 2, adalah kedudukan clay
band terhadap lapisan batubara 4. REAKSI PEMBENTUKAN BATUBARA Batubara terbentuk dari sisa
tumbuhan mati dengan komposisi utama dari cellulosa. Proses pembentukan batubara atau coalification
yang dibantu oleh faktor fisika, kimia alam akan mengubah cellulosa menjadi lignit, subbitumine,
bitumine dan antrasit. Reaksi pembentukan batubara dapat digambarkan sebagai berikut C20H2204 CH4
8H2O 6CO2 CO 5 (CoH1005) ligniti cellulosa metan 5 (C6H10O5)- C20H2204 3 8H20 6CO2 co cellulosa
bitumine gas metan Keterangan merupakan zat pembentuk batubara. cellulosa (zat organik) yang
bitumine. ljupil lebih sedikit dibanding
semakin banyak unsur C lignit semakin baik mutunya bitumine. pada Unser dalam lignit lebih banyak
baik m nya. Semakin banyak unsur H nin makin kurang dibanding senyawa CHa igas metan) dalam lignit
lebih sedikit dalam hiturmini mit semakin baik kualitasnya Sermakin banyak CHt akan mas Gas-gas yang
terbentuk selama proses at herbahaya. Gas ke dalam celah-celah wein batulempung dan ini sang erlehih-
lebih metan yang sudah terakumulasi di dalam celah vein. dapat keluar. itpab terjadi kenaikan
temperatur, karena Lidak Oleh sebab i sewaktu-waktu dapat edak teujadi kebakaran. cara mengetahui
bentuk deposit batubara dapat menentukan katkan keselamtan dan juga mening penambangan yang
kerja 5, BENTUK LAPISAN BATLBARA Bentuk cekungan, proses sedimentasi, proses geologi selama dan
esudah coalification akan menentukan bentuk lapisan batubara. proses getahui bentuk lapisan batubara
sangat menentukan dalam nghitung cadangan dan merencanakan cara penambangannya Dikenal
beberapa bentuk lapisan batubara yaitu Bentuk dirurse Back Bentuk Pinch Bentuk Clay Wein entuk
Burriel Hill Bennik Fault Bentuk Fold uraian na sinp masing hennuk adalah sebagai berikut menutupinya
melengkun ke arah alas akibat gaya kompresi Ketebalan ke arah lateral lapisan batubara kemungkinan
sama ntaupun menjadi lebih kei atau menipis. Gambar 3, memperlihatkan deposit batubara. bentuk
Horse Back, lo. Bentuk Pinch Benruk ini dicirikan oleh perlapisan yang menipis di bagian tengah. Pada
umumnya dasar dari lapisan barubara merupakan batuan yang plastis misalnya batulempung sedang di
atas lapisan batubara. secara setempat ditutupi oleh batupasir yang secara lateral merupakan pengisian
suatu alur. Gambar 4, memperlihatkan deposit batubara berbentuk Pinch e. Bentuk Clay Vein Bentuk ini
terjadi apabila di antara 2 bagian deposit batubara terdapat ural lempung. Bentukan ini terjadi apahina
pada satu seri deposit batubara mengalami pataham, kemudian pada hidang patahan yang merupakan
rekahan terbuka terisi oleh material lempung ataupun pasir. Gambar 5. memperlihatkan deposit
batubara bentuk Clay Vein d. Bentuk Burried Hill Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana batubara
semula terbentuk terdapat suatu kulminasi sehingga lapisan Erintrusi". Gambar 6, memperlihatkan
deposit batubara bentuk Burried Hill Bentuk Fault llll inj di anabila di daerah di mana deposit batubara

20 Dalam melakukan eksplorasi batubara di daerah yang b maka gejala harus dilakukan dengan tingkat
ketelitian ti Untuk daerah seperti ini disamping kegiatan perm boran eofisika sangat membantu di dalam
melakukan penyelidikan emboran. Gambar dan kor antar memperlihatkan depsi batubara bentuk Fautr k
Fold di mana deposit bambara Bentuk ini teradi apabila di daerah bekerja pembentuk mengalami
perlipataul Makin intensif gaya yang terjadi. Dalam akan akin komplek perlipatan tersebut banyak gejala
melakukan mi baunabara di daerah yang patahan hanis perlipatan, eksplorasi daerah tersebut juga
terjadi daerah seperti apalagi di tinggi. Untuk dilakukan dengan tingkat ketel yang geofisika sangat ini di
samping kegiatan pem maka penyelidikan lub membantu di dalam melakukan interpretasi dan korelasi
antar pemborari Gambar 8, mermi ihatkan deposit batubara bentuk Fold. Dari uraian tersebut di atas
dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui jumlah cadangan deposit batubara di suatu daerah
penyelidikan geologi detail perlu dilakukan. tapissm pembentuk batubara kondisi tawa turon pertahan
alaa tetap stabil maka at luau endapan batulempung endapan batu gamping lapisan batubara kondisi
Tawa berubah. menjadi kondisi laut Gambar 1. Kronologi pembentukan batubara, ng dan batulempung
a. Dasar rawa turun perlahan-lahan b. Rawa berubah menjadi laut, terjadi pada kondisi laul batubara
--terjadi pada kondisi rawa lempung amping batubara batubara batubara Clay Band
Gambar Deposit burribara bentuk Fold batulempunit BAB 3 SIFAT UMUM BATURARA Batubara
menupakan salah satu jenis haban bakar untuk pembangkit energi, di samping gas alam dan minyak
bumi. Berda- sarkan atas cara penggunaannya sebagai penghasil emerg diklasifikasikan batubara yang
langsung di- a. Penghasil energi primer di mana sebagai pergunakan untuk industri misalnya pemakaian
batubara Listrik bahan bakar burner (dalam Industri Semen dan Pembangkit Tenaga Uap); pembakaran
kapur, bata, genting bahan bakar lokomotif pereduksi proses metalurgi; kokas konvensional, bahan bakar
tidak berasap (smokeless fuels) langsung b Penghasil energi sekundet di mana batubara yang tidak
sebagai dipergunakan un industri misalnya pemakaian batu bara mentadi bahan bakar padat (briket);
bahan bakar eair (konversi bahan bakar dan gas konversi menjadi bahan bakar gas), bahan bakar dalam
industri pemangan logam (dalam bentuk kokas), Selain itu batubara bukan sebagai han bakar antara lain;
sebagai reduktor pada pelehuran timah, pabrik ferro mikel, industri besi dan baja, pemurnian pada
industri kimia (dalam bentuk karbon ktif); pembuatan kalsium karbida (dalam bentuk kokas atau semi ru
ninn 1 ton batubara equivalen

