Anda di halaman 1dari 2

Upaya Pencegahan Tindak Pidana pada Korupsi di Indonesia

Oleh Anthony Ryan, 1506746424

Judul : Penyebab Utama Korupsi di Indonesia

Pengarang : R. Ismala Dewi, Slamet Soemiarno, Agnes Sri Poerbasari, Eko A. Meinarno

Data Publikasi : Dewi, Ismala R., Soemiarno, Slamet. 2013. Bangsa, Negara, dan Pancasila.
Depok. vi + 109 hlm.

Di Indonesia tindak pidana korupsi seakan menjadi hal yang biasa untuk dilakukan
terutama dikalangan pejabat. Para pejabat seakan tidak mempunyai rasa malu untuk
melakukan tindakan yang merugikan negara ini. Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan, apakah
penyebab terjadinya korupsi di Indonesia. Menurut penasihat KPK, Abdullah Hehamahua
seperti yang tertulis di buku yang berjudul Memberantas Korupsi Bersama KPK, setidaknya ada
8 penyebab terjadinya korupsi di Indonesia :

1) Sistem penyelenggaraan negara yang keliru : Sebagai negara yang baru berkembang,
seharusnya prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Tetapi selama puluhan tahun, mulai
orde lama, orde baru, hingga reformasi, pembangunan hanya difokuskan di bidang ekonomi.
padahal setiap negara yang baru merdeka, masih terbatas dalam memiliki SDM, uang,
manajemen, dan teknologi. Sehingga konsekuensinya semua didatangkan dari luar negeri yang
pada gilirannya menghasilkan penyebab korupsi.

2) Kompensasi PNS yang rendah : Negara yang baru merdeka tidak memiliki uang yang cukup
untuk membayar kompensasi yang tinggi kepada pegawainya. Apalagi Indonesia yang lebih
memprioritaskan bidang ekonomi membuat secara fisik dan kultural menmbulkan pola
konsumerisme, sehingga 90% PNS melakukan KKN.

3) Pejabat yang serakah : Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan
seperti di atas mendorong pejabat untuk menjadi kaya secara instant. Hal ini menyebabkan
lahirnya sikap serakah dimana pejabat menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, seperti
melakukan mark up proyek-proyek pembangunan.

4) Law Enforcement tidak berjalan : Para pejabat yang serakah dan PNS yang KKN karena gaji
yang tidak cukup, maka boleh dibilang penegakan hukum tidak berjalan hampir diseluruh lini
kehidupan, baik di instansi pemerintahan maupun lembaga kemasyarakatan karena segalanya
diukur dengan uang. Hal ini juga menimbulkan kata-kata plesetan seperti, KUHP (Kasih Uang
Habis Perkara) atau Ketuhanan Yang Maha Esa (Keuangan Yang Maha Kuasa).
5) Hukuman yang ringan terhadap koruptor : Adanya Law Enforcement tidak berjalan dengan
semestinya, dimana aparat penegak hukum bisa dibayar. Maka, hukuman yang dijatuhkan
kepada para koruptor sangat ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera.

6) Pengawasan yang tidak efektif : Dalam sistem manajemen yang modern selalu ada
instrumen yang disebut internal kontrol yang bersifat in build dalam setiap unit kerja. Sehingga
sekecil apapun penyimpangan akan terdeteksi sejak dini dan secara otomatis pula dilakukan
perbaikan. Tetapi internal kontrol yang ada disetiap unit sudah tidak lagi berjalan dengan
semestinya karena pejabat atau pegawai terkait bisa melakukan tindakan korupsi.

7) Tidak ada keteladanan pemimpin : Ketika resesi ekonomi 1997, keadaan perekonomian
Indonesia sedikit lebih baik daripada Thailand. Namun pemimpin Thailand memberi contoh
kepada rakyatnya dalam pola hidup sederhana. Sehingga lahir dukungan moral dan material
dari masyarakat dan pengusaha. Maka dalam wktu singkat Thailand telah mengalami recovery
ekonominya. Di Indonesia tidak ada pemimpin yang bisa dijadikan teladan sehingga kehidupan
berbangsa dan bernegara mendekati jurang kehancuran.

8) Budaya masyarakat yang kondusif untuk KKN : Korupsi yang ada di Indonesia tidak hanya
terpusat pada pejabat negara saja melainkan sudah meluas hingga ke masyarakat. Hal ini bisa
dicontohkan pada saat pengurusan KTP, SIM, STNK, maupun saat melamar kerja. Tindakan
masyarakat ini merupakan pencerminan yang dilakukan oleh pejabat politik.