26 1. JENIS BAHAN BAKAR is jenis bahan bakar yang umum dipergunakan dalam industri a. Bahan bakar
gas gas alam. b. Bahan bakar cair minyak bumi c. Rahan bakar padat: batubara. dasarnya tendiri atas
Ketiga bahan bakar tersehuu pada a. Combustible Materials uleh oksigen dari Yaitu bahan yang dapat
dibakar atan daria udara. Bahan tersebut pada umumnya terdiri Fixed Carbon Compounds Hydrocarbon
Nitrogen sebagainya. Phospor dan b, Non Combustible Matertals dioksidasi oleh Yailu baban bahan yang
tidak dapat dibakart abu (ash) igen. Buhan ini tersisa dalam ujud padat yang disebut ang mengandung
SiO2, Al203, Fe O3, Cao dan alkali, dan ujud gas yang berbentuk H20 atau CO2. mengandung nan
combustible Bahan bakar batubara banyak materials dalam bentuk abu dan air, sedan bahan bakar
minyak tis tak mengandung non combustible marerais, kecuali kadang edikit carbon dioksida. kadang
combustible materials dalam bahan bakar umumnya Kandungan non iingini karena akan menurunkan
nilai bakar atau menurunkan 2. SIFAT BATUBARA dungan zat tarbang (voittile matter dan besaran kalori
panas yang asilkan hatubara dibagi menjadi9 klas Hard Dalam perdagangan dikenal istilah Hard Coal dan
Brown Coal Coal adalah jenis hatubara yang menghasilkan grass kalori. dari 5.700 kcal/kg dan dihagi a.
Kandungan zat ng (volatile matter) hingga 33 termasuk klas b. Kandungan zat terbang (vwkarile matter)
lehih besar33%, termasuk klas Hard Coal mempakan jenis batuhara dengan hasil kalori yang ebih tinggi
dibandingkan dengan bitumine Isubbitumine, dan lignit (brown sirat batubara jenis antrasit Warna hitam
sangat mengkilat kompak Nilai kalor sangad tin kandungan karbon sangat tinggi Kandungan air sangul
sedikit. Kandungan abu sangat sodikit. Kandungan sulfur sangat sedikit Sifat halubara jenis
bituminelsubbitumine Warna hitam mengkilat, kurang kompak, Nilai kalor tinggi, kandungan karbon
relatif tinggi Kandungan air sedikit. Kandungan abu sedikit. Kandungan sulfur sedikit. Sifat batubara jenis
lignit (brown coal Wama hitam, sangat rapuh Nilai kalor rendah, kandungan karbon sedikit. Kandungan
air tinggi Kandungan abu banyak. Kandungan sulfur banyak (Di dalam penilaian jenis batubara periksa
juga Tabel 8) Sebagai padatan batubara terdiri atas kumpulan maceral (vitrin
Dilihat dari unsur pembentuknya batubara terdiri atas lain-lain. carbo 0ksigen, Nitrogen, struktur
atamnya dibedakan: rangk Sedang dari segi tersusun dalam aromatik, di mana atom tertutup Hrsahnya
Ca H alinhalik: di mana atom C tersusun dalam rangkaian lurus terbuka unis H H H C-C-H H H Dalam
industri batubara dipergunakan sebagai bahan bakar, maka panas pembakaran hasil pembakaran sisa
pembakaran perlu diketahui, khususllya dalam industri semen apabila hal tersebut akan mengganggu
kualitas hasil semen Sifat-sifat baubara dapat dilihat dengan analisa sebagai berikut: a, Analisa Proksimal
Terdiri dari: l. Lengas (moisture) yang berupa Lengas bebas (Free Moisture) Lengas bawaan (Inherent
Moisture) Lengas total (Total Moisture) 29 a, Zat terbang e matter) Analisa Ultimat rdiri dari analisa
untuk unsur: CHO N.S.P.Cl Nilai Kalor ertapat 2 macam nilai kal y nitu. low heating value). Yaitu Nilai kalor
ner (net catorific value atau nilai kalor pembakaran di mana semua air (H2O) dihitung dalam keadaan
ujud gas. value atau high heating Nilai kalor gross (grosses value). Yaitu nilai kalor pembakaran di mana
semua air (H20) dihitung dalam keadaan ujud care, Nilai kalor ini dinyatakan dalam cay gr, Bmnb atam
M) Kg. Total Sulfur belerang dalam bambara dapat dijumpai sebagai mineral fur atau sulfat atau belerang
organik. yang pirit, markasit, Cals pembakaran akan berubah menjadi so2 Analisa Abu akan membennik
Abu yang terjadi pada pembakaran batubara oksida oksida sebagai berikut SiO2, Al201.Fe103, TiO2,
Mn304, Cao, Mgo, Nazo. K20. Abu inilah yang terutama akan secara padatan bercampur dengan klinker
(pada industri semen) dan akan mempengaruhi kualitas semen. Namun demikian kadar abu dalam
batubara di Indoncsiak biasanya hanya berkisar antara 5% -20 lndck Gerus (Hardgrove Index) mudah
Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukkan kecil batubara menjadi bahan bakar Makin
bilangannya makin keras keadaan batubaranya. Harga hardgrove index untuk batubara di Indonesia
berkisar antara 35-60 Sifat batubara kaitannya dengan volatil marter atas 4 macam Sesuai dengan
sifatnya, batubara umumnya dibagi l. Antrasit, mengandung scdikit volatile matter 2. Bitumine,
mengandung medium volatile matter j innit mengandung banyak volatile marter

tinggi akan mengha dan batubara dengan menghasilkan nyala yang pendek, d dengan short flaming cool
volatile karen unya antra dapa mine disebut sabag binu lang farming coul Akan tetapi batubar bkitubara
balus dian tanun putar (pada in Long Flaming Coal bila dibakar dalam tanur putar sebagai tenim dengan
segera dan volatile matt C menguap akan terbakar dengan cepat. Short Flamin putar edikit matter bila
dibakar di dalam tanur sebagai batu bara halus akan terurai sccara lambat terbakar dulam jungka waktu
yang lebih panjang sebagai Antrasit memiliki nilai kalor tinggi, penggunaannya akun bakar dalam danu
putar kurang disuk ai, karena re menghasilkan nyala yang lebih panjang dengan suhu yang ebih rendah
Lignit mempunvai kandungan vodatile matter yang tinggi dan berheating value rendah tidak disukai
karena akan menghasilk suhu nyala yang rendu lebih disukai pemakai. Bitumine adalah jenis batubara
yang ar, karena mempunyai amur p annya sebagai buhan hakur dalam relatif kandungan volatile matter
yang cukup. tetapi nilai kalorinya tinggi. Oleh karenanya bitumine dapat menghasilkan suhu nyala yang
lebih tinggi. Bitumine dengan kandungan ash yang besar (akibat adanya mpurities yang biasanya dari
clay dan sebagainya) at berkandungan air yang lebih tinggi juga tidak disukai karena hal-h tersebut akan
menurunkan suhu nyala di samping ju membutuhkan excess air yang lebih besar. Dari keterang ersebut
di atas, maka secara teoritis di perlukan bitumineous coal yang bebas dari non combustib material atau
menghasilkan suhu nyala yang pendek dan lebih ting hul tersebut dalam praktik oleh karenanya per
irekaynsa peralatan, yang akan dipergunakan Dari uraian tersebut apubilu bulubara dibakar dalam
keadaan butir halus dalam tanur dapat disimpulkan sebagai berikut, malel 8. Huhungan Jenis eatubara
dan pembakirran volatile Keteratagal nutters sedikit lehib panjawg pendek tak disuka umine banyak lebih
pan telatif rendah battyak. Kandungan air dalam batubara moisture Air yang terdapat dalam batubara,
baik secara inherent h. maupun sebagian kecil moisture yang lain, akan menugikan karen mengurangi
panas yang dihasilkan i Impurities dalam batubara impurities Bila proses pemencian batubara tidak baik,
akan ditemui misal clay. Dengan adanya impuriries ini, tentunya akan menga ukan jumlah umpan panas
ke dalam tanur putar TERJADINYA IMPURITIES Seperti diketahui batubara yang diambil dari hasil
penambangan lalu mengandung bahan-bahan pengotor impurities). Dikenal 2 jenis impurities yaitu
inherent impurities dan external impunities. Inherent impurities merupakan pengouor bawaan yang
terdapat di dalam batubara. Batubara yang sudah dicuci bersih (bentuk ongkah, ketika dibakar habis
ternyata masih memberikan sisa abu

pembentukan batubara (ketika masih berupa gelly). Pengotori par serupa mineral gipsum, anhidrit. pirit.
silika, m sepe ulang hinatang (diketahui ada a berhenti b. enyawa postor dari hasil analisa abu). yang be
External impurities meru pakan pungaror luar, nasal proses penambangan anlara lain terbawanya lapisan
penurup Kejadian umum dan sulit dihindarkan khususnya pad kegiatan tambang tertuka. BAB
KOMPONEN PEMBENTUK BATUBARA Pengetahuan tentang petrologi barubara dirintis oleh William
Hutton, (1883). Analisis petrologi yang dilakukan dengan mengguna- an sayalan tipis pada awalnya untuk
men gidentifikasi jenis tumbuhan pembentuk batubara. Studi tentang petrologi batubara diperkaya
dengan peuemuan stopes (919) dan Thiessen (920). Stopes mempergunakan mi kroskop untuk
mendukung hasil pemerian. topes dan Thiessen sauna. sana menggunakan teknik sayatan tipis, tetapi
Stopes pada akhirnya menggunakan sinar pantul. Pada tahun 1930-an diperkenalkan suatu teknik baru
yang men- jadi bagian dari ilmu petrologi batubara, yaitu pengukuran refleksi aceral dan kegunaannya
adalah sebagai parameter derajat batubara. Pada tahun 1935, Stopes memperkenalkan konsep maceral
yang dapat diartikan sebagai komponen terkecil dari batubara E mineral pada batuan). Konsep maceral
ini yang tetap dipakai sampai saat ini. Pada aktu itu para ahli mencoba mencari hubungan antara
komposisi petrologi dengan sifat-sifat keteknikan dari batubara. Seperti diketahui bahwa batubara yang
kaya akan kelompok maceral virrinit dan eksinit rlempunyai perbedaan nyata di dalam sifat pencairan,
penggasan dam pembakaran, jika dibandingkan dengan batubara yang kaya akan

humm 196 an antarin lain diteliti lebih lanjut tentang gambut, untuk mengetahui jenis tumbuhan 2
Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi pruses pembaru 3. Hubungan antara petrologi batubara
dengan sedimentasi Tingkul oksidas pengkokasan, pencairan pen Teknologi batubara seperti dt b Dengar
berkembangnya petrulogi hatubara, suatu tel diperkenalkan yaitu penggunaan sinar ultraviolet dan
mikrosk sinar ultraviolar umumnya diporgunakan pada kelompo liptinit yang kaya hidrogen 1. KOMPOSISI
PETROLOGI BATUBARA petrologi batubara adalah ilmu yang mempelajari komponer organik dan bukan
urganik pembentuk batubara, Untuk mempelajar petrologi balutara umumnya ditinjau dalam dua aspek
yaitu jenis dal derajat batubara. Jenis batubara berhubungan dengan jenis tumb pembentik hatubara,
dan perkembangannya dipengaruhi oleh pros kimia dan biukimia selama proses penggambutan. Dengan
demikian jelas bahwa batubara itu bukan silatu benda homogen, melainkan terdiri dari bermacam
macam komponen dasar. Di dalam batubara komponen ini dinamakan maceral sedang macerat dibagi
menjadi 3 kelompok utama yaitu vitrini, eksinit, dan inertinit. Maceral pembentuk batuba umumnya
berasosiasi satu sama lain dengan perhandingan berbeda beda Asosiasi ini dikenal sebagai litotipe dan
mikrolitotipe. Litor merupakan pila-pita tipis pada batubara yang terlihat mcgaskopis secara Kotiga
kelompok maceral ini dapat dibedakan dari morfolog (kenampakan di bawah mikroskop), asal kejadian,
sifat-sifat fisik dan kimia yang dipunyai (Tabcl 9). Stopes d919) memperkenalkan macam. litotipe (Tabel
10) di mana klasifikasi ini umumnya dipergunakan untuk batu-bar jenis bitumine. 35 Tabel 9, Ringkasan
Macera! Hasubura (M odifikusi dari stnith 1981). elovitrinit. Kayu dan serai kayu KayA oksigen, umuud
pada bambara, VM penurunan air dalamt, reak- tif SG Kaya oksigen vM 67 nmum pada ail shut dan
haluan pembaw nyak Kutinii Liptodetrinit Peculiar pecahan ekui Resin. kulit kaya Minyak, bitumen yang
eluat telama Froses dari kayu dan init nurunan lambat, per Sklerotinit setal selal kayo se- makaan air
rendah esau. inertodetriniti llama penggembubrn bergelointiang. tidak re Makro Catutan VM: Vola e
Matter SG Specijic Gravity Untuk batubara Indonesia yang umumnya berderajat subbitumine b dapat
menggunakan klasifikasi ini. Clarain dan Vitrain adalah otipe yang umum pada batubara Indonesia
(Daulay, 1985). Pemeran

dan merupakan utama pada kebanyakan harubara dan menunj apat dil yang dipakai sebagai indikasi
refleksi virrinir ini. batubara. Dengan cara dan pasti. do Gambar 9. Eksinir (c) berasosiasi dengan virrinit
dan mineral matter (m Bayah, Rvmax 0,64 T luasnya pengamatan 0.4 mm. sinas par 1961) mtar Sama
dengan gambar 8, tetapi pada sinar nouresen Daulay, 1967

BAB 5 TEKNIK EKSPLORASI BATUBARA Batubara terdapat dalam batuan sedimen klastik, penyebaranny
tidak merata dan batubara yang mempunyai nilai ekonomi sangat dipeagaruhi oleh keadaan geologi
daerah yang Besarnya cadangan dan keadaan geologi dari endapan batu bara tersebut akan angat
mempengambi besaran produksi yang akan d senta berapa besar investasi yang diperlukan. Suatu usaha
pertambangan dikatakan menjadi lakukan dari suatu keadaan yang bersifat alamiah keadaan dan situasi
yang dapat dikendalikan dan terencana serta dapat iperkirakan sebelumnya. Keberhasilan eksplorasi
sangat dalam perencanaan eksploitasi. Penganibilan endapan batubara yang dilakukan secara ekonomis
menuntut digunakannya secara intensif beberapa disiplin ilmu sejak mulai dari tahap penyelidikan umum
sampai pada saat dilakukan pengambilannya Dalam eksplorasi batubara dilaknkan langkah-langkah
sebagai 1. TAHAPAN PENYELIDIKAN Penyelidikan Pendahulusm Penyelidikan Detail enyelidikan Umum
Penyelidikan umum diawali dengan snadi pustaka atau disehur sebagai desk rtudy. Studi ini menyangkut
mengenai ologi regionul, tektonik dan yang berkaitan dengan paleogeographic mring suatu daerah
Maksud penyelidikan umum adalah untuk memperoleh informas dan menentukan batasan luas daerah.
Setelah itu selesai. hasil studi an lapangan dengan tujuan pengecekan lapangan aka, Dalam penelitian
lapangan diusahakan mencant ngkinan adanya singkapan batubara, contoh contoh batubaranya.
Penyelidikan Pendahuluan Pelaksanaan eksplorasi pendahuluan dilakukan dengan meme- takan daerah
penyelidikan, baik dengan pemetaan topografi maupun dengan foto udara dengan tujuan mendapakan
peta yang benar dan baik sebagai dasar penyelidikan selanjutnya. geologi dengan meng Tahap berikutnya
melakukan pemetaaan anakan peta permukaan dan foto udara dimaksudkan untuk igrafi dari
interpretasi keadaan singkapan, stniktur, dan kedudukan surat batubara. Untuk mengetahui kedudukan
straligrafi lapisan-lapisan batu- bara dilakukan pemboran dangkal ataupun pemboran dalam di beberapa
tempat. Tujuannya untuk mendapatkan data tentang ketebalan dan kedudukan formasi batubara Dengan
melakukan korelasi Aerlebih dahulu dari titik-titik pemboran dapat diketahui arah dan bentuk
penyebaran lapisan batubara Di samping itu diperoleh pula data pendahuluan tentang kualitas hatubara.
daerah tersebut Pada akhir program ini, apabila sekiranya dala nilai ekonomi yang potensial, maka akan
diperoleh

adangan sampai tingkat indika Hasil tentang Data yang menyangkut tentunu pencucian batubura
(washabit tentang dan struktur endapan untuk Laporan tentang umber cadangan secara lengkap rest)
dikom kan tersebut dan pada Bilaman a data yang telah pengembangan tinggi an sudah tersebut telah
memperoleh Tingkat selanjntnya tok dapat diajukan ketingkat yang lebih lanju akan pengumpulan data ti
engineering seperti menyangkut bidang yang bersifat cucian, hal lah geoteknik, hidrologi dan
perencanaan proses pen yang menyangkut pengangkutan dan penimbuunn barubara. untuk Semua data
tersebut dan dijadikan bahan buat studi kelayakan pengemhangan endapan batubara rah pembukaan
tambang dilakukan terus selama masa Pekerjuan eksplorasi aka tetap eksplorasi in dikenal umur
tambang tersebut berjalan. Pekerjaan pula peker sebugai commercial exploration programme,
menyangkut untu pemboran produksi (production drilling) yang bertujuan ment gkatkan ketelitian
cadangan yang dapat diambi (recovei ket reserve) sampai pada tingkat 5 dalam bentuk diagram Apabila
uraian tersebut di atas dihuat adalah sebagai berikut: pemasanuri dan finansial pula perkiraa Di samping
itu sudah dapa ditentukan dan geologi endapan batubara snikru Alterna cara penambangan baik secara
tambang terbuka bawah permukaan lambang dalam c. Penyelidikan Detail kegia Pada tingkat ini kegiatan
eksplorasi lebih terpusat pada pemberan yang bertujuan untuk lebih mengetahui bentuk geometn
kualitas dari lapisan dan kemungkinan adanya anomali geologi yang mungkin akan menimbulkan
kesulitan dalam proses penambangan yang akan dilaksanakan. Apabila di perlukan dapat pula dilakukan
penyelidikan dengan tujuan untuk mengetahui secara rinci keadaan geologi bawah permukaan ya
meliputi keadaan stratigrafi dan struktur geologi yang tidak terekam dari kegiatan pembomn.
Pengumpulan dan pendokumentasian semua data yang telah diperoleh berikut peta peta yang telah
dibuat serta rencana penambangan akan dipergunakan sebagai dasar dan rencana k aktivitas
penambangan yang akan datang. Pada akhir kegiatan progrum ini akan dihasilkan hal-hal sebagai berikut:
yang dapat diambil Perhitungan cadangan sampai tingkat recoverable reserve, sedang ketepatan
perkiraan perhitun batubara yang dapat dijual sudah mendekati 20% dan yariasi Data lengkap mengenai
kualitas, baik secara statistik yang terdapat secara regional, data yang menyangkut batu Data tentang
penggunaan batubara dan laporan tentang ha test
yelidikan di gusal a aJaam geologi regional ktonik keid tull alea geography setting keadaan daerah kerja
mencari angun batubara sungkapan batuan dan mengambil contoh habuan mengambil contoh batubara.
Penyelt likan Pendahuluam triemetllkan daerah kegiatan pemetaan tapografi pemetaan foto udara
Interpretasi keadaan geologi stratigrafi kedudukan batubara struktur geologi Pemboran korelasi hasil
perhitungan cadangan bentuk geometri cadangan perkiraan kualitas Penyelidikan De Pemboran bentuk
geometri dapan batubara lebih teliti dan perhitungan cadangan anomali geologi Sesa kualitas batubara
analisa laboratorium sifat batubara. Geofisika stratigrafi kedudukan batubara lebih leliti struktur geologi
bentuk endapan batubara Penentuan metoda penambangan Commercial Exploration Programme
Pemboran lanjutan TENSI CADANGAN BATUBARA stiah iatu hal yang menentukan dalam barubara di
daerah yang h besaran potensi cadangun reserves tresene)adalah Potensi Cadangan Tereka (Inferred
Reserves) Potensi cadangan tereka dari suutu lapangan prospek batubara mlah jumlah batubara dalam
ton yang perhitungannya mendasarkan data geologi hasil penelitian lapangan dalam bentuk peta geologi
enfisika dan kualitas batubara yang telah dapal membenkan model scilatif dari pola sedimentasi lavisan
Potensi Cadangan Terkira (Indie ated Reserves Potensi cadangan terkira dari satu lapangan prospek
batubara ah jumlah batubaru dalam tun yang mendasarkan model tentatif lapisan batubara dari
keterpaduan penelitian lapangan dan pe laboratorium serta telah dibuktikan dengan beberapa emboran
eksplorasi. Inilicated reserves perlu diketanui untuk perencanaan lambung. Mineable in-situ Reserves
batubara. Jumlah ton batubara in situ dari penampang lapisan cukup yang direncanakan dapat
ditambang. Dari padanya diperoleh informasi ya berguna dalam perencanaan. Mineable in-situ reserves
dapat diperhitungkan dari indicated reserves d. Potensi cadangan Terambil (Recoverable Reserves)
Potensi cadangan terambil dari satu lapangan prospek batubar adalah jumlah batubara dalam ton yang
perhitungan potensi diperole

secara rinci dari beberapa pemboran eksplorasi pertimbangan keekonomiannya. Besaran cadangan bato
pakan hasil perkalian luas pela ketebalan da batubara dari suau daerah pruspek batubara. Ree averabie
Reserves Ditution Rum of Mine Tanape termasuk dilution adalah batubara yang dak diambil k
pengotoran, batubara yang hilang sewaktu proses are Dengan mengetahui berbagai potensi angan
batubara daerah maka program pengembangan dalam ran Pengusabuan. batubara akan lebih terarah. e.
Marketable Reserves dapat Jumlah ton batubara yang akan dapat dipasarkan atau dijual berupa run of
mine fonage (kalau dilakukan pengolahan) maupun setelah dilakukan pengolahan. BAB 6 TEKNIK
EKSPLOITASI BATUBARA Metode penambangan batubara sangar tergantung pada: cadaan geologi daerah
antara lain sifat lapisan baluan penutup. batuan lantai batubara, struktur geologi Keadaan lapisan
batubara dan bentuk deposit Pada dasarnya dikenal dua cara penambangan bambara yaitu Cara
tambang dalam, dilakukan pertama-tama dengan jalan membuat luhang persiapan baik berupa lubang
sumuran ataupun benpa lubang mendatar atau menurun menuju ke lapisan batubara yang akan
ditambang. Selanjutnya dihuat lubang bukaan pada lapisan batubaranya. end Cara penambangannya
sendiri dapul dilakukan a. Secara manual, yaitu menggunakan banyak alat yang me makai kekuatan
tenaga manusia. b. Secara mekanis, yaitu mempergunakan alat sederhana sampai menggunakan sisum
elektronis dengan pengendalian jarak Cara tambang dilakukan dengan mengu pas tanah penutup. Pada
saat ini penambangan yang akan dipilih dan kemungkinan mendapatkan peralatan tidak mengalami
masalah. Peralatan yang ada sekarang dapat dimodifikasi sehingga hrrfingii ganda Perlu diketahui pula
bahwa berbagai jenis batubara

nakan untuk pekerjaan ambang modern sudah dapnt keria yang penambangan dengan jangkauan lebih
luas dan berbagai macam pekerjaan tanpa perl dan yang besar. pemilihan metode pena a cara tumbang
dalam bara baik yang akan ditambang tamhang terbuka ditentukan olch laktor Biaya penambangan
(courrecovory) Hatubara yang dapat diambil Pengotoran hasil produksi oleh batuan ikutan Dalam
memperhitungkan biaya penambangau dengan metode tambang terbuka hanus termasuk juga biaya
pembuangan sampai pada kemiringan lereng yang seamaan mung stope tungie). Perbandingan antara
lupusan batuan tanah penutup de batubara merupakan faktor pementu dalam memilih metode penam
Untuk itu perlu dihitung lerlebih dahulu brtak even sminp ratio, yaitu perbandingan antara selisih biaya
un Luk penarmbangan satu ton hatubara secara tambang dalam dan lambang terbuka dibagi denetm
biaya pembuangan seliap ton ranah penutup lapisan batubara. suatu rencana penarmbangan bambara
diperhitungkan apabila dilaksanakan 8ccara tambang dalam memerlukan bia 20.000 setiap tonnya
Apabila dilakukan secara tambang terbuka Rp 8.000, sedang biaya pengupasan tanah pada tambang
lerbu tdalah Rp 2.000 pertannya Stripping ruio antara tambang terbuka yang menghasilkan perbedaan
biaya impas (break even roso dengan penambangan secara lambang dalam adalah 20.000 8.000 2,000
Dengan demikian break even stripping ratio adalah 6 berarti bahwa yang lanah penutup untuk
mengambil 1 ton batubara maksimum jumlah harus dibuang adalah 6 ton engan demikian maka cara
penambang sudah harus d annya tinjau kembali karena dianggap secnra ekonomis sudah tidak
menguntungkan lagi 1. METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG DA LAM Pada penambangan
batubara dengan metode tambang dalam yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan lubang
huka seaman mungkin agar terhindar dari kemungkinan Keruntuhan atap batuan Ambruknya dinding
utang rib spaling) Penggelembungan lantai lapisan balubara (floor heave Kejadian tersebut di alas
disebabkan oleh terlepasnya energi yang ersimpan secara alamiah dalam endapan hatubara. Energi yang
terpendam tersebut merupakan akibat terjadinya perubahan atau defor batubura selama
berlangsungnya pembentukan masi bentuk endapan deposit tersebuu, Pele energi tersebut disebabkan
oleh adanya perubahan keseimbangan tegangan yang terdapat pada massa baluan akibat dilakukannya
kegiatan pembuatan hnhang-lubang bukaan tam bang. Di samping itu kegagalan disebabkan hatian dan
batubana penyangga samping alami dari keadaan geologi endapan batubara tersebu penambangan
batubara secara tambang dalam kenyataanny oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapa sangat
ditentu dipertahankan selama mungkin padasar berlangsungnya penambang batubara dengan biaya
rendah atau seekonomis trun Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada setiap pembu lubang
bukaan selalu diusahakan agar: Kemampuan penyangga dari alap lapisan Kekuatan lantai lapisan
batubara Kemampuan daya dukung pilar penya dimanfaatkan semaksimal mungkin Namun apabila cara
manfaat sulit untuk dicapai, maka beberapa cara penyang buatan telah diciptakan oleh ahli tambang

gari Metode penambangan secara tambang dalam p din at dibedakan yai and Pillar atau disebut pula
Bord and Pilar a ode tersebut mempunyai kelehihan dan sendiri-sendiri tenutama pada keadaan
endapan batubara yang faktar lainnya yang perlu dipetatikan dalam pem amhangan tersebut, metode
pen Metode Raam and Pillar Cara penambangan uni mengandalkan endapan batubara yang tidak
diambil sebagai penyangga dan endapan batubara yang diamb sebagiti room Pada metode ini
penambangan batubara sudah d eak pada saat pembuatan lubang maju. Selanjutnya lubang maiu
menjadi ruangan dengan meninggalknn batubara sebagai Liang penyangga Besar dan bentuk ruangan
diusahakar agar penyangga yang dipakai cukup memadai kuat mempertahankan ruangan terse sampai
dilakukan pengambilan penyangga yan sebenarnya yaitu tiang penyangga batubara (coal pillars). Metod
empunyai kererba keterbatasan dalam besaran jumlah batubara yang dapat diambil dari suatu cadangan
bambara karena tidak semua iang penyangga batubara dapat diambil secara ekonomis maupun secara
teknik. Dari seluruh total cadangan terukur batubara yang dapat diambil dengan cara penambangan
metode Room and Pillar ini paling besar lebih kurang 30 40 saja. Hal ini disebahkan banyak batubara
tertinggal sebagai tiang-tiang pengaman yang tidak dapat di ambil. Gambar 15 adalah Sketsa Sistem
Penambangan dengan Room and Pillar b. Metode Longwall Ada dua cara penambangan dengan
menggunakan meto yaitu Cara maju (advancing) Cara mundur (retreating) Pada penambangan dengian
metode aduancing Longwall terlebih u dibuat lubang maju yang nantinya akan berfungsi sebagai utama
(main gare) dan luhang pengiring (tail gate), dibuau aan pada pengambilan baruhara dari lubang buka
tersebut. Kedua lubang ter digunakan sebagai saluran udara yang ukan untuk menyediakan udara bersih
pada lubang bukanya di sturnping untuk keperluan batubaranya dan keperluan ediaan material lubang
bukanya. hasil lebih cepat kiirena tidak Metode ini akan memberikan merlukan waktu memunggu Inhang
yang diperlukan yaitu lubang ma gate) dan lub pengiring rail longwall inenupakan kebalikan dari Pada
metode retreating karena Pengambilan batubara belum dapat metode advancing longwul suatu panel
yang akan memberika dilakukan sebelum selesai dil babasan lapisan yan batubara akan diesktraksi dari
metode torschut harus aan dan kondisi alami yang ditemukan pada endapan batubara itu sendiri agar
nantin tidak akan ghadapi kesulitan-kesulitan selama men akukan ekstraksi yang pada akhimya tentu
berujuan meucari biaya serendah mungkin. Gambar 16 adalah kema sistim Penambangan Longwall.
Selain kedua metode tersebut terdapat pula beberapa variasi metode penambangan yang dapat
diterapkan. Hal ini tergantungipada. macam dan jenis serta ketebalan lapisan di samping kemiringan
lapisan batubara yang perlu juga diperhatikan. Gambar 17 adalah Kegiatan pada Sistim Penambangan
Enngwall Peralatan yang digunakan pada penambangan tambang dalam dapat dibagi dalam dua kategori
yaitu: Peralatan untuk pokeriaan persiapan Peralalan untuk ekstraksi batubara sudah Pada saat ini
kemampuan peralatan tambang dalam demikian maju sebingga seluruh kegiatan pekerjaan fisik yang

kaan mass lubang Lurada di telakang putr Gunhar 15 skema sistem penambangan room and piliar knkan
oleh manusia, praktis sudah dapat digantikan oleh mesin atau alat bantu nekams, 2. PERALATAN UNTUK
PEKERJAAN PERSIAPAN Kegunaan utama alat ini untuk membuat lubang buka, kemud ubang maju baik
dilapisan batuan yang menuju ke lapisan batuba maupun dalam batubaranya sendiri Alat atau mesin
yang dipakai untuk pembuatan lubang ini dapal dibedakan dari sifat pekerjaan, apakah mesin tersebut
dapat langsung gall dan memb necah saja sedang pembuangan pengamb kukan mesin lain Pada tipe
yang pertama m ini dischut riad heading mach dan mengerat batuan unun batubara yang dapat
meluoron hannya dapat dikorek dan diangkut untuk selanjutnya dibuang dan dilakukan oleh satu unit
pada tipe yang kedua pekerjaan pemecahan dan pelepasan batwan formasi lapisan dilakukan oleh mesin
lain yang pada umumnya berupa peralatan bor. Alat ersebut merupakan 1 unit maupun dapat beberapa
unit mesin bor abnu apa yang dikenal sebagai iumbo pekerjaannya hanya membuat lubang h dan uanti
diisi dengan peledak dan selan Urnya diledakkan, Pecahan batuan akibat dakan tersebut diangkut dan
dibuang dengan tuesin lain, yaitu alan dan angkut load hail dump leader atau gathering am loader yang
sung membuang ke bal berialan yang dipasang dibelakangnya dan tambang lanjutnya dibawa ke lu
PERALATAN UNTUK EKSTRAKSI BATUBARA Peralatan dan mesin pengambilan batubara dapal dibedakam
pula seperti halnya yang dipakai di pekeriwan porsiapan. Pada neuode Roo and ekstraksi batubara yang
menggunakan dasar nuous mining, mesin mesin yang umumnya dipakai adalah emacam road heading
machine ang dinamakan continuous miners dan digabungkan dengan alat angkut yang dischut shuttle
car. Namun cara ang konvensional masih sering dilakukan yaitu dengan cara drill and lasting, selanjutnya
dengan menggunakan loader batubara diangkut dan dimuat ke dalam alat angkut yang lain, baik berupa
gerobak tambang maupun ban berjalan. Pada sistim penambangan dengan mctode longwall mining
peralatan yang digunakan pada saat ini sudah cukup canggih. Sehagai alau angkut batubara digunakan
Armoured Face Conveyor (AFC), sedang untuk memotong dan memuat batubara digunakan Sheare dua
dnum dan disebut sebagai

56 YANG PENAMHANGAN UUHANGUTAMA Gambar 16. skema siteni penambangan Longwail Double
Ended Dram Ranging Shearer. Selanjutnya batub yang ditumpahkan dan diangkut dengan Chain
Canvenyor lain dinamakan Stage Loader schelu nhar 17. Kegiatan pada sisterti penambangan Langwall,
Tampak pekerja sedang mengoperasikan hearing muchine PENYANGGAAN (SUPPORT SYSTEM) 4. Pada
lubang lubang uansport dan lubang atau lubang lainnya ada bemacam-macam penyanggaan yang
dipakai tergantung kesediaannya i tempat Di samping itu faktor ekonomi juga merupakan per timbant
dari kayu naupun hesi baja konstruksi Penyangga luhang dapat Selain cara dan bentuknya ada yang
persegi ataupun berbentuk arch. pada tambang cara konvensional yang digunakan dalam penyanggaan,
roof ulubara telah juga dipakai cara penyanggaan yang dinamakan olting. Cara ini digunakan untuk
mengikat batubara yang lemah mmediate rodf dengan lapisan yang kuat di atasnya dan juga mengikat
lapisan-lapisan batuan yang lemah menjadi satu kesatuan. hlpljehing a mampu menopang beratnya
sendiri

Gambar 18. Kenampakan tambang bawah tanah batubara di ombilin, Sumatera sepanjang lebar bukaan
lubang yang dibuat. Jenis dan tipe penyunggaan dengan memakai roof botr ada dua yaitu: 1 Mechanical
oofbol-wedge type atau expandable shell. 2. Chemical boit memakai resin Gambar 16 adalah Sistim
Penyangga dengan Roof Bolt Penyanggaan yang digunakan pada daerah penggalian batubara dapat
terdiri dari halok balok kayu maupun dari batang besi b Penyangga pemakaiannya hanya bersifat
sementara karena nantinya penyangga tersebut akan digeser atau dibiarkan tertinggal sehingga lapisan
batubara dibiarkan runtuh. Pada metode Longwali lapisan atap batubara digunakan penyangga mekanis
dengan mem hitm ekanan lapisan atap batubara yang dikenal sebagai power Support (PSR) Penyangga
mekanis ini menggantikan penyangga sional yang memakai seperti ini dapat dipergunakan berulang
penyangga mekanis ini dapat dibuat menurut kebutuhan tergun kekuatan yang diinginkan. Power Roof
support yang dipakai di duksi ombilin mempunyai kekuatan daya dukung setiap unitnya nit prod pada
saat ini lelah dibuat PRS yung berkokuata esar 325 ton, dan ai 900 ton har 20 adalah Penyanggaan
dengan sistim Hidrolik METODE PENAMBANGAN SECARA TAMBANG TER- s. BUKA Kelebihan tambang
terbuka dibandingkan dengan tambang dalam Relatif lebih aman Relatif lebih sederhuna Mudah
pengawasannya. dilakukan Pada saat ini sebagian besar penambangan barubara dengan metode
tambang terbuka, lebih-lebih setelah digunakannya alat alat besar yang mempunyai kapasitas maar dan
angkut yang besar untuk membuang lapisan tanah penutup batubara. Dengan demikian pekerjaan
pembuangan lapisan penutup batubara menjadi lebih murah dan me Dekan biaya ekstraksi batubara.
diambil jauh lebih besar Selain itu prosentase batubara yang dibanding dengan batubara yang dapat
diekstraksi dengan cara tambang dalam. Penambangan batubara dengan metode tambang terbuka saat
ini diperoleh 85 dari total mineable reserve, sedang dengan metode tambang dalam paling besar hanya
50% saja. terbuka Walaupun demikian penambangan secara tambang mempunyai keterbatasan yaitu:
sekarang ini keterbatasan Dengan peralatan yang ada pada saat ditambang. kedalaman lapisan batubara
yang dapat

AnUAN ATAP sena tistem penyanggaan dengan Rouf soli. bar 20. Penyanggaan dengan sistem hidrolik
pada penambangun Longwull. Pertimbangan ekonomi antara biaya pembuangan batuan penutup
dengan biaya pengambilan batubara 6. BERAPA TIPE TAMBANG TERBUKA Tipe penambangan batubara
dengan metode tambang terbuka tergantung pada letak dan keminngan serta banyaknya lapisan
batubara dalam satu cadangan. Di samping itu metode tambang tertuka dapat dibedakan juga dari cara
pemakaian alat dan mesin yang digunakan dalam penambangan. Beberapa tipe penambangan batubara
dengun metode tumbang terbuka adalah:

Contour Mining umumnya dilakukan pada en Tipe ini p batubara penambangan pegunungan batubara d
yang singkapan lapisan batubara dimulai pada suatu atau pegunungan lerschut bambara dibuang ke arah
le batuan pen tersingkap dan selanjutnya batuan yang telah imulai lagi seperti terse Kegiatan pena dan
diangka pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ket penutup batubara yang menentukan
batas limir ekonomin batas ke dalaman di mana peralatan tambang antara bekerja. Batas ekonomis ini
ditentukan oleh beberapa variabe Ketebalan hapistun batubara Pemasaran Sifat dan keadaan lapisan
batuan penutup Kemampuan peralatan yang digunakan Persyaratan reklamasi. Gambar 21 adalah
Tuntang Terbuka Tipe Contour Mining Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada
umumnya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobil equipment
Alat-alat besar seperti Sebagai alat muat: Wheel Loader Track Loade Face Shovel Backhoe Sebagai alat
angkut jarak jauh of Highway Dump Truck Sebagai alat angkut jarak dekat Scraper Alat-alat tersebut
dipergunakan untuk pekerjaan pembuan batubara sedang untuk pengambilan batuharanya dapu isan
penutup akan dengan alat yang sama atau yang lebih kecil roduksinya. Kapasitas al angkut berupa of
Highway Dunp tingkat pi antara ton sampai 170 tun. Di Indomesia, tipe coniour mun rapkan antara
Harubara ombilin Sawahlun umatera Barat. Ditempat ini mulai sejak tahun dengan menggunakan molite
aquipment bemupa alat muat yang terdiri re shovel 7 m sedang untuk alat angkut digunakan off Highway
ump Truck berkapasitas 35 ton dan 50 ton.Selain itu dipergunakan Scraper kapasitas Mengingat baluan
penutupnya sangat keras maka digunakan ledakan, dengan menggunakan beberapa unit ala bor drill
blasthole kantamuuan machine yang mempuny bahan peledaknya nakan Ammonium Nitrate dall solar
ANFO. Pengekstrasian batubara digunakan excavator berukuran dengan alam angkut butupa Coal Houler
kapasitas 18 uon Gambar adalah Wheel sebagai alat adalah Track Loader 23 Tractor sebagai alat
pengupas). (Gambar 24 lengan panjang sebagai alat muat), Gambar 25 adalah Track Loader sedang
memuatkan ke Dump Truck). b, Open Pit Mining Open pit mining adalah penambangan secara terbuka
dalam pengertian umum. Apabila hal ini dite pada endapan batubara. dilakukan dengan jalan membuang
lapisan bituan penulup sehingga lapisan batubaranya tersingkap dan s siap untuk diekstraks Peralatan
yang dipakai pada penambangan secara open pit dapat bermacam-macam tergantung jenis dan keadaan
batuan penutup pada yang akan dibuang. Dalam memilih peralatan perlu dipertimbangkan Kemiringan
lapisan batuan pembuangan lapisa Pada lapisan dengan kemiringan cukup tajam,

Gambar 21 skema Tambung Terbuka Tipe Mountintop Mining at 22. Wheel Loader sebagai Alat Muat
penutup dapat menggunakan alat muat baik berupa face shovel, Jront end loader atau alat muat lainnya.
Masu operasi tambang. biasanya dilakukan pada endapan Penambangan tipe open pir dilakukan ngan
batubara yang mempunyai lapisan teball dalam dan menggunakan beberapa untuk pembuangan lapisan
penutup Peralatan yang digunakan atuhana sebagai Truck Shovel, Front end Peralatan yang bersifat
mobil antara lain oauter, bulldozer, scraper. kontinu membuang lapisan Peralatan yang bersifat bekerja
secara

Ganhar 23 sebagai Alan Pengupas, penutup tampa dibantu alat angkut antura lain: t. Draghini baik yang
dengan cri er maupun walking draglinr Alat ini mengeruk da langsung membuang sendiri. Kapasi lasnya
bervariasi mulai dari yang kecil kurang dari 5 m sampai dengan yang kapasitas mangkok di atas 40 m dan
jarak buang whih dari 75 m. b Face shovel ada dua tipe: a. Stripping shovel: mempunyai kapasitas
mangkok (hucker yang besar dan jangkauan yang panjang digunakan sebagii alat pembuang lapisan
penutup batubara tanpa perlu bantuall Garnhar 24, Track Layuder sebagiai Alat Muat. alat angkut yang
lain. Pada umumnya kapasitas mangkok henikuran lebih besar dari 20 mi, dengan jangkaman huang lebih
dari 25 m. alat muat 2. Loading xhnvel: yang dipergunakan sebagai jangkauan pada umumnya kapasitas
isi mangkok dan panjang ebih pendek. dan pengangkut c, Bucket Wheel Excavator adalah alat penggali
dibanu alat sekaligus, Alai ini bekerja sendiri atau alat yang di- da dengan benupa beit convever dan
dapat dibantu namakan belt transfer dan selanjutnya pada ujung helt convey dipasang alat yang
dinamakan belt spreader yang berguna untuk menyebarkan hasil galian batuan penutup ketempat
pembuangan dumping disposal area. Di Indonesia cara penambangan open pit

all m ke dengan ni makai Burker heel Euravator ini dilaksanakau antara lain di Ilimlang Bahilan Bukit
Asam di Sumatera fiel s unit Bucket Wheel r, S unit dengan panjang lebih kurang 3 km ar 26 a sketua e
Stripping Mining Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapati batubara yang lapisannya
datar dekat permukaan tanah. Alat yang digunakan dapat barupa alat yang sifatnya mobil au alat
penggalian yang dapat membuang sendiri Penambangan bara yang akun dilakukan di wilayah Kontraktor
Perum Tambang Batubara khususnya di Kalimantan akan dimulai dengan cara Tambang Terbuka yang
memakai alal kena bersifat mobil.

LAPISAN BA tidak selalu d ketebalan yang menggembirakan karena sering dijumpai k batubara di suatu
daerah cukup tinggi sementara ketebal m, atan sebalikaya, dengan le, panggaliannya yang sudah barang
te diarahkan pada penambangan yang secara ekonomi layak diterapkan. Sampai Saut untuk nenggali
lapisan batubara dengan ketebalan kurang baik pada tambang bawal anah mampun terbuka, terbentur.
nasalah pemilihan sistem pena yang ekonomis. Mi pnda alat pemutong batubara (shearer) palin kecil ya
sistem largwal diproduksi mempunyai ket gian 0.81 m enuu ala dapat lapisan dari m. lambang terbuka.
penutup yang tebal umumnya menjadi kendanu lapisan batubara yang tipis, bila ditinjau dari aspek
ekonomi. Tetapi kendala pemilihan alat penggali lapisan batubara tinis telah dapat diatasi berkat
kemajuan teknologi untuk merancam alat pembajak batubara (vhow) yang dapat digunakan untuk meng
ekstrak lapisan harubara dengan ketebalan 0,46 m. Masalah yang timbu kemudian adalah bagaimana
memanfaatkan alat bajak ini pada statu sistem penambangan lapisan batubara yang tipis Diperkenalkan
sistem penambangan Titik, yaitu suatu sistem yang dioperasikan secara jarak jauh (remore operations)
dari suatu jenjang tempat meletakkan peralatan penambangan sehingga tidak ada personel dan
penyangga yang diperlukan di dalam tambang. Sistem tersebuu sampai sekarang masih dikaji dan terus
dikembangkan dari segala aspek di beberapa negara maju, A beberapa negara yang telah
mengoperasikan beberapa sistem penambangan lapisan batubara tipis. tetapi tidak menggunakan sistem
penambangan Titik, hanya teknik dari sistem penambangan yang sedang beroperasi terseb ntrupakan
bagian atau ide dari sistem ik yang sedang konomi sulit dapat diterima, tetapi ni secara e karena setiap
pemerintahan mempunyai da dalam meng sumberdaya alam yang strategis yang Heberapa sistem
penambangan lapisan batubara diperkenalkan pada tulisan Kabel-Rantai b. Sistem Backfilling e Sistem
Roof Tolerant tersebut di atas telah sistem pertama dari 3 sistem dua istem yang dan di soviet. yang
merupakan konsep hut kemudian Serikat di sistem Penambangan Tarik Kabel-Ran sistem ponambangan
ini telah diterapkan di Korea untuk ekstrak lapisan batubara dengan ketebalan anura 0.3 0.5 m
kemiringan 450. Pada tahap persiapan penambangannya. eng ngan harus dibuat di samping komponen
lain adalah gian penting yang ruise, yaitu pilar pi bag berdimensi 15,2 x 30,5 m di antara dua rantai
penggali ilar-pilar menggunaka gesekan bahubara yang akan dipotong Korea Gambar 27. Sistem tarik
kabel-rantai di sementara pada Pilar pilar in pe sebagai pemyangga harus dirancang juga berfungsi itu
saat salah satu pilar sedang dipoto Di samping serpihan pula dua corongan dibagian bawah pilar untuk
menampung batubara. Rantai pemotong b ihubungkan ke mesin pe pemotong tersebut maju mundur
level atas, sedangkan pada Penggalian dimulai dari bagi serpihan batubara hasil pemotongan. awah pilar
bergera arena gravitasi tersebut dan siap dimuatkan serpihan batubara nal rantai pemk Diameter nomi
kerckan Gan 27 skema Sistem Penambangan Tarik Kabel Rantai di Korea. berkisar antara 100 sampai 200
mm yang sangat efektif digunakun umluk menggali lapisan hatubara dengan ketebalan 0,5 m Sisuru laik
Kabel Rantai yang diterapkan di bekas ne Uni Sovie herbeda dalam hal Lara penyanggaan dan arah
pemamhangarinya Arah penggalian lapisan batubara dimulai dari le atas bergerak ke temel bawah,
sehingga serpihan batubara menumpuk pada level bawah dan siap diangkut ke permukaan.
Pengontrolan lapisan atap menggunakan penyangga bertekanan udara on support) yang dapat
mengembang sampai ketinggian antara 0.2 04 m. Gambar 28 adalah Penerapan sistem penyangga
bertekanan udara supporti di bekas negara Uni Soviet. Sistem penyanggaan ini terdiri dari satu sel berisi
empat kantong udara bagian da satu set berisi empat kantong udara bagian luar sebuah kantong udara
lehar pemhatas. Penyangga dapat bergerak m ngan cara sebagai berikut: posisi awal kantong udara
bagian dalam dan luar mengembang Penyange Dip Panel Level bawat enekanan udara Pneumatic
Gambar 28 skema Penerapan Sistem Perryanau support) dan menyangga alap, sedangkan ka pembatas
kasung (tidak diisi udara) baiuan bagian atap 2. Kantong udara bagian dalam dikosongkan dan benar-
benar kantong tersehut kemungkinan akan runtuh Setelah sedikit dikurangi kosong, maka kantong udara
bagian luar volumenya, bersamaan dengan itu kantong pembatas diisi udara bagian luar bergerak maju
dikembangkan lagi 3. Pada posisi akhir, kantong udara bagian luar dan pada saat sampai maksimum.
Kantong pembatas dikosongkan yang bersamaan kantong udara bagian dalam Udara. Gambar 29 adalah
sketsa Penyangga Bertekaman

Kauong bagian dali Aradi penambangan Potongan B-B bagiar laar ap san 0.4 m neon A A Gambar 29,
skelsa Penyangga Bertekanan Udara, b, Sistem Penanbangan Backfilling Dua sistem yang disebutkan
terdahulu hanya dapat diterapkan secara efektif pada lapisan batubara yang mempunyai kemiringan
cukup sehingga serpihan batubara dapat mengalir hanya karena gaya gravitasi. Konsep sistem backfilling
dipersiapkan untuk lapisan batubara tipis yang relatif datar, untuk itu harus dipersiapkan sistem
pengangkutan yang sesuai dengan ketebalan lapisan batubaranya. Gambar 30 adalah Sistim
Penambangan Backfilling. Teknik penggalian dan penyanggaan yang akan diterapk mengacu pada sistem
longwall, yaitu suatu sistem dengan pro penambangan dan pengangkutan bergerak maju dan meningga
nuntuhan lapisan atap di belakang penyangga. Dengan pertimban tipisnya lapisan batubara dan
penyangga yang harus dapat bergerak maka sistem penyangga bertekanan udara diharapkan sebagai
yang tepat. Dasar konsep ini menggunakan seoptima knik pengontrolan jarak jauh bal terhadap mobiluas
bekeria di dalam taumbang alat angkut serpihan ubara ke luur tambang akan sebaga Armoured urnakan
ongwo da sistem Sedangkan alal galinya adalah imnibaiak (plew) ilih karena kemampuannya menggali
batobara yang mempnnya balan 0,46 m. sistem Roni-fall Tolera seperti halnya backdiiling. sistem Roo fall
Tolerant usa erupakan konsep yang s aryawan yang bekerja di dalam Babkan sistem iJak sama sekali.
Konsep sistem R akan Tolerant dibuat atas d hipotevis sisipan tipis, dan terbentuknya rongga dibel alat
pemotong sccara bertanap runtuhan atap terjadi pada toleratei larak yang cukup aman. keuntungan
Adanya toleransi jarak nuntulan tersebut murupakan karena alat potong dan alat angkut tidak akan
terjepit oleh mntuhan atap Konsep sisipan tipis ini meliputi seluruh perangkat penumbangan yang
diperlukan antara lain nantai peruotang panjang bet gerak memutar (loopi serta sistem
pengangkutannya. Penggalian batubara bergerak dari satu arah sampai lapisan berbalik ke arah yang
berlawanan, begitu seterusnya samnau batubaranya habis. batubaru digerakkan oleh Seluruh perangkal
penambangan penggerak mesin-mesin yang terletak di atas Mesin pada pemotong dan angkut terlelak
pada satu jenjang, sedangkan enjang yang berseberangan terdapat mesin pembalik perangkat
penambangan tersebut. Mesin-mesin ini di samping berfungsi sebagui penggerak sarana penam pada
saat yang sama juga terus ber gerak maju untuk memben gaya dorong terhadap rantai pemotong
berdiamet antara 100 150 mm. Gambar 31 adalah Sistem Penambangan R Fall

Power unit dei peralatan backfill Gambar 30 sketsa Sistem Penambangan Backt wing. Puncak bukit Unit
kendaraan Dinding yang tinggi Aist angkul Lapisa pada jenjang batubara kendaraan penggerak L
Pemotong dan Jenjang pengangkut batubara Gambar 31. sketsa Sistem Penambangan Roof fall Tolerant.
BAB 7 KUALITAS BATUBARA Batubara merupakan endapan organik yang mantunya sangat ditentukan
oleh bebera faktor antara lain tempat terdapatnya an, mur dan banyaknya kuntaminasi. Di dalam
penggunaannya perancangan mesin yang mempergunakan batubara sebagai bahan bakar harus
menyesuaikan dengan kualitas batubaranya agar mesin yang dipergunakan tahan lama 1. PENGENALAN
UMUM KUALITAS BATUBARA Batubara merupakan bahan baku pembangkit energi diper- gunakan untuk
industri. Mulu dari batubara akan sangat penting dalam menentukan peralatan yang dinergunakan
Untuk menenlukan kualitas batubara, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: High heating value
Total moisture Inherent moist Volatile matter Ash content Sulfur contentt 3 mm, 40 mm, 50 mm) (k Coal
Size nder

ed carbon Carbon, flydrogen, oxigen, Nitrogen, Sulfur, Ash. Ash furion High Heating Value (HHV) a. High
Heatine value sangat borpengamh terhadap pengopera Pipa ba wind box Briner" Semakin tinggi High
Heating Value maka aliran barubara jurnnya semakin rendah, sehingga kecepatan coal feeder hanus
disesua kan b, Moisture Content Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian udar
primennya, pada batubara dengan kandungan moisture tinggi akan mombutuhkan udara primer lebih
banyak guna mengeringkan batubara Eersehnt pada suhu keluar mill tetap. c. Volatile Matter Kandungan
volatile matter mempengaruhi kes pem bakaran dan intensitas nyala api. Kesempurnaan pembakaran
ditentukan oleh Fixed Carbon Fuel ramie. Volatile inatten Semakin tinggi Fuel ratio maka carbon yang
tidak terbakar banvak sernak Content dan Komposisi dan abu akan terbawa bersama abu terhan daerah
konveksi dalam bentuk bakar dalam bentuk ahu dasar dan 80 dalam bentuk u 20 tinggi kandungan abu
dan tergantung kompe bang tingkat Iya mempengaruhi keausan dan orosi peralatan yang dilalui. fur
Content Su Kandungan sulfur berpengaruh terhadap vinykas korosi his in yang adi pada elemen pemanas
udara terutama apahta suhu lebih rendah dari letak ernhun sulfur, di samping berpengaruh terhadap
efektivitas penangkapan abu pada peralata electrostatic f Coal Size ukuran butir batubara dibatasi pada
arentang butir halus dan bulit kasar. Butir paling halus untuk ukuran 3 mm, sedang ukuram paling sampai
50 mm. Butir paling halus dibalasi kemudahan diterbangkan angin sehingga mengulori lingkun
diteniukan pula Tingkat Dus dan kemudahan beterbangan m oleh kandungan moisture batubara. g.
Hardgrove Grindability Index (HGI) Kapasitas mill (puiverizer) dirancang pada Hardgrove Grinda bility
Index tertentu, maka untuk HGl lebih rendah kapasitasnya lebih rendah dari nilai patoknya untuk
menghasilkam fineness yang sama. h. Ash Fushion Characteristic FI thin Characteristic akan
mempengaruhi ungkal fouling.